Anda di halaman 1dari 15

RESUME DIETETIK

MATERI HIPERTENSI

Disusun oleh:

Erina rizky damayanti / 1610714031


Fanessa Dea Pithaloka / 1610714039
Mayrlnn Trifosa Veronica / 1610714051
Aisha Rahmawati / 1610714076
Putri Aditri / 1610714086
Fauziyah Hanna C / 1610714099

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN “VETERAN” JAKARTA

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI S1 ILMU GIZI

2018
HIPERTENSI

DEFINISI

• Hipertensi adalah Gangguan sistem peredaran darah yang menyebabkan kenaikan


tekanan darah diatas nilai normal.)

• > 140 / 90 mmHg (Joint National Committee on Detection, Evaluation and Treatment
of High Blood Pressure (JIVC))

Hipertensi dapat mengakibatkan komplikasi seperti stroke, kelemahan jantung, penyakit


jantung koroner (PJK), gangguan ginjal dan lain-lain yang berakibat pada kelemahan fungsi dari
organ vital seperti otak, ginjal dan jantung yang dapat berakibat kecacatan bahkan kematian.
Hipertensi atau yang disebut the silent killer yang merupakan salah satu faktor resiko paling
berpengaruh penyebab penyakit jantung (cardiovascular).

GEJALA HIPERTENSI

• Sakit kepala

• kelelahan

• Mual

• Muntah

• Sesak nafas

• Gelisah

• Pandangan menjadi kabur


DAMPAK

• Tahun 1991 – 2000 3,7 %, dan 1/2 dari angka tersebut di sebabkan prevalensi obesitas
(USA)

• 6,7% cause of death

• Sangat berbahaya karena tidak ada gejala (silent killer)

EPIDEMIOLOGI

• Asosiasi Jantung Amerika :

a. laki-laki : > 55 tahun resiko > dari wanita


b. Wanita: >75 tahun resiko > dari laki-laki
c. Afrika-Amerika, Puerto rico, Amerika- Cuba dan Mexico-America resiko > Anglo-
Amerika
d. Afrika-Amerika & Anglo-Amerika tinggal Amerika bagian utara prevalensi > negara
bagian lain di Amerika

America Journal of clinical nutrition, yang membandingkan IMT dari China, Vietnam
dan Indonesia, walaupun IMTnya sama rendah Indonesia memiliki prevalensi hipertensi lebih
besar

Negara Laki-laki Wanita

China 22,9 % 16,6%

Vietnam 14,4% 11,7%

Indonesia 24,8% 26,9%

KLASIFIKASI BERDASARKAN TEKANAN

Klasifikasi Systolic Diastolic


(mmHg)
(mmHg)

Normal < 120 < 80

Pre hipertensi 120 - 139 80 - 89

Hipertensi I 140 - 159 90 – 99

Hipertensi II  160  100

Sumber : Joint National Committee VII on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure
Hipertensi dapat dibedakan menjadi tiga golongan yaitu hipertensi sistolik, hipertensi
diastolik, dan hipertensi campuran. Hipertensi sistolik (isolated systolic hypertension) merupakan
peningkatan tekanan sistolik tanpa diikuti peningkatan tekanan diastolik dan umumnya ditemukan
pada usia lanjut. Tekanan sistolik berkaitan dengan tingginya tekanan pada arteri apabila jantung
berkontraksi (denyut jantung). Tekanan sistolik merupakan tekanan maksimum dalam arteri dan
tercermin pada hasil pembacaan tekanan darah sebagai tekanan atas yang nilainya lebih besar.

Hipertensi diastolik (diastolic hypertension) merupakan peningkatan tekanan diastolik tanpa


diikuti peningkatan tekanan sistolik, biasanya ditemukan pada anakanak dan dewasa muda. Hipertensi
diastolik terjadi apabila pembuluh darah kecil menyempit secara tidak normal, sehingga memperbesar
tahanan terhadap aliran darah yang melaluinya dan meningkatkan tekanan diastoliknya. Tekanan
darah diastolik berkaitan dengan tekanan arteri bila jantung berada dalam keadaan relaksasi di antara
dua denyutan. Hipertensi campuran merupakan peningkatan pada tekanan sistolik dan diastolik.

KLASIFIKASI BERDASARKAN PENYEBAB

Klasifikasi Hipertensi Primer Hipertensi Sekunder

Ada tidaknya penyebab Tidak diketahui Dapat diidentifikasikan

Penyebab • Konsumsi Obat, • Penyakit Ginjal


pil KB,
dekogestan, pil • Kelainan
diet, dll hormonal

• Konsumsi garam • Lain-lain


dan alkohol

• Stress

Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi dua golongan, yaitu:

1) Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya, disebut juga
hipertensi idiopatik. Terdapat sekitar 95 % kasus. Banyak faktor yang mempengaruhinya seperti
genetik, lingkungan, hiperaktivitas susunan saraf simpatis, sistem renin-angiotensin, defek dalam
ekskresi Na, peningkatan Na dan Ca intraselular, dan faktor-faktor yang meningkatkan risiko, seperti
obesitas, alkohol, merokok, serta polisitemia.

2) Hipertensi sekunder atau hipertensi renal. Terdapat sekitar 5% kasus. Penyebab spesifiknya
diketahui, seperti penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi vaskular renal, hiperaldosteronisme
primer, dan sindrom Cushing, feokromositoma, koartasio aorta, hipertensi yang berhubungan dengan
kehamilan, dan lain-lain.
PATOFISIOLOGI HIPERTENSI

1. Jantung memompa darah lebih kuat dari biasanya, karena ada sumbatan atau
hambatan aliran darah

2. Ateri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga tidak dapat
mengembang

3. Tekanan darah meningkat pada saat terjadi vasokontriksi


4. Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa meningkatkan tekanan darah, volume darah
dalam tubuh meningkat, sehingga tekanan darah juga meningkat.
Tubuh memiliki sistem yang berfungsi mencegah perubahan tekanan darah secara akut yang
disebabkan oleh gangguan sirkulasi, yang berusaha untuk mempertahankan kestabilan tekanan darah
dalam jangka panjang reflek kardiovaskular melalui sistem saraf termasuk sistem kontrol yang
bereaksi segera. Kestabilan tekanan darah jangka panjang dipertahankan oleh sistem yang mengatur
jumlah cairan tubuh yang melibatkan berbagai organ terutama ginjal.

1) Perubahan anatomi dan fisiologi pembuluh darah.


Aterosklerosis adalah kelainan pada pembuluh darah yang ditandai dengan penebalan
dan hilangnya elastisitas arteri. Aterosklerosis merupakan proses multifaktorial. Terjadi
inflamasi pada dinding pembuluh darah dan terbentuk deposit substansi lemak, kolesterol,
produk sampah seluler, kalsium dan berbagai substansi lainnya dalam lapisan pembuluh darah.
Pertumbuhan ini disebut plak. Pertumbuhan plak di bawah lapisan tunika intima akan
memperkecil lumen pembuluh darah, obstruksi luminal, kelainan aliran darah, pengurangan
suplai oksigen pada organ atau bagian tubuh tertentu.
Sel endotel pembuluh darah juga memiliki peran penting dalam pengontrolan
pembuluh darah jantung dengan cara memproduksi sejumlah vasoaktif lokal yaitu molekul
oksida nitrit dan peptida endotelium. Disfungsi endotelium banyak terjadi pada kasus
hipertensi primer.

2) Sistem renin – angiotensin


Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari
angiotensin I oleh angiotensin I-converting enzyme (ACE). Angiotensin II inilah yang
memiliki peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aksi utama.
a. Meningkatkan sekresi Anti-Diuretic Hormone (ADH) dan rasa haus. Dengan
meningkatnya ADH, sangat sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh
(antidiuresis), sehingga menjadi pekat dan tinggi osmolalitasnya. Untuk
mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan
cara menarik cairan dari bagian intraseluler. Akibatnya, volume darah
meningkat, yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah.
b. Menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. Untuk mengatur
volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl
(garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya
konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan
volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume
dan tekanan darah.

3) Sistem saraf simpatis


Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di
pusat vasomotor, pada medula di otak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis,
yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medula spinalis ke ganglia
simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk
impuls yang bergerak ke bawah melalui saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini,
neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca
ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan
konstriksi pembuluh darah.
PERANAN GINJAL

• Menambah pengeluaran garam dan air → tekanan darah kembali normal.

• meningkatkan tekanan darah dengan menghasilkan enzim yang di sebut Renin,


Angiotensin, memicu pelepasan aldosteron.

PERANAN SISTEM SARAF SIMPATIS

• Meningkatkan tekanan darah selama respon fight-or-flight

• Meningkatkan kecepatan dan kekuatan denyut jantung

• Mengurangi pembuangan air dan garam oleh ginjal

• Melepaskan hormon epinefrin (adrenalin dan norepinefrin).

FAKTOR RESIKO HIPERTENSI

• Faktor genetik

• Jenis kelamin

• Pemakaian pil kontrasepsi (KB),


• Stres berat dan tidak terkendali

• Gaya hidup

Faktor resiko terjadinya hipertensi antara lain:

1) Usia Tekanan darah cenderung meningkat dengan bertambahnya usia. Pada laki-laki
meningkat pada usia lebih dari 45 tahun sedangkan pada wanita meningkat pada usia lebih
dari 55 tahun.

2) Ras/etnik Hipertensi bisa mengenai siapa saja. Bagaimanapun, biasa sering muncul pada
etnik Afrika Amerika dewasa daripada Kaukasia atau Amerika Hispanik.

3) Jenis Kelamin Pria lebih banyak mengalami kemungkinan menderita hipertensi daripada
wanita.

4) Kebiasaan Gaya Hidup tidak Sehat Gaya hidup tidak sehat yang dapat meningkatkan
hipertensi, antara lain minum minuman beralkohol, kurang berolahraga, dan merokok.

a. Merokok

Merokok merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan hipertensi, sebab
rokok mengandung nikotin. Menghisap rokok menyebabkan nikotin terserap oleh pembuluh
darah kecil dalam paru-paru dan kemudian akan diedarkan hingga ke otak. Di otak, nikotin
akan memberikan sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepas epinefrin atau adrenalin yang
akan menyempitkan pembuluh darah dan memaksa jantung untuk bekerja lebih berat karena
tekanan darah yang lebih tinggi.

Tembakau memiliki efek cukup besar dalam peningkatan tekanan darah karena dapat
menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Kandungan bahan kimia dalam tembakau juga
dapat merusak dinding pembuluh darah.

Karbon monoksida dalam asap rokok akan menggantikan ikatan oksigen dalam darah.
Hal tersebut mengakibatkan tekanan darah meningkat karena jantung dipaksa memompa
untuk memasukkan oksigen yang cukup ke dalam organ dan jaringan tubuh lainnya. Karbon
monoksida dalam asap rokok akan menggantikan ikatan oksigen dalam darah. Hal tersebut
mengakibatkan tekanan darah meningkat karena jantung dipaksa memompa untuk
memasukkan oksigen yang cukup ke dalam organ dan jaringan tubuh lainnya.

b. Kurangnya aktifitas fisik

Aktivitas fisik sangat mempengaruhi stabilitas tekanan darah. Pada orang yang tidak
aktif melakukan kegiatan fisik cenderung mempunyai frekuensi denyut jantung yang lebih
tinggi. Hal tersebut mengakibatkan otot jantung bekerja lebih keras pada setiap kontraksi.
Makin keras usaha otot jantung dalam memompa darah, makin besar pula tekanan yang
dibebankan pada dinding arteri sehingga meningkatkan tahanan perifer yang menyebabkan
kenaikkan tekanan darah. Kurangnya aktifitas fisik juga dapat meningkatkan risiko kelebihan
berat badan yang akan menyebabkan risiko hipertensi meningkat.
Studi epidemiologi membuktikan bahwa olahraga secara teratur memiliki efek
antihipertensi dengan menurunkan tekanan darah sekitar 6-15 mmHg pada penderita
hipertensi. Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan hipertensi, karena olahraga
isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah.
Olahraga juga dikaitkan dengan peran obesitas pada hipertensi.

PENCEGAHAN HIPERTENSI

• Pola Makan Sehat


• Mengurangi Garam dan Sodium di Diet
• Mempertahankan Berat Badan Sehat
• Aktifitas fisik
• Membatasi Alkohol Intake
• Berhenti Merokok

Pencegahan hipertensi dilakukan melalui dua pendekatan :

i) intervensi untuk menurunkan tekanan darah di populasi dengan tujuan menggeser distribusi
tekanan darah kea rah yang lebih rendah. Penurunan TDS sebanyak 2 mmHg di populasi mampu
menurunkan kematian akibat stroke, PJK, dan sebabsebab lain masing-masing sebesar 6%, 4% dan
3%. Penurunan TDS 3 mmHg ternyata dapat menurunkan kematian masingmasing sebesar 8%, 5%
dan 4%.

ii) strategi penurunan tekanan darah ditujukan pada mereka yang mempunyai kecenderungan
meningginya tekanan darah, kelompok masyarakat ini termasuk mereka yang mengalami tekanan
darah normal dalam kisaran yang tinggi (TDS 130-139 mmHg atau TDD 85-89 mmHg), riwayat
keluarga ada yang menderita hipertensi, obsitas, tidak aktif secara fisik, atau banyak minum alcohol
dan garam.

Berbagai cara yang terbukti mampu untuk mencegah terjadinya hipertensi, yaitu pengendalian
berat badan, pengurangan asupan natrium kloride, aktifitas alcohol, pengendalian stress, suplementasi
fish oil dan serat The 5-year primary prevention of hypertension meneliti berbagai faktor intervensi
terdiri dari pengurangan kalori, asupan natrium kloride dan alcohol serta peningkatan aktifitas fisik.
Hasil penelitian menunjukkan penurunan berat badan sebesar 5,9 pounds berkaitan dengan penurunan
TDS dan TDD sebesar 1,3 mmHg dan 1,2 mmHg. Penelitian yang mengikut sertakan sebanyak
47.000 individu menunjukan perbedaan asupan sodium sebanyak 100 mmo1/hari berhubungan
dengan perbedaan TDS sebesar 5 mmHg pada usia 15-19 tahun dan 10 mmHg pada usia 60-69 tahun.

Meningginya TDS dan TDD, meningkatnya sirkulasi kadar kateholamin, cortisol, vasopressin,
endorphins, andaldosterone, dan penurunan ekskresi sodium di urine merupakan respons dari
rangsangan stress yang akut. Intervensi pemnegdalian stress seperti relaksasi, meditasi dan
biofeedback mampu mencegah dan mengobati hipertensi.
DIET BAGI PENDERITA HIPERTENSI

• Makanan beraneka ragam dan gizi seimbang.

• Jenis dan komposisi makanan disesuaikan dengan kondisi penderita.

• Batasi konsumsi garam

MENGATUR MENU MAKANAN


Makanan yang harus dihindari

• Makanan yang berkadar lemak jenuh tinggi

• Makanan yang diolah dengan menggunakan garam natrium

• Susu full cream, mentega, margarine, keju mayonnaise, serta sumber protein hewani
yang tinggi kolesterol seperti daging merah (sapi/kambing), kuning telur,kulit ayam).

• Membatasi Bumbu-bumbu yang mengandung garam seperti kecap, tauco, dll.

• Makanan dan minuman dalam kaleng

• Makanan yang diawetkan

• Intake Kalium (4,5 gram atau 120 – 175 mEq/hari)

• Kecukupan kalsium penting untuk mencegah dan mengobati hipertensi

SUPLEMENTASI ANTI OKSIDAN

Vitamin dan penurunan homosistein :

1. Asam folat, vitamin B6, vitamin B 12 dan riboflavin merupakan ko-faktor enzim
yang essential untuk metabolisme homosis tein. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa
peningkatan kadar homosistein dalam darah akan meningkatkan risiko penyakit arteri koroner.
Kadar asam folat yang rendah berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit koroner dan
kadar vitamin yang rendah juga berkaitan dengan peningkatan risiko aterosklerosis, walaupun
risiko aterosklerosis yang berhubungan dengan rendahnya kadar vitamin B6 tidak
berhubungan dengan konsentrasi homositein yang tinggi. Sedangkan vitamin B12 tidak
berhubungan dengan penyakit vaskuler.

2. Kacang kedelai dan isoflavon : Kedelai banyak mengandung fito estrogen yaitu
isoflavon, yang memiliki aktivitas estrogen lemah. Penelitian meta analisis pada tahun 1995
menyimpulkan bahwa isoflavon dari protein kedelai lebih bermakna menurunkan kadar
kolesterol total, kolesterol LDL dan trigliserida, tanpa mempengaruhi kadar kolesterol HDL.
Sehingga dianjurkan mengkonsumsi protein kedelai (20 – 50 gram/hari) dengan modifikasi
diet pada penderita dengan kadar kolesterol (total dan LDL) yang tinggi. Tempe adalah hasil
pengolahan kedelai yang melalui proses fermentasi, dengan kandungan gizi lebih baik dari
kedelai. Sehingga tempe dianjurkan untuk di konsumsi oleh penderita hipertensi sebagai
sumber protein nabati.

3. Tempe : Tempe adalah salah satu makanan tradisional Indonesia, hasil fermentasi
kaping rhizopus ohgosporis atau rhizopusoryzal pada biji kedelai yang telah direbus. Ada
berbagai macam tempe, yang dibicarakan disini adalah tempe yang terbuat dari kedelai, yang
merupakan produk kompak, terbungkus rata oleh miselium kaping sehingga nampak
berwarna putih, dan bila diiris kelihatan keping biji kedelai berwarna kuning pucat, diantara
miselium. Fermentasi kaping menghasilkan perubahan pada tekstur kedelai, menjadi empuk
dan nilai zat gizi tempe lebih baik dari kacang kedelai.

Modifikasi Pola Hidup Sehat dan Gizi Seimbang

Modifikasi Rekomendasi Pengurangan


tekanan sistolik

Penurunan Menjaga berat badan normal 5–20 mmHg/10


BB (IMT 18.5–24.9 kg/m2). kg

Perencanaan Diet tinggi serat (sayur dan 8–14 mmHg


makan buah), dan rendah lemak
(terutama lemak jenuh dan
lemak total).

Mengurangi Mengurangi makanan 2–8 mmHg


makanan bersodium (<100 mmol/hari
bersodium atau 2.4 g sodium atau 6 g
sodium klorida).

Olah raga Aktivitas fisik harian (cth 4–9 mmHg


jalan cepat) minimal 30
menit per hari

Sumber: Joint National Committee VII on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure
DASH
(Dietary Approaches to Stop Hypertension)

• Diet ini menganjurkan selain mengurangi asupan garam, memperbanyak konsumsi


biji-bijian, buah, sayuran dan produk susu rendah lemak.

• Bahan makanan tersebut dapat menurunkan berat badan dan tekanan darah.

Penatalaksanaan Hipertensi

Penatalaksanaan hipertensi dapat dilakukan dengan menggunakan obat-obatan ataupun


dengan cara modifikasi gaya hidup. Modifikasi gaya hidup dapat dilakukan dengan membatasi asupan
garam tidak lebih dari X - }) sendok teh (6 gram/hari), menurunkan berat badan, menghindari
minuman berkafein, rokok, dan minuman beralkohol. Olah raga juga dianjurkan bagi penderita
hipertensi, dapat berupa jalan, lari, jogging, bersepeda selama 20-25 me nit dengan frekuensi 3-5 x per
minggu. Penting juga untuk cukup istirahat (6-8 jam) dan mengendalikan stress. Untuk pemilihan
serta penggunaan obat-obatan hipertensi disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter keluarga anda.

Adapun makanan yang harus dihindari atau dibatasi oleh pen de rita hipertensi adalah:

1. Makanan yang berkadar lemakjenuh tinggi (otak, ginjal, paru, minyak kelapa, gajih).

2. Makanan yang diolah dengan menggunakan garam natrium (biscuit, crackers, keripikdan
makanan keringyangasin).

3. Makanan dan minuman dalam kaleng (sarden, sosis, korned, sayuran serta buah-buahan
dalam kaleng, soft drink).

4. Makanan yang diawetkan (dendeng, asinan sayur/buah, abon, ikan asin, pindang, udang
kering, telur asin, selai kacang).

5. Susu full cream, mentega, margarine, keju mayonnaise, serta sumber protein hewani yang
tinggi kolesterol seperti daging merah (sapi/kambing), kuning telur, kulit ayam).

6. Bumbu-bumbu seperti kecap, maggi, terasi, saus tomat, saus sambal, tauco serta bumbu
penyedap lain yang pada umumnya mengandung garam natrium.

7. Alkohol dan makanan yang mengandung alkohol seperti durian, tape.


Di Indonesia terdapat pergeseran pol a makan, yang mengarah pad a makanan cepat saji dan
yang diawetkan yang kita ketahui mengandung garam tinggi, lemak jenuh, dan rendah serat mulai
menjamur terutama di kota-kota besardi Indonesia. Dengan mengetahui gejala dan faktor risiko
terjadinya hipertensi diharapkan penderita dapat melakukan pencegahan dan penatalaksanaan dengan
modifikasi diet/gaya hidup ataupun obat-obatan sehingga komplikasi yang terjadi dapat dihindarkan.
Daftar Pustaka

http://eprints.undip.ac.id/43896/3/Gilang_YA_G2A009181_Bab2KTI.pdf. Diakses tanggal


11 September 2018. Pukul 11.09

http://www.univmed.org/wp-content/uploads/2011/02/Vol.20_no.2_6.pdf. Diakses tanggal


11 September 2018. Pukul 11.21

file:///C:/Users/X540LJ/Downloads/infodatin-hipertensi.pdf. Diakses tanggal 11 September


2018. Pukul 11.27

http://staffnew.uny.ac.id/upload/132318122/penelitian/DIET+BAGI+PENDERITA+HIPERT
ENSI.pdf. Diakses tanggal 11 September 2018. Pukul 11.50