Anda di halaman 1dari 19

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah pada
mata kuliah Administrasi Supervisi Pendidikan tentang “Model dan Pendekatan Supervisi
Pendidikan”.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
beberapa pihak sehingga dapat memperlancar dalam pembuatan makalah ini.Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
pembuatan makalah ini.

Terlepas dari itu semua, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekuranganbaik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu, dengan
tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat
memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang “Model dan Pendekatan Supervisi
Pendidikan” ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.

Jakarta, April 2018

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... 1


DAFTAR ISI.............................................................................................................................. 2
BAB I ......................................................................................................................................... 3
PENDAHULUAN ..................................................................................................................... 3
1.1 Latar Belakang ........................................................................................................................ 3
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................................... 3
1.3 Tujuan dan Manfaat ................................................................................................................ 3
BAB II........................................................................................................................................ 4
PEMBAHASAN ........................................................................................................................ 4
2.1 MODEL-MODEL SUPERVISI PENDIDIKAN .......................................................................... 4
2.2 PENDEKATAN SUPERVISI PENDIDIKAN ....................................................................... 8
BAB III....………………………………….…………………………………………………16
PENUTUP................................................................................................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 18

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Supervisi merupakan istilah baru yang menunjuk pada suatu pengawasan tetapi
konsepnya lebih manusiawi. Dalam kegiatan supervisi pelaksana bukan mencari
kesalahan, akan tetapi lebih banyak mengandung unsur pembinaan agar pekerjaan yang
diawasi diketahui kekurangannya untuk dapat diberitahu bagaimana cara peningkatannya.
Pembelajaraan merupakan unsur terpenting dalam pencapaian keberhasilan pendidikan
dan guru memiliki peran yang sangat strategis, baik sebagai perencana pembelajaran,
pelaksana pembelajaran, dan menilai pembelajaran.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa saja model-model supervisi pendidikan ?
2. Apa saja pendekatan supervisi pendidikan?

1.3 Tujuan dan Manfaat


1. Tujuan : - Untuk mengetahui macam-macam model supervisi pendidikan.
- Untuk mengetahui macam-macam pendekatan supervisi
pendidikan.
2. Manfaat : Selain mengetahuinya pembaca atau pengajar diharapkan mampu
mempraktekkan dari model dan pendekatan supervisi pendidikan ini ke lapangan
dengan baik.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 MODEL-MODEL SUPERVISI PENDIDIKAN

Banyak model supervisi yang telah dikemukakan oleh berbagai ahli


pendidikan. Dalam mengklasifikasikan model tersebut antara satu ahli dengan lainnya
memiliki perbedaan, dengan kata lain para ahli pun memiliki pemahaman yang
berbeda tentang model-model supervisi tersebut. Meskipun demikian model yang
dikemukakan para ahli memiliki kesamaan, artinya dapat ditarik persamaannya dari
berbagai klasifikasi tersebut.
Menurut Piet A. Sahertain model supervisi dapatdibagiatasempatmacam
model, yaitu:
1. Model Supervisi Konvensional (tradisional)
Model konvensional berkaitan erat dengan keadaan masyarakat ketika
itu yang otoriter dan feodal. Pemimpin cenderung mencari-cari kesalahan
dan menemukan kesalahan. Dengan demikian berpengaruh terhadap model
supervisi yang mengandalkan inspeksi untuk mencari-cari kesalahan dan
menemukan kesalahan, bahkan bersifat memata-matai.

2. Model Supervisi Ilmiah


Model supervisi ilmiah memiliki ciri-ciri sebagai berikut: dilaksanakan
secara berencana dan kontiniu, sistematis dan menggunakan teknik
tertentu, menggunakan instrument pengumpulan data, dan memiliki data
objektif dari keadaan yang riil. Dengan kata lain model supervise ilmiah
mengarah kepada cara-cara ilmiah dalam melakukan supervisi. Hasil
penelitian yang ilmiah tersebut diberikan kepada guru-guru sebagai umpan
balik dan pedoman perbaikan mengajar pada semester berikutnya.

3. Model Supervisi Klinis


Supervisi klinis adalah suatu proses pembimbingan dalam pendidikan
yang bertujuan membantu pengembangan profesional guru dalam

4
pengenalan mengajar melalui observasi dan analisis data secara objektif,
teliti sebagai dasar untuk usaha mengubah perilaku mengajar guru.

4. Model Artistik
Mengajar selain sebagai knowledge dan skill, tetapi juga art (kiat),
begitu juga dengan supervisi yang merupakan pengetahuan, keterampilan
dan juga suatukiat. Supervisor yang mengembangkan model artistik akan
menampakkan dirinya dalam relasi dengan guru-guru yang dibimbingnya
sedemikian baiknya sehingga para guru merasa diterima. Adanya perasaan
aman dan dorongan positif untuk berusaha maju. Sikap seperti mau belajar
mendengarkan perasaan orang lain, mengerti orang lain dengan problema
yang dikemukakannya, menerima orang lain apa adanya, sehingga orang
menjadi dirinya sendiri, itulah supervise artistik.

Pendapat di atas sesuai dengan apa yang telah dikemukakano leh Nur Aedi tentang
model-model supervisi, namun ia merinci model supervisi menjadi delapan macam
model supervisi, yaitu:

1. Model Konvensional
Model konvensional merupakan model supervisi yang berada pada zaman
feodalisme, yang mencerminkan kekuasaan bersifat feudal dan otoriter. Model
konvesional menerapkan cara kerja mencari dan menemukan kesalahan. Bahkan
kadang kegiatan supervise dilakukan seperti memata-matai.

2. Model Pendekatan Sains


Menurut model pendekatan sains ini pembelajaran dipandang sebagai suatu
ilmu atau science. Oleh sebab itu, maka perbaikan pembelajaran dilakukan dengan
menggunakan metode-metode ilmiah. Pembelajaran yang dilakukan oleh guru
dilaksanakan berdasarkan temuan penelitian atau teori yang secara empiric telah
teruji kebenarannya. Apabila telah banyak temuan penelitian baik berupa
deskripsi, konsep, atau teori yang telah teruji kebenarannya, maka selanjutnya
tugas guru dan supervisor adalah memanfaatkan hasil penelitian tersebut.

5
3. Model Supervisi Klinis
Model supervisi klinis menggunakan pendekatan kolaboratif antara supervisor
dengan guru untuk secara konstruktif dan berkesinambungan meningkatkan
pembelajaran. Dalam model ini dijalin interaksi langsung antara guru dengan
supervisor dalam upaya memahami secara akurat aspek yang memerlukan
perbaikan serta melakukan praktik untuk mengatasi permasalahan tersebut.

4. Model Supervisi Artistik


Model supervisi ini berasumsi bahwa pendidikan bukanlah serba ilmiah yang
dapat dipelajari secara terstruktur, mekanistik, dan mengikuti prosedur tertentu.
Pendidikan bukanlah perkara yang simple dan dapat diprediksi. Pendidikan
merupakan sebuah proses yang sangat kompleks dan sulit diprediksi. Model ini
beranggapan bahwa pendidikan adalah seni. Model supervisi artistic dalam
melaksanakan kegiatan supervisinya menggunakan sensitivitas, persepsi dan
pemahaman supervisor dalam mengaprsiasi semua aspek yang terjadi di kelas.

5. Model Gabungan Supervisi Saintifik, Klinis, dan Artistik


Pada model gabungan ini, model saintifik digunakan oleh supervisor untuk
mengidentifikasi hal-hal yang seharusnya terjadi berdasarkan temuan empiris.
Model artistic digunakan untuk seni menafsirkan dan interpretasi atas apa yang
terjadi di dalam kelas. Selanjutnya model supervisi klinis dalam model ini
digunakan untuk memperbaiki atau menyelesaikan permasalahan pembelajaran.

6. Model Supervisi Pengembangan


Model ini memandang guru sebagai individu yang berada pada berbagai
tingkat pertumbuhan dan perkembangan profesionalitas yang beragam. Model ini
dibangun di atas premis bahwa perkembangan manusia merupakan tujuan
pendidikan. Model ini berdasarkan asumsi bahwa supervisor bekerja dengan guru,
mereka membutuhkan asistensi yang sesuai dengan level konseptual yang dimiliki
guru, dan mereka juga membutuhkan keleluasaan untuk tertarik terhadap
perbaikan dirinya.

6
7. Model Supervisi Terdiferensiasi
Model supervisi ini didefinisikan sebagai pendekatan dalam supervisi yang
memberikan pilihan bagi guru mengenai jenis supervisi dan jenis layanan evaluasi
yang diinginkan. Supervisor bertindak hanya sebagai fasilitator, tetapi
memberikan opsi supervisi bagi guru dimana mereka bertanggung jawab atas
proses supervisi tersebut. Model ini mirip dengan model supervisi pengembangan,
hanya saja pada model ini supervisor memberikan alternatif-alternatif.

8. Model Collaborative Supervision


Supervisi kolaboratif merupakan proses di mana orang dengan keahlian yang
beragam bekerja sama dalam status yang sama dan dengan komitmen yang sama
untuk mencapai tujuan bersama pula. Ciri khas model supervisi ini yang
membedakannya dengan model yang lain adalah lebih mengutamakan pendekatan
kelompok dalam supervisi.

Berdasarkan dua pendapat yang mengkalisifikasikan beberapa model supervisi di atas,


dapat dilihat perbedaan dalam membagi model supervisi tersebut. Tetapi secara garis besar
memiliki kesamaan, seperti supervisi konvensional, ilmiah, klinis, dan artistik. Adapun model
yang lainnya merupakan pengembangan dari keempat model tersebut. Pembagian model di
atas belum terlihat secara praktis dan teknis, masih dalam pengertian dan prinsipnya saja.

Sedangkan secara praktis dan umum, model supervisi terdiri dari dua model, yakni model
Tradisonal dan Modern. Berikut akan diuraikan yang dimaksud dengan model Tradisional
dan Modern tersebut.

1. Model Supervisi Tradisional


Model supervise tradisional terdiri dari observasi langsung dan observasi tidak
langsung. Observasi langsung kepada guru yang sedang mengajar melalui prosedur: pra
observasi, observasi, dan post-observasi.
a. Praobservasi
Sebelum observasi kelas, supervisor seharusnya melakukan wawancara serta
diskusi dengan guru yang diamati. Isi diskusi dan wawancara tersebut mencakup
kurikulum, pendekatan, metode dan strategi, media pengajaran, evaluasi dan
analisis.

7
b. Observasi
Setelah wawancara dan diskusi mengenai apa yang akan dilaksanakan guru
dalam kegiatan belajar mengajar, kemudiaan supervisor mengadakan observasi
kelas. Observasi kelas meliputi pendahuluan (apersepsi), pengembangan,
penerapan, dan penutupan.

c. Post-observasi
Setelah observasi kelas selesai, sebaiknya supervisor mengadakan wawancara
dan diskusi tentang: kesan guru terhadap penampilannya, identifikasi keberhasilan
dan kelemahan guru, identifikasi keterampilan-keterampilan mengajar yang perlu
ditingkatkan, gagasan-gagasan baru yang akan dilakukan dan sebagainya.

Sedangkan observasi tidak langsung kepada guru dapat dilalukakan dengan tes dadakan,
diskusi kasus, dan metode angket. Dalam menggunakan tes dadakan sebaiknya soal-soal yang
diberikan sudah diketahui validitas dan reliabilitasnya. Diskusi kasus berawal dari kasus-
kasus yang ditemukan pada observasi, laporan-laporan, dan studi dokumentasi. Adapun
metode angket berisi pokok-pokok pemikiran yang berkaitan erat dan mencerminkan
penampilan kinerja guru, kualifikasi dan hubungan guru dengan peserta didik.

2. Model Kontemporer atau Modern


Supervisi akademik model kontemporer dilaksanakan dengan pendekatan klinis,
sehingga sering disebut model supervisi klinis. Supervisi klinis merupakan supervisi
akademik yang kolaboratif dengan pendekatan klinis. Prosedur supervisi
klinissamadengan supervise akdemiklangsungnamunpendekatannyaberbeda.

2.2 PENDEKATAN SUPERVISI PENDIDIKAN


Ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan oleh seorang supervisor, hal
ini tentu lebih memudahkan supervisor ketika mensupervisi bawahannya, supervisor
dapat memilih pendekatan mana yang akan digunakan sesuai dengan kondisi lembaga
yang bersangkutan, karena setiap pendekatan dalam supervisi pendidikan memiliki

8
karakteristik yang berbeda. Pemilihan yang tepat bergantung pada masalah yang
dihadapi dan tujuan yang hendak dicapai. Untuk kepentingan yang dimaksud,
beberapa pendekatan supervisi yang dikemukakan oleh Wahyudi adalah pendekatan
kolegial, pendekatan individual, pendekatan klinis dan pendekatan artistik dalam
pengajaran.
1. Pendekatan Kolegial
Supervisi kolegial atau yang biasa disebut supervisi rekanan
diistilahkan dalam beberapa nama antara lain, peer supervision,
cooperative professional development dan bahkan sering dikatakan
collaborative supervision. Supervisi kolegial sebagai proses formal
moderat dimana dua orang guru atau lebih bekerjasama untuk kepentingan
perkembangan profesional guru. Bentuk supervisi kolegial menurut
Kimbrough adalah :
- Pertemuan guru-guru dengan agnda yang jelas dan membicarakan
topik-topik yang berkaitan dengan kemajuan pendidikan di
sekolah;
- Lokakarya (workshops) yaitu dengan kegiatan kelompok yang
terdiri dari Kepala Sekolah, Supervisor (Pengawas) dan guru untuk
memecahkan masalah yang dihadapi melalui percakapan dan
bekerja secara kelompok;
- Observasi sesama guru di kelas yaitu dengan melibatkan sesama
rekan guru secara bergantian untuk melihat dan menilai kegiatan
pembelajaran di Kelas dengan keberhasilan dan kekurangannya.
-
2. Pendekatan Individual
Pendekatan ini disebut dengan wawancara individual yaitu kesempatan
yang diciptakan oleh pengawas atau kepala sekolah untuk bekerja secara
individual dengan guru sehubungan dengan masalah-masalah
profesionalnya. Pendekatan ini, menekankan pada tanggung jawab pribadi
guru terhadap prfesionalismenya. Bentuk dari pendekatan ini adalah guru
membuat rancangan pembelajaran, selanjutnya disampaikan kepada
supervisor, Kepala Sekolah atau pihak lain yang kompeten. Pada akhir
semester, biasanya guru dan supervisor bertemu untuk membicarakan

9
kendala yang dihadapi selama melaksanakan program pembelajaran.
Pendekaran ini cocok bagi guru yang lebih suka bekerja sendiri.

3. Pendekata Klinis
Pendekatan klinis adalah bentuk supervisi yang difokuskan pada
peningkatan pembelajaran dengan tahapan atau siklus yang sistematis
dalam perencanaan, pengamatan serta analisis yang logis dan intensif
mengenai penampilan mengajar yang nyata dalam mengadakan perubahan
dengan cara yang rasional. Ada beberapa tahapan perencanaan supervisi
klinis:
- Tahap pertemuan awal, merupakan pembuatan kerangka kerja,
karena itu perlu diciptakan suasana akrab dan terbuka antara
supervisor dengan guru sehingga guru merasa percaya diri dan
memahami tujuan diadakan pendekatan klinis;
- Tahap obsevasi kelas, guru melakukan kegiatan pembelajaran
sesuai pedoman dan prosedur yang disepakati pada tahap awal.
Selanjutnya supervisor melakukan observasi berdasarkan
instrumen yang telah dibuat dan disepakati dengan guru. Setelah
observasi, sepervisor mengumpulkan informasi untuk membantu
guru dalam menganalisis pembelajaran;
- Tahap pertemuan akhir atau balikan, supervisor mengevaluasi hal-
hal yang terjadi selama observasi dan seluruh siklus proses supevisi
dengan tujuan meningkatkan perfomansi guru. Pertemuan akhir ini
merupakan diskusi umpan balik antara suprvisor dan guru.
Supervisor memaparkan data objektif sehingga guru dapat
mengetahui kekurangan dan kelebihan selama pembelajaran
berlangsung. Dasar dari balikan terhadap guru adalah kesepakatan
tentang item-ite observasi yang telah dibuat sehingga guru
menyadari tingkat prestasi yang dicapai.

Ada beberapa ciri-ciri dari supervisi klinis adalah;

1) Hakikatnya supervisor dan guru sederajat dan saling membantu


meningkatkan kemampuan profesionalism,

10
2) Fokus supervisi klinis pada perbaikan cara mengajar, bukan mengubah
kepribadian guru,

3) Balikan supervisi klinis didasarkan atas bukti pemgamatan,

4) Bersifat konstruktif dan memberi penguatan pada pola dan tingkah laku
yang telah dicapai,

5) Tahapan supervisi klinis merupakan kontinuitas dan dibangun atas


pengalaman masa lampau,

6) Supervisi klinis merupakan proses memberi dan menerima yang dinamis,

7) Guru mempunya kebebasan dan tanggung jawb untuk mengemukakan


persoalan menganalisis cara mengajarnya sendiri dan mengembangkannya,

8) Supervisor mempunyai kebebasan dan tanggung jawab untuk menganalisis


dan mengevaluasi cara melakukan supervisi,

9) Guru mempunyai prakarsa dan tanggungjawab dalam meningkatkan


kompetensi pedagogik,

10) Supervisor dan guru bersifat terbukadalam mengumpulkan pendapat dan


saling menghargai.

4. Pendekatan Artistik Dalam Supervisi Pengajaran


Menurut Good V. Carter, artistik adalah kegiatan manusia yang terarah
pada pencapaian suatu tujuan, tetapi dalam pemkaian umum terbatas pada
kegiatan yang melibatkan kemampuan kreatif kecerdikan pertimbangan
dan keterampilan. Pendekatan artistik dalam supervisi pengajaran adalah
setiap bentuk layanan bantuan profesional kepada guru-guru secara
individu maupun kelompok dalam rangka perbaikan pengajaran dan
perbaikan program kurikulum melalaui proses yang memerlukan intuisi,
kreatifitas, kecerdikan, keterampilan yang dilakukan oleh supervisor dalam

11
kegiatan supervisi yang belum disepakati secara tertulis dalam rangka
meningkatkan mutu pendidikan.
Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk meningkatkan kualitas
pendidikan di sekolah dengan cara berusaha menyingkap pengajaran
sekaligus menjangkau latar belakang guru. Pendekatan ini mempunyai
ciri-ciri :
- Menerima kenyataan bahwa supervisor dengan segala kelebihan
dan kekurangan, kepekaan dan pengalamannya merupakan
instrumen pokok. Dengak kata lain supervisor yang memberikan
makna atas segala kegiatan selama proses pembelajaran;
- Memerlukan hubungan yang baik anatara supervisor dan guru.

5. Pendekatan Ilmiah
Pendekatan ilmiah dalam supervisi pembelajaran ini terkait erat dengan
pengupayaan efektivitas pembelajaran, artinya memberikan responsi atas
kekurangan-kekurangan dalam menilai efektivitas pembelajaran.
Kekurangan tersebut dapat berupa :
- Kurang tegasnya dan kurang jelasnya standar-standar yang
dipergunakan untuk menilai efektif tidaknya pembelajaran dewasa
ini.
- Sulit menentukan metode-metode yang paling baik.
- Sulit menentukan guru mana yang mengajar dan melaksanakan
tugas yang paling baik.

Dalam pandangan ilmiah, pembelajaran dipandang sebagai ilmu (science), maka


perbaikan pembelajaran dapat dilakukan Supervisor dengan menggunakan metode-metode
ilmiah, ada beberapa langkah dalam melaksanakan pendekatan ilmiah ini, sebagai berikut:

1. Mengimplementasikan hasil penemuan para peneliti.

12
Dengan hasil temuan peneliti, akan diketahui mana pembelajaran yang efektif
dan yang tidak efektif, tentunya penemuan itu berdasarkan pada teori-teori
pembelajaran yang teruji. Sehingga Supervisor bisa mencapai sasaran dari sepervisi.

2. Bersama-sama dengan peneliti mengadakan penelitian di bidang pembelajaran dan hal


lainnya yang bersangkut paut dengannya.
Tindakan penelitian harus dilakukan oleh Supervisor bersama-sama
pembelajaran dan Supervisor akan mendapat gambaran mengenai pembelajaran yang
dilakukan oleh guru bersama dengan siswanya.

3. Menerapkan metode ilmiah dan mempunyai sikap ilmiah dalam menemukan


efektifitas pembelajaran.
Sikap ilmiah tersebut, antara lain : jernih dalam memandang persoalan tanpa
ada pertensi, menjaga jarak dalam hal yang diamati, obyektif serta menggunakan
kerangka-kerangka yang diakui dalam pendekatan ilmiah.

Menurut Piet A. Suhertian, ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam supervisi
yaitu pendekatan direktif, pendekatan non-direktif dan pendekatan kolaboratif, ketiga
pendekatan tersebut bertitik tolak pada teori psikologi belajar, berikut ini penjelasan ketiga
pendekatan tersebut.

1. Pendekatan Direktif (langsung).


Pendekatan ini lahir dari teori psikologi behaviorisme yaitu segala perbuatan
berasal dari refleks, atau respons terhadap rangsangan/stimulus. Maka dari itu guru
yang mempunyai kekurangan perlu diberikan rangsangan agar ia bisa bereaksi dengan
penguatan (reinforcement) atau hukuman (punishment). Adapun yang dimaksud
dengan pendekatan direktif adalah cara pendekatan terhadap masalah yang bersifat
langsung. Supervisor memberikan arahan langsung, dengan tujuan agar guru yang
mengalami problem perlu diberi rangsangan langsung agar ia bisa bereaksi
Adapun langkah-langkah pendekatan direktif yaitu : menjelaskan,
menyajikan, mengarahkan, memberi contoh, menetapkan tolok ukur, dan
menguatkan. Dan disimpulkan oleh Sri Banun Muslim dengan istilah prilaku
supervisiyaitu: demonstrating (menunjukkan), directing (mengarahkan), standizing
(mempersiapkan) dan reinforcing (memperkuat).

13
Dengan demikian, Supervisor menjadi central yang menentukan perbaikan
pada guru, supervisor harus aktif, kreatif, dan inovatif dalam memperbaiki cara
mengajar guru, sehingga guru tidak merasa di dikte dalan mengembangkan
kemampuannya dan kreativitasnya.

2. Pendekatan Non-direktif (tidak Langsung).


Pendekatan ini lahir dari pemahaman psikologi humanistik, yang sangat
menghargai orang yang akan dibantu, dengan mendengar permasalahan. Dengan
demikian pendekatan non-direktif yaitu cara pendekatan terhadap permasalahan yang
bersifat tidak langsung. Supervisor tidak secara langsung menunjukkan permasalahan,
tapi terlebih dahulu mendengarkan secara aktif apa yang dikemukakan guru.
Supervisor memberikan sebanyak mungkin kepada guru untuk mengemukakan
permasalahan yang dialami, oleh karena itu kepribadian guru yang dibina begitu
dihormati. Selain itu menurut Sri Banun Muslim, bahwa guru harus mampu
memecahkan masalahnya sendiri.Peranan supervisor disini adalah
mendorong/membangkitkan kesadaran sendiri dan pengalaman-pengalaman guru
diklasifikasikan.Pendekatan ini dilebih tepat digunakan terhadap guru yang
proesional. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pada pendekatan non-direktif
ini guru menjadi central yang menentukan perbaikan pada dirinya sendiri.Supervisor
hanya membantu, mendorong guru agar mampu mengembangkan kemampuannya dan
kreativitasnya.
Adapun langkah-langkah pendekatan non-direktif yaitu : mendengarkan,
memberikan penguatan, menjelaskan, menyajikan dan memecahkan masalah. Dan
disimpulkan oleh Sri Banun Muslim dengan istilah prilaku supervisi, yaitu meliputi:
listenning (mendengarkan), clarifying (mengklarifikasi), encouriging (mendorong),
presenting (menyajikan), problem solving (memecahkan masalah), negotiating
(negosiasi), demonstrating (menunjukkan), directing (mengarahkan), standadizing
(menyiapkan) dan reinforcing (memperkuat).

3. Pendekatan Kolaboratif.
Pendekatan kolaboratif ini lahir dari psikologi kognitif, yang beranggapan
bahwa belajar adalah hasil paduan antara kegiatan individu dan lingkungan pada
gilirannya nanti berpengaruh dalam pembentukan aktivitas individu. Dengan
demikian pendekatan kolaboratif adalah cara pendekatan yang memadukan cara
14
pendekatan direktif dan non-direktif. Pada pendekatan ini Supervisor dan guru
bersama-sama, bersepakat untuk menetapkan struktur, proses dan kriteria dalam
melaksanakan proses percakapan terhadap masalah yang dihadapi, pendekatan
kolaboratif ini mengunakan kumunikasi dua arah, dari atas ke bawah dan dari bawah
ke atas. Pendekatan ini dilebih tepat digunakan terhadap guru tukang kritik atau
terlalu sibuk. Tugas supervisor adalah meminta penjelasan kepada guru apabila ada
hal-hal yang diungkapkannya kurang dipahami, kemudian mendorong guru untuk
mengaktualisasikannya inisiatif yang dipikirkannya untuk memecahkan masalah yang
dihadapinya atau meningkatkan pengajarannya. Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa pada pendekatan kolaboratif ini, yang menjadi central adalah supervisor dan
guru. Keduanya saling mengisi untuk menentukan perbaikan dan pengembangan
kemampuan dan kreativitas guru.
Adapun langkah-langkah pendekatan non-direktif yaitu : menyajikan,
menjelaskan, mendengarkan, memecahkan masalah dan negosiasi. Dan disimpulkan
oleh Sri Banun Muslim dengan istilah prilaku supervisi, yaitu meliputi
: presenting (menyajikan), problem solving (pemecahan masalah),
dan negotiating (negosiasi).

BAB III
PENUTUP

15
Supervisi merupakan bantuan dalam wujud layanan professional yang diberikan oleh
orang yang lebih ahli dalam proses belajar mengajar. Adapun tujuan supervisi adalah
terbaikinya proses belajar mengajar, yang didalamnya melibatkan guru dan siswa, melalui
serangkaian tindakan, bimbingan dan arahan. Proses supervisi merupakan rangkaian yang
dilaksanakan ketika supervisi dilaksanakan. Prosedur supervisi juga dapat dilaksanakan
dengan proses yaitu pertemuan pendahuluan, observasi guru yang sedang mengajar, dan
pertemuan balikan. Pelaksanaannya supervisi pengajaran juga berkembang melalui
pendekatan-pendekatan yang memiliki pijakan ilmu tertentu.

16
Pertanyaan :

1. Rizka : Pendekatan yang di pakai di pendidikan di Indonesia?


2. Yolanda : Pendekatan yang mana yang paling efektif? Kenapa?
3. Novi : Model apa yang paling baik untuk di terapkan?
4. Deaphenia : Apa yang dimaksud dengan rangsangan penguatan secara langsung?

Jawaban :

Pendekatam klinis, pendekatan tersebut terhadap supervisor terhadap guru menggunakan


tahapan – tahapan yang sistematis (terstruktur) mengenai penampilan mengajar guru agar
mengubah atau membentuk perubahan menjadi lebih baik dalam mengajar sehingga
meningkatkan performansi guru. Tahapan tersebut meliputi 3 hal :

1. Tahapan pertemuan awal


2. Tahapan observasi kelas
3. Tahapan pertemuan akhir

Pendekatan individual, pendekatan tersebut dapat mengetahui sikap profesionalitas guru,


membantu guru untuk memperoleh keterampilan tentang teknik, metode, dan cara mengatasi
kesulitan – kesulitan tertentu dalam mengajar dan yang paling utama adalah memberikan
motivasi yang terarah terhadap aktivitas mengajar, menganalisa test – test terhadap unit – unit
kerja dan mencatat aktivitas murid – murid dalam suatu catatan baik mereka bekerja secara
individu atau kelompok.

Rangsangan penguatan secara langsung, yaitu memberikan umpan balik secara langsung
kepada guru setelah guru mengajar. Hal ini yang dimaksudkan rangsangan penguatan secara
langsung sehingga dalam kegiatan belajar mengajar berikutnya guru mampu untuk
meningkatkan performa mengajar.

17
DAFTAR PUSTAKA

Aedi, Nur.2014. Pengawasan Pendidikan, TinjauanTeori Dan Praktik, Jakarta: Raja


GrafindoPersada.

2008. Sahertain, Piet. 2008. Konsep Dasar Dan Teknik Supervisi Pendidikan, Jakarta:
RinekaCipta.

DiatPrasojo, Lantip., Sudiyono. 2011. Supervisi Pendidikan, Yogyakarta: Gava Media.

JuniPriansa, Doni., RismiSomad.


20014. ManajemenSupervisidanKepemimpinanKepalaSekolah. Bandung: Alfabeta.
18
Suhardan, Dadang. 2010. SupervisiProfesional, Bandung: Alfabeta.

NurAedi, Pengawasan Pendidikan, TinjauanTeori Dan Praktik, (Jakarta: Raja


GrafindoPersada, 2014), hlm. 55.

DadangSuhardan, SupervisiProfesional, (Bandung: Alfabeta, 2010), hlm. 43.

Piet A. Sahertain, Konsep Dasar Dan Teknik Supervisi Pendidikan, (Jakarta: RinekaCipta,
2008), hlm. 35-42.

NurAedi, Pengawasan Pendidikan, (Jakarta: Raja GrafindoPersada, 2014), hlm. 55-66.

LantipDiatPrasojodanSudiyono, Supervisi Pendidikan, (Yogyakarta: Gava Media, 2011),


hlm. 88-90. Lihat juga Donni
JuniPriansadanRismiSomad, ManajemenSupervisidanKepemimpinanKepalaSekolah,
(Bandung: Alfabeta, 2014), hlm. 111-113.

https://www.google.com/amp/s/ulfatulhasanah.wordpress.com/2015/02/24/39/amp/?espv=1

http://yulianti200784.blogspot.co.id/2009/06/teknik-dan-pendekatan-supervisi.html?m=

gestiaqmalina.blogspot.co.id/2014/05/makalah-kelompok-7-supervisi-pendidikan.html?m=1

19