Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

Sistem politik adalah suatu bagian yang pasti ada di setiap negara, sistem
politik sendiri berfungsi sebagai pengatur dan membuat peraturan untuk dipatuhi
oleh seluruh warga negaranya. Ada beberapa sistem politik yaitu sistem politik
komunis, liberal dan demokrasi dari beberapa sistem politik tersebut masih ada
juga sistem politik Islam. Setiap Negara pasti memiliki sistem politiknya masing-
masing. Seperti misalnya Negara Indonesia yang menggunakan sistem politik
demokrasi yang berarti sistem tersebut didasarkan pada nilai, prinsip, prosedur,
dan kelembagaan yang demokratis. Salah satu tanggung jawab dan beban tugas
yang harus dipikul dalam bidang politik hukum Islam, adalah mengkaji tentang
korupsi dan sanksinya.

Terdapat banyak ungkapan yang dapat di pakai untuk menggambarkan


pengertian korupsi, meskipun tidak seutuhnya benar. Akan tetapi tidak terlalu
menjauh dari hakikat dan pengertian korupsi itu sendiri. Ada sebagian yang
menggunakan istilah “ikhtilas” untuk menyebutkan prilaku koruptor, meskipun
dalam KBBI di temukan arti aslinya yaitu mencopet atau merampas harta orang
lain.
Realitanya praktikal korupsi yang selama ini terjadi ialah berkaitan dengan
pemerintahan sebuah negara atau public office, sebab esensi korupsi merupakan
prilaku yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku di pemerintahan yang
terletak pada penggunaan kekuasaan dan wewenang yang terkadung dalam suatu
jabatan di satu pihak dan di pihak lain terdapat unsure perolehan atau keuntungan,
baik berupa uang atau lainnya. Sehingga tidak salah apabila ada yang memberikan
definisi korupsi dengan ungkapan “Akhdul Amwal Hukumah Bil Bathil” apapun
istilahnya, korupsi laksana dunia hantu dalam kehidupan manusia. Mengapa saya
mengungkapkan dunia hantu, sebab dunia hantu merupakan dunia yang tidak
tampak wujut jasadnya, akan tetapi hanya dapat dirasakan dampaknya. Dunia
hantu merupakan sebuah ilusi-fantasi yang mengimplikasikan terhadap dunia
ketidak jujuran, kebohongan, dan hilangnya sebuah kepercayaan. Pemberantasan
permasalahn korupsi saat menjadi hal yang sangat penting dan harus di utamakan
agar para pelaku korupsi (koruptor) memiliki efek jera dan hal ini dapat penjadi
pembelajaran bagi orang lain agar tidak melakukan korupsi.

Berdasarkan hal tersebut penulis termotifasi untuk membuat sebuah karya


inovasi dengan tema KORUPSI dan judul ”Pemberantasan Korupsi Demi
Kesejahteraan Masyarakat”.

1
Pemberabtasan Korupsi Demi Kesejahteraan Masyarakat.
1.1 Rumusan Masalah

 Bagaimanakah pandangan korupsi menurut islam?


 Bagaimana hukum dan syariat korupsi dalam islam?
 Apa saja penyebab korupsi?
 Apa saja dampak-dampak korupsi bagi masyarakat dan bangsa?
 Bagaimana cara memberantas korupsi di indonesia?

2
Pemberabtasan Korupsi Demi Kesejahteraan Masyarakat.
BAB II
PEMBAHASAN

Korupsi dalam Pandangan Islam


Ajaran hukum Islam yang sangat menjunjung tinggi pemeliharaan akan
kesucian baik lahir maupun bathin, menghendaki agar manusia (umat islam)
dalam melakukan sesuatu harus sesuai fitrahnya, yakni apa yang telah dtentukan
dalam al-Quran dan As Sunnah yang merupakan sumber hukum tertinggi.
Pemeliharaan akan kesucian begitu ditekankan dalam hukum Islam, agar manusia
(umat Islam) tidak terjerumus dalam perbuatan kehinaan atau kedhaliman baik
terhadap dirinya maupun terhadap orang lain.
Islam adalah agama yang sangat menjujung tinggi akan arti kesucian,
sehingga sangatlah rasional jika memelihara keselamatan (kesucian) harta
termasuk menjadi tujuan pokok hukum (pidana) Islam, karena mengingat harta
mempunyai dua dimensi, yakni dimensi halal dan dimensi haram. Perilaku
korupsi adalah harta berdimensi haram karena korupsi menghalalkan sesuatu yang
diharamkan, dan korupsi merupakan wujud manusia yang tidak memanfaatkan
keluasan dalam memproleh rezeki Allah SWT.
Islam membagi Istilah Korupsi kedalam beberapa dimensi, yaitu:
1. Risywah (suap)
Korupsi dalam dimensi suap (risywah) dalam pandangan hukum Islam
merupakan perbuatan yang tercela dan juga merupakan dosa besar serta Allah
sangat melaknatnya. Islam tidak menentukan apa hukuman bagi pelaku suap, akan
tetapi menurut fuquha bagi pelaku suap-menyuap ancaman hukumanya berupa
hukuman ta’zir (jarimah ta’zir) yang disesuaikan dengan peran masing-masing
dalam kejahatan. Suap adalah memberikan sesuatu kepada orang penguasa atau
pegawai dengan tujuan supaya yang menyuap mendapat keuntungan dari itu atau
dipermudahkan urusanya. Jika praktek suap itu dilakuakan dalam ruang lingkup
peradilan atau proses penegakkan hukum maka hal itu merupakan kejahatan yang
berat atau sejahat-jahatnya kejahatan. Abu Wail mengatakan bahwa apabila
seorang hakim menerima hadiah, maka berarti dia telah makan barang haram, dan
apabila menerima suap, maka dia sampai pada kufur.
2. saraqah (pencurian)
Saraqah (pencurian) menurut etimologinya berarti melakukan sesuatu
tindakan terhadap orang lain secara tersembunyi.Sedangkan menurut Abdul Qadir
‘Awdah pencurian didefinisikan sebagai suatu indakan yang mengambil harta
orang lain dalam keadaan sembunyi-sembunyi, artinya mengambil tanpa
sepengetahuan pemiliknya. Jadi sariqah adalah mengambil barang milik orang
lain dengan cara melawan hukum atau melawan hak dan tanpa sepengetahuan
pemiliknya. Seperti halnya korupsi yang mengambil harta dengan cara melawan
hak dan tanpa sepengetahuan pemiliknya (rakyat/masyarakat). Dalam syariah

3
Pemberabtasan Korupsi Demi Kesejahteraan Masyarakat.
ancaman terhadap pelaku sariqah (pencurian) ditentukan dengan jelas
sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al Maidah: 38, Allah berfirman :

Artinya:
“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, maka potomglah tangan
keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan. Dan Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(QS. Al-Maidah:38)

3. Al gasysy (penipuan)
Rasulullah SAW. Pernah bersabda “Allah mengharamkan surga bagi
orang-orang yang melakukan penipuan. Terlebih penipuan itu dilakukan oleh
seorang pemimpin yang mempecundangi rakyatnya.”
“Dari Abu Ya’la Ma’qal ibn Yasar berkata: “ Aku mendengar Rosulullah
saw. Bersabda :” seorang hamba yang dianugerahi Allah SWT jabatan
kepemimpinan, lalu dia menipu rakyatnya; maka Allah mengharamkannya masuk
surga.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

4. Khianat (penghianatan)
Bahasa Agama tentang korupsi yang sebenarnya adalah khianat
(penghianatan), khianat berkecenderungan mengabaikan, menyalahgunakan, dan
penyelewengan terhadap tugas, wewenang dan kepercayaan yang di amanahkan
kepada dirinya. Khianat adalah pengingkaran atas amanah yang dibebankan
kepada dirnya atau mengurangi kewajiban-kewajiban yang seharusnya dipenuhi.
Perilaku khianat akan menyebabkan permusuhan diantara sesama karena orang
yang berkhianat selalu memutar-balikkan fakta, dan juga berakibat terjadinya
destruksi baik secara moral, social maupun secara politik-ekonomi. Islam
melarang keras bagi orang-orang yang beriman terhadap perbuatan khianat baik
terhadapa Allah, Rasul serta terhadap sesamanya.
Dalam surat Al-Anfal: 27, Allah berfirman:
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghianati Allah dan Rasul
(Muhammad) dan (juga) janganlah kamu menghianati amanat-amanat yang
dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahuinya”. (QS. Al-Anfal:27)

Dari apa yang telah dijelaskan diatas, bahwasanya korupsi (dengan berbagai
nama) dalam Islam digolongkan sebagai suatu perbuatan yang tercela dan
pelakunya dikualifikasi sebagai orang-orang yang munafik, dzalim, fasik dan
kafir.

4
Pemberabtasan Korupsi Demi Kesejahteraan Masyarakat.
Hukum dan Syariat Korupsi dalam Islam

Ada banyak Ayat dan Hadits yang menjelaskan posisi atau hukum korupsi
dalam pandangan Islam, diantaranya :

Firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah [2] :188


Artinya :
“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara
kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu
kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda
orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui”
(QS. Al-Baqarah : 188)
Ayat diatas jelas jelas melarang kita untuk mengambil harta orang lain
dengan cara-cara yang tidak benar. Dan "larangan" dalam pengertian aslinya
bermakna "haram", Dan ke"haram"an ini menjadi lebih jelas, ketika Allah SWT.
menggunakan lafadh “bilitsmi” yang artinya "dosa". Dari sini, jelas mengambil
harta yang bukan miliknya termasuk diantaranya korupsi adalah haram
hukumnya, sama haramnya dengan pekerjaan berzina, membunuh dan
semacamnya.

Dalam ajaran Islam secara gamblang mengharamkan bahkan mengutuk perbuatan


korupsi, seperti tersirat dalam beberapa beberapa ayat dalam Al-Qur’an,
diantaranya :
1. QS. Al-Anfal (8) ayat 27 :
“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menkhianati Allah dan rasulnya
(Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang
dipercakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”
2. QS Al-Anfal (8) ayat 58 :
“Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan,
maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat”
3. QS Al-Baqarah (2) ayat 188 :
"Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu
dengan jalan yang batil, dan janganlah kamu membawa (urusan) harta itu kepada
hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu
dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui"
4. QS An-Nisa’ (4) ayat 29 :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu
dengan jalan yang batil,…..”
5. QS An-Nisa’ (4) ayat 58 :
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang

5
Pemberabtasan Korupsi Demi Kesejahteraan Masyarakat.
berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara
manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi
pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah maha
mendengar lagi maha melihat”
6. QS An-Nisa’ (4) ayat 107 :
“Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati
dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat
lagi bergelimang dosa”
7. QS Al-Hajj (22) ayat 38 :
“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat”

Dalam beberapa hadits, Rasulullah SAW bersabda :


1. “Barangsiapa yang kami pekerjakan pada suatu jabatan, kemudian kami beri
gaji, malahan diambilnya lebih dari itu, berarti penipuan” (HR Abu Daud)
2. “Allah SWT melaknat orang yang menyuap, menerima suap, dan yang jadi
perantara”(HR Ahmad Hakim).
3. “Terlaknatlah orang yang disuap dan yang menyuap”(HR Ahmad).
4. “Jika amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancuran. Kemudian dinyatakan :
“bagaimana maksud amanah disia-siakan itu? Rasul menjawab : “Jika suatu
perkara (amanat/pekerjaan) diserahkan pada orang yang tidak ahli (profesional,
maka tunggulah saat kehancuran” (HR Bukhori)
5. :“Barangsiapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan
(urusan), lalu dia menyembunyikan dari kami sebatang jarum atau lebih dari itu,
maka itu adalah ghulul (belenggu, harta korupsi) yang akan dia bawa pada hari
kiamat” (HR Adiy bin ‘Amirah Al Kindi)

Keharaman Korupsi Ditinjau Dari Beberapa Segi


a. Curang
Perbuatan korupsi merupakan perbuatan curang yang secara langsung
merugikan keuangan negara (masyarakat). Allah SWT memberi peringatan agar
kecurangan dan penipuan itu dihindari, seperti pada firman-Nya, "Tidak mungkin
seorang Nabi berkhianat dalam urusan rampasan perang. Barangsiapa yang
berkhianat dalam urusan harta rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia
akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu; kemudian tiap-tiap diri akan
diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal,
sedang mereka tidak dianiaya.” (QS. Ali Imran:161).
b. Khianat
Berkhianat terhadap amanat adalah perbuatan terlarang dan berdosa.
Allah SWT memerintahkan kita untuk memelihara dan menyampaikan amanat

6
Pemberabtasan Korupsi Demi Kesejahteraan Masyarakat.
kepada yang berhak menerimanya, seperti dalam ayat yang berbunyi
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang
berhak menerimanya, dan [menyuruh kamu] apabila menetapkan hukum di antara
manusia supaya kamu menetapkan dengan adil .”(QS. An-Nisa: 58).
ayat ini mengandung pengertian bahwa mengkhianati amanat adalah terlarang lagi
haram.
c. Aniaya (Dholim)
Perbuatan korupsi untuk memperkaya diri dari harta negara adalah
perbuatan dzalim (aniaya), karena kekayaan negara adalah harta yang dipungut
dari masyarakat termasuk masyakarat yang miskin dan buta huruf yang mereka
peroleh dengan susah payah. Oleh karena itu, amatlah dzalim seorang pejabat
yang memperkaya dirinya dari harta masyarakat tersebut, sehinga Allah SWT
memasukkan mereka ke dalam golongan yang celaka besar, sebagaimana
firmanNya, “kecelakaan besarlah bagi orang-orang dzalim yakni siksaan di hari
yang pedih." (QS. Az-Zukhruf: 65).
d. Suap dan Gratifikasi
Istilah lain yang serupa dengan korupsi tetapi tak sama adalah
risywah/suap menyuap. Jika ghulul dilakukan oleh satu pihak yang aktif, risywah
dilakukan oleh dua pihak yang sama-sama aktif dan sama-sama berkepentingan.
Orang yang menyuap disebut dengan ar-rasyi dan yang meminta atau menerima
suap disebut dengan al-murtasyi. Risywah sangatlah berbahaya bagi kehidupan
masyarakat, karena dapat merusak sistem yang adil dan dapat memutarbalikan
fakta dan kebenaran. Risywah dapat mengahambat nilai profesionalitas, merusak
martabat pihak lain, dan menurunkan standar kualitas. Betapa tidak, masyarakat
menjadi tidak jujur dalam menilai sesuatu, menyebabkan biaya tinggi dan dapat
mempengaruhi keputusan seseorang. Dalam kehidupan politik, suap sering
dikenal sebagai money politics (politik uang). Artinya, dengan menggunakan
kekuatan uang (dan sejenisnya) keputusan atau pilihan seseorang dapat berubah.
Suap seringkali digunakan untuk mengurangi hukuman seseorang, bahkan
membebaskannya dari tuntutan hukum.Hadist-hadist tentang risywah, antara lain:
Bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Allah SWT melaknat orang yang menyuap
dan orang yang disuap terkait masalah hukum/kebijakan.”
Hadist ini menjelaskan bahwa Allah SWT melaknat orang yang menyuap dan
menerima suap dalam masalah hukum atau kebijakan.
Dalam riwayat lain disebutkan Rasulullah SAW bersabda: “ Laknat Allah untuk
orang yang memberi suap dan yang menerima suap.” (HR. Ahmad dan Ibnu
Majjah)
e. Penipuan
Dalam lingkup masyarakat bawah, mungkin pernah atau bahkan banyak
kita jumpai, seseorang yang mendapat amanah untuk membelanjakan sesuatu,
kemudian setelah dibelanjakan, uang yang diberikan pemiliknya masih tersisa,

7
Pemberabtasan Korupsi Demi Kesejahteraan Masyarakat.
tetapi dia tidak memberitahukan adanya sisa uang tersebut, meskipun hanya
seratus rupiah, melainkan masuk ke ‘saku’nya, atau dengan cara memanipulasi
nota belanja. Adapun koruptor kelas kakap, maka tidak tanggung-tanggung yang
dia ambil sampai milyaran bahkan triliyunan. Sejauh mana bahaya perbuatan ini?
Rasulullah bersabda dari ‘Adiy bin ‘Amirah Al Kindi Radhiyallahu 'anhu berkata
:“Barangsiapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan
(urusan), lalu dia menyembunyikan dari kami sebatang jarum atau lebih dari itu,
maka itu adalah ghulul (belenggu, harta korupsi) yang akan dia bawa pada hari
kiamat”. Maka ada seorang lelaki hitam dari Anshar berdiri menghadap Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu dia berkata,"Wahai Rasulullah, copotlah
jabatanku yang engkau tugaskan." Nabi SAW bertanya,"Ada apa gerangan?” Dia
menjawab,"Aku mendengar engkau berkata demikian dan demikian (maksudnya
perkataan di atas)." Beliau pun berkata,"Aku katakan sekarang, (bahwa)
barangsiapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan (urusan),
maka hendaklah dia membawa (seluruh hasilnya), sedikit maupun banyak.
Kemudian, apa yang diberikan kepadanya, maka dia (boleh) mengambilnya.
Sedangkan apa yang dilarang, maka tidak boleh. ”Nabi SAW menyampaikan
peringatan atau ancaman kepada orang yang ditugaskan untuk menangani suatu
pekerjaan (urusan), lalu ia mengambil sesuatu dari hasil pekerjaannya tersebut
secara diam-diam tanpa seizin pimpinan atau orang yang menugaskannya, di luar
hak yang telah ditetapkan untuknya, meskipun hanya sebatang jarum. Maka, apa
yang dia ambil dengan cara tidak benar tersebut akan menjadi belenggu, yang
akan dia pikul pada hari Kiamat. Yang dia lakukan ini merupakan khianat
(korupsi) terhadap amanah yang diembannya. Dia akan dimintai
pertanggungjawabnya nanti pada hari kiamat.
f. Penggelapan (ghulul)
Selain itu, perbuatan korupsi (ghulul) ini termasuk dalam kategori
memakan harta manusia dengan cara batil yang diharamkan Allah Subhanahu wa
Ta'ala, sebagaimana dalam firmanNya : QS al Baqarah (2) ayat 188 "Dan
janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu
dengan jalan yang batil, dan janganlah kamu membawa (urusan) harta itu kepada
hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu
dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui" dan An-Nisa ayat 29
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu
dengan jalan yang batil…" Adapun larangan berbuat ghulul (korupsi) yang datang
dari Nabi seperti tersebut pada Haditr diatas.Firman Allah dan Hadits di atas
intinya berisi larangan berbuat ghulul (korupsi), yaitu mengambil harta di luar hak
yang telah ditetapkan, tanpa seizin pimpinan atau orang yang menugaskannya.
Asy Syaukani menjelaskan, dalam hadits ini terdapat dalil tidak halalnya (haram)
bagi pekerja (petugas) mengambil tambahan di luar imbalan (upah) yang telah
ditetapkan oleh orang yang menugaskannya, dan apa yang diambilnya di luar itu

8
Pemberabtasan Korupsi Demi Kesejahteraan Masyarakat.
adalah ghulul. Dalam hadits tersebut, Rasulullah SAW menyampaikan secara
global bentuk pekerjaan atau tugas yang dimaksud. Ini dimaksudkan untuk
menunjukkan bahwa peluang melakukan korupsi (ghulul) itu ada dalam setiap
pekerjaan dan tugas, terutama pekerjaan dan tugas yang menghasilkan harta atau
yang berurusan dengannya. Misalnya, tugas mengumpulkan zakat harta, yang bisa
jadi bila petugas tersebut tidak jujur, dia dapat menyembunyikan sebagian yang
telah dikumpulkan dari harta zakat tersebut, dan tidak menyerahkan.

9
Pemberabtasan Korupsi Demi Kesejahteraan Masyarakat.
Penyebab Korupsi

Tindakan korupsi bukanlah hal yang berdiri sendiri. Perilaku korupsi


menyangkut berbagai hal yang sifatnya kompleks dan biasanya terjadi secara
terselubung. Faktor-faktor penyebab bisa dari internal pelaku-pelaku korupsi,
tetapi bisa juga berasal dari situasi lingkungan yang kondusif yang
memungkinkan bagi seseorang untuk melakukan korupsi. Berikut ini adalah
penyebab seseorang melakukan korupsi.

1. Tidak Menerapkan Ajaran Agama

Indonesia dikenal sebagai bangsa religius, bahkan Indonesia merupakan


negara yang memiliki ragam agama terbanyak, yakni 6 agama. 6 agama tersebut
meliputi: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghuchu. Tentunya
dalam ajaran masing-masing agama akan melarang tindak korupsi dalam bentuk
apapun. Kenyataan di lapangan menunjukan bila korupsi masih berjalan subur di
tengah masyarakat. Situasi paradok ini menandakan bahwa ajaran agama kurang
diterapkan dalam kehidupan.

2. Kurang Memiliki Keteladanan Pimpinan

Posisi pemimpin dalam suatu lembaga formal maupun informal


mempunyai pengaruh penting bagi bawahannya. Bila pimpinan tidak bisa
memberi keteladanan yang baik di hadapan bawahannya, misalnya berbuat
korupsi, maka kemungkinan besar bawahannya akan mengambil kesempatan yang
sama dengan atasannya. Setiap perilaku-perilaku atasan akan di contoh oleh
bawahannya. Pemimpin yang baik akan menjadikan rakyat yang baik juga, begitu
juga sebaliknya.
3. Aspek Peraturan Perundang-undangan
Korupsi mudah timbul karena adanya kelemahan di dalam peraturan
perundang-undangan kualitas peraturan yang kurang memadai, peraturan yang
kurang disosialisasikan, sanksi yang terlalu ringan, penerapan sanksi yang tidak
konsisten dan pandang mulu, serta lemahnya bidang evaluasi dan revisi peraturan
perrundang-undangan. Pada intinya peraturan perundang-undangan yang tidak
nyata pada lapangan
4. Moral Yang Kurang Kuat
Seorang yang moralnya tidak kuatcenderung mudah tergoda untuk
melakukan korupsi. Godaan itu bisa berasal dari atasan, teman setingkat,
bawahannya, atau pihak yang lain yang memberi kesempatan untuk berniatan
korupsi. Pembentukan moral yang tidak sempurna dari keluarga bisa menjadi
faktor utama dalam hal ini.
5. Kebutuhan Hidup Yang Mendesak
Dalam rentang kehidupan ada kemungkinan seseorang mengalami situasi

10
Pemberabtasan Korupsi Demi Kesejahteraan Masyarakat.
terdesak dalam hal ekonomi. Keterdesakan itu membuka peluang bagi seseorang
untuk mengambil jalan pintas diantaranya dengan melakukan korupsi. Misalnya
kurang dalam hal ekonomi, sedangkan ia harus membiayai kehidupan keluarga,
sehingga muncul niatan untuk melakukan korupsi demi menafkahi keluarga.
6. Malas atau Tidak Mau Bekerja
Banyak orang yang ingin mendapat penghasilan banyak namun mereka
tidak mau berusaha dengan cara yang susah, tak ingin banyak mengeluarkan
keringat, ini merupakan contoh orang malas adn tidak mau bekerja. Sifat
semacam ini akan potensial melakukan tindakan apapun dengan cara-cara
mmudah dan cepat, diantaranya melakukan korupsi.
7. Gaya Hidup yang Konsumtif
Kehidupan di kota-kota besar seringkali mendorong gaya hidup seseorang
konsuftif semacam ini bila tidak diimbangi dengan pendapatan yang memadai
akan membuka peluang seseorang untuk melakukan tindakan korupsi untuk
mendapatkan hasil yang lebuh banyak lagi dan lagi sebagai bentuk pemenuhan
keinginan.

11
Pemberabtasan Korupsi Demi Kesejahteraan Masyarakat.
Dampak-dampak Korupsi Bagi Masyarakat dan Bangsa
Kesejahteraan umum negara

Korupsi politis ada di banyak negara, dan memberikan ancaman besar bagi
warga negaranya. Korupsi politis berarti kebijaksanaan pemerintah sering
menguntungkan pemberi sogok, bukannya rakyat luas. Satu contoh lagi adalah
bagaimana politikus membuat peraturan yang melindungi perusahaan besar,
namun merugikan perusahaan-perusahaan kecil (SME). Politikus-politikus “pro-
bisnis” ini hanya mengembalikan pertolongan kepada perusahaan besar yang
memberikan sumbangan besar kepada kampanye pemilu mereka.

Demokrasi

Korupsi menunjukan tantangan serius terhadap pembangunan. Di dalam


dunia politik, korupsi mempersulit demokrasi dan tata pemerintahan yang baik
(good governance) dengan cara menghancurkan proses formal. Korupsi di
pemilihan umum dan di badan legislatif mengurangi akuntabilitas dan perwakilan
di pembentukan kebijaksanaan; korupsi di sistem pengadilan menghentikan
ketertiban hukum; dan korupsi di pemerintahan publik menghasilkan ketidak-
seimbangan dalam pelayanan masyarakat. Secara umum, korupsi mengkikis
kemampuan institusi dari pemerintah, karena pengabaian prosedur, penyedotan
sumber daya, dan pejabat diangkat atau dinaikan jabatan bukan karena prestasi.
Pada saat yang bersamaan, korupsi mempersulit legitimasi pemerintahan dan nilai
demokrasi seperti kepercayaan dan toleransi.

Menghambat investasi dan pertumbuhan ekonomi.

Menurut Chetwynd et al (2003), korupsi akan menghambat pertumbuhan


investasi. Baik investasi domestik maupun asing. Mereka mencontohkan fakta
business failure di Bulgaria yang mencapai angka 25 persen. Satu dari 4
perusahaan di negara tersebut mengalami kegagalan dalam melakukan ekspansi
bisnis dan investasi setiap tahunnya akibat korupsi penguasa. Selanjutnya,
terungkap pula dalam catatan Bank Dunia bahwa tidak kurang dari 5 persen GDP
dunia setiap tahunnya hilang akibat korupsi. Sedangkan Uni Afrika menyatakan
bahwa benua tersebut kehilangan 25 persen GDP-nya setiap tahun juga akibat
korupsi.

Ekonomi

Korupsi juga mempersulit pembangunan ekonomi dan mengurangi


kualitas pelayanan pemerintahan. Korupsi juga mempersulit pembangunan
ekonomi dengan membuat distorsi dan ketidak efisienan yang tinggi. Dalam
sektor privat, korupsi meningkatkan ongkos niaga karena kerugian dari
pembayaran ilegal, ongkos manajemen dalam negosiasi dengan pejabat korup, dan
risiko pembatalan perjanjian atau karena penyelidikan. Walaupun ada yang
menyatakan bahwa korupsi mengurangi ongkos (niaga) dengan mempermudah
birokrasi, konsensus yang baru muncul berkesimpulan bahwa ketersediaan
sogokan menyebabkan pejabat untuk membuat aturan-aturan baru dan hambatan
baru. Dimana korupsi menyebabkan inflasi ongkos niaga, korupsi juga

12
Pemberabtasan Korupsi Demi Kesejahteraan Masyarakat.
mengacaukan “lapangan perniagaan”. Perusahaan yang memiliki koneksi
dilindungi dari persaingan dan sebagai hasilnya mempertahankan perusahaan-
perusahaan yang tidak efisien. Korupsi menimbulkan distorsi (kekacauan) di
dalam sektor publik dengan mengalihkan investasi publik ke proyek-proyek
masyarakat yang mana sogokan dan upah tersedia lebih banyak. Pejabat mungkin
menambah kompleksitas proyek masyarakat untuk menyembunyikan praktek
korupsi, yang akhirnya menghasilkan lebih banyak kekacauan. Korupsi juga
mengurangi pemenuhan syarat-syarat keamanan bangunan, lingkungan hidup,
atau aturan-aturan lain. Korupsi juga mengurangi kualitas pelayanan pemerintahan
dan infrastruktur; dan menambahkan tekanan-tekanan terhadap anggaran
pemerintah.

Para pakar ekonomi memberikan pendapat bahwa salah satu faktor


keterbelakangan pembangunan ekonomi di Afrika dan Asia, terutama di Afrika,
adalah korupsi yang berbentuk penagihan sewa yang menyebabkan perpindahan
penanaman modal (capital investment) ke luar negeri, bukannya diinvestasikan ke
dalam negeri (maka adanya ejekan yang sering benar bahwa ada diktator Afrika
yang memiliki rekening bank di Swiss). Berbeda sekali dengan diktator Asia,
seperti Soeharto yang sering mengambil satu potongan dari semuanya (meminta
sogok), namun lebih memberikan kondisi untuk pembangunan, melalui investasi
infrastruktur, ketertiban hukum, dan lain-lain. Pakar dari Universitas
Massachussetts memperkirakan dari tahun 1970 sampai 1996, pelarian modal dari
30 negara sub-Sahara berjumlah US $187 triliun, melebihi dari jumlah utang luar
negeri mereka sendiri. (Hasilnya, dalam artian pembangunan (atau kurangnya
pembangunan) telah dibuatkan modelnya dalam satu teori oleh ekonomis Mancur
Olson). Dalam kasus Afrika, salah satu faktornya adalah ketidak-stabilan politik,
dan juga kenyataan bahwa pemerintahan baru sering menyegel aset-aset
pemerintah lama yang sering didapat dari korupsi. Ini memberi dorongan bagi
para pejabat untuk menumpuk kekayaan mereka di luar negeri, di luar jangkauan
dari ekspropriasi di masa depan.

Menghambat investasi dan pertumbuhan ekonomi.

Korupsi akan menghambat pertumbuhan investasi. Baik investasi


domestik maupun asing. Mereka mencontohkan fakta business failure di Bulgaria
yang mencapai angka 25 persen.

Maksudnya, 1 dari 4 perusahaan di negara tersebut mengalami kegagalan


dalam melakukan ekspansi bisnis dan investasi setiap tahunnya akibat korupsi
penguasa. Selanjutnya, terungkap pula dalam catatan Bank Dunia bahwa tidak
kurang dari 5 persen GDP dunia setiap tahunnya hilang akibat korupsi. Sedangkan
Uni Afrika menyatakan bahwa benua tersebut kehilangan 25 persen GDP-nya
setiap tahun juga akibat korupsi.

Setelah melakukan studi terhadap 106 negara, disimpulkan bahwa


kenaikan 2 poin pada Indeks Persepsi Korupsi (IPK, skala 0-10) akan mendorong
peningkatan investasi lebih dari 4 persen. Sedangkan Podobnik et al (2008)
menyimpulkan bahwa pada setiap kenaikan 1 poin IPK, GDP per kapita akan
mengalami pertumbuhan sebesar 1,7 persen setelah melakukan kajian empirik

13
Pemberabtasan Korupsi Demi Kesejahteraan Masyarakat.
terhadap perekonomian dunia tahun 1999-2004.

Fakta bahwa penurunan skor IPK sebesar 0,78 akan mengurangi


pertumbuhan ekonomi yang dinikmati kelompok miskin sebesar 7,8 persen. Ini
menunjukkan bahwa korupsi memiliki dampak yang sangat signifikan dalam
menghambat investasi dan pertumbuhan ekonomi.

Korupsi melemahkan kapasitas dan kemampuan pemerintah dalam


menjalankan program pembangunan.

Pada institusi pemerintahan yang memiliki angka korupsi rendah, layanan


publik cenderung lebih baik dan lebih murah. Terkait dengan hal tersebut, Gupta,
Davoodi, dan Tiongson (2000) menyimpulkan bahwa tingginya angka korupsi
ternyata akan memperburuk layanan kesehatan dan pendidikan. Konsekuensinya,
angka putus sekolah dan kematian bayi mengalami peningkatan.

Sebagai akibat dampak pertama dan kedua, maka korupsi akan


menghambat upaya pengentasan kemiskinan dan kesenjangan pendapatan.

Terkait dengan hal ini, riset Gupta et al (1998) menunjukkan bahwa


peningkatan IPK sebesar 2,52 poin akan meningkatkan koefisien Gini sebesar 5,4
poin. Artinya, kesenjangan antara kelompok kaya dan kelompok miskin akan
semakin melebar. Hal ini disebabkan oleh semakin bertambahnya aliran dana dari
masyarakat umum kepada para elit, atau dari kelompok miskin kepada kelompok
kaya akibat korupsi.

Korupsi berdampak pada penurunan kualitas moral dan akhlak.

Baik individual maupun masyarakat secara keseluruhan. Selain


meningkatkan ketamakan dan kerakusan terhadap penguasaan aset dan kekayaan
korupsi juga akan menyebabkan hilangnya sensitivitas dan kepedulian terhadap
sesama.

Rasa saling percaya yang merupakan salah satu modal sosial yang utama
akan hilang. Akibatnya, muncul fenomena distrust society, yaitu masyarakat yang
kehilangan rasa percaya, baik antar sesama individu, maupun terhadap institusi
negara. Perasaan aman akan berganti dengan perasaan tidak aman (insecurity
feeling). Inilah yang dalam bahasa Al-Quran dikatakan sebagai libaasul khauf
(pakaian ketakutan).

Korupsi dapat menghambat pertumbuhan investasi.

Korupsi dapat menghambat pertumbuhan investasi. Baik investasi


domestik maupun asing. Mereka mencontohkan fakta business failure di Bulgaria
yang mencapai angka 25 persen. Maksudnya, 1 dari 4 perusahaan di negara
tersebut mengalami kegagalan dalam melakukan ekspansi bisnis dan investasi
setiap tahunnya akibat korupsi penguasa. Selanjutnya, terungkap pula dalam
catatan Bank Dunia bahwa tidak kurang dari 5 persen GDP dunia setiap tahunnya
hilang akibat korupsi. Sedangkan Uni Afrika menyatakan bahwa benua tersebut

14
Pemberabtasan Korupsi Demi Kesejahteraan Masyarakat.
kehilangan 25 persen GDP-nya setiap tahun juga akibat korupsi

Setelah melakukan studi terhadap 106 negara, disimpulkan bahwa


kenaikan 2 poin pada Indeks Persepsi Korupsi (IPK, skala 0-10) akan mendorong
peningkatan investasi lebih dari 4 persen. Sedangkan Podobnik et al (2008)
menyimpulkan bahwa pada setiap kenaikan 1 poin IPK, GDP per kapita akan
mengalami pertumbuhan sebesar 1,7 persen setelah melakukan kajian empirik
terhadap perekonomian dunia tahun 1999-2004.

Menurut Gupta 1998) bahwa penurunan skor IPK sebesar 0,78 akan
mengurangi pertumbuhan ekonomi yang dinikmati kelompok miskin sebesar 7,8
persen. Ini menunjukkan bahwa korupsi memiliki dampak yang sangat signifikan
dalam menghambat investasi dan pertumbuhan ekonomi

Korupsi melemahkan kapasitas dan kemampuan pemerintah dalam


menjalankan program pembangunan.

Pada institusi pemerintahan yang memiliki angka korupsi rendah, layanan


publik cenderung lebih baik dan lebih murah. Terkait dengan hal tersebut, Gupta,
Davoodi, dan Tiongson (2000) menyimpulkan bahwa tingginya angka korupsi
ternyata akan memperburuk layanan kesehatan dan pendidikan. Konsekuensinya,
angka putus sekolah dan kematian bayi mengalami peningkatan.

Sebagai akibat dampak pertama dan kedua, maka korupsi akan


menghambat upaya pengentasan kemiskinan dan kesenjangan pendapatan.

Peningkatan IPK sebesar 2,52 poin akan meningkatkan koefisien Gini


sebesar 5,4 poin. Artinya, kesenjangan antara kelompok kaya dan kelompok
miskin akan semakin melebar. Hal ini disebabkan oleh semakin bertambahnya
aliran dana dari masyarakat umum kepada para elit, atau dari kelompok miskin
kepada kelompok kaya akibat korupsi.

15
Pemberabtasan Korupsi Demi Kesejahteraan Masyarakat.