Anda di halaman 1dari 11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Skizofrenia

1. Definisi Skizofrenia
Skizofrenia adalah sekelompok reaksi psikotik yang
mempengaruhi berbagai individu termasuk berfikir dan komunikasi,
menerima dan menginterprestasikan realitas, merasakan dan memajukan
emosi serta perilaku dengan sikap yang tidak bisa diterima secara sosial
(Isaacs, 2005).
Skizofrenia adalah merupakan suatu deskripsi sindrom dengan variasi
penyebab dan perjalanan penyakit yang luas, serta sejumlah akibat yang
bergantung pada pertimbangan pengaruh genetik, fisik dan social budaya.
Terdapat beberapa teori penyebab terjadinya skizofrenia namun yang yang
paling utama adalah faktor neurobiologi, faktor psikoedukatif dan faktor
social budaya.
Fase perjalanan skizofrenia terdiri dari 3 fase. Pertama, fase
premorbid, kedua fase prodronal dan ketiga fase psikotik yang terdiri dari
fase akut, stabilisasi dan stabil. Gejala utama skizofrenia terbagi kepada
gejala positif, gejala negative dan gejala psikopatalogi umum. Kriteria
diagnostic untuk mengelompokkan gejala digunakan PPGDJ- III dan DSM-
IV. Tipe-tipe skizofrenia terdiri dari katatonik, paranoid, hebefrenik dan tak
terinci

2. Kriteria Diagnostik Skizofrenia

Kriteria diagnostik di Indonesia menurut PPDG-III yang menuliskan


bahwa walaupun tidak ada gejala-gejala patognomonik khusus, dalam
praktek dan manfaatnya membagi gejala-gejala tersebut ke dalam
kelompok-kelompok yang penting untuk diagnosis dan yang sering
terdapat secara bersama-sama yaitu:

17
a. Thought echo yaitu isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema
dalam kepalanya dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun
kualitas berbeda atau thought insertion or withdrawal yaitu isi pikiran
yang asing dari luar masuk kedalam pikirannya (insertion) atau isi
pikirannya diambil keluar oleh sesuatu diluar dirinya (withdrawal) dan
tought broadcasting yaitu isi pikiran tersiar keluar sehingga orang lain
mengetahuinya.
b. Waham atau Delusinasi

1) Delusion of control yaitu waham tentang dirinya sendiri dikendalilkan


oleh suatu kekuatan tertentu
2) Delusion of influen yaitu waham tentang dirinya sendiri dipengaruhi
oleh suatu kekuatan tertentu dari luar
3) Delusion of passivity yaitu waham tentang gerakan tubuh, pikiran
maupun tindakan tak berdaya terhadap suatu kekuatan dari luar.
4) Delusion of perception yaitu pengalaman indrawi yang tidak wajar
yang bermakna sangat khas dan biasanya bersifat mistik atau mukjizat.
c. Halusinasi Auditorik

1) Suara halusinasi yang berkomentar terus menerus terhadap perilaku


pasien.
2) Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka senndiri (dia antara
berbagai suara yang berbicara).
3) Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.

d. Waham-waham menetap jenis lain yang menurut budaya dianggap tidak


wajar dan mustahil seperti waham bisa mengendalikan cuaca.

Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara
jelas.

a. Halusinasi yang menetap dari setiap panca indara baik disertai waham
yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan
afektif yang jelas atau ide-ide berlebihan yang menetap atau terjadi setiap
hari selama bermingu-minggu atau berbulan-bulansecara terus menerus.
b. Arus fikiran yang terputus (break) atau mengalami sisipan (interpolasi)
yang berakibat inkoherenskiatau pembicaraan tidak relevan atau

18
neologisme.
c. Perilaku katatonik seperti keadaan gaduh, gelisah (excitement) sikap tubuh
tertentu (posturing) atau fleksibilitas serea, negattivisme, mutisme dan
stupor.
d. Gejala-gejala negative seperti apatis, bicara jarang serta respon emosional
yang menumpul atau tidak wajar, biasanya mengakibatkan penarikan diri
dari pergaulan social dan menurunnya kinerja social, tetapi harus jelas
bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau
neuroleptika.Adanya gejala-gejala kas tersebut diatas telah berlangsung
selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase
non psikotik prodormal). Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan
bermakna dalam muttu keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek
perilaku pribadi, bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak
bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri dan
penarikan diri secara social.

 Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun


waktu satu bulan atau lebih
 Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu
keseluruhan dari beberapa aspek perilaku pribadi, bermanifestasi sebagai
hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut
dalam diri sendiri, dan penarikan diri secara sosial.

Selain itu ahli membagi skizofrenia menjadi dua bagian yaitu gejala
positif dan gejala negative.
a. Termasuk gejala positif adalah

1) Disorganisasi pikiran dan bicara : penderita bisa menceritakan keadaan


sedih denngan mimic muka yang gembira atau sebaliknya.
2) Waham : penderita merasa dirinya seorang pahlawan atau orang besar
dan bertindak seperti pahlawan atau orang besar.
3) Halusinasi : melihat, mendengar atau merasakan sesuatu yang
sebenarnya tidak ada.

19
4) Agitasi atau mengamuk : hal ini sering membuat penderita dikurung
atau dipasung.
b. Termasuk gejala negative adalah

1) Tidak ada dorongan kehendak atau inisiatif atau apatis.

2) Menarik diri dari pergaulan social : penderita merasa senang jika tidak
menjalani kehidupan social.
3) Tidak menunjukan reaksi emosional (Hawari, 2001).

Teori ini digunakan untuk memudahkan keluarga mengenal gejala-


gejala yang diialami oleh klien skizofrenia, sehingga dapat melakukan
penanganan.

3. Pola Perjalanan Penyakit

a. Skizofrenia paranoid

Kriteria umum diagnosis skizofrenia harus dipenuhi. Sebagai tambahan,


halusinasi dan waham harus menonjol, sedangkan gangguan afektif,
dorongan kehendak dan pembicaraan serta gejala katatonik secara relative
tidak nyata. Halusinasi yang mengancam atau memberi perintah halusinasi
pembauan atau pengecapan rasa, atau yang bersifat seksuaal. Waham
dapat berupa hampir setiap jenis tetapi waham dikendalikan, di pengaruhi
atau keyakinan dikejar-kejar beraneka ragam adalah yang paling kas.
b. Skizofrenia Hebefrenik

Kriteria umum skizofrenia yang harus dipenuhi. Biasanya diagnosis


hebefrenik untuk pertama kali hanya ditegakkan pada usia remaja atau
dewasa muda. Kepribadian premorbid secara kas, tetapi tidak selalu,
pemalu dan menyendiri. Untuk diagnosis hebefrenik yang meyakinkan
umumnya diperlukan pengamatan kontinnu selama 2 atau 3 bulan
lamanya, untuk memastikan bahwa perilaku yang kas seperti perilaku
tidak tanggung jawab, mannerism, senyum sendiri memang benar
bertahan.
c. Skizofrenia katatonik

Kriteria suatu diagnosis skizofrenia dan katatonik yang harus dipenuuhi.

20
Gejala katatonik yang bersifat sementara dapat terjadi pada setiap subtype
skizofrenia, tetapi untuk diagnosis skizofrenia katatonik satau atau lebih
dari perilaku berikut ini harus mendominasi gambaran klinisnya : stupor
(amat berkurang aktivitas terhadap lingkungan dan gerakan, kegelisahan,
sikap tubuh yang tidak wajar, perlawanan terhadap intruksi, sikap tubuh
yang kaku, meterhadap perintah dan mempertahankan posisi tubuh yang
dilakukan dari luar dan gejala otomatisme terhadap perintah dan
preserverasi kata atau kalimat.
d. Skizofrenia tak terinci

Memenuhi criteria umum untuk diagnosis skizofrenia, tidak memenuhi


untuk kriterian skizofrenia paranoid, hebefrenik dan katatonik, tidak
memenuhi criteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca
skizofrenia.
e. Depresi pasca skizofrenia

Diagnosis ditegakkan hanya kalau pasien telah menderita skizofrenia


(memenuhi criteria umum skizofrenia selama 12 bulan terakhir), beberapa
gejala skizofrenia masih tetap ada dan gejala-gejala depresi yang
menonjool dan mengganggu, memenuhi sedikitnya episode depresi dan
telah ada untuk waktu sedikitnya 2 minggu.
f. Skizofrenia residual

Untuk suatu diagnosis yang meyakinkan, persyaratan berikut ini harus


dipenuhi :
1) Gejala negative skizofrenia yang menonjol, misalnya perlambatan
psikomotor, aktivitas menurun, afek tumpul, sikap pasif, miskin dalam
kuantitas atau isi pembicaraan, komunikasi non verbal buruk seperti
kkontak mata, ekspresi muka, sikap tubuh, perawatan diri dan kinerja
social buruk.
2) Sedikitnya ada riwayat pisode psikotik yang jelas di masa lampau
yang memenuhi criteria diagnostic untuk skizofrenia.
3) Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana intensitas
dan frekkuensi gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah
sangat berkurang dan telah timbul sindrom negative skizofrenia.
4) Tidak dapat demensia atau penyakit otak organic lain, depresi kronis,

21
atau insttitusionalisasi yang dapat menjelaskan hendaya negative
tersebut.
g. Skizofrenia simpleks

Skizofrenia simpleks adalah suatu diagnosis yang sulit dibuat secara


meyakinkan, karena tergantung pada pemestian perkembangan yang
berjalan perlahan, profresif dari gejala negative yang kas dari skizofrenia
residual tanpa riwayat halusinasi, waham atau manifestasi lain tentang
adanya suatu episode psikotik sebelumnya dan disertai perubahan perilaku
yang bermakna yang bermanifestasi sebagai kkehilangan minat yang
mencolok, kemalasan dan penarikan diri secara social.

4. Etiologi Skizofrenia

Penyebab skizofrenia sampai kini belum diketahui secara pasti dan


merupakan tantangan riset bagi pengobatan kontemporer. Telah banyak riset
dilakukan dan banyak factor predispposisi maupun pencetus yang diketahui
yaitu :
a. Faktor genetika

Faktor genetika telah dibuktikan secara meyakinkan. Resiko masyarakat


umum 1%, pada orang tua 5%, pada saudara kandung 8% dan pada anak
15%-20%, apabila salah satu orang tua menderita skizofrenia, walaupun
anak telah dipisahkan dari orang tua sejak lahir, anak dari kedua orang tua
skizofrenia 30-40%. Pada kembar monozigot 40% -50%, sedangkan
untuk kembar dizigot sebesar 5%-10%. Dari penelitian epidemologi
keluarga terlihat bahwa resiko untuk keponakan adalah 3%, masih lebih
tinggi dari populasi umum yang hanya 1%. Demikian juga dari penelitian
anak adopsi dikatakan anak penderita skizofrenia yang diadopsi orang tua
normal, tetap resiko 16,6% , sebaliknya anak sehat yang diadopsi
penderita skizofrenia resiko 1,6%, dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa semakin dekat hubungan keluarga biologis semakin tinggi resiko
terkena skizofrenia (Tomb, 2004).
b. Faktor biologis dan biokimia

Dari factor biologis dikenal suatu hipotesis dopamine yang menyatakan


bahwa skizofrenia disebabkan oleh aktivitas dopaminergik yang

22
berlebihan dibagian kortikal otak, dan berkaitan dengan gejala positif dari
skizofrenia. Penelitian terbaru juga menunjukkan pentingnya
neurotransmitter lain termasuk serotonin, norepinefrin, glutamate dan
GABA. Selain perubahan yang sifatnya ditemukan perubahan anatomi
otak seperti pelebaran lateral ventrikel, antropi koreteks atau atropi otak
kecil (cerebellum), terutama pada penderita kronis skizofrenia (Hawari,
2001).
c. Faktor psikososial

1) Teori perkembangan

Ahli teori seperti Freud, Sullivin, dan Erikkson mengemukakan bahwa


kurangnya perhatian yang hangat dan penuh kasih saying di awal
tahun kehidupan berperan dalam menyebabkan kurangnya identitas
diri, salah interpretasi terhadap realitas dan menarik diri dari hubungan
social pada penderita skizofrenia (Isaacs, 2005).
2) Teori belajar

Menurut ahli teori belajar (learning theory), anak-anak yang kemudian


menderita skizofrenia mempelajari reaksi dan cara berfikir irasional
orang tua yang mungkin memiliki masalah emosional yang bermakna
Hubungan interpersonal yang buruk dari penderita skizofrenia akan
berkembang karena mempelajari model yang buruk selama anak-anak
3) Teori keluarga

Teori-teori ini yang berkaitan dengan peran keluarga dalam


munculnya skizofrenia belum divalidasi dengan penelitian. Bagian
fungsi keluarga yang diimplikasikan dalam peningkatan kekambuhan
penderita skizofrenia antara lain ;
a) Faktor keluarga

Faktor keluarga yang dimaksutkan adalah factor stress yang


dialami anak dan r.emaja yang disebabkan kondisi keluarga yang
tidak baik yaitu:
(1) Hubungan kedua orang tua yang dingin atau penuh
ketegangan
(2) Kedua orang tua jarang dirumah dan tidak ada waktu untuk
bersama dengan anak-anak.

23
(3) Komunikasi antara orang tua dan anak yang tidak baik.

(4) Kedua orang tua berpisah atau bercerai

(5) Kematian salah satu atau kedua orang tua

b) Emosi yang diekspresikan atau disingkat EE (Expressed Emotion).


Dimana keluarga sering mengekspresikan emosi secara berlebihan
denngan sikap kkurang sabar, bermusuhan, pemarah, keras, kasar,
kritis dan otoriter (Chandra, 2005).
c) Status social ekonomi

Beberapa ahli teori telah menyatakan bahwa industrialisasi,


urbanisasi dan status ekonomi yang rendah sangat kuat
hubungannya dengan skizofrenia. Itu sebabnya banyak penderita
yang dijumpai pada masyarakat golongan menengah kebawah.
d) Stress
Karena bervariasinya presentasi sintom dan prognosis skizofrenia,
maka tidak ada factor etiologic tunggal yang menyebabkan
timbulnya skizofrenia. Ada model yang mengintegrasikan factor
biologis, factor psikososial dan factor lingkungan adalah model
stress diathesis. Model ini menyatakan bahwa seseorang mungkin
memiliki suatu kerentaan spesifik (diatesis) terhadap stress yang
memungkinkkan berkembang menjadi simtom skizofrenia. Model
interaksional yang mengatakan bahwa penderita skizofrenia
mempunyai kerentanan genetic dan biologic terrhadap stress dan
dianggap penyebab utama dalam menentukan onset dan keparahan
penyakit.
e) Kepribadian premorbid

Indikator premorbid (sebelum sakit) pada anak preskizofrenia


antara lain ketidakmampuan anak mengekspresikan emosi: wajah
dingin, jarang tersenyum, acuh tak acuh dan penyimpangan
komunikasi seperti anak sulit melakukan pembicaraan terarah.
Sedangkan pada remaja perlu diperhatikan kepribadian premobid
seperti kepribadian paranoid atau curiga berlebihan, menganggap
semua orang musuh, juga kepribadian skizoid yaitu emosi dingin,
kurang mampu bersifat hangat dan ramah pada orang lain serta

24
selalu menyindiri (Chandra, 2005)
f) Rokok dan penyalahgunaan napza

Gangguan schizoid dapat dicetuskan atau disebabkan oleh


penggunaan kanabis ganja, gelek, marijuana (Chandra, 2005).

5. Pencegahan dan Pengobatan Skizofrenia

a. Pencegahan

Pendekatan yang dilakukan dalam pencegahan skizofrenia dapat


bersifat “eklektik holistik” yang mencakup tiga pilar yaitu organobiologi
psikoedukatif, dan sosial budaya, dan dari ketiga pilar tersebut dapat
diketahui kepribadian seseorang. Dalam melengkapi pendekatan holistik
tersebut, menambah satu pilar sehingga menjadi empat pilar yaitu
organobiologis, psikoedukatif, social budaya dan psikoreligius.
Upaya pencegahan yang dilakukan pada masing-masing pilar
dimaksudkan untuk menekan seminimal mungkin munculnya skizofrenia
dan kekambuhanya.
1) Organobiologis

a) Bila ada silsilah keluarga menderita skizofrenia sebaiknya menikah


dengan keluarga yang tidak memiliki silsilah skizofrenia.
b) Walaupun dalam keluarga tidak ada sil-silah menderita skizofrenia
sebaiknya tidak menikah dengan yang tidak memiliki silsilah
skizofrenia dan merupakan keluarga jauh.
c) Sebaiknya penderita atau bekas penderita skizofrenia tidak saling
menikah.
2) Psikoedukatif

Beberapa sikap yang harus diperhatikan orang tua dalam membina


mental-emosional dan mental-intelektual anak yaitu:
a) Sikap pertama adalah kemampuan untuk percaya pada kebaikan
orang lain.
b) Sikap kedua adalah sikap terbuka.

c) Sikap ketiga adalah anak mampu menerima kata tidak atau


kemampuan pengendalian diri terhadap hal-hal yang

25
mengecewakan, kalau tidak anak akan sulit bergaul dan belajar di
sekolah.

b. Pengobatan

Skizofrenia merupakan penyakit yang cenderung berlanjut (kronis


atau menahun) maka terapi yang diberikan memerlukan waktu relative
lama berbulan bahkan sampai bertahun, hal ini dimaksudkan untuk
menekan sekecil mungkin kekambuhan. Terapi yang komprehensif dan
holistic telah dikembangkan sehingga klien skizofrenia tidak lagi
mengalami diskriminasi dan lebih manusiawi dibandingkan dengan
pengobatan sebelumnya. Adapun terapi yang di maksut adalah :
1) Psikofarma

Obat anti psikotik yang sering disebut dengan neuroleptik ditujukan


untuk menghilangkan gejala skizofrenia. Golongan psikofarma yang
sering digunakan di Indonesia (2001) terbagi dua golongan typical dan
golongan atypical. kelebihan obat atypical antara lain : Dapat
menghilangkan gejala positif dan negatif, memulihkan fungsi koqnitif,
efek samping Extra pyramidal symptoms.

Pengobatan pada skizofren sebenarnya tidak ada pengobatan


yangspesifik untuk masing-masing subtipe skizofrenia.
Pengobatan hanyadibedakan berdasarkan gejala apa yang
menonjol pada pasien. Pada skizofrenia tak terinci, pasien ini,
gejala ”positif” lebih menonjol, maka adapun pengobatan yang
disarankan kepada pasien obat-obat antipsikotik golongan tipikal yang
dapat memblokade dopamin pada reseptor pascasinaptik neuron di
otak.
2) Psiko religius

Menurut Larson, penelitian yang termuat dalam Religious commitment


and Health menyatakan bahwa agama amat penting dalam pencegahan
agar seorang tidak mudah jatuh sakit, meningkatkan kemampuan
mengatasi penderitaan dan mempercepat penyembuhan.
3) Psikososial

26
Agar tumbuh kembang anak sehat baik fisik, psikologik, social dan
spiritual, hendaknya diciptakan rumah tangga yang sehat dan bahagia
agar supaya kepribadian anak menjadi matang dan kuat sehingga tidak
mudah jatuh sakit. Dalam hal ini N. Stinnet J.De frain mengemukakan
enam criteria membina keluarga yang sehat dan bahagia yaitu :
a) Ciptakan kehidupan beragama dalam keluarga.

b) Adakan waktu bersama dalam keluarga.


c) Ciptakan hubungan yang baik antar anggota keluarga.

d) Keluarga sebagai unit social yang terkecil ikatannya harus erat dan
kuat, jangan longgar dan rapuh.
e) Harus saling menghargai sesama anggota keluarga.

f) Bila keluarga mengalami krisis, maka prioritas utama adalah


keutuhan keluarga dan bila diperlukan berkonsultasi dengan
ahlinya (Hawari, 2001).

B. Skizofrenia Tak Terinci (undifferentiated)


Menurut PPDGJ-III, diagnosis Skizofrenia Tak Terinci harus
memenuhi persyaratan sebagai berikut :
- Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia.
- Tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid, hebefrenik,
atau katatonik.
- Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca-
skizofrenia.

27