Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menelan merupakan satu proses yang kompleks yang memungkinkan
pergerakan makanan dan cairan dari rongga mulut ke lambung. Proses ini
melibatkan struktur di dalam mulut, faring, laring dan esofagus.
Keluhan sulit menelan (disfagia) merupakan salah satu gejala kelainan atau
penyakit di orofaring dan esofagus. Keluhan ini akan timbul bila terdapat
gangguan gerakan otot-otot menelan dan gangguan transportasi makanan dari
rongga mulut ke lambung. Jenis makanan yang menyebabkan disfagia dapat
memberikan informasi mengenai kelainan yang terjadi. (patrik, 2005).
Kesulitan menelan (disfagia) dapat terjadi pada semua kelompok usia,
akibat dari kelainan kongenital, kerusakan struktur, dan/atau kondisi medis
tertentu. Masalah dalam menelan merupakan keluhan yang umum didapat di
antara orang berusia lanjut, dan insiden disfagia lebih tinggi pada orang
berusia lanjut (Rista, 2007).
Manisfestasi penyakit disfagia merupakan keluhan utama dari penderita
Akalasia dan stroke. Disfagia dapat terjadi secara tiba-tiba setelah menelan
atau bila ada gangguan emosi. Disfagia dapat berlangsung sementara atau
progresif lambat. Biasanya cairan lebih sukar ditelan dari pada makanan padat.
Disfagia orofaring terjadi adanya gejala orofaring dan regurgitasi sehingga
kesulitan menelan dan disertai batuk, tersedak regurgitasi nasal, dan dapat
disebabkan oleh stroke, sedangkan disafagia esofagus terjadi adanya esofagitis
atau obstruksi esophagus sehingga makanan berhenti atau macet setelah
ditelan dan dapat disebabkan oleh akalaksia (Aru W. Sudoyo, dkk. 2009).
Dampak dari disfagia adalah dapat menurunkan status gizi pada tubuh pasien,
kekurangan vitamin, kekurangan protein dan sebagainya. Sehingga disfagia
dapat menurunkan berat badan (Ari Wijayanti, Dcn, 2012).
Oleh karena itu, diharapkan perawat memiliki ketrampilan dan
pengetahuan yang cukup dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien
dengan DISFAGIA di rumah sakit. Ketrampilan yang sangat dibutuhkan
adalah kemamnpuan untuk mengidentifikasi tanda-tanda disfagia dan

1
kecepatan dalam menangani pasien yang mengalami disfagia. Maka, penulis
termotivasi untuk menyusun karya tulis ilmiah yang berjudul “Asuhan
Keperawatan pada Klien dengan Disfagia.”

1.2 Rumusan Masalah


1) Bagaimana anatomi dan fisiologi esophagus ?
2) Bagaimana proses menelan ?
3) Bagaimana definisi disfagia ?
4) Bagaimana etiologi dan patofiologi disfagia ?
5) Bagaimana manifestasi klinis disfagia ?
6) Bagaimana komplikasi dan prognosis pada gangguan disfagia ?
7) Bagaimana penatalaksanaan pada klien dengan disfagia ?
8) Apa saja prosedur diagnostik untuk pasien gangguan disfagia ?
9) Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan disfagia ?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mempelajari konsep teori disfagia serta asuhan keperawatan pada
klien dengan gangguan disfagia.
1.3.2 Tujuan Khusus
1) Menjelaskan anatomi dan fisiologi esophagus.
2) Menjelaskan proses menelan.
3) Menjelaskan definisi disfagia.
4) Menjelaskan etiologi dan patofisologi disfagia .
5) Menjelaskan manifestasi klinis disfagia.
6) Menjelaskan prognosis dan komplikasi pada klien dengan gangguan
disfagia.
7) Menjelaskan penatalaksanaan pada klien dengan disfagia.
8) Menjelaskan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan
disfagia.

2
1.4 Manfaat
1) Menambah pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan asuhan
keperawatan baik dan tepat pada pasien dengan gangguan disfagia.
2) Memberikan informasi tentang penyakit disfagia, penyebab, manifestasi
klinis, penatalaksaan , prosedur diagnostic, pengobatannya, komplikasi
serta prognosis disfagia.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Anatomi dan Fisiologi

Esophagus merupakan suatu organ silindris berongga dengan panjang


sekitar 25 cm dan berdiameter 2 cm, yang terbentang dari hipofaring hingga
kardia lambung. Esophagus berungsi untuk menggerakkan makanan dari
fraing ke lambung melalui gerak peristaltic. Mukosa esophagus memproduksi
mucus untuk melumasi melindungi esophagus.

Esophagus terletak di posterior jantung dan trakea, di anterior


vertebra, dan menembus hiatus diafragma tepat di anterior aorta. Esophagus
terutama berfungsi menghantarkan bahan yang dimakan dari faring ke
lambung. Pada kedua ujung esophagus terdapat otot sfingter. otot
krikofaringieus membentuk sfingter esophagus bagian atas dan terdiri atas
serabut-serabut otot rangka. Bagian esophagus ini secara normal berada dalam
keadaan tonik atau kontraksi kecuali pada waktu menelan. Sfinter esophagus
bagian bawah, walaupun secara anatomis tidak nyata, bertindak sebagai
sfingter dan berperan sebagai sawar terhadap refluks isi lambung ke dalam
esophagus. Dalam keadaan normal sfingter ini menutup, kecuali bila makanan
masuk ke dalam lambung atau waktu bertahak atau muntah.

Dinding esophagus seperti itu juga bagian lain saluran gastrointestinal,


terdiri atas empat lapisan: mukosa, submukosa, muskularis dan serosa (lapisan
luar)

1. Lapisan mukosa bagian dalam, terbentuk dari epitel gepeng berlapis


yang berlanjut ke faring di ujung atas; epitel lapisan ini mengalami
perubahan mendadak pada perbatasan esophagus dengan lambung (garis-
Z) dan menjadi epitel toraks selapis. Mukosa esophagus dalam keadaan
normal bersifat alkali dan tidak tahan terhadap isi lambung yang sangat
asam.

4
2. Lapisan submukosa, mengandung sel-sel sekretori yang memproduksi
mucus. Mucus mempermudah jalannya makanan sewaktu menelan dan
melindungi mukosa dari cedera akibat zat kimia.
3. Lapisan muskularis , otot lapisan luar tersusun longitudinal dan lapisan
dalam tersusun sirkular. Otot yangterdapat 5% bagian atas esophagus
adalah otot rangka, sedangkan otot di separuh bagian bawah adalah otot
polos. Bagian diantaranya terdiri dari campuran otot rangka dan otot polos.
4. Tunika serosa (lapisan luar), lapisan luar esophagus tidak memiliki
lapisan serosa ataupun selaput peritoneum, melainkan lapisan ini terdiri
atas jaringan ikat longgar yang menghubungkan esophagus dengan
struktur-struktur yang berdekatan. Tidak adanya serosa menyebabkan
semakin cepatnya penyebaran sel-sel tumor (pada kasus kanker
esophagus) dan meningkatnya kemungkinan kebocoran setelah operasi.

Persarafan utama esophagus dipasok oleh serabut-serabut simpatis dan


parasimpatis dari system safar otonom. Serabut parasimpatis dibawah oleh
nervus vagus, yang dianggap sebagai saraf motoric esophagus. Selain
persarafan ekstrinsik tersebut, terdapat jala-jala serabut saraf intramural
intrinsic di antara lapisan otot sirkular dan longitudinal (pleksus Auerbach atau
mienterikus), dan tampaknya berperan dalam pengaturan peristaltic esophagus
normal. Jala-jala saraf intrinsic kedua (pleksus Meissner) terdapat di
submukosa saluran gastrointestinal, tetapi agak tersebar dalam esophagus
(Price, 2005).

Fungsi system saraf enteric tidak bergantung pada saraf-saraf


ekstrinsik. Stimulasi system simpatis dan parasimpatis dapat mengaktifkan
atau menghambat fungsi gastrointestinal. Ujung saraf bebas dan perivascular
juga ditemukan dalam submukosa esophagus dan ganglia mienterikus. Ujung
saraf ini dianggap beerperan sebagai mekanoreseptor, termoosmo, dan
kemoreseptor dalam esophagus. Mekanoreseptor menerima rangsangan
mekanis seperti sentuhan, dan kemoreseptor dalam esophagus. Reseptor
termo-osmo dapat dipengaruhi oleh suhu tubuh, bau, dan perubahan tekanan
osmotic.

5
Distribusi darah ke esophagus mengikuti pola segmental. Bagian atas
disuplai oleh cabang-cabang arteria tiroidea inferior dan subklavia. Bagian
tengah disuplai oleh cabang-cabang segmental aorta dan arteria bronkiales,
sedangkan bagian subdiafragmatika disuplai oleh arteria sinistra dan frenika
inferior. Aliran darah vena juga mengikuti pola segmental. Vena esophagus
daerah leher mengalirkan darah ke vena azigos dan hemiazigos, dan dibawah
diafragma vena esophagus masuk ke dalam vena gastrika sinistra. Hubungan
antara vena porta dan vena sistemik memungkinkan pintas dari hati pada
kasus hipertensi porta. Aliran kolateral melalui vena esophagus menyebabkan
terbentuknya varises esophagus (vena variksosa esophagus). Vena yang
melebar ini dpaat pecah, menyebabkan pendarahan yang bersifat fatal (Price,
2005).

2.1.1 Menelan

Menelan merupakan suatu aksi fisiologis kompleks ketika makanan atau


cairan berjalan dari mulut ke lambung. Menelan merupakan gerakan
rangkaian oto yang sangat terkoordinasi dimulai dari pergerakan voluntary
lidah dan diselesaikan dengan serangkaian reflex dalam faring dan esophagus.
Bagian aferen reflex merupakan serabut-serabut yang terdapat dalam saraf V.
IX, X. Pusat menelan terdapat pada medulla oblongata. Di bawah koordinasi
pusat ini impuls keluar dalam rangkaian waktu yang sempurna melalui saraf
cranial V, X, dan XII menuju ke otot-otot lidah, faring, laring dan esophagus.

Secara fisilogis, proses menelan yang normal terdiri atas tiga tahapan
yaitu:

1. Fase oral (pengolahan makanan pada rongga mulut)


makanan yang telah dikunyah oleh mulut disebut bolus yang kemudian di
dorong ke belakang mengenai dinding posterior faring oleh gerakan
voluntar lidah.
2. Fase faringeal (setelah makanan di dalam faring)
palatum mole atau uvula bergerak secara reflex menutup rongga hidung.
Pada saat yang sama, laring terangkat dan menutup glottis, mencegah

6
makanan memasuki trakea. Kontraksi oto konstriktor faringeus mendorong
bolus melewati epiglottis menuju ke faring bagian bawah dan memasuki
esophagus. Pernafasan secara serentak dihambat untuk mengurangi
kemungkinan aspirasi.
3. Fase esofageal (di dalam esofagus)
mulai saat otot krikofaringues relaksasi sejenak dn memungkinkan bolus
memasuki esophagus. Setelah relaksasi, gelombang pristaltik primer yang
dimulai dari faring diantarkan ke otot krikofaringeus sehingga otot ini
berkontraksi. Gelombang peistalttik terus berjalan dengan kecepatan 2-4
cm/ detik, sehingga makanan yang tertelan mencapai lambung 5 sampai 10
detik. Timbulnya gelombang peristaltic ini dipacu oleh peregangan
esophagus oleh sisa-sisa partikel makanan.

Posisi berdiri tegak dan gaya gravitasi adalah factor penting yang
mempermudah transport dalam esophagus bagian bawah, tapi adanya gerakan
peristaltic memungkinkan seeorang untuk minum air sambil posisi terbalik
dengan kepala dibawah. Sewaktu menelan terjadi perubahan tekan dalam
esophagus yang mencerminkan fungsi motoriknya. Dalam keadaan istirahat
tekanan dalam esophagus mencerminkan tekanan intratorak. Daerah sfingter
esophagus bagian atas dan bawah merupakan daerah bertekanan tinggi yang
berfungsi untuk mencegah aspirasi dan reflex isi lambung. Tekanan menurun
jika masing-masing sfingter relaksasi sewaktu menelan dan kemudian
mengikat bila gelombang peristaltic melewatinya (Price, 2005)

2.2 Definisi Disfagia

Disfagia berasal dari bahasa Yunani yang berarti kesulitan makan. Kondisi
ini biasanya akan berhubungan dengan kondisi aspirasi pneumonia,
malnutrisi, dan dehidrasi (Paik, 2008). Tidak semua proses menelan/deglutasi
dapat berjalan dengan demikian mudahnya. Pada keadaan tertentu dimana
terjadi gangguan kerja saraf seperti pada penyakit Parkinson, disfungsi otot
seperti pasca-stroke (Teasell, 2008), desakan massa tumor, maupun gangguan

7
anatomi dari saluran pencernaan bagian atas dapat menyebabkan terjadinya
gangguan proses menelan (Alper,2001).

Pasien pasca kemoradioterapi pada kepala dan leher juga merupakan


predisposisi terjadinya disfagia berat (Koiwai, 2009). Gangguan pada
peristiwa deglutasi/menelan disebut disfagia atau sulit menelan yang
merupakan masalah yang sering dikeluhkan oleh pasien dewasa, lansia
maupun anak-anak (Vaimann, 2009).

Secara fisiologis dalam sehari kita dapat menelan sebanyak kurang lebih
2000 kali sehingga masalah disfagia sangat mengganggu kualitas hidup
seseorang (Alpher, 2011). Disfagia adalah kesulitan menelan makanan.
Penyebab disfagia bermacam-macam sehingga perlu di amati dengan seksama
disfagia karna gangguan pada orofaring dan esophagus karena gejalanya
sangat mirip ( Gray, 2002).

Pada gangguan orofaring, disfagia selalu terjadi karna ini merupakan gejala
orofaring dan regurgitasi. Pada gangguan orofaring biasanya tidak dapat
makan ataupun minum, keluarnya makanan dari mulut biasanya bersifat
segera setelah makan dan makanan yang dikeluarkan belum tercerna
(Amstrong,2008). Sedangkan pada gangguan esophagus disfagia kadang
terjadi bial adanya esofagitis atau obstruksi esophagus. Masalah esophagus
biasanya juga disertai regurgitasi. Hipersalivasi jarang terjadi dan bila terjadi
biasanya akibat adanya benda asing yang sebetulnya adalah
pseudohipersalivasi. Gejala lain yang berhubungan pada gangguan esogfagus
adalah dispnea dan batuk. Disfagia dapat terjadi pada gangguan non
esophagus yang disebabkan oleh penyakit otot atau neurologis. Penyakit-
penyakit ini adalah gangguan peredaran darah otak ( stroke, penyakit
serebrovaskuer). Keadaan ini memicu peningkatan resiko tersedak minuman
atau makann yang tersangkut dalam trakea atau bronkus ( Attwood, 2009).

8
2.3 Etiologi dan patofisiologi disfagia

Etiologi bersifat multifaktor dan diklasifikasikan dalam beberapa kondisi,


meliputi etiologi berdasarkan penyebabnya, proses mekanisme menelan, letak
organ anatomi, dan penyebab/ etiologi. Sumbatan mekanik atau disfagia
mekanik baik intraluminal atau ekstraluminal (dari luar lumen esophagus)
dapat disebabkan oleh adanya neoplasma esophagus. Kondisi sumbatan
mekanik ini secara progresif akan menyebabkan disfagia disertai adanya
keluhan odinofagia dan pirosis.
Gangguan menelan ringan bisa disebabkan oleh paresis saraf fasialis atau
saraf hipoglosus. Tekanan di dalam mulut juga tidak bisa ditingkatkan
sehingga bantuan untuk mendorong makanan ke orofaring tidak ada. Kesulitan
menelan berat yang disebabkan oleh gangguan saraf glosofaringeus dan vagus.
Makanan sulit ditelan karena palatum molle tidak bekerja dan apa yang
hendak ditelan, keluar lagi melalui hidung. Epiglottis tidak bekerja sehingga
makanan tiba di laring dan menimbulkan reflek batuk atau ‘keselek’ atau
‘salah telan’(Muttaqin, 2011)..

Salah telan atau gangguan menelan (disfagia, keselek) dapat terjadi pada
keumpuhan n.IX dan X. medulla oblongata disebut juga dengan nama
bulbus.lesi di medulla oblongata dapat mengakibatkan lumpuhnya saraf IX, X,
XI, dan XII, dan disebut juga dengan kelumpuhan saraf bulber. Kelumpuhan
saraf bulber dapat bersifat lower-motor-neuron atau besifat upper-motor-
neuron. Pada kelumpuhan upper-motor-neuron lesinya terletak lebih atas dan
bilateral. Hal ini dapat terjadi pada infark serebri bilateral (hemiparase
dupleks), dan lesi di serabut kortiko-bulber yang bilateral. Kelumpuhan
demikian disebut juga sebagai kelumpuhan pseudo-bulber. (Lumbantobing,
S.M.;2015;Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental;Jakarta;FK UI)

Sulit menelan bukan karena sakit pada posisi makanan di orofaring, tetapi
juga disebabkan oleh gangguan mekanisme menelan akibat proses patologis
(Chicero, 2009). Pada infark serebri yang menimbulkan hemiparesis, sulit
menelan dapat menjadi gejala dini. Kelumpuhan UMN pada otot-otot yang

9
disarafi saraf glosofaringeus dan vagus mendasari gangguan menelan (Grams,
2008).

2.3.1 Klasifikasi Etiologi Disfagia


Etiologi Disfagia Klasifikasi

Berdasarkan penyebabnya (Dawodu, 1) Sumbatan mekanik atau disfagia mekanik


2008). baik intraluminal atau ekstraluminal (dari
luar lumen esophagus).
2) Kelainan neurologis atau disfagia
neurogenik/ disfagia motorik mulai dari
kelainan korteks serebri, pusat menelan di
batang otak sampai neurosensori-muskular.
3) Kelainan emosi berat atau disfagia
psikogenik.

Berdasarkan proses mekanisme deglutasi/ 1) Transfer dysphagia kalau kelainannya


menelan (Briggs, 2000). akibat kelainan neuromotor di fase oral dan
faringeal.
2) Transit dysphagia bila disfagia disebabkan
gangguan peristaltik baik primer/ sekunder
da kurangnya relaksasi sfingter esophagus
bagian bawah.
3) Obstructive dysphagia bila disebabkan
penyempitan atau stenosis di faring dan
esophagus.
Berdasarkan letak organ anatomi 1) Disfagia gangguan fase oral
(Vaimann, 2009). 2) Disfagia gangguan fase faringeal
3) Disfagia gangguan fase esophageal

10
Berdasarkan penyebab/ etiologi 1) Kelainan congenital pada esophagus
(Amstrong, 2008). 2) Inflamasi/ radang esophagus
3) Trauma esophagus
4) Benda asing esophagus
5) Neoplasma esofagus
6) Gangguan psikologis
7) Kelainan endokrin
8) Kelainan kardiovaskuler
9) Kelainan neurologi/ saraf
10) Penyakit degenerative
11) Latrogenik seperti akibat operasi,
kemoterapi, dan radiasi.

11
2.4 Manifestasi Klinis

Disfagia merupakan keluhan utama dari penderita Akalasia. Disfagia


dapat terjadi secara tiba-tiba setelah menelan atau bila ada gangguan emosi.
Disfagia dapat berlangsung sementara atau progresif lambat. Biasanya cairan
lebih sukar ditelan dari pada makanan padat (Patrik, 2005).

a. Disfagia Oral atau faringeal


1.Batuk atau tersedak saat menelan
2. Kesulitasn pada saat mulai menelan
3. Makanan lengket di kerongkongan
4. Sialorrhea
5. Penurunan berat badan
6. Perubahan pola makan
7. Pneumonia berulang
8. Perubahan suara (wet voice)
9. Regurgitasi Nasal

b. Disfagia Esophageal
1. Sensasi makanan tersangkut di tenggorokan atau dada
2. Regurgitasi Oral atau faringeal
3. Perubahan pola makan
4. Pneumonia rekuren

2.5 Prognosis Disfagia


Perjalanan penyakit biasanya kronis dengan disfagia yang
bertambah berat. Berat ringannya disfagia menurut British Oesophageal
Surgery dibagi menjadi 5 tingkat, yaitu :

1. Tingkat 0 : normal
2. Tingkat 1 : tidak dapat menelan makanan padat
3. Tingkat 2 : tidak dapat menelan makanan daging halus
4. Tingkat 3 : tidak dapat menelan sup atau makan berair

12
5. Tingkat 4 : tidak dapat menelan ludah

Prognosis menurut Patrick Davet, 2005 Prognosisnya buruk, dengan


angka harapan hidup 5 tahun ( 5year survival rate < 5% ).

1) Pembedahan: tindakan bedah memiliki kemungkinan sembuh


tertinggi sehingga membenarkan upaya yang dilakukan untuk
menetapkan stadium preoperatif, walaupun bahkan dengan reseksi
“kuratif” angka harapan hidup 5 tahun ( 5 year survival rate < 20% ).
2) Radioterapi dan kemoterapi : karsinoma sel skarmosa pada
esofagus sensitif terhadap radioterapi dan regimen kombinasi yang
lebih baru terbukti bermanfaat bagi adekarsinoma juga.
3) Terapi Paliatif : bahkan terapi kemungkinan sembuh, gejala disfagia
masih mungkin diringankan.
4) Dilatasi : pada banyak kasus dilatasi esofagaus akan mengurangi
disfagia, walaupun mungkin tindakan ini perlu diulang.
5) Ablasio laser atau sinar argon : laser bisa digunakan pada esofagus
untuk mengekstirpasi tumor eksofitik.
6) Pemasangan stent: pada tumot yang menyebabkan penyelubungan
mediastinum pemasangan stent logam yang dapat mengembang
sendiri (self-espanding) merupakan tindakan paliatif yang baik.

2.6 Komplikasi Disfagia


1. Peunomonia akut
Aspirasi adalah suatu keadaan dimana muatan lambung atau
orofaring kembali ke dalam laring atau bahkan trakea dan paru yang
menyebabkan pneumonia. Infeksi terjadi bila kolonisasi bakteri di orofaring
masuk ke dalam saluran pernafasan. Fungsi menelan dan reflek batuk yang
baik penting untuk mencegah aspirasi dari orofaring, dimana gangguan
keduanya dapat meningkatkan risiko infeksi. Oleh karenanya perlu
diketahui penanganan disfagia yang tepat untuk menghindari
perkembangan kondisi pasien ke arah yang lebih buruk.

13
Disfagia menyebabkan penderita mudah mengalami aspirasi,
dimana aspirasi selanjutnya akan menyebabkan pneumonia. Beberapa
factor yang mempengaruhi terjadinya aspirasi ini diantaranya adalah
jumlah, sifat fisik dan letak kedalaman aspirasi serta mekanisme
pembersihan oleh paru. Aspirasi semakin berbahaya pada aspirasi dalam
jumlah yang lebih besar, letak yang semakin distal dan sifat yang lebih
asam. Bila aspirasi diikuti organisme infeksius atau bahkan flora normal

mulut sekalipun, maka akan dapat menbyebabkan pneumonitis.

2. Malnutrisi dan dehidrasi


Disfagia dapat membuat kesulitan mengkonsumsi makanan dan
cairan yang cukup/ memadai untuk menjaga tetap sehat dan terhidrasi.
Orang dengan kesulitan menelan resiko kekurangan gizi dan dehidrasi.
Malnutrisi menyebabkan seseorang rentan terhadap perubahan kolonisasi
bakteri di orofaring dan menurunkan pertahankan terhadap infeksi dengan
menekan system imunitas. Malnutrisi juga menyebabkan letargi,
kelemahan dan penurunan kesadaran yang pada gilirannya meningkatkan
kemungkinan terjadinya aspirasi. Tambahan pula bahwa malnutrisi
mengurangi kekuatan batuk dan mekanisme pembersihan paru sebagai
factor pertahanan terhadap aspirasi. Disfagia dapat menyebabkan dehidrasi
karena asupan cairan yang kurang. Sebaliknya, dehidrasi juga merupakan
factor resiko terjadinya pneumonia. Hal ini disebabkan pertama karena
berkurangnya aliran air liur yang dapat perubahan kolonisasi di orofaring,
kedua karena letargi dan perubahan status mental yang dapat
meningkatkan aspirasi, dan ketiga karena menurunnya system imunitas
(Patrick, 2005).

2.7 Penatalaksanaan pada Disfagia

Proses menelan merupakan kegiatan yang memerlukan koordinasi


sejumlah otot dan saraf kranial. Sangat mengherankan bahwa meskipun
gangguan proses menelan banyak terjadi pada penderita stroke,parkinson dan

14
cerebral palsy, namun penelitian yang memuat bukti klinis yang terkait
dengan penatalaksanaan gangguan menelan masih sedikit jumlahnya.
Ada sejumlah cara latihan atau manuver yang berguna untuk melatih
fungsi motorik otot-otot yang bertugas dalam proses menelan dan seringkali
para klinikus menambahkan juga sejumlah cara-cara kompensasi dalam
menangani penderita dengan kasus disfagia. Bahkan sesungguhnya gabungan
yang seimbang antara kedua cara tersebut, pelatihan fungsi motorik dan
kompensasi,akan meningkatkan fungsi menelan penderita disfagia.

Terapi Disfagia

Latihan/terapi otot atau Terapi gabungan (meliputi latihan dan


kelompok otot cara kompensasi

Latihan motorik oral Modifikasi diet dan latihan

Manuver masako Stimulasi suhu + menelan supraglotik

Latihan angkat kepala Latihan mendorong bolus

Manuver Mendelsohn Modifikasi diet + latihan+ konseling

Manuver menelan paksa Mosifikasi diet + latihan motorik oral + tehnik


menelan + penempatan posisi

Rehabilitasi Disfagia Berdasarkan Evidence-Based Practice


Evidence-based practice didefinisikan sebagai “penggunaan cara-cara yang
telah dibuktikan secara klinis secara sadar, jelas dan bijaksana dalam merawat
setiap penderita” (Knottnerus dan Dinant,1997). Secara sederhana dapat
dikatakan, para dokter harus menggunakan teknik perawatan yang telah
terbukti baik sebelumnya.Bukti ini harus berdasarkan jumlah partisipan yang
besar, metode penelitian yang dirancang dengan baik, dikendalikan dengan
baik, dan dianalisis secara ilmiah. Penanganan disfagia masih merupakan suatu
hal yang baru dan oleh karenanya saat ini masih merupakan masa
pengumpulan bukti-bukti klinis dalam bidang penanganan disfagia.
Latihan motorik oral akan meningkatkan kekuatan motorik oral dan oleh
karenanya akan memperbaiki kekuatan mulut dalam berbicara dan menelan.

15
Latihan motorik oral tersebut biasanya meliputi pendorongan lidah ke
depan,samping dan ke atas. Jadi bila bila seorang penderita ingin memperbaiki
kemampuan lidahnya untuk mendorong ke depan, maka penderita harus
melatih lidahnya dengan cara mendorong ke depan.Namun dalam proses
menelan tidak ada kegiatan lidah yang semacam itu. Adapun hal yang dapat
dilakukan ialah melatih penderita untuk menelan secara benar dengan
mempertimbangkan proses-proses fungsional yang terjadi pada fase oral,
faringeal, respirasi, atau memindahkan bolus dari rongga mulut atau faring.

1. Rehabilitasi Fase Oral


Yang termasuk dalam tujuan rehabilitasi fase oral ialah :
a. Membuka mulut untuk menerima bolus makanan
b. Mengambil bolus makanan dari sendok atau garpu
c. Menutup bibir untuk mempertahankan agar bolusmakanan/cairan tetap
di dalam mulut
d. Latihan mengunyah
e. Latihan mendorong bolus untuk selanjutnya ditelan
f. Membersihkan rongga mulut setelah bolus makanan yangutama telah
ditelan

2. Rehabilitasi Fase Faringeal


Yang termasuk dalam tujuan rehabilitasi fase faringeal ialah :
a. Menutup palatum molle sehingga tidak terjadi regurgitasi saat atau
setelah menelan
b. Mencegah penyimpangan hyolaringeal dengan manuver:
a) Manuver Mendelsohn
 Mengangkat kepala (head lift)
 Melatih suara falsetto
 Melatih kontraksi faring secara efektif untuk memipihkanbolus,
dengan cara latihan Masako
 Menutup vestibulum laring
 Melatih koordinasi menelan dan respirasi

16
b) Manuver Menelan Paksa
 Melatih pembukaan sfingter esofagus atas

3. Stimulasi Listrik
Penggunaan stimulasi listrik untuk penanganan disfagia merupakan
terobosan baru dan menarik. Penggunaannya yang lebih sering pada
ekstremitas atas dan bawah dikarenakan otot-otot daerah tersebut yang
lebih besar sehingga lebih mudah diisolasi bila dibandingkan dengan otot-
otot daerah leher. Stimulasi listrik ialah penggunaan listrik bervoltase
rendah untuk menstimulasi otot sehingga menyebabkan serabut otot
berkontraksi..
Respon neuromuskular yang terjadi dipengaruhi oleh:
a) Karakteristik aliran listrik
b) Apakah stimulasi yang diberikan bersifat kontinyu atau intermiten
c) Penempatan elektroda
d) Lamanya sesi yang diberikan kepada pasien (dosis)
e) Diberikan saat otot beristirahat atau diberikan dengan manuver otot
tertentu, keteraturan pemberian terapi.
Namun dari semua parameter ini belum ada satupun yang diteliti
secara seksama. Stimulasi listrik dengan frekuensi yang tinggi akan
menghasilkan kontraksi yang kuat, namun hal ini dapat cepat
menimbulkan kelelahan. Sebaliknya, stimulasi listrik dengan frekuensi
yang rendah akan menghasilkan kontraksi yang lebih lemah, namun hal ini
mengurangi terjadinya cedera otot. Hanya terdapat sedikit data penelitian
sebelumnya yang membahas mengenai stimulasi listrik yang adekuat
untuk penganan disfagia. Ada dugaan yang menyatakan bahwa stimulasi
listrik (disebut juga dengan Functional Neuromotor Stimulation – FNS)
sangat sesuai untuk gangguan motorik yang diakibatkan susunan sistem
saraf pusat yang terganggu namun system neuromuskular yang masih utuh.

17
4. Perawatan Medis Disfagia
Terdapat pengobatan yang berbeda untuk berbagai jenis dysphagia.
Pertama dokter dan speech-language pathologists yang menguji dan
menangani gangguan menelan menggunakan berbagai pengujian yang
memungkinkan untuk melihat bergagai fungsi menelan. salah satu
pengujian disebut dengan, laryngoscopy serat optik, yang memungkinkan
dokter untuk melihat kedalam tenggorokan. Pemeriksaan lain, termasuk
video fluoroscopy, yang mengambil video rekaman pasien dalam menelan
dan ultrasound, yang menghasikan gambaran organ dalam tubuh, dapat
secara bebas nyeri memperlihatkan tahapan-tahapan dalam menelan.
Setelah penyebab disfagia ditemukan, pembedahan atau obat-obatan
dapat diberikan. Jika dengan mengobati penyebab dysphagia tidak
membantu, dokter mungkin akan mengirim pasien kepada ahli patologi
hologist yang terlatih dalam mengatasi dan mengobati masalah gangguan
menelan.
Pengobatan dapat melibatkan latihan otot untuk memperkuat otot-otot
facial atau untuk meningkatkan koordinasi. Untuk lainnya, pengobatan
dapat melibatkan pelatihan menelan dengan cara khusus. Sebagai contoh,
beberapa orang harus makan dengan posisi kepala menengok ke salah satu
sisi atau melihat lurus ke depan. Meniapkan makanan sedemikian rupa
atau menghindari makanan tertentu dapat menolong orang lain. Sebagai
contoh, mereka yang tidak dapat menelan minuman mungkin memerlukan
pengental khusus untuk minumannya. Orang lain mungkin garus
menghindari makanan atau minuman yang panas ataupun dingin.
Untuk beberapa orang, namun demikian, mengkonsumsi makanan dan
minuman lewat mulut sudah tidak mungkin lagi. Mereka harus
menggunakan metode lain untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Biasanya
ini memerlukan suatu system pemberian makanan, seperti suatu selang
makanan (NGT), yang memotong bagian menelan yang tidak mampu
bekerja normal.
Berbagai pengobatan telah diajukan untuk pengobatan disfagia
orofaringeal pada dewasa. Pendekatan langsung dan tidak langsung

18
disfagia telah digambarkan. Pendekatan langsung biasnya melibatkan
makanan, pendekatan tidak langsung biasanya tanpa bolus makanan.

1) Modifikasi diet
Merupakan komponen kunci dalam program pengobatan umum
disfagia. Suatu diet makanan yang berupa bubur direkomendasikan
pada pasien dengan kesulitan pada fase oral, atau bagi mereka yang
memiliki retensi faringeal untuk mengunyah makanan padat. Jika fungsi
menelan sudah membaik, diet dapat diubah menjadi makanan lunak
atau semi-padat sampai konsistensi normal.
2) Suplai Nutrisi
Efek disfagia pada status gizi pasien adalah buruk. Disfagia dapat
menyebabkan malnutrisi. Banyak produk komersial yang tersedia untuk
memberikan bantuan nutrisi. Bahan-bahan pengental, minuman yang
diperkuat, bubur instan yang diperkuat, suplemen cair oral. Jika asupan
nutrisi oral tidak adekuat, pikirkan pemberian parenteral.
3) Hidrasi
Disfagia dapat menyebabkan dehidrasi. Pemeriksaan berkala keadaan
hidrasi pasien sangat penting dan cairan intravena diberikan jika terapat
dehidrasi.
4) Pembedahan
a. Pembedahan gastrostomy
Pemasangan secara operasi suatu selang gastrostomy memerlukan
laparotomy dengan anestesi umum ataupun lokal.
b. Cricofaringeal myotomy
Cricofaringeal myotomy (CPM) adalah prosedur yang dilakukan
untuk mengurangi tekanan pada sphicter faringoesophageal (PES)
dengan mengincisi komponen otot utama dari PES. Injeksi
botulinum toxin kedalam PES telah diperkenalkan sebagai ganti dari
CPM.

19
5. Terapi dan Obat
Pengobatan untuk kesulitan menelan seringkali disesuaikan dengan jenis
atau penyebab tertentu dari gangguan menelan yang anda alami.
1) Disfagia Orofaringeal
Untuk disfagia orofaringeal, dokter mungkin akan merujuk anda pada
terapis bicara atau menelan, dan sesi terapi dapat berupa:
a. Latihan. Latihan tertentu dapat membantu koordinasi otot-menelan
anda atau menstimulasi kembali saraf-saraf yang memicu refleks
menelan.
b. Belajar teknik menelan. Anda juga dapat mempelajari cara-cara
sederhana untuk menempatkan makanan di mulut anda atau posisi
tubuh dan kepala yang dapat membantu anda menelan dengan baik.
2) Disfagia Esofagus
Jenis pengobatan untuk disfagia esofagus mungkin berupa:
a. Pelebaran esofagus. Untuk kasus pengetatan esophageal sphincter
(achalasia) atau penyempitan kerongkongan, dokter mungkin
menggunakan prosedur endoskop dengan balon khusus yang
dilekatkan, balon tersebut kemudian meregang secara lembut dan
memperluas lebar kerongkongan atau meluluskan tabung fleksibel
atau tabung untuk meregangkan esofagus (dilatasi).
b. Pembedahan. Dalam kasus tumor esofagus, achalasia atau
divertikula faring, anda mungkin memerlukan prosedur
pembedahan untuk membersihkan jalan kerongkongan anda.
c. Obat-obatan. Kesulitan menelan yang berkaitan dengan GERD
dapat diobati dengan obat-obatan oral (resep) untuk mengurangi
asam lambung. Anda mungkin perlu mengambil obat ini untuk
jangka waktu tertentu. Jika mengalami kejang esofagus tetapi
esofagus Anda nampak normal dan tanpa disertai GERD, ini dapat
diobati dengan obat-obatan yang dapat merelaksasi kerongkongan
dan mengurangi ketidaknyamanan yang ditimbulkan.

20
3) Disfagia parah
Jika kesulitan menelan mencegah mendapatkan asupan makanan
dan minuman secara memadai, maka dokter mungkin
merekomendasikan:
a. Cairan diet khusus. Cairan ini dapat membantu anda
mempertahankan berat badan yang sehat dan terhindar dari
dehidrasi.
b. Tabung makanan. Dalam kasus disfagia yang parah, mungkin
diperlukan selang untuk melewati bagian dari mekanisme menelan
yang tidak berfungsi normal.

3.1 Prosedur Diagnostik


1. Pemeriksaan Radiologi Barium

Pemeriksaan radiologis esofagus yang dilakukan secara rutin biasanya


dikombinasi dengan pemeriksaan radiologis lambung dan duodenum (
rangkaian pemeriksaan radiologis gastrointestinal bagian atas )
menggunakan barium sulfat dalam cairan atau suspensi krim yang ditelan.
Mekanisme menelan dapat terlihat secara langsung dengan pemeriksaan
fluoroskopi, atau perekaman gambaran radiografik menggunakan teknik
gambar bergerak ( sineradiografi ).

Tujuannya untuk menilai kondisi anatomi fisiologi dari ototfaring dan


esophagus, mendeteksi berbagai kelainan antara lain tumor, polip,
divertikulitis, striktura, hernia hiatus, varises esofagus yang besar, proses
menelan yang tidak terkoordinasi, dan peristaltik yang lemah (Price,
2005).

2. Pemeriksaan MRI dan Radiologis Lainnya

Pemeriksaan radiologis esofagus adalah dengan CT- scandan USG


endoskopi. Pemeriksaan CT- scan lebih disukai untuk mengevaluasi
penebalan abnormal lesi esofagus dan untuk melihat anatomi pembuluh
darah. Pemeriksaan USG endoskopi digunakan untuk pencitraan

21
karsinoma esofagus dan untuk menilai derajat infiltrasi tumor sebelum
operasi. Pemeriksaan MRI menghasilkan irisan tomografik yang tipis dan
tidak menggunakan radiasi. Pemeriksaan MRI berguna untuk menentukan
stadium keganasan esofagus; dan EKG Doppler dapat digunakan bersama
dengan MRI untuk menilai aliran darah submukosa. Endoskopi yang
disertai dengan penapisan sitologi ( biopsi ) adalah pemeriksaan utama
untuk menegakkan diagnosis tumor esofagus (Price, 2005).

3. Esofaguskopi

Inspeksi langsung pada mukosa esofagus merupakan tindakan yang


penting dalam mendiagnosis gangguan esofagus. Alat serat-optik yang
fleksibel membuat tindakan ini jauh lebih mudah dan lebih aman bagi
penderita. Peradangan, tukak, tumor, dan varises esofagus dapat dilihat,
difoto, dan dibiopsi. Bilasan sel dapat diperoleh untuk pemeriksaan
sitologis yang dapat menegakkan diagnosis karsinoma esofagus dengan
sangat akurat. Infeksi, seperti Helicobacter pylori ( H. Pylori ) dapat
terdiagnosis melalui pemeriksaan serologis noninvasif dan uji napas urea (
Kandel, 2000 ).

Persiapan esofagoskopi terdiri atas puasa selama enam jam dan


berbagai bentuk premedikasi yaitu penyemprotan tenggorakn dengan
anestesi lokal. Pemerikasaan endoskopi nesofagus, lambung, dan
duodenum sering digabungkan dalam satu pemeriksaan.

4. Pemeriksaan Motilitas

Fungsi motorik esofagus dapat diperiksa dengan menggunakan kateter


peka-tekanan atau balon mini yang diletakkan dalam lambung dan
kemudian dinaikkan kembali. Tekanan kemudian ditransmisi ke transduser
yang di lrtakkkan di luar tubuh penderita. Pengukuran perubahan tekanan
dalam esofagus dan lambung pada istirahat dan selama menelan sangat
menambah pengertian aktivitas esofagus pada keadaan sehat dan sakit.

22
Pemeriksaan motilitas esofagus bermanfaat dalam menegakkan diagnosis
akalasia, spasme esofagus difus, skleroderma, dan gangguan motorik
esofagus lainnya.

Dalam keadaan normal, terdapat daerah tekanan tinggi ( 15 sampai 30


cm air di atas tekanan intragastrik ) yang mencegah terjadinya refluks isi
lambung ke dalam esofagus. Refluks dapat terjadi bila sfingter gagal
mempertahankan tekanan tersebut di atas tekanan intraabdominal.

5. Uji Refluks Asam

Uji perfusi asam ( tes Bernstein ) digunakan untuk membedakan antara


nyeri dada yang berasal dari jantung dengan nyeri dada akinat spasme
esofagus yang disebabkan oleh asam, karena gejala kedua gangguan ini
dapat identik.

Pada uji perfusi asam, asam hidroklorat ( HCl ) 0,1 N diteteskan melalui
kateter dengan kecepatan 6 sampai 15 ml/menit ke dalam esofagus distal (
kadar HCl sama dengan asam lambung normal ). Bila pasien mengalami
nyeri esofagus atau ulu hati, maka hasil pemeriksaan ini positif. Nyeri
yang menghilangkan cepat dengan pemberiaan larutan alkali atau netral
memastikan bahwa mukosa esofagus merupakan asal timbulnya nyeri
yang diinduksi oleh asam. Penyakit yang paling sering ditemukan bila
hasil uji ini positif adalah esofagitis refluks, tetapi setiap penyakit yang
menyebabkan terputusnya kontinuitas mukosa esofagus dapat
menyebabkan uji ini menjadi positif. Penderita nyeri dada yang berasal
dari jantung tidak dapat membedakan antara larutan garam dan perfusi
asam (Price, 2005).

6. pH metri 24 jam

Memantau pH esofagus, hal ini dilakukan untuk mendeteksi refluks isi


lambung yang asam, juga observasi fluoroskopi esofagus untuk
mendeteksi refluks barium dari lambung ke dalam esofagus, dan observasi

23
fluoroskopi esofagus saat menelan campuran asam klorida dan barium
untuk mendeteksi gangguang aktivitas peristaltik sesaat. Semua
pemeriksaan untuk mengetahui adanya refluks asan ini dapat memberi
hasil positif palsu dan negatif palsu; sehingga digunakan gabungan dua
pemeriksaan atau lebih untuk mendiagnosis kasus – kasus yang sulit
(Price, 2005).

24
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.2 Pengkajian
3.2.1 Anamnesa
1. Identitas klien
Nama, umur, suku/bangsa, agama, pendidikan alamat.
2. Keluhan Utama
P : Kaji keluhan yang menyertai disagia. Apakah ada keluhan
odinofagia (nyeri menelan) atau pirosis (nyeri ulu hati)? Apakah
disfagia juga disertai demam, sesak nafas, batuk, atau perasaa
mengganjal/ menyumbat di tenggorokan?
Q : Kaji factor predisposisi yang dapat menyebabkan keluhan
disfagia muncul. Apakah pada saat menelan makanan makanan padat
atau makan cair? Apakah pada aat mengalami tekanan psikologis
pasien mengalami disfagia?
R : Kaji bagaimana keluhan disfagia? Apakah kesulitan menelan
terjadi pada rongga mulut, orofaring, atau pada esophagus? Kaji
adanya keluhan geli pada saat menelan. Kaji adanya perasaan
tersumbat pada saat menelan.
S : kaji seberapa parah kesulitan dalam menelan ?
T : Kaji berapa lama keluhan disfagia telah dirasakan pasien?
Bagaimana perjalanan keluhan disfagia bertambah berat, apakah awal
keluhan dengan cepat menjadi keluhan yang berat dalam melakukan
proses menelan?.
3. Riwayat penyakit sekarang
Mengalami kesulitan menelan makanan dan minuman.
4. Riwayat penyakit dahulu
Kaji riwayat penyakit yang berhubungan dengan proses menelan,
seperti riwayat stroke, gangguan neuromuscular, hipertensi,

25
ataupenyakit kardiovaskular. Kaji adanya riwayat operasi kepala
operasi dan leher sebelumnya.
5. Riwayat penyakit keluarga
Adanya penyakit yg sama pada generasi sebelumnya.
6. Gaya Hidup
Kaji pola hidup pasien yang berhubungan dengan gangguan menelan,
seperti kebiasaan merokok, kebiasaan minum alkohol, pola hygiene
mulut, pola makan dengan diet yang diawetkan/diasinkan.

3.2.2 Pemeriksaan fisik


1. Periksa keadaan umum dan tanda-tanda vital pasien.
2. Lakukan pemeriksaan rongga mulut dengan mengevaluasi erakan
dan kekuatan mulut dan otot lidah. Lakukan pemeriksaan lidah,
meliputi: gerakan pangkal lidah, gerakan arkus faring, uvula, dan
pergerakan pallatum molle.
3. Pemeriksaan orofaring, pergerakan palatum mole, sensibilitas
orofaring dengan sentuhan spatel lidah, cari refleks muntah, refleks
menelan, dan evaluasi suara (keterlibatan laring)
4. Pemeriksaan faring-laring: gerakan pangkal lidah, gerakan arkus
faring, uvula, epiglotis, pita suara, plika ventrikularis dan sinus
piriformis
5. pemeriksaan faring-laring: gerakan pangkal lidah, gerakan arkus
faring, uvula, epiglotis, pita suara, plika ventrikularis dan sinus
piriformis
6. pemeriksaan neurologi fungsi motorik dan sensorik saraf cranial
7. periksa posisi dan kelenturan leher atau tulang servikal, evaluasi
massa leher, pembesaran KGB (kelenjar getah bening) leher dan
trauma

3.3 Diagnosa Keperawatan


1. Gangguan menelan b.d gangguan pengiriman, transit, dan adanya
obstruksi gastrointestinal.

26
2. Risiko aspirasi b.d ketidakmampuan menelan akibat kerusakan saraf
control cranial.
3. Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan b.d kurangnya makanan yang
adekuat.
3.4 Intervensi dan Rasional
1. Gangguan menelan b.d pengiriman, transit, dan adanya obtruksi
gastrointestinal

Tujuan : Dalam waktu 2x24 jam terjadi peningkatan kemampuan


menelan dan penurunan keluhan disfagia.
Kriteria Hasil :
- Pasien dapat menunujukkan metode menelan yang tepat tanpa
menimbulkan keputusasaan.
- Keluhan odinofagia berkurang, pirosis berkurang.
Intervensi Rasional

Kaji kemampuan pasien dalam menelan, Pasien yang mengalami disfagia dapat
catat setiap gangguan fisik atau keluhan terjadi pada fase oral, fase fraingeal dan
dalam proses menelan. faase esofangeal, pengenalan yang baik
pada gangguan setiap fase dapat menjadi
data dasar intervensi keperawatan
selanjutnya

Identifikasi factor predisposisi penyebab Disfagia bisa desebabkan oleh gangguan


disfagia kerja saraf seperti pada penykit Parkinson,
disfungsi oto seperti pada pascastroke,
desakan massa tumor maupun gangguan
anatomi dari saluran pencernaan bagian
atas dapat menyebabkan terjadinya
gangguan proses menelan. Selain itu
pasien dengan pasca kemoradioterapi pada
kepala dan leher juga mengalami disfagia.

27
Kolaborasi dengan ahli gizi tentang jenis Kondisi disfagia bisa disebabkan oleh
diet yang sesuai dengan kondisi individu kondisi multifaktur. Pemberian diet
dengan kolaborasi bersama ahli gizi dapat
memaksimalkan tujuan dalam pemenuhan
nutrisi pasien.

Observasi intake nutrient pasien dan kaji Intervensi dalam mengevaluasi factor yang
hal yang menghambat proses menelan memperberat kondisi menelan dan sebagai
bahan tambahan untuk intervensi
selanjutnya

Stimulasi bibir untuk membuka dan Membantu melatih kembali sensori dan
menutup mulut secara manual dengan meningkatkan control stimular
menekan ringan bagian atas atau bawah
bibir

2. Resiko aspirasi b.d. refluks material dari esophagus,


ketidakmampuan menelan akibat kerusakan saraf control fasial.
Tujuan : Dalam waktu 1x24 jam resiko aspirasi tidak terjadi.
Criteria evaluasi :
-Pasien dapat menunjukkan metode menelan makanan yang tepat.
-pasien terjadin refluks dan aspirasi pada saat pasien makan secara oral,
-terjadi penurunan gejala refluks esophagus, meliputi : odinofagia
berkurang; pirosis berkurang, RR dalam batas normal 12-20x/menit.

28
Intervensi Rasional

Kaji kemampuan pasien menelan. Pada pasien yang mengalami


gangguan akibat paralisis, perawat
mencatat akibat adanya resiko
aspirasi akibat makanan yang masuk.

Tingkatkan upaya untuk dapat Gaya gravitasi untuk memudahkan


melakukan proses menelan yang proses menelan dan menurunkan
efektif seperti membantu pasien resiko terjadinya aspirasi.
menegakkan kepala.
Letakkan pasien pada posisi duduk
atau tegak selama dan setelah
makan.
Letakkan makanan pada daerah Memberikan stimulasi sensori yang
mulut yang tidak sakit dapat menimbulkan usaha untuk
menelan.

Berikan makanan perlahan pada Pasien dapat berkonsentrasi selama


lingkungan yang tenang. mekanisme makanan tanpa ada
gangguan dari luar/ lingkungan.

Mulai dengan memberikan Makanan lunak/ kental/ cair lebih


makanan peroral setengah cair, mudah untuk mengendalikannya
kemudian makanan lunak ketika didalam mulut sehingga mudah
pasien dapat menelan air. ditelan.

Anjurkan pasien untuk Menguatkan otot-otot fasial dan otot


menggunakan sedotan untuk menelan serta menurunkan resiko
meminum cairan. terjadinya aspirasi atau tersedak.

29
Monitor kondisi jalan napas pada Aspirasi merupakan hal yang
saat pasien makan dan setelah berbabhaya pada jalan nafas. Oleh
makan. karna itu, dengan memonitor jalan
anfas, perawat dapat lebih cepat
meberikan intervensi.

Evaluasi keberhasilan pemberian Apabila tingkat toleransi pasien tidak


makan. optimal dalam pemenuhan nutrisi
yang disebabkan refluks dan
gangguan menelan, maka perawat
mempertimbangkan pemberian
nutrisi dengan selang, nasogastrik
atau cairan intravena.

3. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan b.d kurangnya intake makan


yang adekuat.
Tujuan : Dalam waktu 3x24 terjadi peningkatan intake
Kriteria evaluasi :
-Pasien dapat menunjukkan metode menelan makanan yang tepat
-Terjadi penurunan gejala refluks esophagus.
Intervensi rasional

Anjurkan pasien mkan dengan Makanan dapat lewat dengan mudah


perlahan dan mengunyah makanan ke lambung
dengan seksama

Evaluasi adanya alergi makanan Beberapa pasien mungkin


dan kontraindikasi makanan mengalami alergi terhadap beberapa
komponen makanan tertentu dan
beberapa penyakit lain.

Sajikan makanan dengan cara yang Membantu merangsang nafsu

30
menarik makan

Fasilitasi pasien memperoleh diet Memperhitungkan keinginan


biasa yang disukai pasien individu dapat memperbaiki intake
nutrisi

Panatu intake dan output, anjurkan Berguna dalam mengukur


untuk timbang BB secara periodic keefektifan nutrisi dan dukungan
(sekali seminggu) cairan

Lakukan dan ajarkan perawatan Menurunkan rasa tak enak karena


mulut sebelum dan sesudah makn, sisa makanan, bau obat untuk yang
serta sebelum dan sesudah dapat merangsang pusat muntah
intervensi

Hindari makanan atau minum yang Mencegah terjadinya iritasi jaringan


mengandung zat iritan seperti sehingga menambah masalah
alcohol kesulitan menelan

Berikan makan dnegan perlahan Pasien dapat berkonsentrasi pada


pada lingkungan yang tenang mekanisme nmakan tanpa adanya
ditraksi

Mulailah untuk memberikan makan Makan lunak/ cairan kental mudah


per oral setengah cair, makan lunak untuk mengendalikannya dalam
ketika pasien dapat menelan air mulut, menurunkan terjadinya
aspirasi

Timbang BB tiap hari dan catat Intervensi untuk evaluasi terhadap


pertambahannya intervensi keperawatan yang telah

31
diberikan

Kolaborasi dengan tim medis untuk -Cimetidin berfungsi untuk


pemberian : menghambat histamine H2
-pemakaian penghambat H2 ( menurunkan produksi asam gaster,
seperti cimetidine/ ranitidine) dan meningkatkan pH gaster,
sukralfat atau antasida menurunkan iritasi pada mukosa
gaster. Hal ini penting untuk
penyembuhan dan meningkatkan
rasa nyaman
-Antasida untuk mempertahankan
pH gaster pada tingkat 4,5

a. Evaluasi
Evaluasi setelah dilakukan intervensi keperawatan adalah sebagai
berikut :
1. Pasien beradaptasi dengan kondisi klinik disfagia dan intake nutrisi
bisa dilaksanakan.
2. Tidak terjadi aspirasi pada saat dan setelah dilakukan pemberian
makan oral.
3. Terjadi penurunan respon nyeri.
4. Pasien tidak mengalami penurunan BB.
5. Kecemasan pasien berkurang.

32
BAB IV
STUDI KASUS
Tn A berusia 40 tahun bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil. Tn A pernah
mengalami stroke 6 bulan yang lalu. Saat ini Tn A sering mengalami
dehidrasi, dan kekurangan nutrisi akibat Tn A mengalami kesusahan saat
menelan. Saat menelan makanan terasa nyeri pada tenggorokan. Pasien
mengeluh susah tidur dalam sebulan ini. Tekanan darah 100/70, Pernapasan
18 kali/menit, Denyut Nadi 60 kali/menit, Suhu tubuh 37,5 0 C

4.1 Identitas Klien


Nama : Tn. A.
Umur : 40
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Jl. Bunga Kamboja
Pendidikan : Sarjana
Status Perkawinan : Kawin/Nikah
Pekerjaan : PNS
Diagnosa Medis : Gangguan Saluran Pencernaan (Disphagya)
4.2 Data
1. Keluhan Utama : Kesulitan menelan
2. Riwayat Keluhan Utama :
P : Stroke
Q : Dehidrasi
R : Gangguan Saluran Pencernaan
S : Sedang
T : Pada saat masuk

4.4 Riwayat Psikososial dan Pola Hidup Sehari-hari


1. Pasien mudah bergaul
2. Pasien mengalami insomnia
3. Kekurangan cairan
4. Pasien mengalami konstipasi

33
5. Intoleransi aktivitas
6. Gangguan pada personal hygiene
7. Nyeri di tenggorokan
4.5 Pemeriksaan Fisik
TTV :
1. Tekanan darah : 100/70
2. Pernapasan : 18 kali/menit
3. Denyut Nadi : 60 kali/menit
4. Suhu tubuh : 37,5 0 C
PENGKAJIAN MULUT DAN FARING :
1. Inspeksi
- Bibir tidak simetris, Warna bibir pucat
- Keadaan mukosa bibir kering dan pecah-pecah
- Leher simetris
- Permukaan leher mormal
- Tidak ada pembesaran vena jugularis
- Pembesaran tiroid
2. Palpasi
- Kelenjar limfe normal
- Edema pharynx
- Pembesaran tiroid
3. Uji nervus
- Fasial cranial (pengecapan 1/3 anterior lidah) normal
- Glossofaringeus (1/3 posterior lidah) normal
- Vagus (refleks menelan) abnormal, kesulitan menelan. Pasien tidak mampu
menelan.
- Hiplogosus (gerakan lidah) normal

4. Uji kekuatan otot


- Sternokledomastoideus normal
- Aksesorius spinal normal
5. Tes kaku kuduk normal

34
4.6 KLASIFIKASI DATA
• Data subyektif :
1. Pasien mengaku kesulitan menelan
2. Nyeri di tenggorokan
3. Pasien merasa susah tidur, makan dan mudah letih.
4. Konstipasi
• Data obyektif :
1. Gangguan personal hygiene
2. Intoleransi aktivitas
3. Dehirasi
4. Gelisah/cemas
5. Warna bibir pucat
6. Keadaan mukosa bibir kering dan pecah-pecah
7. Pembesaran tonsil
8. Pembesaran tiroid
9. Letih
10. Kesulitan menelan

4.7 DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Resiko gangguan menelan berhubungan dengan kelemahan otot-otot menelan
akibat paralise
2. Resiko tinggi nutrisi dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kurangnya
asupan makanan yang adekuat
3. Resiko terjadi aspirasi berhubungan dengan ketidakmampuan menelan akibat
kerusakan saraf kontrol fasial
4.8 TINDAKAN KEPERAWATAN
Rencana Tindakan Kep.
No. Diagnosa Kep
Tujuan Intervensi Rasional
1. Resiko gangguan - Pasien dapat- -
Tinjau ulang kemampuan pasien Pasien dapat
menelan menunjukkan berkosentrasi
menelan, catat luasnya paralisis
berhubungan metode menelan selama
dengan makanan yang fasial mekanisme
kelemahan otot- tepat tanpa makan tanpa
- Tingkatkan upaya untuk dapat
otot menelan menimbulkan adanya
akibat paralise keputusasaan melakukan proses menelan yang gangguan dari
luar atau
efektif seperti membantu pasien
lingkungan
menegakkan kepala. - Pasien mampu
mengunya secara
- Letakkan pasien pada posisi
perlahan.
duduk/tegak selama dan setelah- Pasien mampu
menelan
makan
makanan yang

35
- Stimulasi bibir untuk membuka dan lunak/
kental/cair
menutup mulut secara manual
- Pasien mampu
dengan menekan ringan diatas meminum cairan
dengan
bibir/dibawah dagu
menggunakan
- Letakkan makanan pada daerah sedotan.
mulut yang tidak sakit/terganggu
- Sentuh bagian pipi paling dalam
dengan spatel untuk mengetahui
adanya kelemahan lidah
- Berikan makan dengan perlahan
pada lingkungan yang tenang
- Mulai dengan memberikan
makanan per oral setengah cair,
makanan lunak ketika pasien dapat
menelan air
- Bantu pasien untuk memilih
makanan yang kecil atau tidak perlu
mengunyah dan mudah ditelan
- Anjurkan pasien menggunakan
sedotan untuk meminum cairan
- Anjurkan untuk berpartisipasi
dalam program latihan

36
BAB IV
KESIMPULAN

Disfagia atau kesulitan menelan merupakan kondisi ini biasanya akan


berhubungan dengan kondisi aspirasi pneumonia, malnutrisi, dan dehidrasi Pada
keadaan tertentu dimana terjadi gangguan kerja saraf seperti pada penyakit
Parkinson, disfungsi otot seperti pasca-stroke, desakan massa tumor, maupun
gangguan anatomi dari saluran pencernaan bagian atas dapat menyebabkan
terjadinya gangguan proses menelan .Secara fisiologis dalam sehari kita dapat
menelan sebanyak kurang lebih 2000 kali sehingga masalah disfagia sangat
mengganggu kualitas hidup seseorang . kesulitan menelan ini sering terjadi pada
kelompok usia, khusunya pada orangtua.
Pengobatan dapat melibatkan latihan otot untuk memperkuat otot-otot facial
atau untuk meningkatkan koordinasi. Untuk lainnya, pengobatan dapat melibatkan
pelatihan menelan dengan cara khusus. Sebagai contoh, beberapa orang harus
makan dengan posisi kepala menengok ke salah satu sisi atau melihat lurus ke
depan. Meniapkan makanan sedemikian rupa atau menghindari makanan tertentu
dapat menolong orang lain. Sebagai contoh, mereka yang tidak dapat menelan
minuman mungkin memerlukan pengental khusus untuk minumannya. Orang lain
mungkin harus menghindari makanan atau minuman yang panas ataupun dingin.
Bila prinsip dasar penatalaksanaan gagal untuk menghasilkan kemajuan dalam
dua sampai tiga minggu atau jika pasien mengalami kemunduran setelah
pengembangan dibuat, pertimbangan harus dibuat untuk mengevaluasi lembali
dan menyerahkan selanjutnya untuk intervensi medik.

37
DAFTAR PUSTAKA

Agustari. 2011. Disfagia Dapat Dijumpai Pada Pasien yang Mengalami Stroke.
diakses dalam
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24954/5/Chapter%20I.pdf
[ 16 Oktober 2015 pukul 13.00 WIB]
Aru W. Sudoyo, BambanG Setiyohadi, Idrus Alwi, Marcellus : Simadibrata, Siti
Setiati. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi V Jilid 1. Jakarta: FKUI

Ari Wijayanti, Dcn. 2012. Disfagia Sebagai Faktor Risiko Status Gizi Pasien
Stroke di Ruang Rawat Inap R.S. DR. Cipto Mangunkusumo. Yogyakarta:
UGM

Bailey J Byron. Esophageal disorders. Head and neck surgery Otolaringology.


Vol.1.2.1998;56:781-8014.

Davey, Patrick. 2014. Medicine at a Glance (4th Ed.). UK: Wiley Blackwell.

Davet, patrik. 2005. At a Glance medicine. Jakarta: Erlangga

Lumbantobing, S.M. 2015. Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Menta.


Jakarta :FK UI)

Muttaqin, Arif. Dkk. 2013. Gangguan Gastrointestinal : Aplikasi Asuhan


Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Salemba Medika.

Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses


Penyakit. Jakarta: EGC.

Soepardi, A. Efianty. 2002. Penatalaksanaan Disfagia Secara Komprehensif.


Acara Ilmiah Pelepasan Purna Tugas Prof Dr. Bambang.

Soetikno, Rista D. 2007. Pencitraan Disfagia. Bandung: Fakultas Kedokteran


Universitas Padjadjaran
http://anekartikelkesehatan.blogspot.com/2011/05/disfagia-pada-anak.html(diakses
pada tanggal 21 September 2015 pukul 10.46)

38
39