Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN

Ruang : Tanjung An Nama Mahasiswa : Siti Hudzaizah Arwanda


Tanggal : 19 Maret 2018 NIM/Kelompok : 029 SYE 15/ 1 (satu)
Inisial Pasien : Tn. B
Umur/ No.Reg :

I. Diagnosa Medik

II. Landasan Teori


A. Pengertian
Menurut Brown CV, Weng J, Craniotomy adalah Operasi untuk
membuka tengkorak (tempurung kepala) dengan maksud untuk mengetahui
dan memperbaiki kerusakan otak.
Menurut Morton (2012), trauma capitis merupakan cedera yang
meliputi trauma kulit kepala, tengkorak dan otak.
Trauma Capitis adalah cedera kepala yang menyebabkan kerusakan
pada kulit kepala, tulang tengkorak dan pada otak. (Brunner and Suddarth
Medikal Surgical Nursing).
B. Tujuan
Craniotomy adalah jenis operasi otak. Ini adalah operasi yang paling
umum dilakukan untuk otak pengangkatan tumor. Operasi ini juga dilakukan
untuk menghilangkan bekuan darah (hematoma), untuk mengendalikan
perdarahan dari pembuluh, darah lemah bocor (aneurisma serebral), untuk
memperbaiki malformasi arteriovenosa (koneksi abnormal dari pembuluh
darah), untuk menguras abses otak, untuk mengurangi tekanan di dalam
tengkorak, untuk melakukan biopsi, atau untuk memeriksa otak.
C. Etiologi
Etiologi dilakukannya Craniotomy karena :
1. Adanya benturan kepala yang diam terhadap benda yang sedang
bergerak. Misalnya pukulan-pukulan benda tumpul, kena lemparan benda
tumpul
2. Kepala membentur benda atau objek yang secara relative tidak bergerak.
Misalnya membentur tanah atau mobil.
3. Kombinasi keduanya.

Etiologi trauma capitis berat : Trauma tidak langsung disebabkan karena


tingginya tahanan atau kekuatan yang merobek terkena pada kepala akibat
menarik leher. Trauma langsung bila kepala langsung terluka. Semua itu
berakibat terjadinya akselerasi-deselerasi dan pembentukan rongga.. trauma
langsung juga menyebabkan rotasi tengkorak dan isinya. Kekuatan itu bisa
terjadi seketika atau menyusul rusaknya otak oleh kompresi, goresan atau
tekanan.
D. Patofisiologi
Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan glukosa
dapat terpenuhi. Energi yang dihasilkan didalam sel-sel saraf hampir
seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak punya cadangan oksigen. Jadi
kekurangan aliran darah keotak tidak walaupun sebentar akan menyebabkan
gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan glukosa sebagai bahan
bakar metabolisme otak, tidak boleh kurang dari 20 mg%, karena akan
menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25% dari seluruh
kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai
70% akan terjadi gejala-gejala permulaan disfungsi serebral.
Pada saraf otak mengalami hipoksia, tubuh berusaha memenuhi
kebutuhan oksigen melalui proses metabolic anaerob, yang dapat
menyebabkan dilatasi pembuluh darah. Pada kontusio berat, hipoksia atau
kerusakan otak akan terjadi penimbunan as. Laktat akibat metabolisme anaerob.
Hal ini menyebabkan timbulnya metabolic asidiosis. Dalam keadaan normal
aliran darah serebral (CBF) adalah 50 – 60 ml/ menit /100gr jaringan otak yang
merupakan 15% dari curah jantung (CO).
E. Mekanisme Cedera
Mekanisme cedera memegang peranan yang sangat besar dalam
menentukan berat-ringannya konsekuensi patofisiologi dari trauma kepala.
Cedera percepatan (aselerasi) terjadi jika benda yang sedang bergerak
membentur kepala yang diam, seperti trauma akibat benda tumpul, atau
karena terkena lemparan benda tumpul. Cedar perlambatan (deselerasi)
adalah bila kepala membentur objek yang secara relative tidak bergerak,
seperti badan mobil atau tanah. Kedua kekuatan ini mungkin terjadi secara
bersaman bila terdapat gerakan kepala tiba-tiba tanpa kontak langsung,
seperti yang terjadi bila posisi badan diubah secara kasar dan cepat. Kekuatan
ini bisa dikombinasi dengan pengubahan posisi rotasi pada kepala, yang
menyebabkan trauma regangan dan robekan pada substansi alba dan batang
otak.
Cedera primer, yang terjadi pada waktu benturan mungkin karena
memar pada permukan otak, laserasi substansia alba, cedara robekan atau
hemoragi. Sebagai akibat, cedaea sekunder dapat terjadi sebagai kemampuan
autoregulasi serebral dikurangi atau tak ada pada area cedera.
Konsekuensinya meliputi hyperemia (peningkatan volume darah) pada area
peningkatan permeabilitas kapiler, serta vasodilatasi arterial, semua
menimbulkan peningkatan intracranial (TIK). Beberapa kondisi yang dapat
menyebabkan cedera otak sekunder meliputi hipoksia, hiperkarbia, dan
hipotensi.
F. Indikasi
Indikasi tindakan kraniotomi atau pembedahan intrakranial adalah
sebagai berikut :
1. Pengangkatan jaringan abnormal baik tumor maupun kanker.
2. Mengurangi tekanan intrakranial.
3. Mengevakuasi bekuan darah.
4. Mengontrol bekuan darah, dan
5. Pembenahan organ-organ intrakranial.
6. Tumor otak
7. Perdarahan (hemorrage)
8. Kelemahan dalam pembuluh darah (cerebral aneurysms)
9. Peradangan dalam otak.
10. Trauma pada tengkorak.
G. Manifestasi klinis
Trauma otak mempengaruhi setiap system tubuh. Manifestasi klinis
cedera otak meliputi gangguan kesadaran, konfusi, abnormalitas pupil,
awitan tiba-tiba deficit neurologik, dan perubahan tanda vital. Mungkin ada
gangguan penglihatan dan pendengaran, disfungsi sensori, kejang otot, sakit
kepala, vertigo, gangguan pergerakan, kejang, dan banyak efek lainnya.
Karena cedera SSP sendiri tidak meyebabkan syok, adanya syok hipovolemik
menunjukkan kemungkinan cedera multisistem.
1) Trauma capitis ringan
a. Cedera kepala sekunder yang ditandai dengan nyeri kepala, tidak
pingsan, tidak muntah, tidak ada tanda-tanda neurology.
b. Komusio serebri ditandai denga tidak sadar kurang dari 10 menit,
muntah, nyeri kepala, tidak ada tanda-tanda neurology.
c. Trauma capitis sedang
Ditandai dengan pingsan lebih dari 10 menit, muntah,
amnesia, dan tanda-tanda neurology.
d. Trauma capitis berat
- Laserasi serebri ditandai dengan pingsan berhari-hari atau
berbulan-bulan, kelumpuhan anggota gerak, biasanya disertai
fraktur basis kranii.
- Perdarahan epidural ditandai dengan pingsan sebentar-sebentar
kemudian sadar lagi namun beberapa saat pingsan lagi, mata
sembab, pupil anisokor, bradikardi, tekanan darah dan suhu
meningkat.
- Perdarahan subdural ditandai dengan perubahan subdural, nyeri
kepala, TIK meningkat, lumpuh.
H. Komplikasi
Komplikasi yang mungkin timbul pada pasien post operasi
craniotomy, antara lain :
1. Edema cerebral
2. Perdarahan subdural, epidural, dan intracerebral
3. Hypovolemik syok
4. Hydrocephalus
5. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit (SIADH atau Diabetes
Insipidus)
6. Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis.
Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 - 14 hari setelah operasi.
Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding
pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paru-paru,
hati, dan otak. Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi,
ambulatif dini.
7. Infeksi.
Infeksi luka sering muncul pada 36 - 46 jam setelah operasi. Organisme
yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilokokus aurens,
organisme; gram positif. Stapilokokus mengakibatkan pernanahan. Untuk
menghindari infeksi luka yang paling penting adalah perawatan luka
dengan memperhatikan aseptik dan antiseptik.
8. Kerusakan integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau
eviserasi. Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka. Eviserasi
luka adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi. Faktor penyebab
dehisensi atau eviserasi adalah infeksi luka, kesalahan menutup waktu
pembedahan.
I. Pemeriksaan penunjang
Prosedur diagnostik praoperasi dapat meliputi :
1. Tomografi komputer (pemindaian CT)
Untuk menunjukkan lesi dan memperlihatkan derajat edema otak
sekitarnya, ukuran ventrikel, dan perubahan posisinya/pergeseran
jaringan otak, hemoragik.
Catatan : pemeriksaan berulang mungkin diperlukan karena pada
iskemia/infark mungkin tidak terdeteksi dalam 24-72 jam pasca trauma.
2. Pencitraan resonans magnetik (MRI)
Sama dengan skan CT, dengan tambahan keuntungan pemeriksaan
lesi di potongan lain.
3. Electroencephalogram (EEG)
Untuk memperlihatkan keberadaan atau berkembangnya gelombang
patologis.
4. Angiografy Serebral
Menunjukkan kelainan sirkulasi serebral, seperti pergeseran jaringan
otak akibat edema, perdarahan trauma
5. Sinar-X
Mendeteksi adanya perubahan struktur tulang (fraktur), pergeseran
struktur dari garis tengah (karena perdarahan,edema), adanya fragmen
tulang.
6. Brain Auditory Evoked Respon (BAER) : menentukan fungsi korteks dan
batang otak
7. Positron Emission Tomography (PET) : menunjukkan perubahan
aktivitas metabolisme pada otak.
8. Fungsi lumbal, CSS : dapat menduga kemungkinan adanya perdarahan
subarachnoid.
9. Gas Darah Artery (GDA) : mengetahui adanya masalah ventilasi atau
oksigenasi yang akan dapat meningkatkan TIK
10. Kimia/elektrolit darah : mengetahui ketidakseimbangan yang berperan
dalam meningkatkan TIK/perubahan mental
11. Pemeriksaan toksikologi : mendeteksi obat yang mungkin bertanggung
jawab terhadap penurunan kesadaran
a. Kadar antikonvulsan darah : dapat dilakukan untuk mengetahui
tingkat terapi yang cukup efektif untuk mengatasi kejang.
J. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Perawatan
Penatalaksanaan Perawatan pada pasien post operasi Craniotomy :
a. Mengurangi komplikasi akibat pembedahan
b. Mempercepat penyembuhan
c. Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti sebelum
operasi.
d. Mempertahankan konsep diri pasien
e. Mempersiapkan pasien pulang
2. Penatalaksanaan medis
Penatalaksanaan medis pada pasien post craniotomy antara lain :
a. Dexamethason/kalmethason sebagai pengobatan anti edema serebral,
dosis sesuai dengan berat ringanya trauma
b. Terapi hiperventilasi (trauma kepala berat), untuk mengurnagi
vasodilatasi
c. Pengobatan anti edema dnegan larutan hipertonis yaitu manitol 20 %
atau glukosa 40 % atau gliserol 10 %.
d. Antibiotika yang mengandung barrier darah otak (penisillin) atau
untuk infeksi anaerob diberikan metronidasol
e. Makanan atau cairan, Pada trauma ringan bila muntah-muntah tidak
dapat diberikan apa-apa, hanya cairan infus dextrosa 5 %, amnifusin,
aminofel (18 jam pertama dari terjadinya kecelakaan), 2-3 hari
kemudian diberikan makanan lunak
f. Pada trauma berat. Karena hari-hari pertama didapat penderita
mengalami penurunan kesadaran dan cenderung terjadi retensi
natrium dan elektrolit maka hari-hari pertama (2-3 hari) tidak terlalu
banyak cairan. Dextosa 5 % 8 jam pertama, ringer dextrosa 8 jam
kedua dan dextrosa 5 % 8 jam ketiga. Pada hari selanjutnya bila
kesadaran rendah makanan diberikan melalui nasogastric tube (2500 -
3000 TKTP). Pemberian protein tergantung nilai ure nitrogennya.
g. Pembedahan.
3. Penatalaksanaan konservatif
Penatalaksanaan konservatif pada pasien post craniotomy, antara lain :
a. Bedrest total
b. Pemberian obat-obatan
c. Observasi tanda-tanda vital dan tingkat kesadaran.

III. Fokus Asessment


A. Pola persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan
- Keluhan nyeri pada kepala
- Keadaan luka dan balutan : tidak ada perdarahan
B. Pola nutrisi metabolic
- Keluhan mual, muntah
- Kesulitan mengunyah/menelan
C. Pola aktifitas
- Merasa lemah, lelah, kaku, hilang keseimbangan
- Perubahan kesadaran, letargi
- Hemiparese
- Cedera (trauma)
- Kehilangan tonus otot.
D. Eliminasi
- Inkontinensia kandung kemih atau mengalami gangguan fungsi.
E. Pola persepsi sensori dan kognitif
- Pusing
- Gelisah
- Adanya keluhan napas (sesak, ronchi, apnea)

IV. Diagnose Keperawatan


1. Gangguan pertukaran gas b.d hipoventilasi, aspirasi dan imobilisasi.
2. Perubahan perfusi jaringan serebral b.d edema cerebral
3. Resiko ketidakefektifan termoregulasi b.d kerusakan hipotalamus, dehidrasi
dan infeksi.
4. Gangguan pemenuhan aktifitas dan latihan b.d kelemahan fisik.
5. Nyeri Akut b.d trauma.

V. Rencana Keperawatan
1. Gangguan pertukaran gas b.d hipoventilasi, aspirasi dan imobilisasi.
Tujuan : Mempunyai pertukaran gas yang normal yang ditandai dengan :
- Gas arteri normal
- Bunyi napas bersih tanpa bunyi-bunyi tambahan
- Melakukan napas dalam dan mengubah posisi secara langsung.
Intervensi Rasional
1) Kaji keluhan sesak nafas, suara 1) Suara nafas berkurang
napas, kecepatan, irama menunjukkan akumulasi secret.
2) Catat karakteristik sputum (warna, 2) Sebagai penentu dalam kemajuan
jumlah, konsitensi). terapi.
3) Anjurkan minum 250 cc/hari bila 3) Mengencerkan lendir agar dapat
tidak ada kontra indikasi. dibatukkan.
4) Berikan posisi fowler 4) Meminimalkan exspansi paru dan
memudahkan dalam bernapas.
.
2. Gangguan perfusi jaringan cerebral b.d edema serebral.
Tujuan : Tercapainya hemokonsentrasi neurologis/meningkatnya perfusi
jaringan cerebral yang ditandai dengan :
- Membuka mata sesuai perintah, menggunakan kata-kata yang dikenal,
bicara normal
- Mematuhi perintah dengan respon motorik yang tepat.
Intervensi Rasional
1) Kaji tanda-tanda vital 1) Mengkaji tingkat kesadaran dan
responnya.
2) Ubah posisi pasien setiap dua jam 2) Mencegah gangguan pada sistem
pemantau TIC
3) Kaji tanda-tanda peningkatan TIC 3) Menentukan tindakan keperawatan
yang tepat
4) Kaji tempat insisi 4) Mengetahui adanya kemerahan,
nyeri tekan, bau yang menyengat.
5) Anjurkan pada pasien untuk 5) Dapat menyebabkan (CS dengan
menghindari batuk, hernia, atau menciptakan tekanan pada tempat
meniup hidung. oprasi).

3. Resiko ketidakefektifan termoregulasi b.d kerusakan hipotalamus, dehidrasi


dan infeksi.
Tujuan : Tercapainya pengaturan suhu dan suhu tubuh dalam batas normal.
Intervensi Rasional
1) Monitor tanda-tanda vital 1) Panas tubuh yang tidak turun-turun
kemungkinan adanya kerusakan
hipotalamus
2) Anjurkan tirah baring 2) Mempertahankan suhu tubuh pasien

4. Gangguan pemenuhan perawatan diri b.d kelemahan fisik


Tujuan :
- Kebutuhan perorangan seperti higiene, toileting, nutrisi terpenuhi.
- Pasien tidak mengeluh lemas.
Intervensi Rasional
1) Kaji kemampuan pasien dalam 1) Menentukan tindakan yang harus
memenuhi aktifitasnya. diberikan pada pasien.
2) Bantu perawatan diri pasien sesuai 2) Kebutuhan dapat terpenuhi sehingga
dengan kebutuan pasien memberikan rasa nyaman.
3) Libatkan keluarga dalam pemenuhan 3) Kerjasama dapat meningkatkan
kebutuhan akan perawatan diri pasien pemenuhan perawatan diri pasien.

5. Nyeri b.d insisi luka operasi


Tujuan : Nyeri dapat berkurang sampai hilang
Intervensi Rasional
1) Kaji keluhan nyeri, karakteristik, 1) Menentukan dalam memberikan
lokasi dan intensitas tindakan yang tepat.
2) Ajarkan tehnik relaksasi 2) Mengurangi nyeri dan ketegangan
saraf
3) Beri posisi tidur yang nyaman 3) TIC akan turun dan mengurangi rasa
nyeri
4) Kolaborasi pemberian analgetik 4) Mengurangi rasa nyeri.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8, Vol. 3.


EGC : Jakarta.

Kusuma, Amin. 2015. Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan diagnosis medis


dan NANDA NIC NOC. Penerbit : Mediaction.