Anda di halaman 1dari 11

Struktur dan Mekanisme yang Terlibat dalam Pembentukan Batu Ureter

Nia Uktriae

102014113

BP9

Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510

niagssexca@gmail.com

Abstract

Kidney is one organ that has a vital function that serves to regulate the water
balance in the body , the concentration of electrolytes in the blood and acid-base balance and
secretion of waste material . In the process that occurs in the kidney can occur excessive
buildup of substances derived from blood. These substances can precipitate and crystallized
so that affect the urinary system of the body because of its shape were hard as rocks and
normally accumulate at a certain point . This buildup long into more and more and can cause
pain from urinary tract stones that hurt .

Keywords : urinary system, kidneys, ureter, kidney stones , ureter stones.

Abstrak

Ginjal merupakan salah satu organ yang memiliki fungsi vital yang berfungsi
untuk mengatur keseimbangan air dalam tubuh, konsentrasi elektrolit dalam darah dan
keseimbangan asam basa serta sekresi bahan buangan. Dalam proses yang terjadi di ginjal
dapat terjadi penumpukan zat-zat berlebihan yang berasal dari darah. Zat-zat ini dapat
mengendap dan mengkristal sehingga mengganggu kerja sistem urinaria tubuh dikarenakan
bentuknya yang keras seperti batu dan biasanya menumpuk pada satu titik tertentu.
Penumpukan ini lama-lama menjadi semakin banyak dan dapat menyebabkan adanya rasa
nyeri akibat batu yang melukai saluran urinaria.

Kata kunci: sistem urinaria, ginjal, ureter, batu ginjal, batu ureter.
Pendahuluan

Ginjal merupakan salah satu organ pada tubuh manusia yang sangat penting. Ginjal
memiliki banyak fungsi, tetapi fungsi yang terpenting dan terutama yaitu mempertahankan
keseimbangan cairan dalam tubuh atau yang biasa disebut homeostasis.1 Tanpa ginjal zat-zat
yang tidak diperlukan oleh tubuh tidak bisa keluar. Tidak hanya ginjal saja yang penting
dalam proses pembuangan zat-zat yang tidak dibutuhkan tubuh, tapi saluran dan organ-organ
penyerta lainnya juga sangat penting dalam tinjauan pustaka ini akan dibahas mengenai
struktur makroskopis dan mikroskopis dari ginjal dan juga mekanisme kerja ginjal.

Struktur Saluran Kemih pada Manusia


Struktur Makroskopis
Ginjal merupakan organ pada tubuh manusia yang menjalankan banyak fungsi untuk
homeostasis, yang terutama adalah sebagai organ ekskresi dan pengatur kesetimbangan
cairan dan asam basa dalam tubuh. Terdapat sepasang ginjal pada manusia, masing-masing di
sisi kiri dan kanan (lateral) tulang vertebra dan terletak retroperitoneal (di belakang
peritoneum). Selain itu sepasang ginjal tersebut dilengkapi juga dengan sepasang ureter,
sebuah vesika urinaria (buli-buli/kandung kemih) dan uretra yang membawa urine ke
lingkungan luar tubuh.1
1) Ginjal
Ginjal merupakan organ yang berbentuk seperti kacang, terdapat sepasang (masing-
masing satu di sebelah kanan dan kiri vertebra) dan posisinya retroperitoneal. Ginjal kanan
terletak sedikit lebih rendah (kurang lebih 1 cm) dibanding ginjal kiri, hal ini disebabkan
adanya hati yang mendesak ginjal sebelah kanan. Kutub atas ginjal kiri adalah tepi atas iga 11
(vertebra T12), sedangkan kutub atas ginjal kanan adalah tepi bawah iga 11 atau iga 12.
Adapun kutub bawah ginjal kiri adalah processus transversus vertebra L2 (kira-kira 5 cm dari
krista iliaka) sedangkan kutub bawah ginjal kanan adalah pertengahan vertebra L3. Dari
batas-batas tersebut dapat terlihat bahwa ginjal kanan posisinya lebih rendah dibandingkan
ginjal kiri.
gambar 1 : ginjal (sumber: academia.edu)

Secara umum, ginjal terdiri dari beberapa bagian:


1. Korteks, yaitu bagian ginjal di mana di dalamnya terdapat/terdiri dari korpus
renalis/Malpighi (glomerulus dan kapsul Bowman), tubulus kontortus proksimal
dan tubulus kontortus distalis
2. Medula, yang terdiri dari 9-14 pyiramid. Di dalamnya terdiri dari tubulus rektus,
lengkung Henle dan tubukus pengumpul (ductus colligent)
3. Columna renalis, yaitu bagian korteks di antara pyramid ginjal
4. Hilus renalis, yaitu suatu bagian/area di mana pembuluh darah, serabut saraf atau
duktus memasuki/meninggalkan ginjal
5. Papilla renalis, yaitu bagian yang menghubungkan antara duktus pengumpul dan
calix minor
6. Calix minor, yaitu percabangan dari calix major
7. Calix major, yaitu percabangan dari pelvis renalis
8. Pelvis renalis, disebut juga piala ginjal, yaitu bagian yang menghubungkan antara
calix major dan ureter
9. Ureter, yaitu saluran yang membawa urine menuju vesica urinaria

Unit fungsional ginjal disebut nefron. Nefron terdiri dari korpus renalis/Malpighi
(yaitu glomerulus dan kapsul Bowman), tubulus kontortus proksimal, lengkung Henle,
tubulus kontortus distal yang bermuara pada tubulus pengumpul. Di sekeliling tubulus ginjal
tersebut terdapat pembuluh kapiler,yaitu arteriol (yang membawa darah dari dan menuju
glomerulus) serta kapiler peritubulus (yang memperdarahi jaringan ginjal) Berdasarkan
letakya nefron dapat dibagi menjadi: (1) nefron kortikal, yaitu nefron di mana korpus
renalisnya terletak di korteks yang relatif jauh dari medula serta hanya sedikit saja bagian
lengkung Henle yang terbenam pada medula, dan (2) nefron juxta medula, yaitu nefron di
mana korpus renalisnya terletak di tepi medula, memiliki lengkung Henle yang terbenam jauh
ke dalam medula dan pembuluh-pembuluh darah panjang dan lurus yang disebut sebagai vasa
rekta.
Ginjal diperdarahi oleh a.v renalis. A. renalis merupakan percabangan dari aorta
abdominal, sedangkan v.renalis akan bermuara pada vena cava inferior. Setelah memasuki
ginjal melalui hilus, a.renalis akan bercabang menjadi arteri sublobaris yang akan
memperdarahi segmen-segmen tertentu pada ginjal, yaitu segmen superior, anterior-superior,
anterior-inferior, inferior serta posterior.
Ginjal memiliki persarafan simpatis dan parasimpatis. Untuk persarafan simpatis
ginjal melalui segmen T12-L1 atau L2, melalui n.splanchnicus major, n.splanchnicus imus
dan n.lumbalis. Saraf ini berperan untuk vasomotorik dan aferen viseral. Sedangkan
persarafan simpatis melalui n.vagus.1
2) Ureter
Ureter merupakan saluran sepanjang 25-30 cm yang membawa hasil penyaringan
ginjal (filtrasi, reabsorpsi, sekresi) dari pelvis renalis menuju vesica urinaria. Terdapat
sepasang ureter yang terletak retroperitoneal, masing-masing satu untuk setiap ginjal.

gambar 2 : ureter
sumber: academia.edu
Ureter setelah keluar dari ginjal (melalui pelvis) akan turun di depan m.psoas major,
lalu menyilangi pintu atas panggul dengan a.iliaca communis. Ureter berjalan secara postero-
inferior di dinding lateral pelvis, lalu melengkung secara ventro-medial untuk mencapai
vesica urinaria. Adanya katup uretero-vesical mencegah aliran balik urine setelah memasuki
kandung kemih. Terdapat beberapa tempat di mana ureter mengalami penyempitan yaitu
peralihan pelvis renalis-ureter, fleksura marginalis serta muara ureter ke dalam vesica
urinaria. Tempat-tempat seperti ini sering terbentuk batu/kalkulus.
Ureter diperdarahi oleh cabang dari a.renalis, aorta abdominalis, a.iliaca communis,
a.testicularis/ovarica serta a.vesicalis inferior. Sedangkan persarafan ureter melalui segmen
T10-L1 atau L2 melalui pleksus renalis, pleksus aorticus, serta pleksus hipogastricus superior
dan inferior.2
3) Vesica Urinaria

Berupa kantong musculomembranasea yang dapat meregang, tempat penampungan


sementara urin dan berdinding muscular kuat. Pada wanita dan pria daya tampung
maksimumnya 550cc. Pada pria dan wanita tepat di belakang symphysis pubis terdapat vesica
urinaria. Tetapi di belakang vesica urinaria ini berbeda pada pria dan wanita. Belakang vesica
urinaria pria ada rectum sedangkan pada wanita ada uterus. Vesica urinaria ini terbagi 4
bagian; Apex,memiliki penggantungnya disebut Ligamentum umbilicale mediale yang
merupakan sisa kantong allantois dimana ligamentum ini berbatasan denga organ Ileum;
Corpus; Fundus, pada pria dipisahin oleh Spatium rectovesicale, sedangkan pada wanita
berbatasan dengan vagina dan cervix; Collum, pada wanita tidak berbatasan dengan apapun
dan penggantungnya ada Ligamentum Pubovesicale kecuali pada pria berbatasan dengan
kelenjar prostat dan penggantungnya Ligamentum Puboprostaticus.3
Perdarahan vesica urinaria pada pria ada A. vesicalis superior mensuplai banyak cabang
menuju fundus vesicae, ductus deferens, dan testis serta ureter. Pangkal A. vesicalis superior
merupakan bagian paten A. umbilicalis janin. A. vesicalis inferior seringkali muncul bersama
A. rectalis media, mendarahi fundus vesicae, gl. prostate, gl. vesiculosa dan bagian bawah
ureter. Kadang-kadang mempercabangkan A. deferentialis. Pada perempuan, tidak terdapat a.
vesikalis inferior. Arteri ini diganti dengan a. vaginalis. A. vaginalis, seringkali berjumlah 2
atau tiga, turun pada vagina, mendarahi membrana mukosa dan mengirimkan cabang-
cabangnya menuju bulbus vestibuli, fundus vesicae dan bagian-bagian berdekatan dari
rectum. Vaskularisasi ada yg simpati dan parasimpatis. Yang simpatis dari medulla spinalis
setinggi lumbal dan thoracal inferior. Sedangkan yang parasimpatisnya dari medulla spinalis
setinggi sacral.3,4

4) Uretra
Uretra merupakan saluran yang membawa urine keluar dari vesica urinaria menuju
lingkungan luar. Terdapat beberapa perbedaan uretra pada pria dan wanita. Uretra pada pria
memiliki panjang sekitar 20 cm dan juga berfungsi sebagai organ seksual (berhubungan
dengan kelenjar prostat), sedangkan uretra pada wanita panjangnya sekitar 3.5 cm. selain itu,
Pria memiliki dua otot sphincter yaitu m.sphincter interna (otot polos terusan dari m.detrusor
dan bersifat involunter) dan m.sphincter externa (di uretra pars membranosa, bersifat
volunter), sedangkan pada wanita hanya memiliki m.sphincter externa (distal inferior dari
kandung kemih dan bersifat volunter).
Pada pria, uretra dapat dibagi atas pars pre-prostatika, pars prostatika, pars
membranosa dan pars spongiosa.
 Pars pre-prostatika (1-1.5 cm), merupakan bagian dari collum vesicae dan aspek
superior kelenjar prostat. Pars pre-prostatika dikelilingi otot m. sphincter urethrae
internal yang berlanjut dengan kapsul kelenjar prostat. Bagian ini disuplai oleh
persarafan simpatis.
 Pars prostatika (3-4 cm), merupakan bagian yang melewati/menembus kelenjar
prostat. Bagian ini dapat lebih dapat berdilatasi/melebar dibanding bagian lainnya.
 Pars membranosa (12-19 mm), merupakan bagian yang terpendek dan tersempit.
Bagian ini menghubungkan dari prostat menuju bulbus penis melintasi diafragma
urogenital. Diliputi otot polos dan di luarnya oleh m.sphincter urethrae eksternal
yang berada di bawah kendali volunter (somatis).
 Pars spongiosa (15 cm), merupakan bagian uretra paling panjang, membentang dari
pars membranosa sampai orifisium di ujung kelenjar penis. Bagian ini dilapisi oleh
korpus spongiosum di bagian luarnya
Sedangkan uretra pada wanita berukuran lebih pendek (3.5 cm) dibanding uretra pada
pria. Setelah melewati diafragma urogenital, uretra akan bermuara pada orifisiumnya di
antara klitoris dan vagina (vagina opening). Terdapat m. spchinter urethra yang bersifat
volunter di bawah kendali somatis, namun tidak seperti uretra pria, uretra pada wanita tidak
memiliki fungsi reproduktif.5

Gambar 4: urethra pada pria dan wanita


sumber: academia.edu
Struktur Mikroskopis
Sistem perkemihan terdiri dari: a) dua ginjal (ren) yang menghasilkan urin, b) dua
ureter yang membawa urin dari ginjal ke vesika urinaria (kandung kemih), c) satu vesika
urinaria (VU), tempat urin dikumpulkan, dan d) satu urethra, urin dikeluarkan dari vesika
urinaria.6
1) Ginjal (Ren)
Ginjal terletak pada dinding posterior abdomen di belakang peritoneum pada kedua
sisi vertebra thorakalis ke 12 sampai vertebra lumbalis ke-3. Bentuk ginjal seperti biji kacang.
Ginjal kanan sedikit lebih rendah dari ginjal kiri, karena adanya lobus hepatis dexter yang
besar. Fungsi ginjal:
a) Memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis atau racun
b) Mempertahankan suasana keseimbangan cairan
c) Mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh
d) Mengeluarkan sisa-sisa metabolisme akhir dari protein ureum, kreatinin dan
amoniak.

Setiap ginjal terbungkus oleh selaput tipis yang disebut kapsula fibrosa, terdapat
cortex renalis di bagian luar, yang berwarna cokelat gelap, dan medulla renalis di bagian
dalam yang berwarna cokelat lebih terang dibandingkan cortex. Bagian medulla berbentuk
kerucut yang disebut pyramides renalis, puncak kerucut tadi menghadap kaliks yang terdiri
dari lubang-lubang kecil disebut papilla renalis.
Hilum adalah pinggir medial ginjal berbentuk konkaf sebagai pintu masuknya
pembuluh darah, pembuluh limfe, ureter dan nervus.. Pelvis renalis berbentuk corong yang
menerima urin yang diproduksi ginjal. Terbagi menjadi dua atau tiga calices renalis majores
yang masing-masing akan bercabang menjadi dua atau tiga calices renalis minores.
Struktur halus ginjal terdiri dari banyak nefron yang merupakan unit fungsional ginjal.
Diperkirakan ada 1 juta nefron dalam setiap ginjal. Nefron terdiri dari : Glomerulus, tubulus
proximal, ansa henle, tubulus distal dan tubulus urinarius.6
2) Ureter
Terdiri dari 2 saluran pipa masing-masing bersambung dari ginjal ke vesika urinaria.
Panjangnya ± 25-30 cm, dengan penampang 0,5 cm. Ureter sebagian terletak pada rongga
abdomen dan sebagian lagi terletak pada rongga pelvis. Lapisan dinding ureter terdiri dari:
1. Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)
2. Lapisan tengah lapisan otot polos
3. Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa
Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan-gerakan peristaltic yang mendorong urin
masuk ke dalam kandung kemih.6,7
3) Vesika Urinaria (Kandung Kemih)
Vesika urinaria bekerja sebagai penampung urin. Organ ini berbentuk seperti buah pir
(kendi). letaknya d belakang simfisis pubis di dalam rongga panggul. Vesika urinaria dapat
mengembang dan mengempis seperti balon karet.6,7 Dinding kandung kemih terdiri dari:
1. Lapisan sebelah luar (peritoneum)
2. Tunika muskularis (lapisan berotot)
3. Tunika submukosa
4. Lapisan mukosa (lapisan bagian dalam)
4) Urethra
Merupakan saluran sempit yang berpangkal pada vesika urinaria yang berfungsi
menyalurkan air kemih ke luar. Pada laki-laki panjangnya kira-kira 13,7-16,2 cm, terdiri dari:
1. Urethra pars Prostatica
2. Urethra pars membranosa ( terdapat spinchter urethra externa)
3. Urethra pars spongiosa
Urethra pada wanita panjangnya kira-kira 3,7-6,2 cm (Taylor), 3-5 cm (Lewis).
Sphincter urethra terletak di sebelah atas vagina (antara clitoris dan vagina) dan urethra disini
hanya sebagai saluran ekskresi.7
Dinding urethra terdiri dari 3 lapisan:
1. Lapisan otot polos, merupakan kelanjutan otot polos dari Vesika urinaria.
Mengandung jaringan elastis dan otot polos. Sphincter urethra menjaga agar urethra
tetap tertutup.
2. Lapisan submukosa, lapisan longgar mengandung pembuluh darah dan saraf.
3. Lapisan mukosa

Mekanisme Pembentukan Urin


Ginjal berperan dalam proses pembentukan urin yang terjadi melalui serangkaian
proses, yaitu : penyaringan, penyerapan kembali dan augmentasi.8
a) Penyaringan (filtrasi)
Proses pembentukan urin diawali dengan penyaringan darah yang terjadi di kapiler
glomerulus. Sel-sel kapiler glomerulus yang berpori (podosit), tekanan dan permeabilitas
yang tinggi pada glomerulus mempermudah proses penyaringan. Selain penyaringan, di
glomelurus juga terjadi penyerapan kembali sel-sel darah, keping darah, dan sebagian besar
protein plasma. Bahan-bahan kecil yang terlarut di dalam plasma darah, seperti glukosa, asam
amino, natrium, kalium, klorida, bikarbonat dan urea dapat melewati saringan dan menjadi
bagian dari endapan. Hasil penyaringan di glomerulus disebut filtrat glomerolus atau urin
primer, mengandung asam amino, glukosa, natrium, kalium, dan garam-garam lainnya
b) Penyerapan kembali (reabsorbsi)
Bahan-bahan yang masih diperlukan di dalam urin pimer akan diserap kembali di
tubulus kontortus proksimal, sedangkan di tubulus kontortus distal terjadi penambahan zat-
zat sisa dan urea. Meresapnya zat pada tubulus ini melalui dua cara. Gula dan asam amino
meresap melalui peristiwa difusi, sedangkan air melalui peristiwa osmosis. Penyerapan air
terjadi pada tubulus proksimal dan tubulus distal. Substansi yang masih diperlukan seperti
glukosa dan asam amino dikembalikan ke darah. Zat amonia, obat-obatan seperti penisilin,
kelebihan garam dan bahan lain pada filtrat dikeluarkan bersama urin.
Setelah terjadi reabsorbsi maka tubulus akan menghasilkan urin sekunder, zat-zat
yang masih diperlukan tidak akan ditemukan lagi. Sebaliknya, konsentrasi zat-zat sisa
metabolisme yang bersifat racun bertambah, misalnya urea.
c) Augmentasi
Augmentasi adalah proses penambahan zat sisa dan urea yang mulai terjadi di tubulus
kontortus distal. Dari tubulus-tubulus ginjal, urin akan menuju rongga ginjal, selanjutnya
menuju kantong kemih melalui saluran ginjal. Jika kantong kemih telah penuh terisi urin,
dinding kantong kemih akan tertekan sehingga timbul rasa ingin buang air kecil. Urin akan
keluar melalui uretra. Komposisi urin yang dikeluarkan melalui uretra adalah air, garam, urea
dan sisa substansi lain, misalnya pigmen empedu yang berfungsi memberi warna dan bau
pada urin.8

Mekanisme Pembentukan Batu Ureter


Batu ureter atau batu ginjal merupakan suatu kondisi terbentuknya material keras
yang menyerupai batu di dalam ginjal maupun ureter. Material tersebut berasal dari sisa zat-
zat limbah di dalam darah yang dipisahkan ginjal yang kemudian mengendap dan mengkristal
seiring waktu. Endapan batu ini bisa disebabkan oleh makanan atau masalah kesehatan lain
yang mendasari. Berdasarkan jenis-jenis batu ginjal, kondisi ini dapat dibagi menjadi empat
jenis utama, yaitu batu kalsium, batu asam urat, batu struvit, dan batu sistin.10
1. Batu oksalat/kalsium oksalat.
Asam oksalat yang terbentuk di dalam tubuh manusia berasal dari metabolisme asam
amino dan asam askorbat yakni vitamin C. Asam askorbat merupakan penyumbang terbesar
dari prekursor okalat hingga 30 %. Kalsium oksalat terbentuk hingga 50 % yang dikeluarkan
oksalat urine. Manusia tidak mampu melakukan metabolisme oksalat, sehingga harus
dikeluarkan melalui ginjal. Jika fungsi kerja organ ginjal mengandung asupan oksalat
berlebih akan mengakibatkan peningkatan oksalat yang mendorong terbentuknya batu oksalat
di ginjal / kandung kemih.10

2. Batu struvit
Batu struvit tersusun dari magnesium ammonium fosfat (struvit) dan kalisum
karbonat. Batu struvit terbentuk di pelvis dan kalik ginjal apabila produksi ammonia
meningkat dan pH urine semakin tinggi, sehingga kelarutan fosfat berkurang. Hal tersebut
terjadi akibat adanya infeksi bakteri pemecah urea yang banyak berasal dari spesies proteus
dan providencia, peudomonas eratia, dan semua spesies klebsiella, hemophilus,
staphylococus dan coryne bacterium pada saluran urine.10

3. Batu asam urat


Batu asam urat umumnya terjadi pada penderita gout atau sejenis penyakit rematik,
pengguna urikosurik misalnya probenesid atau aspirin dan penderita diare kronis karena
kehilangan cairan dan peningkatan konsentarsi urine serta asidosis yakni pH urine menjadi
asam sehingga terjadi penimbunan yang membentuk asam urat.10

4. Batu sistin
Sistin merupakan bagian dari asam amino yang memiliki tingkat kelarutan paling
kecil. Kelarutan semakin kecil apabila pH urine menurun atau menjadi asam. Kadar sistin
yang meningkat ini tidak dapat larut dan kemudian mengendap maka akan membentuk kristal
yang kemudian menumpuk di dalam ginjal.10

Kesimpulan
Sistem urinaria terdiri dari organ-organ yang memproduksi urine dan
mengeluarkannya dari tubuh. Sistem ini merupakan salah satu sistem utama untuk
mempertahankan homeostatis dengan proses filtrasi, reabsorpsi, dan sekresi. Namun pada
proses ini dapat terjadi pembentukan batu yang berasal dari sisa zat-zat limbah di dalam
darah yang dipisahkan ginjal yang kemudian mengendap dan mengkristal seiring waktu. Zat-
zat itu umumnya berasal dari makanan sehari-hari seperti kalsium, magnesium, asam amino,
dan purin.

Daftar Pustaka
1. Snell RS. 2006. Anatomi klinik. Jakarta: EGC.
2. Wibowo D. S. Anatomi Tubuh Manusia. Jakarta: Grasindo; 2001.h.118
3. Drake RL. Gray dasar-dasar anatomi. Singapore: Elsevier. 2014. h.225-50.
4. Paulsen F, Waschke J. Sobota organ-organ dalam. ed.23. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC;2014. h.117-201.
5. Faiz O, Moffat D. At a Glance Anatomi. Jakarta: Erlangga; 2004.h.57
6. Leeson. 2006. Buku ajar histologi. Jakarta: EGC.
7. Kartawiguna, E, Gunawijaya, F.A. 2007. Histologi. Jakarta :Universitas Trisakti.
h.148-52.
8. Guyton AC, Hall JE. Buku ajar fisiologi kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC;2008.h.325-33
9. Sherwood. Human Physiology. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;2001.h.461-
97.
10. Inggriani Y. 2012. Ed:2. Buku ajar Traktus Urogenitalis.