Anda di halaman 1dari 8

UMAT BERAGAMA DI INDONESIA MENGHADPI MODERNISASI

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia adalah negara dengan kekayaan kultur yang luar biasa. Letaknya
secara geografi yang strategis membuat Indonesi tak bisa terhindarkan dari kema-
jemukan. Dari Sabang sampai Merauke yang berjajar pulau-pulau tedapat banyak
sekali keberagaman, salah satunya adalah dalam aspek Agama.
Agama merupakan hal yang fundamental bagi bangsa Indonesa. Tertuang
dalam Pancasila, yaitu sila pertama, menjelaskan bahwa Bangsa Indonesia adalah
bangsa yang religius berdasarkan nilai-nilai ketuhanan.
Hingga kini, Indonesia telah mencapai umur 69 tahun. Pembangunan telah
terjadi di berbagai sektor kehidupan masyarakat. Modernisasi telah terjadi di ber-
bagai sektor dan telah menunjukkan dampak yang positif. Tetapi, di balik suatu
hal yang positif pastilah ada hal yang negatif pula.
Hal negatif dari modernisasi adalah mulai lunturnya nilai-nilai luhur kebu-
dayaan bangsa. Hal itu bisa saja berdampak mengaburnya nilai-nilai religius
bangsa yang tentu saja berkaitan erat dengan agama. Seluruh rakyat Indonesia
adalah umat beragama jika melihat pada Kartu Tanda Penduduk yang harus men-
cantumkan agama yang dianut dalam kolom agama. Seperti yang sudah dijelaskan
di awal bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk termasuk dalam
hal agama tentu harus menghadapi hal negatif dari modernisasi sebagai masalah
yang harus diselesaikan. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengangkat
sebuah topik yaitu Umat Beragama di Indonesia Menghadpi Modernisasi.

1
B. Rumusan Masalah

1. Apa saja masalah umat beragama di Indonesia menghadapi modernisasi


yang sudah diterapkan ?
2. Bagaimana cara umat beragama di Indonesia menyelesaikan masalah
modernisasi tersebut ?

C. Tujuan

1. Mengetahui masalah umat beragama di Indonesia menghadapi


modernisasi yang sudah diterapkan
2. Mengetahui cara umat beragama di Indonesia menyelesaikan masalah
modernisasi

2
BAB II
PEMBAHASAN

1. Masalah Umat Beragama di Indonesia Menghadapi Modernisasi

Dipaparkan pada bagian sebelumnya bahwa hal negatif dari modernisasi


adalah mulai lunturnya nilai-nilai luhur kebudayaan bangsa. Soerjono Soekanto
(2007) mengatakan bahwa perwujudan dari mulai lunturnya nilai-nilai dalam
masyarakat adalah timbulnya masalah sosial yang dapat dirumuskan sebagai
deviation (penyimpangan). Hal itu bisa saja berdampak juga pada mengaburnya
nilai-nilai religius bangsa yang tentu saja berkaitan erat dengan agama. Dari hal
tersebut tentu menimbulkan masalah masalah yang harus di selesaikan.
Indonesia sendiri adalah negara berdasarkan asas ketuhanan yang secara lang-
sung akan mengarah kepada agama sebagai institusi yang melandasai asas ketu-
hanan. Oleh kerena itu setiap warga negara Indonesia adalah umat beragama. Di
tengah era modernisasi ini umat beragam bisa saja akan mengalami kegoncangan
dalam hatinya. Pasalnya, modernisasi menuntut pada setiap kemudahan dalam
menjalani hidup, yang menuntun pada setiap hal yang instan. Sementara agama
sendiri dirasa masyarakat sebagai hal yang tidak dapat memberi kontribusi yang
berdampak langsung bagi kehidupan masyarakat tidak seperti perkembangan
teknologi yang bisa dirasakan langsung dampaknya. Hal itu bisa saja akan
menyebabkan masyarakat meninggalkan agama atau akan mucul paham ateis.
Di tengah pluralitas agama di Indonesia, apabila nantinya banyak orang yang
meninggakan agama tentu akan merusak tatanan kehidupan bangsa. Identitas
bangsa Indonesia yang dikatakan sebagai bangsa yang bertuhan hanya akan men-
jadi sebuah kata yang terucap manis saja.
Contoh nyata ketika seseorang bernama Alexander Aan, seorang calon pe-
gawai negeri sipil di daerah Minang, yang mengakukan dirinya sebagai ateis
di facebook. Diskusi tentang legal atau tidaknya ateis di Indonesia mendapat
jawaban yang beragam. Menurut Syamsul Bahri Khatib, ketua Majelis Ulama

3
Indonesia setempat, Alexander Aan melukai perasaan keagamaan masyarakat
Minang dan merusak struktur religius. Selain itu Alexander Ann juga dianggap
menyerang Pancasila karena berdasarkan Pancasila, ateisme tidak mempunyai
tempat di Indonesia.
Suatu wujud penyimpangan juga terlihat ketika melemahnya doktrin-doktrin
yang ada adalah organisasi agama tidak mampu mengikuti irama dan ritme peru-
bahan sosial, ritual agama makin sedikit peminatnya, dan pemimpin agama juga
menampakkan diri seperti kurang semangat karena tidak berdaya berpacu dengan
arus tuntutan hidup budaya materialistic-individualistik, bahkan sangat hedonistik,
hal tersebut nampaknya juga merupakan suatu gejala sosial pemimpin agama
dewasa ini, dimana sebagian diantara mereka memahami agama secara dangkal.
Pemahaman secara dangkal lebih buruknya dapat menyebabkan konflik
antara umat beragama, mereka kurang paham terhadap arti perdamaian dan tole-
ransi yang pastinya juga diajarkan pada tiap agama. Dari hal tersebut bisa menye-
babkan sebagian orang berpendapat bahwa agama tidak mampu melerai konflik-
konflik maupun disorganisasi sosial bahkan dituding sebagai bermasa bodoh
terhadap malapetaka kemanusiaan universal.
Di sisi lain adalah dengan didukung kemudahan dalam berkomunikasi, bisa
menyebabkan munculnya gerakan/ aliran ekstremis baik itu datang dari luar
maupun dalam. Dari luar negeri seperti kita tahu kini mucul gerakan ISIS, Al
Qaeda dan sebagainya. Di Indonesia yang merupakan negara berlandaskan nilai
ketuhanan dan mempunyai masyarakat majemuk termasuk dalam umat beragama
misa dikatakan sebagai pasar dalam sarana perekrutan anggota gerakan ekstrem.

2. Cara Umat Beragama di Indonesia Menyelesaikan Masalah Modernisasi

Cara untuk menyelsaikan masalah masalah dalam mosernisasi tersebut


memang alangkah baiknya dilakukan secara pereventif yang harusnya menjadi
komitmen bagi pemuka agama untuk mencegah kemerosotan peran agama di
tengah era modern ini. Segi doktrin agama, tuntutannya adalah mengupayakan
agar ajaran-ajaran agama menjadi kontekstual. Tugas ini tidak gampang.

4
Konservatisme dan ortodoksi pemeluk agama tidak mudah dibelokkan kearah
kontekstualisasi.
Kemudian sebagai umat beragama hendaknya memahami fungsi dari agama
itu sendiri secara penuh. Seperti pendapat dari Astid S. Susanto (1983) yaitu
bagaimana pun juga agama merupakan landasan pokok untuk hidup, manusia
memerlukan Tuhan agar tidak mengalami kekacauan bahkan hilang akal sama
sekali. Untuk itu tuhan memberikan pedoman bahwa penguasa dan pencipta
segalanya dapat menjadi pegangan hidup.
Modernisasi pada dasarnya adalah perubahas sosial yang terararah (directed
change) yang didasarkan pada perencanaan (planned change) (Soerjono Soekanto
2007). Modernisasi tentu saja adalah tuntutan perubahan zaman tetapi sebagai
perubahan yang terencana tentu negara lah yang merencanakan modernisasi, oleh
karena itu para pemuka agama seharusnya saling berdiskusi dengan pemerintah
dalam penanganan dampak negatif dari modernisasi.
Bagi konteks Indonesia yang memasukkan agama dalam konstitusinya,
gagasan pemisahan agama dan negara kiranya hal yang cukup sulit dilakukan.
Meskipun mempunyai beberapa kekurangan, ikutnya negara dalam agama tetap
memberi dampak positif bagi terkontrolnya solidaritas sosial keagamaan tertentu
dalam batas yang wajar. Selain itu, negara dapat mengarahkan potensi eksklusiv-
itas agama ke inklusivitas, dari potensi konflik ke potensi konstrutif. Dengan kata
lain, negara dapat mengarahkan agama sebagai sumber perubahan sosial memin-
jam seperti istilah yang dicetuskan oleh Max Webber. Tentu saja dalam hal ini,
negara diandaikan mempunyai nilai baik pada dirinya sendiri.

Di dalam aspek aspek kepemimpinan agama, tuntutan terberat adalah


pengadaan pemimpin mumpuni, handal, memiliki kualifikasi keilmuan yang
komprehensif, mendalam, dalam arti memilki penguasaan mendalam terhadap
ajaran agama dan dinamika di dalamnya serta memilki wawasan dan pemahaman
yang memadai pula tentang perikehidupan masyarakat industri modern dengan
segala atributnya. Disini ia pun dituntut memiliki kemampuan komunikasi kepada
berbagai pihak. Disamping itu, secara individu yang terpenting dari seorang
pemimpin agama ia harus memiliki karakter yang baik artinya pemimpin bukan
hanya pandai berbicara, namun ia menjadi contoh yang baik.

5
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Hal negatif dari modernisasi adalah mulai lunturnya nilai-nilai luhur kebu-
dayaan bangsa yang pada kenyataan akan berwujud penyimpangan (deviation)
dan tentu akan menjalar dalam aspek agama. Hal itu tentu akan menimbulkan
maslaah masalah-masalah bagi umat beragama di Indonesia yang sangat
majemuk.
Di tengah era modernisasi ini umat beragam bisa saja akan mengalami kegon-
cangan dalam hatinya. Pasalnya, modernisasi menuntut pada setiap kemudahan
dalam menjalani hidup, yang menuntun pada setiap hal yang instan yang sangat
berbeda dengan konsep agama. Bisa saja dengan hal tersebut akan menuntun
masyarakat meninggalkan agama dan hal itu tentu sangat bertentangan dengan
nilai konstitusi Indonesia.
Suatu wujud penyimpangan juga terlihat ketika melemahnya doktrin-doktrin
yang ada adalah organisasi agama tidak mampu mengikuti irama dan ritme peru-
bahan sosial, ritual agama makin sedikit peminatnya, dan pemimpin agama juga
menampakkan diri seperti kurang semangat karena tidak berdaya berpacu dengan
arus tuntutan hidup modern.
Pemahaman secara dangkal lebih buruknya dapat menyebabkan konflik an-
tara umat beragama, mereka kurang paham terhadap arti perdamaian dan toleransi
yang pastinya juga diajarkan pada tiap agama. Di sisi lain adalah dengan didu-
kung kemudahan dalam berkomunikasi, bisa menyebabkan munculnya gerakan/
aliran ekstremis baik itu datang dari luar maupun dalam.
Untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut alangkah baiknya dilakukan
secara pereventif. Segi doktrin agama, tuntutannya adalah mengupayakan agar
ajaran-ajaran agama menjadi kontekstual. Kemudian sebagai umat beragama
hendaknya memahami fungsi dari agama itu sendiri secara penuh.

6
Kemudian karena modernisasi adalah perubahan yang direncanakan negara
para pemuka agama seharusnya saling berdiskusi dengan pemerintah dalam
penanganan dampak negatif dari modernisasi.
Di dalam aspek aspek kepemimpinan agama, tuntutan terberat adalah penga-
daan pemimpin mumpuni, handal, memiliki kualifikasi keilmuan yang kompre-
hensif, mendalam, dalam arti memilki penguasaan mendalam terhadap ajaran
agama dan dinamika di dalamnya serta memilki wawasan dan pemahaman yang
memadai pula tentang perikehidupan masyarakat industri modern dengan segala
atributnya.
Modernisasi memang tidak dapat dihindarkan, bisa memberi dampak positif
dan juga negatif. Dengan mengambil segala aspek positifnya dan menekan aspek
negatifnya, dengan seizin tuhan Indonesia dengan kemajemukannya akan terus
berkembang sering perkembangan zaman.

7
DAFTAR PUSTAKA

http://filsafat.kompasiana.com/2013/05/28/pluralisme-keagamaan-di-indonesia-
sebuah-tinjauan-kritis--563932.html

https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=9&cad=rja&uact
=8&ved=0CFEQFjAI&url=https%3A%2F%2Fmigers17.files.wordpress.com%2F2013%2F03
%2Fagama-dan-tantangan-modernitas.doc&ei=X5BNVZy5Gsy-
uAT_hYGIBA&usg=AFQjCNEqTLdI-Q1Wj69ENEYthUyavBOoxg&bvm=bv.92885102,d.c2E

Susanto, Astrid S.. 1983. Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial. Binacipta
Soekanto, Soerjono. 2007. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : RajaGrafindo
Persada