Anda di halaman 1dari 7

Blok Kulit

Skenario 2

Bisul adalah benjolan merah pada kulit yang terasa sakit dan berisi nanah. Benjolan ini
muncul akibat infeksi bakteri yang memicu inflamasi pada folikel rambut.
Pitak adalah bekas luka di bagian kepala yang tidak ditumbuhi rambut.
Konfluens adalah dua atau lebih lesi yang menjadi satu.
Plakat adalah lesi berupa peninggian pada kulit menyerupai permukaan bidang yang
relatif luas dibanding ketebalan kulitnya.

Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya
stratum korneum pada epidermis, rambut, dan kuku, yang disebabkan oleh jamur
golongan dermatofita, yaitu Tricophyton, Microsporum, dan Epidermophyton.1
Berdasarkan lokasi anatomi yang terinfeksi, dermatofitosis diklasifikasikan menjadi :
- Tinea capitis : dermatofitosis pada kulit dan rambut kepala
- Tinea barbae : dermatofitosis pada dagu dan janggut
- Tinea cruris : dermatofitosis pada daerah genitokrural, sekitar anus,
bokong, dan kadang hingga perut bagian bawah
- Tinea pedis et manum : dermatofitosis pada kaki dan tangan
- Tinea unguium : dermatofitosis pada kuku
- Tinea corporis : dermatofitosis pada kulit tak berambut pada wajah, lengan,
badan, dan tungkai.1,2
Tinea capitis adalah infeksi jamur dermatofita pada rambut dan kulit kepala, alis mata,
dan bulu mata. Penyakit ini sering menyerang anak-anak dan masih menjadi masalah
kesehatan masyarakat di berbagai negara karena peningkatan insiden dan
penyebaran.1,3,4
Gejala tinea capitis bervariasi, mulai dari adanya rasa gatal disertai pengelupasan
kulit kepala tanpa disertai peradangan hingga menjadi bentuk meradang yang ditandai
dengan lesi kemerahan disertai nanah.4 Gejala-gejala tersebut dapat berakhir dengan
pembentukan jaringan parut pada kepala dan terjadinya kebotakan yang permanen.4

Epidemiologi
 Tinea capitis tersebar di seluruh dunia, namun insiden yang pasti tidak diketahui.
Prevalensi yang tinggi terjadi di Afrika, Asia, dan Eropa Tenggara.5 Penyakit jamur
pada kepala ini banyak pada anak-anak di bawah usia 10 tahun, sementara orang
dewasa yang terkena infeksi jamur ini hanya sekitar 4,9% dari semua kasus.5,6
 Tinea capitis banyak ditemukan pada anak berkulit hitam dan lebih sering pada anak
laki-laki dibandingkan perempuan dengan perbandingan 50,6% : 49,4%.7,8
 Berdasarkan hasil penelitian pada beberapa sekolah di Cleveland, Amerika Serikat,
didapatkan prevalensi tinea capitis pada anak sebesar 13% termasuk anak-anak yang
terkena infeksi subklinis.9

Berdasarkan data dari RSCM, didapatkan bahwa tinea capitis merupakan 0,61 –
0,87% dari keseluruhan kasus jamur kulit. Sementara di Manado, insiden tinea capitis
mencapai 1,2 – 6% dari kasus dermatofitosis.5 89,34% dari keseluruhan kasus tinea
capitis disebabkan oleh jamur antropofilik, dan sisanya disebabkan oleh jamur zoofilik
maupun geofilik.7

1
Definisi
Tinea capitis adalah infeksi jamur pada rambut dan kulit kepala, alis mata, dan bulu
mata yang disebabkan oleh jamur dermatofita spesies Tricophyton dan Microsporum.3

Etiologi
 Tinea capitis disebabkan oleh jamur golongan Dermatofita yang mempunyai sifat
mencernakan keratin.1,11 Dematofita yang dapat menyebabkan infeksi pada kulit
kepala dan rambut adalah genus Tricophyton dan Microsporum.11 Jamur penyebab
tinea capitis ini ada yang bersifat antropofilik, geofilik, dan zoofilik.11
 Jamur yang bersifat antropofilik atau hanya mentransmisikan penyakit antar
manusia antara lain adalah Tricophyton violaceum yang banyak ditemukan pada
orang Afrika, Tricophyton schoenleinii, Tricophyton rubrum, Tricophyton megninii,
Trichophyton soudanense, Tricophyton yaoundei, Microsporum audouinii, dan
Microsporum ferrugineum.11
 Jamur geofilik merupakan jamur yang hidup di tanah dan dapat menyebabkan
radang yang moderat pada manusia. Golongan jamur ini antara lain adalah
Microsporum gypseum dan Microsporum fulvum.11,12

Jamur zoofilik merupakan jamur yang hidup pada hewan, namun dapat
mentransmisikan penyakit pada manusia. Jamur zoofilik penyebab tinea capitis
antara lain Microsporum canis yang berasal dari kucing, Microsporum nanum yang
berasal dari babi, Microsporum distortum yang merupakan varian dari Microsporum
canis, Tricophyton verrucosum yang berasal dari sapi, dan Tricophyton
mentagrophytes var. equinum yang berasal dari kuda.11

Cara Penularan
Penularan infeksi jamur dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung.
Penularan langsung melalui epitel kulit dan rambut yang mengandung jamur baik dari
manusia, binatang, atau tanah. Penularan tak langsung dapat melalui tanaman, kayu,
pakaian, dan barang-barang lain yang dihinggapi jamur, atau dapat juga melalui debu
dan air.12
Ada beberapa faktor yang dapat mempermudah penularan infeksi jamur :
1. Faktor virulensi dari jamur
Virulensi jamur tergantung dari sifatnya apakah antropofilik, zoofilik, atau
geofilik. Jamur antropofilik menyebabkan perjalanan penyakit yang kronik dan
residif karena reaksi penolakan tubuh yang sangat ringan. Sementara jamur
geofilik menyebabkan gejala akut ringan sampai sedang dan mudah sembuh.12
2. Keutuhan kulit
Kulit yang intak tanpa adanya lesi lebih sulit untuk terinfeksi jamur.12
3. Faktor suhu dan kelembapan
Kondisi tubuh yang banyak berkeringat menyebabkan lingkungan menjadi
lembap sehingga mempermudah tumbuhnya jamur.12
4. Faktor sosial ekonomi
Infeksi jamur secara umum lebih banyak menyerang masyarakat golongan
sosial ekonomi menengah ke bawah karena rendahnya kesadaran dan
kurangnya kemampuan untuk memelihara kebersihan diri dan lingkungan.12
5. Faktor umur dan jenis kelamin

2
Tinea capitis sering terjadi pada anak-anak dan lebih banyak ditemukan
pada anak laki-laki dibandingkan perempuan.7,12

Patofisiologi
Tinea capitis berhubungan dengan Pityrosporum orbiculare dan Pityrosporum ovale,
yaitu flora normal pada kulit kepala yang dapat berubah sesuai dengan keadaan
lingkungan, seperti suhu, media, dan kelembapan.1 Selain itu, adanya zat fungistatik
berupa asam lemak rantai pendek dari sekret yang dihasilkan oleh kelenjar sebacea
pada masa post pubertal juga menjadi faktor yang berperan dalam terjadinya tinea
capitis.4,14
Hifa jamur bertumbuh secara sentrifugal dari tempat inokulasi awalnya ke dalam
lapisan startum korneum, kemudian mencernakan keratin yang terdapat pada rambut.
Pertumbuhan jamur meluas seiring dengan pertumbuhan rambut. Pada hari ke 12 – 14,
mulai tampak kelainan pada kulit kepala. Rambut yang terkena infeksi jamur menjadi
rapuh dan pecah. Kerusakan rambut mulai tampak pada minggu ketiga. Sementara
rambut menjadi rapuh, infeksi pada stratum korneum juga terus meluas. Pada minggu
ke 8 – 10, pertumbuhan jamur pada kulit kepala bisa mencapai diameter 3,5 – 7 cm
sehingga menginfeksi bagian rambut lain.4,14
Ada 3 tipe invasi pertumbuhan jamur pada rambut :
1. Invasi ektotriks
Biasanya disebabkan oleh M.canis, M.gypseum, T.equinum, dan
T.verrucosum. Pada jenis ini, jamur menginvasi hingga ke luar batang rambut
karena terjadi penghancuran kutikula rambut. Pada pemeriksaan dengan sinar
Wood, tampak rambut yang terinfeksi memberikan fluoresensi berwarna hijau
kekuningan.no.1
2. Invasi endotriks
Disebabkan oleh jamur yang bersifat antropofilik, yaitu T.tonsurans dan
T.violaceum. Invasi jamur terbatas hanya di dalam batang rambut saja dan
kutikula rambut masih utuh. Pada penyinaran dengan sinar Wood tidak tampak
fluoresensi.no.1
3. Favus
Disebabkan oleh T.schoenleinii yang memproduksi krusta sehingga
mengakibatkan kerontokan rambut.no.1

Gejala Klinik
Pasien dengan tinea capitis umumnya mengeluh gatal pada kepala dan terkadang
juga terasa nyeri.no.2,no.3,saripati Kulit kepala yang terinfeksi tampak kemerahan,
membengkak, dan adanya sisik yang mengelupas seperti ketombe. Rambut menjadi
rontok sehingga terjadi kebotakan yang sering menetap.no.3 Terkadang ditemukan
adanya pembesaran kelenjar getah bening pada leher.no.10
Pada beberapa kasus, gejala tidak ditemukan secara menyeluruh. Terkadang
ditemukan tinea capitis hanya dengan gejala kerontokan rambut tanpa adanya reaksi
apapun pada kulit kepala, atau bahkan hanya terjadi pengelupasan kulit kepala tanpa
adanya kerontokan rambut sehingga seringkali dikira sebagai ketombe.no.3,no.10
Dalam klinis, tinea capitis terbagi menjadi 4 bentuk :
1. Grey patch ringworm

3
Tinea capitis jenis ini disebabkan oleh jamur Microsporum dan lebih sering
ditemukan pada anak-anak.1,6 Gejala diawali dengan adanya papula merah kecil
di sekitar muara rambut yang melebar secara sirkular dan membentuk bercak,
kemudian menjadi pucat dan bersisik.1,2 Papula dan perkembangannya tersebut
bersifat kering dan tidak meradang.6
Rambut menjadi berwarna abu-abu dan suram, mudah patah, dan mudah
dicabut tanpa rasa nyeri sehingga tampak alopesia setempat yang terlihat
sebagai grey patch.1,2
Pemeriksaan yang cukup membantu diagnosis tinea capitis bentuk ini adalah
pemeriksaan dengan sinar Wood, di mana rambut yang sakit tampak
menunjukkan fluoresensi hijau kekuningan melampaui batas grey patch
tersebut.1
2. Black dot ringworm
Tinea capitis jenis ini disebabkan oleh jamur golongan Trichophyton,
terutama T.tonsurans dan T.violaceum. Gejala pada permulaan penyakit
menyerupai tinea capitis bentuk grey patch ringworm.1
Rambut yang terkena infeksi menjadi sangat rapuh dan patah tepat pada
muara folikel sehingga meninggalkan ujung rambut yang penuh spora. Ujung
rambut yang hitam di dalam folikel rambut ini memberikan gambaran black dot
atau seperti titik-titik hitam.1,6
Sebagai pemeriksaan penunjang dapat dibuat preparat langsung dari
rambut untuk menemukan adanya hifa atau spora jamur. Namun terkadang
ujung rambut yang patah tumbuh masuk ke bawah permukaan kulit sehingga
untuk mendapat sediaannya perlu dilakukan irisan kulit.1
3. Kerion
Kerion merupakan reaksi peradangan berat pada tinea capitis berupa bisul-
bisul kecil dan pembengkakan menyerupai sarang lebah yang nyeri disertai
dengan skuamasi dan sebukan sel radang yang padat di sekitarnya.1,2,19 Reaksi ini
lebih sering ditemukan pada infeksi yang disebabkan oleh Microsporum
dibandingkan Tricophyton.1
Kerion sering dikira sebagai abses pada kulit kepala karena adanya pustula
dan krusta. Rambut yang terinfeksi menjadi mudah putus dan dapat
meninggalkan jaringan parut sehingga mengakibatkan alopesia yang menetap.
Terkadang jaringan parut dapat membentuk suatu penonjolan.1,2
Beberapa ahli meyakini reaksi peradangan pada kerion terjadi akibat respon
dari sistem imun yang berlebihan atau akibat terjadinya reaksi alergi terhadap
jamur. Gejala lokal pada kerion seringkali disertai gejala sistemik berupa
demam.20
4. Tinea favosa
Bentuk tinea capitis ini jarang ditemukan, terutama disebabkan oleh
T.violaceum dan T.gypsum. Merupakan proses lanjut dari kerion disertai
penghancuran batang rambut yang sangat parah.6,12
Kelainan pada kepala dimulai dengan bintik-bintik kecil berwarna merah
kekuningan di bawah kulit yang kemudian berkembang menjadi krusta yang
berbentuk cawan atau skutula. Rambut di atas skutula ini menjadi tidak berkilau,
putus-putus, dan mudah dicabut.12

4
Yang khas dari bentuk infeksi ini adalah lesinya yang berbau seperti tikus
atau sering disebut mousy odor. Bila menyembuh, lesi meninggalkan jaringan
parut dan menyebabkan alopesia yang permanen.1,12

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang awal yang dapat dilakukan untuk membantu menegakkan
diagnosis adalah pemeriksaan dengan sinar Wood. Pada infeksi jamur dengan tipe invasi
ektotriks, rambut yang terinfeksi tampak memberikan fluoresensi hijau kekuningan.
Sedangkan pada tipe invasi endotriks penyinaran dengan sinar Wood tidak memberikan
fluoresensi.4
Pemeriksaan dengan sinar Wood dilakukan sebelum pengumpulan bahan untuk
pemeriksaan mikologik agar dapat mengetahui lebih jelas batas daerah yang terkena
infeksi.1
Pemeriksaan mikologik baik dalam bentuk sediaan basah maupun biakan diperlukan
untuk membantu menegakkan diagnosis. Pengambilan bahan dilakukan dengan
mencabut rambut pada bagian kulit yang mengalami kelainan dan kulit daerah tersebut
dikerok untuk mengumpulkan sisik kulit. Untuk membuat sediaan basah, bahan yang
telah diambil untuk sediaan diletakkan di atas gelas alas kemudian diberikan larutan
KOH 10% untuk melarutkan keratin.1
Melalui mikroskop dapat terlihat adanya makrospora maupun mikrospora pada
sediaan yang diambil dari rambut. Spora tersebut dapat tersusun di luar rambut pada
tipe invasi ektotriks maupun di dalam rambut pada invasi endotriks. Terkadang dapat
juga ditemukan adanya hifa.1
Sementara pada sediaan yang diambil dari kerokan kulit, tampak adanya hifa
sebagai 2 garis sejajar yang terbagi oleh sekat dan bercabang. Pada infeksi kulit yang
sudah lama atau telah diobati, tampak adanya spora yang berderet atau artrospora.1

Diagnosis
Diagnosis tinea capitis ditegakkan berdasarkan gejala yang dikeluhkan pasien, tanda-
tanda infeksi jamur yang ditemukan, ditambah dengan pemeriksaan penunjang untuk
memastikan diagnosis. Gejala yang sering dikeluhkan pasien adalah rasa gatal atau
pasien merasa berketombe. Sementara tanda klinis bervariasi tergantung dari bentuk
klinis infeksinya. Pemeriksaan penunjang yang mudah dilakukan adalah melalui
penyinaran dengan lampu Wood.2

Diagnosis Banding
1. Alopesia areata
Terdapat daerah di kepala tanpa adanya rambut atau hanya tampak
pertumbuhan rambut yang pendek seperti bercak. Pada alopesia areata, daerah
lesi tampak lebih halus dan tidak bersisik.25
2. Dermatitis seboroik
Kerontokan rambut tidak hanya pada satu daerah, tetapi menyebar di
beberapa tempat. Selain itu juga terdapat lesi berupa pengelupasan kulit namun
tampak berminyak yang juga bersifat difus.25
3. Impetigo dan karbunkel

5
Lesi menunjukkan tanda-tanda radan yang lebih jelas disertai rambut yang
patah. Terjadinya impetigo dan karbunkel pada kulit kepala dapat memicu
terjadinya kerion.25
4. Diskoid lupus eritematosus
Merupakan suatu kelainan yang berjalan kronis dan berakhir dengan
alopesia disertai pembentukan sikatriks. Tampak adanya pengelupasan kulit
yang bersisik dengan bercak-bercak kemerahan, dan kulit wajah juga ikut
terlibat. Pemeriksaan mikologik memberikan hasil yang negatif.25
5. Lichen planus
Lesi berbentuk papula dengan puncak yang agak mendatar, terutama pada
ekstremitas dan daerah pipi. Kelainan ini dapat berakhir dengan alopesia yang
disertai pembentukan sikatriks.25

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan awal yang mudah dilakukan dan memberikan hasil yang cukup baik
adalah dengan memotong rambut yang terkena infeksi jamur. Pengobatan tinea capitis
melalui obat-obatan dilakukan dengan pemberian terapi sistemik maupun topikal. Anti
jamur sistemik yang dapat diberikan antara lain :
1. Griseofulvin
Merupakan obat pilihan utama untuk tinea capitis. Griseofulvin adalah
metabolit sekunder dari jamur Penicillium griseofulvin. Obat ini menghambat
pertumbuhan dan reproduksi jamur dengan menghambat pembentukan
mikrotubula di sitoplasma.15
Dosis griseofulvin untuk dewasa adalah 0,5 – 1 gram, sedangkan untuk anak-
anak diberikan 10 mg/kg BB/hari. Pada kasus tinea capitis yang disebabkan oleh
T.tonsurans, dosis dapat ditingkatkan hingga 20 mg/kg BB/hari. Untuk mempertinggi
absorpsi dalam usus, obat sebaiknya dimakan bersama makanan yang banyak
mengandung lemak. Terapi griseofulvin membutuhkan waktu hingga 6 minggu agar
obat mencapai pembuluh darah di stratum basale dari kulit. Setelah sembuh klinis,
terapi dilanjutkan selama 2 minggu agar tidak menjadi residif.1,15
Efek samping griseofulvin jarang dijumpai, namun pada beberapa penderita
dapat terjadi sakit kepala dan gangguan pencernaan berupa nausea, vomitus, dan
diare.1

2. Ketokonazol
Ketokonazol merupakan anti jamur spektrum luas yangd apat digunakan pada
kasus infeksi jamur yang resisten terhadap griseofulvin. Dosis sebesar 200 – 400 mg
per hari diberikan pada pagi hari setelah makan selama 10 hari hingga 2 minggu.1,25
Selama terapi dengan ketokonazol, perlu dilakukan pemeriksaan enzim hepar
secara rutin minimal sebulan sekali karena obat ini bersifat hepatotoksik. Terapi
harus segera dihentikan apabila terjadi peningkatan SGPT hingga 2 – 3 x nilai
normal. Selain bersifat hepatotoksik, ketokonazol memberikan efek samping berupa
sakit kepala, rasa mual, dan terhambatnya sintesis hormon androgen.25
Ketokonazol merupakan kontraindikasi pada pasien dengan hipersensitivitas, ibu
hamil dan menyusui, serta pasien dengan gangguan hepar.25

3. Itrakonazol

6
Merupakan anti jamur derivat azol yang cukup efektif dengan efek hepatotoksik
yang lebih rendah. Obat diberikan dengan dosis 100 – 200 mg per hari selama 2
minggu. Efek samping itrakonazol antara lain berupa gangguan pencernaan, sakit
kepala, dan terkadang ditemukan adanya dermatitis eksfoliatif.25
4. Terbinafin
Terbinafin merupakan salah satu anti jamur dari golongan alilamin yang efektif
untuk dermatofitosis. Obat ini bekerja menghambat pembentukan skualen, yaitu
suatu zat hidrokarbon tidak jenuh yang membentuk membran sel. Beberapa ahli
mengatakan terbinafin dapat mengurangi kemungkinan terjadinya relaps dari infeksi
jamur.25
Dosis terbinafin untuk anak-anak tergantung dari berat badannya. Pada anak
dengan berat badan di bawah 20 kg diberikan terbinafin 62,5 mg per hari, dan pada
anak dengan berat badan 20 – 40 kg diberikan 125 mg per hari. Sementara untuk
orang dewasa diberikan dosis 250 mg per hari.25
Efek samping terbinafin yang tersering adalah gangguan pencernaan berupa
nausea, vomitus, nyeri lambung, serta diare atau konstipasi. Gangguan pengecapan
dan sefalgia ringan dapat terjadi namun presentasinya lebih kecil.1

Pemberian kortikosteroid sistemik sebagai anti inflamasi diindikasikan pada kerion


stadium dini. Dapat diberikan adalah prednison 3 x 5 mg sehari atau prednisolon 3 x 4
mg sehari selama 2 minggu. Kortikosteroid diberikan bersama-sama dengan griseofulvin
atau terbinafin.1
Di samping pengobatan secara sistemik, diperlukan pengobatan topikal untuk
membantu mempercepat penyembuhan. Mencuci rambut dengan shampo yang
mengandung selenium sulfida dapat mengurangi penyebaran infeksi pada stadium awal
karena mengurangi jumlah spora yang viabel dalam rambut.26
Obat-obatan topikal konvensional yang masih banyak digunakan sebagai terapi tinea
capitis antara ain asam salisil 2 – 4%, asam benzoat 6 – 12%, sulfur 4 – 6%, vioform3%,
asam undesilenat 2 – 5%, dan zat warna hijau brilian 1% dalam cat Castellani. Selain obat
tersebut, kini banyak ditemukan obat topikal baru seperti tolnaftat 2%, derivat imidazol,
siklopiroksolamin, dan naftilin 1%.1

Pencegahan
Untuk mencegah terkena infeksi tinea capitis dapat dilakukan dengan :
1. Menghindari kontak yang erat dengan penderita tinea capitis
2. Menjaga kebersihan diri dengan mandi setelah beraktivitas dan berkeringat
3. Mengeringkan badan dengan baik setiap setelah mandi
4. Mencuci pakaian, sprei, dan barang-barang pribadi lainnya secara rutin
5. Tidak menggunakan sisir, alat cukur, dan handuk secara bersama-sama.27