Anda di halaman 1dari 10

Blok Psikiatri

Skenario 1

Stress
Stress adalah usaha penyesuaian diri karena adanya stressor yang mengganggu keseimbangan badan
dan/atau jiwa. Bila tidak dapat mengatasinya dengan baik, maka akan muncul gangguan badani, perilku
tidak sehat ataupun gangguan jiwa.
Waham
Waham adalah Keyakinan palsu, didasarkan pada kesimpulan yang salah tentang kenyataan eksternal,
tidak sejalan dengan intelegensia pasien dan latar belakang kultural, yang tidak dapat dikoreksi dengan
suatu alasan. (Kaplan & Sadock et al)
Halusinasi
Halusinasi adalah pencerapan tanpa adanya rangsang apa pun pada pada pancaindera, dan terjadi
dalam keadaan sadar/bangun. Dasarnya mungkin organik, fungsional, psikotik ataupun histerik.
Derealisasi
Derealisasi adalah perasaan aneh tentang lingkungannya dan tidak sesuai kenyataan, misalnya segala
sesuatu dialaminya seperti dalam mimpi. Ini dibedakan dari kesadaran yang berubah (Maramis, 2009).
Derealisasi memiliki ciri-ciri yaitu merasa emosional terputus dari orang-orang yang disayangi,
lingkungan yang muncul terdistorsi, kabur, tidak berwarna, dua dimensi atau buatan, atau kesadaran
tinggi dan kejelasan lingkungan, distorsi persepsi waktu, serta distorsi jarak, ukuran dan bentuk benda.

WAHAM
Menurut Yosep (2009), proses terjadinya waham meliputi 6 fase, yaitu :
a. Phase of human need
Waham diawali dengan terbatasnya kebutuhan-kebutuhan pasien baik secara fisik maupun psikis.
Secara fisik pasien dengan waham dapat terjadi pada orang-orang dengan status sosial dan
ekonomi sangat terbatas. Biasanya pasien sangat miskin dan menderita. Keinginan ia untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya mendorongnya untuk melakukan kompensasi yang salah. Ada juga
pasien yang secara sosial dan ekonomi terpenuhi tetapi kesenjangan antara realiti dengan self ideal
sangat tinggi.
b. Phase lack of self esteem
Tidak adanya pengakuan dari lingkungan dan tingginya kesenjangan antara self ideal dengan self
reality (keyataan dengan harapan) serta dorongan kebutuhan yang tidak terpenuhi sedangkan
standar lingkungan sudah melampaui kemampuannya.

c. Phase control internal external


Pasien mencoba berpikir rasional bahwa apa yang ia yakini atau apa-apa yang ia katakan adalah
kebohongan, menutupi kekurangan dan tidak sesuai dengan keyataan, tetapi menghadapi keyataan
bagi pasien adalah suatu yang sangat berat, karena kebutuhannya untuk diakui, kebutuhan untuk
dianggap penting dan diterima lingkungan menjadi prioritas dalam hidupnya, karena kebutuhan
tersebut belum terpenuhi sejak kecil secara optimal. Lingkungan sekitar pasien mencoba
memberikan koreksi bahwa sesuatu yang dikatakan pasien itu tidak benar, tetapi hal ini tidak
dilakukan secara adekuat karena besarnya toleransi dan keinginan menjaga perasaan. Lingkungan
hanya menjadi pendengar pasif tetapi tidak mau konfrontatif berkepanjangan dengan alasan
pengakuan pasien tidak merugikan orang lain
d. Phase envinment support
Adanya beberapa orang yang mempercayai pasien dalam lingkungannya menyebabkan pasien
merasa didukung, lama kelamaan pasien menganggap sesuatu yang dikatakan tersebut
sebagaisuatu kebenaran karena seringnya diulang-ulang. Dari sinilah mulai terjadinya kerusakan
kontrol diri dan tidak berfungsinya norma (super ego) yang ditandai dengan tidak ada lagi perasaan
dosa saat berbohong.
e. Phase comforting
Pasien merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya serta menganggap bahwa semua
orang sama yaitu akan mempercayai dan mendukungnya. Keyakinan sering disertai halusinasi pada
saat pasien menyendiri dari lingkungannya. Selanjutnya pasien sering menyendiri dan menghindari
interaksi sosial (isolasi sosial).
f. Phase improving
Apabila tidak adanya konfrontasi dan upaya-upaya koreksi, setiap waktu keyakinan yang salah pada
pasien akan meningkat. Tema waham yang muncul sering berkaitan dengan traumatik masa lalu
atau kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi (rantai yang hilang). Waham bersifat menetap dan
sulit untuk dikoreksi. Isi waham dapat menimbulkan ancaman diri dan orang lain.

Macam waham, yaitu :


1) Waham kejaran: umpamanya pasien yakin bahwa ada orang atau komplotan yang sedang
mengganggunya atau bahwa ia sedang ditipu, dimatai-matai atau kejelekannya sedang
dibicarakan orang banyak.
2) Waham somatik atau hipokhondrik: keyakinan tentang (sebagian) tubuhnya yang tidak mungkin
benar, umpamanya bahwa ususnya sudah busuk, otaknya sudah cair, ada seekor kuda di dalam
perutnya.
3) Waham kebesaran: yakni bahwa ia mempunyai kekuatan, pendidikan, kepandaian atau
kekayaan yang luar biasa, umpamanya bahwa dialah Ratu Adil, dapat membaca pikiran orang
lain, mempunyai puluhan atau mobil.
4) Waham keagamaan: waham dengan tema keagamaan
5) Waham dosa: keyakinan bahwa ia telah berbuat dosa atau kesalahan yang besar, yang tidak
dapat diampuni atau bahwa ia bertanggung jawab atas suatu kejadian yang tidak baik, misalnya
kecelakaan keluarga, karena pikirannya yang tidak baik.
6) Waham pengaruh: yakin bahwa pikirannya, emosi atau perbuatannya diawasi atau dipengaruhi
oleh orang lain atau suatu kekuasaan yang aneh.
7) Waham nihilistic: yakin bahwa dunia ini sudah hancur atau bahwa ia sendiri dan/atau orang lain
sudah mati.
8) Tingkah laku yang dipengaruhi oleh waham: karena waham, maka ia berbuat atau bertingkah
laku demikian.
(Ada juga waham kelompok, seperti pada “folie a deux”, yaitu kelompok 2 orang berwaham yang sama;
“folie a trios”, 3 orang dan sebagainya).
HALUSINASI
Halusinasi yaitu gangguan persepsi (proses penyerapan) pada panca indera tanpa adanya rangsangan
dari luar, pada pasien dalam keadaan sadar. Jenis-jenis halusinasi dibagi menjadi beberapa jenis, yitu
sebagai berikut (Maramis, 2004):
a. Halusinasi penglihatan (visual, optik) adalah perasaan melihatsesuatu objek tetapi pada
kenyataannya tidak ada.
b. Halusinasi pendengaran (auditif, akustik) adalah perasaan mendengar suara-suara,berupa suara
manusia, hewan atau mesin, barang, kejadian alamiah dan musik.
c. Halusinasi penciuman (olfaktorik) adalah perasaan mencium sesuatu bau atau aroma tetapi tidak
ada.
d. Halusinasi pengecapan (gustatorik) adalah kondisi merasakan sesuatu rasa tetapi tidak ada dalam
mulutnya, seperti rasa logam.
e. Halusinasi peraba (taktil) adalah kondisi merasa diraba, disentuh, ditiup, disinari atau seperti ada
ulat bergerak di bawah kulitnya.
f. Halusinasi kinestetik adalah kondisi merasa badannya bergerak dalam sebuah ruang, atau anggota
badannya bergerak.
Proses Terjadinya Halusinasi
Pada gangguan jiwa skhizofrenia, halusinasi pendengaran merupakan hal yang paling sering terjadi,
dapat berupa suara-suara bising atau kata-kata yang dapat mempengaruhi tingkah laku, sehingga dapat
menimbulkan respon tertentu seperti bicara sendiri, marah, atau berespon lain yang membahayakan
diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Hal serupa dapat bersikap mengamati orang lain yang tidak
bicara atau benda mati yang seakan-akan berbicara padanya. Halusinasi merupakan tanda khas dari
gangguan skhizofrenia dan merupakan manifestasi dari metankolia involusi, psikosa, depresi, dan
sindrom otak organik. (Nasution, 2003).
Tahapan Halusinasi
Halusinasi dapat dibagi menjadi beberapa tahapan (Dalami, et al, 2009), yaitu:
a. Sleep Disorder
Sleep Disorder adalah halusinasi tahap awal sesorang sebelum muncul halusinasi.
Karakteristik. Klien merasa banyak masalah, ingin menghindar dari lingkungan, takut diketahui
orang lain bahwa dirinya banyak masalah.Masalah makin terasa sulit karena berbagai stressor
terakumulasi dan support system yang kurang dan persepsi terhadap masalah sangat buruk.
Perilaku. Klien susah tidur danberlangsung terus menerus sehingga terbiasa menghayal, dan
menganggap menghayal awal sebagai pemecah masalah.
b. Comforting.
Comforting adalah halusinasi tahap menyenangkan (cemas sedang) :
Karakteristik. Klien mengalami perasaan yang mendalam seperti cemas, kesepian, rasa bersalah,
takut, dan mencoba untuk berfokus pada pikiran yang menyenangkan untuk meredakan cemas.
Klien cenderung mengenali bahwa pikiran-pikiran dan pengalaman sensori berada dalam kendali
kesadaran jika cemas dapat ditangani.
Perilaku. Klien terkadang tersenyum, tertawa sendiri, menggerakkan bibir tanpa suara, pergerakkan
mata yang cepat, respon verbal yang lambat, diam dan berkonsentrasi.
c. Condemning.
Condemning adalah tahap halusinasi menjadi menjijikkan (cemas berat):
Karakteristik. Pengalaman sensori menjijikkan dan menakutkan. Klien mulai lepas kendali dan
mungkin mencoba untuk mengambil jarak dirinya dengan sumber yang dipersepsikan. Klien
mungkin merasa dipermalukan oleh pengalaman sensori dan menarik diri dari orang lain.
Perilaku. Ditandai dengan meningkatnya tanda-tanda sistem syaraf otonom akibat ansietas otonom
seperti peningkatan denyut jantung, pernapasan, dan tekanan darah. Rentang perhatian dengan
lingkungan berkurang, dan terkadang asyik dengan pengalaman sensori dan kehilangan
kemampuan membedakan halusinasi dan realita.
d. Controling.
Controling adalah tahap pengalaman halusinasi yang berkuasa: Cemas berat.
Karakteristik. Klien berhenti menghentikan perlawanan terhadap halusinasi dan menyerah pada
halusinasi tersebut. Isi halusinasi menjadimenarik. Klien mungkin mengalami pengalaman kesepian
jika sensori halusinasi berhenti.
Perilaku. Perilaku klien taat pada perintah halusinasi, sulit berhubungan dengan orang lain, respon
perhatian terhadap lingkungan berkurang, biasanya hanya beberapa detik saja, ketidakmampuan
mengikuti perintah dari perawat, tremor dan berkeringat.
e. Conquering.
Conquering adalah tahap halusinasi panik: Umumnya menjadi melebur dalam halusinasi.
Karakteristik. Pengalaman sensori menjadi mengancam jika klien mengikuti perintah halusinasi.
Halusinasi berakhir dari beberapa jam atau hari jika tidak ada intervensi terapeutik.
Perilaku. Perilaku panik, resikotinggi mencederai, bunuh diri atau membunuh. Tindak kekerasan
agitasi, menarik atau katatonik, ketidak mampuan berespon terhadap lingkungan.

DEREASLISASI
Proses Terbentunya Derealisasi
Kemampuan menilai realita berkaitan dengan kemampuan untuk menerima realitas, banyak
sekali masalah-masalah kehidupan yang muncul. Perbedaan (discrepancy) antara impuls-impuls,
harapan-harapan dan ambisi seseorang bisa dilihat di pihak lain, kesempatan dan kemampuan yang
bersifat actual di pihak lainnya. Maksud dari pernyataan ini adalah bahwa pada dasarnya kita dapat
menghadapi dua pihak yang bertentangan antara keinginan dan kenyataan (Wiramihardja, 2007).
Pada orang-orang yang tidak normal, keinginan dan harapan seringkali terlalu jauh dibandingkan
dengan kenyataan. Hal ini disebabkan oleh orientasi orang tersebut terlalu bersifat subyektif atau
terhadap dirinya sendiri saja. Orang orang dewasa atau normal dalam membuat suatu keputusan
bahkan merumuskan keinginan senantiasa memperhatikan mengenai kemungkinan suatu keinginan
tercapai. Artinya, mempertimbangkan realitas, orientasi bukan hanya pada diri sendiri, tetapi juga pada
pihak-pihak lain yang tersangkut. Sebaliknya, pada mereka yang kurang sehat mental, antara keinginan
dan kenyataan tidak banyak berbeda, sehingga tidak memperlihatkan adanya motivasi dan usaha
(Wiramihardja, 2007).
Pada mereka yang dinilai tidak mampu mengenali realitas, sering melakukan apa yang disebut
oleh Freud sebagai defense mechanism. Defense mechanism ini bersifat alamiah dan timbul karena
individu berkeinginan untuk mempertahankan diri dari ancaman-ancaman yang timbul dari realitas yang
tidak mampu ia tanggulangi. Bentuk-bentuk defense mechanism semakin hari semakin banyak, karena
pada dasarnya manusia ingin bertahan dari jenis-jenis ancaman tersebut. Jenis-jenis ancaman ini akan
bertambah banyak pada kehidupan yang lebih kompleks atau modern, diantaranya:
a. Denial, yaitu menolak, dalam bentuk melupakan atau melakukan tindakan tindakan lain yang
bertentangan dengan suatu realitas yang tidak menyenangkannya.
b. Fantasy, yaitu realitas-realitas yang tidak menyenangkan ia persepsikan justru sebagai hal yang
menyenangkan.
c. Projection, yaitu menumpahkan pengalaman dan penghayatan atau ingatan yang tidak
menyenangkan di dalam dirinya pada hal lain atau pihak lain.
d. Kompensasi, yaitu melakukan tindakan untuk “mengurangi atau menyembunyikan” kekurangan
yang dirasakannya.
Kompensasi berlebih atau “over compensation” merupakan istilah yang lebih penting dalam wacana
gangguan kejiwaan, yang berarti tindakan berlebihan (Wiramihardja, 2007).
Menurut Keliat (1998), gangguan orientasi realita adalah ketidakmampuan klien menilai dan
berespon pada realitas. Klien tidak dapat membedakan lamunan dan kenyataan. Klien tidak mampu
memberikan respon secara akurat, sehingga tampak perilaku yang sukar dimengerti dan mungkin
menakutkan. Hal ini disebabkan karena terganggunya fungsi kognitif dan proses pikir, fungsi persepsi,
fungsi emosi, fungsi motorik dan fungsi sosial. Gangguan pada fungsi kognitif dan persepsi
mengakibatkan kemampuan menilai dan menilik terganggu. Gangguan fungsi emosi, motorik dan sosial
mengakibatkan kemampuan berespon terganggu yang tampak dari perilaku non verbal (ekspresi muka,
gerakan tangan) dan perilaku verbal (penampilan hubungan sosial).
Kemampuan seseorang untuk menilai realitas. Kemampuan ini akan menentukan persepsi,
respons emosi dan perilaku dalam berelasi dengan realitas kehidupan. Kekacauan perilaku, waham, dan
halusinasi adalah salah satu contoh penggambaran gangguan berat dalam kemampuan menilai realitas
(RTA). Daya nilai adalah kemampuan untuk menilai situasi secara benar dan bertindak yang sesuai
dengan situasi tersebut.
a. Daya Nilai Sosial: kemampuan seseorang untuk menilai situasi secara benar (situasi nyata dalam
kehidupan sehari-hari) dan bertindak yang sesuai dalam situasi tersebut dengan memperhatikan
kaidah sosial yang berlaku di dalam kehidupan sosial budayanya. Pada gangguan jiwa berat atau
kepribadian antisosial maka daya nilai sosialnya sering terganggu.
b. Uji Daya Nilai: kemampuan untuk menilai situasi secara benar dan bertindak yang sesuai dalam
situasi imajiner yang diberikan.

KLASIFIKASI GANGGUAN JIWA


a. Gangguan Pembicaraan
Logorrhea : bicara yang banyak sekali, bertalian dan logis
Flight of idea : pembicaraan dengan kata-kata yang cepat dan terdapat loncatan dari satu ide
ke ide yang lain, ide-ide cenderung meloncat/ sulit dihubungkan.
Asosiasi longgar : pergeseran gagasan- gagasan dari satu subjek ke subjek lain yang tidak
berhubungan, jika berat, pembicaraan menjadi kacau atau membingungkan (inkoheren).
b. Gangguan Perilaku
Misalnya pada skizofrenia. Salah satu gangguan aktivitas motorik pada pasien skizofrenia adalah
gejala katatonik yang dapat berupa stupor atau gaduh gelisah (excitement). Gangguan perilaku lain
adalah stereotipi (berulang-ulang melakukan suatu gerakan) dan manerisme (stereotipi tertentu
pada skizofrenia yang dapat dilihat dalam bentuk grimas pada mukanya atau keanehan berjalan
dan gaya berjalan).
c. Gangguan Afek
1) Kedangkalan respon emosi , misalnya penderita menjadi tak acuh terhadap hal yang penting
bagi dirinya sendiri.
2) Parathimi, apa yang seharusnya menimbulkan rasa senang dan gembira, pada penderita timbul
rasa sedih atau marah.
3) Paramimi, penderita merasa senang dan gembira, akan tetapi dia menangis.
d. Gangguan Persepsi
 Halusinasi : adanya gangguan pada presespsi tanpa didahului stimulus
 Ilusi : gangguan presepsi dengan didahului stimulus
 Derealisasi : pasien merasa lingkungannya berubah
 Depersonalisasi : pasien merasa dirinya berubah
e. Gangguan Pikiran
Gangguan pikiran yang sering muncul adalah waham. Pada skizofrenia waham sering tidak logis dan
sangat bizar. Penderita tidak menginsafi hal ini dan baginya wahamnya merupakan fakta yang tidak
dapat diubah oleh siapapun.

Interpretasi Anamnesis
a. Mengamuk hampir membakar rumahnya sendiri
Pada gangguan kepribadian terdapat gangguan yang disebut bakar patologis (piromania) dimana
pasien melakukan pembakaran berulang kali tanpa motif yang jelas, sangat tertarik menonton
peristiwa kebakaran, dan perasaan tegang dan senang sebelum dan sesudah melakukan aksinya.
Piromania ini harus dibedakan dari:
1) Sengaja melakukan tanpa gangguan jiwa yang nyata (motif jelas).
2) Pembakaran oleh anak muda dengan gangguan tingkah laku dimana didapat gangguan perilaku
lain seperti mencuri dan membolos sekolah.
3) Pembakaran oleh orang dewasa dengan gangguan kepribadian di sosial.
4) Pembakaran pada skizofrenia dimana kebakaran merupakan khas yang ditimbulkan akibat
respon terhadap ide waham atau perintah halusinasi.
5) Pembakaran pada gangguan mental organik karena kecelakan akibat adanya kebingungan,
penurunan kesadaran akan konsekuensi dari tindakannya.
b. Marah-marah dan teriak-teriak tanpa sebab menunjukkan adanya psikosis.
c. Sering curiga pada tetangga dan keluarga menunjukkan adanya kepribadian paranoid atau psikosis
dengan gambaran paranoid.
d. Stress berat merupakan salah satu faktor munculnya gangguan jiwa.
e. Tampak tidak terawat, tidak mau mandi, tampak bingung, pakaian kusut dan kumal
menunjukkan GAF yang rendah dimana kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan dasarnya
sangat rendah.

HUBUNGAN USIA DAN JENIS KELAMIN


Epidemiologi dan Faktor Resiko
- Skizofrenia dapat ditemukan pada semua kelompok masyarakat dan di berbagai daerah. Insiden
dan tingkat prevalensi sepanjang hidup secara kasar hampir sama di seluruh dunia. Gangguan ini
mengenai hampir 1% populasi dewasa dan biasanya onsetnya pada usia remaja akhir atau awal
masa dewasa.
- Pada laki-laki biasanya gangguan ini mulai pada usia lebih muda yaitu 15-25 tahun sedangkan pada
perempuan lebih lambat yaitu sekitar 25-35 tahun. Insiden skizofrenia lebih tinggi pada laki-laki
daripada perempuan dan lebih besar di daerah urban dibandingkan daerah rural (Sadock, 2003).
- Pasien skizofrenia beresiko meningkatkan risiko penyalahgunaan zat, terutama ketergantungan
nikotin. Hampir 90% pasien mengalami ketergantungan nikotin. Pasien skizofrenia juga berisiko
untuk bunuh diri dan perilaku menyerang. Bunuh diri merupakan penyebab kematian pasien
skizofrenia yang terbanyak, hampir 10% dari pasien skizofrenia yang melakukan bunuh diri (Kazadi,
2008).
- Menurut Howard, Castle, Wessely, dan Murray, 1993 di seluruh dunia prevalensi seumur hidup
skizofrenia kira-kira sama antara laki-laki dan perempuan diperkirakan sekitar 0,2%-1,5%. Meskipun
ada beberapa ketidaksepakatan tentang distribusi skizofrenia di antara laki-laki dan perempuan,
perbedaan di antara kedua jenis kelamin dalam hal umur dan onset-nya jelas. Onset untuk
perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki, yaitu sampai umur 36 tahun, yang perbandingan
risiko onsetnya menjadi terbalik, sehingga lebih banyak perempuan yang mengalami skizofrenia
pada usia yang lebih lanjut bila dibandingkan dengan laki-laki (Durand, 2007).
Etiologi
Terdapat beberapa pendekatan yang dominan dalam menganalisa penyebab skizofrenia, antara lain :
- Faktor Genetik
Menurut Maramis (1995), faktor keturunan juga menentukan timbulnya skizofrenia. Hal ini telah
dibuktikan dengan penelitian tentang keluarga-keluarga penderita skizofrenia terutama anak-anak
kembar satu telur. Angka kesakitan bagi saudara tiri ialah 0,9 - 1,8%; bagi saudara kandung 7 – 15%;
bagi anak dengan salah satu orangtua yang menderita skizofrenia 7 – 16%; bila kedua orangtua
menderita skizofrenia 40 – 68%; bagi kembar dua telur (heterozigot) 2 -15%; bagi kembar satu telur
(monozigot) 61 – 86%.
Skizofrenia melibatkan lebih dari satu gen, sebuah fenomena yang disebut quantitative trait loci.
Skizofrenia yang paling sering kita lihat mungkin disebabkan oleh beberapa gen yang berlokasi di
tempat-tempat yang berbeda di seluruh kromosom. Ini juga mengklarifikasikan mengapa ada
gradasi tingkat keparahan pada orang-orang yang mengalami gangguan ini (dari ringan sampai
berat) dan mengapa risiko untuk mengalami skizofrenia semakin tinggi dengan semakin banyaknya
jumlah anggota keluarga yang memiliki penyakit ini (Durand & Barlow, 2007).
- Faktor Biokimia
Skizofrenia mungkin berasal dari ketidakseimbangan kimiawi otak yang disebut neurotransmitter,
yaitu kimiawi otak yang memungkinkan neuron-neuron berkomunikasi satu sama lain. Beberapa
ahli mengatakan bahwa skizofrenia berasal dari aktivitas neurotransmitter dopamine yang
berlebihan di bagian-bagian tertentu otak atau dikarenakan sensitivitas yang abnormal terhadap
dopamine. Banyak ahli yang berpendapat bahwa aktivitas dopamine yang berlebihan saja tidak
cukup untuk skizofrenia. Beberapa neurotransmitter lain seperti serotonin dan norepinephrine
tampaknya juga memainkan peranan (Durand, 2007).
- Faktor Psikologis dan Sosial
Faktor psikososial meliputi adanya kerawanan herediter yang semakin lama semakin kuat, adanya
trauma yang bersifat kejiwaan, adanya hubungan orang tua-anak yang patogenik, serta interaksi
yang patogenik dalam keluarga (Wiraminaradja & Sutardjo, 2005).
Banyak penelitian yang mempelajari bagaimana interaksi dalam keluarga mempengaruhi penderita
skizofrenia. Sebagai contoh, istilah schizophregenic mother kadang-kadang digunakan untuk
mendeskripsikan tentang ibu yang memiliki sifat dingin, dominan, dan penolak, yang diperkirakan
menjadi penyebab skizofrenia pada anak-anaknya (Durand & Barlow, 2007).
Menurut Coleman dan Maramis (1994 dalam Baihaqi et al, 2005), keluarga pada masa kanak-kanak
memegang peranan penting dalam pembentukan kepribadian. Orangtua terkadang bertindak
terlalu banyak untuk anak dan tidak memberi kesempatan anak untuk berkembang, ada kalanya
orangtua bertindak terlalu sedikit dan tidak merangsang anak, atau tidak memberi bimbingan dan
anjuran yang dibutuhkannya.

DIAGNOSIS BANDING
Gangguan Psikotik Akut dan Sementara
Definisi
Psikotik adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidak mampuan individu menilai kenyataan
yang terjadi, misalnya terdapat halusinasi, waham atau perilaku kacau/aneh (Maslim, 2001)..
Gangguan psikotik singkat/akut didefinisikan sebagai suatu gangguan kejiwaan yang terjadi selama
1 hari sampai kurang dari 1 bulan, dengan gejala psikosis, dan dapat kembali ke tingkat fungsional
premorbid (Kaplan dan Sadock, 2003).
Patofisiologi
Hipotesis dopamine pada gangguan psikosis serupa dengan penderita skizofrenia adalah yang paling
berkembang dari berbagai hipotesis, dan merupakan dasar dari banyak terapi obat yang rasional.
Hipotesis ini menyatakan bahwa skizofrenia disebabkan oleh terlalu banyaknya aktivitas dopaminergik.
Beberapa bukti yang terkait hal tersebut yaitu: (1) kebanyakan obat-obat antipsikosis menyekat reseptor
D2 pascasinaps di dalam sistem saraf pusat, terutama di sistem mesolimbik frontal; (2) obat-obat yang
meningkatkan aktifitas dopaminergik, seperti levodopa (suatu precursor), amphetamine (perilis
dopamine), atau apomorphine (suatu agonis reseptor dopamine langsung), baik yang dapat
mengakibatkan skizofrenia atau psikosis pada beberapa pasien; (3) densitas reseptor dopamine telah
terbukti, postmortem, meningkat diotak pasien skizofrenia yang belum pernah dirawat dengan obat-
obat antipsikosis; (4) positron emission tomography (PET) menunjukkan peningkatan densitas reseptor
dopamine pada pasien skizofrenia yang dirawat atau yang tidak dirawat, saat dibandingkan dengan hasil
pemeriksaan PET pada orang yang tidak menderita skizofrenia; dan (5) perawatan yang berhasil pada
pasien skizofrenia telah terbukti mengubah jumlah homovanilic acid (HVA), suatu metabolit dopamine,
di cairan serebrospinal, plasma, dan urine. Namun teori dasar tidak menyebutkan hiperaktivitas
dopaminergik apakah karena terlalu banyaknya pelepasan dopaminergik, terlalu banyaknya reseptor
dopaminergik atau kombinasi mekanisme tersebut. Neuron dopaminergik di dalam jalur mesokortikal
dan mesolimbik berjalan dari badan selnya di otak tengah ke neuron dopaminoseptif di sistem limbik
dan korteks serebral (Trimble, 2010).
Manifestasi klinis
Gambaran utama perilaku:
Perilaku yang diperlihatkan oleh pasien yaitu :
a. Mendengar suara-suara yang tidak ada sumbernya
b. Keyakinan atau ketakutan yang aneh/tidak masuk akal
c. Kebingungan atau disorientasi
d. Perubahan perilaku; menjadi aneh atau menakutkan seperti menyendiri, kecurigaan berlebihan,
mengancam diri sendiri, orang lain atau lingkungan, bicara dan tertawa serta marah-marah atau
memukul tanpa alasan (Kaplan dan Sadock, 2003).
Gejala gangguan psikotik singkat selalu termasuk sekurang kurangnya satu gejala psikosis utama,
biasanya dengan onset yang tiba-tiba, tetapi tidak selalu memasukkan keseluruhan pola gejala yang
ditemukan pada skizofrenia. Beberapa klinisi telah mengamati bahwa gejala afektif, konfusi dan
gangguan pemusatan perhatian mungkin lebih sering ditemukan pada gangguan psikotik singkat
daripada gangguan psikotik kronis. Gejala karakteristik untuk gangguan psikotik singkat adalah
perubahan emosional, pakaian atau perilaku yang aneh, berteriak teriak atau diam membisu dan
gangguan daya ingat untuk peristiwa yang belum lama terjadi. Beberapa gejala tersebut ditemukan pada
gangguan yang mengarahkan diagnosis delirium dan jelas memerlukan pemeriksaan organik yang
lengkap, walaupun hasilnya mungkin negative (Maslim, 2001).
Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis gejala pasti gangguan psikotik akut adalah sebagai berikut :
- Halusinasi (persepsi indera yang salah atau yang dibayangkan : misalnya, mendengar suara yang
tak ada sumbernya atau melihat sesuatu yang tidak ada bendanya).
- Waham (ide yang dipegang teguh yang nyata salah dan tidak dapat diterima oleh kelompok
sosial pasien, misalnya pasien percaya bahwa mereka diracuni oleh tetangga, menerima pesan
dari televisi, atau merasa diamati/diawasi oleh orang lain).
- Agitasi atau perilaku aneh (bizar)
- Pembicaraan aneh atau kacau (disorganisasi)
- Keadaan emosional yang labil dan ekstrim (iritabel) (Maslim, 2001).
Berdasarkan DSM-IV diagnosisnya terutama atas lama gejala, untuk gejala psikotik yang berlangsung
sekurangnya satu hari tetapi kurang satu bulan dan yang tidak disertai dengan suatu gangguan mood,
gangguan berhubungan dengan zat, atau suatu gangguan psikotik karena kondisi medis umum,
diagnosis gangguan psikotik singkat kemungkinan merupakan diagnosis yang tepat. Untuk gejala psikotik
yang berlangsung lebih dari satu hari, diagnosis sesuai yang harus dipertimbangkan adalah gangguan
delusional (jika waham adalah gejala psikotik yang utama), gangguan skizofreniform (jika gejala
berlangsung kurang dari 6 bulan), dan skizofrenia (jika gejala telah berlangsung lebih dari 6 bulan)
(Kaplan dan Sadock, 2003).

Skizofrenia
Definisi
Merupakan sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tidak
selalu bersifat kronis atau deteorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada
pertimbangan pengaruh genetik, fisik, dan sosial budaya (PPDGJ III,2003)
Pada umunya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari pikiran dan persepsi,
serta oleh afek yang tidak wajar (inappropriate) atau tumpul (blunted). Kesadaran yang jernih (clear
consciusness) dan kemampuan intelektual biasanyan tetap terpelihara, walaupun kemunduran kognitif
tertentu dapat berkembang kemudian (PPDGJ III,2003).
Gejala-gejala
a. Penampilan umum dan Perilaku Umum
Tidak ada penampilan atau perilaku yang khas pada skizofrenia. Beberapa bahkan dapat
berpenampilan dan berperilaku “normal”. Pasien dengan skizofrenia kronis cenderung
menelantarkan penampilannya.
b. Gangguan Pembicaraan
Inti gangguan pada skizofrenia terdapat pada proses pikiran, yang terganggu utama adalah asosiasi.
Terdapat asosiasi longgar berarti tidak adanya hubungan antar ide. Kalimat-kalimatnya tidak saling
berhubungan. Bentuk yang lebih parah adalah inkoherensi. Tidak jarang terdapat asosiasi bunyi
karena pikiran sering tidak mempunyai tujuan tertentu. Hal ini menyebabkan perjalanan pikiran
pada pasien skizofrenia sulit untuk diikuti dan dimengerti.
Kadang-kadang pasien dengan skizofrenia membentuk kata-kata baru untuk menyatakan arti yang
hanya dipahami oleh dirinya sendiri atau yang dikenal dengan neologisme. Pada pasien dengan
skozofrenia ketatonik sering tampak mutisme.
c. Gangguan Perilaku
Salah satu gangguan aktivitas motorik pada pasien skizofrenia adalah gejala katatonik yang dapat
berupa stupor atau gaduh gelisah (excitement). Gangguan perilaku lain adalah stereotipi (berulang-
ulang melakukan suatu gerakan) dan manerisme (stereotipi tertentu pada skizofrenia yang dapat
dilihat dalam bentuk grimas pada mukanya atau keanehan berjalan dan gaya berjalan).
d. Gangguan Afek
1) Kedangkalan respon emosi , misalnya penderita menjadi tak acuh terhadap hal yang penting bagi
dirinya sendiri.
2) Parathimi, apa yang seharusnya menimbulkan rasa senang dan gembira, pada penderita timbul
rasa sedih atau marah.
3) Paramimi, penderita merasa senang dan gembira, akan tetapi dia menangis.
Yang penting dari skizofrenia adalah hilangnya kemampuan untuk mengadakan hubungan emosi yang
baik (emotional rapport). Karena itu sering kita tidak dapat merasakan perasaan penderita. Pada
skizofrenia gangguan persepsi yang sering muncul adalah halusinasi, khususnya halusinasi pendengaran
(auditorik atau akustik). Halusinasi penglihatan (optik) agak jarang pada skizofrenia, lebih sering pada
psikosis akut yang berhubungan dengan sindrom otak organik. Gangguan pikiran yang sering muncul
adalah waham. Pada skizofrenia waham sering tidak logis dan sangat bizar. Penderita tidak menginsafi
hal ini dan baginya wahamnya merupakan fakta yang tidak dapat diubah oleh siapapun. (Maramis,2009)
Jenis-Jenis Skizofrenia
a. Skizofrenia Paranoid
Gejala-gejala yang mencolok adalah waham primer, disertai dengan waham-waham sekunder dan
halusinasi. Dengan pemeriksaan yang teliti terdapat gangguan proses berpikir, gangguan afek, emosi
dan kemauan. Jenis skizofrenia ini sering muncul setelah umur 30 tahun. Permulaanya mungkin
subakut, tetapi mungkin juga akut. Kepribadian penderita sebelum sakit sering dapat digolongkan
skizoid. Mereka mudah tersinggung, suka menyendiri, agak congkak dan kurang percaya pada orang
lain.
b. Skizofrenia Hebefrenik
Permulaanya perlahan-lahan atau sub akut dan sering timbul pada masa remaja atau antara 15-25
tahun. Gejala yang mencolok adalah gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi atau double
personality. Gangguan psikomotor seperti mannerism, neologism atau perilaku kekanak-kanakan
sering terdapat pada skizofrenia hebefrenik. Terdapat waham dan halusinasi.
c. Skizofrenia Ketatonik
Timbulnya pertama kali antara umur 15-30 tahun dan biasanya akut sering didahului oleh stress
emosional. Mungkin terjadi gaduh-gelisah katatonik atau stupor katatonik.
d. Skizofrenia Simpleks
Sering timbul pertama kali pada masa pubertas. Gejala utama pada jenis simpleks adalah
kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berpikir biasanya sukar ditemukan.
Waham dan halusinasi jarang sekali terdapat. Jenis ini timbulnya perlahan-lahan sekali. Pada
permulaan mungkin penderita mulai kurang memperhatikan keluarganya atau mulai menarik diri
dari pergaulan.
e. Skizofrenia Residual
Jenis ini merupakan jenis kronis dari skizofrenia dengan riwayat sedikitnya satu episode psikotik
yang jelas dan gejala-gejala berkembang ke arah gejala negatif yang lebih menonjol. Gejala negatif
terdiri dari kelambatan psikomotor, penurunan aktivitas, penumpulan afek, pasif dan tidak ada
inisiatif, kemiskinan pembicaraan, ekpresi non verbal yang menurun, serta buruknya perawatan diri
dan fungsi sosial. (Maramis, 2009)
Penegakan Diagnosis
a. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang jelas :
1) Thought echo (isi pikiran dirinya sendiri yang berulang dan bergema dalam kepalanya dan isi pikiran
ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda), Thought insertio/withdrawl (isi pikiran
yang asing dari luar masuk ke dalam pikirannya atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari
luar dirinya), Thougth broadcasting (isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum
mengetahuinya)
2) Delusion of control (waham tentang dirinya dikendalikan oleh sesuatu dari luar), Delusion of influence
(waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar), Delusion of passivity
(waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar), Delusional
perception (pengalaman inderawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya
bersifat mistik atau mukjizat).
3) Halusinasi auditorik
4) Waham-waham lain yang menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dinaggap tidak
wajar dan sesuatu yang mustahil.
b. Atau paling sedikit dua gejala di bawah ini yang harus selalu ada secara jelas :
1) Halusinasi yang menetap dari panca-indera apa saja
2) Inkoherensi
3) Perilaku katatonik
4) Gejala-gejala negatif
c. Adanya gejala-gejala tersebut di atas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih
(tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal)
d. Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseleruhan dari beberapa
aspek perilaku pribadi, bermanifestasi sebagai hilangnya minat, tujuan hidup, tidak berbuat sesuatu,
sikap larut dalam diri sendiri dan penarikan diri secara sosial. (PPDGJ III, 2003)
Dari skenario di dapatkan bahwa diagnosis yaitu skizofrenia