Anda di halaman 1dari 24

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Indonesia memiliki sumber daya hayati yang berpotensi untuk dimanfaatkan
sebagai bahan baku obat. Peluang eksplorasi tanaman obat masih sangat terbuka
seiring dengan semakin berkembangnya industri jamu, obat herbal, dan fitofarma.
Berdasarkan manfaat yang sudah ada, baik teruji secara empiris atau klinis,
potensi sumber bahan alam yang terdapat di bumi Indonesia perlu digali dengan
semaksimal mungkin, dan dapat dimanfaatkan dalam penyelenggaraan upaya-
upaya kesehatan masyarakat (Saskiawan dan Hasanah, 2015).
Tanah Karo adalah salah satu Kabupaten di Propinsi Sumatera Utara yang
terletak di dataran tinggi Pegunungan Bukit Barisan yang membentang dari ujung
ke ujung Pulau Sumatera. Wilayah ini memiliki sumber daya alam yang
beranekaragam dan sebagian besar memiliki nilai guna yang tinggi. Kehidupan
sosial dan kemasyarakatannya masih sangat kental dengan budaya dan sistem
kekerabatan yang dipertahankan sampai sekarang. Potensi itu tentunya merupakan
salah satu modal dasar yang sangat tinggi nilainya bagi Pemerintah Kabupaten
Tanah Karo dalam mengelola potensi alam dan wilayah serta potensi masyarakat
untuk membangun daerah ini, guna kemajuan bangsa dan negara, khususnya bagi
Kabupaten Tanah Karo sendiri. Masyarakat Karo sangat mempercayai bahwa
manusia, sejak lahir sampai pada kematiannya tidak lepas dari fungsi-fungsi
sosialnya. Menggunakan dan memanfaatkan sumber daya alam tumbuh-tumbuhan
adalah salah satu bentuk pemahaman bagaimana orang Karo mengelola sumber
daya alamnya (Nasution, 2009).
Tumbuhan obat merupakan seluruh jenis tumbuhan yang diketahui
mempunyai khasiat obat, yang dikelompokkan menjadi : (1) Tumbuhan obat
tradisional, yaitu jenis tumbuhan yang diketahui atau dipercaya masyarakat
mempunyai khasiat dan telah digunakan sebagai bahan baku obat tradisional, (2)
Tumbuhan obat modern, yaitu jenis yang secara ilmiah telah dibuktikan
mengandung senyawa/bahan bioaktif yang berkhasiat obat dan penggunaannya
dapat dipertanggungjawabkan secara medis, (3) Tumbuhan obat potensial, yaitu
jenis tumbuhan yang diduga mengandung senyawa/bahan bioaktif yang berkhasiat
obat tetapi belum dibuktikan secara ilmiah medis atau penggunaannya sebagai
bahan obat tradisional perlu ditelusuri (Zuhud et al. 1994).
MRSA merupakan galur spesifik Identifikasi Bakteri MRSA dari bakteri
Staphylococcus aureus yang resisten terhadap antimikroba semua turunan
penicillin dan methicillin. efek antimikroba terhadap bakteri MRSA. Efek
antimikroba diperkirakan diperankan oleh zat-zat aktif yang larut dalam alkohol,
sebab metode ekstraksi pada penelitian ini menggunakan pelarut alkohol. Zat-zat
2

aktif tersebut antara lain flavonoid, alkaloid, dan polifenol. Aktivitas flavonoid ini
disebabkan oleh kemampuannya (Ar, 2011).

1.2. Rumusan Masalah


Dalam dunia pengobatan saat ini antibiotik yang digunakan untuk
membunuh mikroorganisme patogen memiliki sifat yang resisten. Hal ini akan
menjadi masalah yang sangat berbahaya dalam proses penyembuhan penyakit
manusia. Jadi, kita memerlukan solusi penyeleseian yang tepat unutk menangani
bakteri yang resisten terhadap antibiotik dengan menggunakan minyak tradisional
suku karo. Serta Potensi Minyak tradisional sebagai salah satu solusi untuk
penyembuhan luka yang dimana dapat membunuh mikroorganisme patogen.

1.3. Tujuan Khusus


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui salah satu solusi pengobatan
herbal menggunakan minyak tradisional suku karo terhadap proses
penyembuhan luka yang disebabkan mikroorganisme yang resisten antibiotik.

1.4. Luaran Penelitian


Penelitian ini diharapkan mendapatkan informasi yang akurat dan valid
tentang kandungan dari minyak karo. Serta dapat menjadi salah satu alternatif dari
penyembuhan luka secara alami dengan menggunakan minyak tradisional Karo.

1.5. Manfaat Penelitian


Penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber informasi mengenai
potensi potensi dari obat tradisonal minyak karo sebagai salah satu treatment
pengobatan terhadap proses penyembuhan luka.
3

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Minyak Tradisional


Di Indonesia, pengetahuan tentang obat-obatan tradisional yang berasal dari
tumbuhan sudah sejak lama diperkenalkan oleh nenek moyang kita. Secara turun
temurun pengetahuan ini diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya
dan untuk setiap daerah atau suku mempunyai kekhasan tradisi sendiri-sendiri.
Kekhasan ini antara lain disebabkan oleh perbedaan falsafah budaya yang
melatarbelakangi serta perbedaan kondisi alam terutama vegetasi di masing-
masing wilayahnya (Ajijah & Iskandar, 1995).
Obat tradisional menurut SK Menkes No. 246/2000 adalah bahan atau
ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral,
sediaan galenik atau campuran dari bahan-bahan tersebut, yang secara tradisional
telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.

2.2. Mikroba Patogen


Methicilin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) adalah golongan bakteri
gram positif yang resisten terhadap antibiotik penilisilin semisintesis.
Staphylococcus aureus sendiri merupakan flora normal pada kulit manusia dan
jumlah koloninya bervariasi per sentimeter perseginya. Pada awalnya,
Staphylococcus aureus telah dikenal sebagai suatu penyebab penyakit yang
penting di seluruh dunia dan menjadi suatu patogen utama yang terkait dengan
infeksi, baik itu yang didapat di rumah sakit (Hospital-Acquired MRSA = HA-
MRSA) maupun di komunitas (Community-Acrquired MRSA = CA-MRSA).
MRSA paling banyak ditemukan di tangan, hidung, dan perineum (Dicky, 2015).
Antibakteri merupakan zat yang dapat menghambat atau membunuh bakteri
dengan penyebab infeksi. Infeksi disebabkan oleh bakteri atau mikroorganisme
yang patogen, dimana mikroba masuk ke dalam jaringan tubuh dan berkembang
biak di dalam jaringan. Di antara bakteri yang dapat menyebabkan infeksi adalah
Staphylococcus aureus. Staphylococcus aureus dapat menyebabkan pneumonia,
meningitis, empiema, endokarditis atau sepsis dengan supurasi di tiap organ
(Hasmilla et al, 2015).
S.aureus merupakan kuman gram positif berbentuk bulat dengan diameter
0,5-0,7 mm dan mempunyai dinding sel yang terdiri dari peptidoglikan, asam
teikoik, fibronectin binding protein, clumping factors dan collagen binding
protein. Komponen utama dinding sel adalah peptidoglikan yang menyusun
hampir 50% dari berat dinding sel (Wirahjasa dan Panji, 2012).

2. 3 Aktivitas Antimikroba
Aktivitas zona bening pada media yang padat yang antibakteri diperoleh
4

dengan mengukur menjadi petunjuk ada atau tidaknya bakteri yang tumbuh pada
setiap perlakuan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji statistik
ANOVA. Pertumbuhan bakteri yang terhambat atau kematian bakteri akibat suatu
zat antibakteri dapat disebabkan oleh penghambatan terhadap sintesis dinding
sel,penghambatan terhadap fungsi membrane sel, penghambatan terhadap sintesis
protein, atau penghambatan terhadap sintesis asam nukleat (Darwis et al, 2009).

2.4 Infeksi Luka


Pada kasus luka terbuka sering terjadi infeksi yang disebabkan masuknya
kuman pada luka, keadaan akan lebih buruk bila tidak segera diberi antiseptik
dengan segera. Antiseptik yang bersifat kimia seperti povidon iodine memiliki
dampak menyerap langsung kedalam tubuh melalui luka dan sirkulasi pembuluh
darah. Penyembuhan luka yang normal merupakan suatu proses kompleks dan
dinamis. Proses penyembuhan luka berlangsung secara alami maupun dengan
bantuan kimiawi, seperti dengan zat-zat obat, salep dan lain-lain. Pada masyarakat
masih banyak yang menggunakan tanaman-tanaman sebagai obat (Qomariah,
2014).

2.5 Fungsi Minyak Sebagai Antibakteri.


Tanaman obat yang banyak digunakan masyarakat untuk mengobati luka adalah
daun sirih (Piper betle). Daun sirih sudah dimanfaatkan oleh masyarakat
Indonesia sejak dulu untuk mengobati sariawan. Daun sirih digunakan dalam
pengobatan tradisional sebagai obat kumur, penyegar mulut, pengobatan luka, anti
bakteri, anti jamur, antioksidan, dan mengurangi pembentukan plak gigi. Uji
klinis salep Piper betle mempercepat perbaikan lesi kulit pada ringworm hingga
26%. Piper betle gel juga dapat menghambat pertumbuhan dermatofita dan
pertumbuhan Candida. Daun sirih (Piper betle) memiliki kandungan senyawa
saponin yang berfungsi sebagai antioksidan, antifungal, antimikroba. Aktivitas
antioksidan dibuktikan dengan kemampuan membentuk hydroperoxide
intermediates yang mencegah kerusakan bio-molekular oleh radikal bebas
(Fannani dan Nugroho, 2014).
Minyak atsiri dapat digunakan sebagai antibakteri karena mengandung
gugus fungsi hidroksil dan karbonil yang merupakan turunan fenol. Turunan fenol
ini akan berinteraksi dengan dinding sel bakteri, selanjutnya terabsorbsi dan
penetrasi ke dalam sel bakteri, sehingga menyebabkan presipitasi dan denaturasi
protein, akibatnya akan melisiskan membran sel bakteri. sedangkan aktivitas
antibakteri dari curcumin dengan cara menghambat proliferasi sel bakteri. Bakteri
penyebab gangguan fungsi saluran pencernaan yang umum ditemukan di
Indonesia diantaranya Bacillus sp dan Shigella dysentriae (Warnaini, 2013).
Oleh karena penjelasan diatas, diduga bahawa minyak tradisonal khas suku
karo juga berpotensi sebagai antimikoba dan alternatif penyembuhan luka.
5

BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1. Waktu dan Tempat


Penelitian ini akan dilakukan selama 5 bulan di Laboratorium Mikrobiologi
dan Laboratorium Fisiologi Hewan, Fakultas MIPA.

3.2. Pengambilan Sampel


Minyak karo diambil di daerah Karo dan dan selanjutnya dilakukan
pengujian komposisi minyak karo.

3.3 Analisis GC-MS Minyak Karo


Minyak karo yang telah diperoleh selanjutnya di analisis dengan
menggunakan GC-MS untuk mengetahui komposisi dari kandungan minyak karo
yang akan digunakan sebagai sampel uji di laboratorium Pusat Penelitian Kimia,
LIPI, Tangerang, Indonesia.

3.4 Penyiapan Isolat Mikroba Indikator


Isolat mikroba indikator dari stok kultur ditumbuhkan kedalam media
peremajaan Nutrient Agar dan diinkubasi pada suhu ruang selama 24 jam.
Sebanyak 5 ml NaCl 0,9 % dimasukkan kedalam tabung reaksi secara aseptis.
Isolat mikroba indikator diinokulasikan ke dalam tabung reaksi dengan
menggunakan jarum ose bengkok, kemudian disamakan kekeruhannya sesuai
dengan larutan standard 0,5 McFarland= 108 CFU/ml). Suspensi mikroba
indikator akan digunakan pada uji antimikrob.

3.5 Uji Antimikrob


Uji antimikrob minyak karo terhadap isolat mikroba indikator dilakukan
berdasarkan metode difusi cakram (Bauer et al., 1996). Konsentrasi minyak karo
yang digunakan yaitu 25%, 50%, 75%,, dan 100% yang dilarutkan dengan
Dimethylsulfoxide (DMSO) 100% . Sebagai kontrol negatif (-) digunakan pelarut
DMSO, kontrol positif (+) digunakan cakram kertas methcillin. Sebanyak 10 µl
minyak karo diteteskan pada cakram kertas dan dibiarkan mengering selama ±15
menit. Mikroba indikator disebar pada media Muller Hinton Agar (MHA) dengan
merendam cutton bud steril pada suspensi mikroba. Cutton bud yang telah
dibasahi dengan suspensi mikroba, diusap pada permukaan media MHA secara
penuh dan dibiarkan mengering selama ±10 menit. Kertas cakram yang telah
berisi minyak karo lalu diletakkan diatas permukaan media dengan jarak yang
telah ditentukan dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 35o C. Pengujian
dilakukan dengan 3 ulangan. Pengamatan dilakukan dengan mengukur zona
hambat yang telah terbentuk di sekitar cakram kertas.
6

3.6 Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) Minyak Karo


Minyak karo dengan variasi konsentrasi menggunakan pelarut DMSO
dengan menurukan konsentrasinya sebesar 10% berdasarkan uji antimikrob yang
telah dilakukan. Penentuan KHM dilakukan dengan metode difusi cakram yaitu
mengamati zona hambat yang masih tampak dari tiap variasi konsentrasi minyak
karo. Pengujian dilakukan sebanyak 2 kali ulangan.

3.7 Analisis Kebocoran Asam Nukleat dan Protein


Suspensi bakteri yang berumur 48 jam untuk MRSA, ditambahkan minyak
karo dengan konsentrasi 0 (kontrol), 1 dan 2 x KHM. Larutan uji diinkubasi pada
inkubator goyang (200 rpm) suhu 37 °C selama 48 jam dalam kondisi anaerob,
kemudian disentrifus dengan kecepatan 3500 rpm selama 20 menit, dan
dipisahkan supernatan dari endapan sel. Supernatan diukur absorbansinya dengan
spektrofotometer UV/VIS (Perkin Elmer lamda 25) pada panjang gelombang 260
dan 280 nm.

3.8 Analisis Kebocoran Ion Logam


Analisis kebocoran ion yang diukur adalah dalam bentuk ion K+ dan Ca2+
yang keluar dari sel bakteri akibat perlakuan dengan minyak karo. Sampel untuk
analisis kebocoran ion logam berupa supernatan yang berasal dari perlakuan
analisis kebocoran asam nukleat dan protein. Supernatan dianalisis dengan
menggunakan Atomic Absoption Spectroscopy (AAS) Perkin Elmer.

3.9 Pengamatan Morfologi Sel


Pellet atau endapan sel yang berasal dari perlakuan analisis kebocoran
asam nukleat dan protein (kontrol dan 2 x KHM), direndam dengan glutaraldehid
2% selama semalam, lalu ditambah chocodylate buffer, dan direndam selama 20
menit. Larutan uji disentrifus dan supernatan dipisahkan. Pelet ditambah osmium
tetraoksida 1% dan direndam selama 1 jam, selanjutnya dikeringkan berturut-turut
dengan alkohol 70%, 80%, 95% dan alkohol absolut masing-masing selama 20
menit. Pelet disuspensikan dengan penambahan butanol, kemudian suspensi
diletakkan diatas cover slip yang telah direkatkan pada stub alumunium. Suspensi
yang telah mengering di cover slip kemudian dilapisi dengan emas melalui proses
vakum selama 20 menit dan diamati dengan Scanning Electron Microscopy (JSM-
5000).

3.10 Perlakuan Pada Hewan Uji


Punggung mencit dicukur terlebih dahulu dan dibuat lingkaran berdiameter
kurang lebih 3 cm dengan spidol untuk memudahkan pengamatan sebelum
dilukai. Daerah yang akan diinsisi didesinfeksi dengan alkohol 70%, dianestesi
terlebih dahulu dan kemudian dengan menggunakan skapel, punggung tikus
dilukai sepanjang 2 cm dan kedalaman 0,5 cm. Luka dibersihkan dengan air
7

mengalir dan diberi perlakuan sesuai kelompok masing-masing. Setiap hari


dilakukan pengamatan untuk melihat tertutupnya luka tersebut oleh kulit baru.
Tidak dilakukan penutupan luka atau strapping karena dikhawatirkan akan
mengganggu proses penyembuhan luka pada proses penggantian plester saat
memberikan perlakuan (variasi minyak karo).

3.11 Pemberian Minyak Karo pada Luka Mencit


Sebanyak 15 ekor mencit jantan dibagi menjadi 5 kelompok, masing-
masing kelompok 2 ekor mencit. K1: kontrol negatif., K2: diberi dosis 0,15ml/kg
BB mencit., K3: diberi dosis 0,3ml/kg BB mencit., K4: diberi dosis 0,57ml/kg BB
mencit., dan K5: kelompok pembanding yang tidak diberi luka sayat dan diberi
fase minyak karo. Pengamatan yang akan dilakukan adalah penutupan dari luka
mencit pada setiap perlakuan. Dilakukan pengukuran akan setiap aktivitas
penutupan luka pada masing-masing mencit.
8

BAB 4
BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN

4.1. Anggaran Biaya


No Jenis Pengeluaran Biaya (Rp)
1. Peralatan Penunjang Rp. 3.600.000
2. Bahan Habis Pakai Rp. 4.455.000
3. Perjalanan Rp. 1.200.000
4. Lain-lain Rp. 2.870.000
Jumlah Total Rp. 12.125.000

4.2. Jadwal Kegiatan Penelitian


Bulan ke-
No Kegiatan I II III IV V
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Persiapan
administrasi dan
peralatan
penelitian
2. Pengambilan
sampel di
lapangan
3. Pengujian
komposisi dari
minyak karo
4. Uji antimikrobial
dari minyak karo

5. Pemberian
perlakuan
terhadap mencit
6. Pemberian
minyak karo
terhadap luka
mencit
7. Analisa data
9

DAFTAR PUSTAKA

Ajijah, N., Iskandar, M, 1995. Menggali Budaya Orang Tua Tempo dulu
Memanfaatkan Tumbuhan Obat di Pedesaan Jawa Barat. Prosiding
Seminar dan Lokakarya Nasional dan Etnobotani II. Putslitbang LIPI,
Fakultas Biologi UGM, dan Ikatan Pustakawan Indonesia.

Ar, D. F.,As, N., Karyono, S.S. 2011. Efektivitas Ekstrak Daun Ceplukan sebagai
Antimikroba terhadap Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus In
Vitro. Jurnal Kedokteran Brawijaya. Vol26(4).

Darwis, W., Melati, P., Widiyati, E., dan Supriati, R. 2009. Efektivitas Ekstrak
Daun Ubi Jalar Merah (Ipomoea batatas Poir) Terhadap Bakteri
Staphylococcus Aureus Penyebab Penyakit Bisul Pada Manusia.
Konservati Hayati. Vol5(2).

Hasmila, I. amaliah dan Daniel, M. 2015. Efektivitas Salep Ekstrak Ekstrak Daun
Sirsak (Annona muricata L.) Pada Mencit yang Terinfeksi Bakteri
Staphylococcus aureus. Prosiding Seminar Nasional Mikrobiologi
Kesehatan dan Lingkungan.

Pratiwi, N. A. 2016. Uji Efektivitas Ekstrak Daun Pakis Giwang (Euphorbia


Milii) Terhadap Bakteri Methicillin Resistant Staphylococcus aureus
(MRSA). Fakultas FMIPA. UNIMAM. [Skripsi].

Saskiawan, I Dan Hasanah, N. 2015. Aktivitas Antimikroba Dan Antioksidan


Senyawa Polisakarida Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus). Pros Sem
Nas Masy Biodiv Indon. Vol 1(5).

Qomariah, S. 2014. Efektivitas Salep Ekstrak Batang Patah Tulang (Euphorbia


tirucalli) Pada Penyembuhan Luka Sayat Tikus Putih (Rattus norvegicus).
Fakultas FMIPA. UNNES.

Warnaini, C. 2013. Uji Efektivitas Ekstrak Kunyit Sebagai Antibakteri Terhadap


Pertumbuhan Bakteri Bacillus Sp. Dan Shigella dysentriae Secara In
Vitro.

Wirahjsa, I. G. N. dan Panji, P. A.S. 2012. Pengelolaan Infeksi Akibat


Methicillin-Resistent Staphylococcus aureus. Vol2(3).

Zuhud, E.A.M., Ekarelawan dan S. Ridwan. 1994. Hutan tropika Indonesia


sebagai sumber keanekaragaman plasma nutfah tumbuhan obat.
Pelestarian Pemanfaatan Keaneka-ragaman Tumbuhan Obat Hutan
Tropika Indonesia. Bogor.
10

LAMPIRAN

Lampiran 1. Biodata Ketua, Anggota dan Dosen Pendamping


1.1. Identitas Diri
A. Identitas Diri
1. Nama Lengkap Jesica Sitorus
2. Jenis Kelamin Perempuan
3. Program Studi S1 Biologi
4. NIM 150805044
5. Tempat dan Tanggal Lahir Pasar Baru/ 31 Desember 1997
6. Email jesicasitorus@gmail.com.
7. Nomor Telepon/HP 081212515926
B. Riwayat Pendidikan
SD SMP SMA
Nama institusi SDN 177073 SMPN 2 Porsea SMAN 2
Lumban Sirait Soposurung
Balige
Jurusan - - IPA
Tahun 2003-2009 2009-2012 2012-2015
masuk/lulus
C. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation)
No Nama Pertemuan Ilmiah/ Judul Artikel Ilmiah Waktu dan Tempat
Seminar
1. - - -
2. - - -
3. - - -
D. Penghargaan dalam 5 tahun Terakhir (dari pemerintah, asosiasi atau
institusi lainnya)
No Jenis Penghargaan Institusi Pemberi Penghargaan Tahun
1. - - -
2. - - -
Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan
dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata
dijumpai ketidak-sesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah
satu persyaratan dalam pengajuan PKM-P.
Medan, 11 November 2017
Pengusul (Ketua)

( Jesica Sitorus)
11
12
13

1.4. Biodata Dosen Pendamping


Nama : Prof. Dr. Dwi Suryanto, M.Sc.
Pekerjaan : Staf Pengajar FMIPA USU
NIP/NIDN : 196404091994031003 / 0009046404
Jabatan : Wakil Direktur I Sekolah Pasca Sarjana USU
Alamat Kantor : Jln. Bioteknologi No. 1 Kampus USU Medan
AlamatRumah : Jln. Pintu Air IV/Gg. Maju Tengah No. 18, Medan
Telepon / HP : 08126328916

A. Riwayat Pendidikan
Jenjang Nama Perguruan Kota/ Negara Tahun Lulus
SD SD UPTB pemali Bangka, Indonesia 1975
SMP SMP UPTB pemali Bangka, Indonesia 1979
SMA SMA Negri 508 Sungailiat, Indonesia 1982
S1 Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 1987
Indonesia
S2 Michigan State University East Lansing, USA 1993
S3 Institut Pertanian Bogor Bogor, Indonesia 2001

B. Pengalaman Penelitian Dalam 5 Tahun Terakhir


No Tahun Judul Penelitian
1 2012-2013 Pengembangan biofungisida ramah lingkungan berbasis
bakteri.
2 2012 Peran fungi pada serasah daun Rhizophoramucronata yang
mengalami dekomposisi sebagai penghasil pakan guna
peningkatan kesadaran masyarakat untuk menanam mangrove
3 2013-2014 Pemanfaatan fungi sebagai bioindokator tingkat pencemaran
logam berat tembaga (Cu) dan timbal (Pb) pada mangrove
Avicennia marina.
4 2014-2015 Peluang pemanfaatan mikroba keratinolitik pendegradasi bulu
ayam untuk menghasilkan protein tercerna yang murah
5 2015 Fungi sebagai bioindikator tingkat pencemaran logam berat
tembaga (Cu) dan timbal (Pb) pada mangrove Rhizophora
mucronata
6 2015 Eksplorasi dan pengembangan bakteri asam laktat isolat lokal
Sumatera Utara sebagai biokontrol bakteri patogen pada
budidaya ikan air tawar.
7 2016 Studi lapangan potensi mikroba lokal dalam mengendalikan
jamur penyakit tanaman untuk pembuatan biofungisida.
14
15
16
17
18
19

JUSTIFIKASI ANGGARAN

1. Peralatan Penunjang
Material Justifikasi Volume Harga Jumlah Biaya
Pemakaian Satuan (Rp)
Petridisk Uji Antimikrob 30 buah 22.000 660.000
Erlenmeyer 100ml Pembuatan 20 buah 40.000 800.000
Media
Erlenmeyer 250ml Pembuatan 5 buah 45.000 225.000
Media
Erlenmeyer 500ml Pembuatan 5 buah 50.000 250.000
Media
Tabung Reaksi Tempat media 50 buah 10.000 500.000
Rak Tabung Reaksi Tempat alat 3 buah 15.000 45.000

Pipet serologi 1 ml Pempipetan 1 buah 25.000 25.000


Suspensi
Bakteri Uji
Pipet serologi 10 ml Pempipetan 1 buah 30.000 30.000
Suspensi
Bakteri Uji
Bunsen Sterilisasi 2 buah 20.000 40.000
Kerja
Pinset Uji Antimikrob 1 buah 10.000 10.000

Spayer Sterilisasi 1 buah 20.000 20.000


Kerja
Ose lurus Alat inokulasi 2 buah 10.000 20.000

Ose bengkok Alat inokulasi 2 buah 10.000 20.000

Gelas ukur 10 ml Tempat media 1 buah 15.000 15.000

Gelas ukur 100 ml Tempat media 1 buah 75.000 75.000

Spatula Alat 2 buah 12.000 24.000


penuangan
media
Batang pengaduk Pengadukan 2 buah 15.000 30.000
media
Tip 10 µl Uji Antimikrob I pak 200.000 200.000
20

Tip 100 µl Uji Antimikrob 1 pak 220.000 220.000

Tip 1000 µl Uji Antimikrob 1 pak 250.000 250.000

Pipet Pump 1 ml Alat Pemipetan 3 buah 22.000 66.000

Pipet Pump 10 ml Alat Pemipetan 3 buah 25.000 75.000

SUB TOTAL 3.600.000

2. Bahan Habis Pakai


Material Justifikasi Volume Harga Jumlah
Pemakaian Satuan Biaya (Rp)
Minyak Karo Sampel uji 3 botol 150.000 450.000
Isolat Staphylococcus Sampel Uji 1 isolat 300.000 300.000
aureus ATCC 29213
Mencit jantan Sampel Uji 20 ekor 19.000 380.000
NaCl 0,9 Fisiologis Pelarut 300 ml 100.000 100.000
DMSO Pelarut 100 ml 7.000/ml 700.000
Blank dish Uji 1 pack 400.000 400.000
Antimikrob
Cutton Swap steril UJi 3 bungkus 10.000 30.000
Antimikrob
Cling wap Sterilisasi 3 buah 20.000 60.000
Bahan
Mancis Sterilisasi 2 buah 2.000 4.000
Kerja
Aquadest Pelarut 20 liter 5.000/liter 100.000
media,
sediaan gel
Nutrien Agar (NA) Media 100 gram 4.500/ gram 450.000
Tumbuh
Bakteri Uji
Muller Hitton Agar Pengujian 250 gram 4.000/gram 1.000.000
(MHA) Antimikrob
Spiritus Sterilisasi 5 liter 15.000/liter 75.000
Kerja
Alkohol 96 % Sterilisasi 10 Liter 21.000/liter 210.000
Kerja
Alumunium foil Penutup 3 buah 24.000 72.000
media
21

Kapas Penutup 1 bungkus 22.000 22.000


media
Anthis Sterilisasi 4 buah 18.000 72.000
Kerja
Handwash Sterilisasi 2 buah 15.000 30.000
alat
SUB 4.455.000
TOTAL

3. Perjalanan
Material Justifikasi Volume Hagra Jumlah Biaya
Perjalanan Satuan (Rp) (Rp)
Berastagi Pengambilan 2 kali 200.000 400.000
Sampel
LIPI Pengiriman 1 kali 800.000 800.000
Sampel
SUB TOTAL (Rp) 1.200.000

4. Lain-lain
Material Justifikasi Volume Harga Satuan Jumlah
Perjalanan (Rp) Biaya (Rp)
Biaya Uji SEM Sewa uji 4 kali 300.000/sampel 1.200.000
Biaya Uji ASS Sewa uji 4 kali 150.000/sampel 600.000
Biaya Uji GC-MS Sewa uji 1 Kali 500.000 500.000
Sewa Kerja di Lab. Uji 3 kali 150.000 450.000
Mikrobiologi Antimikrob
Biaya print Administrasi 8 kali 15.000 120.000
SUB TOTAL 2.870.000
TOTAL BIAYA 12.125.000
22

Susunan Organisasi Tim Kegiatan dan Pembagian Tugas


No Nama / NIM Progran Bidang Ilmu Alokasi Uraian Tugas
Studi Waktu
(jam/minggu)
1 Jesica sitorus Biologi Mikrobiologi 3 Bulan - Pengambilan
Sampel
-Uji Antimikrob
dari Minyak
Karo
- Analisa Data
2 Sry Rahayu Novita Biologi Fisiologi 3 Bulan - Pemberian
Panjaitan Hewan Perlakuan pada
Mencit
-Pemberian
Minyak Karo
terhadap Luka
Mencit
- Analisa Data
3 Santa M. Sitanggang Biologi 3 Bulan -Pengamatan
penyembuhan
- Penutupan
Luka Mencit
- Analisa Data
23

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Jl. Dr. T. Mansyur No. 9 Kampus USU Padang Bulan Medan
Telp. (061) 8223583 Fax (061) 8223583
Medan - 20155

SURAT PERNYATAAN KETUA PENELITI/PELAKSANA

Yang bertandatangan dibawah ini :


Nama : Jesica Sitorus
NIM : 150805044
Program Studi : Biologi (S-1)
Fakultas : Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Dengan ini menyatakan bahwa proposal PKM-Penelitian saya dengan judul


Potensi Minyak Tradisional Khas Suku Karo Sebagai Antimikroba dan
Penyembuh Luka Pada Mencit Jantan (Mus musculus L.) yang diusulkan
untuk anggaran 2018 bersifat original dan belum pernah dibiayai oleh
lembaga atau sumber dana lain.

Bilamana di kemudian hari ditemukan ketidaksesuaian dengan pernyataan


ini, maka saya bersedia dituntut dan diproses sesuai dengan ketentuan yang
berlakudan mengembalikan seluruh biaya penelitian yang sudah diterima ke kas
negara.
Demikian pernyataan ini dibuat dengan sesungguhnya dan dengan sebenar-
benarnya.

Medan, 11 November 2017


Wakil Dekan I FMIPA USU Yang menyatakan,

(Dr. Nursahara Pasaribu, M.Sc) (Jesica Sitorus )


NIP. 19630123199032001 NIM. 150805044
24