Anda di halaman 1dari 11

DIROSAH IBNU KHUZAIMAH

MATA KULIAH : HADITS VI DOSEN :DR. Ahmad Qusayri, MA

Disusun Oleh :
Hendy Arsantini (15011023)
Kusnul Khotima Wakhit (15011018)
Zeelin Amalia Hasanah (15010939)

SEKOLAH TINGGI ILMU USHULUDDIN


DAARUL HIKMAH BEKASI
TAHUN AJARAN 2017/2018

1
DAFTAR ISI

I. DAFTAR ISI …………………………………………….……..…………… 2


II. PENDAHULUAN ……………………………………………………… 3
III. PEMBAHASAN ……………………………………………………… 4

III.I Dirosah Shohih Ibnu Khuzaimah


a. Nama Lengkap “Shahih Ibnu Khuzaimah” ……………………….. 4
b. Perawi Buku “Shahih Ibnu Khuzaimah” …………………………… 6
c. Metode Penulisan dan Pembahasan ……………………………… 6
d. Studi Kritis Ibnu Khuzaimah dalam Hadits ……………………… 6
e. Kedudukan Ilmiyah Shahih Ibnu Khuzaimah …………………….. 7
f. Perhatian Ulama terhadap Buku “Shahih Ibnu Khuzaimah” .. 8
g. Contoh Hadits-Hadits Shahih Ibnu Khuzaimah ………………… 9

IV. PENUTUP ……………………………………………………………………………11

V. DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………. 12

BAB II
PENDAHULUAN

Usaha dan jerih payah ulama dalam mengkodifikasikan hadits-hadits nabi Muhammad
SAW, merupakan sumbangan khazanah ke-Islaman terbersar yang bisa dinikmati oleh generasi-
2
genarasi berikutnya dalam upaya memahami pesan nabi Muhammad SAW sesuai dengan apa
yang beliau maksudkan.
Dari sekian buku hadis yang dikumpulkan dan dibukukan oleh para ulama, ada buku
hadits yang sering kita dengar sebutannya, yaitu SahīhIbn Khuzaymah. Meskipun demikian,
biografi pengaranganya, informasi apa yang terkandung dalamnya, bagaimana metode
penulisannya, dan hal-hal yang berkaitan dengan buku hadits tersebut masih asing ditelinga kita.

Untuk itu kami pemakalah akanberusaha untuk mengenal lebih jauh tentang Sahīh Ibn
Khuzaymah danserta apa yang termaktub di dalamnya, agar karya besar seperti ini bisa lebih
bermanfaat bagi kita khususnya.

BAB III

PEMBAHASAN

3
III.I Dirosah Shahih Ibnu Khuzaimah

a. Nama Lengkap “Shahih Ibnu Khuzaimah”

Nama asli dari Shahih Ibnu Khuzaimah adalah :“Mukhtasorul Mukhtashori minal Musnad
al Shahih ‘anin Nabi Sholallahu ‘alaihi wassalam”, sebagaimana dikatakan oleh al-Khalili (w. 446
H/1054 M)dalam “al-Irsyad” perawi yang paling terakhir meriwayatkan dari Ibn Khuzaimah di
Naisabur (cucunya yang bernama Muhammad bin al-fadl) dia meriwayatkan buku Ibn
Khuzaimah.

Dan juga dikatakan oleh al-Baihaqi (w. 456 H/1066 M)dalam “Sunan al-Kubra”
diriwayatkan oleh Muhammad bin Khuzaimah dalam “Muktasharul Mukhtasahari….”. dan
dengan nama ini juga Adz-Dzahabi menyebutkannya dalam “Siyaru A’lami an Nabula”, dia
berkata; kami juga mendengar “Mutktasharul Mukhtasari…..”.

Adapun al-Khatib al Baghdadi tidak menyebutkan nama seperti ini kepada kita, namun
hanya menyebutkan apa yang berhak untuk didahulukan didengar, beliau berkata; “……. Yang
paling berhak didahulukan adalah kitab al Jami’ dan al Musnad al Shaihain yang ditulis oleh
Muhammad bin Ismail (al-Bukhari) danMuslim bin al Hajjaj al Naisaburi…”.Dan kitab
Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah al Naisaburi yang dipersyaratkan olehnya hanya hadits
yang tersambung silsilah sanadnya yang diriwiyatkan oleh seorang perawi yang ‘adil dari perawi
yang ‘adil sampai kepada Nabi Saw.

Begitu juga Ibn Sholah menyebutkan : “kitab ini adalah buku yang ditulis berdasarkan
apa yang di persyaratkan oleh penulisnya untuk mengumpulkan hadits shahih, seperti buku
yang ditulis oleh Ibnu Khuzaimah.”

Namun akhir-akhir buku ini mulai dikenal dengan nama “Shahih Ibn Khuzaimah” dan
nama ini digunakan oleh al Mundziri dalam buku yang dia tulis “al Targhib wa at Tarhib”, dia
berkata; “sesungguhnya buku “shahih Ibn Khuzaimah hanyalah seperempat yang pertama
saja…”. Begitu juga al Turkumani berkata; “Oleh karena itu Abu Bakar bin Khuzaimah

4
mengeluarkan dalam buku “Shahihnya”. Dan juga al Zaila’ie dalam kitab “Nasbu al Royah”
menamakannya dengan “Shahih Ibn Khuzaimah” dengan nama ini juga, Ibnu Hajar, Imam
Suyuthi dan Ibn Fahd menamakannya.

Kitab hadis karya Ibn Khuzaymah yang lebih dikenal dengan sebutan SahīhIbn
Khuzaymah adalah nama popelernya. Akan tetapi jika kita melihat dari pernyataan Ibn
Khuzaymah sendiri, bahwa nama kitab ini aslinya adalah Mukhtashar al-Mukhtashar min al-
Musnad al-Sahīh an an-Naby Salla Allah ‘alaihi wa Sallam.
Dari nama kitab ini, maka jelaslah bagi kita, bahwa kitab ini adalah ringkasan dari
Musnad al-Kabīr. Hal ini terbukti dari beberapa pernyataan Ibn Khuzaymah di antarnya:
Dalam Kitāb at-Tauhīd Ibn Khuzaymah memberi isyarat dengan perkataanya:
((‫))خرجته بطوله في كتاب الصدقات من كتاب الكبير‬
“saya menguraikan hadis ini dengan panjang dalam bab as-Shadaqāt dari kitab al-Kabīr”.
Dalam kitab Sahihnya, Ibn khuzaymah menyebutkan nama kitabnya Al-Musnad al-Kabīr
berulang kali, seperti pernyataannya:
((‫))وسأبين هذه المسئلة بتمامها فى كتاب الصلةا فى المسند الكبير ل المختصر‬
“saya akan menjelaskan secara lengkap pada bab as-Shalāt dalam al-Musnad al-Kabīr, bukan
al-Mukhtasar”.
((‫))قد خرجت هذا الباب بتمامه فى كتاب الصلةا من كتاب الكبير‬
“saya menguraikan bab ini dengan luas dalam bab as-Shalāt dari kitab al-kabīr”

Dari beberapa pernyataan di atas jelaslah bagi kita, bahwa SahīhIbn Khuzaymah hanyalah
nama populernya saja, bukanlah nama asli dari kitab yang dikarang oleh Ibn Khuzaymah. Oleh
karena kitab SahīhIbn Khuzaymah adalah merupakan kitab ringkasan dari kitab al-Musnad al-
Kabīr, maka kita akan menemukan hadis-hadis yang ditulis Ibn Khuzaymah belum sempurna,
bahkan kadang-kadang beliau menambahkan sesuatu yang menurut beliau cocok dan bisa jadi
tambahan tersebut beliau ambil dari buku “al-muktashar”, seperti:
Dalam jilid pertama halaman 79, Ibn Khuzaymah menulis:
‫ يعني الماء – وص ك‬- ‫)) ثم أخذ بيمينه‬
((‫وذكر الحديث‬...‫ك بها وجهه‬

Ada juga hadis yang hanya beliau sebutkan tengahnya saja, seperti hadis Umran bin
Hushain dalam perjalannanya bersama Rasul SAW, ketika Rasul dan para sahabatnya tertidur
dan meninggalkan shalat subuh;
(( ‫ )) فما أيقظنا إل حر الشمس‬:-‫رضي ا عنه‬- ‫يقول عمران‬
5
b. Perawi Buku “Shahih Ibnu Khuzaimah”

Pada lembaran cover manuskrip buku ini tidak didapatkan petunjuk bahwa buku ini
disandarkan (bersanad) kepada penulis (Imam Ibnu Khuzaimah), namun beberapa terdapat
sanad yang terulang-ulang disebutkan dalam buku ini.

c. Metode Penulisan
Metode atau sistematika penulisan Sahih Ibn Khuzaymah sebenarnya dengan metode
imla’ (dikte) kepada para muridnya, hal ini bisa kita temukan dalam beberapa buku yang di
susunnya selalu mengulang-ngulang “Aku mendikte” sebagai mana dalam pernyataan Ibn
Khuzaymah, di antaranya: dalam Kitab at-Tauhid,
((‫))قد أمليته في كتاب اليمان‬, dalam kitab Sahīh, ((‫…))أمليت فى أول كتاب الصلةا‬,
Selanjutnya jika kita runut dalam pernyataanya yang termaktub dalam kitabnya
Mukhtashar al-Mukhtashar min al-Musnad al-Sahīh an an-Naby Salla Allah ‘alaihi wa Sallam,

d. Study Kritis Ibnu Khuzaimah dalam Hadits


Imam Ibn Khuzaymah memberikan persyaratan ketika memasukkan hadits dalam penulisan
kitabnya, yaitu:
1. Sanad bersambung sampai kepada Nabi SAW, tanpa ada keterputusan ditengah
2. Diriwayatkan oleh perawi yang adil sampai Nabi SAW.
3. Tidak ada cela pada perawi.
Namun beliau juga memasukkan hadits yang menurut beliau ada keraguan, apakah si
perawi memang mendengar langsung dari perawi atasnya (gurunya) atau perawi tersebut tidak
diketahui keadilannya dan celaannya, dengan disertai penjelasan dari beliau. Sebagai contoh :
Beliau berkata: “Aku mengecualikan khabar ini, karena takut bahwa Muhammad bin
Ishaq tidak mendengar langsung dari Muhammad bin Muslim, namun dia mentadlis 1 hadits ini
darinya.
Beliau juga menjelaskan: “ Ibnu Lahi’ah bukan termasuk yang meriwayatkan haditsnya
dalam kitab ini, karena dia termasuk yang menyendiri (gharib) dalam periwayatannya”. Beliau
juga menjelaskan: di dalam lafadz hadits yang disebutkan ada Muhammad bin Ja’far.

1
Tadlis: Seorang perawi tidak mendengar langsung dari gurunya/perawi yang dia riwayatkan haditsnya, namun
perawi tersebut menggunakan kalimat yang memberi pengertian seakan-akan dia mendengar langsung dalam
penulisan hadits.
6
Beliau juga menjelaskan: “Aku tidak menghalalkan bagi seorangpun untuk meriwayatkan
khabar dariku dengan bentuk (shigat) seperti ini, karena pada sanad ini maqlub 2. Beliau juga
menjelaskan: “Didalam sanad hadits ini terdapat sesuatu.”
Sehingga pentahqiq mengatakan: ““Sesungguhnya Shahīh Ibn Khuzaymah tidaklah
seperti Shahīh Bukharī dan Muslim, karena didalamnya terdapat hadis shahih, hasan, dhaīf dan
hampir tidak ditemukan hadits yang sangat dhaīf. Hal ini akan lebih jelas lagi bagi orang yang
mau meneliti kitab ini.
Meskipun demikian, perbandingan antara dhaīf dan shahih tidak sepadan, sehingga
seakan-akan tidak ditemukan hadis dhaīf dalam SahīhIbn Khuzaymah.

e. Kedudukan Ilmiyah Shahih Ibnu Khuzaimah


Ahmad Syakir berkata, para ulama di bidang ini telah memberikan susunan tingkatan
ketiga buku ini yang mana para penulisnya berkomitmen hanya memasukkan hadits shahih saja
didalamnya, yaitu buku Hadits Shahih setelah buku Shahihain Bukhari dan Muslim, ketiga buku
dibawah ini merupakan buku yang sangat penting, yaitu :
1. Shahih Ibn Khuzaimah
2. Shahih Ibn Hibban
3. Al-Mustadrok ‘ala Shahihain
Ibnu Sholah menjelaskan buku yang dapat diambil manfaatnya oleh para pencari hadits
untuk mengambil tambahan hadits shahih atas apa yang ada dalam kitab shahihain. Dia berkata:
“Dan cukup jika hadits terdapat dalam sebuah kitab yang dipersyaratkan penulisnya tidak
memasukkan dalam kitab tersebut kecuali hadits shahih seperti kitab yang ditulis oleh
Muhammad bin Ishaq Khuzaimah”.
Al-Hafidz al Iraqi dalam Syarh Alfiyah al Iraqi,berkata: “Dan hadits shahih diambil juga
dari buku-buku yang khusus mengumpulkan hadits shahih saja, seperti buku “Shahih Abu Bakar
Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah”.
Imam Suyuthi berkata: “Shahih Ibnu Khuzaimah lebih tinggi derajatnya dari shahih Ibnu
Hibban, karena Ibn Khuzaimah sangat ketat dalam persyaratannya, sehingga beliau akan berhenti
untuk menjadikan sebuah hadits menjadi shahih karena rendahnya perkataan dalam silsilah
sanad. Dia berkata; “ Jika khabar ini shahih” atau “ Jika terbukti begitu”.

2
Maqlub: Sanad dan matan khabar yang terbolak-balik.
7
f. Perhatian Ulama Tehadap buku “Shahih Ibnu Khuzaimah”
Buku “Shahih Ibnu Khuzaimah” sangatlah penting dan berharga bagi Ulama dan para penuntut
ilmu juga kaum muslimin, karena didalamnya terdapat hadits-hadits Rasulullah SAW yang
merupakan salah satu rujukan utama dari aturan hidup bagi kaum muslimin, sehingga para
Ulama berusaha menjaga buku ini dari kepunahan, dan diantara usaha tersebut adalah:
1. Dibuatkan Mustakhraj3 Ibnu Khuzaimah
Al-Katani berkata: Kitab “al-Muntaqo yaitu “al-Mukhtar mina al Sunan”… merupakan
Mustakhraj atas shahih Ibnu Khuzaimah. Tapi jika kita komparasikan diantara kedua
buku ini kita tidak dapatkan adanya persamaan.
2. Dibuatkan biografi perawi Shahih Ibnu Khuzaimah
Ibn al-Muqin (804H) menyusun buku “Mukhtasar Tahziibi al-Kamal” dengan tambahan
perawi Kutubbus Sittah (Musnad Ahmad, Shahih Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Hibban,
Mustadrok al-Hakim, Sunan ad-Daruquthni dan Sunan al-Baihaqi).
3. Dibuatkan Athraf
Ibnu Hajar menyusun buku “Ithaf al-Mahroh bi Athraf al Asyrah” yaitu al-Muwatha’,
Musnad Syafi’I, Musnad Ahmad, Sunan ad-Darimi, Shahih Ibnu Khuzaimah, Muntaqo
Ibnu al-Jarud, Shahih Ibnu Hibban, al-Mustakhraj Ibnu ‘Awanah, al-Mustadrak al-Hakim,
Syarh Ma’any al-Atsar Thahawi, dan Sunan ad-Daruquthni.
4. Mencetak buku Shahih Ibnu Khuzaimah
Salah satunya dicetak beberapa kali oleh al-Maktab al-Islami Riyadh Saudi Arabia
dengan tahqiq Dr. Muhammad Mustofa al-A’Zhami, cetakan terkahir pada tahun 1424 H.

g. Penilaian beberapa ulama :


1. Ibnu Hibban (w. 354 H/965 M) berkata: “aku tidak menjumpai seorang pun dimuka
bumi ini yang sangat bagus menyusun kitabnya selain Muhammad bin Ishaq (Ibnu
Khuzaimah)….”
2. Al Khatib al Bagdadi (w. 463 H/ 1072 M) dan Ibnu Shalah (w. 63 H/ 1245 M), mereka
memberikan komentar yang senada; menyatakan bahwa kitab Ibnu Khuzaimah telah
memenuhi criteria sebagai kitab koleksi hadis shahih.
3. Ibnu Ktsir (w. 774 H/ 1373 M) menyatakan bahwa Shahih Ibnu Khuzaimah….lebih
baik dari pada al Mustadrak karya al Hakim.

3
Mustakhrajat: buku hadits yang didalamnya dikumpulkan hadits-hadits oleh seorang penulis yang hadits-
haditsnya diambil dari sebuah buku hadits bersanad (seperti Shahih Bukhari) dengan disertai sanad penulisnya
walaupun tanpa memperhatikan ke Tsiqohan perawi selain sanad dari buku hadits yang diambil (Shahih Bukhari),
dan sanad penulis tersebut akan bertemu pada gurunya, atau guru dari gurunya atau yang diatasnya lagi walaupun
hanya bertemu pada seorang sahabat (perawi paing atas) dari buku hadits bersanad tersebut.
8
4. Ahmad Syakir, menyatakan bahwa shahih Ibnu Khuziamah….merupakan kitab yang
sangat penting setelah Shahih al Bukhari dan Shahih Muslim, karena memuat hadis
Shahih.

Catatan Penting dan Faedah SahīhIbn Khuzaymah


Ada beberapa faedah yang membuat Sahīh Ibn Khuzaymah mendapat perhatian dari para
pembacanya, di antaranya :
 Dalam setiap bab Ibn Khuzaymah meng-istinbath hukum-hukum fikh, hal ini mirip dengan
apa yang dilakukan Bukhari, kemudian ia meng-ikutsertakan beberapa hadits, hal inilah
yang membuat Ibn Khuzaymah dijuluki ahli fikih yang punya perhatian terhadap bahasa.
Konstruk hukum yang ia keluarkan bersandar dengan beberapa dalil yang ia ambil dari kitab
itu sendiri.
 Memberi komentar (ta’līq) kepada beberapa hadis, ada kalanya menginterprestasi lafadz
yang gharīb, atau menjelaskan makna yang samar
 Mengkomparisikan dua riwayat yang secara zahir tampak bertentangan.
 Menyebutkan nama perawi dengan jelas, jika di dalam isnad ditemukan perawi yang hanya
dengan sebutan kunyah, julukan, atau menyebutkan namanya saja dengan tanpa nasab.
 Menta’dil dan menjarh sebagian para perwai.
 Menolak hadis mudallas yang diriwayakan dengan sighat ‘an’anah, hadis yang
diriwayatkan oleh para perawi yang dhaif, hadis yang teksnya oleh sebagian perawi tidak
didengar dari orang lain.
 Menjelaskan ‘ilal yang samar dalam beberapa hadis, dan sanad yang maqlūb.

h. Sistematika penulisan :
Kitab yang dikaji terdiri dari 4 Jilid dan 7 Kitab, yaitu:
1. Kitab al Wudhu’(Thaharoh)
2. Kitab al Shalah
3. Kitab al Imamah fi al Shalah
4. Kitab al Jum’ah
5. Kitab al Shiyam
6. Kitab al Zakah
7. Kitab al Manasik

9
PENUTUP

Khazanah ke-Islaman sekaligus penjaggan terhadap peninggalan Nabi Muhammad SAW,


ternyata tidak ada hentinya.
Imam Ibnu Khuzaibah adalah salah satu dari deretan ulama yang sangat peduli kepada
sunnah nabi Muhammad SAW yang terbukti dengan karya-karya beliau yang masih ada saat
ini.,yang selalu di jaga oleh ulama-ulama sepeninggal beliau agar tidak punah,karena buku
“Shahih Ibnu Khuzaimah” sangatlah berharga bagi ulama dan para penuntut ilmu juga kaum
Muslimin. Tanpa keperdulian mereka tentu kita tidak bisa merasakan karya beliau.

DAFTAR PUSTAKA

https://ahmadsuhendra.wordpress.com/2008/12/13/kitab-shahih-ibnu-khuzaimah/

10
http://belantarailmu.blogspot.co.id/2012/04/makalah-kitab-sahih-ibn-khuzaymah-dan.html

QIBS MEDIA PUBLISHING QII ISLAMIC BOOK’S STORE

11