Anda di halaman 1dari 10

PANDANGAN GEREJA KATOLIK

TERHADAP EUTANASIA

ABSTRAK

Membunuh, secara moral, tidak pernah diizinkan. Hidup manusia dipercaya sebagai anugerah
Tuhan. Ciptaan tersebut haruslah dijaga, dirawat, dan terlebih harus disyukuri. Dalam perintah ke
lima dari Dekalog dengan jelas dinyatakan: “Jangan Membunuh”. Tuhanlah berkuasa mutlak atas
hidup manusia.
Tradisi pemikiran moral memuat tiga kekecualian dalam kasus pembunuhan. Pertama: membunuh
dalam pembelaan diri. Saya boleh menyerang orang yang menyerang saya, bila hal itu perlu.
Kedua: membunuh dalam keadaan perang. Anggota angkatan bersenjata boleh membunuh anggota
angkatan bersenjata musuh, dalam aksi medan pertempuran. Ketiga: hukuman mati. Kekecualian
yang ketiga ini, sekarang banyak dipersoalkan, semakin banyak orang menganggapnya tidak etis.
Karena itu, hukuman mati diperjuangkan untuk dihapuskan dari Kitab Hukum Pidana di negara
yang memilikinya.
Selain tiga kekecualian tersebut, dekade-dekade terakhir ini terdengar semakin banyak suara yang
mendukung supaya eutanasia dimasukkan menjadi kekecualian yang keempat. Eutanasia yang
dimaksud adalah pengakhiran kehidupan pasien terminal dengan sengaja oleh dokter atas
permintaan pasien sendiri. Biasanya mereka yang memperjuangkan legalisasi eutanasia serentak
mendukung legalisasi bunuh diri berbantuan.[1]

Tuntutan legalisasi eutanasia adalah masalah yang masih aktual hingga sekarang. Terdapat
beberapa organisasi yang memperjuangkan legalisasi tersebut. Dapatkah Gereja menerimanya?
bebaskah manusia melakukannya? Manusia adalah makhluk yang mempunyai kebebasan tetapi
kebebasan itu terbatas. Hidup dan mati tidak pernah diterima sebagai wewenang manusia,
melainkan wewenang mutlak Allah. Perkembangan dunia kedokteran yang sangat pesat dengan
penemuan hal-hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya seperti pencangkokan organ tubuh,
membuat manusia seolah berkuasa mutlak menentukan kehidupannya.

I. HANTARAN UMUM

1. Terminologi

Istilah eutanasia berasal dari bahasa Yunani yakni eu (baik) dan thanatos (kematian). Euthanato
berarti aku menjalani kematian dengan layak, baik. Euthanatos (kata sifat) berarti mati dengan
mudah, kematian tanpa penderitaan, kematian bahagia.[2]

Dewasa ini, arti asli tersebut sering dilupakan. Kematian sering merupakan intervensi kedokteran
yang mengurangi rasa sakit atau pergumulan dengan kematian dan kadang–kadang ada bahaya
mengakhiri hidup sebelum waktunya. Karena itu, eutanasia sering diartikan sebagai pembunuhan
karena belas kasihan. Dengan itu membunuh anak-anak dengan cacat kelahiran, orang sakit yang
tak tersembuhkan, dan orang sakit jiwa, dianggap sah. Tanpa tindakan tersebut, penderitaan
berlangsung terus dan dapat terlalu membebani keluarga dan masyarakat.[3]
2. Sejarah Perkembangan[4]

Istilah eutanasia sudah digunakan sejak zaman Yunani Romawi Antik. Berikut ini dipaparkan
pengertian-pengertian dari eutanasia menurut waktu-waktu tertentu.

2.1 Di lingkungan Kebudayaan Yunani Romawi Antik

a. Posidippos (300 thn SM) mengatakan bahwa dari apa yang diminta manusia

kepada para dewa, tiada sesuatu yang lebih baik dari pada kematian yang baik.

b. Suetonius memberitahukan bahwa Augustus mendapat kematian yang mudah seperti yang
selalu diinginkannya. Hal itu dikatakannya karena ia hampir selalu mendengarnya meminta
supaya mati dengan cepat tanpa penderitaan bila mendengar orang lain mati demikian.[5]

c. Cicero memakai istilah eutanasia dalam arti kematian penuh kehormatan, kemuliaaan dan layak.

d. Gagasan yang salah pada zaman stoa yaitu anjuran Saneca yang mengatakan lebih baik mati
dari pada sengsara merana.

2.2 Zaman Renaisance

a. Francis Bacon

Dalam bacaan “Nova Atlantis”, Francis Bacon mengajukan gagasan eutanasia Medica Isinya
adalah dokter hendaknya memanfaatkan kepandaiannya bukan hanya untuk penyembuhan,
melainkan juga untuk meringankan penderitaan menjelang kematian. Ilmu kedokteran disapa
dengan gagasan eutanasia untuk membantu orang yang menderita di waktu akan meninggal dunia.
b. Thomas Morus

Dalam The Best Form Of Goverment and The new Island of Utopia, Thomas Morus menguraikan
gagasan “mengakhiri kehidupan yang penuh sengsara secara bebas dengan berhenti makan atau
dengan racun yang membiuskan”.

2.3 Abad XIX-XX

Karl Binding (ahli hukum pidana) dan Alred Hoche (psikiater) membenarkan eutanasia sebagai
pembunuhan hidup bagi orang yang dianggap tidak pantas hidup. Hitler dengan penandatanganan
“Aktion T 4” tahun 1939 membenarkan propaganda agar negara mengakhiri hidup orang yang tak
berguna (orang cacat, sakit, gila, dan jompo). Pada saat ini, korban kekejaman Hitler ini mencapai
70.000 jiwa.
2.4 Dalam Dokumen Gereja

a. Kongregasi Ajaran Iman 5 Mei 1980

Kongregasi Ajaran Iman mengartikan Eutanasia sebagai tindakan atau pantang tindakan yang
menurut hakikatnya atau dengan maksud sengaja mendatangkan kematian, untuk dengan demikian
menghentikan setiap rasa sakit. Jadi, eutanasia dilihat pada taraf intensi dan juga metode yang
dipakai.[6]

b. Paus Pius XII

Dalam amanatnya tanggal 24 Februari 1957, kepada para dokter dan para ahli bedah mengenai
analgensi, mengatakan bahwa setiap bentuk eutanasia direk adalah tidak halal. Eutanasia direk
yang dimaksud adalah pemberian penawar rasa sakit dengan sengaja mendatangkan atau
mempercepat kematian. Kematian itu sendiri merupakan tujuan.[7]
3. Pengertian

Eutanasia oleh banyak orang atau kelompok sering diartikan secara berbeda-beda. Sampai
sekarang, belum ada defenisi yang defenitif. Oleh karena itu, dalam makalah ini pengertian yang
dipakai adalah pergertian yang dikeluarkan oleh Kongregasi Ajaran Iman: yaitu “tindakan atau
pantang tindakan yang menurut hakikatnya atau dengan maksud sengaja mendatangkan kematian,
untuk dengan demikian menghentikan setiap rasa sakit”.

4. Bentuk- Bentuk Eutanasia dan Penilaian Moralnya

4.1 Eutanasia direk[8]

Dalam eutanasia direk yang dituju adalah kematian itu sendiri. Dengan itu, melakukan tindakan
mengakhiri hidup. Eutanasia direk tidak dibenarkan karena dianggap melampaui wewenang
manusia. Bentuk eutanasia ini bisa bersifat aktif (tindakan) dan bisa bersifat pasif (pantang
tindakan, kelalaian), yang dari sudut moral sama-sama keluar dari keputusan kehendak yang
positif yakni aku mau mematikan (aktif) dan aku mau lalai, membiarkan dia mati (pasif). Kedua
tindakan tersebut harus dipertanggungjawabkan.

Penilaian moral terhadap eutanasia direk ditegaskan: bahwa tidak seorang pun dapat dengan cara
apa pun memberikan izin untuk mematikan manusia yang tak bersalah, entah itu fetus atau
embrio, anak atau dewasa atau lanjut usia, entah karena penyakit yang tak tersembuhkan, atau
entah berada dalam sakratul maut.

Selain itu, tak seorangpun dapat meminta tindakan mematikan untuk diri sendiri dan untuk orang
lain yang dipercayakan kepadanya dan bahkan orang tidak dapat menyetujuinya. Adakalanya,
pasien karena penderitaan yang tak terelakkan meminta intervensi kedokteran atas hidupnya.
Memang sulit menerima bahwa seseorang dapat meminta orang lain untuk membunuh dia
walaupun dia mempunyai otonomi. Permintaan seperti itu adalah kontradiksi karena
menghancurkan dirinya sendiri. Kesulitan lebih besar ada pada orang yang diminta tersebut karena
diminta melakukan kuasa yang tidak mungkin diterimanya. Meminta dokter untuk mengakhiri
hidup, berarti memberinya kuasa absolut atas hidup. Padahal, dokter tidak dapat menerima kuasa
sebesar itu.[9] Juga tidak ada satu otoritas pun yang dapat secara legitim memerintahkan atau
mengizinkannya. Eutanasia merupakan pelanggaran hukum Ilahi, perkosaan martabat manusia,
kejahatan melawan hidup, sedurhakaan terhadap umat manusia.[10]

Penderitaan yang tak terelakkan tidak meringankan penggunaan eutanasia. Apapun alasannya,
eutanasia tidak dapat dibenarkan. Penderitaan memang merupakan an evil. Sebagai jalan keluar,
kita tidak dapat mengusir evil dengan memasukkan evil yang lebih besar lagi. Itulah yang terjadi
bila dalam masyarakat diizinkan satu orang membunuh yang lain. Bagaimanapun, penderitaan
merupakan bagian tak terpisahkan dari hidup manusia.[11]

Eutanasia bukanlah urusan antara pasien dengan dokternya yang tidak mempunyai dampak ke
luar, tidak bisa hanya merupakan privat killing. Eutanasia adalah perbuatan sosial karena
sekurang-kurangnya melibatkan dua orang, terlebih karena dokter sebagai seorang profesional.
Eutanasia tidak boleh diisolasikan dari masyarakat. Setiap pembunuhan mempunyai dampaknya
terhadap seluruh umat manusia yang tidak dapat dilepaskan dari gagasan “membunuh seseorang
sama dengan membunuh semua manusia”.[12]

n tersebut adalah baik tetapi efek sampinganya buruk. Menurut ajaran moral katolik, tindakan
duplex effectus dapat dibenarkan asal memenuhi tiga syarat[14]:

a. Tujuan yang baik tidak dicapai melalui efek yang buruk. Itu berarti bahwa penewasan pasien
tidak boleh menjadi sarana bagi pengurangan penderitaan. Tujuan yang baik pun tidak
menghalalkan sarana yang buruk.

b. Efek buruk dari tindakan (kematian pasien) tidak menjadi tujuan langsung tindakan (pemberian
narkotika); melainkan dibiarkan terjadi karena memang tidak dapat dielakkan apabila tindakan
demi pengurangan rasa sakit mau diberikan.

c. Alasan untuk mengambil tindakan ber-efek ganda itu harus cukup penting, misalnya: rasa sakit
memang tidak tertahankan lagi, sedangkan peredaannya hanya dapat tercapai melalui narkotika
yang mempunyai efek percepatan kematian itu.

Profesi kedokteran telah mencapai kemajuan besar. Penderitaan fisik dan nyeri bisa diatasi. Para
dokter menegaskan bahwa dengan pertolongan paliatif, nyeri sebagai masalah bagi pasien terminal
praktis selalu dapat diatasi. Itu adalah tugas profesional seorang dokter yang secara logis aneh
sekali, bila menghilangkan nyeri dengan membunuh.

II. PANDANGAN GEREJA KATOLIK ATAS EUTANASIA

1. Kecenderungan dewasa ini[15]


Kemajuan ilmu pengetahuan dewasa ini, memungkinkan orang untuk mencapai apa yang tidak
terpikirkan sebelumnya. Terkhusus dalam dunia kedokteran, perkembangan seolah menciptakan
manusia yang semakin berpusat pada diri sendiri dan semakin tertutup akan pengalaman yang
transendental. Faktor tersebut mempengaruhi pandangan akan kematian yang ditunjukkan oleh
ciri-ciri berikut:

a. Menghargai kehidupan sejauh membawa kesenangan dan kenyamanan. Penderitaan dilihat


sebagai kekalahan yang tak tertahankan, karena itu secara mati-matian harus dilenyapkan.
Kematian tampak sebagai yang “absurd” karena tiba-tiba memutus kehidupan yang terbuka bagi
masa depan, kaya akan pengalaman yang menarik. Kematian menjadi pembebasan yang dituntut
bila hidup dianggap tak berguna lagi karena diresapi derita.

b. Manusia mengingkari atau melupakan hubungan hakikatnya dengan Allah. Manusia merasa
bahwa dirinya sendirilah ukuran dan norma, menuntut hak, juga mengingini dari masyarakat agar
menjamin kemungkinan dan bentuk-bentuk agar dia dapat memutuskan kehidupannya dalam
otonomi sepenuhnya. ia merasa boleh bersikap demikian karena kemajuan medis dan prosedurnya
yang semakin maju. Dengan kemajuan sistem dan aparat mutakhir dan ilmu dan praktek
kedokteran saat ini, masalah-masalah yang dulu tak terpecahkan ditemukan pemecahannya,
meringankan atau meniadakan rasa sakit, juga mempertahankan dan memperpanjang hidup dalam
keadaan yang sangat lemah, re-animasi orang-orang setelah runtuhnya fungsi-fungsi dasar
biologis, demikian pula mengadakan intervensi dalam memperoleh organ untuk pencangkokan.

2. Eutanasia Melanggar Hukum Ilahi

Magisterium Gereja Katolik dengan tegas menyatakan bahwa eutanasia adalah bentuk
pelanggaran berat terhadap Hukum Ilahi. Hal ini diungkapkan sejauh menyangkut pematian
dengan sengaja pribadi manusia yang secara moral tidak dapat diterima. Tindakan eutanasia
mengandaikan kejahatan yang khas bagi bunuh diri dan pembunuhan. Eutanasia adalah
pelanggaran kriminal.[16]

2.1 Nilai Hidup Manusia[17]

Hidup manusia adalah dasar segala nilai sekaligus sumber dan persyaratan yang perlu bagi
kegiatan manusia dan juga untuk setiap hidup bersama dalam masyarakat. Perbedaan manusia dari
makhluk lain adalah manusia sebagai person. Kenyataan ini membuat manusia dapat mengalami
sapaan Tuhan Penciptanya. Manusia satu-satunya makhluk yang terbuka akan transendensi.
Karena itu, setiap manusia dikehendaki Allah dan tidak pernah dapat dipersaldokan dengan
pelbagai kepentingan.[18] Hidup manusia dianggap sebagai sesuatu yang sakral dan tak seorang
pun dapat sesukanya untuk memutuskannya. Mereka yang percaya kepada Kristus mengakui
hidup sebagai sesuatu yang luhur yaitu anugerah kasih Allah yang harus dipelihara.[19] Makna
hidup tidak tergantung dari keuntungan atau keberhasilan. Karena itu dapat disimpulkan:

2.1 Tak seorang pun dapat menyerang hidup yang tak bersalah, tanpa dengan itu melawan kasih
Allah dan dengan demikian melanggar hak mendasar yang tak dapat dicabut.[20]
2.2 Setiap orang harus menjalani hidupnya menurut rencana Allah. Hidup dipercayakan sebagai
nilai yang seharusnya berbuah di dunia, yang penuntasan penuh dan definitif diharapkan tercipta
dalam hidup abadi.

2.3 Bunuh diri juga pembunuhan tidak dapat dibenarkan karena tindakan demikian berarti
menolak kedaulatan Allah dan penyelenggaraan Ilahi-Nya yang penuh kasih

2.2 Makna Sakit, Mati dan Kematian

a. Sakit

Menurut ajaran kristiani, rasa sakit terutama ketika akan meninggal mendapat makna khusus
dalam rencana penyelamatan Allah. Penderitaan merupakan partisipasi dalam penderitaan Kristus
yang dihubungkan dengan kurban penebusan yang dikehendaki seraya taat pada kehendak Bapa.
[21] Namun tidak jarang hidup dibebani kekurangan kualitas berupa penderitaan. Penderitaan
memang bernilai positif, tetapi sering dirasakan sebagai beban.[22]

b. Mati dan kematian

Hidup mempunyai awal dan akhir. Segala sesuatu yang kita lakukan bersifat terbatas dan fana.
Tetapi walaupun terbatas dan fana, bukan berarti tidak tanpa arti.[23] Oleh karena itu, harus
diterima bahwa mati dan kematian ada dalam keterbatasannya. Keterbatasan itu, sebenarnya
bukanlah keburukan, melainkan sebagai pembebasan. Masalahnya sekarang adalah di mana
batasnya, kapan saatnya tiba? Manusia dewasa ini semakin mampu “menunda” saat kematian atau
dapat memperpanjang hidup.[24]

c. Larangan: Jangan Membunuh[25]

Kitab Suci, dasar iman, memuat larangan membunuh, lebih jelas terdapat pada Perintah Allah,
yaitu perintah kelima (Kel 20: 13 dan Ul 5:17): Jangan membunuh. Perintah in tidak pernah
dipakai untuk pembunuhan dalam perang atau untuk hukuman mati. Firman ini melarang untuk
merampas kehidupan dengan sengaja, dari seorang yang tidak bersalah, dan yang tidak memberi
perlawanan: “Jika seseorang memukul orang dengan benda besi supaya mati dan orang itu mati,
maka ia adalah seorang pembunuh”. Pembunuh akan dimatikan (Bil 35:16-18).

Pandangan KS PB terhadap pembunuhan kurang lebih sama dengan pandangan dalam PL.
Pembunuhan dianggap sebagai puncak kejahatan, seperti dikatakan dalam Surat Yakobus (Yak
5:5-6). Yakobus memperingatkan dengan keras orang-orang yang hidup dalam kemewahan… dan
berfoya-foya di bumi… yang menghukum, bahkan membunuh orang benar dan ia tidak dapat
melawan. Mereka adalah pembunuh karena merampas milik termasuk milik paling asasi, yakni
hidup orang-orang yang tidak bersalah dan tidak dapat membela diri. Firman: Jangan membunuh
membela hak manusia yang paling dasariah yakni hak atas hidup. Rasul Paulus dalam surat
kepada jemaat di Roma mengatakan : “Bila kita hidup, kita hidup, kita hidup bagi Tuhan, bila kita
mati, kita mati bagi Tuhan. Apakah kita mati atau hidup, kita adalah milik Tuhan (Rm. 14:8; bdk
Fil.1:20)

3. Hak Untuk meninggal Secara Normal[26]

Bila saatnya tiba, manusia mempunyai hak untuk meninggal dan menolak untuk “dipaksa” dengan
sarana luar biasa dan non-proporsional memperpanjang hidupnya secara biologis yang disertai
keadaan yang tidak sesuai dengan martabat manusia. Martabat manusia yang dimaksud, secara
fisik dan psikis yang memungkinkan dia menyelesaikan hidupnya dengan sadar.

Larangan mematikan (membunuh) selalu dihubungkan dengan kuasa mutlak Allah atas hidup dan
mati. Kuasa manusia sangat terbatas. Gagasan kuasa Allah harus dihubungkan dengan gagasan
bahwa hidup adalah anugerah Allah, anugerah yang terbatas, tetapi keterbatasan tersebut terletak
di tangan Tuhan yang memanggil manusia kembali, bila saatnya tiba. Implikasinya: manusia tidak
boleh mendahuluinya dan tak berhak menentukannya sendiri. Manusia tidak berhak
menentukannya sendiri.

4. Bantuan dalam Proses Meninggal Sesuai dengan Martabat Manusia

Sasaran utama bantuan adalah orang yang berada dalam proses kematian. Siapakah yang berada
dalam proses tersebut? Penilaian diberikan oleh pihak kedokteran. Biasanya orang sakit yang tak
tersembuhkan disebut terminally ill. Proses kematian dalam Terminally ill bisa berjam-jam,
berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Untuk itu, dibutuhkan bantuan agar sipasien dapat
diringankan dalam penderitaannya.[27]

4.1 Pendampingan Orang dalam Proses Kematian

Pendampingan merupakan kebutuhan yang jauh lebih penting dalam proses kematian. Agar orang
dapat meninggal sesuai dengan martabatnya, bila saatnya tiba, pendampingan diberikan secara
menyeluruh. Artinya: pendampingan tersebut berasal dari tenaga medis berupa bantuan medis
yang diperlukan, dari sanak saudara/keluarga berupa penciptaan suasana hangat, penuh
kepercayaan yang menghalau kesepian dan ketakutan, dari rohaniwan berupa bantuan rohani yang
menyertai dan mempersiapkannya menghadap Tuhan.[28]

Permintaan untuk mati dari pasien harus disikapi secara positif.[29] Akademi Kepausan Untuk
Hidup dalam pernyataan: Hormat terhadap Martabat Orang yang Sedang meninggal, tanggal 9
Desember 2000, no. 4, menyatakan :
Permintaan untuk mati pada pihak mereka yang amat menderita – seperti nyata dari penelitian
penderita dan kesaksian dokter klinik yang dekat dengan situasi kematian- hampir selalu
merupakan ungkapan terakhir permintaan penderita yang minta perhatian lebih besar dan
kedekatan kemanusiaan dan penanganan yang sesuai, dua unsur yang kadang-kadang kurang
dalam rumah sakit dewasa ini. Pertimbangan yang sudah dikemukakan dalam Piagam bagi
petugas pelayanan kesehatan dengan demikian berlaku: “Orang sakit yang merasa dikelilingi oleh
kehadiran orang-orang yang penuh kasih tidak menjadi depresif dan takut seperti dalam kasus
kalau orang ditinggal sendirian untuk menderita dan meninggal dan hendak terjadi dengan
kehidupan. Maka dari itu, eutanasia merupakan kekalahan bagi orang yang mengusulkannya,
memutuskannya dan melaksanakannya.[30]

4.2 Penggunaan Penawar Rasa Sakit

Menurut ajaran kristiani, rasa sakit terutama pada wakti akan meninggal, mendapat makna khusus
dalam rencana penyelamatan Allah. Penderitaan tersebut merupakan partisipasi dalam penderitaan
Kristus yaitu kurban penebusan. Karena itu, sahlah penggunaan penawar rasa sakit, sehingga
sekurang-kurangnya sebagian penderitaan dengan sukarela ditanggung dan dengan itu secara sadar
bersatu dengan penderitaan Kristus yang tersalib (bdk. Mt 27:34). Bahkan mereka yang tidak
dapat mengungkapkan diri, dapat diandaikan bahwa mereka menghendaki dan mengharapkan
penawar rasa sakit. Penawar tersebut didapatkan menurut nasihat dokter.[31]

Paus Pius XII, dalam tanggapannya tentang penggunaan penawar rasa sakit mengajukan
pertanyaan: “Apakah menurut agama dan moral dokter dan pasien boleh menekan penderitaan dan
kesadaran dengan narkotika (apabila ada indikasi medis) (juga pada saat mendekatnya kematian
dan bila pemakaian narkotika diperkirakan memperpendek hidup? Pertanyaan itu dijawab dengan:
“ Bila tidak ada sarana lain dan bila dalam keadaan itu, pemenuhan kewajiban-kewajiban religius
dan moral tidak dihambat, maka boleh”. Dalam hal ini, kematian dikehendaki atau dicari. Maksud
penggunaan itu hanyalah mengurangi rasa sakit secara efektif. penawar yang dianjurkan adalah
penawar yang tersedia dalam dunia kedokteran.[32]

4.3 Keseimbangan dalam penggunaan sarana Terapeutis[33]

Dewasa ini, orang berbicara tentang “Hak atas mati”. Perkembangan pemahaman tersebut, dapat
menimbulkan soal dalam penggunaan sarana terapeutik. Prinsip moral penggunaan sarana tersebut
adalah merupakan urusan hati nurani orang sakit atau mereka yang secara legitim bertindak atas
namanya, atau juga para dokter yang harus mengambil keputusan dengan memperhatikan
semuanya, baik aspek moralitas maupun aneka aspek kasus itu. Setiap orang wajib mengurus
kesehatannya dan mengusahakan agar ia dibantu. Namun, mereka yang bertugas mengurus orang
sakit harus melaksanakannya dengan seksama, memberikan obat yang perlu dan bermanfaat.

Ungkapan “Hak untuk mati” tidak berarti seseorang berhak atas kematian sesukanya oleh diri
sendiri atau orang lain, melainkan hal untuk meninggal dengan tenang, sesuai dengan martabat
manusia dan kristiani. Seseorang tidak wajib menggunakan baik sarana yang “luar biasa” atau
sarana –sarana yang tidak sepadan untuk mempertahankan hidup. Penentuan apakah satu tindakan
itu biasa atau sepadan versus luar biasa atau tidak sepadan melibatkan pengukuran jenis terapi,
tingkat kesukaran, serta bahaya-bahaya, ongkos yang diperlukan dan kemungkinan pemakaiannya
dengan hasil yang boleh diharapkan, dengan memperhitungkan keadaan orang sakit, kekuatan
jasmani dan kejiwaannya.[34]
5. Tugas Dokter Menyelamatkan Kehidupan[35]

Sumpah Hipokrates mengikat dokter secara mutlak pada usaha menyelamatkan dan memajukan
kehidupan. Seorang dokter berkewajiban untuk membantu, bukan merugikan atau mengancam,
tetapi kewajiban tersebut tidak bersifat mutlak. Dokter tidak wajib memperpanjang atau menunda-
nunda kematian yang sudah di ambang pintu. Hal itu ditempuh apabila tidak ada harapan agar
hidup pasien dapat distabilisasikan pada suatu tingkat kehidupan yang masih manusiawi.

Harus disadari bahwa dokter tidak pernah diserahi hak untuk menentukan hidup seseorang pasien.
Wewenang dokter adalah memilih medikasi yang paling tepat untuk mencapai tingkat kesehatan
yang sebaik mungkin. Apa yang dianggap paling baik, dikomunikasikan kepada pasien. Pasien
berhak memutuskan setuju atau menolak. Apabila seorang pasien menolak penggunaan medikasi
istimewa untuk memperpanjang kehidupannya, penolakannya harus diterima.

III. PENUTUP

1. Kesimpulan

Eutanasia merupakan masalah yang akan selalu aktual sepanjang zaman. Hal ini sangat
dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan terlebih kemajuan di bidang kedokteran. Hal-
hal yang sebelumnya tidak pernah diketahui, saat ini muncul sebagai pengetahuan baru dan
dengan itu kehidupan dan kematian semakin dicampuri. Oleh karena itu dalam banyak kasus sulit
dikatakan kematian itu sebagai kematian yang alami. Perkembangan ini juga mengakibatkan
manusia menghargai hidup sejauh membawa kesenangan dan manusia yang mengingkari
hubungan dengan Allah.

Bagaimanapun juga, penderitaan merupakan bagian yang menyatu dengan hidup manusia. Dapat
dikatakan tidak ada hidup tanpa penderitaan. Masalahnya adalah bagaimana kita menyatukan
penderitaan tersebut dengan kurban penebusan yakni Yesus Kristus yang menderita di salib untuk
menyelamatkan umat manusia.

Eutanasia, apapun alasannya tidak dapat dibenarkan, jika yang dituju adalah kematian itu sendiri.
Pelaksanaan eutanasia merupakan bentuk pemberontakan terhadap Allah. Awal dan akhir hidup
manusia sepenuhnya milik Allah. Manusia hanya dapat menerimanya apa adanya. Penemuan-
penemuan penting, terutama dalam dunia medis, dapat digunakan sejauh mendukung kemanusiaan
manusia itu sendiri. Penemuan itu bukan untuk merosotkan nilai hidup manusia. Karena itu, jika
keadaannya tidak lagi memungkinkan, penggunaan penemuan-penemuan tersebut, tidak mutlak
dilanjutkan. Pertimbangan-pertimbangan seperti: pengukuran jenis terapi, tingkat kesukaran, serta
bahaya-bahaya, ongkos yang diperlukan dan kemungkinan pemakaiannya dengan hasil yang boleh
diharapkan, dengan memperhitungkan keadaan orang sakit, kekuatan jasmani dan kejiwaannya,
mutlak untuk diperhatikan.

Namun, yang paling utama, yang sangat dibutuhkan oleh para penderita sakit adalah
pendampingan. Pendampingan baik dari pihak medis, keluarga maupun rohaniwan. Hal ini sangat
penting agar penderita dapat menyatukan penderitaannya dengan penderitaan Yesus Kristus di
salib. Orang yang berada di ambang maut sering kali mengalami kesepian yang sangat.