Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN

Perbankan Syariah merupakan suatu sistem perbankan yang dikembangkan berdasarkan


syariah atau hukum islam. Usaha pembentukan sistem ini didasari oleh larangan dalam
agama islam untuk memungut maupun meminjam dengan bunga atau yang disebut dengan
riba serta larangan investasi untuk usaha-usaha yang dikategorikan haram.

A. Latar Belakang
Dinamika kesadaran umat Islam untuk mengamalkan ajaran dan menerapkan sistem Islam
secara menyeluruh (kaffah) tampaknya sudah mulai menunjukkan adanya peningkatan,
khususnya dalam bidang ekonomi. Ekonomi dan keuangan Islam sudah mulai
memperlihatkan sosoknya sebagai suatu alternatif baru yang diambil dari ajaran Islam.

Pada dasawarsa 1970 dan 1980-an di Timur Tengah serta negara-negara muslim lainnya telah
dimulai kajian-kajian ilmiah tentang ekonomi dan keuangan Islam yang berbuah
terbentuknya sebuah lembaga keuangan Islam internasional yakni Islamic Development Bank
(IDB) – sejenis bank pembangunan seperti Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia - pada
tahun 1975 yang berkedudukan di Jeddah, yang kemudian diikuti oleh pendirian bank-bank
Islam lainnya di Timur Tengah.

Di Indonesia sendiri, Bank syariah yang pertama baru didirikan sekitar tahun 1991 dan baru
beroperasi pada pertengahan tahun 1992 yang tidak lepas dari dukungan rezim yang berkuasa
saat itu.

Dengan melihat perkembangan bank syariah di atas, agaknya keinginan umat untuk
menjalankan kehidupan bisnis dan transaksinya dalam skala yang lebih luas yang sesuai
dengan prinsip-prinsip ajaran Islam agaknya sudah memiliki sarana yang tepat. Namun,
diakui atau pun tidak, pengetahuan umat tentang bank syariah masih terbatas dan tidak
merata. Masih banyak yang tidak mengenal apa itu bank syariah atau bahkan masih adanya
anggapan yang keliru bahwa bank syariah adalah bank konvensional yang berbaju syariah.

Oleh karena itu, makalah ini mencoba memberikan sedikit gambaran yang mudah-mudahan
dapat memberi pemahaman yang baik tentang bank syariah serta menepis anggapan yang
keliru tersebut.

B. Rumusan Masalah
Makalah ini dijabarkan dari rumusan masalah sebagai berikut:
a) Apakah yang dimaksud dengan perbankan syariah ?
b) Bagaimana ciri ciri perbankan syariah?
c) Bagaimana asas, tujuan dan fungsi perbankan syariah?
d) Bagaimana visi misi, kendala, dan strategi pengembangan bank syariah?
e) Bagaimana regulasi bank syariah?
f) Apakah produk produk bank syariah?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yakni:
a) Untuk memahami apa yang dimaksud dengan perbankan syariah
b) Untuk mengetahui bagaimana ciri ciri perbankan syariah?
c) Untuk mengetahui bagaimana asas, tujuan dan fungsi perbankan syariah?
d) Untuk mengetahui visi misi, kendala, dan strategi pengembangan bank syariah?
e) Untuk mengetahui regulasi bank syariah?
f) Untuk mengetahui produk produk bank syariah?
A. Pengertian Bank Syariah

Bank Syari’ah terdiri dari dua kata, yaitu Bank dan Syari’ah. Oleh karena itu, sebelum
penulis menjelaskan apa yang dimaksud dengan Bank Syari’ah, penulis terlebih dahulu akan
menjelaskan apa yang dimaksud dengan Bank dan apa yang dimaksud dengan syari’ah.

Secara etimologis, istilah Bank berasal dari kata Italia “Banco” yang artinya “Bangku”.
Bangku ini digunakan pegawai Bank utuk meayani aktivitas operasionalnya kepada para
penabung. Secara terminologis, Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari
masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepda masyarakat dalam bentuk
kredit atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat.

Pengertian Syari’ah secara etimologis berarti sumber air yang mengalir, kemudian kata
tersebut digunakan untuk pengertian : hukum-hukum Allah yang diturunkannya untuk ummat
manusia (hamba Allah)

Secara terminologis Syari’ah yaitu hukum atau peraturan yang diturunkan Allah melalui
Rasulnya yang mulia, untuk ummat manusia, agar mereka keluar dari kegelapan kedalam
terang dan mendapatkan petunjuk kearah yang lurus. Adapun yang dimaksud dengan prinsip
syari’ah menurut undang-undang adalah prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan
bedasarkan fatwa yang dikeluarkan dalam lembaga yang memiliki kewenangan dalam
menetapkan fatwa dalam bidang syar’ah.

Oleh karena itu, maka yang dimaksud dengan Bank Syari’ah adalah Bank yang menjalankan
kegiatan usahanya bedasarkan prinsip syari’ah.

B. Sejarah Perbankan Syari’ah

1. Sejarah Perbankan Syaria’h pada masa RasululahSAW dan Sahabat/Tabi’in

Lembaga perbankan merupakan sebuah lembaga yang melaksanakan tiga fungsi utama, yaitu
menerima simpanan uang,menyalurkan uang dan memberikan pelayanan penerimaan uang.
Pada dasarnya ketiga fungsi tersebut sudah dilaksanakan ketika zaman Rasullulah walaupun
belum dikelola dengan baik. Oleh sebab itu, bisa dikatakan bahwa secara substansial fungsi
bank ketika zaman Rasulullah sudah ada.
Dalam sejarah perekonomian kaum muslimin, pembiayaan yang dilakukan dengan
akad yang sesuai dengan syari’ah telah menjadi bagian dan tradisi umat islam sejak zaman
Rasullulah SAW pelaksanaan-pelaksanaan seperti menerima penitipan harga, meminjamkan
uang untuk keperluan konsumtif dan bisnis, serta melakukan pengiriman uang, telah lazim
dilakukan sejak zaman Rasulullah.

Prinsip ekonomi islam telah di praktikkan sejak nabi muhammmad SAW, terus
merambat ke dinasti Umaiyah dan Abbasiyah. Pada masa nabi, model-model transaksi seperti
penghimpun dana ummat,pinjam meminjam uang dan barang, penyaluran dana ke
masyarakat di tanagni oleh lembaga keuangan yang di pimpin oleh zubair bin Awwam dan
lembaga keuangan lainnya yang di pimpin oleh ibnu Abbas. Pada masa Abbasiyah prinsip
perbankan tampak ke permukaan, yaitu pada masa pemerintahan al-muqtadir (908-932).
Sebagai contoh, ada bebrapa istilah perbankan yang berasal dari Islam, seperti kredit dan cek.
Term kredit (credit;Inggris atau credor;Roman) berasal dari kata qord. Kerefit artinya
peminjaman uang dengan dasar kejujuran.

Penggunaan cek juga telah dikenal secara meluas seiring dengan meningkatnya bisnis
antara Negara Syam dan Yaman, paling tidak berlangsung dua tahun sekali. Bahkan di zaman
Umar bin Khattab r.a. beliau menggunakan cek untuk melunasi gaji kepada mereka bagi yang
berhak. Dengan cek ini, mereka mengambil gandum dari Baitul Mall yang ketika itu diimfor
dari mesir. Disamping itu, pemberian modal untuk modal kerja berdasarkan kepada bagi
hasil,seperti mudharabah,musyarakah,muzaraah,musaqah,telah dikenal di kalangan kaum
Muhajirin dan Anshar.

Dengan demikian jelas,meskipun pada zaman Rasulullah SAW. Secara formal belum
ada lembaga perbankan, namum dari realitas amalan sahabat pada saat itu menggambarkan
fungsi lembaga perbankan. Bahkan akad-akad yang dilakukan para sahabat Nabi waktu itu,
seperti fungsi penitipan,memberikan pinjaman,pengiriman uang dan melakukan pembiayaan
modal kerja menjadi prinsip-prinsip utama dalam mengembangkan perbankan syari’ah.

Awal mula kegiatan Bank Syari’ah yang pertama kali dilakukan adalah di Pakistan
dan Malaysia pada sekitar tahun 1940-an. Kemudian di Mesir pada tahun 1963 berdiri
Islamic Rural Bank di Desa It Ghamr Bank. Bank ini beroperasi di pedesaan Mesir dan masih
berskala kecil.
Di Uni Emirat Arab, baru tahun 1975 dengan berdiri Dubai Islamic Bank. Kemudian
di Kuwait pada tahun 1977 berdiri di Kuwait Finance House yang beroperasi tanpa bunga.
Selanjutnya kembali di Mesir pada tahun 1978 berdiri Bank Syariah yang diberi nama Faisal
Islamic Bank. Langkah ini kemudian diikuti oleh Islamic International Bank for Invesment
and Development Bank.

Salah satu negara pelopor utama dalam melaksanakan sistem perbankan syari’ah
secara nasional adalah Pakistan. Pemerintah Pakistan mengkonversi seluruh sistem perbankan
di negaranya pada tahun 1985 menjadi sistem perbankan syari’ah. Sebelumnya pada tahun
1979 beberapa institusi keuangan terbesar di Pakistan telah menghapus sistem bunga dan
mulai tahun itu juga pemerintah Pakistan mensosialisasikan pinjaman tanpa bunga, teritama
kepada petani dan nelayan.

Kehadiran bank yang bedasarkan syariah di Indonesia masih relatif baru, yaitu baru
pada awal tahun 1990-an, meskipun masyarakat Indonesia merupakan masyarakat Muslim
terbesar di Dunia. Prakarsa untuk mendirikan Bank Syariah di Indonesia dilakukan oleh
Majlis Ulama Indonesia (MUI) pada 18-20 Agustus 1990. Namun, diskusi tentang Bank
Syariah sebagai basis ekonomi Islam sudah mulai dilakukan pada awal tahun 1980.

Bank Syari’ah pertama di Indonesian merupakan hasil kerja tim perbankan MUI,
yaitu dengan dibentuknya PT Bank Muamalat Indonesia (BMI) yang akte pendiriannya
ditandatangani tanggal 1 November 1991. Bank ini ternyata berkembang cukup pesat
sehingga saat ini BMI sudah memiliki puluhan cabang yang tersebar dibeberapa kota besar
seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Makasar, dan kota lainnya.

Dalam perkembangan selanjutnya kehadiran Bank Syariah di Indonesia khususnya


cukup menggembirakan. Di samping BMI, saat ini jug atelah lahir Bank Syariah milik
pemerintah seperti Bank Syariah Mandiri. Kemudian berikutnya berdiri Bank Syariah sebagai
cabang dari Bank Konvensional yang sudah ada seperti Bank BNI, Bank IFI, dan BPD Jabar
C. Ciri Ciri Bank Syariah

1. Beban biaya yang disepakati bersama pada waktu akad perjanjian diwujudkan
dalam bentuk jumlah nominal, yang besarnya tidak kaku dan dapat dilakukan dengan
kebebasan tawar menawar dalam batas wajar. Beban biaya tersebut hanya dikenakan sampai
batas waktu sesuai dengan kesepakatan dalam kontrak.

2. Penggunaan persentase dalam hal kewajiban untuk melakukan pembayaran selalu


dihindari, karena persentase bersifat melekat pada sisa hutang meskipun batas waktu
perjanjian tidak berakhir

3. Di dalam kontrak kontrak pembayarna proyek, bank syariah tidak menetapkan


perhitungan bedasarkan keuntungan yang pasti yang ditetapkan dimuka, karena pada
hakekatnya yang mengetahui untung rugi suatu proyek yang dibiayai bank syariah hanyalah
Allah semata.

4. Pengerahan dana masyarakat dalam bentuk deposito tabungan penyimpnan


dianggap sebagai titipan (al wadiah) sedangkan bagi bank dianggap sebagai titipan yang
diamanatkan sebagai penyertaan dana kepada proyek proyek yang dibiayai bank yang
beroperasi sesuai dengan prinsip syariah sehingga pada penyimpanan tidak diwajibkan
imbalan yang pasti.

5. Dewan Pengawas Syariah (DPS) bertugas untuk mengawasi operasional bank dari
sudut syariahnya. Selain itu, manajer dan pimpinan bank Islam harus menguasai dasar dasar
muamalah Islam.

6. Fungsi kelembagaan syariah selain menjembatani antara pihak pemilik modal dan
pihak yang membutuhkan dana, juga mempunyai fungsi khusus, yaitu fungsi amanah, artinya
kewajiban menjaga dan bertanggung jawab atas keamanan dana yang disimpan dan siap
sewaktu waktu apabila dana diambil pemiliknya.
D. Asas Tujuan Dan Fungsi Perbankan Syariah

1. Asas Perbankan Syari’ah


a. Prinsip Syari’ah
Kegiatan usaha yang berasaskan prinsip syari’ah, antara lain tidak
mengandung unsur :
1) Riba, yaitu penambahan pendapatan tidak sah (bathil) antara lain dalam
transasksi pertukaran barang sejenis yang tidak sama kualitas, kuantitas
dan waktu penyerahan
2) Maisir, yaitu transasksi yang digantungkan kepada suatu keadaan yang
tidak pasti dan bersifat untung untungan
3) Gharar, yaitu transasksi yang objeknya tidak jelas, tidak dimiliiki, tidak
diketahui keberadaaannya, atau tidak dapat diserahkan pada saat transasksi
dilakukan kecuali diatur lain dalam syari’ah
4) Haram, yaitu transasksi yang objeknya dilarang dalam syari’ah
5) Zalim, yaitu transasksi yang menimbulkan ketidak adilan bagi pihak
lainnya.

b. Demokrasi Ekonomi
Yang dimaksud dengan demokrasi ekonomi adalah kegiatan ekonomi syari’ah
yang mengandung keadilan, kebersamaan, pemerataan dan kebermanfaatan

c. Prinsip kehati-hatian
Yang dimaksud dengan prinsip kehati hatian adalah pedoman pengelolaan
Bank yang wajib di anut guna mewujudkan perbankan yang sehat, kuat, dan
efisien sesuai dengan ketentuan perundang undangan
Selain itu, pemenuhan prinsip syari’ah, yaitu memenuhi :
1) Prinsip Keadilan (‘adl)
Yaitu menempatkan sesuatu hanya pada tempatnya, dan memberikan
sesuatu hanya kepada yang berhak.
2) Prinsip Keseimbangan (tawazun)
Yaitu meliputi keseimbangan aspek material dan spiritual, aspek private
dan publik, sektor keuangan dan riil, bisnis dan sosial, dan keseimbangan
aspek pemanfataan dan kelestarian
3) Prinsip Kemaslahatan ( maslahah)
Yaitu segala bentuk kebaikan yang berdimensi duniawi dan ukhrawi,
material dan spiritual, individual dan kolektif, serta harus memenuhi 3
unsur, yakni kepatuhan (halal), bermanfaat dan membawa kebaikan
(thoyib), dan semua aspek secara keseluruhan yang tidak menimbulkan
kemudharatan
4) Prinsip Universalisme (alamiyah)
Yaitu dapat dilakukan oleh, dengan, dan untuk semua pihak yang
berkepentingan (stackholder) tanpa membedakan suku, agama, ras, dan
golongan sesuai dengan semangat kerahmatan semesta (rahmatan lil
‘alamin)

2. Tujuan Perbankan Syari’ah

Adapun tujuan perbankan syariah yaitu menunjang pelaksanaan pembangunan


nasional dalam rangka meningkatkan keadilan, kebersamaan, dan pemerataan kesejahteraan
rakyat.

Dalam mencapai tujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional, perbankan


syari’ah tetap berpegang pada prinsip syari’ah secara menyeluruh (kaffah) dan konsisten
(istiqomah)

3. Fungsi Bank Syariah

Adapun Fungsi Bank Syariah dan unit Usaha Syari’ah yaitu:

a. Menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat


b. Menerima dana yang berasal dari zakat, inifak, sedekah, hibah atau dana sosial
lainnya dan menayalurkannya kepada organisasi pengelolaan syari’ah. Yang
dimaksud dengan dana sosial lainnya adalah penerimaan bank yang berasal dari
pengenaan sanksi terhadap nasabah (ta’zir)
c. Menghimpun dana sosial yang berasal dari wakaf uang dan menyalurkannya
keapda pengelola wakaf (nazhir) sesuai dengan kehendak pemberi wakaf (wakif)
F. Visi Misi Kendala pengembangan dan strategi pengembangan Perbankan Syari’ah

1. Visi Perbankan Syariah


Visi Perbankan Syari’ah yaitu “Terwujudnya sistem perbankan syari’ah yang
kompetitif,efisien, dan memenuhi prinsip kehati-hatian yang mampu mendukung
sektor rill secara nyata melalui kegiatan pembiayaan berbasis bagi hasil (share based
financing) dan transaksi riil dalam rangka keadilan, tolong menolong menuju
kebaikan guna mencapai kemaslahatan masyarakat.
2. Misi Perbankan Syari’ah
Misi Perbankan Syari’ah yaitu :
a. Melakukan kajian dan penelitian tentang kondisi, potensi, serta kebutuhan
perbankan syari’ah secara berkesinambungan.
b. Mempersiapkan konsep dan melaksankan pengaturan dan pengawasan berbasis
risiko guna menjamin kesinambungan operasional perbankan syari’ah yang sesuai
dengan karakterisknya.
c. Mempersiapkan infrastruktur guna meningkatkan efesiensi operasional prbankan
syariah.
d. Mendsain kerangka entry dan exit perbankan syari’ah yang dapat mendukung
stabilitas sistem perbankan.

3. Kendala pengembangan Bank Syari’ah

Dalam perkembangan bank syari’ah menghadapi berbagai kendala, kendala itu


diantaranya :

a. Sumber daya manusia, maraknya bank syari’ah di Indonesia tidak diimbangi


dengan sumber daya yang memadai.terutama sumber daya manusia yang memiliki
latar belakang disiplin keilmuan bidang perbankan syari’ah.sebagian besar sumber
daya manusia di perbankan syari’ah terutama bank konvensional yang membuka
islamic window berlatar belakang disiplin ilmu ekonomi konvensional. Keadaan
ini mengakibatkan akselerasi hukum islam dalam praktik perbankan kurang cepat
diakomodasikan dalam sistem perbankan, sehingga kemampuan pengembangan
bank syari’ah menjadi lambat.
b. Kurangnya akademisi perbankan syari’ah. Hal ini diakibatkan lingkungan
akademisi lebih memperkenalkan kajian-kajian perbankan berbasis pada
instrumen konvensional.kondisi ini lebih disebabkan lingkunagn pendidikan kita
lebih femiliar dengan literatur-literatur ekonomi konvensional dibanding literatur
ekonomi islam/syari’ah. Sehingga kajian-kajian ilmiah mengenai keberadaan bank
syari’ah dan instrumen-instrumen keuangan syari’ah kurang mendapat
perhatian.hal ini yang mengakibatkan keberadaan bank syari’ah kurang memdapat
legitimasi secara ilmiah di masyarakat.
c. Kurangnya sosialisasi ke masyarakat tenang keberadaan bank syari’ah. Sosialisasi
tidak hanya sekedar memperkenalkan keberadaan bank syari’ah di suatu tempat,
tetapi juga memperkenalkan mekanisme produk bank syari’ah dan instrumen-
instrumen keuangan bank syari’ah kepada masyarakat.

4. Strategi Pengembangan Perbankan Syari’ah

Strategi yang diperlukan untuk mengantisipasi kendala-kendala pengembangan


syari’ah, antara lain :

a. Meningkatka kualitas sumber daya manusia dibidang perbankan syari’ah


b. Perlu upaya-upaya yang lebih progresif bukan saja dari praktisi melainkan juga
dari pemerintah dan ulamauntuk memdorong pemenuhan legalitas instrumen
syari’ah guna memberi ruang yang lebih baik bagi tumbuhnya bank syari’ah
c. Meningkatkan kualitas bank syari’ah perlu dukungan akademisi, keterlibatan
akademisi akan membangun konstruksi lembaga keuangan syari’ah lebih masuk
akal dan bisa diterima oleh banyak pihak.oleh karena itu, hubungan praktisi
dengan akademisi bank syari’ah tidak bisa dipisahkan dalam meningkatkan
keterlibatan bank syari’ah dalam membentuk sistem ekonomi masyarakat.
d. Dibutuhkan sosialisasi yang lebih agresif mengenai bank syari’ah.

Menurut Ascarya, pengembangan perbankan syari’ah di Indonesia dilakukan


dengan strategi pengembangan bertahap dann berkesinambungan (gradual and
sustainable approach) yang sesuai dengan prinsip syari’ah (comply to sharia
principles). Tahap pertama, dimaksudkan untuk meletakkan landasan yang kuat bagi
pertumbuhan indusdtri (2002-2004). Tahap kedua memasuki fase untuk memperkuat
struktur industri perbankan syari’ah (2005-2009). Tahap ketiga, perbankan syari’ah
diarahkan untuk dapat memenuhi standar keuangan dan mutu pelayanan internasional
(2010-2012). Adapun tahap ke empat mulai terbentuknya integrasi lembaga keuangan
syari’ah (2013-2015). Pada tahun 2015 diharapkan Perbankan Syari’ah Indonesia
telah memiliki pangsa yang signifikan yang ikut ambil bagian dalam
mengembangakan ekonomi indonesia yang menyejahterakan masyarakat luas.

G. Regulasi Industri Perbankan Syari’ah

Pengaturan industri Perbankan Syari’ah terdapat dalam beberapa regulasi,


diantaranya:
1. UU No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan
2. UU No.10 tahun 1998 tentang Perubahan Atas UU No.7 Tahun 1992
tetang Perbankan
3. UU No.21 tahun 2008 tentang Perbankan Syari’ah
4. Surat keputusan Direksi Bank Indonesia No. 32/34/Kep/Dir tanggal 12
Mei 1999 tentang Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syari’ah kemudian di
ganti dan disempurnakan dengan Peraturan Bank Indonesia No.
62/PBI//2004 tentang Bank Umum yang Melaksanakan Kegiatan Usaha
Berdasarkan Prinsip Syari’ah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Bank Indonesia No.7/35/PBI/2005
5. Peraturan Bnak Indonesia No.4/1/PBI/2002 tentang Perubahan Kegiatan
usaha Bank Umum Konvensional menjadi Bank Umum Berdasarkan
Prinsip Syari’ah dan pembukaan kantor bedasarkan bank berdasarkan
prinsip syari’ah oleh bank umum konvensional.
6. Peraturan Bank Indonesia No.7/46/PBI/2005 tentang Akad Penghimpun
Dana dan Penyaluran Dana bagi Bank yang melaksankan kegiatan usaha
berdasarkan prinsip syari’ah
7. Peraturan Bank Indonesia No.9/19/2007 tentang Pelaksanaan prinsip
syari’ah dalam Kegiatan Penghimpunan Dana dan Penyaluran Dana serta
Pelayanan Jasa Bank Syari’ah.
8. Peraturan Bank Indonesia No.2/8/PBI/2000 tentang Pasar Uang Antarbank
Berdasarkan Prinsip Syari’ah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Bank Indonesia No.7/26/2005 di ganti dan disempurnakan dengan
Peraturan Bank Indonesia No.9/5/PBI/2007 tentang Pasar Uang Antarbank
Berdasarkan Prinsip Syari’ah
9. Peraturan Bank Indonesia No.2/9/PBI/2000 tentang sertifikat wadi’ah
Bank Indonesia sebagaimana diganti dan disempurnakan dengan Peraturan
Bank Indonesia No.6/7/PBI/2004 sertifikat wadi’ah Bank Indonesia.
10. Peraturan Bank Indonesia No.5/3/2003 tentang Fasilitas Pembiayaan
Jangka Pendek Bagi Bnak Syari’ah sebagaimana telah diubah dengan
Peraturan Bank Indonesia No.7/23/2005.
11. Peraturan Bank Indonesia No.7/24/PBI/2005 tentang Fasilitas Likuiditas
Intrahari Bagi Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syari’ah.
12. Edaran Bank Indonesia No.9/8/DPM/Tanggal 30 Maret 2007 Perihal
Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank.
13. Peraturan Bank Indonesia No.6/24/PBI/2004 tentang Bank Umum yang
Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syari’ah.
14. Peraturan Bank Indonesia No.6/9/PBI/DPM/Tahun 2004 tentang
Penyelesaian Penghapusan Aktiva Produktif Bagi Bank Syari’ah.
15. Peraturan Bank Indonesia No.3/9/PBI/2003 tentang Penyisihan
Penghapusan Aktiva Produktif Bagi Bank Syari’ah.
16. Surat Edaran bank Indonesia No.6/9//DPM/Tahun 2004 Tentang Tata Cara
Pemberian Fasilitas Pembiayaan Jangka Pendek Bagi Bank Syari’ah.

H. Kegiatan Bank Syari’ah

1. Jenis Kegiatan Bank Umum Syari’ah


Jenis Kegiatan Bank Umum Syari’ah telah diatur dalam Pasal 19 UU
Perbankan Syari’ah,yaitu meliputi :
a. Menghimpun dana dalam bentuk simpanan berupa giro,tabugan
atau dalam bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu
berdasarkan akad Wadi’ah atau akad lain yang tidak bertentangan
dengan prinsip syari’ah.
b. Menghimpun dana dalam bentuk Investasi berupa deposito,
tabugan atau dalam bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu
berdasarkan akad mudharabah atau akad lain yang tidak
bertentangan dengan prinsip syari’ah.
c. Menyalurkan Pembiayaan bagi hasil berdasarkan akad mudharabah
atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syari’ah.
d. Menyalurkan pembiayaan berdasarkan akad murabahah,akad
saham,akad istishna atau akad lain yang bertentangan dengan
prinsip syari’ah.
e. Menyalurkan pembiayaan berdasarkan akad qardh atau akad lain
yang bertentangan dengan prinsip syari’ah.
f. Menyalurkan pembiayaan penyewaan barang bergerak atau tidak
bergerak kepada nasabah berdasarkan akad ijarah atau sewa beli
dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik atau akad lain yang
bertentangan dengan prinsip syari’ah.
g. Melakukan pengambilalihan utang berdasarkan akad hawalah atau
akad lain yang bertentangan dengan prinsip syari’ah.
h. Melakukan usaha kartu debit atau kartu pembiayaan berdasarkan
prinsip syari’ah
i. Membeli,menjual atau menajamin atas risiko sendiri surat berharga
pihak ketiga yang doterbitkan atas dasar transaksi nyata
berdasarkan prinsip syari’ah, seperti akad
ijarah,musyarakah,mudgarabah,murabahah,kafalah,atau hawalah
j. Membeli surat berharga berdasarkan prinsip syari’ah yang
diterbitkan oleh pemerintah dan Bank Indonesia.
k. Menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan
melakukan perhitungan dengan pihak ketiga atau antarpihak ketiga
berdasarkan prinsip syari’ah
l. Melakukan penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan
suatu akad yang berdasarkan prinsip syari’ah.
m. Menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga
berdasarkan prinsip syari’ah.
n. memindahkan uang,baik untuk kepentingann sendiri maupun untuk
kepentingan nasabah berdasarkan prinsip syari’ah.
o. Melakukan fungsi sebagai Wali Amanat berdasarkan akad wakalah
p. Memberikan fasilitas letter of credit atau bank garansi berdasarkan
prinsip syari’ah.
q. Melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan dibdang perbankan
dan bidang sosial sepanjang tidak bertentangan denagn prinsip
syari’ah dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

G. Produk Perbankan Syari’ah

1. Produk Penghimpun Dana


Sama halnya dengan produk pada perankan konvensional, produk
perbankan syari’ah dibidang penghimpunan dana ini disebut
dengan simpanan, yaitu dana yang diperjanjikan penyompanan
dana dalam bentuk giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan dan
bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu

Ketentuan giro di prbankan syari’ah sebagai berikut :


Pertama : giro ada dua jenis:
a. Giro yang tidak dibenarkan secara syari’ah yaitu giro yang
berdasarkan perhitungan bunga.
b. Giro yang dibenarkan secara syari’ah yaitu giro yang
berdasarkan prinsip mudharabah dan wadi’ah.
Kedua: ketentuan umum berdasarkan mudharabah :
a. Dalam transaksi ini nasabah bertindak ebagai shahibul maal
atau pemilik dana,dan bank bertindak sebagai mudharib atau
pengelola dana
b. Dalam kapasitasnya sebagai mudharib,bank dapat melakukan
berbagai jenis usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip
syari’ah dan mengembangkannya, termasuk di dalamnya
mudgarabah dengan pihak lain.
c. Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya, dalam bentuk tunai
dan bukan piutang.
d. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah
dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening.
e. Bank sebagai mudarib menutup biaya operasional giro dengan
menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya.
f. Bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan
nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan.
Ketiga : ketentuan umum giro berdasarkan wadi’ah :
a. Bersifat titipan.
b. Titipan bisa diambil kapan saja (on call)
c. Tidak ada imbalan yang di syaratkan, kecuali dalam bentuk
pemberian (‘athaya) yang bersifat sukarela dari pihak bank.

Ketentuan deposito di perbankan syari’ah sebagai berikut :


Pertama : Deposito ada dua jenis :
a. Deposito yang tidak dibenarkan secara syari’ah yaitu deposito yang
berdasarkan perhitungan bunga.
b. Deposito yang dibenarkan, yaitu deposito yang berdasarkan prinsip
mudharabah.
Kedua : ketentuan deposito berdasarkan mudharabah
a. Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul maal atau
pemilik dana,dan abnk bertindak sebagai mudarib atau pengelola dana.
b. Dalam kapasitasnya sebagai mudarib, bank dapat melakukan berbagai
jenis usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syari’ah dan
mengembangkannya, termasuk didalamnya mudharabah dengan pihak
lain.
c. Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya, dalam bentuk tunai dan
bukan piutang.
d. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan
dituangkan dalam akad pembukaan rekening.
e. Bank sebagai mudarib menutup biaya operasional deposito dengan
menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya.
f. Bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah
tanpa persetujuan yang bersangkutan.
ketentuan tabungan perbankan syari’ah sebagai berikut :

pertama: Tabungan ada dua jenis :

a. Tabungan yang tidak dibenarkan secara syari’ah yaitu Tabungan o yang berdasarkan
perhitungan bunga.
b. Tabungan yang dibenarkan, yaitu tabungan yang berdasarkan prinsip mudharabah dan
wadi’ah.
Kedua : ketentuan tabungan berdasarkan mudharabah:
a. Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul maal atau pemilik dana,dan
abnk bertindak sebagai mudarib atau pengelola dana.
b. Dalam kapasitasnya sebagai mudarib, bank dapat melakukan berbagai jenis usaha
yang tidak bertentangan dengan prinsip syari’ah dan mengembangkannya, termasuk
didalamnya mudharabah dengan pihak lain.
c. Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya, dalam bentuk tunai dan bukan piutang.
d. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangkan dalam
akad pembukaan rekening.
e. Bank sebagai mudarib menutup biaya operasional deposito dengan menggunakan
nisbah keuntungan yang menjadi haknya.
f. Bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan
yang bersangkutan.
Ketiga : ketentuan tabungan berdasarkan wadi’ah :
a. Bersifat simpanan
b. Simpanan dapat diambil kapan saja (on call) atau berdasarkan kesepakatan.
c. Tidak ada imbalan yang di syaratkan, kecuali dalam bentuk pemberian (‘athaya) yang
bersifat sukarela dari pihak lain.

2. Produk Penyaluran Dana

Penyaluran dana kepada masyarakat oleh bank syariah berdasarkan prinsip-prinsip sebagai
berikut
a. Prinsip Jual Beli
1. Murabahah
Pembiayaan murabahah, yaitu pembiayaan berupa talangan dana yang dibutuhkan nasabah
untuk membeli suatu barang dengan kewajiban mengembalikan talangan dana tersebut
seluruhnya ditambah dengan margin keuntungan bank pada waktu jatuh tempo. Bank
memperoleh margin keuntungan berupa selisih harga beli dari pemasok dengan harga jual
bank kepada nsabah.
Sebagai dasar hukum pelaksanaan murabahah dalam sumber utama hukum islam adalah
sebagai berikut:
a. Qs. Al-baqarah(2):275: “ dan allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan
yang riba.”
b. HR. Al. Baihaqi dan Ibnu Majah dari Abu sa’id al- khudri bahwa Rasulullah SAW.
Bersabda: “sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka.”

Pembiayaan murabahah telah diatur dalam fatwa DSN No. 04/DSN-MUI/IV/2000. Dalam
fatwa tersebut disebutkan ketentuan umum mengenai murabahah, yaitu sebagai berikut1[10]:
a. Bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas riba.
b. Barang yang dipejualbelikan tidak diharamkan oleh syariah islam.
c. Bank yang membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah
disepakati kualifikasinya.
d. Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri, dan pembelian
ini harus sah dan bebas riba.
e. Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya jika
pembelian dilakukan secara utang.
f. Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah( pemesan) dengan harga jual
senilai harga barang plus keuntungannya. Dalam kaitan ini bank harus member tahu secara
jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan.
g. Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu
tertentu yang telah disepakati.
h. Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan tau kerusakan akad tersebut, pihak bank
dapat mengadakan penjanjian khusus dengan nasabah.
i. Jika bank hendak mewakili kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga,
akad jual beli murabahab yang harus dilakukan setelah barang, secara prinsip menjadi milik
bank.
Contoh: Tuan Ahmad sebagai pengusaha kayu, mengajukan permohonan pembiayaan
murabahah guna pembelian kayu seharga Rp. 200.000.000,-. Setelah dievaluasi oleh bank
syariah, usahanya layak dan permohonannya disetujui, maka mengangkat Tuan Ahmad
sebagai wakil bank syariah untuk membeli kayu dengan dana dan atas namanya kemudian
menjual kayu tersebut kembali kepada Tuan Ahmad ( sebagai pengusaha) sejumlah Rp.
240.000.000,- dengan jangka waktu 3 bulan dan dibayar lunas pada saat jatuh tempo. Asumsi
penetapan harga jual Rp. 240.000.000,- telah dilakukan dengan cara:
a. Tawar menawar harga jual antara Tuan Ahmad dengan bank.
b. Harga jual yang disetujui tidak akan berubah selama jangka waktu 3 bulan walaupun
dalam masa tersebut terjadi perubahan harga atau perubahan tingkat bunga dibank
konvensional.
2. Baiu Bithaman Ajil
Pembiayaan baiu bitaman ajil, yaitu pembiayaan berupa talangan dana yang dibutuhkan
nasabah untuk membeli suatu barang / jasa dengan kewajiban mengembalikan talangan dana
tersebut ditmbah margin keuntungan bank secara mencicil sampai lunas dalam jangka waktu
tertentu sesuai dengan kesepakatan. Bank memperoleh keuntungan berupa selisih harga beli
dari pemasok dengan harga jual bank kepada nasabah.
Kalau diperhatikan produk bank konvensional, maka baiu bithaman ajil dapat disamakan
dengan kredit investasi, sehingga pembiayaan dengan prinsip baiu bithaman ajil ini bersifat
jangka panjang. 2[11]
Dasar hukum pelaksanaan prinsip baiu bithaman ajil mengacu pada al-quran surat an-nisa
ayat 29 yang artinya “ hai orang-orang yang beriman janganlah kamu makan harta
sesamamu dengan jalan bathil, kecuali dengn jalan berniaga yang berlaku dengan suka
dianta kamu”. Sedangkan pada hadist yng diriwayatkan, dari suhaib ra. Bahwa Rasulullah
bersabda, “ tiga perkara didalamnya terdapat keberkatan(1) menjual dengan pembayaran
secara kredit. (2) muqaradhah (nama lain dari mudharabah).(3)mencampur gandum dengan
tepung untuk keperluan rumah dan bukan untuk dijual.” (HR. Ibnu Majar, Sublu Assalam
4/147). Bentuk kegiatan pembiayaan ini dapat diterapkan dalam proses pengadaan barang
bagi nasabah dan pembiayaan impor dari luar negeri.
3. Istishna
Pembiayaan istisna adalah pembiayaan berupa talangan dana yang dibutuhkan nasabah untuk
membeli suatu barang atau jasa dengan pembayaran dimuka, dicicil atau tangguh bayar.
Nasabah wajib mengembalikan talangan dana tersebut ditambah margin keuntungan bank
secara mencicil sampai lunas dalam jangka waktu tertentu atau tunai sesuai dengan
kesepakatan. Bank memperoleh margin keuntungan berupa selisih harga beli dari pemasok
dengan harga jual bank kepada nasabah.

Pada kegiatan usaha jual beli dengan istishna ini juga dapat dilakukan dengan istishna
parallel yang dilakukan oleh bank kepada pihak lain. Hal ini diatur dalam fatwa DSN No.
22/DSN-MUI/III/2002 mengenai jual beli istishna parallel dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Jika LKS( Lembaga Keuangan Syariah, bank) melakukan transaksi istishna, untuk
memenuhi kewajibannya kepada nasabah, ia dapat melalukan istishna lagi dengan pihak lain
pada objek yang sama, dengan syarat istishna pertama tidak bergantung(mu’allaq) pada
istishna kedua.
b. LKS ( Lembaga Keuangan Syariah, bank) selaku mustashni’ tidak diperkenakan untuk
memugut MDC( margin during construction) dari nasabah ( shani’), karena hal ini tidak
sesuai dengan prinsip syariah.
c. Ketentuan yang berlaku pada fatwa DSN No. 06/ DSN-MUI/IV/2000 juga berlaku
istishna parallel.

4. Salam
Pembiayaan salam, yaitu pembiayaan berupa talangan dana yang dibutuhkan nasabah untuk
membeli suatu barang atau jasa dengan pembayaran dimuka sebelum barang atau jasa
diantarkan atau dibentuk. Nasabah berkewajiban mengembalikan talangan dana tersebut
ditambah margin keuntungan bank secara dicicil sampai lunas dalam jangka waktu tertentu
atau tunai sesuai dengan kesepakatan.
Pelaksanaan salam, selain antara nasabah dan bank, dapat juga dilakukan antara bank dengan
penjaul. Salam yang kedua ini disebut dengan salam parallel dengan syarat-syarat, bahwa:1.
Akad kedua( salam parallel) terpisah dari akad pertama(salam pertama); dan 2. Akad kedua
dilakukan setelah akad pertama sah.
b. Pembiayaan Bagi Hasil
Perbankan dengan sistem bagi hasil dirancang untuk terbinanya kebersamaan dalam
menanggung risiko usaha dan berbagi hasil usaha antara: pemilik dana (shohibul maal) yang
menyimpan uangya dibank, bank selaku pengelola dana (mudahrib), dan masyarakat yang
membutuhkan dana yang bisa berstatus peminjam dana atau pengelola usaha.
Pada penyaluran dana kepada masyarakat, sebagian besar pembiayaan bank disalurkan dalam
bentuk barang atau jasa yang dibelikan bank untuk nasabahnya. Dengan demikian,
pembiayaan hanya diberikan apabila barang atau jasanya telah ada terlebih dahulu. Dengan
metode ada barang dulu baru ada uang, maka masyarakat dipacu untuk memproduksi barang
atau jasa atau mengadakan barang atau jasa. Selanjutnya barang yang dibeli atau diadakan
menjadi jaminan utang.3[12]

a. Mudharabah
Pembiayaan mudharabah adalah pembiayaan seluruh kebutuhan modal pada suatu usaha
untuk jangka waktu terbatas sesuai dengan kesepakatan. Hasil usaha bersih dibagi antara
bank sebagai penyandang dana(shohibul maal) dengan pengelola usaha( mudharib) sesuai
dengan kesepakatan. Umumnya porsi bagi hasil ditetpkn bagi mudharib lebih besar dari pada
shohibul maal. Pada akhir jangka waktu pembiayaan, dana pembiayaan dikembalikan kepada
bank.
b. Musyarakah
Pembiayaan musyarakah, yaitu pembiayaan sebagian kebutuhan modal pada suatu usaha
jangka waktu terbatas sesuai kesepakatan.hasil usaha bersih dibagi antara bank sebagai
penyandang dana ( shohibul maal) dengan pengelola usaha (mudharib) sesuai dengan
kesepakatan. Umumya, porsi bagi hasil ditetapkan sesuai dengan persentase kontribusi
masing-masing. Pada akhir jangka waktu pembiayaan dikembalikan kepada bank.Fatwa DSN
No. 08/DSN-MUI/IV/2000 mengatur mengenai pembiayaan musyarakah dengan ketentuan-
ketentuan sebagai berikut:
a. Ijab Kabul
b. Subjek hukum
c. objek akad
1. modal
2. kerja
3. keuntungan
4. kerugian
d. Biaya operasional

c. Prinsip Sewa Menyewa


1. Ijarah
Ijarah merupakan pembiayaan bank untuk mengadaan barang ditambah keuntungan yang
disepakati dengan sistem pembayaran sewa tanpa diakhiri dengan pemilikan. Dalam kegiatan
ekonomi pada umumnya dikenal dengan nama leasing ( sewa menyewa), dimana pihak
bank(leasor) memberikan kesempatan kepada nasabah atau penyewa(lessee) untuk
memperoleh manfaat dari barang untuk jangka waktu tertentu, dengan ketentuan nasabah
akan membayar sejumlah uang (sewa) pada waktu yang disepakati secara periodic. Apabila
telah habis jagka waktunya, benda atau barang yang dijadikan objek ijarah tersebut tetap
menjadi milik bank.
Dasar hukum prinsip ijarah adalah al-quran surat Qasas ayat 26:’ salah atu dari kedua gadis
itu berkata;” wahai bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja dengan kita karena
sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil bekerja ialah orang yang kau lagi
dapat percaya”. Sedangkan hadits yang menjadi dasarnya adalah dari ibnu Umar R.A:
Bersabda Rasulullah Saw, “ Berikanlah upah buruh itu sebelum kering keringatnya.” Dan
hadits dari Abi Said Al Hudry R.A: Bersabda Rasulullah Saw, “ Barang siapa
mempekerjakan pekerja hendaklah mejelaskan upahnya.”
2. Ijarah Muntahiya Bittamlik
Pembiayaan IMB adalah akad sewa menyewa barang antara bank dengan penyewa yang
diikuti janji, bahwa pada saat ditentukan kepemilikan barang sewaan akan berpindah kepada
mustajir.
d. Prinsip Pinjam meminjam
Pembiayaan qardhul Hassan, yaitu pembiayaan berupa pinjaman tanpa dibebani biaya apa
pun bagi kaum dhuafa yang merupakan asnaf ZIS dan ingin mulai berusaha kecil-kecilan.
Nasabah hanya diwajibkan mengembalikan pokok pinjamannya saja pada waktu jath tempo
sesuai dengan kesepakatan dengan membayar biaya-biaya administrasi yang diperlukan.
Nasabah yang berhasil dianjurkan mambayar ZIS untuk memperkuat dana qardhul Hassan.
Bank memperoleh pengembalian biaya administrasi dan menampung ZIS dari nasabah yang
berhasil usahanya. Dana qardhul Hassan ini dapat bersumber dari bagian modal bank,
keuntungan bank yng disisihkan, atau dari lembaga lain atau individu yang mempercayakan
penyaluran infaknya kepada bank.

Daftar Pustaka
http://jurnalapapun.blogspot.com/2015/02/penyaluran-dana-landing-pada-bank.html
Kasmir. 2014. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada
Irham Fahmi. 2015. Manajemen perbankan Konvensional dan Syariah, Jakarta: Mitra
Wacana Media
Mardani. 2015. Aspek Hukum Lembaga Syariah di Indonesia, Jakarta: Kencana
Huda Nurul dan Heykal Mohammad. 2010. Lembaga Keuangan Islam, Jakarta: PT
Fajar Interpertama
Sholahuddin Muhammad. 2014. Lembaga Keuangan dan Ekonomi Islam,
Yogyakarta: Penerbit Ombak