Anda di halaman 1dari 6

ASIMILASI

A. Pengenalan dan Pembatasan Masalah

1. Museum

Arti museum, seperti halnya arti kata, dapat dipahami oleh fungsinya dan kegiatan-
kegiatannya. Dari masa ke masa fungsi museum telah mengalami berbagai macam
perubahan. Akan tetapi hakikat pengertian museum tidak berubah. Landasan ilmiah
dan kesenian tetap menjiwai arti museum, sekali pun fungsi museum dari
konferensi ahli permuseuman dunia dalam ICOM (International Council of
Museum, organisasi permuseuman internasional dibawah Unesco) adalah sebuah
lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan
pengembangannya, terbuka untuk umum, yang memperoleh, merawat,
menghubungkan dan memamerkan, untuk tujuan-tujuan studi, pendidikan dan
kesenangan, barang-barang pembuktian manusia dan lingkungannya.

2. Tsunami

Tsunami adalah perpindahan badan air yang disebakan oleh perubahan permukaan
laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Perubahan permukaan laut tersebut bisa
disebabkan oleh gempa bumi yang berpusat di bawah laut, letusan gunung
berapi bawah laut, longsor bawah laut, atau hantaman meteor di
laut. Gelombang tsunami dapat merambat ke segala arah. Tenaga yang dikandung
dalam gelombang tsunami adalah tetap terhadap fungsi ketinggian dan
kelajuannya. Dampak negatif yang diakibatkan tsunami adalah merusak apa saja
yang dilaluinya. Bangunan, tumbuh-tumbuhan, dan mengakibatkan korban jiwa
manusia serta menyebabkan genangan, pencemaran air asin lahan pertanian, tanah,
dan air bersih.

3. Aceh

Aceh adalah sebuah provinsi di Indonesia. Aceh terletak di ujung utara


pulau Sumatera dan merupakan provinsi paling barat di Indonesia. Ibu kotanya
adalah Banda Aceh. Jumlah penduduk provinsi ini sekitar 4.500.000 jiwa. Letaknya
dekat dengan Kepulauan Andaman dan Nikobar di India dan terpisahkan oleh Laut
Andaman. Aceh berbatasan dengan Teluk Benggala di sebelah utara, Samudra
Hindia di sebelah barat, Selat Malaka di sebelah timur, dan Sumatera Utara di
sebelah tenggara dan selatan.

4. Monumen

Monumen adalah salah satu upaya manusia untuk mengabadikan bukti adanya
peristiwa sejarah dibuat ada yang dengan kesengajaan untuk sebuah peninggalan,
agar generasi yang akan dating tetap mengenang suatu peristiwa sejarah, namun ada
juga monument yang dibangun dengan begitu saja tidak punya maksud untuk
dikenang.

B. Sejarah Bencana Tsunami Aceh

Tanggal 26 Desember 2004 silam, bencana tsunami Aceh hingga detik ini tak akan
pernah bisa dilupakan oleh ratusan juta publik Asia Tenggara, terlebih jutaan
masyarakat Aceh. 11 tahun silam, sebuah bencana dahsyat yang disebut-sebut sebagai
bencana alam paling mematikan sepanjang sejarah modern kebencanaan Indonesia.

Kala itu, 26 Desember 2004, guncangan gempa terlama sepanjang sejarah bergetar
bergitu hebat dengan titik gempa di sekitar barat daya Provinsi Aceh. Tak disangka
sangka, gempa di minggu pagi pukul 07.58 WIB itu menjadi awal dari bencana dahsyat
tsunami. Gelombang tsunami menggulung dahsyat, meluluhlantakkan kota-kota di
Aceh, terutama yang berada di pesisir pantai.

STUDI UMUM

Peristiwa gempa bumi dan tsunami tersebut meluluh lantakkan Aceh dan juga sebagian wilayah
pesisir barat Sumatera Utara. Tidak hanya itu peristiwa bencana alam ini termasuk salah satu
bencana alam paling mematikan di dunia dan merupakan salah satu gempa terbesar yang
pernah tercatat dalam sejarah pada abad 21. Bencana alam ini mendapat respon yang luar biasa
bahkan menjadi trending topic dunia selain Perang Irak. Gempa dan tsunami ini tidak hanya
berdampak bagi Indonesia, tapi juga melanda hingga ke kawasan pesisir timur Afrika, seperti
Somalia hingga Madagaskar. Oleh karena itu, hal tersebut menjadi latar belakang
pembangunan Museum Tsunami Aceh.

Museum ini terletak di pusat kota Banda Aceh dan tidak terlalu jauh kira-kira 500 meter dari
arah Masjid Raya Baiturrahman. Untuk akses jalan menuju museum sangatlah mudah baik
secara jalan kaki ataupun menggunakan kendaraan bermotor pribadi dan umum. Tak butuh
waktu lama, hanya kurang lebih 9-15 menit saja. Letaknya tidak terlalu jauh dari tempat
destinasi wisata lainnya, seperti Monumen Pesawat R, Gunongan, Taman Putroe Phang,
Makam Sultan Iskandar Muda dan Museum Aceh. Bagi pengguna jalan kaki& bisa
menggunakan trotoar yang luas dan bersih untuk menuju Museum Tsunami Aceh.

Pembangunan museum ini bertujuan tidak hanya menjadi sebuah bangunan monumen& tetapi
juga sebagai objek sejarah, dimana bangunan ini menjadi tempat pusat penelitian dan
pembelajaran tentang bencana tsunami sebagai simbol kekuatan masyarakat Aceh dalam
menghadapi bencana tsunami. Selain itu bangunan ini diharapkan menjadi warisan untuk
generasi Aceh di masa mendatang sebagai pesan dan pelajaran bahwa tsunami pernah melanda
Aceh yang telah menelan banyak korban.
Sebelum pembangunan museum, terlebih dahulu diadakan sayembara desain arsitektur, yang
pada tanggal 12 Juli 2007 panitia pelaksana menerima 222 penda tar peserta sayembara.
kemudian pada tanggal 9 Agustus 2007 diterima 152 karya yang dipamerkan sedangkan
pengumuman pemenang dilakukan pada 17 Agustus 2007. Setelah itu diadakanlah Pameran
sayembara desain Museum Tsunami yang digelar di Gedung Aceh Community Center, dalam
pameran ini di pajang 152 desain rencana gedung museum tsunami, di buka resmi oleh
Gubernur Aceh diwakili Asisten II Usman Budiman. Pameran sayembara desain arsitektur
museum tersebut berlangsung tanggal 13-23, Agustus 2007.

Penyelenggaraan pameran karya peserta sayembara pra rencana Museum Tsunami Aceh
merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka mengakomodasi program mewujudkan sebuah
bangunan museum tsunami di Aceh yang akan menjadi tempat menyimpan, mengenang dan
sarana belajar adanya bencana tsunami secara keseluruhan. Pemenang pertama desain museum
tsunami ini akan pendapat penghargaan Rp 100 juta, pemenang kedua Rp 75 juta, pemenang
ketiga Rp 50 juta, penghargan partisipasi Rp 10 juta untuk 5 disain inovati. Kompetisi terbuka
bagi semua lapisan masyarakat, perseorangan atau kelompok.

Pengumuman Pemenang Sayembara Desain Pra Rencana NAD-Tsunami Museum pada 17


Agustus 2007 di Gedung Sultan Selim II Aceh Community Center, Banda Aceh. Desain yang
berjudul Rumoh Aceh as Escape Hill karya M. Ridwan Kamil dosen arsitektur Institut
Teknologi Bandung (ITB) memenangkan sayembara lomba desain museum tsunami Aceh
pada 17 Agustus 2007 di Ruang Sultan Selim II, Aceh Community Center, Banda Aceh.

PENGEMBANGAN

M. Ridwan Kamil berhasil memadukan kearifan lokal dan kejadian tsunami menjadi karya
yang sangat indah. Bahkan ia merasa kesulitan dalam merancang museum tersebut, karena ia
juga terbawa emosional mengenang peristiwa tersebut. Dalam menghasilkan karya yang
dinamai )umoh Aceh as Escape Hill itu, kata Kang Emil, membutuhkan waktu yang panjang.
Dirinya terpaksa beberapa kali melihat kembali video musibah gempa dan tsunami agar setiap
bangunan tersebut memiliki makna. Pada awalnya baginya terpikir untuk membuat memorial
saja, tetapi ia tidak mau seperti itu. Ia merancang museum itu menjadi pengingat dan mendidik.
Konsep menginggat tapi tidak larut dalam kesedihan tersebut berhasil dipadukan. Terciptanya
kolam di permukaan museum sebagai penginggat tsunami dan di atasnya terdapat ruang
memorial dan edukasi sebagai pendidikan mitigasi. Harapannya, masyarakat Aceh dapat
belajar menyelamatkan diri ketika tsunami kembali datang.

Museum Tsunami Aceh ini diisi dengan 55 koleksi terdiri dari : 7 unit maket, 22 unit alat
peraga, dan 26 unit foto ataupun lukisan yang menggambarkan keadaan tsunami di Aceh. Dan
ketika memasuki ruang koleksi, suasana mengenang tsunami terusik oleh kondisi koleksi yang
tak sempurna. Sejumlah koleksi yang ada, seperti ruang simulasi gempa, alat peraga rumah
tahan gempa dan rumah tak tahan gempa, serta alat peraga gelombang tsunami. Pameran di
museum ini meliputi simulasi elektronik gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004, serta
foto korban dan kisah yang disampaikan korban selamat. Terdapat juga diorama-diorama
peristiwa gempa bumi dan juga tsunami, lalu diorama Museum Tsunami Aceh. Juga terdapat
beberapa benda milik masyarakat yang dipajang, kemudian lukisan bagaimana masyarakat
Aceh membangun kembali disertai proses bantuan dari luar negeri serta proses perdamaian di
Aceh. Lukisan rancangan yang berjudul Rumoh Aceh as Escape Hill juga terpajang dan lukisan
tentang 152 karya desain museum yang ikut dalam berpartisipasi pun dipamerkan.

Fungsi Museum Tsunami Aceh:

1. Sebagai objek sejarah, dimana museum tsunami akan menjadi pusat penelitian dan
pembelajaran tentang bencana tsunami.
2. Sebagai simbol kekuatan masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana tsunami.
3. Sebagai warisan kepada generasi mendatang di Aceh dalam bentuk pesan bahwa di
daerahnya pernah terjadi tsunami. Selain perannya sebagai tugu peringatan bagi korban
tewas, museum ini juga berguna sebagai tempat perlindungan dari bencana semacam
ini pada masa depan, termasuk “bukit pengungsian” bagi pengunjung jika tsunami
terjadi lagi.
4. Untuk mengingatkan bahaya bencana gempa bumi dan tsunami yang mengancam
wilayah Indonesia. Hal ini disebabkan Indonesia terletak di “Cincin Api” Pasifik, sabuk
gunung berapi, dan jalur yang mengelilingi Basin Pasifik. Wilayah cincin api
merupakan daerah yang sering diterjang gempa bumi yang dapat memicu tsunami.

Desain dan pembangunan Museum Aceh dengan konsep ‘Rumoh Aceh as Escape Building’
mempunyai beragam filosofi. Seperti pada lantai dasar museum ini menceritakan bagaimana
tsunami terjadi melalui arsitektur yang didesain secara unik. Pada masing-masing ruangan
memiliki filosofi tersendiri yang mendeskripsikan gambaran tentang tsunami sebagai memorial
dari bencana besar yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 silam yang menelan ratusan
ribu korban jiwa. Berikut filosofi desain lantai dasar Museum Tsunami Aceh:

1. Space of Fear (Lorong Tsunami)


Lorong Tsunami merupakan akses awal pengunjung untuk memasuki Museum
Tsunami. Memiliki panjang 30 m dan tinggi mencapai 19-23bm melambangkan
tingginya gelombang tsunami yang terjadi pada tahun 2004 silam. Air mengalir di
kedua sisi dinding museum, dengan suara gemuruh air cahaya yang remang dan gelap,
lorong yang sempit dan lembab, mendeskripsikan perasaan rasa takut masyarakat Aceh
pada saat tsunami terjadi, yang disebut Space of Fear.

2. Space of Memory (Ruang Kenangan)


Setelah berjalan melewati Lorong Tsunami yang panjang 30 m, pengunjung akan
memasuki Ruang Kenangan (Memorial Hall). Ruangan ini memiliki 26 monitor
sebagai lambang dari kejadian tsunami yang melanda Aceh. Setiap monitor
menampilkan gambar dan foto para korban dan lokasi bencana yang melanda Aceh
pada saat tsunami sebanyak 40 gambar yang ditampilkan dalam bentuk slide. Gambar
dan foto ini seakan mengingatkan kembali kenangan kejadian tsunami yang melanda
Aceh atau disebut Space of Memory yang sulit dilupakan dan dapat dipetik hikmah dari
kejadian tersebut. Ruang dengan dinding kaca ini memiliki filosofi keberadaan di dalam
laut (gelombang tsunami). Ketika memasuki ruangan ini, pengunjung seolah-olah
tengah berada di dalam laut, dilambangkan dengan dinding-dinding kaca yang
menggambarkan luasnya dasar laut, monitor-monitor yang ada di dalam ruangan
dilambangkan sebagai bebatuan yang ada di dalam air, dan lampu-lampu remang yang
ada di atap ruangan dilambangkan sebagai cahaya dari atas permukaan air yang masuk
ke dasar laut.

3. Space of Sorrow (Ruang Sumur Doa)


Melalui ruang kenangan (Memorial Hall), pengunjung akan memasuki Ruang Sumur
Doa (Chamber of Blessing). Ruangan berbentuk silinder dengan cahaya remang dan
ketinggian 30 meter ini memiliki kurang lebih 2.000 nama-nama korban tsunami yang
tertera di setiap dindingnya. Ruangan ini di filosofikan sebagai kuburan massal tsunami
dan pengunjung yang memasuki ruangan ini dianjurkan untuk mendoakan para korban
menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Ruangan ini juga menggambarkan
hubungan manusia dengan Tuhannya (Hablumminallah) yang dilambangkan dengan
tulisan kaligrafi Allah yang tertera di atas cerobong dengan cahaya yang mengarah ke
atas dan lantunan ayat-ayat Al- Qur’an. Ini melambangkan bahwa setiap manusia pasti
akan kembali kepada Allah (penciptanya).

4. Space of confuse (lorong cerobong)


Setelah Sumur Doa, pengunjung akan melewati Lorong Cerobong (Ramp Cerobong)
menuju Jembatan Harapan. Lorong ini sengaja didesain dengan lantai yang berkelok
dan tidak rata sebagai bentuk filosofi dari kebingungan dan keputusasaan masyarakat
Aceh saat didera tsunami tahun 2004 silam, kebingungan akan arah tujuan,
kebingungan mencari sanak saudara yang hilang, dan kebingungan karena kehilangan
harta dan benda, maka filosofi lorong ini disebut Space Of Confuse. Lorong gelap yang
membawa pengunjung menuju cahaya alami melambangkan sebuah harapan bahwa
masyarakat Aceh pada saat itu masih memiliki harapan dari adanya bantuan dunia
untuk Aceh guna membantu memulihkan kondisi fisik dan psikologis masyarakat Aceh
yang pada saat usai bencana mengalami trauma dab kehilangan yang besar.

5. Space of Hope (Jembatan Harapan)


Lorong cerobong membawa pengunjung ke arah Jembatan Harapan (Space of Hope).
Disebut Jembatan Harapan karena melalui jembatan ini pengunjung dapat melihat 54
bendera dari 54 negara yang ikut membantu Aceh pasca tsunami, jumlah bendera sama
dengan jumlah batu yang tersusun di pinggiran kolam. Di setiap bendera dan batu
bertuliskan kata ‘Damai’ dengan bahasa dari masing masing negara sebagai refleksi
perdamaian Aceh dari perperangan dan konflik sebelum tsunami terjadi. Dengan
adanya bencana gempa dan tsunami, dunia melihat secara langsung kondisi Aceh,
mendukung dan membantu perdamaian Aceh, serta turut andil dalam membangun
(merekontruksi) Aceh setelah bencana terjadi.
Konsep Museum Tsunami Aceh:

1. Rumoh Aceh (Rumah Aceh)


Desain Museum Tsunami ini mengambil ide dasar dari rumah panggung Aceh sebagai
contoh kearifan arsitektur masa lalu dalam merespon tantangan dan bencana alam.
Desain ini mengacu pada keadaan Aceh pada masa silam yang juga pernah dilanda
bencana. Konsep ini merefleksikan keyakinan terhadap agama dan adaptasi terhadap
alam.

2. Escape Building
Desain Museum Tsunami ini berbentuk bukit penyelamatan sebagai antisipasi terhadap
bahaya tsunami di masa yang akan dating

3. Sea Waves
Denah bangunan merupakan anologi dari episenter sebuah gelombang laut sebagai
pengingat akan tsunami.

4. Saman Dance (Hablumminannas)


Tarian khas Aceh yang melambangkan kekompakkan dan kerjasama masyarakat Aceh,
mencerminkan kehidupan social yang kental akan gotong-royong dan
tolong0menolong, direfleksikan emlalui kulit bangunan pada eksterior Museum
Tsunami Aceh.

5. The Light if God (Hablumminannas)


Di dalam bangunan Museum Tsunami ini terdapat ruang berbentuk sumur silinder yang
menyorotkan cahaya ke atas sebagai symbol hubungan manusia dengan tuhannya.

6. Public Park
MuseumTsunami ini juga merupakan taman terbuka piblik yang dapat diakses dan
difungsikam setiap orang masyarakat, sebagai respon terhadap konteks urban.

KOMUNIKASI

Inovasi yang ditawarkan sebagai saran untuk objek

Saran untuk objek ke depannya adalah perlunya penataan para pedangan kaki lima yang
menjual souvenir di ruang terbuka. Selain itu mengenai kondisi koleksi dalam museum masih
perlu di inventaris dan diperbaiki ke depannya tentunya juga melalui penambahan-penambahan
berbagai koleksi untuk kepentingan ilmu pengetahuan akan bencana gempa dan tsunami jika
sewaktu-waktu melanda kembali. Kemudian akses jalan bagi pengguna jalan kaki yang harus
menyebrang jalan perlu dibuatkan jembatan penyebrangan untuk mempermudah akses menuju
objek, karena berdasarkan pengalaman kami, sangat sulit untuk menyebrang jalan di Kota
Banda Aceh karena kendaraan yang lalu-lalang sangat kencang dan sulit berhenti,