Anda di halaman 1dari 20

LABORATORIUM TEKNIK KIMIA Nama :HAIDAR FADHLUR R

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI NPM/Semester : 1531010040/ II


UPN “VETERAN” JAWA TIMUR Romb./Grup : IV/D
Praktikum : KIMIA ANALISA NPM/Teman Praktek : 1531010008 / ELIZA
Percobaan : PERMANGANOMETRI DAN
ARGENTOMETRI
Tanggal : 10 Mei 2016
Pembimbing : IR.NURUL WIDJI TRIANA, MT
DRAFT

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Dalam kimia analisa, Argentometri dan permanganometri merupakan


analisis volumetrik. Argentometri merupakan metode umum untuk menetapkan
kadar halogenida dan senyawa-senyawa lain yang membentuk endapan dengan
perak nitrat (AgNO3) pada suasana tertentu. Titrasi permanganometri adalah salah
satu bagian dari titrasi redoks (reduksi-oksidasi). Permanganometri merupakan
titrasi yang dilakukan berdasarkan reaksi oleh kalium permanganat (KMnO4).
Reaksi ini difokuskan pada reaksioksidasi dan reduksi yang terjadi antara KMnO4
dengan bahan baku tertentu.
Pada percobaan argentometri dan permanganometri terdapat beberapa
langkah-langkah. Langkah awal dalam percobaan argentometri adalah standarisasi
AgNO3 0,1 N dengan NaCl 0,1 N. Kemudian, menyetandarisasi larutan NH4CNS
dengan AgNO3. Setelah itu menetapkan kadar Cl- dengan metode Mohr, metode
Fajans, dan metode Volhard. Sedangkan pada percobaan permanganometri,
praktikan harus menyetandarisasi KMnO4 dengan Na2C2O4. Kemudian,
menentukan kadar Fe dalam sampel.
Analisis dengan argentometri dan permanganometri mempunyai peran yang
penting dalam teknik kimia dan memiliki manfaat yang sangat penting dalam ilmu
teknik maupun industri. Untuk tujuan itu, dalam ilmu kimia analisa telah
dikembangkan berbagai teknik dan metode dalam argentometri dan
permanganometri agar dapat menentukan kadar halida Cl- dengan metode Mohr,
Fajans, dan Volhard. Bukan hanya itu Untuk menentukan kadar Fe dalam sampel
dengan permanganometri. Dan juga Untuk mempelajari reaksi-reaksi yang terjadi
pada saat percobaan. Selain itu agar lebih memahami konsep peniteran dan
mengetahui konsentrasi standar dari zat yang dianalisa maka perlu dilakukan
peniteranargentometri dan permanganometri dengan menggunakan suatu standar
primer larutan.

I.2 Tujuan
1. Untuk menentukan kadar halida Cl- dengan metode Mohr, Fajans, dan
Volhard.
2. Untuk menentukan kadar Fe dalam sampel dengan permanganometri.
3. Untuk mempelajari reaksi-reaksi yang terjadi pada saat percobaan.

I.3 Manfaat
1. Agar praktikan dapat melakukan titrasi dengan tepat dan mencapai titik
ekuivalen.
2. Agar praktikan dapat mengetahui cara menentukan kadar Fe dalam
sampel menggunakan titrasi permanganometri.
3. Agar praktikan dapat mengetahui perbedaan pada metode Mohr, Fajans
dan Volhard.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II. 1 Secara Umum

Istilah Argentometri diturunkan dari bahasa latin Argentum, yang berarti


perak. Jadi, Argentometri merupakan salah satu cara untuk menentukan kadar zat
dalam suatu larutan yang dilakukan dengan titrasi berdasarkan pada pembentukan
endapan dengan ion Ag+. Salah satu cara untuk menentukan kadar asam-basa
dalam suatu larutan adalah dengan volumetri.
Argentometri merupakan titrasi pengendapan sampel yang dianalisis dengan
menggunakan ion perak. Biasanya, ion-ion yang ditentukan dalam titrasi ini
adalah ion halida(Cl-, Br-, I-). Ada tiga tipe titik akhir yang digunakan untuk
titrasi dengan AgNO3 yaitu :
1. Indikator
2. Argentometri
3. Indikator kimia
Titik akhir potensiometri didasarkan pada potensial elektrode perak yang
dicelupkan ke dalam larutan analit. Titik akhir argentometri melibatkan penentuan
arus yang diteruskan antara sepasang mikroelektrode perak dalam larutan analit.
Sedangkan titik akhir yang dihasilkan indikator kimia, biasanya terdiri dari
perubahan warna/muncul tidaknya kekeruhan dalam larutan yang dititrasi. Syarat
indikator untuk titrasi pengendapan analog dengan indikator titrasi netralisasi,
yaitu :
1. Perubahan warna harus terjadi terbatas dalam range pada p-functiondari
reagen/analit.
2. Perubahan Warna harus terjadi dalam bagian dari kurva titrasi untuk analit.

Pada titrasi argentometri, zat pemeriksaan yang telah dibubuhi indikator


dicampur dengan larutan standar garam perak nitrat (AgNO3). Dengan mengukur
volume larutan standar yang digunakan sehingga seluruh ion Ag+ dapat tepat
diendapkan, kadar garam dalam larutan pemeriksaan dapat ditentukan.
(Neilisa, 2014)

II.1.1 PRESIPIMETRI

Presipimetri ialah cara titrasi dimana terjadi endapan (presipitat =


endapan). Contoh yang mudah ialah :

AgNO3 + NaCl  AgCl + NaNO3

Makin kecil larutan garam yang dibentuk, makin sempurna reaksinya. Dalam
pembicaraan disini haya akan dibahas “ARGENTOMETRI” yakni titrasi-titrasi
yang menyangkut penggunaan larutan AgNO3.

Argentometri dimana terbentuk endapan dibedakan menjadi tiga macam


berdasarkan indkator yang dipakai untuk penentuan titik akhir:

1. Cara MOHR (1856)


Indikator K2CrO4, titran ialah AgNO3. Terutama untuk menentukan garam
klorida dengan titrasi langsung, atau menetukan garam perak dengan titrasi
kembali setelah ditambah larutan baku NaCl berlebih. pH harus diatur agar tidak
terlalu asam maupun terlalu basa (antara 6 dan 10).

(Harjadi, 1990)

Metode Mohr tak dapat diterapkan untuk titrasi iodida (atau tiosianat),
disebabkan oleh fenomena adsorpsi dan kesukaran membedakan perubahan warna
kalium kromat. Eosin merupakan indikator adsorpsi yang sesuai, tetapi
iododimetil-fluoresin adalah lebih baik. Indikator ini disiapkan dengan melarutkan
1 gr dalam 100 cm3 etanol 70 persen. Perubahan warna adalah dari merah-jingga
menjadi merah biru diatas endapan.

(Setiono, 1990)
2. Cara VOLHARD

Indikator Fe3+ , titran KSCN atau NH4SCN. Untuk menentukan garam


perak dengan titrasi langsung, atau gara-garam klorida, bromida, iodida, tiosianat,
dengan titrasi kembali setelah ditambah larutan baku AgNO3 berlebih juga untuk
anion-anion lain yang lebih mudah larut dari AgSCN, tetapi dengan usaha khusus.
pH harus cukup rendah, kira-kira 0,3 M H+ agar Fe3+ tidak terhidrolisa.

(Harjadi, 1990)

Selain itu pada pengolahan larutan klorida dengan larutan perak nitrat
standar berlebih, dan perak nitrat yang tersisa ditetapkan dengan titrasi dengan
larutan tiosanat standar. Adapun perak klorida lebih dapat larut dalam
kesetimbangan perak tiosianat.

Karena itu perak klorida perlu disingkirkan dengan penyaringan.


Penyaringan dapat dihindari dengan penambahan sedikit nitrobenzena (kira-kira 1
cm3 untuk setiap 0,05 g klorida); partikel-partikel perak klorida itu kemungkinan
dikelilingi oleh suatu nitrobenzena. Suatu metode lain, yang dapat dipakai untuk
klorida adalah dengan menggunakan tartazina sebagai indikator.

Iodida dapat juga ditetapkan denganmetode ini, dan dalam kasus ini perak
halidanya tidak perlu disaring, karena perak iodida kurang dapat larut dibanding
endapan perak tiosianat. Pada penetapan ini, larutan iodida itu harus sangat encer
untuk mengurangi efek adsorpsi. Larutan iodida encer ini diasamkan dengan asam
nitrat encer, ditetesi perlahan-lahan dengan perak nitrat 0,1 M standar, sambil
diaduk atau dikocok, sampai endapan yang kuning berkoagulasi dengan dan
cairan nampak tak berwarna.

(Setiono, 1990)

3. Cara FAJANS

Indikator ialah suatu adsorbsi menurut macam anion yang diendapkan oleh
Ag+, titran AgNO3 ; Ph tergantung dari macam anion dan indikator yang dipakai.
Cara kerja indikator adsorbsi ialah sebagai berikut : indikator ini ialah asam lemah
atau basa lemah organik yang dapat membentuk endapan dengan ion perak.
Misalnya fluoresein yang digunakan dalam titrasi ion klorida. Dalam larutan,
fluoresein akan mengion ( untuk mudahnya ditulis HFl saja ).

II.1.2 BERAT EKIVALEN DAN BAHAN BAKU PRIMER DALAM


ARGENOMETRI

Dalam argenometri berat ekivalen dihitung sebagai berat zat tereaksi atau
melepaskan satu mol ion Ag+. Dengan demikian, maka BE AgNO3 = BM nya; BE
NaCl dan KSCN sama dengan BM masing-masing. Dalam titrasi Leibig, KCN
bereaksi menurut persamaan reaksi

2 CN+ + Ag+ ↔ Ag(CN)2-

Sianida + perak ↔ Perak sianida

Dengan demikian, BE KCN dalam titrasi Liebig sama dengan 2 x BM-nya.

Baik AgNO3 maupun KSCN dapat diperoleh dalam kemurnian yang


sangat baik dan dapat digunakan sebagai bahan baku primer. Selain itu juga dapat
diperoleh NaCl sebagai bahan baku primer untuk standarisasi AgNO3.

Berbeda dengan titrasi menggunakan Na2S2O3 dimana BE dihitung dengan


menggunakan jumlah atom iod yang terlibat, dalam titrasi ini dihitung jumlah
perubahan BO yang dialami sebuah molekul zat.

Contoh :

1. BE I2 = ½ BM setiap atom iod yang mengalami penurunan satu satuan


valensi / BO, dengan kata lain dua satuan BO per molekul.
2. BE H3AsO3 = ½ BM tiap atom As naik dua satuan valensi (BO).

𝐵𝑀
BE =𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑠𝑖 (𝐵𝑂)𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑚𝑜𝑙𝑒𝑘𝑢𝑙 𝑦𝑏𝑠

(Harjadi,1990)
II.1.3 TITRASI PERMANGANOMETRI

Kalium permanganat merupakan oksidator kuat yang dapat bereaksi


dengan cara berbeda-beda, tergantung dari Ph larutanya. Kekuatannya sebagai
oksidator juga berbeda-beda sesuai dengan reaksi yang terjadi pada ph yang
berbeda itu. Reaksi yang bermacam ragam ini disebabkan oleh keragaman valensi
mangan, dari 1 sampai 7 yang semuanya stabil kecuali valensi 1 dan 5.

Kebanyakan titrasi dilakukan dalam keadaan asam ,disamping itu ada


beberapa titrasi yang sangat penting dalam suasana basa untuk bahan-bahan
organik. Daya oksidaso MnO4- dalam keadaan ini lebih kecil sehingga letak
kestimbangan kurang menguntungkan. Untuk menarik kesetimbangan ke arah
hasil titrasi, tirat ditambah Ba+ yang mengendapkan ion MnO4- sebagai BaMnO4.

Kristal KmnO4 untuk pembuatan larutan sering terkontaminasi dengan


MnO2, disamping itu MnO2 juga mudah terbentuk dalam larutan karena adanya
berbagai bahan organik. Maka pada pembuatan larutannya sesudah kristal larut,
sebaiknya larutan dipanaskan untuk mempercepat oksidasi zat-zat organik.
Setelah dingin, larutan disaring untuk memisah MnO2 . tentu penyaringan ini tidak
boleh menggunakan kertas saring karena mudah teroksidasi. Selanjutnya larutan
disimpan dalam botol berwarna gelap dan tanpa penambahan basa. Standarisasi
ulang perlu dilakukan.

(Harjadi, 1990)

Kalium permanganat juga mengalami beberapa penerapan dalam larutan


yang sangat basa. Di sini dua reaksi parsial berlangsung berturut-turut:

(i) Reaksi yang relatif cepat:


MnO4- + e  MnO42-
(ii) Reaksi yang relatif lambat:
MnO42- + 2H2O + 2e  MnO2 + 4OH-
Potensial standar dari reaksi (i) adalah 0,56 Volt, dan dari reaksi (ii) adalah
sebesar 0,60 Volt.

Kalium permanganat bukanlah suatu standar primer. Zat ini sukar


diperoleh sempurna murnidan bebas sama sekali dari mangan dioksida. Lagi pula
air suling yang biasa mungkin mengandungzat-zat pereduksi yang akan bereaksi
dengan kalium permanganat itu dengan membentuk mangan oksida. Adanya zat
yang disebut terakhir ini sangatlah mengganggu, karena ia mengkatalisis
penguraian sendiri dari larutan permanganat setelah didiamkan.

(Setiono, 1990)
II.2 Sifat Bahan

1. Natrium Oksalat
a. Rumus molekul : Na2C2O4
b. Memiliki massa molar 134.00 gr/mol
c. Densitas 2.34 gr/cm3
d. Kelarutan dalam air 3.7 gr/100 ml (20°C)
e. Tidak larut dalam alkohol
f. Penampilan : Solid (bubuk kristal putih)
Fungsi : sebagai larutan standar
(Anonim, 2016)
2. Perak Nitrat
a. Rumus molekul : AgNO3
b. Berupa padatan berwarna putih.
c. Memiliki berat molekul 169.87 gr/mol.
d. Densitas 4.35 gr/cm3.
e. Titik didih : 4400C
f. Titik leleh : 2120C
g. Larut dalam etanol dan aseton
Fungsi : untuk melihat suatu larutan jernih atau tidak
(Anonim, 2016)
3. Kalium Kromat
a. Rumus molekul : K2CrO4
b. Berupa serbuk kuning tak berbau.
c. Memiliki massa molar 194.185 gr/mol.
d. Densitas 2.7320 gr/cm3 pada fase padatan.
e. Kelarutan dalam air 62.9 gr/100 ml pada suhu 0°C.
f. Titik didih : 2355°C
g. Tidak larut di dalam alkohol
Fungsi : sebagai indikator untuk standarisasi AgNO3 dan dalam penetapan kadar
Cl-
(Anonim,2016)
4. Potassium Permanganat
a. Rumus molekul : KMnO4
b. Berupa padatan berwarna abu abu hitam.
c. Memiliki massa molar 158.034 gr/mol.
d. Densitas 2.073 gr/cm3.
e. Titik didih : 453 0C
f. Larut dalam air, alkohol dan pelarut organik
Fungsi : untuk mensatandarisasi asam oksalat dan menentukan kadar Fe dalam
sampel
(Anonim. 2016)
5. Merkuri (II) Klorida
a. Rumus molekul : HgCl2
b. Berupa padatan berwarna putih.
c. Memiliki massa molar 271.52 gr/mol.
d. Densitas 5.43 gr/cm3.
e. Titik didih : 3020C
f. Larut di dalam air, alkohol, aseton, etil asetat
Fungsi : untuk mengoksidasi kelebihan SnCl2
(Anonim, 2016)
6. Tin (II) Klorida
a. Rumus molekul : SnCl2
b. Berupa kristal berwarna putih.
c. Memiliki massa molar 189,6 gr/mol.
d. Densitas 3,95 gr/cm3.
e. Titik didih : 1210C
f. Larut di dalam etanol, aseton, eter, tetrahydrofuran
Fungsi : sebagai pereduksi
(Anonim, 2016)
7. Amonium Thiosinat
a. Rumus molekul : NH4CNS
b. Massa molar 76.122 gr/mol.
c. Berupa kristal/ padatan berwarna.
d. Densitas 1.305 gr/cm3.
e. Titik didih : 2320C
f. Larut dalam cairan amonia, alkohol dan aseton
Fungsi : untuk menstandarisasi larutan AgNO3 yang telah distandarisasi
(Anonim, 2016)
8. Indikator Fluorescein
a. Rumus molekul : C20H12O5
b. Massa molar 332.32 gr/mol.
c. Densitas 1,602 g / mL
d. Titik didih : 6530C
e. Berupa serbuk berwarna merah kecoklatan.
f. Tidak larut dalam air tetapi sedikit larut dalam dietil eter dan alkali
Fungsi : sebagai indikator untuk ion klorida
(Anonim, 2016)
9. Ferri Amonium Sulfat FeNH4(SO4)2.
a. Massa molar 482.25 gr/mol.
b. Densitas : 1,71 g/cm3
c. Berupa kristal berwarna violet.
d. Oksidator lemah
e. Paramagnetik
f. Asam dan beracun
Fungsi : sebagai indikator untukion klorida
(Anonim, 2016)
10. H2SO4 (Asam Sulfat)
a. Densitas : 1, 84 g/cm3
b. Berat molekul : 98,079 g/mol
c. Berupa cairan bening (seperti minyak).
d. Asam mineral (anorganik) yang kuat.
e. Larut dalam air
f. Senyawa yang sangat polar.
g. Idensitas air < idensitas H2SO4
Fungsi : pencipta suasana asam yang paling baik dan juga berfungsi mengikat air
yang akan dipanaskan supaya menguap.
(Anonim, 2016)
11. Asam Nitrat
a. Rumus molekul : HNO3
b. Massa Molar : 63,012 gr/mol.
c. Fase : cairan bening tak berwarna.
d. Densitas : 1,51 gr/cc.
e. Titik didih : 82,60C
f. Kelarutan dalam air tercampur penuh
Fungsi : sebagai pengendap sampel yang memiliki ion Cl-
(Anonim, 2016)
12. Natrium Klorida (NaCl)
a. Berbentuk Kristal.
b. Memiliki berat molekul 58,44 g/mol
c. Densitas : 2,16 g/cc
d. Tidak berwarna.
e. Higroskopis.
f. Sedikit larut dalam alkohol dan larut dalam air dan gliserol .
g. Berbentuk padatan putih dengan struktur bongkahan Kristal.
Fungsi : untuk menentukan kadar AgNO3 yang distandarisasi
(Anonim, 2016)
13. Aquades (H2O)
a. Berat molekul : 18,02 gr/mol
b. Densitas : 1000 kg/m3, cair (4 oC)
c. Tekanan uap : 2,3 kPa (20°C)
d. Berbentuk cairan tidak berwarna.
e. Tidak dapat terbakar.
f. Tidak beracun.
g. Memiliki pH 7 (netral).
h. Polimerisasi tidak terjadi.
Fungsi : sebagai pelarut dan untuk mencuci endapan.
(Anonim, 2016)
14. Asam Klorida (HCl)
a. Massa molar : 36,46 g/mol (HCl)
b. Cairan tak berwarna sampai dengan kuning.
c. Densitas : 1,18 g/cm3
d. Tercampur penuh dalam air
e. Merupakan asam kuat
f. Dapat terdisosiasi melepaskan satu H+ hanya sekali.
g. Asam monoprotik memiliki satu tetapan disosiasi asam
Fungsi :untuk melarutkan sampel larutan yang mengandung Fe dan untuk
mencuci sampel
(Anonim, 2016)
BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM

III.1 Bahan
1. AgNO3 8. HNO3
2. NaCl 0,1N 9. KMnO4
3. K2CrO4 5% 10. Aquades
4. Na2C2O4 11. Indikator Fluorescein
5. H2SO4 12. Ferri Amonium Sulfat
6. SnCl2 13. NH4CNS
7. HgCl2 14. HCl
III.2 Alat
1. Gelas ukur
2. Spatula
3. Erlenmeyer
4. Kertas saring
5. Corong
6. Labu ukur
7. Beaker glass
8. Buret
9. Statif
10. Pipet
11. bunsen
12. Kaki tiga
III.3 Gambar dan Susunan Alat

1. Gelas ukur 2. Labu ukur 3. Neraca analitik

4. Spatula 5. beaker glass 6. corong

7. pipet 8. buret 9. bunsen

10. erlenmeyer 11. kertas saring 12. kaki tiga


III.4. Prosedur Praktikum
A. Argentometri
1. Standarisasi AgNO3 0,1 N dengan NaCl 0,1 N
- Mengambil 10 ml larutan standar NaCl 0,1 N, masukkan dalam erlenmeyer
- Tambahkan 0,4 ml K2CrO4 5%
- Dititrasi dengan AgNO3 sampai timbul warna merah pertama yang tidak
hilang pada pengocokan. Catat kebutuhan titran AgNO3.

2. Standarisasi larutan NH4CNS dengan AgNO3


- ambil 10 ml larutan AgNO3 yang sudah distandarisasi. Masukkan dalam
erlenmeyer
- tambahkan 2 ml HNO3 6 N dan 0,4 ml ferri amonium sulfat
- titrasi dengan NH4CNS sampai timbul warna merah kecoklatan pertama yang
tidak hilang pada pengocokan. Catat kebutuhan titran.

3. Menetapkan kadar Cl- dengan “Metode Mohr”.


- masukkan 10 ml larutan sampel keadaan erlenmeyer
- tambahkan 0,4 ml K2CrO4
- titrasi dengan AgNO3 sampai timbul warna merah muda pertama yang tidak
hilang pada pengocokan. Catat kebutuhan titran.

fp = faktor pengenceran
4. Menetapkan kadar Cl- dengan “Metode Fajans”
- masukkan 10 ml larutan sampel kedalam erlenmeyer
- tambahkan 10 tetes indikator fluorescein, atur pH 7-8, panaskan 80o.
- Titrasi dengan AgNO3 sampai timbul warna merah muda pertama yang tidak
hilang pada pengocokan. Catat kebutuhan titran.
fp = faktor pengenceran
5. Menetapkan kadar Cl- dengan “Metode Volhard”
- Mengambil 10 ml sampel, ditambah 2 ml HNO3 6 N dan AgNO3 berlebih (±
12 ml), dikocok, saring dan cuci dengan air beberapa kali, air cucian
dijadikan satu dengan filtrat.
- Tambahkan 0,4 ml feri amonium sulfat
- Titrasi dengan NH4CNS sampai timbul warna merah kecoklatan pertama
yang tidak hilang pada pengocokan. Catat kebutuhan titran.

fp = faktor pengenceran
B. Permanganometri
1. Standarisasi KMnO4 dengan Na2C2O4
- Ambil 10ml larutan Na2C2O4 0,1N, masuk dalam Erlenmeyer.
- Tambahkan 6ml larutan H2SO4 6N
- Panaskan 70°-80° C.
- Titrasi dalam keadaan panas dengan KMnO4
- Titik akhir titrasi ditandai dengan munculnya warna merah muda yang tidak
hilang dalam pengocokan.
- Catat kebutuhan KMnO4 :

2. Menentukan kadar Fe dalam sample


- Sample dilarutkan dengan HCl pekat 10ml dalam Erlenmeyer.
- Panaskan hingga warna kekuningan
- Tambahkan 100ml aquadest.
- Saring, tamping filtrate dalam erlenmeyer 250ml.
- Cuci endapan dengan HCl encer ( larutan jadikan satu dengan filtrate ),
- Encerkan filtrat sampai tanda batas.
- Ambil 10ml filtrat, masukkan ke Erlenmeyer. Panaskan hingga mendidih.
- Tambahkan 4ml HCl encer, panaskan sampai mendidih lagi.
- Tambahkan tetes demi tetes SnCl2 sampai warna kuning hilang ( sambil
diaduk ) jika berubah menjadi kehijauan tambah 2 tetes SnCl2 dan tutup
dengan gelas arloji.
- Dinginkan larutan sampai suhu kamar. Tambahkan 40ml aquadest dan 8ml
HgCl2 5%.
- Setelah terbentuk endapan putih tambahkan 80ml air panas dan 6-8ml
larutan preventive.
- Titrasi dengan KMnO4 pada 70°-80°C. Catat kebutuhan KMnO4 :

C. PembuatanIndikator Fluorescein
Membuat indikator fluorescein dengan melarutkan fluorescein 1% 5 ml
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2016. ”MSDS Amonium Thiocynate”. (www.sciencelab.com). Diakses


pada 30 April 2016

Anonim. 2016. ”MSDS Aquadest”. (www.sciencelab.com). Diakses pada 30 April


2016

Anonim. 2016. ”MSDS Asam Nitrat”. (www.sciencelab.com). Diakses pada 30


April 2016

Anonim. 2016. ”MSDS Asam Klorida”. (www.sciencelab.com). Diakses pada 30


April 2016

Anonim. 2016. ”MSDS Asam Sulfat”. (www.sciencelab.com). Diakses pada30


April 2016 pukul

Anonim. 2016. ”MSDS Ferri Amonium Sulfat”. (www.sciencelab.com). Diakses


pada 30 April 2016

Anonim. 2016. ”MSDS Indikator Fluoresein”. (www.sciencelab.com). Diakses


pada 30 April 2016

Anonim. 2016. ”MSDS Kalium Kromat”. (www.sciencelab.com). Diakses pada


30 April 2016

Anonim. 2016. ”MSDS Kalium Permanganat”. (www.sciencelab.com). Diakses


pada 30 April 2016

Anonim. 2016. ”MSDS Natrium Klorida”. (www.sciencelab.com). Diakses pada


30 April 2016

Anonim. 2016. ”MSDS Natrium Oksalat”. (www.sciencelab.com). Diakses pada


30 April 2016

Anonim. 2016. ”MSDS Perak Nitrat”. (www.sciencelab.com). Diakses pada 30


April 2016

Anonim. 2016. ”MSDS Raksa Klorida”. (www.sciencelab.com). Diakses pada 30


April 2016
Anonim. 2016. ”MSDS Strontium Klorida”. (www.sciencelab.com). Diakses pada
30 April 2016 pukul 16.00 WIB

Arga, Putri. 2011. ” Titrasi Permnganometri“.


(http//:syadharzyarga.blogspot.co.id). Diakses pada 30 April 2016

Harjadi,W. 1990. ”Ilmu Kimia Analitik Dasar”. Jakarta : Gramedia

Neilisa, Fazza. 2014. ”TitrasiArgentometri”. (http://fazaneilisa.blogspot.co.id).


Diakses pada 30 April 2016

Setiono. 1990. “Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik”. Jakarta : PT


Kalman Media Pustaka