Anda di halaman 1dari 9

Blok Urogenitalia

Skenario 2

1. Anyang-anyangan
Gejala buang air kecil lebih sering karena rangsangan pada vesica urinaria
Perasaan tidak tuntas saat berkemih disertai rasa nyeri saat berkemih (disuria)
2. Leukosituria
Peningkatan jumlah leukosit dalam urine secara mikroskopik, ada lebih dari 10 leukosit/mm3 atau
lebih dari 5 leukosit/lpb
3. Foto IVP (intravenous pyelografi)
Metode imaging ren, ureter dan vesica urinaria dengan menggunakan sinar X, bahan kontras
disuntikkan melalui vena.
4. Bakteriuria
Adanya bakteri dalam urine dalam jumlah besar (metode midstream urine, jumlah bermakna bila
terdapat lebih dari 105 bakteri), mengindikasikan infeksi saluran kemih, urethra, ginjal
5. Kultur urine
Metode pemeriksaan mikrobiologi dengan membiakkan bakteri dari specimen urine untuk
mengidentifikasi penyebab infeksi dan menguji sensitivitas antibiotik
6. Diuretik
Obat yang dapat meningkatkan kecepatan produksi urine. Fungsi utama dengan memobilisasi cairan
edema sehingga mengubah keseimbangan cairan dan mengakibatkan volume cairan ekstrasel
normal

Nyeri pinggang tak tertahankan?


Pasien dua minggu yang lalu kencing keluar batu lalu seminggu kemudian demam?
Proses terbentuknya batu saluran kemih tersebut?
Interpretasi pemeriksaan laboratorium?
Buang air kecil anyang-anyang dan keruh?
Hubungan usia pasien dengan keluhan?
Dokter menyarankan pasien untuk olahraga serta minum air yang banyak dan seminggu lagi kontrol?
Pemeriksaan fisik? Pemeriksaan penunjang lain?
Interpretasi dan cara pengambilan sample tersebut?
IVP?
Diagnosis, DD, tata laksana?
Kenapa harus mengonsumsi antibiotik, obat diuretik, dan analgetik?
Langkah pencegahan, serta edukasi pada kasus infeksi saluran kemih dan batu saluran kemih?
Proses terjadinya infeksi saluran kemih?
Macam-macam batu saluran kemih?

Penyebab anyang-anyangan
Anyang-anyangan berarti rasa ingin berkemih kembali setelah berkemih. Hal ini dapat terjadi jika infeksi
saluran kemih sudah menyerang perut bagian bawah, atau batu saluran kemih sudah mendekati buli-
buli. Ketika terdapat mikroorganisme di dalam saluran kemih, seperti vesica urinaria, maka dinding
vesica urinaria akan mengirimkan impuls ke otak untuk berkemih guna membuang bakteri yang ada di
saluran kemih, meskipun vesica urinaria belum terisi penuh (kurang lebih 300ml). Hal ini menyebabkan
kencing yang dikeluarkan hanya sedikit-sedikit dan tidak lampias.
Penyebab kencing keruh dan bakteriuria: terdeteksinya bakteriuria pada pasien menunjukkan
adanya infeksi traktus urinarius oleh suatu bakteri patogen, dan keluarnya urin yang keruh oleh karena
adanya infeksi saluran kencing yang ditandai dengan bakteriuria sehingga urin yang keluar bercampur
dengan leukosit dan juga bakteri-bakteri penyebab ISK

Proses terbentuknya batu saluran kemih


Terdapat beberapa teori mengenai proses terbentuknya batu saluran kemih.
a. Terjadi karena supersaturasi urin oleh zat-zat terlarut seperti kalisum, oksalat, dan asam urat
disebabkan oleh kurangnya asupan cairan. Konsentrasi zat yang tinggi akan menyebabkan
pengendapan dan membentuk kristal.
b. Terbentuknya batu kalsium oksalat sebagai deposisi dari kalsium fosfat yang berpresipitasi di
membran basal segmen tipis lengkung Henle. Kalsium fosfat selanjutnya akan masuk ke interstitium
dan berakumulasi di ruang subepithelial papila renalis.
c. Adanya Proteus sp. yang menghasilkan urease yang akan memisahkan OH dan NH4. Enzim ini akan
meningkatkan pH, memicu presipitasi, dan membentuk kristal struvit.
Selain teori di atas ada lagi teori lain, sebagai berikut
a. Teori fisiko kimiawi
Prinsip teori ini yaitu terbentuknya batu saluran kemih karena adanya proses kimia, fisiko maupun
gabungan fisiko kimiawi. Dari hal tersebut diketahui terjadinya batu di dalam sistem pielokaliks ginjal
sangat dipengaruhi oleh konsentrasi bahan pembentuk batu dalam tubulus renalis. Berdasarkan faktor
fisiko kimiawi dikenal teori pembentukan batu sebagai berikut:
(1) Teori Supersaturasi
Supersaturasi air kemih dengan garam-garam pembentuk batu merupakan dasar terpenting dan
merupakan prasyarat untuk terjadinya presipitasi (pengendapan). Apabila kelarutan suatu produk
tinggi dibandingkan titik endapnya, maka terjadi supersaturasi sehingga menimbulkan
terbentuknya kristal dan pada akhirnya akan terbentuk batu
Supersaturasi dan kristalisasi terjadi bila ada penambahan yang bisa mengkristal dalam air dengan
pH dan suhu tertentu, sehingga suatu saat terjadi kejenuhan dan selanjutnya terjadi kristal.
Bertambahnya bahan yang dapat mengkristal yang disekresikan oleh ginjal, maka pada suatu saat
akan terjadi kejenuhan sehingga terbentuk kristal. Proses kristalisasi dalam pembentukan batu
saluran kemih berdasarkan adanya 3 zona saturasi, yaitu:
(a) Zona stabil, tidak ada pembentukan inti batu
(b) Zona metastabil, mungkin membesar tetapi tidak terjadi disolusi batu, bisa ada agregasi dan
inhibitor bisa mencegah kristalisasi
(c) Zona saturasi tinggi.
Tingkat saturasi dalam air kemih tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah bahan pembentuk batu
saluran kemih yang larut, tetapi juga oleh kekuatan ion, pembentukan kompleks dan pH air kemih.
Secara kasar separuh total konsentrasi kalsium dan oksalat berada dalam bentuk ion bebas, sisanya
dalam bentuk kompleks. Kekuatan ion terutama ditentukan oleh natrium, kalsium dan klorida. Bila
kekuatan ion naik, maka akan menyebabkan AP CaOx turun dan risiko pembentukan kristal kalium
oksalat, sebab jumlah konsentrasi ion biasanya akan menurun. Kalsium dapat membentuk
kompleks dengan sitrat yang larut dalam air. Keasaman air kemih akan mempengaruhi
pembentukan kompleks maupun aktivitas ion bebas. Pada kenaikan pH terjadi kenaikan kompleks
kalsium sitrat dan kalsium fosfat serta penurunan kompleks kalsium sulfat pada pH 6,5 atau lebih.
Hampir semua ion sitrat terionisasi sehingga sangat mudah membentuk kompleks dengan 3 ion
kalsium. Pada penurunan pH terjadi sebaliknya yaitu penurunan kemampuan ion sitrat untuk
mengikat kalsium sehingga lebih mudah membentuk kompleks kalsium oksalat. Pada pH tinggi
terjadi suasana basa, maka ion hidrogen bebas turun sehingga menaikkan ion fosfat bebas.
(2) Teori matrik
Di dalam air kemih terdapat protein yang berasal dari pemecahan mitokondria sel tubulus renalis
yang berbentuk laba-laba. Kristal batu oksalat maupun kalsium fosfat akan menempel pada
anyaman tersebut dan berada di sela-sela anyaman sehingga terbentuk batu. Benang seperti
sarang laba-laba yang berisi protein 65%, Heksana10%, Heksosamin 2-5% sisanya air. Pada benang
menempel kristal batu yang sebabkan batu makin lama makin besar. Matrik tersebut merupakan
bahan yang merangsang timbulnya batu.
(3) Teori Inhibitor
Pada penelitian diketahui bahwa walaupun kadar bahan pembentuk batu sama tingginya pada
beberapa orang tetapi tidak semua menderita penyakit batu. Hal tersebut disebabkan pada orang
yang tidak terbentuk batu dalam air kemihnya mengandung bahan penghambat untuk terjadinya
batu (inhibitor) yang lebih tinggi kadarnya dibanding pada penderita batu. Dikenal 2 jenis inhibitor
yaitu organik yang sering terdapat adalah asam sitrat, nefrokalsin dan tamma-horsefall glikoprotein
dan jarang terdapat yaitu gliko-samin glikans, uropontin. Inhibitor anorganik yaitu pirofosfat,
magnesium dan Zinc.
Menurut penelitian inhibitor yang paling kuat yaitu sitrat, karena sitrat akan bereaksi dengan
kalsium membentuk kalsium sitrat yang larut dalam air. Inhibitor mencegah terbentuknya kristal
kalsium oksalat, mencegah agregasi dan mencegah perlengketan kristal kalsium oksalat pada
membran tubulus. Magnesium mencegah terjadinya kristal kalsium oksalat dengan mengikat
oksigen menjadi magnesium oksalat.
Sitrat terdapat pada hampir semua buah-buahan tetapi kadar tertinggi pada jeruk. Pada penelitian
diketahui bahwa kandungan sitrat jeruk nipis lebih tinggi daripada jeruk lemon (677 mg/10ml)
dibanding 494 mg/10ml air perasan jeruk.
(4) Teori Epitaksi
Pada teori ini dikatakan bahwa kristal dapat menempel pada kristal lain yang berbeda sehingga
cepat membesar dan menjadi batu campuran. Keadaan ini disebut nukleasi heterogen dan yang
paling sering yaitu kristal kalsium oksalat menempel pada krital asam urat yang ada.
(5) Teori kombinasi
Banyak ahli berpendapat bahwa batu saluran kemih terbentuk berdasarkan campuran dari
beberapa teori yang ada.
(6) Teori Infeksi
Teori terbentuknya batu juga dapat terjadi karena adanya infeksi dari kuman tertentu. Pengaruh
infeksi pada pembentukan batu saluran kemih adalah sebagai berikut:
(6.a) Teori terbentuknya batu struvit
Batu struvit disebut juga batu infeksi mempunyai komposisi magnesium amonium fosfat.
Terjadinya batu jenis ini dipengaruhi pH air kemih ≥7,2 dan terdapat amonium dalam air
kemih, misalnya pemecah urea (urea splitting bacteria). Urease yang terbentuk akan
menghidrolisa urea menjadi karbon dioksida dan amonium.
Akibatnya pH air kemih akan naik lebih dari 7 dan terjadi reaksi sintesis amonium yang
terbentuk dengan molekul magnesium dan fosfat menjadi magnesum amonium fosfat (batu
struvit). Bakteri penghasil urease sebagian besar Gram negatif yaitu golongan proteus,
Klebsiela, Providensia dan Pseudomonas. Ada juga bakteri gram positif yaitu Staphylococcus,
mikrokokus dan korinebakterium serta golongan mikoplasma, seperti T strain mikoplasma dan
ureaplasma urelithikum.
(6.b) Teori nano bakteria
Nanobakteria merupakan bakteri terkecil dengan diameter 50-200 nanometer yang hidup
dalam darah, ginjal dan air kemih. Bakteri ini tergolong Gram negatif dan sensitif terhadap
tetrasiklin. Dinding sel bakteri ini mengeras membentuk cangkang kalsium (karbonat apatite)
kristal karbonat apatit ini akan mengadakan agregasi dan membentuk inti batu, kemudian
kristal kalsium oksalat akan menempel disitu sehingga makin lama makin besar. Dilaporkan
bahwa 90% penderita batu saluran kemih mengandung nano bacteria.
(6.c) Oxalobacter
Dalam usus manusia terdapat bakteri pemakan oksalat sebagai bahan energi yaitu
Oxalobacter formigenes dan Eubacterium lentrum tetapi hanya Oxalobacter formigenes saja
yang tak dapat hidup tanpa oksalat.
b. Teori Vaskuler
Pada penderita batu saluran kemih sering didapat adanya penyakit hipertensi dan kadar kolesterol
darah yang tinggi, maka Stoller mengajukan teori vaskuler untuk terjadinya batu saluran kemih.
(1) Hipertensi
Seseorang dikatakan hipertensi bila tekanan darah sistolis 140 mm Hg atau lebih, atau tekanan
darah diastolis 90 mmHg atau lebih atau sedang dalam pengobatan anti hipertensi. Pada penderita
hipertensi 83% mempunyai perkapuran ginjal sedangkan pada orang yang tidak hipertensi yang
mempunyai perkapuran ginjal sebanyak 52%. Hal ini disebabkan aliran darah pada papilla ginjal
berbelok 1800 dan aliran darah berubah dari arah laminer menjadi turbulensi. Pada penderita
hipertensi aliran turbulen ini berakibat penendapan ion-ion kalsium papilla (Ranall’s plaque)
disebut juga perkapuran ginjal yang dapat berubah menjadi batu.
(2) Kolesterol
Pada penelitian terhadap batu yang diambil dengan operasi ternyata mengandung kolesterol bebas
0,058-2,258 serta kolesterol ester 0,012-0,777 mikrogram per miligram batu. Adanya kadar
kolesterol yang tinggi dalam darah akan disekresi melalui glomerulus ginjal dan tercampur didalam
air kemih. Adanya butiran kolesterol tersebut akan merangsang agregasi dengan kristal kalsium
oksalat dan kalsium fosfat sehingga terbentuk batu yang bermanifestasi klinis (teori epitaksi).

Alasan dokter menyarankan pasien untuk olahraga serta minum air yang banyak dan seminggu lagi
kontrol
 Olahraga
Pada usia produktif, waktu untuk berolahraga cenderung sedikit sehingga kalsium dalam tulang
diabsorpsi ke ginjal, kalsium merupakan bahan untuk membentuk kristal.Berolahraga yang
bertujuan agar menjaga kalsium tetap ditulang, sehingga tidak masuk ke ginjal. Selain itu dalam
sebuah studi ditemukan bahwa olahraga ringan dapat menurunkan risiko batu ginjal sekitar 31%.
Namun dalam editorial disebutkan bahwa studi ini dilakukan pada wanita post-menopause
sehingga diperlukan studi serupa dengan populasi yang berbeda (Sorensen, 2013)
 Banyak minum
Pasien disarankan banyak minum sehingga tidak terjadi pengendapan dan pembentukan batu
akibat supersaturasi zat-zat di dalam urin karena ketika banyak minum ginjal akan meningkatkan
produksi urine dan memungkinkan batu diekskresikan bersama urine. Minum air putih yang banyak
juga ditujukan untuk menghilangkan bahan kontras daritubuh setelah melakukan pemeriksaann
IVP.
 Kontrol
Kontrol seminggu kemudian, diharapkan kultur urin sudah memberikan hasil mikroorganisme apa
penyebab keluhan pasien sehingga obat antibiotik yang diberikan dapat lebih fokus pada bakteri
tersebut. Selain itu, apabila dalam kurun waktu seminggu tersebut batu dapat dikeluarkan saat
berkemih, batu tersebut bisa dibawa saat kontrol untuk dapat mengetahui bahan batu tersebut
sehingga dokter dapat membuat diet makanan untuk pasien guna mencegah terjadinya
kekambuhan. Karena sekitar 7% per tahun terjadi kekambuhan penyakit batu saluran kemih.

Jenis-jenis batu saluran kemih


a. Batu Kalsium
Batu kalsium sering terjadi pada laki-laki, usia rata- rata timbulnya penyakit adalah pada dekade ketiga.
Sebagian besar orang yang membentuk batu kalsium tunggal akhirnya membentuk batu yang lain, dan
interval antara batu yang terbentuk secara berurutan memendek atau tetap konstan. Kecepatan rata-
rata pembentukan batu setiap 2 atau 3 tahun. Penyakit batu kalsium sering ersifat familial.
Di dalam urin, kristal kalsium oksalat monohidrat biasanya terbentuk dalam bentuk oval bikonkaf, yang
bentuknya menyerupai eritrosit dengan ukuran yang lebih besar, berbentuk dumbell. Kristal ini bersifat
birefringence. Kristal kalsium oksalat dihidrat berbentuk bipiramid dan bersifat birefringence lemah.
b. Batu Asam Urat
Batu ini terjadi akibat urin menjadi supersaturasi dengan asam urat yang tidak terdisosiasi. Separuh
pasien dengan batu asam urat mengalami gout; litiasis asam urat biasanya familial apakah terdapat gout
atau tidak. Pada kasus gout, litiasis asam urat idiopatik dan dehidrasi, pH rata-rata biasanya di bawah 5,4
atau bisa di bawah 5,0. Karena itu, asam urat tidak terdsosiasi mendominasi dan hanya larut dalam urin
yang konsentrasinya 100mg/L. Konsentrasi di atas kadar ini menimbulkan supersaturasi, yang
menyebabkan kristal dan batu.
c. Batu Struvit
Batu ini terjadi akibat infeksi saluran kemih karena bakteri, umumnya spesies Proteus, yang mempunyai
urease, enzim yang mendegradasi urea menjadi NH3 dan CO2. NH3 mengalami hidrolisis menjadi NH4+
dan menaikkan pH, biasanya sampai 8 atau 9. CO2 mengalami hidrasi menjadi H2CO3 dan selanjutnya
besrdisosiasi menjadi CO32- yang mengalami presipitasi dengan kalsium menjadi CaCO3. NH4 presipitasi
dengan PO43- dan Mg2+ membentuk MgNH4PO4. Hasilnya adalah batu kalsium karbonat tercampur
dengan struvit. Struvit tidak terbentuk dalam urin tanpa adanya infeksi, karena konsentrasi NH4+ dalam
urin rendah yang bersifat alkali, dalam responnya terhadap rangsang fisiologik. Infeksi Proteus kronik
dapat terjadi karena aliran urin terganggu, pemasangan instrumen urologik atau pembedahan, dan
terutama karena terapi antibiotik kronik yang memudahkan terjadinya dominasi Proteus dalam saluran
kemih
d. Batu Sistin.
Sistin merupakan asam amino yang kelarutannya paling kecil. Kelarutannya semakin kecil jika pH urin
turun/asam. Bila sistin tak larut akan mengendap dalam bentuk kristal dalam ginjal/saluran kemih
sehingga membentuk batu.

Interpretasi pemeriksaan laboratorium


 Hb : 12 g/dL → Terjadi penurunan hb ringan (N : 13-18 g/dL pada laki-laki)
 Leukosit 15.000 → Leukositosis ringan (N: 5.000-10.000) menandakan infeksi akut
 Kreatinin 1,0 mg/dL → Normal (N : 0.8 – 1.3 mg/dL) menunjukkan fungsi ginjal baik
 Leukosituria >50 sel/lpb → Adanya limfosit yang banyak pada urin menunjukkan adanya infeksi
saluran kemih
 Bakteriuria (+++) → terjadi infeksi masif oleh bakteri pada saluran kencing

Alasan diberi analgesic


Pemberian analgesik bertujuan untuk mengurangi rasa nyeri pinggang yang dialami pasien. Pemberian
analgesik secara IV berarti analgesik langsung masuk ke pembuluh darah sehingga efek yang ditimbulkan
lebih cepat. Berbeda halnya dengan pemberian secara peroral yang efek nya lebih lama karena analgesik
harus melewati berbagai mekanisme di sistem gastrointestinal. Oleh karena pasien merasakan nyeri
pinggang yang tidak tertahankan, maka dokter memberikan analgesik secara IV. Nyeri pada penyakit
batu saluran kemih biasanya sangat berat sehingga terkadang dibutuhkan obat narkotik untuk
mengatasinya.

Kultur urin
Indikasi
Indikasi dilakukannya kultur urin antara lain adalah untuk mendiagnosis adanya UTI, cystitis, urethritis,
pyelonefritis, indentifikasi patogen, dan untuk panduan terapi antimikrobial. (Price and Wilson, 2006)
Prosedur
Prosedur dalam pemeriksaan kultur urin dimulai dari tekni pengambilan spesimen yang benar, yaitu
urin. Teknik yang digunakan yaitu:
1) Punksi Suprapubik
Pengambilan urin ini dilakukan langsung dari kandung kemih melalui kulit dan dinding perut
dengan semprit dan jarum yang steril. Tindakan aspesis yang dilakukan harus bak dan benar,
anetesi yang dilakukan juga harus lokal pada daerah yang akan diambil.
2) Kateterisasi
Diambil dengan jarum dan semprit yang steril. Tempat penusukan kateter harus sedekat
mungkin dengan uung kateter. Pada pengambilan cara ini karena berisiko untuk terjadi
kontaminasi dan infeksi yang lebih parah, maka sudah jarang dilakukan.
3) Urin Porsi Tengah (mid-stream)
Merupakan teknik yang paling sering dilakukan dan tidak menimbulkan ketidaknyamanan pada
pasien.
Cara pengambilan pada wanita
1) Bersihkan daerah vagina sebelum melakukan pengambilan urine. Dibersihkan dengan povidone-
iodine kemudian dilanjutkan dengan kasa yang dicelupkan dalam kapas yang hangat dan kasa
steril. Biarkan kering.
2) Pisahkan kedua labia dengan 2 jari. Kemudian dibersihkan dengan kasa yang telah dibasahi
dengan air hangat. Arahnya dari depan ke belakang.
3) Dengan tetap memisahkan kedua labia, mulailah berkemih. Sepertiga urin awal dibuang,
kemudian sepertiga urin yang tengah ditampung dalam tabung yang sudah disiapkan dan sudah
disterilkan terlebih dahulu. Kemudian sepertiga terkahir urin dibuang kembali
4) Kemudian ditutup kembali, jangan dibuka jika belum akan digunakan. Diberi label identitas dan
segera dikirim ke laboratorium.
Cara pengambilan pada pria
1) Tarik preputium dengan satu tangan ke belakang dengan satu tangan dan bersihkan dengan
povidone-iodine kemudian dilanjutkan dengan kasa yang dicelupkan dalam kapas yang hangat
dan kasa steril.Biarkan kering.
2) Kemudian mulai berkemih. Spertiga urin awal dibuang, sepertiga urin mid-stream ditampung,
dan sepertiga terakhir dibuang kembali.
3) Tutup kembali, jangan dibuka jika belum akan digunakan. Diberi label identitas dan segera
dikirim ke laboratorium.
Sampel urin yang baik adalah:
1) Urin sewaktu. Urin ini merupakan urin segar yang baru saja dikemihkan. Urin akan mengalami
kerusakan kandungan di dalamnya setelah 2 jam. Oleh karena itu, urin harus segera diperiksa.
2) Bila tidak segera dipakai, urin harus disimpan dalam suhu 40C. Pada penyimpanan ini urin
bertahan 24 jam. Sedangkan dengan menggunakan formaldehid 72 jam.
3) Urin yang digunakan sebagai pemeriksaan non-bakteriologis, biasanya digunakan urin pagi hari
pertama kali, karena belum mengalami perubahan warna, perubahan pH dan perubahan
Urobilinogen menjadi urobilin.
Interpretasi hasil
1) Pada hitung koloni dari bahan porsi tengah urin dan dari urin kateterisasi.
a) Bila terdapat > 105 CFU/ml urin porsi tengah disebut dengan bakteriuria bermakna
b) Bila terdapat > 105 CFU/ml urin porsi tengah tanpa gejala klinis disebut bakteriuria asimtomatik
c) Bila terdapat mikroba 102 – 103 CFU/ml urin kateter pada wanita muda asimtomatik yang
disertai dengan piuria disebut infeksi saluran kemih.
2) Hitung koloni dari bahan aspirasi supra pubik.
Berapapun jumlah CFU pada pembiakan urin hasil aspirasi supra pubik adalah infeksi saluran
kemih.
3) Interpretasi praktis biakan urin oleh Marsh tahun 1976, ialah sebagai berikut:
Kriteria praktis diagnosis bakteriuria. Hitung bakteri positif bila didapatkan:
a) > 100.000 CFU/ml urin dari 2 biakan urin porsi tengah yang dilakukan seara berturut – turut.
b) > 100.000 CFU/ml urin dari 1 biakan urin porsi tengah dengan leukosit > 10/ml urin segar.
c) > 100.000 CFU/ml urin dari 1 biakan urin porsi tengah disertai gejala klinis infeksi saluran
kemih.
d) > 10.000 CFU/ml urin kateter.
e) Berapapun CFU dari urin aspirasi suprapubik.

IVP
IVP atau Intravenous Pyelography adalah foto pencitraan yang dapat menggambarkan keadaan sistem
urinaria melalui bahan kontras. Pencitraan ini dapat menunjukan kelainan anatomi dan fungsi ginjal dan
saluran kemih. Bahan kontras yang dipakai biasanya adalah yodium dengan dosis 300 mg/kgBB. Teknik
pelaksanaannya seperti pada tabel 1, yaitu pertama kali dibuat foto polos perut sebagai kontrol. Setelah
itu bahan kontras disuntikan secara intra vena, dan dibuat foto serial beberapa menit hingga satu jam,
dan foto setelah miksi. Jika terdapat keterlambatan fungsi ginjal, pengambilan foto diulangi setelah jam
ke-2, jam ke-6, atau jam ke-12.
a. Indikasi PIV :
1) Renal agenesis
2) Polyuria
3) BPH (benign prostatic hyperplasia)
4) Congenital anomali:
5) Duplication of ureter n renal pelvis
6) Ectopia kidney
7) Horseshoe kidney
8) Malroration
9) Hydroneprosis
10) Pyelonepritis
11) Renal hypertention
b. Kontraindikasi PIV
1) Alergi terhadap media kontras
2) Pasien yang mempunyai kelainan atau penyakit jantung
3) Pasien dengan riwayat atau dalam serangan jantung
4) Multi myeloma
5) Neonatus
6) Diabetes mellitus tidak terkontrol/parah
7) Pasien yang sedang dalam keadaan kolik
8) Hasil ureum dan creatinin tidak normal

Diagnosis Banding
Infeksi Saluran Kemih
Infeksi saluran kemih ditandai dengan adanya bakteri dalam urin. Bermakna klinis jika bakteri 105 CFU.
KLASIFIKASI ISK
Berdasarkan letak anatomi
Bawah : uritritis, sistitis (infeksi superfisialis vesika urinaria),
prostatitis
Atas : pielonefritis (proses inflamasi parenkim ginjal), abses ginjal
ETIOLOGI
Paling sering E.Coli. bisa juga proteus sp, klebsiela, dan jarang pseudomonas kecuali jika setelah pasang
kateter.
PATOGENESIS
Saluran kemih harus dilihat sebagai satu unit anatomi tunggal berupa saluran yang berkelanjutan mulai
dari uretra sampai ginjal. Pada sebagian besar infeksi, bakteri dapat mencapai kandung kemih melalui
uretra. Kemudian dapat diikuti oleh naiknya bakteri dari kandung kemih yang merupakan jalur umum
kebanyakan infeksi parenkim renal (Stamm, 1999). Introitus vagina dan uretra distal secara normal
dialami oleh spesies-spesies difteroid, streptokokus, laktobasilus, dan stafilokokus, tapi tidak dijumpai
basil usus gram negatif yang sering menyebabkan infeksi saluran kemih. Namun, pada perempuan yang
mudah mengalami sisitis, didapatkan organisme usus gram negatif yang biasa terdapat pada usus besar
pada intortius, kulit periuretra, dan uretra bagian bawah sebelum atau selama terjadi bakteriuria. Pada
keadaan normal, bakteri yang terdapat dalam kandung kemih dapat segera hilang. Sebagian karena efek
pengenceran dan pembilasan ketika buang air kecil tapi juga akibat daya antibakteri urin dan mukosa
kandung kemih. Urin dalam kandung kemih kebanyakan orang normal dapat menghambat atau
membunuh bakteri terutama karena konsentrasi urea dan osmolaritas urin yang tinggi. Sekresi prostat
juga mempunyai daya antibakteri. Leukosit polimorfonuklear dalam dinding kandung kemih tampaknya
juga berperan dalam membersihkan bakteriuria.
MANIFESTASI KLINIK
Pyelonefritis akut : demam, menggigil, sakit pinggang
ISK Bawah (cystisis) sakit suprapubik, polaksuria, nokturia, dysuria, stranguria.
Sindrom Uretra Akut sulit dibedakan dengan cystisis, tapi lebih sering pada wanita, usia 20-50 tahun

BATU
Batu saluran kemih adalah pengendapan garam-garam di traktus urinarius yang akhirnya menjadi batu.
Batu yang ada di ureter bisa menimbulkan kontraksi otot polos terus menerus menyebabkan nyeri kolik.
Jika batu menetap dan menyumbat, bisa terjadi obstruksi, aliran urin terganggu, reflux, bakteri mudah
tumbuh, menimbulkan timbulnya gejala infeksi.
DIAGNOSIS
Asimptom : ditemukan tidak sengaja ketika pemeriksaan urin
Batu yg menimbulkan nyeri : didiagnosis berdasar adanya kolik renalis.
Analisa urin menunjukkan darah, pus, dan Kristal kecil. Dari situ sudah dapat didiagnosis, namun jika
nyeri menetap selama berjam-jam, butuh pemeriksaan urin 24 jam. Rontgen untuk menentukan letak
batu, maupun IVP.