Anda di halaman 1dari 9

Blok Urogenitalia

Skenario 3

Penyebab buah zakar nyeri?


Nyeri pagi hari dan muntah?
Penyebab scrotum kirim membesar dan testis lebih tinggi, melintang?
Nyeri menetap saat scrotum digerakkan ke cranial?
Pengaruh keadaan pasien terhadap kesuburan?
Kenapa harus operasi? Indikasi, kontraindikasi?
Faktor risiko?
Pemfis, pem. Penunjang? Interpretasinya?
Dx, ddx?
Tata laksana? Komplikasinya?
Fisiologi spermatogenesis dan keluarnya sperma?

1) Testis: Testis merupakan organ kuat mudah bergerak, terletak didalam scrotum, dan digantung oleh
tangkai fibromuskuler yaitu funiculus spermaticus.
2) Skrotum: Skrotum merupakan kantong kulit yang terletak di bagian bawah dinding anterior
abdomen dan berisi testis, epididymis, dan ujung bawah funiculus spermaticus.

Kaitan usia dengan keluhan pasien


Ada beberapa penyakit yang dapat menyebabkan nyeri testis dan sering terjadi pada usia 19 tahun,
diantaranya torsio testis, tumor testis, dan epididimitis. Torsio testis paling banyak diderita oleh anak
pada masa pubertas (12-20 tahun), tumor testis terbanyak ada pria berusia diantara 15-35 tahun, dan
epididimitis sering terjadi pada usia dibawah 35 tahun terutama bagi pria yang suka berganti pasangan
(Purnomo, 2012).
Pasien adalah seorang remaja yang merupakan usia produktif, sering dikaitkan dengan aktivitas yang
banyak dan dapat menyebabkan pergerakan berlebihan dari testis. Tunika vaginalis yang seharusnya
mengelilingi sebagian dari testis pada permukaan anterior dan lateral testis, pada kelainan ini tunika
mengelilingi seluruh permukaan testis sehingga mencegah insersi epididimis ke dinding scrotum.
Keadaan ini menyebabkan testis dan epididimis dengan mudahnya bergerak ke kantung tunica vaginalis
dan menggantung pada funiculus spermaticus.

Nyeri terjadi di pagi hari, sampai muntah dan hanya di sebelah kiri
Nyeri pada saat istirahat dan secara tiba-tiba bisa jadi disebabkan oleh spasme dan kontraksi dari otot
kremaster dan tunica dartos. Pagi hari karena suhu dingin, dan spermatogenesis perlu suhu yang
optimal, maka m.cremaster berusaha untuk mendekatkan testis ke abdomen. Nyeri juga menjalar
hingga perut terasa mulas, selain itu disertai muntah. Hal ini disebabkan inervasi dari testis, yaitu plexus
testicularis, merupakan percabangan dari n. Thoracalis X-XII yang merupakan cabang dari ganglion
coeliacum, yang juga merupakan pangkal inervasi dari gaster. Plexus testicularis juga merupakan
percabangan dari n. Lumbalis I-II yang merupakan cabang dari nervus genitofemoralis yang
mempercabangkan ganglion mesenterica superior, yang juga menginervasi jejenum dan ileum.
Reflex muntah terjadi akibat terangsangnya pusat muntah di medula oblongata. Reflex muntah terjadi
karena terangsangnya reseptor muscarinic oleh beberapa sebab diantaranya adalah :
1) Terangsangnya Chemotactic Trigger Zone (CTZ) yang menangkap bahan kimia dari pembuluh darah
dengan adanya reseptor 5-hydroxytryptamine dan reseptor Dopamin-2
2) Terangsangnya N. Vestibulocochlearis karena motion sickness
3) Impuls afferent dari cortex cerebri yang mengirimkan sinyal ke pusat muntah akibat adanya
rangsangan berupa rasa nyeri, bau, visual, atau rasa.
Dalam kasus ini reflex muntah kemungkinan besar diakibatkan karena adanya rasa nyeri yang hebat
pada akibat torsio testis (UWGI, 2015).

Pengaruh terhadap kesuburan


Kasus yang dialami pasien sangat berhubungan dengan kesuburan, karena testis merupakan tempat
pembentukan sperma. Dimana sperma inilah yang akan membuahi ovum untuk menghasilkan janin. Jika
terjadi masalah pada testis, dapat menurukan fertilitas pasien tersebut, untuk kasus yang lebih parah
memungkinkan terjadi infertil.
Untuk skenario diatas, kelompok kami menduga pasien mengalami torsio testis. Torsio testis memiliki
golden period (6-8 jam) dimana jika ditangani dengan tepat, maka fungsi testis tidak akan terganggu.
Namun jika melewati golden period, akan menyebabkan nekrosis pada testis dan dapat menyebabkan
terjadinya infertilitas.

Alasan dioperasi
Operasi disarankan untuk mengembalikan posisi testis kearah yang benar. Karena apabila tidak segera
ditangani dalam 6 jam sejak nyeri timbul, maka testis akan mengalami hipoksia dan akhirnya akan
menjadi nekrosis
Meskipun dilakukannya operasi dapat menimbulkan komplikasi dan memiliki resiko yang besar pada
pasien, tindakan ini harus tetap dilakukan. Karena jika tidak segera diambil resiko infertilitas akibat
nekrosis jaringan akan lebih besar dan akan menyebabkan gangguan fungsi pada testis kontralateral.

Pemfis dan interpretasinya


Pada torsio testis didapatkan testis membengkak, letaknya lebih tinggi dan lebih horizontal daripada
testis sisi kontralateral. Kadang pada torsio testis yang baru saja terjadi dapat diraba adanya lilitan atau
penebalan funikulus spermatikus. Keadaan ini biasanya tidak disertai dengan demam (Purnomo, 2000).
Pada saat permulaan epididimis masih teraba tapi tidak dalam posisi normal (Alif, 1994).
Testis yang mengalami torsio pada scrotum akan tampak hiperemis. Eritema dan edema dapat meluas
hingga scrotum sisi kontralateral. Testis yang mengalami torsio juga akan terasa nyeri pada palpasi.
Seluruh testis akan bengkak dan nyeri serta tampak lebih besar bila dibandingkan dengan testis
kontralateral, oleh karena adanya kongesti vena. Testis juga tampak lebih tinggi di dalam scotum
disebabkan karena pemendekan dari spermatic cord. Hal tersebut merupakan pemeriksaan yang spesifik
dalam menegakkan dianosis. Biasanya nyeri juga tidak berkurang bila dilakukan elevasi testis (Prehn
sign) (Kusbiantoro, 2007).
Phren Sign merupakan pemeriksaan fisik yang dilakukan untuk membedakan torsio testis dengan
epididimitis. Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengelevasi testis. Apabila rasa nyeri tetap ada ketika di
elevasi menandakan adanya torsio testis. Namun apabila nyeri berkurang ketika di elevasi maka hal ini
menandakan adanya epididimitis (Medscape, 2015).
Pemeriksaan fisik yang paling sensitif pada torsio testis ialah hilangnya refleks cremaster. Dalam satu
literatur disebutkan bahwa pemeriksaan ini memiliki sensitivitas 99% pada torsio testis (Ringdahl &
Teague, 2006).
Edema yang terjadi pada testis yang terpelintir funikulus spermatikusnya terjadi karena terjadinya
obstruksi aliran darah testis. Sehingga testis menjadi edema.

Pemeriksaan penunjang
a. Urinalysis untuk melihat adanya bakterinuia dan leukosituria. Pemeriksaan ini dilakukan untuk
menyingkirkan diagnosis banding peradangan dan infeksi saluran kemih
b. USG doppler atau stetoskop doppler untuk menilai aliran darah pada testis. Apabila masih ada aliran
darah maka kemungkinan testis masih dapat berfungsi. Apabila telah terjadi necrosis tidak akan ada
aliran darah (Cdemcurriculim, 2015).
c. Pemeriksaan darah lengkap dapat menunjukkan hasil yang normal atau peningkatan leukosit pada
60% pasien. Namun pemeriksaan ini tidak membantu dan sebaiknya tidak rutin dilakukan. Adanya
peningkatan acute-fase protein (dikenal sebagai CRP) dapat membedakan proses inflamasi sebagai
penyebab akut scrotum.
d. Radionuclide scanning dengan menggunakan technetum 99m (99mTc) pertechnetate dengan
akurasi diagnostik 90%. Metode tersebut digunakan untuk menilai aliran darah ke testis dan
membedakan torsio dengan kondisi lainnya.

Torsio testis
Definisi
Torsio testis adalah suatu keadaan dimana spermatic cord/funikulus spermatikus yang terpeluntir yang
mengakibatkan oklusi dan strangulasi dari vaskularisasi vena atau arteri ke testis dan epididimis. Torsio
testis merupakan suatu kegawat daruratan vaskuler yang murni dan memerlukan tindakan bedah yang
segera. Jika kondisi ini tidak ditangani dalam waktu singkat (dalam 4 hingga 6 jam setelah onset nyeri)
dapat menyebabkan infark dari testis, yang selanjutnya akan diikuti oleh atrofi testis.
Torsio testis juga kadang-kadang disebut sebagai ‘sindrom musim dingin’. Hal ini disebabkan karena
torsio testis lebih sering terjadi pada musim dingin. Torsio testis juga merupakan kegawat daruratan
urologi yang paling sering terjadi pada laki-laki dewasa muda, dengan angka kejadian 1 diantara 400
orang dibawah usia 25 tahun. Torsio testis harus selalu dipertimbangkan pada pasien-pasien dengan
akut skrotum hingga terbukti tidak, namun kondisi tersebut juga harus dibedakan dari keluhan nyeri
testis lainnya.
Penyebab dari akut skrotum biasanya dapat ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik
yang menyeluruh serta pemeriksaan diagnostik yang tepat. Sekitar dua per tiga pasien, anamnesis dan
pemeriksaan fisik cukup untuk menegakkan diagnosis yang tepat. Keterlambatan dan kegagalam dalam
dignosis dan terapi akan menyebabkan proses torsio yang berlangsung lama, sehingga pada akhirnya
menyebabkan kematian testis dan jaringan disekitarnya.
Penatalaksanaan torsio menjadi tindakan darurat yang harus segera dilakukan karena angka
keberhasilan serta kemungkinan testis tertolong akan menurun seiring dengan bertambahnya lama
waktu terjadinya torsio. Adapun penyebab tersering hilangnya testis setelah torsio adalah
keterlambatan dalam mencari pengobatan (58%), kesalahan dalam diagnosis awal (29%), dan
keterlambatan terapi (13%).
Patofisiologi
Terdapat 2 jenis torsio testis berdasarkan patofisiologinya yaitu intravagina dan ekstravagina torsio.
Torsio intravagina terjadi di dalam tunika vaginalis dan disebabkan oleh karena abnormalitas dari tunika
pada spermatic cord di dalam scrotum. Secara normal, fiksasi posterior dari epididimis dan investment
yang tidak komplet dari epididymis dan testis posterior oleh tunika vaginalis memfiksasi testis pada sisi
posterior dari scrotum. Kegagalan fiksasi yang tepat dari tunika ini menimbulkan gambaran bentuk ‘bell-
clapper’ deformitas, dan keadaan ini menyebabkan testis mengalami rotasi pada cord sehingga
potensial terjadi torsio. Torsio ini lebih sering terjadi pada usia remaja dan dewasa muda.
Ekstravagina torsio terjadi bila seluruh testis dan tunika terpeluntir pada axis vertical sebagai akibat dari
fiksasi yang tidak komplet atau non fiksasi dari gubernakulum terhadap dinding scrotum, sehingga
menyebabkan rotasi yang bebas di dalam scrotum. Kelainan ini sering terjadi pada neonatus dan pada
kondisi undesensus testis.
Manifestasi Klinis
Gejala pertama dari torsio testis adalah hampir selalu nyeri. Gejala ini bisa timbul mendadak atau
berangsur-angsur, tetapi biasanya meningkat menurut derajat kelainan. Riwayat trauma didapatkan
pada 20% pasien, dan lebih dari sepertiga pasien mengalami episode nyeri testis yang berulang
sebelumnya. Derajat nyeri testis umumnya bervariasi dan tidak berhubungan dengan luasnya serta
lamanya kejadian.
Pembengkakan dan eritema pada scrotum berangsur-angsur muncul. Dapat pula timbul mual dan
muntah, kadang-kadang disertai demam ringan. Gejala yang jarang ditemukan pada torsio testis ialah
rasa panas dan terbakar saat berkermih, dan hal ini yang membedakan dengan orchio-epididymitis.
Adapun gejala lain yang berhubungan dengan keadaan ini antara lain :
a. Nyeri perut bawah.
b. Pembengkakan testis.
c. Darah pada semen.
Penatalaksanaan
a. Reduksi Manual
Sekali diagnosis torsio testis ditegakkan, maka diperlukan tindakan pemulihan aliran darah ke testis
secepatnya. Biasanya keadaan ini memerlukan eksplorasi pembedahan. Pada waktu yang sama ada
kemungkinan untuk melakukan reposisi testis secara manual sehingga dapat dilakukan operasi elektif
selanjutnya. Namun, biasanya tindakan ini sulit dilakukan oleh karena sering menimbulkan nyeri akut
selama manipulasi.
Pada umumnya terapi dari torsio testis tergantung pada interval dari onset timbulnya nyeri hingga
pasien datang. Jika pasien datang dalam 4 jam timbulnya onset nyeri, maka dapat diupayakan tindakan
detorsi manual dengan anestesi lokal. Prosedur ini merupakan terapi non invasif yang dilakukan dengan
sedasi intravena menggunakan anestesi lokal (5 ml Lidocain atau Xylocaine 2%). Sebagian besar torsio
testis terjadi ke dalam dan ke arah midline, sehingga detorsi dilakukan keluar dan ke arah lateral. Selain
itu, biasanya torsio terjadi lebih dari 360o, sehingga diperlukan lebih dari satu rotasi untuk melakukan
detorsi penuh terhadap testis yang mengalami torsio.
Tindakan non operatif ini tidak menggantikan explorasi pembedahan. Jika detorsi manual berhasil, maka
selanjutnya tetap dilakukan orchidopexy elektif dalam waktu 48 jam. Dalam literatur disebutkan bahwa
tindakan detorsi manual hanya memberikan angka keberhasilan 26,5%. Sedangkan penelitian lain
menyebutkan angka keberhasilan pada 30-70% pasien.
Orchidopeksi dilakukan dengan cara memasang 3 jahitan antara tunika albugenia dan tunika dartos
dengan bahan yang tidak diserap, misalnya sutera.
b. Pembedahan
Dalam hal detorsi manual tidak dapat dilakukan, atau bila detorsi manual tidak berhasil dilakukan maka
tindakan eksplorasi pembedahan harus segera dilakukan. Pada pasien-pasien dengan riwayat serangan
nyeri testis yang berulang serta dengan pemeriksaan klinis yang mengarah ke torsio sebaiknya segera
dilakukan tindakan pembedahan. Hasil yang baik diperoleh bila operasi dilakukan dalam 4 jam setelah
timbulnya onset nyeri. Setelah 4 hingga 6 jam biasanya nekrosis menjadi jelas pada testis yang
mengalami torsio.
Eksplorasi pembedahan dilakukan melalui insisi scrotal midline untuk melihat testis secara langsung dan
guna menghindari trauma yang mungkin ditimbulkan bila dilakukan insisi inguinal. Tunika vaginalis
dibuka hingga tampak testis yang mengalami torsio. Selanjutnya testis direposisi dan dievaluasi
viabilitasnya. Jika testis masih viabel dilakukan fiksasi orchidopexy, namun jika testis tidak viabel maka
dilakukan orchidectomy guna mencegah timbulnya komplikasi infeksi serta potensial autoimmune injury
pada testis kontralateral. Oleh karena abnormalitas anatomi biasanya terjadi bilateral, maka
orchidopexy pada testis kontralateral sebaiknya juga dilakukan untuk mencegah terjadinya torsio di
kemudian hari.
Tindakan detorsi testis manual tidak lagi disarankan karena terdapat malformasi kongenital testis
berbentuk bell clapper.
Risiko dan Komplikasi
Terjadi atrofi testis karena aliran darah berkurang selama torsio. Makin lambat penanganan, makin
memperparah atrofi. Atrofi biasanya berlangsung beberapa hari sampai beberapa bulan setelah
dikoreksi. Komplikasi lain: infark testis, infeksi, torsio rekuren.
Torsio testis termasuk salah satu kegawat daruratan dalam bidang urologi. Nekrosis tubular pada testis
yang terlibat jelas terlihat setelah 2 jam dari torsi. Keterlambatan lebih dari 6-8 jam antara onset gejala
yang timbul dan waktu pembedahan atau detorsi manual akan menurunkan angka pertolongan
terhadap testis hingga 55-85%. Putusnya suplai darah ke testis dalam jangka waktu yang lama akan
menyebabkan atrofi testis. Atrofi testikular dapat terjadi dalam waktu 8 jam setelah onset iskemia.
Insiden terjadinya atrofi testis meningkat bila torsio telah terjadi 8 jam atau lebih. Komplikasi klinis dari
torsio testis adalah kesuburan yang menurun dan hilangnya testikular apabila torsi tersebut tidak
diperbaiki dengan cukup cepat. Tingkat yang lebih ekstrim dari torsi testis mempengaruhi tingkat
iskemia testikular dan kemungkinan penyelamatan.
Komplikasi torsi testis yang paling signifikan adalah infark gonad. Kejadian ini bergantung pada durasi
dan tingkat torsi. Analisis air mani abnormal dan apoptosis testikular kontralateral juga merupakan
sekuele yang diketahui mengikuti ketegangan testis. Oleh karena itu, resiko subfertilitas harus
dibicarakan dengan pasien. Testis yang telah mengalami nekrosis jika tetap dibiarkan berada di dalam
skrotum akan merangsang terbentuknya antibodi antisperma sehingga mengurangi kemampuan
fertilitas dikemudian hari. Komplikasi lain yang sering timbul dari torsio testis meliputi yaitu hilangnya
testis, infeksi, infertilitas sekunder, deformitas kosmetik.

Varikokel
Definisi
Merupakan dilatasi abnormal vena dari plexus pampiniformis akibat gangguan aliran darah balik vena
spermatica interna. Lebih sering terjadi pada sisi sebelah kiri dibanding yang kanan. Sering terjadi di
sinistra karena :
a. Vena tidak langsung bermuara ke vena cava inferior namun melewati vena renalis sinistra terlebih
dulu.
b. Tidak adanya katup yang dapat menahan reflux secara efektif pada percabangan vena testicularis dan
vena renalis sinistra.
c. Adanya Nutcracker Effect yaitu adanya kompresi vena renalis sinistra oleh aorta dan arteri
mescenterica superior (Kurklinksy, 2010)
Varicocele pada testis dextra dapat merupakan tanda obstruksi yang disebabkan oleh tumor.
Manifestasi Klinis
Biasanya pasien datang dengan keluhan sulit memiliki anak atau merasakan adanya benjolan diatas
testis dan terasa nyeri.
Gejala yang dirasakan adalah perasaan berat pada sisi yang terkena dan terasa lunak ketika di palpasi
dalam pemeriksaan. Pada pemeriksaan fisik juga dapat ditemukan massa yang teraba sebagai
“sekantong cacing” yang teraba ketika pasien dalam posisi berdiri, sedangkan kita pasien berbaring,
massa dapat mengosongkan isinya dan tidak teraba.
Konsentrasi dan pergerakan sperma akan menurun pada laki-laki dengan varicocele, sedangkan
hubungannya dengan infertilitas belum diketahui. Namun, mungkin berkaitan dengan peninggian suhu,
karena salah satu fungsi plexus pampiniformis adalah untuk menjaga suhu testes 1 atau 2 F lebih rendah
dari suhu tubuh guna memberikan keadaan yang optimal untuk memproduksi sperma. (Price, 2005)
Diagnosis
Pemeriksaannya dilakukan dengan berdiri, lalu pasien diminta melakukan manuever valsava/ mengejan.
Menurut hasil pemeriksaannya, dibedakan menjadi 3 derajat :
a. Derajat kecil: Dapat dirasakan saat palpasi, posisi pasien mengejan.
b. Derajat sedang: Dapat dirasakan saat palpasi, walau posisi pasien tanpa mengejan.
c. Derajat besar : Dapat dilihat saat inspeksi, walau posisi pasien tanpa mengejan.
Dapat juga dilakukan pemeriksaan dengan stetoskop Doppler untuk melihat adanya peningkatan aliran
darah plexus pampiniformis. Untuk varikokel yang sulit diraba, dimasukan ke kategori varikokel
subklinis.
Penatalaksanaan
Bedah perbaikan pada varicositas sdengan meligasi vena spermatika internapada cincin inguinal interna
dapat meningkatkan kualitas sperma. Nyeri kronik yang dirasakan dapat dikurangi dengan penyangga
skrotum. (Price, 2005)
Pasca operasi dilakukan evaluasi.Dilihat apakah sudah terjadi penambahan volume testis. Lalu dilakukan
pula analisis semen (per 3 bulan). Juga dilakukan pengecekan apakah pasangan pasien sudah hamil.
Komplikasi
Varikokel dapat mengganggu fertilitas melalui :
a. Stagnasi darah balik sehingga menyebabkan testis mengalami hipoksia.
b. Refluks hasil metabolit ginjal dan adrenal (katekolamin, prostaglandin) melalui vena spermatica
interna menuju ke testis.
c. Meningkatnya suhu testis.
d. Anastomosis plexus pampiniformis kiri dan kanan.

Hidrokel
Definisi
Hidrokel adalah penumpukan cairan berbatas tegas yang berlebihan di antara lapisan parietalis dan
viseralis tunika vaginalis. Dalam keadaan normal, cairan yang berada di dalam rongga itu memang ada
dan berada dalam keseimbangan antara produksi dan reabsorbsi oleh sistem limfatik di sekitarnya.
Etiologi
Hidrokel yang terjadi pada bayi baru lahir dapat disebabkan karena :
a. Belum sempurnanya penutupan prosesus vaginalis sehingga terjadi aliran cairan peritoneum ke
prosesus vaginalis; atau
b. Belum sempurnanya sistem limfatik di daerah skrotum dalam melakukan reabsorbsi cairan hidrokel.
Pada orang dewasa, hidrokel dapat terjadi secara idiopatik (primer) dan sekunder. Penyebab sekunder
dapat terjadi karena didapatkan kelainan pada testis atau epididimis yang menyebabkan terganggunya
sistem sekresi atau reabsorbsi cairan di kantong hidrokel. Kelainan pada testis itu mungkin suatu tumor,
infeksi, atau trauma pada testis/epididimis. Kemudian hal ini dapat menyebabkan produksi cairan yang
berlebihan oleh testis, maupun obstruksi aliran limfe atau vena di dalam funikulus spermatikus.
Hidrocele dapat juga disebabkan oleh filariasis yaitu infeksi oleh cacing Wuchereria brancofti. Pada
wanita juga dapat terjadi hidrocele pada Canalis Nuck/Processus Vaginalis Peritonei Feminis. Canalis
Nuck merupakan pembentukan kantong abnormal dari peritoneum yang melebar sampai labia majora
(Manjunatha, 2012)
Manifestasi Klinis
Pasien mengeluh adanya benjolan di kantong skrotum yang tidak nyeri. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan adanya benjolan di kantong skrotum dengan konsistensi kistus dan pada pemeriksaan
penerawangan menunjukkan adanya transiluminasi. Pada hidrokel yang terinfeksi atau kulit skrotum
yang sangat tebal kadang-kadang sulit melakukan pemeriksaan ini, sehingga harus dibantu dengan
pemeriksaan ultrasonografi. Menurut letak kantong hidrokel terhadap testis, secara klinis dibedakan
beberapa macam hidrokel, yaitu (1) hidrokel testis, (2) hidrokel funikulus, dan (3) hidrokel komunikan.
Pembagian ini penting karena berhubungan dengan metode operasi yang akan dilakukan pada saat
melakukan koreksi hidrokel.
Pada hidrokel testis, kantong hidrokel seolah-olah mengelilingi testis sehingga testis tak dapat diraba.
Pada anamnesis, besarnya kantong hidrokel tidak berubah sepanjang hari.
Pada hidrokel funikulus, kantong hidrokel berada di funikulus yaitu terletak di sebelah kranial testis,
sehingga pada palpasi, testis dapat diraba dan berada di luar kantong hidrokel. Pada anamnesis, kantong
hidrokel besarnya tetap sepanjang hari.
Pada hidrokel komunikan terdapat hubungan antara prosesus vaginalis dengan rongga peritoneum
sehingga prosesus vaginalis dapat terisi cairan peritoneum. Pada anamnesis, kantong hidrokel besarnya
dapat berubah-ubah yaitu bertambah besar pada saat anak menangis. Pada palpasi, kantong hidrokel
terpisah dari testis dan dapat dimasukkan ke dalam rongga abdomen.
Penatalaksanaan
Hidrokel pada bayi biasanya ditunggu hingga anak mencapai usia 1 tahun dengan harapan setelah
prosesus vaginalis menutup, hidrokel akan sembuh sendiri. Tetapi jika hidrokel masih tetap ada atau
bertambah besar perlu dipikirkan untuk dilakukan koreksi.
Tindakan untuk mengatasi cairan hidrokel adalah dengan aspirasi dan operasi. Aspirasi cairan hidrokel
tidak dianjurkan karena selain angka kekambuhannya tinggi, kadang kala dapat menimbulkan penyulit
berupa infeksi.
Beberapa indikasi untuk melakukan operasi pada hidrokel adalah : (1) hidrokel yang besar sehingga
dapat menekan pembuluh darah, (2) indikasi kosmetik, dan (3) hidrokel permagna yang dirasakan terlalu
berat dan mengganggu pasien dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari.
Pada hidrokel kongenital dilakukan pendekatan inguinal karena seringkali hidrokel ini disertai dengan
hernia inguinalis sehingga pada saat operasi hidrokel, sekaligus melakukan herniografi. Pada hidrokel
testis dewasa dilakukan pendekatan scrotal dengan melakukan eksisi dan marsupialisasi kantong
hidrokel sesuai cara Winkelman atau plikasi kantong hidrokel sesuai cara Lord. Pada hidrokel funikulus
dilakukan ekstirpasi hidrokel secara in toto.

Orchitis
Definisi
Orkitis adalah peradangan testis, yang jika dengan epididimitis menjadi epididimorkitis dan merupakan
komplikasi yang serius dari epididimitis.
Etiologi
Orkitis bisa disebabkan oleh sejumlah bakteri dan virus. Virus yang paling sering menyebabkan orkitis
adalah virus gondongan (mumps). Virus lainnya meliputi Coxsackie virus, varicella, dan echovirus.
Bakteri yang biasanya menyebabkan orkitis antara lain Neisseria gonorhoeae, Chlamydia trachomatis, E.
coli, Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus sp, dan Streptococcus sp. Pasien
immunocompromised (memiliki respon imun yang diperlemah dengan imunosupresif) dilaporkan
terkena orkitis dengan agen penyebab Mycobacterium aviumcomplex, Crytococcus neoformas,
Toxoplasma gondii, Haemophilus parainfluenzae, dan Candida albicans.
Sering terjadi bersamaan dengan epididimitis. Pada usia 14-35 tahun paling sering karena infeksi
Neisseria gonorrhea sedangkan pada anak-anak kurang dari 14 tahun paling sering karena E. Coli. Selain
itu juga dapat disebabkan oleh Mumps virus. Apabila terjadi karena Mumps Virus gejala khasnya adalah
biasanya diikuti dengan parotitis 4-7 hari pasca infeksi. (Terry, 2014)
Faktor resiko untuk orkitis yang tidak berhubungan dengan penyakit menular seksual adalah:
o Immunisasi gondongan yang tidak adekuat.
o Usia lanjut (lebih dari 45 tahun).
 Infeksi saluran kemih berulang.
 Kelainan saluran kemih.
Faktor resiko untuk orkitis yang berhubungan dengan penyakit menular seksual adalah:
o Berganti-ganti pasangan.
o Riwayat penyakit menular seksual pada pasangan.
 Riwayat gonore atau penyakit menular seksual lainnya.
Patofisiologi
Kebanyakan penyebab orkitis pada laki-laki yang sudah puber adalah gondongan (mumps), dimana
manifestasinya biasanya muncul mendadak dalam 3 sampai 4 hari setelah pembengkakan kelenjar
parotis. (LeMone, 2004)
Virus parotitis juga dapat mengakibatkan orkitis, sekitar 15 % - 20% pria menderita orkitis akut
bersamaan dengan parotitis. Anak laki-laki pra pubertas dengan orkitisparotitika dapat diharapkan
untuk sembuh tanpa disertai disfungsi testis. Pada pria dewasa atau pubertas, biasanya terjadi
kerusakan tubulusseminiferus dan pada beberapa kasus merusak sel-sel leydig, sehingga terjadi
hipogonadisme akibat defisiensi testosteron. Ada resiko infertilitas yang bermakna pada pria dewasa
dengan orkitisparotitika. Tuberkukosisgenitalia yang menyebar melalui darah biasanya berawal
unilateral pada kutub bawah epididimis. Dapat terbentuk nodula-nodula yang kemudian mengalami
ulserasi melalui kulit. Infeksi dapat menyebar melalui fenikulusspermatikus menuju testis. Penyebaran
lebih lanjut terjadi pada epididimis dan testis kontralateral, kandung kemih, dan ginjal.
Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala orkitis dapat berupa demam, semen mengandung darah, keluar nanah dari penis,
pembengkakan skrotum, testis yang terkena terasa berat, membengkak, dan teraba lunak, serta nyeri
ketika berkemih, buang air besar(mengejan), melakukan hubungan seksual. Selangkangan klien juga
dapat membengkak pada sisi testis yang terkena.
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Biasanya terjadi pembengkakan
kelenjar getah bening diselangkangan dan pembengkakan testis yang terkena.
Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan adalah:
o Analisa air kemih.
o Pembiakan air kemih.
 Tes penyaringan untuk Chlamydia dan Gonorrhea.
 Pemeriksaan darah lengkap.
 Pemeriksaan kimia darah.
Penatalaksanaan
Jika penyebabnya adalah bakteri, diberikan antibiotik. Selain itu juga diberikan obat pereda nyeri dan
anti peradangan.
Terapi penunjang untuk orkitis antara lain:
o Tirah baring.
o Kompres dingin atau panas untuk analgesia.
 Skrotum diangkat.

Edema skrotum
Definisi
Merupakan pembesaran scrotum dengan penyebab utama yaitu torsio testis. Manifestasi klinis terlihat
pembesaran testis dan teraba rasa nyeri sesuai dengan penyebabnya. Penyebab :
a. Testicular cancer.
b. Varicocele (abnormally enlarged veins in the scrotum).
c. Orchitis (acute inflammation of the testes).
d. Hydrocele (swelling due to increased fluid).
e. Hernia.
f. Epididymitis (inflammation or infection in the epididymis, at the back of the testicle).
g. Congestive heart failure.
Penatalaksanaan
a. Chemotherapy.
b. Radiation therapy.
c. Surgery (untuk menghilangkan jaringan tumor pada testis).
Terapi di rumah:
a. Kompres air dingin pada scrotum untuk menghilangkan pembengkakan dan nyeri.
b. Gunakan sitz bath (berendam air hangat sampai bagian inguinal ).
Sitz bath merupakan mandi air hanyat yang dilakukan dalam rangka penyembuhan atau pembersihan.
Sitz bath dilakukan dengan berendam di air hangat pada bagian pinggang sampai pantat. Terkadang
airnya dicampur dengan obat. Sitz bath sering digunakan untuk menguragi rasa sakit, gatal, atau spasme
otot. (Vorvick, 2013)

Hernia scrotalis
Pada laki-laki, hernia pada selangkangan terjadi ketika segulungan usus tergelincir ke dalam skrotum
melalui pembukaan antara abdomen dan skrotum. Biasanya ditemukan masa yang lunak dan terpisah
dengan testis. Biasanya masa dapat kembali ke jika dilakukan penekanan secara gentle. Terkadang usus
yang terjebak dapat teregang. Ketika ini terjadi, anak akan sangat rewel dan tidak nyaman, mungkin
muntah, mengeluh sakit perut, dan diare atau sembelit. Pada situasi ini dibutuhkan perhatian medis
segera dari dokter anak atau dokter urologi.
Pada wanita, pembengkakan biasa terjadi pada labia. Umumnya hernia tidak serius dan dapat didorong
balik.