Anda di halaman 1dari 2

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Gerakan sosial atau (social movement ) pada praktiknya terwujud pada sebuah
tindakan protes, gerakan sosial yang merujuk pada tindakan protes tidak hanya dapat
dilakukan melalui turun kejalan melakukan demonstrasi serentak. Akan tetapi dalam era
saat ini tindakan protes dapat berjalan melalui media online seperti internet. Kegiatan
tersebut menurut Wim Van De Donk dan kawan-kawan disebut sebagai Cyberprotes.1
Dalam era saat ini, di lingkungan yang serba online muncul ruang sosial baru,
dimana dalam ruang ini muncul masyarakat baru, yang memiliki kebudayaan baru yang
lekat dengan internet dan media online. Dalam konteks Indonesia, Cyberprotest telah
sering terjadi dalam dinamika media di Indonesia, kasusnya beranekaragam, mulai dari
kasus kecil seperti kesalahan pengucapan kata yang menyinggung etnis hingga protes-
protes besar yang menyangkut masalah negara.
Salah satu kasus yang menjadi fokus kajian kami kali ini adalah bentuk
Cyberprotes yang terjadi di Indonesia yakni terkait dengan Kasus penyiraman air keras
yang menimpa komisioner penyidik KPK Novel Baswedan. Seperti kita ketahui kasus ini
belum tuntas siapa pelaku yang mendalangi kejadian memilukan ini, di lansir dari
Tribunews banyak protes dan tuntutan dari masyarakat melalui petisi online sebagai
bentuk Cyberprotest yang dilayangkan untuk pihak penyidik kepolisian. Yang hingga saat
ini belum mampu menguak, dalang dibalik kasus penyiraman air keras terhadap Novel
Baswedan, tuntutan ini berisi tentang pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta untuk
menelusuri lebih dalam kasus tersebut.2
Berawal dari sini kajian kami dimulai, bagaimana kami menjelaskan kasus ini
sebagai sebuah kasus Cyberprotes , bagaimana imbas dari protes-protes ini, tujuan yang
dibangun dari kegiatan protes ini, seberapa penting dan efektif petisi online yang dibuat
untuk tercapainya tujuan, bagaimana para pakar media melihat kondisi tersebut, dan
melacak serta memberikan analisis mendalam tentang jejak pelaku online dalam kasus
tersebut.

1
Wim Van De donk, Brian D. Loader, Paul G. Nixon, dan Dieter Rucht, Cyberprotest: New Media, Citizens an
Social Movements, (London: Routledge, 2004)
2
Tribunews.com, “Petisi Tuntutan Pembentukan TGPF Kasus Novel Mencapai 100 Ribu Tanda Tangan”,
(Tribunews, 12 April 2018)
1.2 Rumusan Masalah
a. Bagaiman sebuah Cyberprotest bekerja?
b. Bagaimana sebuah Petisi di dunia maya bekerja?
c. Seberapa efektifkah Petisi melalui dunia maya?
1.3 Tujuan
a. Untuk dapat mengetahui lebih lanjut mengenai Cyberprotest
b. Untuk dapat lebih memahami tentang Petisi melalui Dunia Maya
1.4 Manfaat
a. Memahami lebih lanjut mengenai Cyberprotest
b. Mengetahui lebih dalam soal Petisi melalui Dunia Maya
c. Mengetahui efektiftas penggunaan Petisi melalui Dunia Maya