Anda di halaman 1dari 16

Makalah

penanganan pertama pada sengatan


listrik

Dosen pembimbing:
EKA RUDY PURWANA, SST., M.Kes.

Disusun Oleh:

Kelompok 2, Anggota:
BQ.DESIANA PRATIWI P07120116052

LANTANG MAULANA P07120116072

MURSHID ARHAM P07120116079

RANI LESTARI PUTRI P07120116086

SURIYANAH P07120116092

POLITEKNIK KESEHATAN MATARAM KEMENTRIAN KESEHATAN MATARAM

JURUSAN KEPERAWATAN MATARAM

D-III KEPERAWATAN MATARAM

TAHUN 2018/2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
tentang “Makalah Penanganan Pertama Pada Sengatan Listrik ” ini dengan baik dan
tepat waktu, meskipun banyak kekurangan didalamnya. Kami juga berterima kasih
pada EKA RUDY PURWANA, SST., M.Kes. selaku Dosen Politeknik Kesehatan
Kemenkes Mataram yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai makalah penanganan pertama pada
sengatan listrik. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini
terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap
adanya kritik, saran dan usulan yang membangun demi perbaikan makalah yang
telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang
sempurna tanpa saran yang membangun.

Mataram, 30 Agustus 2018

Penyusun,

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Memasuki dunia industri yang semakin modern akan diikuti oleh


penerapan teknologi tinggi, penggunaan bahan dan peralatan makin
kompleks dan rumit, tenaga kerja yang semakin ahli dan terampil. Namun
tidak selamanya penerapan teknologi tinggi dan penggunaan bahan yang
bervariasi dalam suatu industri diikuti dengan selaras oleh keterampilan dan
keahlian tenaga kerjanya yang mengoperasikan peralatan dan
mempergunakan bahan dalam proses industri tersebut. Kemungkinan
timbulnya bahaya yang besar berupa kecelakaan, kebakaran, peledakan,
pencemaran lingkungan dan penyakit akibat kerja ini dapat diakibatkan oleh
kesalahan dalam penggunaan peralatan, pemahaman, kemampuan serta
ketrampilan tenaga kerja yang kurang memadai. Masalah tersebut diatas
akan sangat mempengaruhi dan mendorong peningkatan jumlah maupun
tingkat keseriusan kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja dan pencemaran
lingkungan. Untuk mengurangi masalah tersebut maka diperlukan
peningkatan pelaksanaan K3 di tempat kerja baik listrik,
makanan,kebakaran dan yang lain lain agar kecelakaan dan penyakit akibat
kerja dapat dikurangi.

3
B. Rumusan Masalah
1. Apayang dimaksud dengan sengatan listrik?
2. Apa yang dimaksud keselamatan kerja listrik?
3. Apa penyebab sengatan listrik ?
4. apa saja bahaya sengatan listrik?
5. Bagaimana upaya penaanganan pertama untuk korban sengatan listrik?
6. apa saja upaya pencegahan terjadinya kecelakaan sengatan listrik?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian sengatan listrik
2. Untuk mengetahui pengertian keselamatan kerja listrik.
3. Untuk mengetahui penyebab sengatan listrik
4. Untuk mengetahui bahaya sengatan listrik.
5. Untuk mengetahui bagaimana penanganan pertama untuk korban sengatan
listriik
6. Untuk upaya pencegahan kecelakaan kerja mekanik.

4
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Sengatan Listrik


Kesetrum atau dalam bahasa ilmiah disebut sengatan listrik (electric
shock) adalah sebuah fenomena dalam kehidupan. Secara sederhana
kesetrum dapat dikatakan sebagai suatu proses terjadinya arus listrik dari luar
ke tubuh. Sengatan listrik dapat terjadi karena kontak dari tubuh manusia
dengan sumber tegangan yang cukup tinggi sehingga dapat menimbulkan
arus melalui otot atau rambut. Ketika tersengat lsitrik, terdapat beda potensial
(arus dari potensial tinggi ke rendah) sehingga muncul tegangan
listrik antara tubuh dan lingkungan kita.
Seperti yang diketahui, bahwa bumi atau tanah memiliki potensial
yang rendah. Hal ini akan menyebabkan listrik akan selalu mencoba mengalir
ke bumi dari sumber tegangan melalui konektor. Maka dalam kasus
kesetrum, manusia berlaku sebagai konektor atau konduktor karena pada
tubuh manusia komponen air lah yang paling besar presentasenya. Semakin
basah atau lembab kulit manusia maka hambatan listrik kulit makin kecil
sehingga akan makin mudah terjadi setrum sehingga arus listrik makin
mudah mengalir

B. Definisi Keselamatan Kerja Listrik

Keselamatan kerja listrik adalah keselamatan kerja yang bertalian


dengan alat, bahan, proses, tempat (lingkungan) dan cara-cara melakukan
pekerjaan. Tujuan dari keselamatan kerja listrik adalah untuk melindungi
tenaga kerja atau orang dalam melaksanakan tugas-tugas atau adanya
tegangan listrik disekitarnya, baik dalam bentuk instalasi maupun jaringan.
Pada dasarnya keselamatan kerja listrik adalah tugas dan kewajiban dari,
oleh dan untuk setiap orang yang menyediakan, melayani dan menggunakan
daya listrik.

5
C. Etiologi Sengatan Listrik
Penyebab kesetrum bukanlah tegangan listrik, tetapi karena adanya
arus listrik yang mengalir. Sebenarnya arus listrik pun memang sudah ada
di tubuh kita sebagai pengantar informasi dari indera ke otak (seperti sensor
dan prosesor).
Listrik mengalir dari saluran positif ke saluran negatif. Dengan
listrik arus searah jika kita memegang hanya kabel positif (tapi tidak
memegang kabel negatif), listrik tidak akan mengalir ke tubuh kita (kita
tidak terkena strum). Demikian pula jika kita hanya memegang saluran
negatif.
Dengan listrik arus bolak-balik, Listrik bisa juga mengalir ke bumi
atau lantai rumah. Hal ini disebabkan oleh sistem perlistrikan yang
menggunakan bumi sebagai acuan tegangan netral. Acuan ini, yang
biasanya di pasang di dua tempat (satu di ground di tiang listrik dan satu
lagi di ground di rumah). Karena itu jika kita memegang sumber listrik dan
kaki kita menginjak bumi atau tangan kita menyentuh dinding, perbedaan
tegangan antara kabel listrik di tangan dengan tegangan di kaki (ground),
membuat listrik mengalir dari tangan ke kaki sehingga kita akan mengalami
kejutan listrik (“terkena strum”).
Manusia adalah penghantar. jadi jika seseorang menjadi bagian dari
rangkaian listrik, maka arus listrik akan melewati tubuh orang tersebut.
Inilah yang disebut tersengat listrik.Seseorang bisa tersengat listrik karena
ada banyak kemungkinan, antara lain :
1. Menyentuh kabel telanjang berarus listrik
2. Menyentuh kabel berarus yang isolasinya rusak
3. Kegagalan peralatan
4. Terkena muatan listrik statis
5. Disambar petir (akan dibahas khusus dalam proteksi petir)

6
D. Tujuan K3 Listrik
1. Menjamin kehandalan instalasi listrik sesuai tujuan penggunaannya.
2. Mencegah timbulnya bahaya akibat listrik
a. bahaya sentuhan langsung
b. bahaya sentuhan tidak langsung
c. bahaya kebakaran

E. Bahaya Listrik
1. Kejut Listrik
a. Kejut listrik terjadi karenabeberapa kemungkinan,antara lain :
1) Menyentuh kabel telanjang berarus listrik
2) Menyentuh kabel berarus yang isolasinya rusak
3) Kegagalan peralatan
4) Terkena muatan listrik statis
5) Disambar petir
b. Pertolongan Pertama pada Kejut Listrik
Korban kejut listrik akan merasa sedikit pusing atau ototnya lemas
karena arus listrik mengalir pada bagian tubuhnya. Kejut listrik juga
dapat mematikan korban. Dibawah ini adalah langkah-langkah
untuk menolong korban dari kejut listrik tersebut:
1) Cepat matikan tegangan suplai: dengan menurunkan MCB (Mini
atur Circuit Breaker) lokasi atau menghubungsingkatkan sikrit, atau
mencabut tusuk kontak dari kotak kontaknya.Jika tegangan tidak
dapat dimatikan, cepat lepaskan korban dari kontak listrik dengan
menggunakan alat-alat ini : kayu kering, tali yang kuat atau kering,
sabuk kulit, baju kering atau bahkan dengan menendang dengan
sepatu kulit.
2) Jauhkan korban dari area tersebut
a) Perhatikan kondisi korban, apakah masih bernafas atau sudah
tidak. Lakukan pernafasan buatan bila korban tidak bernafas
lagi

7
b) Buatlah kondisi korban senyaman mungkin, mungkin korban
harus ditutupi selimut agar hangat sebelum dilakukan
pertolongan lain bila perlu.
c. Cara Mencegah Terjadinya Kejut Listrik
1) Jangan bergurau saat memasang instalasi
2) Tidak boleh menekan tombol semabarangan
3) Memakai sepatu yang tertutup dan bersol baik (sepatu safety)
4) Pastikan kondisi badan tidak basah saat memasang instalasi.
2. Kebakaran
a. Penyebab Kebakaran
1) Penggunaan stop kontak atau adaptor yang berlebihan
Yang dimaksudkan di sini adalah penyambungan beban yang
berlebihan sehingga melampaui kapasitas stop-kontak atau kabel
yang mencatu dayanya. Sehingga terjadi percikan api pada saat
mencolokkan listrik. Bila percikan tersebut mengenai benda yang
mudah terbakar, maka kebakaran bukan hal yang mustahil untuk
terjadi.
2) Penggunaan kabel yang tidak sesuai dengan beban
Salah satu faktor yang menentukan ukuran kabel atau penghantar
adalah besar arus nominal yang akan dialirkan melalui kabel atau
penghantar tersebut sesuai dengan lingkungan pemasangannya,
terbuka atau tertutup. Hal ini karena isolasi kabel rusak yang
disebabkan gigitan binatang, sudah tua, mutu kabel jelek dan
penampang kabel terlalu kecil yang tidak sesuai dengan beban
listrik yang mengalirinya. Dasar pertimbangannya adalah efek
pemanasan yang dialami oleh penghantar tersebut jangan
melampaui batas. Bila kapasitas arus terlampaui maka akan
menimbulkan efek panas yang berkepanjangan yang akhirnya
bisa merusak isolasi dan atau membakar benda-benda sekitarnya.
Agar terhindar dari peristiwa kapasitas lebih semacam ini maka
ukuran kabel harus disesuaikan dengan peraturan instalasi listrik
3) Percikan api yang terjadi karena kesalahan isolasi

8
Percikan bunga api pada peralatan listrik atau ketika memasukkan
dan mengeluarkan soket ke stop-kontak pada lingkungan kerja
yang berbahaya di mana terdapat cairan, gas atau debu yang
mudah terbakar.

4) Instalasi kontak yang jelek


Korseleting listrik (hubung singkat) terjadi karena adanya
hubungan kawat positip dan kawat negatip yang beraliran listrik.
Terkadang untuk memperkuat sekering atau MCB
(miniature Circuit Breaker), mengganti dengan ukuran yang
lebih besar. Sehingga listrik tidak jatuh saat terjadi beban
berlebihan, tetapi akan mengakibatkan sambungan listrik
terbakar.
b. Dampak Kebakaran Listrik Terhadap Manusia

1) Mengalami luka bakar


Kecelakaan listrik dapat menyebabkan manusia mengalami luka
ringan maupun berat.
2) Kematian
Kecelakaan listrik yang arusnya besar dapat menyebabkan
kematian terhadap manusia
3) Kerugian material
Dalam kejadian kebakaran listrik di sebuah rumah ataupun
industry menyebabkan harta benda manusia ikut terbakar.
c. Pencegahan dan penanggulan bahaya Kebakaran
1) Yakinkan isolasi kabel tidak terkelupas / pecah atau sambungan
terminal tidak kendor yang bisa berakibat terjadinya percikan
bunga api. Jika mendapati hal-hal yang demikian segera
laporkan dan dibuatkan perbaikan.
2) Apabila menjalankan salah satu motor , kemudian MCB trip
kembali sebaiknya hanya kita lakukan maximum 2 kali untuk
meresetnya dan segera kita informasikan Crew untuk mengecek
/ memperbaikinya.

9
3) Apabila terjadi kebakaran segera isolasi daerah yang terkena dan
gunakan alat pemadam kebakaran yang sesuai untuk
memadamkannya

F. PROSEDUR PERTOLONGAN PERTAMA UNTUK KORBAN


SENGATAN LISTRIK

1. DANGER

a. Lihat dulu, Jangan sentuh! Tubuh korban mungkin masih teraliri


listrik. Menyentuh korban akan menjadikan anda korban berikutnya.
b. Jika mungkin, matikan sumber listriknya dulu. Jika tidak bisa,
jauhkan sumber listrik dari korban dan penolong dengan
menggunakan benda-benda non konduktif, misalnya kayu atau
plastik (pastikan benda-benda tersebut dalam keadaan kering).
c. Jika Anda tidak bisa memotong arusnya, segera tendang saja
tubuhnya dengan sol sepatu Anda.

 Perhatian untuk penolong

a. Jangan menyentuh korban dengan tangan kosong jika tubuh


korban masih tersentuh arus listrik.
b. Jangan mendekati kabel-kabel tegangan tinggi sampai aliran
listrik benar-benar sudah dimatikan. Jaga jarak minimal 20 kaki
(6 meter) atau bahkan lebih jauh jika kabelnya berlompatan atau
mengeluarkan bunga api.
c. Jangan memindahkan korban kecuali jika korban masih terancam
bahaya bila berada di tempatnya semula.

10
2. RESPON

a. Cek tanda-tanda sirkulasi darah pada korban (pernafasan, batuk,


atau gerakan tubuh) atau cek AVPU (Alert, Verbal, Pain,
Unconcious), Jika tidak ada, segera mulai lakukan CPR.
b. Cegah shock. Baringkan korban dan jika mungkin posisikan kepala
korban sedikit lebih rendah dari pinggang, dan naikkan kakinya.

3. SEARCH HELP
Jika ada orang yang tersengat listrik, hubungi pertolongan medis jika
tanda-tanda / gejala-gejala di bawah ini tampak pada korban:
a. Serangan jantung
b. Masalah pada irama jantung (arrhythmias)
c. Kegagalan bernafas
d. Sakit dan kontraksi pada otot
e. Epilepsi/ayan
f. Kesemutan dan rasa geli
g. Tidak sadar/pingsan

4. CIRCULATION: Memulihkan peredaran darah dengan memompa


jantung (chest compressions)

a. Letakkan salah satu pangkal telapak tangan anda di atas dada


korban, di antara kedua putingnya. Letakkan telapak tangan yang
satu lagi di atas yang pertama. Luruskan siku anda dan posisikan
bahu anda tepat di atas kedua tangan anda.
b. Gunakan berat badan tubuh bagian atas anda (bukan hanya lengan
anda) saat anda menekan dada korban. Tekan dengan keras dan
cepat (sekitar 2x/detik) sampai sekitar 2 inci atau 5 cm ke bawah.
c. Setelah 30 kali chest compressions, ulangi langkah A (head-tilt chin-
lift maneuver) dan B (2 nafas buatan seperti dijelaskan di atas). Itu

11
semua adalah 1 siklus. Jika ada orang lain, mintalah agar dia yang
memberikan 2 nafas buatan setelah anda melakukan 30 chest
compressions.
d. Lanjutkan CPR sampai ada tanda-tanda pergerakan tubuh korban
atau sampai tenaga paramedis mengambil alih.

5. AIRWAY: Buka jalan nafas

a. Letakkan korban terlentang di atas permukaan yang stabil.


b. Berlututlah di sebelah leher dan bahu korban.
c. Buka jalan nafas korban dengan head-tilt chin-lift maneuver
(mendongakkan kepala dan mengangkat dagu korban). Letakkan
salah satu telapak tangan anda di dahi korban dan dengan hati-hati
dongakkan kepalanya ke belakang. Lalu gunakan tangan yang lain
untuk mengangkat dagu korban ke depan dengan hati-hati untuk
membuka tenggorokannya.
d. Periksa rongga mulut korban apakah ada benda-benda yang
menghalangi jalan nafasnya.
e. Periksa dengan cepat (tidak lebih dari 5 atau 10 detik) apakah nafas
korban normal: Adakah gerakan dadanya? Dengarkan suara
nafasnya, dan rasakan nafas korban dengan pipi dan telinga anda.
Jika korban tidak bernafas dengan normal dan anda terlatih CPR,
lakukan nafas buatan dari mulut ke mulut. Jika anda yakin korban
pingsan karena serangan jantung dan anda sendiri tidak terlatih,
lewati proses nafas buatan dan langsung ke proses chest
compressions untuk memompa jantung dan memulihkan peredaran
darah.

12
6. BREATHING: Berikan nafas buatan pada korban. Nafas buatan bisa
dilakukan dari mulut ke mulut atau dari mulut ke hidung jika mulut
korban terluka parah atau tidak bisa dibuka.

a. Dengan jalan nafas korban sudah terbuka (hasil dari langkah


pertama) tutup lubang hidung korban rapat-rapat dengan jari
telunjuk dan ibu jari dan tempelkan mulut anda (terbuka) ke mulut
korban yang terbuka sedemikian rupa sehingga tidak ada celah yang
memungkinkan udara keluar dari sela-sela mulut anda dan korban
saat anda meniupkan udara ke mulut korban.
b. Bersiaplah untuk memberikan dua tiupan nafas buatan: Berikan
tiupan pertama selama satu detik dan lihat apakah dada korban naik.
Jika ya berikan tiupan yang kedua. Jika tidak berarti jalan nafas
korban belum terbuka atau tertutup kembali. Ulangi langkah A
(head-tilt chin-lift maneuver) dulu baru berikan tiupan yang kedua.
c. Mulai chest compressions untuk memulihkan peredaran darah
korban (masuk langkah C).

G. Upaya Pencegahan Terjadinya Kecelakaan Listrik


1. Mengetahui potensi bahaya yang mungkin terjadi
2. Menngetahui cara penggunaan APD yang benar.
a. Menggunakan alat pelindung diri yang sesuai, antara lain : sepatu bot
dari bahan karet atau berisolasi dan tidak diperkenankan dengan kaki
telanjang.
b. Memastikan tangan dan kaki tidak dalam kondisi basah pada waktu
bekerja yang berhubungan dengan instalasi listrik.
3. Memasang / memberi tanda bahaya pada setiap peralatan instalasi
listrik yang mengandung risiko atau bahaya (voltage tinggi).
4. Memastikan system pentanahan (grounding) untuk panel atau instalasi
listrik yang dipergunakan untuk bekerja sudah terpasang dengan baik.

13
5. Melakukan pemeriksaan secara rutin terhadap panel atau instalasi listrik
lainnya, bila petugas pemeriksa menemukan pintu panel dalam keadaan
terbuka atau tidak terkunci maka petugas tersebut harus memeriksa
keadaan panel tersebut dan segera mengunci.
6. Memeriksa kondisi kabel listrik, bila menemukan kabel listrik dalam
kondisi terkelupas atau sambungan tidak dibalut dengan isolasi harus
segera diperbaiki dengan membungkus kabel listrik tersebut dengan
bahan isolator.
7. Menempatkan dan mengatur sedemikian rupa terhadap jaringan atau
instalasi listrik untuk menghindari terjadinya kecelakaan kerja akibat
listrik.
8. Menyesuaikan ukuran dan kualitas kabel listrik yang dipergunakan
disesuaikan dengan kebutuhan.
9. Pekerja yang tidak terlatih atau tidak ahli atau bukan instalatur tidak
diperkenankan melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan
instalasi listrik.
10. Pada waktu memperbaiki instalasi listrik, memastikan aliran listrik
dalam kondisi mati dan memasang label / tanda peringatan pada panel
atau switch on / off “Aliran listrik Jangan Dihidupkan” untuk
menghindari terjadinya kecelakaan kerja akibat aliran listrik yang
dihidupkan dengan tiba-tiba oleh petugas yang lainnya atau pekerja.
11. Memastikan bahwa alat-alat yang menggunakan aliran listrik harus
sudah dicabut dari stop kontak sebelum meninggalkan pekerjaan.

14
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
kerja listrik adalah keselamatan kerja yang bertalian dengan alat,
bahan, proses, tempat (lingkungan) dan cara-cara melakukan pekerjaan
yang bertujuan untuk melindungi tenaga kerja yang melakukan tugas di
bagian listrik. Kecelakaan kerja listrik diantaranya adalah kejut listrik,
sambaran petir, kebakaran, dan radiasi. Kecelakaan listrik umumnya
disebabkan oleh penggunaan ataupun pemasangan alat listrik yang tidak
sesuai standar yang dapat menyebabkan beberapa kecelakaan listrik
tersebut.

B. Saran
Semoga materi didalam makalah ini bisa dirmanfaatkan dalam kehidupan
kita sehari hari.

15
DAFTAR PUSTAKA
Kustono, D., Solichim & Anny Martiningsih,2015. Keselamatan dan Kesehatan
Kerja, Malang: Aditya Media Publishing

Hilman Muqayyimah , 2015, Keselamatan dan Kesehatan Kerja Dibidang


Kelistrikan, (online),
http://muqayyimah.blogspot.co.id/2013/11/keselamatan-dan-kesehatan-
kerja_25.html, Diakses 3 oktober 2016

_____, Cara Menangani Listrik Sesuai Prosedur K3, (online),


http://jurnalk3.com/cara-menangani-listrik-sesuai-prosedur-k3.html, diakses 3
oktober 2016

Chica Mayonnaise , 2010, Alat-Pelindung-Diri-K3,(online),


https://id.scribd.com/doc/31588533/Alat-Pelindung-Diri-K3, diakses 2
oktober 2016

16