Anda di halaman 1dari 4

PANCASILA SEBAGAI PARADIGMA KEHIDUPAN BERMASYARAKAT DAN

BERNEGARA

Paradigma memiliki pengertian yaitu suatu kerangka berpikir, cara berpikir serta pandangan
hidup terhadap suatu hal. Jadi, pancasila sebagai paradigma kehidupan mengandung arti bahwa
pancasila berperan sebagai kerangka acuan dari berbagai tindakan yang akan dilakukan oleh
setiap individu dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Pancasila sebagai paradigma kehidupan terbagi menjadi tiga komponen penting yaitu sebagai
paradigma kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Adapun dalam praktiknya,
pancasila sebagai paradigma kehidupan bermasyarakat dapat ditemukan dalam sikap toleransi
misalnya ketika kita hendak bertamu di rumah salah seorang teman yang akan keluar
menjalankan ibadah rutin. Sikap kita setelah mengetahui kepentingan seorang teman tersebut
hendaknya mempersilahkan ia untuk mendahulukan kepentingannya terlebih dahulu karena
bertamu dapat dilakukan lain waktu. Contoh lain adalah perlunya musyawarah ketika memilih
struktur kepengurusan baru dalam sebuah organisasi bukan secara sepihak sudah menentukan
nama-nama baru untuk menggantikan kepengurusan lama. Musyawarah cukup penting untuk
mempertimbangkan nama-nama calon pengurus untuk kebaikan organisasi itu sendiri di masa
yang akan datang.

Contoh dari penerapan pancasila sebagai paradigma kehidupan berbangsa adalah tentang
hubungan antara masyarakat dengan negara. Hubungan masyarakat dengan negara ini berkaitan
dengan hak dan kewajiban baik masyarakat kepada negara atau sebaliknya yang sudah diatur
dalam UUD 1945 pasal 27-31. Hak dan kewajiban masyarakat dan negara pun berdasarkan pada
norma-norma yang terkandung dalam pancasila.

Pancasila sebagai paradigma kehidupan bernegara dapat dicerminkan melalui kehidupan bangsa
dan negara yang sudah mengikut norma-norma dalam pancasila. Menurut UUD 1945 sendiri,
pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum. UUD 1945 juga dibentuk dengan
pancasila sebagai dasarnya.

Beberapa butir pertanyaan muncul dari Pancasila sebagai paradigma bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara. Salah satu butir pertanyaan adalah mengenai peran pancasila dalam
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pancasila yang memuat konsep, ideologi,
falsafah dan dasar negara Indonesia sejatinya mampu berperan sebagai filter bagi perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi yang luar biasa pesatnya. Perkembangan IPTEK tentunya harus
sesuai dengan norma-norma yang terkandung dalam pancasila. Contoh nyata dari pelanggaran
norma pancasila adalah kloning manusia. Beberapa ilmuwan berusaha untuk meciptakan
manusia tanpa ayah dan ibu yang artinya penciptaan manusia hanya dilakukan dengan penyatuan
dua sel. Hal tersebut tentu tidak lazim karena seorang manusia pasti terlahir dari peran ayah dan
ibunya. Kasus kloning manusia ini melanggar norma pancasila tepatnya pada sila pertama yakni
Ketuhanan yang Maha Esa. Kloning manusia tidak sesuai dengan kehendak Tuhan yang
meciptakan manusia secara berpasang-pasangan. Maka dari itu, perkembangan IPTEK perlu
ditelusuri secara filsafat ilmu tepatnya melalui pendekatan aksimologi yaitu mencari manfaat
dari perkembangan IPTEK itu sendiri.
Kasus lain adalah pembuatan atom dan pembuatan obat-obatan keras atau terlarang. Pembuatan
bom dan obat-obatan sebagai dampak perkembangan IPTEK perlu dikaji seperti manfaatnya bagi
manusia. Manfaat di sini bisa bersifat baik atau merusak. Manfaat yang merusak inilah yang
tidak sesuai dengan norma-norma pancasila seperti yang sudah diterangkan sebelumnya.

Butir pertanyaan lain adalah bagaimana praktik Pancasila sebagai paradigma pembangunan
ekonomi kerakyatan. Pancasila sebagai paradigma pembangunan ekonomi kerakyatan yang
digunakan Indonesia adalah berdasarkan pada gotong royong atau saling bantu membantu antar
anggota masyarakat. Implementasi nyata dari pembangunan ekonomi kerakyatan adalah istilah
anak asuh perusahaan yaitu perusahaan besar membantu perusahaan-perusahaan yang masih
kecil baik dari segi ilmu, dana dan lain-lain agar perusahaan-perusahaan kecil tersebut mampu
berkembang dengan baik. Namun, praktik pembangunan ekonomi kerakyatan ini tidak sesuai
dengan harapan karena pengaruh kapitalisme yang bebas masuk di Indonesia setelah reformasi.

Gambar dari Voxpop.id

Lalu, apakah Indonesia sudah sesuai dengan reformasi yang terjadi antara tahun 1987 hingga
1989? Kita perlu mengetahui tujuan dari reformasi yaitu menciptakan masyarakat yang madani.
Masyarakat yang madani berarti masyarakat yang demokratis yaitu berperilaku dan bertindak
sesuai dengan nilai-nilai sosial budaya yang dimiliki oleh masyarakat sejak zaman dahulu.
Sayangnya, setelah reformasi, orientasi apapun yang ada di Indonesia selalu berkiblat oleh barat
karena Indonesia kaget melihat indahnya kebebasan pasca Orde Baru. Akhirnya segala sesuatu
dari luar negeri dapat masuk seenaknya ke Indonesia termasuk kapitalis yang berarti persaingan
bebas. Indonesia sendiri mengakui bahwa ia berlandaskan pada demokrasi pancasila sedang
dalam praktiknya sekarang sedang menganut paham liberal.

Pancasila sebagai paradigma sosial budaya di lingkungan pendidikan juga perlu diterapkan.
Salah satu caranya adalah menghindari plagiarisme ketika mengerjakan tugas serta tidak
mencontek dan mengutamakan kejujuran ketika ujian berlangsung. Kita sebagai mahasiswa juga
sudah sepatutnya mengubah paradigma yang selama ini menjadi acuan ketika mengenyam
pendidikan di perguruan tinggi. Bapak Sumarjono M.Si, dosen mata kuliah Pendidika Pancasila
Universitas Jember mengatakan,

Jangan mengemis kerja kepada orang lain ketika lulus tetapi jadilah dermawan minimal terhadap
diri sendiri.

Dermawan di sini berarti mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri serta mampu
memberikan lapangan pekerjaan bagi orang lain minimal bagi diri sendiri terlebih dahulu. Kita
dapat bergerak secara mandiri bukan dengan bergantung pada perusahaan lain terutama
perusahaan yang dimiliki oleh orang asing. Kita tidak sepatutnya menjadi budak di negeri
sendiri. Paradigma inilah yang harus kita ubah sedini mungkin. Bapak Sumarjono pun
memberikan pertanyaan terkait paradigma seorang mahasiswa.

Pengertian Umum Paradigma (Ahli dan Ilmu Pengetahuan)

Pengertian Paradigma adalah seperangkat konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya
yang secara logis membentuk sebuah kerangka pemikiran. Paradigma merupakan suatu cara
pandang yang mendasar, bagaimana cara kita melihat, memikirkan, memaknai, dan juga
menyikapi serta memilih tindakan atas sebuah fenomena yang ada dan terjadi.

Paradigma juga diartikan sebagai sebuah diagram ataupun kerangka berpikir yang menjelaskan
sebuah fenomena yang mengandung berbagai konsep yang terkait dengan fokus keilmuannya.

PENGERTIAN PARADIGMA MENURUT PARA AHLI


Pengertian Paradigma Menurut Longman

Menurut Longman, paradigma identik dengan sebuah bentuk maupun model yang menjelaskan
suatu proses ide dengan sangat jelas.

Pengertian Paradigma Menurut Husain Heriyanto

Menurut Husain Heriyanto, paradigma merupakan seperangkat asumsi-asumsi teoritis umum dan
hukum-hukum serta teknik-teknik aplikasi yang dianut secara bersamaan oleh para anggotanya
dalam suatu komunitas ilmiah.
Pengertian Paradigma Menurut Ferguson

Sedangkan menurut ferguson, paradigma adalah pola pikir dalam memahami dan menjelaskan
suatu aspek dari setiap kenyataan yang ada.

PARADIGMA DALAM ILMU PENGETAHUAN


Seperti telah dikatakan pada paragraf sebelumnya, bahwa paradigma terkait dengan fokus
keilmuan yang dianut. Di dunia ini ada banyak sekali disiplin ilmu yang muncul dan
berkembang, tentunya masing-masing mempunyai paradigmanya masing-masing. Dalam ilmu
pengetahuan, setidaknya terdapat 5 paradigma yang dipakai, yaitu :

1. Paradigma kualitatif

Merupakan proses penelitian berdasarkan sebuah metodologi yang menyelidiki fenomena sosial
untuk menemukan teori dari lapangan secara deskriptif yang menggunakan metode berpikir
induktif.

2. Paradigma deduksi-induksi

Merupakan metode penelitian deduksi atau penelitian dengan pendekatan kuantitatif yang
menganalisis data untuk memperoleh kesimpulan. Sedangkan penelitian induksi atau pendekatan
kualitatif mengumpulkan data kemudian diobservasi, diperoleh hipotesis untuk menghasilkan
kesimpulan.

3. Paradigma piramida

Merupakan kerangka berpikir ataupun model penyelidikan ilmiah yang dalam tahapannya
menyerupai bentuk sebuah piramida. Terbagi menjadi piramida berlapis, piramida ganda, dan
piramida terbalik. Piramida berlapis menunjukkan bahwa semakin keatas, maka tujuan akan
semakin mudah tercapai yaitu ditemukannya teori baru. Piramida ganda dibuat berdasarkan
piramida yang telah ada. Dan piramida terbalik dibuat berdasarkan teori yang sudah ada.

4. Paradigma siklus empiris

Merupakan kerangka berpikir ataupun metode penyelidikan ilmiah yang berupa siklus.

5. Paradigma rekonstruksi teori

Merupakan kerangka berpikir yang berusaha merancang kembali sebuah teori atau metode yang
telah ada dan digunakan dalam sebuah penelitian.