Anda di halaman 1dari 20

PENENTUAN KAPASITAS DAYA TERPASANG

Suatu departemen store pelanggan TM/TM/TR pada MDP (Main


Distribution Panel) terbagi menjadi tujuh kelompok SDP (Sub Distribution Panel),
yaitu :

1. SDP 1 = Daya 42520 WATT


2. SDP 2 = Daya 22320 WATT
3. SDP 3 = Daya 23880 WATT
4. SDP 4 = Daya 13041 WATT
5. SDP 5 = Daya 1220266 WATT
6. SDP 6 = Daya 135765 WATT
7. SDP 7 = Daya 18950 WATT
 Menentukan Besarnya Nilai Beban Total
Dalam pemilihan trafo harus memperhatikan hubungan daya
terpasang dan daya tersambung dari PLN dengan daya pada trafo. Hal ini
ditunjukkan untuk menentukan nilai daya yang tersedia pada tarif dasar
listrik
Nilai daya total diperoleh dari 7 kelompok SDP yang sudah
ditentukan sebagai berikut:

S = SDP 1 + SDP 2 + SDP 3 + SDP 4 + SDP 5 + SDP 6 + SDP7

= (42520 + 22320 + 23880 + 13041 + 1220266 + 135765 + 18950) kVA

= 1476742,14 WATT x 0,75

= 1968989,52 VA

 Ketentuan Beban Maksimum


Ketentuan beban maksimum ini perlu memperhatikan berbagai
faktor, slah satunya faktor kebutuhan. Pada perencanaan ini yang sedang
dikerjakan adalah pabrik industri logam. Dari aspek tersebut maka dapat
kita asumsiskan faktor kebutuhannya untuk pabrik industri adalah 0.6 – 0.8
sehingga perhitungannya adalah :
= FK (faktor kebutuhan) x Daya beban total
= 0,8 x 1968989,52 VA
= 1575.1916 kVA

Menentukan kontrak daya sesuai standar PLN

Pada perencanaan pabrik telah diketahui jumlah kapasitas daya terpasang


sebesar 1575,1916 kVA maka kontrak daya sesuai standar daya tersambung untuk
tarif tegangan menengah pembatas menggunakan relai sekunder dengan besar arus
primer adalah 48 A dan daya tersambung sebesar 1.660 kVA. Dengan demikian
pabrik tersebut memiliki jenis golongan tarif dasar listrik yaitu Golongan I-3 / TM
karena memiliki jumlah kapasitas daya terpasang diatas 200 kVA dan dinyatakan
sebagai industri menengah – TM.

 Perencanaan Dan Pemilihan Trafo


Berikut ini adalah hal – hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan
transformator distribusi yang mempunyai tegangan tertinggi (untuk
peralatan) 24 KV atau kurang, baik melalui import maupun pembelian
dalam negeri.
Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam pemesanan transformator
menurut SPLN 50 : 1997 yaitu :
 Suhu rata – rata tahunan disesuaikan dengan kondisi iklim di
Indonesia yaitu 300
 Rugi – rugi transformator harus di standarisasi.
 Standart rugi – rugi transformator baru harus ≤ 2.0 %
 Redaksional diuraikan lebih jelas
 Spesifikasi umum :
a) Daya pengenal
b) Tegangan pengenal (input dan output) dan tegangan
penyadapan.
c) Kelompok vektor
d) Tingkat isolasi dasar
e) Karakteristik elektris
Berdasarkan standar SPLN 17A : 1979 pada tabel III dan VIII
ditunjukkan bahwa transformator yang dirancang sesuai dengan standar IEC
dapat dibebani 100% selama 24 jam pada suhu 200, dimana suhu tersebut
merupakan nilai efektif dinegara-negara yang memiliki 4 musim, sedangkan
diIndonesia memiliki suhu 240- 270 sehingga apabila trafi yang
berstandarkan IEC apabila digunakan 100% diIndonesia akan berakibat
ketidakefektifan kerja trafo. Oleh karena itu diusahakan pemakaian
pembebanan sebesar 80% - 90% namun dapat menyuplai penuh daya yang
dibutuhkan.
Berdasarkan pernyataan diatas, maka pertimbangan dalam
pemilihan transformator adalah sebagai berikut :

 Spesifikasi Trafo

Transformator TRAFINDO 25 to 2500 KVA

Daya : 2000 KVA

Type : dry type transformer

Standart : SPLN 50/97

Rating frekuensi : 50 Hz

Rated insulation level : 7,2 Kv for 5 Kv – 12 Kv for 11 Kv

Effisiency load 100% cos α : 1,3 : 98,70%

 Menentukan trafo

100
𝑥1575 = 1968,75 𝐾𝑉𝐴
80

 Pemilihan Trafo
Maka trafo yang dipilih sesuai di pasaran dan diatas daya yang dibutuhkan maka
dipilih trafo 2000 kVA
Pemilihan Transformator

Dalam pemilihan transformator sebaiknya mengacu pada standar yang telah


ditetapkan yaitu SPLN 8A:1978 (Publikasi IEC 76-1:1976) mengenai hal-hal yang
perlu diperhatikan dalam pemesanan transformator.

Diketahui : Spesifikasi Transformator Merk TRAFINDO

 Standar : SPLN, SLI, IEC publication 76


 Capacity : 2000 kVA
 Rated Primary Voltage : 20000 V
 Secondary Voltage : 400 V
 Oil Volume : 1240 Liters
 Weight : 4900 Kgs

* Untuk spesifikasi transformator yang lebih detail dapat dilihat pada


katalog transformator merk TRAFINDO

Penghantar

 Sisi Primer Trafo

2000000
IN =
√3 𝑥 20000

= 57,74 A

KHA kabel yang dibutuhkan = 125% x 57,74 A = 72,17 A

Kabel yang digunakan N2XSY in air 35 mm2 dengan KHA 233 A

72,17
KHA = = 0,30 ≈ 1 kabel (tiap fasa)
233

Faktor penempatan = 0,95 x 233 = 188,73 A

KHA total = 221,35 x 1 kabel

= 221,35 A (memenuhi KHA yang dibutuhkan yaitu 72,17 A)


- Maka untuk penghantar fasa menggunkaan kabel N2XSY 1(1x35mm2) /phasa
(SUPREME CABLE, 12/20(24) kV, SPLN 43-5/ IEC 60502-2, page 5)
- Sepatu kabel untuk kabel N2XSY 1(1x35mm2) digunakan dengan ukuran diameter
ØE13
(COPPER TUBE TERMINAL, page 1)

 Arus Nominal Sisi Sekunder Trafo

2000
IN =
√3 𝑥 400

= 2886,75 A

KHA kabel yang dibutuhkan = 125% x 2886,75 A = 3608,44 A

Kabel yang digunakan NYY di udara 300mm2 dengan KHA 680A. Cara penataan
kabel dipilih dengan factor koreksi (FK) 0,95 (katalog kabel SUPREME, LV-
PVC-CABLE, page 34)

3608,44
KHA = 680 𝑥 0,95 = 5,5 ≈ 6 kabel (tiap fasa)

Faktor penempatan = 0,95 x 680 = 646 A

KHA total = 646 x 6 kabel

= 3876 A (memenuhi KHA ynag dibutuhkan yaitu 3608,44 A)

- Maka untuk penghantar fasa menggunkaan kabel NYY 6(1x300mm2) /phasa


(SUPREME CABLE, 0,6/1(1,2) kV, SPLN 43-1/ IEC 60502-1, page 1)
- Untuk penghantar Netral NYY 3(1x300mm2)
- Sepatu kabel untuk kabel NYY 150 mm2 digunakan dengan ukuran diameter ØE16
(CEMBRE, CABLE LUGS AND CONNECTOR, page 6)
PEMILIHAN GENSET

Genset harus dapat memenuhi beban sebagai berikut :

 Kelengkapan penggerak yang menggunakan tenaga listrik dan


perlengkapan pengasut yang memerlukan pengisian.
 Lift keadaan darurat dengan anggapan pada suatu kumpulan lift hanya satu
lift yang bekerja.
 Daya yang digunakan untuk menurunkan lift.
 Kipas untuk penghisap asap.
 Pompa air untuk sistem pemadaman.
 Pemanfaatan listrik pada saat kebakaran.
 Penerangan darurat.
 Beban tambahan.

(Puil 2000 : 8.21.3.1)

Oleh karena itu keluaran generator (kW, kVA) harus mampu memikul
beban dasar dan beban asut dari motor lain tanpa menimbulkan fluktuasi yang
berlebihan pada tegangan suplainya. Oleh karena itu dalam menjaga kontinuitas
kerja beban yaitu beban prioritas utama. Dimana beban prioritas tidak boleh off
pada saat black out.

Beban prioritas pada beban ini yaitu beban pada kelompok 1,2,3,4,5dan 6
yang besarnya 2427118 VA. Karena dengan memperhatikan faktor kebutuhnan
0.8. Sehingga diperoleh daya terpasang 1941,69 Kva. Genset dipilih yaitu genset
yang mampu dibebani 100% daya yang dibutuhkan. Maka saat pemilihan genset,
genset harus lebih besar kapasitasnya dari total daya yang dibutuhkan yaiutu
dikalikan 120% dari kebutuhan prioritas

Daya genset = 120% x 1941,69 kVA

= 2330,028 kVA

Sehingga digunakan genset :


* Untuk lebih lengkap lihat keterangan pada lampiran

Menentukan KHA, kabel dan pengaman genset :

 KHA = 125% x In genset

= 125% x 2266 A

= 2832,5 A

 Maka menggunakan kabel NYY dipasang sejajar dengan luas penampang


12 (1 x 120 mm2) dengan KHA = 375 A

 Busbar menggunakan tembaga ukuran 80 x 10 x 1 ( 800 mm2 ) dengan KHA


= 4600 A. Merk isoflex

 Untuk penghantar PE, karena luas penampang penghantar fasa lebih dari
35mm2,maka penghantar PE yang dipilih setengah dari penghantar fasa ( PUIL bab
3 hal. 77 ), dan dipilih kabel BCC dengan spesifikasinya sebagai berikut ;
KABELINDO, 6 x (1x120 mm2) type BCC-H

Tipe pengaman genset

In = 2266 A

Ihs = 11 kA

Maka dipilih pengaman menggunakan ACB


Merek = Scnheider

Type = Masterpack NW400

Ihs = 65 kA

In = 4000 A
PEMILIHAN PERANGKAT KUBIKEL

Kubikel 20 kV adalah komponen peralatan untuk memutuskan dan


menghubungkan, pengukuran tegangan – arus – daya, peralatan proteksi dan
control. Dalam perencanaan ini, pelanggan menggunakan daya dari PLN sebesar
1660 kVA sehingga trafo miliki pelanggan dan trafo ditempatkan di gardu
distribusi. Kubikel terdiri dari 2 unit yaitu milik PLN (bersegel) dan milik
pelanggan (hak pelanggan). Setiap kubikel terdiri dari incoming, metering, dan
outgoing.

Kubikel pelanggan

1. Incoming (IMC)

Menggunakan type IMC yang terdiri atas LBS, coupling capasitor, dan CT.
LBS adalah peralatan proteksi yang digunakan untuk memutus arus, baik
saat berbeban maupun tidak berbeban. Kemampuan LBS disesuaikan
dengan rating arus nominal jaringan yang akan diproteksi. Syarat LBS
adalah mampu memutus jaringan dengan arus besar tanpa rusak.
𝑆
In = 1,73 𝑥 𝑉 𝑇𝑀 = 2000 kVA / 1,73 x 20 kV = 57,80 A

Coupling capasitor
Kubikel membutuhkan lampu tanda dengan tegangan kerja 400 V. karena
tegangan input kubikel 20 kV harus diturunkan dengan menggunakan
coupling capasitor 5 cincin dan menghasilkan tegangan output 400 V.
20000
V= 5
= 400 V
Current transformator (CT)
Trafo yang digunakan memiliki daya 2000 kVA, sehingga arus nominalnya
adalah :
𝑆
In = 1,73 𝑥 𝑉 𝑇𝑀 = 2000 kVA / 1,73 x 20 kV = 57,80 A

Amperemeter yang digunakan hanya mampu sampai 5A sehingga


diperlukan CT dengan spesifikasi :
Type : ARM2 / N2F
In : 75 A
Ith : 16 kA
t :1s
Measurement 5A : 7,5 VA – class 0,5
And protection 5A : 10 VA – 5P10
Single primary winding
Double secondary winding for measurement and protection

2. Metering (CM2)

Menggunakan type CM2 yang terdiri dari DS, ES, busbar 630A, heater 50
W, dll.
LBS type CS
Voltage transformator
Menggunakan type VRQ2-n/S1
Rated voltage : 24 kV
Primary Voltage : 20 √3 kV
Secondary voltage : 100 √3 V
Thermal power : 250 VA
Accuracy class : 0,5
Rated output for single primary winding : 30 VA
3. Outgoing (DM1-A)

Terdiri atas : SFI / SF set CB with SF6, DS, dan ES type CS, buasbar 3 fasa,
CB type R1, voltage indicator, 50W heater, surge arrester, CB dengan
motor, dll.
𝑆
CB di set = 1,73 𝑥 𝑉 𝑇𝑀 = 1,250 MVA / 1,73 x 20 kV = 36,127 A

CB yang digunakan memiliki kemampuan sampai 630 A


Arrester
Arrester dipakai sebagai alat proteksi utama dari tegangan lebih. Oleh
karena pemilihan arrester harus sesuai dengan peralatan yang dilindunginya.
Karena kepekaan arrester terhadap tegangan, maka pemakainya harus disesuikan
dengan tegangan sistem.

Pemilihan lightning arrester dimaksudkan untuk mendapatkan tingkat


isolasi dasar yang sesuai dengan Basic Insulation Level (BIL) peralatan yang
dilindungi, sehingga didapatkan perlindungan yang baik.

Pada pemilihan arrester ini dimisalkan tegangan impuls petir yang datang
berkekuatan 200 kV dalam waktu 0,1μs, jarak titik penyambaran dengan
transformator 5 Km.

 Tegangan dasar arrester


Pada jaringan tegangan menengah arrester ditempatkan pada sisi tegangan
tinggi (primer) yaitu 20 kV. Tegangan dasar yang dipakai adalah 20 kV
sama seperti tegangan pada sistem. Hal ini dimaksudkan agar pada tegangan
20 kV arrester tersebut masih bisa bekerja sesuai dengan karakteristinya
yaitu tidak bekerja pada tegangan maksimum sistem yang direncanakan,
tetapi masih tetap mampu memutuskan arus ikutan dari sistem yang
effektif.

 Tegangan sistem tertinggi


Tegangan sistem tertinggi umumnya diambil harga 110% dari harga
tegangan nominal sistem. Pada arrester yang dipakai PLN adalah :
Vmaks = 110% x 20 kV

= 22 kV,

 Koefisien Pentanahan
Didefinisikan sebagai perbandingan antara tegangan rms fasa sehat ke tanah
dalam keadaan gangguan pada tempat dimana penagkal petir, dengan
tegangan rms fasa ke fasa tertinggi dari sistem dalam keadaan tidak ada
gangguan Untuk menetukan tegangan puncak (Vrms) antar fasa dengan
ground digunakan persamaan :

Vrms = 20 Kv

Dari persamaan di atas maka diperoleh persamaan untuk tegangan phasa dengan
ground pada sistem 3 phasa didapatkan persamaan :

Vrms 2
Vm(L - G) =
3

20kV  2
=
3

= 16,35 kV

16,35kV
Koefisien pentanahan =
20kV

= 0,82

Keterangan :

Vm = Tegangan puncak antara phasa dengan ground (kV)

Vrms = Tegangan nominal sistem (kV)

 Tegangan pelepasan arrester


Tegangan kerja penangkap petir akan naik dengan naiknya arus pelepasan,
tetapi kenaikan ini sangat dibatasi oleh tahanan linier dari penangkap petir.

Tegangan yang sampai pada arrester :

e
E =
K .x

200kV
E =
0,0006 x5km

= 66,6 kV
Keterangan :

E = tegangan yang sampai pada arrester (kV)

e = puncak tegangan surja yang datang

K = konsatanta redaman (0,0006)

x = jarak perambatan (km)

Harga puncak surja petir yang masuk ke pembangkit datang dari saluran
yang dibatasi oleh BIL saluran. Dengan mengingat variasi teganagn flasover dan
probabilitas tembus isolator, maka 20% untuk faktor keamanannya, sehingga harga
e adalah :

e =1,2 BIL saluran

Keterangan :

e = tegangan surja yang datang (kV)

BIL = tingkat isolasi dasar transformator (kV)

 Arus pelepasan nominal (Nominal Discharge Current)


2e  Eo
I =
Z R

Z adalah impedansi saluran yang dianggap diabaikan karena jarak


perambatan sambaran tidak melebihi 10 Km dalam arti jarak antara GTT yang satu
dengan yang GTT yang lain berjarak antara 8 KM sampai 10 KM. ( SPLN 52-
3,1983 : 11 )

tegangankejutimpuls100%
R =
aruspemuat

105kV
=
2,5kA
= 42 ohm

2  200kV  66,6kV
I =
0  42

= 7,94 kA

Keterangan :

I = arus pelepasan arrester (A)

e = tegangan surja yang datang (kV)

Eo = tegangan pelepasan arrester (kV)

Z = impedansi surja saluran (Ω)

R = tahanan arrester (Ω)

Jatuh tegangan pada arrester dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :

V =IxR

Sehingga tegangan pelepasan arrester didapatkan sesuai persamaan :

ea = Eo + (I x R) (25)

Keterangan :

I = arus pelepasan arrester (kA)

Eo = tegangan arrester pada saat arus nol (kV)

ea = tegangan pelepasan arrester (kV)

R = tahanan arrester (Ω)

 Pemilihan tingkat isolasi dasar (BIL)


“Basic Impuls Insulation Level (BIL) level yang dinyatakan dalam impulse
crest voltage (tegangan puncak impuls) dengan standart suatu gelombang
1,5 x 40 μs atau 1,2 / 50 μs. Sehingga isolasi dari peralatan-peralatan listrik
harus mempunyai karakteristik ketahanan impuls sama atau lebih tinggi
dari BIL tersebut dan dipilih BIL arrester yang sama dengan BIL
transformator yaitu 125 kV

 Pemilihan tingkat isolasi dasar (BIL)


Harga puncak surja petir yang masuk ke pembangkit datang dari saluran
yang dibatasi oleh BIL saluran. Dengan mengingat variasi tegangan flasover
dan probabilitas tembus isolator, maka 20% untuk faktor keamanannya,
sehingga harga E adalah :

e =1,2 BIL saluran

e = 1,2 x 125 kV

e = 150 kV

 Margin Perlindungan Arrester


Untuk mengitung dari margin perlindungan dapat dihitung dengan rumus
sebagai berikut :

MP = (BIL / KIA-1) x 100%

MP = (150 KV/ 133,3 – 1) x 100%

= 125.28 %

Keterangan :

MP = margin perlindungan (%)

KIA = tegangan pelepasan arrester (KV)

BIL = tingkat isolasi dasar (KV)

Berdasarkan rumus di atas ditentukan tingkat perlindungan untuk tafo daya.


Kriteria yang berlaku untuk MP > 20% dianggap cukup untuk melindungi
transformator .

 Jarak penempatan Arrester dengan Peralatan


Penempatan arrester yang baik adalah menempatkan arrester sedekat
mungkin dengan peralatan yang dilindungi. Jarak arrester dengan peralatan
Yang dilindungi digunakan persamaan sebagai berikut :

2 A x
Ep = ea +
v

2  4000kV  x
125 = 133,3 KV+
300m / s
8,3 = 26,6x

x = 0,31 m

jadi jarak arrester sejauh 31 cm dari transformator yang dilindungi.

Perhitungan jarak penempatan arrester di atas digunakan untuk


transformator tiang. Sebagai contoh di wilayah Malang juga terdapat
penempatan transformator di permukaan tanah dengan menggunakan kabel
tanah. Transformator tersebut berada dalam tempat terpisah dengan
pengaman arresternya. Transformator diletakkan di atas tanah dan
terhubung dengan arrester yang tetap diletakkan di atas tiang melalui kabel
tanah.

Tabel Batas Aman Arrester

IMPULS BIL BIL


PETIR ARRESTER TRAF0 KONDISI KETERANGAN

(KV) (150 KV) (125 KV)

Tegangan masih di
bawah rating
120 KV < 150 KV <125 KV Aman
transformator maupun
arrester
Tegangan masih
Aman memenuhi batasan
125 KV <150 KV =125 KV keduanya

Tegangan lebih diterima


Aman arrester dan dialirkan ke
130 KV <150 KV >125 KV tanah

Masih memenuhi batas


150 KV =150 KV >125 KV Aman tegangan tertinggi yang
bisa diterima arrester.

Tidak Arrester rusak,

200 KV >150 KV >125 KV aman transformator rusak

PEMILIHAN ARRESTER

Buatan : Elpro

Rated Voltage : 21 kV

MCOV : 17 kV

Ref. Voltage : 21 kV

Arus Pelepasan : 10 kA

Switching Impulse : 125 A


CUT OUT

Cut Out berfungsi untuk mengamankan transformator dari arus lebih. Cut
Out dipasang pada sisi primer transformator, dalam menentukan Cut Out hal-hal
yang perlu dipertimbangkan adalah :

Arus nominal beban untuk pemilihan rating arus kontinyu cut out.

Penggunaan CO tergantung pada arus beban, tegangan system, type system,


dan arus gangguan yang mungkin terjadi

Dalam pemilihan Cut Out, tergantung dari pemakaian trafo apakah


memakai minyak atau trafo kering. Di dalam PUIL 2000 hal 190, apabila
menggunakan trafo Minyak In CO dikalikan 250% (maksimal).

In CO = 200 % x 2500 kVA/1,73 x 20 kV

= 57,8 A

Dari data diatas dapat dipilih CO dengan spesifikasi sebagai berikut :

Merk : ABB

Rating Arus : 100 Ampere

Rating Tegangan : 27 kV

BIL : 125 kV