Anda di halaman 1dari 6

UJIAN SEMESTER GASAL

1. Marc Holzer and Jack Rabin dalam tulisannya tentang ‘Public Service: Problem,
Profesionalism, and Policy Recommendation’ yang dimuat dalam Jurnal Public
Productivity Review Vol 11 No 1 (Autumn, 1987), pp. 3-13, telah menggugah pemikiran
tentang government services, civil service, government bureaucracy, private sector, public
sector, persona, salary, morale dalam layanan public.
Jawaban :
Setelah satu dasawarsa terjadi trasnsisi di eropa timur dan tengah, iklim di sekitar
reformasi sector public telah berkembang menjadi semakin kompleks dan kait-mengait.
Para pembuat keputusan harus menyeimbangkan perubahan-perubahan legislative,
organisasional, dan menajemen di Negara-negara mereka dengan tuntutan akan reformasi
yang rasional dan efektif. Rancangan kebijakan publik memerlukan pilihan professional
alternatif demi proses kebijakan yang melibatkan berbagai pelaku serta konsekuensi
institusional dan finansial yang penting bagi keberhasilannya.
Baik di Negara-negara miskin maupun di Negara-negara industry maju,
pengembangan lembaga kebijakan public adalah proses yang bersifat bertahap, dan
perbaikan-perbaikan dapat berbalik arah dengan cepat jika momentum tidak terjaga.
Nasihat yang lebih baik mengenai opsi kebijakan dan starategi implementasi diperlukan
oleh pemerintah di seluruh dunia.
Kemudian menilik tulisan dari Marc Holzer and Jack Rabin tentang ‘Public Service:
Problem, Profesionalism, and Policy Recommendation’ yang dimuat dalam Jurnal Public
Productivity Review Vol 11 No 1 (Autumn, 1987), pp. 3-13, telah menggugah pemikiran
tentang government services, civil service, government bureaucracy, private sector, public
sector, persona, salary, morale dalam layanan public. Maka dari itu penulis mencoba
menelaah dan menganalisis point-point yang dikemukakan oleh M Holzer dan J Rabin,
antara lain :
government services, civil service, government bureaucracy
Pelayanan pada hakikatnya adalah serangkaian kegiatan, karena itu proses pelayanan
berlangsung secara rutin dan berkesinambungan, meliputi seluruh kehidupan organisasi
dalam masyarakat. Proses yang dimaksudkan dilakukan sehubungan dengan saling
memenuhi kebutuhan antara penerima dan pemberi pelayanan.
Dalam tulisan yang diutarakan oleh Holzer dan Rabin, bahwa mereka menyoroti soal
pelayanan pemerintah, pelayanan sipil, dan birokrasi pemerintah. Pertama adalah kita
pahami dulu soal Pemerintah secara fungsinya, fungsi yang harus dilakukan dan apa yang
tidak harus dilakukan pemerintah (government) adalah masalah pokok yang menjadi
perhatian dalam manajemen Negara. Fungsi ini dapat bervariasi dari satu Negara ke Negara
lain, dan bisa jadi juga berlainan dari waktu ke waktu. Walaupun demikian, para ahli social
politik secara umum sepakat bahwa pemerintah memiliki berbagai macam peranan pokok
yang sangat mempengaruhi kehidupan bermasayarakat, kendati mereka berselisih tentang
scope (cakupan) perana pemerintah itu.
Pemerintah dalam menjalankan fungsinya sebagai pelayan dalam penyelenggaraan
pelayanan publik diperlukan sebuah kebijakan yang mengatur tentang pelayanan publik.
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik dimaksudkan untuk
memberikan kepastian hukum bagi pihak penyelenggara pelayanan publik maupun
masyarakat. paratur penyelenggara harus merasa memiliki kewajiban hukum untuk
memberikan pelayanan kepada masyarakat, sedangkan masyarakat merasa apa yang harus
dilakukan oleh aparatur Negara tersebut merupakan hak dari masyarakat.
Pelayanan publik selalu dikaitkan dengan suatu kegiatan yang dilakukan oleh
seseorang atau kelompok orang atau instansi tertentu untuk memberikan bantuan dan
kemudahan kepada masyarakat dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Pelayanan publik
ini menjadi semakin penting karena senantiasa berhubungan dengan masyarakat yang
memiliki keanekaragaman kepentingan dan tujuan. Oleh karena itu institusi pelayanan
publik dapat dilakukan oleh pemerintah maupun oleh non-pemerintah. Jika pemerintah
merupakan organisasi birokrasi dalam pelayanan publik, maka organisasi birokrasi
pemerintahan merupakan organisasi terdepan yang berhubungan dengan pelayanan publik.
Dalam hal institusi pemerintah memberikan pelayanan, maka yang terpenting adalah
bagaimana memberikan bantuan dan kemudahan kepada masyarakat.
Birokrasi pemerintahan adalah sistem yang mengatur jalannya pemerintahan dan
pembangunan. Sebagai suatu system, proses birokrasi mencakup berbagai sub sistem yang
saling berkaitan, saling mendukung, saling menentukan, sehingga dapat membentuk suatu
totalitas komponen yang terpadu. Birokrasi pemerintahan di definisikan sebagai struktur
pemerintahan yang berfungsi memproduksi jasa publik atau layanan-civil tetentu
berdasarkan kebijakan yang di tetapkan dengan mempertimbangkan berbagai pilihan dari
lingkungan”. Hubungan birokrasi dengan masyarakat yakni birokrasi yang berkenan
dengan fungsi-fungsi dasar pemerintahan dan keamanan, hukum dan ketertiban,
perpajakan, dan intelejen. Setiap birokrasi pelayan publik wajib memiliki sikap mental dan
perilaku yang mencerminkan keunggulan watak, keluharan budi, dan asas etis. Ia wajib
mengembangkan diri sehingga sungguhsungguh memahami, menghayati, dan menerapkan
berbagai asas etis yang bersumber pada kebajikan-kebajikan moral khususnya keadilan
dalam tindakan jabatannya. Secara umum nilai-nilai moral terlihat dari enam nilai besar
atau yang dikenal dengan “six great ideas” yaitu nilai kebenaran (truth), kebaikan
(goodness), keindahan (beauty), kebebasan (liberty), kesamaan (equality), dan keadilan
(justice).

private sector, public sector, persona, salary


perbedaan sektor publik dan sektor swasta
Perbedaan Sektor Publik Sektor Swasta
Tujuan Organisasi Nonprofit Motive Profit Motive
Sumber Pendanaan Pajak, Restribusi, Pembiayaan Internal: Modal
Hutang, Obligasi Sendiri, Laba ditahan,
Pemerintah, Laba Penjualan Aktiva.
BUMN/BUMD, Pembiayaan Eksternal :
Penjualan Asset Hutang bank, Obligasi,
Negara Penerbitan saham
Pertanggungjawaban Masyarakat (Publik) Pemegang Saham dan
dan Parlemen Kreditor
(DPR/DPRD)
Struktur Organisasi Birokratis, Kaku, dan Fleksibel: Datar, Piramid,
Hierarkis lintas Fungsional, dsb.
Karakteristik Anggaran Terbuka untuk Publik Tertutup untuk Publik
Sistem Akuntansi Cash Accounting Accrual Accounting

persamaan sektor publik dan sektor swasta


 Merupakan bagian integral dari system ekonomi suatu negara dan menggunakan
sumber daya yang sama untuk mencapai tujuan organisasi.
 Menghadapi masalah yang sama, yaitu masalah kelangkaan sumber daya (Scarcity of
Resources), sehingga dituntut untuk menggunakan sumber daya organisasi secara
ekonomis, efisien dan efektif.
 Membutuhkan informasi yang handal dan Relevan untuk melaksanakan fungsi
manajemen, yaitu : perencanaan, pengorganisasian dan pengendalian.
 Dapat menghasilkan produk dan jasa yang sama, misalnya : transportasi, massa,
pendidikan, kesehatan, penyediaan energi dan sebagainya.
 Terikat pada peraturan perundangan dan ketentuan hukum.

morale dalam layanan public

Isu tentang etika dalam pelayanan publik di Indonesia kurang dibahas secara luas dan
tuntas sebagaimana terdapat di negara maju, meskipun telah disadari bahwa salah satu
kelemahan dasar dalam pelayanan publik di Indonesia adalah masalah moralitas. Etika
sering dilihat sebagai elemen yang kurang berkaitan dengan dunia pelayanan publik.
Padahal, dalam literatur tentang pelayanan publik dan administrasi publik, etika merupakan
salah satu elemen yang sangat menentukan kepuasan publik yang dilayani sekaligus
keberhasilan organisasi pelayanan publik itu sendiri.
Elemen ini harus diperhatikan dalam setiap fase pelayanan publik mulai dari
penyusunan kebijakan pelayanan, desain struktur organisasi pelayanan, sampai pada
manajemen pelayanan untuk mencapai tujuan akhir dari pelayanan tersebut. Dalam konteks
ini, pusat perhatian ditujukan kepada aktor yang terlibat dalam setiap fase, termasuk
kepentingan aktor-aktor tersebut – apakah para aktor telah benar-benar mengutamakan
kepentingan publik diatas kepentingan-kepentingan yang lain. Misalnya, dengan
menggunakan nilai-nilai moral yang berlaku umum (six great ideas) seperti nilai kebenaran
(truth), kebaikan (goodness), kebebasan (liberty), kesetaraan (equality), dan keadilan
(justice), kita dapat menilai apakah para aktor tersebut jujur atau tidak dalam penyusunan
kebijakan, adil atau tidak adil dalam menempatkan orang dalam unit dan jabatan yang
tersedia, dan bohong atau tidak dalam melaporkan hasil manajemen pelayanan.
Dalam pelayanan publik, perbuatan melanggar moral atau etika sulit ditelusuri dan
dipersoalkan karena adanya kebiasaan masyarakat kita melarang orang “membuka rahasia”
atau mengancam mereka yang mengadu. Sementara itu, kita juga menghadapi tantangan
ke depan semakin berat karena standard penilaian etika pelayanan terus berubah sesuai
perkembangan paradigmanya. Dan secara substantif, kita juga tidak mudah mencapai
kedewasaan dan otonomi beretika karena penuh dengan dilema. Karena itu, dapat
dipastikan bahwa pelanggaran moral atau etika dalam pelayanan publik di Indonesia akan
terus meningkat.
Dalam arti yang luas, konsep pelayanan public (public service) identik dengan public
administration yaitu berkorban atas nama orang lain dalam mencapai kepentingan public
(lihat J.L.Perry, 1989: 625). Dalam konteks ini pelayanan publik lebih dititik beratkan
kepada bagaimana elemen-elemen administrasi publik seperti policy making, desain
organisasi, dan proses manajemen dimanfaatkan untuk mensukseskan pemberian
pelayanan publik, dimana pemerintah merupakan pihak provider yang diberi tanggung
jawab. Karya Denhardt yang berjudul The Ethics of Public Service (1988) merupakan
contoh dari pandangan ini, dimana pelayanan publik benar-benar identik dengan
administrasi publik. Dalam dunia administrasi publik atau pelayanan publik, etika diartikan
sebagai filsafat dan profesional standards (kode etik), atau moral atau right rules of
conduct (aturan berperilaku yang benar) yang seharusnya dipatuhi oleh pemberi pelayanan
publik atau administrator publik (lihat Denhardt, 1988).
2. Jonathan Rauh (2017) menulis tentang Ethics Problem in the New Public Service: Back to
a service ethic? Artikel ini berpendapat bahwa kepatuhan etis dalam paradigm New Public
Service menyajikan sejumlah tantangan yang cukup berkaitan dengan etika pelayanan
public. Paradigma ini secara khusus membatasi pemikiran dalam konteks warga Negara
sebagai bagian dari coproducers yang menerima perlakuan melalaikan atau rent-seeking.
Jawaban :
Penyimpangan dalam bentuk rent seeking tidak terlepas dari perilaku individu
aparat birokrasi publik dan elit politik. Sebagaimana metode yang seringkali diterapkan
rational choice yang dikenal dengan nama metode behavior, yang digunakan untuk
memahami perilaku pembuat kebijakan yaitu para pejabat pemerintah dan elit politik.
Dalam hal ini, negara atau pemerintah daerah dipandang sebagaimana halnya pasar, terdiri
dari individu yang masing-masing memiliki prilaku rasional, terutama diarahkan untuk
mencapai tujuan pribadinya. Argumentasi tersebut didukung oleh analisa power seeking
politician, yang menyebutkan para politisi sebagai makhkuk rasional tidak steril dari
perhitungan untung-rugi dalam setiap mengambil keputusan.
Hal ini juga diakui dalam analisis bureaucratic behaviour theory. Bahwa eksistensi
aparat birokrasi pelayanan publik adalah merupakan bagian dari makhluk hidup yang
memiliki emosi, tata nilai dan tujuan secara individu, yang tidak selamanya sesuai dan
sejalan dengan tujuan institusi di mana mereka bekerja. Kepentingan individu dari para
birokrat ini tidak dapat dihindari akan ikut mempengaruhi struktur, mekanisme, dan fungsi
dari birokrasi itu sendiri. Kepentingan jangka pendek dari politisi dalam melakukan
praktek rent seeking sebagaimana beberapa modus operandi di atas, adalah upaya
mendapatkan keuntungan dengan mudah dari kebijakan yang dibuat bersama.
Hal tersebut seirama dengan teori rational choice• yang melihat individu tidak
terlepas dari pilihan-pilihan rasionalnya, yakni mengejar kepentingan pribadi. Setidaknya
terdapat dua hal penyebab praktek rent seeking. Pertama, perilaku aparat birokrasi secara
individual. Perilaku aparat birokrasi masih mengharapkan imbalan dari aktivitas utamanya.
Karena aparat pelayanan perizinan tersebut merupakan aktor yang paling awal
berhubungan dengan pelanggan. Interaksi pelanggan dan aktor pelayanan menjadi
momentum awal mereka melakukan komunikasi dan interaksi timbal balik. Dalam situasi
seperti inilah dimanfaatkan oleh salah satu pihak. Boleh jadi awalnya berasal dari aparat
pelayanan perizinan, dan tidak menutup kemungkinan pelanggan yang memulai dan
menjanjikan sesuatu, akan tetapi keduanya masing-masing merasa aman dan diuntungkan.
Kedua, faktor yang memperngaruhi lainnya, seperti berpengaruh dalam praktek rent
seeking disebabkan oleh faktor institusi atau dari lembaga itu sendiri. Sistem pelayanan
masih mempertemukan aparat birokrasi dan pelanggan. Problem tersebut menjadi salah
satu kendala kultural birokrasi yang tidak mau melepaskan budaya pertemuan dengan
pelanggan. Disamping karena kontrol terhadap kinerja birokrasi publik yang masih lemah.
Dalam perspektif ekonomi politik, menganggap perilaku individu merupakan faktor
penentu (determinant variable) terjadinya praktek rent seeking. Sedangkan faktor lainnya
adalah faktor berpengaruh (influential variable).
Faktor perilaku individu sebagai faktor penentu (determinant variable) oleh Djoko
Widodo disebutnya sebagai faktor internal. Faktor ini berupa kepribadian seseorang.
Berwujud suatu niat, kemauan, dorongan yang tumbuh dari dalam diri seseorang untuk
melakukan tindakan mal-administrasi. Faktor ini disebabkan karena lemahnya mental
seseorang, dangkalnya agama dan keimanan mereka. Sehingga memudahkan untuk
melakukan suatu tindakan walaupun sesungguhnya mereka mengetahui bahwa tindakan
yang mereka lakukan itu merupakan tindakan yang tercela. Sedangkan faktor berpengaruh
(influential variable) dipahaminya sebagai factor eksternal. Faktor yang berada di luar diri
orang yang melakukan tindakan mal-administrasi. Bisa berupa, lemahnya peraturan,
lemahnya lembaga kontrol, lingkungan kerja dan lain sebagainya yang membuka peluang
(kesempatan) untuk melakukan tindakan korupsi.
Kasus yang sedang ramai dibahas soal rent-seeking adalah soal suap Gubernur
Aceh dalam pelaksanaan Dana Otonomi Khusus Aceh, selain itu ada juga kasus soal ijin
pertambangan di Buton Sulawesi Tenggara yang menyeret Gubernur Nur Alam. Ada juga
soal pengesahan APBD Jambi, ada dugaan suap ke sejumlah anggota DPRD Jambi oleh
Gubernur Jambi Zumi Zola.