Anda di halaman 1dari 29

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Trauma persalinan atau trauma lahir diartikan sebagai cedera atau

kelainan yang terjadi pada Bayi Baru Lahir (BBL) sebagai akibat dari

adanya paksaan secara mekanis, seperti tarikan atau kompresi, yang terjadi

selama proses persalinan. Trauma persalinan merupakan salah satu

masalah yang sering terjadi pada bayi baru lahir yang diakibatkan oleh

tindakan yang dilakukan pada saat proses persalinan. Trauma persalinan

merupakan salah satu penyebab tingginya angka morbiditas dan mortalitas

bayi baru lahir (Moczygemba et al., 2010).

Data di Amerika Serikat menyebutkan bahwa sebanyak 2% dari

kejadian trauma persalinan menyebabkan kematian pada bayi baru lahir.

Semakin besar bayi yang dilahirkan, maka semakin besar pula risiko

terjadinya trauma persalinan. Jumlah trauma persalinan lebih tinggi

didapatkan pada bayi dengan berat lahir lebih dari 4500 gram. Dari

beberapa jenis trauma akibat persalinan, perdarahan ekstrakranial (cephal

hematoma) memiliki angka insidensi terbesar, yaitu sebesar 57,2%

(Talebian et al., 2015).

Beberapa faktor risiko yang menyebabkan trauma persalina

diantaranya adalah: bayi berat lahir lebih (> 4500 gr), persalinan dengan

menggunakan alat (forceps atau vakum), persalinan dengan presentasi


2

bokong, dan traksi berlebihan selama persalinan (Patel and Murphy,

2004).

B. Tujuan

Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis trauma

persalinan beserta gejala klinis dan penanganannya.


3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Trauma persalinan adalah cedera yang didapatkan bayi baru lahir

selama proses persalinan, biasanya pada saat bayi melalui jalan

lahir.Sedangkan menurut Talebian, et al. (2014) trauma persalinan adalah

suatu kondisi melemahnya fungsi tubuh bayi baru lahir yang disebabkan

adanya masalah selama proses persalinan yang sebenarnya dapat dihindari

atau dicegah.

Cara kelahiran bayi sangat erat hubungannya dengan angka kejadian

trauma lahir. Secara klinis trauma persalinan atau trauma lahir dapat bersifat

ringan yang akan sembuh sendiri atau bersifat laten yang dapat

meninggalkan gejala sisa. Trauma persalinan dapat disebabkan oleh faktor

mekanik dan faktor hipoksik.

B. Epidemiologi

Insidensi trauma lahir atau trauma persalinan diperkirakan sebesar 2-

7 per 1000 kelahiran hidup.Walaupun insiden trauma lahir telah menurun

pada beberapa tahun terakhir, trauma lahir masih merupakan masalah

penting, karena walaupun beberapa jenis trauma yang timbul bersifat

sementara, namun seringkali menimbulkan kecemasan pada orang

tua.Penurunan insidensi trauma persalinan belakangan ini lebih disebabkan

oleh kemajuan di bidang teknik dan tindakan obstetrik.


4

Insidensi trauma lahir bervariasi tergantung dari jenis persalinan,

presentasi janin, dan jenis cedera yang terjadi. Menurut Talebian, et al.

(2014), jumlah kasus trauma lahir antara 0,2-41,2 per 1000 kelahiran.

Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa rasio kasus trauma persalinan

atau trauma lahir tidak akan pernah nol. Trauma lahir akan tetap terjadi

dalam kondisi persalinan yang optimal, perawatan kehamilan yang baik,

maupun kondisi kehamilan tanpa adanya faktor risiko.Sedangkan penelitian

yang dilakukan oleh Warke, et al. (2012) menyebutkan bahwa didapatkan

insidensi trauma lahir sebesar 3,26 per 1000 kelahiran selama 2 tahun

penelitian.

C. Faktor Risiko

Proses persalinan merupakan proses yang tergantung pada kondisi

janin di dalam kandungan (passenger), tenaga yang dimiliki ibu hamil pada

saat persalinan (power), dan kondisi jalan lahir dari ibu hamil (passage).

Apabila terdapat kelainan pada ketiga unsur tersebut, maka proses

persalinan akan mengalami kesulitan yang pada akhirnya menyebabkan

komplikasi atau abnormalitas pada ibu maupun pada janin. Menurut

Hameed (2010), beberapa faktor risiko pada ibu maupun pada janin yang

dapat menyebabkan trauma lahir diantaranya adalah :

- Primi gravida

- Cephalopelvic Disproportion (CPD)

- Partus presipitatus/rapid labor


5

- Partus lama

- Oligohydramnion

- Ibu hamil yang memiliki riwayat penyakit kronis (Diabetes Mellitus,

hipertensi, dll.)

- Letak janin abnormal

- Penggunaan instrumentasi persalinan (vacuum/forceps)

- Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)

- Bayi Makrosomia

D. Jenis-jenis Trauma Lahir

Kelainan-kelainan pada bayi baru lahir yang diakibatkan oleh trauma

lahir atau trauma persalinan dapat dikelompokkan menjadi:

1. Perlukaan pada jaringan lunak (Soft Tissue Damage)

a. Perlukaan kulit

Kelainan ini dapat timbul pada persalinan yang

menggunakan instrumentasi seperti vakum atau forceps.Eritemia

sering terlihat pada bayi yang mengalami disproporsi sefalopelvik.

Trauma ini terlihat di daerah presentasi kelahiran. Di daerah

tersebut kulit berwarna merah. Trauma jenis ini dapat ditemukan

pula pada kelahiran dengan forceps.Kulit terlihat berwarna merah

di daerah yang mengalami jepitan daun forceps.

Petekie terlihat sebagai bercak merah kecil-kecil

dipermukaan kulit. Kejadian ini disebabkan adanya gangguan


6

aliran darah perifer akibat suatu bendungan. Pada kejadian ini,

disamping petekie sering terlihat pula seluruh muka bayi menjadi

biru yang memberi kesan seolah-olah bayi mengalami sianosis

yang disebut sebagai “Sianosis traumatik”.

Ekimosis merupakan trauma lahir berbentuk perdarahan

yang lebih luas dibawah permukaan kulit. Kejadian ini dapat

ditemukan di daerah labia mayora, pantat atau skrotum pada lahir

sungsang letak kaki atau pada lahir bayi dengan kaki atau tangan

menumbang, maka jenis trauma lahir hematoma ini sering dijumpai

didaerah ekstremitas.Pada hematoma dan ekimosis yang cukup luas

perlu diperhatikan kemungkinan terjadinya penurunan kadar

hemoglobin, khususnya pada bayi kurang bulan atau pada bayi

akibat absorpsi sel darah merah di daerah trauma lahir tersebut.

b. Nekrosis Lemak Subkutan (Subcutaneous Fat Necrosis)

Trauma lahir ini akan lebih banyak ditemukan pada bayi

besar yang mengalami kesukaran pada waktu kelahirannya serta

banyak mengalami manipulasi. Trauma ini dapat terlihat pula pada

daerah yang mengalami tekanan keras dijaringan kulit dan

subkutis, misalnya oleh daun forceps.Adanya iskemia lokal yang

disertai hipoksia atau keadaan hipotensi akan mempermudah

kemungkinan terjadinya jenis trauma lahir tersebut.

Gejala klinis ditandai dengan adanya benjolan yang

mengeras dijaringan kulit dan subkutis, berbatas tegas dengan


7

permukaan kulit yang berwarna kemerahan. Benjolan pada minggu

pertama, tetapi dapat pula sampai minggu ke enam. Trauma lahir

ini tidak memerlukan pengobatan khusus dan biasanya akan hilang

sendiri dalam 6-8 minggu.

Gambar 2.1. Bayi Baru Lahir dengan Subcutaneous Fat Necrosis

c. Trauma Musculus Sternocleidomastoideus

Trauma jenis ini disebut juga torticollis diduga terjadi

akibat robeknya serabut otot sternocleidomastoideus. Perobekan ini

menimbulkan hematoma, yang bila dibiarkan akan diikuti

pembentukan jaringan fibrin dan akhirnya akan menjadi jaringan

sisa. Beberapa pendapat mengemukakan bahwa dasar kelainan ini

telah dijumpai sejak kehidupan intrauterin sebagai gangguan

pertumbuhan otot tersebut atau pengaruh posisi fetus intrauterin.


8

Gambar 2.2 Trauma M.Sternocleidomastoideus

Secara klinis, umumnya benjolan baru terlihat 10 – 14 hari

setelah kelahiran bayi. Benjolan terletak kira-kira dipertengahan

otot sternocleidomastoideus. Pada perabaan teraba benjolan

berkonsistensi keras dengan garis tengah 1 – 2 cm, berbatas tegas,

sukar digerakkan dan tidak menunjukkan adanya radang. Benjolan

akan membesar dalam waktu 2 – 4 minggu kemudian. Akibatnya

posisi kepala bayi akan terlihat miring ke arah bagian yang sakit,

sedangkan dagu menengadah dan berputar ke arah yang

berlawanan dari bagian yang sakit.Pengobatannya dilakukan sedini

mungkin dengan latihan fisioterapi. Tujuan latihan ini adalah untuk

meregangkan kembali otot yang sakit agar tidak terlanjur

memendek. Dengan pengobatan konservatif yang dilakukan dini

dan teratur, benjolan akan hilang dalam 2 – 3 bulan. Pengobatan

lain dari torticollis ada beberapa salah satunya adalah terapi fisik

dimana peregangan otot sternocleidomastoideus secara manual


9

pasif sebelum usia 12 bulan adalah yang paling efektif dari terapi

fisik. Terapi fisik ini biasanya dilakukan kurang lebih 2 kali sehari,

sekitar 10 – 15 regangan dapat dilakukan dengan waktu 30 detik.

Terapi lain dengan toksin botulinum, injeksi toksin botulinum

dilaporkan dalam pengobatan untuk dystonia servikal. Metode

pengobatan ini aman dan efektif pada anak-anak dan dewasa

dengan cerebral palsy khususnya pada pasien rawat jalan. Beberapa

kasus trauma muskulus sternocleidomastoideus pengobatan ini

sukses dan berhasil dilakukan.( Angouleset al., 2013).

d. Caput Succedaneum

Caput succedaneum adalah pembengkakan difus dari

jaringan kulit kepala yang melampaui sutura di luar

periosteum.Kelainan ini terjadi karena adanya tekanan yang kuat

pada kepala pada saat memasuki jalan lahir sehingga terjadi

bendungan sirkulasi perifer dan limfe yang disertai dengan

pengeluaran cairan tubuh ke jaringan ekstravaskuler.Keadaan ini

bisa terjadi pada partus lama atau persalinan dengan vakum

ektrasi.Kelainan ini ditandai dengan adanya edema di kepala yang

berwarna kemerahan.Pada saat perabaan terasa lembut dan lunak.


10

Gambar 2.3 Caput Succedaneum

Caput succedaneum ini ditemukan biasanya pada presentasi

kepala.Pada bagian tersebut terjadi edema yang disebabkan oleh

pengeluaran serum dari pembuluh darah.Caput succedaneum

terjadi karena adanya tekanan yang kuat pada kepala janin saat

memasuki jalan lahir sehingga terjadi bendungan sirkulasi perifer

dan limfe yang disertai dengan pengeluaran cairan tubuh ke

jaringan ekstravaskuler. Banyak hal yang menjadi penyebab

terjadinya Caput succedaneum pada bayi baru lahir, yaitu

(Cunningham, 2009) :

1) Persalinan lama

Persalinan lama dapat menyebabkan Caput

succedaneum karena terjadi tekanan pada jalan lahir yang

terlalu lama, menyebebkan pembuluh darah vena terbendung,

tekanan dalam vena meningkat hingga terjadi ekstravasasi

cairan dari dalam pembuluh darah.


11

2) Persalinan dengan vakum ekstraksi

Pada bayi yang dilahirkan dengan teknik vakum

ekstraksi yang cukup berat, seringkali terlihat adanya Caput

succedaneum yang berukuran sebesar cup vakum.Hal ini

disebabkan adanya bendungan sirkulasi lokal pada saat

dilakukan teknik persalinan dengan vakum ekstraksi.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kelainan ini

timbul karena tekanan yang keras pada kepala janin ketika

memasuki jalan lahir.Benjolan caput berisi cairan serum dan sering

bercampur dengan sedikit darah. Benjolan dapat terjadi sebagai

akibat bertumpang tindihnya tulang kepala di daerah sutura pada

saat proses persalinan sebagai salah satu upaya bayu untuk

mengecilkan lingkaran kepalanya agar dapat melalui jalan lahir.

Umumnya moulage ini ditemukan pada sutura sagitalis dan terlihat

segera setelah bayi lahir (Cunningham, 2009).Gejala terjadinya

Caput succedaneum antara lain (Wiknjosastro, 2005) :

- Edema di kepala

- Pada perabaan terasa lembut dan lunak

- Permukaan kulit pada benjolan berwarna ungu atau

kemerahan

- Benjolan berisi serum dan kadang bercampur darah


12

- Edema melampaui tulang tengkorak dengan batas yang

tidak jelas

e. Cephal Hematoma

Cephal hematoma adalah pembengkakan pada kepala

karena adanya penumpukan darah yang disebabkan oleh

perdarahan subperiosteum.Kejadian cephal hematoma dapat

disertai dengan fraktur tengkorak, koagulopati, dan perdarahan

intrakranial (intracranial hemorrhage) (Wiknjosastro, 2005).

Cephal hematoma ditandai dengan kepala yang bengkak

dan merah serta memiliki batas yang jelas.Hal ini disebabkan

perdarahan subperiosteal yang terjadi tidak melampaui sutura-

sutura di sekitarnya.Tulang tengkorak yang sering terkena adalah

tulang temporal atau parietal.Pada perabaan, bengkak yang terjadi

pada mulanya lunak kemudian menjadi keras.

Gambar 2.4 Cephal hematoma

Berbeda dengan caput succedaneum, cephal hematoma baru

dapat menghilang dengan sendirinya setelah 2-12 minggu.Pada


13

kelainan yang agak luas, penyembuhan kadang disertai dengan

kalsifikasi (Wiknjosastro, 2005).Cephal hematoma juga dapat

menimbulkan anemia dan hiperbilirubinemia pada gangguan yang

luas.Oleh karena itu, perlu dilakukan pemantauan hemoglobin,

hematokrit, serta bilirubin.

Tabel di bawah ini menjelaskan perbedaan antara caput

succedaneum dengan cephal hematoma(Behrman dan Vaughan,

2005) :

Tabel 2.1. Perbedaan caput succedaneum dengan cephal

hematoma (Oxom et al., 2010)

Caput succedaneum Cephalhematoma

Muncul waktu lahir, mengecil Muncul waktu lahir atau


setelah lahir. setelah lahir, dapat membesar
sesudah lahir.
Lunak, tidak berfluktuasi. Teraba fluktuasi.
Melewati batas sutura, teraba Batas tidak melampaui sutura.
moulase.
Bisa hilang dalam beberapa jam Hilang lama (beberapa minggu
atau 2-4 hari atau bulan).
Berisi serum dan darah Berisi darah
14

2. Perdarahan Intrakranial (Intracranial Hemorrhage)

Perdarahan intrakranial atau intracranial hemorrhage adalah

perdarahan patologis yang terjadi di dalam rongga cranium.Perdarahan

intracranial merupakan penyebab utama kematian bayi baru lahir akibat

trauma persalinan. Hal ini disebabkan perdarahan intrakranial tidak

memiliki gejala yang khas pada bayi baru lahir (Bano et al., 2014).

Perdarahan intracranial meliputi Epidural Hematom (EDH), Subdural

Hematom (SDH), Subarachnoid Hemorrhage (SAH), Intracerebral

Hemorrhage (ICH), dan Intraventricular Hemorrhage (IVH).

a. Epidural Hematom

Epidural Hematom adalah perdarahan intrakranial yang

terjadi karena pecahnya cabang-cabang arteri meningea media

diantara tulang kepala dan duramater.Perdarahan ini sering

berlokasi di daerah parietal dan temporal.Perdarahan epidural

biasanya disertai dengan fraktur linier tulang tengkorak.Gejala

klinis yang timbul tergantung dengan luasnya perdarahan yang

terjadi. Jika perdarahan luas, dalam beberapa jam setelah bayi lahir

dapat terlihat tanda peningkatan tekanan intrakranial, seperti gejala

irritable, menangis melengking (cephalic cry), ubun-ubun tegang

dan menonjol, deviasi mata, sutura melebar, kejang, atau tanda-

tanda herniasi unkus seperti dilatasi pupil (Bano et al., 2014).


15

b. Subdural Hematom

Subdural hematom adalah perdarahan yang terjadi diantara

rongga duramater dan archnoidmater.Perdarahan jenis ini

disebabkan oleh regangan dan robekan bridging veins yang

berjalan melintang di rongga subdural antara permukaan kortikal

otak dengan sinus duramatris.Perdarahan ini sering terjadi di

infratentorial.Bila perdarahan banyak, dapat meluas ke fossa

posterior dan menyebabkan kompresi batang otak (brain

stem).Kadang-kadang perdarahan ini dapat meluas ke permukaan

superior atau posterior dari serebellum.Perdarahan subdural dengan

laserasi falks serebri terjadi karena rupturnya sinus sagitalis

superior.Perdarahan biasa terjadi di tempat pertemuan falks serebri

dan tentorium.Perdarahan ini lebh jarang ditemukan apabila

dibandingkan dengan laserasi tentorium. Gejala yang dapat terjadi

dari perdarahan subdural pada bayi baru lahir adalah kejang,

irritable, bradikardia, dan fontanella tampak tegang (Bano et al.,

2014).

c. Subarachnoid Hemorrhage

Perdarahan subarachnoid merupakan perdarahan di dalam

rongga arachnoid akibat rupturnya vena-vena dalam rongga

arkhnoid, rupturnya pembuluh darah kecil di daerah

leptomeningens, atau perluasan perdarahan dari lapisan di

atasnya.Timbunan darah biasanya berkumpul di lekukan serebral


16

bagian posterior dan di fossa posterior.Perdarahan subarakhnoid

dapat menyebabkan hidrosefalus karena penyumbatan trabekula

arakhnoid oleh darah dan dapat menyebabkan peningkatan tekanan

intrakranial.

d. Intracranial Hemorrhage

Perdarahan intracranial merupakan penyebab utama dalam

mortalitas dan morbiditas pada neonatus. Pada bayi cukup bulan,

hal ini sering terjadi saat proses kelahiran karena factor mekanik

persalinan. Sedangkan pada bayi premature terjadi awal saat

persalinan atau selama 2 minggu kehidupan karena hemodinamik

yang tidak stabil. Etiologi dari ICH dibedakan menurut

usiakehamilan dari bayi dan lokasi perdarahan. Dari beberapa tipe

ICH, germinal matrix-intraventrikular hemorrhageI (GM-IVH)

merupakan penyebab utama dari bayi premature. Peyebabnya

adalah multifaktorial, yaikni terjadi kombinasi antara

ketidakmaturan pembuluh darah anatomis dan factor hemodinamik

kompleks. Beberapa factor telah dilaporkan bahhwa bayi baru lahir

yang terkena ICH penyebabnya adalah dari risiko maternal pada

minggu pertama nenonatal yaitu penggunaan obat –obatan seperti

aspirin, kokain, gangguan autoimun,dll (Bano et al., 2014).

e. Intraventrikel Hemorrhage

Insidensi perdarahan intraventrikuler (IVH) pada bayi baru

lahir sekitar 4,6% dibandingkan dengan bayi preterm (50%)


17

sangat rendah, diduga dari kematuritas otak pada cukup bulan.

Pada cukup bulan, IVH terjadi disebabkan dari pleksus

choroideus atau adanya ekstensi dari perdarahan talamik atau

perdarahan subependymal matriks germinal. Matriks germinal

IVH pada bayi preterm dapat didiagnosis selama 1 minggu

kehidupan petama, 50% pada hari pertama dan (0% pada 4 hari

pertama. Matriks germinal IVH atau GM-IVH biasanya terjadi

di subependymal dan asimtomatis. Didiagnosis dengan

screening cranial ultrasound pada 25-50% bayi premature yang

berat bayi lahir kurang dari 1500 gram dan usia kehamilan

kurang dari 32 minggu (Bano et al., 2014).

Matriks germinal (daerah dengan vaskularisasi tinggi


berbatasan dengan daerah ventrikel otak) ada sampai kehamilan
± 35 minggu, perdarahan periventrikuler-intraventikuler umum
terjadi pada bayi-bayi kurang bulan.
Pada saat perdarahan keluar melalu matriks germinal dan
masuk ke system ventrikulear, disebut perdarahan intraventikuler
(IVH).
 IVH ringan jika tidak ada pelebaran ventrikel.
 IVH sedang jika ventrikel melebar.
 IVH berat jika perdarahan meluas ke parenkim otak.
Perdarahan sedang dan berat disertai dengan peningkatan

insidesn kesakitan dan kematian.Banyak yang akan mengalami

hidrosefalus pasca perdarahan dalam waktu 2-3 minggu sejak

perdarahan semula. Beberapa kasus hidrosefalus akan sembuh

spontan, sedangkan yang lain memerlukan tindakan drainase.


18

Penundaan perkembangan atau deficit neurologis atau keduanya

akan terjadi pada dua pertiga bayi dengan IVH sedang dan berat

3. Fraktur pada Tulang (Bone Fracture)

Patah tulang merupakan salah satu komplikasi yang dapat terjadi

pada trauma persalinan. Menurut Talebian, et al. (2015) fraktur tulang

memiliki angka insidensi 4,3% dari total seluruh kejadian trauma

persalinan.Penelitian yang dilakukan oleh Ogulande et al. (2004)

menyebutkan bahwa fraktur klavikula merupakan kelainan yang paling

sering terjadi pada trauma persalinan yang mengakibatkan fraktur pada

bayi baru lahir (Ogunlade et al., 2004).

a. Fraktur Klavikula

Fraktur klavikula merupakan jenis fraktur yang paling

sering terjadi pada bayi baru lahir. Penyebab tersering dari fraktur

klavikula pada bayi baru lahir adalah karena distosia bahu, yaitu

kesulitan dalam pengeluaran bahu janin selama proses persalinan

kala II (Ogunlade et al., 2004).

Gambar 2.5 Fraktur Klavikula


19

Gejala yang tampak pada keadaan ini adalah kelemahan

lengan pada sisi yang terkena, krepitasi, ketidakteraturan

(deformitas) tulang yang mungkin dapat diraba, perubahan warna

kulit pada bagian yang terkena fraktur, serta menghilangnya reflex

Moro pada sisi tersebut.Diagnosis fraktur klavikula dapat

ditegakkan dengan foto rontgen.Fraktur klavikula dapat

mengakibatkan komplikasi berupa paralisis nervus brachialis.

b. Fraktur Humerus

Fraktur humerus pada bayi baru lahir umumnya terjadi pada

kelahiran letak sungsang dengan tangan menjungkit ke atas.Pada

kelahiran presentasi kepala dapat pula ditemukan fraktur ini, jika

ditemukan adanya tekanan keras dan langsung pada tulang

humerus.Jenis fraktur umumnya berupa fraktur greenstick atau

fraktur komplit.Menurut Ogulande et al. (2004), fraktur humerus

pada bayi baru lahir umumnya disebabkan faktor sekunder akibat

kesulitan dalam proses persalinan (misalnya karena bayi

makrosomia, malpresentasi, maupun disproporsi sefalopelvik).Pada

keadaan ini biasanya sisi yang terkena tidak dapat digerakkan dan

refleks Moro pada sisi tersebut menghilang.Penanganan yang dapat

dilakukan pada fraktur humerus pada bayi baru lahir yakni

imobilisasi lengan yang mengalami fraktur dan melakukan

pembidaian untuk mengurangi rasa nyeri. Kemungkinan kelainan

akan mengalami perbaikan dalam waktu 2-4 minggu.


20

Gambar 2.6 Fraktur Humerus

c. Fraktur tulang tengkorak (skull fracture)

Proses persalinan seringkali menyebabkan penekanan pada

kepala janin selama melalui jalan lahir. Keadaan ini yang dapat

menyebabkan depresi pada tulang parietal dan frontal. Penekanan

tulang tengkorak janin oleh promontorium sacralis, simfisis pubis,

spina ischiadica atau bagian tulang pelvis yang lain dapat

menyebabkan patah tulang tengkorak janin pada persalinan normal

(Arifin et al., 2015). Pada persalinan dengan instrumentasi,

penggunaan alat seperti forceps dan vakum juga dapat

menyebabkan fraktur tulang tengkorak janin.

Fraktur yang sering terjadi pada tulang tengkorak janin

adalah fraktur linier yang tidak menimbulkan gejala dan tidak

memerlukan pengobatan, serta fraktur depresi yang biasanya

tampak sebagai lekukan pada kalvaria.Fraktur depresi ini dikenal

juga sebagai fraktur “ping-pong” karena bentuknya menyerupai

lekukan pada bola ping-pong (Arifin et al., 2015).


21

Gambar 2.7 Fraktur Tulang Tengkorak

Fraktur pada tulang tengkorak janin dapat didiagnosis

dengan menggunakan CT Scan dan foto rontgen. Seperti yang telah

dijelaskan sebelumnya, fraktur pada tulang tengkorak janin tidak

perlu ditangani secara khusus karena seringkali dapat normal secara

spontan. Namun demikian, menurut Arifin et al. (2012), kasus

fraktur tulang tengkorak janin perlu ditangani secara operatif

apabila diikuti gejala neurologis seperti kejang, penurunan

kesadaran, dan tanda-tanda penikatan tekanan intrakranial.

4. Cedera pada Susunan Saraf

a. Paralisis nervus facialis

Paralisis nervus facialis yang terjadi pada bayi baru lahir

seringkali disebut dengan Congenital Facial Paralysis (CFP).

Menurut Ozmen et al. (2010), CFP ini merupakan kelainan yang

jarang terjadi pada bayi baru lahir, yakni sekitar 2 kasus dari 1000

kelahiran.
22

Kelainan ini terjadi akibat tekanan perifer pada nervus

facialis selama proses persalinan. Kelumpuhan perifer ini bersifat

flaksid, dan apabila kelumpuhan terjadi total maka dapat mengenai

seluruh sisi wajah termasuk dahi. Bila bayi menangis, maka hanya

dapat dilihat adanya pergerakan pada sisi wajah yang tidak

mengalami kelumpuhan dan mulut tertarik ke sisi yang sehat.Pada

sisi yang mengalami kelumpuhan, dahi tampak licin, mata tidak

dapat ditutup, tidak terdapat lipatan nasolabial dan sudut mulut

terlihat jatuh.

Gambar 2.8 Paralisis nervus facialis

Penggunaan instrumentasi selama persalinan seperti forceps

diduga menjadi penyebab terbanyak dari kejadian CFP (Terzis dan

Anesti, 2011). Sebagian besar kasus CFP akan mengalami

pemulihan dalam beberapa hari tanpa tindakan khusus. Namun

demikian, perlu dilakukan penanganan untuk gejala penyerta yang

terjadi, seperti pemberian tetes mata dengan menggunakan tetes

mata buatan pada mata bayi yang tidak dapat menutup.


23

b. Paralisis pleksus brachialis

Obstetrical Brachial Plexus Palsy (OBPP) merupakan

kelemahan ekstremitas bagian atas yang disebabkan cidera saat

proses persalinan. Angka insidensi OBPP saat ini antara 1 sampai 2

dalam 1000 kasus kelahiran hidup. Pada umumnya, bayi dengan

OBPP akan mengalami perbaikan secara spontan dalam waktu 2

bulan pertama kehidupan. Apabila dalam 3 bulan pertama bayi

dengan OBPP tidak mengalami perbaikan, sekitar 5% sampai

dengan 50% kasus akan memiliki keterbatasan gerak, penurunan

kekuatan dan atrofi otot secara permanen (Abzug dan Kozin,

2010).

Gambar 2.9 paralisis pleksus brakhialis (Er’b Duchenne)

Paralisis pleksus brachialis atau OBPP dibagi menjadi 3

jenis utama berdasarkan distribusi persarafan dan tingkat


24

keparahannya, yaitu Erb’s palsy, Klumpke’s palsy dan complete

brachial plexus palsy(Bahm et al., 2009):

1) Lesi upper plexus/Erb-Duchenne Paralysis (C5-C6)

Kelemahan atau paralisis pada bagian tubuh yang

dipersarafi oleh cabang-cabang C5 dan C6 dari plexus

brachialis.Pada keadaan ini ditemukan kelemahan untuk fleksi,

abduksi, serta rotasi eksternal disertai hilangnya refleks biseps.

2) Lesi Lower Plexus/Klumpke’s Paralysis (C8-T1)

Kelumpuhan atau paralisis pada bagian-bagian tubuh

yang dipersarafi oleh cabang C8-T1 dari plexus brachialis.Pada

paralisis jenis ini terjadi kelemahan otot-otot fleksor

pergelangan, sehingga bayi kehilangan refkels mengepal.

3) Complete Brachial Plexus Paralysis (C5-T1)

Paralisis komplet dan hipestesia dari lengan yang

mengalami cidera.

Faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya OBPP

antara lain berat badan lahir bayi besar (makrosomia), persalinan

dengan presentasi bokong atau kaki, distosia bahu, kala dua

memanjang, serta persalinan dengan menggunakan instrumentasi

(Abzug dan Kozin, 2010). Manifestasi klinis dari Erb’s palsy antara

lain lengan terlihat lemas dengan bahu mengalami rotasi internal,

ekstensi siku secara penuh, lengan bawah mengalami pronasi, jari-

jari dan pergelangan tangan mengalami fleksi. Posisi seperti ini


25

sering disebut sebagai porter/waiter tip.Bahu mengalami adduksi

karena kelumpuhan otot deltoid dan supraspinatus, otot pektoralis

dan subscapularis masih aktif, sedangkankan lumpuhnya otot

infraspinatus dan teres minor menyebabkan bahu mengalami rotasi

internal (Bahm et al., 2009).

Ada 4 jenis cidera OBPP yaitu avulsi, ruptur, neuroma dan

neurapraksia.Avulsi terjadi karena robeknya saraf dari spinal

cord.Cidera avulsi merupakan cidera saraf yang paling serius

diantara ketiga cidera lainnya. Avulsi dapat diperbaiki dengan cara

menyambungkan kembali saraf yang robek dengan donor dari saraf

lain. Ruptur terjadi karena adanya peregangan yang berlebihan

sehingga saraf tersebut robek.Cidera ruptur tidak bisa sembuh

dengan sendirinya. Neuroma terjadi karena cidera peregangan yang

menyebabkan beberapa saraf rusak dan menimbulkan jaringan

parut yang dapat menekan saraf lain yang masih sehat. Neuroma ini

dapat menghilang dengan sendirinya.Neurapraksia merupakan jenis

cidera yang paling sering terjadi.Neurapraksia merupakan cidera

peregangan yang tidak menyebabkan robeknya saraf.Neurapraksia

dapat sembuh dengan sendirinya biasanya dalam waktu 3 bulan

(Ruschelsman et al., 2009).

Pada umumnya, bayi dengan OBPP akan mengalami

perbaikan secara spontan dalam waktu 2 sampai 3 bulan pertama

kehidupan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh


26

Ruschelsman et al. (2009), sekitar 90% dari kasus Erb’s palsy dapat

sembuh spontan dengan 53% kasus dapat berfungsi kembali secara

normal atau mendekati normal(Ruschelsman et al., 2009). Apabila

dalam 3 bulan pertama bayi dengan OBPP tidak mengalami

perbaikan, sekitar 5% sampai dengan 50% kasus akan memiliki

keterbatasan gerak, penurunan kekuatan dan atrofi otot secara

permanen (Abzug dan Kozin, 2010). Tatalaksana untuk

memperbaiki OBPP terbagi menjadi 2 yaitu, tindakan bedah dan

non bedah.Tindakan non bedah dapat berupa latihan fisik. Contoh

latihan fisik untuk penanganan Erb’s palsy yaitu dengan cara

meletakkan lengan atas dalam posisi abduksi 90o dan putaran ke

luar. Siku berada dalam fleksi 90o disertai supinasi lengan bawah

dengan ekstensi pergelangan dan telapak tangan menghadap ke

depan. Posisi ini dipertahankan untuk beberapa

waktu.Penyembuhan biasanya terjadi setelah 3-6 bulan.Sedangkan

untuk penanganan dengan tindakan pembedahan dapat berupa

microsurgery, osteotomi,capsuloraphy, dan transfer

otot(Ruschelsman et al., 2009).


27

BAB III
KESIMPULAN

1. Trauma persalinan atau trauma lahir diartikan sebagai cedera atau kelainan
yang terjadi pada Bayi Baru Lahir (BBL) sebagai akibat dari adanya
paksaan secara mekanis, seperti tarikan atau kompresi, yang terjadi selama
proses persalinan
2. Faktor risiko pada ibu maupun pada janin yang dapat menyebabkan
trauma lahir diantaranya adalah primi gravid, Cephalopelvic
Disproportion (CPD), partus presipitatus/rapid labor, partus lama,
oligohydramnion, Ibu hamil yang memiliki riwayat penyakit kronis
(Diabetes Mellitus, hipertensi, dll.), letak janin abnormal, penggunaan
instrumentasi persalinan (vacuum/forceps),Bayi Berat Lahir Rendah
(BBLR), bayi Makrosomia
3. Jenis – jenis trauma lahir adalah perlukaan pada jaringan lunak ( perlukaan
kulit, nekrosis lemak subkutan, trauma M. Strenocleidomastoideus, caput
succedaneum, cephal hematoma), perdarahan intracranial (EDH, SDH,
SAH, ICH, IVH), fraktur tulang ( fraktur klavikula, fraktur humerus, dan
fraktur tulang tengkorak), serta cedera susunan saraf (paralisis nervus
facialis, paralisis pleksus brakhialis).
28

DAFTAR PUSTAKA

1. Abzug JM, Kozin SH. 2010. Current Concepts: Neonatal Brachial Plexus
Palsy. Orthopedics. 3 (6): 430-5.
2. Angoules AG, Eleni CB, Eleni PL. 2013. Congenital Muscullar Torticollis
: An Overview. General Practice Vol.1: 105.
3. Arifin MZ, et al. 2015. Spontaneous Depressed Skull Fracture during
Vaginal Delivery: A Report of Two Cases and Literature Review. The
Indian Journal of Neurotrauma. 10. 33-37.
4. Bahm J, et al. 2009. Obstetric Brachial Plexus Palsy. DtschArztebl Intl..
106 (6). 83-90.
5. Bano S., et al. Intracranial Hemorrhage in the Newborn. 2014. Available in
URL: http://dx.doi.org/10.5772/58476. Access date: October 6th, 2015.
6. Behrman R, Vaughan V. 2005. Trauma Lahir. Nelson Ilmu Kesehatan
Anak Edisi XIV. JakartaL EGC.
7. Cunningham W. 2009. Cedera Jaringan pada Neonatus. Ringkasan
Obstetri Williams Edisi 22. Jakarta: EGC. 317-318.
8. Hameed NN, Izzet KQ. 2010. Neonatal Birth Traumas: Risk Factors and
Types. J Fac Med Baghdad. 52 (3). 241.
9. Moczygemba CK, et al. 2010. Route of Delivery and Neonatal Birth
Trauma. Am J Obstet Gynecol. 202 (361). 1-6.
10. Ogunlade, et al. 2004. Skeletal Birth Injuries: Presentation,
Management, and Outcome at the University College Hospital,
Ibadan. Nigerian Journal of Pediatrics. 2004. 32 (1). 12-14.
11. Oxorn, Harry dan William R. Forte. 2010. Ilmu Kebidanan: Fisiologi dan
Patologi Persalinan. Editor Dr. Mohammad Hakimi, Ph. D. Jakarta:
Yayasan Essentia Medika.
12. Ozmen O., et al. 2010. Congenital Facial Paralysis: Facial Nerve
Hypoplasia. Int. Adv. Otl. 6 (2). 282-284.
29

13. Patel RR, Murphy DJ. 2004. Forceps delivery in modern obstetric practice.
BMJ. May 29. 328(7451):1302-5
14. Ruschelsman DE, Petrone S, Price A, Grossman J. 2009. Brachial Plexus
Birth Palsy An Overview of Earlu Treatment Considerations. Bull
NYU HospJt Dis. 2009. 67 (1). 83-9.
15. Talebian A, et al. 2015. Incidence of Neonatal Birth Injuries and Related
Factors in Kashan, Iran. Arch Trauma Res. 4 (1). 1.
16. Terzis JK, Anesti K. 2011. Developmental facial paralysis: a review. J
PlastReconstrAesthet Surg. 64 (10). 1318-33.
17. Warke C, Malik S, Chokhandre M, Saboo A. 2012. Birth Injuries: A
Review of Incidence, Perinatal Risk Factors and Outcome. Bombay
Hospital Journal. 54 (2). 202.
18. Wiknjosastro H. 2005. Perlukaan Persalinan. Ilmu Kebidanan. 2005.
Jakarta: Yayasan Bina Pustakan Sarwono Prawirohardjo.