Anda di halaman 1dari 6

TARI RATOH DUEK

A. PENGERTIAN TARI RATOH DUEK

Tarian Ratoh Duek adalah sebuah tarian yang berpola tradisional.


Tarian Ratoh Duek ialah gabungan dari semua tarian tradisional yang
dimainkan sambil duduk yang telah dikombinasi. Tarian Ratoh Duek pada
umumnya disajikan dalam posisi duduk berbanjar, dan dilengkapi dengan
perubahan pola lantai, disamping itu gerak tangan dan pukulan telapak
tangan di paha dan di dada masing-masing harus disesuaikan dengan
syair dan tabuhan gendang . Tari Ratoh duek dilengkapi 2 penyair (syahi)
dengan menggunakan bahasa Aceh sambil menabuh gendang tradisional
Aceh bernama rapai. Tari Ratoh duek mengandung berbagai pesan atau
nasihat islami yang dilantunkan oleh syahi sambil menabuh rapai. Bahkan
para penari juga kerap melantunkan syair untuk membalas syair dari
syahi. Biasanya hal itu dilakukan diawal, pertengahan, dan penutupan
tari. Tarian ini sangat meledak-ledak dalam tempo dan semangat tinggi,
maka ada keunikan tersendiri juga. Penari diberikan keleluasaan
mengekspresikan semangat dan konsentrasi mereka dalam bentuk
teriakan-teriakan kecil. Teriakan – teriakan tersebut mengingatkan semua
orang akan semangat para wanita Aceh sejak zaman perjuangan dahulu
kala. Pantang menyerah, pantang mundur, pemberani, militan, dan
sangat kompak antara satu dengan yang lainnya. Itulah salah satu pesan
tersirat dari Tari Ratoh duek, bahwa tarian ini dapat dikatakan
representasi semangat dan keanggunan.

B. ARTI TARI RATOH DUEK

Penamaan Tari Ratoh Duek ini merupakan kombinasi kata Ratoh dan
Duek. Ratoh berasal dari bahasa Arab rateb/ratip yang artinya melakukan
puji-pujian dan doa kepada Allah SWT dan Nabi melalui syair yang
diiramakan/dinyanyikan, sedangkan duek berasal dari bahasa Aceh yang
artinya duduk.Jadi, Ratoh Duek adalah kegiatan kesenian yang
mengandung makna ibadah dan di lakukan secara duduk.

C.ASAL USUL TARI RATOH DUEK


Tari Saman dan Tari Ratoh Duek merupakan jenis tarian yang
sejenis.. Ketika tari Saman ditetapkan UNESCO sebagai Daftar
Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia, maka sejak itu Tari
Saman dilarang untuk dibawakan oleh wanita, Tari Saman hanya boleh
dibawakan oleh para lelaki dengan menggunakan pakaian Khas Gayo.
Maka sejak saat itu, Tarian saman yang biasa dimainkan remaja putri di
pesisir berubah menjadi ratoh duek.

D. PERBEDAAN TARI SAMAN DAN TARI RATOH DUEK


 Perbedaan pertama yang sangat mencolok adalah Tari Saman
tidak ditarikan wanita, melainkan hanya pria dengan jumlah
ganjil. Sedangkan Tari Ratoh Duek seluruhnya ditarikan wanita
dengan jumlah genap. Tari Ratoh Duek dikendalikan oleh dua
orang syahi (penyanyi syair di luar formasi duduk penari),
sedangkan Tari Saman dikendalikan oleh seorang penangkat yang
duduk di dalam formasi paling tengah. Syair Tari Saman selalu
menggunakan Bahasa Gayo, sedangkan syair Tari Ratoh Duek
menggunakan Bahasa Aceh.
 Ratoh Duek ditarikan dalam bentuk yang lebih sederhana.
Maksudnya, gerakan dalam posisi duduk hanya terdiri dari gerakan
tangan menepuk dada dan paha, gelengan kepala ke kanan dan ke
kiri, gerakan duduk dan berlutut serta mempersilangkan jari
dengan penari di sebelahnya yang dilakukan dengan urutan yang
lebih fleksibel, dapat berubah dan dikreasikan sewaktu-waktu.
Namun demikian, tari selalu dibuka dengan salam. Syair pun hanya
dinyanyikan sebagaimana biasa tanpa ada bentuk gumaman. Syair
yang dibawakan hanya berupa nyanyian yang dibawakan oleh
syahi dan kemudian disahut dan diikuti oleh seluruh penari lainnya.
 Hal lain yang membedakan Tari Saman dengan Tari Ratoh Duek
adalah kehadiran musik pengiring. Tari Saman tidak pernah diiringi
oleh alat musik tradisional Aceh apa pun, sedangkan Tari Ratoh
Duek sering kali ditemani oleh iringan rapai.
 Selain itu, terdapat perbedaan yang mencolok pada kostum.
Kostum penari Saman adalah pakaian tradisional Aceh yaitu
berasal dari Suku Gayo yang disebut baju kantong dengan motif
kerawang (pakaian dasar hitam dengan motif warna kuning, merah
dan hijau) dan di kepala dipakai bulang teleng yang disertai daun
kepies (saat ini sudah sullit ditemukan sehingga sering diganti
dengan daun pandan). Tari Saman selalu membuka bulang teleng
setelah gerakan mulai kencang dan memakainya kembali setelah
selesai.
 Penari Ratoh Duek menggunakan pakaian polos berwarna (bisa
merah, kuning, hijau, dan warna lainnya) yang dipadu kain songket
Aceh dan ikat kepala yang juga berwarna yang dapat
dimodifikasikan atau dikreasikan . Tari Ratoh Duek tidak pernah
melepas ikat kepala sejak awal sampai akhir.

E. PERTUNJUKAN TARI RATOH DUEK

Ratoh duek adalah paduan gerak tari yang berirama dan disesuaikan
dengan syair dan tabuhan gendang.. Lagu dalam tarian ini terbagi
menjadi tiga, yaitu: lagu syaidan, lagu lhök, dan tunang.

Lagu syaidan merupakan bagian pertama dari ratoh duek yang


mengisahkan suatu peristiwa dan uraian-uraian. Di samping ungkapan
kisah-kisah yang merdu dan serempak untuk membentuk perpaduan
irama lagu dan irama gerak yang sepadan, babak ini diiringi juga dengan
gerak-gerak tangan, lenggak-lenggok badan, dan gelengan-gelengan
kepala yang teratur, baik ke kiri maupun ke kanan, seluruhnya
diselaraskan dengan irama dari syair-syair yang diucapkan.

Lagu lhök. Babak ini menampilkan atraksi lhök taloe. Di sinilah


keistimewaan dan ciri khas tari ratoh duek. Sambil berlenggak-lenggok
badan, ayunan-ayunan tangan dan gelengan-gelengan kepala yang
dilakukan secara bersimpuh duduk, para penari memperlihatkan seni
merangkai (lhök) tali sebagai salah satu perlengkapan tarian. Di antara
para pemainnya, tali dirangkai-rangkaikan, diselang-seling dari tangan
yang satu ke tangan yang lain, sehingga menyerupai bentuk rangka
rumah, kapal, gunung, layangan, dan aneka ragam bentuk-bentuk yang
lain. Lhök taloe (rangkain tali) seperti ini sangat rumit untuk
menguraikannya kembali karena pilinan-pilinan tersembunyi dan punca-
punca tali yang dirahasiakan. Melepaskan kembali rangkaian-rangkaian
tali yang rumit dari untaiannya yang tersembunyi itu dilakukan sambil
memainkan badan dengan gerak tari, dan tali pun lepas sejengkal demi
sejengkal, sehingga usai seluruhnya. Apabila tali telah terhampar kembali
seperti semula, babak kedua dianggap selesai dan di sinilah terletak
kekaguman para penonton yang melihat kemahiran suatu kelompok ratoh
duek.Di dalam pertunjukan ratoh duek, sering pula pemainnya
memerankan suatu lakon indah. Misalnya keahlian meliukkan tubuh
sampai-sampai kepala merendah ke belakang, memungut sesuatu benda
dengan mata, mengambil uang ketip (sejenis mata uang yang sangat
tipis) dengan mulut, dan aneka ragam kemahiran yang lain.
F.KOSTUM PENARI RATOH DUEK

Busana tari Ratoh duek menggunakan kain polos berwarna warni


dengan dominasi dasar merah, kuning, hijau dan warna lainnya berpadu
dengan songket Aceh. Selain itu, sebagai penutup kepala maka digunakan
hijab polos dengan ikat kepala yang bewarna untuk menjaga kerapatan
hijab tersebut saat penari melakukan gerakan-gerakan Ratoh duek yang
meledak-ledak dalam kecepatan yang bervariasi

F. FUNGSI TARI RATOH DUEK

Saat ini, Tari Ratoh Duek mulai sering dipertunjukkan sebagai bagian
dalam acara penyambutan kedatangan tamu penting maupun tamu
kenegaraan yang berkunjung ke Provinsi Aceh. Tarian Ratoh Duek juga
berfungsi sebagai media untuk memperkenalkan tarian tradisional Aceh di
kancah Nasional dan sebagai sarana hiburan serta sarana pertunjukan
untuk dapat dipertontonkan pada suatu acara atau pentas seni lainnya
dan dapat menciptakan sebuah kesinambungan sosial dalam masyarakat.

G. SIMBOL YANG TERKANDUNG DALAM TARI RATOH DUEK

Setiap gerakan yang terkandung didalam tari ratoh duek


mengekspresikan semangat dan konsentrasi penari dalam bentuk
teriakan-teriakan kecil. Teriakan – teriakan tersebut mengingatkan semua
orang akan semangat para wanita Aceh sejak zaman perjuangan dahulu
kala. Pantang menyerah, pantang mundur, pemberani, militan, dan
sangat kompak antara satu dengan yang lainnya. Itulah salah satu pesan
tersirat dari Tari Ratoh duek, bahwa tarian ini dapat dikatakan
representasi semangat dan keanggunan.