Anda di halaman 1dari 20

BAB III

PEMBAHASAN

A. Definisi

Fistula preaurikular adalah merupakan kelainan herediter yang

dominan. Fistula dapat ditemukan di depan tragus. Berbentuk bulat atau

lonjong, dengan ukuran seujung pensil. Dari muara fistula sering keluar

sekret yang berasal dari kelenjar sebasea.10 Sinus preaurikular adalah

malformasi kongenital jinak jaringan lunak preaurikular.Kelainan ini

bervariasi dan biasa disebut sebagai saluran preaurikular, fistula

preaurikular,sinus preaurikular dan kista preaurikular. Kondisi sinus

preaurikular pertama kali dijelaskan oleh Van Heusinger.11

B. Etiologi

Fistula preaurikular terbentuk akibat gangguan penyatuan dan

penutupan arkus brakial pertama dan kedua dari hillocks of His.

Pembentukan fistula preaurikular dikaitkan dengan perkembangan pinna

selama 6 minggu kehamilan. Daun telinga berkembang dari enam

mesenkimal hillocks yaitu 3 hillocks dari lengkungan pertama dan 3

lainnya dari lengkungan kedua. Enam bukit ini akhirnya melebur untuk

membentuk pinna penuh. Perkembangan dari sinus preauricular adalah

karena penyatyan yang tidak lengkap hillock tersebut. 2

Fistula ini sering menjadi infeksi akibat bakteri, yang

menyebabkan infeksi ini adalah Staphylococcus epidermidis (31%),

Staphylococcus aureus (31%), Streptococcus viridians (15%),

Peptococcus species (15%), dan Proteus species (8%).3,5

15
C. Epidemiologi

Sinus preaurikular kongenital adalah malformasi dari jaringan

lunak preaurikular kejadiannya antara 0,1 dan 0,9% di Eropa dan Amerika

Serikat, 2,5% di Taiwan dan mencapai 10% di beberapa orang Afrika

daerah.11

Dalam sebuah studi, insidens fistula preaurikular di Amerika

Serikat sekitar 0-0.9% dan insidensinya di kota New York sekitar 0.23%.

Di Taiwan, insidensinya sekitar1.6-2.5%; di Skotlandia sekitar 0.06% dan

di Hungaria sekitar 0.47%. Di beberapa bagian Asia dan Afrika,

insidensinya sekitar 4-10%. Insidensi fistula preaurikular pada orang kulit

putih adalah 0.0-0.6% and insidensinya pada ras Amerika, Afrika dan Asia

adalah 1-10%. Baik laki-laki maupun perempuan memiliki kemungkinan

yang sama untuk menderita kelainan ini. Fistula preaurikular muncul pada

masa antenatal dan terlihat pada saat lahir.12

D. Patofisiologi

Berdasarkan anatomi perkembangan, daun telinga mulai

berkembang lebih lambat dari pada komponen telinga lainnya. Dari

minggu kelima ke-5 kehamilan, terbentuk 3 hillock kecil yang muncul di

brakial pertama (arkus mandibular) yaitu (hillock 1,2,3) dan tiga muncul

brakial kedua (arkus hyoid) yaitu (hillock 4,5,6) pada sisi celah brakial

pertama.14

16
Gambar.7) Embriogenesis aurikula pada 5 minggu kehamilan4

Hillock 1 dan 6 pertama kali diidentifikasi secara terpisah, tetapi

pada minggu keenam semua berbeda, sedangkan lobus juga dapat dilihat

diarkus kedua. Pada minggu kedelapan, daun telinga atau auricula memliki

struktur yang dapat diidentifikasi dan dibentuk dari hillock sampai bentuk

dewasanya sudah dapat dikenali yaitu hillock 1 tragus, hillock 2 krus

helix, hillock 3 ascending helix, hillock 4 horizontal helix, bagain atas

scapa, dan antihelix, hillock 5 descending scapa, dan antihelix, bagian

tengan helix dan anti helix, dan hillock 6 antitragus dan aspek inferior

helix, meskipun beberapa pendapat, terdapat ketidakpastian tentang asal

usul krus helix dan ascending helix, beberapa peneliti percaya bahwa

struktur ini dapat timbul dari arcus kedua. Dengan 18 minggu kehamilan,

daun telingan telah mencapai bentuk dewasa, meskipun terus tumbuh di

masa anak-anak dengan berlanjut hingga dewasa.13

17
Selama embriogenesis, daun teliga (aurikula) muncul dari arkus

brakial 1dan 2 pada minggu keenam kehamilan. Arkus brakial adalah

struktur mesoderm yang dibungkus oleh ektoderm dan mengelilingi

endoderm. Arkus-arkus ini terpisah satu dengan lainnya oleh celah brakial

ektoderm kearah luar dan oleh kantong faringeal endoderm kearah dalam.

Arkus brakial 1 dan 2 masing-masing membetuk 3 tonjolan (hillocks);

struktur ini disebut hillocks of His. Tiga hillocks muncul dari tepi bawah

arkus brakial 1 dan 3 lagi dari batas atas arkus brakial kedua. Hillocks ini

seharusnya bergabung selama beberapa minggu kemudian pada masa

embriogenesis. Fistula preaurikular terjadi sebagai akibat dari kegagalan

penggabungan tonjolan-tonjolan ini.12

Gambaran.8. Fistula Preaurikular3

Fistula preaurikular biasanya sempit, panjangnya bervariasi

(biasanya pendek) dan salurannya biasanya kecil. Fistula preaurikular

biasanya ditemukan pada lateral, superior dan posterior dari nervus fasialis

18
dan kelenjar parotis. Pada hampir semua kasus, salurannya terhubung ke

perikondrium dari kartilago daun telinga.Salurannya dapat mengarah ke

kelenjar parotis.12

E. Gambaran Klinis

Kebanyakan sinus preaurikular tidak bergejala atau asimtomatik,

Gejala 50% lebih sering unilateral, dan dapat pula bilateral tetapi bentuk-

bentuk yang diwariskan, beberapa sindrom, terhitung sekitar 5% kasus,

terkait dengan lubang preaurikular. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa

prevalensi sinus preaurikular berdasarkan kedua jenis kelamin tetap sama.

Namun berbeda dengan penelitian sebelumnya dimana sinus preaurikular

dilaporkan bahwa lebih banyak terjadi pada perempuan dibandingkan laki-

laki.11

Beberapa pasien dengan sinus preaurikular tidak mempunyai

gejala. Namun, beberapa pasien juga mungkin datang dengan keluhan

sekret pada sinusnya. Diagnosis dibuat berdasarkan gejala klinis dan

pasien dengan gejala asimtomatik dan tidak memerlukan pengobatan. Tapi

jika terjadi infeksi berulang , eksisi sinus mungkin perlu dilakukan karena

salurannya mudah kambuh apabila tidak dieksisi.11

Gejala klinis sebagai anomali telinga dapat di sebagai berikut:15

1. Sinus yang tidak terinfeksi

 Tidak ada sekret

 Tidak ada pembengkakan

2. Sinus yang terinfeksi - Selulitis dan abses

 Merah, bengkak

19
 Mengeluarkan bahan purulen

 Granulasi di sekitar lubang

 Lembut

A B

Gambar.9. A) Sinus yang tidak terinfeksi dan b) Sinus terinfeksi6

F. Diagnosis

1. Anamnesis

Kebanyakan orang dengan kelainan ini biasanya asimptomatik.

Hanya sepertiga orang menyadari adanya kelainan ini. Dalam sebuah

studi terhadap 31 pasien, suatu lesi menjadi jelas, sekitar usia 9,2 tahun

(rata-rata) sebelum mereka mencari pengobatan.12

Beberapa pasien fistula preaurikular datang dengan gejala kronik

dengan pengeluaran sekret yang intermitten berupa cairan purulen dari

sinus tersebut. Sekret pada fistula ini menjadi mudah mengalami

infeksi. Apabila mengalami infeksi, fistula ini sering berkembang

menjadi eksaserbasi akut yang rekuren. Pasien mungkin datang dengan

20
selulitis fasial atau ulserasi yang berlokasi pada bagian depan telinga.

Ulserasi ini sering diobati tanpa mengetahui sumber primernya dan

fistula preaurikular menjadi tidak ketahuan. Perkembangan dari adanya

infeksi, lesinya mungkin dapat berkembang menjadi jaringan parut

(scarring).3

2. Pemeriksaan Fisik
Fistula preaurikular biasanya dari inspeksi muncul sebagai

sebuah celah kecil dekat tepi anterior heliks bagian ascending. Jika

fistula ini mengalami infeksi yang aktif dapat ditemukan adanya tanda-

tanda radang yang biasanya disertai pengeluaran sekret, dan dapat

meninggalkan gejala sisa berupa jaringan parut (scarring). Pada

pemeriksaan fisik dapat pula ditemukan fistula brankiogenik dan atau

penurunan pendengaran.12 Pada sinus preaurikular yang abses selalu

rekuren mengeluarkan sekret pada sinus, nyeri, kemerahan, nyeri tekan

didaerah tempat munculnya sinus biasanya ditragus, helix bagian

ascending, serta bisa menyebab demam. Jika kongenital biasanya

dengan kelainan ginjal dan disertai dengan penurunan pendengaran

hal ini terjadi pada sinus preaurikular kongenital sebanyak 1,7% dan

2,6%.11,12,18

3. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang biasa dilakukan adalah kultur pus

yang berasal dari fistula. Pemeriksaan kultur ini digunakan mengetahui

jenis mikroorganisme penyebab infeksi pada saluran fistula, sehingga

dapat diberikan terapi antibiotik yang sesuai.3 Dalam satu penelitian

besar, 52% pasien mengalami peradangan pada sinus mereka, 34%

21
mengalami abses sinus, dan 18% sinus terinfeksi. Agen infeksi yang

diidentifikasi termasuk Staphylococcus epidermidis (31%),

Staphylococcus aureus (31%), Streptococcus viridans (15%), spesies

Peptococcus (15%), dan spesies Proteus (8%). Setelah seorang pasien

mendapatkan infeksi pada sinus, dia harus menerima antibiotik

sistemik. Jika ada abses, harus diiris dan dikeringkan, dan eksudat

harus dikirim untuk pewarnaan gram dan kultur untuk memastikan

jenis antibiotik yang tepat.12

4. Pemeriksaan Radiologi

Pemeriksaan radiologi dapat digunakan untuk mengetahui bentuk

dari saluran fistula. Fistulografi digunakan untuk melihat bentuk dan

sejauh mana saluran fistula ini. Sedangkan ultrasonografi dapat

digunakan untuk mengetahui hubungan antara saluran fistula dengan

arteri temporal superfsial, krus anterior heliks, dan tragus.3 Penentuan

lokasi sinus dan panjang salurannya dapat dilakukan dengan

pemeriksaan fistulografi, yaitu dengan menyuntikkan cairan kontras

melalui muara sinus dan kemudian dilakukan pemeriksaan radiologi.

Pemeriksaan ini biasanya dilakukan sebelum operasi.12,18

22
Gambar.10. Fistulagrafi pada fistula postaurikular.19

Sinus preaurikular dapat berkaitan dengan kelainan pendengaran

dan kelainan ginjal, pemeriksaan pendengaran dan ultrasonografi

(USG) dipertimbangkan jika kelainan ini diduga merupakan bagian

dari suatu sindrom. Pemeriksaan tersebut diindikasikan pada pasien

yang disertai dengan satu atau lebih dari hal berikut: 1) tanda-tanda

malformasi atau dismorfi, 2) riwayat tuli atau kelainan ginjal pada

keluarga, 3) riwayat maternal diabetes melitus gestasional.18

Gambar.11. Sinus preaurikular yang membengkak, (A) Muara

sinus, (B) Saluran sinus yang membengkak, (C) Ultrasonografi color

doppler tampak peningkatan aliran darah di sekitar sinus.17

Keterangan: d=dermis, c=kartilago, ta=temporal artery

23
5. Gambaran Histologis

Pada pemeriksaan makroskopis, fistula preaurikular terdiri dari

struktur tubular yang sederhana atau gambaran melingkar memiliki

dinding yang tipis dan berkilau, atau putih dan menebal. Saluran fistula

dapat melingkar atau dapat berliku-liku, dan lumennya berisi debris.

Fistula preaurikular sering penuh dengan keratin dan dikelilingi oleh

jaringan ikat longgar. Secara mikroskopis, duktus dari fistula

dikelilingi oleh epitel squamous berlapis dan mengandung banyak

kista sepanjang salurannya. Jaringan ikat yang mengelilingi duktus

dapat mengandung folikel rambut,kelenjar sebasea dan kelenjar

keringat; dan jaringan inflamasi, diantaranya limfosit, sel plasma dan

leukosit polimorfonuklear.12

G. Penatalaksanaan

1. Penatalaksanaan sinus preaurikular asimptomatik

Sinus preaurikular asimptomatik tidak memerlukan tindakan

khusus kecuali tindakan pencegahan terhadap infeksi. Pencegahan

terhadap infeksi dapat dilakukan dengan menghindari manipulasi dan

melakukan pembersihan muara dari sumbatan dengan alkohol atau

cairan antiseptik lainnya secara rutin. Namun, terdapat pendapat bahwa

keadaan sinus asimptomatik pun seharusnya dieksisi karena

penyebabnya yang tidak tentu.18,12,15

24
2. Penatalaksanaan sinus preaurikular terinfeksi ( Medikamentosa)

Sinus prekuricular yang pertama kali terinfeksi dapat dilakukan

tindakan konservatif berupa pemberian antibiotik dan kompres hangat

pada sinus yang terinfeksi. Pada infeksi fase akut diberikan antibiotik

yang sesuai dengan bakteri penyebab dan uji sensitivitasnya. Bakteri

yang paling banyak ditemukan pada infeksi sinus preaurikuler adalah

Stafilokokus aureus, bakteri yang memproduksi beta-laktamase. Hasil

pemeriksaan sensitivitas didapatkan antibiotik yang sensitif adalah

gentamisin, ofloksasin, sefuroksim dan amoksisilin-klavulanat.18,15

3. Tindakan Operasi

a. Drainase Abses

Bila terdapat abses,maka perlu dilakukan insisi dan

drainase. Drainase abses dapat dilakukan dengan probe lakrimal,

dengan teknik tersebut maka tidak lagi memerlukan tindakan insisi.

Anestesi kulit dengan anestesi topikal dan menginsersikan probe

lakrimal dengan ujung tumpul pada muara sinus, yang membuat

terjadinya drainase pada abses. Jika diperlukan, prosedur ini dapat

diulang. Prosedur ini dapat menjadi alternatif untuk drainase abses

sinus preaurikular, namun trauma pada saluran sinus dapat

mengakibatkan kerusakan yang lebih dalam dan menyulitkan

eksisi.18,

25
A B

Gambar 12. A) Pemasangan probe lakrimal untuk drainase

abses B) Sebuah saluran sinus preauricular diperiksa dengan

jarum tumpul, dan disuntikkan pewarna methylen blue 15,18

Selama operasi, beberapa ahli bedah menggunakan probe atau

suntikan pewarnaan methylen blue untuk kanulasi orifisium. Metode

yang paling berhasil adalah menggunakan kedua modalitas untuk

menggambarkan seluruh saluran. Satu laporan menggambarkan 141

sukses, hasil bebas infeksi di mana gentian violet yang direndam

dengan cotton, yang memiliki efek antibakteri, digunakan sebagai

pengganti pewarna methylrn blue.12,15

b. Pembedahan

Jika terjadi infeksi, kemungkinan resiko tinggi terjadi

eksaserbasi akut,dan saluran sinus harus diangkat dengan operasi.

Pembedahan harus dilakukan ababila infeksi sudah diobati dengan

antibiotik dan peradangan telah berkurang. Kontroversi mengenai

indikasi untuk operasi ada. Namun beberapa penelitian bahwa

saluran sinus harus dibedah secara operasi pada pasien yang tidak

26
bergejala karena timbulnya gejala dan infeksi berikutnya

menyebabkan jaringan parut, yang dapat menyebabkan

penyembuhan lengkap pada saluran sinus dan kekambuhan

pascaoperasi. Terdapat beberapa kesepakatan mengenai indikasi

dilakukan tindakan pembedahan pada sinus preaurikular.

Walaupun terdapat pendapat keadaan asimptomatik dapat

diindikasikan untuk pembedahan, namun pada umumnya para ahli

berpendapat bahwa indikasi pembedahan adalah setelah terjadi dua

kali infeksi yang berurutan atau infeksi persisten.18 Tingkat

kekambuhan setelah operasi adalah 13-42% dalam studi yang lebih

kecil dan 21% dalam satu penelitian besar. 12,15

1) Prosedur Pembedahan

Tatatalaksana pembedahan pada sinus preaurikular sangat

bervariasi. Mulai dari sinektomi simple, eksisi lokal luas dan

eksisi luas dengan berbagai modifikasi. Perbaikan teknik

pembedahan ditujukan terutama untuk mencegah terjadinya

rekurensi.

a) Sinektomi simpel

Sinektomi simple atau teknik bedah standar,

prosedur pembedahannya adalah dengan dilakukan insisi

elips disekitar muara sinus dilanjutkan diseksi ramifikasi

pada jaringan subkutaneus dengan guiding pandangan mata

atau palpasi terdapat banyak anjuran untuk memperbaiki

27
identifikasi saluran sinus antara lain dengan insersi probe

lakrimal, injeksi metilen biru intraoperatif.18

Masing-masing varian teknik tersebut memiliki

keterbatasan antara lain pada pemasangan probe lakrimal

dapat menyebabkan trauma dan tidak dapat mengikuti

ramifikasi yang kecil, metilen biru mudah berdifusi ke

jaringan sehingga menyulitkan identifikasi ramifikasi.

Fistulografi sulit dilakukan pada pasien dengan episode

akut dan tidak menggambarkan dalamnya sinus. Tindakan

bedah dapat dilakukan dengan anestesi lokal maupun

anestesi umum. Pembedahan dengan anestesi lokal

mempunyai angka rekurensi yang lebih tinggi dibanding

dengan anestesi umum. Hal ini mungkin disebabkan oleh

kepatuhan pasien terutama saat diseksi yang dalam,

sehingga anestesi umum lebih dianjurkan. Beberapa

penelitian menyebutkan sinektomi simpel diindikasikan

pada pasien sinus preaurikular dengan peradangan yang

sedikit atau tanpa peradangan.18

b) Eksisi lokal luas.

Sinus prearukuler dengan inflamasi yang lebih berat

dapat diindikasikan untuk dilakukan tindakan eksisi lokal

luas. Namun, disebutkan juga bahwa teknik ini digunakan

untuk sinus preaurikulaer yang tidak disertai adanya fistula.

Teknik eksisi lokal luas standar dilakukan dengan cara

28
membuat insisi berbentuk baji atau elips yang cukup luas

sehingga semua jaringan dan kulit nekrotik terangkat.

Selanjutnya jaringan inflamasi pada daerah dibawah fasia

temporalis diangkat.18

Pendekatan lain eksisi lokal luas adalah dengan pendekatan

supra-aurikuler. Beberapa peneliti menganjurkan teknik ini

untuk pasien yang telah terjadi abses sebelumnya berdasarkan

teori bahwa bahwa fistula hampir selalu menyertakan jaringan

subkutaneus diantara fasia temporalis dan perikondrium

kartilago heliks. Tekniknya adalah dengan melakukan insisi

elips standar yang kemudian diekstensi keatas kepre dan supra-

aurikular di daerah temporal. Hal ini memungkinkan lapang

pandang yang lebih baik tanpa konsekuensi estetik yang buruk.

Gambar.13. Prosedur operasi eksisi lokal luas18

c) Eksisi luas dapat diindikasikan pada sinus preaurikular

dengan infeksi berat dan juga pada yang terbentuk fistula,

yaitu sinus preaurikular dengan dengan dua lubang, lubang

muara sinus dan lubang pada kulit akibat terjadinya abses.

29
Infeksi yang berat atau terjadinya abses mengakibatkan

jaringan nekrotik yang luas sehingga membutuhkan eksisi

yang luas. Untuk meminimalkan eksisi jaringan sehat pada

kasus ini dapat digunakan teknik eksisi luas dengan insisi

angka 8. Insisi elips dilakukan pada dua tempat, yaitu pada

lubang muara sinus dan lubang akibat abses beserta

jaringan nekrotiknya.18

Gambar 14. Tahapan operasi dengan insisi angka delapan18

Flap kulit dielevasi kemudian dilakukan diseksi sampai

perikondrium. Diseksi dilanjutkan sampai batas fasia temporalis dan

mengangkat seluruh jaringan yang inflamasi secara seksama. Dalam

prosedur tersebut sering menjumpai arteri dan vena temporalis superfisialis

sehingga kedua pembuluh tersebut dapat diligasi agar lapang pandang

operasi menjadi jelas.Luka operasi dijahit dan dipasang drain. Metode

insisi angka 8 dapat mempreservasi lebih banyak kulit yang intak

30
dibanding dengan insisi luas standar, hal tersebut membuat hasil kosmetik

yang lebih baik.12,15,18

Kebanyakan rekurensi pasca operasi terjadi karena pembedahan

saluran sinus yang tidak lengkap. Salah satu cara untuk mencegah

pembedahan yang tidak lengkap adalah dengan menggambarkan saluran

selama operasi. Beberapa ahli bedah menyuntikkan pewarna methylene

blue ke dalam sinus atau lubang selama 3 hari sebelum operasi dalam

keadaan steril. Sinus kemudian ditutup dengan jahitan tali purse. Teknik

ini memperluas dalam saluran dan ekstensi yang diwarnai dengan metylen

blue.12,15

4. Diagnosis Banding
Diagnosis banding dari fistula preaurikular adalah:12

1. Karsinoma sel basal

Karsinoma sel basal adalah keganasan yang berasal dari sel

pluripotensial pada lapisan basal dari epidermis atau folikel. Faktor

resiko yang paling sering menyebabkan basal sel karsinoma adalah

paparan sinar matahari. Daerah Predileksi pada daerah kepala dan

leher. Gambaran lesi biasanya muncul sebagai papul berwarna merah

atau pink yang perlahan membesar.7

31
Gambar 15. papul berwarna merah muda translusen disertai

telangiektasis dan erosi krusta didaerah dahi. 16

2. Kista inklusi epidermal

Kista inklusi epidermal adalah kista kutaneus yang paling sering

terjadi. Kista ini dapat terjadi di badan, dan paling sering terjadi di

wajah, kepala, leher, dan punggung. Kista inklusi epidermal berasal

dari proliferasi dari sel epidermal. Gambaran umum kista inklusi

epidermal berupa benjolan berwarna kekuningan, berbentuk nodul

dengan berbagai ukuran. Dan memiliki pori di bagian sentralnya.17

aaaa ab

Gambar 16. a)Kista epidermoid yang besar dengan punctum

prominen pada punggung pasien. b)Kista epidermoid di telinga yang

infeksi17

32
5. Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi pada fistula preaurikular adalah :11,12

1. Pasien dapat mengalami infeksi pada salurannya dengan

pembentukan abses.

2. Infeksi dan ulserasi dapat terjadi pada bagian yang jauh dari tempat

yang terbuka, Perikondritis,Sellulitis,serta hypertrofi jaringan

parut.

3. Kekambuhan postoperasi merupakan komplikasi dari ekstirpasi

saluran fistula.

Beberapa faktor yang berkontribusi untuk terjadinya kekambuhan

setelah operasi adalah usaha pengangkatan sebelumnya pada saat

dioperasi, operasi dengan menggunakan anestesi lokal, pengangkatan yang

tidak sempurna dari saluran fistula, infeksi yang aktif pada saat operasi,

drainase abses sebelum operasi, kurangnya gambaran yang jelas dari

traktus ketika dilakukan operasi, kegagalan mengangkat kartilago aurikula

pada dasar fistula, kegagalan untuk mengidentifikasi nervus fasialis karena

letaknya yang dekat dengan fistula.12

6. Prognosis

Fistula preaurikular umumnya memiliki prognosis yang baik. Jika

fistula preaurikular ini ditangani dengan tepat maka hasilnya akan

memuaskan dan kecil kemungkinan untuk residif.12

33
BAB IV
KESIMPULAN

Fistula preaurikular merupakan kelainan herediter yang dominan. Fistula

dapat ditemukan di depan tragus. Berbentuk bulat atau lonjong, dengan ukuran

seujung pensil. Fistula ini sering menjadi infeksi dan bakteri yang menyebabkan

infeksi ini adalah Staphylococcus epidermidis, Staphylococcus aureus,

Streptococcus viridians, Peptococcus species, dan Proteus species.

Kelainan ini biasanya asimptomatik. Penderita dengan fistula

preaurikularpada umumnya datang ke dokter setelah terjadi obstruksi dan infeksi

fistel ini baik infeksi yang pertama ataupun infeksi yang berulang dengan

keluhan-keluhan rasa sakit dan bengkak di depan telinga, demamdisertai

pengeluaran sekret, dan dapat meninggalkan gejala sisa berupa jaringan parut

(scarring).

Penatalaksanaan fistula preaurikular tidak diperlukan kecuali pencegahan

terjadinya infeksi yaitu menghindari manipulasi dan membersihkan muara dari

sumbatan dengan alkohol atau cairan antiseptik lainnya secara rutin. Pada kasus

dengan infeksi biasanya dapat diberikan antibiotik dan kompres hangat.

Pembedahan fistula adalah dengan diseksi dan eksisi komplit dari fistula

dan salurannya, hanya dilakukan pada infeksi yang berulang oleh karena sulitnya

mengeluarkan fistula secara lengkap. Fistula preaurikular umumnya memiliki

prognosis yang baik

34