Anda di halaman 1dari 27

BAB I

KASUS

1.1 CONTOH KASUS 1

Seorang pasien yang dirawat di ICU dan baru saja dilakukan


pemasangan chest tube pada shift malam. Pada saat itu perawat lalai dalam
melakukan monitoring pasien dari pukul 23.00 sampai pukul 03.00, ketika
dilakukan pengecekan kembali pada pukul 03.00 didapatkan keadaan
pasien memburuk, pasien mengalami penurunan kesadaran, oksimetri
buruk, dan tanda-tanda vital dalam keadaan jelek. Kemudian klien
mengalami henti nafas dan henti jantung, dan kemudian segera dilakukan
resusitasi pada pasien. Namun, ternyata pasien tetap tidak terselamatkan.

1.2. CONTOH KASUS II

Tn. C berusia 40 tahun. Seeorang yang menginginkan untuk dapat


mengakhiri hidupnya (Memilih untuk mati. Tn. C mengalami
kebutaan,diabetes yang parah dan menjalani dialisis). Ketika Tn. C
mengalami henti jantung, dilakukan resusitasi untuk mempertahankan
hidupnya. Hal ini dilakukan oleh pihak rumah sakit karena sesuai dengan
prosedur dan kebijakan dalam penanganan pasien di rumah sakit tersebut.
Peraturan rumah sakit menyatakan bahwa kehidupan harus
disokong. Namun keluarga menuntut atas tindakan yang dilakukan oleh
rumah sakit tersebut untuk kepentingan hak meninggal klien. Saat ini klien
mengalami koma. Rumah sakit akhirnya menyerahkan kepada pengadilan
untuk kasus hak meninggal klien tersebut.
Tiga orang perawat mendiskusikan kejadian tersebut dengan
memperhatikan antara keinginan/hak meninggal Tn. C dengan moral dan
tugas legal untuk mempertahankan kehidupan setiap pasien yang
diterapkan dirumah sakit.

1
Perawat A mendukung dan menghormati keputusan Tn.C yang
memilih untuk mati. Perawat B menyatakan bahwa semua anggota/staf
yang berada dirumah sakit tidak mempunyai hak menjadi seorang
pembunuh. Perawat C mengatakan bahwa yang berhak untuk memutuskan
adalah dokter.

SUMBER KASUS I DAN II : JURNAL KEPERAWATAN MAHASISWA


KEPERAWATAN FIK UNIVERSITAS INDONESIA

2
1.3. CONTOH KASUS III

Seorang pasien (72 tahun) sudah tidak bekerja dan tidak mempunyai mata
pencaharian lagi, jatuh sakit. Hidupnya tergantung dari para saudara yang tidak
bisa menolong banyak.
Suatu hari dia jatuh pingsan dan dibawa ke suatu rumah sakit dan
dimasukkan ke High Care Unit. Pasien diberikan oksigen. Pemeriksaan
laboratorium menujukkan bahwa kedua ginjalnya sudah tidak berfungsi, sehingga
harus dipasang kateter. Setelah dilakukan observasi beberapa jam, sang dokter
menganjurkan memasukkan ke ICU karena perlu diberi bantuan pernafasan
melalui ventilator. Dokter jaga meminta persetujuan anggota keluarganya.
Saudaranya memutuskan untuk menolak menandatangani surat penolakan.
Mengapa ? karena atas pertimbangan manfaat dan finansial walaupun dirawat di
ICU, belum tentu pasien tersebut akan bisa disembuhkan dan bisa normal kembali
seperti sedia kala. Apakah keputusan untuk menolak ini salah ? Penolakan ini
tentu sudah diperhitungkan dan dipikirkan matang-matang.
Suatu hari dirawat diruang HCU dengan obat-obat saja sudah menelan biaya
beberapa juta. Bagaimana jika harus diteruskan di ICU ? pembiayannya akan
tidak bisa terbayar dan bagaimna pemecahannya kelak ? Apakah saudara itu dapat
dipersalahkan karena tega tidak mau menolong saudaranya dengan memasukkan
ke ICU ? masalah yang dipertimbangkan : apakah bisa terbayar biaya-biaya ICU
dan obat-obatannya yang mahal itu yang setiap hari harus dikeluarkan? Brapa
lama pasien itu harus dirawat ? Apakah masih bisa dikembalikan kesehatanya
seperti semula, sedangkan umurnya sudah 72 tahun ? seandainya bisa tertolong
bagaimana selanjutnnya ? bukan kah fungsi ginjalnya sudah tidak bekerja ? ini
berarti ia harus dilakukan dialisis seminggu dua kali yang perkalinya kurang lebih
berjumlah beberapa ratus ribu rupiah. Bagaimana bissa membiayainya terus-
menerus, sedangkan saudaranya juga orang bekerja dan mana mungkin
membiayai cuci darah disamping mengongkosi rumah tangganya sendiri ?Apa
salah jika ia menolak saudaranya dirawat di ICU ? dan jika ia harus berbaring
terus di tempat tidur, buang air harus ditolong, siapa yang bias mengurusnya dan
bagaimana membiayainya ? Rumusan dilema etik dilema keluarga yang tidak

3
setuju dengan pemasangan ventilator dilema pasien yang ingin dimasukkan ke
ICU dilema keluarga tentang biaya ICU dan obat-obatan yang mahal.

SUMBER KASUS III : RESOURCE DOSEN UGM BERKAITAN KEPERAWATAN DASAR I

4
BAB II

PEMBAHASAN KASUS

2.1 PEMBAHASAN KASUS I

Pada kasus I ditemukan adanya bentuk kelalaian daripada perawat.


Dikarenakan perawat lalai dalam memonitoring pasien yang seharusnya masih
dalam pemantauannya.

Kewajiban (Duty)
Menurut Morton& Fontaine (2009), kewajiban adalah hubungan legal
antara dua pihak atau lebih. Kewajiban ini dapat timbul dari berbagai macam
situasi. Pada ranah keperawatan sendiri, kewajiban timbul akibat adanya
hubungan kontrak antara pasien dan fasilitas perawatan kesehatan. Dimana pasien
sepakat untuk membayar layanan perawatan kesehatan, sedangkan perawat wajib
memberikan perawatan pada pasien sebagaimana mestinya.
Seorang perawat perawatan kritis bertanggung jawab secara legal dalam
merawat pasien dalam kondisi apapun. Jika perawat tersebut gagal memberikan
perawatan sebagaimana mestinya sesuai dengan kondisi pasien, perawat tersebut
dianggap melakukan pelanggaran pada kewajibannya.
Menurut Urden (2010), jika seorang perawat gagal memperhatikan setiap
bagian dari proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian, diagnosa, intervensi,
implementasi dan evaluasi maka perawat tersebut dapat dianggap tidak kompeten
dan melakukan suatu kelalaian.
Dibawah ini merupakan beberapa contoh kasus kelalaian yang dilakukan
oleh seorang perawat kritis :
a. Assessment Failure
Adapun yang termasuk dalam assessment failure adalah kegagalan dalam
mengkaji maupun menganalisis data ataupun informasi mengenai pasien
seperti tanda-tanda vital, pemeriksaan laboratorium, maupun keluhan
utama pasien.

5
b. Planning Failure
Adapun yang termasuk dalam planning failure adalah kegagalan dalam
menentukan perencanaan keperawatan yang yang berkaitan juga kegagalan
dalam menentukan diagnosa yang tepat.

c. Implementation Failure
Termasuk di dalamnya adalah kegagalan untuk berkomunikasi dengan
pihak lain yang terkait terkait kondisi pasien, kegagalan dalam melakukan
tindakan yang tepat terhadap pasien, kegagalan dalam melakukan
pendokumentaian terhadap hasil-hasil pengkajian, intervensi, maupun
respon pasien terhadap intervensi yang diberikan, serta kegagalan untuk
menjaga privasi pasien.

d. Evaluation Failure
Adapun yang termasuk dalam evaluation failure mencakup kegagalan
dalam melaksanakan fungsi dan peran perawat sebagai advokat. Saat
pasien masuk dan dirawat hingga pasien pulang, perawat memiliki peran
sebagai seorang advokat. Perawat bertanggung jawab untuk mengevaluasi
perawatan yang diberikan kepada pasien.
Dari penjabaran diatas kita dapat mengkategorikan bentuk kelalaian ini sebagai
bentuk implementation failure dan evaluation failure.

2.2 PEMBAHASAN KASUS II

Pada kasus II merupakan bentuk isu-isu yang dapat mendukung kehidupan


pasien atau tidak sebagaimana penjelasan dibawah ;

Hak untuk Menolak Perawatan Medis


Menurut Urden (2010), hak untuk menyetujui dan informed consent
didalamnya mencakup penolakan treatement. Pada banyak kasus, keputusan
seseorang yang dianggap kompetern untuk menolak perawatan sekalipun

6
perawatan ini ditujukan untuk penyelamatan jiwa, namun hal ini tetap dihargai.
Hak untuk menolak perawatan tidak diterima pada beberapa situasi, mencakup di
dalamnya adalah :
1. Perawatan berhubungan dengan penyakit menular yang dapat mengancam
kesehatan publik
2. Penolakan untuk melanggar standar etik
3. Treatement harus diberikan, untuk mencegah pasien bunuh diri dan
mempertahankan kehidupan.
Pada saat pasien menolak suatu perawatan, masalah etik, legal, dan praktik
menjadi meningkat. Oleh karena itu, rumah sakit harus memiliki kebijakan
spesifik terkait permasalahan tersebut.

1. Mengidentifikasi dan mengembangkan data dasar

Mengidentifikasi dan mengembangkan data dasar yang terkait dengan

kasus eutanasia meliputi orang yang terlibat klien, keluarga klien, dokter, dan

tiga orang perawat dengan pendapat yang berbeda yaitu perawat A, B dan C.

Tindakan yang diusulkan yaitu perawat A mendukung keputusan tuan C

memilih untuk mati dengan maksud mengurangi penderitaan tuan C, perawat B

tidak menyetujui untuk melakukan eutanasia karena tidak sesui dengan

kebijakan rumah sakit. Dan perawat C mengatakan yang berhak memutuskan

adalah dokter.

2. Mengidentifikasi munculnya konflik

Penderitaan tuan C dengan kebutaan akibat diabetik, menjalani dialisis

dan dalam kondisi koma menyebabkan keluarga juga menyetujui permintaan

tuan C untuk dilakukan tindakan eutanasia. Konflik yang terjadi adalah pertama,

eutanasia akan melanggar peraturan rumah sakit yang menyatakan kehidupan

harus disokong, kedua apabila tidak memenuhi keinginan klien maka akan

7
melanggar hak-hak klien dalam menentukan kehidupannya, ketiga adanya

perbedaan pendapat antara perawat A, B dan C.

3. Menentukan tindakan alternatif yang direncanakan

Adapun tindakan alternatif yang direncanakan dari konsekuensi tindakan

eutanasia adalah

1. Setuju dengan perawat A untuk mendukung hak otonomi tuan C tetapi hal

inipun harus dipertimbangkan secara cermat konsekuensinya, sebab dokter

dan perawat tidak berhak menjadi pembunuh meskipun klien memintanya.

Konsekuensi dari tindakan ini: hak klien terpenuhi, mempercepat kematian

klien, keinginan keluarga terpenuhi dan berkurangnya beban keluarga.

Namun pihak rumah sakit menjadi tidak konsisten terhadap peraturan yang

telah dibuat.

2. Setuju dengan perawat B karena sesuai dengan prinsip moral avoiding

killing. Konsekuensi dari tindakan ini: klien tetap menderita dan kecewa,

klien dan keluarga akan menuntut rumah sakit, serta beban keluarga

terutama biaya perawatan meningkat. Dengan demikian rumah sakit

konsisten dengan peraturan yang telah dibuat

3. Setuju dengan perawat C yang menyerahkan keputusannya pada tim medis

atau dokter. Namun konsekuensinya perawat tidak bertanggung jawab dari

tugasnya. Selain itu dokter juga merupakan staf rumah sakit yang tidak

berhak memutuskan kematian klien.

4. Menentukan siapa pengambil keputusan yang tepat

Pada kasus tuan C, yang dapat membuat keputusan adalah manajemen

rumah sakit dan keluarga. Rumah sakit harus menjelaskan seluruh

8
konsekuensi dari pilihan yang diambil keluarga untuk dapat dipertimbangkan

oleh keluarga. Tugas perawat adalah tetap memberikan asuhan keperawatan

dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar klien.

5. Menjelaskan kewajiban perawat

Kewajiban perawat seperti yang dialami oleh tuan C adalah tetap

menerapkan asuhan keperawatan sebagai berikut: memenuhi kebutuhan dasar

klien sesuai harkat dan martabatnya sebagai manusia, mengupayakan suport

sistem yang optimal bagi klien seperti keluarga, teman terdekat, dan peer

group. Selain itu perawat tetap harus menginformasikan setiap perkembangan

dan tindakan yang dilakukan sesuai dengan kewenangan perawat. Perawat

tetap mengkomunikasikan kondisi klien dengan tim kesehatan yang terlibat

dalam perawatan klien Tuan C.

6. Mengambil keputusan yang tepat

Pengambilan keputusan pada kasus ini memiliki resiko dan

konsekuensinya kepada klien. Perawat dan dokter perlu mempertimbangkan

pendekatan yang paling tepat dan menguntungkan untuk klien. Namun sebelum

keputusan tersebut diambil perlu diupayakan alternatif tindakan yaitu merawat

klien sesuai dengan kewenangan dan kewajiban perawat. Jika tindakan alternatif

ini tidak efektif maka melaksanakan keputusan yang telah diputuskan oleh pihak

manajemen rumah sakit bersama keluarga klien (informed consent).

Pada kasus ini kita melihat bahwa perawat sedang mengalami dilema terkait
permintaan pasien dngan kebijakan pasien. Pasien yang meminta untuk
mengakhiri hidupnya dikarenakan mengingat penyakit yang dideritanya dan

9
pemikiran pasien yang berpikir bahwa jika ia tetap berada di ICU akan menambah
beban hidupnya. Saya sebagai calon perawat dan penuls makalah ini, tentu juga
akan merasa dilema. Tetapi sebaik keputsan, semua akan terlaksana dengan ada
perseujuan dari dokter.

2.3 PEMBAHASAN KASUS III

Dilema tentang pemasangan ventilator dilema keluarga tentang masa depan


pasien. Suatu hari dia jatuh pingsan dan dibawa ke suatu rumah sakit dan
dimasukkan ke High Care Unit. Pasien diberikan oksigen. kedua ginjalnya sudah
tidak berfungsi, sehingga harus dipasang kateter. Sang dokter menganjurkan
memasukkan ke ICU karena perlu diberi bantuan pernafasan melalui ventilator.
Pada kasus ini seorang dokter ingin melakukan yang terbaik buat pasiennya
dan tidak ingin lebih memperburuk keadaan pasien dimana memasukkan pasien
ke HCU dan memberikan bantuan oksigen serta memberikan informasi tentang
apa yang yang sebaiknya dilakukan pasien. Menurut JOHNSON SIEGLER
saudaranya memutuskan untuk menolak menandatangani surat penolakan. Apakah
masih bisa dikembalikan kesehatanya seperti semula, sedangkanJ umurnya sudah
72 tahun ? seandainya bisa tertolong bagaimana selanjutnnya ? bukan kah fungsi
ginjalnya sudah tidak bekerja ? ini berarti ia harus dilakukan dialisis seminggu
dua kali yang perkalinya kurang lebih berjumlah beberapa ratus ribu rupiah.
Melihat kasus ini, kemungkinan besar yang akan terjadi masa depan pasien
hanya tinggal sebentar lagi, umur yang sudah terbilang rentan dan akibat
pemasangan alat medis yang akan dipasang sampai proses kesembuhan.
Kemungkinan besar tubuh pasien akan tidak merasa nyaman dan pasien akan
lelah. Dan jikalaupun akan kembali sembuh, kemungkinan besar akan
membutuhkan perhatian khusus. Melihat hal ini, tentu akan banyak beban yang
terlihat yang harus ditopang keluarga pasien.
Sewaktu-waktu keluarga sudah tidak memiliki biaya, maka kehadiran pasien
hanya akan menambah beban hidup dan pasien akan merasa bersalah. Kenyataan
ini akan merugikan pihak keluarga maupun pasien sendiri.

10
2.4 RINGKASAN MATERI

2.4.1PRINSIP-PRINSIP DALAM ETIKA KEPERAWATAN

1. Autonomi

Autonomi berarti kemampuan untuk menentukan sendiri atau mengatur

diri sendiri, berarti menghargai manusia sehingga harapannya perawat

memperlakukan mereka sebagai seseorang yang mempunyai harga diri dan

martabat serta mampu menentukan sesuatu bagi dirinya.

2. Benefisience

Merupakan prinsip untuk melakukan yang baik dan tidak merugikan

pasien atau tidak menimbulkan bahaya bagi pasien

3. Justice

Merupakan prinsip untuk bertindak adil bagi semua individu, setiap

individu mendapat perlakuan dan tindakan yang sama. Tindakan yang

sama tidak selalu identik tetapi dalam hal ini persamaan berarti

mempunyai kontribusi yang relatif sama untuk kebaikan hidup seseorang

4. Veracity

Merupakan prinsip moral dimana kita mempunyai suatu kewajiban untuk

mengatakan yang sebenarnya atau tidak membohongi orang lain / pasien.

Kewajiban untuk mengatakan yang sebenarnya didasarkan atau

penghargaan terhadap otonomi seseorang dan mereka berhak untuk diberi

tahu tentang hal yang sebenarnya

5. Menepati janji (Fidelity)

11
Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan

komitmennya terhadap orang lain. Perawat setia pada komitmennya dan

menepati janji serta menyimpan rahasia klien. Kesetiaan,

menggambarkan kepatuhan perawat terhadap kode etik yang menyatakan

bahwa tanggung jawab dasar dari perawat adalah untuk meningkatkan

kesehatan, mencegah penyakit, memulihkan kesehatan dan meminimalkan

penderitaan.

6. Kerahasiaan (Confidentiality)

Aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah menjaga privasi (informasi)

klien. Segala sesuatu yang terdapat dalam dokumen catatan kesehatan

klien hanya boleh dibaca dalam rangka pengobatan klien. Tidak ada

seorang pun dapat memperoleh informasi tersebut kecuali jika diijinkan

oleh klien dengan bukti persetujuan. Diskusi tentang klien diluar area

pelayanan, menyampaikan pada teman atau keluarga tentang klien

dengan tenaga kesehatan lain harus dihindari

7. Tidak merugikan (Nonmaleficience)

Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis

pada klien

 INFORMED CONSENT

 Informed consent adalah pernyataan persetujuan terhadap rencana

tindakan medis yang akan dilakukan.

 Keadaan Gawat Darurat :

12
1. Proses pemberian informasi dan permintaan persetujuan rencana tindakan

medis ini bisa saja tidak dilaksanakan

2. Prosedur penyelamatan pasien tetap harus dilakukan sesuai dengan standar

pelayanan / prosedur medis yang berlaku disertai profesionalisme yang

dijunjung tinggi.

3. Setelah masa kritis terlewati dan pasien sudah bisa berkomunikasi, maka

pasien berhak untuk mendapat informasi lengkap tentang tindakan medis

yang sudah dialaminya tersebut

2.4.2 PRINSIP – PRINSIP LEGAL DALAM PRAKTIK KEPERAWATAN

Dalam praktik keperawatan terdapat 4 hal yang termasuk di dalam prinsip –

prinsip legal, yaitu :

1. MALPRAKTIK

 Definisi

Malpraktik adalah praktek kedokteran/keperawatan yang salah atau

tidak sesuai dengan standar profesi atau standar prosedur operasional.

Malpraktik adalah kelalaian dari tenaga kesehatan dalam menerapkan

keterampilan dan pengetahuannya di dalam memberikan pelayanan

pengobatan dan perawatan terhadap seorang pasien yang lazim diterapkan

dalam mengobati dan merawat orang yang sakit atau terluka

 Kategori malpraktik

1. Kriminal Malpraktik

13
Apabila perbuatan tersebut merupakan kesengajaan, kelalaian,

kecerobohan. Pertanggungjawaban di depan hukum adalah bersifat

personal/individual

Contoh :

Kesengajaan : Melakukan euthanasia tanpa indikasi medis (pasal 344

KUHP), melakukan aborsi tanpa indikasi medis (pasal

299 KUHP)

Kecerobohan : Melakukan tindakan medis tanpa persetujuan pasien

(informed consent)

Kelalaian : Kurang hati-hati mengakibatkan luka, cacat,

meninggalnya pasien dan ketinggalan klem di dalam

perut saat melakukan operasi

2. Civil Malpraktik

- Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajibdilakukan

- Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi

terlambat melakukannya

- Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi

tidak sempurna melakukannya

- Pertanggungjawaban dapat bersifat individual atau dialihkan ke

pihak lain berdasarkan principle of vicarius liability

14
- Rumah sakit/sarana kesehatan dapat bertangunggung gugat atas

kesalahan yang dilakukan karyawannya (tenaga kesehatan) selama

tenaga kesehatan tersebut dalam rangka melaksanakan tugas

kewajibannya

3. Administratif Malpraktik

- Tenaga kesehatan telah melanggar hokum administrasi

- Contoh : tentang persyaratan bagi tenaga keperawatan untuk

menjalankan profesinya ( SIK, SIP), batas kewenangan serta

kewajiban tenaga keperawatan

 Tindakan yang termasuk dalam malpraktIk :

1. Kesalahan diagnosa

2. Penyuapan

3. Penyalahgunaan alat-alat kesehatan

4. Pemberian dosis obat yang salah

5. Salah dalam pemberian obat kepada pasien

6. Alat-alat yang tidak memenuhi standart kesehatan atau tidak steril

7. Kesalahan prosedur operasi

 Dampak yang terjadi akibat malpraktik :

1. Merugikan pasien terutama pada fisiknya dapat menimbulkan

kecacatan yang permanen

15
2. Bagi petugas kesehatan mengalami gangguan psikologisnya, karena

merasa bersalah

3. Dari segi hukum dapat dijerat hukum pidana

4. Dari segi sosial dapat dikucilkan oleh masyarakat

5. Dari segi agama mendapat dosa

6. Dari etika keperawatan, melanggar kode etik keperawatan

 Elemen – elemen pertanggung jawaban hukum (principle of vicarius

liability)

Yang harus ditetapkan untuk membuktikan bahwa malpraktek atau

kelalaian telah terjadi :

1. Kewajiban (duty)

- Memberikan asuhan keperawatan yang profesional yang sesuai

dengan SOP

- Meminta persetujuan setiap tindakan yang akan dilakukan oleh

perawat

- Mencatat semua tindakan keperawatan secara akurat

2. Tidak melaksanakan kewajiban (breach of the duty)

Pelanggaran terjadi sehubungan dengan kewajiban, artinya menyimpang

dari apa yang seharusnya dilakukan menurut standar profesinya.

Contoh :

16
- Gagal dalam mencatat dan melaporkan apa yang telah dikaji dari

pasien

- Gagal dalam memenuhi standar keperawatan yang ditetapkan sebagai

kebijakan rumah sakit

- Gagal dalam melaksanakan dan mendokumentasikan tindakan yang

telah diberikan kepada pasien

3. Sebab-akibat (proximate – cause)

Pelanggaran terhadap kewajibannya menyebabkan cedera pada klien.

Contoh :

Cedera yang terjadi secara langsung berhubungan dengan pelanggaran

terhadap kewajiban perawat terhadap pasien dalam menggunakan cara

pengaman yang tepat yang menyebabkan klien jatuh dan menyebabkan

fraktur

4. Injury (Cedera)

Tenaga kesehatan yang menyebabkan pasien cedera dapat dituntut secara

hukum

2. KELALAIAN

 Definisi

Kelalaian dapat bersifat ketidaksengajaan, kurang teliti, kurang hati-

hati, acuh tak acuh, sembrono, dan tidak perduli terhadap kepentingan

orang lain

17
 Kelalaian bukan suatu pelanggaran hukum atau kejahatan, jika

kelalaian tidak sampai membawa kerugian atau cedera kepada orang

lain dan orang tersebut menerimanya

 Kelalaian yang mengakibatkan kerugian materi, mencelakakan dan

sampai merenggut nyawa orang dinamakan kelalaian berat

2.4.3 PERTANGGUNGGUGATAN DANPERTANGGUNGJAWABAN

 Pertanggunggugatan

Pertanggunggugatan yaitu suatu tindak gugatan apabila terjadi suatu

kasus tertentu

Contoh :

Ketika dokter memberi instruksi kepada perawat untuk memberikan

obat kepada pasien tetapi ternyata obat yang diberikan itu salah, dan

mengakibatkan penyakit pasien bertambah parah dan merenggut

nyawa pihak keluarga dapat menggugat dokter atau perawat tersebut.

 Pertanggungjawaban

Pertanggungjawaban yaitu suatu konsekuensi yang harus diterima

seseorang atas perbuatannya.

Contoh :

Jika ada kesalahan atau kelalaian yang dilakukan oleh tenaga

kesehatan dan tidak bisa diterima oleh keluarga pasien maka tenaga

kesehatan bertanggung jawab atas kelalaian dan kesalahannya.

18
SITUASI YANG HARUS DIHINDARI PERAWAT

1. Kelalaian

2. Pencurian

3. Fitnah (pernyataan palsu dan merugikan pasien baik secara verbal

maupun tertulis)

4. Penyerangan / pemukulan

5. Pelanggaran privasi (kerahasiaan pasien)

6. Penganiayaan (melanggar prinsip etik tidak melakukan sesuatu yang

membahayakan pasien)

2.4.4 ISU YANG MELIBATKAN TINDAKAN BANTUAN HIDUP

Hak untuk Menolak Perawatan Medis


Menurut Urden (2010), hak untuk menyetujui dan informed consent
didalamnya mencakup penolakan treatement. Pada banyak kasus, keputusan
seseorang yang dianggap kompetern untuk menolak perawatan sekalipun
perawatan ini ditujukan untuk penyelamatan jiwa, namun hal ini tetap dihargai.
Hak untuk menolak perawatan tidak diterima pada beberapa situasi, mencakup di
dalamnya adalah :
4. Perawatan berhubungan dengan penyakit menular yang dapat mengancam
kesehatan publik
5. Penolakan untuk melanggar standar etik
6. Treatement harus diberikan, untuk mencegah pasien bunuh diri dan
mempertahankan kehidupan.
Pada saat pasien menolak suatu perawatan, masalah etik, legal, dan praktik
menjadi meningkat. Oleh karena itu, rumah sakit harus memiliki kebijakan
spesifik terkait permasalahan tersebut.

19
Penahanan atau Pengakhiran Terapi (Withholding and Withdrawing
Treatement)
Seperti penjelasan sebelumnya, telah disampaikan bahwa orang dewasa
memiliki hak untuk menolak perawatan, meskipun tujuan dari perawatan tersebut
untuk mempertahankan kehidupan. Namun, hal ini akan menjadi masalah jika
pasien tersebut kehilangan kompetensi/kemampuan untuk mengambil keputusan
yang bisa disebabkan karena semakin memburuknya keadaan pasien.
Namun, dewasa ini rekomendasi penghentian terapi dapat diberikan oleh
petugas kesehatan pada kasus-kasus tertentu, yang menjadi permasalahan adalah
ketika keluarga tidak menyetujui dan tetap ingin melanjutkan terapi. Pemberi
perawatan kesehatan juga tidak mempunyai jalan legal untuk melawan keluarga
yang menolak mencabut bantuan hidup kecuali sebelumnya pasien sudah
meninggalkan petunjuk tertulis pada saat pasien masih kompeten (Morton &
Fontaine, 2009).

Advance Directives : Living Will and Power of Attorney


Menurut (Richard, 2011) advances directive merupakan instruksi spesifik
yang dipersiapkan pada penyakit serius yang sudah lanjut. Dimaksudkan untuk
menuntun pelayan kesehatan berdasarkan keinginan pasien jika suatu saat pasien
tidak kompeten/mampu lagi untuk menyatakan pilihan atau mengambil keputusan
terkait perawatan kesehatannya. Adapun keputusan tersebut seperti hal nya
sebagai berikut :
1. Penggunaan cairan intravena dan pemberian nutrisi secara parenteral
2. Resusitasi kardiopulmonal
3. Penggunaan untuk upaya penyelamatan hidup ketika kemampuan pasien
mengalami gangguan. Misal : kerusakan otak, demensia, ataupun stroke
4. Prosedur spesifik, contoh : transfusi darah
Advances directives diantaranya meliputi living will dan power of
attorney. Menurut Morton (2012), living will merupakan bentuk arahan tertulis
dari seorang pasien yang kompeten pada keluarga dan anggota tim perawatan
kesehatan mengenai keinginan pasien apabila pasien tidak lagi dapat menyatakan
keinginannya. Sedangkan Power of Attorney, merupakan dokumen legal dimana

20
pasien menunjuk orang yang diberi tanggung jawab dan diberi kekuatan untuk
membuat keputsan mengenai pelayanan kesehatan jika pasien sudah tidak dapat
lagi membuat keputusan dan tidak dapat berkomunikasi lagi.
Perawat kritis harus mampu menjelaskan sebaik-baiknya kepada pasien
dan keluarga terkait living will maupun power of attorney dan dalam hal ini
perawat dapat berperan sebagai advokat klien.

Instruksi Jangan Meresusitasi (DNR)


Menurut Morton & Fontaine (2009), angka keberhasilan RJP pada pasien
rawat inap sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh lingkungan pasien dan faktor
resusitatif. Akan tetapi, RJP tidak selalu tepat untuk dilakukan ke semua pasien,
karena sifatnya yang invasif dan dapat bermakna sebagai suatu pelanggaran hak
individu untuk meninggal secara bermartabat. Oleh karena itu, RJP bisa tidak
diindikasikan pada pasien-pasien yang mengalami kasus ireversibel ,penyakit
yang terminal, dan saat pasien tidak mendapat manfaat apapun dari tindakan ini,
Oleh karena itu, setiap rumah sakit perlu memiliki aturan yang jelas
mengenai tindakan DNR tersebut. Menurut Urden (2011) , aturan mengenai DNR
tersebut, harus diatur dalam suatu kebijakan tertulis yang mencakup hal-hal
dibawah ini :
 Perintah DNR harus terdokumentasi dengan baik oleh dokter yang
bertanggung jawab
 Perintah DNR harus dilengkapi dengan second opinion dari dokter yang
lain
 Kebijakan DNR harus ditinjau ulang secara berkala
 Pasien yang masih memiliki kemampuan harus memberikan informed
consent
 Pada pasien yang tidak memiliki kemampuan, dapat diwakilkan oleh
keluarganya

Kematian Otak

21
Menurut Morton & Fontaine (2012), pasien yang mengalami kematian
otak secara legal telah meninggal, dan tidak ada kewajiban legal untuk
memberikan terapi pada pasien tersebut. Tidak diperlukan persetujuan hukum
untuk menghentikan bantuan hidup pada seorang pasien yang mengalami
kematian otak. Selanjutnya, meskipun lebih diharapkan mendapatkan izin
keluarga untuk menghentikan terapi pada pasien yang mengalami kematian otak,
namun tidak ada keharusan.
Di Indonesia sendiri kematian otak diatur dalam UU Kesehatan No 36
Tahun 2009 yang berbunyi “Seseorang dinyatakan mati apabila fungsi sistem
jantung-sirkulasi dan sistem pernapasan terbukti telah berhenti secara permanen,
atau apabila kematian batang otak telah dibuktikan.

Donasi Organ
Menurut Dewi (2008), hukum memandang transplantasi adalah suatu
usaha yang baik dan mulia di dalam upaya menyehatkan dan menyejahterakan
manusia, walaupun jika dilihat dari tindakannya adalah tindakan melawan hukum
berupa penganiayaan.
Donasi organ di Indonesia diatur dalam UU Kesehatan No .36 Tahun
2009. Dalam UU ini dijelaskan bahwa tubuh yang telah mengalami mati batang
otak dapat dilakukan tindakan pemanfaatan organ untuk kepentingan transplantasi
organ. Tindakan transplantasi organ dilakukan hanya untuk tujuan kemanusiaan
dan dilarang untuk dikomersialkan.
Ketentuan UU ini juga diperkuat oleh PP No.18 Tahun 1981 tentang bedah
mayat klinis, bedah mayat anatomis, dan transplantasi alat dan jaringan tubuh
manusia. Didalam PP tersebut dijelaskan bahwa untuk melakukan transplantasi
organ sebelumnya harus ada informed consent, baik pendonor dan penerima telah
diberitahukan resiko dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi, selain itu
donasi organ dilakukan tidak dengan tujuan komersil serta tidak boleh menerima
atau mengirim organ tubuh dari dan ke luar negeri.

22
2.4.5 PERLINDUNGAN HUKUM DALAM PRAKTK KEPERAWATAN

Ada beberapa alasan mengapa Undang-Undang Praktik Keperawatan

dibutuhkan. Pertama, alasan filosofi. Perawat telah memberikan konstribusi

besar dalam peningkatan derajat kesehatan. Perawat berperan dalam

memberikan pelayanan kesehatan mulai dari pelayanan pemerintah dan

swasta, dari perkotaan hingga pelosok desa terpencil dan perbatasan. Tetapi

pengabdian tersebut pada kenyataannya belum diimbangi dengan pemberian

perlindungan hukum, bahkan cenderung menjadi objek hukum. Perawat juga

memiliki kompetensi keilmuan, sikap rasional, etis dan profesional, semangat

pengabdian yang tinggi, berdisiplin, kreatif, terampil, berbudi luhur dan dapat

memegang teguh etika profesi. Disamping itu, Undang-Undang ini memiliki

tujuan, lingkup profesi yang jelas, kemutlakan profesi, kepentingan bersama

berbagai pihak (masyarakat, profesi, pemerintah dan pihak terkait lainnya),

keterwakilan yang seimbang, optimalisasi profesi, fleksibilitas, efisiensi dan

keselarasan.

Berikut beberapa undang – undang tentang praktek keperawatan :

1. UU No. 6 tahun 1963 tentan Tenaga Kesehatan. UU ini merupakan

penjabaran dari UU No. 9 tahun 1960. Undang- undang ini membedakan

tenaga kesehatan sarjana dan bukan sarjana. Tenaga sarjana meliputi

dokter, apoteker, dan dokter gigi. Tenaga perawat termasuk tenaga yang

bukan sarjana atau tenaga kesehatan dengan pendidikan rendah. UU ini

boleh dikatan sudah usang, karena dalam UU ini juga tercantum

berbagai jenis tenaga sarjana keperawatan seperti sekarang ini.

23
2. UU Kesehatan No. 18 tahun 1964 mengatur tentang Wajib Kerja

Paramedis. Pada pasal 2, ayat (3) dijelaskan bahwa tenaga kesehatan

sarjana muda, menengah, dan rendah wajib menjalankan wajib kerja

pada pemerintah selama 3 tahun. Dalam UU ini, lagi- lagi posisi perawat

dinyatakan sebagai tenaga kerja pembantu bagi tenaga kesehatan

akademis termasuk dokter.

3. Dalam SK Menkes No. 262/Per/Vll/1979 tahun 1979 yan membedakan

paramedis menjadi dua golongan yaitu golongan medis keperawatan

(termasuk bidan) dan paramdis non keperawatan. Dari aspek hukum,

suatu hal yang perlu dicatat di sini bahwa tenaga bidan tidak terpisah

tetapi juga termasuk katagori keperawatan.

4. Permenkes No. 363/Menkes/Per/XX/1980 tahun 1980, pemerintah

membuat suatu peryataan yang jelas perbedaan antara tenaga

keperawatan dan bidan.

5. Surat Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor

94/Menpan/1986, tangal 4 nopenber 1986 menjelaskan jabatan

fungsional tenaga keperawatan dan system kredit poin. Sistem ini

menguntungan perawat, karena dapat naik pangkatnya dan tidak

tergantung kepada pangkat/golongan atasannya.

6. UU Kesehatan No. 23 tahun 1992 merupakan UU yang banyak memberi

kesempatan bagi perkembangan keperawatan termasuk praktik

keperawatan profesional, kerena dalam UU ini dinyatakan tentang

standar praktik, hak- hak pasien, kewenagan, maupun perlindungan

hukum bagi profesi kesehatan termasuk keperawatan. Beberapa

24
peryataan UU Kesehatan No. 23 tahun 1992 yang dapat dipakai sebagai

acuan pembuatan UU Praktik Keperawatan adalah:

a) Pasal 53 ayat 1 mengatakan ; Tenaga kesehatan berhak memperoleh

perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan

profesinya.

b) Pasal 53 ayat 4 menyebutkan bahwa ketentuan mengenai standar

profesi dan hak- hak pasien ditetepkan dengan peraturan

pemerintah.

c) Pasal 50 ayat 1 menyatakan bahwa tenaga kesehatan bertugas

menyelengarakan atau melaksakan kegiatan sesuai dengan bidang

keahlian dan kewenagannya.

d) Sedangkan pada pasal 53 ayat 3 menyatakan bahwa ; Tenaga

kesehatan, untuk kepentingan pembuktian, dapat melakukan

tindakan medis terhadap seseorang dengan memperhatikan kesehatan

dan keselamatan yang bersangkutan.

25
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Melihat dari beberapa kasus yang telah dipaparkan. Maka terlihat dan dapat
disimulkan bahwa perlu kecermatan dan ketelitian yang penuh untuk menjadi
seorang perawat. Dengan berbagai aspek yang harus dipenuhi, terutama dalam hal
tindakan.
Perlu pula kita meihat hal berikut agar tidak lalai dan terhindar dari penggugatan

Tindakan yang termasuk dalam malpraktek :

1.Kesalahan diagnosa.
2.Penyuapan.
3.Penyalahan alat-alat kesehatan.
4.Pemberian dosis obat yang salah.
5.Alat-alat yang tidak memenuhi standart kesehatan atau tidak steril.

perawat pun perlu memerhatikan soal berpikir kritis dan menempatkan perasaan
pada beberapa persoalan, agar keputusan yang akan diberkan dapat lebih efektif.

26
DAFTAR PUSTAKA

Potter & Perry. (2005). Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, Dan Praktik
Ed.4. Jakarta : Egc
Morton, Fontaine. (2009). Critical Care Nursing : A Holistic Approach.
Lippincotwilliams & Wilkins.
Krisanty,Dkk.2009.Asuhan Keperawatan Gawat Darurat.Jakarta. Trans Media
Info, Jakarta

Undang-Undang Kesehatan No 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan

https://www.academia.edu/31779900/Prinsipprinsip_legal_dalam_praktek_kepera
watan

27