Anda di halaman 1dari 7

ISSN: 2302-1705

JESBIO Vol. VI No. 2, November 2017


2012

PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL)


PADA KONSEP EKOSISTEM UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN
BERPIKIR KRITIS SISWA DI SMA NEGERI 11 BANDA ACEH

Erdi Surya1*), Anita Noviyanti1


1
Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Serambi Mekkah
*)
Email : suryaerdi14@yahoo.com

Diterima 30 Juni 2017/Disetujui 5 September 2017

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian dengan judul Penerapan Strategi Pembelajaran Problem Based Learning(PBL) pada
Konsep Eosistem untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa di SMA Negeri 11 Banda
Aceh.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kritis melalui strategi
pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada konsep ekosistem. Populasi adalah seluruh siswa kelas X
yang terdiri dari 5 kelas dengan jumlah seluruh siswa 95 siswa. Sedangkan sampel yang diambil 39 siswa yang
terbagi menjadi 20 siswa kelas eksperimen dan 19 siswa kelas kotrol.Metode dalam penelitian ini adalahmetode
eksprerimen (exprerimental research) dengan desain penelitian, Pretes-PostestControl Group Design. Pada
kelas eksperimen mengggunakan modelpembelajaranProblemBasedLearning(PBL),sedangkan kelaskontrol
diajarkan dengan model konvensional.Instrument dalam penelitian ini adalah soal tes berpikir kritis sebanyak
30 butir soal dalam bentuk pilihan berganda.Lembar Kerja Siswa (LKS) dan angket tanggapan siswa terhadap
pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan uji-t pada
taraf signifikan 0,05 diperoleh harga t-hitung sebesar 7,69 sedangkan nilai t-tabel 2,03 sehingga t-hitung>t-tabel.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa stategi pembelajaran problem based learning terhadap kemampuan berpikir
kritis siswa terjadi peningkatan signifikan.Pada pada umumnya siswa menyatakan senang dengan pembelajaran
problem based learning karena dapat meningkatkan minat belajar dan mudah dalam memahami konsep pada
pembelajaran ekosistem.

Kata kunci : Strategi Pembelajaran, Problem Based Learning, ekosistem, berpikir kritis

PENDAHULUAN berbagai macam model kegiatan pembelajaran di


kelas. Dalam kegiatan pembelajaran tersebut, terjadi
Peningkatan kualitas Sumber Daya manusia proses interaksi antara guru dengan siswa dan siswa
(SDM) merupakan syarat mutlak untuk mencapai dengan sumber belajar. Diharapkan dengan interaksi
tujuan pembangunan.Salah satu wahana untuk tersebut, siswa dapat membangun pengetahuan secara
meningkatkan kualitas SDM tersebut adalah aktif, pembelajaran berlangsung secara aktif, efektif,
pendidikan.Sehingga kualitas pendidikan harus inovatif, menyenangkan, menantang, serta dapat
senantiasa ditingkatkan. Proses pendidikan terarah memotivasi siswa sehingga mencapai kompetensi
pada peningkatan penguasaan pengetahuan, yang diharapkan.
kemampuan keterampilan, pengembangan sikap dan Dalam kurikulum berbasis kompetensi, proses
nilai-nilai dalam rangka pembentukkan dan mengajar tidak diartikan sebagai proses penyampaian
pengembangan diri peserta didik, sehingga pendidikan ilmu pengetahuan kepada siswa, yang menempatkan
tidak hanya untuk mengembangkan pengetahuan anak, siswa sebagai objek, akan tetapi mengajar harus
tetapi juga sikap kepribadian, serta aspek sosial dipandang sebagai pengaturan. Pemberian materi
emosional di samping keterampilan-keterampilan lain sebagai proses perubahan tingkah laku melalui
(Slameto, 2003:4). pengalaman belajar sehingga diharapkan
Dalam dunia pendidikan saat ini, peningkatan terjadipengembanganberbagaiaspekyangterdapatdalam
pembelajaran baik dalam penguasaan materi maupun individu,sepertibakat, minat, kemauan, potensi dan
metode pembelajaran baik dalam penguasaa nmateri sebagainya (Sanjaya, 2005).
maupun metode pembelajaran selalu diupayakan.Salah Proses belajar mengajar merupakan kegiatan
satu yang di upayakan oleh guru dalam peningkatan yang pokok, karena berhasil tidaknya pencapaian
kualitas pembelajaran yaitu dalam penyusunan tujuan pendidikan banyak bergantung pada proses

49
ISSN: 2302-1705
JESBIO Vol. VI No. 2, November 2017
2012

pembelajaran yang dirancang secara baik. Agar proses METODE PENELITIAN


belajar dapat berjalan sesuai dengan yang telah
ditetapkan. Salah satu upaya untuk mengembangkan Jenis Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif.
kualitas pembelajaran adalah dengan menggunakan Menggunakan metode (eksperimen research) desain
model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa, penelitian pretest-postest Control Group Design’’
salah satunya dengan model pembelajaran (Arikunto: 2009). penelitian ini berlangsung bulan
Problem Based Learning (PBL), yaitu April s.d Agustus 2017.
pembelajaran yang dapat memberikan motivasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
/dorongan kepada siswa agar dalam melakukan proses siswa kelas kelas X sebanyak 5 kelas. Sedangkan
pembelajaran dapat lebih aktif. Diharapkan dengan sampel penelitian. Dari populasi ini, sampel diambil
menggunakan model pembelajaran ini dapat secara acak maka terpilih kelas Xipa 4 ditetapkan
meningkatkan partisipasi dan hasil belajar siswa. sebagaikelas experiment yang diajarkan dengan model
Selain itu diharapkan bisa membantu siswa dalam pembelajaran PBL dan kelas Xipa3 sebagai kelas
memahami suatu pelajaran sehingga output yang control yang diajarkan dengan metode ceramah pada
dihasilkan menjadi output yang berkualitas, baik materi yang sama yaitu materi ekosistem.
dalam ranah kognitif, afektif, psikomotorik Pengumpulan data dengan menggunakan tes
(Syaiful,2006).Pembelajaran bebasis masalah adalah kemampuan berpikir kritis yang sudah bervalidasi
suatu pendekatan pembelajaran yang menghadapkan sebanyak 30 soal, Lks dan angket.
siswa pada masalah dunia nyata untuk belajar.Barrows Metode dalam penelitian ini menggunakan
(2000:78) mengemukakan bahwa dalam masalah metode eksperimen (experimental research) dengan
pembelajaran (PBL). Siswa disajikan pembelajaran desain penelitian‘’Pre-test-Pos-test dengan desain
menarik, masalah yang relevan sehingga peserta didik experimen seperti pada Tabel 1.
bias mengalami diri mereka proses mendapatkan
pengetahuan. Dalam pembelajaran berbasis masalah, Tabel 1 Desain penelitian
siswa memiliki peran sebagai pemecah masalah Sampel Kelompok Pretest Perlakuan Postest
sedangkan guru memiliki peranan sebagai tutor atau Acak A (eksperimen) O1 X1 O2
Acak B (Kontrol) O3 X2 O4
pelatih.
Keterangan :
Beberapa teori mengemukakan bahwa
XI = Pembelajaran berbasis masalah
pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan
X2 = Pembelajaran dengan menggunakan model
kemampuan siswa dalam memecahkan masalah,
Konvensional
berpikir kritis, dan berpikir kreatif.Berhubungan
dengan berpikir kritis Liliasari (2000) mengemukakan
Analisis data kemampuan pemahaman konsep
bahwa berpikir kritis terbukti mempersiapkan peserta
adalah skor pretes (kemampuan awal) dan skor postes
didik berpikir pada berbagai disiplin ilmu, menuju
(kemampuan akhir).Perbedaan antara kedua kelas
pemenuhan sendiri akan kebutuhan intelektual dan
dilakukan dengan “uji-t” dengan taraf signifikan 5%
mengembangkan peserta didik sebagai individu
(α 0,05).
berpotensi. Dengan demikian kemampuan berpikir
Hasiltessiswadibuatdalamdistribusifrekuensi,se
kritis perlu dikembangkan dalam pembelajaran.
telahitunilairata-rata masing-masing kelompok
Agustina (2004) dalam penelitian tentang
dibandingkan.Sudjana (2002) menyatakan untuk
pembelajaran bioteknologi bermuatan sains untuk
menyakinkan hasil tersebut dilakukan uji-t dengan
meningkatkan berpikir kritis melaporkan bahwa
rumus sebagai berikut.
pembelajaran bermuatan sains dapat meningkatkan
berpikir kritis siswa.Hasil menunjukkan pencapaian
tertinggi pada berpikir kritis yaitu memilih alternatif t=
dan terendah pada menyimpulkan.
Berdasarkanlatar belakang di atas maka yang Keterangan:
menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah X1 =Nilai rata-rata kelas eksperimen pertama
Apakah penerapan strategi pembelajaran Problem X2 =Nilai rata-rata kelas eksperimen kedua
Based Learning (PBL) dapat meningkatkan S =Standar deviasi sehubungan
kemampuan berpikir kritis siswa pada konsep n1 =Jumlah siswakelas eksperimen
ekosistem di SMA Negeri 11 Banda Aceh. Tujuan n2 =Jumlah siswakelas control
penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan Sedangkan data untuk pengolahan tanggapan
kemampuan berpikir kritis siswa melalui problem siswa terhadap dengan menggunakan rumus :
based learning strategi pembelajaran (PBL) pada P =x 100%
konsep ekosistem. Berdasarkan pemaparan di atas Keterangan:
maka dicoba mengkaji sebuah penelitian tentang P = Persentase
penerapan strategi pembelajaran berbasis masalah F = Frekuensi
pada konsep sistem ekosistem untuk meningkatkan N = Jumlah sampel
kemampuan berpikir kritis siswa di SMA Negeri11 100 = Konstanta
BandaAceh.

50
ISSN: 2302-1705
JESBIO Vol. VI No. 2, November 2017
2012

HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 3 Hasil Belajar Siswa Kelas Kontrol terhadap
kemampuan berpikir kritis
PembahasanHasil Pemahaman Konsep terhadap Inisial Kelas Kontrol
kemampuan berpikir kritis siswa No
Siswa Pretest Postest
Daftar nilai rata-rata ( ̅ ) pemahaman siswa
kelas X IPA4 dan X IPA3 SMA Negeri 11 Banda Aceh 1 Ft 67 74
Aceh pada pembelajaran konsep sistem ekosistem 2 Dn 67 80
dapat dilihat pada Tabel 2 dan Tabel 3. 3 Ar 40 60
Tabel 2 Hasil Belajar Siswa Kelas Eksperimen 4 Sw 42 58
terhadap kemampuan berpikir kritis siswa 5 Rz 40 48
Kelas Eksperimen 6 Hr 48 58
No Inisial Siswa
Pretest Postet 7 Ed 44 60
1 An 74 88 8 Yd 48 60
2 Rs 67 80 9 Nr 50 64
3 Kk 60 77 10 Hl 40 50
4 Ab 60 74 11 Pt 38 50
5 Dd 64 80 12 Rh 50 60
6 Ns 70 80 13 Vk 50 67
7 Ks 60 74 14 Fr 57 64
8 Mh 64 84 15 Er 40 58
9 Rz 60 77 16 Rm 40 60
10 Fk 74 90 17 Ls 44 74
11 Rh 70 98 18 Zn 40 58
12 Mt 60 84 19 Yy 50 58
13 Ct 64 70 Jumlah 895 1161
14 Ft 57 70 Rata-rata 47.1 61.1
15 Lk 60 67 Sumber : Data diolah pada tahun 2017
16 Yn 67 94
2. Menentukan banyaknya interval (K), yaitu:
17 Ld 74 87
18 Sr 64 90 Rentang
Panjang Kelas (P) =
19 Ra 54 84 Banyak Kelas
20 Rk 70 80 3. Perhitungan Nilai rata-rata (x), Varians S2 dan
simpangan baku (S).
Jumlah 1293 1628
Rata-rata 64.65 81.4 Nilai selisih post-test kelas eksperimen yang di
Sumber : Data diolah pada Tahun 2017 ajarkan dengan problem based learningpada
pembelajaran konsep ekosistem yaitu:
Berdasarkan Tabel 2 hasil belajar siswa Rentang (R) = Nilai tertinggi – Nilai terendah
terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas = 98–67
eksperimen, dapat dilihat bahwa nilai rata-rata ( ̅ )pre- = 31
test adalah 64,65 sedangkan nilai rata-rata ( ̅ ) post- Banyak Kelas (K) =1+ (3,3) Log n
test adalah 81,4. = 1+ (3,3) Log 20
Tabel 3 menunjukkan hasil belajar siswa = 1+ (3,3) (1,3)
terhadap kemampuan kritis siswa kelas Kontrol, dapat = 1+4,29
dilihat bahwa nilai rata-rata ( ̅ )pre-test adalah 47,1 = 5,29 (dibulatkan 5)
sedangkan nilai rata-rata ( ̅ )post-test adalah 61,1. Panjang Kelas (P) =
Dari data yang diperoleh, maka penulis
menganalisa dengan menggunakan daftar distribusi =
frekuensi dengan melakukan langkah-langkah sebagai = 6,2 (dibulatkan 6)
berikut: Berdasarkan data yang diperoleh di atas maka
1. Menentukan Rentang (R), yaitu nilai tertinggi tabel distribusi frekuensi untuk kelas eksperimen
kurang nilai terendah sebagaimana terlihat pada Tabel 4.

51
ISSN: 2302-1705
JESBIO Vol. VI No. 2, November 2017
2012

Tabel 4 Daftar Distribusi Frekuensi Nilai Tes Akhir Tabel 5 Daftar Distribusi Frekuensi Nilai Tes Akhir
Siswa Kelas Eksperimen Siswa Kelas Kontrol

Berdasarkan tabel di atas dapat di tentukan Untuk mencari simpangan baku maka
( ̅ ), (s12), dan (s). Maka pengolahan data dilakukan digunakan rumus sebagai berikut:
∑ (∑ )²
sebagai berikut: Varians S22=
( )
∑ ( ) ( )²
Rata-rata ̅= S22=
( )
1610
̅= S22=
20 ( )
= 80,5 S22=
Untuk mencari simpangan baku maka S22= 67,54
digunakan rumus sebagai berikut:
∑ (∑ )² S2= 67,54
Varians S12= S2= 8,21
( )
( ) ( )2
S12= ( )
Berdasarkan hasil perhitungan nilai selisih tes
awal (pre-test) dan test akhir (post-test) pada kedua
S12=
( ) kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol di
S12 = peroleh rata-ratanya yaitu, untuk kelas eksperimen
S12 = 69,74 rata-ratanya ̅ 1 = 80,5 dan varians S12 = 69,74 .
Sedangkan untuk kelas kontrol diperoleh nilai rata-
S1 = √69,74
ratanya ̅ 2 = 60,10 dan varians S22 = 67,54, sebelum
S1 = 8,35
dicari t-hitung terlebih dahulu dicari standar deviasi
Nilai selisih post-test kelas kontrol yang di
gabungan (s). Untuk menghitung deviasi gabungan (s)
ajarkan dengan menggunakan pembelajaran materi
digunakan rumus sebagai berikut:
sistem ekosistemyaitu: ( ) ( )
Rentang (R) = Nilai tertinggi – Nilai terendah S2=
= 80– 48 S2=
( ) , ( ) ,
= 32 ( ) , ( ) ,
Banyak Kelas (K) =1+ (3,3) Log n S2=
= 1+ (3,3) Log 19 S2=
, ,

= 1+ (3,3) (1,27) ,
= 1+4,191 S2=
=5,191 (dibulatkan 5) S2 = 68,66
Panjang Kelas (P) = S= √68,66
S= 8,28
32
=
5 Langkah selanjutnya adalah menghitung dan
= 6,4 (dibulatkan 5) membandingkan kedua hasil perhitungan tersebut.
Adapun nilai rata-rata, varians, dan simpangan baku
Berdasarkan Tabel 5 dapat di tentukan ( ̅ ), (s12), sebagai berikut:
dan (s). Maka pengolahan data dilakukan sebagai X1= 80,5
berikut: S12= 69,74
∑ S1= 8,35
Rata-rata ̅=
X2= 60,10
1142 S22= 67,54
̅=
19 S2 = 8,21
̅ = 60,10

52
ISSN: 2302-1705
JESBIO Vol. VI No. 2, November 2017
2012

Sehingga dapat ditentukan nilai varians Apakah anda setuju mengenai 17 6


gabungan, yaitu = 8,28 5 LKS yang digunakan pada saat (80,95%) (28,57%)
− pembelajaran ekosistem
= Ketika menyampaikanmateri 23 0
6 biologi, biasanya apa yang (100%) (0%)
+ dilakukan oleh guru anda
Bagaimana pendapat anda 20 3
80,5 − 60,10 7 pembelajaran berbasis masalah (95,23%) (14,28%)
= (PBL).?
,
+ Pembelajaran berbasis masalah 17 6
yang sudah anda lakukan, (80,95%) (28,57%)
membutuhkan banyak waktu
20,4 8
dan proses berpikir, bagaimana
= , pengaruhnya terhadap kondisi
√0,102 belajarmu
20,4 Kesulitan apa yang anda 23 0
= 9 rasakan ketika melaksanakan (100%) (0%)
8,28 (0,32) pembelajaran berbasis masalah
Apakah waktu yang diberikan 21 2
20,4
= 10 oleh gurumu cukup untuk (100%) (9,52%
2,65 menyelesaikan semua tugas
Apakah anda setuju pada 23 0
= 7,69 11 materi ekosistem di berikan (100%) (0%)
kegiatan praktikum
Berdasarkan perhitungan di atas, maka Pada saat kegiatan praktikum, 23 0
diperoleh standar deviasi gabungan adalah 8,28 dan 12 apakah anda setuju diberikan (100%) (0%)
nilai uji-t adalah 7,69. Dengan taraf signifikan 0,5 dan LKS
Apakah dalam penyampaian 21 2
untuk mengetahui uji-t maka ditentukan derjat materi ekosistem yang di (100%) (9,52%
kebebasan sebagai berikut: 13 sampaikan oleh guru sudah
Dk = n1 + n2 – 2 sesuai dengan model
= 20 + 19 – 2 pembelajaran berbasis masalah
Bagaimana pendapat anda 22 1
= 37 14
tentang belajar ekosistem (104,76%) (4,76%)
Berdasarkan hipotesis dilakukan pada taraf Bagaimana pendapat anda 18 5
signifikan α =0,05 dan berdasarkan hasil penelitian 15
tentangprestasi belajar anda (85,71%) (23,80%)
diperoleh thitung= 7,69 dan ttabel= 2,03. Hal ini dengan menggunakan model
pembelajaran berbasis masalah
menunjukkan bahwa nilai diperoleh harga t-hitung Sejauh mana pemahaman 22 1
sebesar 7,69sedangkan nilai t-tabel 2,03 sehingga t- 16 belajar anda terhadap model (104,76%) (4,76%)
hitung> t-tabel.sehingga hipotesis h0) yang berbunyi’ pembelajaran berbasis masalah
diduga ada pengaruh penerapan strategi problem Apakah proses pembelajaran 19 4
17 sudah sesuai dengan yang anda (90,47%) (19,04)
based learning (PBL) yang signifikan terhadap harapkan
kemampuan berpikir kritis siswa pada materi Apakah menurut anda belajar 22 1
ekosistem, dapat diterima dengan baik. 18
dengan menggunakan model (104,76%) (4,76%)
pembelajaran berbasir masalah
itu perlu
Kuesioner hasil angket Tanggapan Siswa terhadap Apakah anda suka dengan 19 4
Model Problem Based Learning(PBL) 19 strategi belajar yang di (90,47%) (19,04%)
Angket siswa terhadap model pembelajaran terapkan oleh guru
Faktor-faktor apa saja yang 17 6
Problem Based Learningyang digunakandengan 20 membuat anda kurang (80,95%) 28,57%)
menggunakan 23 pertanyaan. Lebih jelasnya menguasai materi ekosistem
persentase tanggapan siswa ditampilkan pada Tabel 6. Apakah model pembelajaran 19 4
berbasis masalah cocok di (90,47%) (19,04%)
21
terapkan dalam pembelajaran
Tabel 6 Respon siswa terhadap pembelajaran PBL ekosistem
Untuk meningkatkan kemampuan berpikir Bagaimana kemampuan anda 22 1
22
kritis pada konsep ekosistem dalam belajar ekosistem (104,76%) (4,76%)
No Pernyataan Sangat Tidak Apakah anda tertarik untuk 22 1
23
Setuju Setuju belajar ekosistem (104,76%) (4,76%)
Pendapat anda Apakah 18 5
1 andamenyukai pelajaran (85,71%) (23,80%) Tabel 6 menunjukkan tanggapan positif yang
biologi
diberikan siswa pada saat pembelajaran problem
Cara belajar biologi yang kamu 20 3
2
harapkan di dalam kelas (95,23%) 14,28% based learning (PBL) berlangsung dari gambar di atas
Hal yang membuat anda untuk 23 0 terlihat bahwa jawaban-jawaban yang diberikan siswa
termotivasi melakukan (100%) (0%) sangat bervariasi. Persentase terendah di tunjukkan
3 pengamatan atau percobaandi oleh jawaban mengenai waktu pembelajaran yang
kelas, di luar kelas maupun di
laboratorium. tersedia. Sebanyak 100% siswa atau 22 siswa
Cara yang sering lakukan 18 5 menjawab bahwa waktu yang diberikan kurang.
4 dalam mempersiapkan diri (85,71%) (23,80% Untuk pertanyaan-pertanyaan selanjutnya
menghadapi ulangan biologi hampir seluruh siswa memberikan jawaban yang
53
ISSN: 2302-1705
JESBIO Vol. VI No. 2, November 2017
2012

mendukung proses pembelajaran. Persentase tertinggi memberikan kepada siswa selanjutnya dilakukan
dicapai oleh dua item yaitu 95% tentang peningkatan pengamatan, siswa menuliskan hasil pengamatannya
prestasi belajar dan motivasi tentang pembelajaran di dalam LKS.
problem based learning (PBL) dapat membantu
melatih siswa berpikir untuk menyelesaikan masalah.
SIMPULAN
Pembahasan
Hasil penelitian yang dilakukan, menunjukkan Berdasarkan hasil analisis datadan pembahasan
bahwa pembelajaran problem based learning memiliki yang diperoleh dalam penelitian, maka dapat
poin-poin yang baik untuk meningkatkan kemampuan disimpulkan bahwa:
berpikir kritis pada konsep ekosisem. Peningkatan Strategi Pembelajaran problem based learning
berpikir kritis dan sikap ilmiah setelah pembelajaran pada materi ekosistem dapat meningkatkan secara
sejalan dengan yang dikemukakan oleh Amin (dalam signifikan berpikir kritis kelas eksperimen dibanding
Noviyanti, 2010)bahwa model pembelajaran sains kelas kontrol.
disertai dengan eksperimen dan pengamatan, memiliki
potensi dalam mempengaruhi sikap ilmiah yaitu
kebenaran, nilai-nilai gagasan atau pendapat dan DAFTAR PUSTAKA
sebagainya.
Perbedaan yang signifikan ini membuktikan Agustina, W.T. (2004). Pembelajaran Bioteknologi
bahwa stategi penerapan problem based learning pada Bermuatan Nilai Sains Untuk Meningkatkan
materi ekosistem dapat meningkatkan kemampuan Penguasaan Konsep, Berpikir Kritis dan Sikap
berpikir kritis siswa. terdapat perbedaan yang sangat Ilmiah Siswa SMP. Tesis UPI Bandung Tidak
signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis siswa diterbitkan
antara kelas eksperimen dan kelas control. Perbedaan
dapat dilihat dari nilai tes awal kelas control rata-rata Arikunto, S.(2009).Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan.
47,1 dan kelas eksperimen rata-rata 64,65,sedangkan Jakarta: Bumi Aksara
tes akhir kelas eksperimen 81,4 dan nilai tes akhir
kelas control 61,1. Bearti peningkatan yang terjadi Barrows, H. (2000). New direction for teaching and
secara signifikan. learning ‘’Problem Based Learning medichine
Peningkatan berpikir kritis yang dialami oleh and beyond: A. brief overbiew. Jossey Bass
siswa setelah tes akhir disebabkan karena proses Publishers.
pembelajaran melakukan Strategi pembelajaran
problem based learning (PBL). Pada proses Duch, Barbara J, Allen, Deborah E., and White, H B.
pembelajaran problem based learning (PBL) ini. 2000.Problem-Based Learning: Preparing
Siswa diajak untuk menemukan berbagai macam Students to Succeed in the 21st Century.
permasalahan yang ada pada materi ekosistem, dan [Online].Tersedia di http://www.hku.hk/caut
menemukan sendiri bagaimana proses pemecahan /homepage/tdg
masalah dari masalah yang telah ditemikan. Sehingga /5/TeachingMatter/Dec.98.pdf[15Januari
dalam hal ini siswa benar-benar dilatih dan 2011].
dikembangkan kemampuan berpikir kritis, karena
berpikir kritis adalah proses kognitif, aktivitas mental, Fisher, A.(2009). Berpikir Kritis Sebuah Pengantar.
untuk memperoleh pengalaman kreatif, berdasarkan Jakarta : Erlangga
prosesnya.
Berpikir dapat dikelompokkan dalam berpikir Ibrahim,M dan Nur. (2000). Pengajaran Berdasarkan
dasar dan berpikir komplek.Berpikir dasar merupakan Masalah.Surabaya : UniversityPress.
berpikir secara rasional yang terdiri dari mengahafal.
Membayangkan, mengklarifkasi, membangdingkan, Inch,E.S Warnick, B, dan Endres, D.(2006). Critical
mengevaluasi, menganalsis, mensintesis, mendeduksi, Thinking and Communication: The use of
serta menyimpulkan (Presseinsen, 1985 ). reason in argument.5th Ed.Boston: Pearson
Peningkatan skor kemampuan berpikir kritis Education,Inc
siswa disebabkan karena guru menggunakan strategi
pembelajaran problem based learning yang dalam Rosmaya. (2005). Implementasi Kurikulum Berbasis
pelaksanaannya dimana siswa terlebih dahulu di bagi Kompetensi, Yogjakarta: PT
menjadi 4 (empat) kelompok dimana setiap kelompok RemajaRosdakarya.
terdiri dari 5 atau 6 orang di setiap kelompok yang
sudah dibagikan, selanjutnya siswa diberikan arahan Johnson, D. (2007). Kontexktual Teaching dan
terlebih dahulu sebelum melakukan proses learning.Bandung.
pengamatan praktikum yang dilakukan didalam kelas
baru kemudian guru membagikan Lembaran kerja Liliasari.(2000). Pengembangan Model Pembelajaran
siswa (LKS) kepada siswa. Didalam LKS tersebut Berdasarkan Konstruktivisme Untuk
guru membuat gambar aquarium buatan untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir
54
ISSN: 2302-1705
JESBIO Vol. VI No. 2, November 2017
2012

TingkatTinggi. Makalah: Pusat Studi Komputer


Sains IKIP Bandung: Tidak diterbitkan.

Rustamam, N. (2005). Strategi Belajar Mengajar


Biologi. Bandung: IMSTEP.

Novianti.A. (2010) Pembelajaran berbasis praktikum


Pada Konsep Kindom Plantae Untuk
meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan
sikap ilmiah siswaSMA. Tesis UPI Bandung:
Tidak diterbitkan.

Presseisen,B.Z.(1985). ”Thingking Skill:


Meanings,Models”In Costa
A.L.(ed).Developing Mind: A Resource Book
For Teaching Thingking.Virginia:ASDC
Alexandria.

Sanjaya,Wina, (2005). Pembelajaran Dalam


Implementasi Kurikulum BerbasisKompetensi,
Jakarta Kencana

Slameto, (2003).Belajar dan Faktor-Faktor yang


Mempengaruhinya.Jakarta : RinekaCipta

Sudjana.(2002). Metode Statistika.Bandung: Tarsito.

Syaiful, H. Sagala. (2006). Konsep dan Makna


Pembelajaran, Bandung : Alfabet

55