Anda di halaman 1dari 8

TUGAS PERPAJAKAN 1

“MEMAHAMI NPWP/NPPKP, PENYETORAN, DAN PELAPORAN PAJAK”

Anggota Kelompok :

1 Aqiel Hermansyah 1712321047


2 Vinsensius Maharya 1712321062
3 Gunadi Adiguna 1712321081
4 Novi Daryanti 1712321084
5 Lindah Sari 1712321085
6 Cynthia Dwi Arini 1712321086
7 Retno Dwi Jayanti 1712321088

NOMOR POKOK WAJIB PAJAK (NPWP)

1. Pengertian
Nomor pokok wajib pajak adalah nomor yang diberikan kepada wajib wajib pajak sebagai
sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau
identitas wajib pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya[3].
2. Fungsi NPWP
Fungsi NPWP adalah:
a. Sebagai tanda pengenal diri atau identitas wajib pajak.
b. Untuk menjaga ketertiban dalam pembayaran pajak dan dalam pengawasan administrasi
perpajakan.
3. Pendaftaran NPWP
Semua wajib pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan subjektif sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan berdasarkan system self assessment.
Persyaratan subjektif adalah persyaratan yang sesuai dengan ketentuan mengenai subjek
pajak dalam undang-undang pajak penghasilan 1984 dan perubahannya. Persyaratan
objektif adalah persyaratan bagi subjek pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan
atau diwajibkan untuk melakukan pemotongan/ pemunguttan sessuai dengan ketentuan
undang-undang pajak penghasilan 1984 dan perubahannya[4].

Tempat pendaftaran dilakukan pada kantor direktorat jendral pajak yang wilayah kerjanya
meliputi tempat tinggal dan kantor derektoral jendral pajak yang wilayah kerjanya meliputi
tempat kegiatan usaha dilakukan, bagi wajib pajak orang pribadi pengusaha tertentu.
kewajiban mendaftarkan diri tersebut belaku pula terhadap wanita kawin yang dikenai pajak
secarah terpisah karena hidup terpisah berdasarkan keputusan hukum berdasarkan
perjanjian pemisahan penghasilan dan harta. Wanita kawin juga dapat melaksanakan hak
dan memenuhi kewajiban perpajakannya terpisah dari hak dan kewajiban perpajakan
suaminya.
Kewajiban untuk mendaftarkan diri untuk memproleh NPWP dibatasi jangka
waktunya,karena hal ini berkaitan dengan saat pajak terutang dan kewajiban mengenakan
pajak terutang, jangka waktu pendaftarannya NPWP adalah:
a. Bagi wajib pajak orang pribadi yang menjalankan uasaha yang menjalankan bebas dan
wajib pajak badan, wajib mendaftarkan diri paling lambat satu bulan setelah saat usaha
mulai dijalankan.
b. Wajib pajak orang pribadi yang tidak menjalankan suatu usaha atau tidak melakukan
pekerjaan bebas apabila jumlah penghasilannya sampai dengan suatu bulan yang
disetahunkan telah melebihi penghasilan tidak kena pajak, wajib mendaftarkan diri paling
lambat pada akhir bulan berikutnya.
c. Terhadap wajib pajak yang tidak mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP akan
dikenakan sangsi perpajakan.
c. Sanksi
Setiap orang yang dengan sengaja tidak mendaftarkan diri untuk diberikan nomor pokok
wajib pajak, atau menyalah gunakan tanpa hak NPWP sehingga dapat menimbulkan
kerugiaan pada pendapatan Negara dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 bulan
dan paling lam 6 tahun dan denda paling sedikit 2 kali jumlah pajak terutang yang tidak atau
kurang dibayar paling banyak 4 kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar.

Setiap orang yang melakukan percobaan untuk melakukan tindak pidana menyalahgunakan
atau menggunakan tanpa nomor hak nomor pokok wajib dalam rangka melakukan
permohonan restitusi atau melakukan kompensisasi pajak atau pengkreditan pajak, dipidana
dengan pidana penjara paling singkat 6 bulan dan paling lama 2 tahun dan denda paling
sedikit 2 kali jumlah restitusi yang dimohonkan dan pengkreditan yang dilakukan dan paling
banyak 4 kali jumlah restitusi yang dimohonkan.
d. Penghapusan NPWP
Penghapusan nomor pokok wajib pajak dilakukan oleh direktur jendral pajak apabila:
a. Diajukan permohonan nomor pokok wajib pajak oleh wajib pajak dan ahli warisannya
apabila wajib pajak sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
b. Wajib pajak badan dilikuidasi karna penghentian dan penggabungan usaha.
c. Wanita yang sebelumnya telah memiliki nomor pokok wajib pajak dan menikah tanpa
membuat perjanjian pemisahan harta dan penghasilan dalam hal suami dari wanita
tersebut telah terdaftar wajib pajak.
d. Wajib pajak bentuk usaha tetap menghentikan usahanya di Indonesia.
e. Dianggap perlu oleh direktur jendral pajak untuk menghapuskan nomor pokok wajib
pajak dari wajib pajak yang sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif dan objektif
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

NOMOR PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK ( NPPKP )

1. Pengertian
Nomor Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak adalah setiap wajib pajak sebagai pengusaha
yang dikenakan pajak pertambahan nilai (PPN)berdasarkan undang-undang PPN wajib
melaporkan usahanya untuk dikukuhkan pengusaha kena pajak (PKP) dan atau pengusaha
yang dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak yang berisi identitas dan kewajiban
perpajakan pengusaha kena pajak.
Pengusaha kena pajak adalah (PKP) adalah pengusaha yang melakukan penyerahan barang
kena pajak dan penyerahan jasa kena pajak yang dikenai pajak berdasarkan undang-undang
pajak pertanbahan nilai 1984 dan perubahannya[5].
Pengusaha kecil sebagaimana dimaksud dalam undang-undang pajak pertanbahan nilai 1984
yaitu:
a. Memilih sebagai usaha kena pajak
b. Tidak memilih sebagai usaha kena pajak tetapi sampai dengan suatu bulan dalam suatu
tahun buku jumlah peredaran bruto atas penyerahan barang kena pajak telah melampaui
batasan yang ditentukan sebagai pengusaha kecil.
2. Fungsi Pengukuhan PKP
a. Sebagai identitas PKP yang bersangkutan.
b. Melaksanakan hak dan kewajiban dibidang pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan
atas barang mewah.
c. Pengawasan administrasi perpajakan.
3. Pencabutan pengukuhan PKP
Pencabutan pengukuhan pengusaha kena pajak dapat dilakukan dalam hal:
a. Pengusaha kena pajak pindah alamat kewllayah kerja kantor pelayanan pajak lain.
b. Sudah tidak memenuhi persyaratan sebagai pengusaha kena pajak termassuk pengusaha
kena pajak yang jumlah peredaran atau penerimaan bruto untuk suatu tahun buku tidak
melebihi batas jumlah peredaran atau penerimaan bruto untuk pengusaha kecil
(600.000.000,-setahun)

Atas permohonan wajib pajak untuk melakukan pencabutan pengukuhan pengusah kena
pajak, dirktur jendral pajak setelah melakukan pemerikasaan harus memberikan keputusan
dalam jangka waktu 6 bulan sejak tanggal permohonan diterima secara lengkap. Apabila
jamgka waktu tersebut telah lewat, Direktur jendral pajak tidak member suatu keputusan,
maka permohonan pencabutan pengukuhan pengusaha kena pajak di anggap dikabulkan
dan surat keputusan mengenai pencabutan pengukuhan pengusaha kena pajak harus
diterbitkan dalam jangka waktu paling lama satu bulan setelah jangka waktu 6 bulan
berakhir.

4. Sanksi
Setiap orang yang dengan sengaja tidak melaporkan usahanya untuk di kukuhkan sebagai
prngusaha kena pajak atau menyalah gunakan tanpa hak pengukuhan pengusaha kena
pajak, sehingga menimbulkan kerugian pada pendapatan Negara dipidana dengan pidana
penjjara palinng singkat 6 bulan dan paling lama 6 tahun dan denda paling sedikit 2 kali
jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang di bayar dan paling banyak 4 kali jumlah pajak
terutang yang tidak atau kurang di bayar.

Setiap orang yang melakukan percobaan untuk melakukan tindak pidana menyalah gunakan
atau mmenggunakan tanpa hak pengukuhan pengusaha kena pajak dalam rangka
mengajukan permohonan restitusi atau ,melakukan konpensasi pajak atau pengkreditan
pajak, dipidana dengan pidana pencara paling singkat 6 bulan dan paling lama 2 tahun dan
denda paling sedikit 2 kali jumlah restitusi dan di mohonkan atau di konpensasi
pengkreditan yang dilakukan dan paling bbanyak 4 kali jumlah restitusi yang konpensasikan.

SURAT PEMBERITAHUAN (SPT)


1. Pengertian
Surat pemberitahuan (SPT) adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk melaporkan
atau pembayaran pajak , objek pajak atau bukan objek pajak, atau harta dan kewajiban
sesuai dengan ketentuuan peraturan - undangan perpajakan.
2. Fungsi SPT
Fungsi SPT bagi wajib pajak , pajak penghasilan adalah sebagai sarana untuk melaporkan
dan mempertanggung jawabkan penghitungan jumlah pajak yang sebenarnya terutang dan
untuk melaporkan tentang :
a. Pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri melalui pemotongan
atau pemungutan pihak lain dalam satu tahun pajak.
b. Penghasilan yang merupakan objek pajak atau bukan objek pajak .
c. Harta dan kewajiban
d. Pembayaran dari pemotongan atau pemungutan pajak orang pribadi atau badan lain
dalam satu masa pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan.

Bagi pengusaha kena pajak, fungsi surat pemberitahuan adalah sebagai sarana untuk
melaporkan dan mempertanggung jawabkan penghitungan jumlah pajak pertambahan nilai
dan pajak penjualan atas barang meewah yang sebenarnya terutang dan untuk melaporakan
tentang :

a. Pengkreditan pajak masukan terhadap pajak keluaran


b. Pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri oleh pengusaha kena
pajak sesuai dengan ketentuan p[eraturan anperundang-undangan perpajakan[6].
3. Prosedur Penyelesaian SPT
a. Wajib pajak sebagaimana mengambil sendiri surat pemberitahuan ditempat yang
ditetapkan oleh direktur jendral pajak atau ,mengambil dengan cara lain yang tata cara
pelaksanaannya diatur dengan peraturan mentri keuangan
b. Setiap wajib pajak wajib mengisi surat pemberitahuan dengan benar,lengkap dan jelas,
dalam bahasa indonesia dengan menggunakan huruf latin, angka arab, satuan mata uang
rupiah dan menandatangani serta menyampaikannya kekantor direktur jendral pajak
tempat wajib pajak terdaftar atau di kukuhkan Atau tempatr lain yang di tetapkan oleh
direktur jendral pajak.
c. Wajib pajak yang telah mendapat izin dari menteri keuangan untuk menyelenggarakan
pembukuan dengan menggunakan bahasa asing dan mata uang selain rupiah.
d. Penandatanganan SPT dapat dilakukan secara biasa .
e. Bukti-bukti yang harus dilampiirkan pada SPT antara lain :
• Untuk wilayah pajak yang mengadakan pembukuan laporan keuangan berupa neraca
dan laporan laba rugi serta keterangan lain yang diperlukan untuk menghitung
besarnya penghasilan kena pajak.
• Untk SPT masa PPN sekurang-kurangnya memuat jumlah dasar pengenaan pajak,
jumlah pajak keluaran, jumlah pajak masukan yang dapat dikreditkan, dan jumlah
kekurangan atau kelebihan pajak.
• Untuk wajib pajak yang menggunakan norma perhitungan jumlah peredaran yang
terjadi dalam tahun pajak yang bersangkutan.Pembetulan SPT

Wajib pajak dengan kemauan sendiri dapat mmembetulkan surat pemberitahuan yang telah
disampaikan dengan menyampaikan pernyataan tertulis dengan syarat direktur jendral
pajak belum melakukan tindakan pemeriksaan . dalam hal wajib pajak membetulkan sendiri
surat pemberitahuan tahunan maupun surat pemberitahuan masa yang mengakibatkan
utang pajak menjadi lebih besar .

Walaupun telah tindakan pemeriksaan,tetapi belum dilakukan tindakan penyidikan


mengenai adanya ketidak benaran yang dilakukan wajib pajak terhadap ketidak benaran
yang dilakukan wajib pajak, terhadap ketidak benaran perbuatan wajib pajak terseb8t tidak
akan dilakukan penyedikan apabila wajib pajak dengan kemauan sendiri mengungkapkan
ketidak benaran perbuatannya tersebut dengan disertai pelunasan kekurangan pembayaran
jumlah pajak.

Walaupun direktur jendral pajak telah melakukan pemeriksaan, dengan syarat direktur
jendral pajak belum menerbitkan surat ketetapan pajak, wajib pajak dengan kesadaran
sendiri dapat mengakibatkan laporan tersendiri tentang ketidak benaran pengisian surat
pembritahuan yang telah disampaikan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, yang dapat
mengakibatkan:

a. Pajak-pajak yang masih harus dibayar menjadi lebih besar atau lebih kecil
b. Rugi berdasarkan ketentuan perpajakan menjadi lebih kecil atau lebih besar
c. Jumlah harta menjadi lebih besar atau lebih kecil
d. Jumlah modal menjadi lebih besar atau lebih kecil.

Wajib pajak dapat membetulkan surat pembritahuan tahunan yang telah disampaikan,
dalam hal wajib pajak menerima ketetapan pajak, surat keputusan keberatan, surat
keputusan pembetulan, putusan banding, atau putusan peninjaun kembali tahun pajak
sebelumnya.

4. Jenis SPT
Secara garis besar SPT dibedakan menjadi 2 yaitu:
a. Surat pemberitahuan masa adalah surat pemberitahuan untuk suatu masa pajak.
b. Surat pemberitahuan tahunan adalah surat untuk suatu tahun pajak atau bagian tahun
pajak.

SPT meliputi:

a. SPT tahunan pajak penghasilan


b. SPT masa yang terdiri dari:
• SPT masa pajak penghasilan
• SPT masa pajak pertambahan nilai
• SPT masa pajak pertambahan nilai bagi pemungut pajak pertambahan nilai.

SPT dapat berbentuk:

a. Formulir kertas
b. e- SPT
c. Batas Waktu Penyampain SPT
5. Batas Waktu Penyampaian SPT
Batas waktu penyampaian SPT adalah
a. Untuk surat pemberitahuan masa, paling lama 20 hari setelah akhir masa pajak
b. Untuk surat pemberitahuan tahunan pajaki penghasilan wajib pajak orang pribadi paling
lama 3 bulan setelah akhir tahun pajak
c. Untuk surat pemberitahuan tahunan pajak penghasilan wajib pajak badan paling lama 4
bulan setelah akhir tahun pajak.
6. Penundaan / Perpanjangan Jangka Waktu Penyampaian SPT
Wajib pajak dapat memperpanjang jangka waktu penyampaian SPT tahunan sebagaimana
dimaksud untuk paling lama 2 bulan sejak batas waktu penyampaian SPT tahunan dengan
cara menyampaikan pemberitahuan perpanjangan SPT tahunan. Pemberitahuan
perpanjangan SPT tahunan dibuat secara tertulis dan disampaikan ke kantor pelayanan
pajak, sebelum batas waktu penyampaian SPT tahunan berakhir, dengan dilampiri:
a. Penghitungan pajak terutang dalam satu tahun pajak yang batas waktu penyampaian di
perpanjang
b. Laporan keuangan sementara
c. Surat setoran pajak sebagai bukti pelunasan kekurangan pembayaran pajak yang terutang

Pemberitahuan perpanjangan SPT tahunan dapat disampaikan:

a. Secara langsung
b. Melalui pos dengan bukti pengiriman surat
c. Dengan cara lain yang meliputi
• Melalui perusahaan jasa ekspidisi atau jasa kulir dengan bukti pengiriman surat
• e-Filing melalui ASP
7. Sanksi Terlambat Atau Tidak Menyampaikan SPT
Apabila surat pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktu yang talah di tentuikan
atau batas waktu perpanjangan penyampain surat pemberitahuan, dikenai sanksi
administrasi berupa denda sebesar:
a. Rp. 500.000 untuk surat pemberitahuan masa pajak pertambahan nilai
b. Rp. 100.000 untuk surat pemberitahuan masa lainnya
c. Rp. 1.000.000 untuk surat pemberitahuan tahunan pajak penghasilan wajib pajak badan
d. Rp. 100.000 untuk surat pemberitahuan tahunan pajak penghasilan wajib pajak orang
pribadi

Wajib pajak yang karena kealpaanya tidak menyampainnya surat pemberitahuan tetapi
isinya tidak benar atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar sehingga dapat
menimbulkan kerugian pada pendapatan Negara[7].
SURAT SETORAN PAJAK (SSP)

1. Pengertian
Surat setoran pajak adalah bukti pembayaran atau penyetoran pajak yang telah dilakukan
dengan menggunakan formulir atau telah dilakukan dengan cara lain ke kas negara melalui
tempat pembayaran yangtelah ditunjuk oleh Menteri Keuangan.
2. Fungsi SSP
SSP berfungsi sebagai bukti pembayaran pajak apabila telah disahkan oleh Pejabat kantor
penerima pembayaran yang berwenang atau apabila telah mendapatkan validasi.
3. Batas Waktu Pembayaran atau Penyetoran Pajak
a. Pembayaran masa
1 PPh Pasal 4 Ayat (2) yang dipotong oleh pemotong pajak penghasilan harus disetor
paling lama tanggal 10 (sepuluh) bulan bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
2 PPh Pasal 4 ayat (2) yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak harus disetor paling
lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir kecuali
ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan.
3 PPh Pasal 15 yang dipotong oleh Pemotong PPh harus disetor paling lama tanggal 10
(sepuluh) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
4 PPh Pasal 15 yang harus dibayar sendiri harus disetor paling lama tanggal 15 (lima
belas) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
5 PPh Pasal 21 yang dipotong oleh pemotong PPh harus disetor paling lama tanggal 10
(sepuluh) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
6 PPh pasal 23 dan pph pasal 26 yang dipotong oleh Pemotong PPh harus disetor paling
lama tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
7 PPh Pasal 25 yang harus dibayar paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya
setelah Masa Pajak berakhir.
8 PPh Pasal 22, PPN atau PPN dan PPnBM atas impor harus dilunasi bersamaan dengan
saat pembayaran Bea Masuk dan dalam hal Bea Masuk ditunda atau dibebaskan, PPh
Pasal 22, PPN atau PPN dan PPnBM atas impor harus dilunasi pada saat penyelesaian
dokumen pemberitahuan pabean impor.
9 PPh Pasal 22, PPN atau PPN dan PPnBM atas impor yang dipungut oleh Direktorat
Jenderal Bea dan Cukai, harus disetor dalam jangka waktu 1 (satu) hari kerja setelah
dilakukan pemungutan pajak.
10 PPh Pasal 22 yang dipungut oleh bendahara pada hari yang sama dengan pelaksanaan
pembayaran atas penyerahan barang yang dibiayai dari belanja Negara atau belanja
Daerah, dengan menggunakan Surat Setoran Pajak atas nama rekanan dan
ditandatangani oleh bendahara.
11 PPh Pasal 22 atas penyerahan bahan bakar minyak, gas, dan pelumas kepada
penyalur/agen atau industri yang dipungut oleh Wajib Pajak badan yang bergerak
dalam bidang produksi bahan bakar minyak, gas, dan pelumas, harus disetor paling
lama tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
12 PPh pasal 22 yang pemungutannya dilakukan oleh Wajib Pajak badan tertentu sebagai
Pemungut Pajak harus disetor paling lama tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya
setelah Masa Pajak berakhir.
13 PPN atau PPN dan PPnBM yang terutang dalam satu Masa Pajak, harus disetor paling
lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
14 PPN atau PPN dan PPnBM yang pemungutannya dilakukan oleh Bendahara
Pemerintah atau instansi Pemerintah yang ditunjuk, harus disetor paling lama tanggal
7 (tujuh) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
15 PPN atau PPN dan PPnBM yang pemungutannya dilakukan oleh Pemungut PPN selain
Bendahara Pemerintah atau instansi Pemerintah yang ditunjuk, harus disetor paling
lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
16 PPh Pasal 25 bagi Wajib Pajak dengan kriteria tertentu sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 3 ayat (3b) Undang-Undang KUP yang melaporkan beberapa Masa Pajak dalam
satu Surat Pemberitahuan Masa, harus dibayar paling lama pada akhir Masa Pajak
terakhir.
17 Pembayaran masa selain PPh Pasal 25 bagi Wajib Pajak dengan kriteria tertentu
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3b) Undang-Undang KUP yang melaporkan
beberapa masa pajak dalam satu Surat Pemberitahuan Masa, harus dibayar paling
lama sesuai dengan batas waktu untuk masing-masing jenis pajak.
b. Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, serta Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar Tambahan, dan Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan Pembetulan,
Putusan Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali, yang menyebabkan jumlah pajak
yang harus dibayar bertambah, harus dilunasi dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak
tanggal diterbitkan.
c. Kekurangan pembayaran pajak yang terutang berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan
Pajak Penghasilan harus dibayar lunas sebelum Surat Pajak Penghasilan disampaikan.

Dalam hal tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak bertepatan dengan hari
libur termasuk hari sabtu atau hari libur nasional, pembayaran atau penyetoran pajak dapat
dilakukan pada hari kerja berikutnya. Hari libur nasional sebagaimana dimaksud termasuk
hari yang diliburkan untuk menyelenggarakan Pemilihan Umum yang ditetapkan oleh
pemerintah. Setiap keterlambatan pembayaran dikenakan bunga sebesar 2% sebulan, yang
dihitung dari tanggal jatuh tempo pembayaran sampai dengan tanggal pembayaran, dan
bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.

Sumber:

Anastasia Diana & lilis setiawati, PERPAJAKAN INDONESIA“ konsep aplikasi dan penuntunan praktis“
(Yogyakarta: C. V ANDI OFFSET. 2010)

Muhammad Awal Satrio Nugroho, Hak dan Kewajiban dalam Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan (KUP) di Indonesia, (Jakarta: Salemba Empat, 2008)

Mardiasmo.PERPAJAKAN., (Yogyakarta : ANDI)

https://kurniawanbudi04.wordpress.com/2013/05/22/ketentuan-umum-dan-tata-cara-perpajakan-
uu-no-28-tahun-2007/

http://www.pajak.go.id/content/penyidikan-tindak-pidana-di-bidang-perpajakan, diakses pada 1


Oktober 2015, 07:47