Anda di halaman 1dari 6

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

MEMAKNAI KEMBALI IMAN, ISLAM, DAN IHSAN DALAM


PERPEKTIF CINTA

NAMA ANGGOTA KELOMPOK :

1. Devita Rahmadani (16030244003)


2. Ghea Dionita Sanora (16030244026)
3. Ismi Nurul Kartika (16030244035)

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

2017

Tujuan Pembelajaran: Setelah mengkaji materi ini, mahasiswa diharapkan mampu


 Beriman, berIslam, dan berihsan dengan benar dan nyaman.
 Memiliki kesadaran, cinta dan pemahaman yang mendalam, sehingga tidak
hanya bermodalkan kebiasaan atau bahkan keterpaksaan.

Pendahuluan:
Prmbicaraan mengenai Iman dan Islam, keterpaduannya dan perbedaannya, memang
boleh dikatakan jarang diperhatikan. Mereka hanya menyayangkan dan bertanya-tanya ketika
mendapati seorang muslim berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan tuntutan agama. Mereka
hanya bertanya, “Bukankah dia itu seorang muslim, kenapa dengan dasar pengetahuannya
terhadap halal dan haram, ia masih sempat-disengaja atau tidak-untuk maksiat pada Allah
SWT.?”
Pertanyaan-pertanyaan itu jelas tidak akan mampu sampai kepada jawabannya, karena
akar masalahnya tidak akan didapat hanya dengan bertanya seperti itu. Oleh karenanya dalam
makalah ini kita akan mencoba mengupas perbedaan dan keterpaduanny. Hal ini penting
diketahui agar kita bias mengetahui koherensi antara iman dan Islam dalam wujud suatu
perbuatan. Dan agar kita mengetahui eksistensi apa yang ada ketika amal keislaman itu
tumbuh dan berkembang di luar lahan selain Iman. Maka dari itu penting bagi kita untuk
mengetahui dan memahami apa hakikat iman, Islam, dan ihsan serta aktualisasinya di
kehidupan dalam perspektif cinta.

A. Iman dan Aktualisasinya dalam Kehidupan


Dalam kancah percintaan, komponen utama cinta adalah meliputi subyek cinta
sebagai yang mencinta, predikat cinta sebagai cinta itu sendiri, dan obyek cinta sebagai yang
dicintai. Tuhan dan manusia terkadang menempati posisi Yang mencintai, sekaligus Yang
dicintai. Akan tetapi kadang hanya sebagai yang mencintai tetapi tidak dicintai. Menjadi cinta
yang bertepuk kedua tangan, dan menjadi cinta yang bertepuk sebelah tangan. Lantas dimana
posisi iman, Islam, dan ihsan dalam kancah percintaan ini? Iman, Islam, dan ihsan adalah
cinta itu sendiri. Kalaulah Tuhan dan manusia berperan sebagai subjek sekaligus obyek cinta;
maka iman, Islam, dan ihsan adalah predikat cintanya. Ia adalah kwalitas dan kuantitas dari
sebuah relasi, ekspresi, dan bukti percintaan (Tim Dosen PAI Unesa, 2016).
Dari Anas r.a bahwa Nabi SAW bersabda, “Tidak sempurna keimanan seseorang dan
kalian, sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”. Maksud
dari hadist ini yaitu begitu indahnya iman yang sempurna dalam diri manusia seta betapa
beratnya ia bagi kebanyakan manusia. Salah satu tanda kesempurnaan itu adalah mencintai
saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Saudara di sini bukanlah saudara kandung,
sedarah, atau senasib, melainkan saudara seaqidah. Maka siapapun dia, dai suku dan bangsa
manapun, warna kulit apapun, dengan status keduniaan yang betapapun, selama ia memiliki
aqidah yang sama maka ia adalah saudara. Dan mencintainya seperti mencintai diri sendiri
adalah tanda sekaligusgg gsyarat kesempurnaan iman.
"Cinta adalah kecenderungan terhadap sesuatu yang diingini", kata Imam Nawawi,
"Sesuatu yang dicintai tersebut dapat berupa sesuatu yang diindera, seperti bentuk atau dapat
juga berupa perbuatan seperti kesempurnaan, keutamaan, mengambil manfaat atau menolak
bahaya."
Maka mencintai dalam kesempurnaan iman berarti mencintai apa yang terjadi pada
dirinya, terjadi pula pada saudaranya. Mencintai jika saudaranya mendapatkan kebahagiaan
sebagaimana ia mencintai kebahagiaan itu. Sekali lagi ini berat. Bahkan Umar bin Khatab
pernah menyatakan bahwa ia mencintai Rasulullah melebihi siapapun selain dirinya. Setelah
dikoreksi Rasulullah, barulah ia mencintai Rasulullah di atas mencintai dirinya.

Itu antara Umar dan Rasulullah. Lalu bagaimana kita mencintai saudara kita sesama
muslim seperti mencintai diri kita sendiri? Bukankah ini pekerjaan yang berat. Namun,
seperti kata Imam Nawawi: ia adalah pilihan (ikhtiyari). Bukan berarti Umar belum sampai
pada kesempurnaan iman di saat itu, sebab yang dituntut Rasulullah adalah kecintaan yang
lebih tinggi, bukan cinta yang sama kadarnya.

Maka sejarah umat ini juga memberi teladan terbaik bagi kita. Lihatlah peristiwa
hijrah. Sesampainya di Madinah, para sahabat muhajirin dipersaudarakan dengan anshar.
Diantara mereka tidak saling mengenal sebelumnya. Namun dalam kesempurnaan iman, cinta
antara mereka tumbuh dengan cepat, kokoh batangnya, lebat daunnya, dan ranumlah
buahnya. Diantara buah yang manisnya dicatat umat hingga kini adalah cinta antara
Abdurrahman bin Auf dan saudaranya, Sa'ad bin Rabi. Cinta dalam kesempurnaan iman
membawa Sa'ad bin Rabi membagi dua segala miliknya. Namun cinta dalam kesempurnaan
iman juga yang membuat Abdurrahman bin Auf menolaknya.

Iman ibaratkan presepsi, teori, dan konsep tentang cinta. Islam melalui rukun
Islamnya adalah bentuk ekspresi simboliknya. Dan ihsan adalah ekspresi aksionalnya.
Aktivitas mencintai sama dengan aktivitas mengimani. Ia adalah aktivitas memaknai,
menyakini, mengapresiasi dan memberikan bukti. Pada tahap awal seorang mengimani mirip
dengan tahap awal orang mencintai. Ia tentu sudah melakukan aktivita semantic
mempersepsi. Yaitu dengan mengetahui, mengamati dan memahami obyek yang pada
akhirnya dapat menimbulkan rasa iman dan cintanya tadi. Tak kenal maka tak cinta, sama
dengan tak paham maka tak iman. Pengetahuan dan pemahaman seseorang terhadap sesuatu,
akan menimbulkan sikap terhadap sesuatu itu, yaitu suka atau tidak suka terhadapnya.
Kualitas suka dan tidak sukanya itu bergantung pada kualitas pengetahuan, pengamatan, dan
pemahamanpersepsional yang dibangun. Semakin orang itu mengenal sesuatu, maka akan
berdampak pada semakin kuat konsekuensi suka dan tidaknya terhadap sesuatu itu. Seseorang
dianggap mukmin dan mencintai, karena mengenal siapa yang diimaninya dan siapa sosok
yang dicintainya.

Semakin mengenali, akan semakn mengingkatkan kualitas iman dan cintanya.


Sebaliknya, semakin tidak mengenali, makan akan semakin berdampak terhadap kualitas
sikapnya terhadap obyek cintanya. Bias tidak punya sama sekali, netral atau bahkan dapat
menimbulkan sikap yang berlawanan, yaitu kebencian.sebagai contoh, ketika seseorang telah
memutuskan untuk membenci iblis dan setan, tentunya didasari oleh pengetahuan tentang
iblis beserta kelayakannya untuk dibenci. Sehingga dapat melahirkan keputusan itu. Intinya
mustahil jika tiba-tiba cinta dan tiba-tiba benci tanpa ada yang mendasari. Sesederhana
apapun dasa yang dijadikan pijakan terhadap sesuatu, akan dapat melahirkan sikap
terhadapnya. Iman adalah kepercayaan dan keyakinan. Buah dari persepsi dan sesadaran.
Membangun cinta dan harapan, menciptakan bahagia, dan melahirkan pengorbanan jiwa dan
raga.
Orang yang jatuh cinta akan sangat bergantung pada anggapan yang dibangun
terhadap obyek cintanya. Bangunan inilah yang berusaha dikokohkan Nabi SAW. selama
berada di Makkah sebelum hijrah. Persepsi tentang Tuhan berusaha beliau disempurnakan.
kelayakanNya sebagai sosok yang dipertaruhkan dengan segala kemutlakan kesempurnaan
yang sisematkan. Koreksi terhadap pensimbolan Tuhan dengan ciptaan seperti: patung,
matahari, bulan, bintang, tumbuhan, dan binatang, yang dianggap sebagai bentuk pelecehan
terhadap kesempurnaan Tuhan.
Cinta itu kerelaan, dan kemurnian dari berbagai macam kepentingan kecuali hanya
karena dorongan kasih dan sayang. Hal ini dapat diilustrasikan pada orientasi orang tua
terhadap keinginannyamempunyai dan mendapatkan anak. Tentu, motivasi idealnya bukanlah
untuk mengeploitasi anak tersebut untuk kepentingan dirinya secara ekonomi, sosial dan lain-
lain. Akan tetapi semata karena dorongan kasih sayang dan cinta, untuk dapat berbagi
kesadaranakan suka dan duka kehidupan dunia.
Begitulah gambaran kesadaran akan ketuhanan (iman) yang melahirkan kesadaran
akan Islam dan ihsan. Jadi iman adalah cinta. Pengetahuan yang meyakinkan, membentuk
kesadaran, membuat nyaman dan melahirkan pengorbanan.

B. Islam dan Aktualisasinya dalam Kehidupan

Islam memiliki beberapa pengertian. Hal ini berdasarkan dalil-dalil yang ada serta
kesimpulan yang diberikan oleh para ulama. Secara umum telah kita pahami bahwa Islam
adalah nama dari agama yang diturunkan Allah kepada umat manusia. Inilah agama yang
diajarkan oleh setiap rasul kepada umatnya. Sebagaimana firman Allah (yang artinya),
“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan
‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut’(QS. An Nahl: 36).”

Islam dalam pengertian ini biasa didefinisikan secara lebih rinci oleh para ulama
sebagai: “kepasrahan kepada Allah dengan tauhid, tunduk kepada-Nya dengan
melaksanakan segala ketaatan, dan berlepas diri dari syirik dan pelaku-pelakunya.” Islam
dalam pengertian mencakup semua ajaran para rasul.

Adapun istilah Islam secara khusus adalah agama yang diturunkan Allah kepada Nabi
kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah menghapuskan syari’at umat-umat
terdahulu. Agama para nabi itu satu (sama), walaupun syari’at mereka berbeda-beda, dan ini
semua ini tentu dilandasi hikmah Allah Ta’ala.

Kemudian, Islam yang memiliki cakupan khusus yang sekarang ini berlaku hingga
akhir zaman dibangun di atas lima pondasi atau pilar sebagaimana disebutkan dalam hadist
Jibril yang terkenal, yaitu: syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji. Inilah yang biasa kita
kenal dengan istilah rukun Islam.

Dengan pemaknaan semacam ini, maka Islam lebih condong kepada syari’at-syari’at
yang lahiriyah, sementara istilah iman yang disebutkan dalam satu rangkaian pembicaraan
dengan Islam lebih condong kepada syari’at-syari’at yang batin (berkaitan dengan keyakinan
dalam hati) atau biasa kita kenal dengan istilah pokok keimanan atau rukun iman, yaitu iman
kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan iman kepada
takdir.

Namun, apabila istilah Islam dan Iman disebutkan dalam konteks terpisah “Islam”
saja atau “Iman” saja maka makna keduanya akan melebur menjadi satu. Jika yang
disebutkan Islam saja, maka Islam mencakup perkara lahir dan batin. Demikian juga Iman.
Sebab keislaman yang benar adalah yang ditegakkan di atas keislaman secara lahir dan batin.
Demikian pula keimanan yang benar adalah keimanan yang ditegakkan di atas keimanan
secara lahir dan batin.

Oleh sebab itu, para ulama kita mendefinisikan iman sebagai pembenaran dengan
hati, ucapan dengan lisan, dan amalan dengan anggota badan. Iman bertambah dengan
ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan. Iman itu meliputi perkara-perkara yang sifatnya
wajib dna perkara yang sifatnya sunnah/mustahab. Sesuatu yang wajib apabila ditinggalkan
akan merusak iman, berbeda halnya denga perkara sunnah. Diantara perkara-perkara wajib
itu ada yang termasuk pokok agama yang apabila ditinggalkan menyebabkan keluar dari
agama dan ada yang menjadi cabangnya yang tidak sampai menyebabkan keluar dari Islam
bagi orang yang meninggalkannya. Inilah kaidah yang harus kita pahami agar tidak salah
dalam memahimi Iman.

Dalam masalah Iman ini, ada dua kelompok besar yang menyimpang dari jalan yang
benar, yaitu murji’ah dan khawarij atau wa’idiyah. Kaum murji’ah mengeluarkan amal dari
hakikat iman. Sehinggga menurut mereka keimanan itu cukup dengan pembenaran dengan
hati atau ditambah dengan ucapan lisan, sementara amal bukan bagian dari iman.
Konsekuensi pendapat mereka ini adalah imannya orang yang paling salih sama dengan
imannya orang yang paling bejat dan jahat. Hal ini karena mereka mengatakan amal tidak
mempengaruhi keimanan. Tentu ini keliru.

Adapun kaum khawarij atau wa’idiyah menganggap bahwa orang yang melakukan
dosa besar maka dia akan kekal di neraka kalau mati dan tidak bertaubat. Mereka tidak
meyakini adanya orang-orang yang masuk ke neraka lalu dikeluarkan darinya dan masuk
surga. Tentu keyakinan mereka ini bertentangan dengan dalil-dalil Al Kitab dan As Sunnah.
Diantara ciri kelompok ini adalah gemar mengjkafirkan kaum muslimin selain kelompoknya
terutama pemerintahnya.

Diantara perkara yang sering dilalaikan oleh mereka yang terpengaruh pemikiran
khawarij adalah bahwa tidaklah setiap penafian (peniadaan) iman di dalam dalil Al Qur’an
dan As Sunnah itu menunjukkan kekafiran pelakunya. Seperti misalnya, di dalam hadist
disebutkan ‘tidak beriman orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya’, maka
makna ‘tidak iman’ di sini bukanlah kafir, akan tetapi dia telah meninggalkan salah satu
kewajiban iman.

Demikian pula, diantara perkara yang sering dilupakan oleh mereka, bahwa
pengkafiran itu bukanlah perkara yang ringan, sebab ia mengandung konsekuensi yang sangat
berat dan membutuhkan penegakan hujjah (argumen/dalil), terpenuhinya syarat-syarat
pengkafiran dan tidak dijumpainya penghalang-penghalang vonis kekafiran.

Di sisi lain, perlu diketahui bahwa pengkafiran itu ada dua macam. Ada yang disebut
takfir muthlaq tanpa mengaitkan dengan orang tertentu, hanya sifatnya. Ada pula takfir
mu’ayyan, yaitu dengan menunjuk orang tertentu dan menjatuhkan vonis kafir kepaddanya.

Diantara perkara yang disepakati oleh para ulama adalah bahwa barangsiapa yang
mengingkari salah satu rukun iman maka dia menjadi kafir karenanya. Demikian pula oragn
yang tidak bersyahadat. Adapun mengenai hukum orang yang meninggalkan sholat, maka
para ulama berbeda pendapat. Sebagian mengkafirkan dan sebagian yang lain tidak. Dan
yang dimaksud meninggalkan sholat di sini adalah karena malas. Adapun apabila orang itu
meninggalkan sholat karena menentang bahwa shalat itu wajib maka para ulama sepakat
tentang kekafirannya.

Demikian pula termasuk perkara yang menyebabkan pelakunya keluar dari Islam
adalah apabila dia melakukan pembatal-pembatal keislaman seperti berbuat syirik akbar
dalam bentuk berdoa kepada selain Allah, menyembelih untuk selain-Nya, sihir, dan lainnya.
Semikian pula bila ia menentang salah satu perkara yang secara mendasar diketahui sebagai
bagian dari agama Islam, misalnya dia mengatakan bahwa khamr itu halal, zina itu halal, dan
sebagainya.
C. Ihsan dan Aktualisasinya dalam Kehidupan

Adapun istilah ihsan sebagaimana disebutkan dalam hadist Jibril maka maksudnya adalah
beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya atau meyakini bahwa Allah senantiasa
melihat dan mengawasi kita. Ini merupakan bentuk ihsan dalam beribadah kepada Allah.
Ihsan ini mencakup dua tingkatan. Pertama, musyahadah yaitu menyaksikan kebesaran nama-
nama dan sifat-sifat- Nya. Kedua, muraqabah yaitu merasa diawasi Allah. Tingkatan pertama
adalah tingkatan yang lebih utama.

Di sisi lain, ada juga ihsan dalam berinteraksi dengan sesama, yaitu dengan berbuat baik
kepada orang lain sesuai dengan hak mereka masing-masing, seperti kedua orang tua,
tetangga, kerabat, anak, istri, bahkan kepada hewan dan tumbuhan sekalipun. Ciri orang yang
baik adalah ihsan dalam beribadah kepada Allah dan ihsan dalam berinteraksi dengan sesama
makhluk Allah. Oleh sebab itu Allah sering menggandengkan antara perintah sholat dengan
perintah zakat. Karena sholat adalah simbol ihsan dalam beribadah kepada Allah, sedangkan
zakat adalah simbol ihsan dalam bergaul dengan sesama.

Kesimpulan
Iman dan cinta ibaratkan dua sisi mata uang yang berbeda akan tetapi tetap sama
nilainya. Ia adalah kesadaran, dari sebuah pengetahuan melahirkan keyakinan, cinta dan
pengorbanan.
Islam adalah ekspresi pengorbanan cinta dan iman dalam wujud komitmen kesetiaan
dan ketaatan, keterikatan hubungan, peduli berbagi, empati, kerinduan akan sebuah
pertemuan dan persatuan.
Ihsan adalah output dan capaian dari iman dan Islam, baik secara spiritual maupun
sosial. Ia adalah model ibadah cinta, persaksian dan kemaslahatan.

Daftar Pustaka

Admin. 2012. Hakikat Iman. (http://www.darussalaf.or.id/aqidah/hakikat-iman/)


diakses tanggal 5 Maret 2017.
Agung, Laziz Sultan. Islam, Iman, dan Ihsan. (http://lazis-sa.org/jurnal-umat-002/) diakses
tanggal 5 Maret 2017.
Al-Jakarti, Iyas. 2014. Hakikat Islam. Padri Baru.
Tim Dosen PAI Unesa. 2016. Pendidikan Agama Islam: Konstesktua di Perguruan Tinggi.
Surabaya: UNESA UNIVERSITY PRESS.
Tuasikal, Muhammad Abduh. 2011. Iman, Tanda Cinta Allah.
(https://rumaysho.com/1802-iman-tanda-allah-cinta.html) diakses tanggal 5 Maret
2017.