Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

EFEK LOKAL OBAT


(METODE ANESTESI LOKAL)
(METODE ANASTESI LOKAL)
“ANASTESI LOKAL METODE PERMUKAAN”

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang

Obat bius lokal/anestesi lokal atau yang sering disebut pemati rasa adalah obat
yang menghambat hantaran saraf bila digunakan secara lokal pada jaringan saraf
dengan kadar yang cukup. Obat bius lokal bekerja pada tiap bagian susunan saraf.
Obat bius lokal bekerja merintangi secara bolak-balik penerusan impuls-impuls saraf
ke Susunan Saraf Pusat (SSP) dan dengan demikian menghilangkan atau mengurangi
rasa nyeri, gatal-gatal, rasa panas atau rasa dingin. Obat bius lokal mencegah
pembentukan dan konduksi impuls saraf. Tempat kerjanya terutama di selaput lendir.
Disamping itu, anestesia lokal mengganggu fungsi semua organ dimana terjadi
konduksi/transmisi dari beberapa impuls. Artinya, anestesi lokal mempunyai efek
yang penting terhadap SSP, ganglia otonom, cabang-cabang neuromuskular dan
semua jaringan otot

I.2 Tujuan Percobaan

1. Mengtahui aktivitas anestetika lokal suatu obat.


2. Mengetahui gejala-gejala terjadinya anestetika lokal yang ditimbulkan oleh
anestetika lokal permukaan.

I.3 Prinsip Percobaan

Anastetika lokal ialah obat yang mnghambat konduksi saraf bila dikenakan
secara lokal pada jaringan saraf dengan kadar cukup. Termasuk dalam golongan
anastetika lokal seperti kokain dan ester ester asam para amino benzoate (PABA),
contoh prokain dan lidokain. Asastesi lokal permukaan tercapai ketika anastetika lokal
ditempatkan didaerah yang ingin dianastesi. Anastetika lokal diberikan dengan
berbagai teknik pemberian, seperti; anastesi permukaan, anastesi spinal, anastesi
mukosa.
BAB II
DASAR TEORI

Menurut cara pemakaian anestesi lokal dibedakan menjadi:

1. Anestesi permukaan.

Anestetika local digunakan pada mukosa atau permukaan luka dan


berdifusi ke organ akhir sensorik dan ke percabangan saraf terminal. Pada
epidermis yang utuh (tidak terluka) maka anestetika local hampir tidak
bekhasiat karena tidak mampu menembus lapisan tanduk.

2. Anestesi Infiltrasi.

Anestetika local disuntikkan ke dalam jaringan, termasuk juga diisikan ke


dalam jaringan. Dengan demikian selain organ ujung sensorik, juga batang-
batang saraf kecil dihambat.

3. Anestesi Konduksi

Anestetika local disuntikkan di sekitar saraf tertentu yang dituju dan


hantaran rangsang pada tempat ini diblok. Bentuk khusus dari anestesi
konduksi ini adalah anestesi spinal, anestesi peridural, dan anestesi
paravertebral.

4. Anestesi Regional Intravena dalam daerah anggota badan

Sebelum penyuntikan anestetika local, aliran darah ke dalam dan ke


luar dihentikan dengan mengikat dengan ban pengukur tekanan darah dan
selanjutnya anestetika local yang disuntikkan berdifusi ke luar dari vena dan
menuju ke jaringan di sekitarnya dan dalam waktu 10-15 menit menimbulkan
anestesi.

Salah satu obat anastetika local dari golongan amida. Lidokain terdiri
dari satu gugus lipofilik (biasanya merupakan suatu cincin aromatik) yang
dihubungkan suatu rantai perantara (jenis amid) dengan suatu gugus yang
mudah mengion (amin tersier). Dalam penerapan terapeutik, mereka umumnya
disediakan dalam bentuk garam agar lebih mudah larut dan stabil. Didalam
tubuh mereka biasanya dalam bentuk basa tak bermuatan atau sebagai suatu
kation. Perbandingan relative dari dua bentuk ini ditentukan oleh harga pKa
nya dan pH cairan tubuh, sesuai dengan persamaan Henderson-Hasselbalch.3
Lidokain merupakan obat terpilih bagi mereka yang hipersensitif
terhadap prokain dan juga epinefrin. Biasanya Lidokain digunakan untuk
anestesi permukaan dalam bentuk salep, krim dan gel. Efek samping Lidokain
biasanya berkaitan dengan efeknya terhadap SSP misalnya kantuk, pusing,
paraestesia, gangguan mental, koma, dan seizure.

Cara Kerja

Isyarat dalam serabut saraf dihantarkan melalui impuls listrik yang


terbentuk pada awalnya di setiap membran sel syaraf. Setiap membran sel
syaraf ( demikian juga semua membran sel tubuh lainnya ) mempunyai
potensial listrik sebesar -90 mV pada keadaan istirahat. Potensial listrik ini
terbentuk karena adanya perbedaan konsentrasi ion natrium di dalam dan di
luar membran sel, dimana konsentrasi di luar membran ( 142 mEq/L) lebih
besar daripada di dalam membran sel ( 14 mEq/L), sementara konsentrasi
anionnya sama ( 150 mEq/L). Keadaan ini menyebabkan suasana di dalam
membran sel lebih negatif ketimbang di luar. Pada saat timbulnya rangsangan
terhadap sel syaraf ( baik rangsangan kimia, fisik maupun listrik ) membran
sel menjadi lebih permeabel terhadap ion natrium sehingga terjadi aliran ion
natrium dari luar ke dalam sel melalui kanal natrium. Hal ini menimbulkan
situasi dimana konsentrasi ion natrium di dalam membran sekarang menjadi
lebih besar ketimbang di luar membran sel dan menyebabkan potensial listrik
berubah dari -90mV menjadi +45mV. Perubahan ini disebut dengan peristiwa
depolarisasi. Impuls listrik inilah yang nantinya menghantarkan isyarat
sepanjang serabut syaraf.

Obat anestetik lokal berikatan dengan reseptor khusus di kanal natrium


sehingga menimbulkan blokade yang mencegah aliran natrium. Hal ini lebih
lanjut mencegah terjadinya perubahan potensial listrik yang artinya juga
mencegah timbulnya impuls listrik sehingga hantaran isyarat tidak terjadi.
SYARAT YANG HARUS DIPENUHI

Sifat ideal yang diinginkan dari sebuah obat anestesik lokal :

1. Tidak mengiritasi

2. Tidak merusak jaringan saraf secara permanen.

3. Batas keamanan harus lebar

4. Mula kerja harus sesingkat mungkin, masa kerja harus cukup lama

5. Harus larut dalam air stabil dalam larutan

6. Dapat disterilkan tanpa mengalami perubahan.

KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN

KEUNTUNGAN :

a. Kesadaran (+)

b. Gangguan fisiologis rendah

c. Angka morbiditas rendah

d. Penderita bisa pulang sendiri

e. Relatif mudah

f. Tidak perlu tenaga tambahan

g. Biaya relatif kecil

h. Tidak perlu puasa

KERUGIAN :

Tidak dapat digunakan pada:

a. Penderita dengan rasa takut tinggi

b. Penderita yang tidak kooperatif (anak-anak, retardasi mental)

c. Jaringan yang mengalami peradangan akut

d. Penderita pecandu alkohol

e. Prosedur pembedahan yang luas


BAB III
PERCOBAAN

III.1 Alat dan Bahan

 Alat

 Gunting

 Pipet tetes

 Aplikator

 Stopwatch

 Bahan

 Kelinci dewasa dan sehat

 Larutan Lidocain HCl 2%

III.2 Prosedur Kerja

1. Gunting bulu mata kelinci, agar tidak mengganggu aplikator

2. Teteskan kedalam kantong kunjungtiva larutan anastetika lokal lidokain


0,5ml pada mata kanan dan larutan Tetrakain pada mata kiri

3. Tutup masing masing kelopak mata selama 1 menit

4. Catat ada atau tidaknya reflek mata setiap 5 menit, dengan menggunakan
aplikator tiap kali pada permukaan kornea.
BAB IV
HASIL PENGAMATAN

Ada/Tidaknya Respon Refleks


Okuler (menit ke-)
Percoban Bahan Obat
0 5 1 1 2 3 4 6
0 5 0 0 5 0

Mata
kelinci Lidokain + + + + + + + +
Anastesi kanan HCL 2%
local
metode
Permukaa Mata Lidokain + + + + + + + +
n kelici HCL 2%
kiri
BAB V
PEMBAHASAN

Obat bius lokal/anestesi lokal atau yang sering disebut pemati rasa adalah obat
yang menghambat hantaran saraf bila digunakan secara lokal pada jaringan saraf
dengan kadar yang cukup. Obat bius lokal bekerja pada tiap bagian susunan saraf.

Pada praktikum ini kami melakukan percobaan anastesi permukaan dengan


menggunakan obat anastetik lokal yaitu Lidocain dengan kelinci sebagai hewan
ujinya. Obat diteteskan kedalam kantong kunjungtiva larutan anastetika lokal
Lidokain 2% 2 tetes pada mata kanan dan pada mata kiri.

Pada hasil pengamatan, pada mata kanan dan mata kiri diteteskan lidocain
tidak ada efek anastetik lokal, efek obat mulai bereaksi pada pengamatan 1 jam 10
menit dan kedipan mulai melemah pada menit ke 30.

Lidokain merupakan derivate-asetanilida termasuk kelompok amida dan


merupakan obat pilihan utama untuk untuk anastesia permukaan ataupun filtrasi. Zat
ini digunakan pada selaput lendir dan kulit untuk nyeri,perasaan terbakar dan gatal.
Dibandingkan prokain, khasiatnya lebih kuat dan lebih cepat kerjanya ( setelah
beebrapa menit ) juga bertahan lebih lama.

[Type text]
BAB VI
KESIMPULAN

Pada dasarnya, anestesi terbagi dua menjadi anestesi lokal dan anestesi umum.
Akan tetapi, anestesi lokal lebih sering digunakan karena memiliki tingkat
keselamatan yang lebih tinggi daripada anestesi umum. Anestetik lokal ialah obat
yang menghambat hantaran saraf bila dikenakan secara lokal pada jaringan saraf
dengan kadar cukup. Obat ini bekerja pada tiap bagian susunan saraf.

Salah satu contoh obat anestesi lokal yang sering digunakan adalah lidokain.
Lidokain diberikan secara suntikan dan cepat diabsorbsi oleh saluran pernapasan
maupun saluran cerna. Dan sebagaimana obat yang memiliki kandungan zat kimia,
lidokain pun tak lepas dari efek samping, yang di antaranya adalah mengantuk,
pusing, parestesia, kedutan otot, gangguan mental, dan koma.

[Type text]
BAB VII
DAFTAR PUSTAKA

1. Heaver JE.Local Anesthetic.Current Oppinion in anesthesiology:2007 ;


20(3):336-42
2. Anonim, 1979, Farmakope indonesia edisi III, Jakarta:Depkes Republik
Indonesia,hal 211.
3. Kaizung, G Bearam (2002)”Farmakologi Dasar dan Klinik edisi VII,
Penerbit Buku Salemba Medika,Jakarta.
4. Ganis (1980)’’Farmakologi dan Terapi’’edisi II, Penerbit buku bagian
Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,Jakarta

[Type text]
(METODE ANASTESI LOKAL)
“ANASTESI LOKAL METODE REGNIER”

[Type text]
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Obat bius lokal/anestesi lokal atau yang sering disebut pemati rasa
adalah obat yang menghambat hantaran saraf bila digunakan secara lokal pada
jaringan saraf dengan kadar yang cukup. Obat bius lokal bekerja pada tiap
bagian susunan saraf. Obat bius lokal bekerja merintangi secara bolak-balik
penerusan impuls-impuls saraf ke Susunan Saraf Pusat (SSP) dan dengan
demikian menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri, gatal-gatal, rasa panas
atau rasa dingin. Obat bius lokal mencegah pembentukan dan konduksi impuls
saraf. Tempat kerjanya terutama di selaput lendir. Disamping itu, anestesia
lokal mengganggu fungsi semua organ dimana terjadi konduksi/transmisi dari
beberapa impuls. Artinya, anestesi lokal mempunyai efek yang penting
terhadap SSP, ganglia otonom, cabang-cabang neuromuskular dan semua
jaringan otot

I.2 Tujuan percobaan :

1. Mengenal tiga teknik (Anestesi permukaan, mukosa /metoda regnier,


konduksi) untuk menyebabkan anestesi lokal pada beberapa hewan
percobaan.
2. Memahami faktor-faktor yang melandasi perbedaan-perbedaan dalam sifat
dan potensi anestetika lokal.
3. Mengenal berbagai faktor yang mempengaruhi kerja anestetika lokal
4. Menghubungkan potensi kerja Anestetika lokal dengan manifestasi gejala
toksisitasnya serta pendekatan rasional untuk mengatasi toksisitas
anestetika.

I.3 Prinsip percobaan


Mata normal bila disentuh pada kornea akan memberikan respon
refleks okuler (mata berkedip). Apabila mata di teteskan anestetika lokal,
refleks okuler timbul setelah beberapa kali kornea disentuh, sebanding dengan
kekuatan kerja anestetika dan besarnya sentuhan yang diberikan. Tidak adanya
refleks okuler setelah kornea disentuh 100 kali dianggap sebagai tanda adanya
anestesi total.

[Type text]
BAB II
DASAR TEORI

Anestetika lokal adalah obat yang menghambat hantaran saraf bila dikenakan
secara lokal pada jaringan saraf dengan kadar yang cukup. Anestetika lokal
menghilangkan keterangsan dari organ akhir yang menghantarkan nyeri dan
menghilangkan kemungkinan pengahantaran dari serabut saraf sensibel secara bolak-
balik pada tempat tertentu sebagai akibat dari rasa sensasi nyeri hilang untuk
sementara hilang. Kerja Anestetika lokal pada ujung saraf sensorik tidak spesifik.
Hanya kepekaan berbagai struktur yang dirangsang berbeda. Misalnya, fungsi motorik
tidak terhenti dengan dosis umum untuk anestetika lokal terutama karena serabut saraf
motorik mempunyai diameter yang lebih besar daripada serabut sensorik.

Oleh karena itu efek anestetika lokal menurun dengan kenaikan diameter
serabut saraf maka mula-mula serabut saraf sensorik dihambat dan baru pada dosis
yang lebih besar serabut saraf motorik dihambat.

Cara Kerja

Mekanisme kerja anestetika lokal yang terkenal ialah bahwa obat ini
menurunkan ketelapan membran terhadap kation, khususnya ion Natrium.
Menurunnya ketelapan membrane mempunyai arti yang sama dengan suatu
penurunan keterangsangan termasuk juga pada konsentrasi anestetika local yang
tinggi tidak dapat terangsang sama sekali dan serabut saraf, karena suatu rangsang
hanya dapat terjadi atau dapat dihanmtarkan jika terjadi gangguan potensial istirahat
membran akibat suatu kenaikan mendadak dari ketelapan terhadap Natrium. Blokade
saluran ion, khususnya saluran Natrium, akibat anestetika local terjadi menurut
mekanisme berikut : semua anestetika local tersimpan dalam membran sel karena sifat
lipofilnya dan melalui ekspansi membrane yang tak spesifik menutup saluran
Natrium. Disamping itu pada anestetika lokal basa terjadi juga reaksi dengan reseptor
terjadi pada sisi dalam membran.

Sifat-sifat dari anestetika lokal yang ideal, yaitu :

- Tidak mengiritasi dan merusak jaringan saraf secara permanen.


- Toksisitas sistemisnya rendah.
- Efektif pada penyuntikan dan penggunaan lokal
- Mula kerja dan daya kerjanya singkat untuk jangka waktu yang lama.
- Larut dalam air dengan menghasilkan larutan yang stabil dan tahan pemanasan
(proses sterilisasi)

Metode Regnier

[Type text]
Mata normal bila disentuh pada kornea akan memberikan respon refleks
okuler (mata berkedip). Apabila mata di teteskan anestetika lokal, refleks okuler
timbul setelah beberapa kali kornea disentuh, sebanding dengan kekuatan kerja
anestetika dan besarnya sentuhan yang diberikan. Tidak adanya refleks okuler setelah
kornea disentuh 100 kali dianggap sebagai tanda adanya anestesi total.

[Type text]
BAB III
PERCOBAAN

III.1 Alat dan Bahan

* Alat *Bahan
- Gunting - Kelinci dewasa dan sehat
- Pipet tetes - Larutan Lidocain HCl 2%
- Aplikator - Stopwatch

III.2 Prosedur Kerja

1. Siapkan kelinci. Gunting bulu mata kelinci agar tidak menganggu aplikator
2. Sebelum pemberian obat, cek ada/tidaknya respon refleks ocular mata (mata berkedip)
dengan menggunakan aplikator pada kornea mata secara tegak lurus pada menit ke-1.
CATATAN : Jangan terlalu keras menggunakan aplikator dan ritme harus diatur
3. Teteskan ke dalam kantong konjungtiva kelinci :
a. mata kanan : tetes mata lidokain HCL 2% sebanyak 1-2 tetes
b. mata kiri : tetes mata lidokain HCL 2% sebanyak 1-2 tetes
4. Tutup masing-masing kelopak mata kelinci selama satu menit
5. Cek ada / tidaknya respon refleks ocular mata (mata berkedip) dengan menggunakan
aplikator pada kornea mata secara tegak lurus pada menit ke-5, 10, 15, 20, 30, 45, 60.
6. Ketentuan metode Regnier :
a. Pada menit ke-8 :
- Jika pemberian aplikator sampai 100 kali tidak ada respon refleks okuler  maka
dicatat angka 100 sebagai respon negative.
- Jika pemberian aplikator sebelum 100 kali terdapat respon refleks okuler  maka
dicatat angka terakhir saat memberikan respon sebagai respon negative.
b. Pada menit ke 15, 20, 25, 30, 40, 50, 60
- Jika pemberian aplikator pada sentuhan pertama terdapat respon refleks okuler 
maka dicatat angka 1 sebagai respon negative dan menit-menit yang tersisa juga
diberi angka 1.
c. Jumlah respon refleks okular negative dimulai darimenit ke-8 hingga menit ke-60.
Jumlah ini menunjukkan angka Regnier dimana efek anastetika local dicapai pada
angka Regnier minimal 13 dan maksimal 800.
7. Catat dan tabelkan pengamatan
8. Setelah percobaan di atas selesai, teteskan larutan fisiologis NaCl 0,9% pada kedua mata
kelinci

BAB IV
HASIL PENGAMATAN

Ada / tidaknya respon refleks Okular jumlah


Percobaan Bahan Obat (menit ke-)
0 8 15 20 25 30 40 50 60
Anastesi Mata Lidokain - 13 5 7 1 1 1 1 1 30
local kelinci HCl 2%
metode kanan
Regnier Mata Lidokain - 15 3 5 3 1 1 1 1 30
kelinci HCl 2%
kiri

BAB V

PEMBAHASAN

[Type text]
Pada percobaan ini menit ke 0, mata kanan masih masih berkedip secara normal.
Hal ini terjadi karena obat lidokain yang diteteskan ke mata bagian kanan belum
mencapai efek anastesi. Pada menit ke 8, efek obat mulai mencapai efek terapi yang
ditunjukkan pada saat kornea mata kanan diketukkan dengan misai secara tegak lurus
pada mata bagian tengah sebanyak 100kali ketukkan. Pada menit ke 15, efek anastesi
mulai berkurang sehingga mata kanan kembali berkedip pada saat diketukkan dengan
misai pada kornea mata kanan sebanyak 5 kali ketukkan. Namun pada menit ke 20 mata
kanan kelinci berkedip pada ketukan ke 7 dan pada menit ke 25 berkedip saat ketukan
pertama menandakan efek lidokain pada mata kelinci mulai menghilang,faktor yang
menyebabkan hasil refleks okuler mengalami fluktuasi adalah saat mengetuk misai ke
mata kelinci tekanannya tidak konstan,dan dilakukan lebih dari satu orang/orang yang
berbeda.

Pada menit ke 0, mata kiri masih berkedip normal. Hal ini terjadi karena obat
tetraklin yang diteteskan ke mata bagian kiri belum mencapai efek terapi. Pada menit ke
8, saat ketukkan ke 15 kali efek obat sudah mulai berkurang sehingga mata hewan uji
berkedip. Pada menit ke 15, efek anastesi mulai berkurang sehingga mata kanan kembali
berkedip pada saat diketukkan dengan misai pada kornea mata kanan sebanyak 3 kali
ketukkan. Namun pada menit ke 20 mata kanan kelinci berkedip pada ketukan ke 5 dan
pada menit ke 25 berkedip saat ketukan ketiga dan pada menit ke 30 kelinci mengalami
refleks okuler saat pengetukan yang pertama menandakan efek lidokain pada mata
kelinci mulai menghilang,faktor yang menyebabkan hasil refleks okuler mengalami
fluktuasi adalah saat mengetuk misai ke mata kelinci tekanannya tidak konstan,dan
dilakukan lebih dari satu orang/orang yang berbeda.

. Total regnier pada mata kanan hewan uji yaitu kelinci adalah 30, dan pada mata
kiri adalah 30. Hal ini menunjukkan bahwa anastesi yang digunakan masih memberikan
respon positif yang nilainya masih dalam range antara 13 sampai 800.

BAB VI

KESIMPULAN
[Type text]
Terdapat beberapa macam obat anestetika lokal, masing-masing obat memiliki
kekuatan kerja dan toksisitas yang berbeda.Anastesi yang digunakan masih memberikan
respon positif yang nilainya masih dalam range antara 13 sampai 800.

BAB VII

[Type text]
DAFTAR PUSTAKA

1. Katzung, Bertram. 1997. Farmakologi Dasar dan Terapi. Jakarta : EGC.


2. Mardjono, M. 2007. Farmakologi dan Terapi. Jakarta : Gaya Baru.
3. Gunawan. 2007. Farmakologi Dan Terapi. Jakarta : Gaya Gon.
4. Goodman & Gilman. 2008. Farmakologi Terapi. Jakarta : EGC.

(METODE ANASTESI LOKAL)


[Type text]
“ANASTESI LOKAL METODE INFILTRASI”

[Type text]
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Juduk Praktikum

Anestesi Lokal infiltrasi

I.2 Latar Belakang

Anestesi infiltrasi adalah anestesi yang bertujuan untuk menimbulkan anestesi


ujung saraf melalui injeksi pada atau sekitar jaringan yang akan dianestesi sehingga
mengakibatkan hilangnya rasa dikulit dan jaringan yang terletak lebih dalam misalnya
daerah kecil dikulit atau gusi (pencabutan gigi).

Anastesi ini sering dilakukan pada anak-anak untuk rahang atas ataupun rahang
bawah. Mudah dikerjakan dan efektif. Daya penetrasi anastesi infiltrasi pada anak-
anak cukup dalam karena komposisi tulang dan jaringan belum begitu kompak.

I.3 Tujuan Percobaan

a. Mengtahui aktivitas anestetika lokal suatu obat.


b. Mengetahui gejala-gejala terjadinya anestetika lokal yang ditimbulkan
oleh anestetika lokal infiltrasi.

I.4 Prinsip Percobaan

Obat anastetika lokal yang disuntikkan kedalam jaringan akan mengakibatkan


kehilangan sensasi pada struktur sekitarnya.

[Type text]
BAB II
DASAR TEORI

Teknik Anestesi

Ada dua teknik anestesi lokal yang memberikan hasil yang baik, yaitu blok
dan infiltrasi. Kedua cara ini masing-masing mempunyai keuntungan dan kerugian.

1. Blok

Dilakukan dengan menyuntikkan obat anestesi di area tertentu dimana saraf


yang mempersarafinya diblok agar rangsang nyeri tidak dilanjutkan. Jadi dengan
teknik blok, anestesi dilakukan di proksimal daerah operasi. Pada daerah
operasinya dapat juga ditambahkan anestesi infiltrasi. Penguasaan anatomis
persarafan sangat penting diketahui.

Keuntungan:

 Keberhasilan cukup tinggi

 Area yang teranestesi relatif bisa lebih luas dibandingkan dengan anestesi
infiltrasi

 Obat yang dipakai lebih sedikit sehingga menurunkan toksisitas

Kerugian

 Teknik lebih rumit

 Penyuntikan tergantung daerah operasi

 Tidak semua daerah operasi dapat dilakukan tindakan anestesi ini

 Cedera saraf permanen

2. Infiltrasi

Dilakukan penyuntikan di sekitar area operasi. Suntikan dilakukan di daerah


subkutis. Teknik yang berkembang saat ini adalah field blok, yaitu menginfiltrasi
suatu area dengan terget operasi ditengahnya. Setelah seluruh pinggir area
diinfiltrasi, area tepat diatas insisi diinfiltrasi lagi. Jarak antara pinggir daerah
yang diinfiltrasi dengan target operasi tidak melebihi 2 cm. Jika lebih maka
kemungkinan masih ada impuls saraf yang tidak terblok. Jika memang masa yang
akan operasi cukup besar, kemungkinan diperlukan infiltrasi beberapa lingkaran,

[Type text]
agar area yang diinfiltrasi menjadi luas. Kedalaman infiltrasi tergantung dari jenis
operasi. Jika masa yang diambil cukup dalam, maka perlu juga dilakukan infiltrasi
lebih dalam, bahkan sampai otot atau periosteum.

Teknik infiltrasi

1. Masukan jarum di salah satu sudut area operasi.

2. Arahkan ke area kanan, aspirasi, jarum dicabut (tetapi tidak sampai lepas dari
kulit) sambil obat dikeluarkan.

3. Jarum dibelokan ke arah kiri, aspirasi, jarum dicabut sambil obat dikeluarkan.

4. Masukan jarum di sudut yang bersebrangan dengan sudut tadi

5. Arahkan ke area kanan, aspirasi, jarum dicabut (tetapi tidak sampai lepas dari
kulit) sambil obat dikeluarkan

6. Jarum dibelokan ke arah kiri, aspirasi, jarumdicabut sambil obat dikeluarkan.

7. Lanjutkan penyuntikan ketiga tepat diatas garis yang akan diinsisi

8. Masase

9. Cek dengan menjepitkan pinset

Komplikasi Tindakan Anestesi

1. Hematom

Terjadi karena pecahnya pembuluh darah ketika anestesi yang kemudian


darah berkumpul di submukosa sehingga menimbulkan benjolan. Hematom ini
dapat terus membesar atau berhenti tergantung dari besarnya pembuluh darah
yang terkena. Pada pembuluh darah kecil biasanya hematom tidak membesar
karena platelet plug sudah cukup untuk menghentikan kebocoran tadi. Jika
terjadi hematom, kita evaluasi beberapa saat apakah hematom itu terus
membesar atau tetap. Jika terus membesar, kita harus berusaha mencari
pembuluh darah yang pecah dan mengikatnya kemudian membuang bekuan
darah yang terkumpul. Tetapi jika hematom tidak membesar hanya diperlukan
membuang masa hematomnya saja.

2. Udem

Disebabkan terlalu banyaknya obat anestesi yang diberikan sehingga obat


tersebut berkumpul dalam jaringan ikat longgar mukosa dan sub mukosa. Hal
ini akan mempersulit ketika melakukan penjahitan. Udem akibat anestesi ini
diabsorpsi dalam 24 jam

[Type text]
3. Syok Anafilaktik

Syok anafilaksis disebabkan oleh reaksi hipersensitifitas type I. Terjadi


vasodilatasi perifer sehingga terjadi pengumpulan darah di perifer. Akibatnya
terjadi penurunan venous return sehingga cardiac output pun menurun.

[Type text]
BAB III
PERCOBAAN

III.1 Alat dan Bahan

 Alat

 Gunting

 Pisau cukur

 Spuit 1 ml

 Spidol

 Peniti

 Bahan

 Kelinci dewasa dan sehat

 Larutan lidocain

III.2 Prosedur Kerja

1. Belah bulu punggung kelinci menjadi dua bagian, sisi kanan yang akan di
suntik larutan lidocain, dan sisi satunya sebagai blanko.

2. Gunting bulu kelinci pada kedua sisi punggungnya dan cukur hingga bersih
kulitnya (hindari terjadinya luka).

3. Buat daerah penyuntikkan dengan spidol dengan jarak minimal 3 cm

4. Uji getaran otot dengan memberikan sentuhan ringan pada daerah


penyuntikkan dengan peniti, setiap kali enam sentuhan

5. Suntikkan larutan diatas pada daerah penyuntikkan secara intrakutan

6. Lakukan uji getaran setelah penyuntikkan

7. Catat data pengamatannya!

[Type text]
BAB IV
HASIL PENGAMATAN

Ada/Tidaknya Getaran Otot Punggung Kelinci


sebanyak 6 kali dengan mengunakan Peniti
Percoba (menit ke-)
Bahan Obat
n
0 5 1 1 2 2 3 3 4 4 5 5 6
0 5 0 5 0 5 0 5 0 5 0

Punggun
g kelinci Lidokain + - + + + + + + + + + + +
kanan
Anastesi
local Lidokain
metode +
infiltrasi Punggun adrenali + - - - - + + + + + + + +
g kelici n
kiri

Keterangan :

(+) : Menandakan masih adanya respon

(-) : Menandakan sudah tidak ada respon (Sudah teranastesi)

Lidocain 2% sebanyak 0,2 ml secara Subkutan

Lidocain 2%+adrenalin sebanyak 0,2 ml secara Subkutan

[Type text]
BAB V
PEMBAHASAN

Lidokain adalah derivat asetanilida yang merupakan obat pilihan utama untuk
anestesi permukaan maupun infiltrasi. Lidokain adalah anestetik lokal kuat yang
digunakan secara luas dengan pemberian topikal dan suntikan. Anestesi terjadi lebih
cepat, lebih kuat, lebih lama, dan lebih ekstensif daripada yang ditimbulkan oleh
prokain. Lidokain ialah obat anestesi lokal yang banyak digunakan dalam bidang
kedokteran oleh karena mempunyai efek kerja yang lebih cepat dan bekerja lebih
stabil dibandingkan dengan obat-obat anestesi lokal lainnya. Obat ini mempunyai
kemampuan untuk menghambat konduksi di sepanjang serabut saraf secara reversibel,
baik serabut saraf sensorik, motorik, maupun otonom. Kerja obat tersebut dapat
dipakai secara klinis untuk menyekat rasa sakit atau impuls vasokonstriktor menuju
daerah tubuh tertentu. Lidokain mampu melewati sawar darah otak dan diserap secara
cepat dari tempat injeksi. Dalam hepar, lidokain diubah menjadi metabolit yang lebih
larut dalam air dan disekresikan ke dalam urin. Absorbsi dari lidokain dipengaruhi
oleh beberapa faktor, antara lain tempat injeksi, dosis obat, adanya vasokonstriktor,
ikatan obat, jaringan, dan karakter fisikokimianya.

Pada percobaan kali ini, punggung kelinci bagian kanan disuntikkan obat anastesi
lidocain, punggung bagian kiri disuntikkan obat lidokain+adrenalin, berdasarkan data
pengamatan lidocain pada menit ke 5 tidak memberikan efek tetapi pada menit ke 10
sampai ke 60 lidokain memberikan efek, sedangkan Lidocain + Adrenalin pada menit
ke 5 sampai 20 tidak memberikan efek dan pada menit ke 25 sampai 60 baru
memberikan efek dengan memberikan getaran pada punggung kelinci tersebut. Hal
ini sesuai teori karena penambahan adrenalin pada larutan anaestetika lokal akan
memperpanjang dan memperkuat kerja anaestesi lokal.

[Type text]
BAB VI
KESIMPULAN

Anestesi Infiltrasi bertujuan untuk menimbulkan anestesi ujung saraf melalui


injeksi pada atau sekitar jaringan yang akan dianestesi sehingga mengakibatkan
hilangnya rasa di kulit dan jaringan yang terletak lebih dalam, misalnya daerah kecil
di kulit atau gusi (pada pencabutan gigi).

Lidocain merupakan obat terpilih untuk anaestesi lokal karena memberikan


efek mula kerja yang cepat dan lebih aman dibanding Procain dan Tetracain. Lidocain
lebih efektif bila digunakan tanpa vasokontriktor ( adrenalin ), tetapi kecepatan absopsi
dan toksisitasnya bertambah dan masa kerjanya lebih pendek. Penambahan
vasokontriktor berguna untuk mengurangi kecepatan absorpsi anaestesi lokal sehingga
dapat mengurangi toksisitas sistemiknya tetapi akan memperpanjang dan memperkuat
kerja anaestesi lokal.
BAB VII
DAFTAR PUSTAKA

1. Ganiswarna,1995.Farmakologi dan Terapi, edisi keempat. Jakarta: Universitas


Indonesia-Press

2. Farmakologi dan Terapi, Edisi 5, Bagian Farmakologi Fakultas kedokteran


Universitas Indonesia
3. Katzung, Bertram. 1997. Farmakologi Dasar dan Terapi. Jakarta : EGC

[Type text]
(METODE ANASTESI LOKAL)
“ANASTESI LOKAL METODE KONDUKSI”

BAB I
PENDAHULUAN
[Type text]
I.1 Latar Belakang

Anestetik lokal ialah obat yang menghasilkan blokade konduksi atau


lokade lorong natrium pada dinding saraf secara sementara terhadap rangsang
transmisi sepanjang saraf, jika digunakan pada saraf sentral atau perifer.
Anestetik lokal setelah keluar dari saraf diikuti oleh pulihnya konduksi saraf
secara spontan dan lengkap tanpa diikuti oleh kerusakan struktur saraf.
Anestetik lokal menghilangkan penghantaran saraf ketika digunakan secara
lokal pada jaringan saraf dengan konsentrasi tepat. Bekerja pada sebagian
Sistem Saraf Pusat (SSP) dan setiap serabut saraf. Kerja anestetik lokal pada
ujung saraf sensorik tidak spesifik. Hanya kepekaan berbagai struktur yang
dapat dirangsang berbeda. Serabut saraf motorik mempunyai diameter yang
lebih besar daripada serabut sensorik. Oleh karena itu, efek anestetika lokal
menurun dengan kenaikan diameter serabut saraf, maka mula-mula serabut
saraf sensorik dihambat dan baru pada dosis lebih besar serabut saraf
motorik dihambat.

I.2 Tujuan Percobaan

1. Mengenal tiga teknik untuk mencapai anestetika lokal pada


berbagai hewan percobaan
2. Memahami faktor-faktor yang melandasi perbedaan-perbedaan dalam sifat
dan potensi anestetika lokal
3. Mengenal berbagai faktor yang mempengaruhi kerja anestetika lokal
4. Dapat mengkaitkan daya kerja anestetika lokal dengan menifestasi gejala
keracunan serta pendekatan rasional untuk mengatasi keracunan

I.3 Prinsip Percobaan

Anastetika Konduksi adalah Anestetika local yang disuntikkan di


sekitar saraf tertentu yang dituju dan hantaran rangsang pada tempat ini
diputuskan.

[Type text]
BAB II
DASAR TEORI

Anestesia konduksi (juga di sebut blockade-saraf perifer), yaitu injeksi di tulang


belakang pada suatu tempat berkumpulnya banyak saraf, hingga tercapai anesthesia dari suatu
daerah yang lebih luas, terutama pada operasi lengan atau kaki, juga bahu. Lagi pula
digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat. Pada anestesi konduksi, Anestetika lokal yang
di suntikan di sekitar saraf tertentu yang dituju dan hantaran rangsang pada tempat ini
diputuskan. Bentuk khusus dari anestesi konduksi ini adalah anestesi spinal, anestesi epidural
dan anestesi kaudal.
BAB III
PERCOBAAN

III.1 Alat dan Bahan

 Alat
 Spuit 1 dan 3 ml
 Klem/Pinset ekor
 Silinder khusus mencit
 Timbangan
 Spidol
 Stopwatch
 Bahan
 Mencit jantan 3 ekor
 NaCl Fisiologis
 Lidokain

III.2 Prosedur Kerja

1. Semua mencit dicoba dulu respon haffner (ekor mencit dijepit dan dilihat
angkat ekor atau menit bersuara) dan hanya dipilih hewan hewan yang
member respon haffner negatif, artinya hewan mengangkat ekor/bersuara
2. Hewan hewan dikelompokkan dan ditimbang dan diberi tanda
3. Mencit dimasukkan kedalam silinder (kotak penahan mencit) dan hanya
ekornya yang dikeluarkan. Jumlah silinder disesuaikan dengan jumlah
mencit dari satu kelompok
4. Ekor mencit kemudian dijepit pada jarak 0,5cm dari pangkal ekor.
Manifestasi rasa nyeri ditunjukkan dengan refleks gerakan tubuh mencit
atau dengan suara kesakitan. Respon demikian dicatat sebagai haffner
negatif.
5. Pada waktu t =0, masing masing mencit dari kelompok yang sama
disuntik. Pehacain divena ekor, kelompok control hanya disuntik larutan
pembawanya dengan cara penyuntikkan yang sama.
6. Setalah waktu t=10 menit, masing masing mencit diperiksa respon haffner;
dan selanjutnya dilakukan hal yang sama pada t=15 dan 20 menit. Hasil
pengamatan dicatat dalam sebuah tabel!
BAB IV
HASIL PENGAMATAN

Ada/Tidaknya Respon
Haffner (menit ke-)
Percoban Bahan Obat
0 1 1 2 2 30
0 5 0 5

Mencit Lidokain + + + + + +
Anastesi
local
metode Larutan + + + + + +
Regnier NaCL
0,09 %

Keterangan :

(+) : Menandakan masih adanya respon

(-) : Menandakan sudah tidak ada respon (Sudah teranastesi)

Perhitungan Metode Konduksi pada Mencit :

 Dosis Lidokain 50mg+300mg = 175 mg

2
1. Mencit ke-1 (Jantan, BB= 34 gram)
Sebagai kontrol (disuntik NaCL 0,09% 0,5ml)

2. Mencit ke-2 (Jantan, BB=27 gram)


27 grm
Dosis= X 0,0026 X 175mg= 0,6143 mg
20 gram
0,6143mg
Volume penyuntikan x 1 ml= 0,03 ml
20 mg
BAB V
PEMBAHASAN

Dari hasil percobaan ternyata Lidocain memiliki efek anastesi yang lebih cepat.
Teknik pemberian anastesi konduksi disuntikkan di sekitar saraf tertentu yang dituju atau
injeksi tulang belakang, yaitu pada suatu tempat berkumpulnya banyak saraf hingga tercapai
anastesi dari suatu daerah yang lebih luas.

[Type text]
BAB VI
KESIMPULAN

Anestesi konduksi merupakan teknik anestetika lokal yang di suntikan di


sekitar saraf tertentu yang dituju dan hantaran rangsang pada tempat ini diputuskan.
Terdapat bermacam-macam obat anestesi yang dapat digunakan dengan teknik
anestesi konduksi, dimana masing-masing obat memiliki kekuatan kerja, toksisitas,
kecepatan absorpsi yang berbeda-beda. Lidocain adalah anastetik lokal yang kuat dan
lebih cepat yang digunakan secara luas dengan pemberian topikal dan suntik.
Anestesi konduksi (penyaluran saraf) yaitu dengan penyuntikan di suatu tempat
dimana banyak saraf terkumpul, sehingga mencapai anestesia dari suatu daerah yang
luas, misal pada pergelangan tangan atau kaki, juga untuk mengurangi nyeri yg hebat.

[Type text]
BAB VII
DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim, 1979, Farmakope indonesia edisi III, Jakarta:Depkes Republik


Indonesia,hal 211.
2. Ganis (1980)’’Farmakologi dan Terapi’’edisi II, Penerbit buku bagian
Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,Jakarta.
3. Becker DE,Read KL.Local anesthetic : review of Pharmacology
considerations:American dental society of anesthesiology.Januari 2012,59;90-102.

[Type text]