Anda di halaman 1dari 323

Pengelolaan Hutan Berkelanjutan dalam Kerangka Pembaruan Sistem

Hukum Lingkungan
dan Tata Ruang Berbasis Perubahan Iklim

TEORI HUKUM DAN REVOLUSI INDUSTRI 4.0

i
ii
Dr.. Danrivanto Budhijanto,
Dr
SH., LL .M in IT Law
LL.M Law,, FCBArb.

Teori Hukum
& Revolusi
Industri 4.0

LoGoz
Publishing

iii
TEORI HUKUM DAN © 2018.
REVOLUSI INDUSTRI 4.0 Hak Cipta dilindungi
oleh undang-undang.
Dr. Danrivanto Budhijanto,
SH., LL.M in IT Law, FCBArb. Hak Cipta dimiliki oleh penulis.
Dilarang memperbanyak
© 2018 sebagian atau seluruh isi buku
ini dalam bentuk apa pun tanpa
izin penulis dan penerbit.
Cetakan Pertama,
Agustus 2018
Katalog Dalam Terbitan

TEORI HUKUM DAN


REVOLUSI INDUSTRI 4.0
Diterbitkan oleh
LOGOZ PUBLISHING Dr. Danrivanto Budhijanto,
SH., LL.M in IT Law, FCBArb.
Soreang Indah V-20
Bandung 40911 –Ed.1. –Cet. 1.
Telp/Fax 022-85874472 - – Bandung: Logoz Publishing, 2018
081322702828 1 jil., xvi + 305 hlm.; ilus.; 15 x 21 cm
logozpublishing@gmail.com

Anggota IKAPI ISBN 978-602-9272-83-3

Penyunting & Tata Letak


Aep Gunarsa

Desain Sampul
Hendra Kurniawan

iv
Kata Pengantar

“Ketertiban adalah tujuan pokok dan pertama


daripada segala hukum. Kebutuhan ketertiban ini,
syarat pokok (fundamental) bagi adanya suatu
masyarakat manusia yang teratur.”
Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, 1972

Paradoks Teori Hukum tidak diketahui kapan dimulainya namun


yang pasti belum akan berakhir sampai dengan hari ini yang telah
memasuki Revolusi Industri 4.0 (Abad Digital Informasi).
Terminologi Pa-ra-doks (n) adalah pernyataan yang seolah-olah
bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau
kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran (lihat
Kamus Besar Bahasa Indonesia-KBBI Dalam Jaringan). Teori
Hukum terkadang keliru dipahami sebagai domain absolut dari
teoritikus dan akademisi yang hanya berinteraksi dengan konsep,
paradigma, dan prinsip. Sering kali muncul dikotomi tanpa dasar
yaitu Teori Hukum sebagai Law in Theory atau Law in Books
dengan Praktik Hukum sebagai Law in Actions atau Law in Prac-
tices.
Trio teoretikus sepanjang masa yaitu Socrates, Aristoteles, dan
Plato akan terkaget-kaget kalaulah tidak dikatakan gamang jika

v
mereka masih bisa menjadi saksi hidup dari Revolusi Industri
Keempat atau The Fourth Industrial Revolution (Revolusi Industri
4.0). Evolusi bahkan revolusi Teori Hukum tidak hanya memiliki
karakter filosofis, historis, humanis, sosiologis, psikologis, bahkan
ekonomis namun sudah mengarah kepada teknologis. Ternyata
yang dapat mengantisipasi permasalahan yang muncul akibat
pemanfaatan teknologi adalah sistem hukum, bukan teknologinya
itu sendiri. Gregory N. Mandel memberikan ketegasan hal
dimaksud dalam “History Lessons for a General Theory of Law
and Technology”, Minnesota Journal of Law in Science and Tech-
nology, Vol. 8:2, 2007 yaitu:
“The marvels of technological advance are not always risk-
free. Such risks and perceived risks often create new issues
and disputes to which the legal system must respond.”
(Dicetak tebal oleh Penulis)

Globalisasi menyebabkan terjadinya konvergensi dari tatanan


hukum (legal order) atau sistem hukum. Para ahli hukum dan
ekonomi telah memprediksikan bahwa tatanan hukum akan
bergerak ke arah yang lebih memadai. Mereka berpendapat
bahwa implikasi dari globalisasi akan memaksa tatanan hukum
untuk berkonvergensi sehingga tercapainya efisiensi secara
ekonomis. Hal dimaksud dikarenakan tatanan regulasi terkait dari
suatu tatanan hukum akan membuat satu sistem hukum saja tidak
akan mampu memberikan solusi yang optimal dari permasalahan-
permasalahan yang muncul. Banyak para ahli hukum
meramalkan suatu konvergensi yang serupa akan terjadi,
khususnya para ahli hukum yang menganut faham fungsionalis

vi
komparatif (functionalist comparatists) menyakini bahwa konsep
unifikasi hukum adalah diinginkan dan tidak terelakkan dalam
suatu tatanan hukum.
Penulis menyadari tidak sederhananya membentuk
konstruksi teori hukum dalam penerapan terkini yaitu Revolusi
Industri Keempat atau The Fourth Industrial Revolution (Revolusi
Industri 4.0). Buku ini ditulis sebagai kepedulian Penulis terhadap
perlunya pemahaman yang lebih sistemik dan aplikatif dari
konsep-konsep yang dikenal dalam Teori Hukum di Indonesia.
Mochtar Kusumaatmadja mengusung Teori Hukum
Pembangunan pada tahun 1970’an dengan pendekatan
keseluruhan asas, kaidah, proses, dan lembaga sebagai landasan
pembangunan bangsa. Kemudian pada tahun 2009, Satjipto
Rahardjo memperkenalkan Teori Hukum Progresif dengan
pemahaman Pertama, bahwa hukum selalu ditempatkan untuk
mencari landasan pengesahan atas suatu tindakan yang
memegang teguh ciri prosedural dari dasar hukum dan dasar
peraturan, Kedua, bahwa hukum dalam pembangunan adalah
sifat instrumental yang mengalami pertukaran dengan kekuatan-
kekuatan di luar hukum sehingga hukum menjadi sarana
perekayasaan sosial.
Romli Atmasasmita pada tahun 2012 menerbitkan buku
dengan judul Teori Hukum Integratif, yang memahami fungsi dan
peranan hukum sebagai sarana pemersatu dan memperkuat
solidaritas masyarakat dan birokrasi dalam menghadapi
perkembangan dan dinamika kehidupan, baik di dalam lingkup
NKRI maupun di dalam lingkup perkembangan internasional.
Romli menegaskan bahwa Teori Hukum Integratif harus dipahami

vii
dalam pengertian dinamis, tidak bersifat status quo dan pasif,
melainkan memiliki mobilitas fungsi dan peranannya secara aktif
sesuai dengan perkembangan keadaan masyarakat nasional dan
internasional dari waktu ke waktu.
Teori Hukum Konvergensi merupakan pemahaman
konseptual dan teoretikal Penulis dari penyatuan (convergence)
variabel-variabel teknologi, ekonomi, dan hukum terhadap
hubungan manusia dan masyarakat dalam Revolusi Industri 4.0
baik dalam tataran nasional, regional maupun tataran
internasional. Paradigma dari konvergensi tatanan hukum dapat
dilakukan pemahaman yang lebih mendalam dengan mengkaji
pendekatan konsepsi konvergensi dan konsepsi non-konvergensi
hukum. Pendekatan untuk mencari keterkaitan dengan
persamaan atau perbedaan antara sistem hukum, atau
membandingkan sistem hukum yang berbeda diharapkan dapat
menjelaskan pentingnya konsepsi konvergensi hukum.
Buku ini diawali dengan Bab I yang membahas tentang
konstruksi teori hukum dalam revolusi industri yang menguraikan
evolusi teori hukum abad modern (post modern), dan paradigma
Teori Hukum Pembangunan terhadap konsep hukum sebagai
sarana pembaharuan masyarakat (law as a tool of social engi-
neering), serta fenomena dan ontologi terhadap hukum dan
teknologi. Bab II membahas lebih lanjut tentang dinamika revolusi
industri terhadap filsafat dan sains yaitu perkembangan teknologi
informasi dan komunikasi dalam revolusi industri, dan
pemanfaatan teknologi dalam filsafat dan sains, serta filsafat
teknologi dalam pemanfaatan teknologi informasi dan
komunikasi. Bab III memulai pembahasan tentang konsep hukum

viii
sarana pembaharuan masyarakat dalam Teori Hukum
Konvergensi yang menguraikan tentang paradigma konvergensi
tatanan hukum, dan pendekatan konsepsi konvergensi dan non-
konvergensi dalam hukum, serta konsep harmonisasi hukum. Bab
IV sampailah pada pembentukan Teori Hukum Konvergensi
dalam revolusi industri yang menguraikan konsep konvergensi
hukum dalam upaya pembentukan hukum yang antisipatif
terhadap perkembangan zaman, fungsi hukum sebagai sarana
pembaharuan masyarakat dalam dimensi konvergensi teknologi
informasi dan komunikasi (TIK), dan Teori Hukum Konvergensi
bagi kerangka pembangunan di Indonesia. Buku ini ditutup oleh
Bab V yang menegaskan paradigma futurikal Teori Hukum dalam
Revolusi Industri 4.0 dengan pembahasan tentang konvergensi
tujuan hukum, fungsi hukum, dan peran hukum dalam Revolusi
Industri 4.0 di indonesia.
Materi-materi yang disusun dalam Buku ini didasarkan
kepada rujukan dari tulisan-tulisan ilmiah berbentuk buku, jurnal
ilmiah, laporan penelitian, kamus dan karya tulis lain dimana
seluruh Hak Cipta yang melekat sepenuhnya dilindungi oleh
undang-undang bagi para penulisnya.
Buku ini merupakan bentuk syukur dan penghargaan untuk
seluruh ilmu pengetahuan dari para maha guru Penulis,
terutamanya dalam memahami filsafat hukum dan teori hukum
yaitu Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, Prof. Dr. Komar
Kantaatmadja, Prof. Dr. Lili Rasjidi, Prof. Dr. HE Saefullah
Wiradipradja, Prof. Dr. Bernard Arief Sidharta, Prof. Dr. HR Otje
Salman, dan Prof. Dr. Romli Atmasasmita.

ix
Buku ini tentu tidak akan pernah dapat terwujud dengan
tanpa izin dan ridha Allah SWT karenanya dihaturkan terima kasih
dan penghargaan bagi seluruh pihak yang dengan telah ikhlas
membantu dengan tulus. Namun izinkan Penulis secara khusus
menghaturkan terima kasih atas kebaikan dan bantuan yang luar
biasa kepada Aep Gunarsa sebagai Editor dan Hendra Kurniawan
sebagai Desainer Sampul. Penulis haturkan pula terima kasih
kepada penerbit LoGoz.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa Buku ini hanyalah
sebagian kecil dari keinginan untuk memahami samudera ilmu-
Nya Yang Maha Luas oleh karenanya kekurangan adalah suatu
kenyataan. Besar harapan dari Penulis bahwa saran dan masukan
dapatlah diberikan sebagai upaya untuk lebih meningkatkan
pemahaman atas kebesaran dan keimanan kepada Allah SWT.

Bandung, Agustus 2018

Danrivanto Budhijanto

x
Daftar Isi

KATA PENGANTAR ........................................................ v

BAB I
KONSTRUKSI TEORI HUKUM
DALAM REVOLUSI INDUSTRI ......................................... 1
A. Evolusi Teori Hukum Abad Modern (Post Modern) ........ 1
1. The Economic Analysis of Law .............................. 7
2. The Critical Legal Studies .................................... 21
B. Paradigma Teori Hukum Pembangunan terhadap
Konsep Hukum sebagai Sarana Pembaharuan
Masyarakat (Law as a Tool of Social Engineering)......... 33
1. Arti Hukum dan Fungsinya dalam Masyarakat ....... 40
2. Hukum sebagai Kaidah Sosial.............................. 41
3. Hukum dan Kekuasaan ...................................... 42
4. Hukum dan Nilai-Nilai Sosial Budaya................... 46
5. Hukum sebagai Sarana Pembaharuan Masyarakat . 50
C. Fenomena dan Ontologi
terhadap Hukum dan Teknologi ............................... 52

xi
1. Fenomena Hukum dan Teknologi ....................... 52
2. Ontologi Hukum dan Teknologi .......................... 58

BAB II
DINAMIKA REVOLUSI INDUSTRI
TERHADAP FILSAFAT DAN SAINS ................................ 63
A. Perkembangan Teknologi Informasi
dan Komunikasi dalam Revolusi Industri .................... 63
1. Pengertian dan Kategorisasi
Teknologi Informasi dan Komunikasi .................... 63
a. Pengertian Teknologi Informasi
dan Komunikasi .......................................... 63
b. Kategorisasi Teknologi Informasi
dan Komunikasi .......................................... 67
2. Peran dan Implikasi Teknologi
Informasi dan Komunikasi ................................... 70
B. Pemanfaatan Teknologi dalam Filsafat dan Sains ......... 77
1. Pemikiran tentang Pemanfaatan Teknologi ............ 77
a. Manusia dan Teknologi ................................ 78
b. Filsafat, Sains dan Teknologi.......................... 82
2. Hubungan antara Filsafat Teknologi
dan Filsafat Sains ................................................ 87
a. Filsafat Teknologi Sebelum Abad ke-20 .......... 87
b. Filsafat Teknologi Abad ke-20 ....................... 92
C. Filsafat Teknologi dalam Pemanfaatan
Teknologi Informasi dan Komunikasi ......................... 96
1. Ontologi Teknologi Informasi dan Komunikasi ..... 100
2. Alat yang Digunakan untuk Sesuatu
dalam Paradigma Filsafat Teknologi .................... 106

xii
BAB III
KONSEP HUKUM SARANA
PEMBAHARUAN MASYARAKAT
DALAM TEORI HUKUM KONVERGENSI ...................... 109
A. Paradigma Konvergensi Tatanan Hukum .................. 109
1. Paradigma Konvergensi Tatanan Hukum ........... 115
B. Pendekatan Konsepsi Konvergensi
dan Non-Konvergensi dalam Hukum ....................... 119
1. Pendekatan Konvergensi Hukum ........................ 120
2. Pendekatan Non-Konvergensi Hukum ................ 121
C. Konsep Harmonisasi Hukum ................................... 123
1. Harmanisasi Formal ........................................... 125
2. Harmonisasi Informal......................................... 128
3. Proses Harmonisasi Informal ............................... 128
4. Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan
di Indonesia...................................................... 129

BAB IV
PEMBENTUKAN TEORI HUKUM KONVERGENSI
DALAM REVOLUSI INDUSTRI ...................................... 143
A. Konsep Konvergensi Hukum dalam Upaya
Pembentukan Hukum yang Antisipatif
terhadap Perkembangan Zaman .............................. 143
B. Fungsi Hukum sebagai Sarana Pembaharuan
Masyarakat dalam Dimensi Konvergensi
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) ................. 151
1. Pengaturan Internasional dalam Kerangka World
Trade Organization (WTO) dan World Intellectual
Property Rights (WIPO) terhadap Pemanfaatan

xiii
Teknologi Informasi dan Komunikasi ................... 154
a. World Trade Organization (WTO) ................ 154
b. World Intellectual Property
Organization (WIPO) .................................. 158
2. Kebijakan Regulasi dalam Pendekatan Fungsi
Hukum sebagai Sarana Pembaharuan Masyarakat
dalam Dimensi Konvergensi Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK)........................... 164
C. Teori Hukum Konvergensi bagi Kerangka
Pembangunan di Indonesia ..................................... 175
1. Pembentukan Teori Hukum Konvergensi
bagi Kerangka Pembangunan di Indonesia .......... 175
2. Konstruksi Teori Hukum Konvergensi
bagi Kerangka Pembangunan di Indonesia .......... 181

BAB V
PARADIGMA FUTURIKAL TEORI HUKUM
DALAM REVOLUSI INDUSTRI 4.0 ................................ 205
A. Konvergensi Tujuan Hukum
dalam Revolusi Industri 4.0 ...................................... 215
1. Konsepsi Keadilan ............................................ 222
2. Konsepsi Kepastian Hukum ................................ 232
3. Konsepsi Ketertiban ........................................... 235
4. Konsepsi Kemanfaatan ...................................... 237
B. Konvergensi Fungsi Hukum
dalam Revolusi Industri 4.0 ...................................... 246
1. Fungsi Personal ................................................. 248
2. Fungsi Sosial ..................................................... 253
3. Fungsi Transaksional ......................................... 262

xiv
4. Fungsi Nasional dan Global ............................... 264
C. Konvergensi Peran Hukum
dalam Revolusi Industri 4.0 ...................................... 267

DAFTAR PUSTAKA ..................................................... 281

GLOSARIUM .............................................................. 297

INDEKS ....................................................................... 301

xv
xvi
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

Bab I
Konstruksi Teori Hukum
dalam Revolusi Industri

“The law must be stable, but it must not stand still.”


Roscoe Pound, 1870 - 1964

A. EVOLUSI TEORI HUKUM ABAD MODERN


(POSTMODERN)
Teori Hukum baru dapat dipahami secara benar dengan mem-
perhatikan keterkaitannya dengan Filsafat Hukum dan Dogmatika
Hukum. Ilmu Hukum yang dikenal membedakan dua bagian
yang dikenal dengan Teori Hukum dan Dogmatika Hukum
(Ajaran Hukum atau Kemahiran Hukum Terdidik-Terlatih). Di atas
Dogmatika Hukum dan Teori Hukum ditempati oleh Filsafat
Hukum. Filsafat Hukum dimaksud memiliki sifat subyektif,
spekulatif, dan abstrak. Filsafat Hukum berpengaruh besar untuk
menentukan Teori Hukum dan Dogmatika Hukum.1

1 Lihat Jan Gijssels dan Mark van Hoecke, Wat is Rechtstheorie?, 1982, (Apakah
Teori Hukum itu?), diterjemahkan oleh Arief Sidharta, Laboratorium Hukum-
Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan Bandung, 2000 yang
mengkualifikasikan dan menjelaskan bahwa:

1
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Keterkaitan antara Filsafat Hukum, Teori Hukum dan


Dogmatika Hukum dapat diilustrasikan dengan gambar bagan
hierarkis sebagaimana berikut ini:

1. Filsafat Hukum. Filsafat Hukum adalah Filsafat yang diterapkan pada hukum
atau gejala-gejala hukum. Filsafat Hukum berada pada tataran yang “lebih
tinggi” dibandingkan Teori Hukum dan Filsafat Hukum memiliki cakrawala
yang “lebih luas”, karenanya Filsafat Hukum harus mampu memberikan
jawaban-jawaban yang memuaskan dan tuntas untuk sebuah tata hukum
(rechtsbestel) atau tatanan hukum (rechtsorde). Filsafat Hukum harus mampu
memberikan dan menyediakan pengertian-pengertian fundamental yang
akan digunakan pada karya ilmiah empirikal dalam Teori Hukum dan
Dogmatika Hukum.
2. Teori Hukum. Ketika ilmu ditujukan untuk menemukan kebenaran,
Dogmatika Hukum hanya dapat mencapai kebenaran sebagian saja
kebenaran sesungguhnya tentang hukum. Teori Hukum harus berupaya
mencapai ke belakang kebenaran yang lebih dalam dari hukum dengan
suatu penelitian tentang latar belakangnya dalam konteks yang lebih luas
dari keseluruhan masyarakat. Teori Hukum berupaya untuk menjelaskan
hukum secara mendasar dan memberikan jawaban atas pertanyaan ilmiah
“mengapa hukum itu adalah sebagaimana ia adanya”. Teori Hukum adalah
sebuah upaya untuk pada kegiatan mempelajari hukum, mengintegrasikan
lagi hukum ke dalam konteks total dari kenyataan-kenyataan faktual dan
keyakinaan idiil yang hidup dan terkait padanya serta mengintegrasikannya
ke dalam pergaulan hidup masyarakat. Teori Hukum memiliki metode
interdisipliner, dengan fungsi menggabungkan (overkoepelen) dan
mensintesa dalam keseluruhan dari Ilmu Hukum sehingga dikenal dengan
metode interdisipliner sintetikal.
3. Dogmatika Hukum. Dogmatika Hukum dapat didefinisikan sebagai cabang
dari Ilmu Hukum yang berkenaan dengan obyek-obyek (pokok pengaturan)
dari hukum, berkenaan dengan tata hukum (rechtsbestel) dalam
keseluruhannya, menghimpun bahan-bahan yang relevan dan
mengolahnya ke dalam suatu perkaitan yang koheren, dengan tujuan untuk
memperoleh pemahaman yang lebih baik dan penjelasan tunggal tentang
pokok telaah yang diteliti dan semata-mata berdasarkan kepada sumber-
sumber pengetahuan yang tersaji dalam hukum. Kegunaan dari Dogmatika
Hukum adalah upaya menemukan dan menghimpun bahan empirikal
sampai ke sudut-sudut terjauh dari hukum. Tugas utama dari Dogmatika
Hukum adalah penataan dan pengolahan sistematikal terhadap bahan-
bahan dimaksud. Vide Supra, hlm. 37-38.

2
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

FILSAFAT HUKUM

TEORI HUKUM

DOGMATIKA HUKUM

Gambar 1: Keterkaitan antara


Filsafat Hukum, Teori Hukum dan Dogmatika Hukum

Suatu Teori Hukum tidak terlepas dari lingkungan zaman di


mana teori tersebut lahir karena dia harus menjawab perma-
salahan hukum yang dihadapi atau mempermasalahkan suatu
pendapat/pikiran tentang hukum yang dominan pada saat itu.
Hukum terikat pada waktu, tempat, dan kultur jika ingin memenuhi
fungsinya.2 Hukum merupakan ungkapan dari suatu pola kultur
tertentu, gambaran manusia dan masyarakat tertentu.3
William Twining dalam Globalisation and Legal Theory
mengemukakan bahwa perlu dilakukan kategorisasi teori-teori
hukum sesuai dengan zamannya sehingga sulit untuk menya-
takan bahwa suatu teori yang bersifat universal.4 Teori-teori yang
lahir pada abad ke-19 atau abad ke-20 karena latar belakangnya
berbeda memiliki pendekatan yang berbeda pula. Teori-teori
yang lahir pada abad ke-21 akan dipengaruhi oleh tantangan

2 Ibid.
3 Ibid.
4 William Twining, Globalisation and Legal Theory, Butterworths, London, 2000,
hlm. 52-53.

3
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta globalisasi


di berbagai bidang akan sangat mewarnai teori-teori hukumnya.
Studi literatur menunjukkan bahwa aliran Positivisme Hukum
atau aliran Hukum Positif begitu kental mewarnai pemikiran-
pemikiran hukum pada abad ke-19 bahkan hingga abad ke-20.
Aliran Hukum Positif dipengaruhi oleh pemahaman sebelumnya
(legisme) bahwa hukum identik dengan undang-undang dan satu-
satunya sumber hukum adalah undang-undang.5 Hukum adalah
perintah penguasa sebagaimana yang dikatakan John Austin
memiliki dimensi pemahaman bahwa penguasa adalah mereka
yang memegang kekuasaan tertinggi/kedaulatan sehingga hukum
mengandung di dalamnya suatu perintah, sanksi kewajiban dan
kedaulatan (law is a command of lawgiver).6 Konsekuensi yang
muncul adalah hukum harus berisikan aturan/ketentuan dalam
berbentuk tertulis sebagai peraturan perundang-undangan yang
dibuat oleh penguasa berdasarkan kewenangan yang dimilikinya
melalui konstitusi (legislasi).
Teori Hukum Murni dari Hans Kelsen bahkan menyatakan
bahwa hukum perlu dibersihkan dari anasir-anasir (unsur) non-
yuridis seperti etis, sosiologis, politis termasuk kebiasaan yang
hidup dan berkembang dalam masyarakat (living law).7 Sehingga
semakin menguatkan pemahaman bahwa hukum adalah

5 Lili Rasjidi dan Ira Thania Rasjidi, Dasar-Dasar Filsafat dan Teori Hukum, Citra
Aditya Bakti, Bandung, 2007, hlm. 56.
6 John Austin menggangap hukum sebagai suatu sistem yang logis, tetap dan
bersifat tertutup (closed logical system), hukum secara tegas tidak dapat
dipisahkan dari keadilan dan tidak didasarkan pada nilai-nilai yang baik atau
buruk.
7 Lihat Hans Kelsen, General Theory of Law & State, Transaction Publishers, New
Jersey, 2006.

4
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

peraturan perundang-undangan dan bukan termasuk hukum


yang tidak tertulis. Namun pada sisi yang lain dengan hukum
harus dalam bentuk tertulis maka dapat diwujudkan adanya
kepastian hukum (legal certainty) sehingga pada akhirnya dapat
terhindarkan adanya kesewenang-wenangan dari penguasa.
Mazhab, aliran dan teori hukum beserta tokohnya sampai
dengan tahun 1960 dapat diilustrasikan dengan periodisasi
sebagaimana tabel berikut ini:24

Tabel 1: Mazhab, Aliran dan Teori Hukum


beserta Tokohnya sejak 1800 sampai dengan 1960

Tahun 1800 - 1830 - 1870 - 1900 -


1830 1870 1900 1930 1930 - 1945 -
Wilayah Eropa Barat & Inggris 1945
Amerika Serikat dan 1960
Eropa Barat

Tokoh Bentham Marx Ehrlich Pound Frank


Austin Durkheim Weber Llewellyn
Weber James Kelsen
Holmes Dewey Fuller
HART

Teori Positivisme Identifikasi Teori-teori Hukum Frank: American Legal


Hukum Hukum hubungan Sosiologis Realism
(Legal antara (Sociological Legal Llewellyn: American
Positivism) hukum, Theories) Legal Realism
ekonomi Kelsen: Teori Hukum
dan Murni
masyarakat (new conceptualism)
Fuller: Teori Neo-
Hukum Alam
(New Natural Law)
Hart: Neo-Positivis
(revived/new-
positivism)

8 Sumber: Marett Leiboff dan Mark Thomas, Legal Theories in Principle, Law-
book Co, New South Wales, 2004, hlm. 14.

5
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Perjalanan sejarah yang panjang ternyata mencatat bahwa


aliran Hukum Positif dengan pendekatan hukumnya yang
terbatasi hanya kepada hukum yang tertulis sebagai kaidah/norma
mengalami kesulitan untuk memecahkan permasalahan-
permasalahan hukum abad modern (postmodern). Pemikiran-
pemikiran yang bersifat perbaikan atau penyesuaian terhadap
aliran Hukum Positif bermunculan sebagaimana yang diusung
oleh HLA Hart, Dworkin dan John Rawls (Neo-Positivist).
Tidak hanya itu saja, beberapa pemikiran atau gerakan yang
“berseberangan” dengan aliran Hukum Positif juga mulai dikenal
di Amerika Serikat seperti aliran Socio Antropological Jurispru-
dence atau Functional Jurisprudence; aliran Pragmatic Legal Re-
alism dan Gerakan Critical Legal Studies (CLS Movement)9 dan
Legal Feminism serta Critical Race Theory. Tokoh Pilar Filsafat
Hukum di Indonesia yaitu Mochtar Kusumaatmadja tidak
ketinggalan memperkenalkan pula Teori Hukum Pembangun-
annya sebagai pendekatan teorikal dan filsafati dalam landasan
pencapaian tujuan pembangunan di Indonesia. Selain Teori
Hukum Pembangunan, dikenal pula mazhab/aliran Cita Hukum
Pancasila dan Critical Legal Studies (Studi Hukum Kritis).10
Mazhab, aliran dan teori hukum beserta tokohnya dari tahun
1960-an sampai dengan tahun 2000-an (postmodern) dapat
diilustrasikan dengan periodisasi sebagaimana tabel berikut ini:11

9 Lihat Roberto Mangabeira Unger, “The Critical Legal Studies Movement”, Harvard
Law Review, January 1983.
10 Teori Hukum Pembangunan dikembangkan di Universitas Padjadjaran; Studi
Hukum Kritis oleh ESLAM dengan tokohnya Soetandyo Wignjosubroto dan
Ifdal Kasim; dan Cita Hukum Pancasila atau Filsafat Hukum Pancasila di Uni-
versitas Parahnyangan Bandung.
11 Sumber: Marett Leiboff dan Mark Thomas, Legal Theories in Principle, Law-
book Co, New South Wales, 2004, hlm. 15. Lihat Mochtar Kusumaatmadja,

6
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

Tabel 2: Mazhab, Aliran dan Teori Hukum beserta Tokohnya


dari tahun1960-an sampai dengan tahun 2000-an (Postmodern)

Tahun 1960-1970 1970-1990 1990-2000 2000>


Wilayah Inggris dan Amerika Serikat Amerika Serikat, Inggris, Indonesia, Australia
Posner Posner
Hart
Unger Unger
Tokoh Fuller
Hart Hart
Kelsen
Mochtar Kusumaatmadja Mochtar Kusumaatmadja
Finnis Finnis
Dworkin Neo-Modern
Rawls
HART: Neo-Positivis POSNER: POSNER: The Economic
(Revived/New-Positivism) The Economic Analysis Analysis Of Law
Teori Of Law UNGER: The Critical
Hukum Fuller: Teori Hukum UNGER: Legal Studies
Alam Baru (New Natural The Critical Legal Studies HART: Neo-Positivis
Law) HART: (Revived/Neo-Positivism)
Neo-Positivis (Revived/ MOCHTAR:
Kelsen: Teori Hukum New-Positivism) Teori Hukum Pembangunan
Murni (New Conceptual- MOCHTAR: FINNIS: Neo-Natural Law
ism) Teori Hukum Feminist Legal Theory
Pembangunan Critical Race Theory
FINNIS: Postmodernist Theory
Neo-Natural Law Emerging Legal Theory

1. The Economic Analysis of Law


Pemikiran berkaitan Hukum dan Ekonomi (Law and Economics)
mulai muncul sebagai pandangan para ahli pada awal 1970-an,
ketika sejumlah para ahli hukum dan ekonomi mengembangkan
suatu metodologi “baru” dan teori jurisprudential dengan
mempergunakan analisis ekonomi terhadap hukum. Pemahaman
“baru” tentang Hukum dan Ekonomi pada awal 1970-an

Konsep-Konsep Hukum dalam Pembangunan, Pusat Studi Wawasan Nusantara,


Hukum dan Pembangunan bekerjasama dengan Penerbit PT. Alumni, Bandung,
2006, yang memuat pemikiran-pemikirannya, yaitu Fungsi dan Perkembangan
Hukum dalam Pembangunan Nasional; dan Hukum, Masyarakat, dan
Pembinaan Hukum Nasional: Suatu Uraian tentang Landasan Pikiran, Pola
dan Mekanisme Pembaharuan Hukum di Indonesia. Lihat pula Gary Minda,
“The Jurisprudential Movements of the 1980’s”, Ohio State Journal, 1989.

7
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

dimaksudkan sebagai kerangka teoretis yang baru untuk secara


sistematis menggambarkan dan memformulasikan putusan hakim
dan pengambilan keputusan di tatanan hukum. Pendirian utama
yang baru dalam Hukum dan Ekonomi12 adalah terhadap suatu
putusan hakim secara umumnya dapat dilakukan penelitian dan
jika perlu diperbaiki sesuai dengan penerapan konsep ekonomi
yang fundamental.13
Pertentangan dan perbedaan terjadi pula antara para pemikir
aliran Hukum dan Ekonomi, yaitu antara penganut ortodoks dan
penganut pembaharuan. Posisi pemikiran penganut ortodoks
Hukum dan Ekonomi dikembangkan melalui satu metodologi
dasar berdasarkan pada perspektif ekonomi dari Chicago
School.14 Chicago School adalah “hardliners” yang merupakan

12 Pemahaman awal berkenaan dengan topik Hukum dan Ekonomi dimulai dari
pemahaman “the old law and economics” dan “the new law and economics”.
Pemahaman “the old law and economics“ berkaitan dengan analisis ekonomi
terhadap hukum persaingan usaha, hukum perpajakan dan hukum korporasi,
yang memiliki permasalahan-permasalahan mendasar dengan bagaimana
indikator-indikator ekonomi memberikan pengaruh terhadap pengaturan atau
regulasi dan penerapannya dalam pasar. Lihat Posner, The Economic Analysis
of Law (3d ed. 1986). Pada “the new law and economics” lebih menerapkan
kepada analisis ekonomi terhadap pengaturan “common law” seperti hukum
kontrak, hukum kepemilikan dan tort, di mana relevansi ekonomi lebih kecil
keterkaitannya. Lihat Posner, “The Economic Approach to Law“, 53 TEX. L.
REV. 757 (1975). Perbedaan antara “new and old versions of law and econom-
ics“ muncul pada saat praktisi-praktisi hukum akan menerapkan dalam kegiatan
mereka. Lihat P. Areeda and D. Turner, Antitrust Law: An Analysis of Antitrust
Principles and Their Application (Vols. 1-8) (1986).
13 Karya tulisan yang paling maju dan berpengaruh terhadap diperkenalkannya
analisis ekonomi untuk diterapkan dalam hukum adalah dari Posner, yaitu
bukunya The Economic Analysis of Law, Aspen , 3d ed. 1986.
14 Lihat Minda, “The Lawyer-Economist at Chicago: Richard A. Posner “The Eco-
nomic Analysis of Law“, 39 OHIO ST. L.J. 439, 462 (1978); R. Posner, The
Economic Analysis of Law, Aspen, 3d ed. 1986; R. Posner, The Economics of
Justice, Harvard, 1981. Lihat pula Minda, “The Law and Economics and Critical
Legal Studies Movements in American Law“, sebagaimana dimuat dalam Law
and Economics 87 (N. Mercuro ed. 1989).

8
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

para pelopor (the founding fathers) pada 1970-an dan awal 1980-
an yang mendorong dengan kuat suatu hipotesis tentang law-
and-efficiency. Hipotesis dimaksud secara normal dihubungkan
dengan pandangan dari Judge Richard A. Posner. Posner
menyatakan bahwa common law merupakan suatu wahana
utama untuk menciptakan dan mendorong efisiensi, hal mana
oleh Posner diberikan ungkapan “wealth maximization”.15
Pendekatan dimaksud mendasarkan kepada premis argumentasi
bahwa struktur dari common law pada hakikatnya dimaksudkan
untuk memaksimalkan nilai hukum/keputusan hakim agar dapat
diperhitungkan dengan mata uang (dollar).16
Pada pertengahan tahun 1980-an, pengaruh dari Chicago
School mencapai puncaknya.17 Generasi baru dari Hukum dan
Ekonomi telah muncul, mereka memiliki “jarak” pemikiran
dengan penganut ortodoks dari Chicago School dan mulai
mengembangkan metodologi alternatif untuk mendekati analisis
ekonomi terhadap hukum (economic analysis of law).18 Para
pemikir Hukum dan Ekonomi bersepakat bahwa analisis efisiensi
dari ekonomi adalah “suatu jalan keberhasilan” untuk mema-
hami perilaku hukum, namun banyak praktisi saat ini menolak
pemahaman dimaksud karena “efisiensi” tidaklah harus dianggap

15 Posner, “Utilitarianism, Economics, and Legal Theory“, 8 J. LEGAL STUD. 103


(1979).
16 Lihat R. Posner, The Economic Analysis of Law, Aspen, 3d ed. 1986, hlm. 20-
22.
17 Lihat Richard Posner, “Wealth Maximization and Judicial Decisionmaking“, 4
INT’L. REV. L. & ECON. 131 (1984); Posner, “The Ethics of Wealth Maximiza-
tion: Reply To Malloy“, 36 KANSAS L. REV. 261, 263 (1988). Lihat pula
Greenwalt, “Discretion and Judicial Decision: The Elusive Quest for the Fetters
That Bind Judges“, 75 COLUM. L. REV. 359 (1975)).
18 Leff, “Economic Analysis of Law: Some Realism About Nominalism“, 60 VA. L.
REV. 451 (1974) dan Ulen, “Law and Economics: Settled Issues And Open
Questions“, Law and Economics 210 (N. Mercuro ed. 1989).

9
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

sebagai satu-satunya norma hukum yang terkait dengan kepu-


tusan hakim pada common law.19
Perkembangan terakhir, bahkan telah muncul lagi generasi
baru kedua dari para pemikir Hukum dan Ekonomi yang lebih
baru pemikirannya dan dikenal dengan”‘genuinely reformist law
and economics”. Mereka berpendapat bahwa tidak seharusnya
aturan-aturan hukum hanya mendasarkan kepada efisiensi semata
baik yang menerimanya ataupun yang menolaknya, namun perlu
juga diarahkan kepada eksaminasi terhadap hukum publik dan
justifikasi normatifnya.20Para pemikir dari generasi baru kedua
Hukum dan Ekonomi telah membantu untuk pada akhirnya
menetapkan suatu gerakan “liberal school of law and econom-
ics” yang New Haven atau Reformist School.21
Generasi terkini dari mazhab Hukum dan Ekonomi lebih
cenderung untuk menahan diri terhadap fungsionalisasi dari peran
ekonomi terhadap hukum dan lebih sedikit menerima orientasi
konservatif dari para pelopor Chicago School.22 Beberapa hal
berkenaan dengan metodologi telah dicapai kesepakatan, seperti
antara lain bahwa klaim di mana teori ekonomi mikro adalah
satu basis untuk menganalisis hukum; analisis manfaat-biaya (cost-
benefif) dan definisi ekonomi untuk biaya (opportunity cost)
adalah penting untuk dipahami bagi para pembuat keputusan

19 Lihat Ulen, “Law and Economics: Settled Issues And Open Questions“, Law
and Economics 210 (N. Mercuro ed. 1989), hlm. 210 dan R. Cooter & T. Ulen,
Economics of Law (1988).
20 Ulen, “Law and Economics: Settled Issues And Open Questions“, Law and
Economics 210 (N. Mercuro ed. 1989), hlm. 253.
21 Fiss, “The Death of the Law?”, 72 CORNELL L. REV. 1 (1986); Kornhauser, “The
Great Image of Authority“, 36 STAN. L. REV. 349 (1984).
22 Rose-Ackerman, “Inalienability and The Theory of Property“, 85 COLUM. L.
REV. 931 (1985).

10
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

yang bijak. Para pemikir dari generasi kedua Hukum dan Ekonomi
telah beralih dari pemikiran ortodoks terhadap “efisien” bahwa
hal dimaksud bertanggungjawab kepada hampir setiap
permasalahan hukum, dan sebagai gantinya mereka menegaskan
bahwa “permasalahan-permasalahan hukum dan ekonomi tetap
masih terbuka untuk selalu ada hingga jangka waktu panjang.”23
Generasi kedua para pemikir Hukum dan Ekonomi juga lebih
berwawasan luas secara teoretis serta jauh lebih canggih diban-
dingkan para pelopor (founding fathers) Hukum dan Ekonomi.24
Generasi baru Hukum dan Ekonomi telah mengembangkan teori
ekonomi mikro yang menjanjikan sesuatu yang lebih realistis,
namun demikian tetap diperlukan pemahaman yang jelas atas
hal-hal terkait dengan birokrasi, institusional dan konteks keter-
hubungan transaksi modern, hubungan hukum, dan putusan
hakim. Teori baru berkenaan keterhubungan perjanjian dan
perilaku strategis diusulkan untuk dimodifikasi atau menggantikan
model yang statis serta asumsi teori ekonomi mikro neoklasikal
yang digunakan oleh para praktisi Chicago School.25
Sebuah kelompok baru dari para pemikir, Public Choice,
pada gilirannya menawarkan pula suatu teori untuk pemahaman
ekonomi atas hukum menurut undang-undang serta perilaku dari

23 Ulen, “Law and Economics: Settled Issues And Open Questions“, Law and
Economics 210 (N. Mercuro ed. 1989), hlm. 224-225.
24 Ibid.
25 Lihat Goetz & Scott, “Principles of Relational Contracts“, 67 VA. L. REV.1089
(1981); MacNeil, “Contracts: Adjustments of Long-Term Economic Relations
Under Classical, Neoclassical, and Relational Contract Law“, 72 NW. U.L. REV.
854 (1978); dan O. Williamson, The Economics of Discretionary Behaviour:
Managerial Objectives in a Theory of the Firm (1964).
26 M. Olsen, The Logic of Collective Action (1965), sebagaimana pula dimuat
dalam “Symposium on the Theory of Public Choice“, 74 VA. L. REV. 167
(1988); Easterbrook, “Statutes Domain“, 50 U. CHI. L. REV. 533 (1983); Posner,

11
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

pembuat undang-undang.26 Pemikir Hukum dan Ekonomi dari


New Haven School,27 menyatakan bahwa visi penganut pemba-
haruan pemikiran berkenaan digunakannya analisis ekonomi
untuk mempertahankan berbagai konsepsi liberal terhadap
hukum dan putusan hakim.28 Pada kenyataannya, mazhab
Hukum dan Ekonomi telah tumbuh untuk meliputi sejumlah besar
perspektif teoretis yang divergen terhadap konsepsi normatif
tentang hukum dan putusan hakim.
Walaupun mazhab Hukum dan Ekonomi telah mengalami
dinamika pemahaman yang berbeda secara teori dan perspektif,
namun ada beberapa pemahaman yang sama dan sejalan dari
para pemikir Hukum dan Ekonomi. Lewis Kornhauser, seorang
pemikir dari generasi kedua Hukum dan Ekonomi, telah
mengidentifikasikan empat persamaan pernyataaan pemikiran
dari “corpus” mazhab Hukum dan Ekonomi, yaitu:
(1) suatu “pernyataan tingkah laku” (behavioral claim) yang
menyatakan bahwa teori ekonomi dapat menyediakan suatu
teori yang bagus untuk menggambarkan/memprediksikan
bagaimana orang akan bertindak berdasarkan suatu aturan
hukum;29

“Economics, Politics and the Reading of Statutes and the Constitution”, 49 U.


CHI. L. REV. 262 (1982).
27 Fiss, “The Death of the Law?” 72 CORNELL L. REV. 1 (1986); Kornhauser, “The
Great Image of Authority“, 36 STAN. L. REV. 349 (1984).
28 Roberto Unger, The Critical Legal. Studies Movement 12 (1983).
29 Lihat Kornhauser, “The Great Image of Authority“, 36 STAN. L. REV. 349 (1984);
Minow, “Law Turning Outward”, 73 TELOS 79 (1986); Posner, “The Decline of
Law as an Autonomous Discipline: 1962-1987“, 100 HARV. L. REV. 761 (1987);
Sunstein, “Feminism and Legal Theory“, 101 HARV. L. REV. 826 (1988); West,
“Jurisprudence and Gender“, 55 U. CHI. L. REV. 1 (1988); White, “Economics
and Law: Two Cultures in Tension“, 54 TENN. L. REV. 161 (1986).

12
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

(2) suatu “pernyataan normatif” (normative claim) yang


menyatakan bahwa hukum haruslah mampu untuk efisien;30
(3) suatu “pernyataan fakta atau positif” (positive claim) yang
menyatakan bahwa dalam common law terdapat hukum
yang sesungguhnya sudah efisien;31 dan
(4) suatu “pernyataan genetik” (genetic claim) yang menyatakan
bahwa common law cenderung untuk memilih aturan yang
efisien, walaupun tidak setiap aturan akan efisien di setiap
waktu.32

Berdasarkan pendapat dari Kornhauser bahwa setiap bagian


dari hukum dan ekonomi adalah melekat baik secara tegas
maupun implisit, terhadap satu atau lebih dari pernyataan yang
secara logika berbeda.33 Kornhauser mengidentifikasikan bahwa
hanya para pelopor dari Chicago School yang mengadopsi
hipotesis “law-and-efficiency” dan menganut keempat pernyataan
Hukum dan Ekonomi dimaksud di atas. Para pemikir mazhab
Hukum dan Ekonomi menerima “pernyataan tingkah laku” di
mana individu memberikan reaksi secara rasional terhadap insentif
dan aturan hukum yang mempengaruhi perilaku. Karena para
pemikir dimaksud telah menguji bahwa “pernyataan normatif”
mengidentifikasikan adanya keterkaitan antara perilaku yang
efisien dengan dipilihnya aturan-aturan yang diterapkan,34
mereka menggunakan “pernyataan tingkah laku” untuk mengi-
dentifikasikan hukum yang mempengaruhi perilaku efisien. Bagi
30 Kornhauser, “The Great Image of Authority“, 36 STAN. L. REV. 349 (1984), hlm.
354.
31 Ibid.
32 Ibid., hlm. 355.
33 Ibid., hlm. 353.
34 Ibid., hlm. 354.

13
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

mereka, proses peradilan oleh hakim merupakan “latihan” terkait


antara lain dengan analisis manfaat (cost and benefit analysis),
transaksi biaya pengurangan (transaction cost reduction), peng-
kajian risiko (risk assessment), dan maksimalisasi kekayaan (wealth
maximalization). Seperti dalam perspektif ekonomi bahwa
ditempatkannya para juri dalam peran “social engineer”
(pengubah masyarakat) dengan tujuan berbeda terhadap
pembentukan hak dan kewajiban dengan memperhatikan alokasi
sumber daya yang efisien.35
Pernyataan Positif dan Pernyataan Genetik Hukum dan
Ekonomi yang diidentifikasikan oleh Kornhauser menggam-
barkan posisi dari penganut Chicago School, yang memandang
“common law” sebagai sebuah sistem dari aturan yang berdasar
kepada fakta atau secara alamiah (genetika) memiliki
kecenderungan untuk mempengaruhi perilaku efisien
berdasarkan hukum.36 Perspektif hukum dasar mereka adalah
suatu produk pandangan dunia yang mengejar kebenaran
tentang hukum di dalam satu paradigma yang mengevaluasi
hukum berdasarkan ukuran standar yang universal, seperti
“wealth maximalization”. Untuk penganut pemahaman
dimaksud maka hipotesis “law-and-efficiency” adalah suatu
prinsip organisasional yang menyeluruh untuk pemahaman
terhadap sifat alami hubungan hukum.37
Para pemikir dari generasi kedua mazhab Hukum dan
Ekonomi, bagaimanapun juga tetap menolak efisiensi berda-

35 Berbeda dengan konsepsi Roscoe Pound tentang social engineering, sebagai-


mana dimuat dalam “A Survey of Social Interest“, 57 HARV. L. REV. 1 (1943).
36 Kornhauser, loc. cit.
37 White, op. cit., hlm. 168.

14
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

sarkan “pernyataan normatif” dan “pernyataan genetik” yang


diidentifikasikan oleh Kornhauser atau walau pernyataan-
pernyataan dimaksud merupakan hal yang persuasif.38 Sementara
generasi terbaru dari mazhab Hukum dan Ekonomi mengadopsi
“pernyataan positif” tentang analisis ekonomi terhadap hukum,
dengan cara yang berbeda sebagaimana yang sebelumnya
diidentifikasikan oleh Kornhauser. Mereka hanya mengakui
bahwa suatu aturan hukum hanya dapat diuji dengan meng-
gunakan teori ekonomi mikro,39 dan istrumen-instrumen (tools)
dari teori ekonomi mikro akan menyediakan penjelasan atas
hukum dan perkiraan konsekuensi dari penerapan hukum itu
sendiri.40 Pernyataan Positif yang dianut oleh para pemikir generasi
terbaru Hukum dan Ekonomi nampak bersahaja, karena mereka
hanya berasumsi bahwa hukum dapat dipahami sebagai sebuah
sistem yang rasional dari perilaku berbasis pada kepentingan
ekonomi. Sebagai ganti daripada mengadopsi hipotesis law-and-
efficiency, para pemikir ini menganut hipotesis bahwa “hukum
adalah rasional” (law is rational).41
Karena hal tersebut maka satu-satunya pernyataan yang
diidentifikasikan oleh Kornhauser sebagai karakter metodologi
dominan pada pergerakan Hukum dan Ekonomi hari ini adalah
“pernyataan tingkah laku” (bevavioral claim).42 Pernyataan
dimaksud disetujui oleh seluruh generasi mazhab Hukum dan
Ekonomi untuk kunci dalam memahami pandangan rasional
sebagai instrumen kalkulasi yang lebih tajam antara kemanfaatan

38 Rose-Ackerman, op. cit., hlm. 237 dan Ulen, op. cit., hlm. 210.
39 Ulen, loc. cit.
40 R. Cooter & T. Ulen, op. cit., hlm. 11.
41 “The fundamental hypothesis of the economic analysis is that law is rational.”
42 Kornhauser, op. cit., hlm. 29.

15
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

dan biaya perseorangan (individual cost and benefit) serta


mengevaluasi hubungan hukum dalam berbagai sistem aturan.
Pernyataan tingkah laku terhadap ekonomi menetapkan konsen-
sus pandangan bahwa “hukum adalah rasional dan karenanya
dapat dianalisis oleh konsepsi ekonomi.”43 Semua penganut dari
mazhab Hukum dan Ekonomi mempercayai bahwa aturan
hukum memiliki kemiripan dengan “harga dan para subyek
hukum adalah individu yang rasional sempurna untuk memper-
hitungkannya.”44
Jika ada perbedaan pemikiran secara ideologis terhadap
mazhab Hukum dan Ekonomi maka hal dimaksud bukanlah
perspektif konservatif dari Chicago School atau hipotesis “law-
and-efficiency”. Pemahaman atau ideologi dari pergerakan
Hukum dan Ekonomi dapat dengan baik diterangkan hari ini
sebagai kaitan dengan suatu pandangan dunia tertentu yang
berasumsi bahwa rasionalitas dan kepentingan ekonomi mem-
bentuk satu prinsip universal yaitu untuk memahami hukum dan
putusan hakim.45 Pernyataan Tingkah Laku dan Pernyataan Positif

43 R. Cotter & T. Ulen, op. cit., hlm. 12.


44 Kornhauser, op. cit., hlm 353, dimuat “Thus, a liability rule, which imposes
costs on individuals for various actions, may be seen as setting the price for
engaging in those activities.” Lihat pula R. Cooter & T. Ulen, op. cit., hlm. 11;
dimuat “the rule that gift promises are generally unenforceable raises the im-
plicit price to those who truly wish to make such a promise and also raises the
price of taking action in reliance on such a promise’s being fulfilled; the rule that
grants an exclusive property right, good against the world, to the person who
authors an original novel lowers the costs to the author of defending her work
against expropriation and thereby induces her to expend additional resources
in writing; the rule that imposes liability on some who fail to take a reasonable
amount of precaution raises the price of being careless and thereby increases
the amount of precuation consumed.”
45 Kelman, “Misunderstanding Social Life: A Critique of the Core Premises of ‘Law
and Economics‘“, 33 J. LEGAL EDUC. 274 (1983); Peller, “The metaphysics of
American Law“, 73 CALIF. L. REV. 1151, 1268 (1985).

16
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

dari generasi kedua Hukum dan Ekonomi mengamati pandangan


dimaksud bahwa hukum dan dunia sosial yang lebih besar
mungkin dapat dipahami sebagai sebuah sistem perilaku rasional,
yang kadang dipengaruhi oleh impuls ke arah efisiensi dan kadang
juga tidak pada lain waktu, namun selalu berdasarkan kepada
suatu hasil yang memiliki tujuan. Berdasarkan cara dimaksud,
ajaran “hukum adalah rasional” mengkarakterisasi suatu
pandangan dunia tertentu dengan berbasis pada kepercayaan
yang universal, pengetahuan yang objektif tentang sesuatu yang
membentuk motivasi individual.46
Dalam ruh dari paham positivisme logis (logical positivism),
para ahli hukum tetap memelihara suatu perspektif tentang dunia
yang mengasumsikan kebutuhan atas sesuatu yang abstrak, uni-
versal, dan rasional.47 Terminologi yang dipergunakan oleh
gerakan Hukum dan Ekonomi melanjutkan pemahaman itu bahwa
untuk mengasumsikan agar analisis hukum dapat terus berproses,
maka diperlukan penelitian ilmiah atas fenomena yang kompleks
dan abstrak untuk disederhanakan sebagai hukum yang univer-
sal. Perspektif dimaksud dapat dipahami sebagai suatu standar yang

46 Roberto Unger, “The Critical Legal Studies Movement”, Harvard Law Review,
January 1983, menyatakan “The belief that the authoritative legal ideas-em-
body and sustain a defensible scheme of human association,” dan “laws are
not merely the outcome of contingent power struggles or of practical pressures
lacking in rightful authority.”
47 R. Posner, The Economic Analysis of Law, dinyatakan bahwa, “But it is true that
the assumptions of economic theory are one-dimensional and pallid when
viewed as descriptions of human behavior. . . . However, abstraction-reduc-
tionism if you like-is of the essence of scientific inquiry.” Lihat pula Sen, “Ratio-
nal Foolds: A Critique of Behavioral Foundations of Economic Theory“, 6 PHIL.
& PUB. AFF. 317; Fletcher, “Fairness and Utility and Tort Theory“, 85 HARV. L.
REV. 537 (1972); Tribe, “Policy Science: Analysis or Ideology?”, 2 PHIL. & PUB.
AFF. 66 (1972); Tribe, “Technology Assessments and the Fourth Discontinuity:
The Limits of Instrumental Rationality”, 46 S. CAL. L. REV. 617 (1973).

17
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

bisa diterima untuk menganalisis suatu argumentasi hukum.48


Diasumsikan bahwa seorang pengacara mampu menemukan
suatu basis yang secara relatif stabil untuk memberikan justifikasi
terhadap akibat hukum dengan proposisi universal tentang hukum,
terlepas dari spekulasi tentang motivasi ekonomi dari individu-
individu yang homogen. Hipotesis “hukum adalah rasional”
menjadi dapat diterima sebagai jalan keluar permasalahan untuk
menstandarkan analisis terhadap suatu argumentasi hukum.49
Tidak seperti para ahli hukum tradisional yang memfokuskan
penelitian mereka lebih kepada hukum yang tertulis (legal texts),
para ahli hukum dari mazhab Hukum dan Ekonomi melihat dari
luar hukum yang tertulis dalam mengembangkan perkiraan
ekonomi yang berbasis rasionalitas terhadap kepentingan murni
dari subyek hukum pada saat dihadapkan oleh kekuatan
memaksa dari hukum yang mengatur atau memerintah.50 Hampir
keseluruhan dari penganut mazhab Hukum dan Ekonomi, selalu
menyertakan variabel “kenaifan” ke dalam penelitian mereka
sebagai bentuk pemahaman dari Pernyataan Tingkah Laku yang
berasumsi bahwa kekuatan memaksa dari hukum yang mengatur
atau memerintah tidak mempunyai efek terhadap struktur pilihan
dasar dari para subyek hukum.51 Dalam menitikberatkan
konsekuensi dari perilaku yang berdasarkan hukum, maka
mazhab Hukum dan Ekonomi menempatkan lebih sedikit
48 Berdasarkan Hukum dan Ekonomi maka argumentasi hukum harus dinilai
sebagai putusan yang didasarkan kepada logika yang dapat diperkirakan dan
dinyatakan pendekatan konseptual dalam Hukum dan Ekonomi.
49 Frug, Argument, op. cit., hlm. 872, dinyatakan bahwa, “Argument as Character
. . . involves examining the elements of [legal argument] such as facts, prece-
dents and principles, not in terms of how they support the argumet’s conclu-
sion but in terms of how they form attitudes or induce actions in others.”
50 Kornhauser, op. cit., hlm. 34 dan Ulen, op. cit., hlm. 211.
51 Lihat Kornhauser, op. cit., hlm. 43-44.

18
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

perhatian terhadap konsep hukum atas hak (rights) sebagai suatu


kerangka normatif untuk menetapkan kewajiban-kewajiban
korelatif (correlative duties) dan sebagai gantinya menitikberatkan
pada konsekuensi tingkah laku dari berbagai kumpulan aturan
hukum. Sebagai akibatnya, “hak dan kewajiban-kewajiban
korelatif” dimaksud tidak lagi dapat menjadi pemegang utama
dalam analisis ekonomi terhadap hukum.52
Kekuatan ekonomi baru telah menjadikan para ahli hukum
untuk membuat satu pergeseran dalam perspektif analisis mereka
ke arah perspektif normatif dari rasionalitas baru, di mana terjadi
re-karakteristik fakta yang menurut hukum relevan sebagai
permasalahan normatif terhadap kerangka biaya dan manfaat
dalam konteks sempit dari teori ekonomi mikro.53 Pergeseran
dalam perspektif analisis telah memungkinkan ahli teori hukum
untuk melakukan restrukturisasi kategori hukum dalam cara yang
fundamental. Para ahli hukum memanfaatkan pemahaman yang
mendalam dari ahli hukum-ekonomi yang berpendapat bahwa
subjek yang nampaknya tidak bertalian, seperti dalam kontrak,
hukum benda, keperdataan, dan hukum pidana dapat diteliti dari
suatu perspektif yang lebih universal. Para ahli hukum dapat
mengakui bahwa perkara penipuan surat-surat berharga tidaklah
kemudian menjadi sama tingkatannya dengan perkara gangguan
yang disebabkan oleh polusi udara.54

52 Ibid., hlm. 31.


53 Gjerdingen, “The Coase Theorem and the Psychology of Common Law
Thought“, 56 S. CAL. L. REV. 711 (1983).
54 Ackerman, op. cit., hlm. 59, dinyatakan bahwa, “While a layman might think
that there is almost nothing in common between, say, the problems raised by
securities fraud and those raised by air pollution, a common externality analysis
makes it possible for lawyers in one field to learn from the regulatory experience
in the other.”

19
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Mazhab Hukum dan Ekonomi juga menawarkan suatu


pendekatan baru kepada para ahli hukum. Para penganut mazhab
Hukum dan Ekonomi berpendapat dimana perlunya para ahli
hukum harus berkonsentrasi pada perumusan dan kemudian
menguji “falsifiable”, terkait dengan penyelundupan hukum terkait
kehidupan sosial.55 Pendekatan yang mendasar digunakan untuk
menjadikan hukum sebagai sesuatu yang mungkin dapat dipelajari
dan dipahami sebagai suatu “ilmu pengetahuan” (science).
Sementara itu para pemikir hukum dan ekonomi memahami bahwa
para pemikir hukum tradisional telah rancu dalam melakukan
pendekatan dan metodologinya, mereka berpendapat bahwa
justifikasi berkenaan dengan doktrin hukum saat ini dimungkinkan
karena adanya analisis ekonomi. Sementara itu hanya para pelopor
Chicago School berpendapat bahwa prinsip maksimalisasi
kekayaan (wealth maximization) dapat mengandaskan analisis
hukum, semua penganut mazhab Hukum dan Ekonomi percaya
bahwa hakim mampu memahami perilaku rasional sebagai sebuah
standar universal untuk mengkaji hukum “secara obyektif”. Hakikat
mazhab Hukum dan Ekonomi adalah untuk menyediakan suatu
metoda universal dalam mencapai suatu pemahaman menyeluruh
dari permasalahan-permasalahan hukum.56
Jika analisis ekonomi memungkinkan terjadinya penerapan
pemberlakuan untuk semua subyek hukum,57 maka kemudian

55 Lihat Tushnet, “Legal Scholarship: Its Causes and Cure“, 90 YALE L.J. 1205,
1211 (1981).
56 Pemahaman bahwa hukum adalah suatu badan universal bukanlah prinsip
yang sama sekali baru, sebagaimana diungkapkan sebelumnya oleh Langdell,
Preface to Selection on Cases on The Law of Contracts (1879), dan Ackerman,
Introduction: On the Role of Economic Analysis in Property Law, in Economic
Foundations of Property Law (B. Ackerman ed. 1975).
57 Lihat Posner, op. cit., hlm. 18.

20
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

para ahli hukum mempunyai suatu instrumen atau perangkat (tool)


yang kuat untuk memahami dan membangun hukum serta
peraturan perundang-undangan. Perangkat (tool) baru ini,
bagaimana pun mencoba memahami hukum sebagai gagasan
dimana suatu permasalahan dapat dipelajari secara “autono-
mously” melalui metoda tradisional berbentuk analisis hukum.
Analisis ekonomi terhadap hukum “baru” meminta para ahli
hukum mencari di luar hukum (beyond the law) untuk mene-
mukan suatu medium baru dalam pemecahan permasalahan
secara kebijakan. Pada akhirnya akan berujung kepada perlunya
pemahaman baru atas legitimasi hukum.58

2. The Critical Legal Studies


Mazhab Hukum dan Ekonomi telah menarik perhatian dari para
ahli hukum, namun satu gerakan studi hukum menetapkan
dirinya menjadi kritikus utama baik untuk penganut pemikiran
tradisional maupun Hukum dan Ekonomi. Gerakan baru ini
menamakan dirinya sebagai Critical Legal Studies (CLS) dan mulai
muncul pada akhir 1970-an ketika sekelompok ahli hukum
membentuk suatu jaringan sosial dan profesional yang disebut
The Conference on Critical Legal Studies, serta mulai melakukan
penerbitan tulisan-tulisan kritis esai terhadap berbagai tema-tema
pemikiran tentang hukum.59 Seperti para ahli dari mazhab Hukum

58 Lihat pula Minow, op. cit., hlm. 89, dinyatakan bahwa, “Narguing that behind
each of the new trends in law, including law and economics, is ‘a brooking
doubt about whether law deserves a privileged place in resolving conflict and
ordering society.”
59 Critical Legal Studies lahir sebagai suatu gerakan ditandai dengan the Confer-
ence on Critical Legal Studies pada tahun 1977. Lihat Berman, “Sovereignty in
Abeyance: Self-Determination and International Law“, 7 WIS. INT’L L.J. 51 (1989);
Kennedy, “A New Stream of International Scholarship“, 7 WIS. INT’L L.J. 1

21
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

dan Ekonomi, para ahli dari gerakan CLS mulai mencari untuk
mengembangkan suatu kritik menyeluruh (a totalistic critique)
terhadap doktrin hukum, namun hal tersebut dilakukan dengan
menggunakan metodologi non-legal dan penelitian yang men-
dalam. Tetapi tidak sama dengan mazhab Hukum dan Ekonomi,
CLS adalah suatu gerakan intelektual, sosial, dan politik yang
menghubungkan kegiatan intelektualnya dengan cita-cita politis
dan sosial dari para anggotanya.
Berdasarkan dari pernyaataan salah satu konferensi CLS,
gerakan CLS berupaya mencari dan menyelidiki dengan cara
bagaimana suatu doktrin hukum dan pendidikan hukum serta
praktik institusi hukum dapat menjadi penunjang serta mendu-
kung agar suatu sistem hukum dapat “meresap” dalam hubungan-
nya “inegalitarian” (inegalitarian relations).60 Sementara itu para
pemikir gerakan CLS menunjukkan dengan jelas suatu kumpulan
pendapat dan perspektif yang begitu sangat berbeda, para pemikir
CLS (CRITS) adalah kelompok yang secara umum mencoba untuk
menunjukkan bagaimana suatu tradisi yang dominan dalam
pemikir hukum (demikian pula sebagaimana munculnya tradisi
yang merepresentasikan mazhab Hukum dan Ekonomi) telah
melakukan pencarian kebenaran dengan secara dominatif dan
perlakuan khusus melalui suatu ceramah yang dinyatakan
netralitasnya secara abstrak dan termasuk pula hasilnya.

(1989); Kelman, A Guide to Critical Legal Studies (1987); Schlegel, “Notes To-
ward an Intimate, Opinionated and Affectionate History of the Conference on
Critical Legal Studies“, 36 STAN. L. REV. 391 (1984). Kennedy, “Psycho-Social
CLS: A Comment on the Cardozo Symposium“, 6 CARDOZO L. REV. 1013
(1985); dan Kennedy & Klare, “A Bibliography of Critical Legal Studies“, 94
YALE L.J. 461 (1984).
60 Statement of Critical Legal Studies Conference, sebagaimana dimuat dalam
Critical Legal Studies (P. Fitzpatrick & A. Hunt eds. 1987).

22
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

Sejumlah komentator telah mengusulkan bahwa komponen


intelektual dari CLS adalah sulit untuk dikarakterisasi karena CRITS
hanya menyatakan antipati dari arah pandangan tradisional
terhadap hukum dan tidak mendukung salah satu metodologi
atau pendekatan pada umumnya dari para ahli hukum.61 Hal
dimaksud dinyatakan bahwa sementara para pemikir Hukum dan
Ekonomi terbagi dengan salah satu metodologi yang umum,
namun para pemikir CLS nampak bersatu hanya dalam satu
pertentangan yang dibagi bersama.62 Penelitian CLS adalah
secara tipikal ditandai sebagai suatu pergerakan “negatif” atau
“desktruktif”; di mana suatu bentuk kritikan yang tanpa tawaran
jalan keluar manapun, baik program konstruktif maupun referensi
standar spesifik untuk memberikan putusan hukum.63
Martha Minow, telah berargumentasi bahwa para pemikir
CLS dikenal dalam kemampuan untuk menjelaskan keduanya,
yaitu di mana prinsip hukum dan doktrin adalah sesuatu yang
terbuka untuk dikritisi dan mampu menunjukkan hasil yang
berlawanan, dan di mana keputusan hukum menunjukkan
adanya budaya hukum internal yang dinamis dan terkait dengan
latar belakang historis untuk beberapa asumsi serta nilai-nilainya.64
Minow mengidentifikasikan empat “kegiatan utama” para pemikir
CLS sebagaimana berikut:
(1) para pemikir CLS melakukan pencarian untuk dapat mende-
monstrasikan suatu keadaan yang tidak dapat dipastikan dari
61 Kornhauser, op. cit., hlm. 352.
62 Ibid., hlm. 64.
63 Kornhauser, op. cit., hlm. 372, dinyatakan olehnya bahwa, “Both the diversity
of views among members of the Critical Legal Studies movement and the largely
destructive nature of their writings thus far forestall a neat characterization of the
Critical Legal program.”
64 Minow, op. cit., hlm. 83.

23
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

doktrin hukum, bahwa walaupun dapat digunakannya


sekumpulan prinsip hukum namun hasilnya tetap berbeda
dan berlawanan;65
(2) para pemikir CLS memulai pekerjaannya dengan melakukan
analisis sejarah dan sosial ekonomi untuk mengidentifikasikan
bagaimana beberapa kelompok kepentingan, kelas sosial,
atau institusi ekonomi berinteraksi untuk mendapat manfaat
dari keputusan-keputusan hukum, walaupun pada keadaan
yang tidak dapat dipastikan melalui doktrin-doktrin hukum;66
(3) para pemikir CLS berusaha untuk menyingkapkan beberapa
analisis hukum dan budaya hukum yang dapat menakjubkan
orang luar termasuk legitimasi terhadap hasil-hasilnya;67 dan
(4) para pemikir CLS dapat menerangkan visi sosial yang sebe-
lumnya ataupun yang baru dan berpendapat bahwa perwu-
judan dimaksud dalam ranah hukum atau praktik politis maka
perlu menjadi bagian dari suatu pemikiran hukum.68

65 Ibid., hlm. 84, dinyatakan oleh Minow bahwa, “To assist this demonstration,
the critical scholar may adopt a method-like structuralism developed in linguis-
tics, anthropology, psychology, and literary analysis. The scholar unearths a
deep structure of categories or tensions at work behind the surface layer of legal
talk, and develops a grammar or guide to those underlying tensions and to the
techniques by which they are masked or expressed.”
66 Ibid., hlm. 84-85, dinyatakan oleh Minow bahwa, “This activity may involve
identifying competing visions or possibilities alive in particular legal debates
and reforms, detailing the ways in which one vision prevails over others, and
describing the difference between legal norms as self-expressed and the law in
practice.“
67 Ibid., hlm. 85, dinyatakan oleh Minow bahwa, “This inquiry takes the scholar
back to legal materials, instead of social and historical ones, but the scholar asks
expressly, how does the legal community construct itself through a system of
shared meanings, amde to look natural rather than chosen and how do legal
roles and the level of legal discourse distance legal officials and readers from
their own experiences and moral judgments.”
68 Ibid., hlm. 84-85, dinyatakan oleh Minow bahwa, “For this enterprise, the
scholar may seize upon literature, anthropology, and other expressions of hu-
man aspirations and achievements.” Ibid. at 85-86, “Mark Kelman has recently

24
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

Empat “kegiatan utama” yang dilukiskan oleh Minow berisi


implikasi yang digambarkan dari kegiatan yang berbeda-beda
dari para pemikir CLS. Sebagai contoh, para pemikir yang mengi-
kuti pendapat dari Duncan Kennedy tentang “pertentangan fun-
damental” (fundamental contradiction),69 mereka telah mencari
untuk mendemonstrasikan “keadaan yang tak dapat dipastikan”
dari doktrin hukum dengan cara menggambarkan dan
menjabarkan secara detail bagaimana berbagai doktrin hukum
hanya berputar di sekitar nilai yang berlawanan atau menentang
polaritas seperti obyektif/subyektif, publik/pribadi.70 Dalam
menggambarkan seberapa hak-hak hukum lebih “menyukai”
kelompok-kelompok kepentingan tertentu atau “menakjubkan”
hasilnya, para pemikir CLS mengembangkan kritik berbasis pada
konsep psikoanalisis berbasis pengingkaran (the psychoanalytic
concept on denial)71 atau pemikiran Gramscian tentang legitimasi
dan hegemoni.72 Para pemikir CLS yang mencari untuk mengem-
bangkan suatu penulisan sejarah baru untuk menggambarkan
sejarah hukum Amerika memahami sebagai sebuah “cerita

offered a somewhat similar description of what he calls the ‘four-part critical


method of CLS.” Lihat Tushnet, “Critical Legal Studies: An Introduction to Its
Origins and Underpinnings“, 36 J. LEGAL EDUC. 505 (1986).
69 Lihat Kennedy, “Form and Substance in Private Law Adjudication“, 89 HARV.
L. REV. 1685 (1976); Kennedy, “The Structure of Blackstone’s Commentaries“,
28 BUFFALO L. REV. 209 (1979).
70 Lihat Frug, “The Ideology of Bureaurcracy in American Law“, 97 HARV. L. REV.
1276 (1984); Kennedy, “These about International Law Discourse“, 23 GER-
MAN YEARBOOK OF INTERNATIONAL LAW 353 (1980); Olsen, “The Family
and the Market: A Study of Ideology and Legal Reform“, 96 HARV. L. REV. 1497
(1983).
71 Lihat Gabel, “The Phenonenology of Rights-Consciousness and the Part of the
Withdrawn Selves“, 62 TEX. L. REV. 1563 (1984).
72 Lihat Gabel & Feinman, “Contract Law as Ideology“, The Politics of Law 172 (D.
Kairysed. 1982); Klare, “Judicial Deradicalization of the Wagner Act and the
Origins of Modern Legal Consciousness 1937-1941“, 62 MINN. L. REV. 265
(1978).

25
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

pemenang” tentang bagaimana tradisi politis jangka panjang


dapat memindahkan tradisi lain dan bagaimana hukum dikem-
bangkan untuk melayani kebutuhan korporasi serta industrialisasi
Amerika.73 Karenanya, tidak ada satupun metode atau epistemo-
logi yang ingin digambarkan oleh teori hukum kritis.74
Pemikiran dari teori dan praktik CLS yang paling menonjol
adalah keberadaan suatu kritik internal yang berkesinambungan.
Sebagai contoh, topik para wanita dan ras minoritas di dalam
CLS telah memperlihatkan bagaimana hukum dapat dipahami
sebagai sebuah pemikiran politik berdasarkan kekuatan konteks-
tual di dalam suatu gambaran sosial dan hukum yang diciptakan
oleh kaum laki-laki berkulit putih.75 Beberapa kritik telah
menantang dominasi dari pemikiran kaum kulit putih dimaksud
dan telah mentransformasikan sifat intelektualitas dan politis ke
dalam suatu pergerakan yang menganut kembali kesamaan ras,
kelas, dan perbedaan gender. Karenanya, telah muncul suatu

73 Lihat Horwitz, The Transformation of American Law, 1780-1860 (1977);


TUSHNET, The American Law of Slavery, 1810-1860; Consideration of Hu-
manity and Internet (1981); Horwitz, “Republicanism and Liberalism in Ameri-
can Constitutional Thought“, 29 WM. & MARY L. REV. 57 (1987).
74 Minow, op. cit., hlm. 83, sebagaimana dinyatakan olehnya bahwa, “Critical
legal scholars often resist or reject efforts to systematize their work, as they seek
to express claims of textual ambiguity and historical contingency in the very
methods of their work.“
75 Lihat Menkel-Meadow, “Feminist Legal Theory, Critical Legal Studies, and Le-
gal Education or ‘The Fem-Crits Go to Law School’, 38 J. LEGAL EDUC. 61
(1988); Crenshaw, “Race, Reform, and Retrenchment: Transformation and Le-
gitimation in Antidiscrimination Law“, 101 HARV. L. REV 1331 (1988); Matsuda,
“Looking to the Bottom: Critical Legal Studies and Reparations“, 22 HARV. C.R.-
C.L.L. REV. 323 (1987); Williams, “Alchemical Notes: Reconstructing Ideals
from Deconstructed Rights“, 22 HARV. C.R.-C.L.L. REV. 401 (1987); Delgado,
“The Etheral Scholar: Does Critical Legal Studies Have What Minorities Want?“,
22 HARV. C.R.-C.L.L. REV. 301 (1987); Boyle, “The Politics of Reason: Critical
Legal Theory and Local Social Thought“, 133 U. PA. L. REV. 685 (1985).

26
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

gelombang baru dari pemikir CLS yang bereaksi melawan teori


progresif dari hukum antidiskriminasi dan menantang kemam-
puan elit kulit putih, terhadap semua bujukan politis untuk
memahami bagaimana sikap membenci suku bangsa lain serta
asumsi telah benar-benar mengoperasikan di dalam ideologi
hukum untuk menguatkannya.76 Para pemikir hukum Feminis
yang berhubungan dengan CLS telah juga menantang dan
mentransformasikan pemikiran CLS dengan cara membawa
perspektif gender menjadi pandangan yang lebih luas. Internal
dinamis dari beberapa kritik di dalam pergerakan CLS telah
memperkuat sifat alami kritik eksternal dibuat oleh CRITS dalam
respon mereka kepada perspektif hukum lain.
Dalam melakukan kritik kepada pemikiran dari para
penganut Hukum dan Ekonomi, maka para pemikir CLS mem-
berikan kritikan bahwa pemahaman “rasional” atau “efisien”
hanya karena itu nampak untuk dicocokkan dengan suatu
ideologi politis tertentu yang berupaya untuk mengisolasi dan
menjelaskan kembali masalah ras, kelas, dan ketidakberpihakan
gender serta perlakuan khusus terhadap konsekuensi logis dari
pilihan yang rasional.77 Pernyataan “normatif” dan “genetik” dari
para pemikir Chicago School, Hukum dan Ekonomi dilihat oleh
penganut CLS sebagai pernyataan yang benar-benar murni dari
pandangan dunia tertentu yang melekatkan dirinya ke dalam
budaya hukum elit dimana Hukum dan Ekonomi mencari cara
untuk menjelaskan dan memurnikannya.78 Analisis hukum kritis
mempunyai argumentasi bahwa tidak ada yang secara politis

76 Lihat Crenshaw, op. cit., hlm. 1366-1387.


77 Ibid.
78 Lihat M. Kelman, op. cit., hlm. 114.

27
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

netral, cara yang koheren untuk memperbicangkan tentang


hukum dan ekonomi karena logika internalnya bergantung
kepada konsep yang secara penuh kepalsuan dibangun dari suatu
perspektif memandang dunia tertentu yang telah gagal untuk
menghargai konsekuensi kontekstual dari ras, kelas, dan per-
bedaan gender.79 Para pemikir CLS menetapkan bahwa konsep
“transaction cost” yang diungkapkan oleh generasi pertama
Hukum dan Ekonomi telah gagal untuk mengidentifikasikan
penghitungan atas ketiadaan sarana,80 atau apakah suatu nilai
harus diukur dari perspektif pemilikan atau ekspektasi.81
Pernyataan efisiensi dari mazhab Hukum dan Ekonomi terlihat
dapat dibantah untuk mendukung jenis pernyataan-pernyataan
dari para pemikir hukum yang lebih maju.82
Pernyataan Perilaku yang diadopsi oleh sebagian besar CRITS
berasumsi bahwa hukum adalah suatu budaya dapat membentuk
keyakinan dan sikap status quo. Pandangan CLS berasumsi bahwa
pilihan dari para subyek hukum adalah membentuk suatu
keputusan hukum yang ortodoks.83 Penganut dari pergerakan
CLS menyatakan bahwa seperti agama dalam periode bersejarah
79 Ibid., hlm. 142, dinyatakan oleh Kelman bahwa, “The CLS claim, quite simply,
is that there is no absolutely politically neutral, coherent way to talk about
whether a decision is potentially Parieto efficient, wealth maximizing or, whether
its benefits outweigh its costs.“
80 Lihat Kennedy, op. cit., hlm. 398 dan 400, dinyatakan olehnya bahwa, “Cost
means no more than disutility.... If you are a liberal, and believe that there is a lot
of good as well as a lot of bad in human nature, it is possible to construct, on this
model, an efficiency argument for every one of the state interventions the con-
servatives claim are paradigmatically inefficient.“
81 Kelman, “Consumption Theory, Production Theory, and Ideology in the Coase
Theorem“, 52 S. CAL. L. REV. 669, 678-95 (1979).
82 Lihat Kennedy, “Cost-Benefit Analysis f Entitlement Problems: A Critique“, 33
STAN. L. REV. 387 (1981).
83 Sunstein, “Legal Interference with Private Preferences“, 53 U. CHI. L. REV. 1129,
1131 (1986).

28
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

sebelumnya, maka hukum menjadi suatu obyek keyakinan yang


dibentuk oleh kesadaran populer bersifat “passive acquiescence”
atau ketaatan terhadap status quo.84 Hal yang diinginkan oleh
para penganut CLS adalah untuk melakukan identifikasi terhadap
nilai-nilai tertentu yang diberikan karakter sebagai bagian ideal
dari hukum dan untuk menunjukkan bagaimana pemikiran
dominan terhadap hukum telah memodifikasi perwujudan dari
hal yang ideal dimaksud.85 Para pemikir CLS mengatakan bahwa
mereka mencari untuk mengungkapkan bagaimana suatu
kesanggupan untuk hukum yang ideal akan memerlukan lebih
dari hanya sekedar diskusi tentang bagaimana orang bisa belajar
untuk benar-benar menyadari hal-hal yang ideal dalam suatu
masyarakat demokratis di dalam sistem hukum.86
Hampir semua pemikir di dalam pergerakan CLS telah
mencari untuk mendemonstrasikan keadaan yang tidak dapat
dipastikan atau ketidaklogisan dari banyak kepercayaan dan teori-
teori tradisional para hukum tradisional. Ciri utama dari CLS
adalah kritik yang terus menerus, kadang-kadang disebut “trash-
ing”,87 untuk mencari adanya “kebenaran” yang abstrak terhadap
sistem hukum dan peraturan perundang-undangan.88 CLS

84 Gabel & Harris, “Building Power and Breaking Images: Critical Legal Theory
and the Practice of Law“, 11 N.Y.U. REV. L. & SOC. CHANGE 369, 374 (1982-
83).
85 Minda, op. cit., hlm. 719.
86 Frug, “Language as Power“, 84 COLUM. L. REV. 1881, 1895-96 (1984),
dinyatakan oleh Jerry Frug bahwa, “What we need to discuss is our different
conceptions of what our profession and our nation should become; we need to
build ways of talking that allow us-all of us-to argue about our future while still
making practical decisions about alternative courses of action.“
87 Kelman, “Trashing“, 36 STAN. L. REV. 293 (1984).
88 Kennedy, “Spring Break“, op. cit., hlm. 1420. Lihat juga Dalton, “An Essay in the
Deconstruction of Contract Doctrine“, 94 YALE L.J. 997 (1985); Frug, “The
Ideology of Bureaucracy in American Law“, 97 HARV. L. REV. 1276 (1984);
Freeman, “Racism, Rights and the Quest of Opportunity: A Critical Legal Essay“,

29
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

menantang pikiran liberal di mana hukum adalah berbeda dari


politik dan pemahaman dimaksud berbeda dengan kekuasaan89
dan sebuah semboyan CLS yang populer adalah “hukum adalah
politik” (law is politics).
Dalam mengadopsi suatu perspektif kritis terhadap praktik
hukum, para pemikir CLS menyatakan bahwa sistem hukum
mempertunjukkan bagaimana praktik di dalam sistem “mencip-
takan suatu budaya politik yang membujuk orang untuk mene-
rima keduanya, yaitu hak kekuasaan dan kesepakatan susunan
hierarkis yang sudah ada.”90 Peter Gabel dan Paul Harris berpen-
dapat bahwa fungsi yudisial “yang secara keseluruhan dibebani
oleh ritual dan simbolisme authoritarian” menunjukkan kepada
masyarakat bahwa kekuasaan yudisial berdasarkan atas
keagungan mereka dan kemampuan intelektual yang diberikan
kepada mereka.91 Mereka menjaga pemikiran bahwa simbolisme
hukum meletakkan dasar psikologis dalam suatu budaya politik
yang menggantikan identifikasi dengan penguasa untuk adanya
khayalan atas keikutsertaan dan partisipasi demokratis yang real
dalam suatu komunitas patriotik dan aktual yang didasarkan rasa
cinta dan saling menghormati.92 Pemikiran konservatif dari hukum
bukan untuk ditemukan dalam produk hukum yang meme-
cahkan konflik dan disetujui untuk kelompok yang dominan, tetapi

23 HARV. C.R.-C.L. L. REV. 295, 321 n.75 (1988); Frug, “Re-Reading Contracts:
A Feminist Analysis of a Contracts Casebook“, 34 AM. U.L. REV. 1065 (1985).
89 Lihat Unger, op. cit., hlm. 217, di mana dijelaskan olehnya, “The ‘paradox of
sociability’ as the ‘problem posed by the relation between self and others.“
90 Gabel & Harris, op. cit., hlm. 372.
91 Ibid., dinyatakan bahwa “each discrete conflict is treated as an isolated ‘case’;
the participants are brought before a judge in black robe who sits elevated from
the rest, near a flag to which everyone in the room has pledged allegiance each
day as a child; the architecture of the courtroom is awesome in its severity and
in its evocation of historical tradition; the language spoken is highly technical
and intelligible only to the select few who have been admitted to the Bar.“
92 Ibid., hlm. 373.

30
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

dalam terdefinisinya secara kategoris sifat dari konflik sosial.93


Perspektif CLS tentang hukum juga mempengaruhi para
pemikir kritis untuk memahami suatu putusan hakim. Dalam
tulisannya terhadap fenomena kritis dalam pengambilan kepu-
tusan oleh hakim,94 Duncan Kennedy menggambarkan penga-
laman dari seorang hakim yang “berjuang” untuk mencapai suatu
hasil spesifik dalam konteks memilih antara konsepsi pesaing
terhadap hukum. Kennedy berpendapat bahwa “pengalaman
dari menghakimi” adalah semacam pekerjaan dengan satu tujuan,
dan di sini tujuan membuat kasus dimaksud harus diketahui cara
hakim bagaimana berpikir tentang keadilan dan harus dimun-
culkan dalam putusan, kendatipun apa yang nampak pada mula-
nya merupakan resistensi atau perlawanan hukum.95 Kennedy
menawarkan uraian pendekatan dari penalaran proses hakim
menggunakan justifikasi hukum untuk keputusan yang mereka
buat dengan berdasarkan pada sesuatu hal yang dapat dijadikan
teladan, kebijakan, dan argumentasi sosial serta bersejarah. Dari
perspektif hipotetisnya hakim, Kennedy menggambarkan bagai-
mana hakim membatasi suasana “merasakan obyektivitas” (felt
objectivity) dalam “menerapkan aturan yang relevan,” adalah
ditarik dari pengalaman melakukan persidangan dalam mencapai

93 Ibid., sebagaimana dijelaskan oleh Gabel dan Harris bahwa, “In a genuinely
humane social order, the law would express provisional forms of moral con-
sensus about all aspects of social life, arrived at through a genuinely participa-
tory process. In our current system, such discussion is foreclosed by virtue of
the abstract or removed character of the political process. Instead, the legality of
hierarchy is frozen in historical rules which assume that the social relations
expressed through the existing institutions of property, contract, and the mod-
ern corporations are extensions of human freedom.“
94 Kennedy, “Freedom and Constraint in Adjudication: A Critical Phenomenol-
ogy“, 36 J. LEGAL EDUC. 518 (1986).
95 Ibid., hlm. 526.

31
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

proses pemilihan hasil.96 Dalam pandangan kritis tentang juris-


prudensi, suatu putusan hakim dipahami sebagai sebuah proses
untuk mengobyektifkan dan merasionalkan dengan merasakan
suatu pengaturan dalam keadaan yang tidak dapat dipastikan.
Para pemikir CLS juga terlibat dalam membentuk perbedaan
di antara para pemikir aliran mainstream. Ambisi dari sebagian
besar pemiikir CLS adalah harus mampu menggambarkan struktur
internal dari doktrin sebagai sebuah “naratif” atau “cerita”. Mereka
merasa terikat dengan tugas untuk menyingkapkan asumsi dan
nilai hukum yang dominan. CLS melakukan dengan cara mengi-
kuti jejak bagaimana suatu pemikiran hukum dapat diceritakan
atau dijelaskan dalam visi tertentu tentang dunia yang seharusnya.
Para pemikir CLS mengungkapkan seberapa pentingnya narasi
mampu merefleksikan dasar ideologis penyimpangan tentang
dunia. Pemikir kritis lainnya berpendapat bahwa cerita lain
tentang hukum diceritakan untuk menimbulkan suasana
pembaca dalam pengalaman yang “sesuatu bisa menjadi jika
tidak” (things could be otherwise) dan bahwa cerita resmi dari
hukum adalah tidak hanya sekedar cerita, tidak lebih atau tidak
kurang. Pemikir kritis dengan begitu menggunakan metode
alternatif untuk menetapkan “kebenaran” dari pengetahuan, yaitu
dengan berbasis kesadaran (consciousness-based) atau pen-
dekatan fenomenal.97

96 Ibid.
97 Lihat Kennedy, “Spring Break”; Kennedy, “The Turn to Interpretation“, 58 S.
CAL. L. REV. 251 (1985); Frug, Henry James, Lee Marvin and the Law, N.Y.
Times, Book Rev. Mag. (Feb. 16, 1986). Minda, “Phenomenology, Tina Turner
and the Law“, 16 N.M.L. REV. 479, 488 (1986), dinyatakan olehnya bahwa, “A
phenomenological approach to legal interpretation stresses the importance of
the individual’s subjective experience in developing descriptions and critiques
of law based upon the everyday experiences of social life.“

32
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

B. PENDEKATAN TEORI HUKUM PEMBANGUNAN


TERHADAP KONSEP HUKUM SEBAGAI SARANA
PEMBAHARUAN MASYARAKAT (LAW AS A TOOL
OF SOCIAL ENGINEERING)
Dalam membahas Teori Hukum abad ke-21 tentu tidak terlepas
dari pemikiran-pemikiran Mochtar Kusumaatmadja yang secara
visioner melihat ke depan. Pemikiran-pemikiran beliau sangat
relevan untuk dibahas berkenaan dengan Teori Hukum abad
ke-21 sebagai dasar pemahaman arah dari Teori Hukum abad
ke-21. Mochtar Kusumaatmadja menggunakan istilah “konsep”
atau “konsepsi” sebagai refleksi dari Teori Hukum. Pemikiran-
pemikiran Mochtar Kusumaatmadja yang relevan dengan
pembentukan Teori Hukum abad ke-21 adalah sebagai berikut:98
a. Hukum sebagai Sarana Pembaharuan Masyarakat;
Untuk memahami arti dan fungsi hukum maka hukum
merupakan suatu alat untuk memelihara ketertiban dalam
masyarakat. Hukum bersifat memelihara dan memper-
tahankan yang telah dicapai. Fungsi demikian diperlukan
dalam setiap masyarakat, termasuk masyarakat yang sedang
membangun karena ada hasil-hasil (pembangunan) yang
harus dipelihara, dilindungi dan “diamankan”.
Namun demikian masyarakat yang sedang membangun
dalam pemahaman masyarakat yang sedang berubah cepat
maka hukum tidak cukup memiliki fungsi dimaksud namun

98 Lihat Mochtar Kusumaatmadja, Konsep-Konsep Hukum dalam Pembangunan,


Pusat Studi Wawasan Nusantara, Hukum dan Pembangunan bekerjasama
dengan Penerbit PT. Alumni, Bandung, 2006 yang memuat pemikiran-
pemikirannya, yaitu: Fungsi dan Perkembangan Hukum dalam Pembangunan
Nasiona; dan Hukum, Masyarakat, dan Pembinaan Hukum Nasional: Suatu
Uraian tentang Landasan Pikiran, Pola dan Mekanisme Pembaharuan Hukum
di Indonesia.

33
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

hukum juga harus dapat membantu proses perubahan


masyarakat. Pandangan bahwa hukum tidak dapat memain-
kan peranan yang berarti dalam proses pembaharuan sudah
tidak dapat lagi diterima. Pengalaman Amerika Serikat yang
dimulai pada tahun 1930-an telah membuktikan diperguna-
kannya hukum sebagai alat untuk mewujudkan perubahan-
perubahan di bidang sosial, sebagaimana yang diungkapkan
oleh Roscoe Pound, “law as a tool of Social engineering”.
Peranan hukum dalam bentuk keputusan-keputusan Mahka-
mah Agung Amerika Serikat dalam mewujudkan persamaan
hak bagi warga yang berkulit hitam merupakan contoh yang
sangat mengesankan atas peranan progresif yang dapat
dimainkan oleh hukum dalam masyarakat. Intinya tetap
ketertiban, selama perubahan yang dikehendaki dalam
masyarakat hendak dilakukan cara yang tertib maka selama
itu masih ada tempat bagi peranan hukum. Kesulitan (ham-
batan) dalam menggunakan hukum sebagai suatu alat untuk
mengadakan perubahan-perubahan kemasyarakatan adalah
bahwa kita harus sangat berhati-hati agar tidak terjadi kerugian
pada masyarakat itu sendiri. Tindakan demikian tidak semata-
mata merupakan tindakan yudikatif atau peradilan yang secara
“formal yuridis” harus tepat karena eratnya hukum dengan
segi-segi sosiologi, anthropologi dan kebudayaan.
b. Sikap Mental Pemerintah dan Warga Negara;
Warga negara suatu negara hukum selain menaati pihak yang
berkuasa selama si penguasa bertindak dalam batas-batas
wewenangnya, maka seorang warga negara yang baik harus
mengetahui dan jika perlu menuntut hak-hak yang diberikan
kepadanya oleh undang-undang dan hukum. Hanya dengan

34
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

demikian ia menjalankan kewajibannya sebagai warga


negara dengan baik, dalam arti turut menjaga ketertiban yang
menjadi tanggung jawab semua warga negara, baik ia itu
penguasa atau rakyat. Sikap yang demikian lebih baik
daripada sikap yang menurut saja secara pasif, walaupun
sikap pasif lebih mudah. Akan tetapi warga negara yang
demikian tidak menjalankan kewajiban-kewajibannya secara
sepenuhnya. Sikap yang demikian barangkali cukup bagi
seorang kaula-negara (subyek) dari sebuah daerah jajahan
yang tidak turut bertanggung jawab atas kemajuan negarinya,
tapi tidak memadai bagi seorang warga negara (citizen) suatu
negara yang merdeka. Pada analisis terakhir kualitas suatu
pemerintah ditentukan oleh kualitas dari dukungan yang
diberikan rakyatnya. Kesulitan bagi suatu bangsa yang sedang
membangun lebih-lebih lagi suatu bangsa yang baru mer-
deka sudah jelas bahwa ia harus meninggalkan sikap terha-
dap pihak penguasa yang sudah terbiasa dan menggantinya
dengan sikap yang baru. Jelas kiranya bahwa sikap yang baru
itu (aktif) jauh lebih susah daripada sikap yang lama (pasif),
tapi itulah akibatnya (konsekuensi) menjadi bangsa yang
merdeka. Kalau hal dimaksud memerlukan suatu penye-
suaian (adjustment) tidak saja pada warga negara tetapi juga
pada penguasa, karena bagi si penguasa pun respons yang
pasif terhadapnya barangkali lebih menyenangkan. Akan
tetapi penguasa yang berpandangan jauh, bijaksana dan
patriotik sudah barang tentu akan membantu tumbuhnya
sikap yang aktif terhadap kekuasaannya, karena itu akhirnya
(in the long run) akan membantunya juga.

35
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

c. Perubahan Pemikiran tentang Hukum;


Pemikiran tentang hukum dalam beberapa dasawarsa (de-
cade) terakhir ini telah banyak berubah sebagai akibat dari
perubahan besar dalam masyarakat, teknologi dan tekanan-
tekanan (pressures) yang disebabkan oleh pertambahan
penduduk. Apabila diambil pengertian hukum dalam arti
yang luas yang mencakup di dalamnya Hukum Internasional
maka bidang hukum inilah yang mengalami guncangan-
guncangan perubahan yang paling dasyat yang menye-
babkan bebarapa ahli berbicara tentang adanya “krisis hukum
internasional”. Hal dimaksud tidak mengherankan karena
Hukum Internasional sebagai suatu sistem belum terstruk-
turkan (structured) seperti hukum nasional. Di antara pelbagai
negara di dunia pemikiran tentang hukum dan peranannya
dalam masyarakat, tergantung dari konservatif atau tidaknya
golongan yang berkuasa. Negara-negara otokratis yang
dikuasai golongan yang eksklusif cenderung untuk menolak
perubahan dan karenanya akan cenderung pada pemikiran
tentang hukum yang konservatif. Negara-negara yang maju
yang telah mencapai suatu keseimbangan dalam kehidupan
politik, ekonomi dan kemasyarakatannya juga akan cende-
rung untuk konservatif dalam pemikirannya tentang hukum.
d. Hukum sebagai Sarana Pembaharuan Masyarakat
Konsepsi yang memiliki kemiripan dengan konsepsi “law as
as tool of social engineering” yang di negara Barat pertama
kali dipopulerkan oleh aliran Pragmatic Legal Realism.99
99 Lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta, Pokok-Pokok Filsafat Hukum, Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta, 2006, hlm. 198 bahwa diungkapkan Mochtar
Kusumaatamadja tidak hanya dipengaruhi oleh Sosiological Jurisprudence
akan tetapi juga oleh Pragmatic Legal Realism.

36
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

Apabila konsepsi hukum sebagai sarana pembaharuan


sebagai konsepsi ilmu hukum (sehingga sekaligus konsepsi
pemikiran atau filsafat hukum, berbeda dari konsepsi politik
hukum sebagai landasan kebijaksanaan) mirip dengan atau
sedikit banyak diilhami oleh teori “tool of social engineer-
ing”.100 Pengembangan konsepsional dari hukum sebagai
sarana pembaharuan masyarakat di Indonesia lebih luas jang-
kauan dan ruang lingkupnya daripada di tempat kelahiran-
nya sendiri di Amerika Serikat karena beberapa hal, yaitu:
(1) Lebih menonjolnya perundang-undangan dalam proses
pembaharuan hukum di Indonesia, walaupun yurispru-
densi juga ada memegang peranan, berlainan dengan
keadaan di Amerika Serikat di mana Teori Roscoe Pound
itu ditujukan terutama pada peranan pembaharuan pada
keputusan-keputusan pengadilan, khususnya keputusan
Supreme Court sebagai mahkamah tertinggi;
(2) Sikap yang menunjukkan kepekaan terhadap kenyataan
masyarakat yang menolak aplikasi “mekanistis” daripada
konsepsi “law as a tool of social engineering”. Aplikasi
mekanistis demikian yang digambarkan dengan kata
“tool” akan mengakibatkan hasil yang tidak banyak
berbeda dari penerapan “legisme” yang dalam sejarah
hukum Indonesia (Hindia Belanda) telah ditentang
dengan keras. Dalam pengembangannya di Indonesia
100 Roscoe Pound dalam bukunya, An Introduction of the Philosophy of Law,
menyatakan bahwa, “I am content to think of law as a social institution to satisfiy
social wants-the claims and demands involves in the existence of civilized
society by giving effect to as much as we may with the leaser sacriface, so far as
such wants may be satifies or such claims given effect by an ordering of human
conduct through politically organized society.“ Lihat Roscoe Pound, An Intro-
duction of the Philosophy of Law, Yale University Press, London, 1930, hlm.
99.

37
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

maka konsepsi (teoretis) hukum sebagai alat atau sarana


pembaharuan ini dipengaruhi pula oleh pendekatan-
pendekatan filsafat budaya dari Northrop dan pendekatan
“policy-oriented” dari Laswell dan McDougal; dan
(3) Apabila dalam pengertian “hukum” termasuk pula
Hukum Internasional maka di Indonesia sebenarnya
sudah menjalankan asas “hukum sebagai alat pemba-
haruan” jauh sebelum konsepsi dimaksud dirumuskan
secara resmi sebagai landasan kebijaksanaan hukum.
Dengan demikian maka perumusan resmi itu sesung-
guhnya merupakan perumusan pengalaman masyarakat
dan bangsa Indonesia menurut sejarah. Perombakan
hukum di bidang pertambangan (termasuk minyak dan
gas bumi); tindakan-tindakan di bidang hukum laut, nasio-
nalisasi perusahaan-perusahaan milik Belanda dan lain
tindakan hukum bidang hukum sejak tahun 1958 yang
bertujuan mengadakan perubahan-perubahan mendasar
merupakan perwujudan dari aspirasi bangsa Indonesia
yang dituangkan dalam bentuk hukum dan perundang-
undangan.
Walaupun secara teoretis konsepsi hukum yang melandasi
kebijaksanaan hukum dan perundang-undang (rechts
politiek) sekarang bisa diterangkan menurut peristilahan atau
konsepsi-konsepsi atau teori masa kini (modern) yang ber-
kembang di Eropa dan Amerika Serikat, namun pada haki-
katnya konsepsi tersebut lahir dari masyarakat Indonesia
sendiri berdasarkan kebutuhan yang mendesak dan dipenga-
ruhi faktor-faktor yang berakar dalam sejarah masyarakat dan
bangsa Indonesia.

38
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

Pada akhirnya pemahaman terhadap pemikiran Mochtar


Kusumaatmadja menjadi tepat ketika pengembangan konsepsi
bahwa hukum sebagai sarana pembaharuan di Indonesia menjadi
suatu konsepsi ilmu hukum yang dikenal dengan Teori Hukum
Pembangunan. Hal dimaksud didasarkan pula pada pemahaman
bahwa selama perubahan yang dikehendaki dalam masyarakat
hendak dilakukan dengan cara yang tertib, selama itu masih ada
tempat bagi peranan hukum.101
Hukum merupakan suatu pencerminan dari suatu peradaban
(beschaving). Kebudayaaan dan hukum merupakan sebuah
jalinan yang erat dan sesungguhnya. Hukum merosot ke adalam
suatu dekadensi jika ia karena kekurangan-kekurangan dari para
pembentuk hukum, memperlihatkan ketertinggalan berkenaan
dengan fakta-fakta dan pemikiran-pemikiran yang berlaku atau
yang mulai berkembang. Para pembentuk hukum yang tidak
dapat menyesuaikan dengan keadaan-keadaan ekonomi yang
baru atau yang tidak peka dengan masalah-masalah di masa
depan, atau para hakim yang menerapkan suatu kaidah kuno
begitu saja menuruti teksnya dan secara legalistik, atau dalam
hubungan-hubungan internasional di mana negara-negara
berpegang teguh pada nasionalisme sempit mereka.
Dalam membahas pendekatan teori hukum terhadap
permasalahan hukum di Indonesia, maka tentu tidak terlepas dari
pemikiran-pemikiran Mochtar Kusumaatmadja yang secara
visioner melihat ke depan. Pemikiran-pemikiran Mochtar
Kusumaatmadja sangat relevan untuk dibahas berkenaan dengan

101 Lihat Mochtar Kusumaatmadja, Konsep-Konsep Hukum dalam Pembangunan,


Pusat Studi Wawasan Nusantara, Hukum dan Pembangunan bekerjasama
dengan Penerbit PT. Alumni, Bandung, 2006.

39
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Teori Hukum abad ke-21. Mochtar Kusumaatmadja meng-


gunakan istilah “konsep” atau “konsepsi” sebagai refleksi dari
Teori Hukum, yaitu hukum sebagai alat pembaharuan masyarakat
atau sarana pembaharuan masyarakat.102 Pokok-pokok pikiran
Moctar Kusumaatmadja khususnya berkaitan dengan konsepsi
Hukum sebagai Sarana Pembaharuan Masyarakat adalah seba-
gaimana diuraikan berikut ini.

1. Arti Hukum dan Fungsinya dalam Masyarakat


Pertanyaan mengenai apa arti hukum itu sebenarnya dan fungsi
hukum dalam masyarakat, dapat dikembalikan pada pertanyaan
dasar yaitu apakah tujuan hukum itu. Tujuan pokok dari hukum
apabila hendak direduksi pada satu hal saja, adalah ketertiban
(order). Ketertiban adalah tujuan pokok dan pertama daripada
segala hukum. Kebutuhan ketertiban ini, syarat pokok atau fun-
damental bagi adanya suatu masyarakat manusia yang teratur.
Ketertiban sebagai tujuan utama hukum adalah merupakan suatu
fakta obyektif yang berlaku bagi segala masyarakat manusia dalam
segala bentuknya. Menurut Mochtar, “manusia– masyarakat –
dan hukum” merupakan pengertian yang tak dapat dipisah-
pisahkan sebagaimana digambarkan dengan tepat dalam pameo
Romawi “ubi societas ibi ius”. Selain tujuan hukum adalah

102 Lihat Mochtar Kusumaatmadja, Konsep-Konsep Hukum dalam Pembangunan,


Pusat Studi Wawasan Nusantara, Hukum dan Pembangunan bekerjasama
dengan Penerbit PT. Alumni, Bandung, 2006. Pengertian “konsep” dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III Dalam Jaringan (on-line dictionary),
dapat diunduh melalui laman <http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/> dimuat
arti kon·sep /konsép/ (n) 1 rancangan atau buram surat dan sebagainya; 2 ide
atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa konkret: satu istilah dapat
mengandung dua -- yang berbeda.

40
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

tercapainya ketertiban, maka tujuan lain dari hukum adalah


tercapainya keadilan yang berbeda-beda isi dan ukurannya,
menurut masyarakat dan zamannya. Untuk mencapai ketertiban
dalam masyarakat maka perlu diusahakan adanya kepastian
dalam pergaulan antarmanusia dalam masyarakat. Ditegaskan
oleh Mochtar bahwa yang penting sekali bukan saja bagi suatu
kehidupan masyarakat teratur, tetapi merupakan syarat mutlak
bagi suatu organisasi hidup yang melampaui batas-batas saat
sekarang. Mendasarkan hal dimaksud maka lembaga-lembaga
hukum seperti misalnya perkawinan, yang memungkinkan
kehidupan yang tidak dikacaukan oleh hubungan laki-laki dan
perempuan; hak milik; dan kontrak yang harus ditepati oleh pihak-
pihak ynang mengadakannya. Tanpa kepastian hukum dan
ketertiban masyarakat yang dijelmakan olehnya, manusia tidak
mungkin mengembangkan bakat-bakat dan kemampuan yang
diberikan Tuhan kepadanya secara optimal di dalam masyarakat
tempat hidup.

2. Hukum sebagai Kaidah Sosial


Hukum sebagai kaidah sosial tidak berarti bahwa pergaulan antar
manusia dalam masyarakat hanya diatur oleh hukum. Selain oleh
hukum, kehidupan manusia dalam masyarakat selain dipedomani
moral manusia itu sendiri, diatur oleh agama, oleh kaidah-kaidah
susila, kesopanan, adat kebiasaan dan kaidah-kaidah sosial
lainnya. Antara hukum dan kaidah-kaidah sosial lainnya ini,
terdapat hubungan jalin-menjalin yang erat, yang satu memper-
kuat yang lainnya. Adakalanya hukum tidak sesuai dan serasi
dengan kaidah-kaidah sosial lainnya itu. Tapi dalam satu hal,
hukum berbeda dari kaidah-kaidah sosial lainnya, yakni bahwa

41
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

penataan ketentuan-ketentuannya dapat dipaksakan dengan


suatu cara yang teratur. Unsur pemaksaan guna menjamin
penataan ketentuan-ketentuan hukum itu sendiri tunduk pada
aturan-aturan tertentu, baik mengenai bentuk, cara maupun alat
pelaksanaannya. Hal ini tampak dengan jelas dalam suatu negara
di mana pemaksaan itu biasanya berada di tangan negara dengan
alat-alat perlengkapannya. Berkenaan dengan unsur “pemak-
saan” ketaatan akan hukum mengarah kepada suatu masalah
yang pokok bagi penyelaman daripada hakikat hukum itu sendiri,
yaitu masalah hukum dan kekuasaan.

3. Hukum dan Kekuasaan


Pemahaman terhadap kekuasaan merupakan hal yang penting
dalam mengkaji keterkaitan antara hukum dan kekuasaan.
Apakah kekuasaan dalam pengertian “power” memiliki per-
samaan dengan kekuatan dalam pengertian “force”. Walaupun
orang yang memiliki kekuatan (fisik) sering juga berkuasa, sehingga
ada kecenderungan setengah orang untuk menyamakan saja
antara kekuasaan (power) itu dengan kekuatan (force), namun
ada kalanya bahkan sering tidaklah demikian halnya. Sering pula
seseorang yang berkekuatan dikuasai oleh seorang yang fisik
lemah dan perlu diingat bahwa untuk “kaum yang lemah”
dipahami pula bahwa kekuasaan tidak selalu menyertai kekuatan
dan sebaliknya. Ini disebabkan karena kekuasaan tidak selalu,
bahkan sering tidak bersumber pada kekuatan fisik. Kekuasaan
sering bersumber pada wewenang formal (formal authority) yang
memberikan wewenang atau kekuasaan kepada seseorang atau
suatu pihak dalam suatu bidang tertentu.

42
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

Mochtar menegaskan bahwa kekuasaan itu bersumber pada


hukum, yaitu ketentuan-ketentuan hukum yang mengatur
pemberian wewenang dimaksud. Mendasarkan bahwa hukum
itu memerlukan paksaan bagi penataan ketentuan-ketentuannya,
maka dapat dikatakan bahwa hukum memerlukan kekuasaan
bagi penegaknya. Bagi Mochtar, tanpa kekuasaan maka hukum
itu tak lain akan merupakan kaidah sosial yang berisikan anjuran
belaka. Sebaliknya, hukum berbeda dari kaidah sosial lainnya,
yang juga mengenal bentuk-bentuk paksaan, dalam hal bahwa
kekuasaan memaksa itu sendiri diatur, baik mengenai cara
maupun ruang gerak atau pelaksanaannya oleh hukum. Instrumen
polisi, kejaksaan dan pengadilan sebagai pemaksaan atau
penegak hukum negara yang masing-masing ditentukan batas-
batas wewenangnya. Hubungan hukum dan kekuasaan dalam
masyarakat dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hukum
memerlukan kekuasaan dalam pelaksanaanya, sebaliknya
kekuasaan itu sendiri ditentukan batas-batasnya oleh hukum.
Mochtar menggunakan istilah yang lebih populer bahwa,
“hukum tanpa kekuasaan adalah angan-angan, kekuasaan tanpa
hukum adalah kelaliman”.
Menurut Mochtar, pada akhirnya kekuasaan merupakan
salah satu unsur yang mutlak dalam suatu masyarakat hukum
dalam arti masyarakat yang diatur oleh dan berdasarkan hukum.
Bahkan Mochtar mengemukakan pula adanya pemahaman
kekuasaan merupakan suatu fungsi dari masyarakat yang teratur.
Suatu anggapan yang terbatas tentang kekuasaan, definisi
demikian mungkin benar namun dari pengamatan kenyataan
sosial menunjukkan bahwa anggapan demikian tidak memadai.
Adakalanya orang yang formal mempunyai wewenang dan nyata

43
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

mempunyai kekuatan fisik dalam keadaan-keadaan tertentu dalam


kenyataannya tidak memiliki atau tidak (dapat) melaksanakan
kekuasaannya. Kenyataan ini menunjukkan suatu pemahaman
bahwa wewenang formal dan kekuatan fisik, bukan satu-satunya
sumber kekuasaan. Memang dalam kenyataan, orang yang
memiliki pengaruh politik atau keagamaan, dapat lebih berkuasa
dari yang berwenang atau memiliki kekuatan fisik (senjata).
Kekayaan (uang) atau kekuatan ekonomi lainnya juga merupakan
sumber-sumber kekuasaan yang penting, sedangkan dalam
keadaan-keadaan tertentu kejujuran, moral yang tinggi dan penge-
tahuan pun tak dapat diabaikan sebagai sumber-sumber kekuasaan.
Menurut Mochtar, kekuasaan itu adalah fenomena yang
aneka ragam bentuknya (polyform) dan banyak sumbernya.
Hanya hakikat kekuasaan dalam pelbagai bentuk itu tetaplah
sama, yaitu kemampuan seseorang untuk memaksakan kehen-
daknya kepada pihak lain. Di samping bentuk perwujudannya
serta sumber-sumber yang berlainan, kekuasaan itu menurut
pengamatan sejarah mempunyai suatu sifat khas, yaitu kekuasaan
cenderung untuk merangsang yang memilikinya untuk lebih
berkuasa lagi. Kekuasaan haus akan lebih banyak lagi kekuasaan.
Mochtar berpendapat bahwa hal yang sudah diuraikan
sebelumnya adalah pemahaman tentang fenomena kekuasaan
itu sendiri (an sich) dan dalam hubungannya dengan si pemilik
kekuasaan. Pemahaman kekuasaan terhadap hubungannya
dengan pihak yang dikuasai dapat dipahami bahwa pihak yang
dikuasai turut menentukan kualitas kekuasaan yang berlaku atas
dirinya. Jika diterima dan didukung, maka kekuasaan itu meru-
pakan wibawa. Kekuasaan demikian, tidak banyak memerlukan
paksaan (kekuatan) dalam penggunaannya, karena kekuatan itu

44
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

di peroleh dari (dukungan) yang dikuasai itu sendiri. Semakin


kecil dukungan itu atau semakin sedikit yang dikuasai menerima
kekuasaan di atasnya, maka semakin banyak dibutuhkan paksaan
(kekuatan) untuk pelaksanaanya, untuk akhirnya merubah
menjadi penggunaan kekerasaan semata-mata. Kekuasaan yang
demikian ini, tidak dapat tahan lama karena perlawanan (sebagai
kebalikan dari dukungan) akan bertambah sedemikian rupa
sehingga tak dapat dikendalikan lagi dengan kekuatan senjata.
Sebagaimana dinyatakan ulang oleh Mochtar, hal ini paling
jelas dinyatakan oleh Taheyrand yang mengatakan bahwa
banyak yang dapat kita lakukan dengan ujung bayonet, kecuali
duduk di atasnya. Kekuasaan itu sendiri (an sich) bukan sesuatu
yang tidak baik atau buruk, bergantung dari bagaimana kekuasaan
dimaksud akan digunakan. Kekuasaan merupakan suatu unsur
yang mutlak bagi kehidupan masyarakat yang tertib, bahkan
setiap bentuk organisasi yang teratur. Namun menurut Mochtar,
mendasarkan pada sifat-sifat dan hakikatnya, kekuasaan itu untuk
dapat bermanfaat harus ditetapkan ruang lingkup, arah dan batas-
batasnya karena dibutuhkan hukum. Sekali ditetapkan maka
hendaknya pengaturan kekuasaan dipegang teguh, hal dimaksud
merupakan inti dari pengertian bahwa kekuasaan itu harus tunduk
pada hukum. Dikarenakan kompleksnya kekuasaan sebagai
unsur pengatur kehidupan masyarakat ini, maka selain pentingnya
pengaturannya maka hal penting lainnya adalah berkenaan
dengan hal pertama bahwa watak-watak serta sifat yang harus
dimiliki oleh pemegang kekuasaan dan hal kedua adalah sikap
yang dikuasai. Hal pertama, mengingat sifat dan hakikat
kekuasaan, jelas kiranya bahwa tidak setiap orang dengan begitu
saja dapat diserahi kekuasaan karenanya harus dipersiapkan

45
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

untuk itu. Seorang pemegang kekuasaan, harus memiliki semangat


mengabdi kepentingan umum (sense of public service). Hal kedua,
mengenai sikap yang dikuasai, dapat dikemukakan bahwa pada
satu pihak, ia mempunyai kewajiban tunduk pada penguasa (the
duty of civil obedience) namun pada pihak lain, ia pun harus
sadar akan hak-haknya sebagai anggota masyarakat. Sebab hanya
dengan demikian ia bisa menggunakan jaminan-jaminan yang
diberikan oleh hukum tidak hanya untuk melindungi dirinya
sendiri, tapi juga untuk menyelamatkan masyarakat serta menjaga
si penguasa dari kehancuran. Pada kesimpulannya baik si
penguasa maupun si rakyat, harus didik untuk memiliki kesadaran
kepentingan umum (public spirit). Bagi Mochtar, kesemua hal
dimaksud sebelumnya memerlukan pendidikan yang terarah dan
sistematis, yang tidak hanya terbatas pada sekolah, tetapi meliputi
segala lembaga-lembaga kehidupan masyarakat (social institution)
termasuk lingkungan keluarga. Hasilnya tidak dapat diharapkan
lebih cepat dari satu generasi. Seperti juga halnya dengan
pendidikan lainnya, pemberian teladan oleh pemuka-pemuka
masyarakat, jauh lebih berguna daripada berpuluh-puluh
khotbah atau petuah.

4. Hukum dan Nilai-Nilai Sosial Budaya


Menurut Mochtar, hukum sebagai kaidah sosial, tidak lepas dari
nilai (values) yang berlaku di suatu masyarakat, bahkan dapat
dikatakan bahwa hukum itu merupakan pencerminan daripada
nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Bagi Mochtar, suatu
hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang
hidup (the living law) dalam masyarakat, yang tentunya sesuai

46
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

pula atau merupakan pencerminan daripada nilai-nilai yang


berlaku dalam masyarakat itu. Dalam suatu masyarakat yang
sedang dalam peralihan (instransition) dari suatu masyarakat yang
tertutup, statis dan “terbelakang” ke suatu masyarakat yang
terbuka, dinamis, “maju” (modern) nilai-nilai itu pun tentunya
sedang dalam perubahan pula. Dilihat secara demikian, maka
dalam pembangunan nasional, yang terpenting bukanlah
pembangunan secara fisik berupa bertambah banyaknya gedung,
jembatan, dan atau kapal, akan tetapi perubahan yang sedang
terjadi pada manusia anggota masyarakat itu dan nilai-nilai yang
mereka anut. Nilai-nilai itu tidak lepas dari sikap (attitude) dan
sifat-sifat yang (seharusnya) dimiliki orang-orang yang menjadi
anggota masyarakat yang sedang membangun itu. Tanpa
perubahan sikap-sikap dan sifat ke arah yang diperlukan oleh
suatu kehidupan yang modern, maka segala “pembangunan”
dalam arti benda fisik, akan sedikit sekali artinya. Hal ini sudah
dibuktikan oleh pemborosan-pemborosan yang terjadi di banyak
negara yang sedang mengabaikan aspek ini.
Mochtar menegaskan bahwa hakikat dari masalah pem-
bangunan nasional adalah masalah pembaharuan cara berpikir
dan sikap hidup. Tanpa sikap dan cara berpikir yang berubah,
maka pengenalan (introduction) lembaga-lembaga modern
dalam kehidupan tidak akan berhasil. Mochtar mencontohkan
seperti mengambil saja kesukaran-kesukaran yang dijumpai
dengan lembaga “kredit” atau dengan pinjaman (termasuk barang)
pada umumnya. Kesukaran-kesukaran yang dialami dalam praktik
sehari-hari dengan lembaga-lembaga yang dalam lingkungan
asalnya sangat bersama ini untuk sebagian mempunyai sebab-
musabab kebudayaan.

47
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Menurut Mochtar, apabila disepakati prinsip bahwa demi


pembangunan, pembaharuan sikap, sifat atau nilai-nilai adalah
perlu, persoalannya adalah nilai-nilai mana dari keadaan masya-
rakat yang ada hendak ditinggalkan dan diganti dengan nilai-
nilai baru yang diperkirakan lebih sesuai dengan kehidupan
(dunia) dewasa ini, dan nilai-nilai manakah yang bisa dan patut
dipertahankan. Persoalan dimaksud menurut Mochtar, tidak
dipecahkan dengan mengambil alih begitu saja segala sesuatu
yang dianggap modern karena modernnya, juga tidak dengan
secara membabi buta mempertahankan segala sesuatu yang
“asli”, karena keasliannya atau “mencerminkan kepribadiannya”.
Kesulitan di dalam memilih nilai-nilai mana yang merupakan nilai
yang diinginkan untuk suatu masyarakat yang dikehendaki
adakah rintangan-rintangan yang ditemui di dalam mengadakan
pemilihan nilai-nilai jujur.
Menurut Mochtar, rintangan-rintangan terbesar yang ditemui
antara lain:
(1) “Melukai kebanggan nasional”; hal ini mungkin terjadi jika
sifat-sifat yang hendak diubah itu dianggap identik dengan
“kepribadian nasional”. Bahwa jangankan mengubah, “mene-
ropong” atau mempersoalkan nilai-nilai atau sifat-sifat yang
dianggap khas mencerminkan “kepribadian nasional” secara
akal (rasional) saja pun sudah bisa menimbulkan reaksi yang
hebat. Tidak banyak kiranya orang yang berani menelaah
secara kritis dan tajam sifat “kegotong-royongan” atau
“kekeluargaan” dan menghubungkannya dengan persoalan
modernisasi.

48
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

(2) “Reaksi yang berdasarkan rasa salah diri”; di mana golongan


pimpinan masyarakat, termasuk apa yang dinamakan
golongan intelektual, sebagai golongan yang mempelopori
pembaruan, sering (mereka) sendiri tidak dapat mempraktikan
nilai-nilai atau sifat-sifat yang mereka anjurkan sebagai sifat-
sifat yang diperlukan bagi suatu masyarakat modern. Menurut
Mochtar, bahwa persoalannya akan jelas beberapa sifat saja
yang perlu di dalam suatu masyarakat modern seperti
kejujuran; efisiensi; bertepat waktu (punctuality); keteraturan
(orderliness); kerajinan; sifat hemat; rasional dalam pikiran
dan mengambil keputusan; dan kemampuan untuk
menangguhkan konsumsi sebagai refleksi adanya perspektif
masa depan.
(3) “Heterogenitas masyarakat Indonesia”; yang dari tempat ke
tempat berbeda tingkat kemajuannya, agama, bahasanya,
dan lain-lain. Rintangan pertama yang diperkuat di masa
lampau, karena dalam rangka meningkatkan kebanggaan
nasional (suatu obyektif yang rasional berguna) sering terjadi
pendewaan nilai-nilai tradisional, disertai anggapan bahwa
hanya bangsa Indonesia yang memiliki sifat-sifat (baik) itu.
Misalnya kegotong-royongan sering ditonjolkan sebagai suatu
sifat khas Indonesia dengan melupakan bahwa sifat demikian
sering dimiliki oleh masyarakat agraris di pedesaan (rural ar-
eas) di mana-mana. Maka dapat pula dikemukakan bahwa
masyarakat modern pun memiliki sifat gotong royong,
walaupun dalam bentuk lain, sesuai dengan yang tingkat
kemajuan dan syarat-syarat kemajuan teknologi. Jaminan hari
tua, yang diberikan kepada setiap orang (tidak saja bekas
pegawai negeri) di negara Barat yang dibiayai dari potongan

49
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

“social security” orang yang bekerja adalah suatu contoh.


Kerjasama antara crew APOLLO-11, adalah contoh gotong-
royong bentuk modern yang lain. Pertanyaan selanjutnya
adalah seandainya ada kesepakatan, nilai-nilai apakah yang
diperlukan bagi pembaharuan masyarakat apakah ada
peranan bagi hukum dalam mewujudkannya. Mengingat
bahwa perkembangan dan pembaharuan termasuk perkem-
bangan masyarakat di suatu negara yang sedang berkembang
dipelopori oleh Pemerintah, sudah jelas bahwa hukum dapat
memegang peranan dalam proses pembaharuan ini.
Sebabnya karena segala tindakan pemerintah termasuk yang
bertujuan perkembangan masyarakat ke arah masyarakat
yang sama-sama dikehendaki akan berwujud undang-
undang, peraturan dan ketentuan-ketentuan lainnya.

5. Hukum sebagai Sarana Pembaharuan Masyarakat


Menurut Mochtar Kusumaatmadja, hukum merupakan suatu
“alat untuk memelihara ketertiban” dalam masyarakat. Mengingat
fungsinya di atas sifat hukum pada dasarnya adalah konservatif,
artinya hukum bersifat memelihara dan mempertahankan yang
telah tercapai. Fungsi Hukum yang dimaksud diperlukan dalam
setiap masyarakat, termasuk masyarakat yang sedang mem-
bangun, karenanya di sini pun ada hasil-hasil yang harus dipeli-
hara, dilindungi dan “diamankan”. Akan tetapi masyarakat yang
sedang membangun, yang dalam definisi Mochtar diartikan
sebagai masyarakat yang sedang berubah cepat, hukum tidak
cukup memiliki fungsi demikian saja. Mochtar mengaskan bahwa
hukum juga harus dapat membantu proses perubahan masyarakat

50
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

itu. Menurut Mochtar bahwa pandangan yang kolot tentang


hukum yang menitikberatkan fungsi pemeliharaan ketertiban
dalam arti statis, dan menekankan sifat konservatif daripada
hukum, menganggap bahwa hukum tidak dapat memainkan
suatu peranan yang berarti dalam suatu pembaharuan. Pema-
haman bahwa dengan ahli hukum orang tak dapat membuat
revolusi menggambarkan anggapan demikian.
Pemahaman dimaksud tadi tidak benar dan dibantah oleh
pengalaman antara lain Amerika Serikat. Di Amerika terutama
setelah dilaksanakannya Program New Deal mulai tahun 1930-
an telah dicatat bahwa dipergunakannya hukum sebagai alat
untuk mewujudkan perubahan-perubahan di bidang sosial.
Mochtar menyatakan bahwa di Amerika muncul istilah “law as
a tool of Social engineering” sebagaimana yang dikemukan oleh
Roscoe Pound. Peranan hukum dalam bentuk keputusan-kepu-
tusan Mahkamah Agung Amerika Serikat dalam mewujudkan
persamaan hak bagi warga negara yang berkulit hitam merupakan
contoh yang sangat mengesankan daripada peranan progresif
yang dapat dimainkan oleh hukum dalam masyarakat, walaupun
pada intinya tetap “ketertiban”. Menurut Mochtar bahwa selama
perubahan yang dikehendaki dalam masyarakat hendak
dilakukan dengan cara yang tertib, selama itu masih ada tempat
bagi peranan hukum.
Di Indonesia beberapa puluh tahun yang lalu di zaman
Hindia Belanda, telah dilakukan tindakan di bidang hukum
(pidana), yaitu pelanggaran praktik pemenggalan kepala di
pedalaman Kalimantan, yang pada waktu itu masih merupakan
praktik lazim menurut adat setempat. Maka di Indonesia pun,

51
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

telah terdapat perubahan nilai kebudayaan ke arah yang dianggap


penguasa pada waktu itu lebih menguntungkan masyarakat.
Kesulitan dalam menggunakan hukum sebagai suatu sarana
untuk mengadakan perubahan-perubahan kemasyarakatan
adalah bahwa bangsa Indonesia harus sangat berhati-hati agar
supaya oleh karenanya justru tidak menimbulkan kerugian pada
masyarakat. Tindakan demikian tidak semata-mata merupakan
tindakan yudikatif atau peradilan (yudikatif) yang secara “formal
yuridis” harus tepat karena eratnya hukum dengan segi-segi
sosiologi, antropologi dan kebudayaan.
Mochtar Kusumaatmadja menegaskan bahwa ahli hukum
di suatu masyarakat yang sedang membangun, membutuhkan
pendidikan yang lebih baik dari pada biasa dalam arti meliputi
suatu spektrum ilmu-ilmu sosial dan budaya yang dibutuhkan
dalam mempelajari hukum positif.

C. FENOMENA, ONTOLOGI DAN TAKSONOMI


TERHADAP HUKUM DAN TEKNOLOGI
1. Fenomena Hukum dan Teknologi
Haraway dan Braidotti keduanya telah melakukan pendekatan
terhadap permasalahan teknologi dan kemanusiaan dari pema-
haman yang paling mendasar tentang kehidupan di dunia.103
Mereka mengusulkan suatu pemahaman tentang fenomena
terhadap teknologi.104 Perhatian mereka adalah dengan mela-

103 Kieran Tranter, “Nomology, Ontology, and Phenomenology of Law and


Technology“, Minnesota Journal of Law, Science & Technology, Spring 2007.
104 Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III Dalam Jaringan (on-line dictionary),
dapat diunduh melalui laman <http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/> dimuat
pengertian fe·no·me·na /fénoména/ (n) 1 hal-hal yang dapat disaksikan dengan

52
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

kukan pemilahan hubungan kompleks dari budaya, alam,


pengetahuan, dan tenaga dalam kesaatan (here-and-now),
sebagai basis untuk keterikatan politis dan perilaku etis. Fenomena
terhadap teknologi mempunyai unsur potensial untuk mem-
perkaya pemahaman terhadap Hukum dan Teknologi. Dua
pendekatan dipergunakan mengeksplorasi hukum dan teknologi.
Pendekatan pertama, yaitu mengikuti pendapat Haraway dan
Latour dan menguji hubungan antara variabel hukum, teknologi
dan masyarakat dalam suatu kerangka historis yang rinci.
Pendekatan kedua, yaitu menggambarkan suatu fiksi ilmiah untuk
dapat mempertimbangkan variabel berbasis budaya terhadap
kewenangan spekulatif dari hukum dan teknologi.
Pendekatan pertama menggambarkan pendapat Haraway
bahwa, “Suatu hal yang menarik adalah dalam technoscience,
seperti suatu buku teks, molekul, persamaan ... bisa – dan sering
juga harus – juga menunjukkan keterkatian dengan ekonomi,
teknis, politis, organik, historikal, mistikal dan tekstual yang
menyusup dan membentuk bagian tipis.”105 Sekalipun terdapat
perselisihan paham antara Haraway dengan Latour, tugas
dimaksud nampak dapat disamakan teori subyek jaringan dari
Latour. Penelitian awal Latour mempertimbangkan bahwa fakta

pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah (seperti fenomena
alam); gejala: gerhana adalah salah satu -- ilmu pengetahuan; 2 sesuatu yang
luar biasa; keajaiban: sementara masyarakat tidak percaya akan adanya
pemimpin yang berwibawa, tokoh itu merupakan -- tersendiri; 3 fakta;
kenyataan: peristiwa itu merupakan -- sejarah yang tidak dapat diabaikan.
105 Kieran Tranter, “Nomology, Ontology, and Phenomenology of Law and
Technology”, Minnesota Journal of Law, Science & Technology, Spring 2007,
dimuat bahwa, “Any interesting being in technoscience, such as a textbook,
molecule, equation ... can - and often should - be teased open to show the
sticky economic, technical, political, organic, historical, mythic and textual
threads that make up its tissues.”

53
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

ilmiah tidak begitu saja muncul dari “black box” di laboratorium


tetapi muncul melalui suatu proses peterjemahan dan penyatuan
antara para ilmuwan serta para subyek lainnya. Sementara itu
Latour mempertimbangkan para subyek dari dalam suatu
komunitas penelitian ilmuwan dan politis, media, dan para subyek
ekonomi; pemahaman yang mendalam dari Latour adalah mesin-
mesin dan obyek-obyek itu harus juga diperlakukan sebagai para
subyek di dalam jaringan sosiologi.106 Pada karyanya Aramis or
the Love of Technology, Latour mengemukakan seberapa kedu-
niaannya dan sering juga terjadinya kesembronoan atas faktor-
faktor politis, ekonomi, sosial, dan faktor teknik, dan personalitas
pelaksana; yang mencakup kepribadian dari teknologi itu sendiri
dan saling berhubungan lebih dari delapan belas tahun.107
Perlunya suatu pendekatan ke arah Hukum dan Teknologi
yang akan melakukan pengujian secara rinci dari suatu keter-
hubungan atau jaringan, bahwa tidak hanya perubahan teknologi
akan tetapi juga antisipasi hukum terhadap perubahan teknologi
itu sendiri. Hal-hal yang dapat dipelajari dari pemahaman
dimaksud dapat ditemui dalam penelitian historikal yang rinci
terhadap hubungan antara budaya dan teknologi. Sebagai
contoh, Wolfgang Schivelbusch melakukan penelitian yang
kompleks dan detil dari jalan/rel kereta api pada abad kesembilan
belas.108 Ditemui pula beberapa penelitian yang sejenis dari
dengan analisis historikal terhadap Hukum dan Teknologi. Brad

106 Bruno Latour, Science In Action: How To Follow Scientists and Engineers
Through Society, (1987).
107 Bruno Latour, Aramis or the Love of Technology, (Catherine Porter Trans.),
1996.
108 Wolfgang Schivelbusch, The Railway Journey: The Industrialization of Time
and Space in the 19th Century (1986).

54
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

Sherman dan Lionel Bently telah menelusuri faktor-faktor yang


berdampak perubahan dan kemunculan hukum kekayaan
intelektual di Inggris, bahwa dicatat beberapa variasi aliansi
representasi, kelompok kepentingan dan konsepsi umum dari
pemerintahan selama perluasan jangka waktunya (1760-
1911).109 Dicontohkan pula bahwa di Australia pada saat diberla-
kukannya hukum kendaraan bermotor mungkin dipahami bukan
sebagai satu reaksi sederhana kepada penggunaan kendaraan
bermotor, tetapi telah terjadi suatu pertukaran yang kompleks dari
kesadaran publik, kepribadian dari politikus tertentu, penggunaan
standar Inggris, industri mobil dan suatu penjelmaan dari budaya
publik dimana digunakannya teknologi sebagai variabel kema-
juan dan mencita-citakan transportasi massa; namun kesemuanya
tetap diperlukan suatu penghormatan terbaik kepada peraturan
perundang-undangan.110
Penelitian telah berhasil memetakan kompleksitas dari budaya
dan personalitas, dan lebih “abstrak” lagi terhadap politik, eko-
nomi, dan konteks hukum. Hal dimaksud memperlihatkan bagai-
mana hukum dan teknologi bukan hanya digabungkan pada
tataran hukum yang mengatur suatu teknologi, tetapi juga mem-
punyai berbagai persimpangan atau irisan sehingga bisa juga
berperan untuk penelitian teknologi. Sekalipun Latour melewat-
kan referensi kepada hukum sebagai sebuah “teknologi yang
bersahaja” (modest technology),111 ternyata hukum tidak dipertim-

109 Brad Sherman & Lionel Bently, The Making of Modern Intellectual Property
Law: The British Experience 1760-1911, (1999).
110 Kieran Tranter, “The History of the Haste-Wagons”: The Motor Car Act 1909
(VIC), Emergent Technology and the Call for Law”, 29 Melb. U. L. Rev. 843
(2005).
111 Latour, op. cit., hlm. 45, di mana Latour menyatakan bahwa, “Has recently
written about the courtroom from his perspective of the production of “facts”

55
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

bangkan dalam penelitian yang sudah ada. Tentu saja, ketika


Latour menulis tentang lampu merah yang menyala di kendaraan
bermotornya merupakan sinyal yang meminta dengan tegas
bahwa dia harus mengencangkan sabuk pengamannya.112 Telah
lebih dari sembilan puluh tahun diperdebatkan dengan
argumentasi hukum mengenai pihak yang bertanggung jawab
untuk keselamatan kendaraan bermotor, apakah pemerintah
negara bagian atau pabrikan atau pengemudi. Para pemikir
Hukum dan Teknologi telah pula membangun suatu diskusi
bagaimana hukum secara aktual atau bahkan bukan hukum yang
aktual, untuk dapat menyediakan dasar bagi Hukum dan
Teknologi agar para pemikir Hukum dan Teknologi dapat
berperan untuk memberikan pemahaman (advising) tentang
Hukum dan Teknologi. Sebagai ganti melewatkan tanggung
jawab lainnya kepada “black box” keinginan politis sebagaimana
yang Reynolds lakukan, adalah suatu generalisasi yang lebih
canggih dengan bagaimana hukum dan teknologi saling
berhubungan.
Teknologi dan hukum adalah telah menjadi bagian yang
melatari aktivitas-aktivitas dari kehidupan manusia sehari-hari,
sesuatu sebagaimana yang diingatkan oleh Langdon tentang
teknologi.113 Perilaku keseharian seperti mengemudi kendaraan

in a laboratory. However, the traces of law on technology have not been


thoroughly pursued.” Lihat Latour, Scientific Objects and Legal Objectivity, in
Law, Anthropology, and the Constitution of the Social: Making Persons and
Things, (Alain Pottage & Martha Mundy eds., 2004).
112 Bruno Latour, Where Are the Missing Masses? The Sociology of a Few Mun-
dane Artifacts, in Shaping Technology/Building Society: Studies in
Sociotechnical Change, (Wiebe E. Bijker & John Law eds., 1992).
113 Langdon Winner, The Whale and the Reactor: A Search For Limits In an Age
of High Technology, (1986).

56
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

bermotor sepanjang jalan mencakup suatu kaleidoskop dari


hukum dan pertimbangan teknis serta keterhubungannya (inter-
relations). Seorang manusia yang akan mengemudi harus tunduk
kepada rezim hukum perizinan, hukum pidana berkenaan
dengan kendaraan bermotor, asuransi (mengenai liabilitas/
pertanggungjawaban) dan hukum kontrak, perlindungan
konsumen dan hukum kekayaan (mengenai kepemilikan) dan
termasuk kepercayaan terhadap berbagai piranti kendaraan
bermotor secara teknikal; yang pada gilirannya adalah dipengaruhi
oleh hukum berkenaan keselamatan dan konsumsi bahan bakar.
Kompleksitas dimaksud yaitu dari manusia, hukum dan teknologi
maka tidaklah mengherankan adanya suatu peryataan bahwa
hubungan mobil manusia adalah menjadi suatu hal yang “cy-
bernetic”.114 Ilustrasi dari Latour dimaksud memberikan suatu
pertanyaan bahwa obyek teknologi dan manusia secara bersama-
sama dapat membentuk suatu budaya dengan struktur tertentu
yang terbentuk dari hubungan dimaksud (antara obyek dan
obyek; obyek dan manusia; manusia dan manusia) dan antara
beberapa hubungan yang menguasai karakteristik tertentu yang
mengizinkan mereka untuk tetap memperhatikan etika atau
hukum.115 Dalam penjelasan dimaksud maka suatu fenomena
terhadap hukum dan teknologi menguji budaya sekelilingnya
zaman ini dan menempatkan hubungan dari hukum dan tekno-
logi dalam kenyataan praktis. Tersembunyi dalam pendekatan
ini adalah perwujudan dari kompleksitas yang tidak beraturan
dari kehidupan sehari-hari di wilayah barat yang lebih canggih

114 Kieran Tranter, “Mad Max: The Car and Australian Government“, 5 National
Identities 61 (2003).
115 Bruno Latour, “Morality and Technology: The End of the Means”, 19 Theory,
Culture and Society 247 (2002).

57
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

dalam berteori dalam teknologi dibandingkan masa pasca-


Heidegger yang berupaya mengenali metafisis elemen melalui
penelitian.116
Lebih lanjut dinyatakan bahwa Hukum dan Teknologi
memperlihatkan isyarat ke arah masa depan ketika dampak dari
teknologi yang spesifik berada di bawah “mikroskop” hukum.117
Hal ini adalah suatu elemen hukum dan penulisan teknologi yang
fundamental. Terdapat suatu pendapat “bagaimana jika” tekno-
logi mengembangkan dalam suatu cara tertentu dan terbukti
bahwa beberapa spekulasi tidak tanpa dasar. Dalam hukum maka
pernyataan teknologi dimaksud terdapat yurisdiksi yang spekulatif;
hal dimaksud menunjukan pada waktu itu suatu pendapat layak
dan dapat dipertimbangkan di masa depan.

2. Ontologi Hukum dan Teknologi


Pada bagian ini dibahas pendekatan dan pembahaman Hukum
dan Teknologi dari Teori Teknologi, khususnya berkenaan dengan
esensi pemikiran Heidegger tentang teknologi. Pemikiran
Heidegger menjadi sangat signifikan karena tidak sama dengan
Teori Hukum, di mana Teori Teknologi didekati sebagai upaya
untuk mengamankan kemanusiaan dari “nomology-sovereignty-
animal” yang terkadang sering berakhir dengan situasi retoris
apakah “mesin” mendorong ke arah gangguannya,118 atau dengan

116 Fredric Jameson, Postmodernism, or, The Cultural Logic of Late Capitalism,
376 (1991).
117 Lihat Barry Brown, “Human Cloning and Genetic Engineering: The Case for
Proceeding Cautiously”, 65 Alb. L. Rev. 649, 649-650 (2002); Lyria Bennett
Moses, “Understanding Legal Responses to Technological Change: The Ex-
ample of In Vitro Fertilization”, 6 Minn. J. L. Sci. & Tech. 505, 509 (2005).
118 Giorgio Agamben, State of Exception, 87-88, (2005).

58
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

jenis lain terhadap munculnya kekerasan,119 penelitian teknologi


yang diungkapkan oleh Heidegger menunjukan cara hidup untuk
menyesuaikan diri dengan teknologi.
Pemikiran Heidegger memiliki dampak minimal terhadap
Teori Hukum.120 Pengaruh pemikiran Heidegger terhadap Teori
Hukum dibatasi hubungan yang telah dicapai antara hermeneutik
Kontinental (Continental hermeneutics) dan tradisi hukum dari
Anglo-American.121 Teori Hukum menyajikan suatu konsep
yuridikal-politikal terhadap hukum sebagai teknologi, Heidegger
mengungkapkan suatu komitmen ontologis yang dijelmakan
dalam konsepsi dimaksud. Hedidegger memahami secara orisinal
untuk memikirkan hukum dan teknologi. Heidegger mengeks-
posikan pemikirannya dalam bentuk hubungan antara teknologi
dan pemahaman fundamentalnya. Hal yang diungkapkan oleh
Heidegger adalah konsepsi metafisikal benar-benar berpengaruh
di dalam penelitian teknologi dan telah mendorong ke arah dua
kutub pemikiran dari para ahli. Kutub pemikiran pertama adalah
metafisikal dan teknologi telah mengotori dan menurunkan
eksistensi kemanusiaan. Kutub pemikiran kedua adalah menda-
sarkan kepada dunia yang membuka diri kepada fenomenologi.
Karya pemikiran Heidegger tentang teknologi perlu dipahami
dari kepeduliannya yang luas terhadap ontologi122 dan revitalisasi
119 Costas Douzinas & Ronnie Warrington, Justice Miscarried: Ethics, Aesthetics
and the Law (1994).
120 Panu Minkkinen, “Right Things: On the Question of Being and Law”, 7 Law &
Critique 65, 66 (1996).
121 Ingrid Scheibler, Gadamer, “Heidegger and the Social Dimensions of Lan-
guage: Reflections on the Critical Potential of Hermeneutical Philosophy“, 76
Chi.-Kent L. Rev. 853, 856-69 (2000); Brian Leiter,” Heidegger and the Theory
of Adjudication”, 106 Yale L.J. 253, 253-54 (1996).
122 Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III Dalam Jaringan (on-line dictionary),
dapat diunduh melalui laman <http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/> dimuat

59
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

ontologi untuk menyusun konsepsi struktur yang kritis tentang


keberadaan modern.123 Bagi Heidegger, tradisi metafisis Barat
telah melupakan pertanyaan tentang “eksistensi” atau “Being”.124
Hal itu dipahami sebagai tugas dari ontologikal pemikiran bahwa
suatu entitas dapat disingkapkan melalui eksistensinya sendiri,125
ternyata telah diabaikan dan pemikirannya diarahkan kepada
abstraksi “pragmatis”.126 Teknologi adalah penting bagi
Heidegger, tidak hanya karena kekerasan (violence) yang besar
darinya, tetapi dikarenakan pula penguasaan teknologi dapat
mengarah dipinggirkannya “eksistensi” atau “Being” secara
absolut.127 Oleh karena itu, Heidegger berpendapat bahwa perlu
dicarikan suatu upaya untuk “menaklukkan” esensi dari
teknologi.128 Menurut Heidegger, bahwa teknologi bukanlah
sejumlah mesin-mesin saja melainkan suatu upaya yang funda-
mental menyatakan dunia apa adanya. Peraturan perundang-
undangan di dalam teknologi modem mempunyai karakter
sebagai penentu (setting-upon) dalam tantangan yang dihadapi
berikutnya. Tantangan itu terjadi dalam arti bahwa energi yang
tersembunyi secara alami kemudian diketahui; setelah diketahui
maka kemudian energi tersebut akan ditransformasikan; kemudian
setelah ditransformasikan akan disimpan/ditimbun; dan setelah

pengertian on·to·lo·gi (n) cabang ilmu filsafat yang berhubungan dengan hakikat
hidup.
123 Andrew Feenberg, Heidegger and Marcuse: The Catastrophe and Redemp-
tion of History 25 (2005).
124 Martin Heidegger, Being and Time 1 (Joan Stambaugh trans., 1996).
125 Ibid., hlm 10-11, 40-42.
126 Michael E. Zimmerman, Heidegger’s Confrontation with Modernity: Technol-
ogy, Politics, and Art 152 (1990).
127 Martin Heidegger, The Age of the World Picture, in The Question Concerning
Technology and Other Essays 115, 116 (William Lovitt trans., 1977).
128 Martin Heidegger, The Turning, in The Question Concerning Technology
and Other Essays 36, 39 (William Lovitt trans., 1977).

60
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

disimpan/ditimbun apakah pada gilirannya perlu didistribusikan,


dan setelah didistribusikan apakah akan kembali lagi.129
Heidegger mengemukakan tentang dua unsur utama untuk
berpikir tentang Hukum dan Teknologi. Unsur pertama, adalah
hukum dapat mereduksi teknologi dimana menurut Heidegger
bahwa “hukum secara instrumental adalah konsisten dengan
ontologi “usia”.130 Heidegger mengemukakan suatu penjelasan
untuk juridical-political dari kebangkitan paham kedaulatan dan
paham positivisme.131 Unsur kedua, adalah penggambaran dari
tugas pemikiran tentang hukum dan teknologi perlu dilakukan
ketika terjadi perubahan teknologi. Pemikiran teknologi Heidegger
telah dipengaruhi oleh penelitian teknologi dari Herbert
Marcuse,132 Jacques Ellul,133 dan yang lebih baru oleh Albert
Borgmann134 dan Francis Fukuyama135 yang mendasarkan kritik
terhadap teknologi modern dengan landasan metafisikal.

129 Martin Heidegger, The Question Concerning Technology, in The Question


Concerning Technology and Other Essays 3, 16 (William Lovitt trans., 1977).
“The revealing that rules throughout modern technology has the character of
a setting-upon, in the sense of a challenging-forth. That challenging happens
in that the energy concealed in nature is unlocked, what is unlocked is trans-
formed, what is transformed is stored up, what is stored up is, in turn, distrib-
uted, and what is distributed is switched about ever anew.“
130 Heidegger, op. cit., hlm. 115.
131 Philippe Nonet, “What is Positive Law?”, 100 Yale L.J. 667, 686 (1990).
132 Herbert Marcuse, One-Dimensional Man: Studies in the Ideology of Advanced
Industrial Society (1964).
133 Jacques Ellul, The Technological Society (John Wilkinson trans., 1964).
134 Albert Borgmann, Holding on to Reality: The Nature of Information at the Turn
of the Millennium (1999); lihat pula Peter-Paul Verbeek, “Devices of Engage-
ment: On Borgmann’s Philosophy of Information and Technology”, 6 Techne
69 (2002).
135 Francis Fukuyama, Our Posthuman Future: Consequences of the Biotechnol-
ogy Revolution (2002); lihat pula David E. Tabachnick, “The Politics and
Philosophy of Anti-Science”, 9 Techne 27 (2005).

61
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

62
Dinamika Revolusi Industri Terhadap Filsafat dan Sains

Bab II
Dinamika Revolusi Industri
Terhadap Filsafat dan Sains

"I would trade all my technology


for an afternoon with Socrates."
Steve Jobs, 2001

A. PERKEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI


DAN KOMUNIKASI DALAM REVOLUSI
INDUSTRI
1. Pengertian dan Kategorisasi
Teknologi Informasi dan Komunikasi
a. Pengertian Teknologi Informasi dan Komunikasi
Istilah Teknologi Informasi-TI (Technology Information-IT)
digunakan untuk pemrosesan data atau yang dikenal pula dengan
pengelolaan sistem informasi (Management Information System-
MIS). Istilah Teknologi Informasi pertama kali dikenal di Eropa,
yaitu pada tahun 1989. Pada tahun 1989 dilakukan merger antara
dua perusahaan teknologi terkenal, yaitu Siemens dan Nixdorf.
Istilah Teknologi Informasi dapat dipahami sebagai keseluruhan
peralatan, proses, tata cara dan sistem yang digunakan untuk
menyediakan dan mendukung sistem informasi di dalam suatu

63
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

organisasi yang diperuntukkan bagi para pelanggan dan pemasok.


Pada masa sekarang ini seluruh TI telah dilakukan secara virtual
dalam jaringan termasuk transmisi telekomunikasi dan data yang
terkonvergensi. Pengertian dimaksud adalah sebagaimana didefi-
nisikan dalam Newton’s Telecom Dictionary, yaitu:136
“Information Technology (IT) is a fancy name for data pro-
cessing, which become management information system
(MIS), which become information technology. All mean the
something. IT may have come from Europe. I heard it first
form Siemens and Nixdorf who merged in 1989. IT means
all the equipment, processes, procedures and systems used
to provide and support information systems (computerized
and manual) within an organization and those reaching out
to customers and suppliers. These days virtually all IT is net-
worked, includes control overd data telecom and also data
and voice merge onto a common transmission and switch-
ing path (convergence).”

Istilah Teknologi Informasi dan Komunikasi-TIK (Information


and Communication Technology-ICT) dipahami juga sebagai
teknologi yang mampu untuk menyimpan, mentransmisikan dan/
atau memproses informasi dan komunikasi. Istilah TIK secara
umum lebih sering digunakan untuk penggunaan teknologi yang
modern khususnya teknologi-teknologi pemrosesan data secara
elektronik. Pemahaman TIK lebih dititikberatkan kepada kom-
puter, telekomunikasi, jaringan komputer dan telekomunikasi.

136 Harry Newton, Newton’s Telecom Dictionary, CMP Books, New York, 2002,
hlm. 402-403.

64
Dinamika Revolusi Industri Terhadap Filsafat dan Sains

Terkadang istilah TIK dianggap sebagai sinonim dari internet


walau hal dimaksud merupakan pemahaman yang sempit. Hal
dimaksud adalah sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh
Bert-Jaap Koops dalam tulisannya yang berjudul Should ICT
Regulation be Technology-Neutral? Dalam tulisannya, Bert-Jaap
Koops berpendapat bahwa:137
“ICT stands for Information and Communication Technol-
ogy, that is, technologies that store, transmit, and/or process
information and communication. Although the term can be
read literally to include all kinds of information-processing
technologies, such as printing presses, xerox machines, and
abacuses, the term is generally used to indicate “modern” or
“high” technology, in particular electronic data-processing
technologies. Thus, ICT focuses on computers, telecommu-
nications, and computer and telecommunication networks.
The term is sometimes used as a virtual synonym for the
Internet, but that is too restricted an interpretation. Even so, it
is open to debate whether older forms of telecommunication
should fall within the scope of “ICT”, in particular the Plain
Old Telephone System (POTS) and telegraphy. In my view,
there is no particular reason why we should exclude fixed
telephony or even telegraphy from the scope of “ICT” – they
are, after all, communication technologies.”

Yang Yudong memberikan pengertian TIK sebagai kegiatan


secara elektronik untuk mengambil, memproses, menyimpan dan
mengomunikasikan informasi. TIK mendasarkan kepada informasi
137 Bert-Jaap Koops, “Should ICT Regulation be Technology-Neutral?“, IT Law
Series Vol. 9, The Hague, 2006.

65
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

digital antara 1 dan 0, dan mencakup perangkat keras, perangkat


lunak serta jaringannya. Walaupun TIK tidak hanya teknologi
yang terkait dengan alat-alat informasi di mana informasi adalah
titik awal untuk memahami TIK, namun keseluruhan teknologi
dimaksud menyediakan mekanisme baru sebagai sumber
informasi. Pengertian TIK menurut Yang Yudong adalah sebagai
berikut:138
“The definition of ICT, Information Communication Tech-
nology, is ‘Electronic means of capturing, processing, stor-
ing, and communicating information.’ ICTs are based on digi-
tal information held as 1s and 0s, and comprise computer
hardware, software and networks. (Heeks, University of
Manchester Institute for Development et al. 1999). Although
ICTs are not the only technology of information tools, infor-
mation is the starting point to understand ICTs, for all these
technologies do is providing new mechanisms for an exist-
ing resource: information. (Duncombe, Heeks et al. 1999).”

Pendapat Yudong sebagai ahli dari RRC di atas memiliki


persamaan dengan pemahaman para ahli dari Australia, yaitu
Rob Nicholls, Michelle Rowland, dan Dianah Merchant. Nichlolls
berpendapat bahwa TIK mencakup keseluruhan teknologi yang
berkaitan dengan penciptaan, penyimpanan, pendistribusian dan
penayangan informasi. Esensi dasar dari TIK adalah penyampaian
atau penyebaran informasi dari suatu perangkat ke perangkat
lainnya dengan bermacam media seperti komputer, telefon dan

138 Yang Yudong, ICT and Information Flow Theory, State Council Informatization
Office of the People’s Republic of China.

66
Dinamika Revolusi Industri Terhadap Filsafat dan Sains

televisi. TIK karenanya mencakup teknologi-teknologi yang terkait


dengan pemrosesan data dan komunikasi termasuk teleko-
munikasi dan penyiaran. Pengertian TIK secara lengkap dari
Nicholls dan kawan-kawannya sebagaimana yang dimuat dalam
tulisan A Failure to Converge, a Failure to Recognise Conver-
gence or a Failure to Care?:139
“Information and Communication Technologies (ICT) encom-
pass all of the technologies associated with the creation, stor-
age, distribution and display of information. The essence of
ICT is the movement of information between devices as di-
verse as computers, telephones and televisions. That is, ICT
encompasses the technologies associated with data process-
ing and communications (including telecommunications and
broadcasting).”

b. Kategorisasi Teknologi Informasi dan Komunikasi


Mendasarkan kepada pemahaman tentang pengertian TIK yang
telah dipaparkan sebelumnya, maka dapat dilakukan kate-
gorisasi140 sebagai upaya untuk melakukan pengkajian dan
penelitian lebih lanjut. Teknologi informasi dan komunikasi dapat
dilakukan kategorisasi yang memuat teknologi telekomunikasi;
teknologi penyiaran; dan aplikasi teknologi informasi.

139 Rob Nicholls, Michelle Rowland, and Dianah Merchant, A Failure to Con-
verge, a Failure to Recognise Convergence or a Failure to Care?, ICT Policy in
Australia.
140 Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III Dalam Jaringan (on-line dictionary),
dapat diunduh melalui laman <http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/> dimuat
pengertian ka·te·go·ri·sa·si (n) yang memiliki arti penyusunan berdasarkan
kategori; penggolongan.

67
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

1) Teknologi Telekomunikasi
Teknologi telekomunikasi adalah teknologi yang mencakup
kegiatan yang berkaitan dengan setiap pemancaran, pengiriman,
dan atau penerimaan dari setiap informasi dalam bentuk tanda-
tanda, isyarat, tulisan, gambar, suara, dan bunyi melalui sistem
kawat, optik, radio, atau sistem elektromagnetik lainnya.141
Teknologi telekomunikasi dipergunakan dalam penyelenggaraan
telekomunikasi yang mencakup penyelenggaraan jaringan
telekomunikasi dan jasa telekomunikasi.142

2) Teknologi Penyiaran
Teknologi penyiaran adalah teknologi yang mencakup kegiatan
pemancarluasan siaran melalui sarana pemancaran dan/atau
sarana transmisi di darat, di laut atau di antariksa dengan meng-
gunakan spektrum frekuensi radio melalui udara, kabel, dan/atau
media lainnya untuk dapat diterima secara serentak dan ber-
samaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima siaran.143
Teknologi penyiaran terdiri dari teknologi yang mendukung dua
kegiatan utama penyiaran, yaitu penyiaran radio dan penyiaran
televisi. Penyiaran radio adalah media komunikasi massa dengar,

141 Lihat Undang-Undang R.I. Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi


pada Bagian Ketentuan Umum Pasal 1 Butir 1 mengenai pengertian istilah
telekomunikasi.
142 Jaringan telekomunikasi adalah rangkaian perangkat telekomunikasi dan
kelengkapannya yang digunakan dalam bertelekomunikasi dan jasa telekomu-
nikasi adalah layanan telekomunikasi untuk memenuhi kebutuhan berteleko-
munikasi dengan menggunakan jaringan telekomunikasi sebagaimana yang
diberikan pengertiannya oleh Undang-Undang R.I. Nomor 36 Tahun 1999
tentang Telekomunikasi pada Bagian Ketentuan Umum Pasal 1 Butir 6 dan
Butir 7.
143 Lihat Undang-Undang R.I. Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran pada
Bagian Ketentuan Umum Pasal 1 Butir 1 mengenai pengertian istilah penyiaran.

68
Dinamika Revolusi Industri Terhadap Filsafat dan Sains

yang menyalurkan gagasan dan informasi dalam bentuk suara


secara umum dan terbuka, berupa program yang teratur dan
berkesinambungan.144 Penyiaran televisi adalah media komu-
nikasi massa dengar pandang, yang menyalurkan gagasan dan
informasi dalam bentuk suara dan gambar secara umum, baik
terbuka maupun tertutup, berupa program yang teratur dan
berkesinambungan.145

3) Aplikasi Teknologi Informasi


Aplikasi teknologi informasi dapat dipahami sebagai suatu kegiatan
dalam penerapan teknologi informasi dalam kegiatan peman-
faatan teknologi informasi oleh manusia.146 Teknologi informasi
yang dimaksudkan adalah suatu teknik untuk mengumpulkan,
menyiapkan, menyimpan, memproses, mengumumkan, menga-
nalisis, dan/atau menyebarkan informasi.147 Aplikasi teknologi
informasi terlebih khususnya memiliki keterkaitan erat dengan
informasi elektronik dan dokumen elektronik. Informasi Elektronik
adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak
terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, elec-

144 Undang-Undang R.I. Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran pada Bagian
Ketentuan Umum Pasal 1 Butir 2.
145 Undang-Undang R.I. Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran pada Bagian
Ketentuan Umum Pasal 1 Butir 2.
146 Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III Dalam Jaringan (on-line dictionary),
dapat diunduh melalui laman <http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/> dimuat
kata ap·li·ka·si (n) yang memuat arti-arti, yaitu 1 karya hias dl seni jahit-menjahit
dng menempelkan (menjahitkan) guntingan-guntingan kain yg dibentuk spt
bunga (buah, binatang, dsb) pd kain lain sbg hiasan; 2 tambahan: dl beberapa
fakultas diadakan kursus -- bahasa Inggris; 3 penggunaan; penerapan; 4
lamaran; permohonan; pendaftaran: ia mendapatkan formulir -- di cabang
bank terdekat; meng·ap·li·ka·si·kan (v) menerapkan, menggunakan dl praktik.
147 Lihat Undang-Undang R.I. Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan
Transaksi Elektronik pada Bagian Ketentuan Umum Pasal 1 Butir 3 mengenai
pengertian istilah Teknologi Informasi.

69
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

tronic data interchange (EDI), surat elektronik (electronic mail),


telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka,
kode akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki
arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memaha-
minya.148 Dokumen Elektronik adalah setiap Informasi Elektronik
yang dibuat, diteruskan, dikirimkan, diterima, atau disimpan
dalam bentuk analog, digital, elektromagnetik, optikal, atau
sejenisnya, yang dapat dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar
melalui komputer atau sistem elektronik, termasuk tetapi tidak
terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto atau
sejenisnya, huruf, tanda, angka, kode akses, simbol atau perforasi
yang memiliki makna atau arti atau dapat dipahami oleh orang
yang mampu memahaminya.149

2. Peran dan Implikasi Teknologi Informasi dan


Komunikasi
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai suatu kegiatan
manusia tentunya memiliki peran yang perlu diperhatikan dan
implikasi150 yang perlu dicarikan upaya antisipasinya. Upaya-
upaya dimaksud telah dilakukan dalam forum-forum internasional

148 Undang-Undang R.I. Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik pada Bagian Ketentuan Umum Pasal 1 Butir 1.
149 Undang-Undang R.I. Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik pada Bagian Ketentuan Umum Pasal 1 Butir 4.
150 Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III Dalam Jaringan (on-line dictionary),
dapat diunduh melalui laman <http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/> dimuat
kata im·pli·ka·si (n) 1 keterlibatan atau keadaan terlibat: -- manusia sbg objek
percobaan atau penelitian semakin terasa manfaat dan kepentingannya; 2 yg
termasuk atau tersimpul; yg disugestikan, tetapi tidak dinyatakan: apakah ada
-- dl pertanyaan itu?; ber·im·pli·ka·si (v) mempunyai implikasi; mempunyai
hubungan keterlibatan: kepentingan umum ~ pd kepentingan pribadi sbg
anggota masyarakat; meng·im·pli·ka·si·kan (v) melibatkan; ter·im·pli·ka·si (v)
termasuk atau tersimpul; terlibat.

70
Dinamika Revolusi Industri Terhadap Filsafat dan Sains

sebagai wujud dari perhatian dan komitmen bersama dari negara-


negara di dunia. Forum internasional utama dalam pemanfaatan
TIK adalah The World Summit on the Information Society (WSIS).
The World Summit on the Information Society (WSIS) telah
dilaksanakan di Jenewa pada tahun 2003 dan di Tunisia pada
tahun 2005 yang merupakan tindak lanjut dari usulan dari Inter-
national Telecommunications Union (ITU) dan didukung oleh
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagaimana dimuat dalam
UN General Assembly Resolution 56/183 pada tahun 2001.
Latar belakang dari The World Summit on the Information
Society (WSIS) adalah didasarkan pada percepatan konvergensi
antara telekomunikasi, penyiaran multimedia, dan teknologi
informasi dan komunikasi (TIK) telah mengarah kepada produk-
produk dan jasa-jasa yang baru, baik dalam kegiatan perdagangan
maupun bisnis. Bersamaan dengan itu kesempatan untuk
kegiatan komersial, sosial dan profesional semakin meluas sebagai
pasar baru yang terbuka atas persaingan dan penanaman modal
asing serta partisipasinya. Proses yang dinamis dimaksud men-
janjikan perubahan yang mendasar dari keseluruhan aspek dalam
kehidupan, termasuk diseminasi ilmu pengetahuan, interaksi
sosial, praktik-praktik bisnis dan ekonomi, komitmen politis, me-
dia, pendidikan, kesehatan, hiburan dan pariwisata. Keberhasilan
dan keberlanjutan dari perkembangan proses yang dinamis
dimaksud memerlukan pemahaman bersama agar dicapainya
suatu kemanfaatan bagi masyarakat dunia. Pernyataan dan
komitmen dalam WSIS adalah sebagai berikut:151

151 Lihat David O’Donnell and Lars Bo Henriksen, “Philosophical Foundations


for Critical Evaluation of the Social Impact of ICT“, Journal of Information
Technology, Vol 17 No 2, 2002.

71
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

“The accelerating convergence between telecommunica-


tions, broadcasting multimedia and information and com-
munication technologies is driving new products and ser-
vices, as well as ways of conducting business and commerce.
At the same time, commercial, social and professional op-
portunities are exploding as new markets open to competi-
tion and foreign investment and participation. This dynamic
process promises a fundamental change in all aspects of our
lives, including knowledge dissemination, social interaction,
economic and business practices, political engagement,
media, education, health, leisure and entertainment. To ben-
efit the world community, the successful and continued
growth of this new dynamic requires global discussion.”

Negara Indonesia sebagai bangsa tentu terus berupaya untuk


meningkatkan peran positif dan mengantisipasi implikasi dari
perkembang TIK yang begitu cepat. Hal dimaksud direfleksikan
dan sekaligus diamanatkan dalam Undang-Undang R.I. Nomor
17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Nasional Tahun 2005-2025 yang dimuat pada Arah, Tahapan,
dan Prioritas Pembangunan Jangka Panjang Tahun 2005-2025
(RPJP).
Kondisi di Indonesia pada saat ini terutamanya dalam era
globalisasi, melihat bahwa informasi mempunyai nilai ekonomi
untuk mendorong pertumbuhan serta peningkatan daya saing
bangsa. Masalah utama dalam pembangunan pos dan telematika
adalah terbatasnya kapasitas, jangkauan, serta kualitas sarana dan
prasarana pos dan telematika yang mengakibatkan rendahnya
kemampuan masyarakat mengakses informasi. Kondisi itu

72
Dinamika Revolusi Industri Terhadap Filsafat dan Sains

menyebabkan semakin lebarnya kesenjangan digital, baik


antardaerah di Indonesia maupun antara Indonesia dan negara
lain. Dari sisi penyelenggara pelayanan sarana dan prasarana pos
dan telematika (sisi supply), kesenjangan digital itu disebabkan
oleh:
(a) terbatasnya kemampuan pembiayaan operator sehingga
kegiatan pemeliharaan sarana dan prasarana yang ada dan
pembangunan baru terbatas;
(b) belum terjadinya kompetisi yang setara dan masih tingginya
hambatan masuk (barrier to entry) sehingga peran dan mobi-
lisasi dana swasta belum optimal;
(c) belum berkembangnya sumber dan mekanisme pembiayaan
lain untuk mendanai pembangunan sarana dan prasarana
pos dan telematika, seperti kerja sama pemerintah-swasta,
pemerintah-masyarakat, serta swasta-masyarakat;
(d) masih rendahnya optimalisasi pemanfaatan sarana dan prasa-
rana yang ada sehingga terdapat aset nasional yang tidak
digunakan (idle);
(e) terbatasnya kemampuan adopsi dan adaptasi teknologi;
(f) terbatasnya pemanfaatan industri dalam negeri sehingga
ketergantungan terhadap komponen industri luar negeri
masih tinggi; dan
(g) masih terbatasnya industri aplikasi dan konten (content) yang
dikembangkan oleh penyelenggara pelayanan sarana dan
prasarana.

Terlihat pula bahwa terkait dengan kemampuan masyarakat


untuk memanfaatkan pelayanan sarana dan prasarana dari sisi
permintaan memunculkan kesenjangan digital (digital devide).

73
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Kesenjangan digital dimaksud disebabkan oleh faktor-faktor


sebagaimana berikut:
(a) terbatasnya daya beli (ability to pay) masyarakat terhadap
sarana dan prasarana pos dan telematika;
(b) masih rendahnya kemampuan masyarakat untuk meman-
faatkan dan mengembangkan teknologi informasi dan
komunikasi; dan
(c) terbatasnya kemampuan masyarakat untuk mengolah
informasi menjadi peluang ekonomi, yaitu menjadikan
sesuatu mempunyai nilai tambah ekonomi.

Perkembangan TIK di Indonesia yang kian pesat mengarah


kepada konvergensi teknologi memiliki dampak kepada
perubahan paradigma dalam industri dan bisnis telekomunikasi.
Perubahan paradigma dimaksud mencakup pergeseran teknologi,
perubahan struktur dan pola bisnis, serta pengaruhnya terhadap
kehidupan bermasyarakat. Tabel 3 mengambarkan perubahan
paradigma sebagaimana dimaksud.
Indonesia menyikapi tantangan kemajuan dan impliksi
pemanfaatan TIK dengan paradigma positif. Globalisasi, kema-
juan teknologi, dan tuntutan kebutuhan masyarakat yang makin
meningkat untuk mendapatkan akses informasi menuntut adanya
penyempurnaan dalam hal penyelenggaraan pembangunan pos
dan telematika. Oleh karena itu, perlu adanya integrasi antara
pendidikan dengan teknologi informasi serta sektor-sektor strategis
lainnya. Walaupun pembangunan pos dan telematika saat ini
telah mengalami berbagai kemajuan, informasi masih merupakan
barang yang dianggap mewah dan hanya dapat diakses dan

74
Dinamika Revolusi Industri Terhadap Filsafat dan Sains

Tabel 3: Perubahan Paradigma dalam


Industri dan Bisnis Telekomunikasi di Indonesia

Perihal Paradigma Saat Ini Paradigma ke Depan

Pasar Kompetisi Terbatas Kompetisi Penuh

Regulasi Ketat dan Parsial Light touch regulation


dan Terintegrasi

Infrastruktur Telekomunikasi Informasi

Struktur Industri Vertikal Horisontal

Penyaluran Format terpisah untuk format Multimedia


Informasi Suara, Data, Teks dan (konvergensi)
Gambar

Infrastruktur Hybrid Analog dan Seluruhnya Digital


Digital

Infrastruktur Circuit Switched Packet Switched (IP


Utama Based)

Jaringan Akses Didominasi saluran Dominasi oleh saluran


Narrowband Broadband

Skema Berdasarkan waktu dan Berdasarkan volume


Pentarifan jarak (byte)

Basis Industri Industrial Economy Knowledge based


Economy

dimiliki oleh sebagian kecil masyarakat. Oleh sebab itu, tantangan


utama yang dihadapi dalam sektor itu adalah meningkatkan
penyebaran dan pemanfaatan arus informasi dan teledensitas
pelayanan pos dan telematika masyarakat pengguna jasa.
Tantangan lainnya adalah konvergensi teknologi informasi dan

75
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

komunikasi yang menghilangkan sekat antara telekomunikasi,


teknologi informasi dan penyiaran, pendidikan dan etika moral.
Mendasarkan kepada hal-hal dimaksud sebelumnya maka
ditetapkan arah, tahapan, dan prioritas Pembangunan Jangka
Panjang Tahun 2005-2025. Upaya untuk mewujudkan Indone-
sia yang demokratis berlandaskan hukum antara lain dilakukan
dengan peningkatan peranan komunikasi dan informasi yang
ditekankan pada pencerdasan masyarakat dalam kehidupan
politik dilakukan dengan hal-hal sebagaimana berikut:
(a) mewujudkan kebebasan pers yang lebih mapan, terlembaga
serta menjamin hak masyarakat luas untuk berpendapat dan
mengontrol jalannya penyelenggaraan negara secara cerdas
dan demokratis;
(b) mewujudkan pemerataan informasi yang lebih besar dengan
mendorong munculnya media-media massa daerah yang
independen;
(c) mewujudkan deregulasi yang lebih besar dalam bidang
penyiaran sehingga dapat lebih menjamin pemerataan
informasi secara nasional dan mencegah monopoli informasi;
(d) menciptakan jaringan informasi yang bersifat interaktif antara
masyarakat dan kalangan pengambil keputusan politik untuk
menciptakan kebijakan yang lebih mudah dipahami
masyarakat luas;
(e) menciptakan jaringan teknologi informasi dan komunikasi
yang mampu menghubungkan seluruh link informasi yang
ada di pelosok nusantara sebagai suatu kesatuan yang
mampu mengikat dan memperluas integritas bangsa;

76
Dinamika Revolusi Industri Terhadap Filsafat dan Sains

(f) memanfaatkan jaringan teknologi informasi dan komunikasi


secara efektif agar mampu memberikan informasi yang lebih
komprehensif kepada masyarakat internasional supaya tidak
terjadi kesalahpahaman yang dapat meletakkan Indonesia
pada posisi politik yang menyulitkan; serta
(g) meningkatkan peran lembaga independen di bidang
komunikasi dan informasi untuk lebih mendukung proses
pencerdasan masyarakat dalam kehidupan politik dan
perwujudan kebebasan pers yang lebih mapan.

B. PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI


DAN KOMUNIKASI
1. Pemikiran tentang Pemanfaatan Teknologi
Teknologi mendapat perhatian yang luas dalam bidang filsafat,
hal ini disebabkan oleh timbulnya keadaran akan pengaruh
teknologi yang sangat luas dan kompleks dalam kehidupan
manusia. Teknologi telah mengubah hubungan manusia dengan
alam, hubungan antara individu, dan hubungan individu dengan
masyarkat. Sosiologi klasik mempelajari transisi dari masyarakat
tradisional ke masyarakat modern tanpa mempertimbangkan
perubahan yang cepat dan dramatis di dalam apa yang disebut
dengan “peradaban materiil”. Para sosiolog lebih memusatkan
perhatiannya pada faktor-faktor perubahan hubungan sosial,
perkembangan rasionalitas, runtuhnya solidaritas sosial, dan
perubahan sistem ekonomi. Mereka kurang memperhatikan
bagaimana cara hidup masyarakat berubah dengan berbagai
penemuan teknologi.

77
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

a. Manusia dan Teknologi


Kehidupan manusia zaman sekarang hampir tidak dapat dipisah-
kan dari teknologi. Teknologi dalam bentuk berbagai peralatan
berhubungan dengan kebadaniahan manusia seperti telepon,
kacamata, alat-alat kedokteran, mobil, televisi, komputer, bahkan
segala bentuk teknologi yang dapat memodifikasi gen.
Dalam filsafat teknologi sekurang-kurangnya ada tiga corak
pendekatan, yaitu pendekatan epistemologis, pendekatan
antropologis dan pendekatan metafisik (ontologis). Filsafat
teknologi bersangkut paut dengan permasalahan “tataran
pertama” yang berbeda dari permasalahan “tataran kedua”.
Permasalahan tataran pertama menyangkut permasalahan
empirik teknologi, misalnya bahan macam apakah yang terbaik
untuk membuat pesawat terbang? Sementara itu, masalah filsafat
menyangkut pertanyaan “tataran kedua”, yang mengenai hakikat
dan makna teknologi, masalah-masalah yang tidak dapat diangkat
oleh teknologi sendiri.
Corak pertama filsafat teknologi bergerak di seputar masalah
epistemologis yang mempelajari struktur, kondisi dan kesahihan
teknologi, sepanjang teknologi merupakan suatu pengetahuan
atau mengimplikasikan suatu bentuk pengetahuan. Kerap kali
teknologi didefinisikan sebagai “penerapan sains”. Sebetulnya
antara sains murni dan teknologi masih ada kegiatan transisional
lainnya, yaitu sains terapan. Sains murni bertujuan untuk mene-
mukan hukum alam dan menggambarkan alam dengan tujuan
untuk memenuhi keinginan mengetahui dengan sikap mengambil
jarak (detached attitude); sedangkan sains terapan merupakan
interpretasi konkret proposisi ilmiah yang ditujukan pada sasaran

78
Dinamika Revolusi Industri Terhadap Filsafat dan Sains

tertentu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Teknologi


bertujuan mencipatakan artefak baru dengan cara meningkatkan
keefektifan.152
Pendekatan filosofis kedua atas teknologi adalah pendekatan
antropologis. Dalam reaksi filosofis ini, teknologi dikaitkan dengan
hakikat manusia, sebagaimana misalnya dirintis oleh Lewis
Mumford dalam karyanya Technic and Civilization (1934).
Mumford menunjukkan bagaimana pentingnya teknologi bagi
kehidupan manusia sebagai eksistensi-bertubuh. Alat-alat
merupakan perluasan atau ekstensi kemampuan manusia untuk
mencukupi kebutuhan materiilnya akan sandang, papan, dan
pangan, sedangkan mesin meringankan manusia dari beban fisik.
Gagasan mengenai alat-alat dan mesin sebagai ekstensi atau
perluasan kemampuan fisik dan sosial manusia kerap kali di-
hubungkan dengan pandangan McLuhan, tetapi sebetulnya tiga
puluh tahun sebelumnya hal itu telah dikemukakan oleh
Mumford.153 Mumford menyatakan bahwa kecenderungan di
Barat untuk melihat kemajuan teknologi dan sains sebagai tujuan
sendiri berasal dari asumsi bahwa manusia pada hakikatnya
adalah “mahkluk-yang-menggunakan-alat” atau homo faber.
Tetapi, gejala “menggunakan alat” itu bukanlah ciri khas manusia
karena hewan juga menggunakan alat. Hal itu baru menjadi ciri
khas manusia manakala dimodifikasi oleh simbol-simbol linguistik,
organisasi sosial, dan desain estetik. Maka, manusia bukan hanya
homo faber tetapi juga homo sapiens. Pada dasarnya, teknologi

152 Lihat Carl Mitchnan and Robert Mackey, Introduction: Technology as a


Philosophical Problem, Free Press, New York, 1983, hlm. 1-4.
153 Lihat Tim Dant, Materiality an Society, Open University Press, Berkshire, 2005,
hlm. 149.

79
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

mempunyai ciri “berpusat-pada-kehidupan” (life centered) yaitu


bertujuan utama mengembangkan kehidupan. Tetapi orientasi
itu berubah menjadi “orientasi-kekuasaan” (power centered).
Lebih-lebih pada zaman industrial pada abad kedua puluh,
kehidupan manusia menjadi lebih terganggu dibandingkan
dengan abad-abad sebelumnya karena “mesin” mempunyai
akibat yang tidak dikehendaki atau direncanakan. Mesin
terintegrasi dengan berbagai sistem institusional seperti sistem
finansial dan administratif sehingga mewujudkan suatu
kompleksitas teknologi. Kecenderungan inilah yang kemudian
menjadi sasaran kritik mengenai cara hidup konsumtif seperti
dilontarkan oleh Herbert Marcuse. Cara hidup konsumtif atau
oleh Veblen disebut “konsumsi yang mencolok” (conspicuous
consumption) menggeser dimensi immaterial kehidupan seperti
fantasi, pikiran, imajinasi dan kreativitas.
Mumford menganjurkan tiga keseimbangan yang perlu
dipertimbangkan dalam kritik teknologi. Pertama, adalah
keseimbangan antara manusia dan alam: konservasi dan restorasi
tanah, hutan, mineral, dan logam. Ia mengajurkan pula agar lebih
digunakan sumber energi kinetik (matahari, air terjun, angin).
Kedua, adalah keseimbangan antara industri dan pertanian.
Mumford tidak mendukung pertanian untuk ekspor dan lebih
menekankan pentingnya pertanian terpadu untuk kepentingan
produksi lokal. Ketiga, adalah keseimbangan pertumbuhan
penduduk dalam berbagai daerah.154 Pada akhirnya Mumford
berpendapat bahwa “bukan pembebasan dari pekerjaan
merupakan sumbangan utama mekanisasi dan otomatisasi, tetapi

154 Ibid., hlm. 37.

80
Dinamika Revolusi Industri Terhadap Filsafat dan Sains

pembebasan untuk pekerjaan, untuk pendidikan yang lebih,


untuk pengembangan akal budi, untuk karya pengembangan diri
atas dasar kesukarelaan, merupakan sumbangan yang paling
bermanfaat dari teknologi-yang-berpusat-pada kehidupan.”155
Pandangan Mumford merupakan contoh pembahasan
teknologi dari sudut pandang antropologi filosofis, sedangkan dari
pendekatan ontologi dikenal dengan tokohnya, yaitu Martin
Heidegger. Heidegger menolak pandangan umum bahwa
teknologi merupakan ilmu terapan dan alat. Bagi Heidegger, pada
dasarnya teknologi merupakan implikasi hakikat manusia sebagai
pengada-di-dunia. Maka secara ontologis, yaitu dari seginya yang
paling fundamental/hakiki teknologi mendahului sains.
Keberadaan manusia di dunia tidaklah pasif, melainkan aktif. Ia
peduli terhadap dunia. Ia memahami bahwa dirinya adalah
potensialitas yang harus diarahkan ke masa depan. Ini hanya
terjadi dengan mentransformasikan dunia. Teknologi adalah suatu
cara khusus menemukan dan mentransformasikan realitas dari
satu keadaan ke keadaan lain, dari keadaan ketersembunyian ke
ketidaktersembunyian.
Ciri khas teknologi modern adalah memberikan tantangan
agar realitas disingkapkan dan dibuka. Inilah yang membedakan
teknologi kuno dengan teknologi modern. Teknologi kuno,
misalnya pengendalian angin dan air, pada dasarnya masih
tergantung pada alam, sementara teknologi modern, misalnya
menambang batu bara kemudian menjadikannya sumber energi,
berarti “mencuri” energi dari alam, menyimpannya dalam obyek-

155 Lewis Mumford, Technics and the Nature of Man, dalam Carl Mitchnan and
Robert Mackey, Introduction: Technology as a Philosophical Problem, hlm.
95.

81
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

obyek teknologis. Heidegger menyebut benda-benda itu sebagai


“persediaan”, yang tidak mempunyai nilai selain untuk digunakan.
Dalam interaksi dengan alam sebagaimana yang terjadi dengan
teknologi, alam tidak lagi dibiarkan berfungsi atau membuka diri
sebagaimana adanya, melainkan ditransformasikan ke dalam
sumber daya yang terkuantifikasi, yang dapat disimpan terlepas
dari konteks aslinya. Inilah ciri teknologi modern, suatu cara
khusus mengungkapkan alam, menantang alam, agar alam
dibuka, ditransformasi, disimpan, didistribusi, dan diredistribusi,
tetapi selalu dalam suatu “bingkai”, yaitu dalam “kerangka”
tuntutan kegunaan dalam fungsinya sebagai “sumber daya” untuk
eksploitasi teknologis.156 Ada bahaya bahwa pembingkaian
(enframing) dalam kegunaan diperluas kepada manusia. Manusia
direduksi kepada status sumber daya untuk manipulasi teknologis.
Mempertanyakan hakikat teknologi maka manusia dapat
mengambil jarak, menjadi bebas dalam berhubungan dengan
teknologi. Teknologi dan pembingkaiannya tidak salah. Yang
salah ialah klaim totalitasnya, yaitu memperluasnya ke semua
bidang kehidupan. Maka, Heidegger mengajak kita untuk
mempertanyakan teknologi: sejauh mana teknologi telah
berkembang sedemikian rupa sehingga membatasi diri kita untuk
menjadi manusiawi secara otentik.

b. Filsafat, Sains dan Teknologi


Filsafat teknologi merupakan cabang filsafat kontemporer yang
memandang teknologi sebagai fenomena penting dan perlu
direfelksikan secara mendalam. Pada tataran epistemologi, filsafat

156 George Pattison, The Later Heidegger, Routledge, London, 2000, hlm. 54-55.

82
Dinamika Revolusi Industri Terhadap Filsafat dan Sains

teknologi memunculkan persoalan tentang sifat teknologi. Di


wilayah metafisika, filsafat teknologi mempersoalkan apa yang
nyata (real), apa yang alamiah, apa yang artifisial, apa yang manu-
siawi dan apa yang tidak manusiawi. Sementara itu dalam bidang
etika pula filsafat teknologi mempertanyakan perkara moral terkait
dengan penggunaan teknologi yang sesuai dengan martabat
manusia dan konsekuensi penggunaan teknologi. Filsafat tekno-
logi juga mempertanyakan persoalan politis, yaitu bagaimana kita
sebagai manusia hidup dalam masyarakat teknologis, bagaimana
teknologi mengubah cara hidup dan relasi sosial kita, serta siapa
yang menentukan kebijakan teknologi yang akan diterapkan.
Filsafat teknologi baru muncuk dalam sejarah Filsafat Barat
terutama dalam lingkungan filsafat Amerika Utara dikarenakan
teknologi umumnya dilihat sebagai terapan dari sains. Sains adalah
teori, sedangkan teknologi hanya terapan dan terkait dengan hal-
hal praktis dari sains.
Pada dasarnya filsafat mempertanyakan persoalan yang
terkait dengan alam dan hidup manusia. Filasfat pra-Sokrates di
Yunani berbincang dengan spekulasi alam. Filsuf-filsfuf seperti
Thales, Parmenides dan Herakleitos lebih mempertanyakan
tentang sifat-sifat alam dan apa yang mendasari alam. Pertanyaan
dimaksud kemudian berkembang menjadi pertanyaan metafisis
dengan munculnya Aristoteles. Hal yang fisik dalam arti kuno
bermakna kuasa-kuasa atau daya-daya alam. Maka, filsafat pada
masa awal bersifat saintifik karena mempertanyakan ciri-ciri alam.
Pada waktu itu, sains belum menjadi eksperimental. Para filsuf
hanya berspekulasi tentang alam dan filsafatnya yang merupakan
aliran filsafat alam atau hukum alam (natural law). Untuk menjadi

83
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

eskperimental dalam arti modern, dibutuhkan sejumlah faktor,


termasuk mempersiapkan suatu keadaan di mana variabel-
variabel tertentu dapat dikendalikan, di mana suatu pengukuran
dapat dilakukan dan dengan demikian, menyiratkan penilaian
matematis atau kuatitatif terhadap sesuatu. Tetapi, yang paling
penting ialah eksperimen membutuhkan teknologi atau instrumen
yang dengannya suatu fenomena dibandingkan, baik
dipertentangkan maupun dihubungkan.
Hal dimaksud di atas adalah sebagaimana dinyatakan oleh
Don Ihde dalam Philosophy of Technology: An Introduction
bahwa:157
“to be experimental in the modern sense entails a number of
factors, including setting up a situation in which certain vari-
ables can be controlled; in which measurement occurs this
implying a mathematical or quantitative judgement about
something; but above all and particularly for the purposes of
this book, experiment entails tecnologies or instruments
against which and in relation to which phenomenon is com-
pared.”

Hal yang menonjol ialah perbedaan antara budaya Yunani


Klasik dan budaya Romawi-Helenis. Budaya Romawi-Helenis
mengalami perkembangan teknologis dan ekperimental,
sedangkan budaya Yunani Klasik lebih dekat dengan aktivitas
berpikir dan berteori. Dalam budaya Romawi-Helenis misalnya
terdapat jam matahari yang diciptakan untuk mengukur waktu,
mercusuar untuk memandu kapal laut, jalan batu yang bagus

157 Dimuat dalam Filsafat Teknologi oleh Francis Lim, Penerbit Kanisius, 2008.

84
Dinamika Revolusi Industri Terhadap Filsafat dan Sains

bagi tentara Romawi, saluran air untuk mendistribusikan air ke


dalam kota.
Mulai Abad Pertengahan, Filsafat lebih bersifat teologis di
mana semua pemikiran diarahkan kepada Tuhan sebagai Yang
Mutlak. Namun, pada kurun waktu yang sama terjadi revolusi
teknologis berupa pembangunan katedral-katedral yang besar
dan mengagumkan. Pembangunan ini dapat terlaksana berkatnya
adanya mesin-mesin pengangkat batu dan para ahli bangunan
yang handal.
Selanjutnya pada masa Renaissance minat terhadap budaya
dan pengetahuan Yunani-Romawi bangkit kembali. Dunia Barat
mulai memperoleh pengetahuan Yunani-Romawi lewat tokoh-
tokoh Islam yang sudah menerjemahkan karya-karya Yunani ke
dalam bahasa Arab. Pengetahuan juga bertambah dengan
penjelajahan ke berbagai belahan dunia lain melalui jalan laut.
Filsafat alam mulai dibedakan dari filsafat.
Pada zaman modern, filsafat dibedakan dari sains. Filsafat
berhubungan dengan hal-hal metafisik, sementara sains berkaitan
dengan hal-hal fisik. Tokoh penting sains seperti Isaac Newton
melakukan inovasi baru dalam sains, hal serupa dilakukan pula
oleh Immanuel Kant dalam bidang filsafat.
Hegel mulai menggunakan istilah “filsafat ...”, seperti istilah
filsafat sejarah (geschitesphilosophie) dan filsafat agama
(religionsphiloshopie). “Filsafat ...” meninjau suatu tema dan
secara tematis serta kritis menafsirkan dan menganalisisnya. Filsafat
dengan ruang lingkupnya yang amat luas lantas mampu meng-
kritik dan menganalisis berbagai tema sehingga munculah
berbagai jenis aliran filsafat.

85
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Menurut Ihde, setelah sains dan filsafat berpisah di zaman


modern yaitu pada abad ke-19, sains berkembang pesat dan
masuk ke pelbagai bidang terapan yang lantas memicu Revolusi
Industri. Hal ini terlihat dari, misalnya fenomena medan magnet
yang menghasilkan teknologi listrik dan selanjutnya mempe-
ngaruhi perkembangan teknologi. Sebaliknya, filsafat mengalami
kebuntuan karena para pemikir neo-Kantian dan neo-Hegelian
yang mendominasi pemikiran filsafat pada waktu itu hanya
berkutat untuk mengembangkan sistem tafsiran metafisik yang
luas dan mengasingkan diri dalam menara gading akademis.
Kondisi dunia filsafat mulai berubah dengan munculnya tiga
aliran yang menentukan arah filsafat abad ke-20, yaitu:
1. Aliran Pragmatisme dari John Dewey;
2. Aliran Positivisme (logis) dari Lingkaran Wina; dan
3. Aliran Fenomenologi dari Edmund Husserl.

Aliran Pragmatisme lebih terarah kepada penyelesaian


masalah, sedangkan aliran Positivisme menjadikan sains sebagai
pusat epistemologinya dengan metode empiris, logika dan analisis
linguistik. Aliran Fenomenologi merupakan sains pengalaman
yang rigid dengan meminggirkan prasangka-prasangka. Ketiga
aliran ini mencurigai metafisika dalam hal pembentukan sistem-
sistem yang a priori. Ketiganya juga mengakui sains dan metode
sains pertama-tama sebagai rasional dan kritis. Maka, filsafat pun
lebih terfokus pada masalah, lebih konkret, lebih partikular dan
lebih analitik. Hal dimaksud sungguh-sungguh berbeda dengan
filsafat sebelumnya yang dipenuhi metafisika abstrak.

86
Dinamika Revolusi Industri Terhadap Filsafat dan Sains

2. Hubungan antara Filsafat Teknologi dan Filsafat


Sains
a. Filsafat Teknologi Sebelum Abad ke-20
Pada abad ke-20 muncul teknologi tinggi sehingga sains beralih
menjadi teknosains. Istilah teknosains antara lain berarti bahwa
sains dan teknologi bukanlah dua wilayah yang terpisah, melain-
kan dua bidang yang saling berhubungan. Teknologi modern
menjadi sangat berbeda dari teknologi tradisional. Alat-alat
teknologi yang canggih diciptakan, salah satunya ialah komputer
yang mampu mengerjakan banyak hal yang tidak dapat dilakukan
manusia.
Sejak 1930-an, filsafat umum tidak lagi dikaitkan dengan sains
umum akibat munculnya filsafat sains yang meneliti sains sebagai
tema tersendiri. Aliran filsafat yang paling dominan dalam filsafat
sains tersebut ialah positivisme. Aliran Positivisme terfokus pada
teori dan kecenderungan ke arah teori inilah yang menyebabkan
filsafat teknologi terlambat masuk ke dalam dunia filsafat. Menurut
filsafat Yunani dinyatakan bahwa teori lebih unggul daripada hal-
hal praktis. Idealisme Plato mengutamakan ide-ide yang teoretis
dibandingkan dengan dunia sehari-hari yang praktis. Teknologi
dianggap sebagai bagian dari yang praktis dan hanya merupakan
terapan dari sains yang teoretis. Maka pada akhirnya pada masa
itu muncul pemahaman bahwa teknologi dianggap tidak begitu
penting dibandingkan sains.
Munculnya Filsafat Sains adalah hal yang wajar karena baik
filsafat maupun sains cenderung berorientasi pada teori sedangkan
keberadaan teknologi nampak belum begitu menonjol. Dalam
budaya Yunani Kuno, keahlian teknik sudah muncul kendati tidak

87
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

begitu menonjol. Kebanyakan keterampilan teknik yang ada


berkaitan dengan estetika, seperti pembangunan kuil dan
pemahatan patung. Kata techne dipakai untuk merujuk pada
penciptaan karya-karya seni. Teknologi Yunani Kuno tidak
berkembang karena artefak diciptakan sebagai karya seni dan
selalu disubordinasikan terhadap teori-teori ideal para filsuf.
Budaya Romawi-Helenis lebih teknologis, misalnya tampak
pada gerbang-gerbang dan saluran-saluran air yang terbuat dari
batu, sesuatu yang tidak diciptakan oleh budaya Yunani.
Teknologi berkembang dalam budaya Romawi-Helenis berkat
sikap ekletik yaitu memilih-milih apa yang baik dari budaya lain
dan menerapkannya dalam budaya sendiri. Budaya Romawi-
Helenis bersifat lintas budaya dan zamannya pun multikultural
akibat perdagangan yang berkembang maju hingga ke berbagai
pelosok dunia kala itu.
Pada Abad Pertengahan, meskipun filsafat sibuk dengan
teologi dan tidak berkaitan langsung dengan teknologi, teknologi
cukup berkembang. Ini terbukti dengan adanya kincir angin,
menara dan gerbang gereja. Para penciptanya meminjam dan
mengadaptasi budaya dari luar. Kincir angin yang memanfaatkan
tenaga angin ataupun air diambil idenya dari roda doa India.
Sementara gerbang-gerbang tinggi dalam bangunan gereja
diambil dari Timur Tengah.158
Pada Zaman Renaissance, teknologi mulai mempenetrasi
kebudayaan di Eropa lebih dalam. Leonardo da Vinci banyak
melukis desain-desain mesin, seperti mesin terbang (pesawat) dan
mesin bawah air (kapal laut) walaupun hampir semuanya belum

158 Filsafat Teknologi, hlm. 15.

88
Dinamika Revolusi Industri Terhadap Filsafat dan Sains

berfungsi. Galileo Galilei menciptakan teleskop berdasarkan


pengetahuan tentang kaca dan lensa. Galileo merupakan orang
Eropa pertama yang membuat sains mewujudkan diri secara
teknologis dengan menggunakan instrumen dan alat eksperimen.
Galileo bukanlah seorang spekulator seperti fisuf Yunani yang
hanya bergulat dengan teori, melainkan prototipe bagi teknosains.
Sebagaimana diungkapkan oleh Ihde bahwa: 159
“Galileo was among the first of the Europeans to make a tech-
nologically embodied science in his use of instruments and
experimental devices for experiment. Galileo was not a Greek
speculator but a modern prototype for technoscience.”

Francis Bacon menggantikan ideal sains klasik dengan sains


instrumental zaman modern dan memasuki wilayah teknosains.
Sains menjadi eksperimental dengan keharusannya
menggunakan instrumen. Sains eksperimental termediasikan
melalui instrumen dan dengan demikian bersifat teknologis.
Filsafat mulai menjadi sadar akan teknologi. Akan tetapi,
kemasyuran Bacon menghilang karena dibayangi oleh Rene
Descartes yang lebih terkenal. Pemikiran Descartes mengenai
keunggulan pikiran atas dunia materi cenderung mensub-
ordinasikan kepentingan teknologi dan instrumentasi. Descartes
meragukan keberadaan res extensa dan lebih meyakini res
cogitans. Res extensa melibatkan teknologi dan instrumen,
sedangkan res cogitans adalah dunia pikiran dan teori. Maka,
teknologi mundur karena teori dan pikiran mendominasi filsafat.160
Kajian dan refleksi terhadap yang teknologis dan material
159 Ihde, hlm. 25, Filsafat Teknologi, hlm 15.
160 Ihde hlm 29, Filsafat Teknologi, hlm 16.

89
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

menyurut dibandingkan dengan kemajuan cara berpikir rasional


yang terkait dengan teori.
Karl Marx menyumbangkan pemikiran tentang filsafat praksis,
yaitu filsafat yang menilai kembali teori dan menghubungkan teori
dengan tindakan dan materi sehingga perubahan dalam praksis
akan mengakibatkan perubahan dalam teori.161 Marx mengata-
kan bahwa hal yang utama ialah cara-cara produksi yang sangat
berkaitan erat dengan teknologi. Cara produksi yang teknologis
sangat mempengaruhi bagaimana suatu masyarakat dibentuk dan
bagaimana manusia teralienasi dari dirinya sendiri. Dimulai oleh
Marx, fenomena teknologi mulai memasuki refleksi filsafat yang
serius.
Persoalan mengenai kenetralan teknologi diperdebatkan oleh
kaum determinis teknologis dan kaum determinis sosial. Pendapat
umum muncul dari determinisme sosial, yaitu bahwa teknologi
hanya entitas yang netral. Teknologi pada dirinya sendiri tidak
memiliki efek kecuali ketika berada di tangan manusia. Hanya di
tangan manusialah teknologi menjadi tidak netral karena alat
digunakan oleh manusia untuk tujuan-tujuan dan kepentingan
tertentu seperti untuk praktik-praktik kekuasaan. Teknologi sendiri
bersifat netral dan hanya menjadi tidak netral apabila digunakan
manusia. Sepucuk pistol pada dirinya sendiri adalah netral.
Namun, di tangan manusia ia menjadi sebuah senjata yang
membunuh dan yang membunuh bukanlah pistol sebagai
teknologi melainkan manusia.

161 Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III Dalam Jaringan (on-line dictionary),
dapat diunduh melalui laman <http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/> memuat
pengertian prak·sis (n) sebagai praktik, bidang kehidupan dan kegiatan praktis
manusia.

90
Dinamika Revolusi Industri Terhadap Filsafat dan Sains

Menurut Ihde, teknologi tidaklah netral dalam arti teknologi


sebagai mediator antara manusia dan dunianya mengubah
pengalaman manusia mengenai dunia. Budaya juga ikut berubah
dengan penerapan teknologi. Ihde juga berpendapat bahwa
teknologi menjadi tidak netral akibat kekuasaan manusia.
Manusia dapat menggunakan teknologi sebagai sarana kekuasaan
untuk mencapai tujuan dan kepentingan tertentu.
Persoalan netral atau tidaknya teknologi justru membawa
kepada pemikiran otonomi teknologi yang berkaitan dengan
pandangan determinisme teknologi. Determinisme teknologi
berpendapat bahwa setelah teknologi–yang tidak netral–
diciptakan maka teknologi memiliki alur hidupnya sendiri dan
berjalan sendiri. Teknologi menjadi otonom dan mendominasi
hidup manusia dengan menenggelamkan manusia dalam cara
berpikir yang instrumental. Manusia dikondisikan dalam
pemikiran instrumental di mana semua termasuk manusia, dilihat
sebagai sarana. Teknologi menjadi sarana dan tujuan sekaligus.
Jacques Ellul dan Herbert Marcuse mengistilahkan teknologi
dengan huruf “T” besar, Teknologi karena kedua tokoh ini
membendakan semua alat dan proses teknologi. Teknologi
dikaitkan dengan pemikiran kalkulatif dan analitis yang
mendominasi alam pemikiran abad ke-20. Ellul berpendapat
bahwa Teknologi menjadi artifisial, otonom, menentukan
nasibnya sendiri, berkembang dalam suatu proses sebab akibat
dan bukan diarahkan pada tujuan. Sarana menjadi lebih penting
dari tujuan sehingga teknologi sebagai suatu kekuatan otonom
dan tidak terkendalikan bahkan lebih memperbudak manusia
alih-alih membebaskannya. Marcuse berpendapat pula bahwa

91
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

dalam teknologi berlaku kemenangan pemikiran analitis dan


teknis. Manusia direduksi menjadi manusia satu dimensi, yaitu
manusia konsumeristik di mana segala sesuatu menjadi komo-
ditas. Masyarakat teknokratis dikondisikan untuk berpikir bahwa
kebutuhan manusia seolah-olah hanya dapat dipenuhi oleh cara-
cara teknologis.
Jurgen Habermas menafsirkan teknologi lebih positif daripada
Ellul dan Marcuse. Teknologi dilihat sebagai suatu sistem. Dunia
di bawah sistem teknologi dikuasai oleh teknologi dengan
rasionalitasnya yang bersifat teknis, instrumental, berorientasi pada
penyelesaian masalah serta efisiensi. Dalam sistem ini maka sains
dan teknologi menjadi kekuatan produksi yang utama. Selain itu
masih ada dunia yang lain yaitu dunia-kehidupan sosial yang
terbuka, komunikatif dan intersubyektif. Dunia yang berjalan
dalam dunia-kehidupan adalah rasionalitas komunikatif di mana
manusia dilihat sebagai manusia yang intersubyektif. Bagi
Habermas, maka bukan teknologi pada dirinya mengancam
kebebasan manusia, melainkan gangguan dalam dimensi komu-
nikatif. Dalam sistem dunia teknologis harus ada rasionalitas
komunikatif untuk menjadikannya lebih manusiawi.

b. Filsafat Teknologi Abad ke-20


Filsafat teknologi dimulai oleh Martin Heidegger dan John Dewey
yang keduanya adalah filsuf praksis yang menemukan penge-
tahuan khusus mengenai tindakan atau praktik berpola. Penge-
tahuan ini dikaitkan dengan teknologi dan cara bertindak atau
cara pandang yang teknologis.

92
Dinamika Revolusi Industri Terhadap Filsafat dan Sains

Sebagai reaksi terhadap Husserl, Heidegger mengubah


kesadaran murni Husserl menjadi suatu analisis praksis. Menurut
Husserl, semua pengetahuan dibentuk melalui pengalaman
kebutuhan yang konkret dan oleh dasar perseptual. Pengetahuan
semacam ini berangkat dari hubungan manusia dengan dunianya
melalui pengalaman ketubuhannya. Epistemologi Husserl
mengutamakan kepentingan persepsi dan perwujudan. Persepsi
tubuh manusia diarahkan ke dunia yang konkret dan eksistensial.
Heidegger juga memandang bahwa hubungan manusia dan
dunianya secara praktis dapat dilihat dari kegiatan manusia sehari-
hari manusia dan bukan dari konseptual.
Dalam The Question Concering Technology, Heidegger
menyatakan bahwa teknologi mendahului sains secara ontologis.
Sains ditarik dari dan bergantung pada suatu pengetahuan praktis.
Sementara itu, Dewey memulai aliran Pragmatisme yang meman-
dang semua pertanyaan dan pencarian manusia sebagai suatu
penyelesaian masalah yang mirip dengan tindakan praksis.
Dewey menekankan keunggulan praksis terhadap teori. Hakikat
sains adalah eksperimental dan teknologis. Demikianlah
Heidegger dan Dewey memulai filsafat teknologi dengan
memasukkan teknologi ke dalam wilayah praksis.
Pada tahun 1970-an dan 1980-an tulisan-tulisan filsafat
mengenai teknologi mulai marak. Diawali dengan karya ontologi,
filsafat teknologi mulai dikenal dan penting posisinya di dalam
dunia filsafat. Pada 1983 dibentuk Society for Philosophy and
Technology (SPT) di Amerika Serikat. Organisasi ini kebera-
daannya setara dengan Philosophy of Science Association (PSA)
yang telah didirikan pada 1934. PSA merupakan perkumpulan
cabang filsafat yang paling besar. Anggota SPT baru mencapai

93
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

seperlima dari jumlah anggota PSA.162 Filsafat teknologi diakui


lewat suatu badan ilmiah walaupun SPT baru muncul dan keang-
gotaannya masih kecil dibanding dengan PSA.
Don Ihde termasuk salah satu pemikir penting di bidang filsafat
teknologi kontemporer. Ia adalah profesor filsafat terkemuka di
bidang filsafat serta Dekan Humaniora dan Seni di State Univer-
sity of New York-Stony Brook Amerika Serikat. Ihde mengkaji
filsafat teknologi dan filsafat sains dengan minat khusus pada
teknologi pencitraan (imaging technologies). Selain itu, ia juga
melakukan penelitian di bidang persepsi antarbudaya dan pola
budaya plural. Karya pertamanya mengenai filsafat teknologi
dimulai lewat Technics and Praxis: A Philosophy of Technology
(1979). Dalam filsafatnya, Ihde menekankan materialitas dan
kekonkretan alat-alat teknologi. Ia menyebut dirinya sebagai
seorang materialis fenomenologis.163 Sebagaimana diakuinya
sendiri, ia bukanlah seorang distopis yang menekankan bahwa
teknologi netral semata-mata maupun seorang utopis yang
berpandangan bahwa teknologi bersifat otonom dan berjalan
melalui hukumnya sendiri.
Ihde menyoroti hubungan manusia dan teknologi yang
diperantarai oleh instrumen, serta ketertanaman teknologi dalam
budaya (cultural embeddedness of technology). Budaya dianggap
multikultural dan alat-alat teknologi dipandang sebagai instrumen
budaya dan instrumen saintifik. Dalam definisi yang dikemukakan
oleh Ihde bahwa teknologi mempunyai tiga ciri: pertama,

162 Don Ihde, Instrumental Realism: Interface between Philosophy of Science and
Philosophy of Technology, Indiana Press, Bloomington, hlm. 4 dimuat dalam
Filsafat Teknologi, hlm. 22.
163 Don Ihde, Bodies in Technologies, hlm. xv dimuat dalam Filsafat Teknologi,
hlm. 22.

94
Dinamika Revolusi Industri Terhadap Filsafat dan Sains

komponen konkret yaitu materi; kedua, aspek penggunaan yaitu


aspek praksis; dan ketiga, hubungan antara alat-alat teknologi
dan manusia yang menciptakan, menggunakan, dan mengu-
bahnya.164 Teknologi tertanam secara kultural (culturally
embedded), karenanya budaya yang berbeda menggunakan
teknologi dengan cara yang berbeda dan demikian membentuk
budaya itu juga. Contohnya budaya yang menggunakan peralatan
makan seperti garpu dan sumpit masing-masing akan membawa
corak budaya yang berbeda.
Penggunaan teknologi oleh manusia telah memunculkan
revolusi teknologis yang amat besar ditinjau dari aspek waktu,
ruang, dan bahasa yang masing-masing disebabkan oleh jam,
peta/lensa dan tulisan. Penciptaan alat-alat ini turut mentrans-
formasikan cara pandang manusia terhadap dunianya. Ketiga
artefak teknologi ini disebut sebagai representasi atas entitas
alamiah yang berkaitan (waktu, ruang, dan bahasa) serta meme-
diasikan manusia dan lingkungan sekitarnya. Pendekatan yang
digunakan oleh Ihde adalah fenomenologi, yaitu mengkaji feno-
mena teknologi dan bukan dampak teknologi. Ihde ingin
menghindari interpretasi teknologi yang terlalu ekstrim, baik dari
segi teknologi sebagai utopia maupun teknologi sebagai distopia.
Latar belakang Ihde ialah lintas disipliner (interdisciplinary) dan
saintifik yang menggunakan model persepsi165 dan praksis166
untuk filsafat teknologi dan filsafat sains.

164 Ihde, Philosophy of Technology, hlm. 47.


165 Persepsi menurut Husserl dan Merleau-Ponty.
166 Filsafat praksis mendahulukan teori tindakan daripada teori pengetahuan.
Dasar bagi teori pengetahuan merupakan teori tindakan; contohnya filsafat
eksistensial, fenomenologi, dialektik dan analitik.

95
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Ihde bertitik tolak dari pemikiran Heidegger yang radikal


tentang keberadaan teknologi yang mendahului sains dan sifat
praksis teknologi. Ihde berpijak pada pendekatan materialis
karena pendekatan idealis yang mendominasi filsafat Barat dari
zaman Descartes perlu diubah dengan pendekatan materialis.
Ihde berpendapat bahwa refleksi atas teknologi dapat menjadi
titik tolak bagi pendasaran filsafat sains.

C. FILSAFAT TEKNOLOGI DALAM PEMANFAATAN


TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
Sains baru (new science) mempertemukan filsafat teknologi dan
filsafat sains. Filsafat sains baru lebih cenderung ke arah praksis
dan menghargai kebertubuhan manusia daripada filsafat sains
lama yang teoretis. Filsafat sains lama yang ada di Amerika Utara
lebih didominasi oleh positivisme dan analitik. Kedua filsafat ini
mengikuti tradisi Platonis yang dualistik. Sains dianggap lepas dari
kebertubuhan (disembodied) yaitu sains dipandang sebagai sistem
konseptual yang memiliki hubungan logis. Sains ditandai oleh
tiadanya persepsi maupun teknologi.
Filsafat sains baru lahir dari ketidaksetujuan akan cara
pandang sains lama yang lepas dari kebertubuhan (disembod-
ied), idealistik dan abstrak. Filsafat sains lama cenderung teoretis
dan konseptual, sedangkan filsafat sains baru lebih konkret, praktis,
perseptual dan menubuh (embodied). Tokoh-tokoh yang ter-
masuk aliran filsafat sains baru di antaranya adalah Karl Popper
yang menempatkan sains dalam komunitas pribadi yang saling
berkepentingan dan Michael Polanyi yang memperkenalkan tacit
knowledge dari dimensi praksis, persepsi dan pengetahuan
melalui tubuh.

96
Dinamika Revolusi Industri Terhadap Filsafat dan Sains

Tokoh filsafat sains baru yang terkenal adalah Thomas Kuhn.


Kuhn menyatakan paradigmalah yang mendasari pengetahuan
saintifik dan bukan hukum sains dan karenanya Kuhn menentang
pandangan sains lama yang mengutamakan teori. Bagi Kuhn,
selain menentukan hukum dan teori sains yang berlaku, maka
paradigma juga menghasilkan hukum dan teori sains derivatif.
Paradigma yang dimaksud merupakan model atau cara pandang
yang diterima pada masa tertentu. Paradigma inilah yang
memandu perkembangan sains.
Menurut Ihde, Kuhn menyuguhkan model interpretasi sains
secara praksis-perseptual, yaitu persepsi secara inderawi atau
bertubuh yang disituasikan dalam konteks kultural. Pandangan
Kuhn merupakan model perseptual untuk interpretasi yang lebih
positif. Ihde menyatakan bahwa cara memandang yang berbeda
ini disebut sebagai makropersepsi yang terstruktur (structured
macroperception). Kuhn mengakui bahwa fenomena dapat
dilihat dengan berbagai cara yang berlainan. Untuk melihat suatu
fenomena dengan cara yang berbeda dari cara yang terdahulu,
diperlukan perubahan paradigma melalui diskontinuitas yang
radikal. Bagi Kuhn, makropersepsi merupakan prinsip utama.
Observasi dan persepsi dalam sains berlaku dalam satu paradigma
atau makropersepsi. Cara pandang makropersepsi inilah yang
menentukan perkembangan sains selanjutnya. Kuhn juga menge-
mukakan bahwa penggunaan instrumen yang sama dapat menye-
babkan persepsi yang bermacam-macam. Akan tetapi, secara
historis paradigma tidak berubah selagi instrumen tidak berubah.
Sains kontemporer jelas-jelas diwujudkan secara teknologis
yaitu lewat instrumentasi. Instrumen menjadi syarat dan juga
mediator bagi pengetahuan saintifik saat ini. Instrumen adalah

97
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

operator konkret dan materi dalam praksis saintifik. Namun, para


pemikir filsafat sains hanya sedikit meninjau efek instrumen
terhadap paradigma atau episteme dalam sains. Peranan instrumen
hanya ditempatkan sebagai latar belakang. Di sini jelas terlihat
bahwa tersisa gagasan mengenai sains sebagai sesuatu yang
konseptual murni atau persepsi yang lepas dari instrumen sebagai
perwujudan materi. Inilah perbedaan kontras antara filsafat tekno-
logi dan filsafat sains. Oleh sebab itu, fokus langsung dari dimensi
materi dari sains harus diteliti dalam filsafat teknologi yang berbeda
dari filsafat sains.

Tabel 4: Perbedaan Dasar


antara Filsafat Sains dengan Filsafat Teknologi

Filsafat Sains Filsafat Teknologi

Asal usulnya didominasi oleh Asal usulnya didominasi oleh Filsafat


Aliran Positivisme Praksis seperti Fenomenologi,
Pragmatisme, dan Neo-Marxisme

Teoritis Analitik dan cenderung Praksis yang memandang fenomena


mengabaikan teknologi persepsi dan kebertubuhan (embodied)
secara positif

Tabel di atas mendasarkan kepada pendapat Ihde, bahwa


irisan (interface) antara filsafat sains dan filsafat teknologi adalah
realisme instrumental. Realisme instrumental adalah pemikiran
bahwa kenyataan dilihat secara nyata melalui instrumen, aktivitas
eksperimen dan secara lebih luas dalam konteks praksis dan
persepsi. Realitas ditampilkan serta dipersepsikan melalui

98
Dinamika Revolusi Industri Terhadap Filsafat dan Sains

instrumen. Sains merupakan perwujudan ilmu secara teknologis


(technological embodiment of science).167 Perwujudan sains
dalam teknologi yaitu dalam bentuk instrumentasi, merupakan
refleksi yang penting dalam filsafat sains dan filsafat teknologi.
Realisme instrumental merupakan irisan antara filsafat
teknologi dan filsafat sains. Alat-alat teknologi atau instrumentasi
mendekatkan dunia kehidupan dan dunia sains. Sains bukanlah
teori murni atau inferensi rasional saja. Sains yang teoretis
menemukan manifestasi materinya dalam instrumentasi.
Perwujudan sains dalam teknologi sangat penting dan disadari
baik oleh para filsuf sains lama (mind philosophers) maupun filsuf
sains baru (body philosophers).
Tokoh filsuf teknologi pertama adalah Martin Heidegger yang
membahas esensi teknologi di mana teknologi mendahului sains.
Esensi teknologi tidaklah bersifat teknologis. Heidegger meng-
ungkapkan dalam karyanya yang berjudul The Question Con-
cerning Technology and Other Essay (1954), dinyatakan bahwa
“Likewise, the essence of technology is by no means anything
technological.”
Teknologi merupakan suatu cara pandang dan pengalaman
yang membentuk cara bertindak kita, cara bagaimana kita
menggunakan alat dan cara kita berhubungan dengan dunia
kehidupan sehingga teknologi membentuk arah gerak sains.
Heidegger membahas pula tentang alat dan bagaimana alat
menyingkap kemenduniaan manusia dalam dunia-kehidupan.
Pemikiran tentang alat juga bersifat praksis dalam menghu-
bungkan manusia dengan dunianya dan antisipasinya.

167 Ihde, Instrumental Realism, hlm. 99 dalam Filsafat Teknologi, hlm. 32.

99
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Filsafat Teknologi Heidegger berciri fenomenologis dalam


arti menunjukkan fondasi eksistensial dari teknologi. Ciri
fenomenologi terungkap jelas dalam karyanya Being and Time
(1927) yang mengutamakan dimensi praksis eksistensi manusia
(Dasein) dan terus menjadi kunci dalam karya selanjutnya
mengenai teknologi, yaitu The Question Concerning Techno-
logy and Other Essay (1954). Heidegger menyelidiki landasan
ontologis teknologi sehingga dibebaskannya teknologi dari
penafsiran subyektivistik dan semata-mata instrumentalis dan
menjadikannya persoalan pokok filsafat.168

1. Ontologi Teknologi
Persoalan dalam The Question Concerning Technology and
Other Essay (1954) adalah esensi teknologi yang terkait dengan
eksistensi manusia. Apa yang penting bagi Heidegger bukanlah
teknologi itu sendiri ataupun bentuk-bentuk teknologi, melainkan
orientasi kita terhadap teknologi. Untuk menyingkap fenomena
teknologi perlu pemahaman tentang teknologi yang harus
dibebaskan dari lapis-lapis penafsiran yang tidak memadai dan
subyektivistik, yaitu penafsiran teknologi yang instrumental dan
antropologis.
Heidegger menyatakan bahwa ada yang mengatakan bahwa
teknologi merupakan sarana untuk suatu tujuan dan ada pula
yang mengatakan bahwa teknologi adalah aktivitas manusiawi.
Kedua definisi mengenai teknologi dapat disatukan, sebab untuk
mencapai tujuan serta mengupayakan dan memanfaatkan sarana-

168 Ihde, Technics and Praxis, hlm. 103 dalam Filsafat Teknologi, hlm. 43

100
Dinamika Revolusi Industri Terhadap Filsafat dan Sains

sarana adalah suatu bentuk aktivitas manusiawi. Pembuatan dan


pemanfaatan peralatan, alat dan mesin, benda yang dihasilkan
dan digunakan, serta kebutuhan dan tujuan yang dipenuhinya,
semuanya termasuk teknologi. Seluruh perangkat kompleks yang
didesain untuk tujuan tertentu ini (contrivance) merupakan
teknologi. Teknologi sendiri adalah suatu contrivance atau dalam
bahasa latinnya suatu instrumentum. Heidegger menyatakan
sebagai berikut:169
“One says: Technology is means to and end. The other says:
Technology is a human activity. The two definitiions of tech-
nology belong together. For to posit ends and procure and
utilize the means to them is a human activitiy. The manufac-
ture and utilization of equipment, tools, and machines, the
manufactured and used things themselves, and the needs and
ends that they serve, all belong to what technology is. The
whole complex of these contrivances is technology.
Technology itself is a contrivance, or in Latin an
isntrumentum.”

Teknologi sebagai sarana merupakan penafsiran yang


instrumental, sedangkan teknologi sebagai aktivitas manusia
merupakan penafsiran yang antropologis. Kedua definisi ini baik
yang instrumental maupun yang antropologis masih dangkal dan
menjadikan teknologi sebagai alat yang melulu hanya bagi
sains.170 Definisi-definisi ini mengimplikasikan bahwa teknologi
hanya ciptaan subyek dan berfungsi sebagai instrumen yang

169 Heidegger, The Question Concerning Technology, hlm. 4 dalam Filsafat


Teknologi, hlm. 44.
170 Ihde, Existensial Technics, hlm. 32 dalam Filsafat Teknologi, hlm. 44.

101
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

netral. Heidegger berpendapat bahwa definisi-definisi dimaksud


adalah betul (correct) namun belum benar (true).171 Kebenaran
bagi Heidegger adalah ketidaktersembunyian (aletheia) yang
dimunculkan lewat penerangan (lichtung) atau penyingkapan.
Dalam Being and Time, melalui fenomenologi nampak
bahwa Heidegger hendak mencari apa yang ontologis melalui
apa yang ontis, yaitu entitas-entitas dan apa yang berlaku sehari-
hari. Bagi Heidegger, hanya melalui yang ontis kita dapat
memahami apa yang ontologis. Namun sebaliknya yang ontologis
mendasari apa yang ontis, yaitu yang ontologis menjadi syarat
kemungkinan bagi yang ontis.
Heidegger menerapkan strategi yang sama untuk memahami
teknologi dalam The Question Concerning Technology, di mana
secara fungsional definisi antropologis dan instrumental dari
teknologi adalah ontis. Heidegger membalikkan definisi ini
dengan mempertanyakan persoalan yang berasal dari tradisi
filsafat trasendental, yaitu syarat-syarat apa yang memungkinkan
teknologi. Menurut Heidegger, teknologi bukanlah persoalan
ontis melainkan persoalan ontologis.
Teknologi dalam arti ontologis merupakan suatu cara kebe-
naran mengungkapkan dirinya atau latar belakang di mana
benda-benda atau peristiwa memunculkan diri dengan cara
tertentu. Entitas-entitas dalam teknologi yaitu instrumen-instrumen

171 Ihde, Technics and Praxis, hlm. 104-105 dalam Filsafat Teknologi, hlm. 45.
Apa yang betul hanyalah benar dalam arti tertentu saja yaitu benar dalam
bagian tertentu saja atau sebagaian dari keseluruhan atau benar dalam arti
yang terbatas. Keseluruhan bukanlah penjumlahan bagian-bagian. Jadi “betul”
belum berarti “benar”, akan tetapi “betul” pun tidak berarti “tidak benar”.
Betul berarti “benar secara terbatas” ataupun “tidak mencukupi” dan dikatakan
sebagai “kebenaran yang parsial”.

102
Dinamika Revolusi Industri Terhadap Filsafat dan Sains

dan aktivitas subyek yang mengerjakannya muncul dalam suatu


struktur ataupun latar belakang yang mendasarinya.
Teknologi dalam arti ontologi bukan hanya sekumpulan
instrumen atau aktivitas teknologis semata melainkan juga suatu
cara pengungkapan kebenaran atau suatu wilayah di mana
entitas dan aktivitas muncul seperti adanya. Heidegger menge-
mukakan bahwa, “Technology in a mode of revealing. Technol-
ogy comes to presence (West) in the realm where revealing and
unconcealment take place, where aletheia, truth, happens.”172
Teknologi dilihat dalam kehidupan sehari-hari dari sudut
pandang instrumental. Ini berarti muncul pertanyaan dalam
kondisi apa sesuatu itu menjadi “sarana” dan “tujuan”. Suatu sa-
ran ialah suatu cara/jalan yang melaluinya sesuatu dipengaruhi
dan dicapai. Segala sesuatu yang memiliki efek sebagai kon-
sekuensinya disebut sebagai sebab.173 Heidegger membahas
empat sebab yang berasal dari Aristoteles, yaitu sebab materi
(causa materialis), sebab formal (causa formalis), sebab final (causa
finalis), dan sebab efisien (causa efficiens). Empat sebab itu ber-
tanggung jawab dalam memungkinkan akibat terjadi atau dibuat.
Heidegger berpendapat bahwa kata teknologi yang berasal
dari kata Yunani, yaitu techne yang mempunyai arti bukan hanya
aktivitas dan keahlian menukang dengan tangan, tetapi juga seni
pikiran (the arts of mind) dan seni halus (fine arts). Techne dihu-
bungkan dengan episteme dalam Yunani kuno di mana keduanya
melibatkan pengetahuan. Techne melibatkan pengetahuan praktis

172 Heidegger, The Question Concerning Technology, hlm. 13 dalam Filsafat


Teknologi, hlm. 47.
173 Heidegger, The Question Concerning Technology, hlm. 7 dalam Filsafat
Teknologi, hlm. 48.

103
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

dan episteme melibatkan pengetahuan teoretis yang eksak/pasti.


Teknologi modern bukanlah seni tangan-keterampilan tangan
(work of craftmanship) namun suatu penyingkapan. Hal yang
membedakan teknologi modern dari teknologi kuno adalah
teknologi modern tidak melibatkan suatu mengemukakan-ke-
hadapan dalam arti poiesis. yaitu perbuatan demi suatu hasil yang
bernilai di luar perbuatan itu sendiri seperti membuat puisi, sedang-
kan teknologi kuno mempunyai sifat-sifat mencipta yang puitis.
Penyingkapan yang dominan dalam teknologi modern
adalah menantang (herausforderen, challenging-forth). Cara
penyingkapan ini menuntut alam secara berlebihan untuk
menyumbangkan energinya supaya manusia dapat menyimpan
dan menggunakannya. Alam dan bumi dilihat sebagai persediaan
(bestand/standing reserve) yang dapat diambil, disimpan dan
digunakan. Heidegger mencontohkan dengan kincir angin yang
merupakan teknologi kuno karena kincir angin tidak menantang
angin dan tidak membuka energi dari tiupan angin. Kincir angin
hanya berputar ketika ada angin bertiup dan putarannya sangat
bergantung pada angin. Kincir angin hanya menyingkap energi
angin, tetapi tidak menguasai energi alam ataupun menyimpan
energi untuk kegunaan masa depan. Sebaliknya, pertambangan
menantang bumi untuk menghasilkan bijih logam di mana bumi
disingkap sebagai persediaan dalam bentuk tambang yang
menghasilkan energi.
Cara menyingkap ketidaktersembunyian alam dan cara meman-
dang alam semacam ini di dalam teknologi modern dinamai oleh
Heidegger sebagai Ge-stell (enframing), yaitu membingkai. Teknologi
sebagai penyingkapan muncul dalam proses membingkai. Mem-

104
Dinamika Revolusi Industri Terhadap Filsafat dan Sains

bingkai menjadi suatu cara sistematik yang membatasi dalam


memandang dunia. Pembingkaian menjadikan seluruh bumi dilihat
sebagai persediaan di mana alam dipandang sebagai sumber energi
untuk kegunaan instrumental manusia. Akibat dari pandangan ini
maka bumi dapat dilihat sebagai sumber energi. Minyak dalam perut
bumi dipandang sebagai simpanan energi bumi yang harus diambil
dan disimpan untuk kegunaan manusia. Hal dimaksud sebagaimana
dinyatakan oleh Heidegger bahwa:174
“Enframing means the gathering together of that setting-upon
which sets upon,.i.e., challenges him forth, to reveal the real,
in the mode of ordering, as standing-reserve. Enframing means
that way of revealing which holds sway in the essence of
modern technology and which is itself nothing technologi-
cal. On the other hand, all those things that are so familiar to
us and are standard parts of an assembly, such as rods, pis-
tons, and chassis, belong to technological. The assembly it-
self, however, together with the aforementioned stockparts,
falls within the sphere of technological activitiy; and this
activitiy always merely responds to the challenge of Enframing,
but it never comprises Enframing itself or brings it about.”

Heidegger mengatakan bahwa esensi teknologi sendiri


tidaklah berciri teknologis dan esensi teknologi terletak dalam
pembingkaiannya yaitu dalam cara orientasi kita terhadap alam.
Pembingkaian adalah merupakan cara penyingkapan yang
mendominasi esensi teknologi modern dan pada dirinya sendiri

174 Heidegger, The Question Concerning Technology, hlm. 20-21 dalam Filsafat
Teknologi, hlm. 52.

105
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

tidak teknologis.175 Esensi teknologi justru eksistensial karena


berkaitan dengan cara manusia memandang dunianya. Pema-
haman tentang bumi sebagai persediaan menjadi persyaratan bagi
terciptanya alat-alat teknologi oleh manusia. Bahkan pada
akhirnya bumi dan alam tidak hanya dianggap sebagai sumber
persediaan saja namun manusia pun mendominasi alam melalui
teknologi. Terhadap dunia yang dipandang sebagai persediaan
maka manusia bersifat membuka, mentransformasi, menyimpan,
menyalurkan dan menukar-nukar yang merupakan cara-cara
penyingkapan. Heidegger menyatakan bahwa, “…unlocking,
transforming, storing, distributing, and switching about are ways
of revealing.”176
Penyingkapan yang mendominasi teknologi modern mem-
punyai sifat memaksa (setting-upon) dalam arti menantang-ke-
hadapan (challenging-forth). Menantang-ke-hadapan berlang-
sung ketika energi yang tersembunyi dalam alam dibuka, kemu-
dian ditransformasikan, disimpan, untuk selanjutnya disalurkan.

1. Alat yang Digunakan untuk Sesuatu


dalam Paradigma Filsafat Teknologi
Bagi Heidegger, dengan pendekatan fenomenologi bahwa
analisis mengenai alat merupakan sarana untuk menyingkap
dunia yang dihuni oleh Dasein dan relasi Dasein dengan dunia-
nya. Heidegger menjelaskan bahwa, “the [tool] analysis occurs

175 Heidegger, The Question Concerning Technology, hlm. 20 dalam Filsafat


Teknologi, hlm. 53.
176 Heidegger, The Question Concerning Technology, hlm. 16 dalam Filsafat
Teknologi, hlm. 54.

106
Dinamika Revolusi Industri Terhadap Filsafat dan Sains

as the vehicle by which the worldhood of the world is to be made


phenomenologically apparent.”177
Menurut Heidegger, ada dua hal yang menunjukkan sifat
umum dari alat dimana alat memperlihatkan keumuman dan
menuruti norma-norma. Pertama, alat menunjukkan keumum-
annya (generality) di mana suatu alat adalah alat terlepas dari
siapa yang menggunakannya. Palu, komputer, kendaraan bukan
hanya diperuntukkan bagi orang tertentu melainkan untuk semua
orang yang hendak memakainya atau dengan kata lain peng-
gunaan alat bersifat umum. Kedua, penggunaan alat mensya-
ratkan cara yang sesuai dan tertentu, yaitu satu cara yang biasa
atau normal untuk menggunakan alat tersebut. Pulpen misalnya
sewajarnya dipakai untuk menulis. Pengguna yang normal
disebut Heidegger sebagai orang kebanyakan (das Man). Alat
dan peranan masyarakat ditentukan oleh norma-norma yang
berlaku untuk siapa saja. Cara memahami kursi adalah dengan
duduk di atas kursi itu dan bukan dengan berdiri di atasnya atau
dengan mengetahui bahwa kursi biasanya dipakai untuk duduk.
Orang duduk di atas kursi, itulah cara yang normal. Penggunaan
alat yang sesuai ditentukan oleh norma-norma masyarakat atau
dengan kata lain ditentukan oleh das Man, yaitu “Equipment
displays generality and obeys norms.”178

177 Ihde, Technics and Praxis, hlm. 116 dalam Filsafat Teknologi, hlm. 59.
178 Drefyus, Being-in-the-World, hlm. 151 dalam Filsafat Teknologi, hlm. 64.

107
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

108
Konsep Hukum Sarana Pembaharuan Masyarakat dalam Teori Hukum Konvergensi

Bab III
Konsep Hukum Sarana Pembaharuan
Masyarakat dalam Teori Hukum
Konvergensi
“The Future of Revolution, wherever they happen
and whatever form they take, may change regimes, but they will not
necessarily produce democratic outcomes.”
Eric Schmidt & Jared Cohen,
The New Digital Age: Reshaping The Future
of People, Nations and Business (2013).

A. PARADIGMA KONVERGENSI TATANAN HUKUM


Pada bab ini dibahas tentang implikasi konvergensi TIK terhadap
hukum dan regulasi mencakup uraian konsep konvergensi dalam
TIK tentang pengertian dan ruang lingkup konvergensi TIK.
Diuraikan pula faktor-faktor pendorong dan penghambat
konvergensi TIK serta pendekatan-pendekatan yang diper-
gunakan dalam mengantisipasi implikasi dari konvergensi TIK
terhadap hukum dan regulasi, yaitu Pendekatan Legislasi (Legis-
lative Approach); Pendekatan Regulasi (Regulatory Approach);
dan Pendekatan Proses Swa-Regulasi (Self-Regulation Approach).
Pada bab ini akan diuraikan tentang konsep hukum sebagai
sarana pembaharuan masyarakat terhadap konvergensi TIK.
Pembahasan pertama adalah uraian paradigma konvergensi

109
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

hukum dalam perkembangan Hukum Internasional, yang


mencakup uraian tentang pendekatan Konvergensi dan Non-
Konvergensi dalam tatanan hukum serta perkembangan konsep
Harmonisasi Hukum. Kemudian Pembahasan kedua adalah
uraian pembentukan konsep Konvergensi Hukum sebagai sarana
pembaharuan masyarakat dalam dimensi konvergensi TIK, yang
mencakup uraian tentang konsep Konvergensi Hukum dalam
upaya pembentukan hukum yang antisipatif terhadap perkem-
bangan zaman; fungsi hukum sebagai sarana pembaharuan
masyarakat dalam dimensi konvergensi TIK; dan tatanan hukum
TIK bagi kerangka pembangunan di Indonesia.
Pengertian globalisasi dapat dipahami sebagai suatu kegiatan
yang bertujuan untuk menciptakan dan mengkonsolidasikan
suatu unifikasi dunia ekonomi, satu sistem ekologi, dan satu jaring-
an komunikasi yang melingkupi seluruh dunia. Pengertian dimak-
sud sebagaimana yang diungkapkan oleh William Twinning,
yaitu: “…In the present context the term “globalisation” refers to
those process which tend to create and consolidate a unified world
economy, a single ecological system, and a complex network of
communications that covers the whole globe, …”179
Globalisasi sejatinya dari sisi proses bukanlah hal baru di
mana lahirnya negara-negara modern telah dimulai semenjak
abad ke-16, di mana telah dimulai dilakukannya internasionalisasi
dan mengalirnya arus perpindahan masyarakat, agama dan
perdagangan sebagai prakondisi dari perkembangan ekonomi
internasional dan budayanya.

179 William Twining, Globalisation and Legal Theory, Butterworths, London, 2000,
hlm. 4.

110
Konsep Hukum Sarana Pembaharuan Masyarakat dalam Teori Hukum Konvergensi

Dikaitkan dengan hubungan internasional sebagaimana yang


diungkapkan oleh John Rawls bahwa adanya asumsi terhadap
Teori Hukum hari ini dapat diperlakukan kepada masyarakat
sebagai “hypothetically closed and self-sufficient unit”,180 di mana
proses dari globalisasi secara fundamental telah merubah secara
signifikan batas-batas negara, bangsa dan masyarakat.
Globalisasi dan interdependensi telah mengubah pema-
haman teori kotak hitam (black box theory) di mana cara pandang
pada suatu negara atau masyarakat atau sistem hukum merupakan
hal yang tertutup dan lembaga yang tidak dapat diintervensi serta
terisolasi baik secara internal dan eksternal. Dua hal utama yang
akan terjadi, Pertama, hukum nasional tidak lagi diperlakukan
sebagai yang tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal seperti
pada hukum hak asasi manusia, hukum perdagangan inter-
nasional (General Agreement on Trade and Tariff/GATT). Kedua,
doktrin kedaulatan negara mulai bergeser khususnya dalam
bidang hukum humaniter internasional dan hukum hak asasi
manusia.
Teori hukum yang berkiblat kepada Anglo-American menitik-
beratkan kepada dua jenis tertib hukum, yaitu hukum nasional
dan hukum internasional. Pada hari ini, kerangka hukum di dunia
harus berhadapan dengan masalah-masalah yang lebih rumit
seperti penyusunan, kebangkitan kembali, pembangunan,
kelahiran dan bentuk potensial dari tata tertib hukum. Dalam skala
global telah dibutuhkan adanya tatanan hukum yang baru,
terutamanya dalam bidang lingkungan hidup, telekomunikasi
dan sumber daya alam. Diharapkan ius humanititas dapat

180 Ibid.

111
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

mengatur sumber daya alam sebagai “the common heritage of


mankind”, baik bersandarkan kepada filosofi dan politis. Pengem-
bangan lebih lanjut peran dari lex mercatoria sebagai upaya untuk
melakukan pengaturan perekonomian dunia.
Tantangan terbesar dari globalisasi terhadap Teori Hukum
adalah konstruksi dari kerangka Teori Hukum yang dapat mele-
bihi budaya hukumnya sendiri. Pada abad ke-19 titik sentral dari
Teori Hukum adalah analitikal dan historikal juris, di mana paham
dari John Austin yang menitikberatkan kepada “principles, no-
tions, and distinctions” yang dapat ditemui pada sistem hukum
yang sudah mapan.
Dampak globalisasi terhadap Teori Hukum dapat dipahami
bahwa Teori Hukum harus mampu menjelaskan dengan gambar-
an yang menyeluruh, yaitu deskriptif, eksplanatori, normatif dan
analitikal terhadap fenomena hukum pada dunia modern.181 Teori
Hukum dimaksud didasarkan kepada konstruksi dari berbagai
perspektif, yaitu tidak hanya kepada hukum nasional dan hukum
internasional, akan tetapi termasuk pula tata aturan global, re-
gional, transnasional dan lokal yang telah dianggap sebagai
“aturan”, di mana tujuan dan berkaitan di antara mereka. Hal
dimaksud akan mengarah kepada pluralisme hukum baik di
antara atau di luar sistem hukum nasional maupun budaya dan
tradisi.182
Teori Hukum sebagai ajaran Ilmu hukum adalah untuk
memahami hukum pada dunia yang modern maka dampak dari
globalisasi dan interpendensi menjadikan perlunya multi-
181 William Twining, Globalisation and Legal Theory, Butterworths, London, 2000,
hlm. 52-53.
182 Ibid.

112
Konsep Hukum Sarana Pembaharuan Masyarakat dalam Teori Hukum Konvergensi

interpertasi, bahwa suatu fenomena setempat perlu ditinjau dari


perspektif yang lebih luas terhadap dan termasuk kepada dunia
dan umat manusia pada umumnya. Teori Hukum sebagai
dampak dari globalisasi harus tetap mampu mengakomodasi
pluralisme budaya yang ada.
Konsep-konsep hukum tentang konvergensi (convergence),
harmonisasi (harmonization), dan unifikasi (unification) telah
menjadi konsep-konsep yang terus berkembang khususnya
dalam studi perbandingan hukum. Konsep-konsep hukum
dimaksud secara umum dapat dipahami sebagaimana dimuat
dalam tabel berikut ini:183

Tabel 5: Konsep Hukum Konvergensi, Harmonisasi dan Unifikasi

Konsep Hukum Pemahaman Umum

Konvergensi dipergunakan sebagai upaya untuk penyatuan


sistem-sistem hukum, konsepsi, prinsip-prinsip,
atau norma-norma

Harmonisasi dipergunakan sebagai upaya untuk menyiapkan


hukum nasional atau hukum negara bagian yang
memiliki keterkaitan pengaturan didasarkan kepada
hukum, regulasi dan tindakan administratif

Unifikasi dipergunakan sebagai upaya harmonisasi secara


ekstrim baik terhadap perbedaan maupun
fleksibilitas dalam pengaturan dan tidak
memberikan ruang terhadap ketentuan lain

183 Nuno Garoupa dan Anthony Ogus, “A Strategic Interpertation of Legal Trans-
plants”, Journal of Legal Studies, The University of Chicago, Juni, 2006. “Con-
vergence is used to refer to the coming together of legal systems, concepts,
principles, or norms; harmonization is seen as an approximation of national
or state laws by virtue of provisions laid down by law, regulation, or adminis-
trative action; and unification is an extreme version of harmonization in which
differentiability or flexibility is ruled out and no derogation in the preempted
areas is allowed.”

113
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

1. Paradigma Konvergensi Tatanan Hukum


Globalisasi menyebabkan terjadinya konvergensi dari tatanan
hukum (legal order) atau sistem hukum. Para ahli hukum dan
ekonomi telah memprediksikan bahwa tatanan hukum akan
bergerak ke arah yang lebih memadai. Mereka berpendapat
bahwa implikasi dari globalisasi akan memaksa tatanan hukum
untuk berkonvergensi sehingga tercapainya efisiensi secara
ekonomis. Hal dimaksud dikarenakan tatanan regulasi terkait dari
suatu tatanan hukum akan membuat satu sistem hukum saja tidak
akan mampu memberikan solusi yang optimal dari permasalahan-
permasalahan yang muncul.184 Banyak para ahli hukum mera-
malkan suatu konvergensi yang serupa akan terjadi, khususnya
para ahli hukum yang menganut faham fungsionalis komparatis
(functionalist comparatists) menyakini bahwa konsep unifikasi
hukum adalah diinginkan dan tidak terelakkan dalam suatu
tatanan hukum.185 Argumentasi mereka didasarkan kepada
ekivalensi fungsional, di mana suatu sistem hukum dapat tampak
berbeda karena mereka mempunyai doktrin dan institusi berbeda
namun perbedaan dimaksud hanya pada permukaanya saja.
Karena pada dasarnya institusi dimaksud tetap mampu memenuhi

184 Anthony Ogus, “Competition Between National Legal Systems: A Contribu-


tion of Economic Analysis to Comparative Law”, 48 Int’l & Comp. L.Q. 405
(1999); Ugo A. Mattei, Luisa Antonioli & Andrea Rossato, “Comparative Law
and Economics”, 1 Encyclopedia of Law and Economics 505 (Boudewijn
Bouckaert & Gerrit De Geest eds., 2000); Jennifer G. Hill, “The Persistent
Debate about Convergence in Comparative Corporate Governance”, 27
Sydney L. Rev. 743 (2005); Ronald J. Gilson, “Globalizing Corporate Gover-
nance: Convergence of Form or Function”, 49 Am. J. Comp. L. 329 (2001).
185 Catherine Valcke, “Comparative Law as Comparative Jurisprudence — The
Comparability of Legal Systems”, 52 Am. J. Comp. L. 713 (2004); Gerhard
Dannemann, “Comparative Law: Study of Similarities or Differences?”, Ox-
ford Handbook of Comparative Law 383 (Mathias Reimann & Reinhard
Zimmermann eds., 2006).

114
Konsep Hukum Sarana Pembaharuan Masyarakat dalam Teori Hukum Konvergensi

fungsi yang sama dan serupa. Menyadari bahwa tatanan hukum


adalah secara substansial telah serupa maka akan membuat itu
menjadi mudah untuk menyatukan hukum juga secara formal.186
Pada sisi yang lainnya, terdapat suatu pemahaman bahwa
budaya hukum (legal culture) merupakan suatu hambatan dari
upaya konvergensi tatanan hukum.187 Budaya hukum dideskrip-
sikan sebagai sebuah penghalang dari situasi yang lebih efisien,
sebagaimana yang didorong untuk terjadi oleh para ahli
ekonomi.188 Hampir mirip pula, para ahli hukum berargumentasi
bahwa perbedaan budaya menjadi suatu lawanan dari persa-
maan yang ingin dituju secara fungsionalis komparatis.189
Pemahaman ini berujung kepada sulitnya dilakukan konvergensi
tatanan hukum jika budaya lokal dan nilai-nilai menjadi variabel
yang penting; hal dimaksud dicerminkan dalam hukum pidana
dan hukum keluarga. Namun pada bidang hukum ekonomi di
mana budaya lokal sebagian besar serupa dan hubungan
transnasional mampu “memaksa” sistem hukum nasional, maka
pada akhirnya konvergensi dapat diwujudkan. Sekalipun budaya

186 Ralf Michaels, “Two Paradigm of Jurisdiction”, Michigan Journal of Interna-


tional Law, Summer 2006. E.g., Konrad Zweigert & Hein Kötz, Introduction to
Comparative Law 24 (Tony Weir trans., 3d ed. 1998); Ugo Mattei, “A Transac-
tion Costs Approach to the European Civil Code”, 5 Eur. Rev. Priv. L. 537
(1997);
187 Pierre Legrand, “European Legal Systems Are Not Converging”, 45 Int’l &
Comp. L.Q. 52, 61-62 (1996).
188 Ralf Michaels, “Two Paradigm of Jurisdiction”, Michigan Journal of Interna-
tional Law, Summer 2006.
189 Günter Frankenberg, “Critical Comparisons: Rethinking Comparative Law”,
26 Harv. Int’l L.J. 411 (1985); Bernhard Grossfeld, Core Questions of Com-
parative Law (Vivian Grosswald Curran trans., 2005); Pierre Legrand, Le droit
comparé (1999); Vivian Grosswald Curran, “Dealing in Difference: Compara-
tive Law’s Potential for Broadening Legal Perspectives”, 46 Am. J. Comp. L.
657 (1998).

115
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

lokal tetap memberikan dukungan terhadap hukum ekonomi,190


namun tetaplah tidak mudah untuk melihat bagaimana tetap
kuatnya budaya nasional dan mengapa globalisasi ekonomi tidak
cukup mampu untuk menciptakan suatu kultur global,191 yang
pada gilirannya dapat mewadahi terjadinya konvergensi hukum
dan unifikasi.
Mochtar Kusumaatmadja pada tahun 1976 telah mem-
berikan penekanan terhadap hal-hal dimaksud.192 Mochtar
berpendapat bahwa masalah-masalah dalam suatu masyarakat
yang sedang membangun yang harus diatur oleh hukum secara
garis besarnya dapat dibagi dalam dua golongan besar, yaitu:
(a) masalah-masalah yang langsung mengenai kehidupan
pribadi seseorang dan erat hubungannya dengan kehidupan
budaya dan spiritual masyarakat; dan
(b) masalah-masalah yang bertalian dengan masyarakat dan
kemajuan pada umumnya bersifat “netral” dilihat dari sudut
kebudayaan.

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa pembaharuan


hukum dalam bidang demikian lebih mudah dilakukan. Karena
ini bidang-bidang yang “netral” seperti hukum perseroan, hukum

190 Pierre Legrand, Counterpoint: Law Is Also Culture, in The Unification of Inter-
national Commercial Law, 245 (Franco Ferrari ed., 1998).
191 Volkmar Gessner, “Global Approaches in the Sociology of Law: Problems
and Challenges”, 22 J.L. Soc’y 85, 90 (1995); Charles Koch, “Envisioning a
Global Legal Culture”, 25 Mich. J. Int’l L. 1 (2003); Russell Menyhart, “Chang-
ing Identities and Changing Law: Possibilities for a Global Legal Culture”, 10
Ind. J. Global Legal Stud. 157 (2003).
192 Mochtar Kusumaatmadja, Hukum dan Masyarakat dan Pembinaan Hukum
Nasional, Lembaga Penelitian Hukum dan Kriminologi Fakultas Hukum Uni-
versitas Padjadjaran, Bandung-Penerbit Binacipta, 1976, hlm. 14-15.

116
Konsep Hukum Sarana Pembaharuan Masyarakat dalam Teori Hukum Konvergensi

kontrak (perikatan) dan hukum lalu lintas (darat air dan udara)
lebih mudah dan segera dapat ditangani. Karena adanya interrelasi
yang erat antara hukum dengan faktor-faktor lain dalam masya-
rakat terutama faktor-faktor ekonomi, sosial dan kebudayaan,
seorang ahli hukum harus pula memperhatikan segi-segi ini kalau
ia hendak berhasil dalam tugasnya. Bertambah pentingnya
peranan teknologi di zaman modern ini bagi kehidupan manusia
dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia dan lingkungan
hidupnya menyebabkan bahwa faktor-faktor ini pun tidak dapat
diabaikan. Kesemuanya ini berarti bahwa proses pembentukan
undang-undang harus dapat menampung semua hal yang erat
hubungannya (relevan) dengan bidang atau masalah yang hendak
diatur dengan undang-undang itu, apabila perundang-undangan
itu hendak merupakan suatu pengaturan hukum yang efektif.
Efektifnya produk perundang-undangan dalam penerapannya
memerlukan perhatian akan lembaga dan prosedur-prosedur
yang diperlukan dalam pelaksanaannya. Karenanya pengertian
hukum yang memadai harus tidak hanya memandang hukum
itu sebagai suatau perangkat kaidah dan asas-asas yang mengatur
kehidupan manusia dalam masyarakat, tapi harus pula mencakup
lembaga (institutions) dan proses (processes) yang diperlukan
untuk mewujudkan hukum itu dalam kenyataan.193
Pembentukan tiga pemikiran utama yang mendasari kon-
vergensi hukum194 ternyata tetap memiliki pendekatan yang

193 Mochtar Kusumaatmadja, Konsep-Konsep Hukum dalam Pembangunan,


Pusat Studi Wawasan Nusantara, Hukum dan Pembangunan bekerjasama
dengan Penerbit PT. Alumni, Bandung, 2006, hlm. 30.
194 Ronald A. Brand, “Semantic Distinction in an Age of Legal Convergence”,
University of Pennsylvania Journal of International Economic Law, Spring,
1996.

117
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

tradisional, yaitu pemisahan antara hukum internasional publik


dan hukum perdata internasional publik.195 Pemikiran pertama,
bahwa telah menjadi pemahaman umum bahwa kedaulatan para
pihak yang terlibat suatu transaksi komersial khususnya dengan
pihak swasta asing, tetap menjadi pertimbangan yang menga-
kibatkan para pihak swasta asing akan tunduk kepada suatu
hukum nasional jika dilakukan pilihan hukum pada peradilan
nasional. Teori Penerimaan Hukum dimaksud menyimpangi
imunitas kedaulatan negara asing, terutama dicerminkan dengan
dipergunakannya forum arbitrase dan forum penyelesaian
sengketa terhadap persengketaan komersial lintas batas negara.
Pemikiran kedua, hubungan antara para pihak dan kedau-
latan yang dimilikinya tetap akan tunduk kepada penerapan
hukum internasional publik. Tidak lagi menjadi perdebatan
bahwa orang asing yang berkaitan dengan kedaulatan suatu
negara hanya akan menjadi yurisdiksi badan peradilan/tribunal
internasional. Perjanjian Pembangunan Jangka Panjang (Long
Term Economic Development Agreement), Joint Venture
Agreement, dan bentuk perjanjian korporasi lainnya yang bersifat
kerjasama publik atau privat akan berujung kepada transaksi dan
sengketa komersial yang melintasi batas negara.
Pemikiran ketiga, meningkatnya jumlah pihak-pihak swasta
telah banyak mempengaruhi perkembangan prinsip-prinsip

195 Mochtar Kusumaatmadja, Pengantar Hukum Internasional, Penerbit Binacipta,


1976, hlm. 1. Beliau mendefinisikan Hukum Internasional Publik adalah
keseluruhan kaidah dan asas hukum yang mengatur hubungan atau persoalan
yang melintasi batas negara (hubungan internasional) yang bukan bersifat
perdata. Hukum Perdata Internasional adalah keseluruhan kaidah asas hukum
yang mengatur hubungan perdata yang melintasi batas negara.

118
Konsep Hukum Sarana Pembaharuan Masyarakat dalam Teori Hukum Konvergensi

dalam perjanjian perdagangan bilateral, regional, dan multilat-


eral, khususnya prinsip berkaitan dengan pembatasan atas
tindakan/perilaku pihak asing terhadap kedaulatan negara lain.
Semakin berkembangnya perdagangan internasional menjadikan
prinsip dimaksud mengikat bagi para individu dan badan hukum.
Perkembangan prinsip ini memerlukan perhatian yang hati-hati
dalam penerapannya dan kategori para pihaknya. Sementara itu
pengaturan dan mekanisme penyelesaian sengketa yang akan
diberlakukan memiliki pembatasan terhadap kedaulatan.
Walaupun para pihak dimaksud dari waktu ke waktu tetap
menginginkan adanya keterlibatan pengaturan khususnya dalam
pembentukan, penafsiran dan penerapan dari hukum yang akan
diberlakukan.

2. Pendekatan Konsepsi Konvergensi dan


Non-Konvergensi dalam Hukum
Paradigma dari konvergensi tatanan hukum dapat dilakukan
pemahaman yang lebih mendalam dengan mengkaji pendekatan
konsepsi konvergensi dan konsepsi non-konvergensi dalam
hukum.196 Pendekatan untuk mencari keterkaitan dengan
persamaan atau perbedaan antara sistem hukum, atau memban-
dingkan sistem hukum yang berbeda diharapkan dapat menje-
laskan pentingnya konsepsi konvergensi hukum.

196 Fabio Morosini, “Globalization & Law: Beyond Traditional Methodolgy of


Comparative Legal Studies and An Example from Private International Law”,
Cardozo Journal of International and Comparative Law, Fall 2005.

119
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

1. Pendekatan Konvergensi Hukum197


Para ahli hukum berpendapat bahwa suatu sistem hukum
dibentuk mendasarkan kepada format yang berbeda namun tetap
memiliki kesatuan inti pemahaman.198 Basil Markesinis, sesuai
dengan pendekatan hukum perbandingan, berpendapat bahwa
suatu sistem hukum menemukan cara yang berbeda untuk
mendekati suatu permasalahan serupa,199 dan dalam pelak-
sanaannya sering mencapai hasil yang secara fungsional serupa.
Markesinis berpendapat perlunya difokuskan pada persamaan
dari sistem hukum yang berbeda karena dunia memiliki
perbedaan.200 Konsepsi konvergensi didasarkan kepada pema-
haman bahwa, “Sementara mungkin saja adanya perbedaan
antara sistem hukum di tingkat permasalahan konseptual, namun
solusi secara fungsional kepada permasalahan dimaksud
cenderung untuk menjadi serupa.”201 Pemahaman dimaksud
mengikuti pendapat dari Markesinis bahwa persamaan dalam
mendekati budaya hukum yang berbeda akan berperan untuk
melakukan integrasi hukum di masa depan.

197 Laura Nader, “Comments“, 46 Am. J. Comp. L. 597 (1998). O. Lando, Why
Harmonize Contracts Law of Europe, in International Contracts & Conflicts of
Law (P. Sarcovic ed., 1990), ch. 1.
198 James Gordley, “Is Comparative Law a Distinct Discipline?“, 46 Am. J. Comp.
L. 607 (1998).
199 Basil S. Markesinis & Hannes Unberath, The German Law of Torts: A Com-
parative Treatise (2002); Basil S. Markesinis, Foreign Law & Comparative Meth-
odology: A Subject & a Thesis (1997); Basil S. Markesinis, Always on the Same
Path: Essays on Foreign Law & Comparative Methodology (2001).
200 Basil S. Markesinis, Foreign Law & Comparative Methodology: A Subject & a
Thesis, 6 (1997).
201 Pierre Legrand, “European Legal Systems Are Not Converging”, 45 Int’l &
Comp. L.Q. 55 (1996), memuat penjelasan teori konvergensi sebagaimana
dikemukan oleh de Groot, Glenn dan Markesinis bahwa, “while there may be
distinctions between legal systems at the level of problem conceptualization,
the functional solutions to problems tend to be similar.“

120
Konsep Hukum Sarana Pembaharuan Masyarakat dalam Teori Hukum Konvergensi

2. Pendekatan Non-Konvergensi Hukum


Para ahli hukum yang berpendapat lain mengemukakan pen-
dekatan non-konvergensi hukum. Menurut mereka bahwa
metodologi perbandingan mendasarkan kepada perbedaan dan
bukan persamaan.202 Pierre Legrand menjelaskan metodologi
dimaksud dengan baik,203 bahwa menurutnya esensi dari pende-
katan adalah hukum merupakan bagian yang hidup dari kerangka
budaya suatu negara. Legrand bertentangan dengan Markensinis,
di mana Legrand mengembangkan argumentasinya dalam
konteks “kemustahilan” dalam hukum perdata di Eropa. Bagi
Legrand, jika hukum adalah bagian yang hidup dari kerangka
budaya, maka hal yang keliru untuk memfokuskan pada persa-
maan antara sistem hukum yang berbeda.204 Satu pendekatan
yang berbasis pada persamaan antara sistem hukum sejatinya
adalah tidak nyata karena setiap budaya membentuk identitas
atau karakter hukumnya sendiri sesuai dengan kebutuhan dan
perkembangannya yang berbeda.
John Coffee205 dan Ronald Gilson206 membedakan konver-
gensi formal (formal convergence) dan konvergensi fungsional

202 Gunther Teubner, “Legal Irritants: Good Faith in British Law or How Unifying
Law Ends Up in New Divergences”, 61 M.L.R. 11 (1998), memuat pendapat
bahwa konvergensi terhadap sistem hukum adalah merupakan produk dari
sesuatu yang bukan merupakan tujuan dan konsukuensi yang tidak
diinginkan.
203 Pierre Legrand, Fragments on Law-As-Culture (1999); Pierre Legrand, Le Droit
Comparé (1999); Pierre Legrand, Sens et Non-Sens D’un Code Civil Euro-
pean, Revue Internationale De Droit Comparé, Oct.-Dec. 1996; Pierre Legrand,
“Structuring European Community Law: How Tacit Knowledge Matters, 21
Hastings Int’l & Comp. L. Rev. 871 (1998).
204 Ibid., “If law is a living part of an overall culture, it is wrong to focus on the
similarities between the different legal systems.“
205 Horatia Muir Watt, La Fonction Subversive du Droit Comparé, Revue
Internationale De Droit Comparé, July-Sept. 2000. Horatia Muir Watt, “Expe-

121
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

(functional convergence) sebagai berikut:207


i. Konvergensi Formal adalah konsepsi yang mengacu pada
institusi atau lembaga yang mengatur dalam format hukum
yang sama. Coffee dan Gilson mempercayai bahwa konver-
gensi formal adalah suatu jalan yang sangat panjang untuk
ditempuh. Meskipun demikian, mereka berpendapat bahwa
institusi formal dimaksud dari negara-negara yang berbeda
tetap dapat memainkan fungsi yang sama. Contoh dalam
perlindungan pemegang saham perusahaan publik diberikan
melalui aturan yang diterapkan oleh bursa saham daripada
yang diterapkan oleh hukum korporasi dan pengadilan.208
ii. Konvergensi Fungsional adalah konsepsi yang dikem-
bangkan dengan model Amerika, yaitu mengembangkan
dengan cepat dan terus berkelanjutan untuk melakukannya.
Contoh yang dapat dipergunakan adalah meningkatnya
perusahaan non-Amerika yang terdaftar di bursa saham
Amerika, di mana perusahaan-perusahaan dimaksud mengi-

riences from Europe: Legal Diversity and the Internal Market“, 39 Tex. Int’l. L.J.
429 (2004).
206 Mattei, Comparative, loc. cit., memuatpendapat bahwa, “If a legal system is to
evolve it needs the intervention of some external force playing a role similar to
that played by the courts of equity in medieval England. Modern law and
economics is certainly trying to play this role by using the idea of efficiency
rather than that of equity.“
207 Brett H. McDonnell, “Convergence in Corporate Governance”, Villanova Law
Review, 2002.
208 Ibid., memuat pendapat bahwa, “Economics is still considered the queen of
the social sciences. American legal models, which already enjoy worldwide
prestige, receive a strong scientific legitimization from their connection with
economic science. When philosophy was the prestigious academic disci-
pline, lawyers managed to find within its tools (or more precisely within its
jargon) the key to their success. The pattern is now repeating itself with eco-
nomics. Western lawyers are constantly seeking some trapping of nobility, to
cope with the social responsibility.“

122
Konsep Hukum Sarana Pembaharuan Masyarakat dalam Teori Hukum Konvergensi

katkan diri untuk taat pada aturan tata kelola perusahaan (cor-
porate governance rules) yang dipersyaratkan bagi perusa-
haan terdaftar di bursa saham (listed companies). Para ahli
hukum lain yang memiliki kesemaan pendapat mengenai
konsepsi konvergensi model Amerika antara lain adalah
Lawrence Cunningham, Jeffrey Gordon, Mary Kissane dan
Gustavo Visentini.209

C. KONSEP HARMONISASI HUKUM


Pemikir besar dari Timaeus yaitu Plato, menyatakan adanya
kebutuhan akan sesuatu yang baik dan rasional untuk mengatasi
“isyarat yang bertentangan dan ketidakberaturan”, karenanya
akan terbentuk suatu harmoni.210 Pemahaman yang sederhana
dalam teori dari musik bahwa harmoni adalah sebagai sebuah
situasi yang sederhana dari “rekonsiliasi dari keterbalikan di mana
yang satu dan lainnya saling terkait unsur-unsur berlainan.”211
Terdapat konsep harmoni yang berbeda di dunia bergantung dari
keturutcampuran peran manusia sehingga ditemui adanya
ketidaksamaan pemahaman dalam menerapkan konsep harmoni.
Pemahaman pertama, dalam hukum terhadap konsep
harmoni Platonik merupakan bukti terjelas dalam abad saat ini,

209 Anthony Ogus, “Competition between National Legal Systems: A Contribu-


tion of Economic Analysis to Comparative Law”, 48 Int’l & Comp. L.Q. 405
(1999).
210 H. Patrick Glenn, “Harmony of Law in the America”, University of Miami Inter-
American Law Review, Spring, 2003, dinyatakan bahwa, “The need for the
good and the rational to overcome ‘discordant and unordered motion,‘ thereby
bringing about a harmony.“
211 G.L. Finney, Harmony or Rapture in Music in II Dictionary of the History of
Ideas 388, 389 (Charles Scribner’s Sons ed., 1973), dinyatakan bahwa, “Rec-
onciliation of opposites, a fitting together of disparate elements.“

123
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

sebagai bukti penggunaan istilah “harmonisasi” atau “menye-


laraskan” yang tersebar luas sebagai sebuah kata kerja transitif.
Harmonisasi atau penyelarasan adalah sesuatu yang dilakukan
dari proses harmonisasi atau penyelarasan untuk suatu obyek
tertentu. Pemahaman kedua, suatu konsep kosmis atau konsep
harmoni dari musik berlaku dalam zaman yang lebih awal tetapi
nampak tersembunyi jika dibandingkan dengan cara berpikir
zaman ini tentang proses informal dari perubahan hukum baik
pada lingkup regional maupun lingkup global.204
Harmonisasi hukum dalam pemahaman dimaksud tidak
bersifat memaksakan, tetapi sebagai hasil berbagai kekuatan
alamiah dari variabel konvergensi dan divergensi. Untuk
dilakukan harmonisasi atau menyelaraskan sebagai suatu kata
kerja intransitif, maka sebagai indikasi dari adanya keberagaman
hukum yang perlu diselaraskan, perlu adanya pemahaman bahwa
hal dimaksud dikarenakan ditemui variabel non-konfliktual dari
perbedaan-perbedaan yang ada. Dalam perspektif ini, tidak
diperlukan adanya ukuran formal dari suatu reformasi atau
harmonisasi. Terdapat kondisi yang menunjukkan bahwa konsep
pemahaman kedua dimaksud sudah berlaku di Amerika dan
harus terus dilanjutkan untuk berlaku. Kesimpulan dimaksud dapat
dicapai setelah mampu terujinya konsep harmoni yang berbeda-
beda dan termasuk pula metode-metode atau upaya-upaya untuk
mewujudkannya.
Perkembangan konsep harmonisasi yang berbeda-beda
didasarkan kepada tempat yang berbeda dan dalam keadaan

204 H.P. Glenn, “North America as a Medieval Legal Construction”, 2 Global Jurist
Advances, No. 1, Article 1 (2002).

124
Konsep Hukum Sarana Pembaharuan Masyarakat dalam Teori Hukum Konvergensi

berbeda pula, dan adalah penting untuk menempatkan setiap


konsep harmonisasi dalam konteks sejarahnya mereka masing-
masing. Proses harmonisasi dengan konsep Platonik, dinyatakan
bahwa suatu harmonisasi secara formal adalah sebagian besar
merupakan produk dari pemikiran Eropa sejak Abad Pencerahan
(Enlightment), dan pemikiran dimaksud semakin diperbaharui
dengan perkembangan regional yang pesat melalui Uni Eropa
(European Union). Konsep harmonisasi yang lebih informal telah
dianut di Amerika semenjak kolonisasi Eropa, kendatipun adanya
pengaruh yang besar dari para ahli hukum Eropa. Baik di Eropa
maupun di Amerika, merupakan hal yang lazim dan dapat
dipahami bahwa kedua konsep harmonisasi lahir dari penga-
laman masyarakat Eropa dan Amerika sesuai dengan parameter-
parameter yang dimiliki oleh masyarakatnya sendiri.

1. Harmonisasi Formal
Contoh-contoh dari konsep Harmonisasi Formal205 yang paling
jelas dalam sejarah hukum adalah kodifikasi nasional di abad
ke-19 dan ke-20 oleh negara-negara di Eropa. Kodifikasi nasional
pada saat bahkan telah mengarah kepada unifikasi, meskipun
hal dimaksud tetap dalam perdebatan berkenaan dengan keane-
karagaman nilai-nilai lokal yang masih mendasari kitab undang-
undang nasionalnya (national code).206 Kodifikasi adalah suatu

205 Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III Dalam Jaringan (on-line dictionary),
dapat diunduh melalui laman <http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/> dimuat
pengertian for.mal (a) 1 sesuai dng peraturan yg sah; menurut adat kebiasaan
yg berlaku: permohonan itu harus diajukan secara -- , tidak cukup dng telepon;
2 resmi: pendidikan -- yg ditempuhnya hanya sekolah teknik menengah.
206 H.P. Glenn, “The Use of Computers: Quantitative Case Law Analysis in the
Civil and Common Law”, 36 Int’l & Comp. L.Q. 362, 366 (1987).

125
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

yang fundamental dalam upaya pembentukan identitas nasional


dan suatu bagian integral kebijakan dari kewenangan politis
terhadap wilayah geografisnya. Lahirnya negara-negara di Eropa
dan kolonisasi Eropa ternyata terjadi secara bersamaan atau
simultan, dan keduanya adalah hasil dari proses ekspansi teritorial.
Hukum dan undang-undang digunakan untuk “mengikat”
wilayah-wilayah baru secara bersama-sama, sehingga proses dari
harmonisasi merupkan hal yang diperlukan. Harmonisasi diperlu-
kan oleh pemerintah kolonial untuk mengatasi “pertentangan dan
ketidaktertiban” yang merupakan sifat alami sebelum lahirnya
hukum atau undang-undang. Proses yang hampir sama terjadi di
Amerika, di mana Amerika memposisikan diri terhadap lahirnya
negara-negara bagian baru dan perluasan kewenangan teritorial-
nya ke arah perbatasan mereka.
Perkembangan berikutnya dalam doktrin di Eropa bahwa
hukum menjadi hal penting sebagai suatu terminologi eksklusif
nasional. Pembentukan hukum nasional didasarkan kepada
hukum Romawi, prinsip-prinsip hukum umum dan “kewenangan
persuasif” terhadap non-eksistensi dari sebagian besar praktik
peradilan di Eropa. Ilmu pengetahuan baru tentang hukum
internasional publik dan hukum perdata internasional menjadi
suatu keunggulan besar. Keduanya memberikan pemahaman
yang lebih lengkap terhadap hukum nasional. Hukum inter-
nasional publik karenanya tidak dapat memasuki lingkup
domestik dan memperlakukan negara sebagai subyek hukum
internasional yang eksklusif secara normatif dan bukan warga-
negara atau individunya. Hukum internasional publik tidak
memiliki materi yang substantif dan menangani kasus perdata

126
Konsep Hukum Sarana Pembaharuan Masyarakat dalam Teori Hukum Konvergensi

internasional secara keseluruhan sebagai kelanjutan penentuan


dari suatu hukum nasional. Suatu kasus perdata internasional tetap
harus diatur secara nasional dikarenakan belum adanya hukum
lain yang dimungkinkan untuk mengaturnya di dunia.
“Nasionalisasi” hukum di Eropa memberikan penekanan
terhadap keragaman Eropa. Hukum nasional terbentuk dengan
banyak bahasa dan dalam bentuk tertulis yang rinci dan rinci.
Kitab hukum berbahasa Jerman sangat berbeda secara struktur
dan substansinya dengan kitab hukum dari negara-negara ber-
bahasa Latin. Perbedaan antara “civil law” dan “common law”
dipahami sebagai sesuatu yang tidak dapat dicarikan titik temunya.
Sebuah lembaga di Perancis yaitu Société de législation comparée
telah melakukan studi untuk mempelajari perbedaan antara
kewenangan-kewenangan berdasarkan undang-undang yang
sudah dikodifikasi, namun perbandingan untuk sistem “common
law” belum dapat disajikan.
Perbedaan di antara hukum nasional terlihat begitu signifikan
disebabkan oleh banyaknya negara-negara di Eropa yang telah
mengembangkan aturan-aturan hukum perdata internasional
yang wajib diterapkan oleh hakim. Aturan dimaksud seperti salah
satu pihak tidak bisa hanya memenuhi persyaratan hukum dari
forum pengadilan yang memiliki unsur asing. Konsep dasar dari
hukum yang berbeda dimaksud mengakibatkan suatu anggapan
secara umum bahwa sengketa adalah proses yang rumit, berbiaya
mahal dan memakan waktu terutama terkait dengan keadaan
dari masing-masing negara.207 Namun demikian karena hukum

207 H.P. Glenn, “Harmonization of Law, Foreign Law and Private International
Law”, 1 Eur. Rev. Priv. L. 47 (1993); H. Batiffol, Aspects Philosophiques du
Droit International Privé (Dalloz 1956).

127
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

perdata internasional secara konseptual adalah hukum nasional


maka sengketa kadang terjadi diakibatkan oleh aturan-aturan
nasional yang terkait dengan hukum perdata internasional itu
sendiri. Upaya untuk memecahkan disharmoni dimaksud melalui
negosiasi dengan bentuk perjanjian bilateral atau multilateral
untuk melakukan unifikasi atau harmonisasi nampak secara
umum tidak menjadi efektif, walaupun didapatkan pula keber-
hasilan untuk kasus-kasus tertentu.208

2. Harmonisasi Informal
Fenomena dari keanekaragaman hukum dan dialog dari hukum
Amerika menghasilkan satu kesimpulan umum bahwa hukum
Amerika menundukkan diri kepada pemahaman bahwa harmo-
nisasi lahir dari persengketaan yang muncul. Walaupun tidak
dapat dipungkiri bahwa suatu harmonisasi tidak mungkin dapat
menyelesaikan keseluruhan sengketa yang ada. Munculnya
kompleksitas dalam hukum perdata internasional dan hukum
nasional maka digunakan pendekatan harmonisasi informal.209

3. Proses Harmonisasi Informal


Harmonisasi Informal adalah harmonisasi yang ditemukan pada
sebagian besar struktur dan proses yang sudah ada (dan adalah

208 J. Braithwaite & P. Drahos, Global Business Regulation 86 (Cambridge Uni-


versity Press 2000); J. Dalhuisen, Dalhuisen on International Commercial,
Financial and Trade Law 71 (Hart Publishing, 2000); H. Kötz,
Rechtsvereinheitlichung - Nutzen, Kosten, Methoden, Ziele, 50 Rabels
Zeitschrift (1986).
209 Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III Dalam Jaringan (on-line dictionary),
dapat diunduh melalui laman <http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/> dimuat
pengertian in·formal (a) tidak resmi: para kiai adalah pemimpin -- dl masyarakat.

128
Konsep Hukum Sarana Pembaharuan Masyarakat dalam Teori Hukum Konvergensi

dengan begitu tidak terpisahkan dalam keanekaragaman dan


pemikiran-pemikiran di Amerika). Harmonisasi memberikan
instrumen untuk melakukan “pemaksaan”. Harmonisasi informal
dapat terjadi melalui proses yang melibatkan hal-hal sebagaimana
berikut:210
i. Para Pelaku (The Actors)
(1) Legislators
(2) Judges
(3) Academics
(4) Legal Practitioners
ii. Metode
iii. Para Subyek

4. Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan di


Indonesia
Dalam Collins Cobuild Dictionary (1991) ditemukan kata
harmonious dan harmonize dengan penjelasan sebagai berikut:
“A relationship, agreement etc. that is harmonious is friendly
and peaceful.
Things which are harmonious have parts which make up an
attractive whole and which are in proper proportion to each
other.
When people harmonize, they agree about issues or sub-
jects in a friendly, peaceful ways; suitable, reconcile.
If you harmonize two or morw things, they fit in with each
other is part of a system, society etc.”

210 H. Patrick Glenn, “Harmony of Laws in the Americas”, University of Miami


Inter-American Law Review, Spring 2003.

129
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Unsur-unsur yang dapat dipahami dari perumusan penger-


tian harmonisasi tersebut di atas, antara lain: (a) adanya hal-hal
yang bertentangan, kejanggalan; (b) menyelaraskan hal-hal yang
bertentangan secara proporsional agar membentuk suatu sistem;
(c) suatu proses atau suatu upaya untuk merealisasi keselarasan,
kesesuaian, keserasian, kecocokan, dan keseimbangan; (d) kerja
sama antara berbagai faktor yang sedemikian rupa, hingga faktor-
faktor tersebut menghasilkan kesatuan yang luhur.
Sedangkan yang dimaksud harmonisasi peraturan
perundang-undangan ialah upaya atau proses untuk merealisasi
keselarasan dan keserasian asas dan sistem hukum sehingga
menghasilkan peraturan (sistem hukum) yang harmonis. Badan
Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) Departemen Hukum dan
HAM R.I. memberikan pengertian harmonisasi hukum seba-
gaimana berikut:211
Harmonisasi hukum adalah kegiatan ilmiah untuk menuju
proses pengharmonisasian hukum tertulis yang mengacu baik
pada nilai-nilai filosofis, sosiologis, ekonomis maupun yuridis.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan harmonisasi adalah
pengkajian yang komprehensif terhadap suatu rancangan
peraturan perundang-undangan, dengan tujuan untuk
mengetahui apakah rancangan peraturan tersebut, dalam
berbagai aspek, telah mencerminkan keselarasan atau
kesesuaian dengan peraturan perundang-undangan nasional
lain, dengan hukum tidak tertulis yang hidup dalam masya-

211 Moh. Hasan Wargakusumah, Perumusan Harmonisasi Hukum tentang


Metodologi Harmonisasi Hukum, Jakarta: Badan Pembinaan Hukum Nasional
Departemen Kehakiman, 1996/1997, hlm. 37.

130
Konsep Hukum Sarana Pembaharuan Masyarakat dalam Teori Hukum Konvergensi

rakat, atau dengan konvensi-konvensi dan perjanjian-


perjanjian internasional, baik bilateral maupun multilateral,
yang telah diratifikasi oleh Pemerintah RI.

Pengembangan harmonisasi hukum sesungguhnya telah


muncul dalam ilmu hukum dan praktik hukum di Belanda setelah
Perang Dunia II dan lebih berkembang sejak tahun 1970-an.
Bahkan di Jerman, pengembangan harmonisasi hukum telah
muncul sejak tahun 1902. Harmonisasi hukum yang berkembang
dalam ilmu hukum di Belanda digunakan untuk menunjukkan
bahwa dalam dunia hukum, kebijakan pemerintah dan hubu-
ngan di antara keduanya terdapat kebhinekaan yang menga-
kibatkan disharmoni.212 Rudolf Stammler (1902) mengemukakan
bahwa tujuan atau fungsi hukum adalah harmonisasi berbagai
maksud, tujuan dan kepentingan antara individu dengan individu
dan antara individu dengan masyarakat.
Harmonisasi hukum di Indonesia juga telah mulai digagas
oleh Soepomo, ahli hukum adat Indonesia yang mempunyai
peran besar dalam merumuskan Undang-Undang Dasar 1945.
Soepomo mengemukakan bagaimana menghubungkan sistem
hukum Indonesia danegan gagasan hukum yang berasal dari
sistem hukum Barat. Menurut Soepomo:
“… Inti soal sekarang ialah, bagaimana mempersatukan tjita-
tjita Timur dengan tjita-tjita dan kebutuhan modern yang
berasal dari Barat supaja menjadi suatu harmoni. Djawaban
satu-satunja jang efektif rupa-rupanja ialah: asimilasi

212 L.M. Gandhi, Harmonisasi Hukum Menuju Hukum Yang Responsif, Pidato
Pengukuhan Guru Besar pada Fakultas Hukum UI, Jakarta, 14 Oktober 1995.

131
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

pengertian-pengertian Barat dalam bentuk jang sesuai


dengan dengan strukturnja masjarakat Indonesia sendiri.”213

Gagasan di atas menunjukkan bahwa sistem hukum Indo-


nesia memikirkan masalah harmonisasi dengan hukum modern
melalui metode asimilasi pengertian konsep hukum barat yang
sesuai dengan struktur masyarakat Indonesia sendiri. Pemikiran
tentang keharmonisan hukum dengan pola asimilasi itu tersirat
dalam ketentuan peralihan UUD 1945 yang tidak hanya
bermakna bahwa hukum peninggalan Belanda tidak hanya
sekedar mengisi kekosongan hukum yang terjadi karena kemer-
dekaan Republik Indonesia, melainkan juga dapat diartikan untuk
memberi kesempatan bagi Indonesia melakukan harmonisasi
hukum kolonial dengan kebutuhan masyarakat secara bertahap
menurut prosedur dan tata cara pembentukan hukum nasional.
Pengaturan mengenai harmonisasi peraturan perundang-
undangan pasca kemerdekaan sesungguhnya telah mulai diatur
di dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 15 Tahun 1970 tentang
Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang dan Rancangan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, meskipun tidak secara
tegas dan rinci. Ketentuan ini kemudian diganti dengan Keputusan
Presiden Nomor 188 Tahun 1998 tentang Tata Cara Memper-
siapkan Rancangan Undang-Undang (Keppres 188/1998) yang
menghendaki perlunya harmonisasi peraturan perundang-
undangan. Keppres 188/1998 ini lahir sebelum dilakukannya
perubahan terhadap UUD 1945 sehingga perlu dilakukan

213 Lihat, Herlien Boediono, Het Evenwichtsbeginsel voor het Indonesich


Contracttenrechten, Disertasi, 2001.

132
Konsep Hukum Sarana Pembaharuan Masyarakat dalam Teori Hukum Konvergensi

penyempurnaan atau perubahan terhadapnya. Hal tersebut


berkaitan dengan terjadinya perubahan mendasar dalam UUD
1945 yang berkenaan dengan (lembaga) pembentuk peraturan
perundang-undangan.
Setelah Perubahan UUD 1945, “harmonisasi” diatur dengan
undang-undang, yaitu Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004
tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Di dalam
Pasal 18 UU Nomor 10 Tahun 2004 yang kemudian diatur lebih
lanjut di dalam Peraturan Presiden Nomor 61 tahun 2005 tentang
Penyusunan dan Pengelolaan Program Legislasi Nasional dan
Peraturan Presiden Nomor 68 tahun 2005 tentang Tata Cara
mempersiapkan Rancangan Undang-Undang, Rancangan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang, Rancangan
Peraturan Pemerintah, dan Rancangan Peraturan Presiden.
Pengharmonisasian adalah upaya untuk menyelaraskan,
menyesuaikan, memantapkan dan membulatkan konsepsi suatu
rancangan peraturan perundang-undangan dengan peraturan
perundang-undangan lain, baik yang lebih tinggi, sederajat,
maupun yang lebih rendah, dan hal-hal lain selain peraturan
perundang-undangan, sehingga tersusun secara sistematis, tidak
saling bertentangan atau tumpang tindih (overlaping). Hal ini
merupakan konsekuensi dari adanya hierarki peraturan
perundang-undangan sebagaimana diatur dalam Pasal 7 UU No.
12 Tahun 2011. Dengan dilakukan pengharmonisasian maka akan
tergambar dengan jelas dalam pemikiran atau pengertian bahwa
suatu peraturan perundang-undangan merupakan bagian inte-
gral yang utuh dari keseluruhan sistem peraturan perundang-
undangan.

133
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Harmonisasi RUU perlu dilakukan didasarkan oleh tiga


alasan dalam rangka memenuhi ketentuan Pasal 47 Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 2011, yaitu:
1) Undang-Undang sebagai salah satu jenis peraturan
perundang-undangan merupakan subsistem dari sistem
hukum nasional.
Sebagai suatu subsistem dari sistem yang lebih besar, peraturan
perundang-undangan harus ada saling keterkaitan dan saling
ketergantungan serta merupakan satu kebulatan yang utuh
dengan subsistem yang lain;
2) UU dapat diuji (constitutional review) baik secara materiel
maupun formal. Mahkamah Konstitusi (MK) berdasarkan
Pasal 24C ayat (1) UUD NRI Tahun 1945, antara lain ber-
wenang menguji Undang-Undang terhadap Undang-
Undang Dasar. Pengharmonisasian peraturan perundang-
undangan sangat strategis fungsinya sebagai upaya preventif
untuk mencegah diajukannya permohonan pengujian pera-
turan perundang-undangan kepada kekuasaan kehakiman
yang berkompeten.
Putusan MK dapat menyatakan bahwa suatu materi muatan
pasal, ayat, dan/atau bagian dari peraturan perundang-
undangan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat atau
tidak mempunyai dampak yuridis, sosial dan politis yang
luas.214 Karena itu pengharmonisasian perlu dilakukan secara
cermat;
3) Menjamin proses pembentukan peraturan perundang-
undangan dilakukan secara taat asas demi kepastian hukum.

214 Lihat Pasal 57 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah


Konstitusi.

134
Konsep Hukum Sarana Pembaharuan Masyarakat dalam Teori Hukum Konvergensi

Secara ideal, harmonisasi sebaiknya telah dilakukan sejak


tahapan penyusunan Naskah Akademik RUU, tahapan Pro-
legnas, dan tahapan perancangan draft RUU. Namun menurut
peraturan yang ada, harmonisasi RUU dilakukan pada saat
penyusunan Prolegnas dan penyusunan/perancangan RUU.
1) Harmonisasi pada Tahapan Penyusunan Naskah Akademik
Untuk memperlancar saat pembahasan RUU di DPR, dan
untuk menghidari kekurangsiapan konsepsi, harmonisasi
peraturan perundang-undangan sebaiknya dilakukan sejak
penyusunan Naskah Akademik.
Naskah Akademik (NA) adalah naskah hasil penelitian atau
pengkajian hukum dan hasil penelitian lainnya terhadap
suatu masalah tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan
secara ilmiah mengenai pengaturan masalah tersebut dalam
suatu Rancangan Undang-Undang, Rancangan Peraturan
Daerah Provinsi, atau Rancangan Peraturan Daerah Kabu-
paten/Kota sebagai solusi terhadap permasalahan dan
kebutuhan hukum masyarakat.215 Menurut UU No. 12 Tahun
2011, Rancangan Undang-Undang yang berasal dari DPR,
Presiden, atau DPD harus disertai Naskah Akademik.216 Lebih
lanjut dalam dinyatakan Perpres 87 Tahun 2014, penyu-
sunan NA wajib dilakukan karena berhubungan bahwa usul
penyusunan Rancangan Undang-Undang harus melam-
pirkan dokumen kesiapan teknis, salah satunya Naskah
Akademik (NA).217

215 Pasal 1 angka 13 Peraturan Presiden R.I. Nomor 87 Tahun 2014.


216 Pasal 43 ayat (3) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011.
217 Pasal 23 ayat (2) butir a Peraturan Presiden R.I. Nomor 87 Tahun 2014.

135
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Harmonisasi pada tahapan ini dilakukan melalui analisis dan


evaluasi terhadap berbagai peraturan perundang-undangan
yang terkait, baik peraturan nasional maupun konvensi atau
perjanjian internasional, dan harmonisasi terhadap asas-asas
serta teori hukum serta kesesuaiannya terhadap Dasar Negara
dan UUD NKRI 1945. Pada tahapan ini juga sudah mulai
dirumuskan norma dalam bentuk rumusan akademik sebagai
landasan dibentuk atau dirumuskannya sesuatu pasal secara
konkret.
2) Harmonisasi pada Tahapan Penyusunan Prolegnas
Mekanisme pengharmonisasian, pembulatan, dan peman-
tapan konsepsi RUU (selanjutnya disingkat “pengharmo-
nisasisan”) dalam rangka penyusunan Prolegnas berdasarkan
Perpres Nomor 87 Tahun 2014 218 secara garis besar
menyangkut tiga hal:
(a) aspek kelembagaan:
i) Koordintor pengharmonisasian adalah Menteri
Hukum dan HAM, cq Badan Pembinaan Hukum
Nasional
ii) Pihak yang terlibat, di samping Departemen Hukum
dan HAM adalah instansi pemrakarsa dan instansi-
instansi Pemerintah terkait lainnya sesuai dengan
substansi yang diatur.
iii) Pengharmonisasian dilaksanakan melalui forum
konsultasi yang dikoordinasikan oleh Badan Pembi-
naan Hukum Nasional.

218 Lihat Pasal 17 sampai dengan Pasal 21 Peraturan Presiden R.I. Nomor 87
Tahun 2014.

136
Konsep Hukum Sarana Pembaharuan Masyarakat dalam Teori Hukum Konvergensi

Dalam praktik, forum yang sudah ada sebagai forum


konsultasi, yaitu Rapat Pembahasan Tahunan Prolegnas
yang dilaksanakan oleh BPHN. Forum ini terutama untuk
melakukan harmonisasi dan sinkronisasi program RUU
dalam rangka penyusunan RUU prioritas tahunan yang
akan diajukan.
Dalam forum konsultasi, dapat menyertakan para ahli dari
lingkungan perguruan tinggi dan organisasi di bidang
sosial, politik, profesi atau kemasyarakatan sesuai dengan
kebutuhan. Dalam hal RUU disertai Naskah Akademik,
maka NA dijadikan bahan pembahasan.
Untuk mendukung pelaksanaan proses penyusunan
Prolegnas yang dilakukan oleh BPHN, dibentuk Tim
Antardepartemen Prolegnas. Tim yang terdiri dari Biro
Hukum Departemen/LPND ini dalam kadar atau tingkat
tertentu juga melakukan pengharmonisasian dan sinkro-
nisasi program RUU yang diajukan oleh Departemen/
LPND.
Sampai saat ini belum ada format baku di dalam Pro-
legnas dalam melaksanakan fungsi pengharmonisasian
RUU dalam rangka penyusunan Prolegnas.
(b) aspek substansi
Arah harmonisasi adalah keselarasan konsepsi dengan
falsafah negara, tujuan nasional berikut aspirasi yang
melingkupinya, UUD NRI Tahun 1945, UU lain yang
telah ada berikut segala peraturan pelaksanaannya dan
kebijakan lainnya yang terkait dengan bidang yang diatur
dalam Rancangan Undang-Undang tersebut.

137
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

(c) aspek prosedur


i) Pemrakarsa RUU mengajukan pengharmonisasian
kepada Menteri Hukum dan HAM.
ii) Konsepsi RUU yang sudah diharmonisasi wajib
dimintakan persetujuan Presiden sebagai RUU
Prolegnas.
Selanjutnya berkaitan dengan RUU yang diajukan oleh DPR
melalui Prolegnas, terdapat mekanisme sebagai berikut:
1) Menteri Hukum dan HAM mengkonsultasikan terlebih
dahulu masing-masing konsepsi RUU yang dihasilkan
oleh DPR kepada Menteri lain atau Pimpinan LPND sesuai
dengan lingkup bidang tugas dan tanggung jawabnya
dengan masalah yang akan diatur dalam RUU dan
Pimpinan instansi Pemerintah terkait lainnya. Konsultasi
sebagaimana dimaksud di atas dilaksanakan dalam
rangka pengharmonisasian, pembulatan, dan peman-
tapan konsepsi RUU termasuk kesiapan dalam pemben-
tukannya.
2) Hasil penyusunan Prolegnas di lingkungan DPR dan
konsultasi dalam rangka pengharmonisasian, pem-
bulatan, dan pemantapan konsepsi RUU, oleh Menteri
Hukum dan HAM dimintakan persetujuan terlebih
dahulu kepada Presiden sebelum dikoordinasikan
kembali dengan DPR (Pasal 23).
3) Persetujuan Presiden terhadap Prolegnas yang disusun
di lingkungan DPR diberitahukan secara tertulis kepada
dan sekaligus menugaskan Menteri Hukum dan HAM
untuk mengkoordinasikan kembali dengan Dewan
Perwakilan Rakyat.

138
Konsep Hukum Sarana Pembaharuan Masyarakat dalam Teori Hukum Konvergensi

3) Harmonisasi pada Tahapan Perancangan draf RUU


Harmonisasi pada tahap ini dilakukan oleh Direktorat
Harmonisasi Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-
undangan Departemen Hukum dan hak Asasi Manusia.
Harmonisasi dilaksanakan dalam suatu Rapat Antardepar-
temen yang dipimpin oleh Departemen Hukum dan HAM.

Setidak-tidaknya ada dua aspek yang perlu diharmonisasikan


pada waktu menyusun peraturan perundang-undangan, yaitu
yang berkaitan dengan aspek konsepsi materi muatan dan aspek
teknik penyusunan peraturan perundang-undangan.
a. yang berkenaan dengan konsepsi materi muatan peraturan
perundang-undangan mencakup:
1) Pengharmonisasian konsepsi materi muatan rancangan
peraturan perundang-undangan dengan Pancasila.
Pancasila merupakan cita hukum (rechtsidee). Cita
hukum tidak hanya berfungsi sebagai tolok ukur yang
bersifat regulatif, yaitu yang menguji apakah suatu hukum
positif adil atau tidak, melainkan juga sekaligus sebagai
dasar yang bersifat konstitutif, yaitu yang menentukan
bahwa tanpa cita hukum, hukum akan kehilangan
maknanya sebagai hukum.
2) Pengharmonisan konsepsi materi muatan rancangan
peraturan perundang-undangan dengan Undang-
Undang Dasar.
Materi muatan peraturan perundang-undangan harus
diselaraskan dengan ketentuan Undang-Undang Dasar
sebagai hukum dasar negara. Pengharmonisasian
peraturan perundang-undangan dengan Undang-

139
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Undang Dasar selain berkaitan dengan pasal-pasal


tertentu yang dijadikan dasar pembentukannya dan pasal-
pasal yang terkait juga dengan prinsip-prinsip negara
hukum dan negara demokrasi baik di bidang sosial politik
maupun ekonomi.
Undang-undang yang bertentangan dengan pasal-pasal
dan semangat Undang-Undang Dasar sebagaimana
termaktub dalam pembukaan dapat diuji keabsahannya
oleh Mahkamah Konstitusi karena Undang-undang yang
demikian kehilangan dasar konstitusionalnya.
3) Pengharmonisasian rancangan peraturan perundang-
undangan dengan asas pembentukan dan asas materi
muatan peraturan perundang-undangan. Undang-
Undang Nomor 10 Tahun 2004 menggolongkan asas
peraturan perundang-undangan menjadi 3 (tiga)
golongan, yaitu: asas pembentukan peraturan perundang-
undangan yang baik; asas materi muatan dan asas lain
sesuai dengan bidang hukum peraturan perundang-
undangan yang bersangkutan.
4) Pengharmonisasian materi muatan rancangan peraturan
perundang-undangan secara horisontal agar tidak
tumpang tindih dan saling bertentangan, karena hal
tersebut akan menimbulkan ketidakpastian hukum dan
ambiguitas dalam penerapannya.
5) Pengharmonisasian materi muatan rancangan peraturan
perundang-undangan dengan konvensi/perjanjian inter-
nasional. Konvensi/perjanjian internasional juga harus
diperhatikan agar peraturan perundang-undangan
nasional tidak bertentangan dengan konvensi/perjanjian

140
Konsep Hukum Sarana Pembaharuan Masyarakat dalam Teori Hukum Konvergensi

internasional, terutama yang telah diratifikasi oleh negara


Indonesia.
6) Pengharmonisasian rancangan peraturan perundang-
undangan dengan putusan Mahkamah Konstitusi dan
putusan Mahkamah Agung atas pengujian terhadap
peraturan perundang-undangan.
7) Hal yang tidak kalah pentingnya adalah penghar-
monisasian rancangan peraturan perundang-undangan
dengan teori hukum, pendapat para ahli (dogma),
yurisprudensi, hukum adat, norma-norma tidak tertulis,
rancangan peraturan perundang-undangan, dan
kebijakan-kebijakan yang terkait dengan peraturan
perundang-undangan yang akan disusun.
b. Teknik penyusunan peraturan perundang-undangan baik
menyangkut kerangka peraturan perundang-undangan, hal-
hal khusus, ragam bahasa dan bentuk peraturan perundang-
undangan. Teknik penyusunan peraturan perundang-
undangan tertuang dalam lampiran Undang-Undang Nomor
12 Tahun 2011. Pengabaian terhadap teknik penyusunan
peraturan perundang-undangan, tidak dapat menjadi alasan
batalnya peraturan perundang-undangan atau alasan untuk
melakukan judicial review. Akan tetapi akan mengindikasikan
penyusunan peraturan perundang-undangan yang belum
baik.

141
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

142
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri

Bab IV
Pembentukan Teori Hukum
Konvergensi dalam Revolusi Industri
“The most reliable way to forecast the future is
to try to understand the present.”
John Naisbitt

A. KONSEP KONVERGENSI HUKUM DALAM UPAYA


PEMBENTUKAN HUKUM YANG ANTISIPATIF
TERHADAP PERKEMBANGAN ZAMAN
Konvergensi teknologi 4C (communication, computing, content
and community) pada dasarnya adalah ketersediaan berbagai
jenis teknologi yang berbeda, yang memiliki fungsi yang hampir
sama, di mana dengan teknologi ini kombinasi yang sinergis antara
layanan suara, data, dan video dapat diolah dan dipertukarkan
hanya dengan menggunakan satu jenis jaringan saja. Diban-
dingkan dengan teknologi sebelumnya, yang masing-masing
harus menggunakan jaringan terpisah, saat ini semua dapat
dilakukan dalam satu jenis jaringan, sehingga memungkinkan
untuk saling menggunakan resource secara bersamaan, dengan
demikian akan lebih efisien.

143
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Berdasarkan beberapa literatur, definisi “konvergensi” dapat


diartikan sebagai berikut:
1. Progressive integration of the value chains of the information
and content industries into a single market and value chain
based on the use of distributed digital technology.
2. Progressive integration of different network platforms to de-
liver similar kinds of services and/or different services deliv-
ered over the same network platform.

Jika teknologi dipandang sebagai komponen dari network,


device, application, dan content, konvergensi teknologi adalah
terintegrasinya berbagai jaringan dan terminal yang sama-sama
mampu menyalurkan berbagai layanan (application dan con-
tent) kepada pelanggan. Pelanggan dapat menggunakan termi-
nal (customer premises equipment-CPE) apa pun yang mereka
miliki melalui jaringan mana pun yang ada untuk mengakses
layanan yang mereka inginkan baik berupa suara, data, maupun
video. Jaringan yang konvergen tersebut dapat dilihat pada
Gambar 2.
Hal ini berlaku juga dalam jaringan komputer, di mana
jaringan yang mempunyai sistem operasi yang berbeda-beda
memiliki kemampuan untuk saling berkomunikasi melalui
protokol yang berbeda-beda. Hal ini dapat menjadi pendahuluan
menuju jaringan artificial intelligence pada internet.

144
Gambar 2: Prediksi Arsitektur Konvergensi Telekomunikasi Masa Depan

145
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Gambar 3: Struktur Industri TIK


yang Konvergensi dengan Integrasi Horizontal

Broadcasting
Datacom/IT
Telecomm - Digitalization
CONTENT Content - Coding Standard
(Provision of Content) (MPEG, H263, dll.)

SERVICES - Multimedia Services


(Provision of access to informa- Services - Triple Play
tion services)

NETWORK - Packet-Based
Network
(Backbone: provision of routing (IP)
& mobility management)

ACCESS Acces
(Provision of transmission & air
interface to terminals)
- Multimode
Multipurpose
CPE/TERMINALS Terminals Terminal

Ada beberapa tingkatan terkait dengan konvergensi, yaitu


sebagai berikut:
1. Teknologi
Negroponte mengidentifikasikan kunci dari transformasi yang
diperlukan dalam konvergensi adalah perubahan dari atom
(yang merupakan partikel terkecil dari suatu benda) ke bentuk
binary digit (bit). Konvergensi pada tingkatan teknologi dapat
mentransformasikan teknologi media dan komunikasi serta

146
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri

memungkinkan manipulasi, transformasi data, penggandaan


informasi asli, pengurangan maupun penambahan.
2. Produk
Dalam tingkatan konvergensi pada produk ditandai dengan
hadirnya produk information appliance yang dapat melaku-
kan berbagai fungsi pandang dengar dan komputasi serta
perangkat telepon genggam dengan kemampuannya untuk
menerima atau mengirim gambar, suara, data, internet,
kamera, penyimpan data. Selain itu, pada tingkatan ini akan
muncul teknologi cetak yang dapat menggabungkan pen-
cetak (printer), pemindai (scanner), fotokopi, mesin faksimile,
dan telepon.
3. Perusahaan
Tingkatan konvergensi pada perusahaan memunculkan
adanya penggabungan perusahaan yang terkait dengan
industri komputer, telekomunikasi, dan media. Misalnya,
Microsoft Corp. yang juga berinvestasi dalam bidang penyia-
ran, televisi kabel, satelit, penerbitan, dan industri internet.
AT&T yang membeli televisi kabel Tele-Communication, Inc.
(TCI), Media Nusantara Citra (MNC) yang memiliki RCTI,
Global TV, TPI, Mobile-8 Telecom, Infokom Elektrindo, Ko-
ran Seputar Indonesia, dan Elektrindo Nusantara. PT Indosat
yang mempunyai usaha SLI, telepon lokal, juga memiliki IM2
yang berbisnis di bidang internet, IM3 (Indosat Multimedia
Mobile) dengan bisnis telekomunikasi seluler, kemudian
membeli PT Satelindo yang berbisnis pada SLI, telekomu-
nikasi selular serta jasa satelit, serta sempat menanam saham
di TPI.

147
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

4. Industri
Industri lama yang antara lain:
a. Komputer: hardware, software
b. Telekomunikasi: jaringan, jasa telekomunikasi
c. Media: TV, radio, surat kabar

Dalam terminologi konvergensi industri, batas-batas tersebut


menjadi kabur. Dalam industri yang konvergen, yang ada adalah
information appliances dengan tingkatan yang dibagi menjadi
produksi, distribusi, dan konsumsi konten (content) (Keppres 188/
1998).
Konvergensi 4C memberikan peluang luar biasa dalam
memberikan layanan telekomunikasi dan informasi kepada
pelanggan, dengan harga yang lebih murah dengan kualitas yang
lebih tinggi. Konvergensi 4C juga memberikan peluang luar biasa
untuk menciptakan berbagai layanan baru. Telekomunikasi
dalam era konvergensi 4C memasuki era 1001 layanan. Berbagai
layanan baru yang bermanfaat dan terjangkau oleh pelanggan
dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia.
Melewati konvergensi 4C, layanan komunikasi suara lintas
negara dengan VoIP dapat dinikmati pelanggan dengan harga
yang amat murah (misalnya Skype). Melewati konvergensi 4C,
layanan tracking armada berbasis teknologi internet dan mobile
juga bisa dinikmati masyarakat dengan harga terjangkau. Pening-
katan akses broadband murah maupun siaran televisi edukasi
nasional untuk sekolah-sekolah juga bisa ditingkatkan dengan
cepat, misalnya dengan teknologi WiMax.

148
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri

Kecenderungan yang sedang berkembang saat ini terkait


dengan adanya konvergensi, yaitu sebagai berikut.
1. Convergence in services – telecommunications, IT , broad-
cast or triple play – telephone, internet , TV.
2. Convergence in licenses – individual licenses – class licenses
– no license.
3. Convergence fixed and mobile.
4. Technology neutral.

Jelas konvergensi 4C memiliki banyak sekali potensi yang


dapat dimanfaatkan untuk masyarakat Indonesia. Namun di sisi
lain, tanpa pengaturan yang holistik dan menyeluruh, penerapan
teknologi konvergensi 4C juga memiliki potensi untuk mengaki-
batkan chaos dalam dunia telekomunikasi Indonesia. Bahkan
bukan hanya dalam dunia telekomunikasi, juga dalam dunia
teknologi informasi maupun dunia penyiaran. Seluruh operator
SLI misalnya amat memperhatikan dengan munculnya teknologi
dan layanan VoIP global yang akan mengancam industri mereka.
Industri broadcasting televisi tentu juga akan terguncang bila
operator 3G dan WiMax menggunakan layanan mereka untuk
broadcasting siaran televisi.
Dipahami adanya suatu paradoks yaitu pada satu sisi
konvergensi teknologi dapat membuat kehidupan masyarakat di
Indonesia semakin maju dan pelanggan dapat memperoleh lebih
banyak layanan dengan harga terjangkau, namun pada sisi lain
tanpa adanya undang-undang yang mengatur dengan baik,
konvergensi teknologi memiliki potensi untuk mengakibatkan
kekacauan besar (chaos) dalam dunia telekomunikasi, teknologi
informasi dan penyiaran di Indonesia.

149
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Perlu dipahami pula bahwa penjaminan kualitas layanan (ser-


vices level guarantee) dan keamanan informasi (informational
security) menjadi hal yang semakin pelik dalam era konvergensi.
Indonesia secara kondisi logis memang memerlukan undang-
undang yang dapat mengatur perkembangan dan penerapan
konvergensi teknologi 4C pada masyarakat Indonesia, sehingga
baik masyarakat maupun seluruh industri dapat memperoleh
kemanfaatan yang positif seoptimal mungkin dari perkembangan
konvergensi teknologi 4C ini.
Pada era konvergensi ini muncul permasalahan-permasa-
lahan yang harus segera diantisipasi, permasalahan tersebut antara
lain sebagai berikut:
1. Layanan (service) yang sama dapat dibawa melalui platform
yang berbeda.
a. Divergensi infrastruktur dan layanan.
b. Perkembangan layanan-layanan baru (triple play inter-
active media, digital broadcasting) tidak terakomodasi
oleh regulasi eksisting.
c. Konvergensi mempengaruhi proses produksi, model
bisnis, dan level kompetisi.
d. Konvergensi akan memberikan efek pada isu-isu utama
regulasi (interkoneksi, licensing, sistem pentarifan, spec-
trum management, numbering, security, USO)
2. Struktur industri yang masih vertikal, di mana masing-masing
jaringan teleponi, data, dan penyiaran terpisah, seperti dapat
dijelaskan pada tabel berikut ini.

Berdasarkan permasalahan di atas maka untuk memecahkan


permasalahan yang muncul sebagai akibat adanya konvergensi

150
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri

tersebut diusulkan beberapa hal sebagai berikut:


1. perlu adanya regulasi yang koheren untuk infrastruktur atau
jaringan;
2. perlu adanya regulasi yang terpisah untuk content/aplikasi
dan infrastruktur;
3. proses perizinan yang lebih disederhanakan; dan
4. pengaturan yang didasarkan kepada struktur industri yang
telah berubah (menjadi horizontal). Dalam pengaturan
tersebut penyiaran dikeluarkan dari telekomunikasi khusus.
Sementara itu, telekomunikasi khusus hanya untuk perta-
hanan nasional (defense) saja. Demikian juga tidak ada lagi
pembagian penyelengaraan jaringan tetap dan bergerak.

B. FUNGSI HUKUM SEBAGAI SARANA


PEMBAHARUAN MASYARAKAT DALAM DIMENSI
KONVERGENSI TEKNOLOGI INFORMASI DAN
KOMUNIKASI (TIK)
Teori Hukum Pembangunan memperkenalkan konsep hukum
baru; bahwa hukum dapat digunakan sebagai sarana pemba-
haruan masyarakat, bahwa hukum itu ada yang bersifat “netral”
yang terlepas dari faktor-faktor spritual, agama dan budaya seperti
cyberlaw, dan ada pula yang bersifat “tidak netral” seperti hukum
perkawinan dan waris. Inti pemikiran dari Teori Hukum Pemba-
ngunan bahwa hukum dapat digunakan sebagai alat atau sarana
pembaharuan masyarakat; dan hukum yang baik adalah hukum
yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Termi-
nologi “sesuai” dipahami sebagai pencerminan nilai-nilai yang
hidup dalam masyarakat.

151
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Alasan-alasan tumbuhnya Teori Hukum Pembangunan


adalah adanya anggapan bahwa hukum tidak dapat berperanan
bahkan menghambat perubahan dalam masyarakat (geen
revolutie maken het juristen); telah tercapai perubahan pemikiran
tentang hukum dalam beberapa dasarwarsa atau dekade terakhir
ini. Pengembangan Teori Hukum Pembangunan dimaksud lebih
luas jangkauan dan ruang lingkupnya di Indonesia dikarenakan
lebih menonjolnya perundang-undangan dalam proses pemba-
haruan hukum di Indonesia, walaupun yurisprudensi memegang
peranan; menolak aplikasi mekanistis dari konsepsi “law as a tool
of social engineering”; dan disadari bahwa Indonesia sedang
menjalankan asas hukum sebagai sarana pembaharuan.
Hukum sebagai sarana pembaharuan didasarkan atas
pemikiran bahwa adanya keteraturan atau ketertiban dalam usaha
pembaharuan atau pembangunan, itu merupakan suatu yang
diinginkan atau bahkan dipandang mutlak perlu; dan hukum
dalam arti kaidah atau peraturan hukum memang dapat berfungsi
sebagai alat (pengatur) atau sarana pembangunan dalam arti
pengatur arah kegiatan manusia ke arah yang dikehendaki oleh
pembangunan atau pembaharuan dimaksud. Fungsi hukum
menurut Teori Hukum Pembangunan adalah di samping untuk
mencapai ketertiban dan keadilan yang merupakan fungsi hukum
secara tradisional, maka hukum juga dapat berfungsi sebagai
sarana pembaharuan dalam masyarakat.
Kebutuhan akan hukum dan peraturan perundang-undangan
yang dapat mengakomodasi dan memfasilitasi konvergensi 4-C
(Communication, Computing, Content, and Community) saat ini

152
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri

sangatlah mendesak, sementara peraturan perundang-undangan


yang eksisting dalam bidang-bidang yang berhubungan dengan
teknologi informasi, penyiaran dan telekomunikasi. belum
mampu mengakomodasi trend dimaksud.
Sehubungan dengan itu, sesuai dengan rekomendasi ITU
terdapat 4-A (anywhere, anyone, anytime, anything) dengan kata
lain bersifat “ubiquitous”, dapat menjangkau dan dijangkau di
mana saja, kapan saja dan oleh siapa saja. Keberadaan konver-
gensi 4-C menjadikan fungsi pemerintah selaku pemegang otoritas
kebijakan masih tetap diperlukan untuk memantau, mengawasi,
dan memfasilitasi peralihan dari sistem yang cenderung anti
kompetitif menuju ke sistem yang kompetitif dan berorientasi pada
kepentingan konsumen. Peranan pemerintah tersebut meliputi:
a. mencegah para incumbent agar tidak menyalahgunakan
posisi dominannya untuk mematikan kompetisi, dan menjaga
agar tidak terjadi peralihan monopoli dari perusahaan milik
negara kepada pihak swasta;
b. mengatur kewajiban para operator agar tetap memberikan
pelayanan USO;
c. mendorong inovasi dalam menciptakan daya saing bangsa
dalam sektor TIK; dan
d. melindungi kepentingan konsumen dan atau kepentingan
publik.

153
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

1. Pengaturan Internasional dalam Kerangka World


Trade Organization (WTO) dan World Intellectual
Property Rights (WIPO) terhadap Pemanfaatan
Teknologi Informasi dan Komunikasi
a. World Trade Organization (WTO)
1) Komitmen Internasional dalam General Agreement
on Trade in Services-GATS (Annex on Telecommuni-
cations)
Di dalam WTO sektor telekomunikasi dibagi menjadi dua bagian
yang utama: basic telecommunication yang terdiri dari any
telecommunication transport, yaitu voice telephony, data trans-
mission, telex, telegraph, faxcimile, sale dan resale of transmis-
sion capacity dan network service; dan value–added (content),
yaitu e-mail, voice mail, on-line information dan data base re-
trieval, EDI dan on-line information.
Setelah putaran Doha maka prinsip–prinsip yang harus
diperhatikan adalah:
a) Competitive Safeguard
Menghindari kebijakan-kebijakan yang anti kompetisi dari
penyedia/penyelenggara jasa telekomunikasi, yaitu:
i) Subsidi silang yaitu setiap layanan yang diselenggarakan
harus melakukan pemisahan akuntansi keuangannya.
Layanan yang satu tidak dapat mensubsidi layanan yang
lain (cross-subsidization).
ii) Menggunakan informasi untuk kepentingan kompe-
titornya (using information obtained from competitors with
anti-competitive results). Tidak memberikan informasi
kepada penyedia jasa lainnya, khususnya tentang

154
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri

informasi teknis atau informasi lainnya yang berkaitan


dengan penyediaan jasa telekomunikasi yang dibutuh-
kan untuk menyediakan layanan jasa tersebut.
b) Jaminan Interkoneksi
Putaran Doha telah melahirkan secara lebih spesifik tentang
interkoneksi yang mempunyai pengaruh sangat signifikan
dalam memberlakukan suatu kompetisi yang efektif di bidang
jasa telekomunikasi, karena tingkat harga interkoneksi yang
efektif akan memberikan insentif bagi investasi dan
pembangunan jaringan telekomunikasi. Prinsip-prinsip yang
harus diperhatikan adalah:
i) Perlakuan yang bersifat diskriminatif;
ii) Penentuan harga interkoneksi harus ditentukan berdasar-
kan harga dan transparan;
iii) Prinsip transparansi merupakan salah satu prinsip yang
merupakan pilar utama dalam perdagangan jasa
internasional di bawah kerangka GATS, dan penentuan
tarif interkoneksi harus diketahui oleh umum (public avail-
ability of the procedures for interconnection negotiations).
Prinsip-prinsip umum yang harus dilaksanakan dalam
kaitannya dengan interkoneksi adalah bersifat mandatori;
non-diskriminasi; pendekatan berdasarkan biaya (cost-
based approach); pengguna dapat menikmati layanan
yang bermutu tinggi dengan jangkauan yang luas; tidak
membebani biaya tambahan bagi operator lainnya mau-
pun terhadap pengguna. Membantu mediasi dalam
penyelesaian sengketa sekiranya para pihak menghen-
daki yang dilaksanakan oleh badan regulator telekomu-
nikai yang independen.

155
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

c) Universal Service Obligation (USO) - Kewajiban Pelayanan


Universal
Kewajiban Pelayanan Universal/KPU sangat penting bagi
perluasan jangkauan pelayanan dan pengembangan sarana
telekomunikasi terutama di Indonesia yang memiliki wilayah
yang luas dan masih belum terjangkau oleh pelayanan jasa
telekomunikasi.
Prinsip-Prinsip Umum USO/KPU adalah transparan di mana
seluruh proses regulasi, dokumen dan informasi yang menga-
tur dan mendukung pengumpulan dan pendistribusian dana
harus diketahui oleh publik; non-diskriminasi, yaitu cara
penghimpunan dan pendistribusian fasilitas, layanan, negara
asal, kelas pelanggan, teknologi tidak boleh dibedakan antara
satu operator dengan operator lainnya; tarif yang adil dan
wajar yaitu penentuan yang berdasarkan pada biaya; dan
tarif yang terjangkau.
Di Indonesia pengaturan tentang KPU telah diatur di dalam
Pasal 16 Ayat (1) UU Telekomunikasi 1999 yang telah
mewajibkan kepada semua operator, tanpa kecuali, untuk
wajib memberikan kontribusi dalam pelayanan universal
(Universal Service Obligation/USO) dengan tujuan “agar
kebutuhan masyarakat, terutama di daerah terpencil dan atau
belum berkembang, untuk mendapatkan akses telepon dapat
dipenuhi.” Hal tersebut juga telah diamanatkan dalam RJPM
dalam Bab 33 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur
dalam sub bab Permasalahan dalam Pembangunan Teleko-
munikasi. Dalam hal ini Pemerintah harus mendorong pem-
bangunan infrastruktur telekomunikasi yang dinilai lambat
karena terjadinya pergeseran fokus bisnis dari penyelenggara

156
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri

telekomunikasi tetap ke telekomunikasi bergerak.


Selanjutnya para operator telekomunikasi dalam kenya-
taannya kini bergerak tanpa adanya kontrol dan ukuran yang
jelas dari regulator. Akibatnya para operator akhir-akhir ini
lebih fokus pada pengembangan bisnisnya-baik secara
kuantitatif maupun kualitatif di daerah perkotaan dibanding-
kan dengan di pedesaan/daerah terpencil. Padahal, sarana
telekomunikasi bagi masyarakat ini masih merupakan barang
kebutuhan (needs) bersifat kuantitatif bukan selera (wants)
dibanding bersifat kualitatif seperti kecenderungan masya-
rakat di perkotaan. Jika kondisi ini tak dikritisi, secara tak
langsung kita ikut membiarkan ketimpangan komunikasi,
informasi, dan kesenjangan sosial di bidang telekomunikasi
di tengah masyarakat.

2) Prinsip-Prinsip General Agreement on Trade in


Services yang Harus Diperhatikan
Indonesia harus memperhatikan prinsip-prinsip GATS untuk
melaksanakan komitmen internasionalnya, yaitu:
a) Transparency of regulations
Termasuk informasi yang dapat diakses dengan mudah oleh
pihak asing dengan mengembangkan pusat informasi yang
memuat “the availability of service technology’; ‘commer-
cial and technical aspects of the supply of services’; ‘register-
ing, recoqnising dan obtaining professional qualifications’;
dan ‘mutual recoqnition of the qualification required for the
supply of services.”
Perusahaan atau perorangan harus memiliki sertifikat, izin
untuk dapat melakukan usaha di negara lain dan untuk

157
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

menghasilkan suatu transparansi maka negara-negara


anggota dianjurkan untuk mengadakan perjanjian bilateral
maupun multilateral yang diberlakukan secara non-
diskriminasi.
b) Anti-Monopoli
c) Most Favoured Nation Treatment
Indonesia dalam perundingan GATS telah memberikan
komitmen untuk melakukan review terhadap kebijakan untuk
mementukan apakah akan menerima tambahan penye-
lenggara setelah berakhirnya hak eksklusif untuk jasa lokal
pada tahun 2011 dan jasa internasional 2005. Membuka
kompetisi untuk packed-switched public data, network ser-
vices, telex dan akses internet dengan syarat harus memakai
layanan PT. Indosat dan PT. Satelindo untuk trafik interna-
sional dan membuka kompetisi untuk mobile telephone.

b. World Intellectual Property Organization (WIPO)


1) Peran WIPO dalam Perlindungan Hak Kekayaan
Intelektual pada Era Digital dan Konvergensi
Akibat dari konvergensi teknologi informasi dan komunikasi (TIK)
yang perlu mendapatkan pemahaman secara tepat adalah
implikasinya terhadap rezim Hak Kekayaan Intelektual (HKI).219
Khususnya perlindungan atas Hak Cipta dan Merek melalui

219 Implikasi dari pemanfaatan teknologi terhadap Hak Kekayaan Intelektual (HKI)
terkait dengan teknologi informasi menjadi pembahasan sendiri sebagaimana
yang dituliskan oleh Kamil Idris yang saat itu menjabat sebagai Direktur Jenderal
dari World Intellectual Property Organization (WIPO), dalam bukunya Intel-
lectual Property: A Power Tool for Economic Growth, WIPO Publication No.
888, Geneva, hlm. 32. Kamil Idris bahkan membahas khusus hal dimaksud
pada Chapter 6: Copyright and The Cultural and Information Industries.

158
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri

sarana internet dan media komunikasi digital lainnya adalah hal


yang perlu mendapat perhatian. Konvergensi aplikasi komputer
dan teknologi telekomunikasi dengan media internet yang
mengakibatkan berubahnya ruang lingkup dan meluasnya
tanggung jawab dari penyedia informasi melalui internet termasuk
pula pemegang hak atas konten.220
Teknologi digital memungkinkan transmisi dan pemanfaatan
format digital yang muatan materinya memiliki perlindungan HKI
melalui jaringan interaktif. Proses “digitization” memungkinkan
konversi beberapa materi menjadi menjadi bentuk biner (binary
form) sehingga dapat ditransmisikan melalui internet, re-distribusi,
di-copy dan disimpan dalam bentuk digital yang sempurna.221
Sementara itu transmisi berbentuk tulisan/teks, suara, citra/gambar
dan program komputer melalui Internet adalah telah menjadi hal
yang biasa.
Transaksi elektronik berbentuk perdagangan (e-commerce)
memiliki karakteristik teknologi jaringan digital yang mempunyai
dampak luar biasa terhadap sistem perlindungan hak cipta.
Sehingga pada gilirannya berkaitan dengan peningkatan nilai
transaksi dalam e-commerce. Penting untuk dipahami bahwa
hukum perlu mengatur dan menerapkan perlindungan terhadap
HKI dalam era digital dan konvergensi untuk memastikan

220 Ibid.
221 Kamil Idris memahami ini sebagai bentuk “the Digital Revolution“ yang
berdampak perlunya pengaturan tersendiri (sui generis) terkait dengan hak
cipta dan media digital, dinyatakan, “With digital revolution, and all the tech-
nological and other development it has brought, some question the continu-
ing viability of copyright in the face of such dramatic change.” Lihat Kamil
Idris, Intellectual Property: A Power Tool for Economic Growth, WIPO Publi-
cation No. 888, Geneva, hlm. 222-223.

159
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

perkembangan teknologi tidak mengikis prinsip-prinsip dasar dari


perlindungan Hak Cipta.222
Cyber Law memberikan HKI kedudukan yang sangat khusus
mengingat kegiatan di cyber space sangat lekat dengan peman-
faatan teknologi informasi yang berbasis pada perlindungan rezim
hukum Hak Cipta, Paten, Merek, Rahasia Dagang, Desain
Industri.223 Karya-karya intelektual berupa program komputer dan
objek-objek hak cipta yang ada di media internet dengan sangat
mudah dilanggar, dimodifikasi dan digandakan. Selain itu objek
HKI lainnya, seperti merek juga menjadi objek pelanggaran terus-
menerus di internet, hal yang terakhir ini bahkan seringkali
berkembang menjadi perbuatan persaingan tidak sehat (unfair
competition), pemboncengan ketenaran (passing off) dan
penyesatan informasi (misleading information).224

2) Pengaturan dalam WIPO Internet Treaties


Rezim hukum Hak Cipta mendapat tantangan baru setelah
adanya teknologi internet. Saat ini beberapa persoalan yang
muncul adalah menyangkut perlindungan terhadap program
komputer, dan objek Hak Cipta lainnya yang ada dalam aktivitas
di cyber space. Isu yang mengemuka adalah perlindungan
terhadap program komputer yang berada di bawah rezim hukum
Hak Cipta sejalan dengan diratifikasinya TRIPs-WTO225 dan
222 Tim Lindsey dan Eddy Damian et. al, Hak Kekayaan Intelektual: Suatu
Pengantar, Asian Law Group Pty Ltd bekerjasama dengan Penerbit PT. Alumni,
Bandung, 2006, hlm. 11 dan 96-99.
223 Ahmad M. Ramli, Cyber Law dan HAKI: dalam Sistem Hukum Indonesia,
Refika Aditama, Bandung, 2004, hlm. 5.
224 Ibid.
225 Indonesia telah meratifikasi Persetujuan Pembentukan Organisasi
Perdagangan Dunia melalui Undang-Undang R.I. Nomor 7 Tahun 1994

160
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri

implementasinya dalam Undang-Undang R.I. Nomor 19 Tahun


2002 tentang Hak Cipta.
Hal lain yang terkait dengan perlindungan Hak Cipta adalah
peredaran lagu dan musik melalui internet seperti dalam kasus
Napster,226 penggunaan ringtone/ring back-tone alat komunikasi
telepon seluler yang seringkali mengambil bagian terpenting dari
Hak Cipta musik seseorang, electronic-book (e-book), digital li-
brary, penggunaan fasilitas link dan hyperlink di internet.227
World Intellectual Property Organization (WIPO)228 sebagai
organisasi internasional yang paling bertanggung jawab dalam
kegiatan perlindungan HKI tentunya tidak tinggal diam dalam
menyikapi kemajuan teknologi digital dan konvergensi TIK. WIPO
telah mengadakan perundingan mengenai perjanjian
internasional di bidang Hak Cipta dalam lingkup lingkungan digi-
tal, yaitu Perjanjian Internasional Hak Cipta WIPO (WIPO Copy-
right Treaty/WCT). Pada tahun 1996, dua perjanjian WIPO telah
diadopsi dengan konsensus oleh lebih dari 100 negara-negara
anggota WIPO, yaitu WIPO Copyright Treaty (WCT) dan WIPO

tentang Pengesahan Agreement Estabilishing The World Trade Organization


(Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia).
226 Tim Lindsey dan Eddy Damian et. al, op. cit., hlm. 167-168.
227 Ahmad M. Ramli, op. cit., hlm. 9.
228 Pengaturan Internasional dalam Hak Kekayaan Intelektual (HKI) adalah bagian
yang tidak dapat dipisahkan dari sistem pengaturan HKI di Indonesia. Standar
HKI secara internasional telah menjadi sebuah sumber yang penting bagi
pengaturan HKI di Indonesia, dan sistem administrasi HKI di Indonesia. Indo-
nesia juga telah menjadi peserta aktif dalam banyak pengembangan HKI secara
internasional, khususnya melalui keikutsertaannya sebagai negara peserta
dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan Organisasi HKI Dunia
(WIPO). Peran serta Indonesia secara langsung di dalam kerja sama hukum
HKI internasional dimulai sejak tahun 1950, beberapa tahun setelah
kemerdekaan, yaitu saat Indonesia meratifikasi Konvensi Paris, sebuah
perjanjian internasional di bidang hak kekayaan industri.

161
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Performances serta Phonograms Treaty (WPPT).229 WCT dan


WPPT secara bersama-sama diberikan terminologi WIPO Internet
Treaties dalam beberapa literatur.230
Baik WCT maupun WPPT mensyaratkan dipenuhinya 30
ratifikasi atau aksesi oleh negara-negara pesertanya dan keduanya
telah berlaku (entry to force) semenjak tanggal 6 Maret 2002 untuk
WCT dan tanggal 20 Mei 2002 untuk WPPT.231 WCT khususnya
merupakan kemajuan besar yang pertama dalam hukum HKI
internasional sejak dicetuskannya TRIPs dan Indonesia adalah
negara pertama yang meratifikasi WCT pada tanggal 5 Septem-
ber 1997.232
WIPO Internet Treaties disusun untuk memperbaharui dan
melengkapi perjanjian-perjanjian intemasional WIPO yang telah
ada sebelumnya khususnya dalam ruang lingkup Hak Cipta dan
hak-hak yang terkait. Perjanjian-perjanjian internasional dimak-
sud adalah Berne Convention dan Roma Convention. WIPO
Internet Treaties merupakan reaksi terhadap tantangan kemajuan
teknologi digital dan terlebih khususnya pada diseminasi materi
yang dilindungi oleh HKI (protected contents) melalui jaringan
internet global.
WIPO Internet Treaties berdasarkan pokok-pokok penga-
turannya dapat dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu:

229 The WIPO Copyright Treaty (WCT) (1996), dapat diunduh melalui laman
http://www.wipo.int/clea/docs /en/wo/wo033en.htm, dan the WIPO Perfor-
mances and Phonograms Treaty (WPPT) (1996) dapat diunduh melalui laman
http://www.wipo.int/clea/docs/en/wo/wo034en.htm.
230 WIPO, Intellectual Property on Internet: A Survey of Issues, Desember 2002,
hlm. 31.
231 Ibid.
232 Tim Lindsey dan Eddy Damian et. al, op. cit., hlm. 25.

162
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri

(1) penyatuan (incorporation) dari beberapa pengaturan dalam


TRIPs yang sebelumnya belum diatur secara tegas dalam
perjanjian-perjanjian WIPO seperti perlindungan terhadap
program komputer dan basis data asli (original databases)
sebagai hasil karya yang dilindungi oleh rezim Hak Cipta;
(2) pembaharuan ketentuan yang tidak secara spesifik terkait
dengan teknologi digital seperti hak untuk berkomunikasi
kepada publik (the generalized right of communication to
the public); dan
(3) pengaturan-pengaturan khusus HKI (sui generis)233 terhadap
dampak dari teknologi digital dan pemanfaatannya.

WCT terlebih khusus mereflesikan “Digital Agenda” yang


ditujukan untuk melindungi kepentingan para pemegang Hak
Cipta untuk perbanyakan ciptaan yang dilindungi oleh Hak Cipta
dengan menggunakan sarana teknologi komunikasi digital.234
Mukadimah WCT mengemukakan hal dimaksud sebagai berikut:
“…the profound impact of the development and conver-
gence of information and communication technologies on
the creation and use of literary and artistic works.”

233 Lihat Black’s Law Dictionary, Ninth Edition, West Publishing Co, St. Paul,
2009, hlm. 1572, dimuat pengertian bahwa sui generis yang berasal dari
terminologi latin, yaitu “Of its own kind or class; unique or peculiar. The term
used in intellectual property law to describe a regime designed to protect
rights that fall outside traditional patent, trademark, copyright, and trade secret
doctrines. For example, a database may not protected by copyright law if its
content is not original, but it could protected by a sui generis statute designed
for that purposes.“
234 Eddy Damian, Hukum Hak Cipta, Edisi Ketiga, PT. Alumni, Bandung, 2009,
hlm. 88-89.

163
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Digital Agenda WCT direfleksikan dengan rezim perlin-


dungan atas Hak Cipta sebagai berikut:235
(1) memberikan kepada pencipta sebagai bagian dari hak eks-
klusif untuk mengumumkan kepada publik (communication
right to the public) dengan menggunakan sarana kabel atau
tanpa kabel, seperti karya tulis atau gambar karya seseorang
pencipta yang dimuat/ditampilkan dalam suatu situs atau laman
(website) yang dapat diakses oleh publik (Pasal 8 WCT);
(2) memberikan perlindungan hukum yang memadai dan
penegakan hukum yang efektif terhadap tindakan-tindakan
penyalahgunaan teknologi yang merugikan pencipta (Pasal
11 WCT); dan
(3) kewajiban negara untuk menegakkan hukum secara efektif
terhadap seseorang yang melakukan tindakan-tindakan yaitu
menghapus atau mengubah secara elektronik hak informasi
manajemen elektronik (right management information) tanpa
izin pencipta, mendistribusi atau mengimpor untuk mendis-
tribusikan atau menyiarkan atau mengomunikasikan kepada
publik suatu ciptaan atau perbanyakan ciptaan yang
diketahui bahwa hak pengelolaan informasi seorang pencipta
telah dihapus atau diubah tanpa izin pencipta (Pasal 12 WCT).

2. Kebijakan Regulasi dalam Pendekatan Fungsi


Hukum sebagai Sarana Pembaharuan Masyarakat
dalam Dimensi Konvergensi Teknologi Informasi
dan Komunikasi (TIK)
Untuk menentukan struktur regulasi yang akan digunakan dalam
konvergensi TIK untuk mengantisipasi semua aspek yang terkait

235 Ibid.

164
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri

dengan konvergensi, maka perlu dipertimbangkan apakah akan


diadakan perubahan dengan cara membuat satu Undang-Undang
baru yang merangkum semua Undang-Undang terkait sebe-
lumnya (“unifikasi” hukum untuk konvergensi) atau melakukan
penyelarasan/pengharmonisasian dari ketentuan hukum yang
selama ini berlaku baik vertikal maupun horisontal (harmonisasi)
saja. Mengingat saat ini telah ada peraturan perundang-undangan
lain yang terkait dengan bidang-bidang yang terkonvergensi
(telekomunikasi, penyiaran dan teknologi informasi), maka upaya
melakukan unifikasi hukum dalam wadah satu undang-undang
yang mengakomodir semua perihal konvergensi, tentunya akan
sangat sulit.
Jika perubahan akan dilakukan dalam bentuk harmonisasi,
maka tetap harus dipertimbangkan, apakah akan dilakukan revisi
secara totalitas atau mayoritas ketentuan hukum dalam UU
Telekomunikasi 1999 dan UU Penyiaran 2002 yang berarti sama
halnya dengan membuat sebuah undang-undang telekomunikasi
yang baru ataukah cukup hanya dengan mengamandemen
beberapa ketentuan hukum dari UU Telekomunikasi 1999, UU
Penyiaran 2002 dan UU ITE yang berlaku.
Pemilihan kebijakan unifikasi secara jangka panjang sebagai
upaya untuk membuat suatu undang-undang secara khusus yang
mengakomodir semua aspek konvergensi telekomunikasi media
dan informatika tentunya akan sangat baik meskipun akan
menemui beberapa hambatan yang signifikan terutama mengenai
persoalan waktu dan biaya, serta konsekuensi pencabutan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku
sebelumnya.

165
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Namun apabila yang dipilih adalah melakukan kebijakan


harmonisasi, maka tetap harus mempertimbangkan dua hal.
Pertama, harmonisasi dengan amandemen/revisi dari sebahagian
ketentuan dalam UU Telekomunikasi 1999. Kedua, adalah
harmonisasi dengan pembuatan undang-undang telekomunikasi
yang baru. Satu hal yang harus dijadikan catatan penting, meski-
pun kebijakan harmonisasi yang akan ditempuh, namun dalam
target waktu tertentu harus menuju kepada unifikasi hukum.
Dari sudut pandang kepraktisan, harmonisasi hukum dapat
dijadikan pilihan, dengan harapan untuk mencapai beberapa
kemudahan, yaitu:236
1) Managing Legal Risk
Salah satu tujuan untuk dilakukan harmonisasi yaitu untuk
menjamin kepastian hukum terutama untuk kalangan praktisi
sehingga tidak ada lagi masalah hukum yang timbul di
lapangan yang disebabkan oleh perbedaan pengaturan, dan
diharapkan bila terjadi sengketa dapat segera diselesaikan di
dalam forum dan mekanisme yang sama.
2) Improving Legal Rules
Memperbaiki pengaturan sehingga dapat diterapkan oleh
semua pihak.
3) Lowering Cost
Melalui harmonisasi hukum diharapkan akan menekan biaya
bagi para praktisi terutama pihak asing yang akan melakukan
kegiatan perdagangan di negara lain karena melalui kesera-
gaman dalam pengaturan akan menekan biaya bagi semua

236 Paul B. Stephan, The Futility of Unification and Harmonisation in International


Commercial Law, University of Virginia School of Law, 1999, hlm. 1-5.

166
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri

pihak, sebagai contoh dapat menekan biaya negosiasi secara


substansi, pilihan hukum dan mekanisme dalam penyelesaian
sengketa.

Pengertian harmonisasi hukum sendiri sering dipertentangkan


dengan pengertian unifikasi, padahal secara terminologi kedua
istilah tersebut mempunyai pengertian yang sama, yaitu “mem-
berlakukan pengaturan yang sama”. Seorang sarjana hukum dari
Jerman, Goldstein menyatakan bahwa pengertian harmonisasi
dan unifikasi berbeda karena harmonisasi diartikan dengan func-
tional unification,237 yaitu memberlakukan pengaturan yang sama
untuk beberapa bidang hukum saja, misalnya harmonisasi hukum
dalam bidang kontrak jual beli barang secara internasional (CISG/
Contract on International Sales and Goods, 1980), Konvensi
Warsawa 1929 tentang Pengangkutan Udara, Incoterm dan Uni-
form Credit Payment and Practices of Documentary Credit/UCP.238
Sementara dilihat dari sejarah perkembangannya harmonisasi
hukum mulai dikenal sejak Perang Dunia II dalam bidang hukum
perdagangan internasional di mana pada waktu itu banyaknya
pengaturan tentang perdagangan internasional yang berbeda
antara negara yang memiliki sistem hukum civil law dan anglo
saxon sehingga negara-negara sepakat untuk melakukan
harmonisasi hukum.239 Secara lebih lengkap dapat didefinisikan
harmonisasi hukum sebagai suatu proses untuk menyamakan dan
menyatukan hukum disebabkan perbedaan sistem hukum.

237 Alfredo Mordechai Rubello, “Unidroit Convention on International Contract“,


Uniform Law Review, Vol. 8, 2003, hlm 2.
238 Paul B. Stephan, The Futility of Unification and Harmonisation in International
Commercial Law, University of Virginia School of Law, 1999, hlm 1-5.
239 Alfredo Mordechai Rubello, “Unidroit Convention on International Contract“,
Uniform Law Review, Vol. 8, 2003, hlm 2.

167
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Perubahan regulasi dalam undang-undang telekomunikasi


untuk jangka panjang idealnya dilakukan dalam kebijakan
unifikasi konvergensi, akan tetapi untuk alasan efektivitas waktu,
proses dan biaya maka kebijakan harmonisasi dipandang lebih
cocok untuk dilakukan saat ini dengan menjadikan konvergensi
sebagai “driving factor”-nya. Jika melihat kondisi eksisting saat
ini, ada pengaturan-pengaturan rezim yang berbeda untuk
bidang-bidang yang terkonvergensi.
Lebih lanjut, perlu juga dipertimbangkan apabila perubahan
akan dilakukan dengan kebijakan harmonisasi maka apakah akan
dilakukan dalam bentuk revisi terhadap UU Telekomunikasi 1999
atau akan membuat sebuah undang-undang telekomunikasi yang
benar-benar baru.
Pilihan tersebut nantinya akan ditentukan oleh persentase
jumlah ketentuan yang mengalami perubahan, apabila materi
atau substansi dari UU yang akan dirubah mengalami perubahan
lebih dari separuhnya atau 50% maka perubahan tersebut harus
dilakukan dengan membentuk sebuah undang-undang yang
baru.240
Perlu dipahami bahwa perubahan dalam bentuk apa pun
baik unifikasi maupun harmonisasi, dan apakah akan berbentuk
Revisi UU Telekomunikasi 1999 atau membuat suatu UU baru,
yang terpenting harus menjadikan konvergensi sebagai “driving
factor”–nya dan menghilangkan pengaturan-pengaturan yang
berbeda untuk bidang-bidang yang terkonvergensi.

240 Undang-Undang R.I. Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan


Perundang-undangan.

168
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri

a. Konsumen
1) Pembedaan Pelanggan dan Pemakai
Berdasarkan hak konstitusional sebagaimana diamanatkan dalam
Pasal 28 F UUD Tahun 1945 khususnya tentang hak memperoleh
informasi dari seluruh saluran komunikasi dan hak untuk
menggunakan iptek, maka seluruh pengguna telekomunikasi
berkewajiban untuk dapat memenuhi hak konstitusional tersebut.
Sehubungan dengan itu ketentuan dalam UU Telekomunikasi
1999 untuk pengguna telah melakukan diskriminasi terhadap
pengguna akibat melakukan pembedaan atas pelanggan dan
pemakai. Hal ini juga mengakibatkan tanggung jawab pelaku
usaha menjadi berbeda terhadap keberadaan pelanggan dan
pemakai/pengguna. Pemakai seringkali tereksploitasi oleh penye-
lenggara tanpa mempunyai bukti pertanggungjawaban apa pun.

2) Kualitas Layanan
Terkait dengan hak konsumen atas mutu penyelengaraan
jaringan yang baik untuk:
a) memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/
atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta
jaminan yang dijanjikan; dan
b) mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian,
apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai
dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya.
3) Perlindungan terhadap Data Pribadi
Terkait hak konsumen terhadap perlindungan keamanan dan
kenyamanan konsumen, maka pelaku usaha harus menjamin
perlindungan terhadap data pribadi dan tidak mengeks-

169
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

ploitasinya atau mengungkapkannya kepada pihak lain sesuai


ketentuan hukum yang berlaku.
4) Perlindungan terhadap Penyadapan Tidak Sah dan Melawan
Hukum
Selama ini, untuk melakukan intersepsi hanya dengan
kewenangan pihak eksekutif dan penegak hukum (polisi dan
jaksa), padahal seharusnya meminta izin dari pihak yudisial
(Ketua Pengadilan).

b. Perizinan
Sesuai karakteristik teknis dan bisnis TIK yang sudah diuraikan
sebelumnya, maka sistem perizinan yang diatur dalam UU
Telekomunikasi 1999 saat ini sudah tidak sesuai lagi, di antaranya
karena memiliki kerancuan kategorisasi, keterbatasan dalam
lingkup dan substansi pengaturannya, inefisiensi penggunaan
sumber daya frekuensi, adanya proteksi yang berlebihan terhadap
penyelenggara incumbent, belum adanya kepastian hukum,
khususnya terkait dengan perizinan untuk penyelenggaraan
maupun perizinan untuk penyiapan sarana penunjang/
infrastruktur dari institusi yang berwenang.
Oleh karena itu perlu ada perubahan terhadap sistem
perizinan yang berlaku sekarang, yaitu dalam rangka mencip-
takan kerangka regulasi dan perizinan yang mendukung kebi-
jakan nasional dalam era konvergensi. Sistem perizinan tersebut
juga harus mengakomodir jaringan berbasis IP dan peluang usaha
bagi seluruh masyarakat untuk menjadi pemilik maupun penye-
lenggara jaringan/jasa telekomunikasi, serta menciptakan iklim
dan rezim perizinan yang transparan, adil, dan terbuka kepada
semua lapisan masyarakat.

170
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri

Sementara perkembangan masalah pengaturan perizinan di


negara-negara lain yang telah lebih maju pengaturan bidang
telekomunikasinya saat ini sedang mengarah pada bentuk rezim
perizinan terpadu yang titik beratnya pada kepentingan “akses”
untuk penyederhanaan sistem perizinan.
Penerapan bentuk rezim perizinan terpadu (unified/con-
verged licensing) tersebut di Indonesia untuk keadaan saat ini
juga dipandang lebih tepat, karena melihat akses masyarakat
terhadap telekomunikasi yang belum merata. Rezim ini meng-
harapkan pelaku industri tidak lagi melewati prosedur perizinan
yang rumit untuk segera menyelenggarakan satu atau beberapa
pelayanan dengan menggunakan teknologi yang dipilih (tech-
nology neutral).
Semula perizinan adalah harus dengan izin menteri, maka
penyederhanaan proses perizinan penyelenggaraan dilakukan
dengan mengenalkan dua tipe perizinan, yaitu:
(i) perizinan individu adalah izin yang diberikan secara khusus
berdasarkan permohonan individu dan dengan persyaratan
tertentu; dan
(ii) perizinan kelas/berdasarkan kelompok layanan adalah izin
yang diberikan secara umum kepada masyarakat/komunitas
yang dengan sendirinya dianggap telah diberikan manakala
setiap pihak telah memenuhi persyaratan tertentu berdasarkan
suatu peraturan menteri.

Kategorisasi juga dilakukan untuk memisahkan antara


perizinan penyelenggaraan dengan perizinan frekuensi dan
penomoran. Pelaksanaan perizinan terpadu tersebut diberikan

171
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

melalui institusi yang berwenang dengan berpegang pada prinsip


penyederhanaan izin yang transparan, adil dan tidak diskriminatif.
Selain itu perlu diatur secara jelas pembagian kewenangan
antara pusat dan daerah dalam pelaksanaan pemberian izin
tersebut, sumber daya pemerintahan di daerah perlu dimanfaat-
kan karena hal tersebut sejalan dengan peraturan perundang-
undangan yang mengatur tentang otonomi daerah. Dalam hal
penyelenggaraan telekomunikasi daerah, regulasi akan diarahkan
untuk mendorong tumbuhnya penyelenggara telekomunikasi
daerah secara proporsional dan berbasiskan kompetensi dengan
tetap memperhatikan iklim persaingan usaha yang sehat. Sistem
perizinan yang diterapkan nantinya diharapkan dapat mening-
katkan iklim investasi dalam penyelenggaraan telekomunikasi,
penyiaran dan teknologi informasi.

c. Kelembagaan
Sesuai dengan evolusi bangsa dan negara yang mengarah kepada
National Wealth Creation, di mana dibutuhkan ruang yang lebih
besar bagi peranan masyarakat dalam mengatur dirinya sendiri,
maka fungsi dan peranan pemerintah diarahkan dalam fungsi
fasilitator. Untuk berjalan efektifnya sebuah peraturan perundang-
undangan, maka dibutuhkan lembaga pelaksana yang akan
menjadi “motor” pelaksana dari undang-undang tersebut. Dalam
hal ini diperlukan sebuah badan regulator yang memiliki kewe-
nangan yang memadai dan tugas yang jelas dalam melaksanakan
undang-undang tersebut.
Selain fungsi pengawasan, dan fungsi pengendalian perlu
juga dipertimbangkan pembagian kewenangan untuk membuat
policy dan kewenangan untuk membuat regulasi. Kedua fungsi

172
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri

tersebut seharusnya dipisahkan dan diberikan batas kewenangan


yang jelas agar tercipta suasana yang kondusif dalam aplikasi
undang-undang ini nantinya.
Oleh karena itu dipandang perlu untuk memperjelas pem-
bagian kewenangan, peran, dan tugas antara institusi yang ber-
peran sebagai pembuat kebijakan dan institusi yang berperan
sebagai regulator. Sementara UU Telekomunikasi 1999 saat ini
masih belum secara jelas dalam mengamanatkan pendirian badan
regulasi independen telekomunikasi, institusi regulator teleko-
munikasi yang ada saat ini masih dalam bentuk transisi menuju
kepada regulator yang independen secara penuh.
Dalam perubahan undang-undang telekomunikasi nantinya
perlu diatur mengenai struktur dari organisasi regulator dan
hubungannya dengan instansi pemerintah lainnya, pemilihan
anggota komisioner dan pertanggungjawabannya, kewenangan
dari institusi tersebut dan sumber pendanaan dari lembaga
tersebut.

d. Bantuan Mediasi untuk Penyelesaian Sengketa


Di dalam UU Telekomunikasi 1999 belum diatur mengenai
mekanisme mediasi penyelesaian dalam bidang telekomunikasi.
Sedangkan hal tersebut sangat penting, penyelesaian sengketa
dalam bidang telekomunikasi perlu diatur secara khusus untuk
tujuan terciptanya kepastian hukum. Oleh karena itu perlu
ditetapkan suatu tata cara mediasi dalam penyelesaian sengketa
antar pelaku usaha dengan mempertimbangkan karakteristik
khusus bidang telekomunikasi, penyiaran dan teknologi
informatika.

173
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

e. Kewajiban Penyimpanan Data


Penyelenggara wajib menyimpan dokumen perusahaan sesuai
jadwal retensinya, dan wajib menyimpan jenis-jenis dokumen
tertentu sebagaimana dibutuhkan untuk kepentingan pembuktian
terhadap tindak pidana yang terkait dengan telekomunikasi.

f. Sanksi
Pengaturan mengenai sanksi dalam rencana perubahan undang-
undang telekomunikasi perlu mendapat perhatian khusus, karena
jenis dan berat ringannya sanksi akan menentukan efektivitas dari
pelaksanaan undang-undang ini nantinya. Dalam UU Teleko-
munikasi 1999 belum dikenal sanksi administratif dalam bentuk
denda, sementara best practice di negara-negara lain telah
menunjukkan bahwa sanksi dalam bentuk denda sangat efektif
penerapannya dibandingkan hanya diterapkannya sanksi penca-
butan izin atau bahkan sanksi pidana kurungan dan/atau denda.
Pengaturan ini diperlukan dalam rangka mendukung pene-
gakan hukum (law enforcement) yang tegas dan lugas dan menja-
min keamanan (security) jaringan telekomunikasi, penyiaran dan
teknologi informasi yang berkualitas. Oleh karena itu perlu diatur
sedemikian rupa dalam bentuk kategorisasi, mana saja yang
termasuk ke dalam pelanggaran administratif, pelanggaran pidana
dan kejahatan pidana, dan untuk setiap jenis tindakan tersebut
diberikan sanksi yang sepadan dengan akibat yang ditimbul-
kannya.
Untuk pelanggaran dan kejahatan pidana tentunya akan
disesuaikan dengan hukum pidana yang berlaku, sedangkan

174
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri

untuk pelanggaran administratif maka diberikan sanksi yang


sifatnya administratif pula. Sanksi administratif tersebut dibedakan
sesuai dengan akibat yang ditimbulkan oleh pelanggaran admin-
istratif yang dilakukan, berjenjang mulai dari sanksi dalam bentuk
denda, pencabutan izin sementara hingga sanksi dalam bentuk
pencabutan izin tetap.

C. TEORI HUKUM KONVERGENSI BAGI KERANGKA


PEMBANGUNAN DI INDONESIA
1. Pembentukan Teori Hukum Konvergensi
bagi Kerangka Pembangunan di Indonesia
Regulasi merupakan suatu upaya untuk mengawasi perilaku
manusia atau masyarakat dengan pengaturan-pengaturan atau
pembatasan-pembatasan.241 Regulasi dapat dimuat dalam
berbagai bentuk, yaitu regulasi pemerintah berupa peraturan
perundang-undangan dan keputusan-keputusan, co-regulation,
regulasi mandiri (self-regulation), regulasi pasar (market regula-
tion) dan regulasi sosial (social regulation).242
Kerangka regulasi (regulatory framework) dalam kegiatan TIK
mensyaratkan prinsip netral-teknologi (technology-neutral) dan
perlunya dimuat dalam peraturan perundang-undangan atau

241 Rule, n, 1. Generally, an established and authoritative standard or principle; a


general norm mandating or guiding conduct or action in a given type of
situation. 2. A regulation governing a court’s or an agency’s internal proce-
dures, sebagaimana dimuat dalam Black’s Law Dictionary, Bryan A. Garnder
(Editor in Chief), Second Pocket Edition, West Group Publishing, St. Paul
Minnesota, hlm. 617.
242 Vide infra, hlm. 322-323.

175
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

legislasi.243 Namun pada kenyataannya lingkup pengaturan dari


regulasi semakin meluas termasuk terhadap peralatan-peralatan
yang spesifik dengan teknologi-teknologi yang spesifik pula seperti
standarisasi dan persyaratan teknis yang dimuat dalam keputusan
menteri. Hal dimaksud menjadikan bergesernya kerangka regulasi
agar lebih sesuai yaitu ke arah bentuk pengaturan yang lebih tinggi
tingkatannya (the higher-level forms of regulation).
Hal dimaksud di atas adalah sebagaimana dinyatakan oleh
Bert-Jaap Koops, Should ICT Regulation be Technology-Neu-
tral?, IT Law Series Vol. 9, The Hague, 2006 bahwa:
“Regulation roughly means controlling human or societal be-
havior by rules or restrictions. It can have many different forms:
government regulation (laws and decrees), co-regulation, self-
regulation and market regulation, or social regulation, etcet-

243 Lampiran Undang-Undang R.I. Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pem-
bangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 Bab IV Arah, Tahapan,
dan Prioritas Pembangunan Jangka Panjang Tahun 2005-2025 IV.1. Arah
Prioritas Pembangunan Jangka Panjang Tahun 2005-2025 IV.1.2.
Mewujudkan Bangsa yang Berdaya Saing D. Sarana dan Prasarana yang
Memadai dan Maju pada Butir 31: “Pembangunan pos dan telematika
diarahkan untuk mendorong terciptanya masyarakat berbasis informasi (knowl-
edge-based society) melalui penciptaan landasan kompetisi jangka panjang
penyelenggaraan pos dan telematika dalam lingkungan multioperator;
pengantisipasian implikasi dari konvergensi telekomunikasi, teknologi
informasi, dan penyiaran, baik mengenai kelembagaan maupun peraturan
termasuk yang terkait dengan isu keamanan, kerahasiaan, privasi, dan integritas
informasi; penerapan hak kekayaan intelektual; peningkatan konvergensi pasar
dan industri; pengoptimalan pembangunan dan pemanfaatan prasarana pos
dan telematika dan pra-sarana nontelekomunikasi dalam penyelenggaraan
telematika; penerapan konsep teknologi netral yang responsif terhadap
kebutuhan pasar dan industri dengan tetap menjaga sinergi dan integrasi
prasarana jaringan menuju next generation network; peningkatan pengetahuan
dan pemahaman masyarakat terhadap potensi pemanfaatan telematika serta
pemanfaatan dan pengembangan aplikasi berbasis teknologi informasi dan
komunikasi; pengembangan industri dalam negeri; dan industri dalam negeri;
dan industri konten sebagai upaya penciptaan nilai tambah dari informasi.”

176
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri

era. Focus on regulation as the subject of the starting point; this


is also called a ‘regulatory framework’. A number of them refer
to rules that should be technology-neutral, and some mention
only legislation. Since the broad range of regulation also cov-
ers quite specific instruments dealing with specific technologies,
for example, standardization and ministerial decrees outlining
technical requirements, the starting point seems more
appropriate for the higher-level forms of regulation.”

Pemahaman secara khusus membagi tujuan dari regulasi yang


akan berbentuk undang-undang atau peraturan. Pernyataan di
mana regulasi TIK harus teknologi-netral digunakan dalam doku-
men kebijakan dan instrumen regulasi dalam rangka untuk
sesuatu tekanan. Apakah menekankan, bagaimana pun, tidak
boleh selalu adalah sama titik. Sebagai sebuah titik awal untuk
regulasi TIK, pernyataan mungkin menjadi digunakan dalam cara
yang agak berbeda.
Dalam sejarah model layanan telepon, persediaan, pela-
yanan, dan fasilitas diintegrasikan oleh desain teknis, karena
keduanya disediakan oleh monopoli telepon. Teknologi internet
dan Internet Protokol (IP) tertentu, telah diizinkan melakukan
pemisahan yang jelas antara fasilitas jaringan dan jasa. Pemisahan
ini mencapai Pertama, untuk data; Kedua, untuk gambar, audio,
video dan jaringan suara pribadi; dan Ketiga, untuk jaringan suara
umum, karena kemunculan VoIP. Ini melengkapi proses teknis
pejualan terpisah (unbundling) yang memungkinkan pemisahan
kapasitas fasilitas jaringan dari penyediaan jasa seluruh fasilitas
ini. Teknologi gelombang kedua adalah memfasilitasi langkah

177
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

akhir dari penggabungan jasa telekomunikasi, dan paradigma


regulasi baru harus merefleksikan fakta yang ada di lapangan.
Gelombang kedua telah membuatnya menjadi diperlukan
bagi para operator telepon, penyedia layanan, pembuat kebijakan,
penentu regulasi, dan pengguna untuk membuat sejumlah
penambahan penting pada lingkungan teknologi yang baru.
Peningkatan besar apapun pada teknologi yang secara dramatis
mengurangi biaya unit dan kesesuaian perluasan jasa mena-
warkan potensi keuntungan yang besar dalam perluasan jaringan
dan pasar, pengurangan biaya dan harga, dan pengembangan
layanan-layanan baru. Gelombang kedua tersebut memiliki
ancaman akan kehilangan yang signifikan bagi mereka yang ingin
berpegang teguh pada cara-cara tradisional dalam melakukan
hal-hal demikian.
Para pembuat kebijakan dan regulator harus memprediksi
ulang perluasan, pada lingkungan baru, pembangunan struktur
kebijakan dan regulasi mereka, yaitu:
1. menciptakan hambatan buatan pada pencapaian
keuntungan penggabungan penuh jasa;
2. menciptakan bias yang tidak tepat yang membantu atau
memperlambat satu segmen industri dalam hubungannya
dengan lainnya;
3. memusatkan dengan memadai pada jasa publik dan
kesempatan-kesempatan kepentingan publik dan
permintaan-permintaannya; dan
4. memfasilitasi kebutuhan yang memadai antara aplikasi
kemungkinan-kemungkinan jasa dan teknologi baru

178
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri

terhadap perluasan jaringan dan perkembangan jasa bagi


wilayah atau orang yang layak ataupun tidak.

Kebanyakan negara berkembang memulai proses reformasi


telekomunikasinya lebih lambat ketimbang negara maju, dan
belum memiliki transisi penuh pada sebuah struktur partisipasi
liberalisasi pasar dan regulasi independen yang efektif. Isu-isu
penambahan struktur muncul disebabkan teknologi-teknologi
baru sebagian besar tidak sederhana untuk diterapkan bagi
negara-negara berkembang. Sebenarnya semua negara ini
menghadapi tugas berat memperluas jaringan telekomunikasi
nasional dengan beberapa permintaan besar untuk tidak me-
ngembangkan kawasan terpencil/pedalaman dan menyebarkan
populasi yang terbatas atau tidak memiliki akses pada jasa
telekomunikasi, sebagai tambahan untuk meningkatkan jaringan
nasionalnya dari akses pita lebar (broadband) dan jasa internet.
Di sisi lain, teknologi-teknologi ini menawarkan potensi yang luar
biasa bagi negara-negara berkembang untuk mengatasi masalah-
masalah yang diwariskan dan mengambil keuntungan dari
partisipasi banyak pemain, untuk mengubah dengan sebenarnya
infrastruktur telekomunikasi dan jasa jaringan mereka.
Kerangka pembangunan di Indonesia sebagaimana dimuat
dalam RPJP, bahwa dalam upaya untuk mewujudkan Indonesia
yang demokratis berlandaskan hukum antar lain dilakukan
dengan peningkatan peranan komunikasi dan informasi yang
ditekankan pada pencerdasan masyarakat dalam kehidupan
politik dilakukan dengan hal-hal sebagaimana berikut:
(a) mewujudkan kebebasan pers yang lebih mapan, terlembaga

179
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

serta menjamin hak masyarakat luas untuk berpendapat dan


mengontrol jalannya penyelenggaraan negara secara cerdas
dan demokratis;
(b) mewujudkan pemerataan informasi yang lebih besar dengan
mendorong munculnya media-media massa daerah yang
independen;
(c) mewujudkan deregulasi yang lebih besar dalam bidang
penyiaran sehingga dapat lebih menjamin pemerataan
informasi secara nasional dan mencegah monopoli informasi;
(d) menciptakan jaringan informasi yang bersifat interaktif antara
masyarakat dan kalangan pengambil keputusan politik untuk
menciptakan kebijakan yang lebih mudah dipahami
masyarakat luas;
(e) menciptakan jaringan teknologi informasi dan komunikasi
yang mampu menghubungkan seluruh link informasi yang
ada di pelosok nusantara sebagai suatu kesatuan yang
mampu mengikat dan memperluas integritas bangsa;
(f) memanfaatkan jaringan teknologi informasi dan komunikasi
secara efektif agar mampu memberikan informasi yang lebih
komprehensif kepada masyarakat internasional supaya tidak
terjadi kesalahpahaman yang dapat meletakkan Indonesia
pada posisi politik yang menyulitkan; serta
(g) meningkatkan peran lembaga independen di bidang
komunikasi dan informasi untuk lebih mendukung proses
pencerdasan masyarakat dalam kehidupan politik dan
perwujudan kebebasan pers yang lebih mapan.

180
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri

2. Konstruksi Teori Hukum Konvergensi


bagi Kerangka Pembangunan di Indonesia
Dalam mengemukakan konstruksi tatanan hukum TIK tentu tidak
terlepas dari pemikiran-pemikiran Mochtar Kusumaatmadja yang
secara visioner melihat ke depan. Pemikiran-pemikiran Mochtar
yang relevan dengan pembentukan konstruksi tatanan hukum
TIK adalah sebagai berikut.244

a. Hukum sebagai Alat Pembaharuan Masyarakat


Untuk memahami arti dan fungsi hukum maka hukum merupa-
kan suatu alat untuk memelihara ketertiban dalam masyarakat.
Hukum bersifat memelihara dan mempertahankan yang telah
dicapai. Fungsi demikian diperlukan dalam setiap masyarakat,
termasuk masyarakat yang sedang membangun karena ada hasil-
hasil (pembangunan) yang harus dipelihara, dilindungi dan
“diamankan”.
Namun demikian masyarakat yang sedang membangun
dalam pemahaman masyarakat yang sedang berubah cepat maka
hukum tidak cukup memiliki fungsi dimaksud namun hukum juga
harus dapat membantu proses perubahan masyarakat. Pan-
dangan bahwa hukum tidak dapat memainkan peranan yang
berarti dalam proses pembaharuan sudah tidak dapat lagi diterima.
Pengalaman Amerika Serikat yang dimulai pada tahun 1930-an

244 Lihat Mochtar Kusumaatmadja, Konsep-Konsep Hukum dalam Pembangunan,


Pusat Studi Wawasan Nusantara, Hukum dan Pembangunan bekerjasama
dengan Penerbit PT. Alumni, Bandung, 2006 yang memuat pemikiran-
pemikirannya, yaitu: Fungsi dan Perkembangan Hukum dalam Pembangunan
Nasional; dan Hukum, Masyarakat, dan Pembinaan Hukum Nasional: Suatu
Uraian tentang Landasan Pikiran, Pola dan Mekanisme Pembaharuan Hukum
di Indonesia.

181
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

telah membuktikan dipergunakannya hukum sebagai sarana


untuk mewujudkan perubahan-perubahan di bidang sosial,
sebagaimana yang diungkapkan oleh Roscoe Pound “law as a
tool of Social engineering”. Peranan hukum dalam bentuk
keputusan-keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat dalam
mewujudkan persamaan hak bagi warga yang berkulit hitam
merupakan contoh yang sangat mengesankan atas peranan
progresif yang dapat dimainkan oleh hukum dalam masyarakat.
Intinya tetap ketertiban, selama perubahan yang dikehendaki
dalam masyarakat hendak dilakukan cara yang tertib maka selama
itu masih ada tempat bagi peranan hukum. Kesulitan (hambatan)
dalam menggunakan hukum sebagai suatu sarana untuk
mengadakan perubahan-perubahan kemasyarakatan adalah
bahwa perlunya kehati-hatian agar tidak terjadi kerugian pada
masyarakat itu sendiri. Tindakan demikian tidak semata-mata
merupakan tindakan yudikatif atau peradilan yang secara “for-
mal yuridis” harus tepat karena eratnya hukum dengan segi-segi
sosiologis, antropologi dan kebudayaan.

b. Sikap Mental Pemerintah dan Warga Negara


Warga negara suatu negara hukum selain menaati pihak yang
berkuasa selama si penguasa bertindak dalam batas-batas
wewenangnya, maka seorang warga negara yang baik harus
mengetahui dan jika perlu menuntut hak-hak yang diberikan
kepadanya oleh undang-undang dan hukum. Hanya dengan
demikian ia menjalankan kewajibannya sebagai warga negara
dengan baik, dalam arti turut menjaga ketertiban yang menjadi
tanggung jawab semua warga negara, baik ia itu penguasa atau
rakyat. Sikap yang demikian lebih baik daripada sikap yang

182
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri

menurut saja secara pasif, walaupun sikap pasif lebih mudah.


Akan tetapi warga negara yang demikian tidak menjalankan
kewajiban-kewajibannya secara sepenuhnya. Sikap yang
demikian barangkali cukup bagi seorang kaula-negara (subyek)
dari sebuah daerah jajahan yang tidak turut bertanggung jawab
atas kemajuan negarinya, tapi tidak memadai bagi seorang warga
negara (citizen) suatu negara yang merdeka.
Pada analisis terakhir kualitas suatu pemerintah ditentukan
oleh kualita dari dukungan yang diberikan rakyatnya. Kesulitan
bagi suatu bangsa yang sedang membangun lebih-lebih lagi suatu
bangsa yang baru merdeka sudah jelas bahwa ia harus mening-
galkan sikap terhadap pihak penguasa yang sudah terbiasa dan
menggantinya dengan sikap yang baru. Jelas kiranya bahwa sikap
yang baru itu (aktif) jauh lebih susah daripada sikap yang lama
(pasif), tapi itulah akibatnya (konsekuensi) menjadi bangsa yang
merdeka. Kalau hal dimaksud memerlukan suatu penyesuaian
(adjustment) tidak saja pada warga negara tetapi juga pada
penguasa, karena bagi si penguasa pun respons yang pasif
terhadapnya barangkali lebih menyenangkan. Akan tetapi
penguasa yang berpandangan jauh, bijaksana dan patriotik sudah
barang tentu akan membantu tumbuhnya sikap yang aktif
terhadap kekuasaannya, karena itu akhirnya (in the long run) akan
membantunya juga.

c. Perubahan Pemikiran tentang Hukum


Pemikiran tentang hukum dalam beberapa dasawarsa (decade)
terakhir ini telah banyak berubah sebagai akibat dari perubahan
besar dalam masyarakat, teknologi dan tekanan-tekanan (pres-

183
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

sures) yang disebabkan oleh pertambahan penduduk. Apabila


diambil pengertian hukum dalam arti yang luas yang mencakup
di dalamnya Hukum Internasional maka bidang hukum inilah
yang mengalami guncangan-guncangan perubahan yang pal-
ing dasyat yang menyebabkan bebarapa ahli berbicara tentang
adanya “krisis hukum internasional”. Hal dimaksud tidak
mengherankan karena Hukum Internasional sebagai suatu sistem
belum terstrukturkan (structured) seperti hukum nasional. Di antara
pelbagai negara di dunia pemikiran tentang hukum dan
peranannya dalam masyarakat, tergantung dari konservatif atau
tidaknya golongan yang berkuasa. Negara-negara otokratis yang
dikuasai golongan yang eksklusif cenderung untuk menolak
perubahan dan karenanya akan cenderung pada pemikiran
tentang hukum yang konservatif. Negara-negara yang maju yang
telah mencapai suatu keseimbangan dalam kehidupan politik,
ekonomi dan kemasyarakatannya juga akan cenderung untuk
konservatif dalam pemikirannya tentang hukum.

d. Hukum sebagai Sarana Pembaharuan Masyarakat


Konsepsi yang memiliki kemiripan dengan konsepsi “law as as
tool of social engineering” yang di negara Barat pertama kali
dipopulerkan oleh aliran Pragmatic Legal Realism.245 Apabila
konsepsi hukum sebagai sarana pembaharuan sebagai konsepsi
ilmu hukum (sehingga sekaligus konsepsi pemikiran atau filsafat
hukum, berbeda dari konsepsi politik hukum sebagai landasan

245 Lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta, Pokok-Pokok Filsafat Hukum, Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta, 2006, hlm. 198, bahwa diungkapkan Mochtar
Kusumaatamadja tidak hanya dipengaruhi oleh Sosiological Jurisprudence
akan tetapi juga oleh Pragmatic Legal Realism.

184
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri

kebijaksanaan) mirip dengan atau sedikit banyak diilhami oleh


teori “tool of social engineering”.246 Pengembangan konsepsional
dari hukum sebagai sarana pembaharuan masyarakat di Indone-
sia lebih luas jangkauan dan ruang lingkupnya daripada di tempat
kelahirannya sendiri di Amerika Serikat karena beberapa hal,
yaitu:
(1) Lebih menonjolnya perundang-undangan dalam proses
pembaharuan hukum di Indonesia, walaupun yurisprudensi
juga ada memegang peranan, berlainan dengan keadaan di
Amerika Serikat di mana teori Roscoe Pound itu ditujukan
terutama pada peranan pembaharuan pada keputusan-
keputusan pengadilan, khususnya keputusan Supreme Court
sebagai Mahkamah Tertinggi;
(2) Sikap yang menunjukkan kepekaan terhadap kenyataan
masyarakat yang menolak aplikasi “mekanistis” daripada
konsepsi “law as a tool of social engineering”. Aplikasi
mekanistis demikian yang digambarkan dengan kata “tool”
akan mengakibatkan hasil yang tidak banyak berbeda dari
penerapan “legisme” yang dalam sejarah hukum Indonesia
(Hindia Belanda) telah ditentang dengan keras. Dalam
pengembangannya di Indonesia maka konsepsi (teoretis)
hukum sebagai sarana pembaharuan ini dipengaruhi pula
oleh pendekatan-pendekatan filsafat budaya dari Northrop

246 Roscoe Pound dalam bukunya An Introduction of the Philosophy of Law


menyatakan bahwa, “I am content to think of law as a social institution to
satisfiy social wants-the claims and demands involves in the existence of
civilized society by giving effect to as much as we may with the leaser sacriface,
so far as such wants may be satifies or such claims given effect by an ordering
of human conduct through politically organized society“. Lihat Roscoe Pound,
An Introduction of the Philosophy of Law, Yale University Press, London,
1930, hlm. 99.

185
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

dan pendekatan “policy-oriented” dari Laswell dan


McDougal; dan
(3) Apabila dalam pengertian “hukum” termasuk pula Hukum
Internasional maka di Indonesia sebenarnya sudah
menjalankan asas “hukum sebagai alat pembaharuan” jauh
sebelum konsepsi dimaksud dirumuskan secara resmi sebagai
landasan kebijaksanaan hukum. Perumusan resmi dimaksud
sesungguhnya merupakan perumusan pengalaman
masyarakat dan bangsa Indonesia menurut sejarahnya.
Perombakan hukum di bidang pertambangan (termasuk
minyak dan gas bumi); tindakan-tindakan di bidang hukum
laut, nasionalisasi perusahaan-perusahaan milik Belanda dan
lain tindakan hukum bidang hukum sejak tahun 1958 yang
bertujuan mengadakan perubahan-perubahan mendasar
merupakan perwujudan dari aspirasi bangsa Indonesia yang
dituangkan dalam bentuk hukum dan perundang-undangan.

Walaupun secara teoretis konsepsi hukum yang melandasi


kebijaksanaan hukum dan perundang-undang (rechtspolitiek)
sekarang bisa diterangkan menurut peristilahan atau konsepsi-
konsepsi atau teori masa kini (modern) yang berkembang di Eropa
dan Amerika Serikat, namun pada hakikatnya konsepsi tersebut
lahir dari masyarakat Indonesia sendiri berdasarkan kebutuhan
yang mendesak dan dipengaruhi faktor-faktor yang berakar dalam
sejarah masyarakat dan bangsa Indonesia.
Konvergensi menjadi perhatian yang luar biasa dalam industri
media dan badan regulator di negara-negara Eropa Barat terutama
dampak yang dimunculkan oleh konvergensi. European Com-
mission sebagai contoh telah menerbitkan beberapa tulisan

186
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri

tentang kebijakan dan melakukan konsultasi publik terhadap hal


dimaksud.247 Semenjak munculnya manfaat secara ekonomis
yang sangat besar, daya saing dan kesempatan penciptaan profesi
baru dari kegiatan konvergensi, maka European Commission
berupaya untuk melakukan penyesuaian kerangka pengaturan-
nya (regulasi) untuk memberikan dukungan atas proses yang
sedang berjalan dari konvergensi.248 Meskipun dalam Green Pa-
per dimaksud memuat beberapa potensi yang berdampak negatif
dari kebijakan penerapan konvergensi, namun European Com-
mission tetap memiliki keyakinan bahwa pemanfaatan teknologi
dan ekspektasi “utopia” dari masyarakat informasi dapat
diwujudkan dalam suatu refleksi atas fenomena konvergensi.249
Di banyak negara-negara maju di mana konvergensi media telah
terjadi dan dilakukan melalui berbagai tingkatan konvergensi yang
mencakup:
1. infrastruktur,
2. transportasi,
3. manajemen,
4. layanan, dan
5. jenis-jenis data.

247 The European Commission menerbitkan the Green Paper on Convergence


(note 1 above) in December 1997, yang telah dilakukan konsultasi publik dan
dengar pendapat dengan masyarakat dalam 5 bulan. Ringkasannya dapat
diunduh melalui laman <http:// www.ispo.cec.be/convergencegp/
gpworkdo.html>.
248 European Commission, Green Paper on the Convergence of the
Telecommunications, Media and Information Technology Sectors, and the
Implications for Regulation towards an Information Society Approach (Brus-
sels: European Commission, 1997), hlm. 14. Tulisan dimaksud dapat diunduh
melalui <http://www.ispo.cec.be/convergencegp/97623.html>.
249 Jan van Dijk, The Network Society: Social Aspects of New Media (London:
Sage, 1999), hlm. 9.

187
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Negara-negara dimaksud terbagi berdasarkan persepsi dan


pengkajian mereka untuk memperluas dan meningkatkan kece-
patan perubahan di mana konvergensi media akan berlangsung.
Mereka juga memiliki pandangan berbeda terhadap dampak
konvergensi terhadap aspek ekonomi dan sosial yang akan
mereka hadapi. Inggris dan Amerika Serikat adalah contoh dari
negara yang menyakini bahwa konvergensi media menjanjikan
peningkatan perekonomian mereka, karenanya mereka begitu
aktif memberlakukan kebijakan-kebijakan dan kerangka
pengaturan baru agar lebih kompatibel dengan fenomena
konvergensi.250
Era konvergensi communication, computer, contents dan
community (4C) mendorong proses globalisasi layanan
telekomunikasi dan informasi. Ini akan mempercepat borderless
world (dunia tanpa batas).251 Era konvergensi akan mendorong
ketanpabatasan dalam informasi, industri, investasi dan individual
customers (4-I). Akan terjadi tarik-menarik dalam 4-I ini antara
kepentingan nasional dan kepentingan pihak-pihak lain dalam
dunia global.
Kepentingan nasional meliputi hal-hal yang diamanatkan
oleh konstitusi (UUD NKRI Tahun 1945) seperti kesejahteraan
dan keadilan, kecerdasan masyarakat, pertahanan, keamanan dan
lain-lain serta juga harus melihat kondisi ekonomi di Indonesia
yang masih memprihatinkan saat ini. Kepentingan global diwakili
oleh korporasi-korporasi yang akan memasuki pasar Indonesia,
250 Legal Advisory Board, Position paper on the Green Paper on the convergence
of the telecommunication, media and information technology sectors (Brus-
sels: European Commission, 1999), hlm. 1.
251 Istilah yang dipergunakan oleh Kenichi Ohmae dalam bukunya The Borderless
World, Collins, London, 1990.

188
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri

seperti pelanggan-pelanggan layanan 4C dari dunia global yang


menjadi pelanggan operator 4C di Indonesia, kepentingan politik
pemerintahan negara-negara asing.
Dalam bidang informasi misalnya, kepemilikan asing dalam
industri telekomunikasi nasional memungkinkan pihak-pihak
asing mengetahui aliran informasi, aliran uang (dalam transaksi
perbankan dan finansial), aliran barang (yang terdata dalam sistem
informasi pelabuhan, sistem informasi pelabuhan udara), perpin-
dahan orang-orang dari satu kota ke kota lain. Kepemilikan asing
dalam industri 4C juga memungkinkan mereka mengetahui hal-
hal yang menjadi rahasia negara. Pemerintah semestinya memiliki
klasifikasi informasi yang jelas yang berlaku secara nasional. Harus
jelas kualifikasi informasi yang harus dilindungi/diproteksi, dan
apa yang tidak perlu diproteksi dan bagaimana tingkatan protek-
sinya. Undang-undang semestinya melindungi ketahanan negara
dan bangsa serta privasi para penduduknya agar tidak diketahui
dengan mudah oleh pihak-pihak asing.
Dalam bidang industri misalnya, industri global akan berha-
dapan langsung dengan industri nasional, baik untuk skala
korporasi besar maupun perusahaan-perusahaan kecil. Bila
deregulasi diarahkan ke persaingan bebas global, maka Indone-
sia sebagai salah satu marketplace akan dikuasai oleh kekuatan
korporasi global. Undang-undang semestinya menjaga kaidah
fair-trade, sehingga industri nasional dalam 4C juga maju, juga
small medium and micro enterprises (SMME) dalam 4C. Perlunya
dicarikan upaya untuk mengatur suasana persaingan yang
kondusif, win-win dan tidak saling mematikan antara industri
nasional dan para pemain asing yang masuk menjadi suatu
pertimbangan utama.

189
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Perlu pula diupayakan perlindungan pelanggan individual


(individual customers) dalam negeri yang akan menjadi pelang-
gan operator asing dalam berbagai layanan 4C dan sebaliknya
juga dalam perlindungan individual customers luar negeri yang
akan menjadi pelanggan operator nasional menjadi substansi
yang perlu juga diperhatikan dan diatur dalam undang-undang.
Pemikiran untuk mengantisipasi implikasi konvergensi TIK
terhadap hukum dan regulasi berkembang dalam tiga pemikiran
utama, yaitu: 252
1. Pemikiran pertama, memiliki keterkaitan dengan perma-
salahan bentuk yang memadai dari struktur institusi regula-
tor untuk mengantisipasi dampak konvergensi di negara-
negara yang mengatur telekomunikasi dan penyiaran di
bawah rezim pengaturan yang terpisah;
2. Pemikiran kedua, berhubungan dengan pergeseran fokus
pengaturan atau regulasi yang lebih kepada pengaturan
kompetisi dan pengendalian penguasaan pasar di dalam
industri konvergensi; dan
3. Pemikiran ketiga, berhubungan dengan kebutuhan akan satu
pendekatan menyeluruh (holistic) untuk membentuk suatu
kerangka konvergensi.

Pemikiran pertama dimaksud di atas, telah cenderung untuk


menyederhanakan permasalahan dan menyelesaikan perma-
salahan dengan bertumpu kepada satu regulator supra-nasional
untuk melakukan pengaturan sekaligus untuk telekomunikasi dan

252 Angeline Lee, “Convergence in Telecom, Broadcasting and it: A Comparative


Analysis of Regulatory Approaches in Malaysia, Hong Kong and Singapore”,
Singapore Journal of International and Comparative Law, 2001.

190
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri

penyiaran. Pendekatan ini nampak tidak memperhatikan


perlunya pemahaman pendekatan lintas-sektor horizontal (cross-
sectoral horizontal approach) sebagaimana direkomendasikan
oleh OECD253 dan beberapa negara telah mengadopsi seperti
Australia salah satunya.
Pemikiran kedua dimaksud di atas, merupakan upaya
pergeseran dalam regulasi yang memfokuskan kepada penga-
turan kompetisi dan penguasaan pasar sehingga terjadi deregulasi
dan pasar yang turut terkonvergensi. Pada pemahaman berikutnya
maka diperlukan pengaturan yang lebih mengarah kepada bentuk
formal hukum dan regulasi kompetisi. Memperhatikan fakta
sejarah dalam pengaturan kewenangan dalam regulasi kompetisi
adalah sejauh mana untuk dapat memperkenalkan kerangka
aturan kompetisi yang bersifat khusus (lex specialis) dan berdiri
sendiri (sui generis), dimana pada sisi yang lain pemerintah belum
siap untuk memperkenalkan hukum persaingan usaha yang
bersifat umum.
Pemikiran ketiga dan terakhir dimaksud di atas adalah untuk
menggunakan pendekatan menyeluruh (holistic) untuk
membangun satu kerangka konvergensi, walaupun tidak menjadi
sederhana dikarenakan perlu memperbaiki peraturan perundang-
undangan telekomunikasi yang sudah tidak sesuai lagi (outdated)
bagi era pre-liberalisasi.254 Upaya dimaksud diperlukan untuk
meminimalkan gangguan dan memastikan stabilitas pasar untuk
operator serta penyedia layanan telekomunikasi. Salah satu jalan

253 Lihat Report of OECD Roundtable on Regulation and Competition Issues in


Broadcasting in the Light of Convergence DAFFE/CLP (99) 1 (1999), hlm. 78-
81.
254 Diperkenalkannya suatu pengaturan baru merupakan refleksi dari tujuan
regulasi ke arah suasana liberalisasi dan konvergensi.

191
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

keluar adalah memberikan tugas dan kewenangan bagi suatu


regulator yang menyatu (combined regulator) dengan tanggung
jawabnya kepada industri konvergensi.
Pendekatan “satu untuk semua” (one stop shopping) memiliki
kemanfaatan bagi industri sehingga dapat meminimalkan biaya
administratif untuk pemerintah dan percepatan proses waktu
untuk pelaku pasar. Tentu saja secara politis tidak menyenangkan,
di mana kewenangan regulasi informasi publik (content regula-
tion) secara tradisional memang berada di bawah kendali dari
suatu kementrian pemerintahan yang berorientasi politis, budaya
dan kebutuhan sosial dari negara dimaksud.
Pelepasan kendali dari fungsi sebelumnya kepada satu
kementerian baru dengan tanggung jawab untuk mendorong
dan mengembangkan sektor teknologi informasi dan komunikasi
(ICT) terkadang tidak harus sejalan dengan pengaturan, tujuan
dan kemampuan dari kementrian baru yang dibentuk. Contoh
di Malaysia, meskipun dengan penetapan dari suatu regulator
yang menyatu di bawah kewenangan dari satu kementerian
baru, yaitu Ministry of Communications and Multimedia; namun
Ministry of Information masih mempertahankan kewenangannya
atas Radio Television Malaysia (RTM) yang merupakan lembaga
penyiaran nasional.255

255 SM Hussein, “The Malaysian Communications and Multimedia Act 1998 - Its
Implications on the Information Technology (IT) Industry”, (2000) 9 Informa-
tion and Communications Technology Law 79; ‘Fears of “broadcasting inva-
sion”’, (Singapore) Straits Times, 6 Mar 2000; ‘Control of core media stays
local, says BG Yeo’, (Singapore) Straits Times, 6 Mar 2000; ‘Controls on for-
eign broadcasters soon’, (Singapore) Straits Times, 10 Mar 2001 and ‘BG Yeo
explains why changes to SBA Act needed’, (Singapore) Business Times, 12
May 2001.

192
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri

Pendekatan satu regulator (single operator) perlu memper-


hatikan pendekatan lintas-sektor horizontal (cross-sectoral hori-
zontal approach) sebagaimana direkomendasikan oleh OECD
dan diadopsi oleh Australia.256 Pendekatan ini mengalokasikan
tanggung jawab di antara institusi regulator yang berbeda dengan
dasar fungsional lintas sektor (contohnya perekonomian, kompetisi
dan permasalahan materi atau isi dialokasikan kepada masing-
masing regulator sektoral nasional yang berbeda masing-masing
tanggung jawabnya untuk setiap area regulator). Di Australia,
regulasi untuk layanan telekomunikasi, pengaturan isi (content)
dan kompetisi telah dialokasikan berturut-turut kepada Commu-
nications Australia Authority (ACA), Broadcasting Australia Au-
thority (ABA) dan Competition Australia and Consumer
Commission (ACCA).
Negara-negara yang cenderung untuk melakukan penga-
wasan dan pengendalian regulasi isi (content) untuk terpisah dari
area regulasi lainnya, menggunakan pendekatan ini untuk dapat
mempertahankan kendali atas isi (content) di bawah suatu kemen-
terian pemerintah terpisah. Seiring waktu maka setiap institusi regu-
lator akan meningkatkan keahlian dan kemampuannya sesuai
area yang diperuntukan bagi masing-masing regulator. Salah satu
kelemahan dari pendekatan ini adalah pembiayaan awal dan
operasional dari sejumlah institusi regulator mungkin saja menjadi
lebih tinggi daripada mengoperasikan satu regulator tunggal.
Untuk negara-negara kecil dengan jumlah operator yang tidak
banyak dan penyedia layananan telekomunikasi serta dimana

256 Untuk pemaparan umum tentang rezim pengaturan di Australia dapat dilihat
pada Australian Telecommunications Regulation, the Communications Law
Centre Guide (Communications Law Centre, 1997); OECD Report; dan J. Rodwell,
‘Australia’, Oct 1997, The Asia Law Guide to Telecommunications 51.

193
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

ukuran pasar yang kecil maka pendekatan dimaksud menjadi


tidak sesuai.
Liberalisasi dan deregulasi telekomunikasi menjadikan diya-
kini dan diterimanya peran institusi regulator dengan paradigma
baru dari regulasi yang lebih memfokuskan kepada regulasi
penguasaan pasar di area-area monopoli alamiah yang semakin
menyempit.257 Fokus dari regulasi penyiaran juga turut berubah
dengan adanya konvergensi, dari yang sebelumnya berbentuk
kendali langsung atas isi (content) dan iklan, kini mengarah
kepada kompetisi dan pengendalian penguasaan pasar.258
Fokus perhatian ini dapat ditangani dengan baik oleh institusi
regulator jika seluruh tenaga regulator ditujukan kepada suatu
kerangka kompetisi yang kuat.259 Praktik dari negara-negara seperti

257 Contoh berkenaan dengan penggunan the local loop atau local cable-based
networks. Lihat Knieps, “Deregulation in Contestable and Non-Contestable
Markets: Interconnection and access” (2000) 23 Fordham International Law
Journal 90, dan Kearney and Merrill, “The Great Transformation of Regulated
Industries Law“ (1998) 98 Columbia Law Review 1323.
258 Lihat Report of OECD Roundtable on Regulation and Competition Issues in
Broadcasting in the Light of Convergence DAFFE/CLP (99) 1 (1999).
259 Lihat Judge R Posner, “The Effects of Deregulation on Competition: The Expe-
rience of the United States “(2000) 23 Fordham International Law Journal S 7,
beliau menyampaikan pendapat: “Because deregulation contemplates the
substitution of competition for regulation as the ‘regulator’ of the deregulated
markets, deregulation increases the importance of antitrust law as a means of
preventing unregulated firms from eliminating competition amongst them-
selves by mergers or price-fixing agreements .... It is important that ‘competi-
tion’ be understood in its correct economic sense, lest antitrust become an-
other form of regulation. Competition is not a matter of many sellers or low
prices or frequent changes in prices or market shares. It is properly regarded
as the state in which resources are deployed with maximum efficiency, and it
is not so much the existence of actual rivalry, let alone any specific market or
structure or behavior, as the potential for rivalry, that assures competition. The
proper role of antitrust law is to protect that potential by limiting mergers,
preventing the formation and operation of cartels and other horizontal price-
fixing or market-dividing agreements or modalities, and, to a limited extent,
preventing abusive tactics by individually powerful firms.“

194
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri

Malaysia, Hong Kong dan Singapura yang sebelumnya tidak


memiliki sejarah regulasi kompetisi dan dimana pemerintah belum
pula siap untuk memperkenalkan hukum persaingan usaha secara
umum,260 satu permasalahan yang masih perlu dicarikan jalan
keluarnya oleh regulator adalah sejauh mana untuk dapat diperke-
nalkan suatu kerangka kompetisi efektif yang sudah ada atau baru
sama sekali. Pada saat kondisi telekomunikasi dan penyiaran tetap
dilanjutkan untuk diatur secara terpisah di bawah rezim yang
berbeda, penerapan aplikasi asimetris dari kompetisi yang menga-
tur hanya kepada satu sektor, dan kondisi yang mendorong ke
arah inkonsistensi juga perlu ditangani secara tepat.261
Pada akhirnya, suatu karakteristik umum dari perundang-
undangan komunikasi pre-liberalisasi khususnya perundang-
undangan telekomunikasi dari praktik negara-negara adalah
mereka pada mulanya membuat draft peraturan perundang-
undangan tentang liberalisasi dan kompetisi. Pengaturan regulasi
dari layanan telekomunikasi pada waktu sebelumnya adalah
dilakukan oleh suatu institusi pemerintahan atau badan kuasi
pemerintah dengan hak monopoli terhadap layanan dimaksud.
Permasalahan apapun yang muncul dari layanan teleko-
munikasi dimaksud cukup dicarikan jalan keluarnya secara in-
ternal oleh badan itu sendiri tanpa diperlukan adanya intervensi
legislatif atau regulasi. Perundang-undangan terkait dengan
kegiatan konvergensi telekomunikasi dan penyiaran harus
dirancang secara lebih memadai untuk melingkupi seluruh

260 Praktik di Hong Kong dapat diketahui pada tulisan R Wu and G Leung, “Me-
dia Policy and Regulation in the Age of Convergence - The Hong Kong Expe-
rience“ (2000) 30 Hong Kong Law Journal 454.
261 Ibid.

195
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

kegiatan konvergensi dimaksud. Hal-hal yang perlu diperhatikan


dalam pengaturan dimaksud antara lain adalah layanan univer-
sal, perlindungan konsumen, alokasi spektrum, regulasi kompetisi,
meningkatkan peran perizinan menjadi “class licence” berkait
kepada regulasi telekomunikasi.
Pemikiran yang muncul terkait dengan kewenangan terha-
dap peraturan perundang-undangan yang sudah tidak sesuai lagi
dengan perkembangan zaman khususnya kegiatan konvergensi,
adalah perlu diteliti dan digantinya regulasi dengan perundang-
undangan de novo atau apakah perlu membuat perundang-
undangan baru berdasarkan kebutuhan dan berbasis incremen-
tal. Pembentukan peraturan perundang-undangan memerlukan
pertimbangan waktu dan dipikirkan secara hati-hati. Hal dimaksud
tidak memungkinkan atau sulit untuk dapat dipraktikan jika proses
liberalisasi berjalan sangat cepat seperti yang terjadi di Singapura.
Tersamarnya batasan-batasan antara telekomunikasi dan
penyiaran sebagai hasil konvergensi maka pendefinisian ulang
dari pasar dan parameter-parameter dalam suatu industri yang
dinamis dan yang cepat berubah adalah suatu tugas yang tidak
sederhana. Regulasi berkaitan dengan kesempatan untuk masuk
ke pasar telekomunikasi dan penyiaran mendasarkan kepada
diterbitkannya dan klarifikasi atas izin kepada operator serta
penyedia layanan adalah konsekuensi dari perubahan definisi
dari legislasi yang baru. Hal dimaksud dapat secara potensial
menyebabkan permasalahan utama bagi para operator dan
penyedia layanan.
Perbedaan secara teori dan persepsi terhadap fenomena
konvergensi menjadikan implikasi yang berbeda untuk institusi

196
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri

regulator ketika akan melakukan perancangan model dan srategi


regulasi yang diinginkan. Secara umum dipahami bahwa model
dan strategi regulasi dapat digolongkan menjadi tiga pendekatan
utama.262
Pendekatan pertama, “pendekatan tidak melakukan apa-apa”
(do nothing approach) adalah pilihan yang diambil oleh mereka
dengan kepercayaan bahwa pengembangan masa depan dari
konvergensi adalah tidak-pasti atau fenomena konvergensi adalah
suatu pengembangan sejarah yang alami. Karenanya tidak
diperlukan untuk merumuskan suatu model atau strategi regulasi
baru di bawah pendekatan ini. Sebagian besar negara-negara
berkembang di dunia mengadopsi pendekatan ini.263 Bahkan
sesungguhnya fenomena konvergensi bahkan tidak nampak
dalam agenda reformasi regulasi telekomunikasi dari negara-
negara dimaksud.
Pendekatan kedua, “pendekatan gradual” (gradualist ap-
proach) adalah pendekatan yang menitikberatkan kepada
pengembangan model pengaturan baru untuk layanan media
dan industri yang terus meningkat sebagai dampak dari fenomena
konvergensi, misalnya, layanan internet. Pendekatan ini adalah
suatu pilihan logis yang dapat dikenali oleh mereka sebagai hasil
dari fenomena konvergensi, khususnya regulasi media secara
tradisional tidak bisa secara langsung mengatur kemunculan dari
layanan baru media dan industrinya. Pendekatan gradual diyakini

262 European Commission, Green Paper on the Convergence of the


Telecommunications, Media and Information Technology Sectors, and the
Implications for Regulation towards an Information Society Approach (Brus-
sels: European Commission, 1997).
263 Negara-negara seperti Korea Utara, Vietnam dan Philipina telah gagal untuk
kategori ini.

197
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

bahwa fenomena konvergensi tidak akan membawa suatu


perubahan fundamental pada industri media secara menyeluruh.
Karenanya regulasi media secara tradisional adalah hanya untuk
mempertahankan dan melanjutkan tercapainya tujuan objektif
melalui pendekatan ini.
Contohnya adalah tetap dipergunakannya bentuk regulasi
terdahulu (old forms) terhadap kegiatan telekomunikasi dan
penyiaran dimaksudkan untuk mempertahankan kewenangan-
kewenangan yang ada. Sementara bentuk regulasi yang baru (new
forms) terhadap regulasi media adalah untuk mengakomodasi
layanan baru dari media seperti layanan video-on-demand.
Pendekatan ini menggabungkan regulasi “tua” dan “baru” dalam
membentuk kerangka kewenangan regulasi media yang terkon-
vergensi. Pendekatan kewenangan dimaksud adalah seperti yang
dilakukan oleh Hong Kong.
Pendekatan tidak melakukan apa-apa dan pendekatan
gradual memiliki pendukungnya masing-masing dalam lingkaran
akademisi. Sesungguhnya, banyak para ahli percaya bahwa
pemerintah dan hukum tidak perlu untuk memainkan suatu peran
yang proaktif dalam meregulasi media. Van Dijk berpendapat
bahwa hukum dan regulasi selalu tertinggal oleh teknologi
sebagaimana yang dicatat dalam periodisasi sejarah. Menurut Van
Dijk bahwa suatu teknologi baru harus sebelumnya digunakan
dan dikembangkan dalam masyarakat (community/society)
sebelum pada akhirnya dituangkan dalam perundang-undangan
yang dapat diterapkan untuk itu. “Legislation-in-advance”,
menurut Van Dijk adalah perencanaan oleh pemerintah dan tidak
menghubungkan dengan prinsip inisiatif bebas dalam pengem-
bangan teknologi dalam masyarakat kapitalis.264

198
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri

Pendekatan ketiga, “pendekatan radikal” (radical approach)


adalah perubahan dari rezim yang sudah ada dan mengadopsi
suatu model sepenuhnya baru untuk mengatur industri media
serta layanannya. Pendekatan ini adalah didukung oleh keyakinan
bahwa konvergensi akan membawa perubahan fundamental
pada industri media. Berdasarkan pendekatan ini, model dan
strategi tradisional regulasi adalah tidak sesuai serta tidak relevan
serta model serta strategi regulasi yang baru harus dirumuskan
untuk mengembangkan industri media.
Pendekatan radikal ini dilakukan oleh Amerika Serikat seba-
gaimana yang direfleksikan dalam regulasi medianya. Telecom-
munications Act 1996 menghilangkan semua penghalang regul-
asi yang merintangi konvergensi telekomunikasi dan televisi,
layanan telepon seluler (mobile phone) dan tetap, dan layanan
telepon lokal serta sambungan telepon jarak jauh.265 Berdasarkan
Telecommunications Act 1996 sebagian besar pembatasan bisnis
telah dihilangkan dan operator telekomunikasi serta perusahaan
TV kabel telah diizinkan untuk memasuki pasar satu sama lainnya.
Uni Eropa yang sebelumnya lebih konservatif dibandingkan
Amerika Serikat, pada saat ini juga mendukung suatu pendekatan
radikal. Pada tahun-tahun terakhir ini, European Commission telah
menjadi semakin meyakinkan bahwa kerangka regulasi yang
sudah ada dengan berbasis pada karakteristik teknis dari media
dan kanal frekuensinya tidak lagi cukup memadai. European

264 Jan van Dijk, The Network Society: Social Aspects of New Media (London:
Sage, 1999).
265 M Cimatoribus, A De Tommaso & P Neri, “Impacts of the 1996 Telecommu-
nications Act on the US Models of Telecommunication Policy” (1998) 22(6)
Telecommunications Policy 493.

199
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Commission telah mendorong suatu kerangka regulasi tunggal


untuk suatu pasar komunikasi tunggal.
Pada tahun 1998, Commissioner European Commission yaitu
Martin Bangemann telah mengusulkan pengembangan Interna-
tional Charter for Global Communications karena dia memper-
cayai bahwa tidak mungkin lagi dilakukan pembedaan antara
telekomunikasi, penyiaran dan media IT terkait lainnya.266 Euro-
pean Commission menyajikan suatu proposal Communication
pada bulan Februari 1998 untuk memintakan suatu diskusi
internasional terhadap pembentukan suatu kerangka untuk
koordinasi kebijakan internasional dalam memperluas bidang dari
komunikasi.267
Perspektif ekonomi yang ditinjau oleh European Commis-
sion secara keseluruhan memiliki alasan pembenaran. Sebagai-
mana dimuat dalam Policy Papers on Convergence, bahwa Eu-
ropean Commission menekankan adanya kegagalan pemerintah
untuk menghadapi implikasi regulasi dari fenomena konvergensi
pada tahap awal sehingga akan “memelihara” penghalang regu-
lasi yang sudah ada (eksisting), memperkenalkan penyimpangan
pasar dan menghalangi pertumbuhan dari pasar baru media.
Kegagalan ini pada gilirannya akan mengancam negara-negara

266 Lihat pidato dari Martin Bangemann, European Commissioner yang


disampaikan pada the ITU Conference Telecom Interactive 1997, “A New
World Order for Global Communications: the Need for an International Char-
ter”, 8 September 1997, Geneva, Switzerland. Pidato dimaksud dapat diunduh
melalui laman <http:// www.ispo.cec.be/infosec/promo/speech/geneva.html>.
267 Communication from the European Commission to the European Parliament,
the Council, the Economic and Social Committee and the Committee of the
Regions, “The need for strengthened international coordination”, tulisan
dimaksud dapat diunduh melalui laman <http://www.ispo.cec.be/eif/policy/
com9850en.html>.

200
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri

Eropa yang berdaya saing untuk memasuki suatu pasar yang


semakin menglobal dan mendorong ke arah kerugian peluang
untuk pertumbuhan ekonomi serta penciptaan lapangan
pekerjaan. Data perkiraan menunjukan pendapatan dalam
beberapa industri media di Eropa bisa jatuh sebesar 40% pada
tahun 2005 jika negara-negara Eropa tidak mengantisipasi secara
optimal fenomena konvergensi dimaksud.268
European Commission mempercayai bahwa suatu kerangka
regulasi yang memadai akan memberikan fasilitas pertumbuhan
bagi industri media, memastikan suatu pasar kompetitif dan
menyediakan perlindungan yang diperlukan bagi publik. Euro-
pean Commission menyediakan bukti dari kebijakan mereka
untuk mendemonstrasikan kemunculan dari layanan baru multi-
media dan meningkatkan kemampuan dari jaringan-jaringan
modern.269 European Commission juga berargumentasi bahwa
ketidakpastian regulasi akan menghalangi/merintangi pengem-
bangan produk dan layanan baru serta menghambat investasi,
dengan demikian dapat menghancurkan prospek untuk
implementasi “Information Society”.270
Penegasannya adalah negara-negara Eropa akan menderita
sekaligus secara bersamaan baik secara ekonomis maupun secara
sosial jika fenomena konvergensi tidak diantisipasi dengan

268 KPMG, Public Policy Issues Arising from Telecommunication and Audiovi-
sual Convergence, Summary Report (Brussels: European Commission, 1997)
(KPMG Report), dapat diunduh melalui laman <http:// www.ispo.cec.be/
infosoc/promo/pubs/exesum.html>.
269 European Commission, Green Paper on the Convergence of the
Telecommunications, Media and Information Technology Sectors, and the
Implications for Regulation towards an Information Society Approach (Brus-
sels: European Commission, 1997).
270 Ibid.

201
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

memadai. Pendirian European Commission didukung oleh


beberapa akademisi, seperti Bernard Clements yang berpendapat
negara-negara Eropa dapat saja menggunakan “pendekatan tidak
melakukan apa-apa” dan kemudian terbentur kepada perma-
salahan karena pemilihan waktu adalah hal yang krusial untuk
menciptakan regulasi yang efektif bagi konvergensi.271
Mochtar Kusumaatmadja pada tahun 1976 telah mem-
berikan penekanan terhadap hal-hal dimaksud. Mochtar
berpendapat bahwa masalah-masalah dalam suatu masyarakat
yang sedang membangun yang harus diatur oleh hukum secara
garis besarnya dapat dibagi dalam dua golongan besar, yaitu:272
(a) masalah-masalah yang langsung mengenai kehidupan
pribadi seseorang dan erat hubungannya dengan kehidupan
budaya dan spiritual masyarakat; dan
(b) masalah-masalah yang bertalian dengan masyarakat dan
kemajuan pada umumnya bersifat “netral” dilihat dari sudut
kebudayaan.

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa pembaharuan


hukum dalam bidang demikian lebih mudah dilakukan. Karena
ini bidang-bidang yang “netral” seperti hukum perseroan, hukum
kontrak (perikatan) dan hukum lalu lintas (darat air dan udara)

271 Bernard Clements, “The Impact of Convergence on Regulatory Policy” (1998)


22(3) Telecommunications Policy 197.
272 Lihat Mochtar Kusumaatmadja, Konsep-Konsep Hukum dalam Pembangunan,
Pusat Studi Wawasan Nusantara, Hukum dan Pembangunan bekerjasama
dengan Penerbit PT. Alumni, Bandung, 2006 yang memuat pemikiran-
pemikirannya, yaitu: Fungsi dan Perkembangan Hukum dalam Pembangunan
Nasional; dan Hukum, Masyarakat, dan Pembinaan Hukum Nasional: Suatu
Uraian tentang Landasan Pikiran, Pola dan Mekanisme Pembaharuan Hukum
di Indonesia.

202
Pembentukan Teori Hukum Konvergensi dalam Revolusi Industri

lebih mudah dan segera dapat ditangani. Karena adanya interrelasi


yang erat antara hukum dengan faktor-faktor lain dalam masya-
rakat terutama faktor-faktor ekonomi, sosial dan kebudayaan
seorang akhli hukum harus pula memperhatikan segi-segi ini kalau
ia hendak berhasil dalam tugasnya.
Bertambah pentingnya peranan teknologi di zaman modern
ini bagi kehidupan manusia dan pengaruhnya terhadap kehi-
dupan manusia dan lingkungan hidupnya menyebabkan bahwa
faktor-faktor ini pun tidak dapat diabaikan. Kesemuanya ini berarti
bahwa proses pembentukan undang-undang harus dapat
menampung semua hal yang erat hubungannya (relevant) dengan
bidang atau masalah yang hendak diatur dengan undang-undang
itu, apabila perundang-undangan itu hendak merupakan suatu
pengaturan hukum yang efektif.
Efektifnya produk perundang-undangan dalam penerapan-
nya memerlukan perhatian akan lembaga dan prosedur-prosedur
yang diperlukan dalam pelaksanaannya. Karenanya pengertian
hukum yang memadai harus tidak hanya memandang hukum
itu sebagai suatau perangkat kaidah dan asas-asas yang mengatur
kehidupan manusia dalam masyarakat, tapi harus pula mencakup
lembaga (institutions) dan proses (processes) yang diperlukan
untuk mewujudkan hukum itu dalam kenyataan.273

273 Ibid.

203
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

204
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

Bab V
Paradigma Futurikal Teori Hukum
dalam Revolusi Industri 4.0
“The Fourth Industrial Revolution can compromise humanity’s tradi-
tional sources of meaning—work, community, family, and identity—or it
can lift humanity into a new collective and moral consciousness based
on a sense of shared destiny. The choice is ours.”
Klaus Schwab, The Fourth Industrial Revolution

“Bertambah pentingnya peranan teknologi di zaman modern ini


bagi kehidupan manusia dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia
dan lingkungan hidupnya menyebabkan bahwa
faktor-faktor ini pun tidak dapat diabaikan.”
Mochtar Kusumaatmadja

Pada akhirnya Revolusi Industri 4.0 akan mengubah tidak hanya


apa yang manusia lakukan tetapi juga siapa “kita” sebagai
manusia. Siapa dan apa akan mempengaruhi identitas serta semua
permasalahan kita yang terkait dengannya yaitu perlindungan
privasi, konstruksi kepemilikan, pola konsumsi, waktu yang
dicurahkan untuk bekerja dan bersantai, dan bagaimana dirinya
mengembangkan karir, menumbuhkan keterampilan, bertemu
orang-orang, dan memelihara hubungan itu sendiri. Hal-hal
dimaksud sudah mengubah kondisi kesehatan manusia dan
mengarah ke diri yang “dikuantifikasi”, dan lebih cepat dari yang
kita kira sehingga dapat menyebabkan augmentasi manusia.

205
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Daftar fenomena permasalahan dimaksud tidak ada habisnya


karena kita hanya terbatasi oleh imajinasi sebagai manusia.
Integrasi dan dominasi teknologi digital yang tak tertandingi dalam
kehidupan dapat mengurangi sebagian dari kapasitas kema-
nusiawian kita yang murni, seperti welas asih dan kerja sama.
Hubungan manusia dengan dawai pintar (smartphone) adalah
contoh yang paling kasat mata dan kasat rasa, bahwa hubungan
yang konstan dapat mencabut manusia dari salah satu aset
terpenting dalam kehidupan yaitu waktu untuk berhenti,
berefleksi, dan terlibat dalam perbincangan yang bermakna
sebagai seorang manusia.
Baik teknologi maupun disrupsi adalah kekuatan eksogen
dimana manusia tidak memiliki kendali terhadapnya. Manusia
secara keseluruhan bertanggung jawab untuk membimbing
evolusinya, dalam keputusan yang dibuat setiap harinya sebagai
warga negara, konsumen, dan investor. Sehingga masyarakat
harus memahami peluang dan kekuatan yang dimiliki untuk
membentuk Revolusi Industri 4.0 dan mengarahkannya menuju
masa depan yang mencerminkan tujuan dan nilai bersamanya
sebagai manusia. Namun untuk melakukan hal dimaksud perlu
dikembangkan pandangan bersama yang komprehensif dan glo-
bal tentang bagaimana teknologi memengaruhi kehidupan dan
membentuk kembali lingkungan ekonomi, sosial, budaya, dan
manusia. Para pengambil keputusan hari ini terlalu sering terjebak
dalam pemikiran tradisional, linear, atau terlalu terserap oleh ber-
bagai krisis yang menuntut perhatian mereka, sehingga terhalang
untuk berpikir secara strategis tentang kekuatan dan inovasi yang
membentuk masa depan umat manusia.

206
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

Tantangan terbesar dari seorang manusia yang ditimbulkan


oleh teknologi informasi terkini adalah aspek privasi (privacy).
Manusia secara naluriah memahami mengapa aspek privasi (pri-
vacy) menjadi sangat penting, namun pada kenyataan hari ini
penelusuran, pengumpulan, penelisikan, dan analisis perilaku
dari berbagi informasi tentang manusia adalah bagian terpenting
dari konektivitas baru peradaban Big Data. Perdebatan tentang
permasalahan-permasalahan mendasar seperti dampak pada
kehidupan batin manusia dari hilangnya kendali atas data pribadi
terus akan meningkat di tahun-tahun mendatang. Belum lagi revo-
lusi yang terjadi dalam bioteknologi (bio-tech) dan kecerdasan
artifisial (artificial intelligent) dimana perlu mendefinisikan kembali
apa artinya menjadi manusia dengan mendorong kembali ambang
batas hidup, kesehatan, kognisi, dan kemampuan ragawi serta
indrawi saat ini, sehingga akan memaksa manusia untuk mende-
finisikan kembali batas moral dan etika. Moral dan etika secara
historikal adalah juga bagian utama dari pembahasan Teori
Hukum.
Teori Hukum memandang hukum yang ada dari sudut situasi
yuris, yakni orang-orang yang berurusan dengan undang-
undang, traktat-traktat, kontrak-kontrak, kebiasaan-kebiasaan,
praktek-praktek yuridikal, perikatan-perikatan dari semua jenis
dan peradilan.274 Titik berdiri dari mana Teori Hukum meneliti
hukum adalah titik berdiri orang dalam (insider), bukan dari or-
ang luar yang mempunyai kepentingan, sehingga dengan itu ia
membedakan diri dari disiplin-disiplin lain yang juga memilih

274 Bernard Arief Sidharta, Ilmu Hukum Indonesia: Upaya Pengembangan Ilmu
Hukum Sistematik yang Responsif terhadap Perubahan Masyarakat, Genta
Publishing, Yogyakarta, 2013, hlm. 69.

207
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

hukum sebagai obyek studinya seperti antara lain Filsafat, Sosiologi,


Ekonomi, Sejarah, Psikologi.
Teori Hukum mempelajari hukum dengan tujuan suatu
pemahaman yang lebih baik dan terutama lebih mendasar tentang
hukum, demi hukum, bukan demi suatu pemahaman dalam
hubungan-hubungan kemasyarakatan atau dalam kaidah-kaidah
etikal yang dianut dalam masyarakat atau dalam reaksi-reaksi
psikologikal dari suatu penduduk. Pemahaman ini tidak berarti
bahwa Teori Hukum langsung bertujuan untuk menyelesaikan
masalah-masalah konkret dengan memformulasikan kaidah-
kaidah “de lege ferenda” (hukum yang akan datang, ius consti-
tuendum) namun ia adalah bukan pembentuk undang-undang.
Memang benar bahwa mereka beranjak dari hal bahwa suatu
pengetahuan yang lebih mendalam tentang latar belakang dari
hukum dapat memberikan kontribusi pada suatu pengaturan
yuridikal yang lebih baik terhadap masalah-masalah kemasya-
rakatan. Seorang teoretisi hukum tidak akan pernah menjelaskan
bahwa karyanya tidak relevan bagi tatanan hukumnya dan
masalah-masalah yang diajukan di dalamnya. Pada akhirnya
bahwa pokok-telaah (onderwerp), tujuan dan peneliti sendiri,
sama seperti di dalam praktik hukum, disituasikan dalam suasana
hukum (rechtssfeer). Teori Hukum adalah sebuah cabang dari
Ilmu Hukum dan bukan ilmu bantu dari Ilmu Hukum.
Evolusi Teori Hukum di Indonesia memiliki pula alur perio-
desasi sebagaimana yang dimunculkan oleh revolusi industri. Alih
pengetahuan (transfer of knowledge) dari daratan Eropa dan
Amerika Serikat ke Indonesia tidak lepas dari peran para tokoh
pemikir hukum (prominent legal scholar) yang berkesempatan

208
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

langsung mempelajari teori-teori hukum di Belanda dan Amerika


Serikat. Terutamanya pemikiran dari Amerika Serikat menjadi
landasan dasar (platform) pemahaman Teori Hukum di dunia.
Calabresi secara menyakinkan menyampaikan sebagai berikut:275
“In the early days of this century, this approach focused on
sociology. Later, in a sort of renaissance during the New Deal,
it relied on rudimentary economics as well as on sociology,
and somewhat later yet, on psychology and psychoanalysis.
In its amazingly successful 1960s ‘rediscovery’, which for a
while threatened, foolishly, to dominate all of U.S. law, it con-
centrated on quite sophisticated economic insights. Today,
while the New (1960s) Economic Analysis of Law (if some-
what less vainglorious than at earlier times) remains alive and
well, so do Law and Philosophy, Law and Psychoanalysis,
Law and History, Law and Literature, and any number of other
permutations and combinations of the ‘Law and...’ theme.”

Bahkan beberapa tokoh pemikir hukum Indonesia dimaksud


bertemu dan menjadi mahasiswa dari tokoh-tokoh teori hukum
dimaksud. Salah satu tokoh pemikir hukum Indonesia adalah
Mochtar Kusumaatmadja yang berkesempatan memperoleh alih
pengetahuan dari Harvard Law School dan Yale Law School
Amerika Serikat. Teori Hukum Pembangunan yang dikenal
sebagai respon antisipatif terhadap variabel pembangunan di
tahun 1970-an merupakan karya paripurna (masterpiece of mind)
dari Mochtar Kusumaatmadja.

275 Guido Calabresi, “An Introduction to Legal Thought: Four Approaches to Law
and to the Allocation of Body Parts”, (2003), Stanford Law Review, Vol. 55,
hlm. 2112-2113.

209
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Lili Rasjidi telah membuka tabir Teori Hukum Pembangunan,


bahwa sepanjang yang Beliau ikuti dari Mochtar Kusumaatmadja
maka pemikiran dimaksud dapat dibedakan dalam dua fase
perkembangan.276 Fase Pertama, terjadi antara kurun waktu 1970-
an sampai dengan sekitar tahun 1990-an, pemikiran Mochtar
Kusumaatmadja dapat ditelusuri dari buku-buku kecil yang
berasal dari berbagai kertas kerja yang dicetak Lembaga Penelitian
Hukum dan Kriminologi Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran
serta disebarluaskan oleh Penerbit Binacipta Bandung dan
kemudian dikompilasi menjadi buku dengan judul Konsep-
konsep Hukum dalam Pembangunan oleh Editor HR Otje
Salman dan Eddy Damian, diterbitkan pertama kali oleh Alumni
pada tahun 2002.277
Fase Kedua, diawali ketika Mochtar Kusumaatmadja mulai
tertarik mengkaji dan memasukkan wacana Pancasila ke dalam
pandangan-pandangan teoretisnya di bidang hukum dan mulai
mendasarkan pemikirannya pada khazanah budaya lokal.278 Lili
Rasjidi memahami bahwa Mochtar Kusumaatmadja sudah
beranjak dari posisinya sebagai ilmuwan hukum dan mencoba
memasuki wilayah kajian filsafat hukum.279
Penyatuan keterhubungan (interplay) antara pemikiran Fase
Kesatu dan Fase Kedua dari Mochtar Kusumaatmadja adalah
kemampuan pikir unggul Beliau untuk merepresentasikan teori-

276 Lili Rasjidi, Fase Kedua Perjalanan Teori Hukum Pembangunan, sebagaimana
dimuat dalam Mochtar Kusuma-Atmadja dan Teori Hukum Pembangunan:
Eksistensi dan Implikasi, Editor Shidarta, Epistema Institute, Jakarta, 2012, hlm.
122.
277 Id.
278 Id.
279 Ibid, hlm. 123.

210
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

teori hukum global dengan kondisi faktual bangsa Indonesia,


dengan nilai dan konseptualiasi pemikiran Pancasila. Pemikiran
Fase Kesatu merupakan hasil konvergensi pemikiran-pemikiran
besar yang sudah teruji di daratan Eropa dan Amerika Serikat.
Hukum adalah yang meliputi asas-asas dan kaidah serta meliputi
lembaga serta proses-proses yang mewujudkan hukum ke dalam
kenyataan kehidupan masyarakat.280
Romli Atmasasmita berpendapat bahwa Mochtar
Kusumaatmadja telah berhasil bukan hanya membuat definisi
tentang hukum melainkan berhasil menemukan apa yang dimak-
sud dengan konsep hukum dalam pengertian yang dinamis
280 Lihat Lili Rasjidi dan Ira Thania Rasjidi, Dasar-Dasar Filsafat dan Teori Hukum,
Citra Aditya Bakti, Bandung, 2007 dan HR Otje Salman S dan Anton F. Susanto,
Teori Hukum: Mengingat, Mengumpulkan dan Membuka Kembali, Refika
Aditama, Bandung, 2004, bahwa:
1. Konsep “asas” bersumberkan pemikiran dari Mazhab Hukum Alam
dengan tokoh-tokohnya yaitu Thomas Aquinas, Dante, dan Hugo Grotius
bahwa hukum itu berlaku universal dan abadi yang direfleksikan dengan
asas dan prinsip.
2. Konsep “kaidah” bersumberkan pemikiran dari Mazhab Positivisme
Hukum dan Legisme dengan tokoh-tokohnya yaitu Jellinek, Hans Kelsen,
dan John Austin bahwa hukum adalah perintah (command), kewajiban,
sanksi sebagaimana dimuat dalam peraturan perundang-undangan oleh
yang memiliki kekuasaan (negara).
3. Konsep “lembaga” bersumberkan pemikiran dari Mazhab Sejarah dengan
tokoh-tokohnya yaitu Carl von Savigny dan Puchta bahwa hukum adalah
jiwa bangsa (volkgeist) yang berbeda-beda menurut waktu dan tempatnya,
serta bersumber pada pergaulan hidup manusia dari masa ke masa (sejarah)
tercermin melalui perilaku semua individu kepada masyarakat yang mod-
ern dan kompleks dimana kesadaran hukum rakyat itu tampak pada apa
yang diucapkan oleh para ahli hukumnya (doktrin).
4. Konsep “proses” bersumberkan pemikiran dari Mazhab Sociological Ju-
risprudence dengan tokoh-tokohnya yaitu Roscoe Pound, Eugen Ehrlich,
Benjamin Cardozo bahwa hukum yang baik adalah hukum yang sesuai
dengan hukum yang hidup di dalam masyarakat. Selain juga bersumberkan
pemikiran dari Mazhab Pragmatic Legal Realism dengan tokoh-tokohnya
Oliver Wendell Homes, Karl Llewellyn dan juga Roscoe Pound, bahwa
hukum itu merupakan “a tool of social enginnering” dan memahami
pentingnya rasio atau akal sebagai sumber hukum.

211
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

(dynamic system of norms) yang meliputi keempat unsur-unsur


di atas sebagai suatu rangkaian yang berhubungan satu sama
lain dan selalu dalam keadaan dinamis (bergerak).281 Romli
melalui Teori Hukum Integratif berupaya memberikan pence-
rahan mengenai relevansi dan arti penting hukum dalam kehi-
dupan manusia Indonesia dan mencerminkan bahwa hukum
sebagai sistem yang mengatur kehidupan masyarakat tidak dapat
dipisahkan dari kultur dan karakter masyarakatnya serta letak
geografis lingkungannya serta pandangan hidup masyarakat.282
Teori Hukum Integratif harus dipahami dalam pengertian yang
dinamis, tidak bersifat status quo, dan pasif, melainkan hukum
memiliki mobilitas fungsi dan peranannya secara aktif sesuai
dengan perkembangan keadaan masyarakat nasional dan
internasional dari waktu ke waktu.283
Perdebatan panjang tanpa jawaban adalah apakah yang
menjadi manfaat mempelajari Teori Hukum. Tidak perlu dikotomi
mutlak antar teori hukum dan praktik hukum, karenanya kedua-
nya memiliki asal-usul yang identik dan luaran yang yang tidak
berbeda. Sebagaimana yang dikutip oleh Sudikno Mertokusumo,
pemahaman secara tegas namun bijak diungkap oleh Ian McLeod
bahwa pengetahuan teori hukum melengkapi para praktisi hukum
untuk lebih berhasil dalam karir profesinya. Pernyataan Ian
McLeod secara lengkapnya sebagai berikut:284

281 Romli Atmasasmita, Teori Hukum Integratif: Rekonstruksi terhadap Teori


Hukum Pembangunan dan Teori Hukum Progresif, Genta Publishing,
Yogyakarta, 2012, Hlm. 47.
282 Idem, Hlm. 97-98
283 Idem, Hlm. 98
284 Thomas Ian McLoud, Legal Theory, Macmillan, 1999, hlm. 9 sebagaimana
dimuat oleh Sudikno Mertokusumo, Teori Hukum, Edisi Revisi, Penerbit Cahaya
Atma Pustaka, Yogyakarta, 2012, hlm. 10.

212
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

“… the value of a knowledge of legal theory lies in the fact


that it provides a principled overview of law as a whole, which
enables practitioners to relate a large number of individual-
ized statements of legal doctrine to, and evaluate them in the
light of each other. Practitioners with a knowledge of legal
theory will be able to construct arguments, and counter op-
posing arguments, with more confidence, and with a greater
likelihood of success, than would otherwise be the case.”
(Dicetak tebal oleh Penulis)

Perlu dipahami bahwa Revolusi Industri 4.0 semuanya


bermuara pada orang-orang dan nilai-nilainya. Umat manusia
perlu membentuk masa depan yang berhasil bagi kita semua
dengan menyiapkan orang-orang terbaik dan memberdayakan
mereka. Dalam bentuknya yang paling pesimistis dan tidak
manusiawi, Revolusi Industri 4.0 mungkin memang memiliki
potensi untuk “me-robotisasi” kemanusiaan dan dengan demi-
kian mencabut kita dari hati dan jiwa kita. Namun “hanya” sebagai
pelengkap bagian-bagian terbaik dari sifat manusia — kreativitas,
empati, penatagunaan — itu juga dapat mengangkat manusia
menjadi kesadaran kolektif dan moral baru yang didasarkan pada
rasa takdir bersama.

213
Gambar 4: Revolusi Industri 4.0 dalam Aspek-Aspek Peradaban Manusia

214
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

A. KONVERGENSI TUJUAN HUKUM


DALAM REVOLUSI INDUSTRI 4.0
Menurut Cambridge Dictionary edisi 2017, istilah “revolusi
industri” pada awalnya didefinisikan sebagai: “[…] periode waktu
di mana pekerjaan mulai dilakukan lebih banyak oleh mesin di
pabrik daripada dengan tangan di rumah”. Kemajuan dalam sains
dan teknologi terus mendukung perkembangan industrialisasi di
seluruh dunia dan telah membantu membawa makna yang lebih
spesifik dan eksplisit untuk terminologi “revolusi industri” ini
selama bertahun-tahun (Belvedere et al., 2013). Meskipun masih
belum ada kesepakatan universal tentang apa yang merupakan
revolusi industri (Maynard, 2015), empat fase umum telah
diidentifikasi dari perspektif evolusi teknologi (National Academy
of Science and Engineering, 2013). Revolusi Industri 1.0 dianggap
sebagai salah satu kemajuan penting dalam kemanusiaan, yang
dimulai dengan menggunakan fasilitas manufaktur mekanis air
dan fasilitas tenaga uap sejak akhir abad ke-18. Revolusi Industri
2.0 terjadi pada awal abad ke-20 dengan ditandai penerapan
teknologi produksi massal bertenaga listrik dan melalui pembagian
kerja. Revolusi Industri 3.0 dimulai pada sekitar pertengahan
1970-an melalui otomatisasi manufaktur dengan mempopulerkan
teknologi elektronik dan teknologi informasi di pabrik-pabrik.
Ketiga revolusi industri dimaksud totalnya membutuhkan waktu
sekitar 200 tahun atau dua abad untuk berkembang. Namun
dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan meningkatnya
perhatian penelitian pada Internet of Things (IoT) (Atzori et al.,
2010) dan Cyber-Physical Systems (CPS) (Khaitan dan McCalley,
2015) maka industri, pemerintah dan masyarakat umum telah
memperhatikan kecenderungan ke arah “Revolusi Industri 4.0”

215
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

dan bertindak untuk mengambil manfaat dari apa yang dapat


diberikannya (Siemieniuch et al., 2015). Selain itu, menurut karya
sebelumnya (Liao et al., 2017), jumlah konferensi dan makalah
akademis yang terkait dengan “Industri 4.0” (satu upaya penelitian
signifikan dalam era Revolusi Industri Keempat) telah meningkat
secara bertahap, dari 2013 hingga 2015, sebanyak 12,6 kali dan
24,2 kali berturut-turut.285
Memaknai minat yang tumbuh dalam Revolusi Industri 4.0
di seluruh dunia maka muncul pertanyaan apakah dampak yang
dibawa dari Revolusi Industri 4.0 ke berbagai negara dan wilayah
terutamanya dalam konstruksi evolusi Teori Hukum. Teori Hukum
harus berupaya untuk memulihkan kesatuan antara aspek hukum
dan kenyataan kemasyarakatan, sekali lagi mempersatukan
keberbagaian yang ditata oleh ilmu-ilmu dan keharusan-
keharusan akademik ke dalam suatu gambaran menyeluruh yang
setia pada kebenaran. Teori Hukum dalam mencapai tujuan
dimaksud harus mengandalkan (memanfaatkan, merujuk pada)
ilmu-ilmu lainnya. Faktor-faktor pembentukan hukum yang
berdasarkan Teori Hukum harus menjelaskan hukum itu sendiri
dengan pokok-pokok telaah (obyek-obyek) dari ilmu-ilmu sebagai
berikut:286
1. Filsafat. Ilmu Filsafat adalah yang menentukan bagi kese-
luruhan tata-hukum adalah pandangan-pandangan funda-
mental tentang peranan dan tugas dari sebuah masyarakat
yang terorganisasi dan tempat manusia di dalamnya, khusus-
285 Laman diakses pada 17 Agustus 2018 yaitu http://www.scielo.br/scielo.php?
script=sci_arttext&pid=S0103-65132018000100401#B029.
286 Bernard Arief Sidharta, Ilmu Hukum Indonesia: Upaya Pengembangan Ilmu
Hukum Sistematik yang Responsif terhadap Perubahan Masyarakat, Genta
Publishing, Yogyakarta, 2013, hlm. 69.

216
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

nya filsafat-filsafat negara (anarkisme, liberalisme, cita-negara


hukum, sosialisme, totaliterisme), pandangan-pandangan
tentang bentuk-bentuk kekuasaan (demokrasi, otokrasi,
pemisahan kekuasaan, asas legalitas), pandangan-pandangan
tentang bentuk negara (unitarisme, federalisme, konfede-
ralisme), dan dalam kerangka itu filsafat-filsafat hukum spesifik
tentang peranan, landasan, sumber legitimitas dari hukum.
Pandangan-pandangan negara dan pandangan-pandangan
hukum ini sendiri berkiprah dalam filsafat-filsafat, gambaran-
gambaran dunia dan manusia yang lebih luas atau lebih
umum yang dalam suatu lingkungan kultur menentukan
semangat zaman.
2. Ilmu Etika. Ilmu Etika adalah bagaimana pandangan-
pandangan moral yang diterima dalam suatu masyarakat
tertentu tentang baik dan buruk, tentang apa yang seharusnya
dan yang tidak seharusnya, dan apa dari yang baik itu yang
seyogianya harus dilindungi dan dimajukan oleh hukum, apa
yang sebagai hal yang buruk yang seyogianya harus diken-
dalikan dan diperangi oleh hukum dalam mewujudkan
“nada-nada bawah yang menyertainya” (landasan moral,
ondertoon) dari hukum yang karenanya bahkan disebut juga
“hukum pra-yuridikal”.
3. Ilmu Sejarah. Tidak ada Teori Hukum yang dapat menga-
baikan untuk mempelajari dalam situasi kemasyarakatan apa
(politikal, kemiliteran, ekonomikal, kultural dan keagamaan)
lembaga-lembaga dan aturan-aturan hukum telah terbentuk.
Dalam suatu filsafat hukum yang memandang hukum sebagai
produk (resultante) dari perancangan yang disituasikan secara
historikal ditemui bahwa Sejarah menempati posisi sangat

217
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

penting yang sangat menonjol, bahkan menyebabkan peng-


gabungan atau pencakupan semuanya baik fakta-fakta
maupun gagasan-gagasan.
4. Sosiologi. Bahan-bahan terberi demografikal, akibat-akibat
dari keterberian-keterberian tersebut, diferensiasi dalam
pelapisan sosial, pembentukan kelompok, sebab-sebab dan
motif-motif perilaku sosial, interaksi di antara individu-individu
dan kelompok-kelompok dan antara lain perimbangan
kekuasaan adalah obyek-obyek telaah dari Sosiologi, yaitu
untuk memahami dan menjelaskan hukum sebagai gejala
sosial adalah sangat penting.
5. Politik. Ilmu Politik menggabungkan diri padanya dengan
studi-studi tentang semua hal yang berkaitan dengan pere-
butan (verovering), penggunaan dan dampak-dampak
kekuasaan memutuskan kebijakan (beleidsmacht, policy
power) dalam suatu masyarakat yang terorganisasi. Politik
yang secara langsung terarah pada penataan ulang yuridikal
(juridische hervorming) bagi Teori Hukum mempunyai arti
penting secara langsung.
6. Psikologi Sosial. Ilmu Psikologi Sosial dengan penelitiannya
atas perilaku manusia dalam konteks kemasyarakatan, baik
antar-manusia maupun berkenaan dengan lembaga-lembaga
dan kelompok-kelompok dan bentuk-bentuk pengung-
kapannya (penampilannya) di dalam masyarakat.
7. Ekonomi. Ilmu Ekonomi sangat menentukan sebagai faktor-
faktor pembentukan hukum secara hakikat terkait hal mem-
peroleh dan pembagian barang-barang dalam suatu masya-
rakat yang memandang kepentingan material sebagai tema
utama dari kegiatan politikalnya (juga dalam apa yang

218
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

dinamakan sektor sosial). Hukum tidak dapat dijelaskan tanpa


masukan (kontribusi) dari Ilmu Ekonomi.
8. Antropologi Budaya. Ilmu Antropologi Budaya yang mem-
pelajari kultur-kultur dalam semua aspek mereka, struktur
sosial, perkerabatan, organisasi-organisasi politik, teknik,
ekonomi, religi, dan lain-lain, bagi teoretisi hukum adalah
sangat penting. Antropologi Budaya mensituasikan hukum
sebagai suatu aspek dari kultur dalam perkaitan yang umum.
Dalam arti aslinya dari Etnologi, ia memberikan informasi
tentang peradaban dari bangsa-bangsa non-barat yang
dengan mereka harus diciptakan komunikasi yuridikal yang
erat, seperti pembentukan hukum nasional Indonesia akan
ikut ditentukan oleh hal itu.
9. Teknologi. Evolusi bahkan revolusi Teori Hukum tidak hanya
memiliki karakter filosofis, historis, humanis, sosiologis, psi-
kologis, bahkan ekonomis namun sudah mengarah kepada
teknologis. Ternyata yang dapat mengantisipasi permasa-
lahan yang muncul akibat pemanfaatan teknologi adalah
sistem hukum, bukan teknologinya itu sendiri. Gregory N.
Mandel memberikan ketegasan hal dimaksud sebelum
membahas uraian pemikirannya dalam History Lessons for a
General Theory of Law and Technology bahwa “The mar-
vels of technological advance are not always risk- free. Such
risks and perceived risks often create new issues and disputes
to which the legal system must respond.”287

287 Gregory N. Mandel, History Lessons for a General Theory of Law and Tech-
nology, Minnesota Journal of Law in Science and Technology, Vol. 8:2, 2007,
Hlm. 551.

219
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Tujuan hukum di Indonesia yang berdasarkan Cita-hukum


Pancasila adalah mewujudkan pengayoman bagi manusia yaitu
melindungi manusia secara pasif dengan mencegah tindakan
sewenang-wenang, dan melindungi secara aktif dengan mencip-
takan kondisi kemasyarakatan yang manusiawi yang memung-
kinkan proses kemasyarakatan berlangsung secara wajar sehingga
secara adil tiap manusia memperoleh kesempatan yang luas dan
sama untuk mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya
secara utuh.288 Termasuk dalam rumusan dimaksud adalah tujuan
untuk memelihara dan mengembangkan “budi pekerti kema-
nusiaan serta cita-cita moral rakyat yang luhur berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa”, dimana pelaksanaan pencapaian
tujuan hukum itu dilaksanakan dengan upaya mewujudkan
ketertiban dan keteraturan yang memunculkan prediktabilitas;
kedamaian yang berketenteraman; keadilan (distributif, komu-
tatif, vindikatif, protektif); kesejahteraan dan keadilan sosial; dan
pembinaan akhlak luhur berdasarkan Ketuhanan Yang Maha
Esa.
Mazhab, aliran dan teori hukum beserta tokohnya dari tahun
1960-an sampai dengan tahun 2000-an (post modern) atau
milenial dapat diilustrasikan dengan periodisasi Revolusi Industri
adalah sebagaimana tabel berikut ini:289

288 Teori Hukum Pembangunan dikembangkan di Universitas Padjadjaran; Studi


Hukum Kritis oleh ESLAM dengan tokohnya Soetandyo Wignjosubroto dan
Ifdal Kasim; dan Cita Hukum Pancasila atau Filsafat Hukum Pancasila di Uni-
versitas Parahnyangan Bandung.
289 Sumber: Marett Leiboff dan Mark Thomas, Legal Theories in Principle, Law-
book Co, New South Wales, 2004, hlm. 15, Lihat Mochtar Kusumaatmadja,
Konsep-Konsep Hukum dalam Pembangunan, Pusat Studi Wawasan
Nusantara, Hukum dan Pembangunan bekerjasama dengan Penerbit PT.
Alumni, Bandung, 2006 yang memuat pemikiran-pemikirannya yaitu Fungsi
dan Perkembangan Hukum dalam Pembangunan Nasional; dan Hukum,

220
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

Tabel 6: Mazhab, Aliran dan Teori Hukum


beserta Tokohnya dalam Periodisasi Revolusi Industri
dari tahun1960-an sampai dengan tahun 2000-an (post modern-milineal)

Tahun 1960-1970 1970-1990 1990-2010 2010>

Revolusi III III III dan IV IV


Industri 1969-2010 1969-2010 1969-2010 2010-2018

Wilayah Inggris dan Amerika Serikat, Inggris, Indonesia, Australia


Amerika Serikat

Tokoh HART POSNER POSNER


Fuller Unger Unger
Kelsen HART HART
Mochtar Mochtar
KUSUMAATMADJA KUSUMAATMADJA
Finnis Finnis
Dworkin Neo-Modern
Rawls

Teori HART: Neo- POSNER: The POSNER: The Economic


Hukum Positivis Economic Analysis of Analysis of Law
(revived/new- Law
positivism) Unger: The Critical Legal
Unger: The Critical Studies
Fuller: Teori Legal Studies
Hukum Alam HART: Neo-Positivis (revived/
Baru (New HART: Neo-Positivis neo-positivism)
Natural Law) (revived/new-
positivism) Mochtar KUSUMAATMADJA:
Kelsen: Teori Teori Hukum Pembangunan
Hukum Murni Mochtar
(new conceptu- KUSUMAATMADJA: Satjipto RAHARDJO: Teori
Teori Hukum Hukum Progresif
Pembangunan
Romli ATMASASMITA: Teori
Finnis: Neo-Natural Hukum Integratif
Law
Danrivanto BUDHIJANTO:
Teori Hukum Konvergensi

Masyarakat, dan Pembinaan Hukum Nasional: Suatu Uraian tentang Landasan


Pikiran, Pola dan Mekanisme Pembaharuan Hukum di Indonesia. Lihat pula
Gary Minda, “The Jurisprudential Movements of the 1980’s”, Ohio State Jour-
nal, 1989.

221
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

1. Konsepsi Keadilan
Di samping analisis atas pengertian-pengertian teknikal yuridik
(konsep yuridik), juga analisis atas pengertian-pengertian dan
konsep-konsep dalam Teori Hukum dan Filsafat Hukum dapat
sangat produktif dan menjernihkan. Di sini suatu konfrontasi
dengan teknik hukum adalah dengan Dogmatika Hukum yaitu
antara hukum positif dan dengan praktik hukum, terutama akan
merupakan metode yang paling disarankan bagi teoretisi hukum
untuk menampilkan pengertian-pengertian secara lebih tajam dan
menguji kegunaan mereka.
Beberapa pengertian, seperti “keadilan” (rechtvaardigheid
atau gerechtigheid) telah menjadi sebab yang menghadirkan suatu
kepustakaan yang melimpah. Analisis-analisis atas pengertian
persamaan (gelijkheidsbegrip) juga di sini terkait erat padanya,
seperti “kebebasan”, “kepastian hukum”, “kelayakan” (billijkheid),
“negara hukum” (rule of law). Kepustakaan yang dicurahkan
pada pengertian-pengertian ini tidak cukup diberikan perhatian
pada suatu analisis yang cermat dan uraian pengertian (begrip-
somschrijving) atas pengertian-pengertian yang dipersoalkan. Di
sini juga terdapat lagi suatu ruang yang terbuka untuk penelitian
bidang Teori Hukum.
Hal dimaksud lebih berlaku lagi untuk analisis atas pengertian-
pengertian seperti “hakikat dari urusan atau ihwalnya” (de aard
van de zaak), “itikad baik”, “penyalahgunaan hak”, “rechts-
verwerking” (pelepasan hak), “kesadaran hukum”, “perasaan
hukum”, “kemauan negara” (staatswil). Mazhab, aliran dan teori
hukum beserta tokohnya terkait tujuan hukum keadilan dapat
diilustrasikan dengan periodisasi Revolusi Industri adalah

222
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

sebagaimana tabel berikut ini:290

Tabel 7: Mazhab, Aliran dan Teori Hukum beserta Tokohnya dalam


Periodisasi Revolusi Industri dari tahun 1784 sampai dengan tahun 2018.

Revolusi I dan II III III dan IV IV


Industri 1784-1870 1969-2010 1969-2010 2010-2018

Wilayah Inggris, Jerman, Amerika Serikat, Amerika Serikat,


Ceko, Belanda Inggris, Indonesia Inggris, Indonesia

Tokoh John AUSTIN HART POSNER


Adolf MERKEL Fuller Unger
Karl KELSEN HART
BERGBOHM POSNER Mochtar
Ernst BIERLING Unger KUSUMAATMADJA
Rudolf HART Satjipto RAHARDJO
STAMMLER Mochtar KUSUMAATMADJA Romli ATMASASMITA
Felix SOMLO Finnis Danrivanto BUDHIJANTO
Paul SCHOLTEN Dworkin
Rawls

Teori Ajaran Hukum HART: Neo-Positivis (revived/ POSNER: The Economic


Hukum Umum new-positivism) Analysis of Law
Mazhab Analitik Fuller: Teori Hukum Alam Unger: The Critical Legal
(analytical Baru (New Natural Law) Studies
jurisprudence) HART: Neo-Positivis
Hermeneutik Kelsen:
Teori Hukum Murni (revived/neo-positivism)
(new conceptualism) Mochtar
POSNER: The Economic KUSUMAATMADJA:
Analysis of Law Teori Hukum
Pembangunan
Unger:
The Critical Legal Studies Satjipto RAHARDJO: Teori
Hukum Progresif
HART: Neo-Positivis (revived/
new-positivism) Romli ATMASASMITA:
Teori Hukum Integratif
Mochtar KUSUMAATMADJA:
Teori Hukum Pembangunan Danrivanto BUDHIJANTO:
Teori Hukum Konvergensi
Finnis: Neo-Natural Law

290 Sumber: Marett Leiboff dan Mark Thomas, Legal Theories in Principle, Law-
book Co, New South Wales, 2004, hlm. 15, Lihat Mochtar Kusumaatmadja,
Konsep-Konsep Hukum dalam Pembangunan, Pusat Studi Wawasan
Nusantara, Hukum dan Pembangunan bekerjasama dengan Penerbit PT.

223
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Plato berusaha untuk memulihkan kembali, sejauh mungkin,


analogi tradisional antara keadilan dan kosmos yang tertib.
Keadilan (justice), atau tindakan yang benar, tidak dapat
diidentikkan dengan hanya kepatuhan pada aturan aturan
hukum, juga suatu kehidupan moral yang sejati tidak dapat
direduksikan menjadi sekedar konformitas pada suatu katalog
kewajiban kewajiban konvensional. Kewajiban melibatkan
(berkaitan dengan) suatu pengetahuan tentang apa yang baik bagi
manusia, dan hal ini bertalian erat dengan sifat manusia.
Pertanyaan “Apa keadilan itu?” mendominasi karya Plato yang
berjudul Republic. Plato memahami keadilan sebagai suatu ciri
dari sifat (watak) manusia yang mengkoordinasi dan membatasi
berbagai elemen dari psike manusia pada lingkungannya yang
tepat (proper spheres), agar memungkinkan manusia dalam
keutuhannya berfungsi dengan baik.
Untuk dapat memahami bekerjanya keadilan di dalam jiwa
manusia, Plato menelaah sifat manusia dalam konteks yang luas,
dalam kerangka negara kota (polis). Negara akan berfungsi baik
jika diperintah oleh orang yang memahami seni pemerintahan
(art of government), dan penerapan seni ini memerlukan pema-
haman yang mendalam (insight) secara positif tentang Yang Baik
(the Good). Di dalam suatu masyarakat yang adil, setiap warga
menjalankan peran yang ia paling mampu melaksanakannya
demi kebaikan dari keseluruhan. Demikian juga halnya, di dalam

Alumni, Bandung, 2006 yang memuat pemikiran-pemikirannya yaitu Fungsi


dan Perkembangan Hukum dalam Pembangunan Nasional; dan Hukum,
Masyarakat, dan Pembinaan Hukum Nasional: Suatu Uraian tentang Landasan
Pikiran, Pola dan Mekanisme Pembaharuan Hukum di Indonesia. Lihat pula
Gary Minda, “The Jurisprudential Movements of the 1980’s”, Ohio State Jour-
nal, 1989.

224
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

moral ekonomi dari kehidupan pribadi, keadilan menang


(mengemuka) jika akal menang dan selera serta nafsu rendah
diletakkan pada tempatnya yang sesuai. Suatu tertib sosial yang
adil tercapai sejauh akal dan asas asas rasional mengatur
kehidupan para anggotanya.
Tekanan Plato pada akal mempengaruhi definisinya tentang
hukum. Hukum adalah pikiran yang masuk akal atau pikiran
hasil penalaran (reasoned thought, logismos, pikiran terargu-
mentasi) yang dirumuskan dalam keputusan negara (Laws, 644d).
Plato menolak pandangan bahwa otoritas dari hukum bertumpu
semata mata hanya pada kemauan dari kekuasaan yang meme-
rintah (governing power). Buku yang berjudul Laws berisi suatu
uraian yang terinci tentang berbagai cabang dari hukum dan
merupakan suatu percobaan untuk merumuskan suatu sistem
aturan aturan untuk memerintah keseluruhan kehidupan sosial.
Berbeda secara kontras dengan konsep polis yang ideal seperti
yang dipaparkan dalam karya berjudul “Republic”. yang di
dalamnya tidak diperlukan adanya perundang undangan yang
terinci, di dalam “Laws”, Plato menerima “aturan hukum dan
ketertiban, yang merupakan yang terbaik kedua” (Laws 875d).
Manusia sepanjang peradabannya telah mengenal hukum
sebagai suatu himpunan kaidah-kaidah yang bersifat maksa atau
dengan perkataan lain suatu himpunan peraturan-peraturan yang
bersifat memaksa. Peraturan-peraturan itu dibuat untuk melin-
dungi kepentingan-kepentingan manusia pada saat melakukan
hubungan dengan sesamanya dalam pergaulan hidup. Selain
hukum sebagai suatu himpunan peraturan, maka terdapat pula
cita-cita mengenai hukum yang tumbuh dan berkembang

225
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

sedemikian kuat dan mendalam sehingga dalam perasaan dan


percakapan sehari-hari telah berubah menjadi suatu tuntutan
hukum yang diakui dan dipertahankan.291
Anjuran bagi penguasa untuk tidak menyelundupkan
kepentingan-kepentingan mereka atau kelompoknya dalam
bentuk peraturan-peraturan formal yang dapat dikeluarkan
berdasarkan wewenang yang dimilikinya, merupakan suatu
anjuran moral atau rasa susila yang seyogyanya senantiasa ada
pada batin mereka. Kaidah moral atau kesusilaan hanya
menimbulkan kewajiban-kewajiban daripada hak kepada orang-
orang yang diharapkan memenuhi anjuran yang menjadi
peraturan dalam nurani mereka, sehingga jika penguasa tersebut
akan memandang moral atau rasa susila tersebut sebagai hak
orang lain (dalam hal ini rakyat dan masyarakat bangsa), maka ia
akan meninggalkan upaya penyelundupan hukum-demi kepen-
tingan mereka yang berkedok hukum formal-dan membuat
peraturan-peraturan yang berorientasi kepada kepentingan rakyat
banyak.
Hukum menetapkan kode moral (moral code) yang lazim
atau dilakukan dalam berbagai hubungan sosial dan fungsi sosial
manusia atau suatu moralitas hukum yang spesifik, yang terdiri
dari pencerminan pendapat-pendapat moral yang terdapat dalam
masyarakat pada umumnya dan yang harus dikembangkan
dalam praktik di bidang hukum, termasuk penerbitan peraturan-
peraturan oleh penguasa yang memiliki wewenang untuk itu.

291 Van Kan dan J.H. Beekhuis, Pengantar Ilmu Hukum, Ghalia Indonesia, Jakarta,
1990.

226
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

Akhirnya, hukum sebagai keseluruhan dapat dilihat sebagai


penggabungan moralitas/keadilan sosial, terhadap mana individu-
individu, kelompok-kelompok atau organisasi pemerintah harus
senantiasa mengorientasikan tingkah lakunya. Memahamai
bahwa tuntutan masyarakat dapat sangat berbeda dengan
pembuat hukum, maka konsepsi-konsepsi mengenai kewajaran
sosial, politik, ekonomi, dan khususnya kewajaran hukum, seperti
yang tercantum dalam hukum harus merupakan perwujudan
moralitas sosial.
Selanjutnya, berdasarkan keyakinan bahwa hukum merupa-
kan penggabungan moralitas sosial maka perlu pengujian seder-
hana mengenai efektivitas pemberlakuan produk perundang-
undangan dalam masyarakat dengan menggunakan 3 (tiga) alat
uji yaitu: substansi hukum (legal substance) , struktur hukum (le-
gal structure) dan budaya hukum (legal culture). Asumsi yang
mendasari tema ini ialah bahwa hukum bisa, atau, seringkali ber-
tentangan dengan moralitas atau keadilan sosial. Hal ini menim-
bulkan pertanyaan: bagaimana serta dalam kondisi mana hukum-
sebagai perangkat paling khas dalam masyarakat modern untuk
menciptakan tata kehidupan masyarakat dan melaksanakan
kebijakan-dapat dipakai untuk tujuan keadilan sosial.
Karl Marx dalam pendekatan analisisnya terhadap pem-
buatan undang-undang didapatkan ciri-ciri kekuasaan hukum
dalam masyarakat kapitalis, yaitu wataknya yang palsu, dimana
keinginan atau kenyataan yang ada dalam masyarakat dirumus-
kan berdasarkan keinginan-keinginan pihak yang berkepentingan
melalui baju rasionalitas hukum formal dan dengan cara seperti
itu kekuasaan hukum dinyatakan berlaku. Tetapi apabila

227
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

kepentingan-kepentingan kelas terbentur asas-asas hukum yang


telah ditegakkan, maka dibuatlah pengecualian-pengecualian
dan terjadilah penyimpangan dari asas-asas hukum tersebut yang
dibuat dalam bentuk yang (seolah-olah) formal juga, yang menurut
Marx disebut sebagai ketidakjujuran kelas yang berkuasa
terhadap hukum.292
Gambaran Marx seperti itu ternyata terjadi pula di Indonesia
terutama di masa Orde Baru, hukum yang diwujudkan dalam
bentuk peraturan perundang-undangan dengan sangat mudah
diputarbalikkan oleh penguasa (pemerintah) demi mengamankan
kepentingan-kepentingan mereka. Mereka yang membuat pera-
turan, mereka pula yang paling pertama melakukan pelanggaran
atau membuat pengecualian-pengecualian. Secara teknis legal
formal, pengaturan-pengaturan yang dibuat oleh penguasa
kadang-kadang terlihat sangat valid dalam materinya, namun
acapkali substansi materi peraturan tersebut ternyata hanya untuk
melindungi kepentingan-kepentingan penguasa atau pihak yang
berada dibelakangnya.
Terjadi penyelelundupan-penyelundupan kepentingan yang
terjadi pada penerapan hukum, sehingga yang muncul pada
materi perundang-undangan tampak dari luar sah dan valid
namun dilihat dari segi substansinya terlihat sangat immoral, artinya
seringkali merupakan perwujud penipuan-penipuan terhadap
rakyat dan bangsa Indonesia.
Sistem atau struktur hukum Indonesia yang merupakan
warisan sistem hukum Belanda, berangkat dari pemikiran-

292 A.A.G. Peters dan Koesriani Siswosoebroto, Hukum dan Perkembangan Sosial,
Buku I, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1988.

228
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

pemikiran Eropa Kontinental dimana Positivisme mengalir sangat


kuat, hukum diwujudkan lebih kepada perangkat aturan-aturan
tertulis dan acapkali mengabaikan sumber-sumber hukum lain
seperti adat-istiadat, kebiasaan dan yurisprudensi yang lebih
banyak merupakan perwujudan rasa keadilan yang tumbuh dan
berkembang dalam masyarakat.
Bernard Arief Sidharta berpendapat bahwa sistem hukum
Eropa Kontinental hanya dapat berlaku efektif dan efisien pada
masyarakat-masyarakat yang telah memiliki kesadaran atau
mental hukum (legal culture) yang sangat tinggi seperti pada
negara-negara yang telah maju, sementara di Indonesia dimana
pemerintah dan masyarakatnya belum sepenuhnya sadar akan
supremasi hukum tampaknya akan lebih cocok apabila diber-
lakukan sistem hukum yang dianut seperti pada negara-negara
Anglo Saxon, dimana hukum tercipta melalui kesadaran yang
tumbuh dan berkembang dalam masyarakat itu sendiri, yang
tidak melulu terpatok dalam buku-buku perundang-undangan
yang kaku.293
Kelemahan lain yang digambarkan oleh Bernard Arief
Sidharta bahwa asas tata urutan perundang-undangan (Tap MPRS
No. XX Tahun 1966) yang mengacu kepada teori stufenbau des
recht seringkali ternyata dalam pelaksanaannya di Indonesia
diputarbalikkan, seperti misalnya Keputusan-keputusan Presiden
yang seharusnya melaksanakan peraturan perundang-undangan
yang lebih tinggi ternyata acapkali menyimpang atau bahkan ber-

293 Bernard Arief Sidharta, Ilmu Hukum Indonesia: Upaya Pengembangan Ilmu
Hukum Sistematik yang Responsif terhadap Perubahan Masyarakat, Genta
Publishing, Yogyakarta, 2013, Hlm. 69.

229
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

tentangan dengan undang-undang yang seharusnya dipedo-


mani.294 Seringkali kita jumpai pula bentuk-bentuk peraturan
yang secara limitatif telah diatur, ternyata dalam kenyataannya
muncul bentuk-bentuk lain seperti Keputusan Bersama Menteri.
Berdasarkan shal-hal dimaksud, menurut Arief Sidharta bahwa
sudah saatnya Indonesia memikirkan perubahan-perubahan
secara mendasar pada sistem hukumnya, sehingga dapat secara
fleksibel mengakomodasi perubahan-perubahan materi
perundang-undangan seperti yang telah digambarkan di atas,
sehingga tidak akan ada lagi hujatan yang dialamatkan kepada
pemerintah bahwa selama ini ternyata tidak konsisten melak-
sanakan asas-asas yang berlaku umum dalam dunia ilmu hukum.
Hukum harus senantiasa berada dimuka, guna mengan-
tisipasi perubahan-perubahan mendasar yang sangat cepat
terjadi pada masyarakat sehingga permasalahan-permasalahan
yang berkembang di masyarakat akan segera mendapatkan
jawaban dan pemecahannya sedini dan sesegera mungkin, dan
jika kita merujuk kepada pendapat seorang penganut pragma-
tisme hukum dari Amerika Serikat yaitu Roscoe Pound dikatakan
bahwa hukum harus dijadikan sebagai alat pembaruan sosial (law
as a tool of social engineering).
Moralitas dalam hukum diinterpretasikan dalam berbagai
cara.295 Pertama, sebagai larangan atas perbuatan immoral yang
terdiri atas perbuatan-perbuatan yang mengakibatkan kerugian
pada orang-orang atau pada masyarakat, misalnya pencurian atau

294 Id.
295 Lihat Van Kan dan J.H. Beekhuis, Pengantar Ilmu Hukum, Ghalia Indonesia,
Jakarta, 1990 dan A.A.G. Peters dan Koesriani Siswosoebroto, Hukum dan
Perkembangan Sosial, Buku I, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1988.

230
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

pembakaran dan kegiatan yang tidak menimbulkan kerugian


seperti itu misalnya dalam hal pelarangan pelacuran dan
pelanggaran-pelanggaran lainnya dalam bidang moralitas seksual
dan kesusilaan umum.
Kedua, hukum menetapkan kode moral yang lazim dilaku-
kan dalam berbagai hubungan sosial dan fungsi sosial. Misalnya
hukum kontrak, mengharuskan cara-cara tertentu bagi pihak-
pihak yang terikat dalam hubungan-hubungan kontrak. Hukum
perburuhan berisi berbagai peraturan moral bagi interaksi antara
majikan dan buruh. Terdapat juga peraturan-peraturan yang
bersifat indisipliner bagi berbagai profesi penting, seperti misalnya
profesi-profesi dokter, ahli hukum dan wartawan.
Ketiga, terdapat suatu moralitas hukum yang spesifik, yang
terdiri dari pencerminan pendapat-pendapat moral yang terdapat
dalam masyarakat pada umumnya dan yang dikembangkan
dalam praktik di bidang hukum dan yang terikat dalam lembaga-
lembaga dan ajaran-ajaran hukum. Moralitas hukum ini merupa-
kan bidang khusus para ahli hukum dan para sarjana hukum.
Seringkali moralitas ini harus dilindungi terhadap pendapat
mayoritas dan terhadap kepentingan-kepentingan politik dan
sosial yang penting, misalnya, asas proses hukum yang wajar
dalam pengadilan-pengadilan terhadap teroris politik. Di sini kita
menjumpai peraturan-peraturan dan asas-asas hukum yang
spesifik bagi pemakaian dan pelaksanaan peraturan-peraturan
lainnya, seperti asas bahwa tidak seorangpun boleh dihukum
kecuali jika ia terbukti bersalah karena melanggar peraturan
hukum yang diumumkan dan diketahui sebelumnya, dan kecuali
jika ia telah diberi kesempatan untuk didengar dan untuk mem-
bela dirinya.

231
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Negara hukum formal adalah hasil perwujuduan masyarakat


dalam praktik, yang cenderung menjauhkan hukum dari keadilan.
Memang dalam masyarakat yang sedang mengalami krisis moral
yang sangat mendasar seperti di Indonesia, maka sebagaimana
yang dikemukakan oleh W. Friedmann bahwa semua nilai-nilai
dan asas-asas hukum yang sangat fundamental untuk mewu-
judkan keadilan justru dapat menjauhkan “hukum” dari keadilan
atau kebutuhan hukum riil masyarakat yang sesungguhnya.296

2. Konsepsi Kepastian Hukum


Joseph W. Bingham adalah salah seorang “realist” yang pertama
sebagaimana dimuat dalam karyanya “What is the Law?” (Michi-
gan Law Review, Vol.11, 1912, 1 25 and 109 121), Bingham
mengemukakan bahwa aturan hukum, seperti kaidah-kaidah
ilmiah, tidak mempunyai eksistensi independen, karena hanya
merupakan konstruksi-konstruksi mental yang dengan mudah
meringkaskan fakta-fakta partikular. Kaidah-kaidah hukum
sungguh sungguh adalah keputusan-keputusan yudisial, dan apa
yang disebut aturan-aturan atau asas asas termasuk dalam faktor-
faktor kausatif (secara mental) yang ada di belakang keputusan
itu. Nominalisme dan Behaviorisme ini, yang menjadi ciri khas
penulis penulis realist awal, dikritik oleh Morris R. Cohen (1880–
1947), hingga akhir akhir ini seorang dari sedikit filsuf akademis
di Amerika Serikat yang mempunyai perhatian pada filsafat hukum.
“Analisis perilaku” dipertahankan oleh Karl N. Llewllyn, yang
memperluas penerapan analisis itu melampaui perilaku yudisial

296 Lihat Van Kan dan J.H. Beekhuis, Pengantar Ilmu Hukum, Ghalia Indonesia,
Jakarta, 1990 dan A.A.G. Peters dan Koesriani Siswosoebroto, Hukum dan
Perkembangan Sosial, Buku I, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1988.

232
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

pada perilaku “pejabat” (Jurisprudence, Chicago, 1962; collected


papers).
Apa yang disebut mitos kepastian hukum diserang oleh
Jerome Frank (1889–1957) dalam karyanya “Law and the Mod-
ern Mind” (New York, 1930), yang menjelaskan sumber mitos
itu dalam peristilahan Freudian. Dalam edisi keenam (New York,
1949) Frank bersikap lebih ramah terhadap pemikiran hukum
alam, yang menandai perubahan sikapnya dari sikap “skeptisisme
aturan” pada awalnya menuju ke “skeptisisme fakta” (Courts on
Trial, Princeton, N.J. 1949). Realist penting lainnya meliputi
Thurman Arnold, Leon Green, Felix Cohen, Walter Nelles,
Herman Oliphant, dan Fred Rodell. Baik positivisme maupun
realisme, dua duanya diserang oleh Lon L. Fuller (Law in Quest
of Itself, Chicago, 1940), seorang eksponen pemikiran hukum
alam non Thomistik dari Amerika yang berpengaruh (The Moral-
ity of Law, New Haven, 1964). Hidup kembalinya (revival) doktrin
doktrin hukum alam adalah salah satu aspek yang sangat menarik
dalam perkembangan pemikiran hukum pada masa kini.
Kontribusi-kontribusi dan kritik-kritik mutakhir dapat ditemukan
di dalam majalah “The Natural Law Forum”.
William Twining dalam Globalisation and Legal Theory
mengemukakan bahwa perlu dilakukan kategorisasi teori-teori
hukum sesuai dengan zamannya sehingga sulit untuk menya-
takan bahwa suatu teori yang bersifat universal.297 Teori-teori yang
lahir pada abad ke-19 atau abad ke-20 karena latar belakangnya
berbeda memiliki pendekatan yang berbeda pula. Teori-teori

297 William Twining, Globalisation and Legal Theory, Butterworths, London, 2000,
hlm. 52-53.

233
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

yang lahir pada abad ke-21 akan dipengaruhi oleh tantangan


perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta globalisasi
di berbagai bidang akan sangat mewarnai teori-teori hukumnya.
Studi literatur menunjukkan bahwa Aliran Positivisme Hukum
atau Aliran Hukum Positif begitu kental mewarnai pemikiran-
pemikiran hukum pada abad ke-19 bahkan hingga abad ke-20.
Aliran Hukum Positif dipengaruhi oleh pemahaman sebelumnya
(Legisme) bahwa hukum identik dengan undang-undang dan
satu-satunya sumber hukum adalah undang-undang.298 Hukum
adalah perintah penguasa sebagaimana yang dikatakan John
Austin memiliki dimensi pemahaman bahwa penguasa adalah
mereka yang memegang kekuasaan tertinggi/kedaulatan sehingga
hukum mengandung di dalamnya suatu perintah, sanksi kewajib-
an dan kedaulatan (law is a command of lawgiver).299 Konse-
kuensi yang muncul adalah hukum harus berisikan aturan/keten-
tuan dalam berbentuk tertulis sebagai peraturan perundang-
undangan yang dibuat oleh penguasa berdasarkan kewenangan
yang dimilikinya melalui konstitusi (legislasi).
Teori Hukum Murni dari Hans Kelsen bahkan menyatakan
bahwa hukum perlu dibersihkan dari anasir-anasir (unsur) non-
yuridis seperti etis, sosiologis, politis termasuk kebiasaan yang
hidup dan berkembang dalam masyarakat (living law).300 Sehingga
semakin menguatkan pemahaman bahwa hukum adalah pera-

298 Lili Rasjidi dan Ira Thania Rasjidi, Dasar-Dasar Filsafat dan Teori Hukum, Citra
Aditya Bakti, Bandung, 2007, hlm. 56.
299 John Austin menggangap hukum sebagai suatu sistem yang logis, tetap dan
bersifat tertutup (closed logical system), hukum secara tegas tidak dapat
dipisahkan dari keadilan dan tidak didasarkan pada nilai-nilai yang baik atau
buruk.
300 Lihat Hans Kelsen, General Theory of Law & State, Transaction Publishers,
New Jersey, 2006.

234
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

turan perundang-undangan dan bukan termasuk hukum yang


tidak tertulis. Namun pada sisi yang lain dengan hukum harus
dalam bentuk tertulis maka dapat diwujudkan adanya kepastian
hukum (legal certainty) sehingga pada akhirnya dapat terhin-
darkan adanya kesewenang-wenangan dari penguasa.

3. Konsepsi Ketertiban
Aristoteles yang membahas hukum dalam berbagai konteks, tidak
pernah memberikan suatu definisi formal tentang hukum. Ia
menulis dengan cara yang berbeda beda bahwa hukum adalah
“suatu jenis ketertiban, dan hukum yang baik adalah ketertiban
yang baik” (Politics 1326a), “akal yang tidak dipengaruhi oleh
nafsu” (ibid. 1287a), dan “jalan tengah” (ibid. 1287b). Namun,
semuanya itu tidak dapat dianggap sebagai suatu definisi, melain-
kan sebagai ciri ciri (karakterisasi) hukum yang dimotivasi oleh
sesuatu yang mau dikemukakan oleh Aristoteles dalam konteks
tertentu.
Mengikuti pendapat Plato, Aristoteles menolak pandangan
kaum Sofis yang berpendapat bahwa hukum itu adalah hanya
konvensi saja. Di dalam suatu komunitas yang sejati –sebagaimana
yang dibedakan dari suatu aliansi, yang di dalamnya hukum
hanya sekadar suatu “covenant”– hukum berkaitan dengan keba-
jikan moral (moral virtue, keutamaan moral) dari para warga
masyarakat. Aristoteles secara tajam membedakan antara konsti-
tusi (politeia) dan aturan-aturan hukum (nomoi); konstitusi berkait-
an dengan organisasi jabatan-jabatan di dalam negara, sedangkan
aturan-aturan hukum adalah ketentuan-ketentuan yang berda-
sarkannya para pejabat harus menjalankan pengelolaan negara,

235
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

dan mengambil tindakan terhadap para pelanggarnya (ibid.


1289a). Konstitusi suatu negara dapat saja mengarah pada
demokrasi, walaupun kaidah-kaidah hukumnya diterapkan
dalam semangat oligarki dan sebaliknya (ibid. 1292b). Perundang
undangan seyogianya diarahkan untuk mewujudkan kepen-
tingan bersama (umum) dari para warganegara, dan keadilan –
yang pada dasarnya sama – seyogianya ditetapkan berdasarkan
standar kepentingan bersama (ibid. 1283a).
Namun Aristoteles mengakui bahwa hukum seringkali
merupakan ekspresi dari kemauan suatu kelas khusus (sekelom-
pok orang, a particular class), dan ia menekankan peranan kelas
menengah (middle class) sebagai suatu faktor stabilisasi.
Tampaknya Aristoteles mempunyai dua pertimbangan dalam
pikirannya. Pertama, pengambilan keputusan judisial itu bersifat
praktis – hal itu melibatkan pertimbangan– dan sebagai demikian
tidak dapat sepenuhnya ditentukan terlebih dahulu. Kedua,
penyelesaian isu-isu tentang fakta yang dipersoalkan dalam suatu
kasus tertentu, yang berdasarkannya keputusan itu tergantung,
tidak dapat diputuskan terlebih dahulu oleh perundang-
undangan. Penekanan pada ketidakcukupan dari aturan-aturan
umum ini berkaitan dengan pembahasan Aristoteles yang
berpengaruh tentang ekuitas (equity, epieikeia). Ekuitas adalah
adil (just), “tetapi bukan adil secara legal melainkan suatu koreksi
terhadap keadilan yang legal (legal justice)” (Nicomachean Ethics
1137b10).
Kadang-kadang Aristoteles tampak seperti mau mengemu-
kakan bahwa ekuitas berperan bila terdapat kekosongan di dalam
hukum, sehingga ia (ekuitas itu) berwujud dalam bentuk tindakan

236
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

hakim sebagaimana yang akan dilakukan oleh pembentuk


hukum (lawgiver) jika ia dihadapkan pada persoalan yang ber-
sangkutan. Namun ia juga tampak seperti mau mengemukakan
bahwa ekuitas mengkoreksi kekerasan (kekakuan, harshness) dari
hukum bila keputusan sesuai dengan aturan tertulis akan meng-
hasilkan suatu ketidakadilan. Dengan demikian, asas-asas ekuitas
berkaitan erat dengan kaidah-kaidah hukum universal yang tidak
tertulis “berdasarkan pada alam”, suatu “keadilan alamiah” (natural
justice) yang mengikat semua orang, bahkan juga mereka yang
tidak mempunyai asosiasi atau persetujuan antara satu dengan
lainnya. Namun, apa yang adil secara alamiah itu dapat berbeda
beda dari masyarakat ke masyarakat.

4. Konsepsi Kemanfaatan
Penetapan sebuah undang-undang, penutupan sebuah kontrak,
dan penyerahan (pengalihan, transfer) pemilikan atau hak-hak
lain dengan penggunaan perkataan-perkataan, tertulis atau lisan,
adalah contoh-contoh dari transaksi hukum (legal transaction)
yang telah dimungkinkan oleh adanya tipe-tipe aturan hukum
tertentu dan dapat didefinisikan dalam kerangka aturan-aturan
demikian. Bagi beberapa pemikir, transaksi-transaksi (tindakan
dalam hukum [act in the law] atau perbuatan hukum [juristic act])
yang demikian tampak misterius –beberapa orang bahkan telah
menyebut mereka “magical”– karena mereka mengakibatkan
perubahan kedudukan hukum para individu atau terciptanya atau
hapusnya undang-undang.
Karena, dalam hampir semua sistem hukum modern,
perubahan-perubahan demikian biasanya ditimbulkan dengan

237
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

penggunaan perkataan perkataan, tertulis atau lisan, tampaknya


seperti terdapat sejenis “legal alchemy” (kimia hukum, abra-
kadabra hukum). Tidaklah jelas bagaimana hanya sekedar
penggunaan ekspresi ekspresi seperti “dengan ini ditetapkan .....”,
“Saya dengan ini mewariskan ....”, atau “para pihak dengan ini
menyepakati ....” dapat menghasilkan perubahan-perubahan.
Dalam kenyataan, bentuk umum dari gejala ini bukanlah secara
eksklusif bidang hukum (not exclusively legal), namun secara
komparatif hanya baru akhir-akhir ini secara jelas diisolasi dan
dianalisis. Perkataan-perkataan dari suatu perjanjian biasa (prom-
ise) atau yang digunakan dalam suatu upacara pembabtisan untuk
memberi nama seorang anak jelas dapat dianalogikan dengan
tindakan-tindakan dalam bidang hukum. Para ahli hukum
kadang-kadang membedakan fungsi bahasa yang khas ini sebagai
penggunaan “perkataan-perkataan yang operatif” (operative
words), dan di bawah kategori ini telah membedakan, misalnya,
perkataan-perkataan yang digunakan dalam sebuah perjanjian
sewa menyewa (lease) untuk menciptakan hubungan sewa-
menyewa (tenancy) dari semata-mata bahasa deskriptif dari
penyebutan fakta-fakta mengenai para pihak dan kesepakatan
mereka.
Perkataan-perkataan (atau dalam hal-hal tertentu gerakan
tangan, seperti pemungutan suara atau bentuk-bentuk perilaku
lain) ditujukan untuk mempunyai efek operatif sehingga harus
ada aturan-aturan hukum yang menetapkan bahwa jika
perkataan-perkataan (atau gerakan gerakan) itu digunakan dalam
situasi yang tepat (sesuai, appropriate) oleh orang-orang yang
memiliki kualifikasi yang diperlukan untuk itu, maka aturan
hukum tertentu atau kedudukan para individu harus dianggap

238
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

telah berubah. Aturan-aturan yang demikian dapat dipandang


dari satu sudut pandang tertentu sebagai memberikan pada
bahasa yang digunakan sejenis kekuatan atau efek tertentu yang
dalam suatu pengertian yang luas merupakan arti dari mereka
(bahasa itu); dari sudut pandang yang lain mereka dapat dipan-
dang (dipersepsi) sebagai memberikan kepada para individu
kekuasaan hukum (legal power) untuk menciptakan (mengada-
kan) perubahan-perubahan hukum yang demikian.
Dalam Ilmu Hukum Kontinental diberikan pemahaman
bahwa aturan-aturan yang demikian biasanya disebut sebagai
“kaidah-kaidah kompetensi” (kaidah-kaidah kewenangan) untuk
membedakannya dari aturan aturan hukum yang lebih sederhana
yang hanya menetapkan kewajiban kewajiban dengan atau tanpa
hak-hak yang berkaitan dengannya. Sebagaimana yang sudah
diimplikasikan dalam ungkapan-ungkapan “acts in the law”
(tindakan dalam kerangka hukum, perbuatan hukum) dan “op-
erative words” (kata-kata operatif), terdapat kesamaan yang
penting antara eksekusi (pelaksanaan) transaksi-transaksi hukum
dan kasus-kasus tindakan manusia yang lebih jelas. Butir-butir
kesamaan ini adalah sangat penting dalam pemahaman tentang
apa yang sering tampaknya problematikal – relevansi keadaan
mental atau psikologik para pihak yang bersangkutan dengan
pembentukan atau keabsahan transaksi-transaksi yang demikian.
Dalam banyak hal aturan-aturan yang relevan menetapkan
bahwa sebuah transaksi adalah tidak sah atau sekurang-kurang-
nya terbuka kemungkinan untuk dikesampingkan berdasarkan
keadaan pihak-pihak jika pihak yang mengadakannya gila, keliru
mengenai hal tertentu, di bawah paksaan atau pengaruh di luar
batas (undue influent). Di sini terdapat suatu analogi yang penting

239
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

dengan cara-cara yang berdasarkan fakta-fakta psikologi yang


sama (mens rea) dapat, sesuai dengan asas-asas hukum pidana,
membebaskan seseorang dari pertanggungjawaban pidana untuk
tindakan-tindakannya. Dalam kedua lingkungan itu terdapat
eksepsi-eksepsi (pengecualian): dalam hukum pidana terdapat
beberapa kasus pertanggungjawaban “strict” (“strict” liability) di
mana unsur pengetahuan atau intensi (niat) tidak perlu dibuktikan;
dan dalam beberapa tipe transaksi, bukti bahwa seseorang
mengaitkan arti khusus pada perkataan-perkataan yang ia
gunakan atau keliru dalam beberapa hal dalam penggunaan
mereka tidak akan membatalkan (invalidate) transaksi tersebut,
sekurang-kurangnya terhadap pihak yang dengan itikad baik telah
mendasarkan diri pada transaksi itu.
Perhatian terhadap analogi analogi antara transaksi hukum
yang sah dan tindakan yang bertanggungjawab dan kondisi-
kondisi mental bahwa dalam hal yang satu (dapat) membatalkan
dan dalam hal lain dapat membebaskan dari pertanggungjawaban
ini dapat menjelaskan banyak pertentangan teoretikal yang kabur
tentang sifat (hakikat) transaksi hukum seperti kontrak. Demikian-
lah, menurut salah satu teori utama (teori “kehendak”, “will”
theory) sebuah kontrak menurut esensinya adalah suatu fakta
psikologikal yang kompleks – sesuatu yang muncul bila terjadi
suatu pertemuan pikiran (meeting of minds, consensus ad idem)
yang bersama sama “menghendaki” atau “menginginkan”
timbulnya (adanya) sejumlah hak dan kewajiban secara bertimbal
balik. Perkataan-perkataan yang digunakan, menurut teori ini,
adalah hanya bukti saja dari konsensus ini.
Teori rivalnya (teori “objektif”) berpendapat bahwa apa yang
menciptakan kontrak bukanlah suatu gejala psikologikal,

240
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

melainkan penggunaan secara aktual dari perkataan-perkataan


penawaran dan penerimaan, dan bahwa kecuali dalam hal-hal
khusus hukum semata-mata hanya memberikan akibat pada arti
yang biasa dari bahasa yang digunakan para pihak dan tidak
memperdulikan keadaan alam pikiran aktual mereka. Jelasnya,
tiap pihak pada pertentangan pendapat ini berpegangan erat pada
sesuatu yang penting tetapi terlalu melebih-lebihkannya. Memang
benar, seperti pada janji biasa, sebuah kontrak hukum tidak dibuat
oleh fakta fakta psikologikal. Sebuah kontrak, seperti sebuah janji
biasa, “dibuat” (diciptakan) tidak oleh adanya keadaan mental
tetapi oleh perkataan-perkataan (atau dalam beberapa hal oleh
perbuatan-perbuatan). Jika ia diciptakan secara verbal, maka ia
diciptakan dengan penggunaan operatif dari bahasa, dan terdapat
banyak aturan hukum yang tidak konsisten dengan gagasan
bahwa suatu consensus ad idem disyaratkan. Di lain pihak, hanya
karena penggunaan operatif dari bahasa adalah suatu jenis
tindakan, hukum dapat – dan dalam hampir semua sistem hukum
yang beradab berlaku – memperluas padanya suatu doktrin
tentang pertanggungjawaban atau validitas (keabsahan) yang
membuat unsur-unsur mental tertentu menjadi relevan.
Demikianlah sebuah kontrak, walaupun dibuat dengan
perkataan-perkataan, dapat batal atau dibatalkan jika salah satu
pihak gila, keliru dalam beberapa hal, atau ada di bawah tekanan
jiwa (under duress). Karena itu, kebenaran yang ada secara laten
di antara kesalahan-kesalahan teori “kemauan” dan teori
“objektif” dapat dipertemukan dalam suatu analisis yang
mengungkapkan secara eksplisit analogi antara transaksi transaksi
yang diciptakan dengan penggunaan bahasa secara operatif dan
tindakan tindakan yang bertanggungjawab.

241
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Sementara Kant dan para pengikutnya dapat dikatakan telah


mempertahankan suatu jenis pemikiran tentang hukum alam
(masih menganut suatu konsep hukum alam, walaupun berbeda
dari tipe pandangan Stoa dan Thomistik), Jeremy Bentham (1748–
1832) dan pengikut pengikutnya (terutama John Stuart Mill)
mengklaim menolak pemikiran yang demikian secara menye-
luruh. Pertama, David Hume (1711–1776) mengemukakan
bahwa distingsi (penilaian) moral tidak diderivasi dari akal (rea-
son); nafsu (passion), atau sentimen, adalah landasan paling akhir
dari penilaian moral (moral judgment). Keadilan berakar dalam
utilitas/kemanfaatan. Kedua, kriminolog dari Italia bernama Cesare
Beccaria (1738–1794), dalam karyanya “Of Crimes and Punish-
ments” (1764), melancarkan kritik yang sangat tajam tanpa tedeng
aling-aling terhadap institusi-institusi hukum pidana dan metoda
metoda penghukuman yang ada pada waktu itu. Standar penilai-
annya adalah apakah “kebahagiaan terbesar bagi jumlah
terbanyak” telah diwujudkan secara maksimal. Bentham
mengakui jasa Beccaria bagi perkembangan pemikirannya, dan
“asas utilitas” (asas manfaat) ini menjadi dasar dari berjilid-jilid
“codes” yang direncanakan Bentham. Namun, ia tidak meru-
muskan sifat (hakikat) dari hukum dengan referensi pada utilitas
atau manfaat. Di dalam karyanya “The Limits of Jurisprudence
Defined” (diterbitkan tahun 1945) Bentham merumuskan
undang-undang sebagai ekspresi dari “kemauan dari seorang
penguasa dalam suatu negara”.
Pandangan Bentham dimaksud yang cocok sekali untuk
menangani masalah masalah yang ditimbulkan oleh Revolusi
Industri di Inggris, adalah sangat penting dalam menghasilkan

242
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

pembaharuan hukum (legal reform). Pada tahun 1832, tahun dari


kematiannya, Reform Act telah diundangkan, terutama meru-
pakan hasil karya dari para pengikutnya. Karya Mill berjudul “On
Liberty” (1859) adalah suatu percobaan untuk membahas
pembatasan paksaan hukum (legal coercion) oleh negara dalam
kerangka (berdasarkan) pandangan utilitarian yang dimodifikasi.
Bentham dalam pemahaman filsafat hukum telah mempe-
ngaruhi dunia berbahasa Inggris terutama melalui pikiran John
Austin (1790–1859), tokoh penyebar benih (seminal figure) dalam
Legal Positivism dan Analitic Jurisprudence Inggeris dan Amerika.
Austin mencoba menemukan suatu demarkasi yang jelas batas-
batas dari hukum positif, yang dapat menjadi anteseden bagi suatu
“ilmu hukum umum” (general jurisprudence) yang meliputi
analisis dari “asas-asas, gagasan-gagasan, dan distingsi-distingsi”
seperti kewajiban, hak, dan hukuman, yang terdapat dalam setiap
sistem hukum; analisis-analisis ini pada gilirannya akan digunakan
dalam “ilmu hukum khusus” (particular jurisprudence), eksposisi
(pemaparan) secara sistematis dari suatu tata hukum tertentu.
Austin mulai dengan membedakan “law properly so called”
dan “law improperly so called”. Austin berpendapat bahwa “law
properly so called” adalah selalu “a species of command”, suatu
ekspresi dari suatu keinginan (wish) atau hasrat, secara analitik
dikaitkan dengan gagasan tentang kewajiban, pertanggung-
jawaban untuk menerima hukuman (atau sanksi), dan superioritas.
Austin terhadap “law improperly so called” sampai pada analisis-
nya tentang “kedaulatan” yang terkenal dan berpengaruh; “laws
strictly so called” (kaidah-kaidah hukum positif) adalah perintah-
perintah dari mereka yang secara politik berkedudukan lebih tinggi

243
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

(political superiors) kepada mereka yang secara politik


berkedudukan lebih rendah (political inferiors). Berdasarkan ini
disimpulkan bahwa Hukum Internasional adalah hanya “morali-
tas internasional positif” ketimbang hukum dalam arti yang sesung-
guhnya (law in a strict sense). (Beberapa penulis, memandang
hal ini sebagai suatu konsekuensi yang tidak menguntungkan
dan mungkin berbahaya, terdorong melakukan beberapa revisi
terhadap Austinianisme.) “Separasi” (pemisahan) hukum dan
moralitas dari Austin seringkali dianggap sebagai tonggak yang
menandai positivisme hukum (legal positivism) yaitu dengan
pendapatnya yang terkenal bahwa “Adanya hukum adalah suatu
hal; faedah atau kekurangannya adalah soal lain,” tulisnya dalam
“The Province of Jurisprudence Determined” (V, note).
Namun Austin adalah seorang utilitarian; dalam membe-
dakan antara hukum yang ada dan hukum yang seharusnya ada,
ia tidak memaksudkan bahwa hukum adalah bukan sasaran bagi
kritik moral secara rasional berdasarkan utilitas atau kemanfaatan,
yang bagi Austin adalah petunjuk pada hukum dari Tuhan. Pada
titik ini Austin dipengaruhi oleh “theological utilitarians” seperti
William Paley. Pandangan pandangan Austin telah menjadi objek
diskusi yang serius, baik di luar maupun di dalam tradisi tradisi
positivisme dan “analitical jurisprudence”. Dan manakala disiplin
disiplin sejarah, antropologi, dan etnologi memperoleh kedu-
dukan semakin penting pada abad sembilanbelas, berkembang-
lah pendekatan-pendekatan yang bersaing tentang pemahaman
hukum. Sir Henry Maine (1822–1888) yang merumuskan hukum
sejarah (historical law) bahwa perkembangan hukum adalah suatu
gerakan (pergeseran) dari status ke kontrak, mengemukakan di
dalam karyanya “Early History of Institutions” (London, 1875)

244
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

bahwa teori hukum perintah kedaulatan (the command sover-


eignty theory of law) tidak berlaku dalam suatu masyarakat primitif,
di mana hukum sebagian besar berupa kebiasaan dan
“penguasa” politik, yang memiliki kekuasaan atas hidup dan
matinya dari para warga masyarakatnya, tidak pernah membuat
kaidah hukum.
Pandangan Austinian hanya dapat diselamatkan dengan
mempertahankan fiksi bahwa apa yang diizinkan oleh
“penguasa” adalah apa yang diperintahkannya. Walaupun
demikian, Austin mempunyai banyak pengikut pada peralihan
ke abad dua puluh, seperti misalnya T.E. Holland (1835–1926)
dan J.W. Salmond (1862–1924), yang mencoba memper-
tahankan aspek imperatif dan koersi (paksaan) pada waktu
berusaha merevisi teori Austin.
Peran pengadilan pengadilan semakin mendapat tekanan
(semakin ditonjolkan). Di Amerika Serikat, John Chipman Gray
(1839–1915) menulis “The Nature and Sources of the Law” (New
York, 1909; 2d ed., New York, 1921), salah satu kontribusi
Amerika yang paling penting pada persoalan ini. Dengan
mengakui jasa Austin, Gray mendefinisikan hukum sebagai
“aturan aturan yang ditetapkan oleh pengadilan pengadilan (dari
negara bagian) untuk menentukan hak-hak dan kewajiban-
kewajiban hukum” (the rules which the courts [of the State] lay
down for the determination of legal rights and duties). Definisi
dari Gray ini menyebabkan ia harus mengkonstruksi undang-
undang, preseden yudisial, kebiasaan, pendapat akhli (doktrin),
dan moralitas sebagai sumber-sumber hukum ketimbang sebagai
hukum. Semua hukum adalah buatan hakim (judge made law).
Peralatan negara (machinery of the state) berdiri di latar belakang

245
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

dan menyediakan unsur koersifnya, yang tidak masuk ke dalam


definisi dari “hukum”. Pengaruh Gray dapat ditelusuri dalam “the
realist movement” di Amerika Serikat.

B. KONVERGENSI FUNGSI HUKUM


DALAM REVOLUSI INDUSTRI 4.0
Mochtar Kusumaatmadja menegaskan bawha tujuan pokok dari
hukum apabila hendak direduksi pada satu hal saja, adalah
ketertiban (order), ketertiban adalah tujuan pokok dan pertama
dari segala hukum dan kebutuhan terhadap ketertiban ini
merupakan syarat pokok (fundamental) bagi adanya suatu masya-
rakat manusia yang teratur.301 Di samping ketertiban, tujuan lain
daripada hukum adalah tercapainya keadilan yang berbeda-beda
isi dan ukurannya, menurut masyarakat dan zamannya.
Untuk mencapai ketertiban dalam masyarakat ini, diusaha-
kan adanya kepastian dalam pergaulan antarmanusia dalam
masyarakat. Pemahaman yang penting sekali bukan saja bagi
suatu kehidupan masyarakat teratur, tetapi merupakan syarat
mutlak bagi suatu organisasi hidup yang melampaui batas-batas
saat sekarang. Karena itulah terdapat lembaga-lembaga hukum
seperti misalnya dalam lembaga (1) perkawinan, yang memung-
kinkan kehidupan yang tak dikacaukan oleh hubungan laki-laki
dan perempuan; lembaga (2) hak milik; dan lembaga (3) kontrak
yang harus ditepati oleh pihak-pihak yang menyepakatinya.
Tanpa kepastian hukum dan ketertiban masyarakat yang dijelma-

301 Lili Rasjidi, Fase Kedua Perjalanan Teori Hukum Pembangunan, sebagaimana
dimuat dalam Mochtar Kusumaatmadja dan Teori Hukum Pembangunan:
Eksistensi dan Implikasi, Editor Shidarta, Epistema Institute, Jakarta, 2012, hlm.
122.

246
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

kan olehnya maka manusia tak mungkin mengembangkan bakat-


bakat dan kemampuan yang diberikan Tuhan kepadanya secara
optimal di dalam masyarakat tempat hidup.
Revolusi Industri 1.0 hingga Revolusi Industri 3.0 membe-
baskan manusia dari kekuatan hewan, memungkinkan produksi
massal dan membawa kemampuan digital ke miliaran orang.
Revolusi Industri 4.0 pada dasarnya sangat berbeda dengan
ditandai dengan berbagai teknologi baru yang menggabungkan
dunia fisik, digital dan biologis, mempengaruhi semua disiplin
ilmu, ekonomi dan industri, dan bahkan ide-ide yang menantang
tentang “apa” artinya menjadi manusia. Pergeseran dan gangguan
yang terjadi menjadika manusia hidup di masa yang penuh
dengan janji dan bahaya besar. Dunia memiliki potensi untuk
menghubungkan miliaran lebih banyak orang ke jaringan digi-
tal, secara dramatis meningkatkan efisiensi organisasi dan bahkan
mengelola aset dengan cara yang dapat membantu meregenerasi
lingkungan alam serta berpotensi disrupsi terhadap revolusi-
revolusi industri sebelumnya.
Schwab memiliki keprihatinan besar bahwa organisasi
mungkin tidak dapat beradaptasi; pemerintah dapat gagal meng-
gunakan dan mengatur teknologi baru untuk menangkap man-
faatnya; pergeseran kekuasaan akan menciptakan masalah
keamanan yang baru dan penting; ketidaksetaraan bisa tumbuh;
dan fragmentasi masyarakat.302 Schwab menempatkan pula peru-
bahan terbaru ke dalam konteks historikal; menguraikan teknologi
utama (main stream) yang mendorong Revolusi Industri 4.0; mem-

302 Schwab, Klaus. “The Fourth Industrial Revolution.” Foreign Affairs. Akses pada
tanggal 9 Agustus 2018 melalui https://www.foreignaffairs.com/articles/2015-
12-12/fourth-industrial-revolution.

247
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

bahas dampak utama pada pemerintah, bisnis, masyarakat sipil


dan individu; dan menyarankan cara untuk menanggapi hal-hal
dimaksud. Perlu keyakinan bahwa Revolusi Industri 4.0 berada
dalam kendali selama kita mampu berkolaborasi lintas geografis,
sektoral, dan disiplin untuk memahami peluang yang dihadir-
kannya dalam peradaban manusia.
Schwab secara khusus menyatakan seruan bagi para
pemimpin dan warga negara untuk “bersama membentuk masa
depan yang bekerja untuk semua dengan menempatkan orang-
orang terbikanya, memberdayakan mereka dan terus-menerus
mengingatkan diri kita bahwa semua teknologi baru ini adalah
alat pertama dan utama yang dibuat oleh orang-orang untuk
manusia”.
Revolusi Industri 4.0 memiliki implikasi atau dampat terhadap
bagaimana fungsi hukum di dalam masyarakat. Sehingga perlu
didekati dari pemahaman Teori Hukum. Teori Hukum adalah
cabang dari Ilmu Hukum yang dalam suatu perspektif inter-
disipliner secara kritikal menganalisis berbagai aspek dari gejala
hukum masing-masing secara tersendiri dan dalam kaitan keselu-
ruhan mereka, baik dalam konsepsi teoretikal mereka maupun
dalam penjabaran praktikal mereka, dengan mengarah pada
suatu pemahaman yang lebih baik dalam, dan suatu penjelasan
yang jernih atas bahan-bahan yuridikal.

1. Fungsi Personal
Manusia hari ini berdiri di tepi revolusi teknologi yang pada
dasarnya akan mengubah cara hidup, bekerja, dan berhubungan
satu sama lain. Dalam skala, ruang lingkup, dan kerumitannya,

248
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

transformasi tidak akan seperti yang pernah dialami manusia


sebelumnya. Perlu dipahami bahwa respons terhadapnya harus
terintegrasi dan komprehensif, melibatkan semua pemangku
kepentingan dari pemerintahan secara global, dari sektor publik
dan swasta hingga akademisi dan masyarakat sipil. Revolusi
Industri 1.0 menggunakan air dan tenaga uap untuk mekanisasi
produksi, kemudian Revolusi Industri 2.0 menggunakan tenaga
listrik untuk menciptakan produksi massal. Revolusi Industri 3.0
menggunakan instrumen elektronik dan sistem teknologi informasi
untuk melakukan otomatisasi produksi, maka sekarang Revolusi
Industri 4.0 sedang membangun revolusi digital yang telah terjadi
sejak pertengahan abad lalu yang ditandai dengan perpaduan
teknologi yang mengaburkan garis antara bidang fisik, digital, dan
biologis.303
Transformasi revolusi industri saat ini tidak hanya melam-
bangkan perpanjangan dari Revolusi Industri 3.0, tetapi lebih pada
penyiapan kedatangan Revolusi Industri 4.0 dan karakter yang
berbeda secara kecepatan, ruang lingkup, dan dampak sistemnya.
Kecepatan terobosan saat ini tidak memiliki preseden historikal,
jika dibandingkan dengan revolusi-revolusi industri sebelumnya.
Revolusi Industri 4.0 melakukan kecepatan eksponensial dan
bukan linier. Selain itu, hal dimaksud menjadi disrupsi hampir
setiap industri di berbagai negara. Belum lagi masif dan kedalaman
perubahan ini menandai transformasi seluruh sistem produksi,
manajemen, dan pemerintahan.

303 Laman diakses pada tanggal 17 Agustus 2018 yaitu https://www.weforum.org/


agenda/2016/01/the-fourth-industrial-revolution-what-it-means-and-how-to-
respond

249
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Posibilitas miliaran orang yang terkoneksi oleh perangkat


seluler dengan kekuatan pemrosesan yang belum pernah terjadi
sebelumnya, kapasitas penyimpanan, dan akses ke pengetahuan
yang tidak terbatas. Posibilitas dimaksud akan digandakan dengan
terobosan teknologi yang muncul di bidang-bidang seperti
kecerdasan buatan (artificial intelligent-AI), robotika, Internet of
Things (IoT), kendaraan otonom, pencetakan 3-D, nanoteknologi,
bioteknologi, ilmu material, penyimpanan energi, dan komputasi
kuantum. Artificial intelligent ada di sekitar kita, mulai dari mobil
yang mengemudi sendiri dan drone hingga asisten virtual dan
perangkat lunak yang menerjemahkan atau berinvestasi. Kema-
juan yang mengesankan telah dibuat dalam artificial intelligent
dalam beberapa tahun terakhir, didorong oleh peningkatan
eksponensial dalam daya komputasi dan oleh ketersediaan data
dalam jumlah besar, dari perangkat lunak yang digunakan untuk
menemukan obat baru untuk algoritma yang digunakan untuk
memprediksi kepentingan budaya kita. Teknologi fabrikasi digi-
tal berinteraksi dengan dunia biologis setiap harinya. Profesi
insinyur, perancang, dan arsitek menggabungkan desain kompu-
tasi, manufaktur aditif, teknik material, dan biologi sintetis untuk
merintis simbiosis antara mikroorganisme, tubuh kita, produk yang
kita konsumsi, dan bahkan bangunan yang kita huni saat ini.
Revolusi-revolusi industri sebelumnya memiliki identifikasi
yang mirip dengan Revolusi Industri 4.0 yaitu memiliki potensi
untuk meningkatkan tingkat pendapatan global dan mening-
katkan kualitas hidup penduduk di seluruh dunia. Sampai saat
ini, mereka yang telah memperoleh sebagian besar dari potensi
itu adalah konsumen yang mampu membayar dan mengakses
dunia digital; teknologi telah memungkinkan produk dan layanan

250
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

baru yang meningkatkan efisiensi dan kesenangan kehidupan


pribadi sosok manusia. Sekarang ini proses atau layanan untuk
memesan taksi, memesan penerbangan, membeli produk, mela-
kukan pembayaran, mendengarkan musik, menonton film, atau
bahkan bermain game digital telah dapat dilakukan dari jarak
jauh. Di masa depan inovasi teknologi juga akan mengarah pada
keajaiban sisi penawaran, dengan keuntungan jangka panjang
dalam efisiensi dan produktivitas. Biaya transportasi dan komu-
nikasi akan menurun, logistik dan rantai pasokan global akan
menjadi lebih efektif, dan biaya perdagangan akan berkurang
yang semuanya akan membuka pasar baru dan mendorong
pertumbuhan ekonomi.
Ekonom Erik Brynjolfsson dan Andrew McAfee menyam-
paikan pemahaman bahwa revolusi dapat menghasilkan ketim-
pangan yang lebih besar, terutama dalam potensinya untuk meng-
ganggu pasar tenaga kerja.304 Revolusi Industri 4.0 mengarah
kepada skenario terjadinya pengganti otomasi tenaga kerja di
seluruh ekonomi, perpindahan pekerja oleh mesin mungkin
memperburuk kesenjangan antara kembali ke modal dan kembali
ke tenaga kerja. Namun pada sisi lain juga mungkin bahwa per-
pindahan pekerja oleh teknologi akan secara agregat menghasil-
kan peningkatan bersih dalam pekerjaan yang aman dan
bermanfaat.
Prediksi yang paling moderat tidak dapat meramalkan
skenario mana yang mungkin muncul dan sejarah menunjukkan
bahwa hasilnya mungkin merupakan kombinasi dari keduanya.

304 Laman diakses pada tanggal 17 Agustus 2018 yaitu https://www.weforum.org/


agenda/2016/01/the-fourth-industrial-revolution-what-it-means-and-how-to-
respond

251
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Namun di masa depan selain variabel modal, maka variabel bakat


yang juga akan mempengaruhi faktor kritis produksi. Hal ini akan
memunculkan pasar kerja yang semakin dipisah menjadi segmen
“rendah keterampilan/upah rendah” dan “tinggi keterampilan/
upah tinggi”, sehingga pada gilirannya akan mengarah pada
peningkatan ketegangan sosial.
Selain tantangan ekonomi yang menjadi perhatian utama
maka tantangan ketidaksetaraan mewakili perhatian masyarakat
terbesar yang terkait dengan Revolusi Industri 4.0, dimana pene-
rima manfaat terbesar dari inovasi cenderung menjadi penyedia
modal intelektual dan fisik yaitu para inovator, pemegang saham,
dan investor. Hal dimaksud menjelaskan meningkatnya kesen-
jangan kekayaan antara mereka yang bergantung pada modal
dan yang bergantung kepada tenaga kerja. Teknologi karenanya
adalah salah satu alasan utama mengapa pendapatan telah dalam
posisi stagnan, atau bahkan menurun. Bahkan untuk mayoritas
penduduk di negara-negara berpenghasilan tinggi terjadi
permintaan untuk pekerja berketerampilan tinggi telah meningkat
sementara permintaan untuk pekerja dengan pendidikan yang
lebih rendah dan keterampilan yang lebih rendah telah menurun.
Hasilnya adalah pasar kerja dengan permintaan yang kuat pada
ujung tinggi dan rendah, tetapi lekukan keluar dari tengah.
Hal dimaksud di atas menjelaskan mengapa begitu banyak
pekerja yang kecewa dan takut bahwa pendapatan dan anak-
anak mereka akan terus stagnan, sehingga menjelaskan pula
mengapa kelas menengah di seluruh dunia semakin mengalami
rasa ketidakpuasan dan ketidakadilan yang meresap. Ekonomi
pemenang (the winner takes all, mengambil-semua) yang hanya
menawarkan akses terbatas ke kelas menengah adalah rumus

252
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

tepat untuk terjadinya malaise dan kelalaian demokratis. Ketidak-


puasan juga bisa dipicu oleh meluasnya teknologi digital dan
dinamika pembagian informasi yang viral secara masif oleh me-
dia sosial. Lebih dari 30% populasi global sekarang menggunakan
platform media sosial untuk terhubung, belajar, dan berbagi infor-
masi. Dalam dunia yang ideal maka interaksi ini akan memberikan
kesempatan bagi pemahaman dan kohesi lintas budaya, namun
mereka juga dapat menciptakan dan menyebarluaskan harapan
yang tidak realistis mengenai apa yang membentuk kesuksesan
bagi individu atau kelompok. Hal dimaksud juga menawarkan
peluang bagi paham dan ideologi ekstrim atau radikal untuk
menyebar secara lebih masif lagi dibandingkan 30 tahun lalu.

2. Fungsi Sosial
Revolusi Industri 4.0 telah mengubah cara kita hidup, bekerja,
dan berkomunikasi yang mengkonstruksi ulang peran peme-
rintah, pendidikan, perawatan kesehatan, dan perdagangan pada
hampir setiap aspek kehidupan. Manusia di masa depan mengu-
bah hal-hal yang dihargai dan cara menghargai mereka, sehingga
dapat mengubah hubungan kita, peluang kita, dan identitas kita
karena hal itu mengubah dunia fisik dan dunia virtual.305 Perubah-
an itu termasuk dalam beberapa kasus adalah tubuh kita sendiri.
Pendidikan dan akses ke informasi dapat meningkatkan
tingkat kehidupan miliaran orang. Hal dimaksud dapat melalui
perangkat dan jaringan komputasi yang semakin kuat, layanan

305 Liao, Y., Loures, E. R., Deschamps, F., Brezinski, G., & Venâncio, A. (2017).
The impact of the fourth industrial revolution: a cross-country/region com-
parison. Production, 28, e20180061. DOI: 10.1590/0103-6513.20180061

253
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

digital, dan perangkat seluler yang sudah menjadi kenyataan bagi


orang-orang di seluruh dunia, termasuk juga yang berada di
negara-negara terbelakang. Revolusi media sosial yang diwu-
judkan oleh Facebook, Twitter, dan Tencent telah memberikan
suara kepada semua orang dan cara berkomunikasi secara
langsung di seluruh planet ini. Saat ini, lebih dari 30% orang di
dunia menggunakan layanan media sosial untuk berkomunikasi
dan tetap berada di puncak peristiwa dunia.
Inovasi ini dapat menciptakan desa global sejati, membawa
miliaran lebih banyak orang ke dalam ekonomi global. Mereka
dapat membawa akses ke produk dan layanan ke pasar yang
sama sekali baru. Mereka dapat memberi orang kesempatan untuk
belajar dan menghasilkan dengan cara baru, dan mereka dapat
memberikan identitas baru kepada orang-orang karena mereka
melihat potensi untuk diri mereka sendiri yang sebelumnya tidak
tersedia. Klaus Schwab menyatakan dalam bukunya “The Fourth
Industrial Revolution” bahwa:
“The Fourth Industrial Revolution, finally, will change not only
what we do but also who we are. It will affect our identity and
all the issues associated with it: our sense of privacy, our no-
tions of ownership, our consumption patterns, the time we
devote to work and leisure, and how we develop our ca-
reers, cultivate our skills, meet people, and nurture relation-
ships.”

Layanan belanja dan pengiriman online — termasuk oleh


drone — sudah mendefinisikan kembali kenyamanan dan penga-
laman ritel. Kemudahan pengiriman dapat mengubah komunitas,
bahkan di tempat-tempat terpencil, dan memulai ekonomi daerah

254
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

kecil atau pedesaan. Dalam dunia fisik, kemajuan dalam ilmu


biomedis dapat menyebabkan kehidupan yang lebih sehat dan
rentang hidup yang lebih lama. Mereka dapat mengarah pada
inovasi dalam ilmu syaraf, seperti menghubungkan otak manusia
ke komputer untuk meningkatkan kecerdasan atau pengalaman
dunia simulasi. Bayangkan semua kekuatan robot itu dengan
keterampilan pemecahan masalah manusia.
Kemajuan dalam keamanan otomotif melalui teknologi
Revolusi Industri 4.0 dapat mengurangi korban jiwa dan biaya
asuransi, serta emisi karbon. Kendaraan otonom dapat mem-
bentuk kembali ruang hidup kota, arsitektur, dan jalan sendiri,
dan membebaskan ruang untuk ruang yang lebih sosial dan
berpusat pada manusia. Teknologi digital dapat membebaskan
pekerja dari tugas-tugas yang dapat diotomatisasi, membebaskan
mereka untuk berkonsentrasi dalam menangani masalah bisnis
yang lebih kompleks dan memberi mereka lebih banyak otonomi/
mandiri. Hal ini juga dapat memberikan pekerja dengan alat dan
wawasan baru yang radikal untuk merancang solusi yang lebih
kreatif untuk masalah yang sebelumnya tidak dapat diatasi.
Namun, sementara Revolusi Industri 4.0 memiliki kekuatan
untuk mengubah dunia secara positif, kita harus menyadari
bahwa teknologi dapat memiliki hasil negatif jika kita tidak berpikir
tentang bagaimana mereka dapat mengubah kita. Kami mem-
bangun apa yang kami hargai. Ini berarti kita perlu mengingat
nilai-nilai kita saat membangun dengan teknologi baru ini. Sebagai
contoh, jika kita menghargai uang daripada waktu keluarga, kita
dapat membangun teknologi yang membantu kita menghasilkan
uang dengan mengorbankan waktu keluarga. Pada gilirannya,

255
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

teknologi ini dapat menciptakan insentif yang membuat lebih sulit


untuk mengubah nilai yang mendasarinya.
Orang memiliki hubungan yang mendalam dengan tekno-
logi. Mereka adalah bagaimana kita menciptakan dunia kita, dan
kita harus mengembangkannya dengan hati-hati. Lebih dari
sebelumnya, penting bagi kita untuk memulai dengan benar. Kita
harus memenangkan perlombaan ini antara kekuatan teknologi
yang semakin besar, dan kebijaksanaan yang berkembang yang
dengannya kita mengaturnya. Max Tegmark menegaskan dalam
“Life 3.0” bahwa “We have to win this race between the growing
power of the technology, and the growing wisdom with which
we manage it. We don’t want to learn from mistakes.” 306
Revolusi Industri 4.0 memberi dampak pada bioteknologi
yang dapat menyebabkan kemajuan kontroversial seperti bayi
perancang, drive gen (mengubah sifat warisan dari seluruh
spesies), atau implan yang diperlukan untuk menjadi kandidat
yang kompetitif untuk sekolah atau pekerjaan. Inovasi dalam ro-
bot dan otomasi dapat mengarah pada kehilangan pekerjaan,
atau setidaknya pekerjaan yang sangat berbeda dan menghargai
keterampilan yang berbeda. Kecerdasan buatan, robotik, biotek-
nologi, alat pemrograman, dan teknologi lainnya dapat digunakan
untuk membuat dan menyebarkan senjata.
Revolusi Industri 4.0 memberi dampak pada media sosial
yang ternyata dapat menghapus batas dan menyatukan orang,
tetapi juga dapat mengintensifkan kesenjangan sosial. Sehingga

306 Laman diakses pada tanggal 17 Agustus 2018 yaitu https://


trailhead.salesforce.com/en/modules/impacts-of-the-fourth-industrial-revolu-
tion/units/understand-the-impact-of-the-fourth-industrial-revolution-on-soci-
ety-and-individuals#

256
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

dapat mengamplifikasi cyber-bullying, ujaran kebencian, dan


menyebarkan cerita palsu/hoax. Kita harus memutuskan aturan
media sosial seperti apa yang ingin kita buat, tetapi kita juga harus
menerima bahwa media sosial membentuk kembali apa yang
kita hargai dan bagaimana kita membuat dan menyebarkan
aturan-aturan itu. Selain itu, selalu terhubung dapat berubah
menjadi kewajiban, tanpa jeda dari kelebihan data dan koneksi
yang terus menerus.
Revolusi Industri 4.0 memberi dampak pada perubahan
ketenagakerjaan, dimana kecerdasan buatan melepaskan tingkat
produktivitas yang baru dan menambah hidup kita dalam banyak
cara. Seperti dalam revolusi industri masa lalu, itu juga dapat
menjadi kekuatan yang mengganggu, membuat orang terpelintir
dari pekerjaan dan mengajukan pertanyaan tentang hubungan
antara manusia dan mesin. Tidak dapat dipungkiri bahwa peker-
jaan akan terpengaruh karena kecerdasan buatan mengotoma-
tiskan berbagai tugas. Namun, seperti yang dilakukan teknologi
internet pada 20 tahun lalu, revolusi kecerdasan buatan akan
mengubah banyak pekerjaan — dan menelurkan jenis pekerjaan
baru yang mendorong pertumbuhan ekonomi. Pekerja dapat
menghabiskan lebih banyak waktu untuk tugas-tugas pemecahan
masalah yang kreatif, kolaboratif, dan rumit yang tidak dapat
ditangani oleh otomatisasi mesin.
Namun, pekerja dengan pendidikan yang lebih sedikit dan
keterampilan yang lebih sedikit berada dalam posisi yang kurang
menguntungkan ketika Revolusi Industri 4.0 berlangsung. Bisnis
dan pemerintah perlu beradaptasi dengan sifat pekerjaan yang
berubah dengan berfokus pada pelatihan orang untuk pekerjaan
masa depan. Pengembangan bakat, pembelajaran seumur hidup,

257
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

dan reinvention karir akan menjadi penting untuk tenaga kerja


masa depan.
Revolusi Industri 4.0 memberi dampak pada konsep
perubahan kesetaraan, dimana orang-orang bertanya apakah
Revolusi Industri 4.0 adalah jalan menuju masa depan yang lebih
baik untuk semua. Kekuatan teknologi meningkat dengan cepat
dan memfasilitasi tingkat inovasi yang luar biasa. Lebih banyak
orang dan hal-hal di dunia menjadi terhubung, tetapi itu tidak
selalu membuka jalan bagi masyarakat global yang lebih terbuka,
beragam, dan inklusif. Pelajaran dari revolusi industri sebelumnya
termasuk kesadaran bahwa teknologi dan generasi kekayaannya
dapat melayani kepentingan kelompok kecil yang kuat di atas
yang lain. Teknologi baru yang kuat yang dibangun di jaringan
digital global dapat digunakan untuk menjaga masyarakat di
bawah pengawasan yang tidak semestinya sementara membuat
kita rentan terhadap serangan fisik dan virtual. Hal dimaksud
adalah tantangan yang dapat kita hadapi untuk memastikan
kombinasi teknologi dan politik bersama-sama tidak menciptakan
kesenjangan yang menghambat orang.
Menurut Laporan Risiko Global Forum Ekonomi Dunia
2017, “Revolusi Industri Keempat memiliki potensi untuk mening-
katkan tingkat pendapatan dan meningkatkan kualitas hidup bagi
semua orang. Tapi hari ini, manfaat ekonomi Revolusi Industri
4.0 menjadi lebih terkonsentrasi di antara kelompok kecil.
Ketimpangan yang semakin meningkat ini dapat menyebabkan
polarisasi politik, fragmentasi sosial, dan kurangnya kepercayaan
pada institusi. Untuk mengatasi tantangan ini, para pemimpin di
sektor publik dan swasta perlu memiliki komitmen yang lebih

258
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

dalam untuk pembangunan yang lebih inklusif dan pertumbuhan


yang adil yang mengangkat semua orang.”
Banyak orang di seluruh dunia belum mendapat manfaat
dari revolusi industri sebelumnya, sebagaimana yang ditulis oleh
penulis Shaping the Fourth Industrial Revolution, setidaknya 600
juta orang hidup di pertanian petani kecil tanpa akses ke meka-
nisasi apa pun, kehidupan yang masih hidup tidak tersentuh oleh
Revolusi Industri 1.0. Sekitar sepertiga penduduk dunia (2,4 miliar)
kekurangan air minum bersih dan sanitasi yang aman, sekitar
seperenam (1,2 miliar) tidak memiliki listrik — kedua sistem
berkembang dalam Revolusi Industri 2.0. Revolusi digital berarti
menjadikan lebih dari 3 miliar orang sekarang memiliki akses ke
Internet, yang masih menyisakan lebih dari 4 miliar orang dari
Revolusi Industri 3.0. Sarana bahwa ketika kita menghargai dan
terlibat dengan teknologi menarik dari Revolusi Industri 4.0, kita
harus bekerja untuk memastikan bahwa peluang yang mereka
bawa tersebar dengan baik di seluruh dunia dan di seluruh
komunitas kita. Secara khusus, kita harus membantu mereka yang
kehilangan peningkatan besar dalam kualitas hidup yang
diberikan Revolusi Industri 1.0, 2.0 dan 3.0, sebagaimana yang
ditegaskan oleh Klaus Schwab dalam “The Fourth Industrial Revo-
lution” bahwa “Let us together shape a future that works for all by
putting people first, empowering them and constantly reminding
ourselves that all of these new technologies are first and foremost
tools made by people for people.”
Revolusi Industri 4.0 memberi dampak pada konsep
perubahan konstruksi privasi, dimana manusia menghargai
kemampuan untuk mengendalikan apa yang diketahui tentang

259
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

dirinya, namun manusia ternyata hidup di dunia di mana pela-


cakan informasi pribadi setiap individu adalah kunci untuk
memberikan layanan yang lebih cerdas dan dipersonalisasi.
Facebook melacak apa yang “Anda” lakukan sehingga ia tahu
konten dan iklan mana yang paling relevan bagi “Anda”. Ponsel
cerdas (smartphone) melacak lokasi “Anda”, dan “Anda” dapat
membagikan informasi itu dengan aplikasi yang merekomen-
dasikan tempat untuk makan atau berbelanja. Pengecer menga-
nalisis riwayat pembelian “Anda” untuk merekomendasikan
produk dan menawarkan kupon untuk mendorong lebih banyak
penjualan.
Di masa depan, Anda akan masuk ke toko dan penjual akan
segera memiliki nama Anda, peringkat kredit, status perkawinan,
dan pembelian sebelumnya yang melintas ke layar virtual aug-
mented-reality mereka. Teknologi Revolusi Industri 4.0 sendiri
netral dan bebas nilai, tetapi apakah mereka diterapkan dengan
cara yang membangun kepercayaan? Apakah konsumen akan
percaya bahwa kecerdasan buatan dan sistem robot yang baru
dapat membuat hidup mereka lebih baik, atau apakah mereka
akan takut dengan mesin dan mereka yang mengendalikan
mereka? Apakah warga negara akan mempercayai lembaga dan
penyedia layanan yang mengumpulkan dan mengelola data
mereka?
Untuk Revolusi Industri 4.0 sanggup menghasilkan keper-
cayaan, setiap orang yang berkontribusi padanya (termasuk Anda)
harus berkolaborasi dan merasakan hubungan dengan tujuan
bersama. Lebih banyak transparansi tentang bagaimana kita
mengatur dan mengelola teknologi ini adalah kunci, seperti juga

260
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

model keamanan yang meningkatkan kepercayaan diri kita


bahwa sistem ini tidak akan diretas, dikenali, atau menjadi alat
penindasan oleh mereka yang mengendalikannya.
Revolusi Industri 4.0 memberi dampak pada konsep
membawa semuanya bersama, bahwa inovasi dalam kecerdasan
buatan, bioteknologi, robotika, dan teknologi baru lainnya akan
mendefinisikan kembali apa artinya menjadi manusia dan bagai-
mana kita berinteraksi satu sama lain dan planet ini. Kemampuan
kami, identitas kami, dan potensi kami semua akan berevolusi
seiring dengan teknologi yang kami buat. Dalam beberapa
dekade mendatang, kita harus membangun pagar pembatas yang
menjaga kemajuan Revolusi Industri 4.0 di jalur untuk memberi
manfaat bagi seluruh umat manusia. Kita harus mengenali dan
mengelola potensi dampak negatif yang dapat mereka miliki,
terutama di bidang kesetaraan, pekerjaan, privasi, dan keper-
cayaan. Kita harus secara sadar membangun nilai positif ke dalam
teknologi yang kita buat, berpikir tentang bagaimana mereka akan
digunakan, dan merancangnya dengan penerapan etika dalam
pikiran dan mendukung cara kolaboratif untuk melestarikan apa
yang penting bagi kita.
Upaya ini menuntut semua pemangku kepentingan —
pemerintah, pembuat kebijakan, organisasi internasional, pem-
buat peraturan, organisasi bisnis, akademisi, dan masyarakat sipil
— untuk bekerja sama mengendalikan teknologi yang kuat
dengan cara yang membatasi risiko dan menciptakan dunia yang
sejalan dengan tujuan bersama untuk masa depan. Anda, sebagai
pribadi, warga negara, karyawan, investor, dan pemberi pengaruh
sosial, adalah pemangku kepentingan yang sangat penting dalam

261
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Revolusi Industri 4.0. Membagi pemikiran Anda tentang teknologi


dan apa yang Anda hargai saat revolusi ini terungkap sangat
penting. Dunia yang kita ciptakan melalui teknologi dapat
membentuk kehidupan kita dan merupakan yang kita teruskan
ke generasi berikutnya, sebagaimana ditegaskan oleh Klaus
Schwab dalam “The Fourth Industrial Revolution” bahwa “The
Fourth Industrial Revolution can compromise humanity’s tradi-
tional sources of meaning—work, community, family, and iden-
tity—or it can lift humanity into a new collective and moral con-
sciousness based on a sense of shared destiny. The choice is ours.”

3. Fungsi Transaksional
Revolusi Industri 4.0 memberi dampak pada transaksi bisnis
bahwa percepatan inovasi dan kecepatan disrupsi yang sulit untuk
dipahami atau diantisipasi dan kendali ini merupakan sumber
kejutan konstan, bahkan untuk yang paling terhubung dan pa-
ling terinformasi dengan baik. Hampir di semua industri ditemui
ada bukti yang jelas bahwa teknologi yang mendukung Revolusi
Industri 4.0 memiliki dampak besar pada bisnis. Di sisi penawaran,
banyak industri melihat pengenalan teknologi baru yang men-
ciptakan cara-cara baru sepenuhnya untuk melayani kebutuhan
yang ada dan secara signifikan menjadi disrupsi rantai nilai industri
yang ada. Kemudian disrupsi juga mengalir dari pesaing inovatif
yang gesit, yang berkat akses ke platform digital global untuk
penelitian, pengembangan, pemasaran, penjualan, dan distribusi,
dapat mendorong petahana mapan lebih cepat dari sebelumnya
dengan meningkatkan kualitas, kecepatan, atau harga.

262
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

Pergeseran di sisi permintaan juga terjadi, seiring mening-


katnya transparansi, keterlibatan konsumen, dan pola perilaku
konsumen yang baru (semakin dibangun di atas akses ke jaringan
dan data seluler) memaksa perusahaan untuk menyesuaikan cara
mereka merancang, memasarkan, dan menghasilkan produk dan
layanan. Tren utamanya adalah pengembangan platform yang
didukung teknologi yang menggabungkan permintaan dan
pasokan untuk menjadi disrupsi struktur industri yang ada, seperti
yang kita lihat dalam ekonomi “berbagi” (sharing economy) atau
“sesuai permintaan” (demand economy). Platform teknologi ini,
yang mudah digunakan oleh ponsel pintar, mengumpulkan or-
ang, aset, dan data — sehingga menciptakan cara-cara baru untuk
mengkonsumsi barang dan jasa dalam prosesnya. Selain itu,
mereka menurunkan hambatan bagi bisnis dan individu untuk
menciptakan kekayaan, mengubah lingkungan pribadi dan
profesional pekerja. Bisnis platform baru ini dengan cepat melipat-
gandakan menjadi banyak layanan baru, mulai dari laundry
hingga belanja, dari pekerjaan ke tempat parkir, dari pijat hingga
perjalanan.
Secara keseluruhan, ada empat efek utama yang dimiliki oleh
Revolusi Industri 4.0 yaitu pada harapan pelanggan, pada
peningkatan produk, pada inovasi kolaboratif, dan pada bentuk
organisasi.307 Baik konsumen atau bisnis, pelanggan semakin
menjadi pusat ekonomi, yang semuanya tentang bagaimana cara
pelanggan dilayani. Produk dan layanan fisik, apalagi, sekarang
dapat ditingkatkan dengan kemampuan digital yang mening-

307 Laman diakses pada tanggal 17 Agustus 2018 yaitu https://www.weforum.org/


agenda/2016/01/the-fourth-industrial-revolution-what-it-means-and-how-to-
respond/

263
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

katkan nilainya. Teknologi baru membuat aset lebih tahan lama


dan tangguh, sementara data dan analisis mengubah cara peme-
liharaannya.
Dunia pengalaman pelanggan, layanan berbasis data, dan
kinerja aset melalui analitik, sementara itu, membutuhkan bentuk
kolaborasi baru, terutama mengingat kecepatan di mana inovasi
dan gangguan terjadi. Dan munculnya platform global dan model
bisnis baru lainnya, akhirnya, berarti bahwa bakat, budaya, dan
bentuk organisasi harus dipikirkan kembali. Secara keseluruhan,
pergeseran tak terelakkan dari digitalisasi sederhana (Revolusi
Industri 3.0) menjadi inovasi berdasarkan kombinasi teknologi
(Revolusi Industri 4.0) memaksa perusahaan untuk menguji
kembali cara mereka berbisnis. Intinya bagaimanapun adalah hal
yang sama yaitu pemimpin bisnis dan eksekutif senior perlu
memahami lingkungan mereka yang berubah, menantang asumsi
dari tim operasi mereka, dan tanpa henti serta terus berinovasi.

4. Fungsi Nasional dan Global


Revolusi Industri 4.0 memberi dampak pada pemerintah bahwa
ketika dunia fisik, digital, dan biologis terus menyatu, teknologi
dan platform baru akan semakin memungkinkan warga untuk
terlibat dengan pemerintah, menyuarakan pendapat mereka,
mengoordinasikan upaya mereka, dan bahkan menghindari
pengawasan otoritas publik. Bersamaan dengan itu, pemerintah
akan mendapatkan kekuatan teknologi baru untuk meningkatkan
kontrol mereka atas populasi, berdasarkan pada sistem penga-
wasan yang menyebar dan kemampuan untuk mengendalikan
infrastruktur digital. Secara keseluruhan, bagaimanapun, peme-

264
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

rintah akan semakin menghadapi tekanan untuk mengubah


pendekatan mereka saat ini untuk keterlibatan publik dan pem-
buatan kebijakan, karena peran utama mereka dalam melakukan
kebijakan berkurang karena sumber-sumber baru persaingan dan
redistribusi dan desentralisasi kekuasaan yang dimungkinkan oleh
teknologi baru.
Pada akhirnya, kemampuan sistem pemerintah dan otoritas
publik untuk beradaptasi akan menentukan kelangsungan hidup
mereka. Jika mereka terbukti mampu merangkul dunia perubahan
yang mengganggu, menundukkan struktur mereka ke tingkat
transparansi dan efisiensi yang akan memungkinkan mereka
untuk mempertahankan daya saing mereka, mereka akan ber-
tahan. Jika mereka tidak dapat berevolusi, mereka akan meng-
hadapi masalah yang meningkat.
Bidang regulasi yang terutama perlu antisipasi yaitu sistem
kebijakan publik dan pengambilan keputusan saat ini berevolusi
bersamaan dengan Revolusi Industri 2.0, ketika para pembuat
keputusan memiliki waktu untuk mempelajari masalah tertentu
dan mengembangkan tanggapan yang diperlukan atau kerangka
kerja peraturan yang tepat. Seluruh proses dirancang untuk
menjadi linier dan mekanistik, mengikuti pendekatan “top down”
yang ketat. Tetapi pendekatan semacam itu tidak lagi layak.
Mengingat laju perubahan dan dampak luas Revolusi Industri
4.0, para legislator dan regulator ditantang ke tingkat yang belum
pernah terjadi sebelumnya dan sebagian besar terbukti tidak
mampu mengatasinya.
Kemudian bagaimana mereka dapat mempertahankan
kepentingan konsumen dan masyarakat luas sambil terus

265
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

mendukung inovasi dan pengembangan teknologi? Dengan


merangkul tata kelola yang “gesit” (agile), seperti halnya sektor
swasta semakin mengadopsi respons tangkas terhadap pengem-
bangan perangkat lunak dan operasi bisnis secara lebih umum.
Ini berarti regulator harus terus beradaptasi dengan lingkungan
baru yang cepat berubah, menciptakan kembali diri mereka
sendiri sehingga mereka dapat benar-benar memahami apa yang
mereka atur. Untuk melakukannya, pemerintah dan badan regu-
lator perlu bekerja sama erat dengan bisnis dan masyarakat sipil.
Revolusi Industri 4.0 juga akan sangat mempengaruhi sifat
keamanan nasional dan internasional, yang mempengaruhi baik
probabilitas maupun sifat konflik. Sejarah peperangan dan
keamanan internasional adalah sejarah inovasi teknologi, dan hari
ini tidak terkecuali. Konflik modern yang melibatkan negara
semakin “hibrida” di alam, menggabungkan teknik medan perang
tradisional dengan unsur-unsur yang sebelumnya terkait dengan
aktor non-negara. Perbedaan antara perang dan perdamaian,
kombatan dan nonkombatan, dan bahkan kekerasan dan non-
kekerasan (berpikir cyberwarfare) menjadi tidak nyaman dan
kabur.
Ketika proses ini terjadi dan teknologi baru seperti senjata
otonom atau biologis menjadi lebih mudah digunakan, individu
dan kelompok kecil akan semakin bergabung dengan negara-
negara yang mampu menyebabkan kerusakan massal. Keren-
tanan baru ini akan menimbulkan ketakutan baru. Tetapi pada
saat yang sama, kemajuan teknologi akan menciptakan potensi
untuk mengurangi skala atau dampak kekerasan, melalui
pengembangan mode perlindungan baru, misalnya, atau kete-
patan yang lebih tinggi dalam penargetan.

266
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

C. KONVERGENSI PERAN HUKUM


DALAM REVOLUSI INDUSTRI 4.0
Teori Hukum adalah sebuah upaya untuk pada kegiatan mem-
pelajari hukum, mengintegrasikan lagi hukum ke dalam konteks
total dari keterberian-keterberian faktual dan keyakinan-
keyakinan ideal yang hidup yang terkait padanya, sehingga
mampu mengintegrasikannya ke dalam masyarakat (pergaulan
hidup). Tiap ilmu atau tiap cabang ilmu membedakan diri dari
yang lain tidak terutama oleh pokok-telaahnya (obyeknya) tetapi
oleh metodenya, yakni cara khas yang dengannya orang bekerja
untuk memperoleh pengetahuan ilmiah. Metode dari Teori
Hukum tidak dapat lain kecuali interdisipliner sintetikal. Teori
Hukum dengan metode interdispliner melaksanakan suatu fungsi
konvergensi atau menggabungkan (overkoepelen) dan, lebih lagi,
mensintetisasi dalam keseluruhan dari Ilmu Hukum.
Teori Hukum harus dapat secara ilmiah menampilkan secara
layak densitas dari kenyataan ini sebagaimana dalam
keseluruhannya dialami oleh tiap orang yang berurusan dengan
hukum atau yang berpartisipasi pada pembentukan hukum.
Kenyataan mewujudkan suatu keseluruhan, kebenaran yang tidak
dapat dipecah (ondeelbaar) serta tidak ada realitas yuridikal dan
tidak ada kebenaran yuridikal, namun yang ada adalah realitas
dan kebenaran kemanusiaan dan kemasyarakatan, yang di
dalamnya hukum mensituasikan diri. Pada akhirnya, hal mem-
pelajari aspek hukum secara terpisah akan menjadi tidak ilmiah
karena tidak setia pada kebenaran.
Hukum mengemban fungsi ekspresif, yakni mengungkapkan
pandangan hidup, nilai-nilai budaya dan keadilan. Di samping

267
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

itu, hukum juga mengemban fungsi instrumental, yakni sarana


untuk menciptakan dan memelihara ketertiban, stabilitas dan
prediktabilitas, sarana untuk melestarikan nilai-nilai budaya dan
mewujudkan keadilan, sarana pendidikan dan pengadaban
masyarakat, sarana mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan
masyarakat, dan sarana untuk pembaharuan masyarakat
(mendorong, mengkanalisasi dan mengarahkan perubahan
masyarakat).
Dalam masyarakat pasca-kolonial yang sedang menjalani
perubahan sosial yang fundamental dan mencakup seluruh
bidang kehidupan secara simultan, maka perundang-undangan
memegang peranan dominan dalam pembangunan tata-hukum
nasional serta menjalankan fungsi hukum sebagai sarana
pendidikan dan perubahan masyarakat. Yurisprudensi berperan
untuk mendukung dengan menjabarkan ketentuan perundang-
undangan dakam putusan konkretnya. Dalam kaitan ini, maka
Ilmu Hukum yang adekuat sangat dibutuhkan sebagai sarana
intelektual untuk membantu proses pembentukan hukum melalui
perundang-undangan dan yurisprudensi, serta membantu penye-
lenggaraan hukum menjalankan fungsi hukum sebagai sarana
pendidikan dan pembaharuan masyarakat.
Mazhab, aliran dan teori hukum beserta tokohnya terkait
peran hukum dapat diilustrasikan dengan periodisasi Revolusi
Industri adalah sebagaimana tabel berikut ini:308

308 Sumber: Marett Leiboff dan Mark Thomas, Legal Theories in Principle, Law-
book Co, New South Wales, 2004, hlm. 15, Lihat Mochtar Kusumaatmadja,
Konsep-Konsep Hukum dalam Pembangunan, Pusat Studi Wawasan
Nusantara, Hukum dan Pembangunan bekerjasama dengan Penerbit PT.
Alumni, Bandung, 2006 yang memuat pemikiran-pemikirannya yaitu Fungsi
dan Perkembangan Hukum dalam Pembangunan Nasional; dan Hukum,

268
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

Tabel 8: Mazhab, Aliran dan Teori Hukum


beserta Tokohnya dalam Periodisasi Revolusi Industri
dari tahun 1784 sampai dengan tahun 2018.

Revolusi I dan II III III dan IV IV


Industri 1784-1870 1969-2010 1969-2010 2010-2018

Wilayah Inggris, Jerman, Amerika Serikat, Inggris, Amerika Serikat,


Ceko, Belanda Indonesia Inggris, Indonesia

Tokoh John AUSTIN HART POSNER


Adolf MERKEL Fuller Unger
Karl BERGBOHM KELSEN HART
Ernst BIERLING POSNER Mochtar
Rudolf STAMMLER Unger KUSUMAATMADJA
Felix SOMLO Mochtar Satjipto RAHARDJO
Paul SCHOLTEN KUSUMAATMADJA Finnis Romli ATMASASMITA
Dworkin Danrivanto BUDHIJANTO
Rawls

Teori Ajaran Hukum HART: Neo-Positivis POSNER: The Economic


Hukum Umum (revived/new-positivism) Analysis of LawUnger: The
Mazhab Analitik Fuller: Teori Hukum Alam Critical Legal Studies
(analytical Baru (New Natural Law) HART: Neo-Positivis
jurisprudence) Kelsen: Teori Hukum (revived/neo-positivism)
Hermeneutik Murni (new conceptual- Mochtar
ism) KUSUMAATMADJA:
POSNER: The Economic Teori Hukum
Analysis of Law Pembangunan
Unger: The Critical Legal Satjipto RAHARDJO: Teori
Studies Hukum Progresif
HART: Neo-Positivis Romli ATMASASMITA:
(revived/new-positivism) Teori Hukum Integratif
Mochtar Danrivanto BUDHIJANTO:
KUSUMAATMADJA: Teori Teori Hukum Konvergensi
Hukum Pembangunan
Finnis: Neo-Natural Law

Masyarakat, dan Pembinaan Hukum Nasional: Suatu Uraian tentang Landasan


Pikiran, Pola dan Mekanisme Pembaharuan Hukum di Indonesia. Lihat pula
Gary Minda, “The Jurisprudential Movements of the 1980’s”, Ohio State Jour-
nal, 1989.

269
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Teori Hukum Konvergensi merupakan pemahaman kon-


septual dan teoretikal Penulis dari penyatuan (convergence)
variabel-variabel teknologi, ekonomi, dan hukum terhadap
hubungan manusia dan masyarakat dalam Revolusi Industri 4.0,
baik dalam tataran nasional, regional maupun tataran inter-
nasional. Paradigma dari konvergensi tatanan hukum dapat
dilakukan pemahaman yang lebih mendalam dengan mengkaji
pendekatan konsepsi konvergensi dan konsepsi non-konvergensi
hukum.309 Pendekatan untuk mencari keterkaitan dengan persa-
maan atau perbedaan antara sistem hukum, atau membandingkan
sistem hukum yang berbeda diharapkan dapat menjelaskan
pentingnya konsepsi konvergensi hukum.
Klaus Schwab sang pendiri World Economic Forum mem-
percayai bahwa fase Revolusi Industri 4.0 akan dibangun di
sekitar “cyber-physical systems” (sistem cyber-fisik) dengan
mengaburkan fisik, digital dan biologis.310 Ketika manusia merang-
kul usia mesin ini, maka kita perlu dihadapkan dengan tantangan
etika baru dan menyerukan undang-undang baru. Dalam bebe-
rapa kasus, seluruh kode moral mungkin perlu di-boot ulang.
Begitulah sifat terobosan teknologi.
Etika yang berasal dari filsafat atau agama tidak mudah masuk
ke dunia teknologi. Segala sesuatu dari Aristoteles hingga Sepuluh
Perintah Tuhan memberikan manusia navigasi moral - tetapi
seperangkat aturan yang ditetapkan cenderung mengalami

309 Fabio Morosini, “Globalization & Law: Beyond Traditional Methodolgy of


Comparative Legal Studies and An Example from Private International Law”,
Cardozo Journal of International and Comparative Law, Fall 2005.
310 Laman diakses pada tanggal 17 Agustus 2018 yaitu https://www.weforum.org/
agenda/2017/02/ethics-2-0-how-the-brave-new-world-needs-a-moral-com-
pass

270
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

dilema. Dunia sains juga memiliki bagian upaya, dari tiga hukum
Asimov untuk Robot hingga karya Nick Bostrom tentang etika.
Namun, manusia merasa cukup sulit untuk mengembangkan
kebajikan untuk perilaku mereka sendiri, apalagi membangun
kebajikan yang relevan ke dalam teknologi baru. Implikasi etis
berkisar dari yang langsung seperti “bagaimana algoritma di
belakang Facebook dan Google memengaruhi segala sesuatu
dari emosi kita hingga pemilihan kita?” Ke masa depan seperti
“apa yang akan terjadi jika kendaraan yang mengemudi sendiri
berarti tidak ada lagi pekerjaan untuk pengemudi truk?”, di bawah
ini beberapa rekonstruksi ulang etika terhadap Revolusi Industri
4.0 yaitu:
Ilmu Kehidupan yang memunculkan pertanyaan apakah
pengeditan gen harus legal secara yuridis untuk memanipulasi
ras manusia dan menciptakan “bayi desainer”? Peneliti kanker
Siddhartha Mukherjee, dalam bukunya yang diakui secara kritis,
The Gene, menyoroti pertanyaan-pertanyaan etis yang mendalam
bahwa kemajuan dalam ilmu genom akan muncul. Daftar perta-
nyaan etis panjang: bagaimana jika tes pra-kelahiran memprediksi
anak Anda akan memiliki IQ 80 poin, jauh di bawah rata-rata,
kecuali Anda melakukan sedikit pengeditan? Bagaimana jika
teknologi ini hanya terbatas pada orang-orang kaya?
Artificial Intellegent atau kecerdasan artifisial melalui
pembelajaran mesin (machine learning) dan Big Data. Seiring
waktu, kecerdasan artifisial akan membantu manusia membuat
segala macam keputusan. Tetapi bagaimana manusia sanggup
memastikan algoritma ini dirancang dengan baik? Bagaimana
manusia menghaluskan bias dari sistem seperti itu, yang pada

271
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

akhirnya akan digunakan untuk menentukan promosi pekerjaan,


penerimaan perguruan tinggi dan bahkan pilihan jodoh dalam
hidup kita? Haruskah polisi setempat menggunakan perangkat
lunak aplikasi pengenal wajah? Haruskah penegakan hukum/
presekusi berdasarkan algoritma menjadi legal? Apa dampaknya
terhadap privasi kita? Akankah teknologi mutakhir ada di tangan
penegak hukum setempat di era negara pengawasan?
Media sosial dan dawai (gadget) yang memunculkan
pertanyaan bagaimana jika Kindles (aplikasi buku elektronik)
tertanam dengan perangkat lunak aplikasi pengenalan wajah dan
sensor bio-metrik, sehingga perangkat dapat mengetahui
bagaimana setiap kalimat memengaruhi detak jantung dan
tekanan darah kita?
Robot dan Mesin yang memunculkan pertanyaan bagaimana
kita memastikan mobil tanpa pengemudi apa yang bisa menen-
tukan sendiri secara independen? Bagaimana kita memutuskan
apa yang dapat diputuskan oleh Robot? Akankah ada kebutuhan
untuk robot yang setara dengan hak asasi manusi seperti yang
dimuat dalam konstitusi? Bagaimana dengan hak manusia untuk
menikahi robot dan robot untuk memiliki properti? Haruskah
Cyborg yang sangat maju diizinkan untuk mencalonkan diri
untuk jabatan politik?
Biasanya di masa lalu, pasar bebas telah memutuskan nasib
inovasi baru dan dengan waktu, pemerintah lokal datang dan
campur tangan (Uber dilarang di Jepang tetapi beroperasi di India).
Namun, dalam hal ini pendekatan semacam itu bisa menjadi
bencana.

272
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

Ini bukan Revolusi Industri 1.0 dimana kekhawatirannya


bukan hal baru. Mereka telah ada selama lebih dari 200 tahun
sejak Revolusi Industri. Tapi seperti yang dikatakan oleh
sejarawan dan filsuf Yuval Harari, masalah anak itu (yang
menangis serigala) pada akhirnya benar. Kemajuan teknologi
secara tradisional melampaui proses politik, manusia telah
melewatkan menyusun piagam moral untuk internet, dan terus
bermain mengejar sampai hari ini. Manusia tidak bisa menjadi
buta-sisi oleh batas berikutnya, baik dalam bioteknologi atau
kecerdasan buatan. Masa depan manusia semakin banyak ditulis
oleh para insinyur dan pengusaha, yang tidak perlu dimintai
pertanggungjawaban.
Masyarakat pandai beradaptasi terhadap perubahan - dari
mesin uap ke iPhone hingga peningkatan masa hidup yang nyata.
Seperti yang dikatakan Bill Gates, “teknologi itu amoral”, terserah
pada manusia itu sendiri untuk memutuskan bagaimana menggu-
nakannya dan di mana untuk menarik garis.311 Miliaran orang
dan banyak mesin saling terhubung satu sama lain. Melalui
teknologi inovatif, kekuatan dan kecepatan pemrosesan yang
belum pernah terjadi sebelumnya, dan kapasitas penyimpanan
yang sangat besar, data dikumpulkan dan dimanfaatkan tidak
seperti sebelumnya.
Otomatisasi, pembelajaran mesin, komputasi mobile dan
kecerdasan buatan -ini bukan lagi konsep futuristik-, mereka
adalah realitas kita yang bagi banyak orang, perubahan ini

311 Laman diakses pada tanggal 17 Agutus 2018 yaitu https://www.weforum.org/


agenda/2017/06/the-fourth-industrial-revolution-is-about-people-not-just-
machines

273
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

menakutkan. Revolusi industri sebelumnya telah menunjukkan


jika perusahaan dan industri tidak beradaptasi dengan teknologi
baru, mereka berjuang. Lebih buruk lagi, mereka gagal. Inovasi
ini akan membuat industri - dan dunia - lebih kuat dan lebih baik.
Perubahan yang dibawa oleh Revolusi Industri 4.0 tidak dapat
dihindari, tidak opsional. Kemungkinan imbalannya mengejutka
yaitu standar hidup yang tinggi; peningkatan keselamatan dan
keamanan; dan sangat meningkatkan kapasitas manusia.
Bagi orang-orang, harus ada pergeseran dalam pola pikir dan
meskipun sulit, masa depan pekerjaan terlihat sangat berbeda
dari masa lalu. Orang-orang dengan semangat, kreativitas, dan
semangat kewirausahaan akan merangkul masa depan ini,
daripada bergantung pada status quo. Orang dapat menjadi lebih
baik dalam pekerjaan mereka dengan teknologi saat ini — dan
teknologi yang akan datang — daripada takut bahwa keteram-
pilan manusia mereka akan direndahkan.
Kita semua pernah mendengar cerita tentang komputer yang
mengalahkan bahkan para grandmaster terhebat. Namun cerita-
nya lebih bernuansa; manusia dan komputer bermain berbeda
dan masing-masing memiliki kekuatan dan kelemahan. Komputer
lebih memilih untuk mundur, tetapi mereka dapat menyimpan
sejumlah besar data dan tidak bias dalam pengambilan keputusan
mereka. Manusia bisa lebih keras kepala, tetapi juga bisa mem-
baca kelemahan lawan mereka, mengevaluasi pola kompleks,
dan membuat keputusan kreatif dan strategis untuk menang.
Bahkan para pembuat mesin catur buatan mengakui bahwa
pemain catur terbaik sebenarnya adalah tim manusia dan mesin.

274
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

Dunia akan selalu membutuhkan kecemerlangan manusia,


kecerdikan manusia dan keterampilan manusia. Perangkat lunak
dan teknologi memiliki potensi untuk memberdayakan orang ke
tingkat yang jauh lebih besar daripada di masa lalu — membuka
kreativitas, persepsi, dan imajinasi laten manusia di setiap tingkat
setiap organisasi. Pergeseran ini akan memungkinkan pekerja di
garis depan, di jalan dan di lapangan untuk membuat keputusan
yang lebih cerdas, memecahkan masalah yang lebih berat dan
melakukan pekerjaan mereka dengan lebih baik.
Melalui cara yang sama bahwa master catur dan komputer
bekerja paling baik bersama, mekanik menggunakan keteram-
pilan manusia yang tidak dapat direplikasi oleh sebuah mesin:
kecerdikan, kreativitas, dan pengalaman. Teknologi mendeteksi
masalah yang tidak diketahui dan tidak terlihat oleh mata
manusia, sehingga ketika mekanik dan teknologi bekerja sama,
pekerjaan diselesaikan lebih cepat, dengan lebih sedikit kesalahan
dan hasil yang lebih baik. Sebagaimana yang kini terjadi di semua
industri seperti penerbangan, energi, transportasi, kota cerdas,
manufaktur, sumber daya alam, dan konstruksi.
Produktivitas yang dapat mengingatkan pada apa yang dilihat
dunia saat munculnya Revolusi Industri 1.0. Tetapi dampak
Revolusi Industri 4.0 akan berjalan jauh lebih luas, dan lebih
dalam, daripada yang pertama. Manusia hari ini akan memiliki
pengetahuan, bakat, dan alat untuk menyelesaikan beberapa
masalah terbesar dunia: kelaparan, perubahan iklim, penyakit.
Mesin akan memberi wawasan dan perspektif yang manusia
butuhkan untuk mencapai solusi tersebut. Tetapi mereka tidak
akan memberikan penilaian atau kecerdikan.

275
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

“Modernitas adalah kesepakatan,” tulis Harari dalam


bukunya Homo Deus: A Brief History of Tomorrow, bahwa
“seluruh kontrak dapat dirangkum dalam satu frase bahwa
manusia setuju untuk menyerah makna dalam pertukaran untuk
kekuasaan.” Kekuatan dari Revolusi Industri 4.0 dalam waktu
dekat memberi kita atribut seperti dewa yaitu kemampuan untuk
memperpanjang rentang hidup dan bahkan menipu kematian,
agensi untuk menciptakan bentuk kehidupan baru, untuk men-
jadi perancang cerdas Galapagos, sarana untuk mengakhiri
perang dan kelaparan dan wabah. Namun akan ada harga yang
harus dibayar untuk kekuatan ini.
Sebagai permulaan, Harari menyarankan, itu ditakdirkan, jika
tren saat ini berlanjut, untuk didistribusikan dengan sangat tidak
merata.312 Umur panjang dan kualitas super-manusia yang baru
cenderung menjadi pelestarian techno super-kaya, penguasa
alam semesta data. Sementara itu, redundansi tenaga kerja, diganti-
kan oleh mesin-mesin yang efisien, akan menciptakan “kelas tidak
berguna” yang sangat besar, tanpa tujuan ekonomi atau militer.
Sehingga dengan tidak adanya agama, fiksi yang menyeluruh
akan diperlukan untuk memahami dunia. Sekali lagi, jika tidak
ada perubahan dalam pendekatan manusia, Harari memba-
yangkan bahwa “Dataisme”, keyakinan universal pada kekuatan
algoritma, akan menjadi sakral.313 Bagi para utopian, ini akan
sangat mirip dengan “singularitas”: sistem pemrosesan data yang
serba tahu dan ada di mana-mana, yang benar-benar tidak dapat

312 Yuval Noah Harari, Homo Deus: A Brief History of Tomorrow, Harvill Secker,
London, 2017.
313 Id.

276
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

dibedakan dari gagasan-gagasan Tuhan, yang dengannya


manusia akan selalu terhubung.
Harari dalam bukunya optimis tentang prospek ini, bahwa
dia memiliki rasa keadilan yang kuat dari para ahli etika: apa yang
Homo Sapiens (dalam kebijaksanaannya) telah kunjungi di dunia
alami melalui produksi pangan industri mungkin suatu hari akan
dikunjungi oleh Homo Sapiens. Individu akan menjadi hanya
kumpulan “subsistem biokimia” yang dipantau oleh jaringan glo-
bal, yang akan memberi tahu kita detik demi detik bagaimana
perasaan kita. Dari tempat kami berdiri, katanya, di masa kini
yang dipercepat, tidak ada masa depan jangka panjang yang bisa
dibayangkan, masih kurang dapat diprediksi - dan ada banyak
waktu untuk pertanyaan. Pertanyaan Harari yang kadang-kadang
sesak nafas dan selalu kompulsif membuat kita seperti ini: “Apa
yang lebih berharga - kecerdasan atau kesadaran?” Google tidak
akan membantu dalam memberikan jawabannya.314
Pembentukan aturan perundang-undangan, yang dirumus-
kan dengan bersaranakan bahasa, dimaksudkan untuk mengatur
perilaku warga masyarakat dan untuk digunakan menyelesaikan
masalah yang mungkin terjadi di kemudian hari. Maksudnya,
aturan-aturan itu dimaksudkan untuk peristiwa-peristiwa di masa
depan setelah terbentuknya aturan-aturan itu, dan tidak dimak-
sudkan untuk mengatur peristiwa yang sudah terjadi sebelum
terbentuknya (non-retroaktif). Namun, pembentuk undang-
undang tidak mampu untuk mengantisipasi semua kejadian
konkret individual. Karena itu, untuk dapat mencakup kejadian-
kejadian konkret yang tidak dapat dibayangkan kemungkinan

314 Id.

277
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

terjadinya terlebih dahulu, maka pembentuk undang-undang


menggunakan kata-kata atau istilah-istilah umum yang cakupan
penerapannya luas dan abstrak dalam perumusannya. Artinya,
yang dirumuskan dalam aturan perundang-undangan adalah
model-model perilaku yang abstrak, sehingga dapat berlaku
secara umum. Dengan demikian untuk dapat diterapkan dan
digunakan menyelesaikan masalah (sengketa) konkret, maka
aturan tersebut harus dipahami sehingga dapat diketahui apa yang
mau diharuskan atau dilarang dengan aturan itu.
Untuk dapat memahaminya, aturan tersebut harus diinter-
pretasi sedemikian sehingga kaidah hukum yang tercantum
(tersembunyi) di dalam aturan perundang-undangan dapat
ditampilkan ke permukaan. Jadi, ketika aturan perundang-
undangan akan diterapkan atau digunakan, maka aturan abstrak
yang berlaku secara umum itu harus dikonkretisasikan, artinya
diindividualisasi pada situasi konkret yang tengah dihadapi.
Dengan cara itu akan menjadi jelas, dalam situasi konkret tertentu,
siapa berhak (berkewajiban) atas apa terhadap siapa berkenaan
dengan apa dan atas dasar apa; artinya untuk menentukan apa
kaidah hukumnya bagi situasi konkret terntenu. Karena menurut
hakikat, tujuan dan fungsinya, aturan perundang-undangan itu
selalu berlaku umum dan absrak, maka untuk dapat diterapkan
dengan baik, maka aturan tersebut selalu memerlukan interpretasi,
artinya kaidah hukum yang tercantum di dalamnya harus
ditemukan terlebih dahulu melalui interpretasi dan atau konstruksi.
Bahkan pernyataan “In claris non est interpretatio” (jika sudah
jelas maka tidak diperlukan interpretasi) sesungguhnya adalah
sebuah hasil interpretasi.

278
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

Upaya untuk menemukan kaidah hukum yang tercantum


dalam aturan perundangan mendorong studi dan munculnya
metode interpretasi. Sejak terbentuk kodifikasi hukum di Perancis,
aliran legisme mendominasi praktek hukum dan pemikiran
tentang hukum. Di bawah dominasi legisme, maka metode
interpretasi yang dominant dalam 5 sampai 7 dekade sejak
terbentuknya kodifikasi hukum di Perancis adalah metode
gramatikal, historis, dan sistematis. Gerakan kodifikasi hukum dan
berpengaruhnya Aliran Legisme adalah reaksi terhadap abso-
lutisme yang sewenang-wenang. Karena itu, tidak mengherankan
jika nilai-nilai kepastian hukum dan prediktabilitas mendominasi
pemikiran tentang hukum dan penyelenggaraan hukum dalam
kenyataan sejak gerakan itu memberikan hasil yang nyata.
Setelah Ajaran Legisme dengan metode interpretasi grama-
tikal, historikal, dan sistematis sudah tidak memenuhi lagi tuntutan
keadilan dalam masyarakat, maka pada abad 19, studi tentang
metode-metode penemuan hukum mengalami kemajuan pesat.
Studi ini memunculkan dan mengembangkan metode-metode
interpretasi secara gramatikal, historikal, sistematis, teleologis dan
sosiologis. Di samping itu juga mengembangkan metode-metode
konstruksi hukum yang mencakup yaitu argumentum per analo-
giam (analogi), argumentum a contrario, argumentum a fortiori,
dan penghalusan hukum nilai kepastian hukum dan predikta-
bilitas mendominasi pemikiran tentang hukum. Pada abad ke-
20 yang menonjol adalah studi tentang penalaran hukum (legal
reasoning) atau teori argumentasi yuridik.
Untuk mewujudkan tujuan hukum yang sesungguhnya,
artinya untuk membuat hukum menjadi hukum yang progresif,

279
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

yakni hukum yang mengabdi manusia, untuk mewujudkan


kedilan di dalam masyarakat, maka secara hermeneutis semua
metode interpretasi perlu dikerahkan. Jadi, menetapkan apa
makna hukum yang tercantum dalam suatu aturan perundang-
undangan dilakukan berdasarkan aturan hukum positif yang
dipahami (diinterpretasi) berdasarkan makna kata dan struktur
kalimatnya (gramatikal) dalam konteks latar belakang sejarah
(historikal) dalam kaitan dengan tujuannya (teleologikal) yang
menentukan isi aturan hukum positif tersebut serta dalam konteks
hubungan aturan-aturan positif yang lainnya (sistematikal), dan
secara kontekstual merujuk pada faktor-faktor kenyataan kema-
syarakatan dan ekonomika (sosiologikal) dengan mengacu nilai-
nilai kultural dan kemanusiaan yang fundamental (filosofikal)
dalam proyeksi ke masa depan (futurologikal).

280
Paradigma Futurikal Teori Hukum dalam Revolusi Industri 4.0

Daftar Pustaka

A.A.G. Peters dan Koesriani Siswosoebroto, Hukum dan


Perkembangan Sosial, Buku I, Pustaka Sinar Harapan,
Jakarta, 1988.
Ahmad M. Ramli, Cyber Law dan HAKI: dalam Sistem Hukum
Indonesia, Refika Aditama, Bandung, 2004.
Albert Borgmann, Holding on to Reality: The Nature of Informa-
tion at the Turn of the Millennium (1999).
Alfredo Mordechai Rubello, “Unidroit Convention on Interna-
tional Contract”, Uniform Law Review, Vol. 8, 2003.
Andrew Feenberg, Heidegger and Marcuse: The Catastrophe and
Redemption of History 25 (2005).
Angeline Lee, “Convergence in Telecom, Broadcasting and it: A
Comparative Analysis of Regulatory Approaches in Ma-
laysia, Hong Kong and Singapore”, Singapore Journal of
International and Comparative Law, 2001.
Anthony Ogus, “Competition Between National Legal Systems:
A Contribution of Economic Analysis to Comparative Law”,
48 Int’l & Comp. L.Q. 405 (1999);
Anthony Ogus, “Competition between National Legal Systems:
A Contribution of Economic Analysis to Comparative Law”,
48 Int’l & Comp. L.Q. 405 (1999).
Barry Brown, “Human Cloning and Genetic Engineering: The
Case for Proceeding Cautiously”, 65 Alb. L. Rev. 649, 649-
650 (2002); .

281
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Basil S. Markesinis, Foreign Law & Comparative Methodology: A


Subject & a Thesis, 6 (1997).
, Always on the Same Path: Essays on Foreign Law
& Comparative Methodology (2001).
& Hannes Unberath, The German Law of Torts: A
Comparative Treatise (2002).
Bernard Arief Sidharta, Ilmu Hukum Indonesia: Upaya
Pengembangan Ilmu Hukum Sistematik yang Responsif
terhadap Perubahan Masyarakat, Genta Publishing,
Yogyakarta, 2013.
Bert-Jaap Koops, “Should ICT Regulation be Technology-Neu-
tral?”, IT Law Series Vol. 9, The Hague, 2006.
Black’s Law Dictionary, Ninth Edition, West Publishing Co, St.
Paul, 2009.
Boyle, “The Politics of Reason: Critical Legal Theory and Local
Social Thought”, 133 U. PA. L. REV. 685 (1985).
Brad Sherman & Lionel Bently, The Making of Modern Intellec-
tual Property Law: The British Experience 1760-1911
(1999).
Brett H. McDonnell, “Convergence in Corporate Governance”,
Villanova Law Review, 2002.
Brian Leiter,”Heidegger and the Theory of Adjudication”, 106
Yale L.J. 253, 253-54 (1996).
Bruno Latour, Where Are the Missing Masses? The Sociology of a
Few Mundane Artifacts, in Shaping Technology/Building
Society: Studies in Sociotechnical Change, (Wiebe E. Bijker
& John Law eds., 1992).
, Aramis or the Love of Technology (Catherine Por-
ter Trans.), 1996.

282
Daftar Pustaka

, “Morality and Technology: The End of the Means”,


19 Theory, Culture and Soc’y 247 (2002).
Carl Mitchnan and Robert Mackey, Introduction: Technology as
a Philosophical Problem, Free Press, New York, 1983.
Catherine Valcke, “Comparative Law as Comparative Jurispru-
dence—The Comparability of Legal Systems”, 52 Am. J.
Comp. L. 713 (2004).
Crenshaw, “Race, Reform, and Retrenchment: Transformation
and Legitimation in Antidiscrimination Law”, 101 HARV.
L. REV 1331 (1988).
Dalton, “An Essay in the Deconstruction of Contract Doctrine”,
94 YALE L.J. 997 (1985).
Darji Darmodiharjo dan Shidarta, Pokok-Pokok Filsafat Hukum,
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2006.
David O’Donnell and Lars Bo Henriksen, “Philosophical Foun-
dations for Critical Evaluation of the Social Impact of ICT”,
Journal of Information Technology, Vol 17 No 2, 2002.
David E. Tabachnick, “The Politics and Philosophy of Anti-Sci-
ence”, 9 Techne 27 (2005).
Delgado, “The Etheral Scholar: Does Critical Legal Studies Have
What Minorities Want?”, 22 HARV. C.R.-C.L.L. REV. 301
(1987)
Don Ihde, Instrumental Realism: Interface between Philosophy
of Science and Philosophy of Technology, Indiana Press,
Bloomington.
Easterbrook, “Statutes Domain”, 50 U. CHI. L. REV. 533 (1983).
E.g., Konrad Zweigert & Hein Kötz, Introduction to Comparative
Law 24 (Tony Weir trans., 3d ed. 1998).

283
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Eddy Damian, Hukum Hak Cipta, Edisi Ketiga, PT. Alumni,


Bandung, 2009.
European Commission, Green Paper on the Convergence of the
Telecommunications, Media and Information Technology
Sectors, and the Implications for Regulation towards an
Information Society Approach (Brussels: European Com-
mission, 1997).
Fabio Morosini, “Globalization & Law: Beyond Traditional
Methodolgy of Comparative Legal Studies and An Example
from Private International Law”, Cardozo Journal of Inter-
national and Comparative Law, Fall 2005.
Fiss, “The Death of the Law?”, 72 CORNELL L. REV. 1 (1986);
Fletcher, “Fairness and Utility and Tort Theory”, 85 HARV. L.
REV. 537 (1972).
Francis Fukuyama, Our Posthuman Future: Consequences of the
Biotechnology Revolution (2002).
Fredric Jameson, Postmodernism, or, The Cultural Logic of Late
Capitalism, 376 (1991).
Freeman, “Racism, Rights and the Quest of Opportunity: A Criti-
cal Legal Essay”, 23 HARV. C.R.-C.L. L. REV. 295, 321
n.75 (1988).
Frug, “Language as Power”, 84 COLUM. L. REV. 1881, 1895-96
(1984)
, “The Ideology of Bureaurcracy in American Law”,
97 HARV. L. REV. 1276 (1984).
, “Re-Reading Contracts: A Feminist Analysis of a
Contracts Casebook”, 34 AM. U.L. REV. 1065 (1985).
G.L. Finney, Harmony or Rapture in Music in II Dictionary of the
History of Ideas 388, 389 (Charles Scribner’s Sons ed., 1973).

284
Daftar Pustaka

Gabel & Feinman, “Contract Law as Ideology”, The Politics of Law


172 (D. Kairysed. 1982).
Gabel & Harris, “Building Power and Breaking Images: Critical Legal
Theory and the Practice of Law”, 11 N.Y.U. REV. L. & SOC.
CHANGE 369, 374 (1982-83).
Gabel, “The Phenonenology of Rights-Consciousness and the Part
of the Withdrawn Selves”, 62 TEX. L. REV. 1563 (1984).
Gary Minda, “The Jurisprudential Movements of the 1980’s”, Ohio
State Journal, 1989.
Gerhard Dannemann, “Comparative Law: Study of Similarities or
Differences?”, Oxford Handbook of Comparative Law 383
(Mathias Reimann & Reinhard Zimmermann eds., 2006).
Gjerdingen, “The Coase Theorem and the Psychology of Com-
mon Law Thought”, 56 S. CAL. L. REV. 711 (1983).
Goetz & Scott, “Principles of Relational Contracts”, 67 VA. L. REV.
1089 (1981).
Greenwalt, “Discretion and Judicial Decision: The Elusive Quest
for the Fetters That Bind Judges”, 75 COLUM. L. REV. 359
(1975).
Gregory N. Mandel, History Lessons for a General Theory of Law
and Technology, Minnesota Journal of Law in Science and
Technology, Vol. 8:2, 2007.
Guido Calabresi, “An Introduction to Legal Thought: Four Ap-
proaches to Law and to the Allocation of Body Parts”, (2003),
Stanford Law Review, Vol. 55.
Günter Frankenberg, “Critical Comparisons: Rethinking Compara-
tive Law”, 26 Harv. Int’l L.J. 411 (1985).
Gunther Teubner, “Legal Irritants: Good Faith in British Law or How
Unifying Law Ends Up in New Divergences”, 61 M.L.R. 11
(1998).

285
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Hans Kelsen, General Theory of Law & State, Transaction Pub-


lishers, New Jersey, 2006.
H. Patrick Glenn, “Harmony of Law in the America”, University
of Miami Inter-American Law Review, Spring, 2003.
Harry Newton, Newton’s Telecom Dictionary, CMP Books, New
York, 2002.
Herbert Marcuse, One-Dimensional Man: Studies in the Ideol-
ogy of Advanced Industrial Society (1964).
Herlien Boediono, Het Evenwichtsbeginsel voor het Indonesich
Contracttenrechten, Disertasi, 2001.
Horatia Muir Watt, La Fonction Subversive du Droit Comparé,
Revue Internationale De Droit Comparé, July-Sept. 2000.
Horatia Muir Watt, “Experiences from Europe: Legal Diversity and
the Internal Market”, 39 Tex. Int’l. L.J. 429 (2004).
Horwitz, The Transformation of American Law, 1780-1860 (1977).
Horwitz, “Republicanism and Liberalism in American Constitu-
tional Thought”, 29 WM. & MARY L. REV. 57 (1987).
HR Otje Salman S dan Anton F. Susanto, Teori Hukum:
Mengingat, Mengumpulkan dan Membuka Kembali,
Refika Aditama, Bandung, 2004.
Ingrid Scheibler, Gadamer, “Heidegger and the Social Dimen-
sions of Language: Reflections on the Critical Potential of
Hermeneutical Philosophy”, 76 Chi.-Kent L. Rev. 853, 856-
69 (2000).
Jacques Ellul, The Technological Society (John Wilkinson trans.,
1964).
James Gordley, “Is Comparative Law a Distinct Discipline?”, 46
Am. J. Comp. L. 607 (1998).
Jan Gijssels dan Mark van Hoecke, Wat is rechtstheorie?, 1982.

286
Daftar Pustaka

Jan van Dijk, The Network Society: Social Aspects of New Media
(London: Sage, 1999).
Jennifer G. Hill, “The Persistent Debate about Convergence in
Comparative Corporate Governance”, 27 Sydney L. Rev.
743 (2005).
Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III Dalam Jaringan (on-line
dictionary), dapat diunduh melalui laman <http://
pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/>
Kelman, “Consumption Theory, Production Theory, and Ideol-
ogy in the Coase Theorem”, 52 S. CAL. L. REV. 669, 678-
95 (1979).
Kelman, “Misunderstanding Social Life: A Critique of the Core
Premises of ‘Law and Economics’”, 33 J. LEGAL EDUC.
274 (1983).
Kelman, “Trashing”, 36 STAN. L. REV. 293 (1984).
Kennedy, “Form and Substance in Private Law Adjudication”,
89 HARV. L. REV. 1685 (1976).
, “The Structure of Blackstone’s Commentaries”, 28
BUFFALO L. REV. 209 (1979).
, “These about International Law Discourse”, 23
GERMAN YEARBOOK OF INTERNATIONAL LAW 353
(1980).
, “Cost-Benefit Analysis f Entitlement Problems: A
Critique”, 33 STAN. L. REV. 387 (1981).
, “Freedom and Constraint in Adjudication: A Criti-
cal Phenomenology”, 36 J. LEGAL EDUC. 518 (1986).
Kieran Tranter, “Mad Max: The Car and Australian Government”,
5 National Identities 61 (2003).
, “The History of the Haste-Wagons’: The Motor

287
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Car Act 1909 (VIC), Emergent Technology and the Call for
Law”, 29 Melb. U. L. Rev. 843 (2005).
, “Nomology, Ontology, and Phenomenology of
Law and Technology”, Minnesota Journal of Law, Science
& Technology, Spring 2007.
Klare, “Judicial Deradicalization of the Wagner Act and the Ori-
gins of Modern Legal Consciousness 1937-1941”, 62
MINN. L. REV. 265 (1978)
Kornhauser, “The Great Image of Authority”, 36 STAN. L. REV.
349 (1984).
West, “Jurisprudence and Gender”, 55 U. CHI. L. REV. 1 (1988).
Kornhauser, “The Great Image of Authority”, 36 STAN. L. REV.
349 (1984).
Lili Rasjidi dan Ira Thania Rasjidi, Dasar-Dasar Filsafat dan Teori
Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2007.
L.M. Gandhi, Harmonisasi Hukum Menuju Hukum Yang
Responsif, Pidato Pengukuhan Guru Besar pada Fakultas
Hukum UI, Jakarta, 14 Oktober 1995.
Langdon Winner, The Whale and the Reactor: A Search For Limits
In an Age of High Technology, (1986).
Laura Nader, “Comments”, 46 Am. J. Comp. L. 597 (1998). O.
Lando, Why Harmonize Contracts Law of Europe, in Inter-
national Contracts & Conflicts of Law (P. Sarcovic ed., 1990).
Leff, “Economic Analysis of Law: Some Realism About Nominal-
ism”, 60 VA. L. REV. 451 (1974) dan Ulen, “Law and Eco-
nomics: Settled Issues And Open Questions”, Law and Eco-
nomics210 (N. Mercuro ed. 1989).
Lewis Mumford, Technics and the Nature of Man, dalam Carl
Mitchnan and Robert Mackey, Introduction: Technology

288
Daftar Pustaka

as a Philosophical Problem. George Pattison, The Later


Heidegger, Routledge, London, 2000.
Liao, Y., Loures, E. R., Deschamps, F., Brezinski, G., & Venâncio,
A. (2017). The impact of the fourth industrial revolution: a
cross-country/region comparison. Production, 28,
e20180061. DOI: 10.1590/0103-6513.20180061
Lili Rasjidi dan Ira Thania Rasjidi, Dasar-Dasar Filsafat dan Teori
Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2007.
Lyria Bennett Moses, “Understanding Legal Responses to
Technological Change: The Example of In Vitro Fertiliza-
tion”, 6 Minn. J. L. Sci. & Tech. 505, 509 (2005).
MacNeil, “Contracts: Adjustments of Long-Term Economic Rela-
tions Under Classical, Neoclassical, and Relational Con-
tract Law”, 72 NW. U.L. REV. 854 (1978).
M. Olsen, The Logic of Collective Action (1965) sebagaimana
pula dimuat dalam “Symposium on the Theory of Public
Choice”, 74 VA. L. REV. 167 (1988).
Marett Leiboff dan Mark Thomas, Legal Theories in Principle,
Lawbook Co, New South Wales, 2004.
Martin Heidegger, The Age of the World Picture, in The Ques-
tion Concerning Technology and Other Essays 115, 116
(William Lovitt trans., 1977).
, The Question Concerning Technology, in The
Question Concerning Technology and Other Essays 3, 16
(William Lovitt trans., 1977).
, The Turning, in The Question Concerning
Technology and Other Essays 36, 39 (William Lovitt trans.,
1977).
, Being and Time 1 (Joan Stambaugh trans., 1996).

289
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Matsuda, “Looking to the Bottom: Critical Legal Studies and


Reparations”, 22 HARV. C.R.-C.L.L. REV. 323 (1987).
Menkel-Meadow, “Feminist Legal Theory, Critical Legal Studies,
and Legal Education or ‘The Fem-Crits Go to Law School’,
38 J. LEGAL EDUC. 61 (1988).
Minda, “The Lawyer-Economist at Chicago: Richard A. Posner
“The Economic Analysis of Law”, 39 OHIO ST. L.J. 439,
462 (1978).
, “The Law and Economics and Critical Legal Stud-
ies Movements in American Law”, sebagaimana dimuat
dalam Law and Economics 87 (N. Mercuro ed. 1989).
Minow, “Law Turning Outward”, 73 TELOS 79 (1986).
Mochtar Kusumaatmadja, Hukum dan Masyarakat dan
Pembinaan Hukum Nasional, Lembaga Penelitian Hukum
dan Kriminologi Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran,
Bandung-Penerbit Binacipta, 1976.
, Pengantar Hukum Internasional, Penerbit
Binacipta, 1976.
, Konsep-Konsep Hukum dalam Pembangunan,
Pusat Studi Wawasan Nusantara, Hukum dan
Pembangunan bekerjasama dengan Penerbit PT. Alumni,
Bandung, 2006.
Moh. Hasan Wargakusumah, Perumusan Harmonisasi Hukum
tentang Metodologi Harmonisasi Hukum, Jakarta: Badan
Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman,
1996/1997.
Nuno Garoupa dan Anthony Ogus, “A Strategic Interpertation of
Legal Transplants”, Journal of Legal Studies, The University
of Chicago, Juni, 2006.

290
Daftar Pustaka

Olsen, “The Family and the Market: A Study of Ideology and Le-
gal Reform”, 96 HARV. L. REV. 1497 (1983).
O. Williamson, The Economics of Discretionary Behaviour: Mana-
gerial Objectives in a Theory of the Firm (1964).
Paul B. Stephan, The Futility of Unification and Harmonisation in
International Commercial Law, University of Virginia School
of Law, 1999.
Peller, “The metaphysics of American Law”, 73 CALIF. L. REV.
1151, 1268 (1985).
Peter-Paul Verbeek, “Devices of Engagement: On Borgmann’s
Philosophy of Information and Technology”, 6 Techne 69
(2002).
Philippe Nonet, “What is Positive Law?”, 100 Yale L.J. 667, 686
(1990).
Pierre Legrand, “European Legal Systems Are Not Converging”,
45 Int’l & Comp. L.Q. 52, 61-62 (1996).
, Sens et Non-Sens D’un Code Civil European, Re-
vue Internationale De Droit Comparé, Oct.-Dec. 1996.
, “Structuring European Community Law: How Tacit
Knowledge Matters, 21 Hastings Int’l & Comp. L. Rev. 871
(1998)
, Counterpoint: Law Is Also Culture, in The Unifi-
cation of International Commercial Law, 245 (Franco Ferrari
ed., 1998).
, Fragments on Law-As-Culture (1999); Pierre
Legrand, Le Droit Comparé (1999).
R. Cooter & T. Ulen, Economics of Law (1988).
R. Posner, “Economics, Politics and the Reading of Statutes and
the Constitution”, 49 U. CHI. L. REV. 262 (1982)

291
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

R. Posner, “Utilitarianism, Economics, and Legal Theory”, 8 J.


LEGAL STUD. 103 (1979).
, The Economics of Justice, Harvard, 1981.
, “Wealth Maximization and Judicial
Decisionmaking”, 4 INT’L. REV. L. & ECON. 131 (1984).
, The Economic Analysis of Law, Aspen, 3d ed.
1986.
, “The Decline of Law as an Autonomous Disci-
pline: 1962-1987”, 100 HARV. L. REV. 761 (1987).
, “The Ethics of Wealth Maximization: Reply To
Malloy”, 36 KANSAS L. REV. 261, 263 (1988).
Ralf Michaels, “Two Paradigm of Jurisdiction”, Michigan Journal
of International Law, Summer 2006.
Report of OECD Roundtable on Regulation and Competition Is-
sues in Broadcasting in the Light of Convergence DAFFE/
CLP(99)1 (1999).
Rob Nicholls, Michelle Rowland, and Dianah Merchant, A Fail-
ure to Converge, a Failure to Recognise Convergence or a
Failure to Care?, ICT Policy in Australia.
Roberto Mangabeira Unger, “The Critical Legal Studies Move-
ment”, Harvard Law Review, January 1983.
Romli Atmasasmita, Teori Hukum Integratif: Rekonstruksi terhadap
Teori Hukum Pembangunan dan Teori Hukum Progresif,
Genta Publishing, Yogyakarta, 2012.
Ronald A. Brand, “Semantic Distinction in an Age of Legal
Convergence”, University of Pennsylvania Journal of
International Economic Law, Spring, 1996.
Ronald J. Gilson, “Globalizing Corporate Governance: Conver-
gence of Form or Function”, 49 Am. J. Comp. L. 329 (2001).

292
Daftar Pustaka

Roscoe Pound, An Introduction of the Philosophy of Law, Yale


University Press, London, 1930.
Rose-Ackerman, “Inalienability and The Theory of Property”, 85
COLUM. L. REV. 931 (1985) .
Schwab, Klaus. “The Fourth Industrial Revolution.” Foreign Af-
fairs. Akses pada tanggal 9 Agustus 2018 melalui https://
www.foreignaffairs.com/articles/2015-12-12/fourth-indus-
trial-revolution.
Sen, “Rational Foolds: A Critique of Behavioral Foundations of
Economic Theory”, 6 PHIL. & PUB. AFF. 317.
Shidarta (Editor), Mochtar Kusumaatmadja dan Teori Hukum
Pembangunan: Eksistensi dan Implikasi, Epistema Institute,
Jakarta, 2012.
Sunstein, “Legal Interference with Private Preferences”, 53 U. CHI.
L. REV. 1129, 1131 (1986).
, “Feminism and Legal Theory”, 101 HARV. L. REV.
826 (1988).
The WIPO Copyright Treaty (WCT) (1996), dapat diunduh melalui
laman http://www.wipo.int/clea/docs /en/wo/
wo033en.htm, dan the WIPO Performances and
Phonograms Treaty (WPPT) (1996) dapat diunduh melalui
laman http://www.wipo.int/clea/docs/en/wo/wo034en.htm.
Thomas Ian McLoud, Legal Theory, Macmillan, 1999, hlm. 9
sebagaimana dimuat oleh Sudikno Mertokusumo, Teori
Hukum, Edisi Revisi, Penerbit Cahaya Atma Pustaka,
Yogyakarta, 2012.
Tim Dant, Materiality an Society, Open University Press, Berk-
shire, 2005..
Tribe, “Policy Science: Analysis or Ideology?”, 2 PHIL. & PUB.

293
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

AFF. 66 (1972);
Tribe, “Technology Assessments and the Fourth Discontinuity:
The Limits of Instrumental Rationality”, 46 S. CAL. L. REV.
617 (1973).
Tushnet, “Critical Legal Studies: An Introduction to Its Origins and
Underpinnings”, 36 J. LEGAL EDUC. 505 (1986).
Tushnet, “Legal Scholarship: Its Causes and Cure”, 90 YALE L.J.
1205, 1211 (1981).
Tushnet, The American Law of Slavery, 1810-1860; Consider-
ation of Humanity and Internet (1981).
Ugo A. Mattei, “A Transaction Costs Approach to the European
Civil Code”, 5 Eur. Rev. Priv. L. 537 (1997)
, Luisa Antonioli & Andrea Rossato, “Comparative
Law and Economics”, 1 Encyclopedia of Law and Eco-
nomics 505 (Boudewijn Bouckaert & Gerrit De Geest eds.,
2000).
Ulen, “Law and Economics: Settled Issues And Open Questions”,
Law and Economics 210 (N. Mercuro ed. 1989).
William Twining, “Alchemical Notes: Reconstructing Ideals from
Deconstructed Rights”, 22 HARV. C.R.-C.L.L. REV. 401
(1987).
, Globalisation and Legal Theory, Butterworths,
London, 2000.
White, “Economics and Law: Two Cultures in Tension”, 54
TENN. L. REV. 161 (1986).
Wolfgang Schivelbusch, The Railway Journey: The Industrializa-
tion of Time and Space in the 19th Century (1986).
Yang Yudong, ICT and Information Flow Theory, State Council
Informatization Office of the People’s Republic of China.

294
Daftar Pustaka

Yuval Noah Harari, Homo Deus: A Brief History of Tomorrow,


Harvill Secker, London, 2017.

Peraturan Perundang-undangan
Peraturan Presiden R.I Nomor 68 Tahun 2005.
Peraturan Presiden R.I. Nomor 61 Tahun 2005.
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah
Konstitusi.
Undang-Undang R.I. Nomor 10 Tahun 2004 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.
Undang-Undang R.I. Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi
dan Transaksi Elektronik pada Bagian Ketentuan Umum
Pasal 1 Butir 3 mengenai pengertian istilah Teknologi
Informasi.
Undang-Undang R.I. Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran.
Undang-Undang R.I. Nomor 36 Tahun 1999 tentang
Telekomunikasi.

Sumber lain:
https://www.foreignaffairs.com/articles/2015-12-12/fourth-indus-
trial-revolution.
http://www.scielo.br/scielo.php? script=sci_arttext&pid=S0103-
65132018000100401#B029.
https://www.weforum.org/agenda/2016/01/the-fourth-industrial-
revolution-what-it-means-and-how-to-respond
https://www.weforum.org/agenda/2016/01/the-fourth-industrial-
revolution-what-it-means-and-how-to-respond
https://trailhead.salesforce.com/en/modules/impacts-of-the-fourth-

295
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

industrial-revolution/units/understand-the-impact-of-the-
fourth-industrial-revolution-on-society-and-individuals#
https://www.weforum.org/agenda/2016/01/the-fourth-industrial-
revolution-what-it-means-and-how-to-respond/
https://www.weforum.org/agenda/2017/02/ethics-2-0-how-the-
brave-new-world-needs-a-moral-compass
https://www.weforum.org/agenda/2017/06/the-fourth-industrial-
revolution-is-about-people-not-just-machines

296
Konstruksi Teori Hukum dalam Revolusi Industri

GLOSARIUM

Industri 4.0:
Adalah nama tren otomasi dan pertukaran data terkini
dalam teknologi pabrik. Istilah ini mencakup sistem siber-
fisik, internet untuk segala, komputasi awan, dan
komputasi kognitif.

Teknologi Informasi-TI (Technology Information-IT):


Keseluruhan peralatan, proses, tata cara dan sistem yang
digunakan untuk menyediakan dan mendukung sistem
informasi di dalam suatu organisasi yang diperuntukkan
bagai para pelanggan dan pemasok. Pada masa sekarang
ini seluruh TI telah dilakukan secara virtual dalam jaringan
termasuk transmisi telekomunikasi dan data yang
terkonvergensi.

Teknologi Informasi dan Komunikasi-TIK


(Information and Communication Technology-ICT):
dipahami juga sebagai teknologi yang mampu untuk
menyimpan, mentransmisikan dan/atau memproses
informasi dan komunikasi. Istilah TIK secara umum lebih
sering digunakan untuk penggunaan teknologi yang
modern khususnya teknologi-teknologi pemrosesan data
secara elektronik. Pemahaman TIK lebih dititikberatkan
kepada komputer, telekomunikasi, jaringan komputer dan
telekomunikasi.

297
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Teknologi Telekomunikasi:
Teknologi yang mencakup kegiatan yang berkaitan
dengan setiap pemancaran, pengiriman, dan atau pene-
rimaan dari setiap informasi dalam bentuk tanda-tanda,
isyarat, tulisan, gambar, suara, dan bunyi melalui sistem
kawat, optik, radio, atau sistem elektromagnetik lainnya.
Teknologi telekomunikasi dipergunakan dalam penye-
lenggaraan telekomunikasi yang mencakup penyeleng-
garaan jaringan telekomunikasi dan jasa telekomunikasi.

Teknologi Penyiaran:
Teknologi yang mencakup kegiatan pemancarluasan
siaran melalui sarana pemancaran dan/atau sarana
transmisi di darat, di laut atau di antariksa dengan
menggunakan spektrum frekuensi radio melalui udara,
kabel, dan/atau media lainnya untuk dapat diterima secara
serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan
perangkat penerima siaran. Teknologi penyiaran terdiri
dari teknologi yang mendukung dua kegiatan utama
penyiaran, yaitu penyiaran radio dan penyiaran televisi
Filsafat Teknologi:
Filsafat kontemporer yang memandang teknologi sebagai
fenomena penting dan perlu direfelksikan secara
mendalam. Pada tataran epistemologi, filsafat teknologi
memunculkan persoalan tentang sifat teknologi. Di
wilayah metafisika, filsafat teknologi mempersoalkan apa
yang nyata (real), apa yang alamiah, apa yang artifisial,
apa yang manusiawi dan apa yang tidak manusiawi.

298
Glosarium

Sementara itu dalam bidang etika pula filsafat teknologi


mempertanyakan perkara moral terkait dengan
penggunaan teknologi yang sesuai dengan martabat
manusia dan konsekuensi penggunaan teknologi. Filsafat
teknologi juga mempertanyakan persoalan politis, yaitu
bagaimana kita sebagai manusia hidup dalam masyarakat
teknologis, bagaimana teknologi mengubah cara hidup
dan relasi sosial kita, serta siapa yang menentukan
kebijakan teknologi yang akan diterapkan.

Filsafat Praksis:
Mendahulukan teori tindakan daripada teori
pengetahuan. Dasar bagi teori pengetahuan merupakan
teori tindakan; contohnya filsafat eksistensial,
fenomenologi, dialektik dan analitik.

Realisme Instrumental:
Pemikiran bahwa kenyataan dilihat secara nyata melalui
instrumen, aktivitas eksperimen dan secara lebih luas
dalam konteks praksis dan persepsi. Realitas ditampilkan
serta dipersepsikan melalui instrumen.

Konvergensi Teknologi 4C
(communication, computing, content and community):
Ketersediaan berbagai jenis teknologi yang berbeda, yang
memiliki fungsi yang hampir sama, di mana dengan
teknologi ini kombinasi yang sinergis antara layanan suara,
data, dan video dapat diolah dan dipertukarkan hanya
dengan menggunakan satu jenis jaringan saja.

299
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Teori Hukum Pembangunan:


Hukum dapat digunakan sebagai alat atau sarana
pembaharuan masyarakat; dan hukum yang baik adalah
hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam
masyarakat. Terminologi “sesuai” dipahami sebagai
pencerminan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat.
Regulasi:
Suatu upaya untuk mengawasi perilaku manusia atau
masyarakat dengan pengaturan-pengaturan atau
pembatasan-pembatasan.

Konvergensi Formal:
Konsepsi yang mengacu pada institusi atau lembaga yang
mengatur dalam format hukum yang sama.

Konvergensi Fungsional: Konsepsi yang dikembangkan dengan


model Amerika, yaitu mengembangkan dengan cepat
dan terus berkelanjutan untuk melakukannya.

300
Glosarium

INDEKS

chaos 149
A Chicago School 8, 9, 10, 11, 13, 14, 16,
Abad Pertengahan 88 20, 27
abstrak 1 Civilization 79
agreement 118, 154, 157 Collins Cobuild 129
Albert Borgmann 61 common law 10
aletheia 102 Critical Legal Studies 6, 21, 23, 24, 25,
algoritma 276 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32
Analitic Jurisprudence 243 cyber space 160
Andrew McAfee 251 cyber-bullying 257
Aristoteles 83, 103, 235, 236, 270 cyberlaw 151, 160
artificial 144, 207, 250, 271 cyberwarfare 266
Asimov 271 cyborg 272
Atzori 215

D
B das Man 107
Basil Markesinis 120, 121 Dasein 100, 106
Being 60 David Hume 242
Belvedere 215 Descartes 96
Bernard Arief Sidharta 229, 230 Dewey 5, 93
Bernard Clements 202 Dianah Merchant 66
Bert-Jaap Koops 65, 176 digital devide 73
beschaving 39 divergensi 124
Big Data 207 Dogmatika Hukum 1, 2
Bill Gates 273 Don Ihde 84, 86, 89, 91, 94, 95, 96, 98
bioteknologi 256 Duncan Kennedy 25, 31
black box 54, 56, 111 Durkheim 5
borderless 188 Dworkin 6, 7
Brad Sherman 55
Braidotti 52
broadband 148
budaya 57, 85, 88, 94, 95. 110, 113, E
115, 120, 218, 219, 268 Eddy Damian 210
byte 75 Edmund Husserl 86
Ehrlich 5
embodied 96
epistemologi 26, 82, 93
C Erik Brynjolfsson 251
Calabresi 209 estetika 88
Cesare Beccaria 232 European Commission 200, 201, 202

301
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

F I
Felix Cohen 233 Ian McLeod 212
Fenomenologi 86, 94, 102 imaging technologies 94
Filsafat Hukum 1, 2 Immanuel Kant 85, 242
force 42 immoral 228
Francis Bacon 89 Isaac Newton 85
Francis Fukuyama 61 ius constituendum 208
Frank 5
Fred Rodell 233
frekuensi 171
Fuller 5, 7 J
J.W. Salmond 245
Jacques Ellul 61, 91, 92
James 5
G Jeffrey Gordon 123
Galileo Galilei 88 Jeremy Bentham 242, 243
GATT 111, 155, 157, 158 Jerome Frank 233
geschitesphilosophie 85 John Austin 4, 7, 112, 234, 243, 244, 245
globalisasi 4, 74, 110, 112, 114, 188 John Chipman Gray 245, 246
Goldstein 167 John Coffee 121, 122
Green Paper 187 John Dewey 86, 92
Gregory N. Mandel 219 John Rawls 6, 7, 11
Gustavo Visentini 123 John Stuart Mill 242, 243
Joseph W. Bingham 232
judicial review 141
Jurgen Habermas 92
H juridical-political 61
Hans Kelsen 4, 7, 234
Haraway 52, 53
harmonious 129
harmonize 129 K
Hart 5, 6 kaidah 41, 46, 189, 208, 237
Hegel 85 Kantian 86
Hegelian 86 Karl Marx 90
Heidegger 58, 59, 60, 61, 81, 82, 92, Karl N. Llewllyn 232
93, 96, 99, 100, 101, 102, 103, Karl Popper 96
104, 105, 106, 107 kaula 34
Helenis 84, 88 Kelsen 5
Herakleitos 83 Khaitan 215
Herbert Marcuse 61, 80, 91, 92 konservatif 51
Herman Oliphant 233 konten 73, 192, 193, 194
hoax 257 Konvergensi 110, 113, 114, 115, 116,
Holmes 5 117, 119, 120, 121, 122, 124, 143,
homo faber 79 144, 146, 153, 164, 168, 175, 181,
Homo Sapiens 277 192, 194, 195, 196, 199, 215
HR Otje Salman 210
Hukum Alam 83, 233
Husserl 93

302
Indeks

mitos 233
L Mochtar Kusumaatmadja 6, 7, 33, 39,
Langdon 56 40, 41, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49,
Laswell 38, 186 50, 51, 52, 116, 181, 202, 205,
Latour 53, 54, 55, 56, 57 209, 210, 211, 246
law is politics 30 modest technology 55
law is rational 15 monopoli 76, 158, 180, 194
Lawrence Cunningham 123 moral code 226
legal certainty 5, 235 Morris R. Cohen 232
legal culture 227, 229
Legal Feminism 6
legal justice 236
Legal Positivism 243, 244 N
legal reasoning 279 Negroponte 146
legal system 219 New Deal 51
legisme 4, 37, 278, 279 Nick Bostrom 271
lembaga 117 Nixdorf 63
Leon Green 233 Nicomachean Ethics 236
Leonardo da Vinci 88 Nominalisme 232
Lewis Kornhauser 12, 13, 14, 15 Northrop 38, 185
Lewis Mumford 79, 80, 81
lex mercatoria 112
lex specialis 191
Liao 216 O
Lili Rasjidi 210 ontis 102
Lionel Bently 55 ontologi 58, 59, 61, 93, 100
living law 4, 47, 234 order 40, 114
Llewellyn 5 orderliness 49
Lon L. Fuller 233

M P
Pancasila 6, 139, 211, 220
macroperception 97 Parmenides 83
Martha Minow 23, 25 particular jurisprudence 243
Martin Bangemann 200 Paul Harris 30
Marx 5, 227, 228 penyiaran 67, 68, 165, 195
Mary Kissane 123 perizinan 170, 171, 172, 196
Max Tegmark 257 pers 76, 77
Maynard 215 Peter Gabel 30
McCalley 215 Pierre Legrand 121
McDougal 38, 186 Plato 87, 123, 224, 225, 235
McLuhan 79 Platonis 96
media 71 poiesis 104
media sosial 272 policy 172
mediasi 173 politeia 235
mens rea 240 Positivisme 86, 87
Michael Polanyi 96 Positivisme Hukum 4
Michelle Rowland 66 Posner 9

303
TEORI HUKUM & REVOLUSI INDUSTRI 4.0

postmodern 6, 7, 220, 221 social engineering 34, 36, 37, 51, 152,
Pound 5, 34, 37, 51, 182, 185, 230 184, 185, 230
power 42 Soepomo 131
Pragmatic Legal Realism 36, 184 Sokrates 83
Pragmatisme 86, 87, 93 Stoa 242
praksis 92, 93, 95, 96, 100 Sudikno Mertokusumo 212
privacy 207 sui generis 191
Prolegnas 135, 136, 137
proses 117
public service 46
public spirit 46 T
T.E. Holland 245
tacit knowledge 96
Taheyrand 45
R techne 88, 103
radikal 97 technoscience 53
radio 68 Teknologi Informasi 63, 64, 65, 66, 67, 69,
real 83 70, 72, 74, 77, 97
rechtssfeer 208 teknosains 87
Reformist School 10 telematika 72, 73, 74
Renaissance 85, 88 Teori Hukum Pembangunan 6
Rene Descartes 89 Thales 83
res cogitans 89 Thomas Kuhn 97
res extensa 89 Thurman Arnold 233
Revolusi Industri 86, 143, 205, 206,
213, 215, 216, 220, 222, 223,
242, 246, 247, 248, 249-271,
273, 274, 275 U
Reynolds 56 ubi societas ibi ius 40
Rob Nicholls 66, 67 USO 156
Romawi 84, 85, 88, 126
Romli Atmasasmita 211, 212
Ronald Gilson 121, 122
Rudolf Stammler 131 V
rule of law 222 values 46
Van Dijk 198
Veblen 80
S violence 60
virtual 64, 253, 258
sakral 276
Sarana Pembaharuan 50
Schwab 247, 248, 254, 259, 262, 270
science 20 W
sengketa 173 W. Friedmann 232
Siddhartha Mukherjee 271 Walter Nelles 233
Siemens 63 WCT 162, 164
Siemieniuch 216 Weber 5
Sir Henry Maine 244 William Paley 244

304
Indeks

William Twining 3, 110, 233


WIPO 154, 158, 160, 161, 162, 163
Wolfgang Schivelbusch 54
WTO 154, 160

Y
Yang Yudong 65, 66
Yunani 84, 85, 87, 88, 89, 103
Yuval Harari 273, 276, 277

305