Anda di halaman 1dari 32

ENGERTIAN MANAJEMEN

Pengertian Manajemen
Istilah manajemen berasal dari kata management (Bahasa Inggris), berasal dari kata “to manage” yang
artinya mengurus atau tata laksana. Sehingga manajemen dapat diartikan bagaimana cara mengatur,
membimbing dan memimpin semua orang yang menjadi bawahannya agar usaha yang sedang
dikerjakan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Banyak ahli yang memberikan
definisi tentang manajemen, diantaranya
1. Harold Knoontz & O’ Donnel dalam bukunya yang berjudul “Principles Of Management”
mengemukakan, “Manajemen adalah berhubungan dengan pencapainan suatu tujuan yang dilakukan
melalui dan dengan orang-orang lain”.
2. George R Terry dalam bukunya yang berjudul “Principles Of Manjemen” memberikan definisi:
“Manajemen adalah suatu proses yang membedakan atas perencanaan, pengorganisasian, penggerakan
pelaksanaan , dan pengawasan dengan memanfaatkan baik ilmu maupun seni agar dapat menyelesaikan
tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya”.
3. Pengertian Manajemen Menurut James A.F. Stoner
Manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian
upaya dari anggota organisasi serta penggunaan sumua sumber daya yang ada pada organisasi untuk
mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.
FUNGSI-FUNGSI MANAJEMEN
1. Fungsi Perencanaan / Planning
Fungsi perencanaan adalah suatu kegiatan membuat tujuan perusahaan dan diikuti dengan membuat
berbagai rencana untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan tersebut.
2. Fungsi Pengorganisasian / Organizing
Fungsi perngorganisasian adalah suatu kegiatan pengaturan pada sumber daya manusia dan
sumberdaya fisik lain yang dimiliki perusahaan untuk menjalankan rencana yang telah ditetapkan serta
menggapai tujuan perusahaan.
3. Fungsi Pengarahan / Directing / Leading / Actuating
Fungsi pengarahan adalah suatu fungsi kepemimpinan manajer untuk meningkatkan efektifitas dan
efisiensi kerja secara maksimal serta menciptakan lingkungan kerja yang sehat, dinamis, dan lain
sebagainya.
4. Fungsi Pengendalian / Controling
Fungsi pengendalian adalah suatu aktivitas menilai kinerja berdasarkan standar yang telah dibuat untuk
kemudian dibuat perubahan atau perbaikan jika diperlukan.
Fungsi-fungsi tersebut harus ada agar mendapatkan hasil manajemen yang maksimal untuk perusahaan
atau organisasi.
UNSUR-UNSUR MANAJEMEN
Untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan diperlukan alat-alat sarana (tools). Tools merupakan
syarat suatu usaha untuk mencapai hasil yang ditetapkan. Tools tersebut dikenal dengan 6M, yaitu men,
money, materials, machines, method, dan markets.
· Man (SDM)
Dalam manajemen, faktor manusia adalah yang paling menentukan. Manusia yang membuat tujuan dan
manusia pula yang melakukan proses untuk mencapai tujuan. Tanpa ada manusia tidak ada proses kerja,
sebab pada dasarnya manusia adalah makhluk kerja.
· Money (uang)
Uang merupakan salah satu unsur yang tidak dapat diabaikan. Uang merupakan alat tukar dan alat
pengukur nilai. Besar-kecilnya hasil kegiatan dapat diukur dari jumlah uang yang beredar dalam
perusahaan. Oleh karena itu uang merupakan alat (tools) yang penting untuk mencapai tujuan karena
segala sesuatu harus diperhitungkan secara rasional. Hal ini akan berhubungan dengan berapa uang
yang harus disediakan untuk membiayai gaji tenaga kerja, alat-alat yang dibutuhkan dan harus dibeli
serta berapa hasil yang akan dicapai dari suatu organisasi.
· Materials (bahan)
Materi terdiri dari bahan setengah jadi (raw material) dan bahan jadi. Dalam dunia usaha untuk
mencapai hasil yang lebih baik, selain manusia yang ahli dalam bidangnya juga harus dapat
menggunakan bahan/materi-materi sebagai salah satu sarana. Sebab materi dan manusia tidaki dapat
dipisahkan, tanpa materi tidak akan tercapai hasil yang dikehendaki.
· Machines (mesin)
Dalam kegiatan perusahaan, mesin sangat diperlukan. Penggunaan mesin akan membawa kemudahan
atau menghasilkan keuntungan yang lebih besar serta menciptakan efesiensi kerja.
· Methods (metode)
Dalam pelaksanaan kerja diperlukan metode-metode kerja. Suatu tata cara kerja yang baik akan
memperlancar jalannya pekerjaan. Sebuah metode daat dinyatakan sebagai penetapan cara
pelaksanaan kerja suatu tugas dengan memberikan berbagai pertimbangan-pertimbangan kepada
sasaran, fasilitas-fasilitas yang tersedia dan penggunaan waktu, serta uang dan kegiatan usaha. Perlu
diingat meskipun metode baik, sedangkan orang yang melaksanakannya tidak mengerti atau tidak
mempunyai pengalaman maka hasilnya tidak akan memuaskan. Dengan demikian, peranan utama
dalam manajemen tetap manusianya sendiri.
· Market (pasar)
Memasarkan produk sudah barang tentu sangat penting sebab bila barang yang diproduksi tidak laku,
maka proses produksi barang akan berhenti. Artinya, proses kerja tidak akan berlangsung. Oleh sebab
itu, penguasaan pasar dalam arti menyebarkan hasil produksi merupakan faktor menentukan dalam
perusahaan. Agar pasar dapat dikuasai maka kualitas dan harga barang harus sesuai dengan selera
konsumen dan daya beli (kemampuan) konsumen.
Unsur- unsur manajemen menjadi hal mutlak dalam manajemen karena sebagai penentu arah
perusahaan dalam melakukan kegiatan perusahaan.
FARMASI
Farmasi (bahasa Inggris: pharmacy, bahasa Yunani: pharmacon, yang berarti: obat) merupakan salah
satu bidang profesional kesehatan yang merupakan kombinasi dari ilmu kesehatan danilmu kimia, yang
mempunyai tanggung-jawab memastikan efektivitas dan keamanan penggunaan obat. Ruang lingkup
dari praktik farmasi termasuk praktik farmasi tradisional seperti peracikan dan penyediaan sediaan obat,
serta pelayanan farmasi modern yang berhubungan dengan layanan terhadap pasien (patient care) di
antaranya layanan klinik, evaluasi efikasi dan keamanan penggunaan obat, dan penyediaan informasi
obat. Kata farmasi berasal dari kata farma (pharma). Farma merupakan istilah yang dipakai di
tahun 1400 – 1600an.
Institusi farmasi Eropa pertama kali berdiri di Trier, Jerman, pada tahun 1241 dan tetap eksis sampai
dengan sekarang.
PRAKTIK/PEKERJAN KEFARMASIAN
Praktik Kefarmasian yang meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi,
pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian obat, pelayanan obat atas resep dokter,
pelayanan informasi obat serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional harus dilakukan
oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan sesuai dengan peraturan perundang-
undangan“.
Dalam PP 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian dikenalkan istilah “Pelayanan Kefarmasian”,
yang didefinisikan sebagai “suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang
berkaitan dengan Sediaan Farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu
kehidupan pasien
PROFESI/ PRAKTIK APOTEKER
Apoteker adalah seorang sarjana farmasi yang telah menyelesaikan program pendidikan profesi
apoteker. Jabatan publik sebagai apoteker dengan sendirinya akan melekat kepada mereka yang telah
selesai menempuh pendidikan apoteker dan mengucapkan sumpah. Seorang apoteker yang akan
menjalankan praktek kefarmasian harus memiliki surat tanda registrasi apoteker dan memiliki surat ijin
praktek atau surat ijin kerja.
Akan tetapi, seorang apoteker masih mempunyai kebebasan memilih untuk tidak menjalankan praktek
kefarmasian sepanjang yang bersangkutan bekerja diluar area praktek kefarmasian. Mudahnya, bila ada
apoteker yang menjadi dosen, bekerja di Badan POM atau Depkes, bekerja di industri farmasi tetapi
bukan sebagai penanggungjawab produksi atau quality control mereka terbebas dari aturan PP 51/2009.
Begitu juga bagi mereka yang menjadi pegawai bank atau pegawai pajak. Apalagi bagi mereka yang
memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Jadi jelaslah bahwa bahwa praktek kefarmasian adalah
domain bagi apoteker yang konsekuen untuk menjalankan amanah profesinya.
Dengan mengelaborasi secara kontekstual seperti tersebut diatas maka rasanya saya yakin bahwa
sejawat yang keberatan dengan PP 51/2009 sebenarnya adalah mereka yang selama ini sudah mapan
dengan mata pencahariannya tetapi “mengkapitalisasi” ijazah apotekernya di apotek. Bagi mereka
aturan dalam PP 51/2009 memang akan mengusik zona kenyamanannya. Tapi tidak demikian bagi
sejawat yang benar-benar menjiwai makna keprofesian dan secara sadar memahami makna lafal
sumpah/janji yang mereka ucapkan sewaktu dilantik sebagai apoteker.
Oleh sebab itu ijinkanlah saya menggarisbawahi bahwa PP 51/2009 memang hanya ditujukan bagi
apoteker yang akan berpraktek. Bagi sejawat yang tidak setuju dengan PP 51/2009, sejawat masih tetap
berhak menyandang jabatan publik sebagai apoteker namun tidak diperkenankan menyelenggarakan
praktek kefarmasian. Bila sejawat melanggar, maka akan terkena sangsi sebagaimana tertuang dalam
pasal 198 UU 36/2009 tentang kesehatan

Pengertian Manajemen Farmasi

Manajemen Farmasi adalah suatu proses atau kegiatan yang dilaksanakan di bidang farmasi
untuk tercapainya tujuan yang taleh ditetapkan (Moch. Anief, 1995)

2.2.2 Pengertian Farmasi


Farmasi adalah suatu profesi kesehatan yang berhubungan dengan pembuatan dan distribusi dari
produk yang berkhasiat obat dan cocok, enak dipakai untuk mencegah, mendiagnosa atau
pengobatan penyakit. (Moch. Anief 1995)

2.2.3 Fungsi Umum Manajemen

Fungsi umum manajemen yang paling penting dalam farmasi adalah Planning, Organizing,
Actuating dan Controlling. Dalam fungsi ini juga ada proses penentuan keputusan. Poses tersebut
adalah :

1. Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.


2. Melakukan analisa untuk memecahkan masalah.
3. Menentukan pemechan masalah terbaik.
4. Mengembangkan pemecahan masalah pengganti.
5. Menyusun keputusan kedalam aksi yang efektif.

(Hendry Fayol)

2.2.4 Pengertian Peran Serta Apoteker

Apoteker ialah seorang yang melakukan pekerjaan kefarmasian sesuai peraturan perundang-
undangan sebagai pengelola kamar obat.

Beberapa peranan apoteker antara lain :

1. Mengawasi pembuatan obat-obatan yang digunakan.


2. Menyediakan dan mengawasi akan kebutuhan ataupun supply obat.
3. Menyelenggarakan system pencatan dan pembukuan yang baik.
4. Ikut serta memberikan program pendidikan atau training kepada Asisiten apoteker
maupun para peserta program OJT.
5. Merencanakan, mengorganisasikan, dan menentukan kebijakan kamar obat.

2.2.5 Aksioma dalam Manajemen Mutu

Kunci utama dalam manajemen mutu diperkenalkan pertama kali oleh Deming Juren. Adapun
kunci utama tersebut yaitu :

1. Komitmen
2. Pendekatan ilmiah dan analisis.
3. Keterlibatan semua staf.

Penerapan program jaminan mutu di Rumah Sakit harus diawali dengan komitmen dan sikap
yang positif. Perbaikan mutu pelayanan kesehatan tanpa menerapkan aksioma tersebut diatas
manajemen farmasi akan sulit mengembangkan mutu pelayana untuk mengawali manajemen
mutu di Rumah Sakit, Unit kerja program jaminan mutu perlu diaktifkan perananya, diberi
kesenangan menyelenggarakan berbagai pertemuan yang membahas mengenai upaya
pengembangan mutu pelayanan.

Manajemen Kefarmasian di Kamar Obat RS Islam Lumajang

Manajemen kefarmasian di kamar obat mencakup beberapa hal, diantaranya manajemen itu
sendiri dan farmasi klinik. Penjelasan mengenai manajemen dan farmasi klinik tersebut secara
garis besar yaitu :

a. Manajemen

1. Menjaga dan meningkatkan mutu kemampuan tenaga kesehatan farmasi dan staf.

2. Mengelola perbekalan farmasi yang efektif dan efisien.

3. Mewujudkan sistem informasi manajemen tepat guna, mudah dievauasi dan berdaya guna
untuk pengembangan.

4. Pengendalian mutu sebagai dasar setiap langkah peningkatan pelayanan mutu kesehatan.

b. Farmasi Klinik

1. Mewujudkan perilaku sehat melalui penggunaan obat rasional.

2. Mengidentifikasi permasalahan yang berhubungan dengan obat.

3. Penyelesaian permasalahan yang berhubungan denganobat melalui kerjasama dengan pasien,


apotek lain, RS lain maupun tenaga kesehatan lain.

4. Meranan, menerapkan dan memonitoring penggunaan untuk penyelesaian masalah yang


berhubungan dengan obat.

5. Melakukan konseling pada pasien maupun tenaga kesehatan untuk terapi rasional.

6. Bekerjasama dengan tenaga kesehatanterkait dalam perencanaan, penerapan dan evaluasi


pengobatan.

7. Menjadi pusat informasi pasien, keluarga dan masyarakat serta tenaga kesehatan Rumah Sakit
yang lainnya.

3.2.2 Tugas Pokok dan Tanggung jawab Kamar Obat RS Islam Lumajang

Penetapan tugas pokok dan tanggung jawab kamar obat RS Islam Lumajang sangat berpengaruh
terhadap terwujudnya fungsi kamar obat sehingga setiap langkah masing-masing bagian dapat
berjalan searah, terkoordinasi atau terpadu dalam menegmban misi kamar obat.
a. Tugas pokok kamar obat

Menyelenggarakan, mengkoordinasikan, mengatur dan mengawasi manajemen sumber daya


Rumah sakit di kamar obat yang diperlukan untuk kegiatan pelayanan farmasi.

b. Tanggung jawab kamar obat

Tercapainya pengelolan sumber daya yang ada di kamar obat RS Islam Lumajang untuk
menyelenggarakan pelayanan farmasi yang memuaskan.

3.2.3 Hak dan Kewajiban Kamar Obat RS Islam Lumajang

a. Memberi pelayanan yang tepat, akurat dan cermat

b. Tidak diijinkan untuk mengganti obat generik dengan obat paten

c. Apabila pasien tidak mampu menebus obat yang di tulis dalam resep, Apoteker wajib
berkonsultasi dengan dokter untuk pemilihan obat yang lebih tepat.

d. Pelayanan farmasi meliputi penyiapan, pencampuran, penyampaian, pemantauan obat dalam


hal dosis, indikasi, efek samping, perhitungan kadar dan harga.

Agar fungsi kamar obat dapat berjalan dengan efektif dan efisien di perlukan sistem kerjasama
dan pembagian tugas antara pimpinan dan staf yang jelas.

http://laodesamsul.blogspot.com/2017/01/manajemen-farmasi.html

PENDAHULUAN

1. Pengertian Manajemen

Istilah manajemen mengacu pada proses mengkoordinasi dan mengintegrasikan kegiatan-kegiatan kerja
agar diselesaikan secara efisien dan efektif dengan dan melalui orang lain. Proses menggambarkan
fungsi-fungsi yang berjalan terus atau kegiatan-kegiatan utama yang dilakukan oleh para manajer.
Fungsi- fungsi ini disebut merancang, mengorganisasi, memimpin dan mengendalikan. Fungsi ini lah
yang membedakan sebuah posisi manajerian dan non manajerian dalam suatu organisasi.

Efisien merupakan bagian terpenting dari manajemen. Efisien itu mengacu pada hubungan antara
masukan dan keluaran. Jika kita mampu mendapatkan lebih banyak keluaran dari sejumlah tertentu
masukan itu berarti kita telah meningkatkan efisien. Atau dengan kata lain “melakukan segala sesuatu
secara tepat.

Dibawah ini terdapat beberapa defenisi manajemen yang dikemukakan para ahli sebagai berikut :

v George R Terry

Manajemen merupakan suatu prosesz khas yang terdiri dari tindakan – tindakan perencanaan,
pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian, yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai
sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui pemamfaatan Sumber Daya Manusia dan sumber-
sumber lainnya.

v Harold koontz dan Cyril O’donnel

Manajemen adalah usaha mencapai tujuan tertentu melalui kegiatan yang lain. Dengan demikian
manajer mengadakan koordinasi atas sejumlah aktivitas orang yang lain yang meliputi perencanaan,
pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian.

v James AF Stoner

Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, dan penggunaan sumber daya – sumber
daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
BAB II

PEMBAHASAN

1. Alasan Manajemen Dibutuhkan

Manajemen dibutuhkan dimana saja orang-orang bekerja bersama (organisasi) untuk mencapai suatu
tujuan bersama. Disamping itu, setiap setiap manusia akan selalu menjadi anggota dari beberapa
macam organisasi, seperti organisasi sekolah, perkumpulan olah raga, kelompok music, militer ataupun
organisasi perusahaan. Singkatnya, manajemen dibutuhkan untuk semua tipe kegiatan yang diorganisasi
dan dalam semua tipe organisasi, karena tanpa manajemen, semua usaha akan sia-sia dan pencapaian
tujuan akan lebih sulit. Ada 3(tiga) alasan utama mengapa manajemen diperlukan, yaitu :

· Untuk mencapai tujuan. Manajemen dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi dan pribadi.

· Untuk menjaga keseimbangan diantara tujuan-tujuan yang saling bertentangan. Manajemen


dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan antara tujuan-tujuan, sasaran-sasaran dan kegiatan-kegiatan
yang saling bertentangan dari pihak-pihak yang berkepentingan dalam orgsnisasi.

· Untuk mencapai efisiensi dan efektivitas. Suatu kerja organisasi dapat di ukur dengan banyak cara yang
berbeda. Salah satu cara yang yang umum adalah efisiensi dan aktifitas.

1.1. Efisiensi Dan Efektivitas Manajemen

Dua konsep utama yang digunakan untuk mengukur prestasi kerja manajemen adalah efisiensi dan
aktivitas. Efisiensi mengacu pada hubungan antara keluaran dan masukan(output/input). Sebaliknya
efektivitas menunjukkan suatu kemampuan perusahaan dalam mencapai sasaran-sasaran(hasil akhir)
yang telah ditetapkan secara tepat. Dengan demikian, antara efektifitas dan efisiensi itu saling terkait.
Organisasi itu tidak dituntut mengejar tujuan semata, akan tetapi bagaiman tujuan itu bias dicapai
dengan efektif dan efisien.

Untuk lebih memperjelas pengertian manajemen akan dibicarakan topik-topik berikut ini:

· Manajemen sebagai proses kegiatan

Manajemen diartikan sebagai suatu rangakaian kegiatan yang dimulai dari kegiatan merencanakan,
melaksanakan, serta mengkoordinasikan apa yang direncanakan sampai dengan kegiatan mengawasi
atau mengendalikannya agar sesuai dengan apa yang telah direncanakan.

· Manajemen sebagai suatu ilmu dan seni

Manajemen bukan hanya merupakan ilmu dan seni, tetapi kombinasi dari keduanya . Pada umumnya
para manjer efektif mempergunakan pendekatan ilmiah dalam pembuatan keputusan, apalagi dengan
berkembangnya peralatan computer. Dilain pihak dalam banyak aspek perencanaan, kepemimpinan,
komunikasi, dan segala sesuatu yang menyangkut unsur manusia, bagaimanapun manajer harus juga
menggunakan pendekatan artistik(seni).

· Manajemen Sebagai Profesi

Penekanan utama dalam penyebutan manajemen sebagai profesi adalah apda kegiatan yang dilakukan
oleh sekelompok orang atau manajer dengan menggunakan keahlian seorang atau manajer tertentu.
Profesionalisme manajemen dikategorikan ke dalam suatu profesi yang memang membutuhkan suatu
keahlian tertentu serta posisi dan keahlian diakui oleh masyarakat.

1.2. Tujuan Manajemen

Dengan tugasnya sebagai administrator dan eksekutif manajemen bertanggung jawab atas keberhasilan
organisasinya untuk mencapai tujuan. Tujuan manajemen tersebut pada umumnya mencakup :

· Penetapan misi organisasi

Setiap organisasi , tidak tekecuali organisasi bisnis ,berdiri di atas falsafah ,dan mempunyai satu tujuan
atau lebih. Misi yang kerap kali sangat kentara adalah keinginan nya untuk mendapatkan laba itu,
perusahaan harus memberikan pelayanan yang terbaik agar dapat memberikan kepuasan bagi para
konsumennya.

· Penciptaan lingkungan yang mendorong produktifitas

Menciptakan lingkungan yang dapat diartikan sebagai upaya menyediakan dan memelihara fasilitas yang
pantas dan memadai . yang dapat di lakukan manajemen diamtaranya, menyediakan perlengkapan yang
aman dan “enak di pakai”, menyediakan sanitari yang memenuhi standar kesehatan, dan
mempertahankan lingkungan yang bersih.

· . Menegakkan dan melaksanakan tanggung jawab sosial

Sebagaimana setiap lembaga yang dalam masyarakat , organisasi bisnis pun harus menghormati norma-
norma etika dan agama yang dianut masyarakat disekitar perusahaan. lingkungan eksterm yang bersih
juga merupakan tujuan manajemen, Disamping perawatan kesehatan lingkungan yang lebih baik

1.3 Teori Manajemen

Manajemen ilmiah

Manajemen ilmiah kemudian dikembangkan lebih jauh oleh pasangan suami-istri Frank dan Lillian
Gilbreth. Keluarga Gilbreth berhasil menciptakan micromotion yang dapat mencatat setiap gerakan yang
dilakukan oleh pekerja dan lamanya waktu yang dihabiskan untuk melakukan setiap gerakan tersebut.
Gerakan yang sia-sia yang luput dari pengamatan mata telanjang dapat diidentifikasi dengan alat ini,
untuk kemudian dihilangkan. Keluarga Gilbreth juga menyusun skema klasifikasi untuk memberi nama
tujuh belas gerakan tangan dasar (seperti mencari, menggenggam, memegang) yang mereka sebut
Therbligs (dari nama keluarga mereka, Gilbreth, yang dieja terbalik dengan huruf th tetap). Skema
tersebut memungkinkan keluarga Gilbreth menganalisis cara yang lebih tepat dari unsur-unsur setiap
gerakan tangan pekerja.

Skema itu mereka dapatkan dari pengamatan mereka terhadap cara penyusunan batu bata.
Sebelumnya, Frank yang bekerja sebagai kontraktor bangunan menemukan bahwa seorang pekerja
melakukan 18 gerakan untuk memasang batu bata untuk eksterior dan 18 gerakan juga untuk interior.
Melalui penelitian, ia menghilangkan gerakan-gerakan yang tidak perlu sehingga gerakan yang
diperlukan untuk memasang batu bata eksterior berkurang dari 18 gerakan menjadi 5 gerakan.
Sementara untuk batu bata interior, ia mengurangi secara drastis dari 18 gerakan hingga menjadi 2
gerakan saja. Dengan menggunakan teknik-teknik Gilbreth, tukang baku dapat lebih produktif dan
berkurang kelelahannya di penghujung hari.

Pendekatan kuantitatif

Pendekatan kuantitatif adalah penggunaan sejumlah teknik kuantitatif—seperti statistik, model


optimasi, model informasi, atau simulasi komputer—untuk membantu manajemen dalam mengambil
keputusan. Sebagai contoh, pemrograman linear digunakan para manajer untuk membantu mengambil
kebijakan pengalokasian sumber daya; analisis jalur kritis (Critical Path Analysis) dapat digunakan untuk
membuat penjadwalan kerja yang lebih efesien; model kuantitas pesanan ekonomi (economic order
quantity model) membantu manajer menentukan tingkat persediaan optimum; dan lain-lain.

Pengembangan kuantitatif muncul dari pengembangan solusi matematika dan statistik terhadap
masalah militer selama Perang Dunia II. Setelah perang berakhir, teknik-teknik matematika dan statistika
yang digunakan untuk memecahkan persoalan-persoalan militer itu diterapkan di sektor bisnis.
Pelopornya adalah sekelompok perwira militer yang dijuluki "Whiz Kids." Para perwira yang bergabung
dengan Ford Motor Company pada pertengahan 1940-an ini menggunakan metode statistik dan model
kuantitatif untuk memperbaiki pengambilan keputusan di Ford.

1.4 Fungsi manajemen

Fungsi manajemen adalah elemen-elemen dasar yang akan selalu ada dan melekat di dalam proses
manajemen yang akan dijadikan acuan oleh manajer dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai
tujuan. Fungsi manajemen pertama kali diperkenalkan oleh seorang industrialis Perancis bernama Henry
Fayol pada awal abad ke-20. Ketika itu, ia menyebutkan lima fungsi manajemen, yaitu merancang,
mengorganisir, memerintah, mengordinasi, dan mengendalikan. Namun saat ini, kelima fungsi tersebut
telah diringkas menjadi tigayaitu:

v Perencanaan (planning) adalah memikirkan apa yang akan dikerjakan dengan sumber yang dimiliki.
Perencanaan dilakukan untuk menentukan tujuan perusahaan secara keseluruhan dan cara terbaik
untuk memenuhi tujuan itu. Manajer mengevaluasi berbagai rencana alternatif sebelum mengambil
tindakan dan kemudian melihat apakah rencana yang dipilih cocok dan dapat digunakan untuk
memenuhi tujuan perusahaan. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi
manajemen karena tanpa perencanaan, fungsi-fungsi lainnya tak dapat berjalan.
v Pengorganisasian (organizing) dilakukan dengan tujuan membagi suatu kegiatan besar menjadi
kegiatan-kegiatan yang lebih kecil. Pengorganisasian mempermudah manajer dalam melakukan
pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas yang telah
dibagi-bagi tersebut. Pengorganisasian dapat dilakukan dengan cara menentukan tugas apa yang harus
dikerjakan, siapa yang harus mengerjakannya, bagaimana tugas-tugas tersebut dikelompokkan, siapa
yang bertanggung jawab atas tugas tersebut, pada tingkatan mana keputusan harus diambil.

v Pengarahan (directing) adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok
berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial dan usaha

1.5 Sarana manajemen

Man dan machine, dua sarana manajemen.

Untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan diperlukan alat-alat sarana (tools). Tools merupakan
syarat suatu usaha untuk mencapai hasil yang ditetapkan. Tools tersebut dikenal dengan 6M, yaitu men,
money, materials, machines, method, dan markets.

Man merujuk pada sumber daya manusia yang dimiliki oleh organisasi. Dalam manajemen, faktor
manusia adalah yang paling menentukan. Manusia yang membuat tujuan dan manusia pula yang
melakukan proses untuk mencapai tujuan. Tanpa ada manusia tidak ada proses kerja, sebab pada
dasarnya manusia adalah makhluk kerja. Oleh karena itu, manajemen timbul karena adanya orang-orang
yang berkerja sama untuk mencapai tujuan.

Money atau Uang merupakan salah satu unsur yang tidak dapat diabaikan. Uang merupakan alat tukar
dan alat pengukur nilai. Besar-kecilnya hasil kegiatan dapat diukur dari jumlah uang yang beredar dalam
perusahaan. Oleh karena itu uang merupakan alat (tools) yang penting untuk mencapai tujuan karena
segala sesuatu harus diperhitungkan secara rasional. Hal ini akan berhubungan dengan berapa uang
yang harus disediakan untuk membiayai gaji tenaga kerja, alat-alat yang dibutuhkan dan harus dibeli
serta berapa hasil yang akan dicapai dari suatu organisasi.

Material terdiri dari bahan setengah jadi (raw material) dan bahan jadi. Dalam dunia usaha untuk
mencapai hasil yang lebih baik, selain manusia yang ahli dalam bidangnya juga harus dapat
menggunakan bahan/materi-materi sebagai salah satu sarana. Sebab materi dan manusia tidaki dapat
dipisahkan, tanpa materi tidak akan tercapai hasil yang dikehendaki.

Machine atau Mesin digunakan untuk memberi kemudahan atau menghasilkan keuntungan yang lebih
besar serta menciptakan efesiensi kerja.

Metode adalah suatu tata cara kerja yang memperlancar jalannya pekerjaan manajer. Sebuah metode
daat dinyatakan sebagai penetapan cara pelaksanaan kerja suatu tugas dengan memberikan berbagai
pertimbangan-pertimbangan kepada sasaran, fasilitas-fasilitas yang tersedia dan penggunaan waktu,
serta uang dan kegiatan usaha. Perlu diingat meskipun metode baik, sedangkan orang yang
melaksanakannya tidak mengerti atau tidak mempunyai pengalaman maka hasilnya tidak akan
memuaskan. Dengan demikian, peranan utama dalam manajemen tetap manusianya sendiri.

Market atau pasar adalah tempat di mana organisasi menyebarluaskan (memasarkan) produknya.
Memasarkan produk sudah barang tentu sangat penting sebab bila barang yang diproduksi tidak laku,
maka proses produksi barang akan berhenti. Artinya, proses kerja tidak akan berlangsung. Oleh sebab
itu, penguasaan pasar dalam arti menyebarkan hasil produksi merupakan faktor menentukan dalam
perusahaan. Agar pasar dapat dikuasai maka kualitas dan harga barang harus sesuai dengan selera
konsumen dan daya beli (kemampuan) konsumen.

1.6 Prinsip manajemen

Prinsip-prinsip dalam manajemen bersifat lentur dalam arti bahwa perlu dipertimbangkan sesuai dengan
kondisi-kondisi khusus dan situasi-situasi yang berubah. Menurut Henry Fayol, seorang pencetus teori
manajemen yang berasal dari Perancis, prinsip-prinsip umum manajemen ini terdiri dari :
Pembagian kerja (Division of work)
Wewenang dan tanggung jawab (Authority and responsibility)
Disiplin (Discipline)
Kesatuan perintah (Unity of command)
Kesatuan pengarahan (Unity of direction)
Mengutamakan kepentingan organisasi di atas kepentingan sendiri
Penggajian pegawai
Pemusatan (Centralization)
Hirarki (tingkatan)
Ketertiban (Order)
Keadilan dan kejujuran
Stabilitas kondisi karyawan
Prakarsa (Inisiative)
Semangat kesatuan, semangat korps

1.7 Manajer

Manajer adalah seseorang yang bekerja melalui orang lain dengan mengoordinasikan kegiatan-kegiatan
mereka guna mencapai sasaran organisasi.

1.8 Tingkatan manajer

Pada organisasi berstruktur tradisional, manajer sering dikelompokan menjadi manajer puncak, manajer
tingkat menengah, dan manajer lini pertama (biasanya digambarkan dengan bentuk piramida, di mana
jumlah karyawan lebih besar di bagian bawah daripada di puncak).

Manejemen lini pertama (first-line management), dikenal pula dengan istilah manajemen operasional,
merupakan manajemen tingkatan paling rendah yang bertugas memimpin dan mengawasi karyawan
non-manajerial yang terlibat dalam proses produksi. Mereka sering disebut penyelia (supervisor),
manajer shift, manajer area, manajer kantor, manajer departemen, atau mandor (foreman).

Manajemen tingkat menengah (middle management) mencakup semua manajemen yang berada di
antara manajer lini pertama dan manajemen puncak dan bertugas sebagai penghubung antara
keduanya. Jabatan yang termasuk manajer menengah di antaranya kepala bagian, pemimpin proyek,
manajer pabrik, atau manajer divisi.
Manajemen puncak (top management), dikenal pula dengan istilah executive officer, bertugas
merencanakan kegiatan dan strategi perusahaan secara umum dan mengarahkan jalannya perusahaan.
Contoh top manajemen adalah CEO (Chief Executive Officer), CIO (Chief Information Officer), dan CFO
(Chief Financial Officer).

Meskipun demikian, tidak semua organisasi dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan menggunakan
bentuk piramida tradisional ini. Misalnya pada organisasi yang lebih fleksibel dan sederhana, dengan
pekerjaan yang dilakukan oleh tim karyawan yang selalu berubah, berpindah dari satu proyek ke proyek
lainnya sesuai dengan dengan permintaan pekerjaan.

1.9 Peran manajer

Henry Mintzberg, seorang ahli riset ilmu manajemen, mengemukakan bahwa ada sepuluh peran yang
dimainkan oleh manajer di tempat kerjanya. Ia kemudian mengelompokan kesepuluh peran itu ke dalam
tiga kelompok. yang pertama adalah peran antar pribadi, yaitu melibatkan orang dan kewajiban lain,
yang bersifat seremonial dan simbolis. Peran ini meliputi peran sebagai figur untuk anak buah,
pemimpin, dan penghubung. Yang kedua adalah peran informasional, meliputi peran manajer sebagai
pemantau dan penyebar informasi, serta peran sebagai juru bicara. Yang ketiga adalah peran
pengambilan keputusan, meliputi peran sebagai seorang wirausahawan, pemecah masalah, pembagi
sumber daya, dan perunding.

Mintzberg kemudian menyimpulkan bahwa secara garis besar, aktivitas yang dilakukan oleh manajer
adalah berinteraksi dengan orang lain.

1.10 Keterampilan manajer

Gambar ini menunjukan keterampilan yang dibutuhkan manajer pada setiap tingkatannya.

Robert L. Katz pada tahun 1970-an mengemukakan bahwa setiap manajer membutuhkan minimal tiga
keterampilan dasar. Ketiga keterampilan tersebut adalah:
Keterampilan konseptual (conceptional skill)
Manajer tingkat atas (top manager) harus memiliki keterampilan untuk membuat konsep, ide, dan
gagasan demi kemajuan organisasi. Gagasan atau ide serta konsep tersebut kemudian haruslah
dijabarkan menjadi suatu rencana kegiatan untuk mewujudkan gagasan atau konsepnya itu. Proses
penjabaran ide menjadi suatu rencana kerja yang kongkret itu biasanya disebut sebagai proses
perencanaan atau planning. Oleh karena itu, keterampilan konsepsional juga meruipakan keterampilan
untuk membuat rencana kerja.
Keterampilan berhubungan dengan orang lain (humanity skill)
Selain kemampuan konsepsional, manajer juga perlu dilengkapi dengan keterampilan berkomunikasi
atau keterampilan berhubungan dengan orang lain, yang disebut juga keterampilan kemanusiaan.
Komunikasi yang persuasif harus selalu diciptakan oleh manajer terhadap bawahan yang dipimpinnya.
Dengan komunikasi yang persuasif, bersahabat, dan kebapakan akan membuat karyawan merasa
dihargai dan kemudian mereka akan bersikap terbuka kepada atasan. Keterampilan berkomunikasi
diperlukan, baik pada tingkatan manajemen atas, menengah, maupun bawah.
Keterampilan teknis (technical skill)
Keterampilan ini pada umumnya merupakan bekal bagi manajer pada tingkat yang lebih rendah.
Keterampilan teknis ini merupakan kemampuan untuk menjalankan suatu pekerjaan tertentu, misalnya
menggunakan program komputer, memperbaiki mesin, membuat kursi, akuntansi dan lain-lain.

Selain tiga keterampilan dasar di atas, Ricky W. Griffin menambahkan dua keterampilan dasar yang perlu
dimiliki manajer, yaitu:
Keterampilan manajemen waktu
Merupakan keterampilan yang merujuk pada kemampuan seorang manajer untuk menggunakan waktu
yang dimilikinya secara bijaksana. Griffin mengajukan contoh kasus Lew Frankfort dari Coach. Pada
tahun 2004, sebagai manajer, Frankfort digaji $2.000.000 per tahun. Jika diasumsikan bahwa ia bekerja
selama 50 jam per minggu dengan waktu cuti 2 minggu, maka gaji Frankfort setiap jamnya adalah $800
per jam—sekitar $13 per menit. Dari sana dapat kita lihat bahwa setiap menit yang terbuang akan
sangat merugikan perusahaan. Kebanyakan manajer, tentu saja, memiliki gaji yang jauh lebih kecil dari
Frankfort. Namun demikian, waktu yang mereka miliki tetap merupakan aset berharga, dan
menyianyiakannya berarti membuang-buang uang dan mengurangi produktivitas perusahaan.
Keterampilan membuat keputusan
Merupakan kemampuan untuk mendefinisikan masalah dan menentukan cara terbaik dalam
memecahkannya. Kemampuan membuat keputusan adalah yang paling utama bagi seorang manajer,
terutama bagi kelompok manajer atas (top manager). Griffin mengajukan tiga langkah dalam
pembuatan keputusan. Pertama, seorang manajer harus mendefinisikan masalah dan mencari berbagai
alternatif yang dapat diambil untuk menyelesaikannya. Kedua, manajer harus mengevaluasi setiap
alternatif yang ada dan memilih sebuah alternatif yang dianggap paling baik. Dan terakhir, manajer
harus mengimplementasikan alternatif yang telah ia pilih serta mengawasi dan mengevaluasinya agar
tetap berada di jalur yang benar.
1.11 Etika manajerial

Etika manajerial adalah standar prilaku yang memandu manajer dalam pekerjaan mereka. Ada tiga
kategori klasifikasi menurut Ricky W. Griffin:
Perilaku terhadap karyawan
Perilaku terhadap organisasi
Perilaku terhadap agen ekonomi lainnya

1.12 Bidang manajemen


Manajemen pergantian
Manajemen komunikasi
Manajemen constraint
Manajemen biaya
Manajemen hubungan pelanggan
Manajemen harga pendapatan
Manajemen enterprise
Manajemen fasilitas
Manajemen integrasi
Manajemen pengetahuan
Manajemen pemasaran
Manajemen mikro
Manajemen sakit
Manajemen pandangan
Manajemen procurement
Manajemen program
Manajemen projek
Manajemen proses
Manajemen produksi
Manajemen kualitas
Manajemen sumber daya manusia
Manajemen risiko

BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan
Manajemen mengacu pada proses mengkoordinasi dan mengintegrasikan kegiatan-kegiatan kerja agar
diselesaikan secara efisien dan efektif dengan dan melalui orang lain. Proses menggambarkan fungsi-
fungsi yang berjalan terus atau kegiatan-kegiatan utama yang dilakukan oleh para manajer. Fungsi-
fungsi ini disebut merancang, mengorganisasi, memimpin dan mengendalikan. Fungsi ini lah yang
membedakan sebuah posisi manajerian dan non manajerian dalam suatu organisasi.

Tujuan manajemen tersebut pada umumnya mencakup

v Penetapan misi organisasi

v Penciptaan lingkungan yang mendorong produktifitas

v Menegakkan dan melaksanakan tanggung jawab social

2. Saran

Manajemen dibutuhkan untuk semua tipe kegiatan yang diorganisasi dan dalam semua tipe organisasi,
karena tanpa manajemen, semua usaha akan sia-sia dan pencapaian tujuan akan lebih sulit.

Daftar Pustaka

1. Oxford English Dictionary


2. Robbins, Stephen dan Mary coulter. 2007. Management, 8th Edition. NJ: Prentice Hall.

3. Vocational Business: Training, Developing and Motivating People by Richard Barrett - Business &
Economics - 2003. - Page 51.

4. Griffin, R. 2006. Business, 8th Edition. NJ: Prentice Hall.

5. (Inggris) Online Etymology: Manage

6. C.S. George Jr. 1972. The History or Management Thought, ed. 2nd. Upper Saddle River, NJ. Prentice
Hall. h.4

7. (Inggris) Wren, Daniel dan Arthur Bedeian. 2009. The Evolution of Management Thought

8. Smith, Adam. 1776. An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations.

9. http://www.referenceforbusiness.com/management/Or-Pr/Pioneers-of-Management.html

10. Fayol, Henry. 1949. Administration, industrielle et generale.

11. Drucker, Peter. 1946. Concept of Corporation. John Day Company.

12. (Inggris) Kisah Whiz Kids

13. Mintzberg 1973. The Nature of Managerial Work

14. Prof. Komaruddin, Asas-Asas Manajemen produksi


PENDAHULUAN

Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan dalam membantu mewujudkan
tercapainya derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Pelayanan kesehatan adalah setiap
upaya yang diselenggarakan secara sendirisendiri atau bersama-sama dalam suatu organisasi
untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta
memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok dan atau masyarakat.
Selain itu juga sebagai salah satu tempat pengabdian dan praktek profesi apoteker dalam
melaksanakan pekerjaan kefarmasiaan. Apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat dilakukan
pekerjaan kefarmasian dan penyaluran perbekalan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada
masyarakat. Definisi diatas ditetapkan berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan RI No.
1332/Menkes/SK/X/2002 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek pasal 1 ayat
(a).
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No. 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Apotek, apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus pendidikan
profesi dan telah mengucapkan sumpah berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dan
berhak melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesa sebagai Apoteker. Adapun Asisten
Apoteker adalah tenaga kesehatan yang membantu Apoteker. Asisten Apoteker menurut
Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 679/MENKES/SK/V/2003 Pasal 1, tentang Registrasi dan
Izin Kerja Asisten Apoteker menyebutkan bahwa “Asisten Apoteker adalah Tenaga Kesehatan
yang berijasah Sekolah Menengah Farmasi, Akademi Farmasi Jurusan Farmasi Politeknik
Kesehatan, Akademi Analisis Farmasi dan Makanan Jurusan Analis Farmasi dan Makanan
Politeknik Kesehatan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Di Apotek, Asisten Apoteker merupakan salah satu tenaga kefarmasian yang bekerja di
bawah pengawasan seorang Apoteker yang memiliki SIA (Surat Izin Apotek). Apoteker
Pengelola Apotek (APA) merupakan orang yang bertanggung jawab di Apotek dalam melakukan
pekerjaan kefarmasian. Pelayanan kefarmasian yang dilakukan oleh Apoteker dan Asisten
Apoteker di apotek haruslah sesuai dengan standar profesi yang dimilikinya. Karena Apoteker
dan Asisten Apoteker dituntut oleh masyarakat pengguna obat (pasien) untuk bersikap secara
professional.
Kewajiban Asisten Apoteker Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No.
1332/MENKES/X?2002 adalah melayani resep dokter sesuai dengan tanggung jawab dan
standar profesinya yang dilandasi pada kepentingan masyarakat serta melayani penjualan obat
yang dapat dibeli tanpa resep dokter, serta memberi informasi kepada pasien. Surat Izin Kerja
Asisten Apoteker, dalam Pasal 1 KEPMENKES yaitu “bukti tertulis yang diberikan kepada
Pemegang Surat Izin Asisten Apoteker (SIAA) untuk melakukan pekerjaan kefarmasian di
sarana kefarmasian”. Dengan begitu, jelas bahwa hanya Asisten Apoteker yang telah memiliki
Surat Izin Asisten Apoteker sajalah yang dapat mengajukan permohonan perolehan Surat Izin
Kerja Asisten Apoteker. Dan juga, hanya Asisten Apoteker yang memiliki Surat Izin Kerja
Asisten Apoteker sajalah yang dapat melakukan pekerjaan kefarmasian seperti pengadaan,
penyimpanan dan distribusi obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta
pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional, baik itu dibawah pengawasan Apoteker,
tenaga kesehatan atau dilakukan secara mandiri sesuai peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Sebagai contoh, pada toko obat berizin, puskesmas atau Pedagang Besar Farmasi (PBF)
dimana seorang Asisten Apoteker dapat melakukan pekerjaan kefarmasian tanpa pengawasan.
Oleh sebab itu, seorang Asisten Apoteker harus memiliki Surat Izin Kerja Asisten Apoteker,
A. Pengertian Apotek

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Kepmenkes RI) No.


1332/MENKES/SK/X/2002, tentang Perubahan atas Peraturan MenKes RI No.
922/MENKES/PER/X/1993 mengenai Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek, yang
dimaksud dengan apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian
penyaluran perbekalan farmasi kepada masyarakat.
Tugas dan Fungsi apotek

Tugas dan Fungsi Apotek berdasarkan Peraturan Pemerintah No.25 tahun 1980, tugas dan
fungsi apotek adalah sebagai berikut:

 Tempat pengabdian profesi apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan.


 Sarana farmasi yang telah melaksanakan peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran,
dan penyerahan obat atau bahan obat.
 Sarana penyaluran perbekalan farmasi yang harus menyalurkan obat yang diperlukan
masyarakat secara luas dan merata.
 Sebagai sarana pelayanan informasi obat dan perbekalan farmasi lainnya kepada
masyarakat.

Landasan Hukum Apotek

Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan masyarakat yang diatur dalam:

a. Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.


b. Undang-Undang No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika.
c. Undang-Undang No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika.
d. Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 1980 tentang Perubahan atas PP No. 26 tahun
1965 mengenai Apotek.
e. Peraturan Pemerintah No 41 tahun 1990 tentang Masa Bakti dan Izin kerja
Apoteker, yang disempurnakan dengan Peraturan Menteri kesehatan No.
184/MENKES/PER/II/1995.
f. Peraturan Menteri Kesehatan No. 695/MENKES/PER/VI/2007 tentang perubahan
kedua atas Peraturan Menteri Kesehatan No. 184 tahun 1995 tentang
penyempurnaan pelaksanaan masa bakti dan izin kerja apoteker.
g. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
1332/MENKES/SK/X/2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan
RI No. 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian
Izin Apotek.
h. Keputusan Mentri Kesehatan Republik Indonesia No.
1027/MENKES/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek.

B. Manajemen Apotek
Manajemen Apotek, adalah manajemen farmasi yang diterapkan di apotek. Sekecil apapun
suatu apotek, sistem manajemEnnya akan terdiri atas setidaknya beberapa tipe manajemen, yaitu
:
1. Manajemen keuangan
2. Manajemen pembelian
3. Manajemen penjualan
4. Manajemen Persediaan barang
5. Manajemen pemasaran
6. Manajemen khusus
Manajemen keuangan tentunya berkaitan dengan pengelolaan keuangan, keluar masuknya
uang, penerimaan, pengeluaran, dan perhitungan farmako ekonominya.
Manajemen pembelian meliputi pengelolaan defekta, pengelolaan vendor, pemilihan item
barang yang harus dibeli dengan memperhatikan FIFO dan FEFO, kinetika arus barang, serta
pola epidemiologi masyarakat sekitar apotek.
Manajemen penjualan meliputi pengelolaan penjualan tunai, kredit, kontraktor.
Manajemen persediaan barang meliputi pengelolaan gudang, persediaan bahan racikan,
kinetika aarus barang. Manajemen persediaan barang berhubungan langsung dengan manajemen
pembelian.
Manajemen pemasaran , berkaitan dengan pengelolaan dan teknik pemasaran untuk meraih
pelanggan sebanyak-banyaknya. Manajemen pemasaran ini tampak padaapotek modern, tetapi
jarang diterapkan pada apotek-apotek konvensional.
Manajemen khusus, merupakan manajemen khas yang diterapkan apotek sesuai dengan
kekhasannya, contohnya pengelolaan untuk apotek yang dilengkapi dengan laboratorium klinik,
apotek dengan swalayan, dan apotek yang bekerjasama dengan balai pengobatan, dan lain-lain.
Prosedur Pendirian Apotek

Menurut KepMenKes RI No.1332/Menkes/SK/X/2002, disebutkan bahwa persyaratan-


persyaratan apotek adalah sebagai berikut:

1. Untuk mendapatkan izin apotek, apoteker atau apoteker yang bekerjasama dengan
pemilik sarana yang telah memenuhi persyaratan harus siap dengan tempat, perlengkapan
termasuk sediaan farmasi dan perbekalan farmasi yang lain yang merupakan milik sendiri
atau milik pihak lain.
2. Sarana apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan pelayanan komoditi yang
lain di luar sediaan farmasi.
3. Apotek dapat melakukan kegiatan pelayanan komoditi yang lain di luar sediaan
farmasi.Beberapa persyaratan yang harus diperhatikan dalam pendirian apotek adalah:
Lokasi dan Tempat

Jarak antara apotek tidak lagi dipersyaratkan, namun sebaiknya tetap mempertimbangkan segi
penyebaran dan pemerataan pelayanan kesehatan, jumlah penduduk, dan kemampuan daya beli
penduduk di sekitar lokasi apotek, kesehatan lingkungan, keamanan dan mudah dijangkau
masyarakat dengan kendaraan.

Bangunan dan Kelengkapan

Bangunan apotek harus mempunyai luas dan memenuhi persyaratan yang cukup, serta memenuhi
persyaratan teknis sehingga dapat menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsi apotek
serta memelihara mutu perbekalan kesehatan di bidang farmasi.

Bangunan apotek sekurang-kurangnya terdiri dari :

4. Ruang tunggu, ruang administrasi dan ruang kerja apoteker, ruang penyimpanan obat,
ruang peracikan dan penyerahan obat, tempat pencucian obat, kamar mandi dan toilet.
5. Bangunan apotek juga harus dilengkapi dengan : Sumber air yang memenuhi syarat
kesehatan, penerangan yang baik, Alat pemadam kebakaran yang befungsi baik, Ventilasi
dan sistem sanitasi yang baik dan memenuhi syarat higienis, Papan nama yang memuat
nama apotek, nama APA, nomor SIA, alamat apotek, nomor telepon apotek.

Perlengkapan Apotek

Apotek harus memiliki perlengkapan, antara lain:

1. Alat pembuangan, pengolahan dan peracikan seperti timbangan, mortir, gelas ukur dll.
Perlengkapan dan alat penyimpanan, dan perbekalan farmasi, seperti lemari obat dan
lemari pendingin.
2. Wadah pengemas dan pembungkus, etiket dan plastik pengemas.
3. Tempat penyimpanan khusus narkotika, psikotropika dan bahan beracun.
4. Buku standar Farmakope Indonesia, ISO, MIMS, DPHO, serta kumpulan peraturan per-
UU yang berhubungan dengan apotek.
5. Alat administrasi, seperti blanko pesanan obat, faktur, kwitansi, salinan resep dan lain-
lain.
Prosedur perizinan apotek

Untuk mendapatkan izin apotek, APA atau apoteker pengelola apotek yang bekerjasama dengan
pemilik sarana harus siap dengan tempat, perlengkapan, termasuk sediaan farmasi dan
perbekalan lainnya. Surat izin apotek (SIA) adalah surat yang diberikan Menteri Kesehatan RI
kepada apoteker atau apoteker bekerjasama dengan pemilik sarana untuk membuka apotek di
suatu tempat tertentu.

Wewenang pemberian SIA dilimpahkan oleh Menteri Kesehatan kepada Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota wajib melaporkan
pelaksanaan pemberian izin, pembekuan izin, pencairan izin, dan pencabutan izin apotek sekali
setahun kepada Menteri Kesehatan dan tembusan disampaikan kepada Kepala Dinas Kesehatan
Propinsi.

Sesuai dengan Keputusan MenKes RI No.1332/MenKes/SK/X/2002 Pasal 7 dan 9 tentang


Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek, yaitu:

1. Permohonan izin apotek diajukan kepada Kepala Kantor Dinas Kesehatan


Kabupaten/Kota.Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selambat-lambatnya 6 hari
setelah menerima permohonan dapat meminta bantuan teknis kepada Kepala Balai POM
untuk melakukan pemeriksaan setempat terhadap kesiapan apotek untuk melakukan
kegiatan.
2. Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM selambat-lambatnya 6
hari kerja setelah permintaan bantuan teknis dari Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota melaporkan hasil pemeriksaan.
3. Dalam hal pemerikasaan dalam ayat (2) dan (3) tidak dilaksanakan, apoteker pemohon
dapat membuat surat pernyataan siap melakukan kegiatan kepada Kepala Kantor Dinas
Kesehatan setempat dengan tembusan kepada Kepala Dinas Propinsi.
4. Dalam jangka 12 hari kerja setelah diterima laporan pemeriksaan sebagaimana ayat (3)
atau persyaratan ayat (4), Kepala Dinas Kesehatan setempat mengeluarkan surat izin
apotek.
5. Dalam hasil pemerikasaan tim Dinas Kesehatan setempat atau Kepala Balai POM
dimaksud (3) masih belum memenuhi syarat Kepala Dinas Kesehatan setempat dalam
waktu 12 hari kerja mengeluarkan surat penundaan.
6. Terhadap surat penundaan sesuai dengan ayat (6), apoteker diberikan kesempatan untuk
melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi selambat-lambatnya dalam waktu satu
bulan sejak tanggal surat penundaan.
7. Terhadap permohonan izin apotek bila tidak memenuhi persyaratan sesuai pasal (5) dan
atau pasal (6), atau lokasi apotek tidak sesuai dengan permohonan, maka Kepala Dinas
Kesehatan Dinas setempat dalam jangka waktu selambat-lambatnya 12 hari kerja wajib
mengeluarkan surat penolakan disertai dengan alasan-alasannya.

Pelayanan Apotek

1. Pelayanan Resep
1. Skrining Resep Apoteker melakukan skrining resep meliputi :

- Persyaratan Administratif :

 Nama, SIP dan alamat dokter

 Tanggal penulisan resep

 Tanda tangan/paraf dokter penulis resep

 Nama, alamat, umur, jenis kelamin dan berat badan pasien

 Cara pemakaian yang jelas

 Informasi lainnya

- Kesesuaian farmasetik : bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara dan
lama pemberian

- Pertimbangan klinis : adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian (dosis, durasi, jumlah
obat dan lain lain). Jika ada keraguan terhadap resep hendaknya dikonsultasikan kepada dokter
penulis resep dengan memberikan pertimbangan dan alternatif seperlunya bila
perlumenggunakan persetujuan setelah pemberitahuan.

2. Penyiapan obat.
- Peracikan merupakan kegiatan menyiapkan menimbang, mencampur, mengemas dan
memberikan etiket pada wadah. Dalam melaksanakan peracikan obat harus dibuat suatu prosedur
tetap dengan memperhatikan dosis, jenis dan jumlah obat serta penulisan etiket yang benar.

- Etiket harus jelas dan dapat dibaca.

- Kemasan obat yang diserahkan hendaknya dikemas dengan rapi dalam kemasan yang cocok
sehingga terjaga kualitasnya.

- Penyerahan Obat. Sebelum obat diserahkan pada pasien harus dilakukan pemeriksaan akhir
terhadap kesesuaian antara obat dengan resep. Penyerahan obat dilakukan oleh apoteker disertai
pemberian informasi obat dan konseling kepada pasien.

- Informasi Obat. Apoteker harus memberikan informasi yang benar, jelas dan mudah dimengerti,
akurat, tidak bias, etis, bijaksana, dan terkini. Informasi obat pada pasien sekurang-kurangnya
meliputi: cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta
makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi.

- Konseling. Apoteker harus memberikan konseling, mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan
perbekalan kesehatan lainnya, sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang
bersangkutan terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan obat yang salah. Untuk
penderita penyakit tertentu seperti kardiovaskular, diabetes, TBC, asma dan penyakit kronis
lainnya, apoteker harus memberikan konseling secara berkelanjutan.

- Monitoring Penggunaan Obat. Setelah penyerahan obat kepada pasien, apoteker harus
melaksanakan pemantauan penggunaan obat, terutama untuk pasien tertentu seperti
kardiovaskular, diabetes, TBC, asma, dan penyakit kronis lainnya.

- Promosi dan Edukasi. Dalam rangka pemberdayaan masyarakat, apoteker harus memberikan
edukasi apabila masyarakat ingin mengobati diri sendiri (swamedikasi) untuk penyakit ringan
dengan memilihkan obat yang sesuai dan apoteker harus berpartisipasi secara aktif dalam
promosi dan edukasi. Apoteker ikut membantu diseminasi informasi, antara lain dengan
penyebaran leaflet /brosur, poster, penyuluhan, dan lain lainnya.

2. Pelayanan Residensial (Home Care). Apoteker sebagai care giver diharapkan juga dapat
melakukan pelayanan kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk
kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Untuk aktivitas
ini apoteker harus membuat catatan berupa catatan pengobatan (medication record).

EVALUASI MUTU PELAYANAN


Indikator yang digunakan untuk mengevaluasi mutu pelayanan adalah:

1. Tingkat kepuasan konsumen dilakukan dengan survei berupa angket atau wawancara
langsung.
2. Dimensi waktuLama pelayanan diukur dengan waktu ( yang telah ditetapkan).
3. Prosedur Tetap ( Protap )Untuk menjamin mutu pelayanan sesuai standar yang telah
ditetapkan.

Disamping itu prosedur tetap bermanfaat untuk:

1. Memastikan bahwa praktik yang baik dapat tercapai setiap saat;


2. Adanya pembagian tugas dan wewenang;
3. Memberikan pertimbangan dan panduan untuk tenaga kesehatan lain yang bekerja di
apotek;
4. Dapat digunakan sebagai alat untuk melatih staf baru;
5. Membantu proses audit.

Prosedur tetap disusun dengan format sebagai berikut:

1. Tujuan merupakan tujuan protap.


2. Ruang lingkup berisi pernyataan tentang pelayanan yang dilakukan dengan kompetensi
yang diharapkan.
3. Hasil yang dicapai oleh pelayanan yang diberikan dan dinyatakan dalam bentuk yang
dapat diukur.
4. Persyaratan hal-hal yang diperlukan untuk menunjang pelayanan.
5. Proses berisi langkah-langkah pokok yang perlu dilkuti untuk penerapan standar. Sifat
protap adalah spesifik mengenai kefarmasian.

C. Tugas dan Tanggung Jawab Personil Apotek


Manejer Apotek Pelayanan
Apotek Rama dipimpin oleh seorang Apoteker sebagai manager pelayanan yang telah
mengucapkan sumpah apoteker yang telah memiliki Surat Izin Kerja (SIK), juga memiliki
kemampuan memimpin dan bertanggung jawab penuh terhadap pekerjaan di apotek. Selain itu
juga APA harus menguasai kemampuan manajemen yaitu, perencanaan, koordinasi,
kepemimpinan dan pengawasan disamping kemampuan di bidang farmasi baik teknis maupun
non teknis.
Tugas dan Tanggung Jawab pimpinan Apotek adalah :
1. Memimpin, menentukan kebijaksanaan dan melaksanakan pengawasan dan pengendalian apotek
sesuai UU yg berlaku
2. Menyusun program kerja karyawan untuk mencapai sasaran yang ditetapkan
3. Memberikan pelayanan dan informasi obat dan perbekalan farmasi kepada pasien, dokter, dan
tenaga kesehatan lainnya
4. Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk perkembangan apotek
5. Menguasai dan melaksanakan peraturan perundang-undangan farmasi yang berlaku

Fungsi Administrasi
1. Membuat laporan realisasi data dan anggaran setiap bulan
2. Membuat laporan penutupan buku
3. Melakukan rekaptulasi buku penjualan tunai dihitung
berdasarkan jumlah resep dan rekaptulasi buku pembelian

Fungsi Pembelian
1. Membuat kebutuhan barang pada buku permintaan barang
2. Membuat Bon Permintaan Barang Apotek (BPBA) sesuai dengan data kebutuhan barang yang
tercatat pada buku permintaan barang dan pareto penjualan
3. Membuat retur atau pengembalian barang bila terjadi kesalahan dalam pengiriman barang

Karyawan/ Karyawati
Karyawan/Karyawati mencakup asisten apoteker dan non asisten apoteker.
1) Tugas dan tanggung jawab asisten apoteker antara lain :
a. Mengatur penyimpanan obat dan penyusunan apotek
b. Memberi harga pada setiap resep dokter yang masuk dan memeriksa kelengkapan resep
c. Melayani dan meracik obat sesuai dengan resep dokter
d. Menghitung dosis obat untuk racikan sesuai permintaan resep
e. Menimbang, menyiapkan, mengemas, dan memberi etiket obat yang akan diserahkan pada
pasien
f. Memeriksa kebenaran obat sebelum diserahkan pada pasien
g. Menyerahkan obat sekaligus memberi informasi mengenai cara pemakaian dan informasi
lainnya mengenai obat tersebut kepada pasien.
h. Membuat salinan resep bila diperlukan oleh pasien, bila obat hanya ditebus sebagian atau resep
diulang serta membuat kuitansi bila diperlukan.
i. Berpartisipasi dalam pelaksaan dan pemeliharaan kebersihan di apotek.

2) Tugas dan tanggung jawab non apoteker antara lain :


a. Membantu tugas asisten apoteker dalam menyiapkan obat , mengerjakan obat racikan yang telah
disiapkan oleh asisten apoteker sesuai dengan dan jumlah yang diminta
b. Membuat obat racikan standar dibawah pengawasan asisten apoteker dan apoteker
c. Menyusun obat-obat pada rak penyimpanan obat
d. Membersihkan peralatan yang digunakan dan membersihkan ruangan diapotek.

EVALUASI

1. Bagaimana syarat menempatkan obat Narkotik san Psikotropika yang baik ?


2. Apa yang dimaksud dengan manajemen khusus ?
3. Apa perbedaan IFRS dan Apotik ?
4. Berikan contoh aliran masuk dan aliran keluar ?
Jawaban
1. Syarat menempatkan obat Narkotik dan Psikotropika, yaitu :
- Raknya harus menempel.
- Penempatan ruangan harus terpisah dari obat-obat lain.
- Lemari harus terkunci rapat sehingga tidak sembarang karyawan yang mengambilnya.
2. Yang dimaksud dengan Manajemen khusus adalah seni untuk mengatur seseorang untuk
mencapai tujuan sesuai kemampuan spesifiknya.
3. Perbedaan IFRS dan Apotik
IFRS adalah suatu institusi dan komunitas yang dipengaruhi oleh kebutuhan pengharapan
permintaan anggota masyarakat.
Apotik adalah bagian dari pelayanan rumah sakit yang mempunyai berbagai fungsi secara
umum.
4. Aliran Barang Masuk :
- Tahap persiapan.
- Tahap pemesanan.
- Tahap penerimaan.
- Tahap penyimpanan barang.
- Pencatatan barang.
Aliran Barang Keluar :
- Penjualan obat bebas.
- Penjualan obat dengan resep dokter.
http://berbagi-informasii.blogspot.com/2012/10/manajemen-farmasi.html