Anda di halaman 1dari 5

NAMA : Mariana Veranti Renda

NO REG :42117033

KLS : IAN A

HASIL KAJIAN TEORI MODERNISASI KLASIK

1. Mccelland : motivasi berprestasi


McCelland menjelaskan, bahwa tujuan kegiatan para wisatawan tidak hanya sekedar
mencari dan mengumpulkan laba. Dengan tidak mengurangi arti pentingnnya arti pentingnya laba
bagi dunia usaha, McCelland mengaskan bahwa dalam hak ini, laba lebih merupakan indicator
dari keinginan pencapaian tujuan yang lain. Apa yang sesungguhnya ingin di capai oleh para
wisatawan tersebut, adalah keinginan yang kuat untuk mencapai prestasi gemilang yang di
kerjakanya melalui penampilan kerja yang baik, dengan selalu berpikir dan berusaha untuk
memperbaiki kualitas kerja yang dicapainya. Inilah yang oleh McCelland disebut sebagai motivasi
berprestasi atau juga sering disebut sebagai kebutuhan berprestasi. McClelland memenuhi
kebutuhan berperestasi yang di miliki oleh masing-masing pembuat cerita. Ia mengganggap
,bahwa cerita-cerita tersebut bukan sekedar cerita yang tanpa arti , melainkan merupakan
gambaran dari motivasi mereka melalui media cerita. Misalnya,setelah ditunjukkan sebuah
gambar dari seorang laki-laki yang melihat sebuah meja kerja,salah seorang sasaran penelitian
menerjemakannya sebagai seeorang yang sedang melamun , yang berpikir tentang bagaimana
ia telah menggunakan masa liburannya dengan keluarganya,dan sedang merencanakan
bagaiamana ia hendak menghabiskan masa akhir pekannya yang akan dalam cara yang lebih
menarik . McCclelland menggngap bahwa cerita- cerita rakyat popular merupakan refleksi dari
pola pikir masyarakat dalam negara tersebut, dan jika sekitarnya tidak berarti demikian maka
cerita rakyat tersebut tidak akan menjadi cerita rakyat popular. Selain itu McCclelland mencari
cara untuk menaikkan skala kebutuhan berprestasi . sebagai ahli pisikologi, McCclelland
cenderung untuk mendeteksinya dari lingkungan keluarga , khususnya pada tahapan proses
pembimbing anak. Pertama, orang tua hendaknya memberikan motivasi yang tinggi pada anak-
anaknya, misalnya melalui pengharapan agar anaknya memiliki prestasi yang gemiang di
sekolah, kemudian memiliki pekerjaan yang mapan dan menjadi dikenal di masyarakat. Kedua
,hendaknya orng tua lebih menggunakan metode memberikan dorongan dan hubungan yang

1
hangat dalam sosialisasi dengan anak-anak mereka. Ketiga ,orang tua hendaknya tidak brsikap
otoriter.

2. Inkeles :Manusia Modern

Dari seluruh rangkaian penelitian itu,inkeles menemukan kenyataan tentang adanya pola
yang stabil dari apa yg disebut manusia modern pada berbagai negara tersebut.Dengan kata lain,
kriteria yang digunakan untuk menentukan batasan modernisasi manusia disuatu negara tertentu
juga dapat digunakakan (berlaku) untuk menentukan batasanmausia modern dinegara lain. Untuk
ini inkeles membuat skala dari nol sampai 100 untuk mengukur pola stabil dari pribadi manusia
modern.
Menurut inkeles , manusia modern akan memiliki berbagai karakteristik pokok.

1. Terbuka terhadap pengalalaman baru.ini berarti bawah manusia modern selalu


berkeinginan untuk mencari sesuatu yang baru.
2. Manusia modern akan memiliki sikap untuk semakin indenpenden terhadap berbagai
bentuk otoritas tradisional ,seperti orang tua ,kepala suku (etnik),dan raja.
3. Manusia modern percaya terhadap ilmu pengetahuan, termasuk percaya akan kemampuan
untukan menundukan alam semesta.
4. Manusia modern memiliki orientasi mobilitas dan ambisi hidup yang tinggi.mereka
berkehendak untuk meniti tangga jenjang pekerjaanya.
5. Manusia modern memiliki rencana jangka Panjang. Mereka selalu merencanakan sesuatu
jauh didepan dan mengetahui apa yang akan mereka capai dalam waktu lima tahun
kedepan,misalnya.
6. Manusia modern aktif terlibat dalam percaturan politik. Mereka bergabung degan berbagai
organisasi kekeluargaan dan berpartisipasi aktif dalam urusan mayarakat lokal.

3. Sarbini Sumawinata: Lepas Landas Indonesia

Tulisan sumawinata lebih diarahkan pada menguji kesiapan obyektif Indonesia untuk menyongsong
masa lepas landas pembangunan ekonominya,jika seandainya memang teori pertumbuhan Rostow tersebut
hendak digunakan sebagai acuana penilaian.

Sumawinata memulai pengamatanya ,dengan terlebih dahulu secara ringkas mengingatkan tiga syarat
mutlak yang menurut Rostow harus dipenuhi jika masyarakat hendak mencapai tahap lepasan landas

2
pembangunan ekonominya. Pertama,untuk mencapai lepas landas ekonomi negara memerlukan tingkat
invenstasi produktif paling tidak sebesar 10% dari pendapatan nasional; Kedua pertumbuhan yg tertinggi
atas satu atau lebih cabang industri yang sentra ;dan ketiga, tumbuh dan berkembang kerangka sosial politik
yang mampu menyerap dinamika perubahan masyrakat.

Menurut sumawianta ,pembahasan persoalan lepas landas di Indonesia lebih memperhatikan pada syarat
pertama,disbanding kedua syarat terakhir. Yang juga tidak kalah menariknya dari hasil kajian sumawinata
ini,bawah ia juga tidak lupa untuk menjelasakan berbagai persoalan ekonomi mikro yang dihadapi dan
perluh mendapat perhatian dari pemerintahan Indonesia untuk membantu tercapainya tahapan lepas landas.

4. Rober N.Bellah:AgamaTokugawa

Hasil kajian bellah mencoba mengamati apa kaitan yang terjadi antara agama Tokugawa dengan
pembangunan ekonomi jepang .Lebih khusus lagi penelitian ini menguji apa sumbangan yang diberikan
oleh agama Tokugawa terhadap cepatnya laju pembangunan ekonomi jepang,dan bagaimana sumbanganitu
diwujutkan.perhatiaan bellah terhadap jepang bukan saja karena jepang merupakan satu-satunya negara
bukan barat yang mampu mengembangkan industrialisasinya pada ambang pintu memasuki abad ke-20,
tetapi juga karena jepang memiliki satu pola industrialisasi yang khas.Dengan mengikuti arah penelitian
yang dikembangkan oleh weber Bellah mulai tertarik untuk menguji ada dan tidaknya kerlibatan agama
dalam kasus jepang ini.

5. Agama jepang

Dalam usahanya mengamati agama dijepang, bellah membuat dua klasifikasi observasi
.pertama,sekalipun memang terdapat banyak agama di jepang,termasuk didalamny
konfusianisme,budhisme,dan Shinto,ini tidak menghalang untuk menganalisa aatau mengkategorikan
agama-agama dijepang tersebut sebagai satu entitas. kedua,bawah agama dijepang mampu membentuk
nilai-nilai dasar masyarakat jepang.jika dilihat dari sejarahnya,agama di jepang bermula sebagai etika dari
parah pejuang samurai,dan kemudian baru menjadi dikenal dan dianuti masyarakat luas setelah melalui
pengaruh agama konfungianisme dan budhisme dan kemudian menjadi panutan etika penduduk jepang
secarah keseluruhan,termasuk didalamnya petani terbelakang yang tinggal dipedesaan yang terpencil.

Dengan dua klasifikasi observasi ini,bellah melihat tiga kemungkinan ketrkaitan antara agama dan
pembangunan ekonomi dijepang .Pertama agama secara langsung mempengaruhi etika ekonomi
;Kedua,pengaruh agama terhadap ekonomi terjadi melalui pranata politik;dan ketiga pengaruh agama
terjadi melalui pranata keluarga.

3
6. Pengaruh Agama

Pada masa awalnya,shinsu,salah satu sekete agama budha yang dikaji oleh bellah menekankan pada
pentingnya keselamatan yang lebih didasarkan pada keyakinan saja,dan hanya memberikan sedikit
perhatian pada tuntutan etika. Bellah melihat adanya tiga karakteristik pokok dari ajaran dan tuntutan
persyaratan etika ini.

Pertama,ajaran untuk bekerja secarah tekun dan sungguh-sungguh,khususnya dibidang pekerjaan yang
telah dipilihnya. ” Kedua ,ajaran untuk memiliki sikap pertapa dan hemat dalam konsumsi barang. Ketiga,
sekalipun pencaraan keuntungan secara tidak halal dilarang,namun usaha keras megejar dan
mengumpulkan keuntungan yang diperoleh dari usaha- usaha yang normal diberikan dan disediakan
legitimasinya dalam ajaran agama melalui doktrin spirit Bodhisattva.

7. Pengaruh Agama melalui Pranata Politik

Di cina,konfunsianisme menekankan pentingnya faktor efisiensi, harmoni ,dan sekaligus integrase dari
berbagai bagian yang berbeda dari masyarakat dalam usaha produksi.Namun di jepang ,sepertin yang
dinyatakan oleh bellah ,konfusianisme mengambil dan memiliki makna-makna baru setelah bercampur
dengan Budhisme. Konfunsianisme tidak lagi memperhatikan tentang prinsip harmoni dari berbagai
elemen masyarakat ,tetapi konfunsianisme jepang lebih menekankan akan pentingnya subordinasi tanpa
pamrih dan total dari seluruh bagian masyarakat untuk kepentingan satu kolektivitas secara keseluruhan.

8. Pengaruh Agama melalui pranata kelurga

Pemahaman tentang etika untuk mengabdi tanpa batas tidak hanya digunakan untuk mengatur negara
saja,tetapi juga untuk mengatur rumah tangga parah pedagang.Rumah pedagang dilihatnya sebagai suatu
entitas yang sacral yang menyimbolkan pemujaan terhadap nenek moyang.ini mewujut dalam tuntutan
timbal balik balas budi dari seluruh anggota yang terlibat ,sejak dari pengabdiaan anak kepada orang tua
sampai pada pengabdiaan setiap pekerja kepada atasannya.Biasanya standar pengabdiaan berlaku pada
keluarg pedagang ditetapkan amat tinggi sebanding dengan apa yang dimiliki oleh kelas samurai.Bellah
berpendapat, bawah etika kewajiban keluarga ini mendorong terbentuknya seperangkat nilai
etika;kejujuran,kualitas,dan nama yang baik,yang selalu dijunjung tinggi,yang kemudian ternyata
mendukung nilai-nilai universal dalam tata dunia perdagangan ,dan mampu memberikan dorongan untuk
lahirnya cikal- bakal ekonomi rasional pada masa modern jepang.

9. Pembangunan Ekonomi dan Demokrasi

4
Demokrasi diartikan sebagai satu sistem politik yang secara ajeg memberikan kesempatan secara
konstitusional untuk terjadi perubahan pelaku pemerintahan,dan memberikan pengaruh pada berbagai
keputusan pokok dengan cara menggunakan hak pilihnya untuk menentukan pemegang kekuasan
politik.Lipset menemukan kenyataan,bahwa negara dengan pemerintahan demokratis selalu memiliki
derajat pembangunan ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan negara dengan pemertintahan
dictator.Dengan kata lain, semakin demokratis suatu negara , semakin tinggi rata-rata kekayaannya,semakin
tinggi derajat industrialisasi dan urbanisasi,dan semakin tinggi derajat Pendidikan rakyat. Lebih dari itu,
bahwa semua indicator pembangunan ekonomi tersebut kemakmuran,industrialisasi,urbanisas ,dan
Pendidikan saling terkait satu sama lain secara erat.oleh karena itu, menurut lipset ,variable-variabel
tersebut telah membentuk dirinya sendiri sebagai factor pokok yang mempunyai derajat korelasi yang
amat tinggi dengan pembangunan demokrasi politik. Pada dasarnya lipset menggunakan Analisa
stratifikasi untuk menjelaskan keterkaitan antara pembangunan ekonomi dan demokrasi. Baginya
“pembangunan ekonomi ,meningkatnya pendapatan , derajat keamanan ekonomi,dan menyebarnya
Pendidikan banyak berpengaruh terhadap bentuk perjuangan lapisan masyarakat yang dari padanya
tersusun landasan pembangunan demokrasi.

Pertama, lapisan masyarakat kelas bawah dinegara-negara miskin memiliki pengalaman yang lebih
inferior disbanding lapisan masyarakat yang sama di negara maju. Jika satu negara miskin,pengaturan
pembagian makanan,jasa,dan sumber penghidupan yang lain akan lebih tidak merata dibandingkan dengan
dinegara maju pada tempat dimana sumber-sumber ekonomi tersebut tersedia lebih banyak.

Kedua ,pembanguan ekonomi juga mempengaruhi tingkahlaku politik kelas menegah struktur pelapisan
masyarakat di negara maju telah banyak berubah,dengan munculnya lapisan kelas menegah yang demikian
besar. Oleh karena kelas menengah ini memiliki kecenderungan untuk secara aktif terlibat dalam organisasi
politik,maka mereka mampu merumuskan dan melakukan aksi untuk ikut mengendalikan kekuasaan
negara.

Ketiga,tingkah laku politik kelas juga berkaitan dengan kemakmuran negara. Di negara miskin ,lapisan
atas masyarakat cenderung bertindak kasar terhadap lapisan masyarakat bawah,bahakan terkadang diluar
batas -batas kemanusiaan.secara umum ,lapisan masyarakat kelas atas di negara miskin enggan atau
bahakan tidak akan sekalipun memberikan hak-hakpolitik kepada lapisan masyarakat bawah.