Anda di halaman 1dari 95

GAMBARAN PELAKSANAAN CUCI TANGAN PAKAI SABUN

PADA MURID-MURID DI SEKOLAH DASAR NEGERI GARUDA 1


KOTA BANDUNG
2016

KARYA TULIS ILMIAH


Diajukan untuk Menyelesaikan Program Studi Diploma III keperawatan
pada Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Disusun oleh:
MEDINA HUTAMI

NIM. P17320113050

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN


JURUSAN KEPERAWATAN BANDUNG
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANDUNG
2016
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

“Allah akan meninggikan orang-orang yang


beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan “ (QS.Al-
Mujadalah:11)

Karya tulis ini ku persembahkan untuk


orang-orang yang aku sayang

Bapak , mama dan adek yang selalu


mendo’akanku

Keluarga besarku tercinta yang juga


mendo’akan dan memberi dukungan

Sahabat-sahabatku yang tidak bisa ku


sebutkan satu per- satu, terimakasih untuk
semangat dan kekuatan kalian
Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung
Jurusan Keperawatan Bandung
Program Studi Keperawatan Bandung
Bandung, Juli 2016
Medina Hutami. P17320113050

GAMBARAN PELAKSANAAN TINDAKAN CUCI TANGAN PAKAI SABUN


PADA MURID-MURID DI SEKOLAH DASAR NEGERI GARUDA 1
KOTA BANDUNG
2016

ABSTRAK

v, 50 hal, 5 bab, 1 bagan, 4 tabel, 7 lampiran

Beberapa penelitian dunia yang mengungkapkan bahwa mencuci tangan dengan


sabun adalah salah satu cara paling efektif untuk mencegah penyakit diare dan ISPA.
Persentase angka kesakitan murid SD Negeri Garuda 1 selama tiga bulan terakhir
(Desember-Februari) adalah 37,06%. Hampir setengah murid-murid yang tidak
masuk karena alasan sakit seperti batuk, pilek, demam dan nyeri tenggorokan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pelaksanaan tindakan cuci
tangan pakai sabun pada murid-murid di SD Negeri Garuda 1 Kota Bandung tahun
2016. Dari segi pencegahan dan pengendalian penularan infeksi, praktek mencuci
tangan dilakukan untuk mencegah penularan mikroorganisme melalui tangan. Salah
satu contoh mikroorganisme yang tinggal di lapisan permukaan kulit yaitu
Staphylococcus epidermidis yang diperoleh dari kontak dengan lingkungan sekitar.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif, dengan menggunakan
teknik sampling proporsionate stratified random sampling dengan jumlah sampel
141 murid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar murid-murid
melakukan tindakan cuci tangan pakai sabun tidak sesuai SOP sebanyak 105 murid
(74,5%). Disarankan sekolah untuk memberikan pendidikan kesehatan tentang
pentingnya mencuci tangan pakai sabun, serta melakukan pemantauan secara
langsung ketika murid-murid melakukan cuci tangan pakai sabun bersama dengan
melihat gambar tindakan enam langkah cuci tangan pakai sabun.

Kata Kunci :Cuci Tangan Pakai Sabun, Murid-murid


Daftar Pustaka : 28 (2006-2016)

v
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan

rahmat dan karunia-Nya, Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada

Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga, para sahabat, dan semoga kita menjadi

umatnya hingga akhir zaman. Aamiin.

Sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Karya Tulis Ilmiah dengan judul

“Gambaran Pelaksanaan Tindakan Cuci Tangan Pakai Sabun di SD Negeri

Garuda 1 Kota Bandung”.

Banyak pihak yang secara langsung maupun tidak langsung membantu dalam

penulisan ini, untuk itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan

terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Dr.Ir.H. Osman Syarief, MKM., selaku Direktur Politeknik Kesehatan

Kemenkes Bandung

2. Bapak H. Ali Hamzah S.Kp., MNS., selaku Ketua Jurusan Keperawatan

Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung.

3. Bapak Kuslan Sunandar, SKM., M.Kep., Sp.Kom., selaku pembimbing dalam

proses penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini yang telah senantiasa meluangkan

waktu dan memberikan ilmunya untuk membimbing dengan penuh kesabaran

dan memotivasi penulis sehingga dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini

dengan sebaik-baiknya.

vi
4. Ibu Dra.Hj. Mariana Nuryati, MMPd., selaku pembimbing akademik yang

selalu memberikan bimbingan dan motivasi kepada penulis untuk tetap

semangat dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah.

5. Staf dosen, perpustakaan serta seluruh staf di Jurusan Keperawatan Bandung

yang telah memberi banyak ilmu dan pengetahuan kepada penulis.

6. UPTD Puskesmas Garuda beserta jajarannya yang telah membantu penulis

dalam melaksanakan pengumpulan data penelitian.

7. Staf pengajar beserta jajarannya yang telah membantu penulis dalam

pengumpulan data di SD Negeri Garuda 1.

8. Bapak, Mama, Nunu serta keluargaku tercinta yang selalu mendoakan,

memberi motivasi dan dukungan secara moril maupun materiil demi

kelancaran dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah.

9. Teman-teman dan sahabat seperjuangan tingkat 3-A Jurusan Keperawatan

Bandung yang selalu mendukung dan membantu saat kesulitan selama proses

penyusunan Karya Tulis Ilmiah.

Penulis menyadari dalam penyusunan proposal ini masih terdapat kekurangan

untuk itu saran dan kritik sangat penulis harapkan guna perbaikan selanjutnya.

Bandung, Juli 2016

Medina Hutami

vii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL …………………………………………………………......i

HALAMAN PERSETUJUAN ……………………………………………….....ii

HALAMAN PENGESAHAN …………………………………………………..iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ……………………………………………...iv

ABSTRAK ……………………………………………………………………….v

KATA PENGANTAR …………………………………………………………..vi

DAFTAR ISI …………………………………………………………………...viii

DAFTAR TABEL ………………………………………………………………xi

DAFTAR BAGAN……………………………………………………………....xii

DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………………..xiii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah .................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah .............................................................................................. 6

1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................................... 6

1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................................. 7

1.4.1 Manfaat Bagi Institusi Pendidikan........................................................... 7

1.4.2 Manfaat Bagi Puskesmas ......................................................................... 7

1.4.3 Manfaat Bagi Murid-murid...................................................................... 7

1.4.4 Manfaat Bagi Peneliti Selanjutnya ......................................................... 7

viii
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Mencuci Tangan ............................................................................................. 8


2.1.1 Definisi .................................................................................................... 8
2.1.2 Hal-hal yang Perlu Diingat saat Mencuci Tangan ................................... 9
2.1.3 Hal-hal yang Harus Diperhatikan dalam Mencuci tangan ...................... 9
2.1.4 Persiapan Mencuci Tangan.................................................................... 10
2.1.5 Manfaat Mencuci Tangan ...................................................................... 11
2.1.6 Waktu Harus Mencuci Tangan .............................................................. 11
2.1.7 Penyakit-penyakit yang Dapat Dicegah dengan Mencuci Tangan ........ 12
2.1.8 Jumlah Kuman yang Ada di Tangan ..................................................... 13
2.1.9 Teknik Mencuci Tangan ........................................................................ 14
2.2 Konsep Perilaku ........................................................................................... 15
2.2.1 Bentuk Perilaku .................................................................................... 16
2.2.2 Faktor yang Mempengaruhi Perilaku .................................................... 16
2.2.3 Proses Adopsi Perilaku .......................................................................... 17
2.3 Konsep Tindakan (Praktik) ......................................................................... 18
2.3.1 Definisi Tindakan ................................................................................. 18
2.3.2 Tingkatan Tindakan (Praktik)................................................................ 18
2.3.3 Pengukuran Tindakan ............................................................................ 19
2.4 Anak Usia Sekolah ....................................................................................... 19
2.5 Kerangka Konsep ......................................................................................... 27

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian ............................................................................................. 28

3.2 Definisi Konseptual dan Operasional Variabel ............................................... 28

ix
3.3 Populasi dan Sampel ........................................................................................ 31

3.3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................................. 31

3.3.2 Populasi ................................................................................................. 31

3.3.3 Sampel ................................................................................................... 32

3.4 Pengumpulan Data ........................................................................................... 34

3.5 Analisa Data ..................................................................................................... 37

3.5.1 Pengolahan Data .................................................................................... 37

3.5.2 Analisa Data Univariat .......................................................................... 38

3.6 Keterbatasan………………………………………………………………….40

3.7 Etika Penelitian ................................................................................................ 40

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Penelitian ............................................................................................ 42
4.2 Pembahasan .................................................................................................. 43

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI

5.1 Simpulan ...................................................................................................... 50


5.2 Rekomendasi ................................................................................................ 50

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………. 52

LAMPIRAN-LAMPIRAN

x
DAFTAR TABEL

Tabel 1 Rata-rata Populasi Kuman di Tangan……………………………….. 13

Tabel 2 Enam Langkah Cuci Tangan Pakai Sabun ………………………...... 35

Tabel 3 Definisi Operasional………………………………………………… 27

Tabel 4 Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Tindakan Cuci Tangan Pakai Sabun pada
Murid-murid di SDN Garuda 1 Tahun 2016………………………………… 41

xi
DAFTAR BAGAN

Kerangka Konsep : Modifikasi Teori Perilaku Cuci Tangan, Teori Usia dan Tugas

Perkembangan……………………………………………………………… 24

xii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1: Informed Consent

Lampiran 2: Lembar Permohonan Menjadi Responden

Lampiran 3: Lembar Ceklis Enam Langkah Cuci Tangan Pakai Sabun

Lampiran 4: Hasil Analisa Enam Langkah Cuci Tangan Pakai Sabun

Lampiran 5: Surat Perizinan Penelitian

Lampiran 6: Lembar Bimbingan Proposal Karya Tulis Ilmiah

Lampiran 7: Lembar Bimbingan Karya Tulis Ilmiah

xiii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan sekaligus merupakan investasi

sumber daya manusia, serta memiliki kontribusi yang besar untuk meningkatkan

Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM adalah suatu alat ukur dalam

mencapai pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas

hidup. IPM dibangun melalui pendekatan tiga dimensi dasar. Dimensi tersebut

mencakup umur panjang dan sehat; pengetahuan, dan kehidupan yang layak

(Badan Pusat Statistik, 2016).

Sehat adalah hak setiap orang sehingga diwajibkan untuk ikut mewujudkan,

mempertahankan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-

tingginya. Termasuk dalam kewajiban setiap orang adalah berprilaku hidup sehat,

menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan orang lain (Kemenkes, 2012).

Secara umum telah terjadi penurunan angka kesakitan, namun beberapa

penyakit menular saat ini masih menjadi masalah kesehatan yang cukup besar.

Derajat kesehatan masyarakat yang masih belum optimal tersebut pada hakikatnya

dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat yang belum

1
2

mengikuti pola perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) salah satunya adalah

mencuci tangan (Kemenkes, 2011).

Mencuci tangan adalah salah satu tindakan membersihkan tangan dan jari

jemari menggunakan air mengalir dan sabun untuk menjadi bersih dan

memutuskan mata rantai kuman. Dari sudut pandang pencegahan dan

pengendalian infeksi, praktek mencuci tangan adalah untuk mencegah infeksi

yang ditularkan melalui tangan. Tujuan kebersihan tangan untuk menghilangkan

semua kotoran dan debris serta menghambat atau membunuh mikroorganisme

pada kulit. Mikroorganisme di tangan ini diperoleh dari lingkungan sekitar.

Sejumlah mikroorganisme permanen juga tinggal di permukaan kulit yaitu

Staphylococcus epidermidis (Depkes, 2008; Kemenkes, 2014).

Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan (2014) menjelaskan ada

beberapa penelitian dunia yang mengungkapkan bahwa mencuci tangan dengan

sabun adalah salah satu cara paling efektif untuk mencegah penyakit diare dan

ISPA, yang keduanya menjadi penyebab utama kematian anak-anak. Setiap tahun,

sebanyak 3,5 juta anak-anak di seluruh dunia meninggal karena penyakit diare dan

ISPA.

Prevalensi kejadian ISPA dan diare di Indonesia pada kelompok usia 5-14

tahun yaitu 27,8 % dan 6,2 %. Sementara itu untuk Jawa Barat, angka kejadian

ISPA dan diare memiliki prevalensi sebesar 24,8 % dan 7,5 %. Jika dibandingkan

dengan Jawa Tengah dan D.I Yogyakarta prevalensi kejadian ISPA di Jawa Barat

masih tinggi, yaitu sebesar 6,7 % dan 6,6 % (Riskesdas, 2013).


3

Mencuci tangan dengan sabun juga dapat mencegah infeksi kulit, mata, cacing

yang tinggal di dalam usus, SARS dan flu burung. Berdasarkan hasil Riset

Kesehatan Dasar (2013), bahwa rerata nasional proporsi perilaku cuci tangan

secara benar sebesar 47 %. Provinsi Jawa Barat sendiri memiliki proporsi sebesar

45,7 %, dan hasil rekapitulasi pendataan PHBS Dinas Kesehatan Kota Bandung

untuk rumah tangga yang mencuci tangan dengan air bersih dan sabun sebesar

94,13%.

Penelitian Desiyanto dan Djannah di Yogyakarta (2013) menggunakan jenis

penelitian true experiment dengan rancangan posttest only control group design,

bahwa dengan jumlah angka kuman untuk perlakuan cuci tangan menggunakan

sabun sebesar 3,50 CFU/cm2. Cuci tangan yang baik adalah menggunakan sabun

plain (tidak mengandung anti mikroba) atau sabun antiseptik yang mengandung

anti mikroba, menggosok-gosok kedua tangan meliputi seluruh permukaan tangan

dan mencucinya dengan air mengalir.

Upaya mensosialisasikan perilaku sehat sanitasi dan mencuci tangan dengan

sabun dimulai oleh sebuah program yang diprakarsai oleh UNICEF dengan

menggunakan anak sekolah sebagai agen perubahan. Dilansir dalam Rep-Release

Humas Pemprov Jabar (2015) di Jawa Barat sendiri khusunya di Kota Bandung,

pada tanggal 16 Oktober 2015 seribu pelajar sekolah dasar ikuti kampanye cuci

tangan pakai sabun dalam rangka memperingati Hari Cuci Tangan Pakai Sabun

Se-Dunia.
4

Teori tugas dan perkembangan yang dikemukakan oleh Havighurst (1972),

bahwa periode pada masa sekolah memiliki sembilan tugas perkembangan salah

satunya adalah membangun sikap sehat terhadap diri sendiri sebagai mahluk

hidup yang bertumbuh, hakikat tugas ini adalah ; mengembangkan kebiasaan

untuk memelihara badan, meliputi kebersihan, keselamatan diri, dan kesehatan

(Kozier, Erb, Berman, & Snyder, 2010; LN Yusuf Syamsu, 2011).

Berdasarkan tugas perkembangan tersebut, maka anak usia sekolah merupakan

modal utama pembangunan di masa depan yang perlu dijaga, ditingkatkan dan

dilindungi kesehatannya. Sekolah bisa dijadikan sebagai salah satu institusi yang

dapat membantu dalam mengoptimalkan tumbuh kembang anak usia sekolah

dengan upaya promotif maupun preventif. Usia sekolah sangat peka untuk

menanamkan pengertian dan kebiasaan hidup sehat, keadaan kesehatan anak

sekolah akan sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar yang dicapai.

Pendidikan kesehatan melalui anak-anak usia sekolah sangat efektif untuk

merubah perilaku dan kebiasaan perilaku sehat. Oleh karena itu gerakan cuci

tangan pakai sabun di sekolah adalah upaya untuk memberdayakan siswa, guru,

dan masyarakat lingkungan sekolah agar tahu, mau, dan mampu mempraktekkan

hidup sehat serta aktif dalam mewujudkan sekolah sehat. Terciptanya sekolah

yang bersih dan sehat, warga sekolah dan lingkungan sekolah terlindung dari

berbagai ancaman dan gangguan penyakit, serta meningkatkan semangat proses

belajar mengajar yang berdampak pada prestasi belajar murid-murid.


5

Penelitian yang dilakukan oleh Nuryanti (2012) di SDIT Salsabila Bekasi

Timur dengan menggunakan rancangan deskriptif korelasi melalui pendekatan

cross sectional, menunjukkan bahwa ada korelasi tindakan kebersihan tangan

dengan kejadian diare pada anak usia sekolah dengan p value = 0,0005.

Puskesmas Garuda yang menjadi pusat pelayanan kesehatan di Kecamatan

Andir, rutin melakukan penyuluhan kesehatan kepada murid-murid sekolah dasar

di wilayah kerjanya. Penyuluhan kesehatan yang diberikan kepada murid-murid

yaitu cuci tangan pakai sabun, salah satu sekolah yang dikunjungi untuk dilakukan

penyuluhan kesehatan adalah SD Negeri Garuda 1.

SD Negeri Garuda 1 sudah menerapkan kebiasaan mencuci tangan pakai sabun

di sekolahnya, fasilitas untuk mencuci tangan seperti wastafle dan keran-keran air

tersedia di depan kelas maupun di setiap sudut bangunan sekolah. Mencuci tangan

pakai sabun dilakukan bersama oleh murid-murid setiap selesai pelajaran

olahraga, namun tindakan cuci tangan tersebut tidak selalu dipantau oleh guru

sehingga kemungkinan ada murid yang tidak melakukan cuci tangan pakai sabun

dengan benar.

Persentase angka kesakitan murid SD Negeri Garuda 1 selama tiga bulan

terakhir (Desember-Februari) adalah 37,06%. Guru UKS di sekolah dasar tersebut

mengatakan, hampir setengah murid-murid yang tidak masuk karena alasan sakit

seperti batuk, pilek, demam dan nyeri tenggorokan, mengingat penjelasan Klatz

dan Goldman (2002), penelitian menunjukkan bahwa mencuci tangan sangat


6

penting untuk mencegah timbulnya atau memburuknya beberapa penyakit salah

satunya flu dan batuk.

Peneliti tertarik meneliti tindakan cuci tangan yang dilakukan oleh murid-

murid, apakah sesuai dengan prosedur yang sudah diajarkan atau tidak mengingat

masih banyaknya murid yang tidak hadir di kelas karena alasan sakit pada tiga

bulan terakhir.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah penelitian

sebagai berikut “Bagaimana pelaksanaan tindakan cuci tangan pakai sabun pada

murid- murid di SD Negeri Garuda 1 Kota Bandung ?”

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui gambaran pelaksanaan tindakan

cuci tangan pakai sabun pada murid-murid di SD Negeri Garuda 1 Kota

Bandung.
7

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Bagi Institusi Pendidikan

Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran

dan sumber bacaan bagi mahasiswa di perpustakaan Jurusan Keperawatan

Bandung.

1.4.2 Manfaat Bagi Puskesmas

Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan oleh puskesmas binaan

wilayah setempat sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan perilaku sehat

khususnya mencuci tangan pada murid-murid sekolah dasar dengan kegiatan

berupa penyuluhan kesehatan.

1.4.3 Manfaat Bagi Murid-murid

Sebagai media pendidikan kesehatan dan bahan evaluasi diri dalam

pelaksanaan cuci tangan pakai sabun yang sesuai dengan prosedur.

1.4.4 Manfaat Bagi Peneliti Selanjutnya

Diharapkan karya tulis ini bisa menjadi referensi bagi penulis selanjutnya,

dengan merubah variabel penelitian ataupun jenis penelitian.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Mencuci Tangan

2.1.1 Definisi

Mencuci tangan adalah salah satu tindakan sanitasi dengan membersihkan

tangan dan jari jemari menggunakan air dan sabun oleh manusia untuk menjadi

bersih dan memutuskan mata rantai kuman. Mencuci tangan juga merupakan

proses yang secara mekanik melepaskan kotoran dan debris dari kulit dengan

menggunakan sabun biasa dan air (Departemen Kesehatan, 2008; Kementrian

Kesehatan, 2014)

Dari segi pencegahan dan pengendalian penularan infeksi, praktek mencuci

tangan dilakukan untuk mencegah penularan mikroorganisme melalui tangan.

Mikroorganisme di tangan ini diperoleh dari kontak dengan lingkungan sekitar.

Sejumlah mikroorganisme permanen juga tinggal di lapisan permukaan kulit yaitu

Staphylococcus epidermidis.

8
9

2.1.2 Hal-hal yang Perlu Diingat saat Mencuci Tangan

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat akan mencuci tangan, di

antaranya adalah (Departemen Kesehatan, 2008) :

a. Bila jelas terlihat kotor atau terkontaminasi harus dicuci dengan sabun dan air

mengalir.

b. Bila tangan tidak jelas terlihat kotor atau terkontaminasi, harus digunakan

antiseptic berbasis alcohol untuk dekontaminasi tangan rutin

c. Pastikan tangan kering sebelum memulai kegiatan.

2.1.3 Hal-hal yang Harus Diperhatikan dalam Mencuci tangan

a. Jari tangan

McGinly, Larson dan Leydon (1988) dalam Departemen Kesehatan (2008)

disebutkan bahwa daerah di bawah kuku (ruang subngual) mengandung jumlah

mikroorganisme tertinggi. Oleh karena itu, kuku harus dijaga agar tetap pendek

dan tidak melebihi 3 mm dari ujung jari.

b. Kuku buatan

Kuku buatan (pembungkus kuku, ujung kuku, pemanjang akrilik) yang dipakai

dapat berperan sebagai penularan infeksi melalui jari-jari tangan. Selain itu,

kuku buatan dapat berperan sebagai reservoir bakteri gram negative.


10

c. Perhiasan

2.1.4 Persiapan Mencuci Tangan

Sebelum mencuci tangan, khususnya cuci tangan pakai sabun, ada beberapa

persiapan yang diperlukan untuk hal tersebut di antaranya ( Departemen

Kesehatan, 2008) :

a. Air mengalir

Sarana utama dari mencuci tangan adalah air yang mengalir dengan saluran

pembuangan yang memadai. Dengan air mengalir, mikroorganisme dapat

terlepas karena gesekan mekanis maupun secara kimiawi dan tidak menempel

lagi di permukaan kulit. Air mengalir yang dimaksudkan disini yaitu berupa air

kran, karena jika dengan menggunakan gayung dikhawatirkan beresiko cukup

besar untuk terjadinya pencemaran melalui gayung tersebut.

b. Sabun

Sabun tidak membunuh mikroorganisme, tetapi menghambat dan mengurangi

jumlah mikroorganisme, dengan cara mengurangi tegangan permukaan

sehingga mikroorganisme terlepas dari permukaan kulit dan mudah terbawa

oleh air.

c. Larutan antiseptik

Larutan antiseptik atau disebut juga antimikroba topikal, dipakai pada kulit

atau jaringan hidup lainnya yang digunakan untuk menghambat aktivitas atau
11

membunuh mikroorganisme pada kulit. Antiseptik yang digunakan memiliki

keragaman dan efektivitasnya masing-masing, sehingga bisa menimbulkan

reaksi kulit yang berbeda-beda pada orang yang menggunakannya.

d. Lap tangan yang bersih dan kering

2.1.5 Manfaat Mencuci Tangan

Menurut Kementrian Kesehatan RI (2014) ada beberapa manfaat dari mencuci

tangan, antara lain:

a. Membunuh kuman penyakit yang ada di tangan

b. Mencegah penularan penyakit seperti ISPA, pneumonia, diare, infeksi cacing,

infeksi mata, penyakit kulit dan virus flu

c. Tangan menjadi bersih dan bebas kuman

2.1.6 Waktu Harus Mencuci Tangan

Ada beberapa waktu yang diharuskan untuk mencuci tangan, antara lain

(Maryunani, 2013; Linda Tietjen, Bossemeyer, & Noel McIntosh, 2010) :

a. Setiap kali tangan kita kotor (setelah; memegang uang, memegang binatang,

berkebun, dan lain-lain)

b. Setelah ke toilet
12

c. Setelah mengganti pakaian yang kotor

d. Setelah menceboki bayi atau anak

e. Sebelum makan dan menyuapi anak

f. Sebelum memegang makanan

g. Sebelum menyusui atau menggendong bayi

2.1.7 Penyakit-penyakit yang Dapat Dicegah dengan Mencuci Tangan

Penyakit-penyakit yang dapat timbul jika tidak mencuci tangan antara lain

(M.Klatz, Goldman, & Cebula, 2002; Pusdatin Kemenkes, 2014) :

a. Diare

Penyakit diare sering diasosiasikan dengan keadaan air, namun harus

diperhatikan juga penanganan kotoran manusia seperti tinja dan air kencing,

dikarenakan kuman penyakit penyebab diare berasal dari kotoran-kotoran ini.

Kuman penyakit ini masuk melalui saluran pencernaan melalui perantara jari-

jari tangan yang tidak dicuci terlebih dahulu atau hasil kontaminasi dengan

tempat makan yang kotor.

b. Infeksi saluran pernapasan

Dengan melepaskan patogen-patogen pernapasan yang terdapat pada tangan

dan permukaan telapak tangan dengan menghilangkan patogen (kuman


13

penyakit) lainnya yang menjadi penyebab tidak hanya diare namun juga gejala

penyakit pernapasan seperti; nyeri telan, pilek, batuk kering atau berdahak.

c. Infeksi cacing, infeksi mata dan penyakit kulit

Penelitian juga telah membuktikan bahwa selain diare dan infeksi saluran

pernapasan, penggunaan sabun dalam mencuci tangan mengurangi kejadian

penyakit kulit; infeksi mata seperti trakoma, dan cacingan khususnya untuk

ascaris dan trichuariasis.

2.1.8 Jumlah Kuman yang Ada di Tangan

TABEL 1
Rata-rata Populasi di Tangan

Perempuan Laki-laki

Jempol 50-900 juta 350.000-650.000

Telunjuk 800.000-1,1 juta 850.000-17 juta

Jari-jari yang lain 100.000-1.2 juta 250.000-700.000

Telapak tangan 100-4.700 450-2,1 juta

Punggung tangan 400-1.000 25-200

Sumber : Adaptasi dari K,Seaton..Life Health and Longevity,Scientific Hygiene


Inc.1994,p.19. Dalam M.Klatz dan Goldman (2002)
14

2.1.9 Teknik Mencuci Tangan

Teknik mencuci tangan menurut WHO (2014) ada dua cara, pertama

menggunakan air mengalir dan sabun (handwashing technique) yang kedua

menggunakan cairan antiseptik (handrubbing technique) untuk mencuci tangan.

a. Mencuci tangan dengan teknik handwash

Waktu yang digunakan untuk mencuci tangan menggunakan air mengalir dan

sabun adalah 40-60 detik.

1) Basahi kedua telapak tangan memakai air mengalir, ambil sabun

secukupnya. Gosok kedua telapak tangan yang telah diberi sabun secara

merata.

2) Gosok sela-sela jari kedua tangan dengan cara meletakkan telapak tangan

kanan di atas punggung tangan kiri dan sebaliknya.

3) Gosok kedua telapak dengan jari-jari terkait, posisi telapak tangan kanan

dan kiri saling menempel.

4) Letakan punggung jari kanan pada telapak tangan kiri, posisi mengunci dan

sebaliknya.

5) Gosok ibu jari secara berputar dalam genggaman tangan kanan dan

sebaliknya.

6) Gosokkan kuku jari kanan memutar ke telapak tangan kiri dan lakukan

sebaliknya .
15

b. Mencuci tangan dengan teknik handrub

Waktu yang digunakan untuk mencuci tangan dengan teknik handrub 20-30

detik.

1) Ambil larutan antiseptik secukupnya. Gosok kedua telapak tangan secra

merata.

2) Gosok sela-sela jari kedua tangan dengan cara meletakkan telapak tangan

kanan di atas punggung tangan kiri dan sebaliknya.

3) Gosok kedua telapak dengan jari-jari terkait, posisi telapak tangan kanan

dan kiri saling menempel.

4) Letakan punggung jari kanan pada telapak tangan kiri, posisi mengunci dan

sebaliknya.

5) Gosok ibu jari secara berputar dalam genggaman tangan kanan dan

sebaliknya.

6) Gosokkan kuku jari kanan memutar ke telapak tangan kanan dan lakukan

sebaliknya .

2.2 Konsep Perilaku

Menurut Skinner (1938) dalam Notoatmodjo (2012) perilaku merupakan

respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Jadi dapat

disimpulkan bahwa perilaku adalah kegiatan manusia yang dapat diamati secara

langsung ataupun tidak langsung.


16

2.2.1 Bentuk Perilaku

Menurut Notoatmodjo (2012) dilihat dari bentuk respons terhadap stimulus ini

maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua.

a. Perilaku tertutup (covert behavior)

Respons atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian,

persepsi pengetahuan atau kesadaran dan sikap yang terjadi pada orang yang

menerima stimulus tersebut dan belum dapat diamati jelas oleh orang lain,

misalnya: seorang ibu hamil tahu pentingnya periksa kehamilan.

b. Perilaku terbuka (overt behavior)

Respons terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau

praktik yang sudah dapat diamati oleh orang lain. Oleh sebab itu, disebut

tindakan nyata atau praktik misal, seorang ibu memeriksakan kehamilannya

atau membawa anaknya ke puskesmas untuk imunisasi.

2.2.2 Faktor yang Mempengaruhi Perilaku

Menurut Notoatmodjo (2012) dikatakan bahwa perilaku merupakan reaksi

terhadap stimulus, namun dalam memberikan respons tergantung pada

karakteristik atau faktor-faktor lain dari orang tersebut. Faktor yang membedakan

respons terhadap stimulus yang berbeda disebut determinan perilaku.

Menurut Green (1980) dalam Ali (2010) ada tiga faktor yang mempengaruhi

perilaku, antara lain:


17

a. Faktor predisposisi, yakni pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai-nilai

(norma, tradisi, adat istiadat).

b. Faktor pendukung, yakni sarana prasarana dan pemahaman konsep.

c. Faktor yang memperkuat atau mendorong yakni keluarga, masyarakat,

pimpinan, tokoh masyarakat, tenaga kesehatan dan lain-lain.

Perilaku merupakan hasil bersama antara berbagai faktor, baik faktor internal

maupun eksternal, perilaku manusia sangat kompleks dan memiliki bentangan

yang sangat luas. Menurut Bloom (1908) dalam Notoatmodjo (2012) dikatakan

bahwa perilaku manusia itu dibagi dalam tiga kawasan yakni: kognitf, afektif dan

psikomotor.

2.2.3 Proses Adopsi Perilaku

Menurut penelitian Rogers (1974) dalam Notoatmodjo (2012) diungkapkan

sebelum seseorang mengadopsi perilaku baru, dalam diri orang tersebut terjadi

proses yang berurutan, disingkat AIETA, yang artinya:

a. Awarness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui

adanya stimulus dari suatu objek.

b. Interest, yakni orang yang mulai tertarik kepada stimulus yang telah muncul.

c. Evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus). Artinya disini

bahwa seseorang tersebut sudah lebih baik lagi dalam memiilih keputusan

untuk mengadopsi sebuah perilaku.


18

d. Trial, seseorang tersebut mulai mencoba perilaku yang baru diadopsi olehnya

sesuai dengan hasil penimbangan tadi.

e. Adoption, seseorang berperilaku sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan

sikapnya terhadap stimulus berdasarkan apa yang dia dapat.

2.3 Konsep Tindakan (Praktik)

2.3.1 Definisi Tindakan

Tindakan merupakan suatu pengadaan nilai dan pendapat terhadap apa yang

diketahui setelah seseorang mengetahui stimulus atau objek (Notoatmodjo, 2012).

Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor

pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas.

Disamping faktor fasilitas, juga diperlukan faktor dukungan dari pihak lain.

2.3.2 Tingkatan Tindakan (Praktik)

Menurut Notoatmodjo (2012) selain pengetahuan dan sikap yang memiliki

tingkatan. Praktik pun memiliki beberapa tingkatan, antara lain :

a. Respons terpimpin (guided response)

Melakukan sesuatu dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh yang

telah diberikan.

b. Mekanisme (mechanism)
19

Telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, sesuatu itu

merupakan sudah menjadi suatu kebiasaan.

c. Adopsi (adoption)

Suatu tindakan yang sudah berkembang lebih baik lagi. Tindakan tersebut

sudah dimodifikasi tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.

2.3.3 Pengukuran Tindakan

Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara tidak langsung yakni dengan

wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan (recall). Pengukuran

juga dapat dilakukan secara langsung, yakni dengan mengobservasi tindakan atau

kegiatan responden. Pengukuran praktik juga dapat dikur dari hasil perilaku

tersebut (Notoatmodjo, 2012).

2.4 Anak Usia Sekolah

Periode sekolah dimulai saat anak berusia kurang lebih 6 tahun, yakni ketika

gigi susu tanggal. Periode tersebut meliputi periode praremaja (prapubertas).

Periode ini berakhir saat anak berusia kurang lebih 12 tahun, dengan awitan

pubertas (Kozier dkk., 2010).

Anak usia sekolah mengalami perubahan fisik yang cepat sehingga tampak

berbeda disbanding sebelumnya, perbedaan individu yang disebabkan oleh faktor

genetik dan juga lingkungan terlihat jelas pada periode ini.


20

Menurut Havighurst dalam Kozier dkk., (2010) bahwasannya tahapan usia

sekolah ini (6-12 tahun) sangat memengaruhi perilaku anak, perkembangan fisik,

kognitif dan sosial meningkat, dan keterampilan komunikasi semakin baik. Tugas-

tugas perkembangan menurut LN Yusuf (2011) hasil pengembangan teori dari

Havighurst (1900-1901) antara lain :

a. Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan. Melalui

pertumbuhan fisik dan otak, anak belaar dan berlari semakin stabil, makin

cepat dan dan mantap.

b. Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai mahluk

biologis. Hakikat tugas ini ialah; mengembangkan kebiasaan untuk memelihara

badan, meliputi kebersihan, keselamatan diri dan kesehatan.

c. Belajar bergaul dengan teman sebaya. Yakni belajar menyesuaikan diri dengan

lingkungan dan situasi yang baru serta teman sebaya.

d. Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya. Dari segi

permainan umpamanya akan tampak bahwa anak laki-laki tidak akan

memperbolehkan anak perempuan mengikuti permainan khas laki-laki.

e. Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis dan berhitung

f. Belajar mengembangkan konsep sehari-hari. Apabila anak telah melihat

sesuatu, mendengar, dan mengalami maka ingatan tersebut akan menjadi

sebuah tanggapan yang bernama konsep.

g. Mengembangkan kata hati. Hakikat tugas ini ialah mengembangkan sikap dan

perasaan yang berhubungan dengan norma-norma agama.


21

h. Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi untuk dapat menjadi

orang yang berdiri sendiri.

Selain pendapat para ahli di atas, Piaget (1896-1980) mengemukakan bahwa

usia sekolah ini menandakan fase operasi yang konkret, dimana anak mulai

mengembangkan kemampuan kognitif dalam aktivitas yang kompleks.

Perkembangan kognitif merujuk pada cara manusia dalam belajar berpikir,

menalar dan menggunakan bahasa.

Perkembangan tersebut melibatkan kecerdasan, kemampuan persepsi dan

kemampuan memperoleh informasi. Upaya promosi kesehatan yang dilakukan

meliputi higiene gigi, tindakan keselamatan, meningkatkan kebugaran jasmani

serta tindakan higiene untuk mencegah infeksi (Kozier dkk., 2010).

2.4.1 Perkembangan Anak Menurut Usia

Seperti yang dikemukakan oleh Allen dan Marotz (2010) profil perkembangan

anak sekolah dapat dibagi sesuai tahapan usia dari mulai enam tahun hingga dua

belas tahun. Anak dalam tahap integrasi perkembangan, mengatur dan

memadukan berbagai keterampilan perkembangan untuk menyelesaikan tugas

yang semakin rumit.

Pada usia ini anak laki-laki dan perempuan menjadi semakin kompeten dalam

memenuhi kebutuhan sendiri seperti mandi, berpakaian, ke kamar mandi, makan,

bangun tidur hingga pergi ke sekolah. Allen dan Marrotz (2010) dalam bukunya

menjelaskan bahwa setiap tahapan usia sekolah memiliki pola perkembangan dan
22

pertumbuhan hingga rutinitas sehari-hari, tugas-tugas tersebut antara lain sebagai

berikut.

a. Anak Usia Enam Tahun

Pada saat usia enam tahun anak mulai tertarik dengan suatu petualangan,

karena koordinasi antara ukuran tubuh dan kekuatannya semakin meningkat.

Sementara itu, perubahan kemampuan kognitif digunakan untuk melihat

peraturan sebagai sesuatu yang berguna untuk memahami kejadian sehari-hari

dan perilaku orang lain. Profil perkembangan dan pola pertumbuhan yang

dimiliki anak usia enam tahun, antara lain :

1) Tinggi badan meningkat 5-7,5 cm; berat badan meningkat 2,3-3.2 kg.

bertambahnya berat badan menunjukkan bertambahnya massa otot yang

signifikan sehingga membutuhkan kurang lebih 1600 sampai 1700 kalori

per hari.

2) Pengendalian keterampilan motorik halus dan kasar semakin baik,sehingga

ketangkasan dan koordinasi mata-tangannya meningkat.

3) Menunjukkan rentang konsentrasi yang semakin panjang dan memahami

konsep seperti petunjuk waktu sederhana.

4) Menggunakan bentuk kata kerja, urutan kata dan struktur kalimat yang

tepat.

5) Menjadi lebih tidak bergantung pada orang tuanya karena lingkaran

pertemanan yang semakin luas, akan tetapi masih berpusat pada kepentingan

sendiri (egois).
23

6) Rutinitas sehari-seharinya antara lain mempunyai pilihan makanan yang

sangat disukai dan sangat tidak disukai; ceroboh dalam hal mencuci tangan,

mandi, dan rutinitas untuk mengurus diri lainnya (membutuhkan

pengawasan dan contoh untuk memastikan menjalankan tugas dengan baik.

b. Anak Usia Tujuh Tahun

Anak pada usia ini mempunyai banyak sifat positif, mereka lebih masuk akal

dan mau berbagi bahkan kerja sama. Mereka menjadi pendengar yang lebih

baik juga dalam memahami dan mengikuti apa yang mereka dengar. Perasaan

yang rumit dan suasana hati yang kurang baik sering terdapat pada usia ini.

Profil perkembangan dan pola pertumbuhan yang dimiliki anak usia tujuh

tahun, antara lain :

1) Kenaikan berat badan cenderung sedikit mengalami kenaikan, hanya 2,7 kg

per tahun ; tinggi badan meningkat 6,25 cm per tahun. Dengan kenaikan

berat badan dan tinggi badan menyebabkan tingkat energi menjadi tidak

stabil.

2) Menunjukkan pengendalian motorik halus dan kasar yang lebih terarah

sehingga latihan keterampilan motorik baru dilatih terus menerus sampai

bisa dikuasai.

3) Meningkat pemahaman tentang sebab akibat dan mulai mengerti konsep

Piaget mengenai penyimpanan.

4) Bekerja sama penuh kasih saying terhadap orang dewasa, bisa bercanda

dalam kegiatan sehari-hari.


24

5) Rutinitas sehari- hari antara lain tata karma di meja makan masih belum

sempurna dan masih menolak makanan yang tidak disukai; bermalas-

malasan untuk mandi dan bisa mengendalikan buang air kecil dan besar ;

rata-rata tidur sepuluh sampai sebelas jam.

c. Anak Usia Delapan Tahun

Anak usia delapan tahun menunjukkan antusiasme yang besar terhadap

kehidupan. Energi dipusatkan untuk meningkatkan keterampilan yang sudah

dimiliki dan segala sesuatu yang diketahui. Profil perkembangan dan pola

pertumbuhan yang dimiliki anak usia delapan tahun, antara lain :

1) Bentuk tubuh nampak semakin dewasa; tangan dan kaki tumbuh lebih

panjang menyebabkan anak terlihat tinggi dan proporsional.

2) Menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam keterampilan atau

ketangkasan, keseimbangan dan kekuatan.

3) Menggunakan logika yang lebih baik dalam usahanya memahami kejadian

sehari-hari.

4) Mengerti dan melakukan instruksi bebrapa tahap.

5) Mulai membentuk pendapat mengenai nilai dan sikap moral; menyatakan

suatu perbuatan benar atau salah.

6) Rutinitas sehari-harinya antara lain lebih suka menghabiskan makanan

dengan cepat supaya bisa melanjutkan kegiatan; masih terburu-buru ketika

mencuci tangan dan lebih menunjukkan pada kebersihan dan penampilan.


25

d. Anak-anak Usia Sembilan dan Sepuluh Tahun

Sebagian besar anak usia sembilan dan sepuluh tahun telah memasuki fase

yang cukup menyenangkan. Digambarkan sebagai masa tenang sebelum

memasuki fase masa remaja. Anak usia sembilan tahun masih menunjukkan

emosi yang labil, ledakan emosi ini secara berangsur-angsur menjadi reda pada

usia sepuluh tahun. Profil perkembangan dan pola pertumbuhan yang dimiliki

anak usia Sembilan dan sepuluh tahun, antara lain :

1) Kecepatan pertumbuhan masing-masing bagian tubuh berbeda-beda; tubuh

bagian tengah ke bawah tumbuh lebih cepat; tangan dan kaki tampak

panjang dan tidak proporsional.

2) Menggunakan lengan, kaki, telapak tangan dan telapak kaki dengan mudah

dan ketepatan yang lebih baik dalam melakukan kegiatan motorik kasar.

3) Mengembangkan kemampuan untuk membuat penalaran berdasarkan logika

daripada intuisi.

4) Mengungkapkan perasaan dan emosinya secara efektif melalui kata-kata.

5) Mulai terbentuk penalaran moral; adat istiadat dan norma yang dianut

masyarakat.

6) Rutinitas sehari-harinya antara lain makan dengan waktu yang tidak teratur;

sering perlu diingatkan untuk mandi, mencuci tangan, keramas dan

menggosok gigi; dan membutuhkan Sembilan hingga sepuluh jam untuk

tidur.
26

e. Anak Usia Sebelas dan Dua Belas Tahun

Markovits dan Barrouilet dalam Allen dan Marotz (2010) mengatakan bahwa

keterampilan bahasa, motorik dan kognitif pada usia ini telah mencapai

tingkatan yang sama dengan orang dewasa. Profil perkembangan dan pola

pertumbuhan yang dimiliki anak sebelas dan dua belas tahun, antara lain :

1) Perubahan badan menandai datangnya pubertas; pinggul yang melebar dan

payudara menonjol; membesarnya testis dan penis.

2) Melakukan gerakan yang lebih halus dan terkoordinasi serta

berkonsentrasi untuk meningkatkan kemampuan motorik halus dalam

berbagai aktivitas.

3) Mulai berpikir dengan cara abstrak; berhasil mengurutkan, mengatur dan

mengelompokkan karena kapasitas memori jangka panjang yang lebih

baik.

4) Menggunakan struktur bahasa yang lebih panjang dan kompleks.

5) Membangun cara pandang yang kritis dan idealis mengenai suatu konsep.

6) Rutinis sehari-harinya antara lain mulai menghubungkan makanan dengan

naik atau turunnya berat badan; menjaga tubuhnya selalu bersih kadang-

kadang masih perlu diingatkan untuk mencuci tangan; mulai ingin tidur

lebih larut malam.


27

2.5 Kerangka Konsep

Faktor Predisposisi

1. Pengetahuan
murid tentang
cuci tangan
pakai sabun
2. Sikap
3. Keyakinan
4. Kepercayaan Perilaku murid-
5. Nilai, tradisi dan murid tentang cuci
sebagainya tangan pakai sabun

Faktor Pemungkin

(Sarana dan fasilitas


untuk mencuci tangan)

Faktor Penguat

Guru-guru di sekolah

Keterangan :
: Diteliti
: Tidak diteliti

Sumber : Modifikasi teori perilaku Green (1980) dalam Notoatmodjo (2014)


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif.

Penelitian deskriptif merupakan suatu metode penelitian yang dilakukan dengan

tujuan untuk menggambarkan atau mendeskripsikan suatu objek penelitian

(Sibagariang, dkk., 2010). Bentuk penelitian deskriptif ini untuk menggambarkan

tindakan cuci tangan pakai sabun pada murid-murid di SD Negeri Garuda 1 Kota

Bandung.

3.2 Definisi Konseptual dan Operasional Variabel

Soeparto dalam Nursalam (2008) menjelaskan bahwa variabel adalah

karakteristik yang memberikan nilai beda terhadap sesuatu (benda, manusia, dan

lain-lain). Variabel juga merupakan konsep dari berbagai level abstrak yang

didefinisikan sebagai suatu fasilitas untuk pengukuran atau manipulasi suatu

penelitian. Variabel dalam penelitian ini adalah tindakan cuci tangan pakai sabun

pada murid-murid.

28
29

Definisi konseptual merupakan deskripsi mengenai apa yang diteliti dan

biasanya dapat ditemukan di buku teks (Nursalam, 2008). Sedangkan definisi

operasional adalah mendefinisikan suatu variabel penelitian berdasarkan

karakterisitik yang diamati dan membutuhkan observasi serta pengukuran yang

cermat (Hidayat,2007). Definisi konsep dan operasional dalam penelitian ini

diuraikan pada tabel berikut :


30

TABEL 2
Definisi Konsep dan Operasional Variabel

Definisi Definisi Skala


Variabel Alat Ukur Hasil Ukur
Konseptual Operasional Ukur

Tindakan Suatu Pelaksanaan Pedoman 1. Sesuai Nominal


cuci pengadaan mencuci observasi prosedur :
tangan nilai dan tangan pakai menggunakan Apabila
pakai pendapat sabun yang lembar responden
sabun terhadap apa diketahui checklist enam melakukan
pada yang diketahui oleh murid- langkah tindakan
murid- setelah murid SDN mencuci sesuai
murid seseorang Garuda 1 tangan dengan dengan
mengetahui sesuai dengan sabun. prosedur
stimulus atau standar enam
objek operasional langkah
(Notoatmodjo, prosedur cuci
2012 ). yang telah tangan
diajarkan. pakai
sabun.
2. Tidak
sesuai
prosedur :
Apabila
satu di
antara
enam
prosedur
cuci
tangan
pakai
sabun
tidak
dilakukan
oleh
responden.
31

3.3 Populasi dan Sampel

3.3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di SD Negeri Garuda 1 Kota Bandung.

Sedangkan waktu penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Juni

tahun 2016.

3.3.2 Populasi

Populasi adalah setiap subyek penelitian yang memenuhi karakteristik yang

ditentukan sesuai dengan ranah dan tujuan penelitian (Sastroasmoro, 2011).

Populasi mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh

peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan.

Populasi dalam penelitian ini adalah murid-murid kelas 3,4 dan 5 yang berada

di SD Negeri Garuda 1 sejumlah 217 orang dengan jumlah per-kelasnya :

Kelas 3 = 70 orang

Kelas 4 = 75 orang

Kelas 5 = 72 orang
32

3.3.3 Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi

tersebut (Sugiyono, 2012). Sampel dalam penelitian ini adalah murid kelas 3,4

dan 5 SD Negeri Garuda 1. Besaran sampel dihitung menggunakan rumus

Yamane (1967) dalam Sarwono (2011) :

Keterangan :
N= Jumlah populasi yang diketahui (217 orang)
n= Jumlah sampel
d= Presisi yang ditetapkan (5% atau 0,05)

Maka :

= 217
1 + 217 (0,05)2

= 217
1,5425

= 140,68 dibulatkan menjadi 141 responden

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara

proporsionate stratified random sampling, dalam pengambilan subjek penelitian

didasari oleh sampel yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional

(Sugiyono, 2012) yaitu murid kelas 3, 4, dan 5. Sampel yang terpilih dari masing-

masing kelas dihitung menggunakan penghitungan sebagai berikut :


33

Pengambilan sampel ini dilakukan dengan undian, setelah masing-masing

kelas mendapatkan jumlah sampel, nama-nama murid dari setiap kelas

dimasukkan ke dalam daftar nama calon responden dan diberi nomor urut.

Sesudah diberikan nomor urut, dilakukan sampling frame yaitu nama-nama murid

yang dimasukkan ke dalam daftar calon responden dituliskan kembali pada

sobekan kertas kecil kemudian digulung satu per satu. Gulungan kertas dimasukan

ke dalam gelas undian kemudian dikocok dengan dilakukan teknik pengembalian

agar peluangnya sama.


34

Setiap murid mempunyai peluang yang sama untuk dipilih menjadi anggota

sampel. Sugiyono (2012) menjelaskan jika undian nomor satu telah diambil, maka

perlu dikembalikan lagi, kalau tidak dikembalikan peluangnya menjadi tidak sama

lagi.

3.4 Pengumpulan Data

a. Instrumen Penelitian

Peneliti menggunakan alat pengumpulan data berupa lembar checklist

penelitian untuk memperoleh informasi dari responden. Instrumen penelitian

terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama berisi tentang karakterisitik

responden yang berisi nama, usia, jenis kelamin dan tingkatan kelas. Data

karakteristik ini bertujuan untuk mengetahui data-data responden untuk

dideskripsikan secara distribusi frekuensi terhadap pelaksanaan tindakan cuci

tangan.

Data instrumen yang kedua berisi tentang prosedur enam langkah cuci tangan

pakai sabun dengan menggunakan lembar checklist yang diadopsi dari Dinas

Kesehatan (2015) dan WHO (2014) dengan cara memberi tanda checklist pada

kolom instrumen. Enam langkah cuci tangan pakai sabun :


35

TABEL 3
Langkah Cuci Tangan Pakai Sabun

NO. Langkah Cuci Tangan Pakai Sabun

1 Basahi kedua telapak tangan memakai air mengalir, ambil sabun


secukupnya. Gosok kedua telapak tangan yang telah diberi sabun
secara merata
2 Gosok sela-sela jari kedua tangan dengan cara meletakkan telapak
tangan kanan di atas punggung tangan kiri dan sebaliknya
3 Gosok kedua telapak dengan jari-jari terkait, posisi telapak tangan
kanan dan kiri saling menempel
4 Letakan punggung jari kanan pada telapak tangan kiri, posisi
mengunci dan sebaliknya
5 Gosok ibu jari secara berputar dalam genggaman tangan kanan
dan sebaliknya
6 Gosokkan kuku jari kanan memutar ke telapak tangan kiri dan
lakukan sebaliknya

b. Teknik Pengumpulan Data

Merupakan cara peneliti untuk mengumpulkan data dalam penelitian, perlu

diperhatikan alat ukur pengumpulan data agar memperkuat hasil penelitian

(Hidayat, 2007).

Langkah-langkah pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu sebagai

berikut:

1) Mencari calon responden sesuai dengan pemilihan random yang dipilih, yaitu

kelas 3,4, dan 5.


36

2) Menghitung jumlah sampel setiap kelasnya, jumlah sampel dari masing-

masing kelas sebagai berikut; kelas 3 A (23 orang), 3 B (22 orang), 4 A (27

orang), 4 B (22 orang), 5 A (25 orang), dan 5 B (22 orang).

3) Membuat daftar nama calon responden dan diberi nomor urut.

4) Melakukan sampling frame, yaitu nama-nama murid yang dimasukkan ke

dalam daftar calon responden dituliskan kembali pada sobekan kertas kecil

kemudian digulung satu per satu.

5) Gulungan kertas dimasukan ke dalam gelas undian kemudian dikocok dengan

dilakukan teknik pengembalian agar peluangnya sama.

6) Nama-nama murid yang keluar dalam undian kemudian dicatat dalam daftar

responden.

7) Mengumpulkan murid-murid yang terpilih dalam undian di satu ruangan dan

menjelaskan maksud dan tujuan peneltian.

8) Meminta setiap murid untuk mencuci tangan secara bergantian tanpa melihat

satu sama lain.

9) Mengobservasi tindakan cuci tangan dengan menggunakan lembar checklist

SOP, jika langkah cuci tangan sesuai dengan SOP diberi tanda √ pada kolom

“YA”. Apabila langkah cuci tangan tidak sesuai dengan SOP diberi tanda √

pada kolom “TIDAK”.

10) Memeriksa kembali lembar checklist per-murid jika ada yang terlewat.

Lembar yang sudah terkumpul dan sudah diperiksa, kemudian diolah dan

dianalisis dengan menggunakan SPSS.


37

3.5 Analisa Data

3.5.1 Pengolahan Data

Sebelum dilakukan analisis, data terlebih dahulu harus diolah dengan

tujuan mengubah data menjadi informasi. Pengolahan data pada penelitian ini

adalah sebagai berikut :

a. Editing

Peneliti memeriksa kembali kebenaran data dari lembar checklist SOP yang

telah dikumpulkan, jika ada bagian lembar checklist SOP yang belum terisi

atau ada yang terlewat.

b. Coding

Coding merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi data

berbentuk angka dengan tujuan mempermudah proses analisis dan

mempercepat pemasukan data. Adapun pengkodean dari setiap item tindakan

yaitu :

Ya :1

Tidak :0

c. Entry Data

Peneliti memasukkan data yang telah dikumpulkan dan diberi kode ke dalam

database komputer.
38

d. Cleaning

Peneliti memeriksa kembali data yang telah dimasukkan jika ada data yang

keliru, baik pada waktu pengkodean maupun dalam membaca kode sehingga

memudahkan proses analisa.

e. Analyzing

Peneliti melakukan analisa terhadap data-data yang telah dimasukkan dengan

menggunakan statistik deskriptif.

3.5.2 Analisa Data Univariat

Analisa deskriptif berfungsi untuk meringkas, mengklarifikasi dan menyajikan

data. Apabila data telah terkumpul, maka diklasifikasikan menjadi dua kelompok

data, yaitu data kuantitatif yang berbentuk angka-angka dan data kualitatif

dinyatakan dalam kata-kata atau simbol.

Analisa univariat yaitu menganalisa terhadap setiap variabel dari hasil tiap

penelitian untuk menghasilkan distribusi frekuensi dan presentase dari tiap

variabel (Arikunto,2010). Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tindakan

responden dalam pelaksanaan cuci tangan pakai sabun dengan cara membuat tabel

distribusi frekuensi.

Tabel-tabel tersebut kemudian dianalisis secara deskriptif, maka uji analisa

data yang digunakan dalam melakukan hasil peneltian dapat digunakan dengan

persentase. Dilakukan dengan menggunakan rumus (Sibagariang dkk, 2010) :


39

Keterangan :

% = persentase

f = frekuensi tiap kategori

N = jumlah sampel

Selanjutnya data ditabulasikan dan diinterpretasikan dengan menggunakan

skala (Arikunto, 2006) :

0% : Tidak seorangpun dari responden

1%-25% : Sebagian kecil dari responden

26%-49% : Hampir setengahnya dari responden

50% : Setengah dari responden

50%-74% : Lebih dari setengahnya dari responden

75%-99% : Sebagian besar responden

100% : Seluruh responden


40

3.6 Keterbatasan

Dalam penelitian peneliti harus mengobservasi tindakan murid satu per satu

sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melakukan penelitian pada

masing-masing kelas, serta jadwal kegiatan belajar mengajar kelas yang berbeda

membuat pengumpulan data tidak dalam waktu yang sama. Peneliti hanya

mengobservasi satu kali tindakan cuci tangan pakai sabun, padahal jika ingin

mengetahi perilaku seseorang peneliti bisa mengobservasi tindakan tersebut dalam

waktu beberapa hari, sehingga penelitian ini bisa melibatkan orang banyak

sebagai observer.

3.7 Etika Penelitian

Dalam melaksanakan penelitian khususnya jika yang menjadi subjeknya adalah

manusia, maka peneliti harus memahami hak dasar manusia. Manusia memiliki

kebebasan dalam menentukan dirinya sendiri, sehingga benar-benar dilaksanakan

untuk menjunjung tinggi kebebasan manusia. Menurut Hidayat (2007) masalah

etika yang harus diperhatikan antara lain :

a. Informed Consent

Bentuk persetujuan antara peneliti dengan responden penelitian dengan

memberikan lembar persetujuan. Informed consent diberikan sebelum

penelitian dilakukan, tujuannya agar subjek mengerti maksud dan tujuan

penelitian serta mengetahui dampak dari penelitian tersebut.


41

b. Anonimity (Tanpa nama)

Dalam penggunaan subjek penelitian menggunakan cara tidak mencantumkan

nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada

lembar pengumpul data atau hasil penelitian yang akan disajikan.

c. Confidentiality (Kerahasiaan)

Memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun

masalah-masalah lainnya.
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Setelah dilakukan penelitian mengenai gambaran pelaksanaan tindakan cuci

tangan pakai sabun pada murid-murid kelas 3, 4 dan 5 yang dilakukan pada

tanggal 2 Mei 2016 sampai dengan 10 Mei 2016 terhadap responden diperoleh

hasil sebagai berikut.

Hasil penelitian pelaksanaan tindakan cuci tangan pakai sabun dikategorikan

menjadi sesuai dan tidak sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang

ada. Adapun distribusi frekuensinya dapat dilihat pada tabel 3 berikut ini :

TABEL 4

Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Tindakan Cuci Tangan Pakai Sabun Pada


Murid-murid di SD Negeri Garuda 1 Kota Bandung Tahun 2016

Sesuai Tidak Sesuai


Kelas
Frekuensi (F) Prosentase (%) Frekuensi (F) Prosentase (%)
3 6 13,3 % 39 86,7 %
4 20 40,8 % 29 59,2 %
5 10 21,3 % 37 78,7 %
Total 36 25,5 % 105 74,5 %

42
43

Berdasarkan tabel 4 dapat dilihat bahwa hampir sebagian besar pelaksanaan

tindakan cuci tangan pakai sabun pada murid-murid di SD Negeri Garuda 1 tahun

2016 tidak sesuai dengan SOP yaitu sebanyak 105 orang (74,5%).

4.2 Pembahasan

Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Kemenkes (2014) cuci tangan pakai

sabun adalah suatu tindakan membersihkan seluruh bagian jari-jari tangan dengan

menggunakan air bersih yang mengalir dan sabun. Hasil penelitian terhadap 141

murid kelas 3, 4, dan 5 menunjukkan bahwa hampir seluruhnya yaitu 105 murid

(74,5%) dalam pelaksanaan tindakan cuci tangan pakai sabun tidak sesuai dengan

SOP enam langkah cuci tangan pakai sabun.

Seperti yang diungkapkan dalam teori Havighurst dalam Kozier et al., (2010)

bahwa tahapan usia sekolah (6-12 tahun) identik dengan belajar membentuk

perilaku. Salah satu contoh perilaku yang terbentuk yaitu mulai belajar

membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai mahluk sosial,

hakikat tugas ini antara lain; mengembangkan kebiasaan untuk memelihara

anggota badan, meliputi kebersihan, keselematan diri dan kesehatan.

Green (1980) dalam Ali (2010) menyebutkan bahwa perilaku dipengaruhi oleh

tiga faktor, yaitu faktor predisposisi mencakup pengetahuan; pengalaman murid-

murid dalam melakukan tindakan enam langkah cuci tangan pakai sabun,

kepercayaan dan nilai-nilai. Faktor yang kedua yaitu faktor pemungkin yaitu;
44

sarana prasarana meliputi tempat untuk mencuci tangan dan pemahaman konsep

tentang mencuci tangan pakai sabun, serta faktor yang terakhir yaitu faktor

penguat seperti guru-guru di sekolah, maupun dukungan keluarga di rumah. Teori

ini tampaknya sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan pada murid-murid

SDN Garuda 1,bahwa sesuai atau tidak sesuainya suatu perilaku dipengaruhi oleh

tiga faktor tadi.

Murid-murid yang melakukan tindakan cuci tangan pakai sabun tidak sesuai

dengan SOP masih bisa memotivasi dirinya sendiri untuk belajar memahami

konsep teori dan diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari tentunya dengan

dukungan dari guru-guru maupun sarana dan prasarana yang ada di sekolah.

Selain ketiga faktor di atas, menurut Allen dan Marotz (2010) hal yang mendasari

anak usia sekolah melakukan tindakan cuci tangan pakai sabun tidak sesuai SOP

yaitu tugas rutinitas sehari-hari yang termasuk ke dalam perkembangan anak.

Hasil penelitian pada murid kelas 3 didapatkan bahwa, hampir sebagian besar

(86.7%) melakukan tindakan cuci tangan pakai sabun tidak sesuai dengan SOP.

Usia murid-murid kelas 3 SDN Garuda 1 seluruhnya berusia sembilan tahun.

Menurut Allen dan Marotz (2010) untuk usia sembilan tahun tidak begitu tertarik

pada kebersihan pribadi sehingga perlu diingatkan untuk mandi, keramas dan

mencuci tangan.

Alasan lain yang mendukung tidak sesuainya tindakan cuci tangan pakai sabun

dengan SOP yaitu kurangnya pengawasan dari guru-guru, meskipun setelah

selesai pelajaran olahraga diadakan kebiasaan mencuci tangan bersama tetapi


45

tidak dilakukan pemantauan langsung oleh guru bersangkutan, sehingga murid-

murid bisa saja tidak mencuci tangan dengan benar.

Pada murid kelas 4 didapatkan bahwa hampir sebagian besar (59,2%)

melakukan tindakan cuci tangan pakai sabun tidak sesuai dengan SOP. Murid-

murid kelas 4 ini berusia sepuluh dan sebelas tahun. Sesuai dengan rutinitas

sehari-hari dalam tugas perkembangan sesuai usia, bahwa anak usia sepuluh dan

sebelas tahun masih membutuhkan perhatian untuk menjaga kebersihan dirinya,

terkadang mungkin masih perlu diingatkan untuk mencuci tangan.

Hampir sebagian besar (78.7%) murid-murid kelas 5 melakukan tindakan cuci

tangan pakai sabun tidak sesuai dengan SOP. Murid-murid kelas 5 berada dalam

rentang usia sebelas hingga dua belas tahun. Dilihat dari tugas rutinitasnya sehari-

hari, anak usia sebelas dan dua belas tahun mulai hampir memenuhi semua

kebutuhan pribadinya tanpa bantuan orang dewasa, salah satunya menjaga

anggota badannya selalu bersih dengan kemauan sendiri.

Melihat jumlah murid kelas 5 yang masih banyak melakukan tindakan tidak

sesuai SOP, padahal sesuai dengan tugas perkembangan usia, anak usia sebelas

dan dua belas tahun sudah bisa menjaga anggota badannya untuk tetap bersih

salah satunya mencuci tangan dengan benar. Maka tidak hanya ketiga faktor

tersebut (predisposisi,pemungkin dan penguat) yang menjadi alasan untuk

mendukung tidak sesuainya tindakan dengan SOP, tetapi bisa saja ada faktor yang

lebih penting untuk mempengaruhi perilaku seseorang.


46

Rogers (1974) dalam Notoatmodjo mengungkapkan bahwa sebelum seseorang

mengadopsi perilaku baru, dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan.

Murid-murid kelas 5 seharusnya sudah berada dalam proses adoption, dimana

anak sudah berperilaku sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikap

berdasarkan stimulus yang dia dapat.

Stimulus yang didapatkan oleh anak usia sekolah tidak hanya dalam bentuk

pengetahuan, tetapi ada faktor yang lain yang mempengaruhi perilaku seseorang

yaitu adanya seorang role model, yang tak lain adalah guru-guru dan kader

kesehatan sekolah yang telah mendapatkan pelatihan dari Puskesmas. Guru dan

kader kesehatan sekolah bisa memberikan contoh dalam bentuk menerapkan

pentingnya membiasakan enam langkah cuci tangan pakai sabun dalam kehidupan

sehari-hari di sekolah, sehingga murid-murid bisa mengadopsi perilaku yang

dicontohkan oleh guru dan temannya.

Proses adopsi ini berlaku tidak hanya pada anak usia sebelas hingga dua belas

tahun tetapi bisa mulai diterapkan pada anak ketika memasuki usia sekolah. Untuk

mewujudkan sikap menjadi suatu perilaku, diperlukan dukungan dari ketiga faktor

tersebut dan contoh yang nyata dari guru-guru di sekolah

Dari enam langkah cuci tangan pakai sabun yang dilakukan oleh murid kelas 3,

4 , dan 5, ada tiga tindakan yang sebagian besar terlewat bahkan tidak dilakukan

oleh murid-murid, yaitu; menggosok sela-sela jari, gerakan mengunci dan

menggosok ibu jari. Padahal pada bagian jari-jari tangan tersebut memiliki jumlah

kuman yang banyak, seperti ibu jari sampai jari-jari yang lain memiliki jumlah
47

kuman mencapai 50.000 hinga 900 juta kuman. Telah disebutkan dalam M.Klatz

dan Goldman (2002) hasil riset menunjukkan dengan jelas bahwa mencuci tangan

dengan menggunakan sabun dapat mencegah beberapa penyakit seperti; flu batuk,

jamur, alergi, asma, pneumonia bahkan cacingan.

Tugas rutinitas sehari-hari anak delapan hingga dua belas tahun yang masih

perlu diingatkan dan diperhatikan dalam hal menjaga kebersihan diri, salah

satunya mencuci tangan pakai sabun sebaiknya didukung oleh ketiga faktor

tersebut yaitu pengetahuan anak tentang cuci tangan pakai sabun, sarana dan

prasarana di sekolah berupa fasilitas untuk mencuci tangan seperti wastafle atau

keran air, poster enam langkah cuci tangan pakai sabun serta pemantauan bahkan

contoh yang nyata dari guru-guru di sekolah untuk membiasakan enam langkah

cuci tangan pakai sabun. Dengan dukungan faktor-faktor tersebut terhadap tugas

rutinitas sehari-hari anak sekolah, akan didapatkan hasil berupa suatu perilaku

atau kebiasaan, salah satunya mencuci tangan pakai sabun.

Sebagian kecil murid-murid SDN Garuda 1 dalam melakukan tindakan cuci

tangan pakai sabun yang sesuai dengan SOP sebanyak 35 murid (24.87%). Faktor

yang mendukung sesuainya tindakan dengan SOP yaitu pengetahuan, pengalaman

dan pemahaman konsep murid itu sendiri tentang cuci tangan pakai sabun,

meskipun untuk faktor pendukung dan pendorong sama halnya dengan murid

yang melakukan tindakan cuci tangan pakai sabun tidak sesuai dengan SOP.

Dalam Notoatmodjo (2014) disebutkan bahwa seseorang berperilaku sesuai

dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.


48

Allen dan Marotz (2010) mengatakan khususnya rutinitas sehari-hari usia anak

delapan samapai dua belas tahun, masih perlu dingatkan dalam hal mencuci

tangan, tetapi jika pemahaman dan kesadaran anak tersebut baik maka perilaku

mencuci tangan pakai sabun dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini

lah yang menyebabkan 35 murid tersebut dapat melakukan tindakan cuci tangan

pakai sabun sesuai dengan SOP yang diajarkan oleh guru UKS maupun

penyuluhan kesehatan yang diberikan oleh Puskesmas yang membina SDN

Garuda 1.

Anak usia sekolah memiliki sikap mau belajar yang tinggi. Murid-murid SDN

Garuda 1 yang usianya antara delapan hingga sebelas tahun sedang

menyempurnakan keterampilan dasarnya, beberapa di antaranya sudah cukup baik

jika dibandingkan dengan tahapan sebelum usia sekolah. Kemampuan kognitif

tingkat tinggi pada usia anak sekolah terus muncul, sehingga dapat memampukan

anak untuk berpikir abstrak, mengerti sebuah konsep pembelajaran, hingga

menjalankan instruksi atau tahapan yang mendetail.

Tahap perkembangan anak usia sekolah tidak lepas dari suatu kelompok

pertemanan. Salah satu kegiatan kelompok sekolah yang ada di SDN Garuda 1

yaitu UKS dengan membentuk kader kesehatan sekolah yaitu murid-murid yang

mengikuti pelatihan dokter kecil. Salah satu tugas dan kewajiban kader kesehatan

sekolah yaitu dapat menggerakan sesama teman untuk bersama-sama menjalankan

usaha kesehatan terhadap dirinya masing-masing.


49

Kader kesehatan sekolah yang ada di SDN Garuda 1 bisa mengingatkan dan

memantau temannya untuk selalu melakukan kebiasaan mencuci tangan pakai

sabun dalam kegiatan sehari-hari, contohnya mencuci tangan sebelum dan

sesudah makan, setelah dari toilet, dan setelah melakukan aktivitas. Dengan tugas

kader kesehatan sekolah tadi, maka dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan

peilaku hidup bersih dan sehat. Murid-murid yang lain pun menjadi ikut tergerak

dan terbiasa berperilaku hidup dan sehat.

Kegiatan kelompok bersama teman sekolah dinilai efektif untuk membiasakan

suatu perilaku sehat, tetapi dukungan keluarga juga dirasa cukup penting, orang

tua juga bisa lebih peduli terhadap anaknya dalam hal kebersihan dengan selalu

mengingatkan anak untuk mencuci tangan dan menerapkan kebiasaan mencuci

tangan pakai sabun di rumah. Mengingat jika tiga faktor yang mempengaruhi

perilaku bisa saling mendukung maka murid-murid SDN Garuda 1 bisa

menerapkan kebiasaan mencuci tangan pakai sabun di sekolah ataupun di rumah.


BAB V

SIMPULAN DAN REKOMENDASI

5.1 Simpulan

Hasil penelitian mengenai “Gambaran Pelaksanaan Tindakan Cuci Tangan

Pakai Sabun Pada Murid-murid di SD Negeri Garuda 1 Kota Bandung Tahun

2016” dapat disimpulkan bahwa :

Sebagian besar murid-murid SD Negeri Garuda 1 yaitu sebanyak 105 murid

(74,5%) melakukan tindakan cuci tangan pakai sabun tidak sesuai dengan Standar

Operasional Prosedur (SOP).

5.2 Rekomendasi

a. Guru-guru SD Negeri Garuda 1

Masih adanya murid-murid yang melakukan tindakan cuci tangan pakai

sabun tidak sesuai dengan SOP, disarankan kepada guru-guru khususnya

guru UKS meningkatkan keterampilan murid-murid untuk melakukan

tindakan cuci tangan pakai sabun sesuai SOP dengan cara :

1) Guru menjadi role model bagi murid-muridnya dengan cara memberi

contoh dalam menerapkan kebiasaan enam langkah cuci tangan pakai

sabun selama di sekolah.

50
51

2) Menyediakan poster cuci tangan pakai sabun yang menarik, sehingga

murid-murid bisa tahu manfaat mencuci tangan pakai sabun bahkan

bahaya jika tidak mencuci tangan.

3) Melakukan pemantauan secara langsung kepada murid-murid saat

melakukan tindakan cuci tangan pakai sabun bersama.

b. Puskesmas Binaan

1) Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh puskesmas binaan wilayah

setempat sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan perilaku sehat

khususnya mencuci tangan pakai sabun pada murid-murid sekolah

dasar.

2) Diadakan pelatihan khusus atau penyuluhan kepada kader kesehatan

sekolah yang baru tentang pentingnya enam langkah cuci tangan pakai

sabun sesuai SOP.

3) Memberikan penyuluhan pentingnya mencuci tangan sesuai SOP saat

melakukan kunjungan atau supervisi ke sekolah-sekolah.


DAFTAR PUSTAKA

Ali, Zaidin. (2010). Dasar-dasar Pendidikan Kesehatan Masyarakat dan Promosi


Kesehatan. Jakarta : Trans Info Media
Allen K. Eileen. & Marrotz, Lynn R. Alih bahasa oleh Valentino (2010). Profil
Perkembangan Anak Prakelahiram Hingga Usia 12 Tahun. Edisi Kelima .
Jakarta: PT. Indeks.

Arikunto,S. (2006). Prosedur Pendekatan Suatu Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.

_________ (2010). Prosedur Pendekatan Suatu Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.

Badan Pusat Statistik. (2016). Indeks Pembangunan Manusia (IPM).


www.bps.go.id. Diakses pada tanggal 16 Maret 2016.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI.


(2013). Penyajian Pokok-Pokok Hasil Riset Kesehatan Dasar 2013.
www.depkes.go.id. Diunduh pada tanggal 25 November 2015.

Departemen Kesehatan. (2008). Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi


di Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lainnya. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.

Desiyanto, Fajar Ardi & Djannah, Sitti Nur. (2013). Efektivitas Mencuci Tangan
Menggunakan Cairan Pembersih Tangan Antiseptik (Hand Sanitizer)
Terhadap Jumlah Angka Kuman. Vol 7 (2). 78-79.

Dinas Kesehatan Kota Bandung. (2015). 6 Langkah Cuci Tangan Pakai Sabun.
Bandung: Seksi Promosi Kesehatan Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas
Kesehatan Koa Bandung.

Hidayat, A Aziz Alimul. (2007). Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik


Analisis Data. Jakarta : Salemba Medika.

Humas Pemerintah Provinsi Jawa Barat. (2015). 1000 Pelajar Ikuti Kampanye
Cuci Tangan Pakai Sabun. www.jabarprov.go.id. Diunduh pada tanggal
16 Maret 2016.

Infodatin. (2014). Perilaku Mencuci Tangan Pakai Sabun di Indonesia. Jakarta :


Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI.
52
53

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Pedoman Pembinaan


Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Jakarta: Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia.

_______________________________________. (2012). Buku Panduan Hari


Kesehatan Nasional Ke-48 Tahun 2012. Jakarta : Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia.

Klatz, Ronald M. & Goldman, Robert M. (2002). Infection Protection. New York:
Harper Collins Publishers Inc.

Kozier, et al. Alih bahasa oleh Karyuni,dkk (2010). Buku Ajar Fundamental
Keperawatan: Konsep, Proses, dan Praktik. Jakarta: EGC.

LN Syamsu Yusuf. (2011). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung:


PT. Remaja Rosdakarya.

Maryunani, Anik. (2013). Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Jakarta :
Trans Info Media.

Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu


Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.

Nuryanti, Lisna (2012). Korelasi Perilaku Hand Hygiene Dengan Kejadian Diare
Pada Anak Usia Sekolah Di SDIT Salsabila Bekasi Timur 2012. Vol.1 (2).
152-154.

Notoatmodjo. (2012). Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta :


Rineka Cipta.

__________. (2014). Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta

Sarwono, Jonathan. 2011. Mixed Methods: Cara Menggabung Riset Kuantitatif


dan Riset Kualitatif Secara Benar. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Sastroasmoro, S. & Ismael, S. (2011). Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis.


Edisi Kelima, Jakarta: Sagung Seto.

Sibagariang, Eva Ellya,dkk, (2010). Metodologi Penelitian Untuk Mahasiswa


Diploma Kesehatan. Jakarta : Trans Info Media.

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:


CV. Alfabeta.
54

Tietjen, Linda., Bossemeyer D. & McIntosh, N. Alih bahasa oleh Saifuddin,dkk.


(2010). Panduan Pencegahan Infeksi Untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Dengan Sumber Daya Terbatas. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.

World Health Organization. (2014). Guideline On Hand Hygiene In Health Care


In The Context Of Filovirus Disease Outbreak Response. www.who.int.
Diunduh pada tanggal 16 Desember 2015.
Lampiran 1

LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Kepada Yth.
Adik-adik Murid SDN Garuda 1
Di
Tempat

Saya Medina Hutami mahasiswa tingkat III Politeknik Kesehatan Kementerian


Kesehatan Bandung akan melakukan penelitian mengenai “Gambaran
Pelaksanaan Tindakan Cuci Tangan Pakai Sabun di SD Negeri Garuda 1”.
Penelitian ini merupakan persyaratan tugas akhir mahasiswa DIII Program Studi
Keperawatan Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Bandung. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui tindakan cuci tangan pada murid-murid di
SD Negeri Garuda 1, tindakan cuci tangan yang adik-adik lakukan akan sangat
bermanfaat terhadap perbaikan kualitas kesehatan di sekolah. Oleh karena itu saya
memohon partisipasi adik-adik untuk melakukan tindakan cuci tangan dengan
benar dan apa adanya. Demikian, atas kesediaan adik-adik menjadi responden,
saya ucapkan terimakasih. Semoga adik-adik selalu diberikan kesehatan, Aamiin.

Bandung, Mei 2016

Hormat saya

(Medina Hutami)
Lampiran 2

Persetujuan Setelah Penjelasan

(informed consent)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama :

Usia :

Setelah memperoleh penjelasan sepenuhnya menyadari memahami tentang tujuan,


manfaat, dan resiko yang mungkin timbul, penelitian “Gambaran Pelaksanaan
Tindakan Cuci Tangan Pakai Sabun di SD Negeri Garuda 1”, untuk itu saya
menyatakan bersedia berperan serta dalam penelitian ini, saya akan melakukan
tindakan cuci tangan pakai sabun yang benar tanpa adanya unsur paksaan dari pihak
manapun dan tidak akan melakukan tuntutan apapun di kemudian hari yang
berkenaan dengan ini.

Demikian pernyataan ini saya buat untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

Bandung, Mei 2016

Yang membuat pernyataan

(……………………….)
Lampiran 3

LEMBAR CEKLIS CUCI TANGAN PAKAI SABUN

A. Karakteristik Responden

1. Nama :

2. Alamat :

3. Umur : (Tulis juga umur sebenarnya)

a. 8 tahun c. 11-12 tahun

b. 9-10 tahun

4. Kelas :

a. 3

b. 4

c. 5
Lampiran 3

B. Lembar Ceklis

NO. Langkah Cuci Tangan Pakai Sabun YA TIDAK

1 Basahi kedua telapak tangan memakai air

mengalir, ambil sabun secukupnya. Gosok

kedua telapak tangan yang telah diberi

sabun secara merata

2 Gosok sela-sela jari kedua tangan dengan

cara meletakkan telapak tangan kanan di

atas punggung tangan kiri dan sebaliknya

3 Gosok kedua telapak dengan jari-jari

terkait, posisi telapak tangan kanan dan

kiri saling menempel

4 Letakan punggung jari kanan pada telapak

tangan kiri, posisi mengunci dan

sebaliknya

5 Gosok ibu jari secara berputar dalam

genggaman tangan kanan dan sebaliknya

6 Gosokkan kuku jari kanan memutar ke

telapak tangan kanan dan lakukan

sebaliknya
Lampiran 4

HASIL ANALISA ENAM LANGKAH CUCI TANGAN PAKAI SABUN

Usia Kelas 3

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

Valid 9 45 100.0 100.0 100.0

Usia Kelas 4

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

10 45 91.8 91.8 91.8


11 2 4.1 4.1 95.9

Valid 12 1 2.0 2.0 98.0

9 1 2.0 2.0 100.0

Total 49 100.0 100.0

Usia Kelas 5

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

Valid 11 47 100.0 100.0 100.0


Lampiran 4

KELAS * Kesimpulan Crosstabulation


Count

Kesimpulan Total

TIDAK SESUAI SESUAI

3 39 6 45
KELAS 4 29 20 49

5 37 10 47
Total 105 36 141

KELAS * Tlpk Crosstabulation


Count

Tlpk Total

YA
3 45 45

KELAS 4 49 49

5 47 47
Total 141 141

KELAS * Punggung Crosstabulation


Count

Punggung Total
TIDAK YA

3 4 41 45

KELAS 4 4 45 49

5 14 33 47
Total 22 119 141
Lampiran 4

KELAS * Sela Crosstabulation


Count

Sela Total
TIDAK YA

3 22 23 45

KELAS 4 12 37 49

5 15 32 47
Total 49 92 141

KELAS * Kunci Crosstabulation


Count
Kunci Total

TIDAK YA

3 22 23 45
KELAS 4 20 29 49

5 24 23 47
Total 66 75 141

KELAS * Jempol Crosstabulation


Count

Jempol Total

TIDAK YA

3 24 21 45

KELAS 4 14 35 49

5 15 32 47
Total 53 88 141
Lampiran 4

KELAS * Kuku Crosstabulation


Count

Kuku Total
TIDAK YA

3 13 32 45

KELAS 4 9 40 49

5 7 40 47
Total 29 112 141
Lampiran 4

KELAS 3

Tlpk

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

Valid YA 45 100.0 100.0 100.0

Pnggung

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent
TIDAK 4 8.9 8.9 8.9
Valid YA 41 91.1 91.1 100.0

Total 45 100.0 100.0

Sela

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent
TIDAK 22 48.9 48.9 48.9

Valid YA 23 51.1 51.1 100.0


Total 45 100.0 100.0

Kunci

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

TIDAK 22 48.9 48.9 48.9

Valid YA 23 51.1 51.1 100.0

Total 45 100.0 100.0


Lampiran 4

Jempol

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent
TIDAK 24 53.3 53.3 53.3

Valid YA 21 46.7 46.7 100.0

Total 45 100.0 100.0

Kuku

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

TIDAK 13 28.9 28.9 28.9

Valid YA 32 71.1 71.1 100.0


Total 45 100.0 100.0

Kesimpulan

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

Tidak Sesuai 39 86.7 86.7 86.7


Valid Sesuai 6 13.3 13.3 100.0

Total 45 100.0 100.0


Lampiran 4

KELAS 4

Tlpk

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

Valid YA 49 100.0 100.0 100.0

Pnggung

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent
TIDAK 4 8.2 8.2 8.2
Valid YA 45 91.8 91.8 100.0

Total 49 100.0 100.0

Sela

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent
TIDAK 12 24.5 24.5 24.5

Valid YA 37 75.5 75.5 100.0


Total 49 100.0 100.0

Kunci

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

TIDAK 20 40.8 40.8 40.8

Valid YA 29 59.2 59.2 100.0

Total 49 100.0 100.0


Lampiran 4

Jempol

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent
TIDAK 14 28.6 28.6 28.6

Valid YA 35 71.4 71.4 100.0

Total 49 100.0 100.0

Kuku

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

TIDAK 9 18.4 18.4 18.4

Valid YA 40 81.6 81.6 100.0


Total 49 100.0 100.0

Kesimpulan

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

Tidak Sesuai 29 59.2 59.2 59.2


Valid Sesuai 20 40.8 40.8 100.0

Total 49 100.0 100.0


Lampiran 4

KELAS 5

Tlpk

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

Valid YA 47 100.0 100.0 100.0

Pnggung

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent
TIDAK 14 29.8 29.8 29.8
Valid YA 33 70.2 70.2 100.0

Total 47 100.0 100.0

Sela

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent
TIDAK 15 31.9 31.9 31.9

Valid YA 32 68.1 68.1 100.0


Total 47 100.0 100.0

Kunci

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

TIDAK 24 51.1 51.1 51.1

Valid YA 23 48.9 48.9 100.0

Total 47 100.0 100.0


Lampiran 4

Jempol

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

TIDAK 15 31.9 31.9 31.9


Valid YA 32 68.1 68.1 100.0

Total 47 100.0 100.0

Kuku

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent
TIDAK 7 14.9 14.9 14.9

Valid YA 40 85.1 85.1 100.0

Total 47 100.0 100.0

Kesimpulan

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

Tidak Sesuai 37 78.7 78.7 78.7

Valid Sesuai 10 21.3 21.3 100.0


Total 47 100.0 100.0
Lampiran 5
Lampiran 5
Lampiran 5
Lampiran 5
Lampiran 5
Lampiran 5
Lampiran 5
Lampiran 6
Lampiran 6
Lampiran 6
Lampiran 6
Lampiran 7
Lampiran 7
RIWAYAT HIDUP

Nama : Medina Hutami


Tempat Tanggal Lahir: Bandung, 12 Desember 1995
Agama : Islam
Alamat : Leuwi Bandung, RT 06/03 No.29
Ds.Citeureup Kec.Dayeuhkolot
Kab. Bandung 40257

PENDIDIKAN
SEKOLAH TAHUN
TK YPBS Baitul Ikhlas 2000-2001
SD Negeri Leuwi Bandung 1 2001-2007
SMP Negeri 1 Baleendah 2007-2010
SMA Sandhy Putra Telkom 2010-2013
Poltekkes Kemenkes Bandung
2013-2016
Jurusan D-III Keperawatan