Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN KASUS KELOMPOK

DIARE CAIR AKUT PADA ANAK

Pembimbing: dr. Sedyo Wahyudi, Sp.A

Disusun oleh:
Budi Hartono (112017029)
Theonoegroho J (112017014)
Frederica (112017112)
Florence (112017103)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


RUMAH SAKIT PANTI WILASA “DR. CIPTO”
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
PERIODE 16 JULI – 22 SEPTEMBER 2018
KEPANITERAAN KLINIK
STATUS ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA

Hari / Tanggal Presentasi Kasus : Agustus 2018


SMF ANAK
RUMAH SAKIT : Panti Wilasa Dr. Cipto Semarang

Nama : Tanda Tangan


NIM :
……………………
Dr. Pembimbing / Penguji : dr. Sedyo Wahyudi,Sp.A
.…………………...

IDENTITAS PASIEN
PASIEN
Nama Lengkap : An. M.R Suku Bangsa : Jawa
Tempat, Tanggal : Semarang,16 September 2016 Agama : Islam
Lahir (Umur) (1 Tahun, 10 Bulan) Pendidikan : Tidak ada
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Jl. Rusun blok AIV

ORANG TUA/WALI

AYAH
Nama Lengkap : Tn. MS Agama : Islam
Tanggal Lahir (umur) : Semarang,25 Jan 1969(49 th) Pendidikan : SMA
Suku Bangsa : Jawa Pekerjaan : Pedagang
Alamat : Jl. Rusun blok AIV Penghasilan : Tidak menentu

IBU
Nama Lengkap : Ny. Y Agama : Islam
Tanggal Lahir (umur) : Semarang,5 Juli 1977(41 th) Pendidikan : SMA
Suku Bangsa : Jawa Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Jl. Rusun blok AIV Penghasilan : Tidak ada

Hubungan dengan orang tua: Anak kandung


I. ANAMNESIS
Diambil dari alloanamnesis ibu pasien pada hari Rabu tanggal 25 Juli 2018 pukul
11.00 WIB di Ruang Gamma RS Panti Wilasa Dr. Cipto Semarang. Pasien datang ke IGD RS
PWDC 24 Juli 2018 pukul 20.00
Keluhan Utama: Diare sejak 1 hari SMRS
Keluhan Tambahan: Kejang, demam, mual muntah
Riwayat Perjalan Penyakit:
1 hari SMRS, orang tua pasien mengatakan pasien mencret 10 kali sehari dengan
konsistensi cair. Tidak ada darah lendir pada diare pasien dan tidak ada BAB seperti air
cucian beras. Pasien mengalami nyeri perut dan mual muntah berisi cairan dan makanan
sebanyak 4 kali pukul 08.00, 10.00 dan 15.00 serta 18.00. Pasien tidak dapat menggambarkan
karakter nyeri perut yang dialaminya. Pasien mual muntah setiap sehabis makan. Pasien
demam sejak sore hari, demam dirasakan semakin lama semakin tinggi dan keluarga pasien
tidak mengukur suhu pasien dan tidak memberikan obat penurun panas. Pasien lemas,
kehilangan nafsu makan, buang air kecil pasien masih dalam batas normal. Pasien tidak
menggigil, tidak ada keringat malam, tidak ada, dan tidak ada ruam pada tubuh pasien.

30 menit SMRS, pasien tiba tiba kejang dengan mata mendelik, tangan dan kaki kaku.
Kejadian kejang berlangsung kurang dari 5 menit setelah itu anak mengantuk namun sadar.
Pasien nampak semakin lemas dan mengantuk terus, pasien tidak aktif dan sulit makan.
Pasien tidak ada riwayat kejang sebelumnya, namun ibu pasien mengatakan ibu pasien ada
riwayat kejang saat masih kecil. Pasien tidak ada batuk pilek, sesak nafas, pusing. Tidak ada
anggota keluarga atau tetangga pasien yang mengalami keluhan yang sama.

Saat dirawat di Ruang Gamma, pasien mengalami muntah 2 kali pagi hari muntah
hanya berisi air. Orang tua pasien mengatakan demam sudah membaik. Diare masih dialami
pasien, pasien masih lemas namun sudah lebih membaik dibandingkan sebelumnya. namun
nafsu makan masih kurang dan pasien masih lemas, BAK tidak ada keluhan. Setelah kejang
30 menit sebelum masuk IGD, tidak ada kejang hingga saat pasien diperiksa di ruang
Gamma.

Riwayat Kehamilan dan Kelahiran


Kehamilan : Perawatan antenatal : Rutin sebanyak 4 kali di puskesmas
Penyakit kehamilan : Tidak ada
Kelahiran : Tempat kelahiran : Rumah Bersalin
Penolong persalinan : Bidan
Cara persalinan : Spontan pervaginam, tanpa penyulit atau
kelainan
Masa gestasi : Kurang Bulan, 35 minggu
Keadaan bayi : BB Lahir: 2800 gram
PB Lahir: orangtua pasien tidak ingat
Lingkar Kepala: orangtua pasien tidak ingat
Langsung menangis : Ya
Pucat / Biru / Kuning / Kejang: tidak ada
Nilai APGAR: tidak diketahui
Kelainan bawaan: tidak ada

Kesimpulan: Neonatus Kurang Bulan, Sesuai Masa Kehamilan (NKB-SMK)

Riwayat Perkembangan

Pertumbuhan gigi pertama : ± 8 bulan (normal 5-9 bulan)


Psikomotor : Tengkurap : ± 6 bulan (normal 4-6 bulan)
Duduk : ± 6 bulan (normal 6 bulan)
Merangkak : ± 9 bulan (normal 7-10 bulan)
Berdiri : ± 12 bulan (normal 9-12 bulan)
Menyebut ”mama” : ± 11 bulan (normal 10-12 bulan)
Kesan : tidak ada gangguan pada tumbuh kembang anak

Riwayat Imunisasi
VAKSIN DASAR (UMUR) ULANGAN (UMUR)
BCG - Pertama (1)
DPT/DT - Pertama(2) Kedua (4) Ketiga (6)
Polio - Pertama(2) Kedua (4) Ketiga (6)
Campak - Pertama (9)
Hepatitis B Lahir (1) Kedua(1) Ketiga(6)

Kesimpulan: Imunisasi lengkap hingga 9 bulan.

Riwayat Nutrisi
Makanan utama : Nasi, ASI (sejak lahir hingga 6 bulan) dan makanan tambahan
Makanan tambahan : dimulai dari usia 4 bulan makan pisang, 6 bulan bubur bayi
Jumlah/hari : 1 porsi (sekarang nasi)
Frekuensi/hari : Nasi 3-4 kali/hari
Variasi makanan : Baik, sayur, lauk dan buah.
Nafsu makan : Menurun

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien belum pernah mengalami diare maupun kejang sebelumnya. Ibu pasien
mengatakan dahulu ibu pasien pernah mengalami kejang saat kecil. Pasien belum pernah
dirawat di rumah sakit sebelumnya.
(-) Sepsis (-) Meningoencephalitis (-) Kejang Demam
(-) Tuberkulosis (-) Pneumonia (-) Alergi lainnya
(-) Asma (-) Rhinitis Alergi (-) Gastritis
(-) Diare akut (-) Diare Kronis (-) Amoebiasis
(-) Disentri (-) Kolera (-) Difteri
(-) Tifus abdominalis (-) Demam berdarah (-) Polio
(-) Cacar air (-) Campak (-)Penyakit Jantung Bawaan
(-) Batuk Rejan (-) Tetanus (-) ISK
(-) Demam Rematik Akut (-) Penyakit Jantung Rematik (-) Kecelakaan
(-) Glomerulonephritis (-) Sindroma Nefrotik (-) Lain-lain

Riwayat Penyakit Keluarga


Penyakit Ya Tidak Hubungan
Alergi - + -
Asma - + -
Tuberkulosis - + -
Hipertensi - + -
Diabetes - + -
Kejang Demam + - Ibu kandung
Epilepsi - + -
Kesimpulan: Ada riwayat penyakit kejang demam pada keluarga yaitu Ibu kandung pasien.
Pohon Keluarga

Keterangan
:
= Laki-laki

= Perempuan

= Pasien

= Ibu Pasien

Riwayat Sosial
Dikeluarganya maupun lingkungan sekitar tidak ada yang mengalami hal yang serupa.
OS biasanya makan sehari 3-4 kali dengan nasi lauk dan sayur, terkadang di selingi dengan
buah. Pasien tinggal bersama dengan orangtuanya di perumahan dengan lingkungan yang
bersih. Sinar matahari dapat masuk ke dalam rumah, ventilasi rumah baik. Sumber air minum
keluarga pasien berasal dari air sumur. Satu rumah pasien terdapat 10 orang, cukup padat. Di
sekitar tempat tinggal, banyak anak seusianya bermain bersama. Pasien aktif sehari-hari dan
tidurnya cukup. Pasien selalu makan dengan teratur dan pola makan yang baik diatur oleh
ibunya. Di rumah pasien, tidak ada yang sedang batuk pilek. Kamar pasien maupun
lingkungan rumah cukup bersih, tidak ada polusi atau debu yang berlebih. Namun kebiasaan
mencuci tangan sebelum makan belum diterapkan kepada pasien dan keluarga pasien.

FOLLOW UP

(27-07-2018)
S : Kemaren muntah 3x isi makanan, Kemaren mencret 2x, hari ini 1x ampas (-), darah (-),
lendir (+), batuk (+) jarang, pilek (-), sesak (-)
O. HR: 158x/menit, RR: 26x/menit, Suhu 36,6ºC, wh -/-, rh -/-, bunyi nafas Vesikuler
BU (+) hiperperistaltik, NTP (-), Akral hangat, CTR <2detik.
A. Diare Akut
P. Inj. Ceftriaxone 1x800mg
RL 12 tpm
(28-07-2018)
S : Muntah 2x isi cairan, mencret (+) 2x warna kuning, ampas (-), lendir (+), batuk jarang,
pilek (-), sesak (-), saat masuk makanan tidak langsung muntah, nafsu makan berkurang.
O. HR 126x/menit, RR 28x/menit, Suhu 36,5ºC, SpO2 99%, wh -/-, rh -/-,
BU (+) hiperperistaltik, akral hangat, CTR , 2 detik.
A. Diare akut
P Ceftriaxone 1 x 800 mg
RL 12 tpm
- Pasien pulang hari ini
Obat pulang : Cefadroxil 3x1, Paracetamol syr 1x1 cth, ZincPro 1x1

Anamnesis sistem (Review of System)


Catat keluhan tambahan positif disamping judul- judul yang bersangkutan
Harap diisi: Bila ya (+), bila tidak (-).
Ku li t
(-) Bisul (-) Rambut (-) Keringat malam
(-) Kuku (-) Kuning/ikterus (-) Sianosis
Kepala
(-) Trauma (-) Sakit Kepala (-) Nyeri pada sinus
Mata
(-) Merah (-) Nyeri (-) Sekret
(-) Kuning/ikterus (-) Trauma (-) Ketajaman penglihatan
(-) Edema palpebra
Telinga
(-) Nyeri (-) Gangguan pendengaran (-) Sekret
Hidung
(- ) Rhinnorhea (-) Gangguan penciuman
(-) Tersumbat (-) Sekret
(-) Nyeri (-) Epistaksis
(-) Benda asing/foreign body (-) Trauma
Mulut
(-) Bibir sianosis (-) Gusi
(-) Lidah (-) Mukosa
Tenggorokan
(-) Nyeri tenggorokan (-) Perubahan suara
Leher
(-) Benjolan (-) Nyeri leher
Thorax (Jantung & Paru-paru)
(-) Sesak napas (-) Batuk
(-) Nyeri dada (-) Mengi
(-) Batuk berdarah (-) Berdebar-debar
Abdomen (Lambung/ Usus)
(+) Mual (+) Muntah
(+) Diare (-) Tinja berdarah
(+) Nyeri epigastrium (-) Nyeri kolik
(-) Benjolan (-) Konstipasi
(-) Tinja berwarna dempul
Saluran kemih / Alat kelamin
(-) Disuria (-) Hematuria (-) Enuresis (mengompol)
Saraf dan Otot
(-) Riwayat Trauma (-) Nyeri (-) Bengkak
Ekstremitas
(-) Bengkak (-) Deformitas (-) Nyeri (-) Sianosis

BERAT BADAN
Berat badan rata-rata (kg) : 10 kg
Berat badan tertinggi (kg) : 10 kg
Berat badan sekarang (kg) : 10 kg

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
CBC (25-08-2018)

Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan

Leukosit 15.100 6 rb – 17 rb/ul

Eritrosit 4,8 3,6 – 5,2 jt/ul


HB 12 10,8 – 12, 8 gr%

HT 35 35 – 47 %

MCV 73 73 – 101 fl

MCH 25 23 – 31 pg

MCHC 35 ( H ) 26 – 34 gr%

Trombosit 392 150 – 400 rb

Kimia Klinik (25-07-2018)


Kimia klinik
Hasil Rujukan
( Elektrolit )

Calsium 8,9 8,8 -10,3 mg dl

Kalium 4,25 3,1 – 5,1 mg/dl

Natrium 137,3 132,0 – 145, mmol/L

Chlorida 104,0 96,0 – 111,0 mmol/L

Magnesium 1,8 1,7 – 2,3 mg gl

Kadar gula darah Hasil Rujukan

Gula darah sewatku 122 mg/dl 80 – 144 mg/dl

III. RESUME

Seorang anak laki laki berusia 1 tahun 10 bulan, dibawa orang tuanya ke IGD RS PWDC
dengan keluhan diare dan mual muntah. Pasien diare 10 kali konsistensi cair dan muntah 4
kali berisi air dan makanan. Pasien demam tinggi 1 hari SMRS dan kejang selama kurang
dari 5 menit terjadi 30 menit SMRS. Pasien nyeri perut namun tidak tau karakteristiknya.
Pasien lemas, nafsu makan menurun. Orang tua pasien menyangkal batuk pilek, riwayat
kejang sebelumnya, riwayat makan makanan yg tidak biasa di konsumsi. Pada pemeriksaan
fisik dilakukan saat pasien dirawat di ruang gamma, didapatkan anak tampak sakit sedang,
lemas, Suhu 37,3oC, nadi 130x/menit, nafas 30x/menit dan SO2 99%, kepala, thorax,
abdomen dalam batas normal. Pemeriksaan penunjang didapatkan hasil lab leu 15.100, eri 4,8
jt/ul, Hb 12 gr%, Ht 35%, MCV 73 fl, MCH 23 pg, MCHC 35 %, trombosit 392.000, Ca 8,9
mg/dl, K 4,25 mg/dl, Na 137,3 mmol/L, Cl 104 mmol/L, Mg 1,8 mg gl, GDS 122 mg/dl.
PEMBAHASAN
Definisi
Diare adalah penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi defekasi lebih
dari biasanya (>3x perhari) disertai perubahan konsistensi tinja (menjadi cair), dengan atau
tanpa darah dan atau lendir.
Diare akut adalah buang air besar pada bayi atau anak lebih dari 3 kali perhari,
disertai perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang
berlangsung kurang dari 14 hari. Pada bayi yang minum ASI sering frekuensi buang air besar
lebih dari 3-4 kali perhari, keadaan ini tidak dapat disebut diare, tetapi masih bersifat
fisiologis atau normal. Selama berat badan bayi meningkat normal, hal tersebut tidak
tergolong diare, tetapi merupakan intoleransi laktosa sementara akibat belum sempurnanya
perkembangan saluran cerna. Untuk bayi yang minum ASI secara eksklusif definisi diare
yang praktis adalah meningkatnya frekuensi buang air besar atau konsistesinya menjadi cair
yang menurut ibunya abnormal atau tidak seperti biasanya. Kadang-kadang pada seorang
anak buang air besar kurang dari 3 kali perhari, tetapi konsistensinya cair, keadaaan ini sudah
dapat disebut diare.1

Etiologi
Pada saat ini, dengan kemajuan dibidang teknik laboratorium telah dapat
diidentifikasi tidak kurang dari 25 jenis mikroorganisme yang dapat menyebabkan diare pada
anak dan bayi. Penyebab infeksi utama timbulnya diare umumnya adalah golongan virus,
bakteri dan parasit. dua tipe dasar dari diare akut oleh karena infeksi adalah non-inflamatory
dan inflammatory.1
Enteropatogen menimbulkan non-inflamatory diare melalui produksi enterotoksin
oleh bakteri, destruksi sel permukaan villi oleh virus, perlekatan oleh parasit, perlekatan dan/
atau translokasi dari bakteri. Sebaliknya inflammatory diare biasanya disebabkan oleh bakteri
yang menginvasi usus secara langsung atau memproduksi sitotoksin.1,2

GOLONGAN BAKTERI GOLONGAN VIRUS GOLONGAN PARASIT


Aeromonas Astrovirus Balantidiom coli
Bacillus cereus Calcivirus (Norovirus, Sapovirus) Blastocystis homonis
Canpilobacter jejuni Enteric adenovirus Crytosporidium parvum
Clostridium perfringens Corona virus Entamoeba histolytica
Clostridium defficile Rotavirus Giardia lamblia
Eschercia coli Norwalk virus Isospora belli
Plesiomonas shigeloides Herpes simplek virus Strongyloides stercoralis
Salmonella Cytomegalovirus Trichuris trichiura
Shigella
Staphylococcus aureus
Vibrio cholera
Vibrio parahaemolyticus
Yersinia enterocolitica
Tabel 1. Penyebab diare akut yang dapat menyebabkan diare pada manusia3

Tabel 2. Frekuensi Enteropatogen penyebab diare pada anka usia <5 tahun

Tabel 3. Tabel Enteropatogen pathogen penyebab diare yang tersering berdasarkan umur 4
Disamping itu penyebab diare nonifeksi yang dapat menimbulkan diare pada anak antara lain:
Kesulitan makanan Neoplasma
 Neuroblastoma
 Phaeochromocytoma
 Sindroma Zollinger Ellison
Defek anatomis Lain-lain:
 Malrotasi  Infeksi non gastrointestinal
 Penyakit Hirchsprung  Alergi susu sapi
 Short Bowel Syndrome  Penyakit Crohn
 Atrofi mikrovilli  Defisiensi imun
 Stricture  Colitis ulserosa
 Ganguan motilitas usus
 Pellagra
Malabsorbsi Keracunan makanan
 Defesiensi disakaridase  Logam berat
 Malabsorbsi glukosa dan galaktosa  Mushrooms
 Cystic fibrosis
 Cholestosis
 Penyakit celiac
Endokrinopati
 Thyrotoksikosis
 Penyakit Addison
 Sindroma Androgenital
Tabel 4. Penyebab diare nonifeksi pada anak

Patofisiologi
Ada 2 prinsip mekanisme terjadinya diare cair, yaitu sekeretorik dan osmotik.
Meskipun dapat melalui kedua mekanisme tersebut, diare sekretorik lebih sering ditemukan
pada infeksi saluran cerna. begitu pula kedua mekanisme tersebut dapat terjadi bersamaan
pada satu anak.1,5
1. Diare osmotik

Mukosa usus halus adalah epitel berpori, yang dapat dilalui oleh air dan elektrolit
dengan cepat untuk mempertahankan tekanan osmotik antara lumen usus dengan cairan
ekstrasel. Adanya bahan yang tidak diserap, menyebabkan bahan intraluminal pada usus
halus bagian proksimal tersebut bersifat hipertoni dan menyebabkan hiperosmolaritas. Akibat
perbedaan tekanan osmosis antara lumen usus dan darah maka pada segmen usus jejunum
yang bersifat permeable, air akan mengalir kearah jejunum, sehingga akan banyak terkumpul
air dalam lumen usus. Na akan mengikuti masuk ke dalam lumen, dengan demikian akan
terkumpul cairan intraluminal yang besar dengan kadar Na normal. Sebagian kecil cairan ini
akan dibawa kembali, akan tetapi lainya akan tetap tinggal di lumen oleh karena ada bahan
yang tidak dapat diserap seperti Mg, glukosa, sucrose, lactose, maltose di segmen ileum dan
melebihi kemampuan absorbs kolon, sehinga terjadi diare. Bahan-bahan seperti karbohidrat
dan jus buah, atau bahan yang mengandung sorbitol dalam jumlah berlabihan akan
memberikan dampak yang sama.1,4-6

2. Diare Sekretorik

Diare sekretorik disebabkan oleh sekresi air dan elektrolit ke dalam usus halus yang
terjadi akibat gangguan absorbsi natrium oleh vilus saluran cerna, sedangkan sekresi klorida
tetap berlangsung atau meningkat. Keadaan ini menyebabkan air dan elektrolit keluar dari
tubuh sebagai tinja cair. Diare sekretorik ditemukan diare yang disebabkan oleh infeksi
bakteri akbat rangsangan pada mukosa usus halus oleh toksin E.coli atau V. cholera.01.7
Osmolaritas tinja diare sekretorik isoosmolar terhadap plasma. beda osmotik dapat
dihitung dengan mengukur kadar elektrolit tinja. Karena Natrium ( Na+) dan kalium (K+)
merupakan kation utama dalam tinja, osmolalitas diperkirakan dengan mengalikan jumlah
kadar Na + dan K+ dalam tinja dengan angka 2. Jika diasumsikan osmolalitas tinja konstan
290 mOsm/L pada tinja diare, maka perbedaan osmotic 290-2 (Na++K+). Pada diare
osmotik, tinja mempunyai kadar Na+ rendah (<50 mEq/L)dan beda osmotiknya bertambah
besar (>160 mOsm/L). Pada diare sekretorik tinja diare mempunyai kadar Na tinggi (>90
mEq/L), dan perbedaan osmotik kurang dari 20 mOsm/L.
Osmotik Sekretorik

Volume tinja <200 ml/hari >200 ml/hari

Puasa Diare berhenti Diare berlanjut

Na+ tinja <70 mEq/L >70 mEq/L

Reduksi (+) (-)

pH tinja <5 >6

Dikenal bahan-bahan yang menstimulasi sekresi lumen yaitu enterotoksin bakteri dan
bahan kimia yang dapat menstimulasi seperti laksansia, garam empedu bentuk dihidroxy,
serta asam lemak rantai panjang. Toksin penyebab diare ini terutama bekerja dengan cara
meningkatkan konsentrasi intrasel cAMP, cGMP, atau Ca++ yang selanjutnya akan
mengaktifasi protein kinasi. Pengaktifan protein kinase akan menyebabkan fosforilase
membrane protein sehingga megakibatkan perubahan saluran ion, akan menyebabkan Cl- di
kripta keluar. Disisi lain terjadi peningkatan pompa natrium, dan natrium masuk ke dalam
lumen usus bersama Cl-.1
Diare dapat juga dikaitkan dengan gangguan motilitas. Meskipun motilitas jarang
menjadi penyebab utama malabsorbsi, teatpi perubahan motilitas mempunyai pengaruh
terhadap absorbsi. Baik peningkatan ataupun penurunan motilitas keduanya dapat
menyebabkan diare. Penurunan motilitas dapat mengakibatkan bakteri tumbuh lampau yang
menyebabkan diare. Perlambatan transit obat-obatan atau nutrisi akan meningkatkan
absorbsi, Kegagalan motilitas usus yang berat menyebabkan statis intestinal bearkibat
inflamasi, dekonjugasi garam empedu dan malabsorbsi. Diare akibat hiperperistaltik pada
anak jarang terjadi. Watery diare dapat disebabkan karena hipermotilitas pada kasus kolon
irritable pada bayi. Gangguan motilitas mungkin merupakan penyebab diare pada
Thyrotoksikosis, malabsorbsi asam empedu, dan berbagai peyakit lain.1
Proses inflamasi di usus halus dan kolon menyebakan diare pada beberapa keadaan.
Akibat kehilangan sel epitel dan kerusakan tight junction, tekanan hidrostatik dalam
pembuluh darah dan limfatik menyebabkan air, elektrolit, mucus, protein dan seringkali sel
darah merah dan sel darah putih menumpuk dalam lumen. Biasanya diare akibat inflamasi ini
berhubungan dengan tipe diare laina seprti diare osmotik dan sekretorik.1
Bakteri enteral pathogen akan mempenagaruhi struktur dan fungsi tight junction,
menginduksi cairan dan elektrolit, dan akan mengaktifkan kaskade inflamasi. Efek infeksi
bacterial pada tight junction akan mempengaruhi susunan anatomis dan fungsi absorbsi yaitu
cytoskeleton dan perubahan susunan protein 6

Manifestasi klinis
Infeksi usus menimbulkan tanda dan gejala gastrointestinal serta gejala lainya bila
terjadi komplikasi ekstraintestinal termasuk manifestasi neurologik. Gejala gastrointestinal
bias berupa diare, kram perut, dan munth. Sedangkan manifestasi sistemik bervariasi
tergantung pada penyebabnya.1
Penderita dengan diare cair mengeluarkan tinja yang mengandung sejumlah ion
natrium, klorida dan bikarbonat. Kehilangan air dan elektrolit ini bertambah bila ada muntah
dan kehilangan air juga akan meningkat bila ada panas. Hal ini dapat menyebabkan dehidrasi,
asidosis metabolic, dan hipokalemia. Dehidrasi merupakan keadaan yang paling berbahaya
karena dapat menyebabkan hipovolemia, kolaps kardiovaskular dan kematian bila tidak
diobati dengan tepat. Dehidrasi yang terjadi menurut tonisistas plasma dapat berupa dehidrasi
isotonic, dehidrasi hipertonik (hipernatremik) atau dehidrasi hipotonik. Menurut derajat
dehidrasinya biasa tanpa dehidrasi, dehidrasi ringan sedang dan dehidrasi berat.1
Infeksi ekstraintestinal yang berkaitan dengan bakteri enteric pathogen antara lain:
vulvovaginitis, infeksi saluran kemih, endokarditis, osteomyelitis, meningitis, pneumonia,
hepatitis, peritonitis dan septic tromboplebitis. Gejala neurolgik dari infeksi usus biasa berupa
parestesia (akibat makan ikan, kerang, monosodium glutamate), hipotoni dan kelemahan otot.
Bila terdapat panas dimungkinkan karena proses peradangan atau akibat dehidrasi.
Panas badan umum terjadi pada penderita dengan inflammatory diare. Nyeri perut yang lebih
hebat dan tenesmus terjadi pada perut bagian bawah serta rectum menunjukan terkenanya
usus besar. Mual dan muntah adalah simptom yang nonspesifik akan tetapi muntah mungkin
disebabkan oleh karena mikroorganisme yang menginfeksi saluran cerna bagian atas seperti:
enteric virus, bakteri yang memproduksi enteroroksin, giardia, dan cryptosporidium.
Muntah juga sering terjadi pada non inflammatory diare. Biasanya penderita tidak
panas atu hanya subfebris, nyeri perutperiumbilikal tidak berat, watery diare, menunjukan
bahwa saluran makan bagian atas yang terkena. Oleh karena pasien immunocompromise
memerlukan perhatian khusus, informasi tentang adanya imunodefisiensi atau penyakit.
Rotavirus Shigella Salmonella ETEC EIEC Kolera

Gejala klinis
: 17-72 jam 24-48 jam 6-72 jam 6-72 jam 6-72 jam 48-72 jam
Masa + ++ ++ - ++ -
Tunas Sering Jarang Sering + - Sering
Panas Tenesmus Tenesmus, Tenesmus,kolik - Tenesmus, Kramp
Mual, - kramp + - kramp -
muntah 5-7 hari + 3-7 hari 2-3 hari - 3 hari
Nyeri >7hari variasi
perut
Nyeri
kepala
lamanya
sakit

Sifat tinja:
Volume Sedang Sedikit Sedikit Banyak Sedikit Banyak
Frekuensi 5-10x/hari >10x/hari Sering Sering Sering Terus
Konsistensi Cair Lembek Lembek Cair Lembek menerus
Darah - + Kadang - + Cair
Bau Langu - Busuk - - -
Warna Kuning Merah- Kehijauan Tak Merah- Amis khas
Leukosit hijau hijau + berwarna hijau Seperti air
Lain-lain - + Sepsis + - - cucuian
anorexia Kejang+ Meteorismus Infeksi beras
sistemik+ -
-

Tabel 5. Gejala klinis diare akut oleh berbagai penyebab


Diagnosis
Anamnesis

Pada anamnesis perlu ditanyakan hal-hal sebagai berikut: lama diare, frekuensi,
volume, konsistensi tinja, warna, bau, ada/tidak lendir dan darah. Bila disertai muntah
volume dan frekuensinya. Kencing: biasa, berkurang, jarang atau tidak kencing dalam 6-8jam
terakhir. Makanan dan minuman yang diberikan selama diare. Adakahh panas atau penyakit
lain yang menyertai seperti: batuk, pilek, otitis media, campak. Tindakan yang telah
dilakukan ibu selama anak diare: member oralit, memabwa berobat ke puskesmas atau ke
rumah sakit dan obat-obatan yang diberikan serta riwayat imunisasinya.1
Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik perlu diperiksa: berat badan, suhu tubuh, frekuensi denyut
jantung dan pernapasan serta tekanan darah. Selanjutnya perlu dicari tanda-tanda tambahan
lainya: ubun-ubun besar cekung atau tidak, mata: cowong atau tidak, ada atau tidak adanya
air mata, bibir, mukosa mulut dan lidah kering atau basah.1
Pernpasan yang cepat dan dalam indikasi adanya asiodosis metabolik. Bising usus
yang lemah atau tidak ada bila terdapat hipokalemia. Pemeriksaan ekstremitas perlu karena
perfusi dan capillary refill dapat menentukan derjat dehidrasi yang terjadi. Penilaian beratnya
atau derajat dehidrasi dapat ditentukan dengan cara: objektif yaitu dengan membandingkan
berat badan sebelum dan sesudah diare. Subjektif dengan menggunakan criteria WHO dan
MMWR.1
Symptom Minimal atau tanpa Dehidrasi ringan Dehidrasi berat,
dehidrasi, sedang, kehilangan kehilangan BB>9%
kehilangan BB<3% BB 3%-9%

Kesadaran Baik Normal, lelah, Apatis, letargi, idak


gelisah, irritable sadar

Denyut Normal Normal meningkat Takikardi, bradikardi,


jantung (kasus berat)

Kualitas nadi Normal Normal melemah Lemah, kecil tidak


teraba

Pernapasan Normal Normal-cepat Dalam


Mata Normal Sedikit cowong Sangat cowong

Air mata Ada Berkurang Tidak ada

Mulut dan Basah Kering Sangat kering


lidah

Cubitan kulit Segera kembali Kembali<2 detik Kembali>2detik

Cappilary Normal Memanjang Memanjang, minimal


refill

Ekstremitas Hangat Dingin Dingin,mottled,


sianotik

Kencing Normal Berkurang Minimal

Tabel.6 Penentuan derajat dehidrasi menurut MMWR 2003


Penilaian A B C

Lihat:
Keadaan umum Baik,sadar *Gelisah,rewel *lesu,lunglai/tidak
Mata Normal Cekung sadar
Air mata Ada Tidak ada Sangat cekung
Mulut dan lidah Basah Kering Kering
Rasa haus Minum biasa,tidak *haus ingin minum Sangat kering
haus banyak *malas minum atau
tidak bias minum

Periksa: turgor Kembali cepat *kembali lambat *kembali sangat


kulit lambat

Hasil pemeriksaan Tanpa dehidrasi Dehidrasi Dehidrasi berat


ringan/sedang Bila ada 1 tanda*
Bila ada 1 tanda* ditambah 1 atau lebih
ditambah 1 atau lebih tanda lain
tanda lain
Terapi Rencana terapi A Rencana terapi B Rencana terapi C

Tabel 7. Penentuan derajat dehidrasi menurut WHO


Menurut tonisistas darah, dehidrasi dapat dibagi menjadi:3
 dehidrasu isotonic, bila kadar Na+ dalam plasma antara 131-150 mEq/L

 dehidrasi hipotonik, bila kadar Na+<131 mEq/L

 dehidrasi hipertonik, bila kadar Na+>150 mEq/L

Gejala Hipotonik Isotonik Hipertonik

Rasa haus - + +

Berat badan Menurun sekali Menurun Menurun

Turgor kulit Menurun sekali Menurun Tidak jelas

Kulit/ selaput lendir Basah Kering Kering sekali

Gejala SSP Apatis Koma Irritable, apatis,


hiperfleksi

Sirkulasi Jelek sekali Jelek Relatif masih baik

Nadi Sangat lemah Cepat dan lemah Cepat, dan keras

Tekanan darah Sangat rendah Rendah Rendah

Banyaknya kasus 20-30% 70% 10-20%

Tabel 8. Gejala dehidrasi menurut tonisitas


1. Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium lengkap pada diare akut pada umumnya tidak


diperkukan, hanya pada keadaan tertentu mungkin diperlukan misalnya penyebab
dasarnya tidak diketahui atau ada sebab-sebab lain selain diare akut atau pada penderita
dengan dehidrasi berat. Contoh: pemeriksaan darah lengkap, kultur urine dan tinja pada
sepsis atau infeksi saluran kemih. Pemeriksaan laboratorium yang kadang-kadang
diperlukan pada diare akut:1,6-8
 Darah: darah lengkap, serum elketrolit, analisa gas darah, glukosa darah, kultur dan tes
kepekaan terhadap antibiotika

 Urine: urine lengkap, kultur dan test kepekaan terhadap antibiotika

 Tinja:

a. Pemeriksaan makroskopik

Pemeriksaan makroskopik tinja perlu dilakukan pada semua penderita dengan


diare meskipun pemeriksaan labotarium tidak dilakukan. Tinja yang watery dan tanpa
mucus atau darah biasanya disebabkan oleh enteroksin virus, protozoa, atau
disebabkan oleh infeksi diluar saluran gastrointestinal. Tinja yanga mengandung
darah atau mucus bias disebabkan infeksi bakteri yang menghasilkan sitotoksin
bakteri enteronvasif yang menyebabkan peradangan mukosa atau parasit usus seperti:
E. hystolitica, B. coli, T. trichiura. Apabila terdapat darah biasanya bercampur dalam
tinja kecuali pada infeksi dengan E. hystolitica darah sering terdapat pada permukaan
tinja dan pada infeksi dengan Salmonella, Giardia, Cryptosporidium dan
Strongyloides.
Pemeriksaan makroskopik mencakup warna tinja, konsistesi tinja, bau tinja,
adanya lendir, adanya darah, adanya busa. Warna tinja tidak terlalu banyak
berkolerasi dengan penyebab diare. Warna hijau tua berhubungan dengan adnya
warna empedu akibat garam empedu yang dikonjugasi oleh bakteri anaerob pada
keadaan bacterial overgrowth. Warna merah akibat adanya darah dalam tinja atau obat
yang dapat menyebabkan warna merah dalam tinja seperti rifampisin. Konsistensi
tinja dapat cair, lembek, padat. Tinja yag berbusa menunjukan adanya gas dalam tinja
kaibat fermentasi bakteri. Tinja yang berminyak, lengket, dan berkilat menunjukan
adanya lemak dalam tinja. Lendir dalam tinja menggambarkan kelainan di kolon,
khususnya akibat infeksi bakteri. Tinja yang sangatberbau menggambarkan adanya
fermentasi oleh bakteri anaerob dikolon. Pemeriksaan pH tinja menggunakan kertas
lakmus dapat dilakukan untuk menentukan adanya asam dalam tinja. Asam dalam
tinja tersebut adalah asam lemak rantai pendek yang dihasilkan karena fermentasi
laktosa yang tidak diserap di usus halus sehingga masuk ke usus besar yang banyak
mengandung bakteri komensial. Bila pH tinja<6 dapat dainggap sebagai malabsorbsi
laktosa.8
Pada diare akut sering terjadi defisiensi enzim lactose sekunder akibat
rusaknya mikrofili mukosa usus halus yang banyak mengandung enzim lactase.
Enzim laktsae merupakan enzim yang bekerja memecahkan laktosa menjadi glukosa
dan galaktosa, yangs elanjutnya diserap di mukosa usus halus, Salah satu cara
menentukan malabsorbsi laktosa adalah pemeriksaan clinitest dikombinasi dengan
pemeriksaan pH tinja. Pemeriksaan clinitest dilakukan dengan prinsip melihat
perubahan reaksi warna yang terjadi antara tinja yang diperiksa dengan tablet clinitest.
Prinsipnya adalah terdapatnya reduktor dalam tinja yang mengubah cupri sulfat
menjadi cupri oksida. Pemeriksaan dilakukan dengan cara mengambil bagian cair dari
tinja segar (sebaiknya tidak lebih dari 1 jam). Sepuluh tetes air dan 5 tetes bagian cair
dari tinja diteteskan kedalam gelas tabung, kemudian ditambah 1 tablet clinitest.
Setelah 60 detik maka perubahan warna yang terjadi dicocokan dengan warna
standart. Biru berarti negative, kuning tua berarti positif kuat (++++=2%), antara
kuning dan biru terdapat variasi warna hijau kekuningan (+=1/2%), (++=3/4%),
(+++=1%). Sedangkan terdapatnya lemak dalam tinja lebih dari 5 gram sehari disebut
sebagai steatore.8
b. Pemeriksaan mikroskopik

Infeksi bakteri invasive ditandai dengan ditemukannya sejumlah besar leukosit


dalam tinja yang menunjukan adanya proses inflamasi. Pemeriksaan leukosit tinja
dengan cara mengambil bagian tinja yang berlendir seujung lidi dan diberi ½ tetes
eosin atau Nacl lalu dilihat dengan mikroskop cahaya:5
 bila terdapat 1-5 leukosit perlapang pandang besar disebut negative

 bila terdapat 5-10 leukosit per lapang pandang besar disebut (+)

 bila terdapat 10-20 leukosit per lapang pandang besar disebut (++)

 bila terdapat leukosit lebih dari ½ lapang pandang besar disebut (+++)

 bila leukosit memenuhi seluruh lapang pandang besar disebut (++++)

Adanya lemak dapat diperiksa dengan cara perwanaan tinja dengan sudan III
yang mengandung alcohol untuk mengeluarkan lemak agar dapat diwarnai secara
mikroskopis dengan pembesarn 40 kali dicari butiran lemak dengan warna kuning
atau jingga. Penilaian berdasarkan 3 kriteria:8
 (+) bila tampak sel lemak kecil dengan jumlah kurang dari 100 buah per
lapang pandang atau sel lemak memenuhi 1/3 sampai ½ lapang pandang

 (++) bila tampak sel lemak dnegan jumlah lebih 100 per lapang pandang atau
sel memenuhi lebih dari ½ lapang pandang

 (+++) bila didapatkan sel lemak memenuhi seluruh lapang pandang.

Pemeriksaan parasit paling baik dilakukan pada tinja segar. Dengan memakai
batang lidi atau tusuk gigi, ambilah sedikit tinja dan emulsikan delam tetesan NaCl
fisiologis, demikian juga dilakukan dengan larutan Yodium. Pengambilan tinja cukup
sedikit saja agar kaca penutup tidak mengapung tetapi menutupi sediaan sehingga
tidak terdapat gelembung udara. Periksalah dahulu sediaan tak berwarna (NaCL
fisiologis), karena telur cacing dan bentuk trofozoid dan protozoa akan lebih mudah
dilihat. Bentuk kista lebih mudah dilihat dengan perwanaan yodium. Pemeriksaan
dimulai dengan pembesaran objekstif 10x, lalu 40x untuk menentukan spesiesnya.

Uji hydrogen napas adalah pemeriksaan yang didasarkan atas adanya peningkatan
kadar hydrogen dalam udara ekspirasi. Gas hydrogen dalam udara ekspirasi berasal
dari fermentasi bakteri terhadap substrat baik di kolon maupun di usus halus.
Fermentasi bakteri di usus besar terjadi karena adanya substrat yang tidak diabsorbsi
tersebut sepertilaktosa atau fruktosa akan difermentasi oleh bakteri komensal
menghasilkan asam lemak rantai pendek (short chain fatty acid), beberapa molekul
alcohol dan gas hydrogen. Gas hydrogen tersebut dengan cepat akan diserap masuk ke
sirkulasi darah lalu masuk ke paru dan dikeluarkan lewat udara napas.8

Fermentasi bakteri di usus halus terjadi karena adanya bacterial overgrowth,


yang didefinisikan sebagai terdapatnya kolom atau spesies koloni lebih dari 106 unit
per milliliter cairan usus halus yang seharusnya relative steril. Sebelum pemeriksaan
uji hydrogen napas penderita dipuasakan selama 4-6 jam, lalu diambil sampel udara
napas dengan cara meniup (pada bayi dengan menggunakan sungkup) pada alat yang
dapat menghitung kadar hydrogen napas sebagai kadar awal hydrogen napas. Lalu
diberikan larutan 2gr/kgBB dengan konsentrasi 20% setelah itu diambil sampel udara
napas seperti sebelumnya setiap 30 menit selam 2-3 jam. Peningkatan kadar hydrogen
napas >20ppm, atau 10-20 ppm disertai gejala klinis (kembung, diare, muntah, sakit
perut) disebut positif. Apabila peningkatan tersebut diperoleh pada 30 menit pertama
yang berarti fermentasi laktosa oleh bakteri sudah terjadi, di usus halus dan
disimpulkan sebagai bacterial overgrowth. Peningkatan yang terjadi setelah 2 jam
menandakan adanya laktosa yang tidak diabsorbsi di usus halus, sehingga masuk ke
kolon dan difermentasi oleh bakteri di kolon menghasilkan hydrogen yang ditangkap
oleh alat.8

Tata laksana
Terdapat lima pilar penting dalam tatalaksana diare yaitu rehidrasi, seng, dukungan
nutrisi, pemberian antibiotik sesuai indikasi dan edukasi pada orang tua. Tujuan pengobatan:8
1. Mencegah dehidrasi

2. Mengatasi dehidrasi yang telah ada

3. Mencegah kekurangan nutrisi dengan memberikan makanan selama dan setelah diare

4. Mengurangi lama dan beratnya diare, serta berulangnya episode diare, dengan
memberikan suplemen zinc

Tujuan pengobatan diatas dapat dicapai dengan cara mengikuti rencana terapi yang
sesuai, seperti yang tertera dibawah ini:10

1. Rencana terapi A: penanganan diare di rumah

Jelaskan kepada ibu tentang 4 aturan perawatan di rumah:


 Beri cairan tambahan (sebanyak anak mau)

Jelaskan pada ibu:


- pada bayi muda, pemberian ASI merupakan pemberian cairan tambahan yang
utama. Beri ASI lebih sering dan lebih lama pada setiap kali pemberian.

- jika anak memeperoleh ASI eksklusif, beri oralit, atau air matang sebagai
tambahan

- jika anak tidak memperoleh ASI eksklusif, beri 1 atau lebih cairan berikut ini:
oralit, cairan makanan (kuah sayur, air tajin) atau air matang

Anak harus diberi larutan oralit dirumah jika:


- anak telah diobati dengan rencana terapi B atau dalam kunjungan

- anak tidak dapat kembali ke klinik jika diarenya bertambah berat

Ajari pada ibu cara mencampur dan memberikan oralit. Beri ibu 6 bungkus oralit
(200ml) untuk digunakan dirumah. Tunjukan pada ibu berapa banyak cairan
termasuk oralit yang harus diberikan sebagai tambahan bagi kebutuhan cairanya
sehari-hari:
- <2 tahun: 50 sampai 100 ml setiap kali BAB

- >2 tahun: 100 samapai 200 ml setiap kali BAB

Katakan pada ibu


- agar meminumkan sedikit-sedikit tetapi sering dari mangkuk/ cangkir/gelas

- jika anak muntah, tunggu 10 menit. kemudia lanjutkan lagi dengan lebih
lambat.

- lanjutkan pemberian cairan tambahan sampai diare berhenti.

 Beri tablet Zinc

Pada anak berumur 2 bulan keatas, beri tablet zinc selama 10 hari dengan dosis:
- umur <6 bulan: ½ tablet (10 mg) perhari

- umur >6 bulan: 1 tablet (20 mg) perhari

 Lanjutkan pemberian makanan

 Kapan harus kembali

2. Rencana terapi B2

Penanganan dehidrasi sedang/ ringan dengan oralit. Beri oralit di klinik sesuai yang
dianjurkan selama periode 3 jam.
Usia <4 bulan 4-11 bulan 12-23 5-4 tahun 5-14tahun >15 tahun
bulan

Berat <5 kg 5-7,9 kg 8-10,9 kg 11-15,9 kg 16-29,9 kg >30 kg


badan
Jumlah 200-400 400-600 600-800 800-1200 1200-2200 2200-4000
(ml)

Jumlah oralit yang diperlukan 75 ml/kgBB. Kemudian setelah 3 jam ulangi penilaian dan
klasifikasikan kemabali derajat dehidrasinya, dan pilih rencana terapi yang sesuai untuk
melanjutkan pengobatan. Jika ibu memaksa pulang sebelum pengobatan selesai tunjukan
cara menyiapkan oralit di rumah, tunjukan berapa banyak larutan oralit yang harus
diberikan dirumah untuk menyelesaikan 3 jam pertama. Beri bungkus oralit yang cukup
untuk rehidrasi dengan menambah 6 bungkus lagi sesuai yang dainjurkan dalam rencana
terapi A. Jika anak menginginkan oralit lebih banyak dari pedoman diatas, berikan sesuai
kehilangan cairan yang sedang berlangsung. Untuk anak berumur kurang dari 6 bulan yang
tidak menyusu, beri juga 100-200 ml air matang selama periode ini. Mulailah memberi
makan segera setelah anak ingin amkan. Lanjutkan pemberian ASI. Tunjukan pada ibu cara
memberikan larutan oralit. berikan tablet zinc selama 10 hari.

3. Rencana terapi C (penanganan dehidrasi berat dengan cepat)2

Beri cairan intravena secepatnya. Jika anak bisa minum, beri oralit melalui mulut,
sementara infuse disiapkan. Beri 100 ml/kgBB cairan ringer laktat atau ringer asetat (atau jika
tak tersedia, gunakan larutan NaCl) yang dibagi sebagai berikut.
Umur Pemberian pertama Pemebrian berikut
30ml/kgBB selama 70ml/kgBB selama

Bayi (bibawah umur12 1 jam* 5 jam


bulan)

Anak (12 bulan sampai 5 30 menit* 2 ½ jam


tahun)

*ulangi sekali lagi jika denyut nadi sangat lemah atau tidak teraba

Periksa kembali anak setiap 15-30 menit. Jika status hidrasi belum membaik, beri tetesan
intravena lebih cepat. Juga beri oralit (kira-kira 5ml/kgBB/jam) segera setelah anak mau
minum, biasanya sesudah 3-4 jam (bayi) atau 1-2 jam (anak) dan beri anak tablet zinc sesuai
dosis dan jadwal yang dianjurkan. Periksa kembali bayi sesudah 6 jam atau anak sesudah 3
jam (klasifikasikan dehidrasi), kemudian pilih rencana terapi) untuk melanjutkan
penggunaan.
Prinsip pemberian terapi cairan pada gangguan cairan dan elektrolit ditujukan untuk
memberikan pada penderita:
1. Kebutuhan akan rumatan (maintenance) dari cairan dan elektrolit

2. Mengganti cairan kehilangan yang terjadi

3. Mencukupi kehilangan abnormal dari cairan yang sedang berlangsung.

Pada diare CRO merupakan terapi cairan utama. CRO telah 25 tahun berperan dalam
menurunkan angka kematian bayi dan anak dibawah 5 tahun karena diare. WHO dan
UNICEF berusaha mengembangkan oralit yang sesuai dan lebih bermanfaat. Telah
dikembangkan oralt baru dengan osmolalitas lebih rendah. Keamanan oralit ini sama dengan
oralit yang lama, namun efektifitasnya lebih baik daripada oralit formula lama. Oralit baru
dengan low osmolalitas ini juga menurunkan kebutuhan suplementasi intravena dan mampu
mengurangi pengeluaran tinja hingga 20% serta mengurangi kejadian muntah hingga 30%.
Selain itu, oralit baru ini juga telah direkomendasikan WHO dan UNICEF untuk diare akut
non kolera pada anak.2,10

Pengobatan Dietetik
Memuasakan penderita diare (hanya memberi air teh) sudah tidak dilakukan lagi
karena akan memperbesar kemungkinan terjadinya hipoglikemia dan atau KKP. Sebagai
pegangan dalam melaksanakan pengobatan dietetic diapakai singkatan O-B-E-S-E, sebagai
singkatan Oralit, Breast feeding, Early Feeding, Simultaneously with Education.3

Pemberian makanan harus diteruskan selama diare dan ditingkatkan setelah sembuh.
Tujuannya adalah memberikan makanan kaya nutrient sebanyak anak mampu menerima.
Sebagian besar anak dengan diare cair, nafsu makanya timbul kembali setelah dehidrasi
teratasi. Meneruskan pemberian makanan akan mempercepat kembalinya fungsi usus yang
normal termasuk kemampuan menerima dan mengabsorbsi berbagai nutrient, sehingga
memburuknya status gizi dapat dicegah atau paling tidak dikurangi. Sebaliknya, pembatasan
makanan akan menyebabkan penurunan berat badan sehingga diare menjadi lebih lama dan
kembalinya fungsi usus akan lebih lama. Makanan yang diberikan pada anak diare tergantung
kepada umur, makanan yang disukai dan pola makan sebelum sakit serta budaya setempat.
Pada umumnya makanan yang tepat untuk anak diare sama dengan yang dibutuhkan
dengan anak sehat.1 Bayi yang minum ASI harus diteruskan sesering mungkin dan selama
anak mau. Peranan ASI selain memberikan nutrisi yang terbaik, juga terdapat 0,05 SIgA/hari
12
yang berperan memberikan perlindungan terhadap kuman pathogen. Bayi yang tidak
minum ASI harus diberi susu yang biasa diminum paling tidak setiap 3 jam. Pengenceran
susu atau penggunaan susu rendah atau bebas laktosa mungkin diperlukan untuk sementara
bila pemberian susu menyebabkan diare timbul kembali atau bertambah hebat sehingga
terjadi dehidrasi lagi, atau dibuktikan dengan pemeriksaan terdapat tinja yang asam (pH<6)
dan terdapat bahan yang mereduksi dalam tinja>0,5%. Setelah diare berhenti, pemberian
tetap dilanjutkan selama 2 hari kemudian coba kembali dengan susu atau formula biasanya
diminum secara bertahap selama 2-3 hari.9
Gejala klinis menghilang Susu rendah laktosa (ml) Susu normal (ml)
(hari)

Ke 1 150 50

Ke 2 100 100

Ke 3 50 150

Ke 4 0 200

Tabel 9. Tabel panduan kembali ke susu normal (untuk setiap 200 ml)

Bila anak berumur 4 bulan atau lebih dan sudah mendapatkan makanan lunak atau padat,
makanan ini harus diteruskan. Paling tidak 50% dari energy diet harus berasal dari makanan
dan diberikan dalam porsi kecil atau sering (6 kali atau lebih) dan anak dibujuk untuk makan.
Kombinasi susu formula dengan makanan tambahan seperti sereal pada umunya dapat
ditoleransi dengan baik pada anak yang telah disapih. Makanan padat memiliki keuntungan,
yakni memperlambat pengosongan lambung pada bayi yang minum ASI atau susu formula,
jadi memperkecil jumlah laktosa pada usus halus pr satuan waktu.

Pemberian makanan lebih sering dalam jumlah kecil juga memberikan keuntungan
yang sama dalam mencernakan laktosa dan penyerapanya. Pada anak yang lebih besar, dapat
diberikan makanan yang terdiri dari: makanan pokok setempat misalnya nasi, kentang,
gandum, roti, atau bakmi. Untuk meningkatkan kandungan energinya dapat ditambahkan 5-
10 ml minyak nabati untuk setiap 100ml makanan. Minyak kelapa sawit sangat bagus
dikarenakan kaya akan karoten. Campur makanan pokok tersebut dengan kacang-kacangan
dan sayur-sayuran, serta ditambahkan tahu, tempe, daing atau ikan. Sari buah segar atau
pisang baik untui menambah kalium. Makanan yang berlemak atau makanan yang
mengandung banyak gula seperti sari buah manis yang diperdagangkan, minuman ringan,
sebaiknya dihindari. 2,7

Pemberian makanan setelah diare


Meskipun anak diberi makanan sebanyak dia mau selama diare, beberapa kegagalan
pertumbuhan mungkin dapat terjadi teruatama bila terjadai anorexia hebat. Oleh karena itu
perlu pemberian ekstra makanan yang akan zat gizi beberapa minggu setelah sembuh untuk
memperbaiki kurang gizi dan untuk mencapai serta mempertahankan pertumbuhan yang
normal. Berikan ekstra makanan pada saat anak merasa lapar, pada keadaan semacam ini
biasanya anak dapat menghabiskan tambahan 50% atau lebih kalori dari biasanya.1,8,9

Zinc
Zinc mengurangi lama dan beratnya diare. Zinc juga dapat mengembalikan nafsu makan
anak. Zinc termasuk mikronutrien yang mutlak dibutuhkan untuk memelihara kehidupan
yang optimal. Dasar pemikiran penggunaan zinc dalam pengobatan diare akut didasarkan
pada efeknya terhadap imun atau terhadap struktur dan fungsi saluran cerna dan terhadap
proses perbaikan epitel saluran cerna selama diare. Pemberian zinc pada diare dapat
meningkatkan absorbs air dan elektrolit oleh usus halus meningkatkan kecepatan regenerasi
epitel usus, meningkatkan jumlah brush border apical, dan meningkatkan respon imun yang
mempercepat pembersihan patogen di usus. Pengobatan dengan zinc cocok ditetapkan di
negara-negara berkembang seprti Indonesia yang memiliki banyak masalah terjadinya
kekurangan zinc di dalam tubuh karena tingkat kesejahteraan yang rendah dan daya
imunitasnya yang kurang memadai. Pemberian zinc dapat menurunkan risiko terjadinya
dehidrasi pada anak. Dosis zinc untuk anak-anak:
- anak dibawah umur 6 bulan: 10 mg (1/2 tablet) per hari

- anak diatas umur 6 bulan: 20 mg (1 tablet) per hari


Zinc diberikan selama 10-14 hari berturut-turut, meskipun anka telah sembuh dari diare.
Untuk bayi tablet zinc diberikan dalam air matang, ASI atau oralit. Untuk anak lebih besar,
zinx dapat dikunyah atau dilarutkan dalam air matang atau oralit.2,3

Terapi medikamentosa
Berbagai macam obat telah digunakan untuk pengobatan diare seperti antibiotika, antidiare,
adsorben, antiemetic, dan obat yang mempengaruhi mikroflora usus. Beberapa obat
mempunyai lebih dari satu mekanisme kerja, banyak diantaranya mempunyai efek toksik
sistemik dan sebagian besar tidak direkomendasikan untuk anak umur kurang dari 2-3 tahun.
Secara umum dikatakan bahwa obat-obat tersebut tidak diperlukan untuk pengobatan diare
akut.

Antibiotik
Antbiotik apda umumnya tidak diperlukan pada semua diare akut oleh karena sebagian besar
diare infeksi adalah rotavirus yang sifatnya self limiting dan tidak dapat dibunuh dengan
antibiotic. Hanya sebagian kecil (10-20%) yang disebabkan oleh bakteri pathogen seperti V.
cholera, Shigella, Enterotoksigenik E. coli, Salmonella, Campilobacter, dan sebagainya,1
Penyebab Antibiotik pilihan Alternatif

Kolera Tetracycline 12,5 mg/kgBB Erythromycin 12,5 mg/kgBB


4x sehari selama 3 hari 4x sehari selama 3 hari

Shigella Disentri Ciprofloxacin 15 mg/kgBB Pivmecillinam 20 mg/kg BB


2x sehari selama 3 hari 4x sehari selama 3 hari
Ceftriaxone 50-100 mg/kgBB
1x sehari IM selama 2-5 hari

Amoebiasis Metronidazole 10 mg/kgBB


3xs ehari selama 5 hari (10
hari pada kasus berat)

Giadiasis Metronidazole 5mg/kgBB


3x sehari selama 5 hari
Obat antidiare
Obat-obat ini meskipun sering digunakan tidak mempunyai keuntungan praktis dan tidak
diindikasikan untuk pengobatan diare akut pada anak. Beberapa dari obat-obat ini berbahaya.
Produk yang termasuk dalam kategori ini adalah:1,3
 Adsorben
Contoh: kaolin, attapulgite, smectite, activated charcoal, cholesteramine). Obat-obat
ini dipromosikan untuk pengobatan diare atas dasar kemampuanya untuk mengikat
dan menginaktifasi toksin abkteri atau bahan lain yang menyebabkan diare serta
dikatakan mempunyai kemampuan melindungi mukosa usus. Walaupun demikian,
tidak ada bukti keuntungan praktis dari penggunaan obat ini untuk pengobatan rutin
diare akut pada anak.

 Antimotilitas
Contoh loperamid hydrocloride, diphenoxylate dengan atropine, tincture opiii,
paregoric, codein). Obat-obatan ini dapat mengurangi frekuensi diare pada orang
dewasa akan tetapi tidak mengurangi volume tinja pada anak. Lebih dari itu dapat
menyebabkan ileus paralitik yang berat yang dapat fatal atau dapat memperpanjang
infeksi dengan memperlambat eliminasi dari organisme penyebab. Dapat terjadi efek
sedatif pada dosis normal. Tidak satupun dari obat-obatan ini boleh diberikan pada
bayi dan anak dengan diare.
 Bismuth subsalicylate

Bila diberikan setiap 4 jam dilaporkan dapat mengurangi keluaran tinja pada anak
dngan diare akut sebanya 30% akan tetapi, cara ini jarang digunakan.
obat-obat lain:
 Anti muntah
Termasuk obat ini seperti prochlorperazine dan chlorpromazine yang dapat
menyebabkan mengantuk sehingga mengganggu pemberian terapi rehidrasi oral. Oleh
karena itu obat anti muntah tidak digunakan pada anak dengan diare, muntah biasanya
berhenti bila penderita telah terehidrasi

Probiotik
Probiotik diberi batas sebagai mikroorganisme hidup dalam makanan yang difermentasi yang
menunjang kesehatan melalui terciptanya keseimbangan mikroflora intestinal yang lebih
baik. Pencegahan diare dapat dilakukan dengan pemberian probiotik dalam waktu yang
panjang terutama untuk bayi yang tidak minum ASI. Kemungkinan efek probiotik dalam
pencegahan diare melalui perubahan lingkungan mikrolumen usus, kompetisi nutrient,
mencegah adhesi kuman pathogen pada enterosit, modifikasi toksin atau reseptor toksin efek
trofik terhadap mukosa usus melalui penyediaan nutrient dan imunomodulasi. Pemberian
makanan selama diare harus diteruskan dan ditingkatkan setelah sembuh, tujuanya adalah
memberikan makanan yang kaya nutrient sebanyak anak mampu menerima. Sebagian besar
anak dengan diare cair, nafsu makannya timbul kembali setelah dehidrasi teratasi.
Meneruskan pemberian makanan akan mempercepat kembalinya fungsi usus yang normal
termasuk kemampuan menerima dan mengabsorbsi berbagai nutrient, sehingga
memburuknya status gizi dapat dicegah atau paling tidak dapat dikurangi.11

Mekanisme kerja probiotik untuk menghambat pertumbuhan bakteri patogen dalam


mukosa usus belum sepenuhnya jelas tetapi beberapa laporan mneunjukan adanya kompetisi
untuk mengadakan perlekatan dengan enterosit (sel epitel mukosa). Enterosit yang telah
jenuh dengan bakteri probiotik tidak dapat lagi dilekati bakteri yang lain. Jadi dengan adanya
bakteri probiotik di dalam mukosa usus dapat mencegah kolonisasi oleh bakteri patogen.
Lactobacillus strain pada manusia mempunyai kemampuan melekat pada Caco-2 cells dan
sel goblet HT 29-MTX pada sel epitel mukosa usus. Lactobacillus acidophilus LA1 dan LA3
mempunyai kemampuan melekat yang kuat, tidak tergantung pada calcium, sedangkan
Lactobacillus strain LA10 dan LA18 kemampuan melekatnya rendah. Kemampuan
perlekatan tersebut dapat dihilangkan dengan adanya tripsin. Strain LA1 mempunyai
kemampuan untuk mencegah perlekatan diarrheagenic Eschercia coli (EPEC) dan bakteri
enteroinvasif seperti Salmonella typhymurium, Yersinia tuberculosis. Kemampuan mencegah
perlekatan strain LA1 lebih efektif bila diberikan sebelum atau bersamaan dengan infeksi E
coli daripada setelah infeksi E coli. Disamping mekanisme perlekatan dengna reseptor pada
epitel usus untuk mencegah pertumbuhan bakteri patogen melalui kompetisi, bakteri
probiotik memberi manfaat pada pejamu oleh karena produksi substansi antibakteri misalnya,
asam organik, bacteriocin, microcin, reuterin, volatile fatty acid, hidrogen peroksida dan ion
hidrogen.1,8,11

Komplikasi
1. Gangguan elektrolit
- Hipernatremia

Penderita diare dengan natrium plasma>150 mmol/L memerlukan pemantauan


berkala yang ketat. Tujuanya adalah menurunkan kadar natrium secara perlahan-
lahan. Penurunan kadar natrium plasma yang cepat sangat berbahaya oleh karena
dapat menimbulkan edema otak. Rehidrasi oral atau nasogastrik menggunakan oralit
adalah cara terbaik dan paling aman. Koreksi dengan rehidrasi intravena dapat
dilakukan menggunakan cairan 0,45% saline-5% dextrose selama 8 jam. Hitung
kebutuhan cairan menggunakan berat badan tanpa koreksi. Periksa kadar natrium
plasma setelah 8jam. Bila normal lanjutkan dengan rumatan, bila sebaliknya lanjutkan
8 jam lagi dan periksa kembali natrium plasma setelah 8 jam. Untuk rumatan gunakan
0,18% saline-5% dekstrose, perhitungkan untuk 24 jam. Tambahkan 10 mmol KCl
pada setiap 500 ml cairan infuse setelah pasien dapat kencing. Selanjutnya pemberian
diet normal dapat mulai diberikan. lanjutkan pemberian oralit 10ml/kgBB/setiap
BAB, sampai diare berhenti.1
- Hiponatremia

Anak dengan diare yang hanya minum air putih atau cairan yang hanya mengandung
sedikit garam, dapat terjadai hiponatremia (Na<130 mmol/L). Hiponatremia sering
terjadi pada anak dengan Shigellosis dan pada anak malnutrisi berat dengan odema.
Oralit aman dan efekstif untuk terapi dari hamper semua anak dengan hiponatremi.
Bila tidak berhasil, koreksi Na dilakukan bersamaan dengan koreksi cairan rehidrasi
yaitu: memakai ringer laktat atau normal saline. [Kadar Na koreksi (mEq/L) =125-
kadar Na serum yang diperiksa x 0,6 x berat badan] Separuh diberikan dalam 8 jam,
sisanya diberikan dalam 16 jam. Peningkatan serum Na tidak boleh melebihi 2
mEq/L/jam.1
- Hiperkalemia

Disebut hiperkalemia jika K>5 mEq/L, koreksi dilakukan dengan pemberian kalsium
glukonas 10% 0,5-1 ml/kgBB i.v pelan-pelan dalam 5-10 menit dengan monitor detak
jantung.1

- Hipokalemia

Diakatakan hipokalemia bila K<3,5 mEq/L, koreksi dilakukan menuurut kadar K: jika
kalium 2,5-3,5 mEq/L diberikan peroral 75 mcg/kgBB/hr dibagi 3 dosis. Bila <2,5
mEq/L maka diberikan secara intravena drip (tidak boleh bolus) diberikan dalam 4
jam. Dosisnya: (3,5-kadar K terukur x BB x 0,4 +2 mEq/kgBB/24 jam) diberikan
dalam 4 jam kemudian 20 jam berikutnya adalah (3,5-kadar K terukur x BB x
0,4+1/6x2 mEqxBB). Hipokalemia dapat menyebakan kelemahan otot, paralitik usus,
gangguan fungsi ginjal dan aritmia jantung. Hipokalemia dapat dicegah dan
kekurangan kalium dapat dikoreksi dengan menggunakan makanan yang kaya kalium
selama diare dan sesudah diare berhenti1
2. Demam

Demam sering terjadi pada infeksi shigella disentriae dan rotavirus. Pada umumnya
demam akan timbul jika penyebab diare mengadakan invasi ke dalam sel epitel usus.
Demam juga dapat terjadi karena dehidrasi. Demam yang timbul akibat dehidrasi
pada umunya tidak tinggi dan akan menurun setelah mendapat hidrasi yang cukup.
Demam yang tinggi mungkin diikuti kejang demam. Pengobatan: kompres dan/
antipiretika. Antibiotika jika ada infeksi.3
3. Edema/overhidrasi

Terjadi bila penderita mendapat cairan terlalu banyak. Tanda dan gejala yang tampak
biasnya edema kelopak mata, kejang-kejang dapat terjadi bila ada edema otak. Edema
paru-paru dapat terjadi pada penderita dehidrasi berat yang diberi larutan garan faali.
Pengobatan dengan pemberian cairan intravena dan atau oral dihentikan,
kortikosteroid jika kejang.3
4. Asidosis metabolik

Asidosis metabolik ditandai dengan bertambahnya asam atau hilangya basa cairan
ekstraseluler. Sebagai kompensasi terjadi alkalosis respiratorik, yang ditandai dengan
pernafasan yang dalam dan cepat (kusmaull). pemberian oralit yang cukup
mengandung bikarbonas atau sitras dapat memperbaiki asidosis.
5. Ileus paralitik

Komplikasi yang penting dan sering fatal, terutama terjadi pada anak kecil sebagai
akibat penggunaan obat antimotilitas. Tanda dan gejala berupa perut kembung,
muntah, peristalsis usus berkurang atau tidak ada. Pengobatan dengan cairan per oral
dihentikan, beri cairan parenteral yang mengandung banyak K+3
6. Kejang3
o Hipoglikemia: terjadi kalau anak dipuasakan terlalu lama. Bila penderita dalam
keadaan koma, glukosa 20% harus diberika iv, dengan dosis 2,5 mg/kgBB,
diberikan dalam waktu 5 menit. Jika koma tersebut disebabkan oleh hipoglikemia
dengan pemberian glukosa intravena, kesadaran akan cepat pulih kembali.
o kejang demam
o Hipernatremia dan hiponatremia
o penyakit pada susunan saraf pusat, yang tidak ada hubungannya dengan diare,
seperti meningitis, ensefalitis atau epilepsy.

7. Malabsorbsi dan intoleransi laktosa

Pada penderita malabsorbsi atau intoleransi laktosa, pemberian susu formula selama
diare dapat menyebabkan:3
- Volume tinja bertambah
- berat badan tidak bertambah atau gejala/tanda dehidrasi memburuk
- dalam tinja terdapat reduksi dalam jumlah cukup banyak.

Tindakan:
a. Mencampur susu dengan makanan lain untuk menurunkan kadar laktosa dan
menghidari efek “bolus”
b. Mengencerkan susu jadi ½-1/3 selama 24 -48 jam. Untuk mengatasi
kekurangan gizi akibat pengenceran ini, sumber nutrient lain seperti makanan
padat, perlu diberikan.
c. Pemberian “yogurt” atau susu ynag telah mengalami fermentasi untuk
mengurangi laktosa dan membantu pencernaan oleh bakteri usus.
d. Berikan susu formula yang tidak mengandung/rendah laktosa, atau ganti
dengan susu kedelai.

8. Malabsorbsi glukosa

Jarang terjadi. Dapat terjadi penderita diare yang disebabkan oleh infeksi, atau
penderita dengan gizi buruk. Tindakan: pemberian oralit dihentikan, berikan cairan
intravena3
9. Muntah

Muntah dapat disebabkan oleh dehidrasi, iritasi usus atau gastritis yang menyebabkan
gangguan fungsi usus atau mual yang berhubungan dengan infeksi sistemik. Muntah
dapat juga disebabkan karena pemberian cairan oral terlalu cepat. Tindakan: berikan
oralit sedikit-sedikit tetapi sering (1 sendok makan tiap 2-3 menit), antiemetic
sebaiknya tidak diberikan karena sering menyebabkan penurunan kesadaran.3
10. Akut kidney injury

Mungkin terjadi pada penderita diare dengan dehidrasi berat dan syok. Didiagnosis
sebagai AKI bila pengeluaran urin belum terjadi dalam waktu 12 jam setelah hidrasi
cukup.3
Pencegahan
1. Mencegah penyebaran kuman pathogen penyebab diare

Kuman-kuman patoggen penyebab diare umumnya disebarkan secara fekal oral.


Pemutusan penyebaran kuman penyebab diare perlu difokuskan pada cara penyebaran
ini. Upaya pencegahan diare yang terbukti efektif meliputi:
a. Pemberian ASI yang benar
b. Memperbaiki penyiapan dan penyimpanan makanan pendamping ASI
c. Menggunakan air bersih yang cukup
d. Membudayakan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sehabis buang air besar
dan sebelum makan
e. Penggunaan jamban yang bersih dan higienis oleh seluruh anggota keluarga
f. Membuang tinja bayi yang benar

2. Memperbaiki daya tahan tubuh pejamu

Cara-cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak dan dapat
juga mengurangi resiko diare antara lain:
a. Memberi ASI paling tidak sampai usia 2 tahun

b. Meningkatkan nilai gizi makanan pendamping ASI dan member makan dalam
jumlah yang cukup untuk memperbaiki status, gizi anak.

c. Imunisasi campak. Pada balita 1-7% kejadian diare behrunbungan dengan


campak, dan diare yang etrjadi umunya lebih berat dan lebih lama (susah diobati,
cenderung menjadi kronis) karena adanya kelainan pada epitel usus. Diperkirakan
imunisasi campak yang mencakup 45-90% bayi berumur 9-11 bulan dapat
mencegah 40-60% kasus campak, 0,6-3,8% kejadian diare dan 6-25% kematian
karena diare pada balita.1,3
d. Vaksin rotavirus, diberikan untuk meniru respon tubuh seperti infeksi alamiah,
tetapi infeksi pertama oleh vaksin tidak menimbulkan, manifestasi diare. Di
dunialah beredar 2 vaksin rotavirus oral yang diberikan sebelum usia 6 bulan
dalam 2-3 kali pemberiian dengan interval 4-6 minggu. 1,8

Prognosis
Bila kita menatalaksanakan diare sesuai dengan 5 pilar diare, sebagian besar (90%) kasus
diare pada anak akan sembuh dalam waktu kurang dari 7 hari, sebagian kecil (5%) akan
melanjut dan sembuh dalam kurang dari 7 hari, sebagian kecil (5%) akan menjadi diare
persisten.8

Daftar Pustaka

1. Subagyo B dan Santoso NB. Diare akut dalam Buku Ajar Gastroenterologi-
Hepatologi Jilid 1, Edisi 1. Jakarta: Badan penerbit UKK Gastroenterologi-Hepatologi
IDAI. 2010:87-110
2. World Health Organization. Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Pedoman
Bagi Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten/Kota. Jakarta: WHO
Indonesia. 2008: 135-55
3. Pickering LK. Gastroenteritis in Nelson textbook of pediatrics 19th edition. United
Stated of Amrica, Lippincot wiliams
4. Gaurino et al. European Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology and
Nutrition/European Society for Paediatric Infectious disease Evidenced Based
Guidelines for Management of Acute Gastroenteritis in Children in Europe. Journal of
Pediatric Gastroenterology and Nutrition 46: S81-184.2008.
5. Firmansyah A dkk. Modul pelatihan Tata laksana diare pada anak. Jakarta: Badan
Koordinasi Gastroenterologi Anak Indonesia.2005.
6. Berkes et al. Intestinal Epithelial responses to enteric pathogens: effect on the tight
junction barrier, ion transport and inflammation. http:www.glut.bmj.com. [di unduh
tanggal 20 April 2018].
7. WHO. Diare dalam Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Pedoman
Bagi Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten Kota. Jakarta: WHO
Indonesia.2009.
8. UNICEF. Oral Rehydration Salt (ORS) A New Reduced Osmolality Formulation.
http:www// rehydrate/ors/oral rehydration salt.htm.2002. [diunduh tanggal 20 April
2018].
9. Suandi IKG. Manajemen nutrisi pada gastroenteritis dalam Kapita Selekta
Gastroenterologi Anak. Jakarta: Sagung Seto. 2007:84-100.
10. Aggarwal et al. Role of Zinc Administration in Prevention of Childhood Diarrhea and
respiratory illness. A merk analisis. Pediatric 2007; 119:1120.
11. Isolaun E. Probiotics: A role in the treatment of intestinal infection and inflammation.
Gut.2002,50 (Supple III):III:54-1159