Anda di halaman 1dari 11

TUGAS PRESENTASI KASUS

TINEA CORPORIS

Pembimbing :
dr. Ismiralda Oke P. Sp. KK

Disusun oleh :
Dannia Riski Ariani
G1A009027

JURUSAN KEDOKTERAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO

2012
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PRESENTASI KASUS

TINEA CORPORIS

Diajukan sebagai syarat untuk melanjutkan proses pembelajaran


Blok Early Clinical and Community Exposure III
Jurusan Kedokteran, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan
Universitas Jenderal Soedirman

Disusun Oleh :

Dannia Riski Ariani G1A009027

Disahkan dan dipresentasikan


di Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
pada Desember 2012

Pembimbing,

dr Ismiralda Oke P. Sp.KK


I. PENDAHULUAN

Tinea korporis merupakan penyakit dermatofita pada kulit glabrosa, selain


kulit kepala, wajah, kaki, telapak tangan dan kaki, janggut dan lipatan paha.
Manifestasi tinea corporis akibat infiltrasi dan proliferasinya pada stratum
korneum dan tidak berkembang pada jaringan yang hidup. Metabolisme dari
jamur dipercaya menyebabkan efek toksik dan respon alergi. Tinea korporis
umumnya tersebar pada seluruh masyarakat tapi lebih banyak di daerah tropis
(Patel, 2006).
Penyakit ini dapat terjadi pada semua umur dan paling sering terjadi pada
iklim yang panas (tropis dan subtropis). Ada beberapa macam variasi klinis
dengan lesi yang bervariasi dalam ukuran derajat inflamasi dan kedalamannya.
Variasi ini akibat perbedaan imunitas hospes dan spesies dari jamur (Goedadi,
2004).
Tinea korporis merupakan infeksi yang umumnya sering dijumpai
didaerah yang panas, Tricophyton rubrum merupakan infeksi yang paling umum
diseluruh dunia dan sekitar 47 % menyebabkan tinea korporis. Tricophyton
tonsuran merupakan dermatofit yang lebih umum menyebabkan tinea kapitis, dan
orang dengan infeksi tinea kapitis antropofilik akan berkembang menjadi tinea
korporis. Prevalensi tinea korporis dapat disebabkan oleh peningkatan
Tricophyton tonsuran, Microsporum canis merupakan organisme ketiga sekitar
14 % menyebabkan tinea korporis (Rushing, 2012).
Tinea korporis ditransmisikan secara langsung dari infeksi manusia atau
hewan melalui autoinokulasi dari reservoir, seperti kolonisasi T.rubrum di kaki.
Pakaian ketat dan cuaca panas dihubungkan dengan banyaknya frekuensi dan
beratnya erupsi. Infeksi dermatofit tidak menyebabkan mortalitas yang signifikan
tetapi mereka bisa berpengaruh besar terhadap kualitas hidup. Prevalensi tinea
corporis sama antara pria dan wanita. Secara geografi lebih sering pada daerah
tropis daripada subtropis ( Fitzpatrick, 1999).
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Tinea korporis adalah penyakit dermatofita pada kulit glabrosa, selain
kulit kepala, wajah, kaki, telapak tangan dan kaki, janggut dan lipatan paha.
Manifestasi tinea corporis akibat infiltrasi dan proliferasinya pada stratum
korneum dan tidak berkembang pada jaringan yang hidup. Metabolisme dari
jamur dipercaya menyebabkan efek toksik dan respon alergi. Tinea korporis
umumnya tersebar pada seluruh masyarakat tapi lebih banyak di daerah tropis
(Patel, 2006).

B. Etiologi
Tinea korporis dapat disebabkan oleh berbagai spesies dermatofit
seperti Trichophyton, Microsporum, dan Epidermophyton. Variasi
penyebabnya dapat ditemukan berdasarkan spesies yang terdapat di daerah
tertentu. Namun demikian yang lebih umum menyebabkan tinea korporis
adalah T.rubrum, T.mentagrophytes, dan M.canis (Patel, 2006)..
Penyakit ini dapat terjadi pada semua umur dan paling sering terjadi
pada iklim yang panas (tropis dan subtropis). Ada beberapa macam variasi
klinis dengan lesi yang bervariasi dalam ukuran derajat inflamasi dan
kedalamannya. Variasi ini akibat perbedaan imunitas hospes dan spesies dari
jamur (Goedadi, 2004).

C. Patofisiologi
Dermatofitosis bukanlah patogen endogen. Transmisi dermatofit
kemanusia dapat melalui 3 sumber masing-masing memberikan gambaran
tipikal. Karena dermatofit tidak memiliki virulensi secara khusus dan khas
hanya menginvasi bagian luar stratum korneum dari kulit (Sobera, 2003).
Lingkungan kulit yang sesuai merupakan faktor penting dalam
perkembangan klinis dermatofitosis. Infeksi alami disebabkan oleh deposisi
langsung spora atau hifa pada permukaan kulit yang mudah dimasuki dan
umumnya tinggal di stratum korneum, dengan bantuan panas, kelembaban dan
kondisi lain yang mendukung seperti trauma, keringat yang berlebih dan
maserasi juga berpengaruh (Rushing, 2006).
Pemakaian bahan yang tidak berpori akan meningkatkan temperatur
dan keringat sehingga mengganggu fungsi barier stratum korneum. Infeksi
dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan individu atau hewan yang
terinfeksi, benda-benda seperti pakaian, alat-alat dan lain-lain. Infeksi dimulai
dengan terjadinya kolonisasi hifa atau cabang-cabangnya dalam jaringan
keratin yang mati. Hifa ini memproduksi enzim keratolitik yang mengadakan
difusi ke dalam jaringan epidermis dan merusak keratinosit (Rushing, 2006).
Setelah masa perkembangannya (inkubasi) sekitar 1-3 minggu respon
jaringan terhadap infeksi semakin jelas dan meninggi yang disebut ringworm,
yang menginvasi bagian perifer kulit. Respon terhadap infeksi, dimana bagian
aktif akan meningkatkan proses proliferasi sel epidermis dan menghasilkan
skuama. Kondisi ini akan menciptakan bagian tepi aktif untuk berkembang
dan bagian pusat akan bersih. Eliminasi dermatofit dilakukan oleh sistem
pertahanan tubuh (imunitas) seluler (Rushing, 2006).

D. Penegakan Diagnosis
Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, serta
pemeriksaan penunjang.
1. Anamnesis
Pasien mengeluhan rasa gatal-gatal, karena rasa gatal semakin
memberat pasien menggaruk lesi sehingga lesi menjadi lebih luas.
2. Pemeriksaan Lokalis
Gambaran klinis dari tinea korporis merupakan lesi anular, bulat atau
lonjong, berbatas tegas terdiri atas eritema, skuama, kadang-kadang
dengan vesikel dan papul di tepi. Daerah tengahnya biasanya lebih tenang
(tanda peradangan lebih jelas pada daerah tepi) yang sering disebut dengan
central healing. Tapi kadang juga dijumpai erosi dan krusta akibat
garukan. Lesi-lesi pada umumnya merupakan bercak-bercak terpisah satu
dengan yang lain. Kelainan kulit dapat juga terlihat sebagai lesi-lesi
dengan pinggir yang polisiklik, karena beberapa lesi kulit yang menjadi
satu. Bila tinea korporis ini menahun tanda-tanda aktif jadi menghilang
selanjutnya hanya meningggalkan daerah-daerah yang hiperpigmentasi
dan skuamasi saja. Kelainan-kelainan ini dapat terjadi bersama-sama
dengan tinea kruris (Djuanda, 2008).
Lesi umumnya bilateral walaupun tidak simetris, berbatas tegas, tepi
meninggi yang dapat berupa bintil-bintil kemerahan atau lenting-lenting
kemerahan, atau kadang terlihat lenting-lenting yang berisi nanah. Bagian
tengah menyembuh berupa daerah coklat kehitaman bersisik. Lesi aktif,
polisiklik, ditutupi skuama dan kadang-kadang disertai dengan banyak
vesikel kecil-kecil. Biasanya disertai rasa gatal dan kadang-kadang rasa
panas. Garukan terus-menerus dapat menimbulkan gambaran penebalan
kulit. Buah zakar sangat jarang menunjukkan keluhan, meskipun
pemeriksaan jamur dapat positif. Apabila kelainan menjadi menahun maka
efloresensi yang nampak hanya macula yang hiperpigmentasi disertai
skuamasi dan likenifikasi (Djuanda, 2008).

3. Pemeriksaan Penunjang
Dalam patogenesisnya, jamur patogen akan menyebabkan kelainan
pada kulit sehingga atas dasar kelainan kulit inilah kita dapat membangun
diagnosis. Akan tetapi kadang temuan efloresensi tidak khas atau tidak
jelas, sehingga diperlukan pemeriksaan penunjang. Sehingga diagnosis
menjadi lebih tepat (Nugroho, 2004).
Pemeriksaan mikroskopik langsung terhadap bahan pemeriksaan
merupakan pemeriksaan yang cukup cepat, berguna dan efektif untuk
mendiagnosis infeksi jamur (Nugroho, 2004).
Pemeriksaan KOH merupakan pemeriksaan tunggal yang paling
penting untuk mendiagnosis infeksi dermatofit secara langsung dibawah
mikroskop memperlihatkan elemen jamur berupa hifa panjang dan
artrospora (hifa yang bercabang) yang khas pada infeksi dermatofita
diantara material keratin (Nugroho, 2004).

E. Penatalaksanaan
1. Non Medikamentosa
Menurut Rushing (2006) penatalaksanaan non medikamentosa pada tinea
corporis adalah
a) Meningkatkan kebersihan badan dan menghindari berkeringat yang
berlebihan
b) Mengurangi kelembaban dari tubuh pasien dengan menghindari
pakaian yang panas dan tidak menyerap keringat (karet, nylon)
c) Menghindari sumber penularan yaitu binatang, kuda, sapi, kucing,
anjing, atau kontak pasien lain.
d) Menghilangkan fokal infeksi ditempat lain misalnya di kuku atau di
kaki.
e) Faktor-faktor predisposisi lain seperti diabetes mellitus, kelaian
endokrin yang lain, leukemia, harus dikontrol.
2. Terapi topikal
Terapi direkomendasikan untuk infeksi lokal karena dermatofit biasanya
hidup pada jaringan. Berbagai macam preparat imidazol dan alilamin
tersedia dalam berbagai formulasi. Dan semuanya memberikan
keberhasilan terapi (70-100%). Terapi topikal digunakan 1-2 kali sehari
selama 2 minggu tergantung agen yang digunakan. Topikal azol dan
allilamin menunjukkan angka perbaikan perbaikan klinik yang tinggi
(Rushing, 2006) Berikut obat yang sering digunakan :
a) Topical azol terdiri atas :
1) Econazol 1 %
2) Ketoconazol 2 %
3) Clotrinazol 1%
4) Miconazol 2%
Derivat imidazol bekerja dengan cara menghambat enzim 14-alfa-
dimetilase pada pembentukan ergosterol membran sel jamur (Rushing,
2006).
b) Allilamin bekerja menghambat allosterik dan enzim jamur skualen 2,3
epoksidase sehingga skualen menumpuk pada proses pembentukan
ergosterol membran sel jamur yaitu aftifine 1 %, butenafin 1%
Terbinafin 1% (fungisidal bersifat anti inflamasi ) yang mampu
bertahan hingga 7 hari sesudah pemakaian selama 7 hari berturut-
turut (Rushing, 2006).
c) Sikloklopirosolamin 2% (cat kuku, krim dan losio) bekerja
menghambat masuknya bahan esensial selular dan pada konsentrasi
tinggi merubah permeabilitas sel jamur merupakan agen topikal yang
bersifat fungisidal dan fungistatik, antiinflamasi dan anti bakteri serta
berspektrum luas.
d) Kortikosteroid topikal yang rendah sampai medium bisa ditambahkan
pada regimen anti jamur topikal untuk menurunkan gejala. Tetapi
steroid hanya diberikan pada beberapa hari pertama dari terapi
(Rushing, 2006).

3. Terapi sistemik
Menurut Kuswadji (2004) pedoman yang dikeluarkan oleh
American Academy of Dermatology menyatakan bahwa obat anti jamur
(OAJ) sistemik dapat digunakan pada kasus hiperkeratosis terutama pada
telapak tangan dan kaki, lesi yang luas, infeksi kronis, pasien
imunokompromais, atau pasien tidak responsif maupun intoleran terhadap
OAJ topikal.

a) Griseofulvin
Obat ini berasal dari penicillium griceofulvum dan masih dianggap
baku emas pada pengobatan infeksi dermatofit genus Trichophyton,
Microsporum, Epidermophyton. Berkerja pada inti sel, menghambat
mitosis pada stadium metafase.

b) Ketokonazol
Merupakan OAJ sistemik pertama yang berspektrum luas, fungistatik,
termasuk golongan imidazol. Absorbsi optimum bila suasana asam.

c) Flukonazol
Mempunyai mekanisme kerja sama dengan golongan imidazol, namun
absorbsi tidak dipengaruhi oleh makanan atau kadar asam lambung.
d) Itrakonazol
Merupakan OAJ golongan triazol, sangat lipofilik, spektrum luas,
bersifat fungistatik dan efektif untuk dermatofita, ragi, jamur dismorfik
maupun jamur dematiacea. Absorbsi maksimum dicapai bila obat
diminum bersama dengan makanan.

e) Amfosterin B
Merupakan anti jamur golongan polyen yang diproduksi oleh
Streptomyces nodosus. Bersifat fungistatik, pada konsentrasi rendah
akan menghambat pertumbuhan jamur, protozoa dan alga. Digunakan
sebagai obat pilihan pada pasien dengan infeksi jamur yang
membahayakan jiwa dan tidak sembuh dengan preparat azol.

F. Prognosis
Untuk tinea korporis yang bersifat lokal, prognosisnya akan baik
dengan tingkat kesembuhan 70-100% setelah pengobatan dengan azol topikal
atau allilamin atau dengan menggunakan anti jamur sistemik ( Rushing,
2006).
G. Komplikasi
Komplikasi yag terjadi akibat tinea corporis adalah ekskoriasi dan
infeksi sekunder oleh bakteri akibat garukan. Infeksi umum disebabkan
oleh streptococcus pyogenes. Bisa juga terjadi selulitis dan reaksi alergi
(Fitzpatrick, 1999).
III. KESIMPULAN

1. Pasien datang ke poli kulit dan kelamin dengan keluhan gatal-gatal di regio
antebrachii sinistra.
2. Diagnosis kerja pasien ini tinea corporis.
3. Tinea korporis merupakan infeksi yang umumnya sering dijumpai didaerah
yang panas, Tricophyton rubrum merupakan infeksi yang paling umum
diseluruh dunia dan sekitar 47 % menyebabkan tinea korporis.
4. Tinea korporis dapat disebabkan oleh berbagai spesies dermatofit seperti
Trichophyton, Microsporum, dan Epidermophyton
5. Penegakkan diagnosis didapatkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik serta
pemeriksaan penunjang.
6. Untuk tinea korporis yang bersifat lokal, prognosisnya akan baik dengan
tingkat kesembuhan 70-100% setelah pengobatan dengan azol topikal atau
allilamin atau dengan menggunakan anti jamur sistemik.
IV. DAFTAR PUSTAKA

Djuanda A, Hamzah M, Aisah S.. Bab II. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi
Kelima. Cetakan ke-2. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Jakarta:2008, halaman 92-99

Fitzpatrick TB, Johnson RA, Wolff K, Suurmond D. Colour atlas and synopsis of
clinical dermatology. Athed New York: Mc graw hill.1999.

Goedadi MH, Suwito PS. Tinea korporis dan tinea kruris. In : Budimulja U,
Kuswadji, Bramono K, Menaldi SL, Dwihastuti P, Widaty S, editors.
Dermatomikosis superfisialis. Jakarta: Balai penerbit FKUI, 2004.p.31-4.

Kuswadji, Widaty KS. Obat anti jamur. In : Budimulja U, Kuswadji, Bramono K,


Menaldi SL, Dwihastuti P, Widaty S, editors. Dermatomikosis superfisialis.
Jakarta: Balai penerbit FKUI, 2004.p.108-16.

Nugroho SA. Pemeriksaan penunjang diagnosis dermatomikosis superfisialis. In :


Budimulja U, Kuswadji, Bramono K, Menaldi SL, Dwihastuti P, Widaty S,
editors. Dermatomikosis superfisialis. Jakarta: Balai penerbit FKUI,
2004.p.99-106.

Patel S, Meixner JA, Smith MB, McGinnis MR. Superficial mycoses and
dermatophytes. In : Tyring SK, Lupi O, Hengge UR, editors. Tropical
dermatology. China: Elsenvier inc, 2006. p.185-92.

Rushing ME. Tinea corporis. Online journal. 2012 December 14; available from;
http://www.emedicine.com/asp/tinea corporis/article/page type=Article.htm

Sobera JO, Elewski BE. Fungal disease. In : Bolognia JL, Jorizzo JL, Raiini RP,
editors. Dermatology. Spain : Elsevier Science; 2003. p.1174-83.