Anda di halaman 1dari 1

2 Oktober 2009

Hari ini adalah hari kelima kami menjalankan BIOPKMB.

Tanpa terasa besok sudah tanggal 3 Oktober 2009. Dan besok adalah hari terakhir kami
menjalani BIOPKMB.

Hari ini kelompok kami hamper saja berangkat kesiangan. Hal tersebut dikarenakan, kami lupa
membawa tugas. Untungnya ada anggota kelompok kami yang mengingatkan. Perwakilan kami, segera
mengambil tugas tersebut.

Untuk membagi waktu agar lebih efisien, kita berpencar. Yang penting kita bertemu di depan
gerbang fakultas kedokteran dan ilmu – ilmu kesehatan. Ada yang berpencar membeli snak pagi, ada
yang mengambil barang yang tertinggal di kos – kosan, ada juga yang membawa botol minuman mereka.
Yah pokoknya kami bagi tugas deh. Kelompok kami wajib bin kudu kompak. Kalau gak kompak, ntar bisa
– bisa nilai kami dikurangi oleh kakak DISMA deh. Hiks… hiks.. Yang penting kami usaha. Karena kami
tidak ingin terkenal sebagai kelompok muluran atau telatan.

Waktu sudah menunjukkan pukul 06.25. Akhirnya mereka pun datang. Hampir saja kami kena
semprot oleh DISMA. Lalu kakak DISMA menyuruh kami untuk cepat – cepat naik ke atas. Karena acara
hamper dimulai.

Waktu terus berlalu. Kami pun memulai acara. Acaranya seperti studi kasus tentang Prita mulya
dengan Rumah sakit Internasional Bintaro. Dalam diskusi tersebut, sangat ramai dan heboh sekali.
Mereka saling menganggap kalau pendapat kita yang benar, sedangkan orang lain salah. Diskusi tersebut
jika diambil Intisarinya maka akan berbunyi :

Prita disuntik terus menberus sampai bengkak. Akhirnya dia lapor ke pihak Manajemen Omni.
Tetapi laporan prita tersebut, hanya di masukkan pada kotak saran bukan complain. Akhirnya, dia
menulis e-mail. Dan pihak Omni merasa tersinggung. Lalu melaporkan kejaksaan.

Sebenarna jika dilihat dari kisah ini, ke dua belah pihak, sam – sama salah. Dari pihak prita, dia
sepertinya mencemarkan nama baik rumah sakit omni. Karena tidak ada yang di sensor. Sedangkan dari
pihak ruman sakit omni juga salah, karena tidak mau menerima complain dari pasien. Dan pasien
kehilangan hak – haknya.

Setelah acara selanjutnya adalah diskusi tentang tema dokter cinta tanah air. Diskusi ini juga
berjalan aktif. Jika dirangkumkan intisari dari diskusi tersebut berbunyi Dokter cinta tanah adalah dokter
yang mau ditempatkan dimana saja. Dan tidak pandang bulu pada suku, dan ras tertentu. Dan mau
mengabdikan dirinya untuk kepentingan kemaskahatan Bangsa dan Negara Indonesia.