Anda di halaman 1dari 3

Dr.

Mambodyanto Sumoprawiro, SH, MMR


Ketua KAWIKU Purwokerto

Pria kelahiran 59 tahun lalu di desa Jati Kawedanan Doplang


kecamatan Randu Blatung Kabupaten Blora ini merupakan lulusan alumni Unwiku
Fakultas Hukum. Beliau menjabat sebagai Ketua Keluarga Alumni Universitas
Wijayakusuma Wilayah Purwokerto.

Bapak 2 orang putra dan 2 orang putri ini menganut Falsafah hidup orang Jawa yaitu
Nrimo Ing Pandum.Falsafah ini selalu tercermin dalam kehidupannya sehari-
hari,termasuk dalam pekerjaannya.

Menurutnya, Nrimo ing pandum memiliki arti bahwa kita sebagai manusia ciptaan-
Nya senantiasa sumeleh, bukan berdiam diri tanpa berusaha atau mengharapkan
pemberian saja. Berusaha untuk selalu melakukan yang terbaik, meski apa yang
dilakukannya belum tentu dianggap benar menurut orang lain. Yang terpenting
baginya adalah komitmen untuk tetap semangat dan melakukan yang terbaik.

“Jujur prasojo, ora usah neko-neko” tambahnya.

Perjalanan pendidikan dr. Mambo, sapaan akrabnya, dimulai dari SR (Sekolah


Rakyat). Setamatnya dijenjang ini, kemudian melanjutkan ke SMP dan SMA di
Semarang. Harapan orang tuanya yang menghendaki agar dirinya menjadi dokterpun
terwujud. Dia kemudian kuliah di Fakultas Kedokteran UNDIP Semarang.

Kecintaan terhadap tanaman-tanaman yang sudah digemarinnya sejak kecil ini


mendapat penghargaan Kalpataru dalam kategori Pembina Lingkungan pada tahun
1996 dan 2002.

Perjalanan karir dr. Mambo dimulai tahun 1980 di Puskesmas Kebasen. Kegigihannya
untuk membantu sesama ini membuahkan hasil dengan menjadikannya puskesmas
terbesar di Jawa Tengah dengan fasilitas inap tempat tidur 65 dan jumlah pasien 90
lebih, sehingga harus dititipkan di kantor Dinas Pendidikan Terdekat. Pasien
pribadinya mencapai 300 orang per hari.

Berkat perjuangannya ini pula akhirnya dr. Mambo memperoleh penghargaan sebagai
Dokter Teladan Tingkat II Banyumas pada tahun 1986.

Pada tahun 1989 dr. Mambo menjabat sebagai Direktur RS.Banyumas. Perjuangannya
tidak hanya sampai disini, dia selalu berusaha untuk selalu lebih baik. Akhirnya RS.
Banyumas memperoleh penghargaan sebagai Rumah Sakit Manajemen Terbaik,
Pelayanan Terbaik, Sayang Ibu Sayang Anak sampai terakreditasinya rumah sakit
tersebut.

Pada tahun 1993 dr. Mambo menjadi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas.

Di tahun 1994, dr. Mambo memperoleh gelar Magister Management Rumah Sakit.

Mengingat keaktifannya dalam kepengurusan IDI sebagai Majelis Pembela, dr.


Mambo kemudian mengambil S1 Ilmu Hukum di Universitas Wijayakusuma.

Pada tahun 1998 dr. Mambo menjabat Direktur Rumah Sakit Margono. Di bawah
kepemimpinannya, Rumah Sakit Propinsi ini mendapat penghargaan dari Presiden
Megawati sebagai Rumah Sakit Citra Pelayanan Prima, Gugus Kendali Mutu
Manajemen (mendapat 2 kali medali perak), Rumah Sakit Terakreditasi Sempurna dan
Rumah Sakit Pendidikan. Sementara pribadinya mendapat penghargaan sebagai The
Best Action Award dari Australia.

Tidak hanya karir sebagai dokter yang ia tekuni, tapi kemudian menjalani karir
dibidang pendidikan. Dr. Mambo menjadi Dosen Di Fakultas Kedokteran UNSOED,
Ketua Program Pendidikan/Dekan Fakultas Kedokteran UNSOED tahun 2001 sampai
sekarang.

Selama di Fakultas Kedokteran UNSOED ini, dr. Mambo memperoleh sejumlah


penghargaan diantaranya penghargaan Debat berbahasa Inggris kualifikasi A (dari 56
FK, 7 diantaranya mendapat kualifikasi A), Keunggulan Student Center Learning
(SCL) dengan problem Based Learning yang digunakannya menggunakan metode
blok menjadi pionir di UNSOED, pengiriman mahasiswa Austarlia dan Jepang
melalui Word Federation Medical Education dengan evaluasi standart OSCA,
penghargaan DIKNAS dalam program Unggulan Nasional: Persemaian Insan
Indonesia Cerdas Semua yang ditampung Fakultas Kedokteran UNSOED.

Sebagai alumni UNWIKU, dr. Mambo merasa bangga terhadap almamaternya,


terlebih pada kepercayaan yang begitu besar dengan menjadikannya sebagai Ketua
Alumni.

Keinginan untuk melihat UNWIKU maju adalah harapan sekaligus impian dr.
Mambo. Dia mengajak untuk secara bersama-sama membangun kembali UNWIKU.

“ Mari kita bersama membenahi lembaga, ini diperlukan saling keterbukaan. Penting
sekali kita dapat bertelanjang bulat untuk mengenali kekurangan diri, dengan
demikian dapat diperoleh refleksi untuk kemajuan melalui kesalahan yang telah
dibuatnya. Jangan menonjolkan kepentingan kelompok atau golongan. Karena yang
perlu diutamakan adalah kepentingan UNWIKU” ujarnya dengan semangat.

Kepedulian terhadap almamaternya ini dibuktikan dengan kesediaannya memberikan


sumbangsih waktu dan pemikiran untuk UNWIKU. Kekeluargaan dan kebersamaan
dalam almamaternya inilah yang terus menjadi kenangan. Dr. Mambo merasa
nyaman.

Mengenai kondisi yang sekarang dialami UNWIKU, membuatnya sense of belonging.


Menurutnya sangat diperlukan loyalitas pada UNWIKU, jangan pernah berpikir apa
yang didapatkan dari UNWIKU tetapi berpikirlah apa yang bisa diberikan pada
UNWIKU.

Untuk mengembalikan kejayaan UNWIKU, diperlukan penataan manajemen.


Komando utamanya yaitu MUTU, dengan kiat-kiat kualifikasi jaminan mutu (butir-
butir mutu): Dosen, Administrasi, Calon Mahasiswa, Sarana dan Prasarana, Tata
Pamong/Struktur Organisasi, Metode/Sistem (Problem Based Learning: Kurikulum
Berbasis Kompetensi), Informasi, Lahan Praktek/Laboratorium dan Pendanaan.

“Namun yang terpenting adalah adalah peningkatan yang terus menerus (kontinyu)”
pesannya menutup pembicaraan.