Anda di halaman 1dari 14

Inventarisasi dan keamanan

a. Kondisi yang baik


Pada suatu laboratorium yang baik, kegiatan inventarisasi dan keamanan laboratorium meliputi
:
1) Semua kegiatan inventarisasi harus memuat sumber dana dari mana alat-alat ini dibeli atau
diperoleh. Biasanya berhubungan dengan kegiatan administrasi, misalnya penggantian
alat-alat yang rusak, barang masuk dan barang keluar.
2) Keamanan laboratorium ditujukan agar peralatan laboratorium tersebut harus tetap berada
di dalam laboratorium. Apakah ada yang hilang, dicuri, pindah tempat, namun tidak
dilaporkan keadaan yang sebenarnya. Ingat bahwa barang-barang/dan semua peralatan
laboratorium yang ada adalah milik negara, jadi harus tetap tidak boleh ada yang hilang.
Tujuan yang ingin dicapai dan Inventarisasi dan keamanan ini adalah :

1) Mencegah kehilangan dan penyalah gunaan


2) Mengurangi biaya-biaya operasi
3) Meningkatkan proses pekerjaan dan hasilnya
4) Meningkatkan kualitas kerja
5) Mengurangi resiko kehilangan
6) Mencegah pemakaian yang berlebihan
7) Meningkatkan kerjasama.

Dalam mempermudah pemeriksaan perlu dilakukan inventarisasi secara sistematik yang


disusun dalam sebuah buku atau secara komputerisasi. Hal yang perlu diperhatikan dalam
inventarisasi yaitu :

1) Kode alat/bahan
2) Nama alat/bahan
3) Spesifikasi alat/bahan (merk,tipe dan pabrik pembuatan)
4) Sumber pemberi alat dan tahun pengadaan
5) Jumlah atau kuantitas
6) Kondisi alat baik atau rusak

Inventarisasi merupakan suatu proses pendokumentasian seluruh sarana dan prasarana serta
aktivitas laboratorium. Untuk keperluan administrasi diperlukan beberapa format yaitu :

1) Format A : Data ruangan laboratorium


2) Format B1 : Kartu barang
3) Format B2 : Daftar barang
4) Format B3 : Daftar penerimaan/pengeluaran barang
5) Format B4 : Daftar usulan/penerimaan barang
6) Format C1 : Kartu alat
7) Format C2 : Daftar alat
8) Format C3 : Daftar penerimaan.pengeluaran alat
9) Format C4 : Daftar usulan/permintaan alat
10) Format D1 : Kartu zat
11) Format D2 : Daftar zat
12) Format D3 : Daftar penerimaan/pengeluaran zat
13) Format D4 : Daftar usulan/permintaan zat
Sistem keamanan laboratorium yang baik dapat mengurangi sejumlah risiko, seperti:

1) Pencurian atau penyalahgunaan peralatan yang sangat penting atau bernilai tinggi;
Pencurian atau penyalahgunaan bahan kimia atau bahan “penggunaan ganda“ yang
mungkin digunakan untuk kegiatan ilegal;
2) Ancaman dari kelompok aktivis;
3) Pelepasan atau pemaparan bahan berbahaya secara tidak sengaja atau sengaja
4) Sabotase bahan kimia atau peralatan bernilai tinggi
5) Publikasi informasi sensitif; dan
6) Pekerjaan ilegal atau eksperimentasi laboratorium yang tidak sah.
Sistem keamanan harus membantu:
1) Mendeteksi potensi masalah, termasuk pembobolan atau pencurian;
2) Menunda kegiatan kejahatan dengan membuat penghalang dalam bentuk pengendalian
pegawai dan akses; dan
3) Menanggapi masalah.

Ada banyak sistem yang tersedia untuk keamanan laboratorium. Pilihan dan penerapan sistem
bergantung pada tingkat keamanan yang dibutuhkan dan sumber
daya yang tersedia.
1) Penjaga dan Prosedur Keamanan
2) Kunci Pintu
3) Jaringan Televisi Tertutup (CCTV)
4) Alarm kaca pecah untuk jendela dan pintu.
5) Alarm pembobolan dan alarm kebakaran.
6) Perangkat keras untuk mencegah perusakan jendela dan/atau kunci pintu.
7) Penerangan untuk tempat yang dapat digunakan untuk memasuki daerah aman.
8) Kunci untuk akses atap.
9) Tembok, pagar, dan semak pembatas.
10) Tembok internal yang dibangun dari lantai hingga langit-langit ruang.
11) Rangka pintu yang tidak dapat dirusak.
12) Tirai jendela
13) Lencana atau bentuk tanda pengenal lainnya.
14) Catatan masuk.
b. Kondisi Saat Observasi
Berdasarkan hasil observasi kami dengan mengunjungi laboratorium Struktur dan
Perkembangan di ruangan gedung C10.01.01.04, Jurusan Biologi FMIPA Unesa mengenai
pengamanan laboratorium telah didapatkan sebuah hasil dengan cara dokumentasi, yaitu :

1) Kelebihan
a.) Daftar inventarisasi sudah tersedia (alat praktikum dan alat meubel) dan ditempelkan
dengan pigora. Pigora dapat melindunginya agar tahan lama dan tidak rusak.
b.) Untuk sistem keamanan, sudah ada alarm kebakaran. Untuk mengantisipasi terjadinya
peristiwa kebakaran.
c.) Menggunakan kunci ganda pada pintu laboratorium.
d.) Terdapat tembok sebagai pembatas antara ruangan yang satu dengan ruangan yang lain.
e.) Terdapat trails pada jendela agar pencuri tidak dapat masuk melalui jendela.
2) Kekurangan
a. Tidak adanya daftar inventarisasi yang didasarkan pada penggolongan alat dan bahan.
b. Tidak dilakukannya pengecekan jumlah barang yang rusak dengan barang yang masih
dapat digunakan secara rutin.
c. Pelaporan barang kurang terstruktur.
d. Tidak ada sistem keamanan laboratorium menggunakan CCTV dan penjaga keamanan
laboratorium di jurusan.
e. Rangka pintu masih dapat dirusak atau dibobol.
f. Kurang diterapkan lencana atau tanda pengenal bagi tamu yang datang di lingkungan
biologi.
g. Tidak digunakannya catatan masuk.
h. Tidak ada alarm kaca pecah pada pintu dan jendela jika pencuri berusaha untuk masuk
di dalam laboratorium.

3) Saran
a. Seharusnya, pengelola laboratorium terutama laboran harus memiliki ketrampilan
professional dalam mengelola adminitrasi dan dilakukan pengecekan barang secara
rutin untuk mengetahui jenis barang apa yang sudah rusak atau yang hilang. Dan harus
ditingkatkan dalam pelaporan barang agar pencatatan lebih terstruktur.
b. Sebaiknya dilakukan penggolongan daftar inventarisasi berdasarkan jenis alat dn bahan
kimia. Seperti daftar inventarisasi alat meubel, alat praktikum, bahan kimia, bahan non
kimia, bahan gelas dan sebagainya.
c. Untuk sistem keamanan, sebaiknya diterapkan atau digunakan tanda pengenal bagi
tamu yang masuk di lingkungan biologi dan diwajibkan untuk mengisi daftar tamu.
d. Adanya tambahan pekerja untuk dilakukan patrol keamanan di sekitaran laboratorium
dan dipasangnya kamera CCTV di setiap sudut ruangan.
i. Memasang alarm kaca pecah pada pintu dan jendela jika pencuri berusaha untuk masuk
di dalam laboratorium.
j. Memasang perangkat keras untuk mencegah perusakan jendela dan/atau kunci pintu.
Dan penerangan untuk tempat yang dapat digunakan untuk memasuki daerah aman.

Pengamanan laboratorium
a. Kondisi yang baik
Pada suatu laboratorium yang baik, sangat wajib untuk menyediakan dan mencantumkan
beberapa petunjuk umum pengamanan laboratorium. Hal ini perlu dilakukan agar setiap
laboran, mahasiswa dan dosen dapat bekerja dengan aman.
Prinsip umum pengamanan laboratorium, yaitu :
1) Tanggung jawab
Kepala laboratorium, anggota laboratorium termasuk asisten bertanggung jawab penuh
terhadap segala kecelakaan yang mungkin timbul. Oleh karena itu, kepala laboratorium
seharusnya dijabat oleh orang yang kompeten dibidangnya, termasuk juga teknisi dan
laborannya.
2) Kerapian
Semua koridor, jalan keluar, kotak P3K dan alat pemadam api harus bebeas dari hambatan
seperti botol-botol dan kotak. Lantai harus bersih dan bebas minyak, air dan material lain
yang mungkin menyebabkan lantai menjadi licin. semua alat-alat dan reagen bahan kimia
yang telah digunakan harus dikembalikan seperti semula pada saat sebelum digunakan.
3) Kebersihan
Kebersihan dalam laboratorium menjadi tanggung jawab bersama pengguna laboratorium.
4) Konsentrasi terhadap pekerjaan
Setiap pengguna laboratorium harus memiliki konsentrasi penuh terhadap pekerjaannya
masing-masing, tidak boleh mengganggu pekerjaan orang lain dan tidak boleh
meninggalkan percobaan yang memerlukan perhatian penuh.
5) Pertolongan pertama (First-Aid)
Semua kecelakaan bagaimanapun ringannya, harus ditangani di tempat dengan
memberikan pertolongan pertama. Misalnya bila mata tepercik harus segera dialiri air
dalam jumlah yang banyak. Jika tidak bisa, segera panggil dokter. Sehingga setiap
laboratorium harus memiliki kotak P3K dan harus selalu dikontrol isinya.
6) Pakaian
Saat bekerja di laboratorium dilarang memakai baju longgar, kancing terbuka, berlengan
panjang, kalung teruntai, anting besar dan lain-lain yang mungkin tersangkut oleh mesin.
Selain pakaian, rambut juga harus diikat rapi agar terhindar dari bahan kimia dan api.
7) Berlari di laboratorium
Didalam laboratorium dilarang untuk berlari, berjalanlah di tengah koridor untuk
menghindari tabrakan dengan orang lain dari pintu masuk atau keluar dan agar bahan kimia
tidak tumpah dan alat-alat yang ada tidak pecah.
8) Pintu-pintu
Pintu-pintu harus dilengkapi jendela pengintip dan ventilasi udara pada jendela untuk
mencegah terjadinya kecelakaan (misalnya kebakaran).
9) Alat-alat
Alat-alat seharusnya ditempatkan ditengah meja, agar alat alat tersebut tidak jatuh ke lantai.
Selain itu, peralatan sebaiknya juga ditempatkan dekat dengan sumber listrik jika memang
peralatan tersebut memerlukan listrik. Demikian juga untuk alat-alat yang menggunakan
air ataupun gas sebagai sarana pendukung.
 Berikut terdapat beberapa petunjuk penanganan alat-alat yaitu :
1) Alat-alat kaca
Bekerja dengan alat-alat kaca sangat berhati-hati sekali. Gelas beaker, flask, testtube,
erlenmeyer, dan sebagainya, sebelum dipanaskan harus benar-benar diteliti apa
retak/tidak retak, rusak/sumbing semuanya harus diteliti. Bila terdapat seperti ini,
barang-barang tersebut tidak dapat dipakai.
2) Mematahkan pipa kaca/batangan kaca, jika hal tersebut hendak dilakukan maka
pekerja harus memakai sarung tangan. Bekas pecahan pipa kaca, permukaannya
dilicinkan dengan api lalu beri silicon grease (gemuk silicon), baru kemudian
masukkan kesumbat gabus atau kaca atau pipet
3) Mencabut pipa kaca dari gabus dan sumbat. Hal di atas dilakukan dengan hati-hati.
Bila sukar mencabutnya, potong dan belah gabus itu. Untuk memperlonggar, lebih
baik pelubang gabus yang ukurannya telah cocok. dengan pipa, licinkan dengan
meminyaki dan kemudian putar perlahan-lahan melalui sumbat. Cara ini juga
digunakan untuk memasukkan pipa kaca kedalam sumbat.
4) Alat-alat kaca yang bergerigi atau sumbing. Jangan gunakan alat-alat kaca yang
sumbing atau retak. Cuci bersih, mana tahu kemungkinan dapat diperbaiki sebelum
dibuang.
5) Pemberian label; semua bejana seperti botol, flask, test tube dan lain-lain harus diberi
label yang jelas. Jika tidak jelas, test-lah dengan hati-hati secara terpisah isi bejana
yang belum diketahui secara pasti, kemudian dibuang melalui carayang sesuai dengan
jenis zat kimia tersebut. Biasakanlah menulis tanggal, namaorang yang membuat,
konsentrasi, nama dan bahayanya dari zat-zat kimia yang ada dalam bejana.
6) Tabung-tabung gas
Ini harus ditangani dengan hati-hati walau penuh ataupun tidak penuh. Simpan
ditempat yang sejuk dan hindari dari tempat yang panas. Kran gas harus selalu
tertutup jika tidak dipakai, demikian juga dengan kran pengatur. Alat-alat yang
berhubungan dengan tabung gas harus memakai "Safety Use" (sejenis alat pengaman
jika terjadi tekanan yang kuat). Sekarang banyak jenis pengaman seperti selang anti
bocor dan lain-lain.
7) Pipet
Sebaiknya hindarkan penggunaan pipet dengan jalan mengisap dengan mulut.
Pakailah pipet yang menggunakan pompa pengisap (pipet pump). Jangan terlalu kuat
dan dalam memasukkan pipet kedalam pompa pengisap, supaya pipet tidak pecah dan
pompa pengisap tidak rusak. Awas jangan ada cairan yang masuk ke pompa pengisap,
karena pipet harus tegak lurus keatas dalam pemakaiannya.
8) Aliran gas dari sumber utama
Persediaan gas untuk alat-alat pembakar harus dimatikan pada kran utama yang ada
di bench, tidak hanya pada kran, tapi jangan pada alat yang dipakai. Kran untuk
masing-masing Lab harus dipasang diluar Lab pada tempat yang mudah dicapai dan
diberi label yang jelas serta diwarnai dengan wama yang spesifik. Dalam laboratorium
harus tetap ada alat pemadam kebakaran (Fire- Extinguisher), untuk memadamkan
api yang ditimbulkan oleh gas (lihat alat pemadam kebakaran yang khusus).
9) Melepaskan tutup kaca yang kencang (seret)
Ketok berganti-ganti sisi tutup botol yang ketat tersebut, dengan sepotong kayu,
sambil menekannya dengan ibu jari pada sisi yang berlainan/berlawanan dengan
ketokan. Jangan coba membuka tutup botol secara paksa, lebih-lebih jika isinya
berbahaya atau mudah meledak. Dibawah pengawasan kepala Laboratorium,
panaskanlah leher botol dengan air panas secara perlahan-lahan, lalu coba
membukanya. Jika gagal juga goreslah sekeliling leher botol dengan alat pemotong
kaca untuk dipatahkan. Lalu pindahkan isi botol kedalam botol yang baru
10) Kebakaran
Untuk menanggulangi bahaya kebakaran, perlu diketahui klasifikasi bahan dan alat
pemadam kebakaran yang sesuai.
 Banyak tindakan yang meningkatkan keselamatan juga meningkatkan keamanan,
termasuk:
1) Meminimalkan penggunaan bahan kimia berbahaya untuk mengurangi risiko;
2) Meminimalkan persediaan bahan yang dimiliki;
3) Meminimalkan waktu penyimpanan yang diperlukan untuk bahan tersebut;
4) Membatasi akses bagi mereka yang membutuhkan penggunaan bahan yang berbahaya
dan memahami risiko keselamatan dan keamanan; dan
5) Mengetahui apa yang harus dilakukan dalam keadaan darurat dan mengenali
ancaman.
b. Kondisi Saat Observasi
Berdasarkan hasil observasi kami dengan mengunjungi laboratorium Struktur dan
Perkembangan di ruangan gedung C10.01.01.04, Jurusan Biologi FMIPA Unesa mengenai
pengamanan laboratorium telah didapatkan sebuah hasil dengan cara dokumentasi, yaitu :
1) Kelebihan
 Semua bejana yang berisi larutan atau reagen sudah dilakukan pemberian label,
sehingga para pengguna laboratorium yang akan menggunakan larutan tersebut dapat
menggunakannya langsung dengan mudah tanpa ragu-ragu namun harus tetap waspada.
 Semua alat-alat yang membutuhkan listrik, letakknya sudah berdekatan dengan sumber
listrik. Sehingga tidak terlalu membahayakan dan tidak terlalu banyak menggunakan
kabel olor. Misalnya kipas angin dan kulkas.
 Semua alat-alat yang terbuat dari kaca telah dibedakan dan diletakkan pada lemari lain.
Untuk menghindari resiko jatuh dan pecah.
 Sudah memiliki tabung pemadam kebakaran yang diletakkan dekat dengan ruang
persiapan yang dapat digunakan sewaktu-waktu bila terjadi kebakaran.
2) Kekurangan
 Tidak terdapatnya poster atau panduan tentang pengamanan laboratorium misalnya
petunjuk pengunaan alat dan simbol-simbol bahan kimia yang berbahaya yang bersifat
korosif atau mudah terbakar di dalam laboratorium
.
 Sudah tersedia kotak P3K, namun obat-obat yang ada tidak lengkap sebagai pertolongan
pertama.
 Tidak adanya jalur evakuasi.
 Tidak terdapatnya jalan darurat misalnya adanya dua pintu dalam satu laboratorium dan
kaca jendela yang sewaktu waktu dapat dipecah. Sedangkan di laboratorium struktur dan
perkembangan, jendelanya dibatasi oleh trailis. Sehingga sangat sulit untuk dijadikan
sebagai jalan darurat.
 Tidak adanya emergency call.

3) Saran
 Seharusnya dibedakan antara bahan yang mudah terbakar dan bahan-bahan yang dapat
digunakan untuk memadamkan api (air,busa,tepung,halon,karbondioksida dan pasir)
dengan memberikan adanya wawasan atau sosialisasi terlebih dahulu oleh dosen atau
asisten dosen sebagai petunjuk pengamanan atau dengan hanya membaca poster atau
simbol-simbol yang ada berupa petunjuk.
 Sebaiknya para pengguna laboratorium harus bisa menempatkan dirinya dalam
berpakaian, jika ingin beraktivitas di dalam laboratorium.
 Sebaiknya para pengguna laboratorium juga harus berhati-hati dalam bekerja
menggunakan alat-alat dan bahan di dalam laboratorium dan harus ada yang mendampingi
baik itu asisten dosen atau dosen.
 Sebaiknya dilakukan pengecekan setiap hari terhadap isi dari kotak P3K, jika mahasiswa
sewaktu-waktu membutuhkannya.
 Seharusnya alat-alat yang digunakan praktikum yang telah rusak sebaiknya langsung
diganti dengan yang baru agar para pengguna laboratorium tidak terluka.
 Sebaiknya dibuatkan adanya jalur khusus seperti jalur evakuasi dan pintu darurar yang
dapat dipakai jika terjadi kecelakaan atau kebakaran. Dan harus terdapat stiker emergency
call.

Tata Tertib (Disiplin)


Disiplin di dalam laboratorium tidak hanya diterapkan oleh pengelola laboratorium
(koordinator laboratorium, kepala laboratorium, teknisi laboratorium, dan laboran), melainkan
juga berlaku bagi seluruh warga jurusan seperti dosen, mahasiswa dan merupakan tanggung jawab
bersama. Pengelola laboratorium harus menerapkan disipilin yang tinggi pada seluruh pengguna
laboratorium agar terwujud efisiensi kerja yang tinggi. Kedisiplinan sangat dipengaruhi oleh pola
kebiasaan dan perilaku dari manusia itu sendiri. Oleh sebab itu pengelola laboratorium harus
menyadari tugas, wewenang dan fungsinya. Diharapkan dengan adanya tata tertib laboratorium
yaitu mahasiswa dapat mengetahui tata tertib dalam laboratorium dan dapat menjalankan sesuai
dengan yang diharapkan dan dapat menjalankan atau mematuhi segala aturan yang telah dibuat.
Selain itu di dalam laoratorium terdapat berbagai alat yang memiliki nilai inventaris besar serta
bahan-bahan kimia yang dapat menimbulkan berbahaya.

Tata tertib laboratorium merupakan serangkaian aturan yang dibuat oleh pihak pengelola
laboratorium untuk menjamin terlaksananya tata kelola laboratorium yang baik sehingga dapat
memberikan manfaat yang besar bagi para civitas akademika pada khususnya dan masyarakat
umum. Tata tertib laboratorium ini dibuat sebagai bentuk kepedulian terhadap pengguna
laboratorium dengan tujuan agar kegiatan laboratorium menjadi lancar serta lingkungan tidak tidak
tercemar. Dalam sistem managemen mutu laboratorium, tata tertib laboratorium sangat penting
dalam menjaga keteraturan dalam laboratorium yang disusun berdasarkan 4 aspek yang harus
dipatuhi yaitu mengenai peralatan, bahan-bahan kimia, aturan kerja dan keselamatan kerja di
laboratorium.
a. Kondisi yang baik
Pada suatu laboratorium yang baik, akan berjalan sesuai dengan perannya bila disertai dengan
aturan main yang dituangkan dalam tata tertib laboratorium. Sekecil apapun laboratorium
diharuskan memiliki tata tertib, karena tata tertib akan sangat mendukung terhadap keselamatan
kerja sendiri, orang lain dan lingkungan, serta untuk menunjang kelancaran kegiatan laboratorium
itu sendiri. Setiap siswa atu orang lain yang akan bekerja di laboratorium harus mengetahui tata
tertib yang berlaku di laboratorium tersebut. Pada tata tertib laboratorium yang baik didalamnya
harus berisi aturan yang disusun berdasarkan 4 aspek yaitu mengenai peralatan laboratorium,
penggunaan bahan-bahan kimia, aturan bekerja di laboratorium, keselamatan kerja di laboratorium
dan terlebih lagi dengan adanya penanganan limbah seperti dibawah ini :
Umumnya tata tertib di laboratorium meliputi :

1) Tata tertib umum, menyangkut hal-hal umum sebagaimana berlaku di setiap laboratorium.
Tujuannya untuk melindungi pengguna laboratorium dan kepentingan umum. Seharusnya
tata tertib ditulis dengan bahasa yang jelas dan singkat serta mudah terbaca.
2) Tata tertib khusus, biasanya diberlakukan khusus, misalnya untuk para pengguna
laboratorium dari luar atau yang menyangkut laboratorium dengan spesifikasi khusus,
seperti laboratorium yang memiliki ruangan steril atu ruangan gelap. Tata tertib di
laboratorium hendaknya dilengkapi dengan pernagkat sanksi yang tegas bagi pelanggar.
Sanksi ini dapat berupa teguran, dikeluarkan dari labratorium, atau sanksi administrasi,
denda dan sanksi lainnya. Sanksi ini harus tertulis dengan jelas dan dikomunikasikan
kepada pengguna.

b. Kondisi Saat Observasi


Berdasarkan hasil observasi kami dengan mengunjungi laboratorium Struktur dan
Perkembangan di ruangan gedung C10.01.01.04, Jurusan Biologi FMIPA Unesa mengenai tata
tertib laboratorium telah didapatkan sebuah hasil dengan cara dokumentasi.
1) Kelebihan
 Pada laboratorium struktur dan perkembangan sudah tersedia tata tertib laboratorium
yang dibuat dan ditempel dengan menggunakan pigora. Pigora tersebut dapat
melindungi kertas yang berisi tata tertib agar tidak mudah rusak dan tahan lama.
 Pada tata tertib laboratorium yang tertulis, isinya menggunakan bahasa dan kalimat yang
jelas, singkat, mudah dipahami dan mudah terbaca oleh mahasiswa.
 Di dalam tata tertib laboratorium sudah berisi peraturan untuk umum, peraturan
peminjaman alat dan bahan, peraturan mahasiswa dalam mengikuti praktikum,
peraturan untuk dosen penanggung jawab praktikum serta laboran dan teknisi. Sehingga
tata tertib yang telah dibuat ini berlaku bagi seluruh warga jurusan biologi termasuk
pengelola laboratorium itu sendiri, mahasiswa serta dosen.

2) Kekurangan dan Saran


 Tata tertib pada bagian mengikuti kegiatan praktikum bagi mahasiswa masih belum
menunjukkan adanya peraturan dalam penggunaan alat dan bahan setelah praktikum
selesai untuk membersihkan (mencuci) alat-alat yang telah digunakan seperti tabung
reaksi, gelas erlenmeyer, gelas ukur, pipet dan lain sebagainya dengan bersih agar tidak
menyebabkan terjadinya salah satu faktor penyebab kegagalan dalam praktikum yang
lain. Untuk bahan praktikum seperti hewan, seharusnya diminta untuk tidak membuang
bangkai secara sembarangan dan adanya peraturan untuk mengubur bangkai tersebut.
Sedangkan pada bahan yang lain seperti kertas, plastik, dedaunan dianjurkan untuk
membuangnya pada tempat sampah yang telah disediakan. Sehingga setelah kegiatan
praktikum selesai, laboratorium menjadi bersih seperti semula.
 Belum adanya peraturan dalam penanganan masalah limbah pada tata tertib
laboratorium. Limbah yang dimaksud adalah limbah cair. Peraturan tersebut dibuat agar
berisi perintah untuk tidak membuang limbah cair secara sembarangan dan tidak
mencemari lingkungan. Sehingga sangat perlu dibuatkan adanya peraturan penanganan
masalah limbah dalam tata tertib laboratorium.
 Belum adanya sanksi yang tegas yang perlu dituliskan pada tata tertib laboratorium bagi
para pelanggar yang disesuaikan dengan kesalahan yang telah dilakukan baik secara
sengaja ataupun tidak. Sehingga sanksi tersebut dibuat agar para pelanggar merasa jera
dan selalu berhati-hati atau tidak ceroboh dalam melakukan kegiatan apapun di dalam
laboratorium.
 Tata tertib laboratorium diletakkan dibagian belakang ruangan dan ditempelkan di
lemari, seharusnya diletakkan dibagian depan ruangan aktivitas, agar dapat dibaca oleh
semua pengguna laboratorium.
 Sebaiknya para asisten dosen, dosen dan pengelola laboratorium khususnya laboran
untuk ikut membantu mengawasi jalannya praktikum agar tidak terjadi hal-hal yang
tidak diinginkan. Dan para mahasiswa untuk lebih teliti dalam melakukan kegiatan
praktikum di laboratorium.

DAFTAR PUSTAKA

Djas, Fachri, 1998. Manajemen Laboratorium (Laboratory Management). Penataran Pengelolaan


Laboratorium (Laboratory Management). Fakultas Kedokteran USU, Medan.
Kadarohman, Asep. 2013. Manajemen Laboratorium IPA.

(https://abutholhah.wordpress.com/manajemen-laboratoriumi-ipa/com, diakses pada tanggal 09


September 2018).

Zein, Rahmaniana, dkk. 2015. Pedoman Manajemen dan Evaluasi Mutu Laboratorium. LP3M
Universitas Andalas, Padang.