Anda di halaman 1dari 11

1.

5 CARA PENGUMPULAN DATA


Menurut Asmadi (20018), metode utama yang dapat digunakan dalam
pengumpulan data adalah wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik serta
diagnostik.
a. Wawancara
Wawancara atau interview merupakan metode pengumpulan data
secara langsung antara perawat dan klien. Data wawancara adalah semua
ungkapan klien, tenaga kesehatan, atau orang lain yang berkepentingan
termasuk keluarga, teman, dan orang terdekat klien. Wawancara adalah
menanyakan tau tanya jawab yang berhubungan dengan masalah yang
dihadapi klien dan merupakan suatu komunikasi yang direncanakan.
Terdapat dua macam wawancara yaitu : 1) Auto anamnese : wawancara
dengan klien langsung, 2) Allo anamnese : wawancara dengan keluarga /
orang terdekat.
Tujuan wawancara pada pengkajian keperawatan adalah 1)
mendapatkan informasi yang diperlukan untuk mengidentifikasi dan
merencanakan asuhan keperawatan, 2) meningkatkan hubungan perawat-
klien dengan adanya komunikasi, 3) membantu klien unutk memperoleh
informasi akan kesehatannya dan ikut berpartisipasi dalam identifikasi
masalah dan pencapaian tujuan asuhan keperawatan, dan 4) membantu
perawat menemukan pengkajian lebih lanjut. Ada 4 tahapan dalam
wawancara meliputi :
1. Persiapan.
Sebelum melaukan komunikasi dengan klien, perawat harus
melakukan persiapan dengan membaca status klien. Perawat
diharapkan tidak mempunyai prasangka buruk kepada klien, karena
akan mengganggu dalam membina hubungan saling percaya dengan
klien.
Jika klien belum bersedia untuk berkomunikasi, perawat tidak boleh
memaksa atau memberi kesempatan kepada klien kapan mereka
sanggup. Pengaturan posisi duduk dan teknik yang akan digunakan
dalam wawancara harus disusun sedemikian rupa guna memperlancar
wawancara.

2. Pembukaan atau perkenalan


Langkah pertama perawat dalam mengawali wawancara adalah dengan
memperkenalkan diri : nama, status, tujuan wawancara, waktu yang
diperlukan dan faktor-faktor yang menjadi pokok pembicaraan.
Perawat perlu memberikan informasi kepada klien mengenai data yang
terkumpul dan akan disimpan dimana, bagaimana menyimpannya dan
siapa saja yang boleh mengetahuinya.
3. Isi / tahap kerja
Selama tahap kerja dalam wawancara, perawat memfokuskan arah
pembicaraan pada masalah khusus yang ingin diketahui. Hal-hal yang
perlu diperhatikan :
a) Fokus wawancara adalah klien. Perawat harus menunjukan rasa
ingin tahu dan rasa ikut terlibat dengan memanggil nama klien,
melakukan kontak mata, dan menghindari perdebatan dengan
klien
b) Mendengarkan dengan penuh perhatian. Jelaskan bila perlu.
c) Menanyakan keluhan yang paling dirasakan oleh klien
d) Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh klien
e) Gunakan pertanyaan terbuka dan tertutup tepat pada waktunya
f) Bila perlu diam, untuk memberikan kesempatan kepada klien
untukmengungkapkan perasaannya
g) Sentuhan teraputik, bila diperlukan dan memungkinan.

Pedoman keberhasilan dalam wawancara dengan klien :


a) Bagaimana cara mendapatkan data yang baik?
1. Jaga privasi. Ciptakan suasana yang tenang dan tersendiri tanpa
adanya gangguan dan interupsi
2. Sebutkan nama. Perkenalkan diri anda dan tunjukkan sikap yang
sopan dan baik
3. Jelaskan tujuan wawancara. Jelaskan bahwa tujuan menanyakan
bebrapa pertanyaan tentang riwayat klien dan keluarga adalah
unutk memberikan asuhan keperawatan yang lebih baik.
4. Jaga kontak mata. Menunjukkan adanya minat dan perhatian
5. Usahakan tidak tergesa-gesa. Pembicaraan yang tergesa-gesa dapat
diartikan bahwa perawat tidak berminat mendengarkan apa yang
dikatakan klien
b) Bagaimana cara mengobservasi
1. Pergunakan panca indera. Apakah anda melihat, mendengar, atau
mencium bau sesuatu yang tidak normal?
2. Tunjukkan penampilan yang baik. Apakah klien berpakaian dan
berdandan dengan baik?
3. Tunjukkan sikap yang baik. Apakah klien merasa nyaman? Takut?
Menarik diri? Gelisah? Apa yang anda lihat?
4. Jaga pola interaksi yang baik. Perhatikan cara berkomunikasi yang
baik! Perhatikan respon dari klien( misalnya budaya yang berbeda
akan menciptakan hambatan dalam komunikasi)
c) Bagaimana menanyakan pertanyaan
1. Tanyakan pertama kali kepada klien mengenai masalah yang
paling dirasakan. Menanyakan sesuatu yang sedang dirasakan akan
membuat klien merasa diperhatikan dan memberikan jawaban
dengan semangat
2. Pergunakan istilah yang dimengerti klien. Tanyakan kepada klien
tentang apa yang sudah anda sampaikan jika anada berpikir klien
belum memahami (misal “ dapatkah anda jelaskan kepada saya
tentang apa yang sudah kita bicarakan tadi pagi?”)
3. Pergunakan pertanyaan terbuka. Tanyakan sesuatu yang
memerlukan jawaban yang lebih rinci
4. Pergunakan refleksi. Mengulangi apa yang telah dikatakan klien
dalam suatu pertanyaan untuk memberikan kesempatan kepada
klien mengimbangkan pembicarannya.
5. Jangan memulai pertanyaan pribadi. Jaga pertanyaan tersebut
sampai dengan anda mengenal lebih jauh tentang klien
6. Tanyakan sesuatu yang penting dan tidak menyinggung perasaan
jika klien merasa tidak nyaman atau tersinggung.
7. Pergunakan instrumen pengkajian dan terorganisasi secara
sistematis. Format tersebut biasanya disediakan oleh instansi
pemberi pelayanan
d) Bagaimana cara mendengar yang baik?
1. Jadilah pendengar yang aktif. mengangguk dan menunjukkan
berminat mendengarkan akan mendorong klien unutk melanjutkan
pembicaraan.
2. Beri kesempatan untuk menyelesaikan pembicaraannya.
Bersikaplah tenang dan simpati, dan jangan interupsi.
3. Bersabarlah jika klien “blocking”. Berikesempatan unutk meningat
dan mungkin menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan apa
yang telah dibicarakan.
4. Berikan perhatian yang penuh. hindarkan interupsi yang tidak
perlu.
5. Klarifikasi, disimpulkan, dan diulang apa yang telah dikatakan.
Hal ini akan mengurangi kesalahpahaman antara klien dan perawat

4. Terminasi
Perawat mempersiapkan untu penutupan wawancara. Untuk itu klien
harus mengetahui kapan wawancara dan tujuan dari wawancara pada
awal perkenalan, sehingga diharapkan pada akhir wawancara perawat
dan klien mampu menilai keberhasilan dan dapat mengambil
kesimpulan bersama. Jika diperlukan, perawat perlu membuat
perjanjian lagi untuk pertemuan berikutnya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan wawancara dengan
klien adalah :
1. Menerima keberadaan klien sebagaimana adanya
2. Memberikan kesempatan kepada klien untuk menyampaikan
keluhan-keluhannya / pendapatnya secara bebas
3. Dalam melakukan wawancara harus dapat menjamin rasa aman dan
nyaman bagi klien
4. Perawat harus bersikap tenang, sopan dan penuh perhatian
5. Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti
6. Tidak bersifat menggurui
7. Memperhatikan pesan yang disampaikan
8. Mengurangi hambatan-hambatan
9. Posisi duduk yang sesuai (berhadapan, jarak tepat/sesuai, cara
duduk)
10. Menghindari adanya interupsi
11. Mendengarkan penuh dengan perasaan
12. Memberikan kesempatan istirahat kepada klien

 Hambatan wawancara :
1. Internal :
a) Pandangan atau pendapat yang berbeda
b) Penampilan klien berbeda
c) Klien dalam keadaan cemas, nyeri, atau kondisinya menurun
d) Klien mengatakan bahwa ia tidak ingin mendengar tentang
sesuatu hal
e) Klien tidak senang dengan perawat, atau sebaliknya
f) Perawat berpikir tentang sesuatu hal yang lain / tidak fokus ke
pasien
g) Perawat sedang merencanakan pertanyaan selanjutnya
h) Perawat merasa terburu-buru
i) Perawat terlalu gelisah atau terburu-buru dalam bertanya
2. External :
a) Suara lingkungan gaduh : TV, radio, pembicaraan di luar
b) Kurangnya privacy
c) Ruangan tidak memadai untuk dilakukannya wawancara
d) Interupsi atau pertanyaan dari staf perawat yang lain.

Pada situasi darurat mengharuskan tipe teknik wawancara dimana


perawat mengajukan pertanyaan fokus yang berkaitan dengan status fisik
klien. Perawat dapat menggunakan berbagai teknik wawancara untuk
mendaptkan informasi yang diperlukan dari klien atau sumber lainnya.
 Teknik Mencari Masalah. Wawancara mencari masalah
mengidentifikasi masalah potensial klien, dan pengumpulan data
selanjutnya difokuskan pada masalah tersebtu.
 Teknik Pemecahan Masalah. Teknik wawancara pemecahan
masalah difokuskan pada pengumpulan data yang lebih mendalam
pada masalah spesifik yang diidentifikasi oleh klien atau perawat.
 Teknik Pertanyaan Langsung. Wawancara pertanyaan
langsung adalah format terstruktur yang membutuhkan jawaban
satu atau dua kata dan sering kali digunakan untuk mengklarifikasi
informasi sebelumnya atau memberikan informasi tambahan.
 Teknik Pertanyaan Terbuka. Wawancara pertanyaan terbuka
ditujukan untuk mendaptkan respons lebih dari satu atau dua kata.
Teknik ini mengarah kepada diskusi dimana klien secara aktif
menguraikan status kesehatan mereka.

b. Observasi
Observasi merupakan metode pengumpulan data melalui pengamatan
visual dengan menggunakan panca-indra. Kemampuan melakukan
observasi merupakan keterampilan tingkat tinggi yang memerlukan
banyak latihan. Unsur terpenting dalam observasi adalah mempertahankan
objektivitas penilaian. Mencatat hasil observasi secara khusus tentang apa
yang dilihat, dirasa, didengar, dicium, dan dikecap akan lebih akurat
dibandingkan mencatat interpretasi seseorang tentang hal tersebut.
Observasi juga merupakan suatu kegiatan mengamati prilaku dan keadaan
klien untuk memperoleh data tentang masalah kesehatan dan keperawatan
klien. Kegiatan observasi meliputi : 2S HFT (sight, smell.
Hearing,feeling dan taste). Kegiatan tersebut mencakup aspek : fisik,
mental, sosial dan spiritual.
 Sight : kelainan fisik, perdarahan, terbakar, menangis, dst
 Smell : alcohol, darah, feces, medicine, urine, dst
 Hearing : tekanan darah, batuk, menangis, expresi nyeri, dst
 Felling : perasaan yang dirasakan oleh klien
 Taste : hal yang dirasakan oleh indera pengecapan

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan observasi adalah :


a. Tidak selalu pemeriksaan yang akan kita lakukan dijelaskan secara
terinci kepada klien (meskipun komunikasi terapeutik tetap harus
dilakukan), karena terkadang hal ini dapat meningkatkan kecemasan
klien atau mengaburkan data (data yang diperoleh menjadi tidak
murni). Misalnya : `Pak, saya akan menghitung nafas bapak dalam
satu menit` —- kemungkinan besar data yang diperoleh menjadi
tidak valid, karena kemungkinan klien akan berusaha untuk
mengatur nafasnya.
b. Menyangkut aspek fisik, mental, sosial dan spiritual klien
c. Hasilnya dicatat dalam catatan keperawatan, sehingga dapat dibaca
dan dimengerti oleh perawat yang lain.

c. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan adalah proses inspeksi tubuh dan sistem tubuh guna
menentukan ada/tidaknya penyakit yang didasarkan pada hasil
pemeriksaan fisik dan laboratorium. Cara pendekatan sistematis yang
dapat digunakan perawat dalam melakukan pemeriksaan fisik adalah
pemeriksaan dari ujung rambut sampai ujung kaki (head to toe) dan
pendekatan sistem tubuh (review of system). Pemeriksaan atau pengkajian
fisik dalam keperawatan dipergunakan untuk memperoleh data obyektif
dari riwayat keperawatan klien. Ada 4 tehnik dalam pemeriksaan fisik
meliputi :
1) Inspeksi
Inspeksi adalah suatu proses observasi yang dilaksanakan secara
sistematik. Observasi dilakukan dengan cara menggunakan indra
penglihatan, pendengaran dan penciuman sebagai suatu alat untuk
mengumpulkan data.
2) Palpasi
Palpasi adalah suatu tehnik yang menggunkan indra peraba. Tangan
dan jari-jari adalah instrumen yang sensitif dan dapat digunakan untuk
mengumpulkan data tentang suhu, turgor, bentuk, kelembabpan,
vibrasi dan ukuran.
Langkah-langkah yang perlu diperhatikan selama melakukan palpasi:
1. Ciptakan lingkungan yang kondusif, nyaman dan santai
2. Tangan perawat harus dalam keadaan yang kering dan hangat
serta kuku jari-jari harus dipotong rapi dan pendek
3. Bagian nyeri dipalpasi paling terakhr.
3) Perkusi
Perkusi adalah suatu pemeriksaan dengan jalan mengetuk untuk
membandingkan kiri dan kanan pada setiap daerah permukaan tubuh
dengan tujuan menghasilkan suara.Perkusi bertujuan untuk
mengidentifikasi lokasi, ukuran, bentuk dan konsistensi jaringan.
Suara-suara yang akan ditemui diperkusi:
a) Sonor: suara perkusi jaringan normal
b) Pekak: suara perkusi jaringan padat yang terdapat pada jika ada
cairan dirongga pleura, perkusi daerah jantung, dan perkusi
daerah hepar.
c) Redup: suara perkusi jaringan yang lebih padat atau konsolidasi
paru-paru, seperti pneumonia
d) Hipersensor atau timpani: suara perkusi yang pada daerah yang
mempunyai rongga-rongga kosong seperti pada daerah caverna-
caverna paru dan klien dengan asma kronik. Pada klien yang
mempunyai bentuk dada barrel-chest akan terdengar seperti
ketukan pada benda-benda kosong dan bergema.
4) Auskultasi
Auskultasi adalah pemeriksaan dengan jalan mendengarkan suara
yang akan dihasilkan oleh tubuh dengan menggunakan stetoskop. Ada
4 ciri-ciri suara yang perlu dikaji dengan auskultasi :
a) Pitch (dari suara yang tinggi ke rendah)
b) Keras (dari suara yang halus ke keras)
c) Kualitas (meningkat sampai melemah)
d) Lama (pendek-menengah-panjang)
Bunyi tambahan atau bunyi tidak normal yang dapat ditemukan pada
saar auskultasi jantung dan nafas meliputi:
 Rales : bunyi ini dihasilkan oleh eksudat yang lengket saat
saluran-saluran halus pernafasan mengembang pada
inspirasi(rales halus, sedang, dan kasar). Sering terjadi pada
peradangan jaringan paru(pneumonia dan TB paru)
 Ronchi: nada rendah dan sangat kasar yang terdengar pada saat
inspirasi maupun ekspirasi. Ronchi akan hilang bila klien
batuk. Sering dijumpai pada klien dengan edema paru.
 Wheezing: bunyi musikal yang terdengar”ngiiiii.....ik” atau
pendek “ngik”. Dapat dijumpai pada fase inspirasi dan
ekspirasi. Sering terdapat pada klien yang bronchitis akut.
 Pleural Friction Rub: bunyi yang terderngar “kering” persis
seperti suara gosokan amplas pada kayu. Sering terjadi pada
klien dengan peradangan pleura.

Pedoman pelaksanaan pemerikasaan fisik :


1. Selalu melakukan komunikasi antara perawat dengan klien.
Perkenalkan diri anda, jaga privasi klien, susun suatu laporan, dan
pergunakan teknik wawancara yang baik
2. Jangan bergantung pada ingatan. Laksanakan pemeriksaan dengan baik
dan akurat.
3. Pilih metode pengorganisasian pengumpulan data dan selalu konsisten
mempergunakannya. Pergunakan catatan dibawah ini :
1. Jika terdapat masalah yang aktual, kaji masalah tersebut pertama
kali(misalnya klien menyatakan,” saya tidak bisa bernafas” maka
kajilah sistem pernafasan dahulu)
2. Kemudian lanjutkan pemeriksaan fisik secara berurutan, seperti
dibawah ini:
 Status pernafasan: suara napas, frekuensi, kedalaman, dan
adanya batuk
 Status jantung: detak di apeks, ritme, dan suara jantung
 Status sirkulasi: frekuensi, ritme, dan kualitas nadi(radialis,
brakialis, karotid femoral dan dorsalis pedis)
 Status kulit: anal, suhu, turgor, edema, lecet, dan rambut
 Status persarafan: status mental, orientasi(orang, tempat,
waktu), reaksi pupil pengeliatan, kemampuan mendengar,
merasakan dan membau.
 Status musculoskeletal: kemampuan otot, stabilitas,
kemampuan pergerakan(ROM), dan reflek gag.
 Status pencernaan : kondiis bibir, lidah, gusi, gigi, reflek
gag, adaya suara peristaltic usus, kembung, hemoroid, dan
lainnya.
 Status seksual dan perkemihan: adanya perbesaran kandung
kemih, pendarahan pada vagina, inkontnensia urine,
frekuensi-warna-konsistnsi urine, dan lainnya

Pendekatan pengkajian fisik dapat menggunakan :


1. Head To Toe (kepala ke kaki)
Pendekatan ini dilakukan mulai dari kepala dan secara berurutan
sampai ke kaki: keadaan umum, tanda-tanda vital, kepala, wajah,
mata, telinga, hidung, mulut dan tenggorokan, leher, dada, perut,
jantung, abdomen, ginjal, genitalia, rectum, extrimitas dan punggung.
2. ROS (Review of System) – Sistem Tubuh
Pada pendekatan ini perawat melakukan pengkajian system tubuh
secara keseluruhan.Informasi yang didapat dari interview dan
observasi membantu perawat untuk menentukan sistem tubuh mana
yang perlu mendapat perhatian khusus. Adapun ruang linkup mayor
body meliputi : keadaan umum, tanda-tanda vital, system pernapasan,
system kardiovaskuler, system persyarafan, system perkencingan
(renal), system pencernaan, system musculoskeletal dan integument
dan system reproduksi.

3. Pola Fungsi Kesehatan (Gordon)


Pendekatan ini memungkinkan perawat untuk mengumpulkan data
secara sistematis dengan cara mengevaluasi pola fungsi kesehatan dan
memfokuskan pengkajian fisik pada masalah yang khusus. Pola fungsi
kesehatan meliputi : persepsi kesehatan – penatalaksanaan kesehatan,
nutrisi – pola metabolisme, pola eliminasi, pola tidur – istirahat,
kognitif – pola perceptual, peran – pola perhubungan, aktifitas – pola
latihan, seksualitas – pola reproduksi, koping – pola toleransi stress,
dan nilai – pola keyakinan.