Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM

SURVEI GNSS
Kelompok 1

Pengolahan Data Pengukuran Jaring Kontrol Horizontal


GPS menggunakan Metode Relatif Statik

Disusun Oleh
Kelompok 1

Atanasius Sindhu Adi P. 15/384980/TK/43642


Ihza Rizki Fauzi 15/381190/TK/43368
Ikhsan Luthfi Aradea 15/385004/TK/43666
Monikha Dyah Wulandari 15/379925/TK/43190
Nadya Haniffa Masnur 15/378895/TK/42837
Rifqi Hanif 15/385020/TK/43682

DEPARTEMEN TEKNIK GEODESI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2017
I. MATERI

Pengolahan Data Jaring Kontrol Horizontal Metode Relatif menggunakan Software


Geogenius.

II. TUJUAN

 Mahasiswa dapat memahami bagian-bagian software Geogenius sebagai software


pengolah data jaring kontrol.
 Mahasiswa dapat memahami tahapan pengolahan data jaring kontrol dengan
menggunakan Software Geogenius.

III. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN

 Hari, Tanggal : Selasa, 24 Oktober 2017


 Waktu : Pukul 07.00 s.d 09.30 WIB
 Tempat : Laboratorium Geodesi, Teknik Geodesi FT UGM.

IV. ALAT DAN BAHAN

 Data hasil pengukuran Jaring Kontrol (7 sesi)


 Komputer
 Software Geogenius
 Software ArcGIS

V. LANDASAN TEORI

Jaring kontrol Horizontal adalah sekumpulan titik kontrol horizontal yang satu
sama lainnya dikaitkan dengan data ukuran jarak dan/atau sudut, dan koordinatnya
ditentukan dengan metode pengukuran/ pengamatan tertentu dalam suatu sistem
referensi koordinat horizontal tertentu. Dalam pembuatan desain jaring kontrol,
maka harus memperhatikan beberapa faktor :

a) desain jaringan harus dibuat diatas fotokopi peta topografi atau peta rupabumi
dengan skala yang memadai sehingga dapat menunjukkan desain, geometri, dan
kekuatan jaringan sedemikian rupa sehingga spesifikasi ketelitian yang diinginkan
dapat terpenuhi.
b) seluruh baseline dalam jaringan sebaiknya terdistribusi secara relatif homogen,
yang ditunjukkan dengan panjang baseline yang relatif sama.
c) sebelum diimplementasikan, desain jaringan yang digunakan untuk
pengamatan harus telah disetujui oleh pihak pemberi kerja dengan dibubuhi tanda
tangan atau paraf penanggung jawab kegiatan yang bersangkutan.

Orde dari suatu jaring titik kontrol pada dasarnya mengkarakterisir tingkat
ketelitian jaring, yaitu tingkat kedekatan jaring tersebut terhadap jaring titik kontrol
yang sudah ada yang digunakan sebagai acuan. Oleh sebab itu, orde suatu jaring
akan tergantung pada kelasnya, tingkat presisi dari titik-titiknya terhadap titik-titik
ikat yang digunakan, serta tingkat presisi dari proses transformasi yang diperlukan
untuk mentransformasikan koordinat dari suatu datum ke datum yang lainnya.
Berikut ini adalah tabel orde jaring titik kontrol horizontal :

Dalam klasifikasi jaring titik kontrol perlu diingat bahwa orde yang ditetapkan
untuk suatu jaring titik kontrol : 1) tidak boleh lebih tinggi orde jaring titik kontrol
yang sudah ada yang digunakan sebagai jaring referensi (jaring pengikat); 2) tidak
lebih tinggi dari kelasnya.
Metode penentuan posisi dengan GPS, yaitu: 1. Metode Absolut 2. Metode
Relatif (differential positioning) Namun pada praktikum ini, kami menggunakan
metode relatif yaitu menentukan posisi dengan menggunakan lebih dari satu
receiver. Satu GPS dipasang pada lokasi tertentu dimuka bumi dan secara terus
menerus menerima sinyal dari satelit dalam jangka waktu tertentu dan dengan
interval perekaman tertentu yang dijadikan sebagai referensi bagi receiver yang
lainnya. Penentuan posisi sifatnya statik (titik – titik surveinya tidak bergerak).

Format RINEX (Receiver Independen Exchange) adalah format standar yang


kini diadopsi untuk pertukaran data survei GPS dan navigasi presisi. Beberapa
karakteristik dari format RINEX adalah:

- Format ASCII, dengan panjang setiap record maksimum 80 karakter.


- Data fase diberikan dalam unit panjang gelombang, dan data pseudorange
dalam unit meter.
- Semua kalibrasi tergantung receiver sudah diaplikasikan ke data.
- Tanda waktu adalah waktu pengamatan dalam kerangka waktu jam receiver
(bukan waktu GPS).
- Data pengamatan, Data Navigation Message, dan Data Meteorologi diberikan
dalam file-file yang berbeda.

Baseline

Garis basis (baseline) adalah vektor koordinat relatif tiga dimensi (dX,dY,dZ)
antar dua titik pengamatan. Baseline terdiri atas:

1. Garis basis trivial yaitu garis basis (baseline) yang dapat diturunkan
(kombinasi linear) dari garis-garis basis lainnya dari satu sesi pengamatan
2. Garis basis non-trivial yaitu garis basis bukan trivial (garis basis bebas)
Seandainya ada n receiver yang beroperasi secara simultan pada satu sesi
pengamatan maka hanya ada (n-1) garis basis bebas yang boleh digunakan untuk
perataan jaringan
VI. LANGKAH KERJA

a. Melakukan proses pengolahan data dengan menggunakan Software


Geogenius.

1. Membuka aplikasi Geogenius yang sudah diinstall di laptop

2. Memasukkan data yang akan diolah, memilih Insert file pada menu bar
memilih file yang akan diolah (per sesi).
3. Muncul dialog Insert Files into Project. Pilih file yang akan dilakukan proses.
Misal sesi 1, klik Select All  Add to Project.

4. Muncul kotak dialog Decoder  memilih delete OBS files and continue 
Ok.

5. Maka muncul hasil di lembar kerja, jaring sesi satu.


6. Mengganti nama titik sesuai dengan tempat berdirinya alat dan sesi yang
dilakukan. Dengan penamaan misal : 7_1 (alat berdiri di titik 7 dan sesi
pengukuran adalah sesi satu)
Pemberian nama : mengeklik kanan point (titiknya)  propertise  point 
mengubah nama titiknya  Assign.
7. Melakukan pemberian nama titik untuk titik lainnya dengan cara yang sama.

8. Mengubah titik fix ke titik 7_1 (Boulevard) dengan  mengeklik kanan titik
7_1  fix.
Memasukkan koordinat untuk titik fix (7_1/Boulevard) dengan mencari di
portal SRGI  mengeklik kanan titik  propertise (x,y,z)  memasukkan
sesuai yang didapatkan di SRGI  Assign.
9. Melakukan proses men-scan data untuk melihat hasil rekaman data. Memilih
baseline  klik kanan  scan.

10. Muncul hasil scan (perekaman data).


Pada data yang dihasilkan terdapat data yang lengkap dan ada yang kosong-
kosong.
melakukan pemilihan data untuk diproses (proses Adjustment). Dengan
melakukan penghapusan data yang kosong, dan bila perekaman sangat sedikit
dengan men-un check  ok. Semisal seperti di bawah:

11. Melakukan proses scan ke base line lain, seperti cara di atas.
12. Melakukan pemrosesan data hasil dari scan, dengan meng-klik kanan pada
lembar kerja  pilih Process
13. Memasukkan sesi ke 2, dengan cara sama memilih menu insert file.

14. Memberikan penamaan terhadap titik sesuai sesinya, dengan cara sama
mengeklik kanan titik  propertise.
15. Melakukan merge untuk titik yang posisinya sama, me-merge dari titik yang
baru dimasukkan ke titik yang sudah dilakukan scan. Mengeklik kanan titik
7_2  memilih merge  memilih titik 7_1  merge.

16. Maka titik 7_2 dan 7_1 menyatu, di titik 7_1


Melakukan proses merge juga dari titik 5_2 ke 5_1.
17. Sehingga baseline menjadi satu dan sudah dilakukan scan.
18. Melakukan proses scan untuk baseline yang lainnya.

19. Melakukan tahap pemrosesan untuk sesi 1 dan 2.

20. Memasukkan proses memasukkan sesi sampai sesi 7, dan melakukan hal yang
sama seperti yang dilakukan sebelumnya.
21. Sehingga didapatkan data pemrosesan seperti di bawah ini.
22. Melakukan proses Adjust free. Memilih menu Adjust  Adjust (free).

Maka didapatkan hasil dari Adjust free seperti di bawah ini :

23. Melakukan proses Adjust Biased, memilih menu Adjust  Adjust (Biased)
Maka ditampilkan hasil Adjust biased :

24. Untuk melihat hasil dari proses pengolahan data jaring kontrol yang telah
dilakukan, pilih menu Adjust  Report.

25. Muncul hasil koordinat.


26. Memasukkan ke excel untuk diolah.
27. Mentransformasi ke UTM dengan menggunakan situs
http://www.hariep.info/trans-old/
28. Mendownload citra di Google Earth  memasukkan koordinat hasil
transformasi.
29. Membuat layout di ArcGIS.
VII. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengukuran jaring kontrol horizontal ini terdiri dari 6 titik kontrol, dengan titik
kontrol fix yaitu titik BM yang berada di titik 7 yaitu Boulevard sebagai titik ikat
pengukuran di lapangan. Metode yang digunakan dalam pengukuran ini adalah
metode relatif statik, dimana satu titik sebagai titik fix (Boulevard) . Dengan cara
saat dilakukan pengukuran alat di tiga titik di jalankan secara bersamaan (satu
sesi). Dalam pengukurannya dilakukan dengan cara loop, dibagi menjadi 7 sesi
pengukuran.
 Sesi 1  1 – 7 – 5
 Sesi 2  5 – 7 – 4
 Sesi 3  4 – 7 – 3
 Sesi 4  3 – 7 – 2
 Sesi 5  2 – 7 – 1
 Sesi 6  6 – 1 – 5
 Sesi 7  6 – 1 – 7

Dari jaring yang terbuat akan menghasilkan titik-titik yang saling terikat satu
sama lain.

a. Proses Scanning
Proses Scanning dilakukan dengan memilih data hasil perekaman (baseline)
tiap sesi pengukuran. Pada scan terlihat data hasil pengukuran tiap sesinya,
Terdapat data yang kosong ataupun bagian yang tidak penuh (perekamannya
sangat sedikit). Untuk data yang kosong dapat dibuang dan tidak
diikutsertakan poses Scan, dan untuk data yang terekam sangat sedikit dapat di
un-check tidak mengikut sertakan proses Scan.

b. Pengolahan data
Pengolah data di geogenius dimulai dari sesi satu dan dilanjutkan
dengan memasukkan sesi-sesi selanjutkan dengan cara merge.Pengolah data
setiap sesi secara bertahap dilakukan untuk melihat karakteristik dari hasil
pengukuran. Sehingga dapat diketahui data dalam keadaan baik atau dalam
keadaan buruk, sehingga mempermudah dalam menganalisis.
Dalam pengolahan ke geogenius data dikelompokkan terlebih dahulu
per sesi pengukuran sebelum dimasukkan. Untuk awalan dimasukkan sesi
pertama sehingga membentuk jaring segitiga dari ketiga titik pengukuran.
Setelahnya membentuk semua jaring dalam pengukuran dengan cara merge
jaring segitiga pada ke tujuh sesi pengukuran.

Pengolahan data sesi 1

Pada pengolahan data sesi satu terlihat bahwa data yang dihasilkan
dalam keadaan baik, terlihat dari warna yang dihasilkan setiap baseline
bewarna hijau semua. Sehingga statistical test dapat diterima. Ketelitian yang
didapatkan dari proses pada sesi satu adalah :

 Ketelitian Horizontal = 4,1 mm


 Ketelitian Vertikal = 8,8 mm
 Dilanjutkan dengan pengolahan sesi-sesi selanjutnya. Di bawah ini merupakan
hasil dari pengolahan semua sesi :
Dari gambar yang dihasilkan , terlihat bahwa dari ke-14 baseline bewarna
hijau semua. baseline berwarna hijau, menandakan bahwa baseline dalam
kondisi baik, dan Statistical test diterima, Ketelitian yang didapatkan dari
proses yang dilakukan pada keseluruhan sesi yaitu:
 Ketelitian horizontal = 4,1 mm
 Ketelitian vertikal = 8,8 mm

 Berikut gambar hasil jaring kontrol horizontal setelah dilakukan Adjust Free

 Berikut gambar hasil jaring kontrol horizontal setelah dilakukan Adjust


Biased.

Dari proses Adjust yang dilakukan , didapatkan hasil yang sama dimana setiap
baseline bewarna biru baik dengan Adjust Free maupun Adjust Biased, hal ini
dikarenakan pada proses sebelumnya semua baseline menghasilkan nilai yang
bagus (fix solution).
Ketelitian yang didapatkan dari proses Adjusment, yaitu dari proses Adjust
Free ke Adjust Biased yang dilakukan pada ke-7 sesi semakin kecil
ketelitiannya, dan untuk ketelitian dari proses Adjust free lebih baik dari
keteliatian dari proses Adjust Biased yaitu sebagai berikut:

Ketelitian dari hasil proses Adjust Free, yaitu:


 Ketelitian horizontal = 18.6 mm
 Ketelitian vertikal = 50.8 mm

Ketelitian dari hasil proses Adjust Biased, yaitu:


 Ketelitian horizontal = 20,0 mm
 Ketelitian vertikal = 57,4 mm

c. Hasil Pengolahan Peta di ArcGIS.

VIII. KESIMPULAN

Dari pengolahan data pengukuran jaring kontrol horizontal GPS ini, didapatkan
kesimpulan sebagai berikut :
- Bahwa dalam pengukuran jaring kontrol horizontal ini menggunakan metode
relatif statik. Pengukuran dilakukan dengan cara looping (dibagi menjadi 7
sesi), dengan minimal satu titik kontrol menjadi titik ikat pengukuran
dilapangan (titik fix). Titik ikat yang digunakan merupakan titik BM JKH
Nasional, dalam pengukuran ini adalah titik 7 yaitu BM Boulevard.
- Pengolahan data menggunakan software geogenius, yang dimulai dari
pemasukkan data  proses scan  Adjustmen  Report.
- Karena terdiri dari sesi-sesi maka pada pengolahan terjadi proses merge
(penggabungan) dari beberapa baseline – baseline.
- Dari pemrosesan setelah scan data maka akan ditampilkan baseline-baseline
dengan kondisi baik dan buruk yang ditandai dengan warna baseline,
 Baseline berwarna hijau, yang berarti bahwa baseline dalam kondisi baik, dan
Statistical test diterima, serta menghasilkan solusi yang fix (fix solution)
dimana nilai perhitungan ambiguitas phase (ambiguity phase) berupa bilangan
bulat (integer).
 Baseline berwarna kuning, yang berarti bahwa baseline dalam masih kondisi
yang baik, dan Statistical test dapat diterima (berada dibatas minimum), serta
menghasilkan solusi yang tidak fix ( float solution) dimana nilai perhitungan
ambiguitas phase (ambiguity phase) berupa bilangan bulat (integer).
 Baseline berwarna merah, yang berarti bahwa baseline dalam kondisi yang
kurang baik, dan Statistical test tidak diterima, serta menghasilkan solusi yang
tidak fix ( float solution) dimana nilai perhitungan ambiguitas phase
(ambiguity phase) berupa bilangan pecahan atau desimal (float).
- Pada pengolahan dari kelompok kami, tahap pemrosesan data yang dihasilkan
dalam keadaan yang baik karena terlihat dari warna baseline yang dihasilkan
yaitu bewarna hijau.
- Dari data pemrosesan scan, Adjustmen dihasilkan data ketelitian yang
ditunjukan dari ketelitian horizontal dan ketelitian vertikal.
- Ketelitian dari proses awal ditunjukkan dengan munculnya linkaran di tengah
baseline yang diproses, ketelitian semakin baik apabila lingkaran yang
dihasilkan bulat dan semakin kecil ukurannya.
- Hasil koordinat ditampilkan di Report.

IX. DAFTAR PUSTAKA