Anda di halaman 1dari 19

Judul ACARA 2 : SKALA PETA

Nama Amelia Naurah Syahda Nilai Total Laporan


NIM 18/423605/GE/08654 :
Kelompok Praktikum Kamis, 11.00 – 13.00
Asisten • Ade Febri Sandhini Putri
• Ramadhan Bagus Prasetyo
Komponen Penilaian Laporan dikumpulkan pada
A : Pretest A: Tanggal : 20 Jam :
September 2018
B : Kegiatan B: Praktikan Asisten
Praktikum
C : Laporan C:
Praktikum
D : Tugas D: (Amelia Naurah S) ( )

MEDIA PEMBELAJARAN
• Peta RBI Kabupaten Pemalang
• Penggaris
• Alat tulis (pensil, drawing pen, spidol, penghapus, pensil warna, bolpoin, selotip)
• Peragkat lunak ArcGIS
• Perangkat lunak Google Earth
• Perangkat lunak Google Maps
• Laptop
• Kertas HVS
• Kertas Kalkir
• Peta Citra Sebagian Kampus UGM
Nilai

LANGKAH KERJA

Keterangan :
Input

Proses

Output
- Peta RBI - Kertas kalkir
- Alat tulis (drawing pen, spidol, penggaris) - Kertas HVS
- Peta Citra Sebagian Kampus UGM - Laptop
- Peta Digital (ArcGIS, Google Maps, Google Earth)

Pencarian lokasi Penentuan Skala


Peta dengan 3
Pengubahan skala metode
Menyalin Peta di kertas kalkir dengan zoom in atau
zoom out
Menghitung jarak meridian/
atau paralel pada peta
Membuat grid pada kertas HVS Penjelasan Asisten

Membandingkan jarak di peta


dengan jarak sebenarnya
Pengecilan Skala Peta

Membandingkan dengan peta


Ulasan terhadap yang sudah diketahui skalanya
Pengubahan
Peta hasil Skala Peta Digital
pengecilan
metode Union
Jack dan
Metode Bujur
sangkar Penentuan
Skala Peta

Nilai

HASIL DAN PEMBAHASAN

Skala Peta merupakan komponen peta yang sangat penting karena dengan skala peta kita
dapat mengetahui jarak antara dua tempat. Dalam membuat peta, selalu terdapat reduksi
informasi. Jadi, hanya informasi penting yang akan ditampilkan pada peta. Peta juga selalu
lebih kecil dari kenampakan permukaan yang ditampilkan, tidak akan sama dengan ukuran
aslinya. Oleh karena itu, setiap peta seharusnya mencantumkan rasio atau proporsi antara
jarak di peta dengan jarak di lapangan (Robinson et al.,1995). Skala pada peta digunakan
sebagai penjelas hubungan matematis antara ukuran-ukuran geometrik (jarak) di permukaan
bumi dan di peta. Untuk peta yang belum diketahui skalanya, terdapat beberapa untuk
menentukan skala peta tersebut (Kimerling et al., 2012), diantaranya dengan membandingkan
jarak di peta dengan jarak horizontal di lapangan, membandingkan dengan peta lain dengan
wilayah yang sama dan telah diketahui skalanya, memperhatikan interval kontur, dan
menghitung jarak meridian atau paralel pada peta. Garis meridian disebut juga garis bujur
atau longitude. Garis paralel disebut juga garis lintang atau latitude.
Peta yang digunakan untuk diubah skalanya adalah Peta Rupa Bumi Indonesia lembar
Pemalang dengan skala 1:25.000 di atas kertas kalkir. Proses penyalinan peta Pemalang pada
kertas kalkir sebanyak 6 grid yaitu 3 grid di atas dan 3 grid di bawah. Setiap grid mewakili
daerah seluas 3.7cm x 3.7cm. Pada proses penyalinan peta tersebut ada beberapa kenampakan
yang perlu diperhatikan dengan teliti saat menyalin yaitu kenampakan pemukiman penduduk
berwarna jingga, kenampakan penggunaan lahan berupa kebun atau perkebunan berwarna
hijau, dan batas-batas administratif. Pada peta RBI, kenampakan batas desa atau kelurahan
diwakili simbol berupa garis putus-putus dengan empat titik, serta garis putus-putus berwarna
ungu mewakili jalan setapak
Perbandingan skala peta sangat berpengaruh terhadap informasi yang didapatkan.
Semakin besar skala peta, maka semakin besar pula tingkat kedetailan informasinya.
Pengubahan skala peta berdampak pada tingkat kedetailan peta. Perbesaran peta harus
dilakukan dengan penambahan informasi. Hal yang penting diperhatikan saat akan mengubah
skala peta ialah melihat sumber peta terlebih dahulu. Misalnya, akan dibuat peta berskala
1:25.000 dengan sumbernya peta 1:50.000. Peta tidak bisa diubah karena informasi yang ada
pada peta 1:50.000 kurang detail. Pembesaran skala peta hanya diperbolehkan apabila
dilakukan pula penambahan informasi dari hasil survei maupun dari sumber lain yang
terpercaya. Demikian pula dengan pengecilan skala, terdapat generalisasi untuk menghindari
noise akibat informasi yang terlalu rapat.

Skala pada peta dapat diubah dengan berbagai macam cara diantaranya cara manual
menggunakan bidang-bidang geometris seperti bujur sangkar (metode grid) dan segitiga
(metode union jack), menggunakan alat mekanis pantograph, menggunakan metode proyeksi
optis menggunakan Map-O-Graph, dan menggunakan mesin fotokopi. Pada praktikum ini
yang dibahas adalah mengubah skala secara manual dan menggunakan alat mekanis
pantograph.

Pengubahan peta secara manual dapat dilakukan dengan menggunakan bidang-bidang


geometris seperti bujur sangkar (Grid) dan segitiga (Union Jack). Metode Grid dan Union
Jack merupakan metode sederhana yang digunakan untuk memperbesar dan memperkecil
peta apabila peta yang akan diubah tidak terlalu banyak detil kenampakannya. Pada
penggunaan metode bujur sangkar digunakan bidang-bidang bujur sangkar, sedangkan pada
metode segitiga digunakan bidang-bidang bujur sangkar dengan tambahan garis-garis miring
yang menyerupai bentuk segitiga. Pada pengubahan skala peta terdapat generalisasi
informasi. Generalisasi informasi pada peta membuat tidak semua informasi masuk kedalam
salinan peta yang sudah diubah skalanya supaya informasi tidak perlu padat. Dalam
pengecilan skala yang awalnya peta berskala 1:25.000 diperkecil menjadi 1:50.000, ini berarti
kenampakan yang ada pada peta menjadi lebih kecil juga ukuran grid 2 kali menjadi lebih
kecil daripada ukuran sebenarnya pada peta. Adapun perhitungannya dapat dilakukan sebagai
berikut :
Dimana :
d1 = panjang grid yang sudah diketahui skalanya
d1
P2  xP1 d2 = panjang grid yang dicari
d2
P1 = penyebut skala yang diketahui skalanya
3,7
50.000  x 25.000
d2 P2 = penyebut skala yang akan dicari
d 2  1,85cm

Jadi, panjang grid pada skala 1:50.000 menjadi 1,85 cm.

Setiap metode memiliki keunggulan dan kelemahan. Peta hasil metode grid ini lebih
mudah dibuat, dilihat, dan dipahami dibandingkan dengan metode Union Jack. Kelemahan
metode ini yaitu kurangnya ketelitian pada peta karena jarak garis tepi kotak terlalu jauh.
Sedangkan, pada peta metode Union Jack ini gambar lebih terlihat sama dengan peta acuan
karena garis-garis diagonalnya membantu untuk menyalin peta dengan lebih teliti. Sedangkan
kelemahannya, peta menjadi kurang mudah untuk dipahami sebab banyaknya garis-garis
pada salinan peta yang sudah diubah skalanya tersebut.

Perbesaran atau pengecilan skala dapat juga dilakukan dengan menggunakan alat
mekanis yaitu pantograf. Apabila ingin memperbesar atau memperkecil peta menggunakan
pantograf harus mengetahui terlebih dahulu cara penggunaan pantograf. Pada dasarnya, kerja
pantograf berdasarkan jajaran genjang. Tiga dari empat sisi jajaran genjang (a, b, dan c)
mempunyai skala faktor yang sama. Skala pada ketiga sisi tersebut dapat diubah-ubah sesuai
dengan kebutuhan. Atur masing-masing lengan pantograf sesuai skala yang diinginkan.
Kemudian letakkan peta yang akan diperbesar di tempat B dan kertas gambar kosong
letakkan di tempat gambar A yang sudah dilengkapi pensil. Lalu gerakkan B mengikuti peta
asal, melalui kaca pengamat. Jika ingin menggunakan pantograf untuk memperbesar peta 2
kali perbesaran, maka kaki pantograf harus disetel pada posisi ½ dengan posisi pensil
pantograf di sebelah kanan, jarum di tengah dan pemberat di sebelah kiri. Jika ingin
memperkecil peta 2 kali semula, maka kaki pantograf harus disetel pada posisi ½ dengan
posisi pemberat di sebelah kiri, pensil di tengah, dan jarum di sebelah kiri.Prinsip kerja
pantograf ialah semakin kecil jarak antarlengan pantograf, gambar yang dihasilkan semakin
besar, begitu pula sebaliknya. Kesulitan dalam mengubah skala peta menggunakan cara
manual seperti ini adalah menentukan letak, bentuk, dan luas wilayah agar tetap sama dan
sesuai dengan peta acuan.

Pengubahan skala juga dapat dilakukan pada peta digital. Sebagai contoh asisten
laboratorium mendemonstrasikan pengubahan skala pada peta digital Daerah Istimewa
Yogyakarta menggunakan aplikasi ArcGIS. Saat skala peta diperbesar dengan zoom in
kenampakan pada peta terlihat semakin jelas tetapi tidak ada penambahan informasi yang
disajikan selain bangunan, sungai dan jalan yang memang sudah terdapat pada peta. Begitu
pula saat dilakukan pengurangan skala dengan zoom out, tidak terdapat pengurangan
informasi Berbeda dengan virtual map seperti Google Maps dan Google Earth yang apabila
skala peta diperbesar akan terdapat penambahan informasi yang disajikan dan penambahan
kedetailan.

Praktikan diberikan Peta Citra Sebagian Kampus UGM yang belum diketahui skalanya.
Tiga metode yang digunakan untuk mencari skala Peta Citra Sebagian Kampus UGM
tersebut adalah dengan cara membandingkan jarak di peta dengan jarak horizontal di
lapangan, membandingkan dengan peta lain yang sudah diketahui skalanya, dan menghitung
jarak meridian atau paralel pada peta. Objek yang dipilih yaitu panjang stadion pancasila.
Pada metode pertama, dilakukan perbandingan jarak antara panjang stadion pancasila di
peta dan di lapangan. Untuk menghitung jarak horizontal di lapangan digunakan alat “ruler”
pada aplikasi Google Earth dan didapatkan jarak 156m. Pada peta citra didapatkan jarak 2,8
cm. Sehingga didapatkan perbandingan skalanya 1:5571.

Metode kedua dengan membandingkan peta dengan peta kampus UGM yang telah
diketahui skalanya. Berdasarkan skala grafik, didapatkan skala peta kampus UGM yaitu
1:22.700. Adapun perhitunngannya sebagai berikut :

d1
P2  xP1 Dimana :
d2
d1 = panjang grid yang sudah diketahui skalanya
2,8
P2  x5.000
2,8 d2 = panjang grid yang dicari
P 2  5.000 P1 = penyebut skala yang diketahui skalanya
P2 = penyebut skala yang akan dicari

Jadi, skalanya 1:5.000

Metode ketiga yaitu menghitung jarak meridian atau paralel pada peta. Pada
perbandingan jarak koordinat, panjang Stadion Pancasila belum diketahui koordinatnya,
sehingga dicari melalui perbandingan dengan koordinat yang diketahui. Melalui perhitungan
didapatkan selisih koordinat yaitu 5”. 1o pararel besarnya sekitar 111,195 km dibulatkan
menjadi 111,2 km dikalikan dengan 5” dibagi 3600” didapatkan jarak sebenarnya 0,15444
km. Panjang Stadion Pancasila pada citra adalah 2,8 cm

10"  5,7cm
Perbandingan
x" 2,8
. 
10" 5,7
x"  4,9" ~ 5"

Mencari jarak sebenarnya


1  60'  3600"
1  111,195 ~ 111,2km

JS
5"
 x111,2
10"
 0,15444km
 15.444cm

JP  2,8cm

Skala
JP

JS
2,8

15444
1

5515
 1 : 5515 ~ 1 : 5500

Sehingga dengan perbandingan, didapatkan skala citra UGM adalah 1:5515.

Metode yang paling akurat selayaknya menggunakan garis meridian atau paralel pada
peta sebab ada ukuran pasti atau tetap yang digunakan untuk seluruh kenampakan di
permukaan bumi. Berbeda dengan metode membandingkan jarak di peta dengan jarak
horizontal di lapangan. Dikhawatirkan ada banyak hal yang mendistorsi seperti kesalahan
saat pengukuran sehingga membuat pengukuran peta menjadi tidak valid dan rancu.
Sedangkan dengan metode membandingkan dengan peta lain yang sudah diketahui skalanya
juga dirasa kurang valid sebab skala peta yang telah diketahui itu pun biasanya merupakan
suatu pembulatan.

Nilai

KESIMPULAN
 Cara menyatakan skala peta ada empat yaitu dengan skala angka atau pecahan, skala
verbal, skala grafik atau bar, dan skala area. Untuk menentukan skala pada peta yang
belum diketahui skalanya dapat dilakukan dengan cara membandingkan jarak di peta
dengan jarak horizontal di lapangan, membandingkan dengan peta lain dengan wilayah
yang sama dan telah diketahui skalanya, memperhatikan interval kontur dan menghitung
jarak meridian atau paralel pada peta.
 Pengubahan skala peta baik secara manual maupun menggunakan alat bantu diharapakan
tidak mengubah informasi yang ada karena pengubahan skala pada peta akan
mempengaruhi tingkat kedetilan peta yang secara langsung akan berdampak pada
simbolisasi dan generalisasi.
 Pengubahan skala pada peta digital belum tentu akan ada penambahan informasi yang
disajikan seperti pada peta virtual
Nilai

LAMPIRAN

Gambar 1. Panjang Stadion Pancasila

Gambar 2. Perbandingan Peta Google Earth setelah dilakukan zoom out


Gambar 3. Perbandingan Peta Google Maps setelah dilakukan zoom in

Gambar 4. Peta Digital ArcGIS

Gambar 5. Peta RBI Kabupaten Pemalang

Nilai
DAFTAR PUSTAKA
Saraswati, Endang. 1979. Kartografi Dasar. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.

Sukwarjono, Sukoco.1993. Pengetahuan Peta. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.

Suyono, dkk. 1995. Geografi. Surabaya : SIC.

Wardiyatmoko. K, HR Bintarto. 2000. Geografi SMU I. Jakarta : Erlangga.

Nilai

TUGAS
TUGAS
1. Ubah skala “1 inch equals 8 miles” menjadi skala angka dan 1:1.000.000 menjadi
skala verbal miles-per-inch!
 1 mil = 63.360 inci, maka 8 mil = 8 x 63.360 = 506.880 inci
Sehingga dapat diartikan 1 inci di peta mewakili 506.880 inci pada jarak sebenarnya.
Jadi skala angkanya 1:506.880
atau menggunakan cara lain
1 inci = 2,54 cm
1 mil = 160934 cm
maka 8 mil = 8 x 160.934 = 1.287.472 cm
Jadi skalanya
= 2,54 : 1.287.472
= 1 : 506.878,740
= 1 : 506.880

1.000.000
 = 15,783 ~ 16 miles
63.360 𝑖𝑛𝑐𝑖 (1 𝑚𝑖𝑙)
Dapat ditulis 16 miles-per-inch

2. Jelaskan “variable scale bar”, dan pada peta apakah skala tersebut digunakan?

Variable scale bar adalah skala yang digunakan untuk menunjukkan variasi
skala, umumnya pada peta yang menampilkan seluruh permukaan bumi (peta dunia)
atau globe karena variable scale bar menunjukkan tidak hanya satu skala bar, namun
banyak skala bar yang didasarkan pada letak lintang. Adanya variable scale bar
dikarenakan biasanya skala peta dari ekuator hingga kutub bervariasi secara
sistematis. Variable scale bar memudahkan pengguna peta untuk mengukur jarak
secara akurat antara dua titik yang terletak pada garis lintang manapun. Penyajian
skala ini juga dapat digunakan pada peta berskala kecil yang mencakup luasan hinga
puluhan derajat garis lintang.

3. Jelaskan apa itu proyeksi dan macam-macam proyeksi!


Proyeksi merupakan cara memindahkan garis paralel dan meridian dari globe atau bidang
lengkung menuju ke bidang datar. Bidang lengkung (globe) yang digambarkan ke bidang
datar (peta) tentu akan mengalami beberapa kesalahan atau penyimpangan dalam
penggambaran (distorsi).
Jenis-jenis Proyeksi
Proyeksi peta dapat dibedakan menjadi 4 jenis, yaitu berdasarkan bidang proyeksinya,
proyeksi modifikasi atau gubahan, proyeksi berdasarkan sifat asli yang dipertahankan, dan
yang terakhir adalah proyeksi berdasarkan kedudukan sumbu simetrinya.

Proyeksi Berdasarkan Bidang Proyeksinya


Berdasarkan bidang proyeksinya, proyeksi dapat dibedakan menjadi 4 jenis, yaitu :
1. Proyeksi Azimuthal (Zenithal)
Proyeksi azimuthal merupakan proyeksi peta yang menggunakan bidang datar
sebagai proyeksinya. Proyeksi ini menyinggung bola bumi dan berpusat pada satu titik.
Proyeksi azimuthal sering juga disebut dengan proyeksi zenithal. Proyeksi azimuthal
dapat dibedakan sebagai berikut
a. Proyeksi azimuthal normal, bidang proyeksinya bersinggungan dengan kutub. Jenis
proyeksi ini paling cocok untuk menggambarkan daerah kutub
b. Proyeksi azimuthal transversal, bidang proyeksinya tegak lurus dengan ekuator.
c. Proyeksi azimuthal miring/oblique, bidang proyeksinya menyinggung salah satu
tempat antara kutub dan equator

Ciri-ciri Proyeksi Zenithal atau azimuthal :


 Garis-garis bujur sebagai garis lurus yang berpusat pada kutub.
 Garis lintang digambarkan dalam bentuk lingkaran yang konsentris mengelilingi
kutub.
 Sudut antara garis bujur yang satu dengan lainnya pada peta besarnya sama.
 Seluruh permukaan bumi jika digambarkan dengan proyeksi ini akan berbentuk
lingkaran.

2. Proyeksi Silinder (Cylindrical)

Proyeksi silinder menggunakan bidang proyeksi berupa silinder yang


menyinggung daerah permukaan bumi. Proyeksi silinder cocok untuk menggambarkan
wilayah luas dan wilayah khatulistiwa atau lintang rendah karena ke arah kutub terjadi
pemekaran garis lintang.
Ada beberapa keuntungan jika kita menggunakan proyeksi silinder, diantaranya :
 Mampu menggambarkan daerah yang luas.
 Dapat menggambarkan daerah sekitar khatulistiwa.
 Daerah kutub yang berupa titik digambarkan seperti garis lurus.
 Semakin mendekati kutub, semakin luas wilayahnya.

3. Proyeksi Kerucut

Proyeksi kerucut menggunakan bidang proyeksi berbentuk kerucut yang


menyinggung bola bumi. Proyeksi kerucut paling cocok digunakan untuk menggambar
daerah lintang 45º (lintang tengah). Proyeksi kerucut dibedakan sebagai berikut
a. Proyeksi kerucut normal, garis singgung bidang kerucut pada bola bumi terletak pada
suatu paralel (paralel standar)
b. Proyeksi kerucut transversal, sumbu kerucut berada tegak lurus terhadap sumbu bumi
c. Priyeksi kerucut miring, sumbu kerucut membentuk garis miring terhadap sumbu bumi

Ciri-ciri Proyeksi Kerucut


 Semua garis bujur merupakan garis lurus dan berkonvergensi di kutub.
 Garis lintang merupakan suatu busur lingkaran yang konsentris dengan titik pusatnya
adalah salah satu kutub bumi.
 Tidak dapat menggambarkan seluruh permukaan bumi karena salah satu kutub bumi
tidak dapat digambarkan.
 Seluruh proyeksi tidak merupakan satu lingkaran sempurna, sehingga baik untuk
menggambarkan daerah lintang rendah.

Proyeksi Modifikasi atau Gubahan


Proyeksi gubahan muncul karena proyeksi murni (azimuthal, kerucut, dan
silinder) sulit diterapkan untuk menggambarkan wilayah-wilayah sempit atau wilayah
pada provinsi lintang tertentu. Beberapa proyeksi gubahan adalah sebagai berikut

Proyeksi Mercator

Proyeksi mercator menggambarkan bumi di bidang silinder yang sumbunya


berimpit dengan bumi dan seolah-olah silindernya dibuka menjadi bidang datar. Proyeksi
mercator cocok untuk menggambarkan daerah dekat ekuator, akan tetapi distorsi peta
semakin besar saat mendekati kutub. Karakteristik proyeksi mercator sebagai berikut
 Interval jarak antarmeridian sama
 Interval jarak antarparalel semakin lebar saat mendekati kutub
 Kutub-kutub hampir tidak bisa dipetakan karena terletak di posisi tak terhingga
 Berdasarkan proyeksi ini, bumi terbagi menjadi 60 zona

Proyeksi Sinusoidal

Proyeksi sinusoidal menggambarkan sudut dan jarak yang tepat untuk wilayah
meridian tengah. Proyeksi ini cocok digunakan untuk menggambarkan daerah wilayah
Amerika Selatan, Australia, dan Afrika. Proyeksi ini dapat digunakan untuk
menggambarkan daerah yang kecil di belahan bumi mana saja, juga cocok untuk
menggambarkan daerah luas yang letaknya jauh dari wilayah khatulistiwa

Proyeksi Bonne

Proyeksi bonne menggambarkan sudut dan jarak yang benar pada meridian tengah
serta peta standar. Distorsi peta semakin besar apabila menjauhi meridian tengah. Maka
dari itu, proyeksi bonne cocok digunakan untuk menggambarkan wilayah Asia yang
letaknya di sekitar khatulistiwa
Proyeksi Mollweide

Proyeksi Mollweide mempunyai ukuran yang sama luas hinga ke wilayah pinggir
proyeksi tiap bagian. Semakin mendekati kutub, ukuran wilayah berubah semakin kecil.
Proyeksi mollweide umumnya digunakan untuk menggambarkan peta statistika, peta arus
laut, dan peta pertanian

Proyeksi Homolografik (Goods)

Proyeksi homolografik merupakan perbaikan kesalahan pada proyeksi mollweide.


Proyeksi ini memiliki sifat yang sama luas. Jenis proyeksi ini baik untuk menggambarkan
penyebaran fenomena geosfer di permukaan bumi
Proyeksi Gall

Ciri khas dari proyeksi gall adalah bentuk yang berbeda di wilayah lintang yang
mendekati kutub

Proyeksi Berdasarkan Sifat Asli


Agar distorsi yang terjadi tidak begitu besar, proyeksi peta harus memenuhi
beberapa persyaratan berdasarkan sifat asli yang dipertahankan. Persyaratan yang
dimaksud adalah :
1. Bentuk yang diubah harus tetap (konform)
2. Luas permukaan yang diubah harus tetap (ekuivalen)
3. Jarak antara satu titik dengan titik yang lainnya di daerah yang dipetakan harus
tetap (ekuidistan)

Proyeksi Berdasarkan Kedudukan Sumbu Simetri

Berdasarka kedudukan sumbu simetrinya, proyeksi dibedakan sebagai berikut


a. Proyeksi normal, garis karakter proyeksi berimpit dengan sumbu bumi
b. Proyeksi miring, garis karakter proyeksi membentuk sudut dengan sumbu bumi
c. Proyeksi melintang, garis karakter proyeksi tegak lurus dengan sumbu bumi

Penggunaan Proyeksi
Jika yang akan digambarkan antara lain :
1. Seluruh Dunia :
 Dalam dua belahan bumi: pakai Proyeksi Zenithal Kutub.
 Peta-peta statistika (penyebaran penduduk, hasil pertanian dsb.): pakailah Mollweide.
 Arus laut, iklim : pakai Mollweide atau Gall.
 Navigasi dengan arah kompastetap : pakai Mercator.
 Navigasi dengan jarak terpendek yaitu melalui lingkaran besar : pakai Gnomonik.
2. Untuk menggambarkan daerah kutub menggunakan proyeksi zenithal sama jarak
3. Untuk menggambarkan daerah bumi bagian selatan gunakan :
 Proyeksi Bonne
 Proyeksi Sinusoidal
4. Untuk daerah yang lebar ke samping dan terletak tidak jauh dari khatulistiwa, pilih salah
satu dari proyeksi jenis kerucut.
5. Untuk daerah yang membujur pipih Utara-Selatan dan terletak tidak jauh dari khatulistiwa
maka pilih Proyeksi Bonne.

Nilai
UNTUK LAPORAN AKHIR
LAPORAN PRAKTIKUM
KARTOGRAFI (GKP 0101)

Disusun oleh:

Nama : [nama lengkap]


NIM : **/******/GE/*****
Hari, Tanggal : Selasa, [tanggal dikumpulkan]
Waktu : 09.00 – 10.50
Dosen Pengampu : Ari Cahyono, M.Sc.
Asisten : 1. Dyah Resky Annisa
2. Wedha Ratu Della

LABORATORIUM KARTOGRAFI
PROGRAM STUDI KARTOGRAFI DAN PENGINDERAAN JAUH
DEPARTEMEN SAINS INFORMASI GEOGRAFI
FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2018