Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM

ISOLASI PIGMEN TANAMAN DENGAN KROMATOGRAFI KOLOM

Dosen pengampu:

Fitria Susilowati, S.Pd, M.Sc

Disusun oleh:

Desta Astarina Saputri Toasa

35.2014.7.1.0955

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS DAUSSALAM GONTOR

NGAWI

2018
I. Tujuan
1. Melakukan isolasi tanaman dengan kromatografi kolom
2. Memonitoring fraksi kolom dengan kromatografi lapis tipis
II. Dasar teori
Kromatografi kolom adalah suatu teknik pemurnian yang digunakan untuk
mengisolasi komponen yang diinginkan dari suatu campuran. Dalam kromatografi
kolom, fase diam (absorben padat) ditempatkan secara vertikal dalam kolom gelas dan
fase gerak (cairan) ditempatkan pada bagian atas kolom dan bergerak ke bawah
melewati kolom (karena gravitasi atau tekanan eksternal). Sampel yang akan
dianalisis dimasukkan ke bagian atas kolom. Eluen ditambahkan ke dalam kolom dan
bergerak ke bawah melewati kolom. Keseimbangan terjadi antara komponen yang
terabsorpsi pada absorben dengan pelarut yang terelusi melewati kolom (Basset,
1994).
Kromatografi kolom adalah teknik kromatografi yang menggunakan zat
penyerap (fase diam) dalam tabung kaca yang berbentuk buret, fase gerak dituangkan
di atas dan menetes di bawah (Pudjaatmaka, 2002). Dalam kromatografi kolom, fase
diam ditempatkan dalam kolom yang dilewati fase gerak yang dipengaruhinoleh
adanya tekanan gravitasi (Harvey, 2000).
Kromatografi kolom memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya
adalah dapat digunakan untuk analisis dan aplikasi preparatif, menentukan jumlah
komponen campuran, dan untuk memisahkan dan purifikasi. Selain itu metode ini
hanya membutuhkan alat dan bahan yang mudah didapat dan murah, hanya
membutuhkan waktu yang singkat, dan udah pelaksanaannya. Kekurangnnya adalah
membutuhkan kemampuan dalam teknik dan manual untuk menyiapkan kolom yang
sasuai dengan sampel, dan juga kurang akurat dalam penetapan kuantitaitf komponen
dalam senyawa (Gritter, 1991).
Kangkung (Ipomoea aquatica) merupakan semak yang kadang-kadang
berumur 1 tahun atau menahun. Batangnya menjalar diatas tanah basah atau terapung.
Tangkai daun tebal 3-20 cm, helaian daun sangat berbeda dalam bentuk dan ukuran,
bulat telur, segitiga, memanjang, bentuk garis/lanset, gundul, rata/bergerigi, hidup
ditanam atau liar, tempat lembab, berawa, genangan, parit, sawah, pinggir jalan
(Steenis, 1947).
Pigmen tanaman ditemukan di dalam plastida dan vakuola. Ada bermacam-
macam pigmen tumbuhan, misalnya klorofil (pigmen hijau) di dalam kloroplas dan
karotenoid (pigmen kuning-merah) di dalam kloroplas yang tidak mempunyai klorofil
atau hanya mengandung sedikit klorofil. Kelompok pigmen lain adalah flavonoid
(antosianin dan flavon atau flavonol) yang biasanya terdapat di dalm vakuola,
khususnya pada bunga dan buah dengan berbagai warna (Mulyani, 2006).
Tanaman memiliki pigmen yang digunakan untuk membantu kelangsungan
hidupnya, macam-macam pigemen dalam tanaman adalah:
1. Klorofil: merupakan pigmen fotosintesis yang terdapat pada sebagian besar
tumbuhan. Dibagi menjadi klorofil a yang mengandung warna hijau, dan
klorofil b yang mengandung warna biru.
2. Karotenoid: merupakan pigmen penyebab warna merah, orange, dan kuning
pada sayuran.
3. Antosianin: pembei warna merah, merah muda, ungu, dan biru.
4. Xantofil: pigmen berwarna kuning
III. Alat dan bahan
A. Alat:
1. Buret 1 buah
2. Statif 1 buah
3. Gelas beker 4 buah
4. Gelas arloji 1 buah
5. Gelas ukur 5 ml 1 buah
6. Gelas ukur 6 buah
7. Mortar dan alu 1 buah
8. Botol kecil 1 buah
9. Spatula 1 buah
10. Pipet tetes plastik 1 buah
11. Corong 1 buah
B. Bahan:
1. Silica gel
2. Kangkung
3. Metanol
4. Aseton
5. N-heksan
6. Kapas
7. Aluminium foil

IV. Prosedur kerja


A. Penyiapan kolom dan fase diam

Masukkan 3 gram silica gel ke dalam gelas beker

Tambahkan n-heksan secukupnya hingga


membentukseperti bubur

Kurangi
Masukkan
n-heksan
silicahinga
bentuk1 cm
bubur
diatas
secara
permkaan
perlahan
silica
dandan
menyiram sisa ratakan
silica di permukaan
dinding kolom
silica
Masukkan kapas ke pangkal kolomdengan n-heksan
B. Ekstraksi daun kangkung

Kurangi n-heksan hingga 1 cm diatas permukaan silica dan


ratakan permukaan silica

Kurangi n-heksan hingga 1 cm diatas permukaan silica dan


ratakan permukaan silica

Kurangi n-heksan hingga 1 cm diatas permukaan silica dan


ratakan permukaan silica
C. Elusi dengan kromatografi kolom

Menyiapkan 5 macam palarut, 5ml n-heksana, n-heksan-


aseton (), 5 ml aseton, aseton-metanol (), 5 ml metanol

masukkan larutan sampel ekstrak kankung secara perlahan

masukkan eluen sesuai urutan non-polar ke polar secara


perlahan kedalam kolom

menampung eluen sesuai warna ke botol-botol vial

V. Hasil dan pembahasan


A. Hasil

No Perlakuan Pengamatan
1 Ekstraksi daun kangkung Larutan ekstrak berwarna hijau pekat

2 Kromatografi kolom 1) N-heksan : hijau tua


2) N-heksan-aseton : hijau
3) Aseton : hijau muda keekuningan
4) Aseton-metanol : hijau muda pucat
5) Metanol : hijau muda jernih
B. Pembahasan
Dalam praktikum ini dilakukan percobaan untuk mengetahui pigmen
daun kangkung dengan kromatografi kolom. Yang pertama yang harus
dilakukan adalah pembuatan kolom dan fase diam yaitu dengan menyiapkan
kolom untuk kromatografi kemudian dimasukkan kapas pada bagian bawah
kolom, hal ini bertujuan untuk menahan fase diam agar tidak turun dari kolom,
karena kolom masih berpori sehingga ekstrak daun kangkung masih bisa
mengalir.
Selanjutnya membuat silica gel hingga menjadi bubur dengan pelarut
n-heksan, penggunaan n-heksan ini karena n-heksan dapat mengikat kuat
dengan silica gel, jadi bubur alumina merupakan fase diam akan lebih
homogen, hal ini dilakukan dengan mencampurkan 3 gram silika dengan
pelarut n-heksan. Selanjutnya bubur alumina dimasukkan ke dalam kolom
sambil mengetuk-ngetuk kolomnya agar tidak terbentuk gelembung udara,
kolom harus bebas dari gelembung gas karena bila ada gelembung udara maka
proses pemisahan yang terjadi tidak akan sempurna sehingga akan terjadi
penyebaran noda ketika hasil kromatografi kolom diuji dengan KLT.
Penuangan bubur alumina pada kolom hingga ketinggian 10cm, kemudian
membuka kran kolom dan mengeluarkan n-heksan hingga 1cm di atas
permukaan silika kemudian kolom ditutup dengan alumunium foil.
Prosedur kerja selanjutnya adalah ekstraksi daun kangkung, dengan
memotong daun kangkung hingga berukuran kecil kemudian dihaluskan di
dalam mortar. Ditambahkan 5ml aseton. Penghalusan ini bertujuan agar
senyawa yang terkandung di dalam daun bayam mudah larut dengan pelarut
aseton, sebab semakin halus daun maka semakin luas permukaan untuk terjadi
kontak dengan pelarut maka semakin banyak zat yang terekstrak. Aseton
efektif untuk mengekstrak pigmen tumbuhan karena sebagian besar pigmen
tumbuhan seperti klorofil, karoten dan xantofil memiliki sifat diantara polar
dan non polar, sehingga dapat larut dalam aseton yang merupakan pelarut semi
polar.
Namun proses ini harus dilakukan dengan cepat karena enzim
klorofilasi yang terkandung dalam daun segar akan mengkatalisis reaksi antara
klorofil dengan aseton sehingga jumlah klorofil dalam daun akan berkurang,
kemudian menyaring ekstrak dengan corong gelas dilapisi dengan kertas
saring dengan memasukkan anhidrat ke dalam kertas saring hal ini bertujuan
untuk mempermudah proses ekstraksi dan kemudian membasahi kertas saring
dengan aseton.
Dilanjutkan dengan pemisahan ekstrak daun kangkung dengan corong
pisah, dengan memasukkan 5ml aquades, 5ml n-heksan, 5ml ekstrak daun
kangkung ke dalam corong pisah, kemudian mengocok ke arah dalam dan
mendiamkannya agar antara pelarut dan fase organik dapat terpisah kemudian
ekstrak daun bayam disimpan di dalam vial.
Selanjutnya elusi pigmen daun kangkung dengan kromatografi kolom,
setelah kolom kromatografi siap dipakai, ekstrak sampel daun kangkung
dimasukkan ke dalam kolom. Lalu memasukkan eluen ke dalam kolom dan
membuka krannya. Disini terlihat bahwa pigmen dari sampel daun bayam
mulai bergerak turun dan mulai menetes. Tetesan yang keluar dari kolom ini
ditampung dalam vial dan mengganti vial ketika warna yang keluar dari kolom
berubah. Larutan berwarna ini adalah pigmen dari daun kangkung. Adapun
pelarut yang digunakan adalah berdasarkan kepolarannya yang paling kecil
yaitu n-heksan, n-heksan : aseton (3,5:1,5), aseton, aseton: metanol (4:1), dan
metanol. Pelarut ini digunakan pada kromatografi kolom secara berurutan.
Prinsip pemisahan dalam kolom tersebut yaitu dengan memasukkan
5ml n-heksan yang menghasilkan warna hijau tua. Selanjutnya n-heksan :
aseton (3,5:1,5) menghasilkan warna hijau biasa. Selanjutnya 5ml aseton
menghasilkan warna hijau muda kekuningan yang berarti mengandung
xantofil dan aseton : metanol (4:1) menghasilkan warna hijau muda pucat
yang berarti mengandung klorofil B. Terakhir 5ml metanol menghasilkan
warna hijau muda jernih yang berarti mengandung klorofil B.
Dan pada dasarnya kromatografi kolom adalah teknik pemisahan
dengan menggunakan fase berupa padatan dan fase gerak berupa cairan.
Mekanisme pemisahan komponen dengan kromatografi kolom mempunyai
mekanisme yang sama seperti KLT. Pemisahan didasarkan pada perbedaan
kekuatan interaksi molekul anatara komponen yang dipisahkan dengan fase
diamdan fase gerak. Kromatografi kolom dapat digunakan untuk
mengidentifikasi suatu komponen yang terdapat dalam suatu cuplikan.
kromatografi kolom memiliki kelebihan diantaranya yaitu dapat
digunakan untuk analisis dan aplikasi preparatif, dapat digunakan untuk
menentukan jumlah komponen campuran, dan dapat digunakan untuk
memisahkan dan purifikasi substansi. Selain itu, kromatografi kolom juga
memiliki kekurangan yaitu membutuhkan kemampuan teknik dan manual
untuk menyiapkan kolom dan juga membutuhkan waktu yang lama.
VI. Kesimpulan
Pada dasarnya kromatografi kolom adalah teknik pemisahan dengan
menggunakan fase diam berupa padatan dan fase gerak berupa cairan. Pemisahan
dalam kolom pada praktikum kali ini yaitu 5ml n-heksan menghasilkan warna hijau
tua yang berarti mengandung klorofil A, n-heksan : aseton (3,5:1,5) menghasilkan
warna hijau biasa, 5ml aseton menghasilkan warna hijau muda kekuningan yang
berarti mengandung xantofil dan aseton : metanol (4:1) menghasilkan warna hijau
muda pucat yang berarti mengandung klorofil B. Terakhir 5 ml metanol menghasilkan
warna hijau muda jernih yang berarti mengandung klorofil B.
DAFTAR PUSTAKA

Basset.J.1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta
Day. R. A. 1986. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi IV. Penerbit Erlangga Jakarta
Gritter.R.J.1991. Pengantar Kromatografi. ITB. Bandung
Harvey, D. 2000. Modern Analytical Chemistry. Tye McGrow-Hill Campares. Inc.USA.
Khopkar.S.M. 2000. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI-Press.Jakarta
Mulyani, s. 2006. Anatomi Tumbuhan. Penerbit: kanisius. Yogyakarta
Pudjaatmaka, A. H. 2002. Kamus kimia. Balai pustaka. Jakarta.
Steenis, C.G.G.J. Van, 1947, Flora, PT.Balai Pustaka Persero, Jakarta Timur.