Anda di halaman 1dari 8

RANCANGAN TATA TERTIB MUSYAWARAH KABUPATEN III

PERSATUAN PERAWAT NASIONAL INDONESIA ( PPNI )


KABUPATEN MANGGARAI BARAT
TAHUN 2018

BAB I
STATUS DAN WEWENANG

Pasal 1
STATUS
1) Musyawarah Daerah merupakan pemegang kedaulatan tertinggi PPNI di tingkat Kabupaten
yang selanjutnya didalam tata tertib ini disebut MUSDA
2) MUSDA dilaksanakan mengacu pada AD/ART PPNI tahun 2015 Hasil Musyawarah Nasional
IX Bagian ke Sembilan Pasal 71 ayat (1), (2), dan (3).

Pasal 2
WEWENANG
MUSDA mempunyai wewenang :
1) Mengesahkan jadual acara dan peraturan tata tertib MUSDA
2) Memilih dan mengesahkan pimpinan MUSDA
3) Menilai pertanggung jawaban Pengurus PPNI Kabupaten Manggarai Barat Periode 2012-
2017
4) Memilih ketua Pengurus PPNI Kabupaten Manggarai Barat Periode tahun (2018 / 2022)
5) Pimpinan MUSDA terpilih sebagai Ketua Tim Formatur dan memilih Anggota Tim Formatur.
6) Memberikan mandat terhadap Tim Formatur tersebut untuk memilih Pengurus Kabupaten dan
Dewan Pertimbangan
7) Memberikan mandat kepada Ketua Pengurus PPNI Kabupaten terpilih untuk melantik
Pengurus Komisariat di Komisariat-komisariat Kabupaten Manggarai Barat
8) Menetapkan Garis-Garis Besar Program Kerja PPNI Kabupaten Manggarai Barat Periode
tahun 2018 – 2022.
9) Menetapkan tempat dan waktu MUSDA berikutnya

BAB II
PENYELENGGARAAN, PESERTA DAN PENINJAU
Pasal 3
Penyelenggaraan MUSDA

1) MUSDA diselenggarakan oleh Pengurus PPNI Kabupaten bersama dengan Panitia


Pengarah dan Panitia Pelaksana yang dibentuk dan bertanggung jawab kepada Pengurus
Kabupaten.
2) Panitia Pengarah bertanggung jawab menyiapkan materi yang dibahas dalam sidang-sidang
MUSDA.
3) Panitia Pelaksana bertanggung jawab terhadap teknis penyelenggaraan MUSDA.
4) Untuk ketertiban MUSDA disusun tata tertib MUSDA yang disahkan pada sidang paripurna
MUSDA

Pasal 4
Peserta MUSDA
1) Peserta MUSDA terdiri dari utusan dan peninjau.
2) Peserta utusan MUSDA adalah :
a. Pengurus DPD Kabupaten terdiri dari 3 (tiga) Orang
b. Dewan Pertimbangan 1 (satu) Orang
c. Majelis kehormatan etik 1 (satu) Orang
d. DPK 3 (tiga) Orang
Sebagai utusan dibuktikan dengan surat mandat sebagai utusan dari organisasi yang
diwakilinya yang berada diwilayah Kabupaten Manggarai Barat
3) Peserta peninjau adalah :
a. Pengurus Propinsi,
b. Pengurus Kabupaten;
c. Pengurus Komisariat ;
d. Pengurus Dewan Pertimbangan;
e. Pengurus Majelis Kehormatan Etik Keperawatan;
f. Undangan lain yang ditetapkan oleh Pengurus Kabupaten/Panitia

BAB III
HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA MUSDA

Pasal 5
Hak Pimpinan dan Peserta MUSDA

1) Peserta utusan MUSDA berhak :


a. Peserta Utusan mempunyai hak berbicara untuk mengajukan pendapat baik lisan
maupun tertulis kepada pimpinan sidang
b. Peserta Utusan mempunyai hak suara untuk memilih dan dipilih,
c. Peserta peninjau mempunyai hak dipilih dan hak berbicara baik lisan maupun tertulis
kepada pimpinan sidang.
d. Peserta Utusan dan peninjau menghadiri sidang – sidang MUSDA
2) Setiap peserta utusan MUSDA memiliki hak satu suara.
3) Hak suara didalam MUSDA dalam pemilihan yang menyangkut nama orang dilakukan secara
voting.
4) Pimpinan sidang berhak mengambil keputusan atas pendapat yang diajukan dengan terlebih
dahulu mendengar pendapat peserta sidang.
5) Peserta berhak mengajukan usul perubahan terhadap rancangan yang diajukan oleh pengurus
PPNI Kabupaten.
6) Semua pengambilan keputusan dilakukan secara musyawarah dan mufakat kecuali pemilihan
yang menyangkut pengurus atau nama orang atau cara musyawarah dan mufakat menemui
jalan buntu maka dapat dilakukan voting.

Pasal 6
Kewajiban Peserta MUSDA
1) Setiap peserta MUSDA wajib mematuhi ketentuan-ketentuan yang diatur dalam tata tertib ini.
2) Setiap peserta harus :
a. menunjukkan surat mandat untuk peserta utusan pada saat registrasi untuk
mendapatkan identitas peserta;
b. mengisi daftar hadir setiap mengikuti acara sidang;
c. mentaati keputusan rapat.

BAB IV
PELAKSANAAN MUSDA
Pasal 7
Acara MUSDA
1) Acara MUSDA mencakup sidang organisasi dan dapat menyelenggarakan sidang ilmiah.
2) Acara MUSDA di susun oleh Panitia Pengarah dan di ajukan kepada peserta MUSDA untuk
pengesahan.

Pasal 8
PIMPINAN MUSDA

1) MUSDA di pimpin oleh Pimpinan MUSDA


2) Komposisi pimpinan MUSDA terdiri dari seorang ketua, seorang sekretaris dan 2 (dua) orang
anggota yang di pilih dari dan oleh peserta utusan dalam sidang paripurna yang diadakan
khusus untuk itu.
3) Pimpinan MUSDA terdiri dari 4 (Empat) orang yang merupakan perwakilan dari
a. 1 (satu) orang Pengurus Kabupaten
b. 3 (Tiga ) orang Pengurus Komisariat.
4) Pimpinan MUSDA mempunyai wewenang :
a. memimpin sidang selama MUSDA berlangsung, kecuali sidang pengesahan quorum,
jadual Acara, tata tertib, dan sidang pemilihan Pimpinan MUSDA
b. menjaga kelancaran dan ketertiban dalam sidang – sidang yang dilaksanakan;
c. mendokumentasikan selama kegiatan termasuk mengesahakan hasil sidang melalui
surat keputusan;
d. Mendampingi Ketua PPNI Propinsi melantik Ketua Pengurus Kabupaten terpilih.
e. Penentuan komposisi dan pembagian tugas diantara unsur-unsur Pimpinan MUSDA
terpilih, diatur lebih lanjut oleh Pimpinan MUSDA
Pasal 9
KOMISI
1) MUSDA membentuk Komisi dan Sub Komisi sesuai kebutuhan.
2) Pimpinan Komisi terdiri dari Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris dan seorang anggota merangkap
pelapor, yang terpilih dari dan oleh Anggota Komisi.
3) Komisi MUSDA bertugas membahas materi dan mengambil keputusan terkait pokok bahasan
komisi bidang tugasnya.
4) Laporan komisi di susun oleh Pimpinan Komisi di bantu oleh Sekretaris Komisi dengan
memeprhatikan saran- saran dan pendapat para Anggota Komisi.
5) Hasil keputusan sidang Komisi di laporkan kepada sidang paripurna MUSDA.
6) Hasil pembicaraan Komisi di susun dalam risalah.
7) Setiap peserta MUSDA harus menjadi salah satu Anggota Komisi kecuali Pimpinan MUSDA
8) Setiap Peninjau dapat menjadi Anggota salah satu Komisi.

Pasal 10
Panitia Perumus
1) Panitia Perumus MUSDA dapat di bentuk untuk melakukan tugas tugas perumusan hasil
MUSDA
2) Pimpinan Panitia Perumus dan anggotannya dapat di pilih oleh Panitia Pengarah dengan
persetujuan Pimpinan MUSDA

Pasal 11
Persidangan
1) Pengurus PPNI Kabupaten membuka Sidang Paripurna pertama MUSDA PPNI selanjutnya
menyerahkan kepada SC dan Pimpinan MUSDA, kecuali sidang penetapan quorum, tata tertib,
jadwal acara dan pimpinan MUSDA
2) Sidang-sidang Komisi yang di bentuk untuk membahas materi MUSDA, dipimpin oleh Ketua
didampinggi oleh Sekretaris Komisi yang di pilih oleh anggota sidang Komisi dari dan oleh
peserta utusan;
3) Sidang-sidang ilmiah di pimpin oleh Ketua Sidang yang ditetapkan oleh Panitia Pengarah;
4) Jenis persidangan dalam MUSDA terdiri dari :
a. sidang Paripurna;
b. sidang Komisi / Sub Komisi;
c. sidang Formatur;

Pasal 12
Tata cara memimpin Sidang
1) Pimpinan Sidang memberikan kesempatan yang cukup kepada setiap peserta sesuai alokasi
waktu yang ditetapkan;
2) Pimpinan Sidang berbicara selaku Pimpinan untuk menjelaskan yang menjadi pokok
pembicaraan, mengembalikan pada pokok persoalan jika menyimpang dan menyimpulkan
pembicaraan;
3) Apabila Pimpinan Sidang hendak berbicara selaku peserta sidang, maka untuk sementara
Pimpinan Sidang diserahkan kepada salah satu Anggota Pimpinan Sidang.

Pasal 13
Quorum dan Tata cara pengambilan keputusan
1) Sidang Paripurna pengambilan keputusan dinyatakan sah apabila di hadiri oleh setengah lebih
dari satu dari jumlah peserta;
2) Apabila hal yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini tidak tercapai maka dilakukan penundaan
± 10 (sepuluh) menit.
3) Apabila setelah 2 (dua) kali penundaan masih belum tercapai qorum maka
a. Pada sidang paripurna pengambilan keputusan diserahkan kepada pimpinan MUSDA
b. Pada sidng Komisi, Sub Komisi dan Sidang Formatur pengambilan keputusan di
serahkan Ketua Komisi, Ketua Sub Komisi atau Ketua Formatur

Pasal 14
Tata cara mengajukan usul dan pendapat
1) Peserta yang ingin mengajukan usul, pendapat atau pertanyaan harus dengan mengangkat
tangan. Peserta yang tidak mengangkat tangan tidak akan dilayani;
2) Giliran berbicara di berikan menurut urutan pendaftaran;
3) Peserta berbicara setelah mendapat izin dari Pimpinan Sidang;
4) Pembicara tidak boleh diganggu selama berbicara, kecuali melebihi waktu yang diberikan;
5) Untuk memberi kesempatan kepada peserta MUSDA yang lain, maka pendapat atau
pertanyaan yang di ajukan harus disusun secara singkat dan jelas serta disampaikan dalam
waktu 5(lima) menit yakni 3 (tiga) menit pendapat dan 2 (dua) menit pertanyaan;
6) Apabila pendapat yang disampaikan belum jelas diterima oleh pimpinan sidang, peserta sidang
dapat mengulanggi pertanyaan secara singkat dalam waktu 3 (tiga) menit;
7) Kesempatan interupsi di berikan kepada peserta untuk:
a. meminta penjelasan duduk perkara yang menjadi persoalan;
b. mengajukan usul mengenai hal-hal yang di bicarakan;
c. mengajukan usul penundaan sidang untuk sementara;
d. Mengingatkan Pimpinan Sidang tentang materi sidang;
8) Waktu menyampaikan interupsi tidak lebih dari 5 (lima) menit;
9) Apabila seorang pembicara menyimpang dari pokok pembicaraan, maka Pimpinan Sidang
dapat mengingatkan dan meminta kembali kepada pokok pembicaraan;

Pasal 15
Sanksi terhadap pelanggaran tata cara penyampaian pendapat

1) Apabila seorang pembicara dalam sidang menggunakan kata-kata tidak layak, menggangu
ketertiban sidang, maka Pimpinan Sidang dapat memberi peringatan;
2) Apabila teguran Pimpinan Sidang di indahkan dan pembicara tidak menarik kata-kata atau
meminta maaf kepada Pimpinan dan Peserta Sidang lain, maka kata-kata atau perbuatan
tersebut tidak di muat dalam Risalah Sidang;
3) Apabila tidak mengindahkan teguran Pimpianan Sidang, maka Pimpinan sidang menghentikan
pembicara untuk berbicara;
4) Apabila teguran sebanyak 3 (tiga) kali tidak diindahkan, maka Pimpinan Sidang dapat
mengeluarkan peserta sidang dari ruangan;
5) Jika di perlukan Pimpinan Sidang dapat menunda waktu persidangan paling lama 1 (satu) jam
dengan persetujuan peserta sidang;

Pasal 16
Sifat sidang MUSDA
1) Sidang MUSDA dapat bersifat terbuka dan tertutup;
2) Sidang-sidang Pimpinan MUSDA pada dasarnya bersifat tertutup;
3) Pembicaraan dalam rapat tertutup hanya boleh di umumkan Pimpinan Sidang;
4) Atas usul pimpinan dan peserta, sidang dapat memutuskan bahwa pembicaraan bersifat
rahasia.
5) Rahasia sebagaimana yang dimaksd pada ayat (4) pasal ini harus di pegang teguh oleh
peserta yang hadir.

Pasal 17
Risalah Sidang

1) Setiap sidang perlu di buat risalah lengkap yang memuat;


2) Tempat, Jenis dan acara sidang;
3) Hari, tanggal, jam permulaan dan penutupan sidang.
4) Nama-nama pembicara dan pendapat masing-masing.

BAB V
PENILAIAN PERTANGGUNG JAWABAN PENGURUS KABUPATEN

Pasal 18
PERTANGGUNG JAWABAN

1) Pengurus Kabupaten PPNI masa bakti 2012 – 2017 menyampaikan Laporan Pertanggung
Jawaban kepada sidang paripurna dan di tanggapi oleh peserta MUSDA yakni utusan melalui
Ketua PPNI Komisariat masing-masing;
2) Setelah Laporan Pertangung Jawaban disampaikan, maka Pengurus Kabupaten PPNI masa
bakti 2012-2017 dinyatakan demisioner oleh Pimpinan MUSDA.
3) Untuk selanjutnya Pimpinan MUSDA bertangung jawab terhadap keberadaan organisasi PPNI
di Kabupaten Manggarai Barat sampai dengan terpilihnya Ketua yang baru periode 2018-2023

BAB VI
TATA CARA PEMILIHAN KETUA PENGURUS KABUPATEN PPNI
DAN TIM FORMATUR

Pasal 19
Tata cara pemilihan Ketua Pengurus Kabupaten PPNI
Kabupaten Manggarai Barat

1) Bakal Calon Ketua dapat di ajukan sebagai nominasi calon ketua apabila di ajukan oleh
minimal 3(Tiga) Pengurus PPNI Komisariat melalui Ketuanya masing-masing dengan kriteria :
a. Bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa;
b. Berbadan sehat jasmani dan rohani;
c. Berijazah minimal D III Keperawatan;
d. Terdaftar sebagai anggota PPNI yang dibuktikan dengan adanya NIRA
e. Bersedia di calonkan menjadi Ketua secara tertulis;
f. Bersedia menyampaikan Visi dan Misi Program Kerja apabila masuk menjadi calon
Ketua;
g. Mampu melaksanakan kegiatan organisasi yang di tandai oleh kecukupan waktu;
h. Mampu memfasilitasi semua lapisan anggota;
i. Mempunyai hubungan yang luas atau akses kepada Pemerintah, profesi lain dan
masyarakat;
j. Mempunyai jiwa kepemimpinan;
k. Berdomisili dan Bekerja di ibu kota Kabupaten Manggarai Barat;
l. Pernah menduduki sebagai pengurus PPNI Kabupaten Manggarai Barat;
2) Apabila ketua yang lama /demisioner di calonkan kembali, maka laporan pertanggung jawaban
yang disampaikan pada masa kepemimpinannya harus diterima minimal 60 % dari jumlah
pengurus Komisariat;
3) Pemilihan Ketua dilakukan secara langsung dari dan oleh peserta utusan MUSDA dengan
ketentuan :
a. Apabila Calon Ketua yang diusulkan secara aklamasi oleh seluruh ketua Komisariat
PPNI ternyata hanya satu orang yang memenuhi persyaratan, maka calon tersebut
langsung di nyatakan sebagai Ketua terpilih oleh Pimpinan MUSDA
b. Apabila Calon Ketua yang di usulkan oleh Ketua Komisariat yang memenuhi syarat
lebih dari satu orang maka akan dilakukan pemilihan secara langsung oleh peserta
utusan yang diawali dengan penyampaian visi dan dan misi masing-masing calon;
c. pemilihan secara langsung dilakukan secara tertutup;
d. hak suara dalam pemilihan secara langsung sebagai berikut Pengurus kabupaten
satu suara, satu komisariat satu suara;
e. sebelum memulai pemilihan langsung Pimpinan MUSDA akan membuka kotak suara
yang berisi surat suara dalam keadaan terkunci dan bersegel MUSDA III PPNI
Kabupaten Manggarai Barat didepan seluruh peserta utusan dengan di saksikan dari
dekat oleh 3 (tiga) orang saksi yakni : Satu orang dari Penggurus Kabupaten
demisioner, satu orang dari Pengurus Komisariat, dan satu orang dari Peninjau;
f. surat suara di hitung bersama-sama dan kotak suara yang kosong di perlihatkan
kepada peserta dan saksi, setelah itu di kunci kembali, dan kuncinya dipegang oleh
Pimpinan Sidang. Kotak suara diawasi tiga orang saksi tersebut;
g. surat suara di pegang oleh Pimpinan MUSKAB di berikan kepada peserta setelah
peserta menyerahkan "Name Tag" kepada panitia pemilihan / Pimpinan MUSDA;
h. Peserta utusan memilih Ketua dengan cara menulis nama Calon Ketua yang
dipilihnya, kemudian di lipat dan dimasukkan dalam kotak suara;
i. Pemberian dan perhitungan suara dilakukan langsung pada periode waktu yang sama
dan tidak ada jeda waktu istirahat;
j. Calon Ketua dengan perolehan suara terbanyak di nyatakan sebagai Ketua terpilih
periode tahun 2018 – 2023.

Pasal 20
Tata cara Pemilihan Formatur

1) Formatur dipimpin oleh Ketua terpilih yang dilengkapi oleh Anggota Formatur yang terdiri dari
Pengurus Kabupaten demisioner dan Ketua Komisariat.
2) Anggota Formatur berjumlah 9 orang (Ketua terpilih, 2 orang Pengurus Kabupaten demisioner,
6 unsur Ketua Komisariat)
3) Peserta utusan melalui juru bicara masing-masing unsur dapat mengajukan Calon Formatur
kepada Pimpinan Sidang.
4) Berdasarkan usul – usul yang diajukan sebagaimana di maksud ayat (3). pasal ini, Pimpinan
Sidang mengumumkan nama-nama komposisi Formatur kepada Sidang Paripurna MUSDA;
5) Anggota Formatur tidak harus menjadi Pengurus Kabupaten;
6) Dalam sidang Parpurna, Pimpinan MUSDA menyerahkan mandat kepada Ketua terpilih
sebagai Ketua Formatur dan Tim Formatur untuk melengkapi personalia Pengurus Kabupaten
dan Dewan Pertimbangan Kabupaten periode 2018 – 2023;
7) Paling lambat 1 (satu) bulan setelah MUSDA susunan Pengurus Kabupaten PPNI dan
Pengurus Dewan Pertimbangan Kabupaten periode 2018 – 2023 telah terbentuk, maka Tim
Formatur dinyatakan bubar secara otomatis

BAB VII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 21
1) Segala sesuatu yang belum diatur dalam tata tertib ini diputuskan oleh MUSDA
2) Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di : Labuan Bajo


Pada Tanggal : 11 Mei 2018

PIMPINAN SIDANG I
MUSYAWARAH DAERAH III
PERSATUAN PERAWAT NASIONAL INDONESIA
KABUPATEN MANGGARAI BARAT

NO. SUSUNAN NAMA TANDA TANGAN


1 KETUA
2 SEKRETARIS
3 ANGGOTA
4 ANGGOTA