Anda di halaman 1dari 16

Pengauditan II

Pengambilan Sampel Audit Untuk Pengujian Perincian Saldo

Kelompok 1

Ryan Riyanto Rachmat A31115502

Muh. Takbir Tenri G. A31115513

Ahmad Alief Wardiman A31115307

DEPARTEMEN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI & BISNIS

UNIVERSITAS HASANUDDIN

2018
Kata Pengantar

Puji dan syukur penyusun panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena
atas bimbingan-Nya, penyusun dapat menyelesaikan makalah “Pengambilan Sampel
Audit Untuk Pengujian Perincian Saldo”. Penyusun mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.

Diharapkan makalah ini dapat menambah wawasan penyusun maupun


pembaca mengenai topik makalah ini. Penyusun juga mengharapkan saran dan kritik
untuk perkembangan pengetahuan dalam topik ini.

Demikian makalah ini disusun, penyusun memohon maaf apabila ada


kesalahan dalam penulisan makalah ini.

Makassar, 4 September 2018

Penyusun

ii
Daftar Isi

Kata Pengantar............................................................................................................ii

Daftar Isi.....................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN............................................................................................1

1.1 Latar Belakang..............................................................................................1

1.2 Tujuan............................................................................................................2

1.3 Manfaat..........................................................................................................2

BAB 1I PEMBAHASAN.............................................................................................3

2.1 Pengambilan Sampel Audit Untuk Pengujian Perincian Saldo................3

2.2 Pengambi Lan Sampel Nonstatistik............................................................4

2.3 Pengambilan Sampel Unit Moneter............................................................5

2.4 Pengambilan Sampel Variabel...................................................................11

BAB III PENUTUP...................................................................................................12

3.1 Kesimpulan..................................................................................................12

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................13

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sampling adalah proses menerapkan prosedur-prosedur audit pada sampel


yang merupakan bagian dari keseluruhan populasi guna mengambil kesimpulan
mengenai total populasi. Teori sampling mengasumsikan bahwa kualitas yang dimilki
sampel yang representatif bisa diperhitungkan ke populasi.

Sampling, pada hakikatnya, adalah proses mempelajari keseluruhan dengan


menelaah hanya sedikit. Pada yang sama, dengan sampling auditor harus menerima
risiko bahwa sampel yang dipilih tidak benar-benar mencerminkan populasi, yakni,
bahwa karakteristik yang diproyeksikan dari sampel tidak sama dengan yang akan
ditemukan. Jika keseluruhan populasi atau sampel dalam jumlah yang lebih besar
diaudit.

Sampling, bukanlah akhir tujuan itu sendiri, justru hanya merupakan sarana
untuk mencapai tujuan. Sampel dan hasil sampel hanyalah data mentah data yang
harus diberi bobot dan dipelajari. Data tersebut harus dianalisis materialitasnya,
alasan, penyebab, dan dampak aktual atau potensial. Jadi sampel yang diambil
merupakan langkah pertama untuk memberikan opini audit.

Dengan meningkatnya penggunaan teknologi informasi, auditor harus


memutuskan apakah sampling merupakan cara yang paling efisien dan efektif untuk
mendapatkan bukti. Dengan adanya piranti lunak (software) yang bisa digunakan di
keseluruhan perusahaan dan piranti lunak terintegritas lainnya, seorang auditor bisa
memutuskan untuk tidak mengambil sampel dari populasi melainkan mengaudit 100
persen populasi.

1
Piranti lunak audit umum dan teknik-teknik lainnya bisa memungkinkan
auditor untuk lebih efisien mengaudit 100 persen populasi dibandingkan memilih
sampel dan mengaudit sampel tersebut. Hal ini khususnya bisa terjadi bila suatu
entitas tidak lagi menggunakan dokumen-dokumen manual.

1.2 Tujuan

1. Membedakan sampling audit untuk pengujian atas rincian saldo dan pengujian
pengendalian serta pengujian subtantif atas transaksi

2. Menerapkan sampling nonstatistik untuk pengujian atas rincian saldo

3. Menerapkan sampling unit moneter

4. Menguraikan sampling variabel

5. Menggunakan estimasi yang berbeda dalam pengujian atas rincian saldo

1.3 Manfaat

1. Memberikan gambaran secara umum teknik-teknik pengambilan sampel


dengan masing-masing metode

2. Tujuan audit dapat terpenuhi selama sampling dilakukan dengan benar

3. Mengetahui bagaimana cara menentukan, langkah-langkah serta metode yang


dapat digunakan dalam menentukan sampling yang representative

2
BAB 1I

PEMBAHASAN

2.1 Pengambilan Sampel Audit Untuk Pengujian Perincian Saldo

Perbandingan utama dari pengujian pengendalian, pengujian subtantif


atas transaksi, dan pengujian perincian saldo terletak pada bagian mana yang
ingin diukur oleh auditor.
 Pengujian pengendalian – Bagian yang diukur efektivitas pengoperasian
pengendalian internal
 Pengujian substantif atas transaksi – Bagian yang diukur Etektivitas
pengendalian
 Pengujian perincian saldo – Jumlah uang dalam saldo akun yang
mengalami salah saji secara material

Auditor melakukan pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas


transaksi :
 Untuk menentukan rendahnya tingkat pengecualian dari populasi.
 Untuk mengurangi risiko pengendalian sehingga mengurangi pengujian
perincian saldo.
 Bagi perusahaan publik, untuk menyimpulkan bahwa pengendalian
berlangsung secara efektif terhadap audit pengendalian internal pelaporan
keuangan.

Auditor jarang menggunakan pengujian tingkat keterjadian (rate of


occurrence) tidak seperti pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas
transaksi dalam pengujian perincian saldo. Auditor menggunakan metode
pengambilan sampel yang menghasilkan nilai rupiah.Terdapat 3 jenis metode
utama dalam pengambilan sampel yang digunakan untuk menghitung salah saji

3
nilai rupiah dalam saldo akun, yaitu : pengambilan sampel nonstatistik,
pengambilan sampel unit moneter (monetary unit sampling), dan pengambilan
samper variabel (variables sampling).

2.2 Pengambi Lan Sampel Nonstatistik

Ada 14 langkah yang perlu dilakukan dalam pengambilan sampel audit


untuk menguji perincian saldo. Langkah-langkah itu dilakukan secara paralel dan
digunakan dalam pengujian pengendalian dan pengujian substantifatas transaksi,
meskipun tujuannya berbeda. Langkah – Pengambilan Sampel Audit untuk
Pengujian Perincian Saldo :

Merencanakan sampel
1. Menetapkan tujuan dari pengujian audit
2. Menentukan adanya pengambilan sampel
3. Menetapkan salah saji.
4. Menetapkan populasi.
5. Menetapkan unit pengambilan sampel
6. Menetapkan salah saji yang dapat diterima
7. Menetapkan risiko yang dapat diterima qtas kesalahan.
8. Mengestimasi salah saji dalam populasi
9. Menentukan jumlah sampel awal.

Memilih sampel dan melakukan prosedur audit


10. Memilih sampel.
11. Melakukan prosedur audit.
Mengefaluasi sampel
12. Membuat generalisasi dari sampel ke populasi.
13. Menganalisis salah saji.
14. Menentukan keberterimaan populasi

2.3 Pengambilan Sampel Unit Moneter

4
Pengambilan sampel unit moneter merupakan inovasi dalam metodologi
pengambilan sampel statistikyang dikembangkan khusus untuk auditor.
Pengambilan sampel unit moneter (monetary unit sampling/MUS) merupakan
metode pengambilan sampel statistik yang paling umum untuk pengujian
perincian saldo karena prosesnya cukup sederhana namun hasilnya dapat
dinyatakan dalam rupiah (atau mata uang lain). MUS dapat disebut juga
pengambilan sampel unit rupiah, pengambilan sampel nilai moneter kumulatif,
dan pengambilan sampel dengan proporsi probabilitas.

Perbedaan antara MUS dengan Pengambilan Sampel Nonstatistik


MUS sama dengan penggunaan pengambilan sampel nonstatistik, Dari
14langkah, seluruhnya dilakukan untuk MUS, meskipun ada yang dilakukan
dengan carayang berbeda. Pemahaman atas perbedaan tersebut merupakan
kunci dari pemahaman MUS.

Delinisi dari Unit Pengambilan Sampel sebagai Nilai Uang lndividu.


Ciri khas yang menonjol dari MUS adalah bahwa pengambilan unit
sampel ditentukan sebagai nilai uang individu dalam suatu saldo akun. Nama
metode statistik dan pengambilan sampel atas unit moneter dihasilkan dari
adanya ciri khas tersebut. Berfokus pada nilai uang individu sebagai unit
sampel, MUS secara otomatis menekankan pada unit fisik dengan saldo
tercatat yang lebih besar.

Ukuran Populasi Berupa Populasi uang yang Tercatat.


Metode pemilihan sampel dalam MUS, tidak dapat mengevaluasi
kemungkinan tidak tercatatnya bagian-bagian dalam populasi. Diasumsikan
bahwa MUS digunakan untuk mengevaluasi apakah persediaan disajikan
secara wajar. MUS tidak dapat digunakan untuk mengevaluasi apakah
5
persediaan tertentu sebenarnya ada tetapi belum diperhitungkan. Jika tujuan
kelengkapan merupakan hal yang penting dalam pengujian audit, maka
biasanya tujuan tersebut harus dipenuhi secara terpisah dalam pengujian
MUS.

Setiap Akun Menggunakan Penilaian Awal Materialitas, dan Bukan salah


saji yang Diterima.
Aspek unik lainnya dari MUS adalah penilaian awal materialitas yang
secara langsung menentukan jumlah salah saji yang dapat diterima untuk
proses audit setiap akun. Teknik pengambilan sampel lainnya mensyaratkan
auditor untuk menentukan salah saji yang dapat diterima terhadap setiap akun
dengan mengalokasikan penilaian awal terhadap materialitas. Hal ini tidak
perlu dilakukan jika menggunakan MUS.

Jumlah Sampel Ditentukan Menggunakan Rumus Statistik.


Proses ini dilakukan secara terperinci setelah kita membahas 14
langkah pengambilan sampel untuk MUS.

Aturan Keputusan Formal Digunakan untuk Menentukan


Keberterimaan Populasi.
Peraturan yang digunakan untuk MUS sama dengan yang digunakan
dalam pengambilan sampel nonstatistik, tetapi sebenarnya cukup berbeda.

Pemilihan Sampel Dilakukan Menggunakan PPS.


Sampel unit moneter dipilih menggunakan proporsi probabilitas
pemilihan jumlah sampel (probability proportional to size (PPS) sample
selection). Sampel PPS bisa didapatkan menggunakan peranti lunak komputer,
tabel angka acak, atau teknik pengambilan sampel yang sistematis. Metode

6
statistik untuk mengevaluasi sampel unit moneter memperbolehkan adanya
pencantuman satu unit fisik dalam sampel lebih dari satu kali.
Satu masalah dalam pemilihan sampel ppS adalah bahwa bagian
populasi dengan saldo tercatat nol tidak mungkin dipilih menggunakan PPS,
meskipun mungkin terjadi salah saji. sama halnya dengan saldo kecil yang
salah saji secara signifikan, kecil kemungkinannya untuk dimasukkan dalam
sampel. Masalah ini dapat diatasi dengan melakukan pengujian audit khusus
untuk saldo nol atau saldo kecil, dengan asumsi bahwa saldo akun tersebut
memiliki kepentingan yang besar.
Masalah lain dalam PPS adalah ketidakmampuannya memasukkan
saldo negatif dalam sampel (unit moneter) ppS, misalnya saldo kredit dalam
piutang dagang. Saldo negatif dalam pemilihan sampel ppS dapat diabaikan
dan pengujiannya dapat dilakukan dengan cara lain.. Salah satu alternatifnya
adalah dengan memperlakukan saldo negative tersebut sebagai saldo positif
dan menambahkannya pada jumlah unit moneter yang sedang diuji. Meskipun
demikian, har ini dapat mempersulit proses evaluasi.

Generalisasi sampel ke popurasi Menggunakan Teknik MUS oleh


Auditor
Berapapun metode pengambilan sampel yang dipilih, auditor tetap
harus melakukan generalisasi dari sampel ke populasi dengan (1)
memproyeksikan salah saji dari hasil sampel ke populasi dan (2) menentukan
kesalahan pengambilan sampelnya. Terdapat 4 aspek dalam menggunakan
MUS, yaitu:

1. Tabel pengambilan sampel atribut digunakan untuk menghitung


hasilnya

7
2. Hasil atribut harus dikonversikan ke dalam mata uang. MUS
memperkirakan jumlah uang yang salah saji dalam populasi, bukan
persentase populasi yang salah saji.
3. Auditor harus membuat asumsi tentang persentase salah saji untuk
setiap bagian populasi yang salah saji. Dengan asumsi ini, auditor
dapat menggunakan tabel pengambilan sampel atribut untuk
mengestimasi jumlah salah saji.
4. Hasil statistik yang didapatkan dengan menggunakan MUS disebut
batas salah saji (misstatement bounds). Batas salah saji ini
mengestimasi kemungkinan tertinggi dari lebih saji (batas salah saji
atas) dan kemungkinan tertinggi dari kurang saji (batas salah saji
bawah) pada ARIA tertentu. Auditor menghitung keduanya, baik batas
salah saji atas maupun bawah.

Generalisasi dari sampel ke populasi merupakan rangkah terakhir yang


penting dilakukan. Generalisasi akan berbeda jika auditor tidak menemukan
salah saji dalam sampel untuk dibandingkan. Dua kondisi berikut akan
mengevaluasi tindakan generalisasi.

1. Generalisasi dari Sampel ke Populasi Ketika Salah Saji Tidak


Ditemukan dengan Menggunakan MUS.
2. Generalisasi Ketika Salah Saji Ditemukan

Menentukan Keberterimaan Populasi Menggunakan MUS


Setelah batas salah saji dihitung, auditor harus memutuskan apakah
populasi dapat diterima. Terdapat aturan pengambilan keputusan untuk
tindakan tersebut. Aturan pengambilan keputusan untuk MUS adalah: lika
baik batas salah saji bawah (Iower misstatement bounds / LMB) maupun batas
salah saji atas (upper misstatement bounds / UMB) terletak di antara jumlah
8
kurang saji dan lebih saji yang dapat diterima, maka dapat disimpulkan bahwa
salah saji nilai buku tidak material. lika tidak, maka salah saji tersebut
material.

 Menentukan Sampel Menggunakan MUS


Metode yang digunakan untukmenentukan jumlah sampel MUS sama
denganyang digunakan dalam unit fisik pengambilan sampel atribut, yaitu
menggunakan tabel pengambilan sampel atribut.Terdapat lima hal yang
diperlukan untuk menghitung jumlah sampel menggunakan MUS.
 Materialitas. Penilaian awal tentang materialitas secara normal berbasis
pada jumlah salah saji yang dapat diterima yang digunakan. Jika salah saji
dalam pengujian non-MUS diperkirakan terjadi, maka salah saji yang
dapat diterima merupakan materialitas dikurangi jumlah tersebut. Salah
saji yang dapat diterima bisa berbeda untuk kurang saji atau lebih saji
 Asumsi Persentase Rata-Rata Salah Saji untuk Populasi yang
Mengandung Salah Saji. bisa terdapat perbedaan asumsi untuk batas atas
dan batas bawah. Hal ini juga merupakan penilaian auditor. Hal ini
sebaiknya didasarkan pada pengetahuan auditor atas klien dan pengalaman
masa lalu, dan jika kurang dari 100% yang digunakan, maka asumsi harus
kuat.
 Risiko yang Dapat Diterima atas Kesalahan Penerimaan. ARIA
merupakan penilaian dari auditor dan biasanya dicapai dengan bantuan
model risiko audit.
 Nilai Populasi Tercatat. Nilai uang dari populasi diambil dari pencatatan
klien.
 Estimasi Tingkat Pengecualian Populasi. Secara normal, estimasi
tingkat pengecualian populasi untuk MUS adalah nol, karena MUS
kebanyakan digunakan saat tidak terjadi salah saji, atau hanya sedikit yang

9
diperkirakan terjadi. Ketika salah saji diperkirakan terjadi, total uang dari
ekspektasi salah saji populasi diestimasi dan dicerminkan dalam
presentase jumlah populasi tercatat.
 Hubungan antara Model Risiko Audit dengan Ukuran Sampel MUS.

Pemakaian Sampel Unit Meneter dalam Audit


Empat alasan mengapa MUS menarik bagi auditor.
1. MUS secara otomatis meningkatkan kecenderungan dalam pemilihan
jumlah uang yang besar dalam populasi yang diaudit.
2. MUS dapat mengurangi biaya pengujian audit karena beberapa sampel
diuji sekaligus.
3. MUS mudah diterapkan
4. MUS lebih menghasilkan inferensi statistik dibandingkan nonstatistik

Namun MUS juga memiliki kekurangan,yaitu :


1. Total batas salah saji yang dihasilkan saat ditemukan salah saji mungkin
terlalu tinggi sehingga tidak dapat digunakan auditor.
2. Sulit dalam memilih sampel PPS dari populasi besar tanpa bantuan
komputer.
2.4 Pengambilan Sampel Variabel

Pengambilan sampel variabel merupakan metode statistik yang


digunakan oleh auditor. Pengambilan sampel variabel dan nonstatistik
untukpengujian perincian saldo memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk
mengukur salah saji dalam saldo. Untuk sampel nonstatistik, ketika auditor
menentukan bahwa jumlah salah saji melebihi jumlah yang dapat diterima,
mereka menolak populasi dan melakukan tindakan tambahan.

10
Beberapa teknikpengambilan sampel terdiri atas klasifikasi metode umum
yang disebut pengambilan sampel variabel : estimasi perbedaan, estimasi rasio,
dan estimasi rata-rata per unit.

Perbedaan antara Pengambilan Sampel Variabel dan Nonstatistik


Penggunaan metode variabel memiliki banyak kesamaan dengan
sampel nonstatistik. 14 langkah yang dibahas dalam sampel nonstatistik juga
harus dilakukan untuk metode variabel, dan kebanyakan sama. Beberapa
perbedaan antara pengambilan sampel variabel dan nonstatistik akan dibahas
setelah pembahasan distribusi pengambilan sampel.

Distribusi Pengambilan Sampel


Untuk memahami alasan dan cara auditor menggunakan metode
pengambilan sampel variabel dalam audit, Anda perlu memahami terlebih
dahulu distribusi pengambilan sampel dan pengaruhnya terhadap keputusan
statistik auditor. Auditor tidak mengetahui nilai rata-rata salah saji dalam
populasi, distribusi jumlah salah saji, atau nilai yang diaudit. Karekteristik
populasi ini harus diestimasidalam sampel, yang tentunya merupakan tujuan
dari pengujian audit.

11
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Perbedaan utama antara pengujian pengendalian, pengujian substantif
atas transaksi, dan pengujian atas rincian saldo terletak pada apa yang ingin
diukur oleh auditor. Pada pengujian pengendalian auditor mengukur keefektifan
operasi pengendalian internal, sedangkan pada pengujian substantif atas transaksi
auditor mengukur tidak hanya keefektifan pengendalian namun juga kebenaran
moneter transaksi dalam sistem akuntansi. Dan pada pengujian atas rincian saldo
apa yang diukur adalah apakah jumlah saldo akun mengandung salah saji yang
material.
Terdapat 14 langkah dalam sampling non statistik untuk pengujian atas
rincian saldo. Bagi kebanyakan populasi, auditor memisahkan populasi ke dalam
dua atau lebih subpopulasi sebelum menerapkan sampling audit atau disebut
sampling berstratifikasi ( stratified sampling ). Ketika melaksanakan sampling
audit nonstatistik, auditor menggunakan pertimbangan untuk menggeneralisasi
dari sampel ke populasi guna menentukan apakah sampel dapat diterima.
Sampling unit moneter adalah metode statistik yang paling umum untuk
pengujian atas rincian saldo. Metode ini mendefinisikan unit sampling sebagai
setiapndolar dalam saldo akun yang tercatat, dan akibatnya, akun yang lebih
besar lebih mungkin dimasukkan dalam sampel. Metode sampling statistik
variabel mencakup estimasi perbedaan, estimasi rasio, dan estimasi rata-rata per
unit. Metode-metode tersebut membandingkan nilai sampel yang diambil dengan
nilai tercatat untuk mengembangkan estimasi salah saji nilai akun. Penggunaan
sampling variabel diilustrasikan dengan menggunakan estimasi perbedaan.

12
DAFTAR PUSTAKA

Arens, Alvin A., Elder,Randal J., Beasley,Mark S.,Auditing and Issurance Service:An
Integrated Approach, Ninth Edition, New Jersey : Prentince Hall, 2006.

13