Anda di halaman 1dari 17

Tugas Makalah Keperawatan Jiwa

MANAJEMEN STRES

Dosen Pengampu :

Idayanti, S.Pd., M.Kes.

Disusun oleh :

Yuni Ratnasari

(P0315143039)

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES RIAU

DIV KEPERAWATAN TK.II

2016/2017
i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang karena anugerah dari-Nya saya dapat
menyelesaikan makalah tentang "Manajemen Stres" ini. Sholawat dan salam semoga senantiasa
tercurahkan kepada junjungan besar kita, yaitu Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan
kepada kita jalan yang lurus berupa ajaran agama Islam yang sempurna dan menjadi anugerah
serta rahmat bagi seluruh alam semesta.

Saya sangat bersyukur karena telah menyelesaikan makalah yang menjadi tugas mata
kuliah Keperawatan Jiwa dengan judul "Manajemen Stres".Disamping itu, saya mengucapkan
banyak terima kasih kepada ibu Idayanti, S.Pd, M.Kes yang telah membantu saya selama
pembuatan makalah ini berlangsung sehingga terealisasikanlah makalah ini.

Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga makalah ini bisa bermanfaat dan mohon
ajukan kritik dan saran terhadap makalah ini agar kedepannya bisa diperbaiki.

Pekanbaru, 04 Juni 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................... Error! Bookmark not defined.


DAFTAR ISI................................................................... Error! Bookmark not defined.
BAB I PENDAHULUAN ............................................... Error! Bookmark not defined.
A. Latar Belakang ................................................. Error! Bookmark not defined.

B. Rumusan Masalah .............................................................................................. 2

C. Tujuan................................................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................. 3


A. Pengertian Manajemen Stres .............................................................................. 3

B. Menghindari Stres .............................................................................................. 4

C. Penggolongan Mekanisme Koping .................................................................... 6

D. Strategi Mengatur Stres ...................................................................................... 7

BAB III PENUTUP ........................................................................................................ 12


A. Kesimpulan....................................................................................................... 12

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 14

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sering kita jumpai didalam kehidupan sehari-hari beberapa orang yang mengalami Stress,
baik dalam kehidupan sosial maupun dilingkungan kerja. Pekerjaan yang terlalu sulit serta
keadaan sekitar yang monoton juga akan dapat menyebabkan Stress dalam bekerja di beberapa
Perusahaan. Stres adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk
ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan Stres dapat membuat
produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Bagi masyarakat pada era
industrialisasi sekarang ini, pekerjaan merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat penting.
Bagi masyarakat modern bekerja merupakan suatu tuntutan yang mendasar, baik dalam rangka
memperoleh imbalan berupa uang atau jasa, ataupun dalam rangka mengembangkan dirinya.
Pada kenyataannya, sebagian besar pekerjaan cenderung memiliki konotasi paksaan, baik yang
ditimbulkan dari dalam diri sendiri ataupun yang ditimbulkan dari luar. Pekerjaan juga seringkali
meliputi penggunaan waktu dan usaha di luar keinginan individu pekerja.

Banyak pekerja yang melakukan pekerjaan rutin, yang tidak atau hanya sedikit menuntut
inisiatif dan tanggungjawab, dengan sedikit harapan untuk maju atau berpindah kejenis pekerjaan
lain. Banyak juga pekerja yang melakukan tugas yang berada jauh dibawah kemampuan
intelektual mereka atau yang mereka anggap berada dibawah tingkat pendidikan yang telah
mereka peroleh. Di banyak sektor industri, pekerjaan telah sangat ‘dirasionalisasikan’, dipecah-
pecah kedalam tugas-tugas yang sederhana, menoton, dan menjemukan, yang hanya sesuai bagi
robot yang tidak dapat berpikir.

Pada level organisasi yang lebih tinggi, tingkat manajer atau supervisor, perkembangan
teknologi dan industrialisasi yang pesat menuntut adanya kemampuan managerial dan intelektual
yang lebih baik, yang terkadang melampaui kemampuan yang dimiliki sebahagian besar
individu. Dengan adanya teknologi yang lebih baik maka arus komunikasi dan proses produksi
akan berjalan lebih cepat sehingga seorang manager dapat menjadi demikian sibuknya dan
dibebani pekerjaan yang memerlukan penyelesaian dengan segera. Pada penyelesaian
(supervisor) terjadi benturan antara dua tuntutan yang berbeda, disatu pihak ia harus

1
memperhatikan penyelesaian tugas yang berbatas waktu dan dilain pihak ia harus juga
memperhatikan pembinaan hubungan baik dengan bawahan-bawahannya.
Keadaan-keadaan diatas, baik bagi pekerjaan maupun bagi pihak manajer dan penyelia,
menimbulkan perasaan tegang dalam diri mereka akibat faktor-faktor samar yang mengancam,
baik yang bersifat sosial, managerial, ataupun yang berkaitan dengan lingkungan kerja yang
tidak dapat diatasi. Seorang yang menderita Stress, selain terwujud dalam berbagai macam
penyakit, dapat pula terungkap melalui ketidak mampuannya untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungannya, sehingga menderita gangguan kecemasan, depresi dan gangguan psikosomatik.
Penderitaan fisik dan/atau psikik menyebabkan orang tak dapat berfungsi secara wajar, tak
mampu berprestasi tinggi dan sering menjadi masalah bagi lingkungannya (di rumah, di tempat
kerja atau lingkungan sosial lain), merupakan akibat dari Stress yang berkelanjutan.

1.2 Rumusan Masalah


a) Apa pengertian Stres?
b) Bagaimana cara menghindari Stres?
c) Bagaimana mekanisme koping individu terhadap Stres?
d) Apa saja strategi manajemen Stres?

1.3 Tujuan Penulisan


a) Untuk mengetahui pengertian Stres
b) Untuk mengetahui bagaimana cara menghindari Stres
c) Untuk mengetahui mekanisme koping individu terhadap Stres
d) Untuk mengetahui strategi apa saja yang dapat dilakukan untuk manajemen Stres

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Stress

Stres adalah suatu rangsangan yang menegangkan psikologis dari suatu


organisme,tekanan-tekanan fisik dan psikologis yang menekan organ tubuh dan atau diri
sendiri,suatu keadaan ketegangan psikologis karena kecemasan.Kata “Stres” telah digunakan
sejak awal tahun 1900-an untuk menggambarkan situasi yang menimbulkan perubahan secara
fisik dan psikis dalam diri individu. Tiap orang memandang Stres secara berbeda-berbeda. Stres
dapat menjadi berbahaya atau bahkan membantu, tergantung keadaan.Beberapa Stres
menguntungkan karena memotivasi individu untuk meningkatkan kinerja dan membuat
perubahan-perubahan dalam hidup.

Stres adalah beban rohani yang melebihi kemampuan maksimum rohani itu sendiri,
sehingga perbuatan kurang terkontrol secara sehat.Stress tidak selalu buruk, walaupun biasanya
dibahas dalam konteks negatif, karena Stress memiliki nilai positif ketika menjadi peluang saat
menawarkan potensihasil. Sebagai contoh, banyak profesional memandang tekanan berupa
beban kerja yang berat dan tenggat waktu yang mepet sebagai tantangan positif yang menaikkan
mutu pekerjaan mereka dan kepuasan yang mereka dapatkan dari pekerjaan mereka.
Stress bisa positif dan bisa negatif.

Pengertian Stres menurut beberapa ahli :

 Stress merupakan suatu kondisi yang disebabkan adanya ketidaksesuaian antara situasi
yang diinginkan dengan keadaan biologis, psikologis atau sistem sosial individu tersebut
(Sarafino 2006).
 Menurut Santrock (2003) Stress merupakan respon individu terhadap keadaan atau
kejadian yang memicu Stress (Stresor), yang mengancam dan mengganggu kemampuan
seseorang untuk menanganinya (coping).
 Baron dan Byrne (1997) menyatakan bahwa Stress merupakan respon terhadap persepsi
kejadian fisik atau psikologis dari individu sebagai sesuatu yang potensial menimbulkan
bahaya atau tekanan emosional.

3
 Selye (dalam Munandar, 2001) menyatakan bahwa Stress adalah tanggapan menyeluruh
dari tubuh terhadap setiap tuntutan yang dating atasnya. Jadi Stress bersifat subyektif
tergantung bagaimana orang tersebut memandang kondisi penyebab Stres (Stresor).
 Menurut Hager (1999), Stress sangat bersifat individual dan pada dasarnya bersifat
merusak bila tidak ada keseimbangan antara daya tahan mental individu dengan beban
yang dirasakannya. Namun, berhadapan dengan suatu Stresor (sumber Stress) tidak selalu
mengakibatkan gangguan secara psikologis maupun fisiologis. Terganggu atau tidaknya
individu, tergantung pada persepsinya terhadap peristiwa yang dialaminya. Faktor kunci
dari Stress adalah persepsi seseorang dan penilaian terhadap situasi dan kemampuannya
untuk menghadapi atau mengambil manfaat dari situasi yang dihadapi.

Stresor yang sama dapat dipersepsi secara berbeda, yaitu dapat sebagai peristiwa yang
positif dan tidak berbahaya, atau menjadi peristiwa yang berbahaya dan mengancam. Penilaian
kognitif individu dalam hal ini nampaknya sangat menentukan apakah Stresor itu dapat berakibat
positif atau negatif. Penilaian kognitif tersebut sangat berpengaruh terhadap respon yang akan
muncul (Selye, 1956).Penilaian kognitif bersifat individual differences, maksudnya adalah
berbeda pada masing-masing individu.Perbedaan ini disebabkan oleh banyak faktor.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa Stress adalah ketidaksesuaian
antara situasi yang diinginkan dimana terdapat kesenjangan antara tuntutan lingkungan dan
kemampuan individu untuk memenuhinya yang dinilai potensial membahayakan, mengancam,
mengganggu dan tidak terkendali atau melebihi kemampuan individu untuk melakukan coping.
Jadi, Stress adalah suatu keadaan yang bersifat internal, yang bisa disebabkan oleh tuntutan fisik
(badan), atau lingkungan, dan situasi sosial, yang berpotensi merusak dan tidak terkontrol.

2.2 Cara Menghindari Stress

Stres yang berkepanjangan bisa memicu terkena berbagai jenis penyakit. Mungkin ada
yang bertanya-tanya, “Kenapa Stress bisa menyebabkan penyakit?”.Jawabannya, Stress bukan
hanya sekadar perasaan. Kondisi Stressakan memicu beberapa reaksi, seperti tekanan darah
meningkat, pembuluh darah menyempit, dan pernafasan pun akan lebih cepat dari normal. Hal
ini disebabkan karena tubuh melepas hormon kortisol dan adrenalin yang membuat kerja jantung
menjadi lebih cepat. Hormon tersebut juga mampu meluapkan energi secara percuma sehingga

4
akan merasa mudah lelah. Nah untuk itu lebih baik untuk melakukan upaya penghindaran
terhadap Stres, berikut cara yang bisa dilakukan untuk menghindari Stres :

a. Jaga selalu kondisi tubuh dan perkuatlah dengan cara mengkonsumsi makanan
dan minuman 4 sehat 5 sempurna secara disiplin
b. Tidur dan istirahat yang cukup, karena tidur merupakan salah satu terapi untuk
mengurangi kemarahan, kesedihan, karena tidur memberi kesempatan pada otak
untuk relax.
c. Lakukan olahraga teratur, karena gerak tubuh akan merangsang keluar zat
endorphine yaitu zat yang membuat tubuh merasa nyaman. Orang yang senang
berolahraga umumnya tampak lebih fit dan bahagia.
d. Selalu berfikir positif. Karena cerminan dari tindakan, tindakan positif berasal
dari pikiran positif serta tindakan negatif berasal dari pikiran negative. Tidak ada
orang yang berhasil dalam hidupnya kalau selalu berfikiran negatif baik pada
diri sendiri maupun orang lain.
e. Lakukan hobby atau hal-hal yang menyenangkan, karena hobby membuat rilex
dan sejenak melupakan rutinitas atau masalah yang ada.
f. Jangan terpaku pada rutinitas, harus berani berubah, tidak malu dan ragu.
Sebagai contoh merubah penampilan yang secara phsikologis hal ini menambah
semangat baru.
g. Murah senyum, tertawa lepas, bersenandung/ bernyanyi dan bersosialisasi
dengan teman/lingkungan (perlu teman curhat, tidak memendam masalah
sendiri)
h. Beribadah dan berdoa. Tidak hanya pada masa sulit saja, berbuat baik pada
semua orang, bersyukur pada setiap usaha kita, baik yang berhasil atau tidak
tetaplah bersyukur.

i. Jalani hidup pada masa sekarang. Tidak perlu berkutat pada kehidupan masa
lalu, terutama jika hal itu membuat perasaan sedih. Hiduplah di masa sekarang.
Lupakan pula ekspektasi negatif mengenai kehidupan di masa depan. Biarlah
hidup mengalir apa adanya. Percayalah, jika kita menjalani masa sekarang

5
dengan bahagia dan positif, maka itu akan berdampak pula kepada kehidupan
masa depan.

2.3 Mekanisme Koping Individu Terhadap Stres

Stres dapat menghasilkan berbagai respons, berbagai penelitian telah membuktikan


bahwa respons-respons tersebut berguna sebagai indikator terjadinya Stres pada individu dan
mengukur tingkat Stres yang dialami individu. Respons Stres dapat di lihat dalam berbagai aspek
sebagai berikut:

 Respons Fisiologis. Dapat ditandai dengan meningkatnya tekanan darah, detak jantung,
nadi dan sistem pernapasan
 Respons Kognitif. Dapat terlihat melalui terganggunya proses kognitif individu, seperti
pikiran kacau, menurunnya daya konsentrasi, pikiran berulang, dan pikiran tidak wajar.
 Respons Emosi. Dapat muncul sangat luas, menyangkut emosi yang mungkin dialami
individu, seperti takut, cemas, malu, marah, dan sebagainya
 Respons Tingkah laku. Dapat dibedakan menjadi fight, yaitu melawan situasi yang
menekan dan flight yaitu menghindar situasi yang menekan.

Menurut (lazarus dan folkman, 1984 dalam Nasir, 2011), dalam melakukan koping ada dua
strategi yang bisa dilakukan :

1. Problem focused coping.

Yaitu usaha mengatasi Stres dengan cara mengatur atau mengubah masalah yang
dihadapi dan lingkungansekitarnya yang menyebabkan terjadinya tekanan. Problem focused
coping di tujukan dengan mengurangi demands dari situasi yang penuh dengan Stres atau
memperluas sumber untuk mengatasinya. Seseorang cenderung menggunakan metode problem
focused coping apabila mereka percaya bahwa sumber atau demands dari situasinya dapat
diubah. Strategi yang dapat dipakai dalam problem focused coping antara lain sebagai berikut:

 Comfrontatif Coping: usaha untuk mengubah keadaan yang dianggap menekan dengan
cara yang agresif, tingkat kemarahan yang cukup tinggi, dan pengambilan resiko.

6
 Seeking Social Support: usaha untuk mendapatkan kenyamanan emosional dan bantuan
informasi dari orang lain.
 Planful Problem Solving: usaha untuk mengubah keadaan yang dianggap menekan
dengan cara yang hati-hati, berhadap, dan analitis.

2. Emotion focused coping

Yaitu usaha mengatasi Stres dengan cara mengatur respon emosional dalam rangka
menyusaikan diri dengan dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang
dianggap penuh tekanan. Emotion focused coping ditujukan untuk mengotrol respons emosional
terhadap situasi Stres. Seseorang dapat mengatur respons emosionalnya melalui pendekatan
perilaku dan kognitif. Strategi yang digunakan dalam emosional focused coping antara lain
sebagai berikut:

 Self-control: usaha untuk mengatur perasaan ketika menghadapi situasi yang menekan
 Distancing: usaha untuk tidak terlibat dalm permasalahan, seperti menghindar dari
permasalahan seakan tidak terjadi apa-apa atau menciptakan pandangan-pandangan
positif, seperti menganggap masalah sebagai lelucon.
 Positif Reappraisal: usaha mencari makna positif dari permasalahan dengan berfokus
pada pengembangan diri, biasanya juga melibatkan hal-hal yang bersifat religious.
 Acceting Responsibility: usaha untuk menyadari tanggung jawab diri sendiri dalam
permasalahan yang dihadapinya dan mencoba menerimanya untuk membuat semuanya
menjadi lebih baik. Strategi ini baik, terlebih bila masalah terjadikarena pikiran dan
tindakannya sendiri. Namun, strategi ini menjadi tidak baik jika individu tidak
seharusnya bertanggung jawab atas masalah tersebut.
 Escape/avoidance: usaha untuk mengatasi situasi menekan dengan lari dari situasi
tersebut atau menghindarinya dengan beralih pada hal lain seperti makan, minum,
merokok, atau menggunakan obat-obatan.

2.4 Strategi Manajemen Stres

Meskipun kehidupan masa kita telah membawa perubahan positif dalam kehidupan,
namun ada satu atau beberapa hal yang dapat menyebabkan Stres mental maupun fisik.Dalam

7
banyak situasi, Stres muncul pada kehidupan sehari-hari.Keadaan semacam itu membuat fikiran
tidak bisa untuk tetap tenang.Pekerjaan, keluarga, masalah pribadi, keuangan dianggap sebagai
penyebab Stres kebanyakan.Stresyang berlebihan dapat menyebabkan berbagai gejala fisik dan
mental, ini meliputi rasa marah, palpitasi, gangguan insomnia.Stres juga dapat menyebabkan
penyakit jantung.Oleh karena itu, diperlukan manajemen Stres untuk menghilangkan Stres demi
menjaga kesehatan yang optimal.

Manajemen Stress adalah kemampuan penggunaan sumber daya (manusia) secara efektif
untuk mengatasi gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang muncul karena tanggapan
(respon).Manajemen strees adalah kemampuan untuk mengendalikan diri ketika situasi orang-
orang, dan kejadian-kejadian yang ada memberi tuntutan yang berlebihan.Tidak ada seorangpun
yang bisa menghindarkan diri dari Stres.Namun Stres dapat bisa dikelola sehingga justru dapat
menimbulkan nilai positif bagi seseorang.Stres tidak boleh dihilangkan sama sekali karena dia
membantu kelangsungan hidup dan memberikan kelangsungan
hidup (Mudjaddid,Diffy:2005).Tujuan dari manajemen Stress itu sendiri adalah untuk
memperbaiki kualitas hidup individu itu agar menjadi lebih baik.Ada banyak aktivitas dalam
manajemen Stres yang dapat membantu seseorang untuk menjaga kesehatan mental dan
fisik.Yaitu :

1. Relaksasi

Relaksasi adalah satu bentuk aktivitas yang boleh membantu mengatasi Stress. Teknik
relaksasi ini melibatkan pergerakan anggota badan secara mudah dan boleh dilakukan di mana-
mana saja. Berikut beberapa teknik relaksasi sederhana yang dapat mengurangi Stres :

 Meditasi. Tidak harus dilakukan dengan duudk bersila, menutup mata dan melafalkan
berbagai mantra. Meditasi disini diartikan sebagai mengalihkan perhatian sementara dan
menenangkan pikiran dari keadaan Stres. Bisa dilakukan dengan banyak cara dan
aktivitas seperti berjalan, berenang, melukis, dan lain sebagainya. Aktivitas yang baik
untuk meditasi adalah aktivitas yang memiliki pola tetap dan berulang. Saat pikiran yang
membuat Stres muncul, cobalah untuk membuang pikiran tersebut sementara. Buatlah
diri dan pikiran larut dalam aktivitas meditasi seperti yang disebutkan diatas. Lakukan
selama 10-15 menit dan kemudian tingkatan Stresakan menurun.

8
 Bayangkan Sesuatu yang Rileks. Saat berada dalam kondisi Stres, pikiran dalam kepala
akan sangat aktif dan komplkes sehingga menyulitkan untuk melakukan meditasi. Jika
begitu, cobalah untuk menciptakan visualisasi yang damai dan menenangkan didalam
kepala kita. Ini bisa dimulai dengan memikirkan sesuatu yang dapat mengalihkan pikiran
dari keadaan yang penuh tekanan. Bisa apa saja, seperti tempat liburan favorit, suasana
pegunungan dan pantai yang menenangkan, dan lain-lain.
 Bernapas Dalam. Perasaan Stresakan meningkatkan tekanan darah dan membuat napas
menjadi pendek/dangkal, sementara perasaan yang tenang membuat napas menjadi rileks.
Jadi untuk merubah tekanan menjadi relaksasi, ubahlah cara bernapas dengan metode
sebagai berikut : Tarik napas panjang-panjang dengan tenang, kemudian sambil
menurunkan bahu hembuskan napas secara perlahan dari mulut, rasakan aliran besar
udara yang keluar masuk dan fokuskan pikiran kesana. Ulangi 10-15 kali dan pikiran
akan menjadi lebih rileks.
 Memijat Diri. Saat merasakan otot-otot menjadi tegang, lakukan pemijatan ringan pada
diri sendiri sebagai relaksasi. Teknik ini bisa dimulai dengan meletakkan kedua tangan
pada bahu dan leher, kemudian lakukan pijitan ringan menggunakan jari dan telapak
tangan. Biarkan bahu menjadi rileks saat melakukan pemijatan. Saat bahu sudah cukup
rileks, hentikan pijatan. Setelah itu letakkan satu tangan di atas lengan bawah (dari siku
hingga jari) tangan yang lain. Lakukan pijatan ringan dibagian itu mulai dari siku hingga
ke jari-jari dan ulangi lagi. Lakukan pada tangan yang lain.
 Berhenti Sejenak. Di saat tekanan atau emosi memuncak, hentikan sejenak apapun
aktivitas yang sedang dilakukan. Temukan tempat yang tenang untuk duduk atau bahkan
berbaring. Lakukan teknik relaksasi bernapas serta focus untuk melepaskan tekanan dan
menenangkan detak jantung. Tenangkan pikiran beberapa menit dan nikmati waktu
tersebut.
 Mendengarkan Musik. Musik dapat menenangkan detak jantung yang cepat dan juga
pikiran. Jika tekanan sudah memuncak, cobalah untuk menyisihkan waktu untuk
mendengarkan musik dengan tempo yang ringan, atau dengarkan lagu kesukaan yang
bisa membuat rileks. Penelitian menunjukkan bahwa musik dapat memberikan edek
tenang setara dengan 10mg valium. Itulah mengapa music sering digunakan dalam terapi
relaksasi.

9
2. Olahraga

Melakukan olahraga rutin juga sama dengan melatih tubuh untuk merespon Stres lebih
baik, termasuk merespon dalam hal perubahan fungsi dan fisiologis tubuh. Seperti detak jantung
menjadi lebih cepat, otot menegang, dan tekanan darah meningkat, maka olahraga dapat
menurunkan dan membuat perubahan tersebut menjadi normal kembali.Dengan melakukan
olahraga secara rutin maka fungsi tubuh yang berubah akibat Stres juga dapat diatasi.

3. Cerdas Mengatur Ambang Keinginan dan Rencana

Tidak pernah ada larangan untuk bermimpi dan menginginkan sesuatu.Cita-cita


danharapan bahkan dapat menjadi daya hidup yang menganggumkan.Namun perlu
diketahuiseringkali Stres muncul akibat ketidakmampuan menerima kenyataan yang berbeda
dengankeinginan atau harapan.Keinginan kuat masa depan seperti menikah, membeli rumah,
merenovasi rumah,memiliki anak, atau berharap pindah dari pekerjaan yang sudah dilakukan
bertahun-tahun,bisa menjadi faktor penyebab Stress jika tak diatur dengan baik. Misalnya :
menginginkansemua dalam satu waktu atau seketika tanpa berpijak pada realita yang ada.

Oleh karena itu,penting bagi anda untuk merencanakan dan membatasi segala rencana
yang dibuat denganmempertimbangkan kemampuan dan sumber daya atau peluang yang dimiliki
hingga lebihsiap dalam menghadapi kenyataan nantinya. Menentukan prioritas apa yang
terpenting dalamhidup, membuat rencana realistis serta berlatih untuk berlapang dada
menerimakenyataan yang akan datang nantinya meski tak sesuai dengan keinginan anda adalah
caracerdas berteman dan mengatur Stres.

4. Menjadi Pribadi yang Asertif

Perilaku asertif merupakan terjemahan dari istilah assertiveness atau assertion, yang
artinya titik tengah antara perilaku non asertif dan perilaku agresif (Horgie, 1990).Stressterhim
dan Boer (1980), mengatakan bahwa orang yang memiliki tingkah laku atau perilaku asertif
orang yang berpendapat dari orientasi dari dalam, memiliki kepercayan diri yang baik, dapat
mengungkapkan pendapat dan ekspresi yang sebenarnya tanpa rasa takut dan berkomunikasi
dengan orang lain secara lancar. Sebaliknya orang yang kurang asertif adalah mereka yang
memiliki ciri terlalu mudah mengalah/ lemah, mudah tersinggung, cemas, kurang yakin pada diri

10
sendiri, sukar mengadakan komunikasi dengan orang lain, dan tidak bebas mengemukakan
masalah atau hal yang telah dikemukakan.

Menurut Suterlinah Sukaji (1983), perilaku asertif adalah perilaku seseorang dalam
hubungan antar pribadi yang menyangkut ekspresi emosi yang tepat, jujur, relative terus terang,
dan tanpa perasaan cemas terhadap orang lain. Sementara menurut Lange dan Jukubowski
(1976), seperti yang dikutip oleh Calhoun (1990), perilaku asertif merupakan perilaku sesorang
dalam mempertahankan hak pribadi serta mampu mengekspresikan pikiran, perasaan, dan
keyakinan secara langsung dan jujur dengan cara yang tepat.

5. Manajemen Waktu

Manajemen waktu adalah suatu proses yang berhubungan dengan pencapaian suatu
tujuan tertentu maupun sasaran yang sebelumnya telah ditentukan untuk bisa dicapai dalam suatu
periode tertentu dengan penggunaan sumber daya secara efisien dan efektif, seperti misalnya
adalah uang, manusia, perlengkapan, metode dan bahan. Dapat pula dikatakan bahwa
manajemen waktu adalah suatu kegiatan yang berhubungan dengan perencanaan, pelaksanaan,
pengorganisasian dan juga pengawasan mengenai produktivitas tertentu.

Tingkat efektivitas dari suatu manajemen waktu akan bisa terlihat dari pencapaian suatu
target dan juga tujuan tujuan dari manajemen waktu tersebut dilakukan. Efisien sendiri memiliki
dua makna yaitu antara lain pengurangan waktu yang telah dialokasikan serta adanya makna
investasi dari waktu dengan penggunaan waktu yang telah tersedia. Tentunya manajemen waktu
adalah bagaimana anda bisa mengatur serta memanfaatkan waktu yang telah dialokasikan atau
yang anda miliki sehingga dapat digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan pekerjaan tertentu
dan menghasilkan suatu hal yang produktif.Manajemen waktu dikatakan baik apabila dapat
membuat data dari pekerjaan serta aktivitas yang terperinci dan dapat menentukan skala skala
yang diperlukan dalam aktivitas aktivitas tersebut.

Manajemen waktu juga tidak akan lepas dari bagaimana anda bisa menentukan skala
prioritas. Ketika anda dihadapkan dengan beberapa hal yang penting namun hanya diberikan
alokasi waktu yang sedikit, maka tugas anda untuk menentukan skala prioritas, mana kegiatan
yang penting untuk dilakukan dan memerlukan lebih banyak perhatian dan mana kegiatan yang
bisa ditinggalkan sehingga dapat menghemat alokasi waktu.Skala prioritas ini juga dipengaruhi

11
dengan apakah suatu pekerjaan tersebut termasuk pekerjaan yang mendesak atau tidak, hal ini
biasanya dipengaruhi dengan tenggat waktu tertentu.Pelaksanaan manajemen waktu juga
memerlukan kedisiplinan yang tinggi dan juga komitmen dari orang yang melakukannya.
Pelaksana dari manajemen waktu akan dituntut untuk dapat mematuhi dan juga menjalankan apa
yang telah diputuskan dalam perencanaan manajemen waktu tersebut, baik untuk hal hal yang
berhubungan dengan pekerjaan di kantor maupun hal hal yang berhubungan dengan aktivitas
sehari hari.

6. Positif Thinking

Dalam diri seseorang terdapat dua sisi yaitu berpikir positif dan negatif. Berpikir positif
adalah meletakkan semua hal yang terjadi pada diri sendiri maupun hubungan dengan orang lain.
Berpikir positif memiliki dampak dan pengaruh besar dalam kehidupan seseorang. Saat kita
mulai berpikir positif, kekuatan besar datang mengimbangi cara berpikir kita untuk tetap
melakukan hal-hal baik dengan cara yang baik. Dengan berpikir positif, kita akan terhindar dari
dampak kehidupan yang buruk. Berpikir positif dapat menjadi tindakan preventif sebelum
individu mempunyai gangguan baik emosi maupun kognisi, sebab dengan berpikir positif dan
memiliki emosi yang positif, maka kita menghindar dari emosi negatif yang membawa dampak
tidak baik bagi fisik maupun psikologis.

Yakinkan diri untuk tetap berpikir positif.Selalu mengambil hikmah dari setiapkejadian
merupakan salah satu caranya. Karena apa yang seseorang pikirkan akanberhubungan langsung
pada perasaan atau suasana hati dan pada gilirannya jugamempengaruhi kinerja dan
produktifitasnya.

12
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Stres adalah suatu keadaan yang bersifat internal, yang bisa disebabkan oleh tuntutan
fisik (badan), atau lingkungan, dan situasi sosial, yang berpotensi merusak dan tidak
terkontrol.Stres yang berkepanjangan bisa memicu terkena berbagai jenis penyakit.Kondisi
Stressakan memicu beberapa reaksi, seperti tekanan darah meningkat, pembuluh
darah menyempit, dan pernafasan pun akan lebih cepat dari normal. Hal ini disebabkan karena
tubuh melepas hormon kortisol dan adrenalin yang membuat kerja jantung menjadi lebih
cepat. Hormon tersebut juga mampu meluapkan energi secara percuma sehingga akan merasa
mudah lelah.

Manajemen stress adalah kemampuan untuk mengendalikan diri ketika situasi orang-
orang, dan kejadian-kejadian yang ada memberi tuntutan yang berlebihan. Tidak ada seorangpun
yang bisa menghindarkan diri dari Stress.Namun Stress dapat bisa dikelola sehingga justru dapat
menimbulkan nilai positif bagi seseorang.Stress tidak boleh dihilangkan sama sekali karena
dapat membantu kelangsungan hidup dan memberikan kelangsungan hidup. Beberapa strategi
manajemen Stresdiantaranya :

a. Relaksasi
b. Olahraga
c. Cerdas dalam mengatur ambang keinginan dan rencana
d. Menjadi pribadi yang asertif
e. Manajemen waktu
f. Positif thinking

13
DAFTAR PUSTAKA

Dr. H. Endi Nasrudin,M. Si. 2010. Psikologi Manajemen. Bandung: CV Pustaka Setia.

Siswanto, S.Psi, M.Si. 2007. Buku Kesehatan Mental. Yogyakarta: Penerbit Andi

Wade, C & Carol, T. 2007.Psikologi Edisi ke Sembilan Jilid 2. Jakarta: Erlangga

14