Anda di halaman 1dari 27

METODOLOGI PENELITIAN AKUNTANSI

SAP 3
“Proses Penelitian”

Oleh Kelompok 6 :
Ni Made Harista Dwi Anggreni (1607532099 / 27)
Ni Putu Krisna Dewi (1607532100 / 28)
Ni Wayan Ardyanti (1607532101 / 29)
Ida Bagus Sugita Adi (1607532102 / 30)
Made Yunita Chandra Dewi (1607532103 / 31)
I Kadek Yogi Anggara (1607532105 / 33)

Program Non Reguler


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana
2018
PROSES PENELITIAN

3.1. Identifikasi, Pemilihan, dan Perumusan Masalah Penelitian

Masalah atau permasalahan ada kalau ada kesenjangan (gap) antara das Sollen dan
das Sein; ada perbedaan antara apa yang seharusnya dan apa yang ada dalam kenyataan,
antara apa yang diperlukan dan apa yang tersedia, antara harapan dan kenyataan, dan yang
sejenis dengan itu. Banyak sekali, kesenjangan itu mengenai pengetahuan dan teknologi;
informasi yang tersedia tidak cukup, dan teknologi yang ada tidak memenuhi kebutuhan, dan
sebagainya. Penelitian diharapkan dapat memecahkan masalah itu, atau dengan kata lain
dapat menutup atau setidak-tidaknya memperkecil kesenjangan itu.

3.1.1 Identifikasi Masalah

Masalah yang harus dipecahkan atau dijawab melalui penelitian selalu ada tersedia dan
cukup banyak, tinggallah si peneliti mengidentifikasikannya, memilihnya, dan
merumuskannya. Walapupun demikian, agar seseorang ilmuwan mempunyai mata yang
cukup jeli untuk menemukan masalah tersebut, dia harus cukup berlatih. Hal-hal yang dapat
menjadi sumber masalah, terutama adalah:

a. Bacaan, terutama bacaan yang berisi laporan hasil penelitian


Bacaan, terutama bacaan yang melaporkan hasil penelitian, mudah dijadikan sumber
masalah penelitian, karena laporan penelitian yang baik tentu akan mencantumkan
rekomendasi untuk penelitian lebih lanjut dengan arah tertentu. Hal yang demikian itu
mudah dimengerti, karena tidak pernah ada penelitian yang tuntas. Kadang-kadang suatu
penelitian menampilkan masalah lebih banyak daripada yang dijawabnya. Justru karena
hal yang demikian itulah maka ilmu pengetahuan itu selalu mengalami kemajuan.
b. Seminar, diskusi, dan lain-lain pertemuan ilmiah
Diskusi, seminar, dan lain-lain pertemuan ilmiah juga merupakan sumber masalah
penelitian yang cukup kaya, karena pada umumnya dalam pertemuan ilmiah demikian itu
para peserta melihat hal-hal yang dipersoalkannya secara professional. Dengan
kemampuan professional para ilmuwan peserta pertemuan ilmiah melihat, menganalisis,
menyimpulkan dan mempersoalkan hal-hal yang dijadikan pokok pembicaraan. Dengan
demikian mudah sekali muncul masalah-masalah yang memerlukan penggarapan melalui
penelitian.
c. Pernyataan pemegang otoritas
Pernyataan pemegang otoritas, baik pemegang otoritas dalam bidang ilmu tertentu, dapat
menjadi sumber masalah penelitian. Demikianlah misalnya pernyataan seorang Menteri
Pendidikan Nasional mengenai rendahnya daya serap murid-murid SMU, atau
pernyataan seorang Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi tentang kecilnya daya tampung
perguruan tinggi, dapat secara langsung mengundang berbagai penelitian. Pernyataan
ahli-ahli pendidikan dan ahli-ahli psikologi mengenai perlu dan tidaknya serta tepat dan
tidaknya penjurusan di SMU seperti yang terjadi sekarang ini, dapat menjadi sumber
masalah penelitian pula.
d. Pengamatan sepintas
Pengamatan Sepintas. Seringkali terjadi, seseorang menemukan masalah penelitiannya
dalam suatu perjalanan atau peninjauan. Ketika berangkat dari rumah sama sekali tidak
ada rencana untuk mencari masalah penelitian. Tetapi ketika menyaksikan hal-hal
tertentu di lapangan, timbullah pertanyaan-pertanyaan dalam hatinya, yang akhirnya
terkristalisasikan dalam masalah penelitian. Seorang ahli ilmu tanah dapat menemukan
masalahnya ketika ia menyaksikan keadaan tanah di suatu tempat, seorang ahli kesehatan
dapat menemukan masalahnya ketika dia menyaksikan dari mana penduduk
mendapatkan air minum, seorang ahli teknologi bahan makanan mungkin menemukan
masalahnya ketika dia menyaksikan produksi jenis panganan tertentu yang berlebihan di
suatu daerah, seorang ahli psikologi industri mungkin mendapatkan masalah ketika dia
menyaksikan bagaimana sejumlah karyawan pabrik melaksanakan tugasnya, dan
sebagainya.
e. Pengalaman pribadi
Pengalaman Pribadi. Pengalaman pribadi sering pula menjadi sumber bagi
diketemukannya masalah penelitian. Lebih-lebih dalam ilmu-ilmu social, hal yang
demikian itu sering terjadi.; mungkin pengalaman pribadi itu berkaitan dengan sejarah
perkembanhan dan kehidupan pribadi, mungkin pula berkaitan dengan kehidupan
profesional.
f. Perasaan intuitif
Perasaan Intuitif. Tidak jarang terjadi, masalah penelitian itu muncul dalam pikiran
ilmuwan pada pagi hari setelah bangun tidur, atau pada saat-saat habis istirahat. Rupanya
selama tidur atau istirahat itu terjadi semacam konsolidasi atau pengendapan berbagai
informasi yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti itu, yang lalu muncul dalam
bentuk pertanyaan-pertanyaan atau masalah.
Apa pun sumbernya, masalah penelitian itu hanya akan muncul atau dapat diidentifikasikan
kalau calon peneliti cukup “berisi”. Orang yang masih “kosong”, yaitu yang miskin akan
pengetahuan mengenai sesuatu cabang ilmu hampir tidak mungkin, atau sekurang-kurangnya
sulit, untuk menemukan masalah penelitian.

3.1.2 Pemilihan Masalah

Setelah mempelajari identifikasi masalah, belum merupakan jaminan bahwa masalah


tersebut layak dan sesuai untuk diteliti. Biasanya, dalam usaha mengidentifikasikan atau
menemukan masalah penelitian diketemukan lebih dari satu masalah. Dari masalah-masalah
tersebut perlu dipilih salah satu, yaitu mana yang paling layak dan sesuai untuk diteliti. Jika
yang diketemukan sekiranya hanya atu masalah, masalah tersebut juga harus
dipertimbangkan layak dan tidaknya serta sesuai dan tidaknya untuk diteliti. Pertimbangan
untuk memilih atau menentukan apakah sesuatu masalah layak dan sesuai untuk diteliti., pada
dasarnya dilakukan dari dua arah, yaitu (1) dari arah masalahnya, dan (2) dari arah si calon
peneliti.

 Pertimbangan dari Arah Masalahnya

Untuk menentukan apakah sesuatu masalah layak untuk diteliti perlu dibuat pertimbangan-
pertimbangan dari arah masalahnya atau dari sudut objektif. Dari sudut objektif ini,
pertimbangan akan dibuat atas dasar sejauh mana penelitian mengenai masalah yang
bersangkutan itu akan memberi sumbangan kepada:

- Pengembangan teori dalam bidang yang bersangkutan dengan dasar teoritis


penelitiannya, dan
- Pemecahan masalah-masalah praktis.

Kiranya jelas, bahwa kelayakan sesuatu masalah untuk diteliti itu sifatnya relatif,
tergantung kepada konteksnya. Sesuatu masalah yang layak untuk diteliti dalam sesuatu
konteks tertentu, mungkin kurang layak kalau ditempatkan dalam konteks yang lain. Tidak
ada kriteria untuk ini, dan keputusan akan tergantung kepada ketajaman calon peneliti untuk
melakukan evaluasi secara kritis, menyeluruh dan menjangkau ke depan. Di samping itu hal-
hal tersebut di atas perlu ditambahkan bahwa dari masalah itu hendaklah mungkin dilakukan
pengumpulan data guna memecahkan masalah itu atau menjawab pertanyaan-pertanyaan
yang terkandung di dalamnya. Kecuali itu masalah yang akan diteliti itu seyogyanya bukan
merupakan pendirian mengenai etika dan moral.
 Pertimbangan dari Arah Calon Peneliti

Dari segi subjektif, yaitu pertimbangan dari arah calon peneliti perlu dipertimbangkan apakah
masalah itu sesuai dengan calon peneliti. Sesuai atau tidaknya sesuatu masalah itu untuk
diteliti terutama bergantung kepada apakah masalah tersebut manageable atau tidak oleh si
calon peneliti. Managibility itu terutama dilihat dari lima segi yaitu:

- Biaya yang tersedis,


- Waktu yang dapat digunakan,
- Alat-alat dan perlengkapan yang tersedia,
- Bekal kemampuan teoretis, dan
- Penguasaan metose yang diperlukan.

Setiap calon peneliti perlu menanyakan kepada diri sendiri apakah masalah yang akan
diteliti itu sesuai baginya, dilihat dari kelima halb tersebut di atas. Jika sekiranya tidak,
sebaiknya dipilih masalah lain, atau masalah itu dimodifikasi, sehingga menjadi sesuai
baginya.

3.1.3 Perumusan Masalah

Setelah masalah diidentifikasi, dipilih, maka perlu dirumuskan. Perumusan ini penting,
karena hasilnya akan menjadi penuntun bagi langkah-langkah selanjutnya. Tidak ada aturan
umum mengenai cara merumuskan masalah itu, namun dapat disarankan hal-hal berikut ini:

1. Masalah hendaklah dirumuskan padat dan jelas,


2. Rumusan itu hendaklah memberi petunjuk tentang mingkinnya mengumpulkan data
guna menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkandung dalam rumusan itu.

Sebagai ilustrasi di bawah ini disajikan beberapa contoh.

- Apakah mengajar dengan metode diskusi lebih berhasil daripada mengajar dengan
metode ceramah?
- Bagaimanakah hubungan antara IQ dengan prestasi belajar di perguruan tinggi?
- Apakah mahasiswa yang tinggi nilai ujian masuknya juga tinggi indeks prestasi
belajarnya?
- Apakah mahasiswa wanita lebih konformistik daripada mahasiswa pria?
- Apakah mahasiswa Fakultas Ekonomi yang berasal dari Program IPA berbeda prestasi
belajarnya dari mereka yang berasal dari Program IPS?

3.2. Kajian Pustaka dan Hipotesis


3.2.1 Kajian Pustaka

3.2.1.1 Pengertian Kajian Pustaka

Kajian pustaka adalah bahasan atau bahan – bahan bacaan yang terkait dengan suatu
topik atau temuan dalam penelitian. Kajian pustaka merupakan bagian penting dalam sebuah
penelitian yang kita lakukan. Kajian pustaka disebut juga kajian literatur.

Sebuah kajian pustaka merupakan sebuah uraian atau deskripsi tentang literatur yang
relevan dengan bidang atau topik tertentu sebagaimana ditemukan dalam buku – buku ilmiah
dan artikel jurnal. Ia memberikan tinjauan mengenai apa yang telah dibahas atau dibicarakan
oleh peneliti atau penulis, teori – teori dan hipotesis yang mendukung, permasalahan
penelitian yang diajukan atau ditanyakan, metode dan metodologi yang sesuai.

3.2.1.2 Tujuan Kajian Pustaka

Sebuah kajian pustaka memberikan informasi kepada para pembaca tentang peneliti
dan kelompok peneliti yang memiliki pengaruh dalam suatu bidang tertentu, misalnya dalam
bidang pembelajaran, evaluasi, teknologi, ilmu pengetahuan alam atau sains, dll.

Penulisan kajian pustaka dalam sebuah penelitian memiliki tujuan sebagai berikut:

1. Memberikan kepada pembaca kemudahan memperoleh sebuah topik tertentu dengan


cara menyeleksi artikel – artikel atau bahan kajian yang berkualitas, yang relevan,
bermakna penting, sahih, dan merangkainya dalam suatu laporan yang lengkap.
2. Memberikan awalan yang sangat bagus bagi peneliti untuk mengawali penelitian
dalam suatu bidang tertentu dengan cara menuntut peneliti untuk merangkum,
menilai, dan membandingkan penelitian dalam bidang tertentu.
3. Memastikan bahwa peneliti tidak melakukan duplikasi hasil kerja yang telah
dilakukan.
4. Memberikan petunjuk ke mana penelitian yang akan datang diarahkan atau
direkomendasikan.
5. Memberikan garis besar temuan kunci.
6. Mengidentifikasi ketidaksesuaian, kesenjangan dan hal yang mengandung
pertentangan dalam kajian pustaka.
7. Memberikan nalisis konstruktif tentang metodologi dan pendekatan dari para
peneliti lain.

3.2.1.3 Peranan Kajian Pustaka Dalam Penelitian


Penelusuran atau pencarian kepustakaan yang relevan, hendaknya dilakukan sebelum
kegiatan atau pelaksanaan penelitian. Kepustakaan atau literatur yang dijadikan landasan
dalam kajian teori ini akan memiliki arti dalam mampertimbangkan cakupan penelitian yang
sedang dikerjakan. Studi kepustakaan ini memiliki peranan atau fungsi penting, yaitu:

1. Pengetahuan tentang penelitian yang berkaitan memungkinkan peneliti menetapkan


batas – batas bidang penelitiannya.
2. Pemahaman teori dalam suatu bidang memungkinkan peneliti itu menempatkan
masalah dalam perspektifnya.
3. Melalui penelaahan atau kajian pustaka yang relevan para peneliti dapat mengetahui
prosedur dan instrumen mana yang telah terbukti berguna dan mana yang tampak
kurang memberikan harapan.
4. Pengkajian atau studi yang cermat terhadap bahan pustaka yang relevan dapat
menghindarkan terjadinya pengulangan studi sebelumnya secara tak sengaja.
5. Pengkajian pustaka yang berkaitan menempatkan peneliti pada posisi yang lebih
baik untuk menafsirkan arti pentingnya hasil penelitianya sendiri.

3.2.1.4 Sumber – Sumber Pustaka yang Sesuai dengan Pendidikan

Beberapa sumber pustaka yang dapat diperoleh oleh peneliti dalam membantu kajian
kepustakaannya dapat diperoleh dengan cara peneliti harus mengetahui :

1. Sumber dari karya sebelumnya.


2. Lembaga mana yang menyimpan basis data.
3. Dalam bentuk apa basis data itu tersimpan.
4. Cara yang paling efesien untuk memperoleh informasi.

Sumber – sumber utama kepustakaan yang menyimpan basis data dapat diperoleh dari
berbagai sumber antara lain:

1. ERIC (Educational Resources Information Center), di Indonesia dikenal dengan nama


Pusat Data dan Informasi Indonesia (PDII)
2. Abstrak (Abstract)

Merupakan hasil ringkasan hasil suatu penelitian atau kajian dalam bidang tertentu, misalnya
dalam bidang pendidikan, psikologi, sosiologi, ekonomi, dsb. Beberapa abstrak yang kita
kenal, misalnya:
a. Psychological Abstracts (Washington, DC : American Psychological Association
(APA),1927).
b. Sociological Abstracts (New York : Sociological Abstracts, Inc : 1954)

3. Indeks (Indexes)

Sebuah indeks dapat memberikan judul – judul yang dikatalogisasikan menurut atau
berdasarkan judul utama tetapi tidak memberikan abstrak atau deskripsi apapun tentang
dokumen. Contoh:

a. The Education Index (New York : H. W. Wilton Co: 1929)


b. Curent Index to Journasl in Education (Phoenix, AZ: The Oryx Press, 1969)

4. Reviews

Reviews atau kajian adalah judul – judul artikel atau tulisan yang melaporkan dan
menyintesis beberapa hasil karya dalam suatu bidang dalam suatu periode waktu. Reviews
jurnal – jurnal dalam bidang pendidikan dapat kita temui misalnya:

a. Review of Educational Research (Washington, DC : American Educational


Research Association(AERA) 1931).
b. Annual Review of Psycologi (Palo Alto, CA : Annual Reviews, Inc.: 1950)

5. Journal dan Buku

Merupakan sumber utama dalam penelitian pandidikan. Jurnal dan buku ini terdiri atas hasil
kerja orisinal atau merupakan “raw materials” untuk sumber – sumber sekunder seperti
reviews.

3.2.1.5 Merakit Kepustakaan / Teori yang Berkaitan

Penelitian yang tidak berhasil merangkai bahan pustaka yang berkaitan itu secara sistematis
sejak awal bisa menjadi sangat kacau penyajiannya. Berikut ini cara merangkai kepustakaan :

1. Mulailah dengan minat di bidang anda, cari yang paling akhir dimuat dalam terbitan
terbaru dan kemudian mundur keterbitan sebelumnya.
2. Bacalah abstrak atau ringkasan suatu laporan terlebih dahulu untuk menetapkan
apakah laporan itu relevan dengan masalah yang sedang diteliti atau tidak.
3. Buatlah catatan langsung pada kartu catatan ( kartu lepas ) karena itu lebih mudah
diseleksi dan disusun dari pada lembaran kertas atau amplop.
4. Sebelum membuat catatan, baca laporan penelitian dengan tepat guna mengetahui
bagian-bagian mana yang ada kaitannya dengan masalah yang diteliti.
5. Tulislah referensi bibliografi ( nama pengarang, tahun, judul buku, nama jurnal,
volume buku, nomor, penerbit, tempat terbit dan halaman ) secara lengkap untuk
setiap karyanya.
6. Untuk memudahkan pemilihan dan penyusunan jangan memasukkan lebih dari satu
referensi pada satu kartu.
7. Jangan lupa beri tanda bagian mana yang merupakan kutipan langsung dari
pengarang dan bagian mana yang merupakan susunan kata-kata sendiri.

3.2.2 Hipotesis

3.2.2.1 Pangertian Hipotesis

Dalam suatu penelitian, peneliti biasanya menyatakan suatu harapan yang ingin diperoleh
melalui penelitiannya. Harapan yang menyatakan ramalan atau prediksi hasil yang diperoleh
melalui penelitian itulah yang dikatakan sebagai hipotesis.

Secara umum, pengertian hipotesis penelitian adalah jawaban sementara terhadap masalah
penelitian yang kebenarannya masih perlu di uji secara empiris. Secara teknis, hipotesis dapat
didefenisikan sebagai pernyataan mengenai keadaan populasi yang akan diuji kebenarannya
berdasarkan data yang diperoleh dari sampel penelitian.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan hipotesis adalah suatu keadaan atau peristiwa yang
diharapkan dan dilandasi oleh generalisasi dan biasanya menyangkut hubungan di antara
variabel – variabel penelitian.

3.2.2.2 Kegunaan Hipotesis

Hipotesis penelitian dirumuskan karena dua alasan, yaitu:

1. Hipotesis yang mempunyai landasan kuat menunjukkan bahwa peneliti telah


memiliki cukup pengetahuan dalam melakukan penelitian dalam bidangnya.
2. Hipotesis itu memberikan arah pada pengumpulan dan penafsiran data, hipotesis
ini dapat menunjukkan kepada peneliti tentang prosedur dan jenis data apa yang
harus dikumpulkan.

Hipotesis yang dirumuskan itu memiliki kegunaan sebagai berikut:

1. Hipotesis memberikan penjelasan sementara tentang gejala – gejala dan


memudahkan perluasan pengetahuan dalam suatu bidang.
2. Hipotesis memberikan suatu pernyataan hubungan yang langsung dapat diuji
dalam penelitian.
3. Hipotesis memberikan arah bagi penelitian.
4. Hipotesis memberikan kerangka untuk melaporkan kesimpulan dan hasil penelitian

3.2.2.3 Karakteristik Hipotesis

Sesudah hipotesis dirumuskan, sebelum dilakukan pengujian lebih lanjut peneliti perlu sekali
menilai hipotesis yang dirumuskan itu. Suatu hipotesis yang dirumuskan harus memenuhi
kriteria tertentu, sehingga peneliti dapat menguji secara empiris. Berkenaan dengan kriteria,
Kerlinger (1986) mengemukakan bahwa hipotesis yang baik memiliki dua kriteria, yaitu:

1. Hipotesis adalah pernyataan tentang hubungan atau relasi antara variabel –


veriabel.
2. Hipotesis mengandung implikasi – implikasi yang jelas untuk pengujian hubungan
– hubungan yang dinyatakan.

Hipotesis yang kita rumuskan memiliki ciri – ciri khusus atau karakteristik sebagai berikut:

1. Menyatakan hubungan anatara dua atau lebih variabel – variabel.


2. Dinyatakan dalam bentuk ungkapan kalimat pernyataan (deklaratif) yang dapat
diuji.
3. Konsistensi
4. Dirumuskan dengan kalimat sederhana.

3.2.2.4 Macam – Macam Hipotesis

1. Hipotesis Induktif dan Deduktif

Ada beberapa atau tinjauan yang dapat dipakai untuk mengklasifikasikan atau
mengkategorikan hipotesis. Hipotesis ditinjau dari asal usulnnya dibedakan menjadi dua
(Tuckman, 1988) yaitu Induktif dan Deduktif.

Dalam hipotesis induktif, suatu hubungan ditentukan diantara variabel – veriabel tertentu dan
selanjutnya sebuah penjelasan sementara diberikan. Hipotesis induktif ini memiliki
keterbatasan ilmiah karena hasil – hasil yang diperoleh tidak dapat digeneralisasikan kedalam
populasi yang lebih besar.
Sedangkan hipotesis deduktif banyak memberikan sumbangan ilmiah terhadap penelitian
pendidikan kerena hipotesis tersebut memberikan bukti – bukti untuk dapat diterima atau
ditolak, atau bahkan memodifikasi teori yang dijadikan pijakan.

2. Hipotesis Deklaratif dan Nol

Suatu hipotesis dikatakan sebagai hipotesis deklaratif karena hipotesis tersebut diungkapkan
dalam bentuk kalimat pernyataan atau deklarasi.

Hipotesis nol, sebaliknya menyatakan tidak adanya hubungan atau perbedaan di antara dua
variabel atau lebih. Hipotesis ( Gall, Gall & Borg, 2003), ini biasanya tidak mencerminkan
hal yang diharapkan terjadi oleh peneliti. Hipotesis nol ini diperoleh berdasarkan hasil uji
statistik.

3. Hipotesis direksional dan Nondireksional

Hipotesis direksional, sesuai dengan namanya menyatakan arah atau kecenderungan suatu
hubungan tau perbedaan dua variabel. Hipotesis nondireksional menyatakan adanya
hubungan atau perbedaan antara dua variabel.

4. Hipotesis alternatif atau kerja atau hipotesis nol

Hipotesis alternatif atau kerja dinyatakan dengan ungkapan yang menyatakan adanya
hubungan atau perbedaan dua variabel. Sebaliknya, hipotesis nol menyatakan adanya
pernyataan yang bersifat menyangkal ( negation ) dari apa yang diharapkan terjadi.

3.2.2.5 Cara merumuskan hipotesis

Rumusan hipotesis penelitian dapat berdasarkan arah atau kecenderungannya dapat kita
klasifikasikan menjadi dua, yaitu :

1. Hipotesis terarah ( directional hypothesis )

Hipotesis terarah, sesuai dengan namanya menunjukakan arah kesimpulan yang


diharapkan. Hipotesis ini dirumuskan oleh peneliti karena peneliti sendiri mepunyai
alasan tertentu untuk mengharapkan terjadinya hubungan khusus atau perbedaan
khusus antara kedua kelompok yang menjadi objek penelitiannya.
1. Hipotesis tak berarah ( nondirectional hypothesis )

Hipotesis ini tidak menetapkan adanya arah perbedaan atau hubungan yang
diharapkan.

Pada umumnya, peneliti bekerja dengan dua hipotesis yang secara eksplisit rumusan itu juga
menyatakan arah kecenderungan atau perbedaan khusus yang diharapkan terjadi. Kedua
hipotesis itu, yaitu :

1. Hipotesis alternatif atau kerja

Hipotesis kerja ini dirumuskan dengna harapan hipotesis ini menyatakan hubungan atau
perbedaaan yang terjadi diantara dua kelompok.

2. Hipotesis nol atau hipotesis statistik

Hipotesis nol atau hipotesis statistik dirumuskan dengan maksud untuk menyangkal terhadap
apa yang diharapkan atau diramalkan terjadi oleh peneliti.

3.3 Populasi dan Sampel

3.3.1 Populasi

3.3.1.1 Pengertian Populasi

Populasi merupakan subyek penelitian. Menurut Sugiyono (2010:117) populasi adalah


wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan
karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya. Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda-benda alam
yang lain.[1] Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang
dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subyek atau obyek itu.

Misalnya peneliti menetapkan populasi yang menjadi obyek dalam penelitian ini
adalah siswa SMU Negeri 2 Danau Kerinci Kabupaten Kerinci dengan jumlah 300 orang.

Pemilihan karakteristik populasi pada penelitian ini dilakukan dengan pertimbangan


bahwa, siswa-siswa yang dipilih sebagai unit populasi merupakan kelompok atau individu
yang mempunyai karakteristik erat dengan SMU tersebut.
Menurut Hartono (2011: 46), populasi dengan karakteristik tertentu ada yang
jumlahnya terhingga dan ada yang tidak terhingga. Penelitian hanya dapat dilakukan pada
populasi yang jumlahnya terhingga saja.

3.3.2 Sampel

3.3.2.1 Pengertian Sampel

Menurut Sugiyono (2010:118) sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang
dimiliki oleh populasi tersebut. Apabila peneliti melakukan penelitian terhadap populasi yang
besar, sementara peneliti ingin meneliti tentang populasi tersebut dan peneliti memeiliki
keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti menggunakan teknik pengambilan
sampel, sehingga generalisasi kepada populasi yang diteliti. Maknanya sampel yang diambil
dapat mewakili atau representatif bagi populasi tersebut.

Keuntungan melakukan penelitian sampel adalah:

1. Peneliti tidak repot harus meneliti populasi, cukup hanya meneliti sampelnya saja.
2. Populasi yang terlalu besar memungkinkan ada subyek yang bisa tercecer atau luput
dari peneliti pada saat diambil datanya.
3. Lebih efisien dari segi waktu, biaya dan tenaga.
4. Menghindari hal-hal yang destruktif, misalnya meneliti tentang kemampuan daya
ledak peluru kendali.
5. Penelitian tidak bisa dilakukan dengan mengguakan populasi sebagai sumber data.

3.3.2.2 Teknik Sampling

Teknik sampling adalah merupakan teknik pengambilan sampel. Untuk menentukan sampel
yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai teknik sampling yang digunakan.

1. Probability Sampling

Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang
sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik ini
meliputi:

 Simple random sampling


Dikatakan simple (sederhana) karena pengambilan anggota sampel dari populasi
dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu.
 Proportionate stratified random sampling
Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen
dan berstrata secara proporsional.
 Disproportionate stratified random sampling
Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata tetapi
kurang proporsional.
 Cluster sampling
Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila obyek yang akan
diteliti atau sumber data sangat luas.

2. Nonprobability Sampling

Nonprobability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi


peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi
sampel. Teknik sampel ini meliputi:

 Sampling sistematis
Sampling sistematis adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari
anggota populasi yang telah diberi nomor urut.
 Sampling kuota
Sampling kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang
mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan.
 Sampling insidental
Yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara
kebetulan insidental bertemu dengan peenliti dapat digunakan sebagai sampel.
 Sampling purposive
Yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.
 Sampling jenuh
Yaitu teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunkan sebagai sampel.
 Snowball sampling
Yaitu teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian
membesar.

3.3.2.3 Ukuran Sampel

Besarnya jumlah sampel yang harus diambil dari populasi dalam suatu kegiatan penelitian
sangat tergantung dari keadaan populasi itu sendiri, semakin homogen keadaan populasinya
maka jumlah sampel semakin sedikit, begitu juga sebaliknya. Adapun penentuan jumlah
sampel yang dikembangkan oleh Roscoe dalam Sugiyono (2010: 131) adalah sebagai berikut:

1. Ukuran sampel yang layak dalam penelitian adalah antara 30 sampai dengan 500.
2. Bila sampel dibagi dalam kategori (misalnya : pria-wanita, pegawai negeri-swasta dan
lain-lain) maka jumlah anggota sampel setiap kategori minimal 30.
3. Bila dalam penelitian akan melakukan analisis dengan multivariate (korelasi atau
regresi ganda misalnya), maka jumlah anggota sampel minimal 10 kali dari jumlah
variabel yang diteliti. Misalnya variabel penelitiannya ada 5 (independen + dependen),
maka jumlah anggota sampel = 10 x 5 = 50
4. Untuk penelitian eksperimen yang sederhana, yang menggunakan kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol, maka jumlah anggota sampel masing-masing antara
10 s/d 20.

Penetapan ukuran sampel dari populasi dapat juga menggunakan rumus Slovin, dimana
penetapan sampel mempertimbangkan batas ketelitian yang dapat mempengaruhi kesalahan
pengambilan sampel populasi.

3.3.2.4 Error Sampling

Error sampling dihitung berdasarkan selisih antara mean populasi dan mean sampel. Semakin
besar selisih mean sampel dengan mean populasi maka semakin basar error samplingnya.
Sebaliknya semakin sedikit selisih mean sampel dengan mean populasinya maka error
samplingnya semakin kecil, apabila mean sampel dan mean populasinya sama maka error
sampelnya adalah nol.

3.4 Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data merupakan teknik atau cara yang dilakukan untuk mengumpulkan
data. Metode pengambilan data yang dapat dipergunakan oleh peneliti untuk pengumpulan
data adalah: wawancara, kuisioner, observasi dan dokumentasi. Berdasarkan sumber
pengambilan data, dapat dibedakan menjadi dua sumber, yaitu: sumber data primer
(langsung) dan sekunder (tidak langsung/ dari pihak ke 3).

 Metode Pengumpulan Data Sekunder


Metode pengumpulan data sekunder sering disebut metode pengumpulan bahan
dokumen, karena peneliti tidak secara langsung mengambil data sendiri tetapi memanfaatkan
data atau dokumen yang dihasilkan oleh pihak-pihak lain.
Pada umumnya, data sekunder yang digunakan oleh pihak peneliti untuk memberikan
gambaran tambahan, gambaran pelengkap, ataupun untuk diproses lebih lanjut. Dalam
metode pengumpulan data sekunder, obsevator tidak meneliti langsung, tetapi data
didapatkan misalnya dari media massa, BPS, lembaga pemerintah maupun swasta, lembaga
penelitian maupun pusat bank, data hasil penelitian lain, penelitian kepustakaan dalam hal
untuk mengetahui berbagai pengetahuan dan karya yang pernah dicapai oleh para peneliti
terdahulu. Dengan penelitian kepustakaan, akan melatih peneliti untuk membaca kritis segala
bahan yang dijumpainya, kecermatan dan ketelitian peneliti akan sangat teruji dalam
memutuskan sumber yang dipercayanya.
Contoh dari sumber data sekunder adalah data yang diperoleh dari Biro Pusat Statistik (BPS),
surat kabar atau media cetak dan elektronik, serta berbagai badan pengumpulan data lainnya.
Sedapat mungkin peneliti harus berupaya untuk mendapatkan data langsung dari sumbernya
(data primer), demi untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas data, dan juga untuk
memudahkan pengelolanya.

Metode Pengumpulan Data Primer


Terdapat dua hal utama yang memepengaruhi kualitas data penelitian yaitu, kualitas
instrumen penelitian dan metode pengumpulan data. Ada beberapa cara untuk
mengumpulkan data yaitu: interview (wawancara), kuisioner, dan observasi (pengamatan)
atau mungkin saja ketiganya.
Contoh data primer adalah data hasil interview dengan orang yang berhubungan langsung
dengan obyek penelitian, mengambil data dari catatan dan dokumen perusahaan termasuk
web-site resmi perusahaan, hasil observasi dan hasil kuisioner.

3.5 Rencana Analisis Data

Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca
dan diinterpretasikan. Menurut Mudjarad Kuncoro (2003), analisis data merupakan tahapan
yang kritis dalam proses penelitian bisnis dan ekonomi. Dalam proses ini sering digunakan
statistik, fungsinya untuk menyederhanakan data penelitian yang amat besar jumlahnya
menjadi informasi yang lebih sederhana dan lebih mudah untuk dipahami. Kegiatan dalam
analisis data adalah mengelompokkan data berdasarkan variabel dari seluruh responden,
menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan
masalah, dan melakukan perhitugan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan.
3.5.1 Tahapan Pengolahan Data
1. Editing
Kegiatan dalam editing adalah kegiatan memeriksa data mentah yang masuk, apakah terdapat
kekeliruan pengiriman, tidak lengkap pengisiannya, palsu, dan sebgainya. Hal-hal yang perlu
diperiksa adalah:
 Dipenuhi tidaknya instruksi sampling

Apakah responden yang diwawancarai sesuai dengan syarat-syarat dan ketentuan


yang telah ditetapkan.

 Dapat dibaca atau tidaknya data mentah


Bila ada tulisan yang tidak jelas harus dikembalikan kepada pewawancara untuk
mengetahui kebenaran dari tulisan tersebut.
 Kelengkapan pengisian
Perlu ditunjukkan kepada pewawancara bila ada bagian yang kosong atau tidak diisi.
 Keserasian (konsistensi)
Adalah hal-hal lain yang bertentangan..
 Apakah isi jawaban bisa dipahami
Bila ada jawaban yang panjang kemudian disingkat oleh pewawancara dan singkatan
tersebut sudah dipahami.

2. Coding
Coding adalah pemberian tanda/simbol bagi tiap-tiap data yang termasuk dalam kategori
yang sama. Tanda dapat berupa angka atapun huruf. Tujuan dari coding adalah untuk
mengklasifikasikan jawaban ke dalam kategori-kategori yang penting.
Dua langkah penting dalam melakukan coding, yaitu:
a. Menentukan kategori-kategori yang akan digunakan
b. Mengalokasikan jawaban individual pada kategori-kategori tersebut.
c. Kumpulan dari kategori-kategori ini disebut dengan coding frame. Pada pertanyaan
tertutup biasanya coding frame sudah dilengkapi namun pada pertanyaan terbuka sukar untuk
merencanakan coding frame yang bersangkutan, mengkonstruksikan coding frame yang
benar-benar mengetahui tujuan peneliti dan mengetahui bagaimana hasil penelitian akan
digunakan.
Mengkode adalah menaruh angka pada tiap jawaban. Untuk dapat memberikan kode pada
jawaban tersebut perlu diperhatikan:
a) Kode dan jenis pertanyaan
Dalam hal ini perlu diperhatikan jenis pertanyaan, jawaban, atau pertanyaan yang dapat
dibedakan.
 Bila jawaban berupa angka maka kode yang digunakan adalah angka itu sendri.
 Bila jawaban untuk pertanyaan tertutup jawabannya sudah disediakan terlebih dahulu
dan responden hanya mengecek jawaban tersebut sesuai dengan instruksi. Responden
tidak boleh menjawab di luar yang telah ditetapkan.
 Bila jawaban pertanyaan semi terbuka, selain dari jawaban yang telah ditentukan
maka jawaban lain yang dianggap cocok oleh responden masih diperkenankan untuk
dijawab. Jawaban tambahan tersebut perlu diberi kode tersendiri.
 Bila jawaban pertanyaan terbuka, jawaban yang diberikan sifatnya bebas. Untuk
memberi kode, jawaban-jawaban tersebut harus dikategorikan terlebih dahulu atau
dikelompokkan sehingga tiap kelompok memiliki jawaban yang sejenis.
 Bila jawaban kombinasi, hampir serupa dan jawaban pertanyaan tertutup. Selain ada
jawaban yang jelas, responden masih dapat menjawab kombinasi dari beberapa
jawaban.

b) Tempat kode
Kode dapat dibuat pada kartu tabulasi ataupun daftar petanyaan itu sendiri. Jika data diolah
dengan komputer, kode-kode harus dibuat dalam coding sheet.
3. Tabulasi
Tahap selanjutnya setelah proses editing dan coding, data disusun dalam bentuk tabel.
Jawaban yang serupa dikelompokkan kemudian dihitung dan dijumlahkan beberapa banyak
peristiwa/gejala/item yang termasuk dalam satu kategori. Kegiatan ini dilakukan sampai
terwujud tabel-tabel yang berguna terutama penting pada data kuantitatif. Dalam tabulasi,
angka-angka akan dimasukkan dalam satu tabel yang terdiri atas kolom-kolom. Sebaiknya
susunan kolom disusun berdasarkan urutan-urutan yang logis dan tiap-tiap kepala kolom
diberi keterangan yang menyatakan isi kolom yang bersangkutan.
Tabel dapat dibedakan beberapa jenis yaitu tabel induk, tabel teks, dan tabel frekuensi. Tabel
induk adalah tabel yang berisi semua data yang tersedia secara terperinci untuk melihat
kategori data secara keseluruhan. Tabel teks adalah tabel yang diringkas sesuai keperluan.
Tabel ini biasanya dibuat langsung dalam teks dan digunakan pada saat membuat penafsiran.
Tabel frekuensi adalah tabel yang menyajikan berapa kali sesuatu hal terjadi. Tabel ini
digunakan untuk mengecek kesesuaian hubungan jawaban antara satu pertanyaan dengan
pertanyaan lain dalam daftar pertanyaan.
3.5.2 Penyajian Data
Data dapat disajikan dalam bentuk tabel baik tabel frekuensi tunggal maupun tabulasi silang.
Selain dalam bentuk tabel, data juga dapat disajikan dalam bentuk gambar/grafik. Dalam
tabulasi silang, setiap kesatuan data dipecah lebih lanjut menjadi dua atau tiga. Setiap
penambahan variabel baru ke dalam tabulasi silang akan memberikan keterangan lebih baik
terhadap data yang diolah.
3.5.3 Macam-Macam Metode Analisis
Secara umum, terdapat dua metode yang digunakan dalam penelitian yaitu analisis data
secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis data kualitatif digunakan pada penelitian yang
menggunakan pendekatan kualitatif. Analisis ini tidak menggunakan alat statistik, namun
dengan membaca tabel-tabel, grafik-grafik, atau angka-angka kemudian melakukan
penafsiran. Sedangkan analisis data kuantitatif digunakan pada penelitian dengan pendekatan
kuantitatif. Analisis ini menggunakan alat statistik.
Terdapat dua macam alat statistik yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensial. Statistik
deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara
mendeskripsikan atau menggambarkan data tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang
berlaku untuk umum atau generalisasi. Statistik inferensial adalah statistik yang digunakan
untuk menganalisis data sampel dengan maksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk
umum.
Statistik inferensial meliputi statistik parametris dan statistik nonparametris. Statistik
parametris digunakan untuk menguji parameter pupulasi melalui statistik atau menguji
ukuran populasi melalui data sampel. Statistik nonparametris tidak menguji parameter
populasi, tetapi menguji distribusi. Penggunaan statistik parametris dan nonparametris
tergantung pada asumsi dan jenis data yang akan dianalisis.
3.5.4 Pemilihan Metode Analisis
Pemilihan metode analisis menggunakan pendekatan kualitatif atau kuantitaif. Dalam
pendekatan kuantitaif, syarat pertama yang harus terpenuhi adalah alat uji statistik yang akan
digunakan harus sesuai. Pertimbangan dalam memilih alat uji statistik yaitu:
I. ditentukan oleh pertanyaan untuk apa penelitian tersebut dilakukan.
II. ditentukan oleh tingkat/skala, distribusi, dan penyebaran data.
III. luasnya pengetahuan statistik yang dimiliki.
IV. ketersediaan sumber-sumber dalam hubungannya dengan perhitungan dan penafsiran
data.
Metode penelitian dengan pendekatan kualitatif memusatkan perhatian pada prinsip umum
yang mendasari perwujudan dan satuan gejala yang ada. Analisis yang dilakukan adalah
gejala sosial dan budaya dengan menggunakan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan
untuk memperoleh pola yang berlaku. Kemudian pola tersebut dianalisis dengan teori yang
objektif.

3.5.5 Pemilihan Metode Statistik Menurut Skala Pengukuran


Menurut Sugiono (2003:147) hipotesis deskriptif yang akan diuji dengan statistik parametrik
menggunakan dugaan terhadap nilai dalam satu sample, dibandingkan dengan standar,
sedangkan hipotesis deskriptif yang akan diuji dengan statistik non parametrik merupakan
dugaan ada tidaknya perbedaan secara signifikan nilai antar kelompok dalam satu sampel.
Hipotesis komparatif merupakan dugaan ada tidaknya perbedaan secara signifikan nilai-nilai
2 kelompok atau lebih. Hipotesis asosiatif adalah dugaan terhadap ada tidaknya perbedaan
secara signifikan niai-nilai 2 kelompok atau lebih. Hipotesis asosiatif adalah dugaan terhadap
ada tidaknya hubungan secara signifikan antara dua variabel atau lebih.Di bawah ini
diberikan tabel yang berisi tentang penggunaan statistik parametrik dan non parametrik untuk
menguji hipotesis.

Macam Bentuk Hipotesis


data Deskriptif Komparatif (2 sampel) Komparatif (lebih dari Asosiatif
(satu dua sampel)
variabel Relatif Independen Relatif Independe

atau satu n

sample)
Nominal Binomial Mc Fisher Exact Cochran X2 untuk k Contingency
Memar Probability Q sampel Coefficient
X2 satu
sampel X2 dua
sampel
Ordinal Run Test Sign Test Median Test Priedman Median Spearman
Two Way Extension Rank
Wilcoxon Mann Anova Correlation
Matched Whitney Kruskal
Pairs Test Wallis one Kendall
Way Anova Tahu
Kormogorov
Semmirnov

Wald
Wolfowitz
Interval t-test t-test of t-test One-Way One-Way Korelasi
Rasio relative independent Anova Anova product
moment
Two- Two-Way
Way Anova Korelasi
Anova parsial

Korelasi
ganda

Regresi
sederhana
dan ganda
Hipotesis penelitian yang akan diuji dalam penelitian berkaitan erat dengan perumusan
masalah yang diajukan. Walaupun tidak setiap penelitian harus ada hipotesisnya, tetapi setiap
penelitian harus merumuskan masalah.
Untuk mencari pengaruh varian variabel dapat digunakan teknik statistik yaitu dengan
menghitung besarnya koefisien determinasi. Koefisien determinasi dihitung dengan
menguadratkan koefisien korelasi yang telah sitemukan dan selanjutnya dikalikan dengan
seratus persen.

3.5.6 Interpretasi Hasil-Hasil Analisis Data


Untuk interpretasi yang didasarkan atas statistik deskriptif khususnya tabulasi silang, ada
ketentuan atau aturan yang perlu diperhatikan. Jika diasumsikan ada satu variabel yang
bertindak sebagai variabel pengaruh dan satunya lagi sebagai variabel terpengaruh, maka arah
perhitungan untuk tabulasi silang selalu dihitung searah dengan variabel pengaruhnya. Dalam
menginterpretasikan tabulasi silang tersebut dengan membandingkan angka persen pada set
tabel searah dengan variabel pengaruhnya.
Interpretasi hasil penelitian dilakukan untuk mencari makna dan implikasi yang lebih luas
dari hasil-hasil penelitian. Interpretasi hasil analisis dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
 Interpretasi secara terbatas karena penelitian hanya melakukan interpretasi atas data
dari hubungan yang ada dalam penelitiannya. Interpretasi ini dalam pengertian sempit, tetapi
paling sering dilakukan. Pada waktu menganalisis data penelitian secara otomatis peneliti
membuat interpretasi dimana analisis dan interpretasi yang dilakukan sangat erat
hubungannya karena keduanya dilakukan hampir bersamaan.
 Cara kedua dapat dilakukan apabila penelitian mencoba mencari pengertian yang
lebih luas tentang hasil-hasil yang telah didapatkannya dari analisis. Hal ini dilakukan oleh
peneliti dengan cara membandingkan hasil analisis dengan kesimpulan peneliti lain dan
dengan menghubungkan kembali interpretasinya dengan teori. Tahap ini sangat penting untuk
dilakukan, namun sering tidak dilakukan oleh peneliti sosial.
Pada garis besarnya analisis dalam penelitian sosial dapat dibagi ke dalam 2 kelompok, yaitu
analisis untuk katagorikal dan analisis untuk data bersambungan. Metode analisis dengan data
katagorikal ini menggunakan metode tabulasi silang. Sedangkan data yang
berkesinambungan biasanya menggunakan alat statistik seperti distribusi frekuensi, ukuran
kecenderungan sentral, analisis perbedaan, analisis varians, analisis multivarians, dan
sebagainya.

3.6 Penulisan Laporan


Menyusun laporan merupakan tugas akhir dari proses penelitian. Dalam hal ini tidak akan
dibahas penyusunan laporan dari segi pengetikan, dan ukuran format kertas, tetapi akan
disajikan secara mendasar dari segi pola fikir menyusun laporan penelitian sehingga mudah
dipahami oleh pihak-pihak lain yang membaca. Dalam membuat laporan, sebaiknya peneliti
berperan sebagai pembaca, sehingga laporan yang disajikan dapat dinilai apakah sudah baik
atau belum. Laporan penelitian sebaiknya dibuat bertahap, tahap pertama berupa laporan
pendahuluan, dan tahap kedua berupa laporan akhir.
Laporan pendahuluan ini sifatnya adalah draft yang masih perlu disempurnakan.
Penyempurnaan dilakukan dengan cara menyeminarkan hasil penelitian, atau
mengkonsultasikan pada ahlinya/pembimbing. Dengan diseminarkan dan dikonsultasikan,
maka kekurangan-kekurangan yang terdapat pada pola laporan penelitian akan dapat
diperbaiki.
Laporan penelitian adalah merupakan laporan ilmiah, untuk itu maka harus dibuat secara
sistematis dan logis pada setiap bagian, sehingga pembaca mudah memahami langkah-
langkah yang telah ditempuh dalam penelitian, dan hasilnya. Karena sifatnya ilmiah maka
harus replicable, yaitu harus bisa diulangi oleh orang lain yang akan membuktikan hasil
penemuan dalam penelitian itu. Untuk itu maka setiap langkah harus jelas.
Sebagai contoh, kerangka laporan penelitian untuk judul "Peranan Kepemimpinan Manajer
dan Kemampuan Kerja Karyawan terhadap Produktivitas Kerja".

3.7 Proposal Penelitian

Proposal adalah tawaran individu atau perusahaan untuk menghasilkan suatu produk atau
mengadakan jasa bagi calon pembeli atau sponsor. Tujuan proposal penelitian adatah (Cooper
dan Schindler, 2006: 104):

1. Menyajikan pertanyaan manajemen untuk diteliti dan mengaitkan kepentingannya.

2. Mendiskusikan upaya penelitian pihak lain yang sebelumnya sudah pernah


mengerjakan pertanyaan manajemen terkait.

3. Mengusulkan data yang diperlukan untuk mengatasi pertanyaan manajemen dan


bagaimana data tersebut akan dikumpulkan, dianalisa dan ditafsirkan.

Selain itu, proposal penelitian harus menyajikan rencana. layanan dan sertifikasi peneliti
dengan cara yang sebaik mungkin untuk meningkatkan kemungkinan terpilihnya proposal
tersebut di antara para pesaingnya. Proposal penelitian pada dasarnya merupakan sebuah
peta, yang memperlihatkan dengan jelas lokasi dimulainya suatu perjalanan, tempat tujuan
yang ingin dicapai, dan metode untuk tiba di sana. Proposal yang disiapkan dengan baik
mencakup kemungkinan masalah yang mungkin dihadapi di sepanjang jalan dan metode
untuk menghindari atau mengatasi masalah tersebut, mirip dengan peta yang menunjukkan
rute alternatif untuk jalan yang memutar.

Manfaat Proposal Penelitian

1. Manfaat bagi Sponsor (Cooper dan Schindler, 2006: 104):


a. Proposal penelitian memungkinkan sponsor menilai ketulusan tujuan peneliti,
kejelasan desainnya, sejauh mana materi latar belakangnya relevan, dan
kecocokan peneliti untuk melaksanakan proyek.

b. Proposal memperlihatkan disiplin, organisasi, dan logika peneliti, sehingga


sponsor dapat membandingkannya dengan proposal yang lain.

2. Manfaat bagi Peneliti (Cooper dan Schindler, 2006: 106):

a. Proses penulisan proposal mendorong peneliti untuk merencanakan dan


meninjau Iangkah-Iangkah logis proyeknya.

b. Pengembangan proposal memberikan kesempatan untuk mengetahui


kekurangan dalam logika, kesalahan asumsi, atau bahkan pertanyaan
manajemen yang tidak dibahas secara memadai oleh tujuan dan desain
penelitian yang bersangkutan.

Jenis – Jenis Proposal Penelitian

Secara umum proposal penelitian dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Proposal Internal: dikerjakan oleh staf spesialis atau oleh departemen penelitian di
dalam perusahaan. Proposal internal lebih singkat daripada proposal eksternal
(Cooper dan Schindler, 2006: 107).

2. Proposal Eksternal: proposal yang disponsori oleh panitia dana bantuan Universitas,
Badan Pemerintahan, Kontraktor Pemerintah, Organisasi Nirlaba, atau perusahaan
lainnya. Proposal eksternal biasa diklasifikasikan menjadi dua:

a. Proposal permohonan (solicited proposal): proposal ini mungkin bersaing


dengan proposal lain untuk suatu kontrak atau dana bantuan.

b. Proposal penawaran (unsolicited proposal): merupakan saran dari peneliti


kontrak untuk penelitian yang mungkin dilakukan. Sebagai contoh. perusahaan
konsultasi yang menyarankan suatu proyek penelitian pada klien yang sudah
meminta konsultasi.

Semakin besar proyeknya maka semakin kompleks proposalnya (Cooper dan


Schindler, 2006: 107-108)
Mengevaluasi Proposal Penelitian

Proposal patuh pada pemeriksaan formal atau informal. Pemerikasaan formal dilakukan
secara teratur untuk proposal permohonan. Proses pemeriksaan formal bervariasi. tetapi
biasanya mencakup (Cooper dan Schindler, 2006: 120):

1. Pengembangan kriteria tujuan, dengan menggunakan pedoman RFP.

2. Pemberian angka untuk tiap kriteria dengan menggunakan skala universal.

3. Pemberianbobotpadatiapkriteriaberdasarkankepentingan tiap kriteria.

4. Pembuatan skor untuk tiap proposal yang menggunakan jumlah semua skor kriteria
yang sudah ditimbang.

3.8 Cara Sitasi yang Benar dan Legal

Sitasi adalah menunjukan asal-usul atau suatu kutipan menguntip pernyataan atau
menyalin/mengulang pernyataan seseorang dan mencantumkan kedalam suatu karya tulis
yang dibuat, namun tetap mengindikasikan bahwa kutipan tersebut itu adalah pernyataan
orang lain.

1. Isi sitasi

a. Buku : pengarang, judul buku, penerbit dan tahun publikasi

b. Jurnal : pengarang, judul artikel, judul jurnal, volume, tahin publikasi dan
nomor halaman.

c. Karya di Internet : URL dan tanggal tersebut diakses.

2. Rujukan (Referensi, Acuan, atau References)

a. Biasanya terdapat pada akhir setiap bab dari suatu buku atau pada akhir suatu
artikel jurnal atau makalah.

b. Entri disusun sesuai urutan kutipan di dalam teks atau secara alphabetis.

3. Daftar Pustaka (Daftar Kepustakaan, Biografi, atau Bibliography )

a. Terdapat pada akhir suatu buku atau jenis monograf lainya.


b. Entri disusun secara alphabetis (A-Z) tanpa pengelompokan jenis sumber.

c. Jika pengarang yang sama dikutip beberapa kali dari karya yang berbeda, entri
didaftar secara kronologis berdasarkan tahun publikasi.

d. Jika pengarang dikutip untuk dua atau lebih karya yang dipublikasi pada tahun
yang sama, tambahkan huruf kecil a, b, c, ,dst setelah tahun terbit, contoh:
2005a, 2005b, 2005c.

4. Gaya Sitasi (Citation Style)

Terdapat beberapa gaya sitasi yang dibuat dan diterbitkan oleh berbagai asosiasi
atau individu yang digunakan oleh para penulis. Anda harus memilih dan
menggunakan salah satu gaya tersebut secara konsisten. Beberapa dari gaya tersebut
disajikan berikut ini;

a. Cichago style , semua bindang.

b. Turabian style , semua bidang.

c. MLA (Modern language assosiation), kesusasteraan, seni dan humaniora.

d. APA (American Psychological Association), psikologi, dan pendidikan dan


ilmu-ilmu sosial lainnya.

e. AMA (American Medical Assiciation) kedokteran, kesehatan dan biologi.

f. NLM (National Library Of Medicine)

g. ACP (American Chemical Society)

h. APSA (American political science association), politik

i. CBE (council of biology editors)

j. IEEE style

k. ASA (American Sociopogical Association)

l. Columbia syle

m. MHRA (Modem Humanities Research Assosiation)


DAFTAR PUSTAKA

Rahyuda, I Ketut, I Gst Wayan Murjana Yasa dan Ni Nyoman Yuliarnd. 2004. Buku Ajaran
Metodologi Penelitian. Fakultas Ekonomi Universitas Udayana.

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Bisnis. Bandung : Alfabeta.

https://www.coursehero.com/file/pid3hn/28-Cara-Sitasi-yang-Benar-dan-Legal-Sitasi-adalah-
menunjukan-asal-usul-atau/

http://siutpunya.blogspot.com/2013/04/bab-i-pendahuluan-a.html