Anda di halaman 1dari 6

TEORI AKUNTANSI

Sap 3

“.......”

Oleh :

Ni Made Harista Dwi Anggreni (1607532099 / zzzz)

Program Non Reguler

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Udayana

2018

1. KONSEP DASAR AKUNTANSI MENURUT PATON DAN LITTLETON

1
1.1 Entitas Bisnis atau Kesatuan Usaha (The Business Entity)
Bahwa perusahaan dianggap sebagai suatu kesatuan atau badan usaha ekonomik yang berdiri
sendiri, bertindak atas namanya sendiri, dan kedudukannya terpisah dari pemilik atau pihak lain
yang menanamkan dana dalam perusahaan dan kesatuan ekonomik tersebut menjadi pusat
perhatian atau sudut pandang akuntansi.
1.2 Kontinuitas Kegiatan/Usaha (Continuity of Activity)
Bahwa kalau tidak ada tanda-tanda, gejala-gejala, atau rencana pasti di masa datang bahwa
kesatuan usaha akan dibubarkan atau dilikuidasi maka akuntansi menganggap bahwa kesatuan
usaha tersebut akan berlangsung terus sampai waktu tak terbatas.
Dalam menghadapi ketidakpastian kelangsungan usaha, akuntansi menganut konsep ini atas
dasar penalaran bahwa harapan normal atau umum (normal expectation) pendirian perusahaan
adalah untuk berlangsung terus dan berkembang bukan untuk mati atau likuidasi.
1.3 Mengukur Pertimbangan-Pertimbangan (Measured Consideration)
Bahwa jumlah rupiah/agregat-harga (price-aggregate) atau penghargaan sepakatan (measured
consideration) yang terlibat dalam tiap transaksi atau kegiatan pertukaran (exchange activities)
merupakan bahan olah dasar akuntansi (the basic subject matter of accounting) yang paling
objektif terutama dalam mengukur sumber ekonomik yang masuk (pendapatan) dan sumber
ekonomik yang keluar (biaya). Sebagai konsekuensi, elemen-elemen atau pos-pos pelaporan
keuangan diatur atas dasar penghargaan sepakatan tersebut.
1.4 Kos Melekat (Cost Attach)
Bahwa kos melekat pada objek yang dipresentasinya hingga kos bersifat mudah bergerak dan
dapat dipecah-pecah atau digabung-gabungkan kembali mengikuti objek yang didekati. Berbagai
kos mempunyai daya saling mengikat antara yang satu dan yang lainnya ikatan objek-objek yang
disimbolkannya. Bila berbagai komponen digabungkan menjadi suatu objek atau barang baru,
gabungan kos yang baru semata-mata merupakan penggabungan berbagai kos yang melekat pada
tiap komponen tanpa memperhatikan nilai ekonomik baru yang melekat pada barang baru.
1.5 Upaya dan Capaian/Hasil (Effort and Accomplishment)
Bahwa biaya merupakan upaya dalam rangka memperoleh hasil berupa pendapatan. Dengan
kata lain, tidak ada hasil (pendapatan) tanpa upaya (biaya). Secara konseptual, pendapatan timbul
karena biaya bukan sebaliknya pendapatan menanggung biaya.
1.6 Bukti Objektif yang Dapat diperiksa (Variviable, Objective Evidence)

2
Bahwa informasi keuangan akan mempunyai tingkat kebermanfaatan dan tingkat keterandalan
yang cukup tinggi apabila terjadinya data keuangan didukung oleh bukti-bukti yang objektif dan
dapat diuji kebenarannya (keabsahannya/keautetikannya). Objektivitas bukti harus dievaluasi atas
dasar kondisi yang melingkupi penciptaan, pengukuran, dan penangkapan atau pengakuan data
akuntansi. Jadi, akuntansi tidak mendasarkan diri pada objektivitas mutlak melainkan pada
objektivitas relatif yaitu objektivitas yang paling tinggi pada waktu transaksi terjadi dengan
mempertimbangkan keadaan dan tersedianya informasi pada waktu tersebut.
1.7 Asumsi (Assumptions)
Bahwa asumsi di sini merupakan penjelasan bahwa keenam dasar sebelumnya merupakan
asumsi atau didasarkan atas asumsi tertentu dengan segala keterbatasannya.
Asumsi – asumsi tersebut adalah :
a) Kesatuan Usaha: Terbatas penggunaannya jika diterapkan pada kegiatan departemen,
operasi unit pemerintahan, keiatan usaha perseorangan atau firma dan kegiatan usaha
perusahaan afiliasi (anak).
b) Kontinuitas Usaha: Asumsinya didasarkan atas pengalaman perusahaan pada umumnya.
c) Periode Satu Tahun: Satu tahun adalah waktu yang tepat untuk pelapran , karena tidak
terlalu pendek, juga tidak terlalu panjang.
d) Harga Pokok Sebagai Bahan Olah Akuntansi: Harga pokok faktor produksi tersebut
adalah HP pada saat terjadinya.
e) Daya beli uang stabil.
f) Tujuannya adalah Mencari Laba : Perusahaan dipandang sebagai suatu organisasi yang
dibentuk untuk menghasilkan pendapatan.

2. GAMBARAN UMUM KONSEP DASAR OLEH FASB


Kerangka kerja konseptual (conceptual framework) didefinisikan oleh FASB sebagai:
“A coherent system of interrelated objectives and fundamentals that is expected to lead to
consistent standards and that prescribes the nature, function, and limits of financial accounting
and reporting”.
Kerangka kerja konseptual (conceptual framework) adalah suatu sistem koheren yang terdiri
dari tujuan dan konsep fundamental yang saling berhubungan, yang menjadi landasan bagi

3
penetapan standar yang konsisten dan penentuan sifat, fungsi, serta batas- batas dari akuntansi
keuangan dan laporan keuangan.
Kerangka kerja konseptual akan meningkatkan pemahaman dan keyakinan pemakai laporan
keuangan atas pelaporan keuangan, dan akan menaikkan komparabilitas antar laporan keuangan
perusahaan. Masalah-masalah yang baru akan dapat dipecahkan secara cepat jika mengacu pada
kerangka teori yang telah ada. Perkembangan kerangka konseptual (conceptual framework) FASB
melahirkan beberapa konsep dasar atau sering disebut dengan Statements of Financial Accounting
Concepts (SFAC) diantaranya:
a. SFAC No. 1, “Objectives of Financial Reporting by Business Enterprises”, yang
menyajikan tujuan dan sasaran akuntansi.
b. SFAC No. 2, ”Qualitative Characteristics of Accounting Information”, yang menjelaskan
karakteristik yang membuat informasi akuntansi bermanfaat.
c. SFAC No. 3, ”Elements of Financial Statements of Business Enterprises”, yang
memberikan definisi dari pos-pos yang terdapat dalam laporan keuangan, seperti asset,
liabilities, equity, revenue, dan expense.
d. SFAC No. 5, “Recognition and Measurements in Financial Statements of Business
Enterprises”, yang menetapkan kriteria pengakuan dan pengukuran fundamental serta
pedoman tentang informasi apa yang biasanya harus dimasukkan ke dalam laooran
keuangan dan kapan waktu pelaporannya.
e. SFAC No. 6, “Elements of Financial Statements”, yang menggantikan SFAC No. 3 dan
memperluas ruang lingkup SFAC No. 3 dengan memasukkan organisasi-organisasi
nirlaba.
f. SFAC No. 7, “Using Cash Flow Information and Present Value in Accounting
Measurements”, yang memberikan kerangka kerja bagi pemakaian arus kas masa depan
yang diharapkan dan nilai sekarang sebagai dasar pengukuran.

4
JOINT PROJECT FASB DAN IASB
Kerangka IASB telah disetujui oleh Dewan IASC pada bulan April 1989 untuk diterbitkan
pada bulan Juli 1989, dan diadopsi oleh IASB pada bulan April 2001. IAS semula disusun oleh
IASC (dewan penyusun standar sebelumnya) kemudian tugas menyusun standar ini diambil alih
oleh IASB (dewan penyusun standar yg baru). IASB berbeda dengan FASB. IASB merupakan
badan yang berwenang untuk menyusun standar akuntansi internasional sedangkan FASB
merupakan badan yang berwenang untuk menyusun standar akunatnsi yang berlaku di Amerika.
Tujuan dari proyek untuk menggantikan kerangka konseptual yang lama adalah untuk
membentuk suatu standar yang akan memandu organisasi dan penyajian informasi dalam laporan
keuangan. Hasil dari proyek ini secara langsung akan mempengaruhi bagaimana pengelolaan suatu
entitas laporan keuangan mengkomunikasikan informasi kepada pengguna laporan keuangan,
seperti sekarang dan potensi investor saham, kreditur dan kreditur lainnya. Tujuannya adalah untuk
meningkatkan kegunaan informasi yang diberikan dalam laporan keuangan suatu entitas untuk
membantu pengguna membuat keputusan dalam kapasitas mereka sebagai penyedia modal.
Dalam menyetujui untuk melanjutkan proyek-proyek serupa mereka bersama-sama, setuju
untuk melihat di penyajian informasi dalam laporan keuangan. Proyek bersama memiliki
perkembangan di luar lingkup presentasi dan menampilkan item pendapatan dan biaya, melainkan
menunjukkan presentasi dan menampilkan di muka laporan keuangan yang merupakan satu set
lengkap laporan keuangan. Pada bulan April 2004, dewan IASB dan FASB memutuskan untuk
pendekatan proyek dalam tiga tahap:
1. Tahap A akan menunjukkan laporan yang merupakan satu set lengkap laporan keuangan dan
periode yang mereka harus diberikan.
2. Tahap B akan mengatasi isu-isu yang lebih mendasar yang berkaitan dengan presentasi dan
menampilkan informasi dalam laporan keuangan, termasuk menggabungkan dan
disaggregating informasi dalam setiap laporan keuangan utama, mendefinisikan total dan
subtotal, dan mempertimbangkan kembali penggunaan langsung atau metode tidak langsung
untuk menyajikan operasi kas arus.
3. Tahap C akan menunjukkan presentasi dan menampilkan informasi keuangan interim di AS
prinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP). IASB juga dapat mempertimbangkan kembali
persyaratan dalam IAS 34, tentang pelaporan keuangan interim.

5
DAFTAR PUSTAKA

https://kartikaharahap.wordpress.com/2011/11/11/konsep-dasar-akuntansi/,diakses 25 September
2016
Triyuwono,Iwan. 2003. Konsekuensi Penggunaan Enthity Teori Sebagai Konsep Dasar Standar
Akuntansi Perbankan Syariah, JAAI, Volume 7 , No. 1, Juni 2003
Wolk, H. I., et al. (2013). Accounting Theory Conceptual Issues in a Political and Economic
Environment. sagepub.com, SAGE Publications, Inc.