Anda di halaman 1dari 36

POPULASI MIKROBA RUMEN DAN FERMENTABILITAS

in vitro Hi-fer PUCUK TEBU

LINA FEBRIANA

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2017
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER
INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Populasi Mikroba


Rumen dan Fermentabilitas in vitro Hi-fer Pucuk Tebu adalah benar karya saya
dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun
kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip
dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir
skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.

Bogor, Maret 2017

Lina Febriana
NIM D24120041
ABSTRAK
LINA FEBRIANA. Populasi Mikroba Rumen dan Fermentabilitas in vitro Hi-
fer Pucuk Tebu. Dibimbing oleh SURYAHADI dan ANITA S.
TJAKRADIDJAJA.

Pemanfaatan pucuk tebu sebagai pakan ternak belum optimal karena


ketersediaan pucuk tebu yang hanya melimpah pada saat musim panen dan
kandungan nilai nutrisi yang cukup rendah. Percobaan ini bertujuan untuk
mengevaluasi populasi mikroba rumen dan fermentabilitas in vitro Hi-fer pucuk
tebu. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 4 perlakuan 5
ulangan, P0 (pucuk tebu tanpa perlakuan), P1 (Hi-fer pucuk tebu fermentasi 2
minggu), P2 (Hi-fer pucuk tebu fermentasi 4 minggu), P3 (rumput gajah tanpa
perlakuan) dan dianalisis dengan analisis ragam dan uji lanjut ortogonal kontras.
Peubah yang diamati adalah fermentabilitas (konsentrasi NH3 dan VFA total),
populasi bakteri total, dan populasi protozoa total. Hasil percobaan menunjukkan
Hi-fer pucuk tebu fermentasi 2 dan 4 minggu berpengaruh sangat nyata
(P<0.01) menurunkan derajat keasaman (pH) rumen, berpengaruh nyata (P<0.05)
meningkatkan konsentrasi NH3, namun tidak berpengaruh nyata terhadap
konsentrasi VFA total, bakteri total, serta populasi protozoa total.

Kata-kata kunci : fermentabilitas, Hi-fer, in vitro, populasi mikroba rumen,


pucuk tebu

ABSTRACT

LINA FEBRIANA. Rumen Microbial Population and in vitro Fermentability of


Cane Top Hi-fer. Supervised by SURYAHADI and ANITA S.
TJAKRADIDJAJA.

Utilization cane top as animal feed is not optimal because without


preserved. It‟s production is fully available of harvesting time and has a low
nutrient contents to be used as animal feed. This study was aimed to evaluate
rumen microbial population and in vitro fermentability of cane top Hi-fer.
Experimental design used a randomized block design with 4 treatments and 5
replications, P0 (cane top without treatment), P1 (cane top Hi-fer fermented for
2 weeks), P2 (cane top Hi-fer fermented for 4 weeks), P3 (elephant grass
without treatment). The data were analyzed with analysis of variance and contrast
orthogonal test. Variable measured were fermentability (NH3 concentration and
total VFA), total bacterial population, and total protozoal population. The result of
this study showed that the cane top Hi-fer fermented for 2 and 4 weeks highly
significant (P<0.01) reduced the degree of acidity (pH) of the rumen, improved
significanly (P<0.05) on NH3 concentration, and these treatments did not produce
significant effects on total VFA concentration, the total bacterial population, and
the total protozoal population.

Key words : cane top, fermentability, Hi-fer, in vitro, rumen microbial


population
POPULASI MIKROBA RUMEN DAN FERMENTABILITAS
in vitro Hi-fer PUCUK TEBU

LINA FEBRIANA

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Peternakan
pada
Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2017
7

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas
segala rahmat karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Judul
penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Juni 2016 ini ialah Populasi Mikroba
Rumen dan Fermentabilitas in vitro Hi-fer Pucuk Tebu.
Pucuk tebu sebagai limbah hasil panen tanaman tebu yang ketersediaannya
melimpah memiliki potensi yang besar untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Namun, pemanfaatan pucuk tebu sebagai pakan belum optimal disebabkan waktu
panen yang tidak kontinu, hanya pada bulan-bulan tertentu saja. Oleh karena itu,
teknologi Hi-fer perlu diaplikasikan untuk mengatasi ketersediaan pucuk tebu
yang melimpah setelah panen dengan melakukan pengolahan teknik fermentasi
untuk mengawetkan pucuk tebu sehingga dapat disimpan dalam jangka waktu
panjang dan memperbaiki nilai nutrisi pucuk tebu melalui pembuatan Hi-fer
pucuk tebu. Percobaan ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan Hi-fer
pucuk tebu yang berbeda waktu penyimpanannya terhadap fermentabilitas
(konsentrasi NH3 dan VFA total) dan populasi mikroba (bakteri dan protozoa) di
dalam cairan rumen sapi potong.
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk kelulusan dan memperoleh
gelar Sarjana Peternakan di Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan,
Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Maret 2017

Lina Febriana
9

DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vi
DAFTAR LAMPIRAN vi
PENDAHULUAN 1
METODE 2
Bahan 2
Alat 2
Waktu dan Lokasi 2
Prosedur 3
Pembuatan Hi-fer 3
Pengambilan Cairan Rumen 3
Pembuatan Larutan Buffer McDougall 3
Pencernaan Fermentatif 3
Pengukuran Derajat Keasaman (pH) Rumen 4
Analisis NH3 dan VFA Total 4
Perhitungan Populasi Bakteri Total 4
Perhitungan Populasi Protozoa Total 5
Rancangan Percobaan dan Analisis Data 6
Perlakuan 6
Analisis Data 6
Peubah yang Diamati 6
HASIL DAN PEMBAHASAN 6
Komposisi Nutrien 6
Derajat Keasaman (pH) Rumen 9
Konsentrasi Amonia (NH3) 10
Konsentrasi VFA Total 12
Populasi Bakteri Total 13
Populasi Protozoa Total 14
Hubungan Antara Rasio [VFA]/[NH3] dengan Rasio Populasi Bakteri
Total/Populasi Protozoa Total 14
SIMPULAN DAN SARAN 16
DAFTAR PUSTAKA 16
LAMPIRAN 19
RIWAYAT HIDUP 21
UCAPAN TERIMA KASIH 21
DAFTAR TABEL
1 Komposisi nutrien 7
2 Rataan nilai derajat keasaman (pH) rumen 10
3 Rataan nilai konsentrasi NH3 (mM) 11
4 Rataan nilai konsentrasi VFA Total (mM) 12
5 Rataan populasi bakteri total 13
6 Rataan populasi protozoa total 14

DAFTAR GAMBAR
1 Pengaruh perlakuan terhadap rasio bahan organik dengan protein kasar atau
serat kasar, dan rasio TDN dengan protein kasar atau serat kasar 8
2 Pengaruh perlakuan terhadap fermentabilitas 15

DAFTAR LAMPIRAN
1 Analisis ragam (ANOVA) dan uji ortogonal kontras pengaruh
perlakuan terhadap derajat keasaman (pH) rumen 19
2 Analisis ragam (ANOVA) dan uji ortogonal kontras pengaruh
perlakuan terhadap konsentrasi NH3 19
3 Analisis ragam (ANOVA) dan uji ortogonal kontras pengaruh
perlakuan terhadap konsentrasi VFA Total 19
4 Analisis ragam (ANOVA) dan uji ortogonal kontras pengaruh
perlakuan terhadap populasi bakteri total 20
5 Analisis ragam (ANOVA) dan uji ortogonal kontras pengaruh
perlakuan terhadap populasi protozoa total 20
1

PENDAHULUAN

Peternakan merupakan subsektor pertanian yang memiliki peranan


penting dalam pembangunan nasional, sehingga perlu diperhatikan dengan baik
oleh pemerintah maupun swasta. Sapi potong merupakan salah satu usaha yang
harus dikembangkan di Indonesia karena merupakan ternak yang memiliki
peranan penting dalam memenuhi kebutuhan gizi manusia dan mendukung
program Swasembada Daging yang dicanangkan oleh pemerintah. Pada tahun
2014, populasi sapi potong tingkat nasional mencapai 14 726 875 ekor, sementara
itu dalam tingkat provinsi di Jawa Barat pada tahun 2014 populasi sapi potong
mencapai 419 077 ekor, mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya sebesar
382 949 ekor (Kementerian Pertanian 2015). Peningkatan populasi sapi tentu akan
meningkatkan penyediaan hijauan dan pakan konsentrat.
Ketersediaan hijauan sangat mempengaruhi usaha peternakan sapi potong
dan sapi perah serta hewan ruminansia lainnya. Hijauan merupakan bahan pakan
utama dengan kandungan energi yang rendah; ketersediaan dan kualitas hijauan di
Indonesia juga masih tergolong rendah. Tanaman tebu (Saccharum officinarum
L.) adalah suatu komoditas perkebunan penghasil gula, sejenis dengan tanaman
rumput tropis tegak famili Graminae yang dapat tumbuh bertahun-tahun atau lebih
dari satu tahun. Berdasarkan data Asosiasi Gula Indonesia (2014), produktivitas
tebu per hektar lahan di Jawa, Sumatera dan Sulawesi pada tahun 2014 sebesar 71
506 ton ha-1, 73 416 ton ha-1 dan 50 143 ton ha-1. Pucuk tebu sebagai limbah hasil
panen tanaman tebu yang ketersediaannya melimpah memiliki potensi yang besar
untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Namun, pemanfaatan pucuk tebu
sebagai pakan belum optimal disebabkan waktu panen yang tidak kontinu, hanya
pada bulan-bulan tertentu saja. Akibatnya, pucuk tebu belum dapat dimanfaatkan
secara maksimal karena ketersediaan pucuk tebu yang hanya melimpah pada saat
musim panen. Selain itu, limbah pertanian pucuk tebu memiliki nilai nutrisi yang
cukup rendah. Oleh karena itu, teknologi Hi-fer perlu diaplikasikan untuk
mengatasi ketersediaan pucuk tebu yang melimpah setelah panen dengan
melakukan pengolahan teknik fermentasi untuk mengawetkan pucuk tebu
sehingga dapat disimpan dalam jangka waktu panjang dan memperbaiki nilai
nutrisi pucuk tebu melalui pembuatan Hi-fer pucuk tebu. Teknologi Hi-fer
adalah hijauan fermentasi dalam kemasan komersial yang mudah disimpan,
mudah diangkut, didistribusikan serta dimanfaatkan oleh peternak (Suryahadi
2014).
Pembuatan Hi-fer pucuk tebu diharapkan dapat mengurangi
penumpukan berlebih setelah panen, menjaga kontinuitas ketersediaan pakan
ternak yang berbasis hijauan, mengawetkan dan memperbaiki nilai nutrisi pucuk
tebu, dan meningkatkan pendapatan petani pucuk tebu yang membuat dan
mengubah pucuk tebu menjadi Hi-fer pucuk tebu. Hal tersebut dapat
dikembangkan karena pemberian hijauan seperti Hi-fer rumput gajah dapat
menghemat pemberian hijauan, peternak tidak perlu mengarit rumput lagi, mudah
diangkut, ditransportasi dan didistribusikan kepada peternak konsumen. Selain itu,
pembuatan Hi-fer memudahkan dalam penyimpanan hijauan dan kualitas
nutrien Hi-fer yang tetap stabil akan menghasilkan produksi ternak yang lebih
2

baik dan terkontrol mutunya, dan dapat meningkatkan pendapatan peternak dan
pemilik perkebunan.
Penggunaan Hi-fer pucuk tebu yang disimpan selama beberapa minggu
perlu dievaluasi di dalam rumen sapi, terutama sapi potong, karena proses
fermentasi Hi-fer di dalam rumen akan mempengaruhi penyediaan nutrien di
organ pasca rumen bagi ternak induk semang, yaitu sapi potong. Oleh karena itu,
percobaan ini dilakukan untuk mengevaluasi penggunaan Hi-fer pucuk tebu
yang berbeda waktu penyimpanannya terhadap fermentabilitas (konsentrasi NH3
dan VFA total) dan populasi mikroba (bakteri dan protozoa) di dalam cairan
rumen sapi potong.

METODE

Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah cairan rumen sapi
potong, rumput gajah, dan pucuk tebu. Bahan lain yang akan digunakan yaitu
Aditif Fermentasi (AF) yang diproduksi CENTRAS LPPM-IPB, molasses, air,
HgCl2 jenuh, Na2CO3 jenuh, asam borat (H3BO3), indikator warna hijau bromo
kresol, H2SO4, NaOH, HCl, vaselin, aquades, NaHCO3, Na2HPO4.7H2O, KCl,
NaCl, MgSO4.7H2O, CaCl2.2H2O, glukosa, hemin, resazurin, cystein-HCl,
gliserol, tepung BHI, agar Bacto, pati, carboxyl methyl cellulose (CMC), dan
larutan TBFS.

Alat

Alat yang digunakan dalam percobaan ini antara lain mesin chopper,
terpal, karung, kantong plastik polyethylene, bambu, timbangan, karet ban, ember,
gelas takar, termos, kain penyaring, tabung fermentor, sumbat karet, pipet,
sentrifuse, cawan Conway, pH meter, tabung destilasi, tabung erlenmeyer, tabung
Hungate, kompor gas, freezer, tabung gas CO2, autoclave, inkubator, penangas air
(water bath), tabung reaksi, isolasi panfix, spoit, roller tube, mikroskop, dan
counting chamber.

Waktu dan Lokasi

Percobaan ini dilaksanakan dari bulan Mei sampai Desember 2016.


Pengambilan cairan rumen dari Rumah Potong Hewan Bubulak, Bogor. Pucuk
tebu diperoleh dari perkebunan tebu yang berlokasi di Kediri, Jawa Timur.
Analisis zat kecernaan dan percobaan in vitro dilakukan di Laboratorium Nutrisi
Ternak Perah dan di Laboratorium Biokimia, Fisiologi dan Mikrobiologi Nutrisi,
Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
3

Prosedur

Pembuatan Hi-fer
Pembuatan Hi-fer menggunakan metode Suryahadi (2014). Pucuk tebu
segar yang diperoleh, kemudian dilayukan dan dicacah hingga berukuran 5 cm.
Molasses terlebih dahulu diencerkan dengan air dengan perbandingan molasses
terhadap air ialah 1:1. Selanjutnya, pucuk tebu yang telah dicacah ditambahkan
AF sebanyak 2% (w v-1) dan molasses sebanyak 7% (w v-1) dan dicampurkan
sampai merata. Kemudian, pucuk tebu dimasukkan ke dalam kantong plastik
polyethylene kedap udara dan diberi bambu pada bagian yang akan diikat dengan
tali karet untuk mengeluarkan udara dari dalam kantong lalu disimpan di suhu
ruang selama 2 minggu dan 4 minggu waktu fermentasi.

Pengambilan Cairan Rumen


Cairan rumen yang digunakan sebagai sumber inokulum mikroba dalam
sistem fermentasi in vitro diambil dari rumah potong hewan (RPH) di Bubulak,
Bogor. Termos yang akan dipakai untuk menyimpan cairan rumen terlebih dahulu
diisi air panas hingga mencapai suhu 39 oC. Kemudian, isi rumen diambil dan
disaring dengan menggunakan kain penyaring setelah air dalam termos
dikeluarkan. Cairan rumen di dalam termos yang telah ditutup rapat tersebut lalu
segera dibawa ke Laboratorium Nutrisi Ternak Perah, Fakultas Peternakan,
Institut Pertanian Bogor. Pengambilan cairan rumen dilakukan sebanyak 5 kali
atau dari 5 ekor sapi potong sebagai ulangan/kelompok.

Pembuatan Larutan Buffer McDougall


Aquades dimasukkan sebanyak 500 ml ke dalam labu takar, kemudian
dimasukkan bahan-bahan sebagai berikut: NaHCO3 sebesar 4.9 g; Na2HPO4.7H2O
sebesar 1.855 g; KCl sebesar 0.285 g; NaCl sebesar 0.235 g; MgSO4.7H2O
sebesar 0.06 g dan CaCl2.2H2O sebesar 0.02 g. CaCl2.2H2O ditambahkan paling
akhir setelah bahan lainnya larut dengan sempurna. Selanjutnya, larutan buffer
McDougall dialiri dengan gas CO2 dan diukur pH hingga mencapai pH 6.8.

Pencernaan Fermentatif
Percobaan fermentasi in vitro dilakukan dengan menggunakan metode
Tilley dan Terry (1963) yang dimodifikasi oleh Sutardi (1979). Metode Sutardi
(1979) menggunakan fermentor berupa tabung polyetilen berkapasitas 50 ml.
Tabung fermentor tersebut diisi dengan 1 g sampel pakan, 12 ml larutan buffer
McDougall, dan 8 ml cairan rumen segar sambil dialiri gas CO2 selama 30 detik
dan ditutup dengan karet berventilasi. Selanjutnya, tabung tersebut diinkubasi
selama 4 jam di dalam shaker waterbath pada suhu 39 oC. Setelah 4 jam inkubasi,
sampel terlebih dahulu diambil sebanyak 0.1 ml dengan menggunakan syringe
sambil dialiri gas CO2 untuk ditumbuhkan pada media gliserol (terdiri dari 4.8 ml
media pengencer dan 0.1 ml gliserol) untuk perhitungan bakteri total dan sampel
diambil sebanyak 1 ml dimasukkan ke larutan TBFS untuk perhitungan protozoa
total. Setelah itu, dilakukan pengukuran derajat keasaman (pH) cairan rumen dan
diteteskan larutan HgCl2 jenuh sebanyak 2 tetes untuk menghentikan proses
fermentasi. Kemudian, sampel yang berada di tabung fermentor disentrifugasi
4

pada kecepatan 1500 rpm selama 30 menit dan diambil supernatan hasil
sentrifugasi untuk analisis NH3 dan VFA total.

Pengukuran Derajat Keasaman (pH) Rumen


Pengukuran nilai derajat keasaman (pH) rumen dilakukan setelah sampel
diinkubasi selama 4 jam. Pengukuran nilai derajat keasaman (pH) rumen
menggunakan alat pH meter yang sebelumnya dikalibrasi terlebih dahulu
menggunakan larutan pH standar (pH 4 dan pH 7). Nilai derajat keasaman (pH)
rumen yang digunakan yaitu nilai pH yang konsisten yang terukur pada alat pH
meter.

Analisis NH3 dan VFA Total


Analisis ini meliputi analisis konsentrasi NH3 dan VFA. Analisis NH3
dilakukan dengan menggunakan teknik mikrodifusi Conway (Departmen of Dairy
Science, General Laboratory Procedure 1969). Cawan Conway diolesi dengan
vaselin pada bagian bibir cawan. Supernatan diambil sebanyak 1 ml ditempatkan
pada salah satu ruang sekat cawan dan sisi yang lain diisi dengan 1 ml Na2CO3
jenuh, sedangkan cawan kecil yang terletak di tengah diisi dengan 1 ml asam
borat (H3BO3) berindikator warna hijau bromo kresol, lalu cawan ditutup rapat.
Selanjutnya cawan digerakkan hingga semua isinya tercampur rata dan didiamkan
selama 24 jam. Asam borat kemudian dititrasi dengan H2SO4 0.0059 N hingga
terjadi perubahan warna dari biru menjadi merah. Konsentrasi NH3 dihitung
berdasarkan rumus berikut :

ml H2SO4 x N H2SO4 x 1000


Konsentrasi NH3 (mM) =
Berat sampel x BK sampel

Analisis VFA dilaksanakan dengan teknik „steam destilation‟ (Departmen


of Dairy Science, General Laboratory Procedure 1969). Supernatan diambil
sebanyak 5 ml dimasukkan ke dalam tabung destilasi dan ditambahkan 1 ml
larutan H2SO4 15%. Tabung erlenmeyer berisi 5 ml NaOH 0.5 N disiapkan guna
menampung VFA yang keluar dari proses pendinginan, ditunggu hingga 250 ml.
Lalu ditambahkan 2 tetes indikator phenolphthalein dan dititrasi menggunakan
HCl 0.5011 N hingga berubah warna dari merah jambu menjadi bening atau tidak
berwarna. Konsentrasi VFA total dihitung dengan menggunakan rumus berikut :
1000
(a-b) x N HCl x ml
5
Konsentrasi VFA Total (mM) =
Berat sampel x BK sampel
Keterangan :
a = volume titran blanko
b = volume titran sampel

Perhitungan Populasi Bakteri Total


Perhitungan populasi bakteri total menggunakan metode Ogimoto dan Imai
(1981). Media tumbuh BHI dibuat dengan mencampurkan tepung BHI dengan
bahan sumber nutrisi mikroba lainnya. Campuran tersebut dipanaskan perlahan-
lahan di atas kompor sampai terjadi perubahan warna dari kuning menjadi coklat
5

kemerahan hingga berubah lagi menjadi kuning, lalu diangkat dan didinginkan
sambil dialiri gas CO2. Selanjutnya, tabung Hungate diisi agar Bacto sebanyak
0.15 g dan media BHI dimasukkan ke dalam tabung masing-masing sebanyak 5
ml, lalu disterilkan dalam autoclave hingga mencapai suhu 121 oC selama 15
menit dan tekanan 1.2 Kgf cm-3.
Metode pengenceran dilakukan dengan menggunakan media pengencer
sebelum bakteri diinokulasi ke media BHI. Pengenceran 10-2 (P10-2) diperoleh
dari cairan rumen yang diambil sebanyak 0.1 ml dari tabung fermentor setelah
diinkubasi selama 4 jam dan diinokulasi ke dalam tabung Hungate yang telah diisi
media gliserol sebanyak 4.9 ml. Pengenceran 10-4 (P10-4) diperoleh dari sampel
P10-2 yang diambil sebanyak 0.1 ml dari media gliserol dan diinokulasikan ke
dalam 4.9 ml media pengencer dalam tabung Hungate. Kemudian, pengenceran
10-6 (P10-6) diperoleh dari sampel P10-4 diambil sebanyak 0.1 ml dan dimasukkan
ke dalam 4.9 ml media pengencer. Pengenceran 10-8 (P10-8) diperoleh dari sampel
P10-6 diambil sebanyak 0.1 ml dan dimasukkan ke dalam 4.9 ml media pengencer.
Sebanyak 0.1 ml sampel dari masing-masing tabung pengencer diambil dan
diinokulasikan ke media BHI. Media lalu dihomogenkan dengan menggunakan
roller tube yang berisi aquades hingga media BHI menjadi padat dan merata pada
dinding tabung. Tabung yang telah diinokulasi lalu diinkubasi di dalam inkubator
pada suhu 39 oC selama 24-48 jam. Populasi bakteri total dapat dihitung dengan
rumus :
-1 n x 10x
Populasi Bakteri Total (cfu ml ) =
0.1 x 0.1
Keterangan :
n = jumlah koloni yang terdapat pada tabung seri pengenceran ke-x

Perhitungan Populasi Protozoa Total


Penghitungan populasi protozoa dengan menggunakan metode Ogimoto dan
Imai (1981). Larutan TBFS (4%) dibuat dengan formalin dan 4 g TB yang
dicampurkan dengan larutan garam NaCl fisiologis 0.9% dalam 100 ml larutan.
Sampel cairan rumen diambil dari tabung fermentor sebanyak 1 ml dicampurkan
dengan 1 ml larutan TBFS atau dengan rasio 1:1, kemudian diteteskan sebanyak 2
tetes ke atas counting chamber dan diamati dibawah mikroskop dengan
pembesaran 40 kali. Total protozoa yang dihitung terdapat dalam counting
chamber dengan ketebalan 0.2 mm, luas kotak terkecil 0.0625 mm2 yang terdapat
16 kotak dan jumlah kotak yang dibaca sebanyak 16 kotak. Populasi protozoa
dapat dihitung dengan rumus:
1 x 1000 x FP x C
Populasi Protozoa Total (sel ml-1) =
0.2 x 0.0625 x 16 x 16

Keterangan : C = jumlah protozoa terhitung dalam counting chamber


FP = faktor pengencer
6

Rancangan Percobaan dan Analisis Data

Perlakuan
Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan yakni : P0 (pucuk
tebu tanpa perlakuan), P1 (Hi-fer pucuk tebu fermentasi 2 minggu), P2 (Hi-fer
pucuk tebu fermentasi 4 minggu), dan P3 (rumput gajah tanpa perlakuan). Cairan
rumen dari lima ekor sapi digunakan sebagai ulangan atau kelompok. Model
matematika yang digunakan adalah sebagai berikut :

Yij = µ + τi + βj + εij
Keterangan :
Yij = Nilai pengamatan kelompok ke-i dan perlakuan ke-j
µ = Rataan umum pengamatan
τi = Pengaruh kelompok (cairan rumen) ke-i
βj = Pengaruh pucuk tebu dengan berbagai perlakuan ke-j
εij = Galat percobaan untuk kelompok ke-i dan pengaruh perlakuan pucuk tebu
ke-j

Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan sidik ragam (ANOVA)
dan untuk mengetahui perbeaan antar perlakuan dilakukan ortogonal kontras
(Steel dan Torrie 1993). Analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui efek
percobaan terhadap rasio [VFA]/[NH3] dan rasio populasi bakteri total/populasi
protozoa total.

Peubah yang Diamati


Peubah yang diamati dalam percobaan ini adalah sebagai berikut:
fermentabilitas (konsentrasi NH3 dan VFA total), populasi bakteri total, dan
populasi protozoa rumen.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Komposisi Nutrien

Komposisi nutrien bahan pakan menjadi acuan dalam penentuan kualitas


bahan pakan yang dikonsumsi yang dapat berpengaruh terhadap proses fermentasi
di dalam rumen ruminansia. Komposisi nutrien dalam bahan pakan hijauan pucuk
tebu, Hi-fer pucuk tebu, dan rumput gajah dicantumkan pada Tabel 1.
Berdasarkan hasil analisis komposisi nutrien pada Tabel 1, kandungan BK
pada P0 sangat tinggi dibandingkan P3 karena perlakuan P0 menggunakan pucuk
tebu yang sudah tua sehingga kandungan air rendah, sedangkan pada perlakuan P3
kandungan BK rendah karena rumput gajah yang digunakan berumur muda
dengan kandungan air cukup tinggi. Perlakuan yang difermentasi menjadi Hi-fer
dapat menurunkan kandungan BK pucuk tebu.
7

Tabel 1 Komposisi nutrien


a)
Abu BOb) PKb) LKb) SKb) BETNc) TDNd)
Perlakuan %BKa)
--------------------------------%BK---------------------------------
P0 59.47 13.91 86.09 8.18 0.18 40.25 37.47 46.03
P1 24.54 11.54 88.46 8.18 1.91 35.45 42.93 51.96
P2 30.22 11.09 88.91 7.12 1.98 33.12 46.69 53.90
P3 16.04 10.92 89.08 12.33 1.56 31.61 43.57 55.66
a)
Hasil Analisis Laboratorium Nutrisi Ternak Perah, Fakultas Peternakan, IPB; b)Hasil Analisis
Laboratorium Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi, IPB; c)Hasil Perhitungan
BETN = 100 – (Abu+PK+LK+SK); d)Hasil Perhitungan dengan Rumus TDN = 25.6 + 0.53 PK +
1.7 LK – 0.0474 SK + 0.732 BETN (Sutardi 2001); P0 = pucuk tebu tanpa perlakuan, P1 = Hi-
fer pucuk tebu fermentasi 2 minggu, P2 = Hi-fer pucuk tebu fermentasi 4 minggu, P3 = rumput
gajah tanpa perlakuan.
Sumber : Elmi (2017)

Gambar 1 memperlihatkan rasio antara bahan organik (BO) dengan


protein kasar atau serat kasar, dan rasio antara TDN dengan protein kasar atau
serat kasar berdasarkan hasil analisis pada Tabel 1. Komposisi nutrien bahan yang
berbeda-beda pada setiap perlakuan akan mempengaruhi fermentabilitas di dalam
rumen. Rasio BO/PK dan BO/SK yang terkandung pada bahan akan
mempengaruhi perbandingan TDN/PK dan TDN/SK sehingga berdampak
terhadap rasio [VFA]/[NH3] yang dihasilkan, produk VFA dan NH3 akan
berpengaruh terhadap populasi mikroba rumen (rasio populasi bakteri
total/populasi protozoa total) dan proses fermentasi di dalam rumen.
Gambar 1(a) menunjukkan pengaruh perlakuan terhadap rasio BO/PK.
Perlakuan yang difermentasi menjadi Hi-fer, menghasilkan rasio BO/PK yang
lebih tinggi dibandingkan rasio BO/PK pada P0 karena kandungan BO, BETN
dan LK yang meningkat dan penurunan kandungan SK (Tabel 1). Hi-fer pucuk
tebu yang difermentasi selama 2 minggu (P1) menunjukkan rasio BO/PK yang
lebih baik dibandingkan Hi-fer pucuk tebu yang difermentasi selama 4 minggu
(P2) karena kandungan PK yang sedikit lebih tinggi dan BO yang relatif sama.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurjana (2016) bahwa
rumput gajah yang difermentasi menjadi Hi-fer mengalami perubahan nilai BO
dari 88.61% BK menjadi 87.01% BK dan peningkatan kandungan LK dari 1.35%
BK menjadi 1.70% BK, sejalan dengan Hapsari (2016) yang menyatakan bahwa
Hi-fer dengan penambahan asam formiat dan L. plantarum juga meningkatkan
kandungan LK. Peningkatan kandungan LK dapat terjadi akibat peningkatan
produksi asam lemak dari proses fermentasi pucuk tebu dalam pembuatan Hi-
fer. Semakin lama waktu fermentasi, kandungan PK Hi-fer pucuk tebu
mengalami penurunan. Perlakuan P0 memiliki rasio BO/PK yang rendah
walaupun kandungan PK tidak jauh berbeda dengan BO sedikit lebih rendah
dibandingkan P1.
Gambar 1(b) menunjukkan pengaruh perlakuan terhadap rasio BO/SK.
Perlakuan yang difermentasi menjadi Hi-fer (P1 dan P2), menghasilkan rasio
BO/SK yang lebih tinggi dibandingkan rasio BO/SK pada P0. Hal ini karena
pucuk tebu yang difermentasi menjadi Hi-fer pucuk tebu mengalami penurunan
kandungan SK dan peningkatan nilai kandungan BETN dan LK sehingga dapat
meningkatkan kandungan BO (Tabel 1). Hal ini selaras dengan penelitian Nurjana
8

(2016) yang menyatakan bahwa Hi-fer rumput gajah yang difermentasi selama
21 hari juga mengalami penurunan kandungan nilai SK dari 29.51% BK menjadi
28.95% BK, sejalan dengan Hapsari (2016), penurunan kandungan nilai SK
terjadi pada Hi-fer dengan penambahan L. plantarum dibandingkan perlakuan
Hi-fer kontrol. Lama fermentasi juga berdampak terhadap penurunan kandungan
SK dan peningkatan BETN dan BO. Penurunan kandungan SK pada Hi-fer
pucuk tebu akan mempermudah proses fermentasi di dalam rumen oleh mikroba
rumen. Pucuk tebu yang tidak difermentasi (P0), menghasilkan rasio BO/SK
paling rendah karena kandungan SK yang tinggi dan nilai kandungan BO yang
rendah (Tabel 1) sehingga akan sulit dicerna di dalam rumen. Perlakuan P3
memiliki rasio BO/SK yang paling tinggi dibandingkan perlakuan lainnya
disebabkan rendahnya kandungan nilai SK dan tingginya kandungan BO pada P3
(Tabel 1).

(a) (b)

(c) (d)
Gambar 1. Pengaruh perlakuan terhadap rasio antara bahan organik (BO) dengan
protein kasar atau serat kasar, dan rasio antara TDN dengan protein
kasar atau serat kasar
(a) Pengaruh perlakuan terhadap rasio BO/PK, (b) Pengaruh perlakuan terhadap rasio BO/SK, (c)
Pengaruh perlakuan terhadap rasio TDN/PK, dan (d) Pengaruh perlakuan terhadap rasio TDN/SK;
P0 = pucuk tebu tanpa perlakuan, P1 = Hi-fer pucuk tebu fermentasi 2 minggu, P2 = Hi-fer
pucuk tebu fermentasi 4 minggu, P3 = rumput gajah tanpa perlakuan

Gambar 1(c) menunjukkan pengaruh perlakuan terhadap rasio TDN/PK.


Perlakuan P1 dan P2 menghasilkan rasio TDN/PK yang lebih tinggi karena
9

peningkatan kandungan BO, BETN, dan LK yang dapat meningkatkan nilai TDN
(Tabel 1). Hal tersebut sejalan dengan penelitian Nurjana (2016) yang menyatakan
bahwa rumput gajah yang difermentasi selama 21 hari menjadi Hi-fer
mengalami peningkatan kandungan TDN dari 49.63% menjadi 50.76%. Semakin
lama waktu fermentasi, maka kandungan PK Hi-fer pucuk tebu menurun, tetapi
kandungan TDN semakin meningkat sebagai akibat menurunnya SK dan
meningkatmya BO, BETN, dan LK. Perlakuan P0 menghasilkan rasio TDN/PK
yang rendah dibandingkan perlakuan P1 dan P2. Hal ini karena kandungan TDN
pada P0 rendah (Tabel 1) walaupun kandungan PK tidak jauh berbeda dengan P1
sehingga pada satuan PK yang sama akan menghasilkan TDN rendah. Perlakuan
P3 menghasilkan rasio TDN/PK paling rendah disebabkan nilai TDN dan PK
pada P3 tinggi (Tabel 1) sehingga rasio TDN/PK memiliki pola yang sama dengan
rasio BO/PK.
Gambar 1(d) menunjukkan pengaruh perlakuan terhadap rasio TDN/SK.
Perlakuan pucuk tebu yang difermentasi menjadi Hi-fer, menghasilkan rasio
TDN/SK yang lebih tinggi dibanding P0. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan
P1 dan P2 pada pucuk tebu yang telah difermentasi mengalami penurunan
kandungan nilai SK dan peningkatan nilai TDN karena terjadi peningkatan
kandungan BO, BETN, dan LK (Tabel 1). Lama fermentasi selama 2 dan 4
minggu juga berpengaruh terhadap penurunan kandungan nilai SK pada Hi-fer
sehingga meningkatkan nilai TDN Hi-fer pucuk tebu. Penurunan kandungan SK
pada Hi-fer akan mempermudah proses fermentasi di dalam rumen oleh
mikroba rumen. Perlakuan P0 menghasilkan rasio TDN/SK paling rendah karena
kandungan SK yang tinggi dan rendahnya nilai TDN yang dihasilkan (Tabel 1)
sehingga pucuk tebu yang tidak difermentasi menjadi Hi-fer akan sulit dicerna
di dalam rumen. Perlakuan P3 menghasilkan rasio TDN/SK paling tinggi
dibandingkan perlakuan lainnya disebabkan kandungan nilai SK pada P3 rendah
sehinga mudah untuk dicerna di dalam rumen dan meningkatkan nilai TDN
(Tabel 1) rasio TDN/SK juga memiliki pola yang sama dengan rasio BO/SK. Hal
ini menunjukkan bahwa TDN berkorelasi dengan kadar BO dan SK daripada
dengan PK.

Derajat Keasaman (pH) Rumen

Rumen merupakan kantong dengan kondisi anaerob yang menyimpan dan


mencampur pakan hasil fermentasi mikroba rumen. Cairan rumen memiliki
karakteristik yang berfungsi sebagai buffer dan membantu mempertahankan pH
rumen agar tetap normal. Nilai pH rumen menjadi salah satu faktor yang
mempengaruhi populasi mikroba di dalam rumen. Rataan nilai pH rumen pada
percobaan ini dicantumkan pada Tabel 2.
10

Tabel 2 Rataan nilai derajat keasaman (pH) rumen


Perlakuan Rataan derajat keasaman (pH) rumen
P0 7.08 ± 0.19Aa
P1 6.96 ± 0.22Bc
P2 6.96 ± 0.29Bc
P3 7.00 ± 0.26Ab
P0 = pucuk tebu tanpa perlakuan, P1 = Hi-fer pucuk tebu fermentasi 2 minggu, P2 = Hi-fer
pucuk tebu fermentasi 4 minggu, P3 = rumput gajah tanpa perlakuan. Angka-angka yang diikuti
oleh huruf kapital yang berbeda pada kolom yang sama berbeda sangat nyata pada taraf uji 1% dan
yang diikuti oleh huruf kecil berbeda nyata pada taraf uji 5% (Uji Ortogonal Kontras).

Berdasarkan analisis ragam, perlakuan memberikan pengaruh sangat nyata


(P<0.01) terhadap nilai pH fermentasi pakan di dalam rumen. Uji ortogonal
kontras menunjukan bahwa P0 dan P3 menghasilkan pH fermentasi yang lebih
tinggi (P<0.01) di dalam rumen dibandingkan pH P1 dan P2 dan tidak ada
perbedaan yang nyata antara pH P0 dan P3 atau pH P1 dan P2. Perlakuan P0 dan
P3 menghasilkan nilai pH rumen yang tidak jauh berbeda namun sedikit lebih
tinggi dibandingkan pH P1 dan P2 karena pucuk tebu dan rumput gajah tidak
difermentasi. Penurunan nilai pH rumen pada perlakuan P1 dan P2 walaupun
masih berada dalam kisaran normal, menunjukkan bahwa pucuk tebu yang
difermentasi menjadi Hi-fer mampu mempengaruhi proses fermentasi pakan di
dalam rumen sehingga terjadi penurunan nilai pH rumen. Hi-fer pucuk tebu
yang difermentasi dalam keadaan anaerob akan mengaktifkan bakteri asam laktat
sehingga kondisi di dalam rumen menjadi asam dan nilai pH rumen menurun.
Rataan pH rumen yang dihasilkan pada percobaan ini berkisar 6.96-7.08,
selaras dengan hasil penelitian Nurjana (2016) yang menyatakan bahwa Hi-fer
rumput gajah yang difermentasi selama 21 hari menghasilkan nilai pH rumen
yang masih berada pada kisaran normal yaitu berkisar 6.90-6.93. Hasil penelitian
Elmi (2017) menyebutkan bahwa pucuk tebu yang difermentasi menjadi Hi-fer,
mengalami penurunan pH Hi-fer menjadi 4.2-4.5. Menurut Church (1988), nilai
pH rumen yang normal pada kondisi anaerob adalah 6.0-7.0 dengan temperatur
38-41 oC, sedangkan menurut Owens dan Zinn (1988), pH rumen berkisar 5.5-7.6.
Derajat keasaman pH rumen yang berfluktuasi dapat dipengaruhi oleh pola
pemberian pakan, ketersediaan pakan, cepat lambatnya proses pendegradasian
pakan di dalam rumen, dan komposisi kimiawi bahan pakan. Pemberian pakan
berserat yang didukung oleh temperatur rumen yang konstan menyebabkan
peningkatan sekresi saliva berjalan normal, sehingga dapat mempertahankan pH
sekitar 6.0-7.0 (Usman 2013). Suasana rumen yang asam dengan pH rendah dapat
menurunkan aktivitas mikroba di dalam rumen (Mahesti 2009).

Konsentrasi Amonia (NH3)

Di dalam rumen ternak ruminansia mikroorganisme dapat mensintesis


asam-asam amino esensial untuk kebutuhannya. Amonia berfungsi sebagai pusat
utama metabolisme nitrogen di dalam rumen yang merupakan hasil akhir dari
fermentasi protein dan penting untuk sintesis protein mikroba (Cheeke dan
Dierenfeld 2010). Protein pakan tersedia yang masuk ke dalam rumen akan
dirombak oleh mikroba rumen menjadi amonia untuk sintesis protein tubuhnya
11

(McDonald et al. 2010). Protein pakan akan dihidrolisis menjadi peptida dan asam
amino oleh mikroorganisme rumen, sebagian asam amino akan dipecah menjadi
amonia dan digunakan untuk membentuk protein mikroba. Pakan yang
difermentasi dan menghasilkan BO lebih banyak sehingga pencernaan protein
mampu meningkatkan protein mikroba. Sintesis protein dalam rumen
mempengaruhi produksi amonia (McDonald et al. 2010). Faktor yang
mempengaruhi produksi amonia di dalam rumen yaitu waktu setelah makan,
sumber protein yang digunakan, dan mudah tidaknya protein tersebut didegradasi
(McDonald et al. 2002). Tabel 3 memperlihatkan data rataan konsentrasi amonia.

Tabel 3 Rataan konsentrasi NH3


Perlakuan Konsentrasi NH3 (mM)
P0 6.68 ± 3.18b
P1 9.62 ± 6.71a
P2 8.62 ± 5.08b
P3 11.92 ± 7.94a
P0 = pucuk tebu tanpa perlakuan, P1 = Hi-fer pucuk tebu fermentasi 2 minggu, P2 = Hi-fer
pucuk tebu fermentasi 4 minggu, P3 = rumput gajah tanpa perlakuan. Angka-angka yang diikuti
oleh huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama berbeda nyata pada taraf uji 5% (Uji
Ortogonal Kontras).

Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa konsentrasi amonia dipengaruhi


secara nyata oleh perlakuan (P<0.05). Uji ortogonal kontras menunjukkan bahwa
konsentrasi amonia pada P1 dan P3 lebih tinggi dibandingkan P0 dan P2.
Perlakuan P1 memproduksi konsentrasi amonia lebih tinggi dibandingkan
perlakuan P2 disebabkan kandungan PK P1 lebih tinggi daripada PK P2 (Tabel 1).
Lama inkubasi mempengaruhi kadar nitrogen di dalam rumen, semakin lama
waktu inkubasi konsentrasi amonia cenderung menurun karena nitrogen yang
tersedia dimanfaatkan untuk pertumbuhan bakteri. Pucuk tebu yang tidak
difermentasi (P0) memproduksi konsentrasi amonia terendah dibandingkan
perlakuan lainnya karena rendahnya kandungan nutrien yang dicantumkan pada
Tabel 1, terutama nutrien PK yang berdampak terhadap konsentrasi amonia di
dalam rumen. Demikian pula sebaliknya, perlakuan P3 menghasilkan konsentrasi
amonia tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya (P0, P1, dan P2) sebab
kandungan nutrien PK yang dicantumkan pada Tabel 1 sangat tinggi. Kandungan
amonia rumen yang tinggi berkaitan dengan tingginya kandungan protein kasar
dalam bahan pakan (Pamungkas et al. 2013). Selain itu, konsentrasi amonia yang
tinggi pada P3 diduga karena selama 4 jam proses fermentasi, terjadi akumulasi
konsentrasi amonia yang mengakibatkan proses degradasi protein pakan lebih
cepat untuk pembentukan protein mikroba di dalam rumen. Kemungkinan lain
adalah PK dari rumput gajah (P3) lebih mudah didegradasi oleh mikroba rumen
dibandingkan pucuk tebu (P0). Pembuatan Hi-fer pada pucuk tebu tampaknya
dapat meningkatkan degradasi protein.
Berdasarkan Tabel 3 rataan konsentrasi amonia yang dihasilkan berkisar
antara 6.68-11.92 mM. Hasil dari percobaan tersebut masih lebih tinggi
dibandingkan hasil penelitian Nurjana (2016) yang menyebutkan bahwa
konsentrasi amonia pada Hi-fer rumput gajah baik perlakuan kontrol maupun
yang ditambahkan aditif konsentrasinya berkisar 5.63-6.58 mM karena rendahnya
kandungan PK pada Hi-fer rumput gajah yaitu berkisar 6.76-7.40% BK. Hapsari
12

(2016) juga menyatakan bahwa konsentrasi N-NH3 yang dihasilkan pada Hi-fer
kontrol dan Hi-fer yang ditambahkan asam formiat dan L. Plantarum dan
dengan tambahan kombinasi keduanya rendah berkisar 4.05-6.30 mM dengan
kisaran PK Hi-fer sebesar 9.14-10.14% BK. Konsentrasi amonia pada Tabel 3
masih berada dalam kondisi optimum untuk pembentukan protein mikroba karena
menurut McDonald et al. (2002), konsentrasi amonia berkisar antara 6-21 mM,
sedangkan menurut Sutardi (1979), konsentrasi optimum amonia berkisar antara
4-12 mM untuk pembentukan protein mikroba. Pengolahan pucuk tebu menjadi
Hi-fer menunjukkan hasil yang baik, dapat memperbaiki struktur sel dari pucuk
tebu dan meningkatkan ketersediaan nitrogen untuk mikroba rumen sehingga
protein pada Hi-fer lebih mudah didegradasi.

Konsentrasi Volatile Fatty Acids (VFA) Total

Asam-asam lemak atsiri (VFA) utama yaitu asetat, propionat, dan butirat
yang dihasilkan dari proses pencernaan karbohidrat di dalam rumen ternak
ruminansia dan menghasilkan perbandingan di dalam rumen berkisar pada 65%
asetat, 21% propionat, dan 14% butirat (McDonald et al. 2010). VFA berfungsi
sebagai sumber energi utama dari ternak ruminansia karena sekitar 70-80% VFA
akan diserap sebagai energi ternak (Dijkstra et al. 2005). Konsentrasi VFA total
yang dihasilkan pada percobaan ditampilkan pada Tabel 4.

Tabel 4 Rataan konsentrasi VFA Total


Perlakuan Konsentrasi VFA Total (mM)
P0 103.01 ± 19.51
P1 96.25 ± 16.77
P2 99.30 ± 10.56
P3 88.06 ± 13.96
P0 = pucuk tebu tanpa perlakuan, P1 = Hi-fer pucuk tebu fermentasi 2 minggu, P2 = Hi-fer
pucuk tebu fermentasi 4 minggu, P3 = rumput gajah tanpa perlakuan

Berdasarkan hasil sidik ragam, hasil percobaan tidak menunjukkan


pengaruh yang nyata dari perlakuan terhadap konsentrasi VFA total yang
diproduksi. Demikian pula uji ortogonal kontras menunjukkan tidak ada
perbedaan yang nyata antar perlakuan. Hasil percobaan ini mengindikasikan
bahwa keempat perlakuan memiliki tingkat fermentasi sumber energi yang sama
oleh mikroba rumen walaupun terdapat perbedaan dalam kadar SK, BETN, LK,
maupun BO (Tabel 1).
Hasil percobaan ini menunjukkan bahwa rataan konsentrasi VFA total
yang dihasilkan pada percobaan ini berkisar 88.06-103.01 mM, hasil tersebut
lebih tinggi dibandingkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nurjana (2016)
yang menyebutkan bahwa konsentrasi VFA total pada Hi-fer rumput gajah
perlakuan kontrol maupun yang ditambahkan aditif konsentrasinya berada di
bawah kisaran normal yaitu berkisar 46.75-54.51 mM yang disebabkan
menurunnya kandungan SK pada Hi-fer berkisar 25.65-28.95% BK dan
menurunnya kandungan BETN berkisar 49.27-49.59% BK. Hapsari (2016)
menyatakan bahwa rataan VFA total perlakuan Hi-fer lebih tinggi dibandingkan
13

penelitian Nurjana (2016) yang berkisar 115-134 mM baik pada perlakuan Hi-
ferkontrol maupun perlakuan Hi-ferdengan penambahan asam formiat, L.
plantarum dan kombinasi keduanya, dengan kandungan SK berkisar 30.80-
35.25% BK dengan kandungan BETN berkisar 38.94-42.48% BK. Konsentrasi
VFA tersebut masih sesuai pada kondisi optimum VFA total berkisar 70-150 mM
menurut McDonald et al. (2010) sehingga masih dapat mendukung pertumbuhan
mikroba rumen. Pemberian pakan yang mudah difermentasi oleh mikroba rumen
akan meningkatkan kecernaan dan degradasi pakan yang diikuti dengan
peningkatan VFA (Nurjana 2016). Konsentrasi VFA total bervariasi bergantung
kepada jenis pakan yang dikonsumsi dan lama waktu setelah makan (McDonald et
al. 2002).

Populasi Bakteri Total

Bakteri rumen sebagian besar bersifat anaerob sejati, sedangkan bakteri


yang bersifat anaerob fakultatif dan aerob terdapat dalam jumlah kecil. Preston
dan Leng (1987) menyatakan bahwa jumlah bakteri yang menempel pada partikel
makanan paling besar yaitu sekitar 70% dari total bakteri rumen. Tabel 5
menunjukkan rataan populasi bakteri total di dalam cairan rumen.

Tabel 5 Rataan populasi bakteri total


Perlakuan Rataan populasi bakteri total (log cfu ml-1)
P0 7.58 ± 0.94
P1 7.81 ± 0.89
P2 7.69 ± 0.88
P3 8.13 ± 0.74
P0 = pucuk tebu tanpa perlakuan, P1 = Hi-fer pucuk tebu fermentasi 2 minggu, P2 = Hi-fer
pucuk tebu fermentasi 4 minggu, P3 = rumput gajah tanpa perlakuan

Analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan tidak memberikan pengaruh


yang nyata terhadap populasi bakteri total pada percobaan ini. Uji ortogonal
kontras tidak menunjukkan adanya perbedaan populasi bakteri total diantara
perlakuan.
Berdasarkan Tabel 5, rataan populasi bakteri total yang dihasilkan berkisar
antara 7.58-8.13 log cfu ml-1. Hasil dari percobaan tersebut berada dibawah
kisaran populasi bakteri total dan tergolong rendah karena menurut McDonald et
al. (2010), populasi bakteri mencapai 109-1010 cfu ml-1 di dalam cairan rumen.
Populasi mikroba di dalam rumen bervariasi bergantung kepada jenis hewan dan
jenis pakan yang diberikan (Kamra 2005). Populasi bakteri total yang rendah
berkaitan dengan populasi protozoa (Tabel 6). Protozoa akan memangsa bakteri
untuk memenuhi kebutuhannya karena kemampuan protozoa untuk mensintesis
asam amino dan vitamin B kompleks sangat rendah (Arora 1995).
14

Populasi Protozoa Total

Protozoa merupakan salah satu mikroba di dalam rumen yang berperan


dalam pencernaan protein dan karbohidrat di dalam rumen (Bach et al. 2005).
Tabel 6 menunjukkan rataan populasi protozoa total di dalam cairan rumen.

Tabel 6 Rataan populasi protozoa total


Perlakuan Rataan populasi protozoa total (log sel ml-1)
P0 7.58 ± 0.59
P1 7.52 ± 0.45
P2 7.53 ± 0.47
P3 7.44 ± 0.51
P0 = pucuk tebu tanpa perlakuan, P1 = Hi-fer pucuk tebu 2 minggu, P2 = Hi-fer pucuk tebu 4
minggu, P3 = rumput gajah tanpa perlakuan

Hasil sidik ragam menunjukkan populasi protozoa total tidak dipengaruhi


secara nyata oleh perlakuan. Demikian pula uji ortogonal kontras tidak
menunjukkan adanya perbedaan yang nyata terhadap populasi protozoa total
diantara keempat perlakuan.
Hasil percobaan pada Tabel 6, rataan populasi protozoa total yang
dihasilkan pada percobaan berkisar 7.44-7.58 log sel ml-1, hasil populasi protozoa
total tersebut berada diatas kisaran populasi protozoa karena menurut McDonald
et al. (2010) populasi protozoa total sebesar 106 sel ml-1 di dalam rumen dan
sekitar 104-106 per ml cairan rumen menurut Freer dan Dove (2002). Kondisi
tersebut akan mengakibatkan protozoa menjadi predasi bakteri.

Hubungan Antara Rasio [VFA]/[NH3] dengan Rasio Populasi Bakteri


Total/Populasi Protozoa Total

Populasi mikroba rumen yaitu bakteri dan protozoa rumen dipengaruhi


oleh konsentrasi amonia dan VFA total. Produk fermentasi berupa amonia sangat
diperlukan oleh bakteri rumen sebagai sumber nitrogen yang tersedia untuk
membangun protein tubuhnya dan sifat predasi dari protozoa. Kecukupan
ketersediaan amonia sebagai sumber N dan VFA yang merupakan sumber bahan
baku utama untuk proses sintesis protein mikroba yang berguna bagi induk
semang (Preston dan Leng 1987). Pengaruh perlakuan terhadap fermentabilitas di
dalam rumen ditampilkan pada Gambar 2.
Gambar 2(a) menunjukkan pengaruh perlakuan terhadap rasio
[VFA]/[NH3] di dalam rumen. Pucuk tebu yang tidak difermentasi (P0)
menghasilkan rasio [VFA]/[NH3] yang paling tinggi dibandingkan perlakuan
lainnya. Sebaliknya, perlakuan rumput gajah (P3) memiliki rasio [VFA]/[NH3]
yang terendah. Rasio [VFA]/[NH3] Hi-fer pucuk tebu (P1 dan P2) berada
diantara rasio [VFA]/[NH3] antara pucuk tebu (P0) dan rumput gajah (P3), rasio
[VFA]/[NH3] P1 sedikit lebih rendah daripada P0, dan rasio [VFA]/[NH3] P2
sedikit lebih rendah daripada P1 dan mendekati rasio [VFA]/[NH3] P3. Hasil ini
menjelaskan bahwa pucuk tebu (P0) lebih lambat difermentasi dan rumput gajah
paling cepat difermentasi. Pembuatan Hi-fer pucuk tebu akan mempercepat
15

proses fermentasi pucuk tebu oleh mikroba rumen. Kondisi ini berkorelasi dengan
rasio BO/PK, rasio BO/SK, rasio TDN/PK dan rasio TDN/SK (Gambar 1).
Walaupun rasio [VFA]/[NH3] pada waktu 4 jam fermentasi dari rumput gajah
(P3) terendah, ternyata rasio populasi bakteri total/protozoa total tertinggi
(Gambar 2b). Hal tersebut menjelaskan bahwa VFA dan NH3 yang dihasilkan dari
rumput gajah sudah digunakan untuk menstimulasi populasi bakteri yang lebih
tinggi daripada protozoa. Hal demikian terjadi pada pucuk tebu. Pembuatan Hi-
fer pucuk tebu menghasilkan rasio populasi bakteri total/populasi protozoa total
yang lebih baik daripada perlakuan pucuk tebu yang tidak difermentasi (P0),
tetapi masih lebih rendah daripada perlakuan rumput gajah (P3). Hasil tersebut
dapat menyebabkan adanya perbedaan dalam degradasi dan fermentasi nutrien Hi-
fer pucuk tebu yang menunjang populasi bakteri lebih baik.

(a) (b)
Gambar 2. Pengaruh perlakuan terhadap fermentabilitas

(a) Pengaruh perlakuan terhadap rasio [VFA]/[NH3], (b) Pengaruh perlakuan terhadap rasio
populasi bakteri total/populasi protozoa total; P0 = pucuk tebu tanpa perlakuan, P1 = Hi-fer
pucuk tebu fermentasi 2 minggu, P2 = Hi-fer pucuk tebu fermentasi 4 minggu, P3 = rumput
gajah tanpa perlakuan

Chen dan Gomes (1992) menyatakan bahwa besarnya protein mikroba


dipengaruhi oleh tingat pemberian protein pakan. Wahyuni (2008) menyatakan
bahwa produksi protein mikroba sangat bergantung kepada substrat yang tersedia
untuk mikroba berupa bahan organik mudah terfermentasi dan terdegradasi.
Efisiensi sintesis protein mikroba akan meningkat bila jumlah dan kecepatan
degradasi karbohidrat dengan protein sinergis dengan ekologi dalam rumen
(Khampa dan Wanapat 2006).
16

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Pembuatan Hi-fer pucuk tebu dapat dilakukan dalam 2 minggu atau 4


minggu. Pembuatan Hi-fer pucuk tebu dapat meningkatkan kandungan nutrien
BO, LK, dan BETN serta meningkatkan konsentrasi amonia, tetapi tidak
meningkatkan konsentrasi VFA Total, populasi bakteri total, dan populasi
protozoa total. Hi-fer pucuk tebu juga lebih mudah didegradasi dan difermentasi
sehingga dapat menstimulasi populasi bakteri total.

Saran

Teknologi Hi-fer perlu diterapkan pada limbah pertanian, perkebunan,


dan agroindustri lainnya untuk meningkatkan nilai nutrisi dan fermentabilitas
serta memudahkan petani dalam memanfaatkan limbah perkebunan, pertanian,
agroindustri dan memudahkan peternak dalam penyediaan pakan hijauan
berkualitas. Selain itu, percobaan in vivo perlu dilakukan untuk mengetahui
pengaruh pemberian Hi-fer pucuk tebu kepada ternak secara langsung.

DAFTAR PUSTAKA

Arora SP. 1995. Pencernaan Mikroba pada Ruminansia. Yogyakarta (ID): Gadjah
Mada University Pr.
Asosiasi Gula Indonesia. 2014. Laporan Akhir Giling 2014. Jakarta (ID): Asosiasi
Gula Indonesia.
Bach A, Calsamiglia S, Stern MD. 2005. Nitrogen metabolism in the rumen. J
Dairy Sci. 88: E9-E21. doi: 10.3168/jds.S0022-0302(05)73133-7
Cheeke PR, Dierenfeld ES. 2010. Comparative Animal Nutrition and Metabolism.
Wallingford (US). CABI Pr.
Chen XB dan Gomes MJ. 1992. Estimation of Microbial Protein Supply to Sheep
and Cattle Based on Urinary Excretion of Purine Derivatives: An Overview
of Technical Details. Occasional Publication International Feed Resources
Unit. Aberdeen (UK): 21pp. Rowett Research Institute.
Church DC. 1988. Ruminant animal: digestive physiology and metabolism. New
Jersey (US) : Reston Book, Prentice Hall, Englewood Cliffs.
Department of Dairy Science. 1969. General Laboratory Procedure. General
Laboratory Procedure. Wisconsin (US) : University of Wisconsin.
Dijkstra J, Forbes JM, France J. 2005. Quantitave Aspect of Ruminant Digestion
and Metabolism. 2nd ed. Wallingford (US): CABI Publising.
Elmi LAO. 2017. Karakteristik fisik, komposisi nutrien, dan kecernaan in vitro
Hi-fer pucuk tebu [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
17

Freer M, Dove H. 2002. Sheep Nutrition. Canberra (AU): CABI and CSIRO
Publishing.
Hapsari SS. 2016. Peningkatan mutu nutritif hijauan fermentasi (Hi-fer) melalui
inokulasi Lactobacillus plantarum dan asam formiat [tesis]. Bogor (ID):
Institut Pertanian Bogor.
Kamra DN. 2005. Rumen microbial ecosystem. Curr Sci. 89 (1):124-135.
[KEMENTAN] Kementerian Pertanian. 2015. Populasi sapi potong tingkat
nasional dalam angka tetap periode 2010-2014 [internet]. [diakses 2015 Okt
7]. Tersedia pada : http://www.pertanian.go.id/
[KEMENTAN] Kementerian Pertanian. 2015. Populasi sapi potong tingkat
provinsi Jawa Barat dalam angka tetap periode 2010-2014 [internet].
[diakses 2015 Okt 7]. Tersedia pada : http://www.pertanian.go.id/
Khampa S, Wanapat M. 2006. Suplementasi levels of concentrate containing high
levels of cassava chip on rumen ecology and microbial protein synthesis ini
cattle. Pak J Nutri. 5 (6): 501-506.
Mahesti G. 2009. Pemanfaatan protein pada domba lokal jantan dengan bobot
badan dan aras pemberian pakan yang berbeda. Semarang (ID): Universitas
Diponegoro.
McDonald P, Edwards RA, Greenhalgh JFD, Morgan CA. 2002. Animal
Nutrition. 6th Edition. New York (US): Ashford Colour Pr.
McDonald P, Edwards RA, Greenhalgh JFD, Morgan CA, Sinclair LA, Wilkinson
RG. 2010. Animal Nutrition. 7th Edition. Harlow (UK): Pearson.
Nurjana DJ. 2016. Kualitas nutrien dan kecernaan in vitro hijauan fermentasi (Hi-
fer) rumput gajah dengan penambahan inokulan atau crude enzim asal
Trichoderma reesei [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Ogimoto K, Imai S. 1981. Atlas of Rumen Microbiology. Tokyo (JP): Japan
Scientific Societies Pr.
Owens FN, Zinn R. 1988. Protein Metabolism of Ruminant Animal Digestive
Physiology and Nutrition. New Jersey (USA): Reston Book Prentice Hall
Englewood Cliffs.
Pamungkas D, Mariyono, Antari R, Sulistya TA. 2013. Imbangan pakan serat
dengan penguat yang bebeda dalam ransum terhadap tampilan sapi
peranakan ongole jantan. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan
Veteriner. Pasuruan (ID): Loka penelitian sapi potong.
Preston TR, Leng RA. 1987. Matching Ruminant Production System with
Available Resources in Tropics and Sub-Tropics. Armidale (AU): Penambul
Books.
Steel RGD, Torrie JH. 1993. Prinsip dan Prosedur Statistika: Suatu Pendekatan
Biometrik. Ed ke-3. M Syah, penerjemah. Jakarta (ID): Gramedia Pustaka
Utama.
Suryahadi. 2014. Manual Teknologi Pakan Ternak. Bogor (ID): Centras LPPM-
IPB.
Sutardi T. 1979. Ketahanan protein bahan makanan terhadap degradasi oleh
mikroba rumen dan manfaatnya bagi peningkatan produktivitas ternak.
Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor (ID).
Sutardi T. 2001. Revitalisasi peternakan sapi perah melalui penggunaan ransum
berbasis limbah perkebunan dan suplemen mineral organik. Laporan Akhir
RUT VIII. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
18

Tilley JMA, Terry RA. 1963. A two-stage technique for the in-vitro digestion of
forage crops. J Brit Grassland Soc. 18:104-111. doi: 10.1111/j.1365-
2494.1963.tb00335.x
Usman Y. 2013. Pemberian pakan serat sisa tanaman pertanian (jerami kacang
tanah, jerami jagung, pucuk tebu) terhadap evolusi pH, N-NH3 dan vfa di
dalam rumen sapi. Agripet. 13 (2): 53-58.
Wahyuni DS. 2008. Fermentabilitas dan degradabilitas in vitro serta produksi
biomassa mikroba ransum komplit kombinasi rumput lapang, konsentrat dan
suplemen kaya nutrien [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
19

Lampiran 1 Analisis ragam (ANOVA) dan uji ortogonal kontras pengaruh


perlakuan terhadap derajat keasaman (pH) rumen
SK db JK KT Fhit F0.05 F0.01
Total 19 1.00
Perlakuan 3 0.05 0.02 6.00 3.49 5.95 **
P0, P3 vs P1, P2 1 0.03 0.03 12.00 4.75 9.33 **
P0 vs P3 1 0.02 0.02 6.00 4.75 9.33 *
P1 vs P2 1 0.00 0.00 0.00 4.75 9.33 ns
Kelompok 4 0.92 0.23 86.25 3.26 5.41 **
Galat 12 0.03 0.00 1.00
SK: sumber keragaman, db: derajat bebas, JK: jumlah kuadrat, KT: kuadrat tengah, Fhit: nilai F ;
** : sangat berbeda nyata (P<0.01), * : berbeda nyata (P<0.05), ns: tidak signifikan; P0 = pucuk
tebu tanpa perlakuan, P1 = Hi-fer pucuk tebu fermentasi 2 minggu, P2 = Hi-fer pucuk tebu
fermentasi 4 minggu, P3 = rumput gajah tanpa perlakuan.

Lampiran 2 Analisis ragam (ANOVA) dan uji ortogonal kontras pengaruh


perlakuan terhadap konsentrasi amonia (NH3)
SK db JK KT Fhit F0.05 F0.01
Total 19 647.53
Perlakuan 3 71.26 23.75 3.64 3.49 5.95 *
P3, P1 vs P2, P0 1 48.64 48.64 7.46 4.75 9.33 *
P3 vs P1 1 13.23 13.23 2.03 4.75 9.33 ns
P2 vs P0 1 9.39 9.39 1.44 4.75 9.33 ns
Kelompok 4 498.05 124.51 19.10 3.26 5.41 **
Galat 12 78.23 6.52 1.00
SK: sumber keragaman, db: derajat bebas, JK: jumlah kuadrat, KT: kuadrat tengah, Fhit: nilai F ;
** : sangat berbeda nyata (P<0.01), * : berbeda nyata (P<0.05), ns: tidak signifikan; P0 = pucuk
tebu tanpa perlakuan, P1 = Hi-fer pucuk tebu fermentasi 2 minggu, P2 = Hi-fer pucuk tebu
fermentasi 4 minggu, P3 = rumput gajah tanpa perlakuan.

Lampiran 3 Analisis ragam (ANOVA) dan uji ortogonal kontras pengaruh


perlakuan terhadap konsentrasi VFA total
SK db JK KT Fhit F0.05 F0.01
Total 19 4479.82
Perlakuan 3 607.20 202.40 1.77 3.49 5.95 ns
P0, P2 vs P1, P3 1 404.82 404.82 3.55 4.75 9.33 ns
P0 vs P2 1 34.45 34.45 0.30 4.75 9.33 ns
P1 vs P3 1 167.94 167.94 1.47 4.75 9.33 ns
Kelompok 4 2504.25 626.06 5.49 3.26 5.41 **
Galat 12 1368.36 114.03 1.00
SK: sumber keragaman, db: derajat bebas, JK: jumlah kuadrat, KT: kuadrat tengah, Fhit: nilai F ;
** : sangat berbeda nyata (P<0.01), * : berbeda nyata (P<0.05), ns: tidak signifikan; P0 = pucuk
tebu tanpa perlakuan, P1 = Hi-fer pucuk tebu fermentasi 2 minggu, P2 = Hi-fer pucuk tebu
fermentasi 4 minggu, P3 = rumput gajah tanpa perlakuan.
20

Lampiran 4 Analisis ragam (ANOVA) dan uji ortogonal kontras pengaruh


perlakuan terhadap populasi bakteri total
SK db JK KT Fhit F0.05 F0.01
Total 19 12.85
Perlakuan 3 0.86 0.29 0.80 3.49 5.95 ns
P3, P1 vs P2, P0 1 0.57 0.57 1.62 4.75 9.33 ns
P3 vs P1 1 0.25 0.25 0.71 4.75 9.33 ns
P2 vs P0 1 0.03 0.03 0.08 4.75 9.33 ns
Kelompok 4 7.73 1.93 5.45 3.26 5.41 **
Galat 12 4.26 0.35 1.00
SK: sumber keragaman, db: derajat bebas, JK: jumlah kuadrat, KT: kuadrat tengah, Fhit: nilai F;
** : sangat berbeda nyata (P<0.01), * : berbeda nyata (P<0.05), ns: tidak signifikan; P0 = pucuk
tebu tanpa perlakuan, P1 = Hi-fer pucuk tebu fermentasi 2 minggu, P2 = Hi-fer pucuk tebu
fermentasi 4 minggu, P3 = rumput gajah tanpa perlakuan.

Lampiran 5 Analisis ragam (ANOVA) dan uji ortogonal kontras pengaruh


perlakuan terhadap populasi protozoa total
SK db JK KT Fhit F0.05 F0.01
Total 19 4.13
Perlakuan 3 0.05 0.02 1.18 3.13 5.01 ns
P0, P2 vs P1, P3 1 0.03 0.03 1.90 4.38 8.18 ns
P0 vs P2 1 0.01 0.01 0.55 4.38 8.18 ns
P1 vs P3 1 0.02 0.02 1.10 4.38 8.18 ns
Kelompok 4 3.89 0.97 63.84 2.90 4.50 **
Galat 12 0.18 0.02 1.00
SK: sumber keragaman, db: derajat bebas, JK: jumlah kuadrat, KT: kuadrat tengah, Fhit: nilai F;
** : sangat berbeda nyata (P<0.01), * : berbeda nyata (P<0.05), ns: tidak signifikan; P0 = pucuk
tebu tanpa perlakuan, P1 = Hi-fer pucuk tebu fermentasi 2 minggu, P2 = Hi-fer pucuk tebu
fermentasi 4 minggu, P3 = rumput gajah tanpa perlakuan.
21

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada tanggal 26 Februari 1994 di


Sragen, Jawa Tengah. Penulis merupakan anak pertama dari
dua bersaudara dari pasangan Bapak Harsono dan Ibu Sunarti.
Pendidikan yang telah ditempuh penulis yaitu pada Tahun 2006
penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri Perwira
VIII. Pendidikan dilanjutkan di SMP Negeri 21 Bekasi hingga
tahun 2009 dan pendidikan lanjutan menengah atas diselesaikan
pada tahun 2012 di SMA Negeri 4 Bekasi. Penulis diterima
sebagai mahasiswa di Institut Pertanian Bogor pada tahun 2012 melalui jalur
SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) Undangan pada
Program Studi Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut
Pertanian Bogor. Selama kuliah, penulis pernah mengikuti ESQ Leadership
Training pada tahun 2012, United Nations For You “UN4U” Campaign pada
tahun 2012, Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa (LKMM)
Fakultas Peternakan pada tahun 2014, Pelatihan Sistem Manajemen Keamanan
Pangan pada tahun 2016, dan pernah menjadi Sekretaris II Dewan Perwakilan
Mahasiswa Fakultas Peternakan (DPM-D) periode 2013/2014. Penulis juga aktif
dalam beberapa acara kepanitiaan seperti Masa Perkenalan Kampus Mahasiswa
Baru (MPKMB IPB) tahun 2013, Pemilihan Raya (Pemira) Fakultas Peternakan
tahun 2013, Masa Perkenalan Fakultas (MPF) “Meet Cowboy 50” tahun 2014, dan
Festival Kampus IPB tahun 2014.

UCAPAN TERIMA KASIH

Alhamdulillahirabbil’alamiin, puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat


Allah SWT atas segala rahmat, dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan
penelitian dan skripsi ini. Shalawat serta Salam senantiasa penulis haturkan
kepada Nabi Muhammad SAW. Rasa terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak
Dr Ir Suryahadi DEA selaku dosen pembimbing akademik sekaligus pembimbing
skripsi utama dan kepada Ibu Ir Anita S Tjakradidjaja MRur Sc selaku dosen
pembimbing skripsi anggota yang telah banyak memberikan bimbingan,
kesabaran, bantuan, motivasi, serta kritik dan saran yang telah diberikan. Penulis
juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr Ir Didid Diapari MSi selaku
dosen pembahas seminar proposal dan Ibu Dr Ir Widya Hermana MSi selaku
dosen panitia seminar pada 25 April 2016. Penulis juga mengucapkan terima
kasih kepada Ibu Dr Ir Sri Suharti SPt Msi dan Ibu Dr Ir Irma Isnafia Arief SPt
Msi selaku dosen penguji sidang skripsi pada 23 Maret 2017 yang telah
memberikan saran dan masukan kepada penulis. Ucapan terima kasih juga penulis
sampaikan kepada staf Laboratorium Industri Pakan, kepada Ibu Dian A selaku
staf laboran Laboratorium Nutrisi Ternak Perah, dan kepada Ibu Adriani selaku
staf laboran Laboratorium Biokimia, Fisiologi dan Mikrobiologi Nutrisi Fakultas
Peternakan IPB yang telah banyak membantu selama jalannya penelitian.
Terima kasih penulis ucapkan kepada rekan penelitian, Lien Amalia OE
atas bantuan dan kerja sama kepada penulis. Terima kasih juga penulis ucapkan
22

kepada M Indra Nugraha Putra yang selama ini selalu mendukung di segala
kondisi, memberi motivasi dan bantuan kepada penulis. Penulis juga
mengucapkan terima kasih kepada para sahabat Nurul, Firda, Venna, Dyna, dan
Indah. Terima kasih juga kepada Shilvi, Ishmah, Hafni H, Tatul, Iin, Grace, Kak
Dea, Kak Afdola, Kak Irene, Kak Yani, Kak Hida, Frans, Nover, Brilliananda,
Angel, Markis, Dinda, Zulfha, Illah, Bagus dan keluarga Centaurus INTP 49 atas
dukungan dan bantuannya selama penelitian, serta kepada teman seperjuangan
sejak TPB Ajeng, Nabila, Kiki, Tasya, Tia, Puji dan kepada keluarga Cisarua
(Kholid, Rabiatul, Audrian, Lucky, Ayu, Wulan) atas segala bantuan serta
motivasi yang diberikan kepada penulis. Kepada semua pihak yang tidak dapat
penulis sebutkan satu persatu, terimakasih atas bantuan, motivasi, kritik, dan
saran.
Penulis mendedikasikan skripsi ini sebagai rasa terima kasih penulis
kepada orang tua penulis (Bapak Harsono dan Ibu Sunarti), saudara kandung
(Sisca Ayu Wulandari), serta seluruh keluarga, atas segala do‟a, semangat dan
kasih sayangnya. Semoga atas selesainya tugas akhir ini, gelar kesarjanaan penulis
dapat memberikan manfaat khususnya bagi penulis sendiri dan umumnya untuk
kalangan masyarakat.